Anda di halaman 1dari 16

‘’PERANGKAT JARINGAN WAN’’

A. Pengertian
Jaringan WAN (Wide Area Network ) merupakan suatu jaringan yang digunakan untuk menghubungkan
jaringan-jaringan yang secara fisik tidak saling berdekatanya dalam artian terpisah antar kota, propinsi,
atau bahkan terpisahkan benua melewati batas wilayah negara satu sama lain. Atau jaringan WAN
adalah sebuah pengaturan yang digunakan untuk LAN – LAN secara bersama- sama melalui DCE
( Data Comunication Equipment ). Biasanya jaringan WAN menggunakan koneksi leased line atau dial-
up yang melalui network PSTN.
Pada intinya jaringan WAN sama dengan jaringan LAN, namun memiliki jangkauan area yang lebih
luas. Hal ini dikarenakan adanya beberapa perangkat tambahan pada jaringan WAN, diantaranya :
Router
CSU / DSU
Modem
Communication server
Switch ATM
Antena
Multiplexer
Wireless
Acces point
Semua perangkat diatas digunakan untuk mendukung jaringan WAN agar dapat bekerja secara
maksimal. Karena penggunaannya yang mencakup area yang sangat luas maka timbul kecenderungan
untuk koneksi antar remote jaringan WAN pada umumnya mempunyai kecepatan yang sangat jauh lebih
lambat dari koneksi jaringan lokal lewat kabel jaringan.

B. Alat – alat dan Perangkat WAN

1. Router

Router adalah perangkat jaringan yang aktif dan intelegent dan dapat berpartisipasi dalam manajemen
jaringan. Router mengatur jaringan dengan menyediakan kontrol dinamis melalui sumber daya dan
mendukung tugas dan tujuan dari jaringan. Beberapa tujuan tersebut antara lain konektivitas, perfomansi
yang reliabel,kontrol manajemen dan fleksibilitas.
Router dapat meningkatkan kemampuan dari bridge. Router juga mampu menunjukkan rute/jalur (route)
dan memfilter informasi pada jaringan yang berbeda. Beberapa router mampu secara otomatis
mendeteksi masalah dan mengalihkan jalur informasi dari area yang bermasalah

Fungsi Router :
Menghubungkan sejumlah jaringan yang memiliki topologi dan protokol¬ yang berbeda
Menghubungkan jaringan pada suatu lokasi dengan jaringan pada lokasi¬ yang lain.
Membagi suatu jaringan berukuran besar menjadi jaringan-jaringan yang¬ lebih kecil dan mudag untuk
dikelola.
Memungkinkan jaringan dihubungkan ke internet dan informasi yang¬ tersedia dapat diakses oleh siapa
saja.
Mencari jalan terefisien untuk mengirimkan data ke tujuan.¬
Cara kerja Router :
• LAN mengirimkan data ke Router
• Router akan menganalisa berdasarkan informasi alamat pada layer 3
• Router akan meneruskan data tersebut ke interface WAN yang sesuai berdasarkan routing table yang
dimilikinya
Konfigurasi router dengan menggunakan PC dengan SO Win XP
Untuk konfigurasi Router dengan menggunakan PC ( OS WIN Xp ) sangatlah mudah, yaitu dengan
langkah seperti berikut :
a) Pastikan Komputer memiliki minimal 2 buah LAN Card ( apabila hanya menggunakan 2 Sis )
b) Berikan konfigurasi jaringan sesuai Sis yang digunakan pada setiap LAN Card. (pastikan tiap LAN
menggunakan Sis yang berbeda )
c) Ping atau test koneksi ke tiap Sis, dari router. (pastikan semua koneksi dalam keadaan baik)
d) Share LAN card dengan cara :
klik kanan pada LAN Card kemudian pada Tab Advance pastikan ada pilihan “use another network
to.....”
setelah itu coba lakukan ping dari computer lain (antar client yang berbeda Sis), pastikan jawaban reply.

2. CSU / DSU

Channel Service Unit (CSU) dan Data Service Unit (DSU) dibutuhkan untuk membuat sinyal dengan
format yang sesuai dengan jalur komunikasi. Keduanya sering digabung menjadi sebuah perangkat yang
disebut CSU/DSU.
Intinya Channel Service Unit (CSU) dan Data Service Unit (DSU) mempunyai fungsi yang hampir sama
dengan modem. Hanya saja pada alat ini sinyal dikirim dalam bentuk digital melalui jaringan telephone
digital.

3. Modem

Modem atau MOdulator DEModulator adalah sebuah perangkat dibutuhkan untuk mempersiapkan data
untuk transmisi melalui local loop. Modem lebih dibutuhkan untuk jalur komunikasi analog
dibandingkan digital. Modem mengirim data melalui jalur telepon dengan memodulasi dan demodulasi
sinyal. Sinyal digital ditumpangkan ke sinyal suara analog yang dimodulasi untuk ditransmisikan.
Modul NTW.OPR.200.(2).A 17 Pada sisi penerima sinyal analog dikembalikan menjadi sinyal digital
atau demodulasi.
Modem mengkonversi sinyal digital dan analog. Pada pengirim, modem mengkonversi sinyal digital ke
dalam bentuk yang sesuai dengan teknologi transmisi untuk dilewatkan melalui fasilitas komunikas
analog atau jaringan telepon (public telephone line). Di sisi penerima, modem mengkonversi sinyal ke
format digital kembali.

