Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG

Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya dan


merupakan sensor pada tubuh manusia yang bermanfaat untuk membedakan
siang dan malam, hujan dan tidak hujan dan sebagainya. Seringkali seiring
dengan perkembangan jaman, fungsi sensor ini khususnya pada manusia telah
banyak berubah. Dewasa ini banyak orang yang telah memanfaatkan mata
sebagai alat untuk membaca atau melihat. Dengan mata orang dapat menyerap
informasi yang ada dihadapannya, diatasnya, dibelakangnya, dan di tempat
lain. Mata yang lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan pengertian
visual.

“Aparatus Lakrimalis”. Aparatus Lakrimalis ini terdiri atas kelenjar


lakrimalis, kelenjar aksesori ( Kelenjar Wolfring dan Kelenjar Krause ),
pungtum lakrimalis, kanalikuli lakrimalis, kantong lakrimalis, dan ductus naso
lakrimalis. Kelainan pada aparatus lakrimalis bisa dikarenakan sistem
sekresinya dan ekskresinya. Pada sistem aparatus lakrimalis ini sangat berguna
pada mata karena aparatus juga menghasilkan air mata yang dimana berguna
untuk kesehatan mata.

I.2. TUJUAN

Pada pembahasan ini kita mengetahui bagaimana fungsi dan cara kerja
dari aparatus lakrimalis sehingga bisa berguna bagi mata dan penyakit yang
terjadi bila ada kelainan pada aparatus lakrimalis ini.

1
BAB II
ISI
II.1. ANATOMI

Aparatus lakrimalis terdiri dari 2 bagian : ( 1,2,3 )

1. Kelenjar lakrimalis yang berhubungan dengan pembentukan air mata


(sistem sekresi lakrimal)

2. Saluran air mata yang diteruskan ke dalam hidung (sistem ekskresi


lakrimal)

Bagian-bagian dari aparatus lakrimalis adalah: ( 2,4 )

1. Kelenjar lakrimalis terdapat pada fossa lakrimal, sisi medial


prosesus zigomatikum os frontal. Berbentuk oval, kurang lebih bentuk
dan besarnya menyerupai almond, dan terdiri dari dua bagian, disebut
kelenjar lakrimal superior (pars orbitalis) dan inferior (pars
palpebralis). Duktus kelenjar ini, berkisar 6-12, berjalan pendek
menyamping di bawah konjungtiva.

2. Kelenjar aksesori ( kelenjar wolfring dan kelenjar Krause )

3. Pungtum lakrimalis : ukuran punctum lakrimalis dengan diameter


0.3 mm terletak di sebelah medial bagian superior dan inferior dari
kelopak mata. Punctum relatif avaskular dari jaringan disekitarnya
selain itu warna pucat dari punctum ini sangat membantu jika
ditemukan adanya sumbatan. Punctum lalkrimalis biasanya tidak
terlihat kecuali jika kelopak bawah mata dibalik sedikit. Jarak superior
dan inferior punctum 0,5 mm, sedangkan jarak masing-masing ke
canthus medial kira-kira 6,5mm dan 6,0 mm. Air mata dari canthus
medial masuk ke punctum lalu masuk ke canalis lakrimalis.

4. Kanalikuli lakrimalis : Lacrimal ducts (lacrimal canals), berawal


pada orifisium yang sangat kecil, bernama puncta lacrimalia, pada
puncak papilla lacrimales, terlihat pada tepi ekstremitas lateral

2
lakrimalis. Duktus superior, yang lebih kecil dan lebih pendek,
awalnya berjalan naik, dan kemudian berbelok dengan sudut yang
tajam, dan berjalan ke arah medial dan ke bawah menuju lacrimal sac.
Duktus inferior awalnya berjalan turun, dan kemudian hamper
horizontal menuju lacrimal sac. Pada sudutnya, duktus mengalami
dilatasi dan disebut ampulla. Pada setiap lacrimal papilla serat otot
tersusun melingkar dan membentuk sejenis sfingter.

5. Saccus lakrimalis (kantong lakrimal) : ujung bagian atas yang


dilatasi dari duktus nasolakrimal, dan terletak dalam cekungan
(groove) dalam yang dibentuk oleh tulang lakrimal dan prosesus
frontalis maksila. Bentuk lacrimal sac oval dan ukuran panjangnya
sekitar 12-15 mm; bagian ujung atasnya membulat; bagian bawahnya
berlanjut menjadi duktus nasolakrimal.

