Anda di halaman 1dari 16

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pokok Permasalahan

Proses kemunduran kemakmuran penduduk jawa berhubungan erat dengan pengaruh


kebijaksanaan pemerintah dalam bidang social ekonomi pada abad ke-19. Pendapat itu tepat,
seperti hal yang dilihat oleh D.H Burger, adanya perubahan yang cepat pada abad ke-19 di
pedesaan Jawa adalah merupakan akibat dari semakin dalamnya penetrasi Barat. Perubahan
merupakan akibat dari semakin dalamnya penetrasi Barat. Perubahan yang cepat ini diikuti
oleh hilangnya ikatan-ikatan tradisional desa dan terbukanya masyarakat desa dari pengaruh
luar.

Studi ini dimaksudkan untuk mengetahui kehidupan sosial ekonomi di pedesaan dalam
residensi semrang selama periode 1830-1900. Maksud dari studi ialah untuk mengetahui
faktor-faktor kausatif dari perubahan dan permasalahan yang ada didesa-desa sebagai akibat
dari pelaksanaan (implementasi)kebijaksanaan pemerintah dan perkembangan-perkembangan
lainnya.

Studi kasus tentang keresidenan semarang pada abad ke-19 adalah menarik dan penting
dilihat dari beberapa alasan. Semarna telah lama dibawah kebiasaan belanda dan menempati
posisi yang strategis untuk pemerintah kolonial dan pembangunan ekonomi.

Pada tahun 1930 batas-batas wilayah keresidenn semarang kembali seperti pada abad ke-
19 yang kemudian dibagi menjadi kabupaten semarang, kendal, demak dan grobogan.

Karesidenan semarang terdiri atas dataran-dataran tinggi disebelah bagian selatan dan
dataran rendah yang meliputi wilayah disebelah utara. Di dataran tinggi, tanaman kopi
merupakan sebagian besar tanaman pemerintah, terutama ketika sistem tanam paksa
diintrodusikan ke daerah ini, sebagian besar terdapat di kabupaten kendala dan salatiga.

Gerakan-gerakan kriminal dan keagaman pada akhir abad ke-19 di pedesaan semarang
dipertimbangkan sebagai penyelesaian sosial dan katup penyelamat. Penulis menemukan
banyak permasalahan sosial yang serius yang terdapat di pedesaan semarang selama ini dan
perubahan-perubahan yang terjadi di pedesaan semarang pada abad ke-19 tidak hanya
berhubungan dengan introduksi dari sistem tanam paksa saja, melainkan juga dengan faktor-
faktor lainnya seperti administrasi dan komunikasi.

Beberapa dokumen dari koleksi kol. Colin mackenzie tentang semarang pada awal abad-
19 juga sangat berguna untuk melengkapi bahan-bahan mengenai latar belakang
perkembangan kerisidenan ini. Koleksi ini disimpan di india office library (london) Dan bagi
penulis telah tersedia dalam bentuk mikro film.

Hasil karya orang-orang jawa yang masih ado seperti babad nagari semarang
dipergunakan dalam batas-batas tertentu, yaitu yang sesuai dengan pokok permasalahan
dalam studi ini.

Seluruh ejaan nama-nama huruf Jawa mengikuti peraturan ejaan yang baru. Peraturan ini
mengganti beberapa ejan lama; misal “dj” , “j” “tj” dan “oe” menjadi “j”.”y”,”c”, dan “u”.
sebagai contoh dri “bodja” dalam ejaan baru menjadi “boja”.

2.2 Pokok permasalahan, 1830-1850 perubahan penduduk dan ekonomi di semarang.

Periode ini dipilih tidak hanya disebabkan oleh adanya sumber yang elatif berguna dan
berhubungan akan tetapi pada periode ini sistem tanam paksa telah diberlakukan di
kerisedenan ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mna perubahan-
perubahan dipedesaan dapat diidentifikasi dan apakh faktor-faktor kausatifnya dapat
dipisahkan.untuk menetap kemungkinan hubungan sebab akibat pada pedesaan semarang
abad ke-19 (dan permasalahan yang serupa) sejarawan oeh karena itu akan banyak melihat
dan menetapkan sejauh mana denan bantuan serangkaian data statistik yang berhubungn
dengan permasalahan atau bukti-bukti yang lain dan mencari sumber-sumber di bawah
tingkat distrik.

Analisis dari unsur ini mungin akan memperlihatkan, di satu pihak, struktur dan dinamika
daerah ini, dan di lain pihak pola dan tekanan bangunan. Penyelidikan dan permasalahan
lokal ini kemungkinan dapat memeberikan sumbangan bagi pengetahuan tentang
pertumbuhan penduduk di jawa pada abad ke-19.

