POTENSI PENGEMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH DALAM ERA OTONOMI DAERAH

M. OKA ADNYANA MANIKMAS
Ahli Peneliti Madya pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial-Ekonomi Pertanian, Bogor

ABSTRACT Small-medium scale entrepreneur is one of the economic sectors that have actively involved in developing Indonesia’s economy. During the period of substantial economic growth especially in, 1980s and early 1990s that reach 7-8% per year, this sector was not given high priority by the government. However, this sector remains plays significant rule especially for labor absorption and rural economic development. When the economic crisis has devastating Indonesia’s economy that started in July 1997, this small-medium entrepreneur came to action as the most survival and resilient economic sector. Its number continuously increases as well as its income and volume of business. Empirically, flexibility and resiliency of this sector to meet the impact of economic crisis has been proven. The results of integrative entrepreneur survey (survey usaha integratif, SUSI) conducted by CBS in 1998-1999 have showed these circumstances. This article tries to comprehensively discuss the profile of small-medium scale entrepreneur, its prospect, and the rule of science and technology to foster the development of this sector in the future and its policy implication. Key words: Small-Medium Eentrepreneur, Prospect, Regional Autonomy

PENDAHULUAN
Dalam lima tahun ke depan, GBHN mengamanatkan arah kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang sangat erat kaitannya dengan pemberdayaan sektor ekonomi yang menggeluti usaha kecil-menengah. Pergeseran paradigma pembangunan ini sejalan

dengan semangat otonomi daerah yang tertuang dalam UU 22 dan UU 25 tahun 1999, dimana otonomi berada pada wilayah Kabupaten dan Kota. Amanat GBHN tersebut antara lain menegaskan berbagai upaya pemerintah guna memacu petumbuhan ekonomi berbasis sumberdaya lokal. Pertama, mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan; Kedua, mengembangkan perekonomian yang berorientasi global sesuai dengan kemajuan teknologi dengan membangun keunggulan kompetitif berdasarkan keunggulan komparatif sesuai dengan kompetensi dan produk unggulan di setiap daerah; Ketiga, memberdayakan pengusaha kecil, menengah, dan koperasi agar lebih efisien, produktif dan berdaya saing tinggi; Keempat, mengembangkan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada keragaman sumberdaya bahan pangan,

kelembagaan dan budaya lokal; Kelima, mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kuat dengan memberdayakan pelaku dan potensi ekonomi daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah; Keenam, mempercepat pembangunan pedesaan dalam rangka pemberdayaan masyarakat terutama petani; dan Ketujuh, mendayagunakan

1

sumberdaya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal serta penataan ruang (Saragih, 2000). Kebijakan nasional tentang otonomi daerah kepada Daerah Tingkat II tersebut akan berpengaruh sangat substansial dalam skenario penganggaran pembangunan dan peranan pemerintah pusat maupun daerah. Dalam waktu yang sama, perubahan lingkungan ekternal termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), komunikasi global, dan perkembangan pasar internasional akan sangat berpengaruh terhadap prioritas

pembangunan ekonomi nasional. Kondisi seperti ini menjadi tantangan dan tanggung jawab semua pelaku ekonomi untuk menemukan jalan keluarnya. Iptek yang merupakan salah satu sumberdaya akhirnya harus tampil ke depan untuk memberikan data dan informasi yang akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan nasional maupun wilayah. Usaha kecil dan usaha rumah tangga yang yang tidak berbadan hukum yang terdapat di semua sektor ekonomi merupakan usaha yang banyak memberikan lapangan usaha tanpa harus mempunyai jenjang pendidikan tertentu maupun keahlian khusus. Secara nasional kontribusi jenis usaha ini terhadap produk domestik bruto sangat signifikan. Kebijakan pemerintah untuk memberi prioritas lebih besar dalam pembangunan yang

berorientasi pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan utamanya usaha kecil dan rumah tangga maupun menengah menjadi cukup populer dan berdampak luas pada penyerapan tenagakerja. Ke depan jenis usaha ini akan menjadi fondasi yang cukup kokoh bagi struktur ekonomi Indonesia.

PROFIL USAHA KECIL DAN MENENGAH
Pembahasan tentang profil usaha kecil dan menengah (UKM) dibatasi hanya pada UKM yang tidak berbadan hukum. Jenis usaha ini sangat relevan dengan pengembangan ekonomi kerakyatan yang terdesentralisasi, namun tetap mampu bersaing baik di pasar lokal maupun pasar internasional.

Jenis Usaha, Omset dan Pekerja Jenis usaha yang termasuk ke dalam UKM terdiri dari: (1) pertanian dan yang terkait dengan pertanian (agribisnis), (2) pertambangan rakyat dan penggalian; (3) industri kecil dan kerajinan rumah tangga; (4) listrik non-PLN, (5) konstruksi; (6) perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan jasa komunikasi; (7) angkutan dan komunikasi; (8) lembaga keuangan; dan (9) real estate dan persewaan. Secara keseluruhan jumlah usaha kecil dan menengah meningkat dari sekitar 1,411 juta buah tahun 1998 menjadi 1,452 juta buah tahun 1999 atau terjadi peningkatan sekitar 2,92%. Keadaan ini mencerminkan bahwa sektor ekonomi ini menjadi salah satu pilihan sebagai bidang usaha yang cukup menguntungkan dan relatif tahan terhadap tekanan

2

secara keseluruhan jumlah pekerja yang terserap pada jenis usaha ini juga meningkat sekitar 2. dan real estate dan persewaan.selama krisis ekonomi.25% dan 3.35%. Potensi ini harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk membangun basis ekonomi berkerakyatan yang kokoh. Peningkatan penyerapan tenagakerja yang cukup tajam terjadi pada industri dan kerajinan rumah tangga yaitu 15. Sedangkan pada tahun 1999. Sedangkan di wilayah Jawa dan Bali. omset dari UKM di wilayah lainnya meningkat cukup signifikan. usaha 3 . dan Sulawesi terjadi peningkatan masing-masing 5.77% dan 2. penurunan jumlah pekerja yang cukup drastis terjadi pada usaha konstruksi dan lembaga keuangan. Masih tetap sejalan dengan perkembangan UKM dan penyerapan tenagakerja yang meningkat cukup berarti. Peningkatan penyerapan tenagakerja cukup tinggi terjadi di wilayah Kalimantan yaitu sekitar 10. Distribusi UKM antar wilayah mencerminkan bahwa jenis usaha ini masih terkonsentrasi di wilayah Jawa dan Bali yaitu sekitar 9. (2) listrik nonPLN.28% pada periode yang sama (Tabel 2). jumlah UKM di wilayah ini meningkat menjadi sekitar 10. Namun secara nasional.586 juta atau 68.83% dan 26. Ini mencerminkan skala usaha secara rata-rata masih relatif kecil karena hanya mempekerjakan antara 1-2 tenagakerja.32%. Keadaan ini mencerminkan bahwa selama krisis.31 juta pada tahun 1998. besarnya omset yang berputar pun secara umum meningkat cukup tajam yaitu sekitar 14. eceran. Sedangkan.85 pada tahun 1998 dan 1. (3) angkutan dan komunikasi. dan (3) lembaga keuangan. Bila di lihat dari masing-masing jenis usaha. sektor ini berperan cukup besar dalam menyerap tenagakerja yang jumlahnya terus meningkat. Sedangkan di wilayah lain jumlah UKM menurun cukup tajam terutama di wilayah Maluku dan Irja yaitu sekitar 69. Sedangkan jenis usaha lainnya mengalami penurunan terutama: (1) pertambangan rakyat dan penggalian. rasio antara pekerja dan usaha masih relatif kecil yaitu hanya sekitar 1. Peningkatan jumlah UKM terjadi masing-masing di wilayah Jawa dan Bali yaitu sekitar 5. Peningkatan jumlah usaha terjadi pada jenis usaha: (1) industri kecil dan kerajinan rumah tangga. Kecuali di wilayah Maluku dan Irja. Peningkatan yang cukup tinggi terjadi di wilayah Jawa dan Bali dan Kalimantan yaitu masing-masing sekitar 17. Sejalan dengan peningkatan jumlah UKM. Namun demikian usaha kecil menengah ini telah terbukti yang paling survive selama krisis ekonomi.32% pada periode 1998-1999.15 juta dengan tenagakerja sekitar 18. RM dan jasa akomodasi.33% dalam periode 1998-1999.15% dalam periode yang sama. (2) perdagangan besar.85% diikuti oleh wilayah Kalimantan dan Sulawesi masing-masing meningkat sekitar 5.84 pada 1999 (Tabel 3).232 juta.47% dalam periode yang sama.07% (Tabel 1). begitu pula angkutan dan komunikasi. Indikator ini menunjukkan bahwa UKM relatif lebih stabil dalam menghadapi tekanan yang disebabkan oleh krisi ekonomi.6% dari total UKM dan mampu menyerap tenagakerja sekitar 17.

