Anda di halaman 1dari 8

Tugas Sejarah

Remedial

Disusun Oleh :
Nama :
M. Fariz Juliansyah
Kelas :
XI IA 2
Absen :
25
Kesultanan Samudera Pasai
Kesultanan Samudera Pasai, juga dikenal dengan Samudera, Pasai, atau Samudera
Darussalam, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang
lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara sekarang. Kerajaan ini didirikan oleh
Marah Silu, yang bergelar Malik al-Saleh, pada sekitar tahun 1267 dan berakhir dengan
dikuasainya Pasai oleh Portugis pada tahun 1521. Raja pertama bernama Malik as-Saleh,
kemudian dilanjutkan pemerintahannya oleh Malik at-Thahir. Setelah mati, ia digantikan
oleh Sultan Mahmmud Malik az-Zahir

Kesultanan Malaka

Peta Kesultanan Malaka.

Kesultanan Malaka (1402 - 1511) adalah sebuah kesultanan yang didirikan oleh
Parameswara, seorang putera Sriwijaya yang melarikan diri dari perebutan Palembang
oleh Majapahit. Ibu kota kerajaan ini terdapat di Melaka, yang terletak pada Selat
Malaka. Kesultanan ini berkembang pesat menjadi sebuah entrepot dan menjadi
pelabuhan terpenting di Asia Tenggara pada abad ke-15 dan awal 16. Malaka runtuh
setelah ibukotanya direbut oleh Portugis pada tahun 1511.

Kejayaan yang dicapai oleh Kerajaan Melaka di sebabkan oleh beberapa faktor penting
yaitu, Parameswara telah mengambil kesempatan untuk menjalinkan hubungan baik
dengan negara Cina ketika Laksamana Yin Ching mengunjungi Melaka pada tahun 1403.
Salah seorang dari sultan Malaka telah menikahi seorang putri dari negara Cina yang
bernama Putri Hang Li Po. Hubungan erat antara Melaka dengan Cina telah memberi
banyak manfaat kepada Malaka. Malaka mendapat perlindungan dari Cina yang
merupakan pemegang kekuasaan terbesar di dunia pada masa itu untuk mengelakan
serangan Siam.
Sejarah

Parameswara pada awalnya mendirikan kerajaan di Singapura pada tahun 1390-an.


Negeri ini kemudian diserang oleh Jawa dan Siam, yang memaksanya pinda lebih ke
utara. Kronik Dinasti Ming mencatat Parameswara telah tinggal di ibukota baru di
Melaka pada 1403, tempat armada Ming yang dikirim ke selatan menemuinya. Sebagai
balasan upeti yang diberikan Kekaisaran Cina menyetujui untuk memberikan
perlindungan pada kerajaan baru tersebut. [1]

Parameswara kemudian menganut agama Islam setelah menikahi putri Pasai. Laporan
dari kunjungan Laksamana Cheng Ho pada 1409 menyiratkan bahwa pada saat itu
Parameswara masih berkuasa, dan raja dan rakyat Melaka sudah menjadi muslim. [2].
Pada 1414 Parameswara digantikan putranya, Megat Iskandar Syah.[1][2]

Megat Iskandar Syah memerintah selama 10 tahun, dan digantikan oleh Muhammad
Syah. Putra Muhammad Syah yang kemudian menggantikannya, Raja Ibrahim,
tampaknya tidak menganut agama Islam, dan mengambil gelar Sri Parameswara Dewa
Syah. Namun masa pemerintahannya hanya 17 bulan, dan dia mangkat karena terbunuh
pada 1445. Saudara seayahnya, Raja Kasim, kemudian menggantikannya dengan gelar
Sultan Mudzaffar Syah.

Di bawah pemerintahan Sultan Mudzaffar Syah Melaka melakukan ekspansi di


Semenanjung Malaya dan pantai timur Sumatera (Kampar dan Indragiri). Ini memancing
kemarahan Siam yang menganggap Melaka sebagai bawahan Kedah, yang pada saat itu
menjadi vassal Siam. Namun serangan Siam pada 1455 dan 1456 dapat dipatahkan.

Di bawah pemerintahan raja berikutnya yang naik tahta pada tahun 1459, Sultan Mansur
Syah, Melaka menyerbu Kedah dan Pahang, dan menjadikannya negara vassal. Di bawah
sultan yang sama Johor, Jambi dan Siak juga takluk. Dengan demikian Melaka
mengendalikan sepenuhnya kedua pesisir yang mengapit Selat Malaka.