4. Communication server

Communication Server adalah server khusus "dial in/out" bagi pengguna untuk dapat melakukan dial
dari lokasi remote sehingga dapat terhubung ke LAN. Communication Server mengkonsentrasikan
komunikasi pengguna dial-in dan remote akses ke LAN. Communication Server memiliki beberapa
interface analog dan digital serta mampu melayani beberapa user sekaligus.

5. Switch ATM

Asynchronous Transfer Mode Switch (ATM) adalah koneksi WAN berkecepatan tinggi dengan
menggunakan teknologi paket switching dengan speed sampai 155 Mbps bahkan 622 Mbps. ATM bisa
mentransmisikan data secara simultan dengan digitized voice, dan digitized video baik melalui LAN
maupun WAN.
ATM menggunakan cell berukuran kecil (53-byte) yang lebih mudah diproses dibandingkan cell
variable pada X.25 atau frame relay.Kecepatan transfer bisa setinggi sampai 1.2 Gigabit.
Merupakan line digital berkualitas tinggi dan low noise dan tidak memerlukan error checking. Dapat
menggunakan media transmisi dari coaxial, twisted pair, atau fiber optic. Bisa juga transmit data secara
simultan.
Fungsi switch ATM diantaranya :
mendukung bermacam layanan ataupun interface
disertai langsung dengan software sistem operasi internetworking
mekanisme manajemen trafik yang baik

6. Antena

Antenna berfungsi untuk menyebarkan sinyal. Pada antenna eksternal digunakan untuk menyambungkan
titik-titik jarak jauh beberapa kilometer. Antenna bawaan pada radio pemancar biasanya jarak jangkauan
hanya beberapa puluh meter. Adabanyak tipe antenna yang dapat digunakan tergantung aplikasi yang
dipakai.
• Pada sisi client, kita biasanya mengggunakan antenna directional, seperti antenna parabola, grid, yagi
atau antenna kaleng.
• Disisi Access point, biasanya digunakan antenna omni atau antenna sektoral.
Jenis- jenis antenna diantaranya:
Antenna Grid¬

Antenna Omni¬

Antenna Sektoral¬

Antenna Yagi¬

Antenna Canopi
7. Multiplexer

Sebuah Multiplexer mentransmisikan gabungan beberapa sinyal melalui sebuah sirkuit (circuit).
Multiplexer dapat mentransfer beberapa data secara simultan (terus-menerus), seperti video, sound, text,
dan lain-lain.
Teknik menggabungkan beberapa sinyal untuk dikirimkan secara berbarengan pada satu kanal transmisi
disebut multiplexing. Perangkat yang melaksanakan multiplexing disebut multiplexer (mux).
Multiplexer mengkombinasikan (me -multiplex) data dari input dan mentransmisi melalui kapasitas data
link yang tinggi. Demultiplexer menerima aliran data yang di-multiplex (pemisahan (demultiplex) dari
data tersebut tergantung pada channel) dan mengirimnya ke line output yang diminta.
Ada 3 jenis multiplexing
FDM : Frequency Division Multiplexing
IDM : Time Division Multiplexing
CDM : Code Division Multiplexing