6. Duktus naso lakrimalis : kanal membranosa, panjangnya sekitar 18


mm, yang memanjang dari bagian bawah lacrimal sac menuju meatus
inferior hidung, dimana saluran ini berakhir dengan suatu orifisium,
dengan katup yang tidak sempurna, plica lacrimalis (Hasneri),
dibentuk oleh lipatan membran mukosa. Duktus nasolakrimal terdapat
pada kanal osseous, yang terbentuk dari maksila, tulang lakrimal, dan
konka nasal inferior.

Kelenjar lakrimalis terdiri dari struktur-struktur berikut ini :

1. Bagian Orbita berbentuk kenari, terletak di dalam fossa glandulae


lakrimalis di segmen temporal atas anterior orbita yang dipisahkan dari
bagian palpebra oleh kornu lateralis muskulus levator palpebra. Untuk
mencapai bagian kelenjar ini dengan pembedahan, harus diiris kulit,
muskulus orbikularis okuli, dan septum orbita.

2. Bagian Palpebra yang lebih kecil terletak tepat di atas segmen temporal
forniks konjungtiva superior. Duktus sekretorius lakrimal, yang bermuara
pada sekitar 10 lubang kecil, yang mengubungkan bagian orbita dan
bagian palpebra kelenjar lakrimal dengan forniks konjungtiva superior.
Pengangkatan bagian palpebra kelenjar akan memutus semua saluran

3
penghubung dan mencegah seluruh kelenjar bersekresi.

Kelenjar Lakrimal aksesorius terletak di dalam substansia propria di


konjungtiva palpebra dan hanya dapat dilihat secara mikroskopik.

Persarafan Aparatus Lakrimalis ( 4 )

Kelenjar air mata dipersarafi oleh :

1. Nervus Lakrimalis (sensoris), suatu cabang dari devisi pertama


Trigeminus.

2. Nervus Petrosus superficialis magna (sekretoris ), yang datang dari


nukleus salivarius superior.

3. Saraf simpatis yang menyertai arteria dan nervus lakrimalis.

4
II.2. FISIOLOGI APARATUS LAKRIMAL
Sistem lakrimal terdiri atas dua jaringan utama yaitu sistem sekresi
(1,3,5)
lakrimal yaitu kelenjar lakrimalis dan sistem drainase . Kelenjar lakrimalis ini

terdiri atas dua lobus, yaitu bagian orbita terletak pada sisi temporal anterior rongga

orbita dan bagian palpebra, yang terletak di sisi temporal fornik konjungtiva superior.

Kelenjar lakrimalis sebagai komponen sekresi menghasilkan berbagai unsur


(1,3,5)
pembentuk cairan air mata . Kelenjar lakrimal normalnya menghasilkan sekitar

1,2 µl air mata per menit. Sebagian hilang melalui evaporasi. Sisanya dialirkan

melalui sistem nasolakrimal. Bila produksi air mata melebihi kapasitas sistem

drainase, air mata yang berlebih akan mengalir ke pipi (5,6)

5
Gambar 3. Struktur anatomi aparatus lakrimalis (Gerhard K.,2000)

Kelenjar ekskresi terdiri dari: punktum lakrimalis, kanalis lakrimalis, sakus

lakrimalis, duktus nasolakrimalis. Sistem ekskresi lakrimalis sebagai sistem drainase

lakrimal berawal melalui punktum lakrimalis yang terletak medial bagian atas dan

bawah kelopak mata, bagian bawah punktum terletak lebih lateral dibanding punktum

atas(3,5,6,7). Secara normal punkta agak inversi, setiap punktum dikelilingi oleh ampulla,

dengan setiap puncta mengarah ke kanalikuli. Kanalikuli merupakan struktur non

keratinasi, epitel squamous non mucin. Berjalan 2 mm vertikal dan berputar 90 o, dan

berjalan 8-10 mm medial berhubungan dengan sakus lakrimalis (5,6,7)

