Anda di halaman 1dari 18

BAB I

IKHTISAR KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Identitas Istri
Nama : Ny. R
Umur : 24 tahun
Alamat : Kepoh, RT/RW 02/15, Pawitan, Kerawang Barat
No. RM : 370563
Suku : Sunda
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SLTA
Tanggal Masuk : 10 November 2010

Identitas Suami
Nama : Tn. S
Umur : 28 tahun
Alamat : Kepoh, RT/RW 02/15, Pawitan, Kerawang Barat
Suku : Sunda
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SLTA

II. ANAMNESA
(Autoanamnesa tgl. 10 November 2010, pukul 19.10 WIB)
Keluhan Utama:
G1P0A0 datang dengan rujukan dari klinik dengan diagnosis G1P0A0 gravid 13
minggu + emesis gravidarum + intake sulit

Riwayat Penyakit Sekarang


G1P0A1 mengaku hamil 3 bulan datang dengan keluhan mual disertai muntah-
muntah sejak 1,5 bulan SMRS. Dalam sehari pasien muntah sebanyak lebih dari 5
kali berisi makanan dan minuman yang dikonsumsi. Pasien juga mengalami muntah-
muntah pada saat makan dan minum. Karena hal ini pasien menjadi sulit untuk
makan dan minum. Nyeri ulu hati (+). Pasien mengaku telah mengalami penurunan
berat badan sebanyak 9 kg bila dibandingkan dengan berat badan pada awal
kehamilan (sebelum hamil 52 kg menjadi 43 kg). Pasien mengaku melakukan tes
kehamilan di bidan dan hasil yang dinyatakan adalah positif. Pasien juga mengatakan
buang air kecilnya sangat sedikit dan tidak buang air besar selama 4 hari Riwayat
tekanan darah tinggi sebelumnya disangkal, riwayat kencing manis, asma, alergi dan
penyakit jantung juga disangkal.
.
Riwayat Menstruasi
Menarche : 14 th
Siklus : 28 hari
Banyaknya : 2-3 pembalut / hari
Dismenorrhoe : tidak ada
Teratur : teratur
Lamanya : 7 hari
HPHT : 18 September 2010
UK : 7-8 minggu

Status Pernikahan
Menikah 1x usia 23 tahun, dengan suami usia 27 tahun
Riwayat Kehamilan dan Persalinan
1. Hamil ini.
Riwayat Kontrasepsi
Kontrasepsi suntik tiap 1 bulan hanya 1x, berhenti sudah 8 bulan
Riwayat Antenatal Care (ANC) dan Imunisasi:
ANC di Bidan sebanyak 1x, TT 1 kali

III. PEMERIKSAAN FISIK ( pada saat masuk )


Status Generalis
Keadaan Umum : Sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
BB sekarang : 43 kg
Bbsebelum hamil : 52 kg
TB :156 cm
Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah : 100/60 mmHg
Nadi : 60x/menit
Suhu : 36 oC
RR : 20 x/mnt

Kepala : Normochepali
Mata : Konjungtiva pucat -/-, SI -/-, cekung palpebra -/-
Leher : KGB tidak teraba membesar, tiroid tidak teraba
Cor : S1-S2 reguler, mur –mur (-), gallop (-)
Pulmo : Suara nafas vesikuler, Rh-/-, Wh-/-
Abdomen : Lihat status obstetri
Genitalia : Lihat status obstetri
Ekstremitas : akral hangat, oedem (-) CRT <2 detik

B. Status Obstetri
1. Abdomen :
Inspeksi : Simetris, datar, striae gravidarum (-)
Palpasi : Supel, Fundus uteri tidak teraba, turgor baik
Perkusi : Timpani
Auskultasi : BU(+) N, DJJ (-)
2. Genitalia : v/v perdarahan (-), oedem (-), varises (-)
Pemeriksaan dalam tidak dilakukan

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium tgl 10 November 2010
• Hb : 10 gr/dl
• Ht : 29 %
• Leukosit : 9.800 /µ l
• Trombosit : 234.000/µ l
• Gol. Darah : B/+
• HbS Ag : (-)
Urinalisa
• Keton :+
• Tes kehamilan : (+)

