Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Veteriner Maret 2010 Vol. 11 No.

1 : 46-51
ISSN : 1411 - 8327

Pertumbuhan Alometri Dimensi Panjang


dan Lingkar Tubuh Sapi Bali Jantan
(THE ALLOMETRIC GROWTH OF LONG AND CIRCULAR BODY DIMENSION
OF BALI CATTLE)

I Putu Sampurna1, I Ketut Suatha2


1)
Laboratorium Biostatistika
2)
Laboratorium Anatomi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Udayana Bukit- Jimbaran - Bali
Kampus Unud Bukit Jimbaran, Kuta, Badung, Bali 80361
Telp. 0361701808 e-mail Tegehkori@gmail. com

ABSTRACT

Research was conducted at Bukit Jimbaran, Badung Bali from September to October 2007 to investigate
the lenght and circular body dimension of Bali cattle. Ten young male bali cattle 0.5-1.5 year old were
measured for three times at 2 weeks interval. Collected data was analysed with regretion-corelation by
allometric growth lines Y = aXb. F test and coeficient-correlation was then used to chek the validity and
acurate models. Result showed that the lenght head, neck, body anterior and posterior had medium potential
growth. Circular neck anterior grew early with a high potential. The circular neck posterior growth potential
was medium, where as circular thorax and abdomen was law poitential growth.

Key word : allometric long and circular body dimension bali cattle.

pertumbuhan sehingga hewan jantan lebih besar


PENDAHULUAN dibandingkan dengan hewan betina.
Hammond (1932), Berg dan Butterfield
Pertumbuhan tubuh ternak mempunyai (1976) serta Bowker et al (1978) menyatakan dua
arti yang sangat penting dalam proses produksi. gelombang arah tumbuh-kembang pada ternak,
Kualitas produksi daging sapi bali tergantung yaitu: arah anterior-posterior yang dimulai dari
pada pertumbuhannya karena produksi yang cranium (tengkorak) di bagian depan tubuh
tinggi dapat dicapai dengan pertumbuhan yang menuju ke belakang ke arah pinggang (loin),
cepat. Pertumbuhan merupakan suatu proses dan arah centripetal dimulai dari daerah kaki
yang terjadi pada setiap mahluk hidup dan distalis ke arah proximal tubuh menuju bokong
dapat dimanifestasikan sebagai tambahan berat (pelvis) dan pinggang (loin) yang merupakan
organ atau jaringan tubuh seperti otot, tulang bagian tubuh yang paling akhir mencapai
dan lemak, urutan pertumbuhan jeringan tubuh pertumbuhan maksimal (late maturity). Lebih
dimulai dari jeringan saraf, kemudian tulang, lanjut Butterfield (1976) menyatakan bahwa
otot dan terakhir lemak (Lawrence, 1980). tumbuh-kembang otot bisa juga dari paha ke
Tillman (1991) menyatakan bahwa pertum- arah cranial. Menurut Beattie (1990) bagian
buhan mempunyai tahap tahap cepat dan tahap tubuh yang paling lambat tumbuh adalah
lambat. Tahap cepat terjadi sebelum dewasa bagian pinggang (loin) sedangkan yang paling
kelamin dan tahap lambat terjadi pada fase awal tumbuh adalah tungkai kaki dan kepala
awal dan saat dewasa tubuh telah tercapai (cranium). Haripin (2005) mendapatkan
Faktor yang mempengaruhi laju komponen daging. mempunyai kecepatan
pertumbuhan hewan antara lain spesies, jenis pertumbuhan yang relatif sama (konstan) (b=1),
kelamin, umur dan jumlah makanan yang trim lemak mempunyai pertumbuhan yang
dikonsumsi (Titus, 1955). Sedangkan Davies sangat cepat (b>1) dan tulang mempunyai
(1982) melaporkan bahwa pertumbuhan pertumbuhan relatif yang kecil (b<1). Pola
dipengaruhi oleh zat-zat makanan, genetik, jenis pertumbuhan diawali dari distal kaki mengarah
kelamin dan hormon. Kay dan Housseman ke badan (proksimal). Pada bagian tungkai kaki
(1975) menyatakan bahwa hormon androgen (shin) depan menuju ke pangkal lengan (blade),
pada hewan jantan dapat merangsang dada (brisket) dan pundak (chuck), sedangkan
46
Sampurna & Suatha Jurnal Veteriner