Seluruh kelas pendapatan dari UKM mengalami peningkatan penerimaan pada tahun 1999 dibandingkan dengan 1998 kecuali kelas pendapatan > Rp 500 juta per tahun. Permodalan Modal usaha dari UKM terdiri atas tiga sumber yaitu: (1) milik sendiri. Ini mencerminkan bahwa sekalipun biaya antara dan upah serta gaji meningkat cukup substansial.02% (Tabel 4). jumlah UKM yang sepenuhnya tergantung pada sumber modal dari pihak lain dan lainnya juga meningkat dengan cukup berarti yaitu masing-masing 6. Kondisi ini menunjukkan lagi. upah dan gaji di wilayah lainnya seluruhnya meningkat mulai dari sekitar 11. biaya antara pun meningkat sekitar 13. Penurunan jumlah tenagakerja yang menggantungkan hidupnya pada usaha kecil meningah terjadi di wilayah Maluku dan Irja (Tabel 5). bahwa kelompok usaha kecil menengah relatif lebih kuat bertahan terhadap tekanan krisi ekonomi.88 juta dari sekitar 14. Secara agregat jumlah pekerja meningkat sekitar 2.konstruksi walaupun jumlahnya berkurang namun perputaran omsetnya meningkat sangat tajam yaitu sekitar 112. Dari sisi pendapatan. Pada periode yang sama.34% dan 2.71%.29%. tetapi nilai produksi bruto masih menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Sedangkan jumlah UKM yang mengandalkan sebagian dari modalnya dari pihak lain. 4 . Di sisi lain.76% dalam periode yang sama.88% dalam periode yang sama. (2) sebagian dari pihak lain. UKM dengan kelas pendapatan yang terakhir ini mengalami penurunan pendapatan yang cukup tajam yaitu sekitar 53.63% dan yang cukup mengembirakan adalah pembayaran upah dan gaji meningkat sekitar 26. (3) seluruhnya dari pihak lain dan (4) sumber lainnya. Nilai Produksi Bruto dan Pendapatan Nilai produksi bruto dari UKM secara nasional meningkat sekitar 14.35% dan 9. Pada tahun 1998 misalnya.82% (Tabel 7). juga meningkat cukup tajam yaitu sekitar 18. jumlah tenagakerja yang dibayar maupun yang tidak dibayar juga meningkat masing-masing sebesar 2.71%.47%.80 juta menghandalkan modal sendiri dan jumlah UKM ini kemudian meningkat menjadi sekitar 11. kemampuan permodalan UKM sebagian besar mengandalkan modal sendiri. UKM dikelompokkan menjadi delapan kelas pendapatan yaitu dari paling rendah <9 juta rupiah sampai yang tertinggi >500 juta rupiah per tahun (Tabel 6). Keadaan ini diperkirakan terjadi sebagai dampak kerusuhan yang terjadi di wilayah ini sampai sekarang belum terpecahkan secara tuntas.17% di Sulawesi sampai pada yang tertinggi di Kalimantan dengan peningkatan sebesar 40. Kecuali wilayah Maluku dan Irja.33% pada tahun 1999 dibandingkan dengan 1998.51%.52 juta UKM pada tahun 1999 atau terjadi peningkatan 0. Di sisi lain. Secara agregat.10 juta UKM ternyata sekitar 11. dari sekitar 14.

Lembaga Keuangan bukan Bank. Kalimantan 3.56% dalam periode 1998-1999. perorangan dan sumber lainnya lebih disukai dengan jumlah masing-masing 427. atau seluruhnya dari pihak lain maupun dari sumber lainnya menurun sangat tajam dan secara total jumlah UKM dilihat dari aspek permodalan menurun sekitar 67.40% dibandingkan dengan 1998. Dalam hal ini.10 juta UKM. ketiga sumber utama permodalan UKM di atas tetap menjadi handalan mereka. Karena usaha skala seperti ini cukup tangguh menghadapi krisis. Masih terkait dengan aspek permodalan. bahkan di wilayah Maluku dan Irja rata-rata jumlah UKM yang memanfaatkan modal pinjaman utama menurun cukup tajam. asal modal pinjaman UKM antara lain: Bank.329 UKM. tampaknya sumber pinjaman dari keluarga. Dari jumlah UKM yang pernah memanfaatkan pinjaman dari berbagai sumber dapat dilihat pada Tabel 9. baik dari Bank maupun dari sumber modal lainnya termasuk keluarga dan perorangan. hanya 480. Nusa Tenggara 3. sebagian dari pihal lain.056 juta. Namun demikian. Namun patut menjadi catatan bagi pengembangan UKM ke depan bahwa jumlah UKM yang tidak memanfaatkan pinjaman masih sangat besar.142 juta UKM pada tahun 1998 dan sekitar 2.96 juta dan 12.239 UKM yang mendapat pinjaman dari Bank. 5 . dari 14. sedangkan UKM yang memanfaatkan dari sumber lainnya termasuk Bank masih rendah. maka tidak ada alasan bagi sektor perbankan untuk tidak memberikan prioritas yang lebih besar pada UKM. unit usaha yang memperoleh pinjaman dari Bank masih sedikit. Koperasi.56%. Perorangan dan lainnya. Maluku dan Irja.01%.03% dibandingkan dengan 1998 (Tabel 8).520 juta UKM pada tahun 1999 atau meningkat sekitar 29. Dari total 2. 654. Keluarga/Famili.Kecuali di wilayah Sumatrera.151 UKM dan 579707 UKM. Secara umum jumlah UKM yang memanfaatkan berbagai sumber modal tetap terbesar adalah di wilayah Jawa dan Bali. Sedangkan jumlah UKM yang sudah memanfaatkan pinjaman dari berbagai sumber masing-masing hanya sekitar 2.464 juta pada 1999 walaupun telah terjadi peningkatan sekitar 15. Sedangkan di wilayah lain jumlahnya tidak banyak. baik pemerintah maupun swasta relatif kecil dalam mendorong pengembangan usaha kecil menengah. baik pada tahun 1998 maupun 1999 yaitu masing-masing sekitar 11. Dilihat dari jumlah UKM yang ada. peranan Bank. Pada tahun 1999. Jumlah tersebut sedikit meningkat pada tahun 1999 yaitu 619.655 UKM dari jumlah 14. Modal Ventura.29% dalam periode yang sama.142 juta UKM yang pernah memanfaatkan pinjaman pada tahun 1998. Pada tahun 1998 misalnya.89% dan di wilayah Sulawesi sebesar 3. jumlah UKM yang mengandalkan modal sendiri dalam usahanya mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu masingmasing 2. jumlah UKM yang memanfaatkan pinjaman dari Bank cukup meningkat yaitu sekitar 22. Dari Tabel 7 juga tampak bahwa jumlah UKM yang mendapat sumber permodalan baik milik sendiri.75% di wilayah Jawa dan Bali.

054 juta UKM tahun 1999 atau peningkatan sekitar 72. Jumlah UKM terus meningkat rata-rata 2. namun jumlah mereka tidak telalu besar. Sedangkan distribusi UKM di wilayah lain berdasarkan dampak krisis ekonomi cukup beragam. dan (6) proposal untuk memperoleh pinjaman ditolak.410 pada tahun 1998 menjadi sekiat 1.99% dalam periode 1998-1999.23% walaupun jumlah UKM yang telah beroperasi sebelum Juli 1997 sedikit menurun yaitu sekitar 2. (5) tidak berminat. Untuk menjawab pertanyan tersebut diperlukan pengkajian lebih jauh dan rinci. Jumlah UKM yang mengatakan bahwa krisis ekonomi tidak berpengaruh terhadap kinerja usahanya atau krisis tersebut dapat diatasi cukup besar.694 juta UKM. (4) suku bunga tinggi. Bahkan UKM yang telah beroperasi sebelum Juli 1997 yang mengatakan krisis ekonomi belum teratasi jumlahnya menurun tajam yaitu dari 2. Distibusi UKM antar wilayah menunjukkan bahwa jumlah mereka rata-rata meningkat kecuali di wilayah Sumatera dan Maluku dan Irja. Apakah ini terkait dengan alasan lainnya seperti tidak tahu prosedur. Penurunan jumlah UKM ini mencerminkan bahwa sebagian dari mereka telah mampu mencari jalan keluar untuk mengatasi krisis yang menimpanya.473 juta pada tahun 1998 menjadi sekitar 1. Kelompok UKM yang tidak meminjam dari Bank dengan alasan tidak berminat jumlahnya cukup besar yaitu 1.756 juta UKM pada tahun 1998 dan menurun tajam pada 1999 yaitu sekitar 1.85%. prosedur sulit atau tidak punya agunan. Jumlah UKM yang belum mau memanfaatkan modal pinjaman dari Bank menjadi sangat besar yaitu sekitar 3. jumlah UKM yang mengatakan bahwa dampak krisis ekonomi belum dapat di atasi jumlahnya menurun di seluruh wilayah. (2) prosedur sulit. Sungguh sulit untuk dijelaskan mengapa jumlah UKM yang tidak berminat untuk mendapatkan pinjaman dari Bank.844 juta UKM (Tabel 10). Kondisi ini dapat mengindikasikan dua hal yaitu: (1) sebagian dari mereka 6 . Hal ini sangat penting.586 juta pada 1998 menjadi 10.757 juta tahun 1999 atau terjadi peningkatan sebesar 69. Walaupun demikian. (3) tidak ada agunan.038 juta pada 1998 dan menjadi 1.146 juta UKM pada 1999 atau sekitar 5. Dampak Krisis Ekonomi Krisis ekonomi yang mulai menimpa Indonesia pada Juli 1997 tampaknya tidak berpengaruh pada perkembangan UKM. baik tahun 1998 maupun tahun 1999.28% (Tabel 11).Berbagai alasan yang dikemukan oleh kelompok usaha kecil menengah untuk tidak meminjam modal usaha dari bank antara lain: (1) tidak tahu prosedur. Peningkatan jumlah UKM yang cukup besar setelah krisis terjadi di wilayah Jawa dan Bali yaitu dari sekitar 9.406 UKM pada 1999.04%. Jumlah UKM yang beroperasi setelah Juli 1997 di wilayah ini pun meningkat tajam yaitu dari 612. Karena berbagai alasan tersebut di atas. Bahkan jumlah UKM pendatang baru yang beroperasi setelah Juli 1997-pun cukup besar yaitu sekitar 1. karena ke depan sumber modal utama UKM diharapkan dari Bank.031 juta UKM pada tahun 1998 dan menurun tajam menjadi 627.

