Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Penghantaran obat ke reseptor atau tempat bekerjanya obat sering terhambat
dengan adanya efek samping obat ataupun karena pelepasan obat tidak sesuai
pada tempat kerjanya. Untuk itu, obat dibuat dalam bentuk controlled release atau
sediaan lepas terkendali. Sediaan lepas terkendali ini mengatur pelepasan obat di
dalam tubuh yang dimaksudkan untuk meningkatkan efektifitas obat pada
reseptornya.

Sediaan sustained release atau sediaan lepas lambat merupakan bagian dari
bentuk controlled relese. Sediaan lepas lambat merupakan sediaan yang
menyebabkan obat terlepas ke dalam tubuh dalam waktu yang lama.

Untuk membuat sediaan lepas lambat ini, dibutuhkan eksipien atau bahan
tambahan yang dapat membuat zat aktif atau obat dapat dilepaskan secara
perlahan ke dalam tubuh. Untuk itu, makalah ini akan membahas mengenai bahan
tabahan untuk membuat sediaan lepas lambat.

I.2. Rumusan Masalah


1. Apa definisi dari sediaan sustained release?
2. Bagaimana mekanisme dari sediaan sustained release?
3. Eksipien apa saja yang dapat digunakan untuk membuat sediaan sustained
release?
4. Bagaimana sifat dari eksipien yang digunakan untuk membuat sediaan
sustained release?

I.3. Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui definisi dari sediaan sustained release.
2. Untuk mengetahui mekanisme dari sediaan sustained release.
3. Untuk mengetahui apa saja eksipien yang dapat digunakan untuk membuat
sediaan sustained release.

1
4. Untuk mengetahui sifat-sifat eksipien yang digunakan untuk membuat
sediaan sustained release.

I.4. Metode Penulisan


Metode yang digunakan penyusun dalam membuat makalah ini adalah
metode studi pustaka, yaitu dengan mencari informasi dari buku-buku referensi
serta mencari data dari situs internet yang terkait.

I.5. Sistematika Penulisan


BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
I.2. Rumusan Masalah
I.3. Tujuan Penulisan
I.4. Metode Penulisan
I.5. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
II.1. Definisi Sustained Release
II.2. Keuntungan dan Kerugian Sustained Release
II.3. Sifat Fisikokimia dan Biologis Sediaan
II.4. Mekanisme Pelepasan Sediaan Lepas Lambat
II.5. Metode formulasi sediaan lepas lambat
II.6. Bahan Pembantu Pelepasan Sediaan Sustained Release
BAB III PENUTUP
III.1. Kesimpulan

2
BAB II

PEMBAHASAN

II.1. Definisi Sustained Release

Sustained release merupakan bentuk sediaan yang dirancang untuk melepaskan


obatnya ke dalam tubuh secara perlahan-lahan atau bertahap sehingga
pelepasannya lebih lama dan memperpanjang aksi obat (Ansel, 1989). Sehingga
pengertian sediaan sustained release yaitu sediaan yang dirancang untuk
memberikan aktivitas terapetik diperlama dengan cara pelepasan obat secara
terus-menerus selama periode tertentu dalam sekali pemberian.

Keuntungan sediaan sustained release ini antara lain sediaan tersebut dapat
dikonsumsi dengan tidak begitu sering dibandingkan sediaan yang diformulasikan
untuk lepas segera dengan komposisi obat yang sama dan sediaan ini dapat lebih
terjaga secara terus-menerus dalam aliran darah. Tablet sustained relesase
diformulasikan di mana bahan-bahan aktif dilingkupi dengan lapisan matriks tak
larut sehingga proses pelarutan bahan obat terjadi melalui suatu lubang pada
matriks. Pada beberapa formulasi, matriks dibuat mengembang menjadi bentuk
gel sehingga obat terlebih dahulu akan larut pada matriks kemudian keluar
melalui lapisan matriks terluar.

II.2. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Sustained Release

Sediaan lepas lambat mempunyai beberapa keuntungan dibanding bentuk sediaan


konvensional, yaitu :
o Frekuensi pemberian obat untuk mendapatkan efek tertentu berkurang.
o Efek terapetik yang diperoleh lebih lama.
o Lebih disukai dibanding sediaan konvensional karena lebih efisien.

3
o Efek merugikan dari obat dapat ditekan karena berkurangnya frekuensi
pemberian obat (tidak ada fluktuasi kadar obat dalam darah).

Sedangkan kerugian bentuk sediaan lepas lambat antara lain :


 Biaya produksi lebih tinggi sehingga harga obat
lebih mahal
 Efektifitas pelepasan obat dipengaruhi dan dibatasi
oleh lama tinggal di saluran cerna
 Jika sediaan gagal memberikan pelepasan
diperlambat, maka konsentrasi toksik dari obat dapat terlampaui
 Jika penderita mendapat reaksi samping obat atau
secara tiba–tiba mengalami keracunan maka untuk menghentikan obat dari
sistem tubuh akan lebih sulit dibanding sediaan konvensional
 Tidak dapat digunakan untuk obat yang memiliki
dosis besar (500 mg)

II.3. Sifat Fisikokimia dan Biologis Sediaan


Sifat fisikokimia dan biologis dari bahan obat yang akan diformulasikan sebagai
tablet lepas lambat merupakan faktor yang perlu diperhatikan.

Sifat-sifat fisikokimia ini akan mempengaruhi sifat fisikokimia tablet yang akan
dihasilkan (Lee dan Robinson, 1978) :
 Dosis
Produk yang digunakan peroral dengan dosis lebih besar dari 500 mg sangat
sulit untuk dijadikan sediaan lepas lambat karena pada dosis yang besar akan
dihasilkan volume sediaan yang terlalu besar yang tidak dapat diterima
sebagai produk oral.
 Kelarutan
Obat dengan kelarutan dalam air yang terlalu rendah atau terlalu tinggi tidak
cocok untuk sediaan lepas lambat. Batas terendah untuk kelarutan pada
sediaan lepas lambat adalah 0,1 mg/ml.

4
 Koefisien partisi
Obat yang mudah larut dalam air memungkinkan tidak mampu menembus
membran biologis sehingga obat tidak sampai ke tempat aksi. Sebaliknya,
untuk obat yang sangat lipofil akan terikat pada jaringan lemak sehingga
obat tidak mencapai sasaran.
 Stabilitas obat
Bahan aktif yang tidak stabil terhadap lingkungan yang bervariasi di
sepanjang saluran cerna (enzim, variasi pH, flora usus) tidak dapat
diformulasikan menjadi sediaan lepas lambat.

Beberapa sifat biologis yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan lepas
lambat (Lee dan Robinson, 1978):
 Absorbsi
Obat yang lambat diabsorbsi atau memiliki kecepatan absorbsi yang
bervariasi sulit untuk dibuat sediaan lepas lambat. Batas terendah harga
konstanta kecepatan absorbsi untuk sediaan oral adalah sekitar 0,25/jam
dengan asumsi waktu transit gastrointestinal 10-12 jam.
 Volume distribusi
Obat dengan volume distribusi yang benar-benar tinggi dapat mempengaruhi
kecepatan eliminasinya sehingga obat tersebut tidak cocok untuk dibuat
sediaan lepas lambat.
 Durasi
Obat dengan waktu paro yang pendek dan dosis yang besar tidak cocok
untuk dijadikan sediaan lepas lambat sedang obat dengan waktu paro yang
panjang dengan sendirinya akan mempertahankan kadar obat pada indeks
terapetiknya sehingga tidak perlu dibuat sediaan lepas lambat. Bahan aktif
berwaktu paruh biologis relatif pendek, misalnya 1 jam, mungkin sulit
diformulasi menjadi sediaan lepas lambat karena ukurannya juga menjadi
terlalu besar.
 Indeks terapetik

5
Obat dengan indeks terapi yang kecil memerlukan kontrol yang teliti
terhadap kadar obat yang dilepaskan dalam darah, sehingga tidak sesuai
untuk sediaan lepas lambat karena berisiko tinggi terjadinya efek toksik.
Oleh karena itu, sediaan lepas lambat dapat berperan dalam mengontrol
pelepasan obat agar tetap dalam indeks terapetiknya.

II.4. Mekanisme Pelepasan Sediaan Lepas Lambat


 Difusi
Pada mekanisme ini, obat dapat berdifusi keluar melalui sistem matriks..
Pada sistem reservoir, inti obat dienkapsulasi dalam membran polimer,
sehingga difusi obat melalui membran dapat dikendalikan kecepatan
pelepasannya. Mekanisme pelepasan obat yang terjadi berawal dari
terlarutnya obat di dalam membran dan diikuti oleh difusi dan terlepasnya
obat dari permukaan pada sisi lain dari membran.

Jika polimer tidak larut air, maka kelarutan obat dalam membran
merupakan faktor penting yang mendorong terjadinya difusi melintas
membran. Sedangkan jika membran merupakan polimer larut air, sebagian
polimer akan terlarut membentuk saluran-saluran yang merupakan panjang
lintasan difusi yang bersifat konstan.  