RESUME
1. G1P0A0 datang dengan rujukan dari klinik dengan diagnosis
G1P0A0 gravid 13 minggu + emesis gravidarum + intake sulit. Pasien
mengaku hamil 1,5 bulan mengeluh mual disertai muntah sebanyak lebih dari
5 kali per hari karena muntah tiap makan dan minum. Isi muntahan berupa air
dan makanan yang dimakan. Nyeri ulu hati (+), penurunan berat badan 9kg
dibandingkan sebelum hamil. Pasien melakukan tes kehamilan di bidan dan
hasilnya positif. BAK sangat sedikit dan tidak BAB selama 4 hari. Pasien
tidak pernah seperti ini sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
pasien tampak sakit sedang, tanda vital dalam batas normal, tidak didapatkan
tanda-tanda dehidrasi, kepala, leher, thorax dalam batas normal, dan pada
pemeriksaan obstetri didapatkan:
1. Abdomen
Inspeksi : Simetris, datar, striae gravidarum (-)
Palpasi : Supel, Fundus uteri tidak teraba, turgor baik
Perkusi : Timpani
Auskultasi : BU(+) N, DJJ (-)
2. Genitalia : tidak ada kelainan
Pada hasil laboratorium diperoleh tes kehamilan positif dengan ketonuria.

V. DIAGNOSIS
• Ibu : G1P0A0 gravid 7-8 minggu + Hiperemesis Gravidarum
VI. USULAN PEMERIKSAAN
• USG
VII. RENCANA PENATALAKSANAAN
Rencana Terapi :
• Infus RL 30 tts/menit
• Ondavel 2x1
• Rantin 2x1
Rencana edukasi:
• Bed rest
• Tidak boleh makan makanan berlemak
• Diet kering

VIII. PROGNOSIS
Ibu : Dubia ad Bonam
Janin : Dubia ad Bonam

VIII. FOLLOW UP
11 November 2010
S : Muntah 4x jika makan, mual (+), pusing (+), nyeri ulu hati (+)
O : KU/KS: Sakit sedang/CM
TD: 110/70 mmHg
N: 83 x/menit
S: 37oC
P: 20x/menit
Mata: CA -/-, SI -/-
Leher: KGB ttm
Thoraks: C: s1, s2 reg, m(-), G(-)
P: Sn vesikuler, Rh -/-, Wh -/-
Abdomen: I : simetris, datar
P: supel, NT epigastrium (+), turgor baik
P: timpani
A: BU (+)
Genitalia: v/v: Tidak ada kelainan
Ekstremitas: akral hangat, oedem (-)
A : G1P0A0 gravid 7-8 minggu + HEG
P : Ondansentron 2x1
Rantin 2x1
Diet kering
Dilakukan USG : Janin tunggal, hidup, 12-13 minggu.
TP: 22/5/2011
12 November 2010
S : muntah (-), mual (+) nyeri ulu hati berkurang
O : KU/KS: Baik/CM
TD: 110/70
N: 78 x/menit
S: 36,7oC
P: 20x/menit
Mata: CA -/-, Si -/-
Leher: KGB ttm
Thoraks : C: s1, s2 reg, m(-), G(-)
P: Sn vesikuler, Rh -/-, Wh -/-
Abdomen : I : datar, simetris
P: supel, NT epigastrium (-)
P: timpani
A: BU (+)
Genitalia: v/v: tidak ada kelainan
Ekstremitas: akral hangat, oedem (-)
Lab.
BJ : 1,020
pH : 7
Warna : kuning jernih
Urine keton (-)

A : G1P0A0 gravid 12-13 minggu + HEG dengan perbaikan


P : Ondansentron 2x1
Rantin 2x1
B6 3x1
Diet kering

13 November 2010
S : muntah (-), mual (+) sedikit, nyeri ulu hati berkurang, sudah bisa makan.
O : KU/KS: Baik/CM
TD: 110/80
N: 80 x/menit
S: 36,4oC
P: 20x/menit
Mata: CA -/-, Si -/-
Leher: KGB ttm
Thoraks : C: s1, s2 reg, m(-), G(-)
P: Sn vesikuler, Rh -/-, Wh -/-
Abdomen : I : datar, simetris
P: supel, NT epigastrium (-)
P: timpani
A: BU (+)
Genitalia: v/v: tidak ada kelainan
Ekstremitas: akral hangat, oedem (-)
A : G1P0A0 gravid 12-13 minggu + HEG dengan perbaikan
P : Vometa 2x1
Ranitidin 2x1
Neurobion 3x1
Rencana pulang
BAB II
ANALISA KASUS