Selain itu juga, ditemukan bukti-bukti tentang pola perkampungan yang berubah
bersamaan dengan perubahan penduduk, hal itu segaera tampak jelas ketika sejumlah desa di
kerisedenan smarang berubah mencolok sekali selama separuh pertama abad ke-19.
Apabila unit ini dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk mengetahui asal mula yang
menjadi sebab permasalahan yang akan diselidiki, maka hal itu juga masih terlampau umum
untuk mendapatkan suatu gambaran yang sesuai dari perubahan perbedaaan itu, atau usaha
untuk memecahkan permasalahan ini ialah menurunkan unit penelitian ke tingkat yang lebh
kecil di bawah kabupaten, sejauh sumber-sumber masih tersedia.

Akhirnya, bagaimanapun telah timbul dalam pikiran bahwa distrik tingkat


homogenitasnya lebih kecil dibanding unit-unit yang lebih tinggi.

Di beberapa daerah jumlah desa-desa mengalami penurunan akan tetapi jumlah rata-rata
penduduknya menglami peningkata. Sebaliknya, di ambarwa kedu fenomena tersebut
mengalami penurunan yang kecil.

Bagaimanapun, adalah tidak untuk melihat prumbuhan penduduk dala keresidenan ini
secara keseluruhan, akan tetapi untuk memeberikan penjelasan mengenai fenomena
pergerakan penduduk itu, perubahan penduduk disini dipergunakan sebagai satu indikator
bagi perbedaan sosal dan perubahan ekonomi.

Pertumbuhan atau pergerakan penduduk pedeaan biasanya disebakan oleh tiga faktor
yang penting, meliputi proses yang penting yaitu kelahiran, kematian dan perpindahan
penduduk.

Perpindahan penduduk (migration) hendaknya merupakan satu hal yang harus


diperhitungkan sebagi sebab perbedaaan-pee\rbedaan dalam perubahan pedudukdi daerah ini.

1. sistem tanam paksa dan perubahan penduduk

Pada prinsipya, sistem ini mengharuskan para petani untuk membayar pajaknya dengan hasil
tanaman eksporyang dijual kepada pemerintah dengan harga yang telah ditentukan.

Hasil-hasil tanaman ini diberikan kepada pemerintah untuk di olah seperluna sebelum di
ekspor di pabrik-pabrik atau pemitalan yang dikuasai pemerintah. Tempat-tempat pemrosesan
itu kebanyakan di tangani oleh orang-orang eropa atau cina dan di kerjakan oleh tenaga-
tenaga yang tidak di bayar atau tenaga kerja paksa. Barang-barang komoditi yang telah
diproses itu kemudian dikapalkan ke nederland untuk di jual ke pasaran dunia.
Menjadi jelas bahwatanama tebu di anggap sebagai suatu sebab yang dominan bagi sosial-
ekonomi, maka akibat-akibatnya dapat dilihat dalam empat distrik penanaman tebu di
semarang.

2. sewa tanah dan keuntungan tanam paksa

Apabila sistem tanam paks mewajibkan kepada penduduk untuk menanami sebagian tanah
mereka dengan tanaman pemerintah yang oeh karena itu menerima sejumlah
pembayaranyang telah di tetapkan oleh pemerintah, yaitu sewa tanah, di pihak lain penduduk
di haruskan membayar pajak atas tanah mereka.

3. heerendiensten (kerja wajib)

tingkat di kabupaten hipotesis tentang beban heerendiensten ini dapat membantu untuk
menjelaskan pergerakan penduduk dapat diterima, karena bukti-bukti menunjukkan adanya
hubungan yang negatif antara heerendiensten dan angka pertumbuhan penduduk.

2.3 PEMERINTAH LOKAL MALADMINISTRASI DAN DESA-DESA

Pada hakikatnya pengaruh para pejabat lokal jawa atas orang-orang desa mungkin
dapat bersifat positif ataupun negatif. Penampilan mereka dianggap positif bagi penduduk
pribumi apabila memberi perlindungan dan stabilitas dalam kehidupan sosial dan ekonomi
masyarakat pribumi. Bagi Pemerintah belanda, penampilan seorang pejabat dinilai baik
apabila ia mampu melaksanakan kewajibanya terhadap pemerintah, seperti administrasi sewa
tanah, pengawasan terhadap hasil-hasil panendan menyediakan tenaga kerja bagi jabatan-
jabatn pemerintah, keamanan setempat dan tugas-tugas pemerintah lainnya. Sebaliknya jika
seorang pejabat menyebabkan timbulnya ketidakamanan, ketidakstabilan ataupun kondisi-
kondisi yang tidak menyenangkan lainya, maka penampilannya dinilai jelek. Oleh pemerintah
belanda penampilan yang jelek ini sering kali dihubungkan dengan kelambanan,
ketidakacuhan, ketidakcakapan, perilaku yang buruk dan penyalahgunaan wewenang.
Kelemahan-kelemahan ini umumnya diklasifikasikan sebagai misbruiken (penyalahgunaan
wewenang), knevelarijen(pemerasan), dan knoeierijen(korupsi).
Pemerintah sering kali memecat para pejabat Jawa yang jelek, akan tetapi reaksi
penduduk desa terhadap perilaku yang jelek dari para pemimpin mereka kurang terdokumen
tasikan secara jelas, pada umumnya terdapat reaksi utama, salah satunya, tampak terdapat di
keresidenan Semarang dan tempat lainnya di Jawa pada abad ke-19.