Gambar 1. Pelepasan obat melalui kontrol difusi melintas membran polimer tidak larut air

Gambar 2. Pelepasan obat melalui kontrol difusi melintas membran polimer larut air

6
 Disolusi
Obat disalut dalam bahan polimerik dan kecepatan disolusi polimer
menentukan kecepatan pelepasan obat. Sistem ini dapat digunakan untuk
menahan pelepasan obat melalui cara yang berbeda-beda. Salah satunya
dengan menempatkan partikel-partikel obat ke dalam penyalut yang
masing-masing memiliki ketebalan yang bervariasi, akibatnya pelepasan
obat akan terjasi secara bertahap. Partikel obat yang memiliki lapisan
penyalut yang paling tipis akan memberikan pelepasan yang segera,
sehingga dapat memenuhi konsentrasi obat yang dibutuhkan pada tahap
awal pemberian dosis, sedangkan lapisan penyalut yang lebih tebal akan
memenuhi kadar obat yang dibutuhkan utuk menjaga agar konsentrasi obat
tetap konstan di dalam tubuh.

 Osmosis
Penempatan membran semipermeabel di sekeliling tablet, partikel atau
larutan obat, menyebabkan adanya pembentukan perbedaan tekanan
osmotik antara bagian dalam dan bagian luar tablet sehingga memompa
larutan obat keluar dari tablet melalui celah kecil dan memberikan sifat
pelepasan obat yang diperlama.

Pada sistem ini, membran semipermeabel digunakan untuk mengendalikan


kecepatan pelepasan obat. Kecepatan pelepasan obat dapat konstan selama
konsentrasi obat melewati membran juga tetap.

7
 Swelling
Ketika suatu polimer kontak dengan air, maka terjadi penyerapan air yang
menyebabkan polimer dapat mengembang, sehingga obat yang terdispersi
di dalam polimer akan berdifusi keluar. Akibatnya, pelepasan obat
bergantung pada dua proses kecepatan yang simultan yaitu antara proses
berdifusinya air ke dalam polimer dan peregangan rantai polimer.
 Proses Erosi
Pada sistem ini, polimer pada matriks akan mengalami erosi atau
pengikisan karena terbentuk ikatan labil akibat reaksi yang terjadi secara
hidrolisis maupun enzimatis. Seiring dengan terkikisnya polimer, maka
obat akan dilepaskan ke dalam medium di sekitarnya.

II.5. Metode formulasi sediaan lepas lambat


Untuk formulasi sediaan lepas lambat digunakan suatu barrier kimia atau fisika
untuk mendapatkan pelepasan yang lambat dari dosis maintenance, diantaranya
adalah dengan penyalutan, matrik lemak atau plastik, mikroenkapsulasi, ikatan
kimia dengan resin penukar ion, dan sistem pompa osmotik.
Teknologi yang sering digunakan dalam formulasi tablet lepas antara lain :
1. Sistem matriks
Sistem matriks merupakan sistem yang paling sederhana dan sering
digunakan dalam pembuatan tablet lepas lambat. Bahan aktif didispersikan
secara homogen di dalam pembawa. Bahan pembawa yang sering digunakan
dapat digolongkan menjadi bahan pembawa tidak larut air bersifat lilin/wax
dan hidrofilik pembuatan gel. Campuran tersebut kemudian dicetak menjadi
tablet.
Beberapa matriks yang digunakan untuk tablet matriks 
Karakteristik matriks Bahan
Matriks Hidrofobik Polietilen
PVC
Kopolimer metil akrilat-metakrilat
etilselulosa

8
Matriks Lemak Lemak karnauba
- Stearil alkohol, as.stearat, PEG
Lemak kastor
- PEG monostearat
Trigliserida
Hidrofilik Metilselulosa, HEC, HPMC, Na CMC,
Na alginat, karboksipolimetilen.

2. Penyalutan
Teknologi penyalutan sering digunakan pada bahan aktif berbentuk serbuk,
pellet mengandung bahan aktif atau tablet. Lapisan penyalutan ini berfungsi
mengendalikan ketersediaan bahan aktif dalam bentuk larutan. Ketebalan
lapisan yang berbeda dicampurkan untuk menghasilkan campuran dengan
karakteristik pelepasan obat yang diharapkan.
3. Pompa osmotis
Penyalut tablet yang mengandung bahan aktif dengan membran semi
permeabel. Membran ini dapat dilalui hanya oleh molekul-molekul air tetapi
tidak oleh bahan aktif terlarut. Membran tersebut dilubangi dengan Bor
laser. Melalui lubang inilah larutan bahan aktif didorong keluar dari tablet
bersalut oleh tekanan osmosa yang berasal dari bahan aktif osmosis.

II.6. Bahan Pembantu Pelepasan Sediaan Sustained Release


II.6.1. Etilselulosa
1. Sinonim
Aquacoat; E462; Ethocel; Surelease

2. Nama Kimia
Cellulose ethyl ether

3. Berat Molekul
454.50912 [g/mol]

9
4. Kelarutan
Larut dalam air dingin, praktis tidak larut dalam kloroform, etanol (95%)
dan eter; namun larut dalam campuran etanol dan iklorometana, campuran
metanol dan diklorometana, dan campuran air dan alkohol. Larut dalam
larutan aseton encer, campuran diklorometana dan propan-2-ol, dan
pelarut organik lain.

5. Struktur

6. Pemerian

Tidak berasa, mudah mengalir, serbuk putih

7. Fungsi
Agen penyalut, pengikat tablet, dan peningkat viskositas.

8. Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik


 Digunakan dalam sediaan formulasi oral dan topikal
 Dalam formulasi oral digunakan sebagai agen penyalut hidrofobik
untuk tablet dan granul
 Penyalutan dengan ethylcellulose digunakan untuk modifikasi
pelepasan obat, menutupi rasa tidak enak, atau untuk memberikan
stabilitas dalam formulasi contohnya ethylcellulose dilarutkan dalam
propan-2-ol digunakan sebagai penyalut granul asam askorbat untuk
mencegah oksidasi.
 Digunkana sebagai bahan tambahan dalam kosmetik dan produk
makanan

10
 Dalam formulasi topical, digunakan sebagai thickening agent
dalam krim, lotion, gel
 Dalam formulasi tablet, digunkaan sebagai bahan pengikat yang
dicampur kering atau granulasi basah dengan pelarut etanol 95%
 Etilselulosa dengan viskositas tinggi digunakan dalam obat
mikroenkapsulasi

9. Mekanisme sebagai sustained release

Modifikasi pelepasan sediaan tablet dapat juga dibuat dengan mengunakan


etilselulosa sebagai pembentuk matriks. Etilselulosa dilarutkan dalam
pelarut organic yang dapat digunakan secara tunggal untuk membuat
lapisan yang tidak larut air. Dengan viskositas yang tinggi dapat membuat
lapisan yang lebih kuat dan lebih tahan . Lapisan etilselulosa dapat
dimodifikasi untuk mengubah kelarutannya dengan penambahan
hidroksipropil metilselulosa atau plastisizer. Dispersi cair polimer dari
etilselulosa seperti Aquacoat dapat digunakan untuk membuat lapisan
etilselulosa tanpa membutuhkan pelarut organic. Dengan terbentuk lapisan
etilselulosa yang terhidrasi, akan mengontrol difusi air selanjutnya ke
dalam metriks. Difusi obat melalui lapisan matriks yang terhidrasi akan
mngontrol kecepatan pelepasan obat. Lapisan matrils terhidrasi akan
mengalami erosi sehingga menjadi terlarut. Konsentrasi yang digunakan
dalam tablet salut sustained release adalah 3-20%.

10. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan


Stabil, sedikit higroskopik. Secara kimiawi, resisten terhadap alkali.
Sensitif terhadap bahan asam dibandingkan dengan ester selulosa.
Sebagian besar bahan harus disimpan dalam wadah kedap udara di tempat
yang kering pada temperatur 7-320C.

11. Metode Pembuatan


Ethylcellulose dibuat dari serbuk kayu dengan penambahan alkali dengan
cara etilasi dari alkali selulosa dengan chloroethane.
12. Inkompatibilitas

11
Inkompatibel dengan paraffin wax dan microcrystalline wax.
II.6.2. Polymethacrylates

1. Sinonim
Acryl-eze; Acryl-eze MP; Eastacryl 30D; Eudragit; Kollicoat MAE 30 D;
Kollicoat MAE 30 DP; polimer methacrylates.