757 juta mengatakan bahwa kondisi mereka akan sama saja dalam tiga bulan ke depan Jenis usaha lainnya yang jumlahnya juga cukup besar adalah industri kecil dan kerajinan rumah tangga.05 juta – 10. angkutan dan komunikasi dan masing-masing sekitar 65. 25. Sejalan dengan kondisi 1-3 bulan sebelumnya. Bahkan jumlah UKM yang tidak dapat menbandingkan kondisi usaha mereka dengan waktu 1 bulan sebelumnya sangat kecil yaitu hanya 49 UKM.66 juta UKM. lebik buruk 8. dari sekitar 10. Di sini tampak jelas bahwa kelompok usaha kecil menengah lebih tangguh dalam menghadapi krisis ekonomi.667 juta bergerak di bidang usaha perdagangan besar. jumalh UKM yang mengatakan kondisi mereka lebih baik pun cukup besar yaitu antara 2. 7 .61% mengatakan bahwa kondisi mereka akan lebih baik Dari sekitar 14.33% memperkirakan bahwa kondisi usaha mereka akan sama saja dalam 3 bulan ke depan (Tabel 13).22% lebih baik dan hanya 7.960 juta dibandingkan dengan 1-3 bulan sebelumnya (Tabel 12).052 juta – 2. Kondisi di wilayah Jawa dan Bali misalnya. sekitar 8.91% memperkirakan kondisi usaha mereka akan sama saja.87% lebih buruk dalam 3 bulan ke depan Kecendrungan yang sama juga terlihat di wilayah lainnya (Tabel 14). Distribusi UKM antar wilayah pun menunjukkan distribusi yang sama yaitu jumlah UKM yang mengatakan kondisi mereka relatif sama dengan 1-3 bulan sebelumnya.82% dan 72. lebih buruk atau tidak dapat dibandingkan. Prospek Usaha Untuk melihat prospek pengembangan masing-masing jenis UKM. Untuk itu secara impiris kondisi ini perlu dikaji lebih lanjut (Tabel 11). sebagian besar UKM mengatakan bahwa kondisi usaha mereka dalam 3 bulan ke depan akan sama saja.146 juta UKM yang ada.520 juta UKM yang ada. BPS juga melakukan kajian jangka pendek dengan menanyakan kinerja usaha UKM antara 1-3 bulan sebelum dilakukan survei.20% dan sekitar 24. 66. Sekitar 67.19% mengatakan sama saja.memang telah mampu mengatasi dampak krisis ekonomi atau (2) sebagian dari mereka telah bangkrut. sama saja. Dengan demikian mereka dapat menyusus rencana ke depan dengan lebih hatihati. eceran dan rumah makan dan sekitar 5. Empat pertanyaan diajukan kepada masing-masing UKM yaitu lebih baik. Begitu pula distribusi UKM antar wilayah berdasarkan prospek usaha dalam 3 bulan ke depan dimana sebagian besar mengatakan akan sama saja. BPS juga melakukan analisis dengan menanyakan pertanyaan tentang kondisi usaha mereka tiga bulan ke depan. Kondisi ini mencerminkan bahwa hampir seluruh UKM mengerti dengan baik dampak krisis ekonomi terhadap perkembangan usahanya. Di sisi lain. Hal ini dilakukan untuk menghindari bias bila data recalling dilakukan untuk waktu yang terlalu lama. Jumlah UKM yang mengatakan bahwa kondisi mereka sama saja dengan kondisi 1-3 bulan yang lalu tampaknya paling besar yaitu antara 10.

dan (3) biaya operasional dan pemeliharaan rendah. (2) mempunyai nilai tambah dan manfaat. Partisipasi masyarakat merupakan sebuah proses dinamis (Banki. peran serta. Dengan kata lain. Dalam penerapannya. teknologi berkembang mengikuti aspek nilai tambah. memberikan kontribusi dan kerja sama. adanya kontribusi dan kerja sama. Berikut adalah berbagai 8 . sehingga mengandung sifat-sifat ikut serta. membagi manfaat dari hasil kegiatan kelompok. Oleh karena itu kebijakan pemerinatah seharusnya lebih memprioritaskan kelompok usaha ini. Secara empiris. 1981) di mana semua anggota memberikan kontribusi dalam mencapai tujuan kelompok. Hanya sebagian kecil kondisinya akan lebih buruk dalam tiga bulan kedepan. Dengan demikian. Pendekatan Partisipasi dalam Perakitan Taknologi Kata partisipasi mengacu pada kata ikut serta. Mereka tidak memerlukan BLBI. berbagai teknologi akan menjadi daya tarik dan teradopsi dengan berkelanjutan jika teknologi tersebut memiliki berbagai faktor seperti: (1) harga terjangkau oleh pengguna. namun kontribusinya terhadap pemulihan ekonomi nasional ke depan dapat diandalkan. ekonomis. atau pertimbangan produktivitas terutama kalau hal ini dikaitkan dengan kegiatan usaha produksi atau industri. pertimbangan desain dan konstruksi harus dikawinkan dengan perhitungan kaji teknologi yang sesuai kebutuhan dan arti teknologi itu sendiri. STRATEGI PEMILIHAN TEKNOLOGI DALAM PENGEMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH Teknologi adalah suatu cara melakukan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan kemampuan untuk menghasilkan barang dan jasa secara kompetitif berdasarkan penerapan ilmu pengetahuan secara sistematis (Sahil dan Salim 1999). peran aktif. Manusia dengan kemampuan akal dan pikiran telah mampu mendorong penciptaan berbagai macam teknologi yang dibutuhkan. saling tukar informasi dan pengalaman kepentingan yang sama serta mengikuti seluruh aturan dan keputusan yang diambil oleh kelompok. Faktor Dominan Bernilai Strategis Dalam skala UKM. implikasi dari indikator tersebut adalah sektor usaha kecil menengah tidak perlu diragukan lagi bahwa mereka adalah sektor ekonomi yang paling lentur menghadapi tekanan krisis ekonomi. sehingga menghasilkan barang yang kompetitif. Mengapa partisipasi diperlukan dalam melakukan kegiatan pembangunan termasuk dalam proses pengkajian dan perakitan teknologi tepat guna?. Selanjutnya kata partisipatif merupakan kata sifat dari partisipasi. berperan aktif. teknologi yang dihasilkan mampu bersaing termasuk harga dan kualitasnya. praktis.Dari dua indikator di atas jelas menunjukkan bahwa baik antara wilayah maupun antar jenis usaha kondisi mereka akan sama saja dan lebih baik. efisien.

Artinya sejak dari identifikasi masalah sampai pada evaluasinya.alasannya bahwa pendekatan partisipatif sesuai dengan program pembangunan yang berbasis keunggulan sumberdaya lokal dengan menghandalkan teknologi yang bersifat spesifik lokasi (Cohen and Uphoff. Mishra et al. Menyikapi partisipatif sebagai proses pembelajaran yang berulang-ulang. 1979. dilaksanakan. monitoring dan evaluasi. Mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah. Oleh karena itu. proses program tersebut melibatkan pelaku ekonomi. Berikut ini disajikan prinsip-prinsip partisipatif dalam proses penemuan suatu teknologi tetap guna (Bechstedt. Terdapat mobilisasi sumber daya lokal untuk pelaksanaan suatu program. (5) (6) (7) (8) Memperoleh peluang dan penguasaan terhadap sumber daya. pandangan dan dasar kelompok usaha mengambil keputusan perlu dipelajari dan dipahami. 9 . dan Partisipasi masyarakat akan menuju kepada pemberdayaan secara bertahap untuk kelompok-kelompok yang secara sosial ekonomi kurang beruntung. Oakley and Marsden. 1984): (1) (2) Mengurangi biaya pembangunan yang harus dikeluarkan oleh pemerintah. Perilaku. 1984. Mengikutsertakan semua pelaku usaha kecil menengah sejak awal. Pada beberapa kasus. (3) (4) Seluruh komponen masyarakat dan pelaku ekonomi memperoleh manfaat. Waddimba. Filosofi pendekatan partisipatif dideskripsikan sebagai pendekatan dan metode yang mendorong pengguna teknologi mengambil bagian dalam menganalisis kondisi kehidupan mereka sendiri agar dapat membuat rencana yang lebih matang. (3) Pelaku dan pengguna teknologi perlu memainkan peran utama dalam menentukan subyek penelitian.. 1997): (1) (2) Analisis kondisi dan pemanfaatan sumber daya perlu diberi prioritas tinggi. (4) (5) (6) (7) Menjamin keberlanjutan teknologi secara jangka panjang. 1977. Meningkatkan manfaat yang diperoleh masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan. pendekatan partisipatif dimulai dengan orang luar dan apabila memungkinkan pengguna teknologi setempat mengambil bagian baik dalam pemahaman. proses penciptaan dan perakitan teknologi secara partisipatif dapat diartikan sebagai kegiatan yang direncanakan. Apabila kelompok usaha kecil menengah dapat melakukan proses perencanaan dengan baik diharapkan hal ini akan membawa mereka lebih menguasai perputaran usahanya. dipantau dan dievaluasi secara partisipatif. Mengaplikasikan sistem secara holistik dan interdisiplin. tindakan. dan dalam memilih dan menguji teknologi tepat guna. CIRDAP. sehingga akan menjadi lebih berlanjut dan masyarakat lebih percaya diri. 1984. analisis. Pelaksanaan program akan lebih mudah dan lancar.