dari tungkai kaki belakang (shank) menuju tubuh, terutama dimensi panjang tubuh dan
abdomen (flank),pangkal paha (rump) terus lingkar tubuh, yaitu untuk menggambarkan
kearah pinggang (loin). Pada bagian dorsal pertumbuhan tulang dan daging sapi bali.
tubuh terlihat pola pertumbuhan diawali dari Dengan mengetahui pertumbuhan alometri
arah leher dan punggung (chuck) menuju dimensi panjang dan lingkar tubuh maka dapat
punggung (cuberoll) dan terhenti di pinggang diketahuai potensi pertumbuhan dimensi tubuh
(loin). Hal ini berindikasi jika bagian tubuh sapi bali
yang paling lambat bertumbuh adalah bagian
pinggang (loin) sedangyang paling awal
bertumbuh adalah tungkai kaki dan kepala METODE PENELITIAN
(cranium).
Soeparno (1992) menyatakan pertumbuhan Sampel yang digunakan sebagai materi
alometri didasarkan pada konsep bahwa selama penelitian adalah sapi bali yang dipelihara oleh
pertumbuhan dan perkembangan serta peternak yang ada di Bukit Jimbaran,
peningkatan berat tubuh, terjadi perubahan Kabupaten Badung. Jumlah sampel yang
komponen-komponen tubuh. Berdasarkan dipergunakan dalam penelitian sebanyak 10 ekor
pertumbuhan relatif ini, maka setiap kenaikan pedet yang semuanya berjenis kelamin jantan
berat tubuh mengandung suatu proporsi organ dengan kisaran umur 0,5 sampai 1,5 tahun
dan jaringan yang berbeda. Komponen- Alat yang digunakan di dalam penelitian
komponen tubuh secara kumulatif akan ini adalah jangka sorong yang berukuran
mengalami pertambahan berat mengikuti panjang 40 cm, tinggi 150 cm serta meteran
perkembangan badan selama proses kain dengan panjang 150 cm
pertumbuhan sampai mencapai dewasa tubuh Pengukuran dimensi panjang dan lingkar
Hal yang tidak kalah penting yang mesti tubuh sapi dilakukan setiap dua minggu sekali
dilakukan adalah melakukan pengamatan dengan tiga kali pengukuran sebagai ulangan
terhadap pertumbuhan dari bagian-bagian (Gambar 1)

PL
PK

PTB
PTD

Gambar 1. Metode Pengukuran Panjang dan Lingkar Tubuh Sapi Bali Jantan.

47
Jurnal Veteriner Maret 2010 Vol. 11 No. 1 : 46-51

Tabel 1. Pengukuran peubah dimensi panjang tubuh keseluruhan, jadi termasuk tumbuh lebih
dan lingkar tubuh. dini, potensi pertumbuhannya rendah.
b=1 dimensi bagian tubuh tersebut
Peubah Jarak antara/jarak berkembang bersama dengan dimensi tubuh
keseluruhan, termasuk tumbuh sedang atau
Panjang Kepala Planum nasale-
Interkornuale
potensi pertumbuhan sedang.
Panjang Leher Interkornuale-Spina b>1 dimensi bagian tubuh tersebut
skapula berkembang lebih lambat dibandingkan dimensi
Panjang Tubuh Depan Sipa skapula - Tuber tubuh keseluruhan, jadi termasuk tumbuh
koksae belakangan atau potensi pertumbuhannya
Panjang Tubuh Belakang Tuber koksae - Tuber tinggi.
iskhii Pengujian kecepatan dan ketelitian model
Lingkar Leher Atas Mengitari leher di dilakukan dengan uji F dan uji koefisien korelasi
belakang kepala
(r). Bila persamaan garis regresinya nyata (p <
Lingkar Leher Bawah Mengitari leher di
depan skapulo humeri
0,05), nilai b diuji terhadap nilai 1,0 dengan
& gumba (b − 1)
Lingkar Dada Mengitari dada di rumus t = (Natasasmita, 1979).
belakang sendi sb
humero-radius ulna
dan di belakang HASIL DAN PEMBAHASAN
gumba
Lingkar Abdomen Mengitari perut di
Hasil analisis pertumbuhan alometri
depan tuber koksae
dan di depan
dimensi panajang sapi bali jantan dicantumkan
kaki belakang pada Tabel 1. Panjang kepala sapi Bali Jantan
Y = 0,255X0,962, dengan koefisien korelasi 0,899
dan nilai b tidak nyata (p>0,05) lebih kecil dari
Analisa Data 1. Panjang leher Y = 0,645 X 0,811, dengan koefisien
Data yang diperoleh dianalisis dengan korelasi 0,790 dan nilai b tidak nyata (p>0,05)
menggunakan persamaan Y = aXb (Huxley, lebih kecil dari 1. Panjang tubuh bagian depan
1932) atau dengan persamaan garis regresi Lny Y = 0,140X1,176, dengan koefisien korelasi 0,910,
= bLnx + Lna. Dalam hal ini : a adalah suatu dan nilai b tidak nyata (p>0,05) lebih besar
konstanta, b adalah koefisien pertumbuhan, X dari 1. Panjang tubuh bagian belakang
adalah ukuran keseluruh bagian tubuh, Y Y = 0,205X 0,999, dengan koefisien korelasi 0,932
adalah ukuran bagian-bagian tubuh. Nilai b dan nilai b d tidak nyata (p>0,05) lebih kecil
memberikan arti sebagai berikut: dari 1. Hal ini menunjukkan bahwa panjang
b<1 dimensi bagian tubuh tersebut kepala, panjang leher, panjang tubuh bagian
berkembang lebih dini dibandingkan dimensi p