Yang menjadi pertanyaan disini ialah apakah kekeliruan pengelolaan masalah-masalah


pemerintah menawarkan lebih banyak penjelasan yang memuaskan mengenai kapan
penduduk desa mendapatkan daerah khusus yang kurang menarik pada masa-masa tertentu.

1. Kecendrungan ke Arah Kekeliruan Pengelolaan Masalah-masalah Pemerintahan di


Keresidenan Semarang pada Abad ke-19

Ketika pada abad ke-19, kritik ditujukan pada kelemahan-kelemahan maskapai


terdahulu, para bupati, dan para pemuka jawa lainnya juga merupakan sasaran yang dituju.
Mereka dituduh melakukan pemerasan, penindasan dan penyalahgunaan wewenang dalam
pelaksanaan pengumpulan pajak, pengiriman-pengiriman dan kemingkinan-kemungkinan
pemaksaan diantara masyarakat pribumi.

Usulan-usulan perbaikan termasuk permasalahan pokok bagaimana mengatur Jawa


dengan suatu cara yang dapat menguntungkan bagi Nederland. Berdasarkan konsep-konsep
Muntinghe dan Dirk van Hogendorp terdahulu, beberpa perbaikan oleh Daendels, Raffles dan
para komisaris penggantinya. Akan tetapi ketiga pemerintah ini sama-sama memiliki tujuan
pokok membatasi kekuasaan para bupati dan para pemuka Jawa lainnya agar menghentikan
Penyelewengan dan penyalahgunaannya. Mereka memandang ikatan-ikatan tradisional antara
bupati dengan masyarakatnya sebagai salah satu sumber-sumber pokok dari adanya
maladministrasi.

Disinilah kedudukan bupati terbukti penting. Dengan undang-undang tahun 1819 para
komisaris berusaha memprkenalkan gaji kontan kepada bupati sebagai pengganti
kepemilikan. Namun ini tidak berlangsung lama dikarenakan tahun 1830-1831 Van den Bosh
bermaksud mengembalikan bupati kekedudukannya yang dulu.

Seperti halnya dengan para bupati, kedudukan lurah juga menjadi sasaran perundang-
undangan. Dalam undang-undang tahun 1819 para komisaris jendral mengatur pemilihan
kepala-kepala desa.
Tuduhan-tuduhan atas kekeliruan pengelolaan masalah-masalah pemerintah juga terjadi
dikabupaten Semarang, sebagai contoh tahun 1855 pemerintah memberhentikanbupati
sendiri, Raden TumenggungArya Surya Adiningrat, oleh karena secara terus menerus
mempunyai utang dan kerena ketidakmampuan dalam menjalankan tugas-tugasnya.

2. Kekeliruan Pengelolaan Masalah-masalah Pemerintahaan Pedesaan


(Maladministrasi) dan Sistem berlakunya Ke dudukan Tanah: Sebuah Kasus
Manggar

Aspek-aspek maladministrasi dapat juga diamati pada tingkat desa di Semarang, dalam
abad ke-19. Gejala ini boleh jadi akibat dari perubahan-perubahan penting yang terjadi di
desa-desa, seperti pengenalan dan penerapan system berlakunya kependudukan tanah
(landelijk stelsel). Sistem sewa tanah dan system tanam paksa, yang diikuti oleh pelaksanaan
control pemerintah pusat atas pemerintah desa. Proses ini tampaknya telah mendorong
penyalah gunaan kekuasaan yang dilakukan oleh para pejabat dan bentuk-bentuk yang lain
dari maladministrasi dari daerah-daerah pedesaan.

Analisis tentang disrik manggar ini dimaksudkan untuk menunjukan bagaimana mal
administrasi didaerah pedesaan yang berkaitan dengan perubahan-perubahan pemilikan tanah
didaerah-daerah pedesaan. Pemilihan distrik ini disebabkan karena Manggar juga dikenal
akan kondisi-kondisi buruknya selama beberapa tahun.