6
Pada umumnya kanalikuli ini berkombinasi membentuk kanalikuli tunggal

sebelum masuk ke bagian dinding lateral dari sakus lakrimalis. Valva Rosenmuller

dideskripsikan sebagai struktur yang mencegah refluks airmata dari sakus kembali ke

kanalikuli. Terdapat beberapa studi yang menyatakan bahwa kanalukuli membelok

dari posterior ke bagian anterior di belakang dari tendo kantus medial sebelum

memasuki sakus lakrimal. Belokan ini pada konjungtiva berperan untuk memblokir

refluks. Sakus lakrimalis terletak anterior medial orbital, berada dalam cekungan

tulang yang dibatasi oleh lakrimal anterior dan posterior, dimana tendokantus medial

melekat. Pada tendokantus medial merupakan struktur kompleks berkomposisi krura

anterior dan posterior. Dari medial ke lamina papyracea merupakan bagian tengah

dari meatus hidung, kadang juga terdapat sel ethmiod. Bagian kubah dari sakus

memanjang beberapa mm di atas tendo kantus medial. Padabagian superior, sakus ini

dilapisi dengan jaringan fibrosa. Ini menjelaskan mengapa pada kebanyakan kasus,

distensi sakus lakrimalis memanjang dari inferior ke tendo kantus medial. Pada

bagian lateral, sakus lakrimal ini bersambung pula dengan duktus nasolakrimalis.

Duktus nasolakrimalis berukuran 12 mm atau lebih panjang. Berjalan melalui tulang

7
dalam kanalis nasolakrimalis yang melengkung inferior dan sedikit laterposterior.

Duktus nasolakrimalis ini membuka ke dalam hidung melalui ostium, yang biasanya

sebagian dilapisi oleh lipatan mukosa (valva hasner). Kegagalan pembentukan ostium

ini pada kebanyakan kasus adalah disebabkan oleh obstruksi duktus nasolakrimalis
(3)
kongenital .

Volume terbesar air mata dihasilkan oleh kelenjar air mata utama yang

terletak di fossa lakrimalis di kuadran temporal atas orbita. Kelenjar yang

berbentuk kenari ini dibagi oleh kornu lateral aponeurosis levator menjadi lobus

orbita yang lebih besar dan lobus palpebra yang lebih kecil, masing-masing dengan

sistem saluran pembuangan tersendiri ke dalam forniks temporal superior.

Lobus palpebra kadang-kadang dapat dilihat dengan membalikkan palpebra

superior. Sekresi dari kelenjar lakrimal utama dipicu oleh emosi atau iritasi fisik

sehingga menyebabkan air mata mengalir berlimpah melewati tepian palpebra.

Persarafan kelenjar utama datang dari nukleus lakrimalis di pons melalui nervus

intermedius dan menempuh jalur rumit dari cabang maxillaris nervus trigeminus (5,7).

Kelenjar lakrimal tambahan, meskipun hanya sepersepuluh dari massa

utama mempunyai peran penting. Kelenjar Krause dan Wolfring identik dengan

kelenjar utama namun tidak memiliki sistem saluran. Kelenjar-kelenjar ini terletak di

dalam konjungtiva, terutama di fornix superior. Sel goblet uniseluler yang juga

tersebar di konjungtiva menghasilkan glikoprotein dalam bentuk musin.

Setiap berkedip, palpebra menutup menyebarkan air mata secara merata di

atas kornea dan menyalurkan kedalam sistem ekskresi pada aspek medial palpebra.

Dalam keadaan normal, air mata dihasilkan dengan kecepatan sesuai dengan jumlah

yang diuapkan dan itulah sebabnya hanya sedikit yang sampai ke sistem ekskresi. Bila

memenuhi sakus konjungtiva, air mata akan memasuki puncta sebagian karena

8
sedotan kapiler konjungtiva (5).

Gambar .2. Gerakan mengedip yang menyebarkan air mata (8)

Dengan menutup mata, bagian khusus orbikularis pra-tarsal yang mengelilingi

ampula mengencang untuk mencegah air mata keluar. Pada waktu yang sama,

palpebra ditarik ke arah krista lakrimalis posterior, dan traksi fascia mengelilingi

sakus lakrimalis, berakibat memendeknya kanalikulus dan menimbulkan tekanan

negative di dalam sakus. Kerja pompa dinamik ini menarik air mata ke dalam sakus

yang kemudian berjalan melalui duktus nasolakrimalis karena pengaruh gaya berat

dan elastisitas jaringan ke dalam meatus inferior hidung (5) .

