Anda di halaman 1dari 9

Proposal

KAJIAN PENINGKATAN KAPASITAS LEMBAGA DIKLAT

A. LATAR BELAKANG

Sejak diberlakukannya Undang-Undang 32 tahun 2004 tentang

pemerintahan daerah, penyelenggara pemerintahan di daerah diserahi

kewenangan dan tanggung jawab yang besar untuk mengelola

daerahnya. Di satu sisi, hal ini mengurangi ketergantungan daerah dan

meningkatkan kemandirian daerah untuk mengelola sendiri daerahnya.

Namun, di sisi lain dapat masalah dapat muncul apabila pengelolaan di

daerah tidak ditangani oleh sumber daya manusia atau SDM aparatur

yang berkualitas. Untuk itu daerah dituntut untuk terus-menerus

mengembangkan kompetensi SDM aparatur hingga mereka kompeten

dan profesional dalam tugas-tugas mereka.

Hanya saja, beberapa evaluasi yang dilakukan lembaga-lembaga asing

dan penelitian-penelitian yang telah dilakukan terhadap kualitas SDM

pemerintah menunjukkan bahwa kinerja PNS masih rendah sejak

diberlakukannya otonomi daerah (Kompas, 26 Mei 2006 & Media

Indonesia, 29 Mei 2006). Untuk mengatasi hal tersebut, berbagai

upaya telah dilakukan pemerintah untuk mewujudkan PNS yang

kompeten dan profesional, yang hasil akhirnya dapat dilihat pada

peningkatan kinerja. Upaya-upaya tersebut antara lain perbaikan

tunjangan dan gaji pegawai, penyusunan kompetensi pegawai negeri,

hingga perbaikan dalam hal rekrutmen dan seleksi pegawai


berdasarkan kompetensi yang telah disusun. Salah satu lembaga

pemerintah yang memiliki peran strategis dalam mewujudkan

pengembangan kompetensi SDM aparatur adalah lembaga-lembaga

diklat pemerintah.

Peran dan tanggungjawab strategis lembaga diklat pemerintah ini

memberikan beban tersendiri bagi lembaga diklat untuk terus-menerus

meningkatkan kualitasnya dalam mendukung agenda pembangunan

nasional. Lembaga diklat dituntut untuk terus-menerus memperbaiki

kinerjanya baik dari sisi kelembagaannya maupun dari sisi kinerja

diklat itu sendiri.

Lembaga diklat pemerintah disebut-sebut sebagai lokomotif

transformasi SDM aparatur, yang setidaknya harus memiliki daya

ungkit (leverage) dan memimpin perubahan (leading of change) dari

tingkat pusat hingga daerah, sehingga diklat mampu memiliki

pengaruh yang signifikan untuk meningkatkan kompetensi pegawai.

Meningkatnya kompetensi yang dimiliki para aparatur pemerintah

setelah mengikuti diklat, membuat mereka mampu melaksanakan

tugas-tugas pekerjaannya secara profesional sehingga kinerja individu

sekembalinya ke tempat kerja diharapkan akan meningkat, dan pada

akhirnya kinerja organisasi secara keseluruhan akan meningkat pula.

B. PERMASALAHAN
Salah satu titik fokus dengan diberlakukannya otonomi daerah yang

berkaitan dengan lembaga diklat adalah menyediakan sumber daya

manusia (SDM) aparatur yang kompeten, profesional, dan berkinerja

tinggi di daerah. Lembaga diklat yang berkualitas akan menghasilkan

output berupa peserta yang kompeten sesuai dengan daftar

kompetensi yang diinginkan, dan outcome berupa kinerja aparatur

yang lebih baik.

Namun demikian, dalam tataran praktis, berdasarkan hasil evaluasi

dan monitoring penyelenggaraan diklat yang dilakukan oleh lembaga

administrasi negara (LAN, 2005) menemukan bahwa budaya

pengelolaan diklat belum dapat menciptakan budaya pembelajaran

yang baik, daya tarik jabatan fungsional widyaiswara tidak menyamai

daya tarik jabatan fungsional lain seperti dosen dan peneliti. Selain itu,

masih ada pola pikir di daerah yang menilai diklat sebagai beban

(cost) dan bukan investasi dan kebijakan daerah yang belum berpihak

pada penyelenggara diklat. Bahkan ditemukan bahwa beberapa

pemerintah propinsi belum menjalankan fungsi pembinaan dan

pengawasan penyelenggaraan pemerintahan di kabupaten/kota yang

secara tidak langsung berdampak pada persiapan pengembangan

lembaga diklat di daerah.