8. Wireless

Gb. Wifi dan USB WLAN

Jaringan Nirlakabel atau dikenal dengan nama Wireless merupakan salah satu media transmisi yang
menggunakan gelombang radio sebagai media transmisinya. Data-data digital yang dikirim melalui
wireless akan dimodulasikan ke dalam gelombang elektromagnetik tersebut. Teknologi wireless jarak
jauh, sangat berpotensi untuk diterapkan pada daerah pedesaan/pedalaman. Ciri utama dari teknologi
jenis ini adalah biaya pembangunannya yang rendah, kemudahan pambangunan, dan kemampuannya
untuk menjangkau wilayah geografis yang luas.
WiFi (Wireless Fidelity) pada dasarnya adalah istilah generic untuk peralatan wirelessLAN, atau dikenal
jga sebagai WLAN. Daya jangkauan berkisar antara 100m – 8 km tergantung peralatan yang dipakai dan
antena yang digunakan. Biasanya internet wireless bekerja pada protocol standar IEEE 802.11x.x antara
lain:
- IEEE 802.11 pada frekuensi 2,4GHz dengan kecepatan transfer 2Mbps
- IEEE 802.11a pada frekuensi 5GHz dengan kecepatan transfer 54Mbps
- IEEE 802.11a 2X pada frekuensi 5GHz dengan kecepatan transfer 108Mbps
- IEEE 802.11b pada frekuensi 2,4GHz dengan kecepatan transfer 11Mbps
- IEEE 802.11b+ pada frekuensi 2,4GHz dengan kecepatan transfer 22Mbps
- IEEE 802.11g pada frekuensi 2,4GHz dengan kecepatan transfer 54Mbps
- IEEE 802.11n pada frekuensi 2,4GHz dengan kecepatan transfer 120Mbps
Internet wireless digunakan untuk mem-bypass akses internet menggunakan telepon yang mahal dan
lambat. Internet wireless mudah diimplementasikan. Murah biaya jangka panjangnya dibandingkan
harus bergantung pada infrastruktur kabel yang digunakan telkom. Internet wireless menggunakan WiFi,
yang pada dasarnya wireless LAN karena itu dia akan bekerja pada kecepatan tinggi 1-11 MBps, jika
standar IEEE 802,11b yang digunakan. Oleh karena IEEE 802.11b merupakan standar yang terbuka,
peralatan WiFi dapat dengan mudah diperoleh di pasaran.
Fungsi wireless
Secara umum wireless memiliki fungsi menghubungkan dua atau lebih peralatan dengan menggunakan
media gelombang radio. atau dapat juga di artikan sebagai pengganti kabel. memang banyak kelebihan
yang dimiliki misal pemasangannya mudah, mampu menjangkau jarak yang cukup jauh, dan biaya yang
cukup murah di banding menggunakan kabel untuk jarak yang cukup jauh.
Wi-Fi merupakan kependekan dari Wireless Fidelity, yang memiliki pengertian yaitu sekumpulan
standar yang digunakan untuk Jaringan Lokal Nirkabel (Wireless Local Area Networks – WLAN) yang
didasari pada spesifikasi IEEE 802.11. Standar terbaru dari spesifikasi 802.11a atau b, seperti 802.16 g
(WiMax – Worldwide Interoperability for Microwave Access) yang berskala dunia, saat ini sedang
dalam penyusunan, spesifikasi terbaru tersebut menawarkan banyak peningkatan mulai dari luas
cakupan yang lebih jauh hingga kecepatan transfernya.
Awalnya Wi-Fi ditujukan untuk penggunaan perangkat nirkabel dan Jaringan Area Lokal (LAN), namun
saat ini lebih banyak digunakan untuk mengakses internet. Hal ini memungkinan seseorang dengan
komputer dengan kartu nirkabel (wireless card) atau personal digital assistant (PDA) untuk terhubung
dengan internet dengan menggunakan titik akses (atau dikenal dengan hotspot) terdekat.
Uniknya, Sinyal pada media transmisi wireless ini terputus-putus (intermittence) yang disebabkan oleh
adanya benda antara pengirim dan penerima sehingga sinyal terhalang dan tidak sampai pada penerima
(gejala ini sangat terasa pada komunikasi wireless dengan IR). Media transmisi wireless mengalami
gejala yang disebut multipath (propagasi radio dari pengirim ke penerima melalui banyak jalur yang LoS
dan yang tidak LOS/NLoS). Sinyal pada media radio sangat komplek untuk dipresentasikan kerena
sinyalnya menggunakan bilangan imajiner, memiliki pola radiasi dan memiliki polarisasi(menyebar).
Wireless Bersifat broadcast karena pola radiasinya yang memancar ke segala arah, sehingga semua
terminal dapat menerima sinyal dari pengirim.
Topologi jaringan wireless
9. Access Point

Alat Access point berfungsi untuk:


- sebagai jembatan/bridge antenna jaringan wireless dan jaringan kabel LAN
melalui konektor RJ-45 yang umumnya tersedia dibelakang Access Point
- sebagai jembatan/bridge antarjaringan wireless. Biasanya dipakai
menghubungkan komputer client.
Beberapa Access point mempunyai fungsi kompleks, seperti routing, DHCP server,firewall, proxy
server semua menjadi satu di dalamnya.
Seringkali kita dapat mengganti antenna bawaan dengan antenna eksternal.
Instalasi Access Point
Alat yang dibutuhkan:
a. 2 unit PC
b. 1 unit access point Linksys seri WRT54G atau yang sejenis.
c. 2 unit USB WLAN beserta driver dan buku manual.
d. Kabel UTP straight
Langkah-Langkah:
Komputer #1
1. Hubungkan komputer pertama pada port WAN Access point dengan
menggunakan kabel UTP konfigurasi straight melalui LAN card.
2. Setting IP Address LAN card pada komputer pertama dengan 192.168.1.100 dan
subnet mask 255.255.255.0
3. Tambahkan default gateway IP Address 192.168.1.1

4. Buka program Internet Explorer dan ketikan alamat http://192.168.1.1 (alamat default dari Access
Point Linksys).

5. Aktifkan fungsi DHCP Pada Access Point untuk memberikan IP address secara
dinamis pada komputer Client. Isikan Scope untuk DHCP Address antara
192.168.1.100 – 192.168.1.150 sehingga IP Address yang diberikan pada DHCP
Client (komputer 2) berada pada range tersebut.
- Pada DHCP Server pilih enable untuk mengaktifkan DHCP Server. DHCP
Server ini berguna untuk memberikan alamat IP secara dinamis pada
komputer yang terhubung secara wireless (dalam hal ini komputer 4 dan 5)
- Isikan Starting IP Address dengan alamat IP awal/pertama yang digunakan
untuk komputer wireless
- Maximum Number of DHCP Users diisi dengan jumlah maksimum komputer
wireless yang diperbolehkan untuk terhubung ke akses point
- Klik Save Setting untuk menyimpan konfigurasi

6. Install Wireless Adapter (USB WLAN) Pada Komputer 2


7. Setting IP Address pada komputer 2 secara dynamic :
- klik kanan icon My Network Places pada desktop lalu pilih properties
- Pilih Local Area Connection, klik kanan lalu pilih properties
- Pada menu This connection uses the following items pilih Internet Protocol
(TCP/IP) lalu klik properties
8. Pilih Obtain an IP Address automatically, lalu klik OK
Menghubungkan komputer #2 dengan Access Point
9. Koneksikan komputer 2 pada access point dengan meng-klik icon wireless
connection pada system tray windows dan pilih access point yang dikehendaki
lalu klik connect.