Suplai darah sakus lakrimalis antara lain berasal dari cabang palpebra superior dan

inferior dari arteri oftalmika, arteri angularis, arteri infraorbitalis cabang dari arteri

sphenopalatina, kemudian mengalir ke vena angularis, vena infraorbitalis dan vena-

vena di hidung. Saluran getah bening masuk ke dalam glandula submandibular dan

glandula cervicalis. Persarafan berasal dari cabang nervus infratrochlearis dari nervus

nasociliaris dan antero-superior nervus alveolaris (1).

Air mata merupakan komposisi dari kelenjar sekresi lakrimalis mayor

9
dan minor, sel-sel goblet dan kelenjar meibom. Normal merupakan lapisan

tipis sekitar 7-10 μm yang melapisi permukaan kornea dan kongjungtiva. ( 4 )

Fungsi dari air mata :

1. Membuat kornea menjadi permukaan optik yang licin dengan

meniadakan ketidakteraturan minimal di permukaan epitel.

2. Membasahi dan melindungi permukaan epitel kornea dan

konjungitva yang lembut.

3. Menghambat pertumbuhan mikroorganisme dengan pembilasan

mekanik dan efek antimikroba.

4. Menyediakan kornea berbagai substansi nutrien yang diperlukan.

Volume air mata normal diperkirakan 7 ± 2 μL di setiap mata.

Air mata mengandung : ( 4 )

1. Gama globulin IgA, IgG, IgE.

2. Lysosim

3. Glukosa 2,5 mg / deciliter

4. Urea 0,04 mg / deciliter

5. K+, Na+, Cl-

6. pH : 7,35

7. Osmolaritas : 295-300 m osmol/l

III. KELAINAN PADA SEKRESI dan EKSKRESI PADA

10
APARATUS LAKRIMALIS ( 4 )

Kelainan pada kelenjar lakrimalis dan salurannya dapat berupa proses


infeksi , tumor , trauma maupun suatu kelainan kongenital . Keluhan yang
sering ditemui pada penderita dengan kelainan sistem lakrimal ialah mata
kering , lakrimasi dan epifora. Mata kering disebabkan oleh berkurangnya
produksi air mata. Keadaan ini dapat disebabkan oleh karena trakoma , trauma
kimia , erythema multiforme, yang menyumbat muara kelenjar lakrimal atau
bisa pula karena sindroma Sjogren. Lakrimasi ialah kelebihan produksi air
mata yang disebabkan oleh suatu rangsangan kelenjar lakrimal, biasanya
karena suatu proses infeksi. Epifora ialah keadaan dimana terjadi gangguan
sistem ekskresi air mata. Gangguan ini dapat disebabkan oleh kelainan posisi
pungtum lakrimal, jaringan sikatrik pada pungtum , paresis atau paralisis otot
orbikularis okuli yang menyebabkan berkurangnya efek penghisapan dari
kanalikuli lakrimal, benda asing dalam kanalikuli, obstruksi duktus
nasolakrimalis dan sakus lakrimal.

Untuk menentukan adanya gangguan pada sistem ekskresi air mata dilakukan :

1. Inspeksi pada posisi pungtum


2. Palpasi daerah sakus lakrimal , apakah mengeluarkan cairan yang bercampur
nanah
3. Irigasi melalui pungtum dan kanalikuli lakrimal, bila cairan mencapai rongga
hidung, maka sistem ekskresi berfungsi baik (uji Anel)
4. Probing yaitu memasukkan probe Bowman melalui jalur anatomik sistem
ekskresi lakrimal. Tindakan probing didahului oleh dilatasi pungtum dengan
dilatator.

III.1 KELAINAN PADA SISTEM SEKRESI LAKRIMAL(1,2,3)

11
III.1.1 DAKRIOADENITIS

Dakrioadenitis ialah suatu proses inflamasi pada kelenjar air


mata pars sekretorik. Dibagi menjadi dua yaitu dakrioadenitis akut
dan kronik, keduanya dapat disebabkan oleh suatu proses infeksi
ataupun dari penyakit sistemik lainnya.