Kendala lain yang ditemui penyelenggara program diklat pemerintah

adalah tidak standarnya kurikulum, jumlah widyaiswara yang terbatas,

rendahnya kualitas widyaiswara, minimnya bahkan tidak tersedianya


dukungan sarana dan prasarana diklat yang memadai, serta kurang

jelasnya evaluasi hasil belajar. Bahkan, para pemangku kepentingan

(stake-holders) pediklatan telah melihat bahwa program diklat

cenderung jatuh pada rutinitas kegiatan yang berorientasi anggaran

saja (budget driven), bukan kegiatan pembelajaran untuk

meningkatkan kapasitas para peserta diklat. Selain itu, ada anggapan

bahwa penyelenggaraan diklat sebagai kegiatan refreshing dari

rutinitas kerja keseharian dan bukan untuk meningkatkan kompetensi

dan kinerja pegawai itu sendiri(www.diklat.pemda-diy.go.id).

Untuk mendapatkan lembaga diklat yang berkualitas, salah satu cara

yang dapat dilakukan oleh lembaga-lembaga diklat pemerintah adalah

dengan meningkatkan kinerja diklat melalui proses identifikasi

kebutuhan, perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi diklat (PP

101, 2000). Keseluruhan proses tersebut perlu dikelola dengan baik

dalam suatu prosedur dan langkah-langkah yang membentuk suatu

siklus yang berbasis kinerja (performance based management). Oleh

karena keberhasilan pencapaian kinerja insatansi pemerinah dalam hal

ini penyelenggara diklat tidak terlepas dari kualitas penyelenggara

diklat itu sendiri lewat manajemen kinerja yang meliputi perencanaan,

impelementasi, pengukuran, evaluasi, dan audit kinerja (Bappenas,

2006). Hal ini bertujuan untuk mengukur kemajuan aktifitas yang

dilakukan dan menilai pencapaian hasil (kinerja) dari desain yang telah

direncanakan sebelumnya. Selain itu, informasi yang diperoleh dapat


digunakan untuk melakukan perbaikan terus-menerus untuk menilai

apakah visi, misi dan tujuan lembaga diklat sesuai dengan harapan.

Kenyataannya, selama ini mutu pengelolaan diklat lewat manajemen

kinerja tersebut belum optimal.

Hanya saja, kinerja diklat tidak hanya dipengaruhi oleh pengelolaan

kinerja (performance based management), tetapi juga dipengaruhi

pula oleh kualitas lembaga penyelenggara diklat, dan sistem

penyelenggaraan diklat termasuk didalamnya peran dari pemangku

kepentingan (stake-holders), yang meliputi peserta, penyelenggara,

pembina diklat, widyaiswara dan dukungan pemerintah.

Indikator yang dapat dipakai untuk menilai kapasitas kinerja lembaga

diklat adalah, bentuk kelembagaan, kedudukan kelembagaan, dan

status kelembagaan. Yang dimaksud dengan bentuk kelembagaan

adalah apakah lembaga diklat tersebut merupakan representasi dari

lembaga pemerintah yang mengurusi bidang kediklatan aparatur di

daerah atau bukan. Kelembagaan di daerah sangat bervariasi. Bisa

berupa badan, unit atau nama lain. Selain itu, indikator lainnya adalah

ketersediaan sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, program

diklat, serta widyaiswara.

Dari berbagai kebijakan yang sedang digodok Lembaga Administrasi

Negara dan Badan Kepegawaian Negara, nampaknya kita harus

memperhatikan bahwa strategi peningkatan kapasitas penyelenggara

diklat akan dapat diimplementasikan secara efektif apabila seluruh


pemangku kepentingan (stake-holders) diklat aparatur memiliki

komitmen dan pemahaman sama tentang urgensi peningkatan kualitas

dan kompetensi aparatur (www.diklat.pemda-diy.go.id). Kompetensi

mereka itu kemudian diharapkan dapat dituangkan lewat manajemen

kinerja guna peningkatan kapasitas lembaga diklat khususnya di

kawasan Indonesia Timur.