Tabel 1 Analisis pertumbuhan alometri dimensi panjang dan lingkar tubuh sapi bali jantan.

Dimensi Panjang a B R t Hitung t Tabel


dan Lingkar
0.05 0,01

Panjang Kepala 0.255 0.962 0.899 0.432tn 2.048 2.763


Panjang Leher 0.645 0.811 0.790 1.588 tn 2.048 2.763
Panjang Tubuh Depan 0.140 1.176 0.910 1.743 tn 2.048 2.763
Panjang Tubuh Belakang 0.205 0.999 0.932 0.014 tn 2.048 2.763
Lingkar Leher Atas 0.026 1.273 0.893 2.256* 2.048 2.763
Lingkar Leher Bawah 0.096 1.142 0.923 1.578tn 2.048 2.763
Lingkar Dada 0.598 0.892 0.960 2.204* 2.048 2.763
Lingkar Abdomen 0.612 0.895 0.965 2.283* 2.048 2.763

Keterangan : tn : tidak nyata (P>0,05) lebih besar atau lebih kecil dari pada 1(satu)
* : Nilai b nyata (P<0,05) lebih besar atau lebih kecil dari 1.

48
Sampurna & Suatha Jurnal Veteriner

depan dan belakang termasuk tumbuh sedang menunjukkan bahwa lingkar dada dan lingkar
atau potensi pertum-buhannya sedang. abdomen termasuk tumbuh dini atau
Hasil analisis pertumbuhan alometri berkembang lebih dulu, jadi potensi
dimensi lingkar sapi bali jantan dapat dilihat pertumbuhannya rendah.
pada Tabel 1. Lingkar leher atas Y = 0,026X1,273, Gambar 2. menunjukkan bahwa, jika nilai
dengan koefisien korelasi 0,893 dan nilai b nyata b < 1 maka tampak garis regresinya semakain
(p<0,05) lebih besar dari 1. Hal ini menunjukkan cembung, berarti potensi pertumbuhanya
bahwa lingkar leher atas termasuk tumbuh semakin rendah yaitu pada panjang leher. Bila
atau berkembang lebih belakangan. Jadi lingkar nilai b semakin mendekati satu garis regresinya
leher atas potensi pertumbuhannya termasuk semakin lurus atau linear yaitu pada panjang
tinggi. Lingkar leher bawah Y = 0,096X1,142, de- kepala dan panjang tubuh bagian belakang.
ngan koefisien kolerasi 0,923 dan nilai b tidak Sedangkan bila nilai b > 1 maka garis regresinya
nyata (p>0,05) lebih kecil dari 1. Hal ini menun- semakin cekung dan berarti potensi
jukkan bahwa lingkar leher bawah termasuk pertumbuhannya semakin besar yaitu pada
tumbuh sedang atau potensi pertumbuhannya panjang tubuh bagian depan.
sedang. Perbedaan pertumbuhan dimensi lingkar
Lingkar Dada Y = 0,598X 0,892, dengan tubuh sapi bali jantan dapat dilihat dari
koefisien kolerasi 0,960 dan nilai b nyata (p<0,05) Gambar 3. Jika nilai b<1 maka garis regresinya
lebih kecil dari 1. dan lingkar abdomen Y= cembung berarti potensi pertumbuhannya
0,612X0,895, dengan koefisien kolerasi 0,965 dan rendah yaitu pada lingkar dada dan lingkar
nilai b nyata (p<0,05) lebih kecil dari 1. Hal ini abdomen. Bila nilai b mendekati 1 maka garis

Gambar 2. Grafik Pertumbuhan Alometri Dimensi Panjang Sapi Bali Jantan.