2. Kelarutan

3. Pemerian
Menurut monografi USPNF, Eudragit RL dan Eudragit RS merupakan
kopolimer metakrilat ammonium yang disintesis dari asam-asam akrilik
dan ester methacrylic, dengan Eudragit RL (Tipe A) 10% dari kelompok
ammonium kuatener fungsional dan Eudragit RS (Type B) yang memiliki
5% dari kelompok ammonium kuaterner fungsional. Kelompok amonium

12
ini merupakan garam-garam dan menigkatkan permeabilitas pH dari
polimer. Kedua polimer larut air dan film dihasilkan dari Eudragit RL
bersifat permeabel terhadap air, sedangkan film dihasilkan dari Eudragit
RS hanya sedikit permeabel terhadap air. Keduanya dapat digunakan
dalam larutan Propan-2-ol-aseton (60: 40) dengan konsentrasi 12.5 %.
Larutannya tidak berwarna atau agak kuning, agak keruh, dan berbau khas.
Pelarut granul bebas (Eudragit RL 100 dan Eudragit RS 100) mengandung
≥ 97% dari berat kering polimer.
Eudragit RL PO dan Euragit RS PO berupa serbuk putih dengan bau
seperti amin. Keduanya merupakan polimer khas yang sama seperti
Eudragit RL dan RS. Mengandung ≥ 97% dari polimer kering.

Eudragit RL 30 D dan Eudragit RS 30 D adalah dispersi aqueous yang


merupakan kopolimer dari asam-asam akrilik dan ester methacrylic
dengan kelompok amonium kuaterner yang jumlahnya kecil. Dispersinya
mengandung 30% polimer. Film yang dihasilkan dari Eudragit RL 30 D
permeable terhadap air dan zat-zat aktif terlarut, sedangkan film yang
dihasilkan dari Eudragit RS 30 D kurang permeable terhadap air. Lapisan
film dari kedua polimer tersebut akan lepas pada pH tertentu sehingga
akan terjadi pelepasan zat aktif. Plasticizers umumnya ditambahkan untuk
memperbaiki sifat film. Konsentrasi yang digunakan untuk sediaan
sustained release antara 0.5-1.0 %.

Eudragit NE 30 D dan Eudragit NE 40 D adalah dispersi aqueous yang


merupakan copolymer netral dari ester asam polymethacrylic. Dispersinya
berupa cairan putih susu dengan viskositas rendah dan memiliki bau
aromatik lemah. Bila lapisan film yang terbentuk dari campuran Eudragit
tersebut diberi pH tertentu maka lapisan akan larut air dan membengkak
kemudian pecah sehingga senyawa aktif keluar.

13
4. Struktur

Eudragit RL dan Eudragit RS :


R1 = H, CH3
R2 = CH3, C2H5
R3 = CH3
R4 = CH2CH2N(CH3)3+ Cl-

Eudragit NE 30 D :
R1, R3 = H, CH3
R2, R4 = CH3, C2H5

5. Aplikasi dalam Formualsi Farmasetik


Polymethacrylates terutama digunakan sebagai agen penyalut lapisan film
dalam sediaan oral seperti kapsul dan tablet. Kekuatan hasil penyalutan
tergantung dari jenis polimer yang digunakan, lapisan film yang terbentuk,
serta kelarutan polimer dalam cairan GIT.

Eudragit RL, RS, RD 100, NE 30 D dan NE 40 D digunakan untuk


membentuk lapisan film yang tidak larut air sehingga dapat digunakan
untuk produk yang sustained release. Lapisan film Eudragit RL lebih
permeabel daripada Eudragit RS, dan lapisan film dengan permeabilitas
tertentu dapat dihasilkan dari penggabungan 2 jenis tipe tersebut.

Polymethacrylates dapat dikempa langsung dengan konsentrasi 10-50 %.


Polimer Polymethacrylates dapat digunakan sebagai lapisan matriks dalam
sediaan transdermal.

6. Mekanisme dalam Sediaan Sustained Release


Eudragit RL, RS, RD 100, NE 30 D dan NE 40 D merupakan polimer
yang tidak larut dalam air namun akan mengembang pada pH tertentu

14
dalam cairan pencernaan. Sifat seperti inilah yang digunakan untuk
sediaan sustained release yaitu akan terbentuk kompleks yang tidak larut
dalam air dan akan mengembang pada cairan pencernaan dan akan
terdifusi dan tererosi secara perlahan-lahan.

7. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan


Eudragit RL, RS, RD 100, NE 30 D dan NE 40 D akan stabil pada +_ 25 C
namun akan tidak stabil pada suhu dibawah 0 C. Hindari dari kontaminasi
luar, dengan cara segera menutup wadah setelah pemakaian.

8. Inkompatibilitas

Inkompatibilitas terjadi dengan dispersi polymethacrylate tertentu yang


tergantung pada ion, sifat fisik polimer, dan pelarut. Contohnya,
pembekuan dapat disebabkan oleh larutan elektrolit, perubahan pH,
beberapa pelarut organik, dan suhu ekstrem. Dispersi Eudragit L 30 D, RL
30 D, L 100-55, dan RS 30 D inkompatibiltas dengan Magnesium
Stearate.

Interaksi antara polymethacrylates dengan beberapa obat dapat terjadi,


meskipun padatan polymethacrylates dan larutan organik umumnya lebih
kompatibel dibandingkan dispersi aqueous.

II.6.3. Carnauba Wax


1. Sinonim
Brazil wax; caranda wax

2. Nama Kimia
Sodium alginate

3. Kelarutan
Larut dalam kloroform hangat dan toluen hangat, sedikit larut dalam
etanol (95%) mendidih, praktis tidak larut dalam air.

15
4. Pemerian
Carnauba Wax berbentuk serbuk atau serpihan berwarna cokelat muda
sampai kuning pucat, berbau lembut, dan tidak berbau serta bebas tengik.
5. Fungsi
Stabilizing agent; suspending agent; disintegran tablet dan kapsul; tablet
binder; agen peningkat viskositas.

6. Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik


Carnauba wax (10–50% w/w) digunakan tunggal atau gabungan dengan
hypromellose, hydroxypropyl cellulose, alginate/pectin-gelatin, Eudragit,
and steril alkohol dalam formulasi bentuk sediaan tablet sustained release

Jurnal yang berjudul mekanisme penglepasan obat dari tablet yang


menggunakan matriks polimer wax menjelaskan sistem matriks polimer
wax yang dievaluasi untuk tablet sustained release untuk
diphenhydramine HCl (antihistamin) menunjukkan profil pelepasan obat
yang diinginkan sebagai sustained release. Hal ini dicapai dengan
memasukkan Eudragit L dalam matriks carnauba wax. Dalam sistem
polimer wax ini, carnauba wax menjaga integritas dari matriks, sedangkan
Eudragit L perlahan terkikis dalam matriks sebagaimana pelepasan obat.
Studi in vitro pelepasan obat dilakukan pada pH fisiologis saluran
pencernaan. Laju pelepasan obat lebih cepat dalam buffer fosfat pH 7,5
daripada 0,1 N HCl solusi. Penglepasan obat dari matriks polimer
berdasarkan pada kombinasi mekanisme difusi dan erosi.

7. Mekanisme dalam Sediaan Sustained Release


Carnauba Wax membentuk matriks yang akan mengontrol pelepasan obat
melalui difusi pori dan erosi. Pelepasan obat total dari matriks ini tidak
mungkin terjadi, karena fraksi tertentu dari dosis tersebut disalut dengan
lapisan tipis yang efektif dengan penambahan surfaktan atau zat pengikat
dalam bentuk polimer-polimer hidrofilik yang mendorong air dan erosi
matriks yang berurutan.

8. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan

16
Carnauba Wax stabil dan disimpan diwadah tertutup, ditempat yang sejuk
dan kering.

9. Metode Pembuatan
Carnauba Wax diperoleh dari tunas daun dan daun palem Carnauba Brazil
(Copernicia cerifera). Daunnya dikeringkan dan diparut dan lilin
kemudian ditarik dengan penambahan air panas.
10. Inkompatibilitas

II.6.4. Glyceryl Monostearate


1. Sinonim
Capmul GMS-50; Cutina GMS; 2,3-dihydroxypropyl octadecanoate;
glycerine monostearate; glycerin monostearate; glycerol monostearate;
glycerol stearate; glyceryl stearate; GMS; Imwitor 191 and Imwitor 900;
Kessco GMS; Lipo GMS 410; Lipo GMS 450; Lipo GMS 600; monoester
with 1,2,3-propanetriol; monostearin; Myvaplex 600P; Myvatex; 1,2,3-
propanetriol octadecanoate; Protachem GMS-450; Rita GMS; stearic acid,
monoester with glycerol; stearic monoglyceride; Stepan GMS; Tegin;
Tegin 503; Tegin 515; Tegin 4100; Tegin M; Unimate GMS.Nama Kimia
Kalsium alginat

2. Nama Kimia
Octadecanoic acid, monoester with 1,2,3-propanetriol [31566-31-1]

3. Kelarutan
Larut dalam etanol panas, eter, chloroform, aseton panas, minyak mineral.
Praktis tidak larut dalam air, tapi dapat didispersikan dalam air dengan
penambahan sejumlah kecil sabun atau surfaktan lainnya.