2.1 Sistem Berlakunya Kedudukan Tanah di Manggar pada Tahun-tahun Awal


Abad ke-19

Di Manggar pengadaan tanah secara pribadi disebut yasa ( membuat, mengerjakan)


lading dan pemiliknya dinamakan sikep (petani pemilik tanah). Para penduduk didesa ini di
klasifikasikan kedalam 4 kategori berdasarkan control atas tanah, umur, dan selanjutnya hak-
hak lebih lanjut serta tugas-tugasnya terhadap desa yaitu:

1) Sikep

2) Pengindan atau Kraman

3) Perjaka

4) Marakaki atau kamituwa


Kasus maladministrasi di Manggar pada awal abad ke-19 terbatas pada kasus-kasus beberapa
kepala desa yang terlibat utang ataupun lamban dalam menyelesaikan penyediaan pengiriman
bagi bupati Demak. Semua ini berubah secara bearti pada periode antara tahun 1812-1830.

2.2. Manggar Pada Tahun 1830-an

Tiga perkembangan khusus berpengaruh kuat terhadap penduduk desa di distrik


Manggar selama awal abad ke-19. Pengenalan dan penerapan sistem sewa tanah dan sistem
tanam paksa, dan perang jawa (1825-1830). Ketiganya ini menimbulkan perubahan-
perubahan tertentu pada sistem kepemilikan tanah dibanyak desa dalam distrik ini. Ciri-ciri
khusus perubahan ini ialah pemecahan kepemilikan tanah dan kecendrungan berubahnya
pemilikan tanah pribadi kearah kepemilikan tanah komunal, suatu kejadian yang langka
didaerah-daerah lainnya. Perubahan-perubahan ini juga mempengaruhi pemerintah pedesaan
di daerah ini.

Diperkenalkannya sistem tanam paksa pada tahun 1830 yang diikuti dengan
bertambahnya pembebanan sewa tanah. Karena kondosi ini Manggar dan Kabupaten Demak
pada umumnya tidak cocok untuk penanaman tanaman-tanaman komersil, maka maka tidak
ada penanaman pemerintah yang penting didaerah ini. Beberapa percobaan dilakukan dengan
tebu, indigo, kapas, goni, dan tembakau.

2.3. Manggar padaTahun 1850-an

Dua fenomena yang menonjol di Distrik manggar pada tahun 1850-an ialah adanya
bencana kelaparan dan maladministrasi. Apakah keduanya merupakan hubungan sebab-
akibat atau tidak, setidak-tidaknya keduanya terjadi secara bersamaan di Distrik ini. Terdapat
keterangan yang mengisyaratkan bahwa maldaministrasi di daerah ini merupakan penyebab
utama dari adanya kondisi-kondisi yang buruk, didesa-desa. Dua kali selama tujuh tahun
yaitu pada tahun 1849-1850 dan 1857 bencana kelaparan yang serius terjadi dan
mengakibatkan bencana kelaparan yang mengerikan dan perpindahan penduduk yang besar.
Bencana kelaparan pada tahun 1847-1850 tidak hanya terjadi dibeberapa daerah keresidenan
semarang saja tetapi didaerah-daerah lain.

3. Desa-desa Krasak, Kramat, dan Tlawah


Krasak dan Kramat keduanya merupakan desa-desa yang besar, terletak dilembah sungai
serang, dihuni oleh penduduk dalam jumlah besar dan dikelilingi oleh areal penanaman yang
luas. Para penduduknya terutama bekerja dengan bercocok tanam.

Tanah 530 bau yang tercatat di Krasak pada tahun 1857 mungkin tampak cukup untuk
223 sikep, tetapi kenyataan tidak, karena 80% tanah-tanah penanaman didesa ini dimiliki oleh
kepala desa dan hanya 20% sisanya dimiliki oleh para pemilik tanah.

Pemilikan tanah secara luas oleh kepala desa membutuhkan pengeluaran dan pengelolaan.
Dia memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini melalui penyalahgunaan wewenagnya atas
penduduknya dengan pembayaran Cuma-Cuma atau pelayanan-pelayanan dengan upah
rendah lewatpancen diensten, pengawang-awang, dan bentuk-bentuk kerja paksa lainnya.

Penambahan kekayaan yang berasal dari perluasan tanah-tanahnya mengakibatkan kepala


desa semakin berkuasa.

Perkembangan-perkembangan yang sama juga terlihat jelas didesa Kramat dan Tlawah,
kepala-kepala desa juga memiliki 80% dari tanah yang ada. Desa-desa ini juga merupakan
desa yang luas, dan terletak di daerah-daerah yang subur.

Keadaan-keadaan di desa ini juga hampir sama dan demikian juga mengakibatkan adanya
maladministrasi di pedesaan. Akibat-akibat dari maladministrasi yang dilakukan oleh ketiga
kepala desa ini hampir sama. Tidak hanya mengakibatkan kesulitan-kesuliatan bagi para
penduduk, tetapi juga memaksa beberapa penduduk untuk berpindah ketempat lain.
Presentase penduduk yang berpindah tempat dari desa ini pada tahun 1857 sebagai berikut:
Krasak 9,6%, Kramat 5,2%, dan Tlawah 1,0%.