dan (3) industri jasa. Kelompok usaha yang terakhir sangat sesuai ditangani oleh UKM karena berbagai alasan yaitu: (1) pengalaman selama ini menunjukkan bahwa industri komunikasi sangat efisien bila dijalankan oleh usaha skala kecil bahkan tingkat rumah tangga. (2) kecendrungan miniaturisasi yang terus berkembang dalam kecendrungan teknologi global (Halim dkk. dan (d) teknologi yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Kebutuhan UKM Terhadap Teknologi Dengan memperhatikan sisi permintaan dan potensi sumberdaya serta profil UKM sampai saat ini. 10 . Kecedrungan kebutuhan UKM terhadap teknologi ke depan tidak dapat terlepas dari perubahan struktur UKM tersebut. dan jasa berskala kecil maupun menengah untuk mendukung perkembangan UKM yang makin prospektif (Gambar 1). Kelompok usaha di bidang obat-obatan akan terus dipicu oleh meningkatnya kesadaran terhadap jenis obat yang ramah lingkungan di negaranegara maju dan kebutuhan obat-obatan alternatif di dalam negeri. (2) industri obat-obatan. Hal ini didorong oleh mahalnya obat-obatan kimia yang sebagian besar berbahan baku impor. (c) berorientasi pada kebutuhan pengguna. 2001). mulai sekarang harus sudah mempersiapkan permintaan yang sangat substansial dari industri komunikasi. dan (3) Mewujudkan perubahan persepsi. sikap dan tingkah laku dari pengguna PRA dalam melakukan litkaji. Di sisi lain.Manfaat yang dapat diperoleh dari proses penemuan teknologi tepat guna secara partisipatif antara lain: (1) Mengembangkan dan menyebarluaskan teknologi mempunyai dimensi: yang (a) spesifik lokasi. maka dalam 20-25 tahun ke depan diperkirakan akan berkembang tiga kelompok UKM yang sangat prospektif yaitu: (1) komunikasi. kelompok usaha jasa lainnya seperti akomodasi (home stay dan rumah makan) dan transportasi wisata akan terus berkembang pesat sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. obatobatan. Berdasarkan kondisi dalam negeri maupun global seperti inilah dapat diperkirakan akan terjadi perubahan struktur ke depan yang akan didominasi oleh tiga kelompok UKM di atas. (b) berorientasi pasar. (2) Meningkatkan produksi dan pendapatan serta kehidupan yang lebih baik bagi usaha kecil menengah. Teknologi yang akan didesain.

karena pendekatan piece-meal yang selama ini dilakukan selalu menghasilkan outcomes yang kurang optimal. Kerangka Analisis Kebutuhan Teknologi dan Proil UKM ke depan. PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH DALAM ERA OTONOMI DAERAH Otonomi daerah yang mulai diterapkan pada bulan Januari tahun 2001 sesuai dengan UU No. (4) sumber-sumber keuangan untuk membiayai pelaksanaan otonomi daerah. Keenam eleman di atas secara integrasi merupakan suatu sistem yang membentuk pemerintahan daerah. dan (6) manajemen pelayanan umum sebagai refleksi dari penyelenggaraan otonomi daerah (Suwandi. 2001). (2) kelembagaan yang merupakan wadah dari otonomi yang diserahkan kepada daerah. Secara teoritis. (3) pegawai dan staf yang mempunyai tugas untuk menjalankan otonomi. 22 dan UU 25 tahun 1999. Penataan haruslah bersifat terpadu dan menyeluruh. (5) unsur perwakilan yang merupakan perwujudan dari wakil-wakil rakyat yang telah mendapatkan legitimasi untuk memimpin penyelenggaraan pemerintah daerah. masing-masing wilayah didorong untuk memanfaatkan keunggulan sumberdaya lokal guna meningkatkan daya saing produk-produk yang dihasilkan oleh wilayah. Mereka harus terus mengembangkan sayap usahanya di samping mendirikan UKM-UKM baru yang berdaya saing tinggi.Indonesia Struktur UKM periode 1 Indonesia Struktur UKM periode 2 Sistem perdagangan bebas dalam era Globalisasi Profil UKM basis utama ekonomi nasional Negara lain Struktur UKM periode 1 Negara lain Struktur UKM periode 2 Kebutuhan Iptek Kondisi 1970 Kondisi 1999 Otonomi Daerah (Keunggulan kompetitif) Kondisi 2020 Gambar 1. Usaha kecil-menengah yang tumbuh subur di masing-masing wilayah kecuali wilayah Maluku dan Irja hendaknya memanfaatkan peluang dan momentum dalam era otonomi daerah. Otonomi diberikan kepada wilayah kabupaten dan kota. baik pada pasar domestik maupun pasar internasional dengan paradigma think locally but action globally. Ke depan kelompok UKM yang merupakan sektor ekonomi andalan hendaknya memperhatikan antara 11 . sedangkan pemerintah propinsi adalah wakil pemerintah pusat yang tugasnya melakukan pengawasan pelaksanaan otonomi daerah tersebut. ada enam elemen utama yang menjadi dasar pemerintah daerah yaitu: (1) urusan otonomi yang merupakan dasar kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Dalam era otonomi daerah.

(5) menjadi motor penggerak roda pembangunan ekonomi nasional.61% mengatakan akan lebih baik. dan hanya 8. (4) terdesentralisasi dan menyebar lebih merata pada masing-masing wilayah. (2) berkerakyatan. Berdasarkan profile UKM selama tahun 1998-1999 berbagai prospek dan peluang yang tidaklah sulit untuk dimanfaatkan. Kondisi ini merupakan indikasi bahwa ke depan UKM akan makin berkembang sesuai dengan kondisi dan keunggulan masing-masing daerah. UKM yang begitu solid dan tangguh dalam menghadapi tekanan krisis ekonomi selama tiga tahun terakhir telah mampu menunjukkan dirinya untuk dapat dihandalkan sebagai soko-guru perekonomian nasional. Pengembangan UKM yang progresif dimungkainkan karena berbagai faktor yaitu: (1) sebagaian besar UKM mengandalkan bahan baku lokal untuk mengembangkan usahanya. prospek usaha dari UKM yang tidak berbadan hukum dalam tiga bulan kedepan pada tahun 1999 cukup prospektif.20% dari seluruh UKM yang mengatakan bahwa kondisi mereka akan lebih buruk. dan (5) fluktuasi nilai tukar dollar Amerika terhadap rupiah tidak mempengaruhi proses produksi karena berbahan baku lokal. Kemampuan menyerap tenagakerja yang begitu besar juga merupakan sisi lain dari UKM untuk dapat berkiprah lebih besar dalam proses pemulihan ekonomi nasional. (2) tidak memerlukan sumberdaya manusia yang terlatih dan terspesialisasi tinggi.lain: (1) memiliki daya saing tinggi. pengembangan UKM akan mampu mendorong laju pemerataan pendapatan yang lebih adil. Dengan demikian fondasi ekonomi Indonesia akan bertumpu pada usaha kecilmenengah tersebut. 24. Berbicara tentang distribusi pendapatan. (4) sebagian besar produk maupun jasa yang dihasilkan tidak memerlukan hi-tech. bahkan merupakan blessing indisguise terutama UKM yang berorientasi ekspor. Sekitar 67. (3) dihela oleh ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan efisiensi. Pengalaman selama 30 tahun lebih dengan mendorong perkembangan industri dan usaha skala besar tanpa memberikan prioritas yang berarti kepada perkembangan UKM telah terbukti gagal membangun perekonomian Indonesia yang tangguh dari ancamam crisis ekonomi global. Dengan demikian perekonomian Indonesia akan sangat tergantung pada kinerja pembangunan ekonomi di tingkat wilayah.19% mengatakan bahwa kondisi mereka sama saja dengan tiga bulan sebelumnya. (3) pengembangan teknologi yang bersifat spesifik lokasi akan membantu meningkatkan efisiensi dan daya saing. Oleh karena itu. 12 . pemerintah pusat maupun daerah sudah waktunya untuk berpaling kepada jenis usaha kecilmenengah ini. Hasil SUSI 1999 menunjukkan bahwa.