Anamnesis:
 Pasien seorang wanita, 24 th, datang ke RSUD Karawang dengan keluhan mual
dan muntah-muntah sejak 1,5 bulan SMRS. . Pasien mengeluh nyeri ulu hati, tidak
nafsu makan, sedang hamil 7-8 minggu, terjadi penurunan drastis berat badan,
kesulitan dalam melakukan aktifitas sehari-hari sangat menunjang ke arah
hiperemesis gravidarum. Pasien menyangkal pernah mengalami hal ini
sebelumnya, sehingga dapat disimpulkankeluhan seperti ini muncul sejak
kehamilan.
 Untuk diagnosa G1P0A0 hamil 7-8 minggu didapat dari HPHT pasien yaitu 18
September 2010.
 TD : 100/60 mmH, Nadi 60x/menit, Suhu 36oC, Pernapasan 20x/menit tidak
mengindikasikan pasien ke arah dehidrasi. Pemeriksaan yang sangat mendukung
ialah penurunan berat badan sekitar 12 % selama 2 bulan terakhir (BB sekarang: 43
kg, BB sebelum hamil : 52 kg). Tanda-tanda dehidrasi seperti mata cekung, bibir
dan lidah kering, turgor kulit menurun tidak ditemukan pada pasien ini.
 Pada palpasi abdomen ditemukan juga nyeri tekan epigastrium, hal ini didapatkan
pada sebagaian pasien hiperemesis, ataupun pada komplikasi gastrointestinal
lainnya.
Pemeriksaan Penunjang:
 Pada pemeriksaan lab. didapatkan keton pada urin +, hal ini menunjang
hiperemesis gravidarum.
 Elektrolit saat pasien masuk tidak diperiksa, sedangkan menurut penulis
pemeriksaan tersebut harus dilakukan pada pasien ini, untuk menilai apakah
terdapat ketidakseimbangan cairan dan elektrolit serta untuk menilai adanya
dehidrasi.
 Bukti bahwa pasien hamil dapat dilihat dari positifnya β-HCG pada urin.
Dari USG didapatkan adanya kehamilan dengan janin tunggal dan hidup dengan usia
kehamilan 12-13 minggu.
Untuk penatalaksanaan, yang tidak dilakukan pada kasus ini ialah:
 Monitor intake dan output tidak dilakukan
 Pemeriksaan kadar elektrolit harian tidak dilakukan
 Pemeriksaan rasio kadar ureum/kretinin tidak dilakukan
 Pencatatan perubahan berat badan tidak dibuat
 Pasien tidak dirawat di kamar isolasi.
 Konsultasi ahli gizi tidak dilakukan.
 Edukasi ke pasien masih kurang
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Mual dan muntah-muntah yang cukup berat sehingga menyebabkan gangguan pada
pekerjaan sehari-hari,1 keadaan umum yang memburuk serta dapat menyebabkan
kegawatan pada ibu dan janin. Menyebabkan ganguan seperti penurunan berat badan,
dehidrasi, asidosis akibat kelaparan, alkalosis akibat keluarnya asam hidroklorida dalam
muntahan dan hipokalemia.2

Bila berat dan tidak ditangani secara adekuat maka akan berhubungan dengan: (4)

1. Turunnya berat badan sampai lebih dari 5 % dari berat badan sebelum
kehamilan (umumnya lebih dari 10%)
2. Dehidrasi dan produksi dari keton
3. Defisiensi nutrisi
4. Ketidakseimbangan metabolik
5. Kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari

Hiperemesis gravidarum umumnya terjadi pada kehamilan trimester pertama dan akan
membaik sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu.