Patofisiologinya masih belum jelas, namun beberapa ahli


mengemukakan bahwa proses infeksinya dapat terjadi melalui
penyebaran kuman yang berawal di konjungtiva yang menuju ke
ductus lakrimalis dan menuju ke kelenjar lakrimalis.

Beberapa penyebab utama dari proses infeksi terbagi menjadi 3 , yaitu :

1. Viral (penyebab utama)

▪ Mumps (penyebab tersering, terutama pada anak-anak)


▪ Epstein-Barr virus
▪ Herpes zoster
▪ Mononucleosis
▪ Cytomegalovirus
▪ Echoviruses
▪ Coxsackievirus A

2. Bacterial

▪ Staphylococcus aureus and Streptococcus


▪ Neisseria gonorrhoeae
▪ Treponema pallidum
▪ Chlamydia trachomatis
▪ Mycobacterium leprae
▪ Mycobacterium tuberculosis
▪ Borrelia burgdorferi

12
3. Fungal (jarang)

▪ Histoplasmosis
▪ Blastomycosis
▪ Parasite (rare)
▪ Schistosoma haematobium
▪ Protozoa (rare)

Pada penyakit sistemik yang memungkinkan terjadinya dakrioadenitis adalah :

1.Sarcoidosis

2.Graves disease

3.Sjögren syndrome3

4.Orbital inflammatory syndrome

5.Benign lymphoepithelial lesion

III.1.1.1 DAKRIOADENITIS AKUT

Pada dakrioadenitis akut sering ditemukan pembesaran kelenjar air


mata di dalam palpebra superior , hal ini dapat ditemukan apabila kelopak
mata atas dieversi , maka akan kelihatan tonjolan dari kelenjar air mata yang
mengalami proses inflamasi . Pada perabaan karena ini merupakan suatu
proses yang akut maka biasanya akan sangat nyeri dan dapat diikuti oleh
gejala klinis lainnya yaitu kemosis (pembengkakkan konjungtiva),
konjungtival injeksi , mukopurulen sekret, erythema dari kelopak mata,
lymphadenopati (submandibular), pembengkakkan dari 1/3 lateral atas
kelopak mata (S- shape ) , proptosis , pergerakan bola mata yang terbatas.

Diagnosis bandingnya :

13
1. Hordeolum internum  biasanya lebih kecil dan melingkar
2. Abses kelopak mata  terdapat fluktuasi
3. Selulitis orbita  biasanya berkaitan dengan penurunan pergerakan mat

III.1.1.2 DAKRIOADENITIS KRONIK


Pada kronis darkrioadenitis gejala klinisnya lebih baik daripada yang
akut. Umumnya tidak ditemukan nyeri , ada pembesaran kelenjar namun
mobil, tanda-tanda ocular minimal, ptosis bisa ditemukan, dapat ditemukan
sindroma mata kering .

Diagnosis bandingnya :

1. Periostitis dari kelopak mata atas  sangat jarang terjadi


2. Lipodermoid  tidak ada tanda-tanda inflamasi

Semuanya diterapi secara kausatif dan kompres mata dengan rivanol.

Keterangan gambar : Tampak eritema dan odema pada kedua mata

14
Keterangan gambar : Tampak kel. Lakrimalis yang odema pada eversi

III.2 KELAINAN PADA SISTEM EKSKRESI


LAKRIMAL(1,2,3)

III.2.1 DAKRIOSISTITIS

Suatu proses inflamasi pada kelenjar air mata pars ekskretorik.


Patofisiologinya kembali lagi pada anatomi bahwa pars ekskresi memiliki
mukous membran yang memang sudah ada koloni bakteri yaitu pada
konjungtiva, dan mukosa nasi . Kegunaan dari sistem ekskresi adalah
mengeluarkan air mata ke cavum nasi , seperti sistem drainase . Adanya
stagnansi dari air mata , dan tidak dapat dikeluarkan ke kavum nasi maka akan
ada gangguan dari sistem drainase air mata dan hal ini dapat menjadi media
kuman untuk memperbanyak diri dan terjadilah proses inflamasi disana.
Dakriosistitis sering muncul pada mata kiri daripada mata kanan,
dikarenakan sudut yang terbentuk antara fossa lakrimalis dan duktus naso
lakrimalis kiri lebih kecil daripada yang kanan.Dakriosistitis dibagi menjadi
tiga yaitu, akut , kronis dan kongenital.