10. Test koneksi dari komputer yang terhubung dengan wired dengan komputer yang terhubung secara
wireless (misal dari komputer 1 ke komputer 2 atau sebaliknya):
• Dari komputer #1, klik start dan pilih run
• Pada Tab Open isikan perintah : command
• Pada command promp ketik ipconfig untuk melihat ip address yang diberikan
dhcp server kepada komputer ini.
• Dari komputer #2 klik start lalu pilih run
• Pada tab open ketik perintah : ping [ip komputer #1 yang diberikan oleh DHCP Server]
• Jika tampil tulisan Reply from…… maka koneksi ke komputer 1 berhasil
• Tetapi jika tampil tulisan request time out maka terjadi kesalahan pada saat setting
11. Test Koneksi dari komputer 1 dan 2 menuju LAN interface akses point
• Pada komputer 1,2 klik start lalu pilih run
• Ketik perintah : ping 192.168.1.1
• Jika tampil tulisan Reply from…… maka koneksi ke LAN interface akses point
Berhasil

KESIMPULAN
WAN (Wide Area Network) merupakan jaringan yang mencakup area yang sangat luas yang
menjangkau batas provinsi bahkan sampai Negara yang ada di belahan bumi lain bahkan mencakup
benua.
Jaringan WAN membutuhkan beberapa perangkat yang dapat mendukung kinerja dari jaringan tersebut,
tanpa adanya perangkat-perangkat yang mendukung tentu jaringan tersebut tidak dapat bekerja secara
optimal, apalagi jaringan yang berbasis luas ini.
Setiap perangkat memiliki keunggulan dan kelemahan yang berbeda-beda. Namun karena adanya
dukungan dari perangkat yang lain tentu perangkat dalam jaringan dapat beropersi secara maksimal.

Macam – Macam Kabel Jaringan

Kabel Jaringan

Pertama kali LAN (Local Area Network) menggunakan kabel “coaxial”. Kemudian, kabel “twisted
pair” yang digunakan dalam sistem telepon telah mampu membawa frekuensi yang lebih tinggi dan
dapat mendukung trafik LAN. Dan saat ini, kabel fiber optik telah tampil sebagai pilhan kabel
berkecepatan sangat tinggi.

Local Area Network menggunakan empat tipe kabel :

1. Coaxial
2. Unshielded Twisted Pair (UTP)
3. Shielded Twisted Pair (STP)
4. Fiber Optik

1. Kabel Coaxial

Kabel coaxial terdiri dari :

• sebuah konduktor tembaga


• lapisan pembungkus dengan sebuah “kawat ground”.
• sebuah lapisan paling luar.

Penggunaan Kabel Coaxial

Kabel coaxial terkadang digunakan untuk topologi bus, tetapi beberapa produk LAN sudah tidak
mendukung koneksi kabel coaxial.

Protokol Ethernet LAN yang dikembangkan menggunakan kabel coaxial:


10Base5 / Kabel “Thicknet” :

• adalah sebuah kabel coaxial RG/U-8.


• merupakan kabel “original” Ethernet.
• tidak digunakan lagi untuk LAN modern.

10Base2 / Kabel “Thinnet”:

• adalah sebuah kabel coaxial RG/U-58.


• mempunyai diameter yang lebih kecil dari “Thicknet”.
• menggantikan “Thicknet”.
• tidak direkomendasikan lagi, tetapi masih digunakan pada jaringan LAN yang sangat kecil.

2. Unshielded Twisted Pair (UTP)


Kabel “Unshielded twisted pair” (UTP) digunakan untuk LAN dan sistem telepon. Kabel UTP terdiri
dari empat pasang warna konduktor tembaga yang setiap pasangnya berpilin. Pembungkus kabel
memproteksi dan menyediakan jalur bagi tiap pasang kawat. Kabel UTP terhubung ke perangkat melalui
konektor modular 8 pin yang disebut konektor RJ-45. Semua protokol LAN dapat beroperasi melalui
kabel UTP. Kebanyakan perangkat LAN dilengkapi dengan RJ-45.

Kategori UTP

Terdapat 5 kategori (level) untuk kabel UTP. Kategori ini mendukung sinyal suara berkecepatan rendah
(low-speed voice) dan sinyal LAN berkecepatan tinggi. Kategori 5 UTP direkomendasikan sebagai
kategori minimum untuk instalasi LAN dan cocok untuk topologi star. Tabel berikut menunjukkan
masing-masing kategori :

Performansi
Kategori Penggunaan
(MHz)
Cat 1 1 Voice, Mainframe, Dumb Terminal
Cat 2 4 4 MB Token Ring
Cat 3 10 10MB Ethernet
Cat 4 20 16 MB Token Ring
Cat 5 100 100 MB Ethernet

3. Shielded Twisted Pair (STP)

“Shielded twisted pair” adalah jenis kabel telepon yang digunakan dalam beberapa bisnis instalasi.
Terdapat pembungkus tambahan untuk tiap pasangan kabel (”twisted pair”). Kabel STP juga digunakan
untuk jaringan Data, digunakan pada jaringan Token-Ring IBM. Pembungkusnya dapat memberikan
proteksi yang lebih baik terhadap interferensi EMI.
Kelemahan kabel STP
Kabel STP mempunyai beberapa kelemahan :

• Attenuasi meningkat pada frekuensi tinggi.