3.2 Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti
bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik, juga tidak ditemukan kelainan biokimia.
Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan adalah sebagai berikut:
1. Primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada
mola hidatidosa dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon
memegang peranan, Kadar Human Chorionic Gonadotropin (hCG) yang meningkat
dipercaya sebagai penyebab utama dari hiperemesis, hal ini dibuktikan dengan
munculnya hiperemesis pada kadar puncak hCG wanita hamil (trimester I) dan
muncul juga pada kasus mola hidatidosa serta kehamilan multipel di mana kadar
hCG juga jauh meningkat. Diduga kadar hCG yang tinggi akan merangsang pusat
muntah di medulla oblongata , kadar estrogen yang meningkat, kadar progesteron
yang meningkat yang mengakibatkan terganggunya motilitas gaster karena pada
keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.

2. Masuknya villi khoriales dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat
hamil dan resistensi ibu yang menurun terhadap perubahan ini.

3. Alergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak.

4. Faktor psikologik memegang peranan penting pada penyakit ini, rumah tangga
yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut
terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang
dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap
keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup. Hubungan
psikologik dengan hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak
jarang dengan memberikan suasana baru dapat mengurangi frekuensi muntah.1

5. Disfungsi neuromuskular gaster

Teori terbaru mengatakan bahwa pada hiperemesis gravidarum terjadi disfungsi


yang mengakibatkan regurgitasi isi duodenal ke lambung yang menimbulkan rasa
mual dan muntah.2

6. Kadar tiroksin

Peningkatan kadar serum tiroksin terjadi pada 70% kehamilan dengan hiperemesis
gravidarum2 . Wanita dengan hiperemesis gravidarum cenderung mempunyai kadar
hCG yang tinggi yang menyebabkan hipertiroidisme transien.

3.3 Patologi
Bedah mayat pada wanita yang meninggal pada hiperemesis gravidarum
menunjukkan kelainan-kelainan pada berbagai alat dalam tubuh, yang juga dapat
ditemukan pada malnutrisi oleh bermacam sebab.
Hati. Pada hiperemesis gravidarum tanpa komplikasi hanya ditemukan degenerasi
lemak tanpa nekrosis, degenerasi lemak tersebut terletak di sentrilobuler. Kelainan ini
nampaknya tidak menyebabkan kematian dan dianggap sebagai akibat muntah yang terus
menerus. Namun pada sebagian penderita hiperemesis gravidarum menunjukkan gambaran
mikroskopik hati yang normal.
Jantung. Jantung menjadi lebih kecil dibandingkan biasanya dan beratnya atrofi, ini
sejalan dengan lamanya penyakit, kadang-kadang ditemukan perdarahan subendokardial.
Otak. Adakalanya terdapat bercak-bercak perdarahan pada otak dan kelainan
seperti pada ensefalopati wernicke dapat dijumpai (dilatasi kapiler dan perdarahan kecil-
kecil didaerah korpora mamilaria ventrikel ketiga dan keempat)
Ginjal. Ginjal tampak pucat dan degenerasi lemak dapat ditemukan pada tubuli
kontorti.1

3.4 Patofisiologi
Perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen, karena itu keluhan
ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin
dapat berasal dari sistem saraf pusat. Gangguan pengosongan lambung merupakan salah
satu hal yang dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum, terjadi karena terjadinya
disritmia pada otot lambung yang terjadi karena adanya peningkatan hormon estrogen dan
progesteron, tiroid disorder, abnormalitas vagal dan saraf simpatik yang biasanya terjadi
pada awal kehamilan.4
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil
muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya
elektrolit dengan alkalosis hipokloremik.Pada wanita yang sebelum kehamilan sudah
menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan mual, akan mengalami
emesis gravidarum yang lebih berat.
Hiperemesis gravidarum ini dapat menyebabkan cadangan karbohidrat dan lemak
habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna,
terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan
aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena
muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang.
Natrium dan khlorida darah turun, demikian pula khlorida air kemih. Selain itu
hemokonsentrasi dapat terjadi karena dehidrasi, sehingga aliran darah ke jaringan
berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang
dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik.
Kurangnya kalium akibat muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal dapat
menambahkan frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati dan
terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan. Selain itu dapat menyebabkan robekan
pada selaput lendir esofagus dan lambung (sindroma Mallory-Weiss), dengan akibat
perdarahan dari gastrointestinal. Pada umumnya robekan ini ringan dan perdarahan dapat
berhenti sendiri. Jarang dibutuhkan transfusi atau tindakan operatif.1
Helicobacter pylori yang terdapat di lambung wanita hamil dapat menyebabkan
mual dan muntah, hal ini berhubungan dengan terjadinya ulkus peptikum yang disebabkan
oleh infeksi Helicobacter pylori. Hiperakuiti pada sistem olfaktorius juga merupakan salah
satu faktor penyebab mual dan muntah pada wanita hamil.