2.4

2.5 Krisis akibat intensifikasi pemerintah kolonial pada tahun 1880: Pendesaan
semarang pada masa integrasi menuju ekonomi India.

1. sifat dasar perdagangan disemarang


dua bentuk umum aktivitas perdagangan yang dapat dibedakan di karesidenan semarang
pada abad ke-19 ialah bentuk eksternal dan domestic. Bentuk yang pertama berkenaan
dengan ekspor-impor yang menghubungkan semarang dengan pasar-pasar dunia dan pulau-
pulau lain di Indonesia.

Sedangkan bentuk kedua berkenaan dengan perdagangan domestic antara kota-kota dan
desa-desa dengan karesidenan dan sebalik nya antara karesidenan dengan daerah-daerah
disekitarnya. Meskipun kedua bentuk ini berbeda sifat dasarnya, akan tetapi aktivitasnya
saling berdampingan.

• pertumbuhan perdagangan eksternal


pada paruh kedua abad ke-19 ini jawa ditandai dengan meningkatnya perdagangan
eksternal. Figure 1 memperlihatkan bahwa kecenderungan meningkatnya volume
perdagangan ekspor-impor di tiga pelabuhan terpenting di jawa ( Batavia, Surabaya,
semarang ) dimulai pada tahun 1870-an. Hal ini merefleksikan meningkatnya keterlibatan
perdagangan jawa di pasar-pasar eropa dan asia.

Adapun yang menjadi penyebab dari perkembangan ini antara lain ialah dibukanya
terusan suez pada tahun 1869, perbaikan-perbaikan komunikasi dan transportasi di jawa
seperti yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya dan meningkatnya produksi pertanian
sebagai konsekuensi dari penerapan kebijakan agrari baru yang “ liberal “ dan meluasnya
investasi modal asing dibidang perkebunan.

Terdapat bukti yang menyakinkan bahwa perbaikan pelabuhan-pelabuhan yang


konstruksi jalan kereta api yang menghubungkan pelabuhan dengan tiga kota utama dan
daerah-daerah pendalaman merupakan bagian yang terpenting didalam pertumbuhan ketiga
kota utama tersebut dan meningkatnya lalu lintas perdagangan.

Pertumbuhan perdagangan ekspor dan impor semarang dapat dilihat dalam figure 2, yang
menunjukkan peningkatan volume keduanya dalam periode 1865 1896.

Banyak pemegang kontrak jangka panjang ( erfpachter ) dari perkebunan-perkebunan


baru ini adalah orang-oran eropa, hanya segelintir yang dipegang oleh orang-orang cina atau
orang-orang asing lainnya. Mereka menginvestasikan modal mereka dalam perusahaan-
perusahaan pertanian ini baik secara individual maupun melalui korporasi-korporasi dan
dengan demikian mereka menjadi berkepentingan terhadap perdagangan ekspor.

Lima lembaga keuangan utama yang membiayai perusahaan-perusahaan pertanian


maupun non-pertanian ialah :
1. nederlandsch-indische handelsbank ( bank perniagaan hindia-belanda )
2. internationale crediet-en handelsvereeniging ( sarikat dagang dan kredit
internasional )
3. koloniale bank ( bank colonial )
4. dorrepaal co dan handelsvereeniging ( sarekat dagang )
5. handelsvereeniging dan kamer van loophandel ( kamar dagang )
di semarang tampaknya juga banyak berkepentingan terhadap perdagangan ekspor dan impor.

• sifat dasar perdagangan ekspor


usaha-usaha ekspor dari semarang melibatkan kepentingan-kepentingan pemerintah
maupun swasta. Ekspor komoditi pemerintah yang sangat penting ialah kopi dan gula, ekspor
komoditi pihak swasta ialah kopi, gula, nila, tembakau, merica, getah perca, rotan dan kulit.
Ekspor komoditi dipegang oleh anak perusahaan nederlandsche handelmaatschappij
( maskapa dagang belanda ) di semarang.

Ekspor ditunjukkan kepasar-pasar dunia dan pulau-pulau lainnya di Indonesia. Pasar-


pasar di belanda, cina, jepang, dan singapura merupakan pasar yang amat penting. Menjelang
akhir abad, sejumlah kecil di ekspor ke inggris, amerika, Australia, iran dan muangthai.
Pasar-pasar utama di kepulauan Indonesia adalah palembang, muntok, padang, riau,
bengkulu, belitung, Kalimantan barat dan selatan, makasar, menado, ternate, ambon, bali,
sumbawa, bima, dan kupang ( timor ).