4. Pemerian
Berwarna putih hingga kekuningan, padatan seperti wax dalam bentuk
bead, serpihan (flakes), atau serbuk. Berasa lengket saat disentuh dan
mempunyai bau dan rasa ringan seperti lemak. Titik leleh 56-58°. Angka
penyabunan (saponifikasi) 164-170. Angka Iod tidak lebih dari 6.

17
5. Struktur

6. Fungsi
Emollient; emulsifying agent; solubilizing agent; stabilizing agent;
sustained-release ingredient; lubrikan tablet dan kapsul.

7. Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik


Berbagai varietas dari glyceryl monostearate digunakan dalam makanan,
sediaan farmasi dan kosmetik, sebagai agen pengemulsi nonionik,
stabilizers, emollients, dan plasticizers. Berfungsi sebagai effective
stabilizer, yaitu pelarut mutual untuk campuran polar dan nonpolar yang
dapat membentuk emulsi air-dalam-minyak atau minyak-dalam-air. Sifat
ini juga dimanfaatkan untuk digunakan sebagai agen pendispersi untuk
pigment-pigment dalam minyak atau padatan dalam lemak, atau pelarut
untuk fosfolipid, seperti lesitin.

Glyceryl monostearate juga digunakan dalam teknik granulasi basah untuk


membuat granul dan tablet.

Glyceryl monostearate merupakan lubrikan untuk pembuatan tablet dan


dapat digunakan untuk membuat matriks sustained release pada sediaaan
padat. Aplikasinya dalam sustained-release termasuk formulasi pellets
untuk tablet atau suppositoria dan untuk sediaan bolus untuk hewan.

18
Glyceryl monostearate juga telah digunakan sebagai bahan matriks untuk
sediaan biodegradable, implantable, dan controlled-release.

Ketika menggunakan glyceryl monostearate dalam formulasi,


kemungkinan bentuk polimorfisme harus dipertimbangkan. Bentuk α
dapat didispersikan dan dapat membentuk busa (foamy), berguna sebagai
agen pengemulsi atau pengawet. Bentuk β, lebih stabil, cocok untuk
matriks wax. Aplikasi ini telah digunakan untuk menutupi rasa dari
clarithromycin pada sediaan untuk pediatrik.

8. Mekanisme dalam Sediaan Sustained Release


Glyceryl monostearate dalam sediaan sustained release dipakai sebagai
bahan pembentuk matriks. Tipe matriks dari Glyceryl monostearate adalah
matrix wax yang tidak larut dan terkikis. Matriks jenis ini mengontrol
pelepasan obat melalui difusi pori dan erosi.

Sebagai contoh, tipe matriks dispersi padat dari silymarin dan GMS/PEG
yang dibuat dengan metode pelelehan fusi. PEG dilelehkan terlebih dahulu
pada temperatur 90oC, kemudian silymarin ditambahkan, lalu diaduk
hingga membentuk larutan yang homogen. Setelah itu GMS ditambahkan,
dilelehkan dan diaduk selama 5 menit hingga diperoleh campuran yang
homogen. Campuran tersebut kemudian dituang ke dalam cetakan dan
didinginkan pada suhu 18oC selama 4 jam, dan kemudian keluarkan dari
cetakan. Penggunaan GMS, berdasarkan penelitian tersebut diketahui
dapat menurunkan laju pelepasan dari bahan aktif. Tidak seperti sistem
dengan porositas yang tinggi, yang dapat dengan mudah hancur dengan
masuknya air melalui proses kapiler, sistem matriks GMS/PEG tidak
mengalami kapilaritas, dan proses hidrasi dari sistem terjadi hanya pada
lapisan luar (Wei Wu, 2006)

19
Lipofilisitas diperkirakan merupakan mekanisme yang mungkin terhadap
pelepasan obat dari system matriks GMS. Lipofilisitas dari system matriks
GMS dipelajari menggunakan pengukuran sudut kontak dari tetesan air
pada permukaan, dan perpindahan air ke dalam serbuk campuran pada
kolom HPLC. Peningkatan jumlah GMS menghasilkan peningkatan sudut

20
kontak tetesan air, dan meningkatkan pengaruh tekanan terhadap
kecepatan alir air terhadap serbuk campuran. Hal ini dapat disebabkan
karena peningkatan lipofilisitas dari matriks, menyebabkan matriks sulit
dibasahi. Akibatnya, laju penetrasi air ke dalam matriks menurun, dan
pelepasan obat dapat tertahan (Kok Khiang Peh, 2000).

9. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan


Jika disimpan pada temperatur hangat, nilai keasaman dari glyceryl
monostearate akan meningkat dengan pengocokkan hingga saponifikasi
dari ester dengan sejumlah air. Antioksidan yang efektif dapat
ditambahkan, seperti butylated hydroxytoluene and propyl gallate.

Glyceryl monostearate sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup rapat, di


tempat yang dingin, kering, dan terlindung dari cahaya.

10. Metode Pembuatan


Glyceryl monostearate dibuat dengan mereaksikan glycerin dengan
triglycerides dari hewan atau tanaman, menghasilkan campuran dari
monoglycerides dan diglycerides. Diglycerides kemudian dapat
direaksikan kembali untuk mendapatkan 90% monoglyceride grade.
Proses lainnya meliputi reaksi glycerol dengan stearoyl chloride.

Bahan awal bukan merupakan substansi murni dan oleh karena itu produk
yang diperoleh mengandung campuran dari ester-ester, termasuk palmitate
dan oleate. Akibatnya, komposisi dan sifat-sifat fisik dari glyceryl
monostearate dapat bervariasi, tergantung dari proses pembuatannya.

11. Inkompatibilitas
Inkompatible dengan substansi-substansi asam

II.6.5. Glyceryl Palmitostearate


1. Sinonim
Glycerin palmitostearate; glycerol palmitostearate; 2-[(1-oxohexadecyl)-
oxy]-1,3-propanediyl dioctadecanoate dan 1,2,3-propane triol; Precirol
ATO 5.

21
2. Nama Kimia
Octadecanoic acid, 2,3-dihydroxypropyl ester dicampur dengan 3-
hydroxy-2-[(1-oxohexadecyl)-oxy] propyl octadecanoate [8067-32-1]

3. Kelarutan
Larut dalam chloroform dan dichloromethane; praktis tidak larut dalam
ethanol (95%), minyak mineral, dan air.

4. Pemerian
Serbuk putih halus dengan bau lemah.

5. Fungsi
Bahan biodegradable; coating agent; gelling agent; release modifying
agent; sustained-release agent; diluent tablet dan kapsul; lubrikan tablet
dan kapsul; agen penutup rasa (taste-masking agent).

6. Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik


Glyceryl palmitostearate digunakan dalam sediaan farmasi oral padat
sebagai lubrikan. Waktu disintegrasi meningkat dan kekuatan tablet
menurun dengan peningkatan waktu pencampuran.

Digunakan sebagai matriks lipofilik untuk sediaan tablet dan kapsul


sustained release. Pembuatan tablet dapat dilakukan dengan teknik
granulasi atau hot-melt, membentuk tablet yang punya sifat lepas cepat.
Laju pelepasan menurun dengan peningkatan kandungan glyceryl
palmitostearate.

Glyceryl palmitostearate digunakan untuk membuat microspheres, yang


dapat digunakan dalam kapsul atau tablet kempa, pellets, coated beads,
dan gel biodegradable. Digunakan juga sebagai penutup rasa (taste-
masking).

22
Tabel I: Penggunaan glyceryl palmitostearate.

Konsentrasi
Penggunaan
(%)

Matriks untuk sustained release 10.0–25.0

Tablet masking 2.0–6.0

Tablet lubricant 1.0–3.0

7. Mekanisme dalam Sediaan Sustained Release


Glyceryl palmitostearate digunakan sebagai pembentuk matriks untuk
sediaan sustained release. Penggunaan Glyceryl palmitostearate sebagai
agent pembentuk matriks sustained release menunjukkan laju absorpsi
yang lebih tertahan (lambat), menghasilkan profil konsentrasi obat dalam
plasma yang lebih seragam (Bhagwat, 2009).

Sebagai contoh, dalam suatu percobaan menggunakan Diclofenac calcium


alginate (DCA) beads yang mengandung glyceryl palmitostearate (GPS)
yang dibuat dengan metode ionotropic gelation. Penggunaan GPS dapat
meningkatkan ukuran partikel beads DCA, meningkatkan kemampuan
menjerat obat (Diclofenac sodium/DS), ambilan air, dan Pelepasan DS
dari beads. Hal ini disebabkan sifat hidrofobik dari GPS yang dapat
meningkatkan barier untuk mencegah bocornya air dari beads, yang
menyebabkan menurunnya pelepasan obat dari beads (Pongjanyakul,
Sungthongjeen, dan Puttipipatkhachorn, 2006).

23
Fig. 1. Microscopic morphology of DCA bead (a), 3%GPS–DCA bead (b), DCA bead (c) and 3%GPS–DCA
bead heated for 45 min (d), and internal structure of
3%GPS–DCA bead heated for 45 min (e).