• Pada frekuensi tinggi, keseimbangan menurun sehingga tidak dapat mengkompensasi timbulnya
“crosstalk” dan sinyal “noise”.
• Harganya cukup mahal.

4. Kabel Fiber Optik

Kabel Fiber Optik adalah teknologi kabel terbaru. Terbuat dari glas optik. Di tengah-tengah kabel
terdapat filamen glas, yang disebut “core”, dan di kelilingi lapisan “cladding”, “buffer coating”, material
penguat, dan pelindung luar.Informasi ditransmisikan menggunakan gelombang cahaya dengan cara
mengkonversi sinyal listrik menjadi gelombang cahaya. Transmitter yang banyak digunakan adalah
LED atau Laser.

Kelebihan menggunakan kabel Fiber Optik


Kabel Fiber Optik mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya :

• Kapasitas bandwidth yang besar (gigabit per detik).


• Jarak transmisi yang lebih jauh ( 2 sampai lebih dari 60 kilometer).
• Kebal terhadap interferensi elektromagnetik.

Kabel Fiber Optik banyak digunakan pada jaringan WAN untuk komunikasi suara dan data. Kendala
utama penggunaan kabel fiber optik di LAN adalah perangkat elektroniknya yang masih mahal.
Sedangkan harga kabel Fiber Optiknya sendiri sebanding dengan kabel LAN UTP.

tower
Tower adalah menara yang terbuat dari rangkaian besi atau pipa baik segi empat atau segi tiga, atau
hanya berupa pipa panjang (tongkat), yang bertujuan untuk menempatkan antenna dan radio pemancar
maupun penerima gelombang telekomunikasi dan informasi.

Tower BTS (Base Transceiver System) sebagai sarana komunikasi dan informatika, berbeda dengan
tower SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) Listrik PLN dalam hal konstruksi, maupun
resiko yang ditanggung penduduk di bawahnya. Tower BTS komunikasi dan informatika memiliki
derajat keamanan tinggi terhadap manusia dan mahluk hidup di bawahnya, karena memiliki radiasi yang
sangat kecil sehingga sangat aman bagi masyarakat di bawah maupun disekitarnya.

Tipe Tower jenis ini pada umumnya 3 macam,

1) Tower dengan 4 kaki, atau tower pipa besar (diameter pipa 30 cm keatas) (tanpa kawat spanner).

2) Tower segitiga yang dikokohkan dengan tali pancang/spanner.

3) Pipa besi yang dikuatkan dengan tali spanner.

Tower dengan 4 kaki sangat jarang dijumpai roboh, karena memiliki kekuatan tiang pancang serta sudah
dipertimbangkan konstruksinya. Tipe ini mahal biayanya (650 juta hingga 1 milyar rupiah), namun kuat
dan mampu menampung banyak antenna dan radio. Tipe tower ini banyak dipakai oleh perusahaan-
perusahaan bisnis komunikasi dan informatika yang bonafid. (Indosat, Telkom, Xl, dll).

Tower Segitiga disarankan untuk memakai besi dengan diameter 2 cm ke atas. Beberapa kejadian
robohnya tower jenis ini karena memakai besi dengan diameter di bawah 2 cm. Ketinggian maksimal
tower jenis ini yang direkomendasi adalah 60 meter. Ketinggian rata-rata adalah 40 meter.

Tower jenis ini disusun atas beberapa stage (potongan). 1 stage ada yang 4 meter namun ada yang 5
meter. Makin pendek stage maka makin kokoh, namun biaya pembuatannya makin tinggi, karena setiap
stage membutuhkan tali pancang/spanner. Jarak patok spanner dengan tower minimal 8 meter. Makin
panjang makin baik, karena ikatannya makin kokoh, sehingga tali penguat tersebut tidak makin
meruncing di tower bagian atas.

Tower jenis ketiga lebih cenderung untuk dipakai secara personal. Tinggi tower pipa ini sangat
disarankan tidak melebihi 20 meter (lebih dari itu akan melengkung). Teknis penguatannya dengan
spanner. Kekuatan pipa sangat bertumpu pada spanner.

Sekalipun masih mampu menerima sinyal koneksi, namun tower jenis ini tidak direkomedasi untuk
penerima sinyal informatika (internet dan intranet) yang stabil, karena jenis ini mudah bergoyang dan
akan mengganggu sistem koneksi datanya, sehingga komputer akan mencari data secara terus menerus
(searching).

Tower ini bisa dibangun pada areal yang dekat dengan pusat transmisi/ NOC = Network Operation
Systems (maksimal 2 km), dan tidak memiliki angin kencang, serta benar-benar diproyeksikan dalam
rangka emergency biaya.