• sifat dasar perdagangan impor


tidak seperti kebanyakan hasil-hasil yang di ekspor, barang-barang impor berupa
barang jadi, seperti barng-barang konsumsi, pakaian, perangkat keras, peralatan mekanik dan
teknik, mesin, alat-alat, dan instrumen-instrumen. Barang-barang ini umumnya sudah siap
pakai dan siap jadi, sehingga tidak memberi ransangan bagi industri-industri pengolahan
local. Barang tersebut khususnya dari eropa, amerika, Australia,dan beberapa negara asing.
Sebaliknya dari kepulauan Indonesia, barang-barang yang dating berupa bahan-bahan
mentah, seperti getah perca, merica, gambir, kayu manis, beras, cengkeh, emas, ( berupa
lantakan ).

Diantara barang-barang impor yang berasal dari luar Indonesia, linen, katun dan jenis
tekstil lainnya tampak memainkan peranan yang penting dalam perdagangan domestic di
semarang. Barang-barng dari logam diimpor dari semarang dan juga menepati posisi yang
penting di pasar-pasar local. Meningkatnya perdagangan impor ke semarang di tahun 1870-an
tampaknya merangsang peningkatan perdagangan internal, akan tetapi kadang-kadang juga
membawa akibat yang mengganggu industri lokal.

• sifat dasar perdagangan domestik


sistem perdagangan domestic memperdagangkan barng-barang yang diimpor maupun
diproduksi secara lokal. Grosir-grosir barang impor terdiri dari maskapai-maskapai
perdagangan maupun pedagang-perdagang biasa. Para grosir dan pengecer memperoleh
modal mereka melalui kredit dari bank-bank. Sebaliknya, para pedagang lokal pendesaan,
yang berkecipung dalam jual beli komoditi di pasar-pasar lokal pendesaan, bermodal kecil
dan skala operasinya terbatas.

Perdagangan banyak dipegang oleh orang-orang eropa, sementara perdagangan eceran


sebagian didominasi oleh orang-orang eropa sebagian lagi oleh orang-orang cina dan arab.
Selain sebagai penarik pajak bagi para petani ( pachter ), pemilik tanah-tanah pribadi dan
pemegang kontrak jangka panjang, beberapa orang cina juga bergerak di bidang bisnis
sebagai agen, kontraktor untuk pengangkutan barang-barang dan proyek-proyek
pembangunan dan sebagai makelar.

Sebagian besar pedagang kecil bangsa Indonesia labih banyak berusan dengan barang-
barang untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti beras, ikan, kayu api, kelapa, minyak
kelapa, sayur mayor, garam, gula aren, tembakau, pakaian, dsb.

• pertumbuhan perdagangan domestik


peningkatan perdagangan eksternal dan perbaikan transportasi merupakan hal-hal
yang berkaitan dengan perkembangan, tampak membantu merangsang pertumbuhan
perdagangan domestik. Dampak peningkatan perdagangan eksternal terhadap perdagangan
domestik dapat ditaksir melalui pertumbuhan barang-barang yang diangkut lewat jalan kereta
api semarang-daerah kerajaan. Dampak adanya jalan kereta api terhadap pertumbuhan
perdagangan domestik timbul dari kenyataan bahwa kereta api mampu mengangkut lebih
banyak barang dengan cepat dan lebih murah daripada alat-alat angkutan lokal.

• barang dagangan dalam perdagangan domestik


berbagai komoditi yang diangkut dari daerah pendalaman menuju semarang dari
semarang menuju daerah pendalaman. Sejumlah batu yang diangkut dari daerah pendalaman
kesemarang pada tahun 1870 disebabkan oleh banyaknya pekerjaan umum yang sedang
dikerjakan di semarang.

Pada akhir priode ini, kayu api dan beras secara tetap menduduki porsi terbesar dari
barang-barang yang diangkut dari semarang menuju pendalaman, diikuti oleh bahan-bahan
pembangunan, barang-barang pakaian, bahan-bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari yang
lainnya. Besarnya proporsi kayu api dalam barang-barang yang diangkut untuk perdagangan
internal tampak jelas mengindikasikan besarnya konsumsi terhadap barang ini, khususnya
digunakan untuk memasak.

• perdagangan beras dan pengaruhnya terhadap daerah pendesaan


semarang.
Ada dua jenis beras yang diperdagangkan di karesidenan semarang selain periode
1870-1900, yaitu beras lokal dan beras impor. Perdagangan beras eksternal karesidenan
semarang telah sangat tua dan berumur lama. Kekurangan beras lokal tampaknya
menyebabkan peningkatan volume beras impor mulai tahun 1873. perdagangan domestic
beras di karesidenan semarang, secara nyata mewakili interaksi ekonomik antara distrik-
distrik pengimpor dan pengekspor.