Gambar 3. Grafik Pertumbuhan Alometri Dimensi Lingkar Sapi Bali Jantan.

49
Jurnal Veteriner Maret 2010 Vol. 11 No. 1 : 46-51

Gambar 4. Hasil Penelitian Nilai b Dimensi Panjang dan Lingkar Tubuh Sapi Bali Jantan

regresinya lurus atau linier berarti potensi Tillman (1986) menyatakan bahwa
pertumbuhannya sedang yaitu pada lingkar kecepatan pertumbuhan tulang kepala dan kaki,
leher belakang. Sedangkan bila nilai b>1 maka panjang badan dan otot, bagian dalam badan
garis regresinya cekung yaitu pada lingkar leher dan lemak, terlepas dari pengaruh makanan,
bagian depan berarti potensi pertumbuhannya sehingga tulang dan kaki berkembang paling
tinggi. dini yang kemudian disusul oleh panjang badan
Potensi pertumbuhan dimensi panjang dan dan otot, sedangkan lemak tumbuh paling
lingkar tubuh sapi bali jantan tampak pada lambat. .Hal ini disebabkan pertumbuhan dan
Gambar 4. Panjang leher nilai b paling kecil, perkembangan tubuh dimulai dari bagian depan
kemudian disusul oleh panjang kepala, panjang (kepala) bergerak ke bagian belakang tubuh dan
tubuh bagian belakang dan panjang tubuh bagian tubuh yang lain mulai dari ujung kaki
bagian depan mempunyai nilai b paling besar. menyebar keatas. Kedua pertumbuhan ini
Lingkar dada nilai b paling kecil kemudian bertemu pada bagian tengah tubuh yang disebut
lingkar abdomen, lingkar leher belakang dan dengan pertumbuhan “ Antero-posterior dan
yang paling besar lingkar leher atas. centripetal”.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bagian tubuh yang berfungsi lebih awal
dimensi panjang leher lebih dini tumbuh atau lebih dini akan berkembang lebih dulu. Hal
dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya, ini sesuai dengan pendapat Anggorodi, (1979)
kemudian disusul oleh panjang kepala, panjang yang menyatakan semua bagian dari tubuh
tubuh bagian belakang dan panjang tubuh hewan tumbuh dengan cara teratur, namun
bagian depan. Sedangkan dimensi lingkar, yang tidak tumbuh dengan suatu kesatuan karena
paling dulu tumbuh adalah lingkar dada berbagai jaringan tumbuh dengan laju yang
kemudian lingkar abdomen, lingkar leher bagian berbeda dari lahir sampai dewasa. Misalnya otot
bawah dan yang terakhir tumbuh adalah jantung dan jaringan tubuh, berturut-turut
lingkar leher bagian atas. memperlihatkan kenaikan sebesar 45 sampai
Perbedaan perkembangan bagian-bagian 50 kali, 12 sampai 15 kali dan 20 sampai 22
tubuh sapi bali disebabkan oleh perbedaan fungsi kali dari lahir sampai dewasa.
dan perbedaan komponen yang menyusun
bagian-bagian tubuh tersebut. Bagian tubuh
yang berfungsi lebih awal atau lebih dini akan SIMPULAN
berkembang lebih dulu, demikian juga bagian
tubuh yang komponennya sebagian besar terdiri Pertumbuhan dimensi panjang sapi Bali
dari tulang. Secara kronologis kecepatan jantan di mulai dari panjang leher, panjang
pertumbuhan jaringan tubuh pada mulanya kepala, panjang tubuh bagian belakang dan
didominasi oleh perkembangan otak dan berakhir panjang tubuh bagian depan.
susunan saraf pusat. Disusul oleh tulang, otot, Sedangkan pertumbuhan dimensi lingkar
dan terakhir lemak (Palsson, 1955).
50
Sampurna & Suatha Jurnal Veteriner