Mansur Syah berkuasa sampai mangkatnya pada 1477. Dia digantikan oleh putranya
Alauddin Riayat Syah. Sultan memerintah selama 11 tahun, saat dia meninggal dan
digantikan oleh putranya Sultan Mahmud Syah. [3]

Mahmud Syah memerintah Malaka sampai tahun 1511, saat ibu kota kerajaan tersebut
diserang pasukan Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque. Serangan
dimulai pada 10 Agustus 1511 dan berhasil direbut pada 24 Agustus 1511. Sultan
Mahmud Syah melarikan diri ke Bintan dan mendirikan ibukota baru di sana. Pada tahun
1526 Portugis membumihanguskan Bintan, dan Sultan kemudian melarikan diri ke
Kampar, tempat dia wafat dua tahun kemudian. Putranya Muzaffar Syah kemudian
menjadi sultan Perak, sedangkan putranya yang lain Alauddin Riayat Syah II mendirikan
kerajaan baru yaitu Johor.
Daftar raja-raja Malaka

1. Parameswara (1402-1414)
2. Megat Iskandar Syah (1414-1424)
3. Sultan Muhammad Syah (1424-1444)
4. Seri Parameswara Dewa Syah(1444-1445)
5. Sultan Mudzaffar Syah (1445-1459)
6. Sultan Mansur Syah (1459-1477)
7. Sultan Alauddin Riayat Syah (1477-1488)
8. Sultan Mahmud Syah (1488-1528)

Kesultanan Aceh
Kesultanan Aceh Darussalam berdiri menjelang keruntuhan dari Samudera Pasai yang
pada tahun 1360 ditaklukkan oleh Majapahit hingga kemundurannya di abad ke-14.
Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Kutaraja (Banda
Aceh) dengan sultan pertamnya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada
pada Ahad, 1 Jumadil awal 913 H atau pada tanggal 8 September 1507. Dalam
sejarahnya yang panjang itu (1496 - 1903), Aceh telah mengukir masa lampaunya dengan
begitu megah dan menakjubkan, terutama karena kemampuannya dalam
mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, komitmennya dalam menentang
imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik,
mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, hingga kemampuannya dalam
menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain.[1]

Bendera Kesultanan Aceh


Sejarah

Awal mula

Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496. Diawal-
awal masa pemerintahannya wilayah Kesultanan Aceh berkembang hingga mencakup
Daya, Deli, Pedir, Pasai, dan Aru. Pada tahun 1528, Ali Mughayat Syah digantikan oleh
putera sulungnya yang bernama Salahuddin, yang kemudian berkuasa hingga tahun 1537.
Kemudian Salahuddin digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar yang
berkuasa hingga tahun 1568.

Masa kejayaan

Kesultanan Aceh mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar
Muda (1607 - 1636). Pada masa kepemimpinannya, Aceh telah berhasil memukul
mundur kekuatan Portugis dari selat Malaka. Kejadian ini dilukiskan dalam La Grand
Encyclopedie bahwa pada tahun 1582, bangsa Aceh sudah meluaskan pengaruhnya atas
pulau-pulau Sunda (Sumatera, Jawa dan Kalimantan) serta atas sebagian tanah
Semenanjung Melayu. Selain itu Aceh juga melakukan hubungan diplomatik dengan
semua bangsa yang melayari Lautan Hindia. Pada tahun 1586, kesultanan Aceh
melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari
500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas
dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu. Walaupun Aceh telah
berhasil mengepung Melaka dari segala penjuru, namun penyerangan ini gagal
dikarenakan adanya persekongkolan antara Portugis dengan kesultanan Pahang.

Dalam lapangan pembinaan kesusasteraan dan ilmu agama, Aceh telah melahirkan
beberapa ulama ternama, yang karangan mereka menjadi rujukan utama dalam bidang
masing-masing, seperti Hamzah Fansuri dalam bukunya Tabyan Fi Ma'rifati al-U Adyan,
Syamsuddin al-Sumatrani dalam bukunya Mi'raj al-Muhakikin al-Iman, Nuruddin ar-
Raniry dalam bukunya Sirat al-Mustaqim, dan Syekh Abdul Rauf Singkili dalam
bukunya Mi'raj al-Tulabb Fi Fashil.

Kemunduran

Kemunduran Kesultanan Aceh bermula sejak kemangkatan Sultan Iskandar Tsani pada
tahun 1641. Kemunduran Aceh disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ialah makin
menguatnya kekuasaan Belanda di pulau Sumatera dan Selat Malaka, ditandai dengan
jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak, Deli dan Bengkulu kedalam pangkuan penjajahan
Belanda. Faktor penting lainnya ialah adanya perebutan kekuasaan diantara pewaris tahta
kesultanan.