24
8. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan
Glyceryl palmitostearate tidak boleh disimpan pada temperatur diatas
35°C. Untuk penyimpanan selama 1 bulan, glyceryl palmitostearate
sebainya disimpan pada temperatur antara 5–15°C dalam wadah kedap
udara, terlindung dari cahaya dan kelembapan.

9. Metode Pembuatan
Glyceryl palmitostearate dibuat, tanpa katalis, dengan esterifikasi langsung
dari asam palmitat dan stearat dengan glycerol.

10. Inkompatibilitas
Glyceryl palmitostearate inkompatibel dengan ketoprofen dan naproxen.

II.6.6. Hidroksi Propil Metil Selulosa (HPMC)


1. Sinonim
Cellulose, hidroksipropil metil eter, HPMC, Methocel, metilselulosa
propilen glikol eter, metil hidroksipropilselullosa, Metolose.

2. Nama Kimia
Cellulose, 2-Hydrolxypropil methyl ether

3. Kelarutan
Larut dalam air dingin, praktis tidak larut dalam kloroform, etanol (95%)
dan eter; namun larut dalam campuran etanol dan iklorometana, campuran
metanol dan diklorometana, dan campuran air dan alkohol. Larut dalam
larutan aseton encer, campuran diklorometana dan propan-2-ol, dan
pelarut organik lain.

4. Struktur

25
5. Pemerian
HPMC berupa serbuk putih atau hampir putih, tidak berbau, dan tidak
berasa.

6. Fungsi
Agen coating, lapisan film, agen stabilizer, suspending agent, tablet
binder, agen peningkat viskositas.

7. Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik


HPMC secara luas digunakan dalam formulasi farmasetik sediaan oral dan
topikal.

Dalam sediaan oral, HPMC terutama digunakan sebagai tablet binder,


dalam lapisan coating, dan sebagai bahan matriks pelepasan diperluas.
Konsntrasi yang digunakan antara 2-5% w/w sebagai binder baik secara
granulasi basah maupun kering. Tingkatan viskositas yang tinggi dapat
digunakan memperlambat pelepasan obat yang mudah larut air dari
matriks. Berdasarkan tingkatan viskositas, konsentrasi yang digunakan
antara 2-10% w/w sebagai lapisan film untuk lapisan coating tablet.

8. Mekanisme sebagai sustained release

Bahan obat dan bahan tambahan lainnya secara kesatuan diikat dengan
polimer hidrofilik (contoh HPMC) dan kemudian dicetak menjadi bnetuk
sediaan. Selama proses pencernaan, cairan gastrointestinal berpenetrasi ke
dalam tablet dan matriks HPMC hidrofilik hidrat., yang menyebabkan
matriks tersebut mengembang dan berubah bentuk menjadi bentuk lapisan
gel. Lapisan gel tersebut akan mengontrol difusi air ke dalam sistem dan
difusi obat keluar dari sistem. Pada periode yang lama, lapisan tersebut
akan pecah dan larut sehingga air dapat berpenetrasi lebih dalam ke dalam
matriks, berubah manjadi lapisan gel yang baru. Proses ini berlangsung
terus-menerus hingga seluruh matriks hidrofilik larut. Matriks bentuk gel
ini secara efektif dapat menjerat bahan aktif dan memperlambat
pelepasannya, yang terjadi dengan proses difusi melalui lapisan gel atau
erosi matriks gel itu sendiri.

26
9. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan
Serbuk HPMC merupakan bahan yang stabil, meskipun bersifat
hhigroskopis setelah dipanaskan. Dalam bentuk larutan stabil pada pH 3-
11. Peningkatan temperatur dapat mengurangi viskositas larutan. Larutan
encer bersifat resisten terhadap enzim, yang memberikan stabilitas
iskositas yang baik selama penyimpanan yang lama. Namun, larutan encer
dapat rusak oleh adanya pertumbuhan bakteri sehingga lebih baik
ditambahkan dengan pengawet antimikroba. Serbuk HPMC baik disimpan
dalam kotak tertutup rapat, sejuk dan kering.

10. Metode Pembuatan


Merupakan bentuk murni dari selulosa, diperoleh dari kapas atau pulpa
kayu yang direaksikan dengan larutan NaOH untuk menghasilkan selulosa
alkali yang mengembang di mana secara kimia bersifat lebih reaktif
dibanding selulosa biasa. Selulosa alkali ini kemudian dicampur dengan
klorometana dan propilen oksida untuk menghasilkan ester metil
hidroksipropil.

11. Inkompatibilitas
HPMC inkompatible dengan beberapa agen pengoksidasi.

II.6.7. Hydroxyethyl Cellulose (HEC)


1. Sinonim
Selulosa hidroksietil eter, etil hidroksi selulosa, etilose, hyetellose

2. Kelarutan
Larut dalam air panas maupun dingin; praktis tidak larut dalam aseton,
etanol (95%), eter, toluene, dan pelarut organik lainnya; larut sebagian
dalam pelarut organik polar seperti glikol.

3. Pemerian
Serbuk berwarna coklat terang atau krem keputihan, tidak berbau dan
berasa, higroskopik.

27
4. Struktur

5. Fungsi
Coating agent, suspending agent, binder, thickening agent, viscosity-
increasing agent.

6. Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik


HEC adalah zat nonioonik dan polimer larut air. HEC biasa digunakan
sebagai thickening agent sediaan optalmik dan sediaan topikal, juga
sebagai binder dan penyalut dalam tablet. Saat ini juga digunakan
sesebagai lubrikan untuk sediaan obat mata, pembersih lensa kontak, dan
mulut kering.

Konsentrasi pemakaian HEC dalam sediaan bergantung pada pelarut dan


bobot molekulnya. HEC juga banyak dipakai dalam kosmetik.

7. Mekanisme sebagai sustained release

HEC (polimer matriks) digunakan agar difusi obat masuk ke dalam fase
aqueous-nya berjalan lambat. Hubungan hidrofilik-hidrofobik digunakan
untuk menghasilkan pelepasan obat yang lebih konstan dan teratur.

8. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan


Serbuk HEC stabil dengan zat higroskopik. Larutan HEC relative stabil
pada pH 2-12 tanpa mempengaruhi viskositas larutan. Larutan kurang
stabil dibawah pH 5 dan menyebabkan hidrolisis. Pada pH tinggi, dapat
terjadi oksidasi. Peningkatan temperatur mengurangi viskositas larutan
HEC.namun dengan pendinginan, viskositasnya dapat kembali. Pada
penyimpanan yang lama, larutan HEC harus ditambah antimikrohba.
Serbuk HEC harus disimpan dalam keadaan tertutup, sejuk, dan kering.

28
9. Metode Pembuatan
Selulosa murni direaksikan dengan natrium hidroksida untuk membentuk
alkali selulosa, yang secara kimia lebih reaktif disbanding selulosa yang
tidak mendapat perlakuan. Alkali oksida kemuadian direaksikan dengan
etilen oksida untuk menghasilkan hidroksietil selulosa eter.

10. Inkompatibilitas
HEC toleransi terhadap larutan elektrolit, meskipun larutan dapat terjadi
salting out bila dicampur dengan larutan garam, seperti ammonium sulfat,
disodium fosfat, magnesium sulfat, dan zink sulfat. HEC juga
inkompatibel dengan bahan berfluoresensi dan disinfektan kuarterner
Karena akan menigkatkan viskositas larutannya.

II.6.8. Hidroksipropil Selulosa (HPC)


1. Sinonim
Cellulose, hydroxypropyl ether; E463; hydroxypropylcellulosum;
hyprolose; Klucel ; Nisso HPC; oxypropylated cellulose.

2. Kelarutan
Praktis tidak larut dalam etanol95% dan eter. Larut dalam larutan NaOH
(1 dalam 10) dan menghasilkan larutan encer. Dalam air tidak larut,
melainkan mengembang.

3. Pemerian
HPC merupakan serbuk putih sampai agak kuning, tidak berbau, dan tidak
berasa.
4. Rumus Struktur

R = H atau [CH2CH(CH3)O]mH

29
5. Fungsi
Coating agent, emulsifying agent, stabilizing agent, suspending agent,
pengikat (binder) pada tablet, thickening agent, viscosity-increasing agent.

6. Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik


HPC digunakan secara luas sebagai formulasi oral dan topikal. Pada
produk oral, HPC biasanya digunakan dalam pembuatan tablet sebagai
binder, film-coating, dan sebagai matriks pembentuk sediaan pelepasan
terkendali. Dalam konsentrasi antara 2-6% w/w dari HPC biasanya
digunakan sebagai binder dalam granulasi basah, kering, atau kempa
langsung. Konsentrasi antara 15-35% w/w dari HPC digunakan untuk
memproduksi tablet extended-release. Tingkat pelepasan dari obat
bertambah seiring dengan berkurangnya viskositas dari HPC. Penambahan
surfaktan anionik akan meningkatkan viskositas dari HPC dan akhirnya
akan mengurangi kecepatan pelepasan obat. Pada konsentrasi 5%, HPC
digunakan sebagai film-coating tablet. Pada larutan berair, yang
mengandung HPC, dapat digunakan dengan metil selulosa atau larutan
etanol. HPC juga digunakan dalam proses mikroenkapsulasi dan sebagai
thickening agent. Pada formulasi topikal, HPC digunakan dalam sediaan
transdermal dan juga sediaan optalmik. HPC juga digunakan dalam
kosmetik dan produk makanan sebagai emulsifier dan stabilizer.

Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipients, 6th Edition

7. Mekanisme dalam Sustained Release


HPC yang merupakan salah satu turunan dari selulosa memiliki fungsi
sebagai eksipien untuk obat-obat sustain release. Metode yang digunakan
dalam mengontrol pelepasan obatnya adalah dengan menggunakan metode
matriks. Cara kerjanya adalah dengan hidrasi dari polimer selulosa,
pembentukan gel dari permukaan polimer, erosi tablet, dan pelepasam obat

30
yang terus-menerus. Setelah pencernaan, tablet dibasahi oleh cairan
lambung dan polimer mulai terhidrasi. Lapisan gel terbentuk di permukaan
tablet dan sejumlah obat dikeluarkan. Karena air terserap ke dalam tablet,
ketebalan dari lapisan gel semakin bertambah dan obat yang larut berdifusi
melewati lapisan tersebut. Ketika lapisan terluar dari tablet telah
seluruhnya terhidrasi, lapisan tersebut akan terkikis dari inti tablet. Jika
obat tidak larut, maka obat itu akan terlepas bersama dengan terkikisnya
lapisan luar tablet. Jadi, pelepasan obat diatur oleh proses difusi dan
pengikisan tablet.

8. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan


Serbuk HPC adalah senyawa yang stabil walaupun zat ini akan menjadi
higriskopik setelah dipanaskan.

Larutan berair dari HPC akan stabil pada pH 6.0-8.0, dengan tidak
mempengaruhi viskositas dari larutan. Akan tetapi, pada pH rendah larutan
berair ini akan mengalami hidrolisis asam, dan mengakibatkan pemutusan
rantai lalu akhirnya akan mengurangi viskositas. Laju hidrolisis akan
bertambah seiring dengan bertambahnya suhu dan konsentrasi ion
hidrogen. Pada pH tinggi juga dapat terjadi penurunan polimer dan akan
berakibat pada menurunnya viskositas. Penurunan ini dapat terjadi karena
adanya oksidator di larutan.

Temperatur yang meningkat menyebabkan viskositas dari larutan yang


berair menurun secara teratur sampai viskositasnya turun drastis sampai

31
45oC karena kelarutan yang terbatas dari HPC. Akan tetapi, proses ini
reversibel dan pada pendinginan viskositasnya akan kembali.

Serbuk HPC harus disimpan dalam kontainer tertutup dalam tempat yang
dingin dan kering.

9. Metode Pembuatan
Bentuk murni dari selulosa direaksikan dengan natrium hidroksida untuk
menghasilkan alkali selulosa. Alkali selulosa kemudian direkasikan
dengan propilen oksida pada suhu yang tinggi dan tekanan. Propilen
oksida dapat tersubstitusi pada selulosa di ikatan eter pada tiga gugus
hidroksil yang ada pada unit monomer anhidroglukosa rantai selulosa.

10. Inkompabilitas
HPC dalam larutan memperlihatkan beberapa inkompabilitas dengan
derivat fenol tersubstitusi, seperti metilparaben dan propilparaben. Adanya
polimer anionik dapat menyebabkan meningkatnya viskositas dari HPC.

Kompabilitas dari HPC dengan garam inorganik tergantung dari garam


dan konsentrasinya. HPC tidak dapat mentoleransi konsentrasi tinggi dari
material yang tidak larut.

II.6.9. Natrium Alginat

1. Sinonim
Algin; alginic acid, sodium salt; E401; Kelcosol; Keltone; Protanal;
sodium polymannuronate.

2. Nama Kimia
Sodium alginate

3. Kelarutan
Praktis tidak larut dalam etanol (95%), eter, kloroform, dan etanol atau
campuran air dimana kandungan etanol lebih dari 30%. Selain itu, praktis
tidak larut dalam pelarut organik lain dan larutan asam encer dimana pH

32
kurang dari 3. Larut perlahan dalam air yang membentuk larutan koloidal
lengket.

4. Pemerian
Natrium alginat berupa serbuk warna putih atau kuning-coklat pucat, tidak
berbau dan tidak berasa.

5. Struktur

6. Fungsi
Stabilizing agent; suspending agent; disintegran tablet dan kapsul; tablet
binder; agen peningkat viskositas.

7. Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik


Natrium alginat digunakan dalam variasi formulasi farmasetik oral dan
topikal. Dalam formulasi tablet, natrium alginat dapat digunakan sebagai
binder dan disentegran, dalam formulasi kapsul sebagai bahan pengikat.
Selain itu, digunakan dalam pembuatan formulasi oral sustained release
karena dapat menghambat disolusi bahan obat dari tablet, kapsul, dan
cairan suspensi.

Dalam formulasi topikal, natrium alginat secara luas digunakan sebagai


agen pengental dan suspensi dalam variasi pasta, krim, dan gel, dan
sebagai agen stabilisasi untuk emulsi air dalam minyak.

Baru-baru ini, natrium alginat telah dapat digunakan untuk obat


mikroenkapsulasi berlawanan dengan teknik mikroenkapsulasi obat
konvensional umumnya yang menggunakan sistem pelarut organik. Secara

33
terapi, natrium alginat dikombinasikan dengan reseptor antagonis H2 dalam
mengatur reflux gastroesofagial.

8. Mekanisme sebagai sustained release


Prinsip golongan pembentuk matriks yang tidak dapat dicerna dan dapat
membentuk gel didalam saluran pencernaan: pelepasan obat dikendalikan
melalui penetrasi air, melalui lapisan yang terbentuk karena hidrasi polimer
dan difusi obat melalui polimer yang terhidrasi.

Natrium alginat memiliki mekanisme matriks hidrofilik dan termasuk


golongan pembentuk matriks yang tidak dapat dicerna dan dapat membentuk
gel didalam saluran pencernaan. Sistem matriks hidrofilik mampu
mengembang dan diikuti oleh erosi dari bentuk gel sehingga obat dapat
terdisolusi dalam media air. Pada saat komponen hidrofilik kontak dengan
air, maka akan terbentuk lapisan matriks yang terhidrasi. Lapisan inilah
yang akan mengontrol difusi air selanjutnya ke dalam matriks. Difusi obat
melalui lapisan matriks terhidrasi mengontrol kecepatan pelepasan obat.
Lapisan matriks terhidrasi akan mengalami erosi sehingga menjadi
terlarut, kecepatan erosi tergantung dari sifat koloid.

9. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan


Natrium alginat merupakan bahan bersifat higroskopis meskipun dapat
stail pada kondisi kelembaban relatif dan temperatur rendah. Larutan
Natrium alginat sangat stabil pada pH 4-10. larutan ancer 1 % natrium
alginat terekspos pada temperatur yang berbeda memiliki viskositas 60-
80% dari nilai aslinya setelah penyimpanan selama 2 tahun. Larutan tidak
boleh disimpan dalam wadah logam.

10. Metode Pembuatan


Asam alginat diekstraksi dari ganggang coklat dan dinetralisasi dengan
natrium bikarbonat untuk membentuk natrium alginat.

11. Inkompatibilitas
Natrium alginat inkompatible dengan turunan acridine, kristal violet,
garam kalsium, logam berat, dan atanol dengan konsentrasi lebih besar

34
5%. Konsentrasi rendah dari elektrolit menyebabkan peningkatan
viskositas, namun konsentrasi elektrolit yang tinggi menyebabkan proses
asalting-out natrium alginat.

II.6.10. Carbomer

1. Sinonim
Carbopol; Acrylic Acid Polymer; polyacrylic acid; carboxyvinyl polymer;
Karboksipolietilen (Rumus Kimia)
2. Berat Molekul
Karbomer adalah polimer sintetik dari asam akrilat yang mempunyai
ikatan silang dengan either allyl sucrose atau sebuah alil ethers dari
pentaerythritol. Karbomer mengandung asam karboksilat antara 56%
hingga 68% pada keadaan kering. Berat molekulnya secara teoritis
diperkirakan sekitar 7 x 105 hingga 4 x 109.
3. Rumus Struktur
Polimer karbomer dibentuk dari pengulangan unit asam akrilat. Rantai
polimer berikatan silang dengan allyl sucrose atau allyl pentaerythritol.