Ke depan. 2. dan (5) penciptaan teknologi tepat guna secara partisipatif dengan melibatkan mereka sejak perencanaan. jenis usaha yang tidak berbadan hukum ini akan menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi nasional maupun daerah. uji-coba dan evaluasi hasil. desain. Sektor ini juga relatif lentur menghadapi dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan yang belum pulih. Implikasi Kebijakan 1. Membentuk bank khusus yang melayani kebutuhan modal UKM atau mereka distimulir untuk membentuk Bank sendiri. (2) menyederhanakan prosedur pengajuan modal usaha ke Bank. (3) melakukan pembinaan dalam upaya konsolidasi manajemen usaha agar lebih kompetitif. Usaha skala besar boleh merasakan pahit-getirnya krisis ekonomi sebagai akibat dari perlakuan pemerintah yang protektif kepada mereka tetapi tidak bagi UKM. Pengembangan UKM memiliki keunggulan karena pengembangan usahanya berbasis pada sumberdaya lokal dan sangat sedikit tergantung pada bahan baku impor. Pengembangan low external input sustainable small-medium entrepreneur (LEISSE) hendaknya mendapat prioritas yang besar dari pemerintah pusat dan daerah. Jenis usaha ini juga dapat menampung cukup banyak tenagakerja dan menjadi sumber pendapatan pemerintah daerah yang cukup besar. 2. 3.KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Kesimpulan 1. (4) capacity building melalui pelatihan dan magang. 13 . Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai terobosan antara lain: (1) membuka akses langsung dan luas bagi mereka ke sumber modal khususnya Perbankan. UKM merupakan sektor ekonomi yang telah terbukti cukup tangguh dan telah menjadi penyangga terakhir dalam menyelamatkan perekonomian Indonesia dari kebangkrutan. Pengalaman Banglades dapat dijadikan referensi bagaimana mereka membentuk Gamin Bank untuk melayani usaha kecil-menengah.

Sahil. M. Some Participatory Aspects of Programmes to Involve the Poor in Development. I. Waddimba. 1998. Brahmantio. Profil Usaha kecil menengah tidak berbadan hukum. Cohen. California: System Research Institute. Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna. Uphoff. Mishra. BPS Jakarta. Salim. Anonimous. People’s Participation in Rural Development: An Overview of South and South East Asian Experiences. United Nations Institute for Social Development. E. Rural Development Participation: Concepts and Measures for Project Design. Ithaca. Approaches to Participation in Rural Development. Materi Pelatihan Alih Teknologi di Daerah Pedesaan. Implikasi penyerahan BPTP kepada pemerintah daerah. H. Laporan Monev Tim Asistensi Badan Litbang Pertanian 1999-2000. Fizzanty. Strategi pemilihan teknologi untuk pengembangan UKM (bahan diskusi). 1981. 2001. A. Los Angeles. Survei Usaha Terintegrasi. Suwandi. Published on Behalf of the ACC Task Force on Rural Development. 1984. K. 2001. Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri. P and D.S. 1999. New York.E. LIPI. Cornell University. Indonesia. Dictionary of Administration and Management. N. M. 1979. Center for International Studies. Indonesia. Anonimous. 1977. Bechstedt. Sharma.. ITB. and N. 1997. M. Geneva. 2. J. 1984. Survei Usaha Terintegrasi. H. Monitoring dan Evaluasi Penelitian. Omar. CIRDAP. T. Bangladesh. Pengkajian dan Diseminasi di BPTP. Training Manual on Participatory Rural Appraisal.DAFTAR PUSTAKA Anonimous 2000. Banki. and L. 1984. Oakley. Jakarta. Sharma and N.R dan T. Marsden. Implementation and Evaluation. Comilla. New Delhi. 14 . J. Makalah disampaikan pada Raker Badan Litbang Pertanian 28-29 Nopember 2001. GTZ. NBO Publisher’s Distributor..D. Rural Development Monograph No. Participation and Development. Kuswono. Mustika. Center on Integrated Rural Development for Asia and the Pacific. BPS Jakarta. T. Profil Usaha kecil menengah tidak berbadan hukum. S. Teknologi pada usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia: Kondisi saat ini dan kebutuhan mendatang. 1999. Rural Development Committee.

ecer.57 109032 35410 -67.71 1494542 1396647 -6.75 7311 14900 103.77 912370 933509 2.40 290 559 92.27 121 213 76.89 4786 4005 -16. persewaan Total SUMATERA 1998 1999 13085 6540 -50.07 PERUBAHAN (%) JAWA DAB BALI 1998 1999 PERUBAHAN (%) NUSA TENGGARA 1998 1999 PERUBAHAN (%) KALIMANTAN 1998 1999 PERUBAHAN (%) SULAWESI 1998 1999 PERUBAHAN (%) MALUKU DAN IRJA 1998 1999 PERUBAHAN (%) TOTAL 1998 1999 (%) 142898 130723 -8.61 241397 232026 -3.49 9585713 10146345 5.90 414367 424154 2. Rakyat & penggalian Indust.47 700646 741054 5.77 2765 810 -70.94 467 377 -19.03 79 27 -65.54 9481 8823 -6.55 5830039 6030215 3.46 9051 3873 -57.32 165591 51217 -69.85 152270 169004 10.akomodasi Lembaga keuangan Real estat. kecil & kerajinan RT Listrik non-PLN Konstruksi Perdagangan Angkutan & bsr. WILAYAH Pertam.85 458629 465384 1.39 93870 79186 -15.02 91343 78781 -13.Tabel 1. RM komunikasi & js.34 14872 15879 6.33 2622 1427 -45.02 172945 177214 2.43 228804 208444 -8.52 1163078 1257563 8.03 80995 81667 0.26 12739 4041 -68.49 135 0 -100. 15 .82 33 13 -60.83 96552 98930 2.80 334 509 52.36 557365 571699 2.41 3334 893 -73.76 922 1074 16.83 5810 8216 41.58 635 856 34.12 35396 40717 15.92 Sumber BPS 1998-1999 (diolah).54 24566 22574 -8.64 8634149 8666569 0.94 14483 16126 11.47 4938 4425 -10.52 216477 213183 -1.22 63825 60470 -5.00 29512 24245 -17.88 1006248 1031842 2.52 2196899 2514816 14. Banyaknya usaha tidak berbadan hukum menurut wilayah dan lapangan usaha 1998-1999.38 1601549 1695933 5.80 22015 21393 -2.15 3184 3214 0.62 1468429 1730571 17.22 286516 308339 7.47 19502 6177 -68.32 1419913 14108002 1424384 14520077 0.28 2285053 2182568 -4.99 97237 123511 27.85 22757 13303 -41.11 71138 73431 3.21 902 161 -82.31 2.

11 3 737283 777583 5.00 9492 7537 -20.59 1193 1162 -2.13 WILAYAH Pertambangan Industri Kecil Rakyat & & Kerajinan Penggalian Rumah Tangga 2 1998 1999 28995 12302 -57.42 12319 13875 12.43 113725 124769 9.56 26070721 26715858 2.62 407169 406481 -0.02 15656664 15523324 -0.77 2950032 2720307 -7.17 1436 1836 27.86 984 0 -100.60 302 1075 255.69 62434 54107 -13.32 1697103 1752840 3.06 47518 17967 -62. 16 .85 103602 103598 0.97 811872 865338 6.70 Real Estat.16 12540 32567 159.47 PERUBAHAN (%) JAWA DAN BALI 1998 1999 PERUBAHAN (%) NUSA TENGGARA: 1998 1999 PERUBAHAN (%) KALIMANTAN: 1998 1999 PERUBAHAN (%) SULAWESI: 1998 1999 PERUBAHAN (%) MALUKU DAN IRJA 1998 1999 PERUBAHAN (%) TOTAL 1998 1999 PERUBAHAN (%) Sumber BPS 1998-1999 (diolah).63 6450 1766 -72. Banyaknya Pekerja Pada Usaha yang Tidak Berbadan Hukum Menurut Wilayah dan Lapangan Usaha 1998-1999.35 869143 849930 -2.97 11657 10656 -8.34 11605 1756 -84.70 74469 70432 -5.51 1406692 1525284 8.20 22344 7719 -65.& Angkutan RM Serta Jasa dan Komunikasi Akomodasi 6 108491 76011 -29.06 45651 40888 -10.78 224713 74120 -67.00 33 26 -21.43 63430 59721 -5.62 279585 262490 -6.28 207390 288377 39.79 451 1241 175.37 318312 322396 1.27 17306406 18231803 5. Perdagangan Besar.Eceran. dan Jasa-jasa 9 3355 672 -79.47 3608903 4307789 19.17 1741905 1742941 0.78 389365 362215 -6.96 232 58 -75.00 133976 134729 0.21 1356565 1496588 10.59 991039 1028463 3.15 38087 29920 -21.19 5302198 6116269 15.45 2443669 2440413 -0.57 1995418 2109176 5.79 10289643 10472881 1.44 44754 41758 -6.Tabel 2.60 Konstruksi 5 Lembaga Keuangan 8 TOTAL 1 SUMATERA: 10 4512467 4274659 -5.87 366923 243000 -33.71 112875 117615 4. Usaha Persewaan.35 Listrik Non PLN 4 4814 2143 -55.05 382792 402157 5.85 7 272328 279160 2.28 329037 110038 -66.94 101552 39448 -61.56 15390 6684 -56.21 16772 13649 -18.48 1242 1256 1.57 144812 131548 -9.13 565 1061 87.