15
III.2.1.1 DAKRIOSISTITIS AKUT

Pada dakriosistitis akut dapat ditemukan beberapa gelaja klinis antara


lain dapat ditemukan pada perabaan yaitu pembengkakan pada daerah kantus
medial hingga ke hidung , muka , bahkan ke dahi. Keluarnya sekret purulen
dari puncta, dapat ditemukan conjungtiva injeksi dan selulitis per septal,
ataupun selulitis orbital .

Diagnosis bandingnya :

1.Hordeolum  lebih kecil, berbatas jelas, tidak mobil, ada inflamasi

2.Orbital selulitis  biasanya terjadi penurunan pergerakan bola mata

III.2.1.2 DAKRIOSISTITIS KRONIK

Pada dakriosistitis kronis dapat ditemukan beberapa gejala klinis


antara lain epifora dan lakrimasi karena adanya obstruksi pada jalan keluarnya
air mata.Pada dakriosistitis kongenital, karena terjadinya obstruksi dari sistem
drainase sehingga terjadi penumpukkan debris dan denudasi daripada epitel
permukaan mata , seringkali gejala klinis yang ditimbulkan adalah
konjungtivitis . Biasanya bakteri yang menginfesi adalah staphylococcus yang
menghasilkan eksotoxin.

Beberapa penyebab yang sering ditemukan adalah :

1.Bakteri aerobik antara lain S epidermidis, S aureus, and Streptococcus,


Pseudomonas, and Pneumococcus species.

2.Bakteri anaerobik antara lain Peptostreptococcus, Propionibacterium,


Prevotella, and Fusobacterium species.

3.Bakteri gram negatif yang sering menjadi penyebab adalah E coli.

Terapi untuk dakriosistitis bergantung pada etiologi dan causanya,


pada anak- anak biasanya diterapi dengan pemijatan pada daerah antara mata

16
dengan hidung untuk membuka obstruksi yang terjadi dan diberikan pula
antibiotik. Apabila obstruksi tidak membaik pada terapi pemijatan, dapat
dilakukan operasi dakriosistorinostomi . Pada penderita dewasa biasanya
dilakukan irigasi pada ductus lakrimalis dengan menggunakan salin, dan
diberikan pengobatan topikal antibiotik.

Keterangan gambar : tampak massa di kantus medialis , eritema .

Keterangan gambar : tampak pus keluar dari puctum lakrimalis

III.2.2 KANALIKULITS

Kanalikulitis adalah infeksi yang terjadi di kanalikulus. Sering terjadi


pada orang tua usia 50 tahun keatas dengan penyebab utama adalah
Actinomyces israelii . Dapat terjadi pada orang usia muda sekitar 20 tahunan
atau dibawahnya biasanya penyebab tersering adalah infeksi herpes. Jika tidak

17
ditangani dengan benar dapat terjadi stenosis dari kanalikulus biasanya oleh
dakriolit. Dakriolit adalah batu yang terbentuk dari air mata dan debris serta
sisa epitel yang bergabung jadi satu. Keluhan biasanya terjadi epifora , terdapat
pengeluaran sekret yang serous ataupun mukopurulen dan biasanya unilateral.
Terapinya dilakukan dengan dua cara , yang pertama adalah dengan
mengeluarkan benda asing disana (sekret ) dan antibiotik terapi. Dakriolit yang
kecil dan debris dapat dikeluarkan dengan cotton buds yang ditekankan pada
punctum lakrimalis . Jika batu yang terbentuk banyak dan susah dikeluarkan
dengan cara manual maka dapat dilakukan tindakan pembedahan yaitu
kanalikulotomi.

Keterangan gambar : Tampak sekret purulen yang keluar dari kanalikulus

Keterangan gambar : Tampak sekret yang keluar setelah dimanipulasi

18
III.3 DISFUNGSI DARI SISTEM LAKRIMALIS (1,2,3,4)

III.3.1 KERATOKONJUNGTIVITIS SICCA

Keratokonjungtivitis sicca atau sindroma mata kering adalah suatu


keadaan dimana air mata tidak membasahi mata dengan baik bisa karena
memang produksi air mata yang kurang, bisa karena kualitas air matanya yang
tidak baik dan mengakibatkan mata kering.