Perubahan-perubahan dalam produksi beras dan tingkat konsumsi juga terjadi selama
periode 1886-1890 dan 1891-1900. peningkatan produksi beras di semarang selama tahun
antara 1886 dan 1900 untuk beberapa hal disebabkan oleh perbaikan kanal bagian-bagian
barat bendungan pusat glapan di sungai tuntang pada tahun 1886-1887, yang berarti distrik-
distrik di singen kidul dan grogol secara luas telah teririgasi. Perdagangan antar-lokal antara
distrik-distrik di karesidenan semarang untuk beberapa hal menciptakan sekelompok
pedagang perantara atau pialang yang mengorganisir pasokan beras dan komoditi-komoditi
lainnya dari distrik yang satu ke lainnya.

Beberapa faktor yang dianggap bertanggung jawab atas turunnya harga beras setelah
tahun 1870. ada dua kemungkinan yang saling berkaitan antara turunnya harga beras dan
meningkatnya produksi beras di karesidenan semarang selama periode 1875 1900.

• upuh dan tenaga kerja upahan: aspek penting dalam kehidupan


ekonomik di pendesaan semarang.
Selama periode 1877-1900 upah tenaga kerja merosot secara mencolok. Ada dua
macam tenaga kerja yang dapat dibedakan dalam hal ini, yaitu : tukang dan tenaga kerja
biasa. Mengingat bahwa tahun-tahun selama terjadi fluktuasi harga beras dan upah untuk
beberapa hal berhubungan dengan situasi perdagangan yang tidak stabil, seperti tahun 1884-
1887 yaitu suatu periode krisis gual dan kopi, maka perubahan-perubahan pada keduanya
bias terjadi terpengaruh oleh krisis dunia.

Tampak bahwa tenaga kerja upahan selalu tersedia untuk pembangunan jalan kereta api
di karesidenan semarang selama priode 1864-1900. perbaikan pelabuhan semarang pada
tahun 1875-1878, serta perbaikan dan pembangunan beberapa buah kanal di kota dan daerah-
daerah sekitarnya pada tahun 1880-1883, juga menyerap banyak tenaga kerja dari beberapa
distrik pendesaan di kabupaten demak dan semarang.

2. krisis ekonomi dan akibatnya


• krisis gula, penyakit kopi, dan perubahan-perubahan moneter.

Sebagai daerah penghasil panenan untuk pasaran dunia dan tempat penyaluran
barang-barang, semarang tampak sangat mudah terpengaruh oleh perubahan-perubahan yang
terjadi dalam ekonomi perdagangan internasional. Krisis gula ditandai dengan turunnya harga
gula dipasaran dunia oleh karena disangi oleh gula bit. Di semarang dan juga daerah-daerah
lainnya di jawa, turunnya harga gula di pasaran dunia memukul eksportir dan pengusaha
menderita kerugian dan tidak mampu untuk membayar hutang-hutang mereka kepada
kreditor, dalam hal ini ialah bank. Ketidakberuntungan lain yang terjadi di karesidenan
semarang ialah adanya penyakit daun kopi. Sebagai akibat penyakit kopi ini, maka produksi
kopi di karesidenan semarang menurun drastic di tahun 1883-1887, dan sesudah itu produksi
tetap rendah.

Factor skunder namun penting ialah dalam perdagangan domestiklah kehidupan


pendesaan selama terjadi krisis moneter, khusunya perubahan dari patokan perak menjadi
emas di belanda, yang menciptakan kekacauan di jawa. Sebagai akibat dari perubahan-
perubahan itu maka yang terjadi di semarang pada tahun 1880-an ialah semakin meluas
peredaran mata uang perak, kurangnya uang pecahan dan diedarkannya kembali uang sen
tembaga lama yang dikenal sebagai “haantjes-duiter” ( uang sen gambar jago ) disamping
uang sen tembaga yang sah.

• menurunnya perdagangan domestik dan kemakmuran

Krisis gula, penyakit kopi dan perubahan dalam system moneter membawa suatu
penurunan dalam perdagangan domestic dan kondisi-kondisi kehidupan orang-orang desa di
karesidenan semarang, terutama selama periode 1883-1888. kebangkrutan beberapa majikan
dan orang-orang bisnis berarti bahwa banyak perkebunan pribadi di karesidenan ini dan
sekitarnya jatuh ke tangan maskapai-maskapai dagang yang besar, seperti nederlandsche
handel maatschappij ( maskapai dagang belanda ) dan bank-bank yang besar seperti, javasche
bank ( bank jawa ) ataupun firma perdagangan dorrepaal & Co, di semarang.

Daya beli petani dan tenaga kerja menurun oleh karena jatuhnya harga beras dan
rendahnya upah. Penghasilan para petani dan tenaga kerja selama priode ini tampak kecil,
sementara kebutuhan-kebutuhan mereka meningkat dan sewa tanah naik, pelayanan tenaga
kerja umum terus dilakukannya sampai dengan tahun 1885, dan pajak kepala harus dibayar
mulai tahun 1886. meningkatnya tempat-tempat opium di karesidenan ini selama periode
1870-1900 mencerminkan pertumbuhan jumlah pemadat opium diantara masyarakat desa dan
semakin bertambahnya kemelaratan mereka.