(monomer asam akrilat dalam karbomer)

4. Pemerian
Sebagai serbuk putih, asam, higroskopic, dengan sedikit bau yang khas.

35
5. Fungsi
Bioadhesive; Emulsifing Agent; Release-Modifying Agent; Suspending
Agent; Tablet Binder; Viscosity- Increasing Agent.
6. Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik:
 Karbomer paling banyak digunakan dalam sediaan liquid atau
semisolid sebagai suspending atau viscosity-increasing agent.
Termasuk krim, gel, dan salep yang diindikasikan untuk penggunaan
ophtalmic, rektal, dan topikal.
 Pada formulasi tablet, karbomer digunakan sebagai binder (baik
dalam granulasi basah atau kering).
 Resin karbomer diketahui ada dalam sediaan sustained-release, yaitu
di dalam rangkaian matrix sebagai inhibitor enzim protease di dalam
usus (pada sediaan yang mengandung peptida), sebagai bioadhesive
(pada sediaaan untuk serviks dan untuk pemberian mikrosfer
intranasal), untuk penyampaian obat spesifik pada esofagus, dan
sebagai mucoadhesive untuk pemberian oral dalam sediaan obat
spesifik.
 Karbomer digunakan sebagai emulsifying agent dalam sediaan
emulsi minyak dalam air untuk pengunaan eksternal.
 Karbomer juga digunakaan dalam sediaan kosmetik.
7. Mekanisme sebagai Sustained Release :
Carbopol memiliki temperatur “glass transition” 1050C saat kering, namun
ketika ditambahkan air, suhunya akan menurun secara drastis.
• Ketika polimer kering, zat aktif akan terperangkap dalam “glass-
core”.
• Kemudian adanya air akan menembus permukaan eksternal dari
matriks polimer-obat, polimer karbomer akan membentuk sebuah
lapisan gelatin dan zat aktif menjadi terperangkap dalam wilayah
hidrogel.
• Karbomer bersifat unik karena membentuk “diskrit mikrosfer” dari
polimer dan air membentuk saluran kecil antara mikrogel sebagai
sistem yang terhidrasi.

36
• Pada akhirnya, air memaksa mikrogel berpisah karena adanya
tekanan osmotik.
• Kemudian zat aktif dari kompleks obat-mikrogel akan lepas secara
kontinu.
Pelepasan ini dipengaruhi oleh kelarutan obat, tingkat hidrasi jaringan
polimer karbomer, tingkat “cross-linked” dan pembengkakan matrix, serta
interaksi ionik antara polimer dan obat. Pembengkakan matriks
dipengaruhi oleh pH lingkungan setempat, yang mengakibatkan lepasnya
obat.
8. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan :
Karbomer stabil dan merupakan bahan yang higroskopis dan dapat
dipanaskan hingga temperatur di bawah 1040C untuk dua jam tanpa
berpengaruh pada hasil pengentalannya. Walaupun, pemanasan pada
temperatur berlebihan dapat menyebabkan diskolorasi dan menurunkan
stabilitasnya. Karbomer harus disimpan pada botol yang tahan korosi,
kering, sejuk, dan kedap udara. Penggunaan wadah dari gelas, plastik atau
resin direkomendasikan. Penggunaan tube aluminium diizinkan untuk
sediaan dengan pH di bawah 6,5.
9. Metode Pembuatan
Karbomer diproduksi di dalam campuran kosolven dengan sebuah
penolong polimerisasi yang tepat dan resn diikat secara “crosslinked”
dengan polyalkenyl polyether.
10. Inkompatibilitas
Karbomer terdiskolorasi dengan resorsinol dan inkompatibel dengan fenol,
polimer kationik, asam kuat, dan elektrolit dalam jumlah besar.
Penambahan antimikroba tertentu dihindari atau digunakan dalam jumlah
rendah. Besi atau logam transisi lainnya dapat mengkatalisis penurunan
dispersi karbomer. Pemanasan yang kuat dapat diakibatkan jika adanya
kontak karbomer dengan bahan dasar yang kuat, seperti amonia, kalium,
atau natrium hidroksida, atau dengan amin.

37
II.6.11. Asam Hyaluronat
1. Sinonim
Hyaluronan.

2. Nama Kimia
Sodium alginate

3. Kelarutan
Larut dalam air,namun, kelarutannya bergantung dengan berat
molekulnya, dimana berat molekul semakin besar semakin sulit hyaluronat
terdisolusi dalam air. Sedikit larut dalam campuran pelarut organik dan air.

4. Pemerian
Serbuk atau granul putih hingga kekuningan yang bersifat sangat
higroskopis.

5. Struktur

Asam Hyaluronat Natrium Hyaluronat

6. Fungsi
 Merupakan komponen utama kulit pada saat perbaikan kulit, sehingga
dapat digunakan pada sediaan untuk mengobati luka peradangan pada
kulit.
 Dapat digunakan sebagai pengobatan kulit kering, kulit bersisik
(xerosis) yang disebabkan oleh dermatitis atopik (eksim) dengan
natrium hyaluronate sebagai bahan aktif.
 Hyaluronan juga digunakan untuk mengobati osteoartritis pada lutut
sebagai perawatan, yang disebut viscosupplementation, yaitu
menyuntikkan hyaluronan ke dalam sendi lutut sehingga dapat

38
melengkapi viskositas cairan sendi sehingga berfungsi sebagai
pelumas sendi,dan bantalan yang bersama.

7. Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik


 Dalam sediaan hyaluronan yang digunakan adalah bentuk garam
Natriumnya. Pada pH fisiologis, Natrium Hyaluronat akan
membentuk asam Hyaluronat.
 Pada sediaan sustained release, asam hyluronat digunakan sebagai
pembentuk basis microporous hydrogel yang dapat dikombinasikan
dengan polimer lain seperti CMC, hidroksi etil selulosa, hidroksi
propil selulosa.
 Natrium Hyaluronat juga digunakan sebagai humektan dan lubricant.

8. Mekanisme sebagai sustained release


Asam hyaluronat dapat membentuk lapisan hidrogel sehingga akan
mengembang pada suasana berair. Sifat ini dapat dikombinasikan dengan
polimer lain yang hidrofilik, sehingga dapat membentuk lapisan hidrogel
yang kompak dan dapat mengatur durasi pelepasan obat. Asam hyaluronat
digunakan sebanyak 0.1 – 2,0 % pada larutan sebagai thickening agent, 1
-1,5 % pada larutan injeksi, 2,0- 3,0 % pada gel topikal.

Pada sediaan gel, penggunaan asam hyaluronat sebagai agent lepas lambat
adalah dengan cara membuat larutan hidrogel terlebih dahulu kemudian
zat aktif berupa bentuk padat dapat didispersikan dalam larutan hidrogel
tersebut.

9. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan


Natrium alginat merupakan bahan bersifat higroskopis meskipun dapat
stail pada kondisi kelembaban relatif dan temperatur rendah. Larutan
Natrium alginat sangat stabil pada pH 4-10. larutan ancer 1 % natrium
alginat terekspos pada temperatur yang berbeda memiliki viskositas 60-
80% dari nilai aslinya setelah penyimpanan selama 2 tahun. Larutan tidak
boleh disimpan dalam wadah logam.

39
10. Metode Pembuatan
Asam hyaluronat secara alami terdapat dalam vitreous humor, serum, kulit
ikan hiu, dan kartilago, dan “chicken combs”. Hyaluronat biasanya di
ekstrak dan murnikan dari chicken combs. Selain itu juga dapat dibuat
dengan fermentasi oleh bakteri Sterptococcus zooepidemicus, asam
hyaluronat yang dihasilkan dipisahkan dengan cara filtrasi dan dimurnikan
dengan cara ultrafiltrasi, kemudian di presipitasikan dengan menggunakan
pelarut organik dan akhirnya dikeringkan.

11. Inkompatibilitas
Natrium alginat inkompatible dengan turunan acridine, kristal violet,
garam kalsium, logam berat, dan atanol dengan konsentrasi lebih besar
5%. Konsentrasi rendah dari elektrolit menyebabkan peningkatan
viskositas, namun konsentrasi elektrolit yang tinggi menyebabkan proses
asalting-out natrium alginat.

II.6.12. Karagenan
1. Sinonim
Chondrus extract; E407; Gelcarin; Genu; Hygum TP-1; Irish
moss extract; Marine Colloids; SeaSpen PF; Viscarin.

2. Pemerian
Karagenan diekstraksi dari rumput laut, warnanya kuning kecoklatan
hingga putih, berupa serbuk halus, tidak berbau dan tidak berasa.

40
3. Struktur

4. Fungsi
Emulsifying agent, basis gel, stabilizing agent, suspending agent, tablet
matriks sustained release, peningkat viskositas

5. Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik


Karagenan biasa digunakan sebagai sediaan nonpareteral seperti suspensi,
emulsi, gel, krim, losion, obat tetes mata, supositoria, tablet dan kapsul.
Suspensi biasanya menggunakan k-Carragenan dan fraksi λ-Carrageenan.
Pada konsentrasi 0,7 % λ-Carrageenan menghasilkan viskositas pada
cairan. Pada konsentrasi 0.1–0.5% karagenan menghasilkan emulsi yang
stabil. Karagenan juga digunakan sebagai losion tangan.

i-Carrageenan menghasilkan shear-thinning thixotropic gel sehingga dapat


dengan mudah dituang dan dikocok.

Studi terhadap karagenan menujukkan bahwa karagenan menghasilkan


adesi yang paling besar dan digunakan untuk pembawa oral dan buccal.

41
Terkait dengan matriks tablet, karagenan dengan eksipien lain mengatur
pelepasan obat, karagenan merupakan pengikat yang baik. Apalagi inklusi
garam kalsium dan kalium pada tablet menghasilkan lingkungan mikro
untuk terjadinya gelatinasi yang akan mengontrol pelepasan obat.

Karagenan juga digunakan sebagai bahan kapsul keras dan kapsul lunak.
Karagenan juga digunakan untuk pasta gigi dan kosmetik..

6. Mekanisme sebagai sustained release


Studi terhadap karagenan:
Evaluasi terhadap grade karagenan (kappa, iota dan lambda) dan
konsentrasi (5-10-20% (w/w) pada pelepasan obat dengan etilselulosa
based mini matrices. Hasil : pelepasan obat di air tergantung pada
konsentrasi kappa CG: pelepasan obat orde nol terjadi pada 5% (w/w) CG
(70% pelepasan setelah 24jam), bahkan burst release telah diobservasi
pada formulasi CG 10 and 20% (w/w) (kedua formulasi melepaskan obat
60% setelah 4 jam). Kesimpulan: Ethylcellulose mini-matrices
mengandung 5% (w/w) CG memiliki kinetic pelepasan obat orde nol .
Pelepasan obat dari CG/ethylcellulose mini-matrices was robust karena
pelepasan obat tidak tergantung medium disolusi (pH, kekuatan ionik dan
penambahan kation).

Pd formulasi fenilpropanolamin, telah dilakukan studi terhadap HPC, guar,


pektin, karagenan, CMC dan HEC, dengn konsentrasi 30% dengan teknik
granulasi basah. Berdasarkan profil sustained releasenya teryata HPC >
karagenan > HEC = pectin > CMC.

7. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan


Karagenan stabil, higroskopik, disimpan di tempat yang sejuk dan kering.

8. Metode Pembuatan
Karagenan dibuat dari Eucheuma, Chondrus, dan Gigartina. Rumput laut
ini di keringkan secara cepat untuk menghindari degradasi. Kemudian
rumput laut di cuci berulang kali untuk menghilangkan pengotor seperti
pasir, garam, dan pengotor lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan proses

42
ekstraksi alkali panas, untuk mengeluarkan karagenan dari sel. Dalam
larutan panas, karagenan di ubah menjadi bentuk serbuk.

3 proses dapat digunakan untuk mengubah karagenan dari bentuk cairnya.


Pertama adalah teknik ‘freeze–thaw’. Larutan di bentuk menjadi gel
dengan garam bervariasi kemudian gel di bekukan. Selamaa proses
thawing, air dikeluarkan, lalu, karagenan dan garam mengendap
menjadipartikel kecil.

Cara kedua adalah metode presipitasi alcohol, yang berhubungan dengan


konsentrasi larutan karagenan dan ditempatkan di alcohol. Ini
menyebabkan karagenan mengalami presipitasi keluar dari larutan.
Kosolven dievaporasi karagenan terpresipitasi di keringkan dan
diendapkan menjadi partikel kecil.

Metode ketiga adalah presipitasi KCL, dimana setelah ekstraksi panas


filtrate dievaporasi untuk mengurangi volum filtrate. Filtrate kemudian
diekstruksi melalui spirenet ke dalam larutan potassium klorida dingin
1%-1,5%.. hasilnya yang berupa gel kemudian di cuci dengan KCL dan di
tekan, dikeringkan dan milled menjadi serbuk karagenan.

9. Inkompatibilitas
Karagenan dapat bereaksi dengan material kationik. Jika kompleksasi
material kationk, maka penggunaan karagenan tersebut tidak disarankan.

II.6.13. Poli Asam Laktat / Poly Lactic Acid (PLA)


1. Sinonim
Polylactide ; Poly(2-hydroxypropionic acid).

2. Pemerian
Kristal.
3. Struktur

43
4. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan
Hindari kontak dengan udara atau disimpan dengan pengering.

5. Metode Pembuatan
Sintesis
Fermentasi bakteri dimanfaatkan untuk menghasilkan asam laktat dari
jagung maupun tebu. Akan tetapi asam laktat tidak dapat secara langsung
berpolimerisasi menjadi suatu senyawa yang berguna karena setkiap reaksi
polimerisasi mengthasilkan satu molekul air yang dengan adanay air ini
akan memutuskan rantai polimer sehingga hanya berat molekul rendahlah
yang dapat diamati. Sebalikanya asam laktat akan mengalami
oligomerisasi kemudian mengalami dimerisasi dengan bantuan katalisator
untuk membentuk monomer siklis laktat. Meskipun dimerisasi
menghasilkan molekul air, molekul air tersebut dapat terpisah sebelum
reaksi polimerisasi. PLA dengan bobot molekul yang besar dapat
dihasilkan melalui monomer laktida melalui polimerisasi pembukaan
cincin (open ring polymerization) dengan menggunakan katalisator adalah
timah klorida,SnCl2..

Proses Sintesis Poli Asam Laktat


6. Inkompatibilitas
Stabil.

44
II.6.14. Poli Asam Glikolat
1. Sinonim
1,4-dioksan-2,5-dion ; Polyglycolic acid(PGA) ; Polyglycolide.

2. Rumus Molekul
(C2H2O2)n
3. Berat Molekul
(58.04)n

4. Pemerian
Tidak laut dalam air, polimer dengan bobot molekul yang besar tidak larut
di dalam pelarut organik sedangkan polimer dengan bobot molekul rendah
lebih larut di dalam pelarut organic.
5. Struktur

6. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan


Hindari kontak dengan udara atau disimpan dengan pengering.

7. Metode Pembuatan
Adapun proses sintesis poli asam glikolat melalui beberapa proses :
1. Polikondensasi dari asam glikolat

2. Polimerisasi pembukaan cincin

3. Polikondensasi dengan halogen asetat

Reaksi dikatalisis oleh asam

Beberapa penelitian
yang menunujukan

45
bahwa poly(lactic acid) dan poly(glycolic acid) digunakan sebagai eksipien unutk
sustained release:
1. Comparative study on sustained release of human growth hormone from
semi-crystalline poly(  -lactic acid) and amorphous poly(  ,  -lactic-co-
glycolic acid) microspheres: morphological effect on protein release.
Oleh : Hong Kee Kim and Tae Gwan Park (Science Direct journal)

2. Controlled Delivery Systems for Proteins Based on Poly(Lactic/Glycolic


Acid) Microspheres.
Oleh : Smadar Cohen, Toshio Yoshioka, Melissa Lucarelli,
Lena H. Hwang and Robert Langer. (SpingerLink Journal)
3. In Vitro Release of Theophylline from Poly(Lactic Acid) Sustained-
Release Pellets Prepared by Direct Compression. Oleh : A. Kader ;R.
Jalil  (Sumber : Informa World)

46
BAB III
PENUTUP

III.1. Kesimpulan

Sustained release merupakan bentuk sediaan yang dirancang untuk melepaskan


obatnya ke dalam tubuh secara perlahan-lahan atau bertahap sehingga
pelepasannya lebih lama dan memperpanjang aksi obat. Tujuan utama dari
sediaan lepas terkendali adalah untuk mencapai suatu efek terapetik yang
diperpanjang disamping memperkecil efek samping yang tidak diinginkan yang
disebabkan oleh fluktuasi kadar obat dalam plasma. Long acting menyatakan
durasi kerja obat yang relatif lama tanpa menjelaskan durasi pelepasan bahan
aktif ari bentuk sediaannya.

Keuntungan sediaan sustained release ini antara lain sediaan tersebut dapat
dikonsumsi dengan tidak begitu sering dibandingkan sediaan yang diformulasikan
untuk lepas segera dengan komposisi obat yang sama dan sediaan ini dapat lebih
terjaga secara terus-menerus dalam aliran darah. Tablet sustained relesase
diformulasikan di mana bahan-bahan aktif dilingkupi dengan lapisan matriks tak
larut sehingga proses pelarutan bahan obat terjadi melalui suatu lubang pada
matriks. Pada beberapa formulasi, matriks dibuat mengembang menjadi bentuk
gel sehingga obat terlebih dahulu akan larut pada matriks kemudian keluar
melalui lapisan matriks terluar.

Untuk mencapai fungsi pelepasan obat lepas lambat, sediaan sustained release
memerlukan bahan-bahan tambahan sebagai penunjang aksi mekanisnya. Bahan-
bahan tersebut antara lain Hidroksi Propil Metil Selulosa (HPMC), Asam Alginat,
Carbomer, Polymethacrylates, Hydroxy Ethyl Celullosa (HEC), Asam Hyaluronat
(Hyaluronan), Hidroksipropil Selulosa(HPC), Etil Selulosa (Ethylcellulose), dan
sebagainya.

47