Traktat London yang ditandatangani pada 1824 telah memberi kekuasaan kepada Belanda
untuk menguasai segala kawasan British/Inggris di Sumatra sementara Belanda akan
menyerahkan segala kekuasaan perdagangan mereka di India dan juga berjanji tidak akan
menandingi British/Inggris untuk menguasai Singapura.
Pada akhir Nopember 1871, lahirlah apa yang disebut dengan Traktat Sumatera, dimana
disebutkan dengan jelas "Inggris wajib berlepas diri dari segala unjuk perasaan terhadap
perluasan kekuasaan Belanda di bagian manapun di Sumatera. Pembatasan-pembatasan
Traktat London 1824 mengenai Aceh dibatalkan." Sejak itu, usaha-usaha untuk
menyerbu Aceh makin santer disuarakan, baik dari negeri Belanda maupun Batavia.
Setelah melakukan peperangan selama 40 tahun, Kesultanan Aceh akhirnya jatuh ke
pangkuan kolonial Hindia-Belanda. Sejak kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Aceh
menyatakan bersedia bergabung ke dalam Republik indonesia atas ajakan dan bujukan
dari Soekarno kepada pemimpin Aceh Tengku Muhammad Daud Beureueh saat
itu[rujukan?].

Perang Aceh

Perang Aceh dimulai sejak Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret
1873 setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik, namun tidak berhasil merebut
wilayah yang besar. Perang kembali berkobar pada tahun 1883, namun lagi-lagi gagal,
dan pada 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut
Aceh.

Dr. Snouck Hurgronje, seorang ahli Islam dari Universitas Leiden yang telah berhasil
mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh, kemudian memberikan saran
kepada Belanda agar serangan mereka diarahkan kepada para ulama, bukan kepada
sultan. Saran ini ternyata berhasil. Pada tahun 1898, J.B. van Heutsz dinyatakan sebagai
gubernur Aceh, dan bersama letnannya, Hendricus Colijn, merebut sebagian besar Aceh.

Sultan M. Dawud akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah dua
istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh
akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904. Saat itu, hampir seluruh Aceh telah direbut
Belanda.

Sultan Aceh

Sultan Aceh merupakan penguasa / raja dari Kesultanan Aceh, tidak hanya sultan, di
Aceh juga terdapat Sultanah / Sultan Wanita. Daftar Sultan yang pernah berkuasa di Aceh
dapat dilihat lebih jauh di artikel utama dari Sultan Aceh.

Tradisi kesultanan

Gelar-Gelar yang Digunakan dalam Kerajaan Aceh

• Teungku • Cut
• Tuanku • Panglima Sagoe
• Pocut • Meurah
• Teuku
• Laksamana
• Uleebalang
Kesultanan Banten
Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke
daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak
merebut pelabuhan Banten dari kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang
berafiliasi ke Demak. Menurut sumber Portugis, sebelumnya Banten merupakan salah
satu pelabuhan Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang),
Sunda Kalapa dan Cimanuk.

Sejarah

Anak dari Sunan Gunung Jati (Hasanudin) menikah dengan seorang putri dari Sultan
Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf.
Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi
Penguasa Jepara.

Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara
merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama
Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya
Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan
Banten karena dibantu oleh para ulama.

Puncak kejayaan

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah
Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan
Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat.
Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan
Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi provinsi Lampung. Piagam Bojong
menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung dikuasai oleh kesultanan
Banten.

Masa kekuasaan Sultan Haji

Pada zaman pemerintahan Sultan Haji, tepatnya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung
diserahkan kepada VOC. seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de
Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu
kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat
VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung
Penghapusan kesultanan

Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun
itu, Sultan Muhamad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stamford
Raffles. Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur-
Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808.[1]

Daftar pemimpin Kesultanan Banten

• Sunan Gunung Jati


• Sultan Maulana Hasanudin 1552 - 1570
• Maulana Yusuf 1570 - 1580
• Maulana Muhammad 1585 - 1590
• Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 - 1640 (dianugerahi gelar tersebut
pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu.[2])
• Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad 1640 - 1650
• Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680
• Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 - 1687
• Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690)
• Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)
• Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752)
• Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750)
• Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753)
• Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773)
• Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)
• Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801)
• Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
• Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
• Aliyuddin II (1803-1808)
• Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
• Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
• Muhammad Rafiuddin (1813-1820)