17 465348 3.00 14520041 100.15 TOTAL 13975255 100.48 Usaha Jumlah 6 2182568 % 7 15.02 SULAWESI 912370 6.32 1. 1998 WILAYAH Usaha Jumlah 1 SUMATERA 2 2285053 % 3 16.00 3.00 Perkembangan 1998-1999 (%) Usaha 10 -4.86 1.41 -9.81 1.10 1496588 5.96 JAWA DAN BALI 9585713 68.49 Pekerja 11 -5.03 1999 Pekerja Jumlah 8 4274659 % 9 16.85 5.17 2.26 741054 5.25 3.53 1697103 6.43 1752840 6.10 818598 3.20 849930 3.01 1356565 5.40 122705 0.00 26813844 100.35 1.83 KALIMANTAN 700646 5.85 1.04 10146345 69.60 17306406 67.28 1.48 51217 0.35 Pekerja Jumlah 4 4512467 % 5 17.84 Sumber BPS 1998-1999 (diolah).94 2.80 NUSA TENGGARA 433898 3.47 -10.83 1. 17 . Banyaknya usaha tidak berbadan hukum dan pekerja menurut wilayah serta perkembangannya tahun 1998-1999.57 933509 6.35 110038 0.49 1.90 3.77 10.32 2.88 18231803 68.18 7.88 MALUKU & IRIJA 56575 0.56 2.89 1.27 Rasio Pekerja per Usaha 1998 12 1.60 5.32 3.Tabel 3.24 5.97 1999 13 1.00 26715858 100.

Pertambangan Rakyat & Penggalian 2 1998 1999 PERUBAHAN (%) JAWA DAN BALI 1998 1999 PERUBAHAN (%) N.905 -44.543 -5.573 34.845.766.246.310 4.96 Listrik Non PLN Perdagangan Besar.957.24 915.505 3.12 5 14.239 146.077 3.121 9.700 14.678.061.006.286 0.739.07 678.92 1.50 1.363 20.022 11.25 1.345.407 -77.656.833.454 68.420 170.26 Industri Kecil & Kerajinan Rumah Tangga 3 7.845.953.22 2.000 -47.872.642.896 35.572 66.420.249.126.697.520 11.171.348 -50.124.169.201.839 406.154 57.812.252 -59.336.34 1.055 497.43 4.151.65 14.42 21.186 12.101 566.59 1.039.980 78.247 17.158.324 1.15 384.963.54 337.636.491.911 36.035.608.495.089.03 119.132.59 332.330 16.95 3.994.723.760 0 -100.101. dan Jasa-Jasa 9 WILAYAH Konstruksi TOTAL 1 SUMATERA 4 88.205.62 11.434 -48.130.36 27.959 20.051.199 78.172 51.99 83.227.95 3.532 4.478.549 3 13.846.033.944 8.101 526.27 19.294 124.346 856.126.779 1.084.329.918.204 30.55 1.993.745 -36.327.Eceran.230.699 3.882.138 5.086.518 14.283 79.003 -2.568.958.586.22 1.662.02 8 6.033.251 29.972.045.165.637.493.955.098.287.787.638 31.044.739 95.558 1.846 3.705.600 1.183.488.503 184.98 495.352 22.594 -7.84 12.882 26.981.248 7.33 18 .185 1.023.61 18.994 458.038.217.861 2.217.059.313.353 2.974 102.038.283.367.466 1.361 -32.038.210.759.272.80 14.865.582.89 6.240.219.813.777.038.02 71.265 82.212.090.768 112.403 -87.615.191 311. Besarnya Omset pada Usaha yang Tidak Berbadan Hukum Menurut Wilayah dan Lapangan Usaha ( 000 Rp ) 1998-1999.380.107. TENGGARA 1998 1999 PERUBAHAN (%) KALIMANTAN 1998 1999 PERUBAHAN (%) SULAWESI 1998 1999 PERUBAHAN (%) MALUKU & IRJA 1998 1999 PERUBAHAN (%) TOTAL 1998 1999 PERUBAHAN (%) 107.244.837 30.120 2.354.78 53.19 14.776.77 152.126 -59.381.31 11.00 112.003.775.71 5 337.180.183.445.668.202.730.510 212.47 137.199.738.537.940 7.322.393.54 4.436 4.603 942.342.15 9.28 15.828 19.935 427.65 18. & RM Serta Jasa Akomodasi 6 Angkutan dan Komunikasi 7 Lembaga Keuangan Real Estat.120 2.430.028.425.368.660.637.754.888.76 64.826.901.206 15.929.155.711.027.Tabel 4.403 -0.981.159.632.22 17.647 185.489.790.989 -5.297 7 17.88 47.078 36.422.76 602. Usaha Persewaan.16 16.48 1.409 10.271 43.75 105.796.658 3.161.088.587 5.846.955.91 153.093 -0.18 1.038.663 57.031.076.955.508.648 229.120.866.472 -32.867.83 4.700 14.065.327 105.129.276 11.208 -51.13 888.134 245.47 191.026 1.47 10.436.189.086 1.386.443 -55.397.805.226.744.951.653 11.000 52.81 5.59 2.820 329.143.372.642 392.599 9 21.711.190 -43.24 410.505 25.708.726 2.875.184.653 44.669.912.137 3.158.73 2.32 46.56 10 20.433.08 15.080 -37.423.88 99.992.097.853.779.485.593 -23.360 1.693.380 2.908 -12.960 153.339.46 779.647.294.110.040.251 10.

120.279.670.187 1.979.53 4.326 -42. WILAYAH Banyaknya Usaha 2 1998 1999 PERUBAHAN (%) JAWA DAN BALI 1998 1999 PERUBAHAN (%) NUSA TENGGARA 1998 1999 PERUBAHAN (%) KALIMANTAN 1998 1999 PERUBAHAN (%) SULAWESI 1998 1999 PERUBAHAN (%) MALUKU & IRJA 1998 1999 PERUBAHAN (%) Jumlah 1998 1999 PERUBAHAN (%) 2.467 4.491.603 942.261.786 650.42 912.913 29.217 -67.553 239.074 26.930 -2.566 15.95 11.65 1.461.585.71 1 SUMATERA Sumber BPS 1998-1999 (diolah).375.659 -5.122.253.708.608 58.632.311 40.34 3.858 2.51 47.670 -20.699 35.107.588 10.19 3.803 5.33 Biaya Antara (Ribuan Rupiah) 7 13.053 2.925.713 10.217.512.861 14.721 26.706 22.594 17.285.348 1.084.271 146.614 21.668 1.53 664.079 2.616 11.040.370 933.494 5.436 10.27 17.249 115.668.637.070.371.063.63 57.64 5.509 2.63 Upah dan Gaji (Ribuan Rupiah) 8 1.146.619.47 700.903 -59.231.584 932.623 14.907.650 773.414.383 10.321 3.572 212.955.107 5.96 146.697.882 7.792 4. 19 .356.508.039 5.386.103 1.501.61 1.16 321.15 124.121 9.55 185.568 -4.115 303.191.251 26.07 13.929.519 2.623 14.199.525.520.83 4.754.715.481 -10.35 869.99 TenagaKerja (orang) Dibayar 3 862.229.038.154 -89.801.306.424 304.21 1.471 94.733 16.91 249.413 66.406 18.158.402.037 11.49 9.840 3.189.496.247 3.381.817 3.099.435 329.57 1.649.34 749.038 -96.945.423.508.381 9.783 3.590 91.85 458.536 4.87 205.497. Banyaknya Usaha.32 1.29 14.962.113 3.808.565 1.643.872.770.301.178 -4.34 Tidak Dibayar 4 3.46 281.485.394 -67.847.375.32 156.488.17 102. Nilai Produksi Bruto.779 2.644 -66.489.513.409 15.387 14.076.782.026 14.274.470.752.472 2.372.591 51.15 9.855.248 14.951.65 26.44 80. Pekerja.143 849.249.613.617.245.84 7.164.230.706.629 465.309 5.742.845.894 734.28 329.582.992 8.422.842.710. Biaya Antara dan Upah Gaji Menurut wilayah 1998-1999.469.312.141 1.219.646 74.697.107.002 14.260 1.Tabel 5.287.51 Jumlah 5 4.839 30.125.204 12.29 585.041 2.81 11.182.443 -55.19 722.59 2.390 13.520.47 Nilai Produksi Bruto (Ribuan Rupiah) 6 34.345 5.429.555.38 20.021.