Dari berbagai fakta yang muncul di berbagai daerah, keberadaan Tower memiliki resistensi/daya tolak
dari masyarakat, yang disebabkan isu kesehatan (radiasi, anemia dll), isu keselamatan hingga isu
pemerataan sosial. Hal ini semestinya perlu disosialisasikan ke masyarakat bahwa kekhawatiran pertama
(ancaman kesehatan) tidaklah terbukti. Radiasinya jauh diambang batas toleransi yang ditetapkan WHO.

Tower BTS terendah (40 meter) memiliki radiasi 1 watt/m2 (untuk pesawat dengan frekuensi 800 MHz)
s/d 2 watt/m2 (untuk pesawat 1800 MHz). Sedangkan standar yang dikeluarkan WHO maximal radiasi
yang bisa ditolerir adalah 4,5 (800 MHz) s/d 9 watt/m2 (1800 MHz).

Sedangkan radiasi dari radio informatika/internet (2,4 GHz) hanya sekitar 3 watt/m2 saja. Masih sangat
jauh dari ambang batas WHO 9 watt/m2.
Radiasi ini makin lemah apabila tower makin tinggi. Rata-rata tower seluler yang dibangun di Indonesia
memiliki ketinggian 70 meter.

Dengan demikian radiasinya jauh lebih kecil lagi. Adapun mengenai isu mengancam keselamatan (misal
robohnya tower), dapat diatasi dengan penerapan standar material, dan konstruksinya yang benar, serta
pewajiban perawatan tiap tahunnya.

Teori
Cara Instalasi Jaringan WAN

Peralatan
1.Kompas dan peta topografi
2.Penggaris dan busur derajat
3.Pensil, penghapus, alat tulis
4.GPS, altimeter, klinometer
5.Kaca pantul dan teropong
6.Radio komunikasi (HT)
7.Orinoco PC Card, pigtail dan PCI / ISA adapter
8.Multimeter, SWR, cable tester, solder, timah, tang potong kabel
9.Peralatan panjat, harness, carabiner, webbing, cows tail, pulley
10.Kunci pas, kunci ring, kunci inggris, tang (potong, buaya, jepit), obeng set, tie rap, isolator gel, TBA,
unibell
11.Kabel power roll, kabel UTP straight dan cross, crimping tools, konektor RJ45
12.Software AP Manager, Orinoco Client, driver dan AP Utility Planet, firmware dan operating system
(NT, W2K, W98 / ME, Linux, FreeBSD + utilitynya)

Survey Lokasi
1.Tentukan koordinat letak kedudukan station, jarak udara terhadap BTS dengan GPS dan kompas pada
peta
2.Perhatikan dan tandai titik potensial penghalang (obstructure) sepanjang path
3.Hitung SOM, path dan acessories loss, EIRP, freznel zone, ketinggian antena
4.Perhatikan posisi terhadap station lain, kemungkinan potensi hidden station, over shoot dan test noise
serta interferensi
5.Tentukan posisi ideal tower, elevasi, panjang kabel dan alternatif seandainya ada kesulitan dalam
instalasi
6.Rencanakan sejumlah alternatif metode instalasi, pemindahan posisi dan alat

Pemasangan Konektor
1.Kuliti kabel coaxial dengan penampang melintang, spesifikasi kabel minimum adalah RG 8 9913
dengan perhitungan losses 10 db setiap 30 m
2.Jangan sampai terjadi goresan berlebihan karena perambatan gelombang mikro adalah pada
permukaan kabel
3.Pasang konektor dengan cermat dan memperhatikan penuh masalah kerapian
4.Solder pin ujung konektor dengan cermat dan rapi, pastikan tidak terjadi short
5.Perhatikan urutan pemasangan pin dan kuncian sehingga dudukan kabel dan konektor tidak mudah
bergeser
6.Tutup permukaan konektor dengan aluminium foil untuk mencegah kebocoran dan interferensi, posisi
harus menempel pada permukaan konektor
7.Lapisi konektor dengan aluminium foil dan lapisi seluruh permukaan sambungan konektor dengan
isolator TBA (biasa untuk pemasangan pipa saluran air atau kabel listrik instalasi rumah)
8.Terakhir, tutup seluruh permukaan dengan isolator karet untuk mencegah air
9.Untuk perawatan, ganti semua lapisan pelindung setiap 6 bulan sekali
10.Konektor terbaik adalah model hexa tanpa solderan dan drat sehingga sedikit melukai permukaan
kabel, yang dipasang dengan menggunakan crimping tools, disertai karet bakar sebagai pelindung
pengganti isolator karet

Pembuatan POE
1.Power over ethernet diperlukan untuk melakukan injeksi catu daya ke perangkat Wireless In A Box
yang dipasang di atas tower, POE bermanfaat mengurangi kerugian power (losses) akibat penggunaan
kabel dan konektor
2.POE menggunakan 2 pair kabel UTP yang tidak terpakai, 1 pair untuk injeksi + (positif) power dan 1
pair untuk injeksi – (negatif) power, digunakan kabel pair (sepasang) untuk menghindari penurunan
daya karena kabel loss
3.Perhatikan bahwa permasalahan paling krusial dalam pembuatan POE adalah bagaimana cara
mencegah terjadinya short, karena kabel dan konektor power penampangnya kecil dan mudah bergeser
atau tertarik, tetesi dengan lilin atau isolator gel agar setiap titik sambungan terlindung dari short
4.Sebelum digunakan uji terlebih dahulu semua sambungan dengan multimeter