Biasanya sindroma mata kering sering terkena pada wanita yang


berusia 40-50 tahun dan berkaitan dengan proses menopause, karena wanita
yang menopause memiliki hormon estrogen yang sangat rendah bahkan tidak
ada , dan ini berkaitan dengan adanya reseptor hormon estrogen maupun
androgen di kelenjar lakrimalis dan kelenjar meibom yang merangsang
produksi air mata.

Pada dasarnya keratokonjungtivitis sika dibagi menjadi 2 , yaitu


keratokonjungtivitis dengan kelainan sistemik seperti Sjogren sindroma dan
keratokonjungtivitis tanpa kelainan sistemik seperti defisiensi vitamin A ,
penggunaan obat-obat kontrasepsi , dan kondisi lingkungan (terlalu lama
berada diruangan ber AC , atau ruangan yang berasap )

Keluhan pasien dengan sindroma mata kering adalah rasa panas pada mata,
mata merah , terasa seperti ada benda asing pada mata, dan juga rasa sakit pada
mata. Terkadang ada keluhan mata yang berair , hal ini karena refleks dari
lakrimasi yang ditimbulkan dari lingkungan yang berangin, dingin, dan
kelembapan udara yang rendah dan terkadang sesudah membaca lama.

Tes pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa adalah :

1. Schimmer test
2. Tear break up time
3. Slit lamp
Terapi yang diberikan biasanya memberikan air mata buatan, terkadang

19
diberikan tetes mata antibiotik karena produksi air mata yang kurang dapat
mengakibatkan mudahnya kuman tumbuh di mata.

III.3.2 TUMOR- TUMOR DI KELENJAR LAKRIMAL

Tumor jinak dari kelenjar lakrimal yang paling sering terjadi adalah
pleomorphic adenoma, sedangkan tumor ganas dari kelenjar lakrimal yang
paling sering terjadi adalah adenoid cyctic carcinoma dan pleomorphic
adenocarcinoma.

WHO memberikan klasifikasi tentang tumor kelenjar lakrimalis dalam


beberapa kategori , yaitu :

I. Epitelial tumors
II. Tumors of the hematopoietic or lymphatic tissue
III. Secondary tumors
IV. Inflamed tumors
V. Other and unclassified tumours

20
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN :

Aparatus Lakrimalis terbagi menjadi 2 sistem :

1. Sistem sekresi lakrimal terbagi menjadi kelenjar lakrimalis dan kelenjar


asesorius ( kelenjar wolfring dan kelenjar Krause )

2. Sistem ekskresi lakrimal terbagi menjadi pungtum lakrimalis, kanalikuli


lakrimalis, sakus lakrimalis, duktus naso lakrimalis.

Kelenjar air mata dipersarafi oleh :

1. Nervus Lakrimalis (sensoris), suatu cabang dari devisi pertama


Trigeminus.

2. Nervus Petrosus superficialis magna (sekretoris ), yang datang dari


nukleus salivarius superior.

3. Saraf simpatis yang menyertai arteria dan nervus lakrimalis

Apabila terjadi gangguan pada aparatus lakrimalis ada 2 bagian yang


terganggu bisa di bagian sekresi atau di ekskresinya antara lain :
a. Dakrioadenitis akut dan kronik
b. Dakriosistitis akut dan kronik
c. Kanalikulitis
d. Konjungtivitas sika
e. Tumor di kelenjar lakrimal

21
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, edisi ke-3. Fakultas kedokteran

UniversitasIndonesia. Jakarta.2005.EGC.

2. J. Jack, Kanski Clinical Opthalmology, sixth edition, hal.151-163

3. Eva. Roirdan Paul & Whitcher J.P. Oftalmologi Umum Vaughan & Asbury,

Ed. 17.EGC.Jakarta.2007

4. www.emedicine.com

5. Lang, Gerhard K. Ophthalmology A Pocket Textbook Atlas. Thieme. New

York. 2000.

6. Miller, Stehen J.H. Parsons’ Disease Of the Eye. 8th Ed. Churchill

livingstone. New york. 1990.

7. Newell, Frank W. Ophthalmology. Principles and Concepts. 6th Ed.The

CV. Mosby Company. Taiwan 1986.

8. Adler H., Francis. Gifford’s Textbook Of Ophthalmology. W.B. Saunders

Company. Philadephia 1948.

22