3.5 Gejala dan Tanda


Batas yang jelas antara mual yang masih fisiologik dalam kehamilan denagn
hiperemesis gravidarum tidak ada, namun ada sumber yang mengatakan muntah yang
lebih dari 10 kali perharinya 3, dan jika keadaan umum penderita terpengaruh, sebaiknya
ini dianggap sebagai hiperemesis gravidarum,. Menurut berat ringannya gejala dibagi
dalam tiga tingkatan.
Tingkatan I. Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan penderita,
merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri epigastrium.
Nadi meningkat sekitar 100 kali permenit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit
berkurang, lidah mengering dan mata cekung.
Tingkatan II. Penderita tampak lemah dan apatis, turgor kulit lebih berkurang, lidah
mengering dan tampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik mata sedikit
ikterik. Berat badan turun mata menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguria dan
konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan dan dapat pula ditemukan dalam
kencing.
Tingkatan III. Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun
dari somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat, tensi turun. Komplikasi
fatal dari susunan saraf pusat yang dikenal sebagai emsefalopati wernicke, dengan gejala
nistagmus, diplopia dan perubahan mental. Keadaan ini akibat sangat kurangnya zat
makanan, termasuk vitamin B kompleks.1

3.6 Diagnosis
Harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang terus menerus,
sehingga mempengaruhi keadaan umum, namun harus dipikirkan pula hamil muda dengan
penyakit pielonefritis, hepatitis, ulkus ventrikuli dan tumor serebri yang dapat memberikan
keluhan yang sama.1

3.7 Diagnosa banding

1. Gastritis

gangguan pencernaan, perut kembung, mual, dan muntah.

2. Gastroenteritis

tanda yang paling menonjol adalah timbulnya tiba-tiba sering buang air besar
dengan tinja longgar atau cair ( diare ), berhubungan dengan mual dan muntah,
serta kram perut, sakit perut , kelemahan, dan kadang-kadang baik demam atau
kedinginan.

3. Hepatitis

Mual , diare , kehilangan nafsu makan, kelelahan , dan kuning kulit dan mata
(jaundice), sakit kepala , demam , flu seperti gejala-, nyeri otot ( arthralgia ), atau
ruam. Gejala bisa berlangsung hanya beberapa minggu atau berlama-lama selama
berbulan-bulan6 .

3.8 Penatalaksanaan
Edukasi
Memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses
yang fisiologik dan menerangkan bahwa mual dan muntah juga merupakan gejala yang
fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang pada usia kehamilan empat bulan.
Mengajurkan mengubah makanan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi
lebih sering.
Waktu bangun pagi jangan segera beranjak dari tempat tidur akan tetapi dianjurkan
untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat, Makanan yang berminyak atau
berbau lebih baik dihindarkan karena dapat merangsang mual dan muntah. Makanan
sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. Dianjurkan makan makanan
yang banyak mengandung gula.1
Diet
Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya
berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2
jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam zat-zat gizi kecuali vitamin C karena itu hanya
diberikan selama beberapa hari.
Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara
berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak
diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zat
gizi kecuali vitamin A dan D.

Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan.


Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini
cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium.

Obat-obatan
Apabila dengan cara tersebut keluhan dan gejala tidak berkurang maka dilakukan
pengobatan. Tetapi perlu diingat jangan memberikan obat yang teratogen. Sedativa yang
sering diberikan adalah phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6.
Antihistamin juga dapat diberikan seperti dramamin, avomin. Pada keadaan yang lebih
berat diberikan antiemetik seperti disiklomin hidrokhliride, khlorpromasin, prometazin.1
Untuk penyakit yang parah dapat diberikan metokopramid secara parenteral, obat ini
merangsang motilitas saluran cerna bagian atas tanpa merangsang sekresi lambung,
empedu atau pankreas.2 Jika perlu diberikan antasida dan anti mulas.3 Penanganan
hiperemesis gravidarum yang lebih berat perlu penanganan di rumah sakit, seperti keadaan
sebagai berikut: segala makanan yang dimakan dan diminum penderita dimuntahkan
kembali, berat badan turun 1/10 dari berat badan normal, turgor kurang dan lidah kering,
adanya aceton dalam urine.5