• lelayang: gambaran sebuah desa yang menyedihkan

Keadaan-keadaan serba kekurangan di daerah-daerah pendesaan di karesidenan


semarang pada akhir abad ke-19 untuk beberapa hal bias diwakili oleh kasus desa lelayang.
Permasalahan utama di daerah pendesaan menjelang akhir abad ke-19 ialah kecilnya
pendapatan, yang mungkin disebabkan oleh krisis ekonomi setelah tahun 1883. penduduk
desa telah menjadi sangat miskin, akan tetapi sumber-sumber pendapatan memang semakin
terbatas bahkan hal ini berlangsung jauh sebelum terjadinya krisis ekonomi. Selanjutnya
sebagai akibat dari kerja-kerja wajib yang dipaksakan selama tahun 1882-1886, ialah
terjadinya banyak perpindahan penduduk desa di distrik sambung, singen kidul, dan manggar
di demak menuju kudus dan jepara.

2.6 Masalah kesehatan di pedesaan 1870-1890

Penyakit merupakan masalah besar dipedesaan semarang pada abad ke-19. Sebab
sebab utamanya adalah pengabaian, kemiskinan, dan kurangnya perbaikan hampir disegala
bidang kesehatan dan sanitasi.

Pengaruh faktor faktor lingkungan yang penting (geografis ekologis dan iklim)
nampaknya dapat juga dikurangi apabila disediakan fasilitas-fasilitas kesehatan, pendidikan,
kehidupan sosial yang lebih baik. Namun kenyataanya tidak, dan dalam hal ini kebijaksanaan
pemerintah dalam pengembangan pedesaan memiliki andil yang besar. Kebijaksanaan
pemerintah secara luas dikosentrasikan pada intensifikasi bidang administrasi dan eksploitasi
sumber-sumber ekonomi. Kebijaksanaan pemerintah di konsentrasikan di kota-kota, terutama
kota-kota administrative colonial, lebih melindungi kesehatan orang-orang eropa dari pada
orang-orang Indonesia.

Pengalaman pedesaan Semarang pada akhir abad ke-19memberikan kesan bahwa


perbaikan komunikasi berdampak negatif bagi kesehatan di daerah-daerah pedesaan. Integrasi
jaringan-jaringan kerja ekonomi dan sosial disebabkan oleh perbaikan komunikasi, membuat
desa tidak hanya terbuka terhadap pengaruh-pengaruh ekonomi dari dunia luar, tetapi juga
terhadap penyakit. Orang-orang di pedesaan Semarang tidak mau memecahkan masalah-
masalah kesehatan mereka sendiri yang turun-temurun. Ini merupakan suatu keresahan sosial
di pedesaan Semarang . bab ini telah memperlihatkan salah satu dari contoh-contoh
keresahan sosial yang sering kali di sebabkan oleh penyakit, yaitu emigrasi dari desa-desa.
Bab berikutnya membahas dari keresahan sosial secara umum pada akhir abad ke-19.

2.7 Saluran keluar dan katup penyelamat sosial

Penduduk-penduduk desa yang hendak menghindari banyak kesulitan akan


meninggalkan desa mereka. Hal tersebut telah diuraikan dalam bab-bab terdahulu, dimana
migrasi dapat dilihat sebagai suatu respon kekacauan administrasi, bencana alam dan
sebagainya. Bab ini menguraikan bentuk-bentuk lain dari saluran keluar sosial, khususnya
kejahatan dan gerakan-gerakan keagamaan.

Kejahatan dan gerakan-gerakan keagamaan di Karesidenan Semarang pada


perempatan akhir abad ke-19 jelas merefleksikan kondisi-kondisi sosial dan ekonomi pada
waktu itu. Perbanditan, pencurian dan gerakan-gerakan keagamaan adalah sebuah katup
penyelamatanterhadap tekanan-tekanan yang disebabkan oleh kemerosotan kehidupan sosial
dan ekonomi. Bagaimanapun, kekurangan pemimpin-pemimpinyang tangguh dan
intensifikasi control colonial betul-betul mencegah berkembangnya perlawanan.

Tidak satu pun gerakan-gerakan yang dianalisa dalam hal ini betul-betul mengancam
rezim kolonial. Mereka dapat mengganggu para pegawai, sebab kerugian dan kehilangan
harta bendayang dialami penduduk setempat dan tiadanya jaminan keamanan bagi semuanya.
Tetapi merek tidak mengancam struktur kekuasaan. Munculnya ketidakpuasan, tekanan-
tekanan, dan protes kedalam saluran-saluran yang merupakan ancaman yang tidak serius bagi
rezim colonial itu, memang saluran keluar dan katup penyelamatan sosial telah
didistribusikan demi pertahanan rezim tersebut.