Instalasi Antena
1.Pasang pipa dengan metode stack minimum sampai ketinggian 1st freznel zone terlewati terhadap
obstructure terdekat
2.Perhatikan stabilitas dudukan pipa dan kawat strenght, pasang dudukan kaki untuk memanjat dan
anker cows tail
3.Cek semua sambungan kabel dan konektor termasuk penangkal petir bila ada
4.Pasang antena dengan rapi dan benar, arahkan dengan menggunakan kompas dan GPS sesuai tempat
kedudukan BTS di peta
5.Pasang kabel dan rapikan sementara, jangan sampai berat kabel menjadi beban sambungan konektor
dan mengganggu gerak pointing serta kedudukan antena
6.Perhatikan dalam memasang kabel di tower / pipa, jangan ada posisi menekuk yang potensial menjadi
akumulasi air hujan, bentuk sedemikian rupa sehingga air hujan bebas jatuh ke bawah

Instalasi Perangkat Radio


1.Instal PC Card dan Orinoco dengan benar sampai dikenali oleh OS tanpa konflik dan pastikan semua
driver serta utility dapat bekerja sempurna
2.Instalasi pada OS W2K memerlukan driver terbaru dari web site dan ada di CD utility kopian, tidak
diperlukan driver PCMCIA meskipun PNP W2K melakukannya justru deteksi ini menimbulkan konflik,
hapus dirver ini dari Device Manager
3.Instalasi pada NT memerlukan kecermatan alokasi alamat IO, IRQ dan DMA, pada BIOS lebih baik
matikan semua device (COM, LPT dll.) dan peripheral (sound card, mpeg dll.) yang tidak diperlukan
4.Semua prosedur ini bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 30 menit tidak termasuk instalasi OS,
lebih dari waktu ini segera jalankan prosedur selanjutnya
5.Apabila terus menerus terjadi kesulitan instalasi, untuk sementara demi efisiensi lakukan instalasi
dibawah OS Win98 / ME yang lebih mudah dan sedikit masalah
6.Pada instalasi perangkat radio jenis Wireless In A Box (Mtech, Planet, Micronet dlll.), terlebih dahulu
lakukan update firmware dan utility
7.Kemudian uji coba semua fungsi yang ada (AP, Inter Building, SAI Client, SAA2, SAA Ad Hoc dll.)
termasuk bridging dan IP Addressing dengan menggunakan antena helical, pastikan semua fungsi
berjalan baik dan stabil
8.Pastikan bahwa perangkat Power Over Ethernet (POE) berjalan sempurna

Pengujian Noise
1.Bila semua telah berjalan normal, install semua utility yang diperlukan dan mulai lakukan pengujian
noise / interferensi, pergunakan setting default
2.Tanpa antena perhatikan apakah ada signal strenght yang tertangkap dari station lain disekitarnya, bila
ada dan mencapai good (sekitar 40 % – 60 %) atau bahkan lebih, maka dipastikan station tersebut
beroperasi melebihi EIRP dan potensial menimbulkan gangguan bagi station yang sedang kita bangun,
pertimbangkan untuk berunding dengan operator BTS / station eksisting tersebut
3.Perhatikan berapa tingkat noise, bila mencapai lebih dari tingkat sensitifitas radio (biasanya adalah
sekitar – 83 dbm, baca spesifikasi radio), misalnya – 100 dbm maka di titik station tersebut
interferensinya cukup tinggi, tinggal apakah signal strenght yang diterima bisa melebihi noise
4.Perhitungan standar signal strenght adalah 0 % – 40 % poor, 40 % - 60 % good, 60 % - 100 %
excellent, apabila signal strenght yang diterima adalah 60 % akan tetapi noisenya mencapai 20 % maka
kondisinya adalah poor connection (60 % - 20 % - 40 % poor), maka sedapat mungkin signal strenght
harus mencapai 80 %
5.Koneksi poor biasanya akan menghasilkan PER (packet error rate – bisa dilihat dari persentasi jumlah
RTO dalam continous ping) diatas 3 % – 7 % (dilihat dari utility Planet maupun Wave Rider), good
berkisar antara 1 % - 3 % dan excellent dibawah 1 %, PER antara BTS dan station client harus seimbang
6.Perhitungan yang sama bisa dipergunakan untuk memperhatikan station lawan atau BTS kita, pada
prinsipnya signal strenght, tingkat noise, PER harus imbang untuk mendapatkan stabilitas koneksi yang
diharapkan
7.Pertimbangkan alternatif skenario lain bila sejumlah permasalahan di atas tidak bisa diatasi, misalkan
dengan memindahkan station ke tempat lain, memutar arah pointing ke BTS terdekat lainnya atau
dengan metode 3 titik (repeater) dll.