13 -100.78 12.91 17.07 -3.83 335125 437106 30.55 12 0 -100.00 60 0 -100.31 645892 684466 5. Banyaknya Usaha Tidak Berbadan Hukum Menurut Wilayah dan Besar Penerimaan/Pendapatan 1998-1999.80 38.78 9804 3335 441 51 8414 1802 1328 0 -14.00 2609 5887 125.80 13273447 13551681 2. WILAYAH 1 SUMATERA Penerimaan /Pendapatan ( Juta Rupiah ) 25-49 50-99 100-199 200-299 5 6 7 8 37974 13197 4727 684 37630 15482 3791 950 -0.90 70.88 9066724 9485507 4.79 29288 33894 15.49 -56.37 20.47 700646 74154 -89.24 4 122336 121321 -0.00 964 656 0 0 386 44 0 0 -59.99 1998 1999 PERUBAHAN (%) JAWA DAN BALI 1998 1999 PERUBAHAN (%) NUSA TENGGARA 1998 1999 PERUBAHAN (%) KALIMANTAN 1998 1999 PERUBAHAN (%) SULAWESI 1998 1999 PERUBAHAN (%) MALUKU & IRJA 1998 1999 PERUBAHAN (%) Jumlah 1998 1999 PERUBAHAN (%) <9 3 2105302 2002485 -4.61 183.00 0 372 597 0 -100.96 -93.73 5539 2687 -51.86 9373 3379 926 74 8476 3709 1978 210 -9.66 Jumlah 11 2285053 2182568 -4.12 1664 5051 203.57 9.29 14099002 14520041 2.62 437303 443052 1.10 10 .21 149372 48100 -67.49 9585713 10146345 5.89 113947 50948 13018 2649 137156 61361 14652 5050 20.83 300-499 9 276 464 68.97 201.97 868854 888071 2.64 2319 2593 56 414 4603 1125 275 398 98.79 0 0 0 108 0 0 0 0 2195 1015 -53.11 1638 462 -71.29 174381 74108 19168 3872 196665 83523 22024 6608 12.64 500 + 10 557 445 -20.23 41002 41735 1.49 549222 652638 18.55 90.43 15932 15895 -0.44 12.61 391.42 912370 933509 2.31 -19.32 156591 51217 -67.76 Sumber BPS 1998-1999 (diolah).Tabel 6. 20 .70 14.77 113.18 -45.85 458629 465348 1.

32 156591 51217 -67.20 136736 46183 -66.49 97313 130359 33. Sumber Kepemilikan Modal Propinsi Milik Sendiri 2 1998 1999 JAWA DAN BALI 1998 1999 NUSA TENGGARA 1998 1999 KALIMANTAN 1998 1999 1998 1999 1998 1999 1998 1999 Sumber BPS 1998-1999 (diolah).94 7951576 8170081 2.Tabel 7 .35 Lainnya 5 32321 26992 -16.05 98821 104188 5.47 700646 741054 5.29 14099002 14520041 2.43 13156 2927 -77.54 72882 86766 19.45 661924 703925 6.27 19669 26906 36.77 912370 933509 2.99 SULAWESI MALUKU DAN IRJA TOTAL 21 . 1970517 1873247 -4.82 TOTAL 1 SUMATERA 6 2285053 2182568 -4.19 2342 558 -76.17 156956 172373 9.88 Seluruhnya dari Pihak Lain 4 84608 84595 -0. Banyaknya Usaha Tidak Berbadan Hukum Menurut Wilayah dan Sumber Kepemilikan Modal 1998-1999.03 68636 60715 -11.71 Sebagian dari Pihak Lain 3 197607 197734 0.75 1480154 1759582 18.02 507772 538653 6.42 15273 8371 -45.75 373090 386356 3.06 1029052 1307252 27.08 13706 14565 6.96 3198 3712 16.79 31813 37657 18.49 9585713 10146345 5.22 11799968 11884161 0.07 6509 2381 -63.85 458629 465348 1.37 4357 1549 -64.56 601586 625001 3.89 766463 783293 2.

13 5.752 43.73 70.629 465.329 0.472 59.00 12.83 593.288 390.691 16.239 -5.70 10 109.099.054 5.380 11.922 8.62 8.26 Lembaga Keuangan Bukan Bank 7 7.851 3.70 43.244 319.396 -76.282 30.52 85.655 29.279 467.840 259.558 4.736 791.837 35.12 Wilayah Banyaknya Usaha 1 SUMATERA PERUBAHAN JAWA DAN BALI PERUBAHAN NUSA TENGGARA PERUBAHAN KALIMANTAN PERUBAHAN SULAWESI 1998 1999 (%) 1998 1999 (%) 1998 1999 (%) 1998 1999 (%) 1998 1999 MALUKU & IRJA PERUBAHAN TOTAL PERUBAHAN 1998 1999 (%) 1998 1999 (%) 2 2.819 581 -68.568 -4.050 150.299 889.266 10.01 Sumber BPS 1998-1999 (diolah).146.06 29.956.54 480.845 61.805 37.818 1.561 73.732 18.32 156.136 31.56 5.078 2.142.496 5.182.259 646 -84.300.49 5.887 106.12 8.585.056.83 4 282.942 117.788 33.582 55.59 561.664 1.053 2.153 146.096 650.85 776.217 -67.720 -43.889 8.39 11.341 75.65 356.658 1.041 2.869 10.30 784 43 -94.594 -26.672 22.123 69.85 1.239 619.19 Keluarga/ Perorangan Famili 9 85.463.002.865 12.048.905 20.078 46.741 -66.47 700.845.17 781.713 10.686 -39.992 -24.08 34.624 21.646 741.128 5.534 0.285. Banyaknya usaha tidak berbadan hukum menurut wilayah dan asal pinjaman 1998-1999.608 127.378 25.51 628 0 -100.838 1.002 14.719 69.27 139.634 141. Tidak memanfaatkan Pinjaman Asal Modal Pinjaman Memanfaatkan Pinjaman Bank 5 55.370 933.141 -10.58 17.121 17.Tabel 8.474 37.49 9.93 26.536.262 3.060 716 -85.129 45.263 25.182 7.215 466.140 48.03 18.551 113.22 2.40 453.924 12.509 2.06 110.550 90.293 34.08 341.962 -26.440 4.161 45.485 32.03 1.095 627.230 34.12 20.72 25.068 3.824 1.591 51.440 3.58 92.09 8.45 38.050 22.513 4.845 8.382 3.11 82.77 912.123 48.021 -2. 22 .184 5.467 21.284 160.724 19.497 23.507 15.903 33.66 68.496 22.900.72 20.129 45.081 22.198 18.29 14.31 31.01 35.442 801.44 2.215 282.071 101.82 130.99 3 2.280 -8.221 102.476 -74.60 166 791 376.66 608.70 2.348 1.85 458.76 247 273 10.01 524.859 -10.568 -16.520.191 45.51 Modal Ventura 8 2.73 4.53 419 1.88 10.03 Koperasi 6 17.345 5.607 -39.88 Lainnya 11 59.050 657.13 376.727 23.44 6.32 5.559 -45.04 1.

98 28505 39163 37.72 408 0 -100.37 207 823 297.04 1536824 1845905 20.77 579707 742556 28.54 5695 5786 1.41 2174 1129 -48.80 234606 300210 27.94 7135 8722 22.39 31595 51270 62.58 18565 15041 -18.82 130634 141845 8.92 35430 29672 -16.60 82 152 85.12 86135 87627 1.01 Modal Ventura 5 2095 1497 -28.30 7533 13354 77.61 16158 18631 15.33 Lainnya 8 57316 69299 20. Banyaknya Usaha Tidak Berbadan Hukum yang Pernah Memanfaatkan Pinjaman Menurut Wilayah dan Asal Modal Pinjaman Utama 1998-1999.31 659 43 -93.58 17513 4476 -74.96 48086 53656 11.31 19570 22956 17. Asal Modal Pinjaman Utama Wilayah 1 SUMATERA PERUBAHAN JAWA DAN BALI PERUBAHAN NUSA TENGGARA PERUBAHAN KALIMANTAN PERUBAHAN SULAWESI PERUBAHAN MALUKU & IRJA PERUBAHAN TOTAL PERUBAHAN Bank 2 38026 44035 15.91 654151 383807 -41.92 3749 646 -82.25 4595 4184 -8.78 2321 5740 147.58 3244 3869 19.24 2245 581 -74.11 82341 75280 -8.86 478951 255872 -46.96 15054 15009 -0.07 326220 399282 22.58 92551 113672 22.91 446859 610460 36.25 3764 681 -81.01 1998 1999 (%) 1998 1999 (%) 1998 1999 (%) 1998 1999 (%) 1998 1999 (%) 1998 1999 (%) 1998 1999 (%) Sumber BPS 1998-1999 (diolah).58 262 332 26.27 4514 1396 -69.44 2142078 2463507 15.00 8749 8590 -1.59 5666 6190 9.27 28836 25545 -11.27 992 2329 134.40 Koperasi 3 12404 10836 -12.47 59787 71153 19.58 13581 16388 20.73 Lembaga Keuangan Bukan Bank 4 4486 5516 22.09 Jumlah 9 282215 282329 0.07 427329 770492 80.67 31150 30863 -0.30 Perorangan 7 91275 50331 -44.82 Keluarga/ Famili 6 75613 100815 33. 23 .30 25055 20564 -17.33 268537 562807 109.Tabel 9 .64 54090 57114 5.