C. TUJUAN PENELITIAN

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengukur kapasitas


lembaga diklat di daerah. Indikator penilaian yang dipakai untuk
menilai kapasistas lembaga diklat adalah a) manajemen kinerja
lembaga diklat, b) kualitas SDM pengelola diklat, c) program diklat
yang dilakukan, d) ketersediaan dan kualitas widyaiswara, dan e)
teknologi yang mendukung kegiatan dan lembaga diklat.

Secara khusus, penelitian ini akan difokuskan untuk mencapai


beberapa tujuan, sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi gambaran aktual dan memperoleh profil dari


masing-masing daerah tentang sistem manajemen diklat yang
digunakan
2. Mengidentifikasi apakah sistem manajemen yang digunakan sudah
diarahkan untuk mendukung upaya peningkatan kinerja
3. Mengidentifikasi gambaran aktual tentang kualitas lembaga diklat di
daerah yang terlihat dari dukungan stake-holders (dalam hal ini
widyaiswara dan pengelola diklat) dan ketersediaan teknologi
pendukung serta ketersediaan program.
Indikator untuk menilai kapasitas kinerja lembaga diklat adalah,

bentuk kelembagaan, kedudukan kelembagaan, dan status

kelembagaan.Yang dimaksud dengan bentuk kelembagaan adalah

apakah lembaga diklat tersebut merupakan representasi dari lembaga

pemerintah yang mengurusi bidang kediklatan aparatur di daerah atau

bukan. Kelembagaan di daerah sangat bervariasi. Bisa berupa badan,

unit atau nama lain. Selain itu, indikator lainnya adalah ketersediaan

sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, manajemen kinerja,

program diklat, serta widyaiswara.

D. RUMUSAN MASALAH

a. Bagaimana manajemen kinerja diklat di daerah?

b. Bagaiman kapasitas lembaga Diklat di daerah ?.

E. TUJUAN DAN MANFAAT

Kajian kapasitas lembaga Diklat ini bertujuan:

a) Untuk mengidentifikasi manajemen kinerja lembaga diklat di daerah

b) Untuk mengembangkan kapasitas lembaga diklat sebagai pusat


pengembangan aparatur pemerintah.

F. KERANGKA KONSEPTUAL

KERANGKA PIKIR
G. RUANG LINGKUP PENELITIAN

a. Tipe penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu penelitian yang akan

mencari informasi faktual dan detail untuk mendeskripsikan dan

mengindentifikasi keadaan yang sedang berlangsung untuk

membuat komparasi dan evaluasi.

b. Lokasi penelitian

Lokus kajian Kapasitas lembaga diklat ini dibatasi pada delapan

propinsi yaitu Jayapura, Ambon, Kendari, Palu, Gorontalo,

Manado, Mamuju dan Ternate.

c. Responden

Responden dalam penelitian ini adalah kepala dinas, badan atau

kantor diklat daerah, staf teknis dan fungsional daerah

d. Instrumen penelitian

Data primer akan diperoleh melalui daftar pertanyaan,

sedangkan data sekunder akan diperoleh melalui laporan-

laporan dan dokumen-dokumen.

e. Teknik analisis data

Data primer akan dianalisis dengan menggunakan statistik

deskriptif dengan bantuan program pengolah data SPSS,

sedangkan data sekunder akan dioleh secara kualitatif.


H. TARGET DAN HASIL YANG DIHARAPKAN

a. Tersedianya informasi lembaga diklat di daerah

b. Adanya rekomendasi tentang pengembangan kapasitas lembaga diklat


sebagai pusat pengembangan aparatur pemerintah.

I. JANGKA WAKTU

Mengingat pentingnya melakukan kajian Lembaga Pendidikan dan


pelatihan aparatur untuk peningkatan mutu penyelenggaraan diklat
maka kajian ini perlu dilakukan dari bulan April hingga Oktober tahun
2008.

J. ANGGARAN

Sumber anggaran dalam anggaran kinerja bidang kajian tahun 2008


dengan besarnya seperti terlampir dalam rincian anggaran biaya RAB)
terlampir

Bibliography
Hasil Evaluasi dan Monitoring 2005
(Hasil evaluasi diklat 2006),
Manajemen yang berorientasi pada Peningkatan Kinerja Instansi
Pemerintah (Suatu Profil), Direktorat Aparatur Negara th 2006,
Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional.
(PP 101, 2000).
www.diklat.pemda-diy.go.id
Media Indonesia, 29 Mei 2006
Kompas 26 Mei 2006