dimuali dari lingkar dada kemudian diikuti Hammond J. 1932. Growth and Development
lingkar abdomen, lingkar leher belakang dan of Mutton Qualities in Sheep. Edinburgh.
lingkar leher depan tumbuh paling belakang Oliver and Boyd.
Pertumbuhan dimensi panjang sapi bali jantan Haripin HH. 2005. Kajian Pertumbuhan dan
termasuk tumbuh sedang atau potensi Distribusi Daging serta Estimasi Produk-
pertumbuhannya sedang. Lingkar dada dan tivitas Karkas Sapi Hasil Penggemukan.
lingkar abdomen termasuk tumbuh dini atau Disertasi. Bogor. Institut Pertanian Bogor.
potensi pertumbuhannya rendah, lingkar leher Hardjosubroto W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan
bagian belakang termasuk tumbuh sedang atau Ternak di Lapangan. Jakarta. Gramedia.
potensi pertumbuhannya sedang, lingkar leher Hukley JS. 1932. Problems of Relative Growth.
bagian depan termasuk tumbuh paling Fist Ed. London. Methuen.
belakang atau potensi pertumbuhannya tinggi. Kay M, R Housseman. 1975. The Influence of
Sex on Meat Production. In Meat. Edited
by Cook DJ, Lawrrie RA. London.
UCAPAN TERIMA KASIH Butterworth.
Lawrence TLJ. 1980. Growth in Animal, Studies
Penulis mengucapkan terima kasih kepada in the Agricultural and Food Science.
I Putu Hendra Jaya Agusdan I Nyoman Uri London. Butterworth.
Astawa atas bantuannya dalam melakukan Natasasmita A. 1979. Aspek pertumbuhan dan
penelitian. perkembangan dalam produksi ternak
daging. Ceramah Ilmiah. Bogor. Fakultas
DAFTAR PUSTAKA Peternakan IPB.
Ngadiyono N. 1997. Kinerja dan Prospek Sapi
Aberle DE, Forrest JC, Gerrard DE, Mills EW. Bali di Indonesia. Seminar Enviromental
2001. Principles of Meat Science. 4th Edition. Pollution and Natural Product and Bali in
San Francisco. W.H. Freeman and Regional Denpasar, Bali.
Company. Pane L. 1989. Pelaksanaan Perbaikan Mutu
Anggorodi R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Genetik sapi Bali. Denpasar, Bali
Umum. Jakarta. Gramedia. Palsson H. 1955. Comformation and Body. In
Berg RT, Butterfield RM. 1976. New Concepts Pregess in of Farm Animal. Edited by; J
of Cattle Growth. Sydney. Sydney Hammond Butterworths. Sci. Publ. Vol. 2.
University Press. Pamory RW. 1955. Live Weight Growth. In
Beattie WA. 1990. Beef Cattle Breeding and Progress in Physiology of Farm Animals.
Management. 4th ed. Maryborough, by: J. Hammond.
Victoria. National Library of Australia. Romans JR, Costello WJ, Carlson CW, Greaser
Black JL. 1983. Implication of Development in ML,Jones KW. 1994. The Meat We Eat.
Meat Science, Production and Marketing Illinois.
for Lamb Production Systems. National Soeparno. 1992. Ilmu dan Teknologi Daging.
Workshop, Orange, NSW. Fakultas Peternakan. Jogjakarta.
Blakely J, Bade DH. 1992. Ilmu Peternakan. Universitas Gajah Mada.
Edisi ke-empat. Terjemahan B. Srigandono. Swatland HJ. 1984. Structure and Development
Jogjakarta. UGM-Press. of Meat Animal. New York. Mac Millan
Bowker WAT, Dumday RG, Frisch JE, Swan Publ Company.
RA, Tulloh NM. 1978. A Course of Manual Tillman ADH, Hartadi S, Reksohadiprojo S,
Beef Cattle Management and Economic. Prawirokusumo S, Lebdosoekojo. 1991. Ilmu
Canberra. A. A. U. C. S. Makanan Ternak Dasar. Jogjakarta.
Davies HL. 1982. Principle on Growth of Animal. Fakultas Peternakan Universitas Gajah
In H. L. Davies, Nutrition on Growth Mada.
Manual. Canberra. AUIDP. Titus HW. 1955. The Scientific Feeding of
Edey TN. 1983. Lactation, Growth and Body Chickens 2nd Ed. Illionis. The Daville.
Composition. In; Edey T. N. ed. Tropical Williams I H. 1982. A Course Manual in
Sheep and Goat Production. Canberra. Nutrition and Growth. Melbourne.
AUIDP. Australian Vice-Choncellors-Committee.

51