Isolasi
Penderita juga perlu disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan
peredaran udara yang baik. Hanya dokter dan perawat yang masuk kedalam kamar
penderita sampai muntah berhenti dan penderita mau makan.Tidak diberikan makanan
selama 24 jam. Terapi psikologik juga perlu untuk meyakinkan penderita bahwa penyakit
dapat disembuhkan dan mengurangi masalah yang melatar belakangi penyakit ini.

Cairan parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan proteindengan
glukose 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter perhari. Bila perlu dapat
ditambah kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C, bila ada
kekurangan protein dapat diberikan asamamino secara intravena. Buat daftar kontrol cairan
yang masuk dan yang keluar, urin perlu diperiksa kadar protein, aseton, khlorida dan
bilirubin. Suhu dan nadi perlu diperiksa setiap 4 jam dan tekanan darah tiga kali sehari.
Dilakukan pemeriksaan hematokrit diawal dan sesuai perjalanan penyakit. Bila dalam 24
jam pendetita tidak muntah dapat diberikan minuman dan lambat laun dapat ditambah
dengan makanan yang tidak cair. Namun jika pasien tetap muntah diberikan makanan
melalui sonde hidung.5

Terminasi kehamilan
Pada sebagian kecil kasus keadaan dapt menjadi bertambah buruk. Delirium,
kebutaan, takikardi, ikterus, anemia, anuria, perdarahan, nadi yang naik lebih dari 130 kali
permenit, demam diatas 38OC, uremia, proteinuria.1,6. Dalam keadaan demikian perlu
dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan.

3.8 Prognosis
Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat
memuaskan. Namun pada tingkatan yang berat penyakit ini dapat mengancam nyawa ibu
dan janin.1
BAB IV
KESIMPULAN

Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah-muntah yang cukup berat


sehingga menyebabkan gangguan pada pekerjaan sehari-hari, keadaan umum yang
memburuk serta dapat menyebabkan kegawatan pada ibu dan janin. Gejala – gejala ini
kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama
kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi pada 60 – 80% primi gravida dan 40 –
60% multi gravida. Perasaan mual ini desebabkan oleh karena meningkatnya kadar
hormon estrogen dan HCG (Human Chorionic Gonadrotropin) dalam serum.
Edukasi penting pada pasien hiperemesis gravidarum, memberikan penerapan
tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik dan menerangkan
bahwa mual dan muntah juga merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan
akan hilang pada usia kehamilan empat bulan. Mengajurkan mengubah makanan sehari-
hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Terapi cairan dan obat-
obatan diberikan jika dengan edukasi tidak berhasil, terapi obat seperti sedativa, vitamin
B1 dan B6, antihistamin, anti emetik. Pada keluhan yang berat pasien dapat dirawat di
rumah sakit, diisolasi, jika perlu terapi psikologik.
DAFTAR PUSTAKA

1. Wibowo Budiono, Soejoenoes Ariawan, Editor : Winkjosastro Hanifa, Saifudin


Abdul Bari, Rachimhadhi Trijatmo. Ilmu Kebidanan. Ed 3, Cet 8. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawihardjo. 2006 : Bab Hiperemesis Gravidarum
hal 275-280.

2. Cunningham F. Gary, dkk. Obstetri Williams. Ed 21. Jakarta : EGC.2005 : Bab


Komplikasi Bedah dan Medis pada Kehamilan hal 1424-1425.

3. Rustam, Mochtar. Sinopsis Obsetri : obstetri fiologi, obstetri patologi. Ed 2.


Jakarta : EGC 1998 : Bab Komplikasi Akibat Langsung Kehamilan.

4. Emedicine.medscape.com/article/254751-overview, author :Dotun A Ogunyemi,


MD, Coauthor: Alex Fong, MD, Jun 19,2009

5. Obstetri Patologi. Ed 1984. Bandung : Elstar Offset. Bab Gestose.

6. http://www.mdguidelines.com/hyperemesis-gravidarum/differential-diagnosis