Perakitan Antena
1.Antena microwave jenis grid parabolic dan loop serta yagi perlu dirakit karena terdiri dari sejumlah
komponen, berbeda dengan jenis patch panel, panel sector maupun omni directional
2.Rakit antena sesuai petunjuk (manual) dan gambar konstruksi yang disertakan
3.Kencangkan semua mur dan baut termasuk konektor dan terutama reflektor
4.Perhatikan bahwa antena microwave sangat peka terhadap perubahan fokus, maka pada saat perakitan
antena perhatikan sebaik-baiknya fokus reflektor terhadap horn (driven antena), sedikit perubahan fokus
akan berakibat luas seperti misalnya perubahan gain (db) antena
5.Beberapa tipe antena grid parabolic memiliki batang extender yang bisa merubah letak fokus reflektor
terhadap horn sehingga bisa diset gain yang diperlukan

Pointing Antena
1.Secara umum antena dipasang dengan polarisasi horizontal
2.Arahkan antena sesuai arah yang ditunjukkan kompas dan GPS, arah ini kita anggap titik tengah arah
(center beam)
3.Geser antena dengan arah yang tetap ke kanan maupun ke kiri center beam, satu per satu pada setiap
tahap dengan perhitungan tidak melebihi ½ spesifikasi beam width antena untuk setiap sisi (kiri atau
kanan), misalkan antena 24 db, biasanya memiliki beam width 12 derajat maka, maksimum pergeseran
ke arah kiri maupun kanan center beam adalah 6 derajat
4.Beri tanda pada setiap perubahan arah dan tentukan skornya, penentuan arah terbaik dilakukan dengan
cara mencari nilai average yang terbaik, parameter utama yang harus diperhatikan adalah signal
strenght, noise dan stabilitas
5.Karena kebanyakan perangkat radio Wireless In A Box tidak memiliki utility grafis untuk
merepresentasikan signal strenght, noise dsb (kecuali statistik dan PER) maka agar lebih praktis, untuk
pointing gunakan perangkat radio standar 802.11b yang memiliki utility grafis seperti Orinoco atau
gunakan Wave Rider
6.Selanjutnya bila diperlukan lakukan penyesuaian elevasi antena dengan klino meter sesuai sudut
antena pada station lawan, hitung berdasarkan perhitungan kelengkungan bumi dan bandingkan dengan
kontur pada peta topografi
7.Ketika arah dan elevasi terbaik yang diperkirakan telah tercapai maka apabila diperlukan dapat
dilakukan pembalikan polarisasi antena dari horizontal ke vertical untuk mempersempit beam width dan
meningkatkan fokus transmisi, syaratnya kedua titik mempergunakan antena yang sama (grid parabolic)
dan di kedua titik polarisasi antena harus sama (artinya di sisi lawan polarisasi antena juga harus dibalik
menjadi vertical)

Pengujian Koneksi Radio


1.Lakukan pengujian signal, mirip dengan pengujian noise, hanya saja pada saat ini antena dan kabel
(termasuk POE) sudah dihubungkan ke perangkat radio
2.Sesuaikan channel dan nama SSID (Network Name) dengan identitas BTS / AP tujuan, demikian juga
enkripsinya, apabila dipergunakan otentikasi MAC Address maka di AP harus didefinisikan terlebih
dahulu MAC Address station tersebut
3.Bila menggunakan otentikasi Radius, pastikan setting telah sesuai dan cobalah terlebih dahulu
mekanismenya sebelum dipasang
4.Perhatikan bahwa kebanyakan perangkat radio adalah berfungsi sebagai bridge dan bekerja
berdasarkan pengenalan MAC Address, sehingga IP Address yang didefinisikan berfungsi sebagai
interface utility berdasarkan protokol SNMP saja, sehingga tidak perlu dimasukkan ke dalam tabel
routing
5.Tabel routing didefinisikan pada (PC) router dimana perangkat radio terpasang, untuk Wireless In A
Box yang perangkatnya terpisah dari (PC) router, maka pada device yang menghadap ke perangkat radio
masukkan pula 1 IP Address yang satu subnet dengan IP Address yang telah didefinisikan pada
perangkat radio, agar utility yang dipasang di router dapat mengenali radio
6.Lakukan continuos ping untuk menguji stabilitas koneksi dan mengetahui PER
7.Bila telah stabil dan signal strenght minimum good (setelah diperhitungkan noise) maka lakukan uji
troughput dengan melakukan koneksi FTP (dengan software FTP client) ke FTP server terdekat
(idealnya di titik server BTS tujuan), pada kondisi ideal average troughput akan seimbang baik saat
download maupun up load, maksimum troughput pada koneksi radio 1 mbps adalah sekitar 600 kbps
dan per TCP connection dengan MTU maksimum 1500 bisa dicapai 40 kbps
8.Selanjutnya gunakan software mass download manager yang mendukung TCP connection secara
simultan (concurrent), lakukan koneksi ke FTP server terdekat dengan harapan maksimum troughput 5
kbps per TCP connection, maka dapat diaktifkan sekitar 120 session simultan (concurrent), asumsinya 5
x 120 = 600
9.Atau dengan cara yang lebih sederhana, digunakan skala yang lebih kecil, 12 concurrent connection
dengan trouhput per session 5 kbps, apa total troughput bisa mencapai 60 kbps (average) ? bila tercapai
maka stabilitas koneksi sudah dapat dijamin berada pada level maksimum
10.Pada setiap tingkat pembebanan yang dilakukan bertahap, perhatikan apakah RRT ping meningkat,
angka mendekati sekitar 100 ms masih dianggap wajar

Anda mungkin juga menyukai