Tidak Meminjam Tidak dari Tahu Bank Prosedur 3 751567 21366 -97 2341989 1378769 -41 165933 53014 -68 196730 91785 -53 266402 104349 -61 33415 2869 -91 3756036 1843852 -51 4 124719 36171 -71 393737 208972 -47 49666 13147 -74 47257 15198 -68 59846 28293 -53 7714 1424 -82 682575 303205 -56 Alasan Utama Tidak Meminjam dari Bank Prosedur Sulit 5 131150 29005 -78 258665 135409 -48 25090 7328 -71 19740 11803 -40 38990 20970 -46 6794 Tidak Ada Agunan 6 165322 61993 -63 604327 391911 -35 38428 16551 -57 37456 24250 -35 60345 19345 -68 4815 Suku Bunga Tinggi 7 155751 26005 -83 380133 123788 -67 19256 5008 -74 44921 14151 -68 46181 12919 -72 5500 Tidak Berminat 8 174625 57962 -67 705491 510361 -28 33493 10343 -69 47356 26112 -45 61040 22082 -64 8592 Proposal Ditolak 9 1930 8328 637 271 740 11906 - WILAYAH Meminjam dari Bank 2 63172 69263 10 311247 467136 50 18830 22266 18 15496 22 -100 33647 37 -100 5693 2 -100 448085 619655 38 1 SUMATERA 1998 1999 PERUBAHAN (%) JAWA DAN BALI 1998 1999 PERUBAHAN (%) NUSA TENGGARA 1998 1999 PERUBAHAN (%) KALIMANTAN 1998 1999 PERUBAHAN (%) SULAWESI 1998 1999 PERUBAHAN (%) MALUKU DAN IRJA 1998 1999 PERUBAHAN (%) Jumlah 1998 1999 PERUBAHAN (%) Sumber BPS 1998-1999 (diolah).Tabel 10. Banyaknya Usaha Tidak Berbadan Hukum menurut Wilayah dan Alasan Utama Tidak Meminjam dari Bank 1998-1999. 441 442 -94 -91 480429 910693 204956 514492 -57 -44 16 546 -100 -94 651742 1030597 181887 627406 -72 -39 24 .

250 4.78 Tidak Tahu 6 84.634 120.23 2.632.814.07 24.56 423.17 3.076.376 35.795.333 19.184 79.99 7 8 2.22 Jumlah Beroperasi Setelah Jun-97 TOTAL 9 2.314 -30.591 51.917 -1.981 19.808 -12.925 40.05 Belum Teratasi 4 562.387 7.926 6.303 612.217 -67.146.070 -60.053 2.053.529 969.87 4.499 -2.60 78.585.01 141.417 109.36 17.038.32 2.674 26.809 205.568 -4.954 -6.199 505.002 14.94 609.749 1.912 1. Dampak Krisis pada Perusahaan Yang Beroperasi Sebelum Juli 1997 WILAYAH 1 SUMATERA 1998 1999 PERUBAHAN (%) JAWA DAN BALI 1998 1999 PERUBAHAN (%) NUSA TENGGARA 1998 1999 PERUBAHAN (%) KALIMANTAN 1998 1999 PERUBAHAN (%) SULAWESI 1998 1999 PERUBAHAN (%) MALUKU DAN IRJA 1998 1999 PERUBAHAN (%) TOTAL 1998 1999 PERUBAHAN (%) Sumber BPS 1998-1999 (diolah).33 72.041 2.51 91.800 6.865 745.693.85 367.643 -3.77 912.370 933.282 -70.04 419.228 265.372 1.536 12.973.290 -1.285.21 33.767 16.060.268 104.348 1.312 25.079 -75.955.47 54.61 76.736 1.411 -28.02 641. Tidak Berpengaruh 2 347.757.634 -67.633 58.415.729 -31.41 22.28 Mengalami Penirgkatan 5 40.01 132.377 -92.51 101.828 87.373 404.00 25.777.960 2.571 -88.789 58.520.323.997 -12.263.892 5.91 26.762 44.99 Dapat Diatasi 3 1.Tabel 11.312 392.760 367.342 11.054 5.381 -0.538 -3.94 104. Banyaknya Usaha Tidak Berbadan Hukum Menurut Wilayah dan Dampak Krisis Ekonomi 1998-1999.498 302.35 8.466 1.857 620.487 2.736 27.422 41.557 65.65 87.29 14.762.229 -31.759 145.740 458.858 -64.512 160.62 6.681 208.099.29 -39.542 1.89 246.54 40.676.06 190.32 156.50 14.410 9.553 16.367 12.472.509 2.169 15.52 8.373 29.497 166.705 60.58 168.60 808.646 741.935 9.642 2.454 -1.47 700.453 20.30 104.28 69.041.256 39.793 7.750 8.85 458.420 -3.102 787.27 45.163 5.750 -2.407.092.345 5.430 1.100 39.122 -1.756 9.713 10.376 22.596 1.862 356.380.629 465.290 17.81 13.96 137.848 41.23 25 .38 2.842 -23.49 9.81 1.182.294 -84.08 465.633 -36.

448 1.435 165.497.254 117.303 38.101.388.701 1.091.930 10.088 62.822.105 Tidak dapat dibandingkan 5 38.455 54. Tiga bulan yang lalu Dibandingkan tiga bulan yang lalu WiILAYAH Lebih baik 2 Sama saja 3 Lebih buruk 4 311.506.551.119 511.498 10.414 Dibandingkan dua bulan yang lalu Lebih baik 6 Sama saja 7 Lebih buruk 8 260.193 1.153 37.865.260 1.799 2.738 204.312 83. Banyaknya Usaha Tidak Berbadan Hukum menurut Propinsi Dan Keadaan Usaha dibandingkan Satu.718 2.579 18.426 1.623 4.128 2.656.591 369 86.754 130.339 2.029 324.410 530.613 676.912 2.703 51.896 7.991 2. TENGGARA KALIMANTAN SULAWESI MALUKU& IRJA Jumlah 286.796 88.807 36.508 22.101 Dibandingkan satu bulan yang lalu Lebih baik 10 Sama saja 11 Lebih buruk 12 251.815 6.953.959.427.605. Dua.996 85.111 719.289 61.820 1.176.946 1.244 60.619.580 251 107.580.339 13.389 34.489 318.924 38.021 11.829 551.381 280.053.483 1.052.122.205 378.Tabel 12.9020 10.473 Sumber BPS 1998-1999 (diolah).311 339.668 1.563 103.546.268 7.599 10.568 10.915 691.921 Tidak dapat dibandingkan 13 149 149 1 SUMATERA JAWA DAN BALI NS.501 1.190.991 2.697 142. 26 .191 1.362.734 29.611 41.319.779 Tidak dapat dibandingkan 9 22.343 26.657 1.589 6.141 166.

76 34.686 2. Prospek Usaha pada 3 bulan yang akan datang Lebih buruk Sama saja Lebih balk Jumlah % Jumlah % Jumlah % 2 3 4 5 6 7 25.544 982 9.09 34.755.723 2.904 1.29 67. TenagaKerja 5-19 3 Listrik Non PLN 4 Konstruksi 5 Perdagangan Besar.82 66.528.455 306.514.569 1.005 1.33 63.041 % 9 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 27 .573.58 1.512 3.725 5.84 24.77 7. Eceran dan Rumah Makan serta Jasa Akomodasi 6 Angkutan dan Komunikasi 7 Lembaga Keuangan 8 Real Estat.200 21.277 538 16.753 22.35 22.49 7.52 9.030 24.61 TOTAL Jumlah 8 130.935 77.43 72.70 23.655.805 1.289.666.85 66.117 127.49 9.014 9.083 58.384 14.52 68.203 2.20 1.520.252 225.06 18. Lapangan Usaha 1 1 Pertambangan Rakyat Dan Penggalian 2 Industri Kecil & Kerajinan Rumah Tangga a.887 19.782 1.16 20.816 2.442 71 102.390 339. Banyaknya usaha tidak berbadan hukum menurut lapangan usaha dan prospek usaha pada 3 bulan yang akan datang 1999.997 65.425 79.332 162. TenagaKerja 1-4 b.94 67. Usaha Persewaan & Jasa-jasa TOTAL Sumber BPS 1998-1999 (diolah).19 621.Tabel 13.80 76.695.365 2.186 8.39 65.48 9.26 12.20 28.424.00 238.320 1.22 8.226.71 23.889 53.084 998 9.212 543.096 651.55 11.564 4.933 4.191.284 217.258.75 56.756.67 26.

995 24. Banyaknya usaha tidak berbadan hukum menurut propinsi dan prospek pada 3 bulan yang akan datang 1999.90 66.91 64.721 301.372 173.629 139.40 27.95 23.568 10.182.984 619.997 66.87 5.36 60.95 1.798 11.19 2.432 260.61 Jumlah Jumlah 8 2.92 31.755.345 465.146.573.681 15.030 25.Tabel 14. Wilayah 1 SUMATERA JAWA DAN BALI NUSA TENGGARA KALIMANTAN SULAWESI MALUKU DAN IRIAN JAYA Jumlah Prospek usaha pada 3 bulan yang akan datang Lebih Buruk Sama saja Lebih baik Jumlah % Jumlah % Jumlah % 2 3 4 5 6 7 260.638 53.71 8.809 68.022 49.954 517.961 19.041 % 9 100 100 100 100 100 100 100 Sumber BPS 1998-1999 (diolah).348 741.20 6.16 6.500 31.89 69.014 7.520.558.328 4.22 29.496.955 3.191.70 5.58 424.029 9.233 1.054 933.26 8.788. 28 .509 51.47 798.217 14.15 24.58 67.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful