Anda di halaman 1dari 43

BUKU PEDOMAN

PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN

Oleh :
Tim PBL

DEPARTEMEN PENIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
2010
PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan
karunianya buku pedoman Praktek Belajar Lapangan (PBL) ini dapat selesai.

Buku pedoman PBL ini disusun untuk dijadikan pedoman dan petunjuk bagi
para mahasiswa, pembimbing lapangan, pembimbing laporan, serta pihak-pihak
terkait agar pada pelaksanaannya dapat berjalan secara terarah dan terpadu
sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Buku pedoman ini merupakan edisi keenam sebagai pedoman pelaksanaan


PBL bagi mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat FKIK Unsoed Purwokerto
angkatan 2009. Dalam penyusunan buku ini, sudah berusaha menampung
perbaikan dari berbagai aspek yang menyangkut pelaksanaan PBL atas dasar
masukan-masukan dari mahasiswa, instansi terkait, serta masukan hasil
lokakarya kurikulum berbasis kompetensi.

Pada kesempatan ini pula kami sampaikan terima kasih dan penghormatan
sebesar-besarnya kepada Dekan FKIK dan Ketua Jurusan Kesmas Unsoed
Purwokerto yang telah memberi kepercayaan kepada kami untuk mengelola dan
mengkoordinasi pelaksanaan PBL semester gasal tahun ajaran 2009-2010.

Kami menyadari dengan keterbatasan yang ada, buku pedoman ini masih
memerlukan perbaikan yang berkelanjutan seiring perkembangan ilmu
pengetahuan dan dinamika masyarakat. Oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak merupakan penghargaan tersendiri bagi kami untuk terus berkarya
memperbaiki diri demi kesempurnaan karya berikutnya.

Purwokerto, September 2010

Tim Penyusun
DAFTAR ISI

Pengantar …………………………………….…....................................... ii
Daftar Isi ............................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................. 1
B. Praktek Belajar Lapangan I .............................................. 2
C. Praktek Belajar Lapangan II.............................................. 4
D. Praktek Belajar Lapangan III ..................................... 5
BAB II. PELAKSANAAN PBL .
A. Bentuk Kegiatan .............................................................. 6
B. Lama Kegiatan ................................................................. 6
C. Pembekalan ..................................................................... 6
D. Lokasi Kegiatan ............................................................... 7
E. Jadwal Kegiatan .............................................................. 8
BAB III. SISTIMATIKA LAPORAN DAN PENILAIAN
A. Sistimatika ....................................................................... 9
B. Penilaian ........................................................................ 12
C. Tata Tertib ....................................................................... 14
D. Sangsi ........................................................................ 15
BAB IV. PEMBIMBING PBL
A. Dosen Pembimbing Lapangan ........................................ 16
B. Pembimbing Institusi Kesehatan....................................... 16

BAB V . PENUTUP.............................................................................. 17

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Visi dan misi Jurusan Kesehatan Masyarakat FKIK yakni menghasilkan


lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta memiliki
kemampuan akademik yang professional di bidang kesehatan masyarakat,
untuk mengantisipasi dan menyiapkan ke arah tersebut maka Jurusan
Kesehatan Masyarakat FKIK Unsoed menerapkan Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) yang berorientasi kepada penyiapan mutu lulusan yang
diharapkan mampu memenuhi tuntutan masyarakat.

Untuk menyiapkan dan membekali mahasiswa agar menjadi lulusan


seperti yang diharapkan maka Jurusan Kesehatan Masyarakat FKIK Unsoed
memberlakukan Persyaratan bahwa mahasiswa harus menempuh mata kuliah
Praktek Belajar Lapangan (PBL) sebagai mata kuliah wajib. Melalui mata
kuliah ini mahasiswa diharapkan mendapatkan kemampuan profesional
Sarjana Kesehatan Masyarakat yang memiliki keunggulan kemampuan
spesifik yaitu :
a. Mahasiswa memiliki kemampuan menganalisis situasi dan
mengidentifikasi masalah kesehatan.
b. Mahasiswa memiliki kemampuan menetapkan prioritas masalah
kesehatan dan alternatif pemecahannya.
c. Mahasiswa mampu mengembangkan program intervensi untuk
memecahkan masalah kesehatan.
d. Mahasiswa memiliki pengalaman belajar di masyarakat sehingga
terbentuk sikap tanggap dan peduli terhadap permasalahan kesehatan di
masyarakat.

Praktek Belajar Lapangan pada Jurusan Kesehatan Masyarakat FKIK


Unsoed untuk program S1 reguler total bobot mata kuliah 6 SKS yang terbagi
ke dalam PBL-I pada semester V, PBL-II pada semester VI, serta PBL-III pada
semester VII, dengan masing-masing bobot 2 SKS.
B. Praktek Belajar Lapangan I (PBL I) Keluarga Berencana, Perbaikan Gizi Masyarakat, Pencegahan dan
Pemberantasan Penyakit Menular
Praktek Belajar Lapangan I merupakan proses belajar mahasiswa
pada tahap analisis situasi dan prioritas masalah. Analisis situasi merupakan d. Analisis faktor lingkungan
tahap awal dari satu siklus pemecahan masalah (Problem Solving Cycle). Analisis ini mencakup lingkungan fisik, biologis, dan sosial, seperti standar
Tujuan analisis situasi adalah mengumpulkan data dan informasi sebanyak- rumah sehat, sarana mandi, cuci, kakus (MCK) ketersediaan sarana air
banyaknya tentang kondisi kesehatan wilayah yang akan berguna dalam bersih, pembuangan limbah, pembuangan sampah, sosial ekonomi, dan lain-
menetapkan permasalahan dan dalam rangka perencanaan program dan lain.
analisis hambatan. Selanjutnya mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan
yang ada dan merumuskan beberapa masalah kesehatan utama melalui TUJUAN PBL I
tahapan penentuan prioritas masalah di wilayah masing-masing.
Tahap analisis situasi didasarkan pada kerangka konsep Hendrick 1. Tujuan Instruksional Umum
L.Blum yang menyatakan bahwai terdapat 4 faktor yang mempengaruhi Mahasiswa mengenal dan memiliki pengalaman belajar di masyarakat,
derajat kesehatan masyarakat yaitu faktor genetika, faktor pelayanan memotret kondisi kesehatan masyarakat dan mengidentifikasi masalah-
kesehatan, faktor perilaku masyarakat, dan faktor lingkungan (Notoatmodjo, masalah kesehatan masyarakat dari aspek lingkungan, perilaku, pelayanan
2002). Keempat faktor tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, kesehatan, dan kependudukan maupun hal-hal yang berkaitan dengan
yang sifat interaksinya dapat saja positif atau negatif terhadap derajat manajemen organisasi pada unit pelayanan kesehatan masyarakat yaitu
kesehatan. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Mengidentifikasi masalah-
Untuk itu, analisis situasi kesehatan pada PBL I ini mencakup aspek-aspek : masalah kesehatan yang ada dan merumuskan beberapa masalah kesehatan
utama melalui tahapan penentuan prioritas masalah di wilayah masing-
a. Analisis aspek kependudukan masing.
Hasil analisis ini akan menghasilkan informasi tentang ukuran-ukuran
demografi dalam suatu wilayah tertentu seperti jumlah penduduk, jumlah 2. Tujuan Instruksional Khusus
penduduk menurut umur, agama, mata pencaharian, pendidikan, angka Setelah melaksanakan PBL I diharapkan ;
kelahiran, kematian dan sejenisnya. a. Mahasiswa dapat menjelaskan struktur organisasi, tatalaksana, tugas
pokok dan fungsi Puskesmas sebagai tempat pelayanan kesehatan
b. Analisis aspek program dan pelayanan kesehatan masyarakat.
Hasil analisis ini memperoleh data berkaitan dengan keberadaan sarana b. Mahasiswa dapat menjelaskan proses perencanaan di tingkat puskesmas.
kesehatan, jumlah tenaga medis, cakupan layanan kesehatan, kunjungan c. Mahasiswa dapat menganalisis situasi masalah- masalah kesehatan
kesehatan (visit rate), sepuluh besar penyakit, pemanfaatan bidan desa, masyarakat dari aspek lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan
posyandu, polindes dan sejenisnya terkait dengan keberadaan institusi kependudukan.
kesehatan. d. Mahasiswa dapat mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan yang
ditemukan dalam bentuk rumusan masalah-masalah kesehatan yang
c. Analisis perilaku masyarakat perlu mendapatkan pemecahan lebih lanjut.
Hasil analisis ini memberi gambaran tentang pengetahuan, sikap dan perilaku e. Mahasiswa dapat menentukan prioritas masalah kesehatan
masyarakat terhadap keberadaan program-program kesehatan seperti
Promosi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Ibu dan Anak serta
C. Praktek Belajar Lapangan II (PBL II) BAB II
Pada PBL II, mahasiswa mampu menganalisis faktor-faktor penyebab
dari prioritas masalah yang ditemukan pada PBL I serta menentukan PELAKSANAAN PBL
alternatif-alternatif pemecahan masalah. Analisis faktor-faktor penyebab dari
prioritas masalah tersebut dilakukan dengan cara mengkaji teori-teori dan A. Bentuk Kegiatan
hasil-hasil penelitian yang relevan. Pola pelaksanaan PBL mencakup beberapa kegiatan yaitu pembekalan,
penyusunan proposal dan instrument kegiatan, pelaksanaan di lapangan,
TUJUAN PBL II penyusunan laporan, seminar hasil, serta pengumpulan laporan.
1. Tujuan Instruksional Umum
Mahasiswa mampu merumuskan penyebab utama dari prioritas masalah B. Lama Kegiatan
kesehatan dan menentukan alternatif-alternatif pemecahan masalah Kegiatan PBL terbagi dalam tahap I, II, III dengan bobot masing-masing
2. Tujuan Instruksional Khusus tahapan PBL adalag 2 SKS setara dengan 14 (empat belas) kali tatap muka
a. mahasiswa mampu menganalisis faktor-faktor penyebab dari prioritas masing-masing 100 menit sehingga total lebih kurang 23 jam, maka kegiatan
masalah yang ditemukan pada PBL I. dirancang dalam bentuk 8 kali tatap (11 jam) untuk pembekalan dan 3 hari
b. Mahasiswa mampu merumuskan penyebab utama dari prioritas efektif (12 jam) kegiatan di lapangan.
masalah kesehatan di wilayah tersebut
c. Mahasiswa mampu menentukan alternatif-alternatif pemecahan C. Pembekalan
masalah . Mahasiswa wajib mengikuti acara pembekalan yang dilaksanakan di
FKIK Jurusan Kesmas masing-masing 100 menit.
D. Praktek Belajar Lapangan III (PBL III)
1. Materi Pembekalan PBL I :
Pada PBL III mahasiswa mampu menetapkan dan melaksanakan a. Konsep PBL I
alternatif pemecahan masalah kesehatan yang dipilih melalui intervensi b. Kebijakan Pembangunan Kesehatan
langsung. Bentuk intervensi yang akan dilakukan dapat secara fisik maupun c. Pendekatan Kemasyarakatan
non fisik. d. Analisis Situasi dan Prioritas Masalah
e. Teknik Pengumpulan Data
Tujuan f. Teknik Sampling
1. Tujuan Instruksional Umum g. Teknik Pembuatan Kuesioner
mahasiswa mampu menetapkan dan melaksanakan alternatif pemecahan 2. Materi Pembekalan PBL II :
masalah kesehatan yang dipilih melalui intervensi langsung. a. Konsep PBL II
2. Tujuan Instruksional Khusus b. Desain Penelitian
c. Pengembangan Kuesioner
1. Mahasiswa dapat menetapkan alternatif pemecahan masalah d. Analisis Data
kesehatan e. Alternatif Pemecahan Masalah Kesehatan
2. Mahasiswa dapat melaksanakan intervensi atau kegiatan untuk
memecahkan masalah kesehatan
3. Mahasiswa dapat mengevaluasi intervensi yang dilakukan
3. Materi Pembekalan PBL III :
a. Konsep PBL III
b. POA (Plan Of Action) E. Jadwal Kegiatan
c. Pemberdayaan Masyarakat
d. Teknik Intervensi Kesehatan (KIE) NO. TANGGAL KEGIATAN
e. Teknologi Tepat Guna 1. 9 dan 16 Oktober 2010 Pembekalan
f. Teknik evaluasi Program kesehatan 2. 18-30 Oktober 2010 Penyusunan Proposal
3. 1 November 2010 Pengumpulan Proposal
D. Lokasi Kegiatan
Lokasi kegiatan dan kelompok tersebar di 12 (dua belas) desa pada 6 4. Minggu I 6&7 November Kegiatan PBL di lapangan
(enam) wilayah Puskesmas di Kabupaten Purbalingga : 2010
1. Puskesmas Padamara Minggu II 13&14 November
a. Desa Karang Gambas 2010
b. Desa Karang Jambe 5. 15-27 November 2010 Penyusunan laporan
2. Puskesmas Kalimanah 6. 29 November 2010 Pengumpulan Laporan
a. Desa Selabaya 7. 4, 11,18 Desember 2010 Seminar hasil
b. Desa Babakan 8. 27 Desember 2009 Pengumpulan laporan
3. Puskesmas Kaligondang
a. Desa Slinga
b. Desa Selanegara
4. Puskesmas Kemangkon
a. Desa Penican
b. Desa Bakulan
5. Puskesmas Bojongsari
a. Desa Brobot
b. Desa Kajongan
6. Puskesmas Bobotsari
a. Desa Gandasuli
b. Desa Karangduren
H. Lampiran (Kuesioner)
BAB III 2. Sistimatika penulisan laporan :
Halaman Judul
SISTIMATIKA DAN PENILAIAN Halaman Pengesahan
Ringkasan
A. Sistimatika Proposal dan Laporan Kata Pengantar
 Baik proposal kegiatan maupun laporan PBL I ditulis dalam bahasa Daftar Isi
Indonesia baku pada kertas HVS 70 g berukuran 21.25 x 28 cm atau Daftar Tabel
kuarto A4 dan dicetak menggunakan tinta hitam. Penulisan menggunakan Daftar Gambar
huruf standar yaitu Times New Roman dengan font 12, pada program Daftar Lampiran
software MS Word. Pengetikan meggunakan jarak 2 spasi, dengan batas BAB I. PENDAHULUAN
4 cm dari tepi kiri, 3 cm dari tepi kanan, kiri dan bawah. A. Latar Belakang
 Penyusunan Proposal diperlukan untuk menyusun rencana pelaksanaan B. Tujuan
PBL pada masing-masing kelompok. Proposal disusun dengan bimbingan C. Manfaat
dosen pembimbing lapangan dengan dibuktikan tanda persetujuan dosen BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
pembimbing lapangan. Proposal yang telah disetujui dosen pembimbing BAB III. METODE PELAKSANAAN
dijilid kemudian diserahkan ke panitia PBL III sebanyak 3 eksemplar. A. Tempat dan Waktu
 Laporan yang sudah disahkan oleh Kepala Puskesmas dan Pembimbing B. Jenis dan Metode
Lapangan diserahkan ke panitia PBL III sebanyak 3 eksemplar. C. Definisi Operasional
D. Populasi dan Sampel
PBL I E Instrumen
1. Sistimatika Penulisan Proposal : F. Pengumpulan data
A. Pendahuluan G Analisa Data
B. Tujuan BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Manfaat A. Hasil (s/d Prioritas)
D. Tinjauan Pustaka B. Pembahasan
E. Metode Pelaksanaan BAB V. SIMPULAN dan SARAN
1. Tempat dan Waktu A. Simpulan
2. Jenis Penelitian B. Saran
3. Definisi Operasional DAFTAR PUSTAKA
4. Populasi dan Sampel LAMPIRAN (Kuesioner, Gambar alat, peta, dokumentasi, dll)
5. Instrumen
6. Pengumpulan data
7. Analisa Data
8. Penentuan Prioritas Masalah
F. Jadwal Kegiatan
G. Daftar Pustaka
PBL III B. PENILAIAN
Penilaian PBL mencakup komponen-komponen seperti pada bagan di
1. Sistimatika penulisan Proposal : bawah ini.
a. Judul
PBL I dan II
b. Pendahuluan Nilai Akhir
c. Perumusan Masalah (100 %)
d. Tinjauan Pustaka
e. Tujuan
f. Manfaat
g. Khalayak Sasaran TEAM DPL TEAM PENGUJI
h. Metode Penerapan Kegiatan (40 %) (60 %)
i. Rancangan Evaluasi
j. Matrik Rencana Kegiatan
k. Jadwal
l. Personalia Kegiatan DISIPLIN PROPOSAL ISI LAPORAN SEMINAR
m. Daftar Pustaka WAKTU Bobot 30 % Bobot 30 % Bobot 30 %
n. Lampiran Bobot 10 % Penilai : Penilai : (3) Penilai : (3)
Pembimbing Penguji Penguji
2. Sistimatika penulisan laporan : Penilai Independen Independen
PANITIA Puskesmas Puskesmas
a. Judul
Pembimbing Pembimbing
b. Pendahuluan
c.Perumusan Masalah 15 % 15 %
d. Tinjauan Pustaka Aspek Nilai Nilai
Aspek Aspek
e. Tujuan Kelompok Individu
f. Manfaat 1 .Kehadiran Penulisan Metode
g. Khalayak Sasaran Pembekala Cakupan Perolehan penyampaian
h. Metode Penerapan Kegiatan n Data
i. Hasil dan pembahasan 2. Kehadiran Keakutan Data Penguasaan
dilapangan Aspek
j. Matrik Hasil Kagiatan Metode Pelaksanaan Materi
k.Personalia Kegiatan 3. Kehadiran Hasil dan Pembahsan
seminar Kerjasama
l. Daftar Pustaka Kesimpulan Kemampuan
Kesinambungan menyampaikan
Lampiran (Gambar , alat, peta, dokumentasi, dll) Kreatifitas
Komponen Laporan pendapat
Keaktifan
PBL III C. Tata Tertib
Penilaian PBL III mencakup komponen-komponen seperti pada bagan di bawah
ini. Tata tertib bagi mahasiswa peserta PBL :
1. Mahasiswa wajib mengikuti semua tahapan pelaksanaan PBL, kecuali
sakit dengan bukti keterangan dari dokter.
Nilai Akhir
2. Mahasiswa wajib melaksanakan tugas sesuai dengan jadwal yang telah
(100 %)
ditentukan.
3. Mahasiswa wajib menjaga dan memelihara nama baik almamater.
4. Mahasiswa tidak diperkenankan mengikuti kegiatan organisasi yang
bersifat politik praktis.
5. Mahasiswa tidak diperkenankan melaksanakan kegiatan yang bersifat
menyinggung unsur SARA.
PRESENSI PROPOSAL Pelaksanaan Laporan
Bobot 10 %
D. Sanksi
Bobot 25 % Bobot 40 % Bobot 25 %
Penilai Penilai : Penilai :
PANITIA Penilai : Pembimbing Pembimbing Setiap pelanggaran akan dikenai sangsi sesuai dengan jenis pelangggaran
Pembimbing Independen Independen yang akan berpengaruh terhadap perolehan nilai akhir PBL, dengan ketentuan
Independen Puskesmas sebagai berikut ;
1. Pelanggaran ringan, akan dikenai teguran lisan dari dosen pembimbing.
2. Pelanggaran menengah, akan dikenai teguran keras dengan tulisan dari
pimpinan program.
Aspek Aspek Aspek Aspek 3. Pelanggaran berat akan dikenai sangsi penarikan dari lokasi PBL serta
1 .Kehadiran Penulisan Bentuk Penulisam keikutsertaannya dalam PBL dinyatakan gugur.
Pembekalan Kesesuian bentuk Intervensi Capaian
intervensi dng Metode Intervensi
2. Kehadiran permasalahan Intervensi Hasil
dilapangan’ Ketepatan Media Pembahasan
kelompok Partisipasi Kesimpulan
3. Kehadiran sasaran Individu
seminar Efektivitas biaya
Kesesuaian alat
evaluasi
Kesinambungan
antar komponen
BAB IV

PEMBIMBING PBL BAB V

Agar pelaksanaan PBL dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah PENUTUP
ditentukan, serta untuk mengantisipasi kendala-kendala yang kemungkinan akan
dijumpai mahasiswa pada saat di lapangan, maka dalam pelaksanaan PBL Agar pelaksanaan PBL dapat berjalan sesuai dengan rencana maka,
tersebut mahasiswa akan dibantu oleh sejumlah dosen pembimbing. kepada semua mahasiswa peserta PBL diwajibkan mengikuti tahapan-tahapan
pelaksanaan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Hal-hal yang bersangkutan
A. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dengan teknis dan peraturan lain yang belum tertuang dalam buku pedoman ini
Adapun tugas dosen pembimbing lapangan antara lain ; akan ditentukan kemudian.
1. Melakukan koordinasi dengan tempat ataupun institusi
kesehatan dimana mahasiswa melaksanakan PBL.
2. Memberikan bimbingan kepada mahasiswa peserta PBL
berkaitan dengan teknik penyusunan laporan sesuai dengan format Purwokerto, Oktober 2009
laporan yang telah ditentukan. Tim PBL
3. Membantu mahasiswa berkaitan dengan teknik pelaksanaan di
lapangan.
4. Memberikan bimbingan dan arahan berkaitan dengan teknik
pemilihan rumusan masalah, tujuan, kajian pustaka, metodologi,
pembahasan, hasil, serta kesimpulan. DAFTAR PUSTAKA
5. Melaksanakan penilaian lapangan terhadap mahasiswa

B. Dosen Pembimbing Institusi Kesehatan (DPI). ______________, 2006. Buku Pedoman Praktek Belajar Lapangan. Program
Adapun tugas DPI antara lain ; Sarjana Kesehatan Masyarakat Unsoed Purwokerto.
1. Memberikan petunjuk teknis dan informasi berkaitan dengan ______________, 2007. Buku Pedoman Praktek Belajar Lapangan. Jurusan
masalah kesehatan dimana mahasiswa melaksanakan PBL. Kesehatan Masyarakat FKIK Unsoed Purwokerto.
2. Membantu mahasiswa berkaitan dengan teknik pelaksanaan di Dian Ayubi, dkk. 2001. Buku Panduan Pengalaman Belajar Lapangan II.
lapangan. Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan
3. Melaksanakan penilaian lapangan terhadap mahasiswa Masyarakat. Universitas Indonesia. Jakarta.
Lembaga Penelitian. 2002. Panduan penulisan Usul dan Laporan Penelitian
serta Artikel Ilmiah. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Ngadiman, dkk. 2005. Buku Pedoman Praktek Belajar Lapangan. Program
Sarjana Kesehatan Masyarakat Unsoed Purwokerto.
Notoatmodjo, S. 2002. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta. Jakarta.
Tim Praktek Belajar lapangan. 2003. Pedoman Praktek Belajar Lapangan I.
Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Unsoed Purwokerto.
.

Lampiran 1 Konsep PBL I


Materi Pembekalan PBL I : Oleh: Ketua Tim PBL
A. Pengertian
a. Konsep PBL I Praktek belajar lapangan merupakan bagian dari proses pendidikan yang
b. Profil Kesehatan Banyumas berhubungan erat dengan pembinaan mahasiswa secara utuh serta
c. Tugas pokok dan fungsi Puskesmas pengembangan dan peningkatan kemampuan mahasiswa dalam mencermati
d. Pendekatan Kemasyarakata permasalahan-permasalahan kesehatan di masyarakat. Praktek Belajar
e. Analisis Situasi dan Prioritas Masalah Lapangan adalah mata kuliah yang bertujuan untuk menyiapkan lulusan yang
f. Teknik Pengumpulan Data memiliki sifat responsive, mengembangkan kemampuan mengidentifikasi
g. Teknik Sampling masalah untuk kemudian mencari alternatif pemecahan masalah-masalah
h. Teknik Pembuatan Kuesioner kesehatan di masyarakat. Oleh karena itu PBL merupakan bagian integral dari
kurikulum pendidikan tinggi dan merupakan persyaratan bagi setiap
mahasiswa FKIK Jurusan Kesehatan Masyarakat.
Hal ini bermakna bahwa status Praktek Belajar Lapangan adalah
sebagai intrakurikuler wajib yang termasuk ke dalam Mata Kuliah Keahlian
Berkarya (MKKB). Praktek Belajar Lapangan pada FKIK Jurusan Kesehatan
Masyarakat Unsoed untuk program S1 reguler total bobot mata kuliah 6 SKS
yang terbagi ke dalam PBL-I pada semester V, PBL-II pada semester VI, serta
PBL-III pada semester VII, dengan masing-masing berbobot 2 SKS. Besar
beban akademik ini diperoleh dari perhitungan kegiatan yang dilakukan oleh
mahasiswa dalam pelaksanaan PBL sebagai berikut :
a. Tahap persiapan, kepada mahasiswa diwajibkan mengikuti kuliah dalam
bentuk pembekalan yang berkisar antara 700 menit (tujuh kali tatap muka
@ 100 menit) yang identik dengan pertemuan separoh semester (tujuh
kali pertemuan).
b. Tahap pelaksanaan, kepada mahasiswa diwajibkan melakukan kegiatan
antara kain , penyusunan proposal, pendekatan masyarakat, pelaksanaan
program, dan penulisan laporan dalam waktu enam (6) minggu.

B. Praktek Belajar Lapangan I

Praktek Belajar Lapangan I merupakan proses belajar mahasiswa


pada tahap analisis situasi dan identifikasi masalah. Analisis situasi
merupakan langkah awal dalam rangka proses pemecahan masalah menurut manajemen organisasi pada unit pelayanan kesehatan masyarakat yaitu
siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) seperti bagan di bawah ini. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Mengidentifikasi masalah-
masalah kesehatan yang ada dan merumuskan beberapa masalah kesehatan
Analisis Situasi utama melalui tahapan penentuan prioritas masalah di wilayah masing-
masing.
Evaluasi Identifikasi
Masalah 2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah melaksanakan PBL I diharapkan ;
Monitoring Prioritas a. Mahasiswa dapat menjelaskan struktur organisasi, tatalaksana, tugas
Masalah pokok dan fungsi Puskesmas sebagai tempat pelayanan kesehatan
masyarakat.
Pelaksanaan Alternatif b. Mahasiswa dapat menjelaskan proses perencanaan di tingkat puskesmas.
Kegiatan Pemecahan c. Mahasiswa dapat menganalisis situasi masalah- masalah kesehatan
Masalah masyarakat dari aspek lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan
kependudukan.
Rencana Pelaksanaan d. Mahasiswa dapat mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan yang
ditemukan dalam bentuk rumusan masalah-masalah kesehatan yang
perlu mendapatkan pemecahan lebih lanjut.
Analisis situasi dan identifikasi masalah dilakukan dengan cara e. Mahasiswa dapat menentukan prioritas masalah kesehatan
pengumpulan data baik data primer maupun sekunder dari masyarakat.
Analisis situasi ini didasarkan pada kerangka konsep Hendrick L. Blum yang SASARAN
menggaris bawahi bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi terhadap
derajat kesehatan masyarakat yaitu factor genetika, pelayanan kesehatan, Praktek Belajar Lapangan I ini memiliki tiga kelompok sasaran yaitu ;
perilaku masyarakat , dan factor lingkungan. Dari analisis situasi dan mahasiswa, pemerintah daerah (Dinas Kesehatan Kabupaten), dan perguruan
identifikasi data yang dilakukan diharapkan akan dapat diketemukan masalah- tinggi. Dimana masing-masing kelompok sasaran mempunyai kemanfaatan
masalah kesehatan yang terdapat pada masyarakat tertentu. Sedangkan sebagai berikut:
tahapan selanjutnya seperti penentuan prioritas masalah dan alternatif a. Mahasiswa
pemecahan masalah akan dilaksanakan manakala mahasiswa melaksanakan Memperdalam pengertian, mengembangkan sikap responsif dan
PBL II dan III. penghayatan mahasiswa terhadap permasalah-masalah kesehatan di
C. Tujuan dan Sasaran PBL I masyarakat.
b. Pemerintah daerah (Dinas Kesehatan Kabupaten)
TUJUAN PBL I Memperoleh masukan dan bantuan pemikiran dalam rangka perencanaan
1. Tujuan Instruksional Umum dan pelaksanaan pembangunan masyarakat yang berwawasan
Mahasiswa mengenal dan memiliki pengalaman belajar di masyarakat, kesehatan.
memotret kondisi kesehatan masyarakat dan mengidentifikasi masalah- c. Perguruan Tinggi
masalah kesehatan masyarakat dari aspek lingkungan, perilaku, pelayanan Memperoleh umpan balik sebagai pengintegrasian mahasiswa dengan
kesehatan, dan kependudukan maupun hal-hal yang berkaitan dengan proses pembangunan kesehatan di tengah-tengah masyarakat, sehingga
kurikulum, materi perkuliahan dan pengembangan ilmu yang dikelola d. Pemilihan alat pengumpul data : tahapan ini pada dasarnya
perguruan tinggi dapat lebih disesuaikan dengan tuntutan nyata memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memastikan
pembangunan masyarakat di bidang kesehatan. apakah alat pengumpul data (kuesioner, wawancara, observasi
D. Pelaksanaan langsung)
1. Persiapan
Keberhasilan pelaksanaan Praktek Belajar Lapangan akan sangat e. Pengambilan sampel : tahapan ini berkaitan dengan keputusan teknik
ditentukan oleh kecermatan dan persiapan tim PBL sebelum mahasiswa pengambilan sampel yang dipilih serta jumlah sampel yang dianggap
melakukan kegiatan di lapangan. Untuk itu tahap persiapan harus mewakili dari masyarakat sasaran.
dimanfaatkan sebaik mungkin yang meliputi kegiatan :
a. Koordinasi internal (FKIK Jurusan Kesehatan Masyarakat) yang f. Pengambilan data : kegiatan ini merupakan tahapan akhir dari
mencakup ; kegiatan PBL I di lapangan, dimana mahasiswa diharapkan
- Penunjukkan tim pengelola PBL memperoleh data atau informasi dari masyarakat dengan
- Konsultasi dengan pimpinan menggunakan instrument yang sudah mereka siapkan.
- Rekapitulasi calon peserta PBL
- Penentuan pembimbing lapangan 3. Pasca Pelaksanan PBL I
Setelah mahasiswa melaksanakan kegiatan analisis situasi, identifikasi
b. Koordinasi external (Dinas Kesehatan Kabupaten) yang mencakup ; masalah serta penentuan prioritas masalah, maka tahapan berikutnya
- Perijinan adalah mahasiswa diwajibkan membuat laporan yang merupakan bahan
- Permohonan lokasi PBL evaluasi pelaksanaan Praktek Belajar Lapangan I.
- Penjelasan teknis
- Permohonan penyampaian materi pembekalan E. Penutup
Keberhasilan pelaksanaan PBL I sangat ditentukan antara lain adanya
2. Pelaksanan PBL I meliputi beberapa kegiatan yaitu : kerjasama yang baik antara FKIK Jurusan Kesehatan Masyarakat, Dinas
a. Pembekalan teknis: diberikan kepada mahasiswa berkaitan dengan Kesehatan Kabupaten Banyumas, Puskesmas dan desa lokasi kegiatan.
tata urutan atau langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan oleh Selama kegiatan di lapangan mahasiswa dituntut mampu menyesuaikan
peserta PBL. diri dengan masyarakat, menjunjung tinggi moral dan etika hidup
bermasyarakat yang pada akhirnya dapat memberikan andil terhadap
b. Pembekalan materi: secara umum berisi tentang kemampuan dasar pembangunan masyarakat di bidang kesehatan.
yang harus dimiliki berkaitan dengan penguasaan pengetahuan yang
sangat terkait dan mendukung terhadap pelaksanaan PBL di lapangan. Daftar Pustaka

c. Observasi : mencakup observasi di Puskesmas yang bertujuan untuk Dian Ayubi dkk. 2001. Buku Panduan Pengalaman Belajar Lapangan II.
mendapatkan informasi tentang pelayanan kesehatan kaitannya Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan
dengan tugas pokok dan fungsi Puskesmas serta observasi desa Masyarakat. Univ. Indonesia.
dilakukan baik di kantor desa, kepada pemuka desa, tokoh Lembaga Penelitian. 2002. Panduan penulisan Usul dan Laporan Penelitian
masyarakat, serta masyarakat pada umumnya dalam rangka menggali serta Artikel Ilmiah. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
informasi tentang masalah-masalah kesehatan.
Tim Praktek Belajar lapangan. 2003. Pedoman Praktek Belajar Lapangan I.
Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Unsoed Purwokerto. Analisis Situasi Kesehatan
Tholib M. 2003. Diktat Kuliah Pembekalan KKN. Lembaga Pengabdian Oleh : Elviera Gamelia, SKM, M.Kes
Masyarakat. Universitas Jenderal Soedirman.

Pengertian Analisis Situasi

Analisis situasi merupakan langkah awal dalam Problem Solving Cycle


(Siklus Pemecahan Masalah). Dalam proses pemecahan masalah selalu dimulai
dari analisis situasi. Proses pemecahan masalah diharapkan benar-benar
memecahkan masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Semua itu
memerlukan dukungan informasi yang tepat dari proses analisis situasi.

Tujuan analisis situasi adalah mengumpulkan informasi sebanyak-


banyaknya tentang kondisi kesehatan di suatu daerah yang akan berguna untuk
menetapkan permasalahan (identifikasi masalah). Analisa situasi juga dapat
digunakan dalam rangka perencanaan program dan analisis hambatan.

Dengan dilakukan analisis situasi kita dapat memotret kondisi kesehatan


masyarakat yang sedang dihadapi suatu daerah serta determinan-determinannya
atau faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Sehingga
dapat diperkirakan secara tidak langsung derajat kesehatan masyarakat atau
masalah kesehatan yang dialami masyarakat.

Analisis Situasi merupakan proses pengamatan situasi kini (present


condition atau the existing condition) dengan melakukan pengamatan secara
langsung di lapangan dan mengumpulkan informasi atau data dari laporan-aporan
atau publikasi melalui metode observasi dan wawancara.

Dari data yang terkumpul perlu kita dapat mengurai masalah kesehatan
masyarakat dengan pendekatan konsep : Hl. Blum, pohon masalah, faktor
pelayanan kesehatan atau program masyarakat dan lingkungan.

Hendrick L.Blum mengemukakan konsep tentang faktor-faktor apa yang


mempengaruhi derajat kesehatan. Terdapat empat faktor yang mempenaruhi
derajat kesehatan masyarakat yaitu genetika (keturunan), pelayanan kesehatan,
perilaku masyarakat, lingkungan. Keempat faktor tersebut saling berinteraksi satu
dengan lainnya dengan sifat interaksi dapat positif maupun negatif terhadap di masyarakat. Indikator keadaan kesehatan dapat dibandingkan dengan standar
derajat kesehatan. Besar kecinya pengaruh dari masing-masing faktor Hl. Blum pelayanan kesehatan, cakupan, target program kesehatan di daerahnya
sangat tergantung dari masalah kesehatan yang sedang dihadapi. (puskesmas, kabupaten, propinsi, nasional) atau dibandingkan dengan daerah
lain serta dapat dianalisa kejadian dari waktu ke waktu (trend / kecenderungan).
Faktor Penduduk
Herediter Indikator yang biasa digunakan untuk mengukur derajat kesehatan secara
Faktor umum adalah angka kematian (mortalitas) dan angka kesakitan (moebiditas) .
Faktor Pelayanan
Lingk Kesh a. Angka Kematian /Mortalitas
Fisik Promotif Angka kematian merupakan indikator status kesehatan dan sekaligus
Biologi
s
Derajat Prevenrif juga indikator kependudukan.
Kuratif  Angka Kematian Bayi ( Infant Mortality Rate /IMR )
Sosio Kesehatan Rehabilitatif
 Angka Kematian Ibu ( Martenal Mortality Rate/MMR )
kultural ental  Angka Kematian menurut Penyebab Tertentu ( Age Specific Death
Sosial Rate/ASDR )

Ketiga angka kematian tersebut merupakan indikator yang peka untuk


menggambarkan status kesehatan dibanding dengan Angka Kematian Kasar
Faktor Perilaku (Crude Death Rate ) atau Angka Kematian Menurut Umur ( age Spesific
Sikap Death Rate ) yang lebih tepat untuk menggambarkan keadaan demografis.
Gaya hidup
b. Angka Kesakitan /Morbiditas
Gambar 1. Konsep Hl. Blum Angka kesakitan adalah jumlah orang yang terkena penyakit tertentu.
Mengikuti kerangka Konsep HL. Blum, analisis situasi kesehatan selayaknya Ada 2 macam cara yang digunakan untuk mengukur angka yaitu Angka
mengikuti 5 ( lima ) aspek, yaitu : Insidens (Incidence Rate )dan Angka Prevalens (Prevalence Rate).
 Angka Insidens
Angka Insidens dari suatu penyakit tertentu adalah jumlah kasus baru
yang terjadi di kalangan penduduk selama periode waktu tertentu.
 Angka Prevalens
1. Analisis Derajat ( Masalah ) Kesehatan
Adalah jumlah orang yang menderita penyakit tertentu dalam satu
kelompok penduduk tertentu dalam suatu waktu tertentu pula. Ada 2
Sehat dapat mencakup pengertian yang sangat luas, yaitu bukan saja
metode penghitungan yaitu:
sehat dalam arti bebas dari penyakit tetapi termasuk juga tercapainya
- Point Prevalens : penghitungan jumlah orang yang menderita
kesejahteraan fisik, sosial dan mental.
penyakit tertentu dalam waktu singkat .
- Period Prevalens : Jumlah kasus penyakit selama 1 periode
Untuk menilai suatu kondisi kesehatan digunakan indikator-indikator yang
tertentu
merupakan kesepakatan mengenai kuantifikasi fenomena kesehatan yang terjadi
2. Analisis Lingkungan Kesehatan a. Perilaku terhadap sakit : bagaimana manusia berespons terhadap rasa sakit
yang ada pada dirinya baik secara pasif maupun aktif. Perilaku ini dapat
Aspek lingkungan dianggap faktor yang memiliki pengaruh yang paling disesuaikan dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit :
besar terhadap derajat kesehatan. Secara spesifik aspek lingkungan yang  Perilaku berhubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan.
berhubungan dengan kesehatan yaitu lingkungan fisik, biologis dan lingkungan Misal : PHBS, gizi seimbang, olahraga dll.
sosial.  Perilaku pencegahan penyakit. Misal : Imunisasi, tidur memakai kelambu
a. Lingkungan Fisik untuk mencegah gigitan nyamuk malaria, dll
Komponen lingkungan fisik diantaranya mencakup suhu udara, kelembaban,  Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan. Misal : Usaha
penyinaran matahari, kebisingan, dan lain-lain. mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan modern maupun ke fasilitas
kesehatan tradisional (dukun, sinshe dll).
b. Lingkungan Biologi
Komponen yang termasuk dalam lingkungan biologis adalah sanitasi, kuman b. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan
penyakit, vektor, binatang ternak, dll. Perilaku ini menyangkut respons terhadap fasilitas pelayanan, cara
Indikator yang dapat digunakan untuk menganalisis lingkungan biologis : pelayanan, petugas kesehatan, dan obat-obatan.
akses terhadap air bersih, jumlah jamban dan pembuangan sampah serta
keberadaan vektor penyakit. c. Perilaku terhadap makanan
Perilaku ini meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek terhadap
c. Lingkungan Sosial-Ekonomi makanan serta unsur-unsur yang terkandung di dalamnya, pengelolaan
Informasi mengenai keadaan sosial ekonomi masyarakat juga sangat makanan dll.
bermanfaat dalam menganalisis faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap
derajat kesehatan. d Perilaku terhadap lingkungan kesehatan
Data ekonomi yang bisa digunakan: Pendapatan Asli Daerah (PAD), Lingkup perilaku ini mencakup :
pendapatan perkapita, produk Domestik Refional Bruto (PDRB) per kapita,  Perilaku sehubungan dengan air bersih
Upah Minimal Regional (UMR),  Perilaku berhubungan dengan pembuangan limbah
Data lingkungan sosial yang dapat digunakan yaitu pranata (lembaga-  Perilaku berhubungan dengan rumah yang sehat
lembaga) yang ada dan hidup di masyarakat seperti pengaruh lembaga adat  Perilaku berhubungan dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk
istiadat, organisasi sosial kemasyarakatan, organisasi keagamaan dan lain-
lain. Sumber data dan informasi tentang analisis perilaku kesehatan dapat
diambil dari SUSENAS, SKRT, sumber data langsung dari masyarat, pendapat
3. Analisis Perilaku Kesehatan
tokoh masyarakat, agama.
Analisis Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons
seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan konsep sehat-sakit,
penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, lingkungan serta kepercayaan-
4. Analisis Program dan Pelayanan Kesehatan
kepercayaan kesehatan yang ada dimasyarakat.. Respons dapat bersifat pasif
Pelayanan kesehatan meliputi rumah sakit, puskesmas, puskesmas
(pengetahuan, persepsi dan sikap ) maupun aktif ( tindakan nyata atau praktek ).
kelililing, bidan desa, dokter praktek, POLINDES, posyandu. Sumber data dan
Sedangkan stimulus :
informasi dapat diambil dari Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu
Puskesmas (SP2TP), Sistem Pencatatan Rumah Sakit (SP2RS), SUSENAS, - Analisis peran serta masyarakat
SKRT, dll. Peran serta masyarakat seringkali menjadi faktor penting dalam
Analisis program dan pelayanan kesehatan dapat dilakukan dengan keberhasilan program kesehatan. Kesulitan yang sering dihadapi dalam
menggunakan pendekatan sistem, yaitu denagn memperhatikan komponen input- analisis peran serta masyarakat yaitu belum adanya ukuran standar peran
proses-output. Akan tetapi aspek proses dalam program dan pelayanan serta masyarakat dalam program kesehatan, sehingga indikatornya tidak
kesehatan sanat komplek dan berbeda-beda antar program maka analisis lebih dapat dibandingkan dengan pengukuran pada daerah lain atau waktu yang
ditekankan pada aspek input dan output serta peran serta masyarakat. lain.
Contoh dari analisis partisipasi masyarakat dalam meningktkan kegiatan
- Analisis input posyandu, rasio kader aktif dengan jumlah balita di desa X
Input adalah sub elemen- sub elemen yang diperlukan sebagai masukan
untuk berfungsinya sistem. 5. Analisis Faktor Hereditas dan kependudukan
Imput meliputi tenaga, dana, fasilitas dan sarana kesehatan, kebijakan, Analisis faktor hereditas/keturunan yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan
teknologi yang diterapkan. biasanya sulit didapat untuk itu dapat menggunakan analisis demografi.
Langkah dalam analisis input : merinci secara jelas imput yang ada baik Analisis hereditas/keturunan dapat dilakukan dengan melihat penyakit-penyakit
secara kuantitatif maupun kualitatif yang terjadi dipengaruhi oleh faktor keturunan, misal : Penyakit Diabetes Mellitus.
Misalkan, data sumber daya tenaga kesehatan di puskesmas X tahun Y Analisis demografi penting untuk menentukan besaran masalah dan besaran
 dianalisis “Kecukupan tenaga kesehatan” target program dan analisis indikator-Indikator lainnya
Indikator : Jumlah balita  sasaran imunisasi, sasaran PMT, dll
Rasio nakes dengan jumlah penduduk yan harus dilayani Untuk melakukan analisis kependudukan data dan informasi yang diperlukan:
Rasio bidan dengan jumlah ibu hamil, dll Jumlah, komposisi serta struktur penduduk, pertumbuhan penduduk, persebaran
penduduk, informasi spesifik lainnya : jumlah bayi dan balita, ibu hamil, fertilitas,
- Analisis Output Upaya kesehatan tingkat pendidikan, mata pencaharian dll.
Dari berbagai pelaksanaan program dapat dilakukan analisis tentang hasil Data dapat diperoleh secara tidak langsung (sekunder) di kantor BPS dan data
yang dicapai oleh program upaya kesehatan. Dalam analisis ini dibedakan primer dengan wawancara menggunakan kuesioner.
“Pencapaian program” dan “Output program”
Pencapaian program lebih bersifat statis artinya hanya menggambarkan METODE ANALISIS
keadaan sampai suatu saat tertentu (misal: pencapaian imunisasi campak Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk menganalisis data yang ada.
yang dinyatakan dalam %) Analisis situasi kesehatan selanjutnya menggunakan metode-metode
Output program lebih bersifat dinamis artinya, menggambarkan berapa epidemiologi untuk menganalisis lebih lanjut. Tujuannya untuk mengetahui
banyak hasil yang diprosuksi per satuan waktu (per bulan) misal. Jumlah epidemiologi penyakit pada kelompok masyarakat tertentu, dapat digunakan
pasien pada bulan x. Dengan mengetahui output pada diketahui pola/ trend untuk penentuan prioritas masalah dan tujuan program yang akan dicapai.
selama setahun. Trend ini pada dasarnya menggambarkan kapasitas upaya
kesehatan dan berguna untuk penetapan sasaran pada masa yang akan
datang.
Beberapa analisis sederhana yang dapat dilakukan pada ANALISIS SITUASI MENETAPKAN PRIORITAS MASALAH
kesehatan adalah Arih Diyaning Intiasari, SKM, MPH
1. Analisis pembandingan
Data dari suatu indikator dibandingkan dengan standar yg berlaku umum atau
dibandingkan dengan target yang harus dicapai. (Standar lokal, nasional, Penetapan prioritas masalah menjadi bagian penting dalam proses
internasional, nilai cakupan, target dari suatu program kesehatan). Dapat pula pemecahan masalah dikarenakan dua alasan. Pertama, karena terbatasnya
dibandingkan dengan data yang didapat dari daerah lain sumber daya yang tersedia, dan karena itu tidak mungkin menyelesaikan semua
2. Metode kecenderungan (trend) masalah. Kedua, karena adanya hubungan antara satu masalah dengan masalah
Analisis kecencerungan sangat berguna untuk melihat kecenderungan lainnya, dan karena itu tidak perlu semua masalah diselesaikan (Azwar, 1996).
kejadian penyakit di suatu daerah, melihat apakah kejadian penyakit tertentu Ada beberap teknik atau metode yang dapat digunakan untuk menetapkan
mempunyai kecenderungan siklus atau tidak serta dapat memperkirakan prioritas masalah baik dengan menggunakan pendekatan kuantitatif maupun
hubungan kejadian penyakit dengan terjadinya kasus-kasus tertentu kualitatif sebagai berikut.
A. Metode
Kuantitatif
PENYAMPAIAN DATA
1. Teknik Kriteria Matriks (Criteria Matrix Technique)
Penyajian data analisa situsi dapat berupa
Kriteria yang dipergunakan banyak macamnya. Secara umum dapat
 Naratif atau deskriptif untuk data data kualitatif dibedakan atas tiga macam:
 Tabel secara sistematik dan detail, mudah dipahami a. Pentingnya masalah
 Grafik ,lebih memudahkan pembacaan dan intrepretasi data jenis : histogram, Makin penting (importancy) masalah tersebut, makin diprioritaskan
grafik garis, grafik batang, pie chart, scatter plot dll penyelesaiannya. Beberapa ukuran pentingnya masalah sebagai
berikut:
DAFTAR PUSTAKA Besarnya masalah (prevalence)
Akibat yang ditimbulkan oleh masalah (severity)
Modul Analisis Situasi kesehatan Dati II dan sistem Informasi Kesehatan.1998. Kenaikan besarnya masalah (rate of increase)
Modul Pelatihan Perencanaan Kesehatan Terpadu. Fakultas Kesehatan Derajat keinginan masyarakat yang tidak dipenuhi
Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta. (degree of unmeet need)
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat.Penerbit Rineka Cipta, Keuntungan sosial karena selesainya masalah
Jakarta (social benefit)
Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah (public
concern)
Suasana plitik (political climate)
b. Kelayakan teknologi
Makin layak teknologi yang tersedia dan yang dapat dipakai untuk
mengatasi masalah (technical feasibility), makin diprioritaskan masalah
tersebut.
c. Sumber daya yang tersedia
Makin tersedia sumberdaya yang dapat dipakai seperti tenaga, dana b. Isi setiap kolom dengan hasil perkalian antara bobot dengan skor
dan sarana untuk mengatasi masalah (resource ability) makin masing-masing masalah. Besarnya skor tidak boleh melebihi bobot
diprioritaskan masalah tersebut. yang telah disepakati. Bila ada perbedaan pendapat dalam
menentukan besarnya bobot dan skor yang dipilih reratanya.
Nilai skor antara 1 (tidak penting) sampai 5 (sangat penting) untuk setiap c. Jumlahkan nilai masing-masing kolom dan tentukan prioritasnya
kriteria yang sesuai. Prioritas masalah adalah yang jumlah nilainya paling berdasarkan jumlah skor yang tertinggi sampai terendah.
besar. Contoh sederhana adalah sebagai berikut :
Contoh sederhana metode Delbeq adalah sebagai berikut:
Daftar I Jumlah I Priori Kriteria Dan Bobot Maksimum
No. T R Daftar
Masalah P S RI DU SB PB PC xTxR tas No. Besar Kegawatan Biaya Kemudahan
Masalah Jmlah
1 A 1 4 2 3 4 3 1 3 2 1.729 III masalah Prioritas
Skor
Rata-
Bobot 8 8 6 7
2 B 2 3 4 1 5 2 4 2 1 1.920 II rata

1 A 8x8 = 64 9x8=72 5x6=30 6x7=42 208 I


3 C 4 2 5 2 3 1 3 1 4 2.880 I

2 B 7x8=56 8x8=64 5x6=30 6x7=42 192 II


2. Metode Delbeq
Pada metode ini diprioritaskan masalah dilakukan dengan memberikan 3 C 6x8=48 6x8=48 5x6=30 6x7=42 168 III
bobot (yang merupakan nilai maksimum dan berkisar antara 0 sampai 100
dengan kriteria:
a. Besar masalah yaitu % atau jumlah atau kelompok
penduduk yang ada kemungkinan terkena masalah serta keterlibatan 3. Metode Hanlon (Kuantitatif)
masyarakat dan instansi terkait. Metode ini hampir sama dengan metode Delbeq, dilakukan dengan
b. Kegawatan masalah yaitu tingginya angka morbiditas memberikan skor atas serangkaian kriteria A, B, C dan D (PEARL).
dan mortalitas, kecenderungannya dari waktu ke waktu. A= Besar masalah yaitu % atau jumlah atau kelompok
c. Biaya/dana yaitu besar atau jumlah dana yang penduduk yang terkena masalah serta keterlibatan
diperlukan untuk mengatasi masalah baik dari segi instansi yang masyarakat dan instansi terkait. Skor 0-10 (kecil-
bertanggung jawab terhadap penyelesaian masalah atau dari besar).
masyarakat yang terkena masalah. B= Kegawatan masalah yaitu tingginya angka
d. Kemudahan yaitu tersediannya tenaga, morbiditas dan mortalitas,kecenderungannya dari
sarana/peralatan, waktu serta cara atau metode dan teknologi waktu ke waktu. Skor 0-10 (tidak gawat - sangat
penyelesaian masalah seperti tersediannya kebijakan/peraturan, gawat).
petunjuk pelaksanaan (juklak), petunjuk teknis (juknis) dan C= Efaktifitas atau kemudahan penanggulangan
sebagainnya. masalah, dilihat dari perbandingan antara perkiraan
hasil atau manfaat penyelesaian masalah yang
Langkah-langkah yang harus dilakukan sebagai berikut: akan diperoleh dengan sumber daya (biaya, sarana
a. Tentukan dahulu bobot masing-masing kriteria (nilai 0-10) dan cara) untuk menyelesaikan masalah. Skor 0-10
(sulit – mudah).
D= PEARL
Berbagai pertimbangan dalam kemungkinan
pemecahan masalah. Skor 0 = tidak dan 1 = ya
P= Propriatness yaitu kesesuaian masalah 4. Metode Hanlon (Kualitatif)
dengan prioritas berbagai Metode Hanlon (Kualitatif) ini lebih efektif dipergunakan untuk masalah
kebijaksanaan/program/kegiatan yang bersifat kualitatif dan data atau informasi yang tersediapun bersifat
instansi/organisasi terkait. kualitatif miaslkan peran serta masyarakat, kerja sama lintas program,
E= Economic feasibility yaitu kelayakan dari kerja sama lintas sektor dan motivasi staf.
segi pembiayaan. Prinsip utama dalam metode ini adalah membandingkan pentingnya
A= Acceptability yaitu situasi penerimaan masalah yang satu dengan yang lainnya dengan cara “matching”.
masyarakat dan instansi terkait/instansi Langkah-langkah metode ini adalah sebagai berikut:
lainnya. a. Membuat matriks masalah
R= Resource availability yaitu ketersediaan b. Menuliskan semua masalah yang berhasil dikumpulkan
sumber daya untuk memecahkan masalah pada sumbu vertikal dan horisontal.
(tenaga, sarana/peralatan, waktu) c. Membandingkan (matching) antara masalah yang satu
L= Legality yaitu dukungan aspek dengan yang lainnya pada sisi kanan diagonal dengan memberi tanda
hukum/perundangan-undangan/peraturan (+) bila masalah lebih penting dan memberi tanda (-) bila masalah
terkait seperti peraturan kurang penting.
pemerintah/juklak/juknis/protap. d. Menjumlahkan tanda (+) secara horisontal dan masukan
pada kotak total (+) horisontal.
Setelah kriteria tersebut berhasil diisi, maka selanjutnya menghitung nilai e. Menjumlahkan tanda (-) secara vertikal dan masukan
NPD dan NPT dengan rumus sebagai berikut: pada kotak total (-) vertikal.
NPD = Nilai Prioritas dasar = (A + B) x C f. Pindahkan hasil penjumlahan pada total (-) horisontal di
NPT = Nilai Prioritas Total = (A + B) x C x D bawah kotak (-) vertikal.
Prioritas pertama adalah masalah dengan skor NPT tertinggi. Metode g. Jumlah hasil vertikal dan horisontal dan masukan pada
Hanlon (Kuantitatif) ini lebih efektif bila digunakan untuk masalah yang kotak total.
bersifat kuantitatif. Contoh sederhana adalah sebagai berikut h. Hasil penjumlahan pada kotak total yang mempunyai
nilai tertinggi adalah urutan prioritas masalah.
Daftar
Kriteria dan bobot maksimum
Prioritas Berikut ini contoh penggunaan metode Hanlon (Kualitatif):
No PEARL NPT Total
masalah A=Besar B=Kegawatan C=Kemudahan NPD Masalah Masalah A B C D E
Horisontal (+)
A + + + + 4
1 A 9 9 8 144 11111 144 I
B + - + 2
C - - 0
2 B 9 8 8 136 11111 136 II D + 1
E 0
3 C 8 7 7 105 11111 105 III Total vertikal (-) 0 0 0 2 1
Total horisontal (+) 4 2 0 1 0
Total 4 2 0 3 1
Prioritas Masalah I III V II IV

5. Metode CARL 6. Metode Reinke


Metode CARL merupakan metode yang cukup baru di kesehatan. Metode Metode Reinke juga merupakan metode dengan mempergunakan skor.
CARL juga didasarkan pada serangkaian kriteria yang harus diberi skor 0- Nilai skor berkisar 1-5 atas serangkaian kriteria:
10. Kriteria CARL tersebut mempunyai arti: M= Magnitude of the problem yaitu besarnya masalah
C= Capability yaitu ketersediaan sumber daya (dana, sarana dan yang dapat dilihat dari % atau jumlah/kelompok
peralatan) yang terkena masalah, keterlibatan masyarakat
A= Accessibility yaitu kemudahan, masalah yang ada mudah diatasi serta kepentingan instansi terkait.
atau I= Importancy atau kegawatan masalah yaitu
tidak. Kemudahaan dapat didasarkan pada ketersediaan tingginya angka morbiditas dan mortalitas serta
metode/cara/teknoloi serta penunjang pelaksanaan seperti kecenderunagn dari waktu ke waktu.
peraturan atau V= Vulnerability yaitu sensitif atau tidaknya pemecahan
juklak. masalah dalam menyelesaikan masalah yang
R= Readiness yaitu kesiapan dari tenaga pelaksana maupun kesiapan dihadapi. Sensitifitas dapat diketahui dari perkiraan
sasaran, seperti keahlian atau kemampuan dan motivasi. hasil (output) yang diperoleh dibandingkan dengan
L= Leverage yaitu seberapa besar pengaruh kriteria yang satu dengan pengorbanan (input) yang dipergunakan.
yang C= Cost yaitu biaya atau dana yang dipergunakan
lain dalam pemecahan masalah yang dibahas. untuk melaksanakan pemecahan masalah.
Setelah masalah atau alternatif pemecahan masalah diidentifikasi, Semakin besar biaya semakin kecil skornya.
kemudian dibuat tabel kriteria CARL dan diisi skornya. Bila ada beberapa P= Prioritas atau pemecahan masalah.
pendapat tentang nilai skor yang diambil adalah rerata. Sama seperti metode yang lain dengan menggunakan skor, maka untuk
Nilai total merupakan hasil perkalian: C x A x R x L mempermudah pengerjaan diperlukan adanya tabel. Hasil skor masing-
Contoh pemakain metode CARL adalah sebagai berikut: masing masalah kemudian dihitung dengan rumus:
P = (M x V x I) : C
Daftar Prioritas masalah atau pemecahan masalah diperoleh dengan mengurutkan
No C A R L Total Nilai Urutan jumlah nilai P dari yang tertinggi sampai terendah. Contoh penggunaan
Masalah
1 A 9 8 8 8 4608 I
metode Reinke adalah sebagai berikut:
Daftar
No M I V C Total Urutan
2 B 8 8 8 8 4096 II Masalah
1 A 5 4,6 5 3 38,33 I
3 C 8 6 7 7 2352 III
2 B 5 4,2 3 5 12,60 III
d. Diperlukan kecermatan dan kesabaran pihak pemberi
3 C 4,6 4 3,5 3,2 20,13 II
kuesioner

2. Metode Diskusi atau Brainstorming Technique


a. Pemimpin diskusi adalah fasilitator.
7. Metode Bryant b. Diperlukan fasilitator yang handal dan menguasai
Metode Bryant juga menggunakan skoring yang didasarkan pada kriteria: masalah.
P= Prevalence atau besar masalah yaitu jumlah atau c. Peserta diskusi ditantang untuk mengemukakan
kelompok masyarakat yang terkena masalah. pendapat sebanyak-banyaknya tetapi menghindari saling kritik.
S= Seriousness atau kegawatan masalah yaitu d. Peserta memiliki keahlian atau kemampuan dan
tingginya angka morbiditas atau mortalitas serta pengalaman yang relatif sama.
kecenderungannya. e. Waktu efektif 1 jam dan peserta maksimal 10-12 orang.
C= Community concern yaitu perhatian atau
kepentingan masyarakat dan pemerintah atau 3. Metode Brainwriting
instansi terkait terhadap masalah tersebut. a. Peserta 6-8 orang dengan keahlian dan latar belakang
M= Managebility yaitu ketersediaan sumber daya pendidikan dan pengalaman yang relatif sama atau setara.
(tenaga, dana, sarana dan metode/cara) b. Pimpinan diskusi mengajukan masalah pada secarik
Skor masing-masing kriteria berkisar 1-5. Contoh pengunaan metode ini kertas dan diletakkan di atas kertas.
adalah sebagai berikut: c. Semua peserta membacanya kemudian menuliskan
Alternatif Masalah P S C M Total Prioritas pendapatnya pada pada kertas-kertas yang ada. Hal ini dilakukan
A 5 4,5 3,4 3 15,9 II berulang-ulang sampai lengkap.
B 5 3,4 3,1 5 16,5 I
C 5 3,4 3 2,5 13,9 III d. Kertas-kertas dibagikan lagi, kemudian peserta
menambah atau mengurangi pendapatnya.
B. Metode e. Semua pendapat ditulis di kertas atau di papan tulis
Kualitatif kemudian didiskusikan untuk dicari pendapat yang terbanyak.
1. Metode Delphi
a. Teknik survei kepada para peserta yang relatif homogen Daftar Pustaka
baik pendidikan, keahlian dan pengalaman serta masing-masing
peserta mempunyai data yang cukup.
b. Daftar pertanyaan (kuesioner) dikirimkan beberapa kali Azwar A., 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan. Binarupa Aksara.
kepada peserta: Chriswardani S. Metode Penentuan Prioritas Masalah. Bahan Kuliah
Kuesioner pertama: pertanyaan-pertanyaan umum Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Kuesioner kedua: lebih khusus Universitas Diponegoro
Kuesioner ketiga: Khusus
c. Kosensus peserta dapat dipercepat dengan
pengambilan suara
berbagai tingkatan pelayanan kesehatan atau yang berhubungan dengan
kesehatan dapat juga merupakan studi itu sendiri.
Penggunaan informan-informan kunci (key informants) merupakan teknik lainnya
yang juga cukup penting untuk meningkatkan akses terhadap informasi yang
tersedia. Informan ini berasal dari pemimpin masyarakat, staf kesehatan pada
berbagai tingkatan serta satu atau dua orang yang merupakan anggota kelompok
target. Mereka dapat dilibatkan dalam berbagai tahap penelitian, dari mulai tahap
pernyataan masalah sampai analisis data dan pengembangan rekomendasi.
Sumber data lain yang tersedia misalnya surat kabar dan riwayat kasus yang
TEKNIK PENGUMPULAN DATA dipublikasikan.
Oleh : Suratman, SKM.,M.Kes Untuk mendapatkan data dari sumber-sumber yang tersedia, peneliti harus
mendesain instrument penelitian seperti checklist.
Teknik pengumpulan data dilakukan untuk dapat mengumpulkan data secara Keuntungan menggunakan data yang sudah tersedia adalah murah.
sistematik mengenai objek studi yang sedang dipelajari (masyarakat, objek, Bagaimanapun kadang-kadang juga sulit untuk meningkatkan akses pada hasil
fenomena) dan mengenai lokasi dari objek tersebut berada. pencatatan dan pelaporan dan data mungkin tidak selalu lengkap dan cukup tepat
Dalam pengumpulan data harus dilakukan secara sistematik. Jika data ataupun tidak terorganisasi dengan baik.
dikumpulkan secara sembarangan, maka hal tersebut akan sulit untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan penelitian secara meyakinkan. Ad.2. Pengamatan (Observing)
Ada beberapa teknik pengumpulan data yang dapat digunakan, antara lain: Pengamatan adalah teknik yang secara sistematik melibatkan pemilihan,
1) Menggunakan informasi yang tersedia (Using available information) penglihatan, dan pencatatan perilaku dan karakteristik makhluk hidup, objek, atau
2) Pengamatan (Observing) fenomena.
3) Wawancara (face-to-face) Pengamatan terhadap perilaku manusia merupakan teknik pengumpulan data
4) Pengisian kuesioner secara tertulis yang banyak dilakukan. Pengamatan ini dapat dilakukan dengan cara yang
5) Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussions) berbeda, antara lain:
6) Teknik proyeksi, pemetaan, penyekalaan  Observasi partisipasi (participant observation): pengamat mengambil
bagian dalam situasi yang sedang diamati (misalnya untuk mengetahui
Ad.1. Menggunakan Informasi yang Tersedia (Using available information) apakah petugas puskesmas mengikuti prosedur dalam mendiagnosa
Biasanya terdapat berbagai data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain pasien yang diduga mengidap penyakit Tb, maka peneliti berperan
meskipun mungkin data tersebut belum dianalisa atau dipublikasikan. Mengetahui sebagai pasien yang akan mengamati setiap prosedur yang dilakukan
sumber data dan memperoleh informasi adalah awal yang baik dalam usaha tanpa diketahui oleh petugas puskesmas tersebut)
pengumpulan data.  Observasi bukan partisipasi (Non participant observation): pengamat
Sebagai contoh, analisis informasi yang secara rutin dikumpulkan oleh fasilitas melihat situasi secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi tetapi
kesehatan dapat menjadi sangat berguna untuk mengidentifikasi masalah dalam tidak melibatkan diri dalam situasi yang sedang diamati, hanya melakukan
intervensi-intervensi tertentu atau dalam pendistribusian obat atau untuk pengamatan saja.
mengidentifikasi peningkatan angka Insidens pada penyakit tertentu. Observasi dapat memberikan informasi tambahan mengenai perilaku seseorang
Menganalisis data sistem informasi kesehatan, data sensus, laporan-laporan yang dan lebih akurat daripada wawancara atau kuesioner. Teknik observasi ini dapat
tidak dipublikasikan serta publikasi di perpustakaan atau kantor-kantor pada mengecek kebenaran informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara
khususnya mengenai hal yang bersifat sensitif seperti alkohol, penggunaan obat- terstruktur menggunakan urutan sesuai standar yang membutuhkan
obatan terlarang atau stigmatisasi terhadap suatu penyakit. jawaban yang sudah ditentukan serta berupa kategori.
Jika teknik observasi ini dibuat menggunakan skala yang telah ditentukan, maka Misalnya: Setelah melakukan pengamatan terhadap perilaku yang higienis
disebut sebagai pengukuran (measurements). Pengukuran biasanya pada kelompok ibu-ibu yang mengambil air dari sumur serta hasil
menggunakan alat tambahan. Misalnya, dalam surveilans gizi, mengukur berat wawancara terhadap beberapa orang informan mengenai pemanfaatan
dan tinggi menggunakan skala berat dan papan pengukuran atau menggunakan dan pemeliharaan sumur, maka dilakukan survei mengenai penggunaan
thermometer untuk mengukur suhu tubuh. air dan kepuasan terhadap kuantitas dan kualitas air.

Ad.3. Wawancara (Interviewing) Ad.4. Pengisian Kuesioner secara Tertulis (Administering written
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang melibatkan pertanyaan secara questionnaires)
lisan terhadap responden baik secara individu atau sebagai kelompok. Kuesioner tertulis adalah alat pengumpul data di mana pertanyaan tertulis
Jawaban-jawaban atas pertanyaan yang diajukan selama wawancara dapat disajikan dan harus dijawab oleh responden dengan mengisi formulir isian yang
direkam melalui pengisian kuesioner (baik secara langsung saat wawancara atau sudah disediakan.
diisi segera setelah wawancara selesai dilakukan) atau menggunakan tape- Kuesioner tertulis dapat dikelola dengan cara:
recording atau bisa juga menggunakan kombinasi dari keduanya.  Mengirim kuesioner melalui surat dengan perintah isian yang jelas dalam
Wawancara dapat dilaksanakan dengan berbagai derajat fleksibilitas, yaitu derajat menjawab setiap pertanyaan dan meminta responden untuk mengirim
fleksibilitas yang tinggi dan derajat fleksibilitas yang rendah. kembali kuesioner yang sudah terisi melalui jasa pos;
 Derajat fleksibilitas yang tinggi  Mengumpulkan semua atau sebagian responden dalam satu tempat dan satu
Misalnya: ketika mempelajari isu-isu yang bersifat sensitif seperti waktu, memberi perintah secara lisan atau tertulis dan mempersilahkan
kehamilan pada remaja dan aborsi, peneliti menggunakan daftar topik responden untuk mengisi kuesioner;
daripada pertanyaan-pertanyaan yang sudah pasti. Sebagai contoh,  Kuesioner diantar langsung kepada responden dan dikumpulkan kembali
memasukkan pertanyaan mengenai bagaimana remaja memulai pada waktu berikutnya jika sudah diisi lengkap.
hubungan seksual, tanggung jawab remaja putri dan pasangannya untuk Bentuk pertanyaan kuesioner dapat berupa pertanyaan terbuka (open-ended)
mencegah kehamilan, serta tindakan-tindakan yang diambil ketika maupun pertanyaan tertutup (closed-ended) dengan kategori.
mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Peneliti harus mempunyai
daftar topik tambahan yang sudah disiapkan ketika responden diam saja Ad.5. Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussion)
tidak mau menjawab (ketika bertanya mengenai metode-metode aborsi Diskusi Kelompok Terarah merupakan diskusi kelompok dengan diikuti oleh
yang digunakan, siapa yang membuat keputusan, siapa yang membayar). sekitar 6-12 orang yang dipandu oleh fasilitator dan selama diskusi setiap orang
Metode yang tidak terstruktur ini dapat digunakan saat wawancara dapat berbicara secara bebas dan spontan mengenai topik tertentu.
terhadap individu ataupun terhadap kelompok informan kunci. Diskusi Kelompok Terarah adalah metode kualitatif. Tujuannya adalah untuk
Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data pada teknik ini disebut memperoleh informasi secara mendalam mengenai konsep, persepsi, dan ide-ide
Panduan Wawancara. dari kelompok diskusi. Kegiatan Diskusi Kelompok Terarah lebih dari sekedar
 Derajat fleksibilitas yang rendah interaksi tanya-jawab.
Metode wawancara dengan derajat fleksibilitas yang rendah sangat Teknik Diskusi Kelompok Terarah dapat digunakan untuk:
berguna pada saat peneliti secara relatif mengetahui jawaban-jawaban 1. Memfokuskan penelitian dan mengembangkan hipotesis penelitian yang
yang diharapkan atau ketika jumlah responden yang diwawancarai relatif relevan melalui eksplorasi masalah secara mendalam yang akan diteliti
besar. Kuesioner digunakan dengan daftar pertanyaan yang sudah penyebab-penyebabnya.
Misalnya: Kepala dinas kesehatan telah mengumumkan bahwa di sana Misalnya: Klinik kesehatan di daerah pedesaan ingin mengembangkan
terdapat jumlah yang tidak wajar kasus gizi buruk (malnutrition) pada program pendidikan kesehatan yang difokuskan pada penghentian masalah-
kelompok balita pada salah satu wilayah kerjanya. Oleh karena kepala dinas masalah yang sering dihadapi oleh ibu-ibu di sekitar pedesaan. FGD dapat
kesehatan tersebut mempunyai sedikit ide mengenai “mengapa” terjadi kasus digunakan untuk mengeksplorasi konsep lokal yang relevan sebaik untuk
gizi buruk di wilayahnya, maka beliau memutuskan untuk mengadakan tiga menguji konsep ketika pengembangan pesan. Pesan sebaiknya
kegiatan diskusi kelompok terarah (pertama dengan para pemimpin dikembangkan dan diuji dalam kelompok ibu-ibu dengan sosial ekonomi yang
masyarakat, kedua dengan ibu-ibu yang ada di wilayah terkena kasus gizi berbeda.
buruk, dan ketiga dengan petugas kesehatan yang ada di wilayah terkena
kasus gizi buruk). Kepala dinas ini berharap dapat mengidentifikasi Ad.6. Teknik Proyeksi (Projective Techniques)
penyebab-penyebab potensial atas masalah yang terjadi melalui diskusi Ketika peneliti menggunakan teknik proyeksi, peneliti meminta informan untuk
kelompok terarah serta kemudian mengembangkan studi yang lebih intensif member respon terhadap beberapa jenis rangsangan visual atau verbal.
jika diperlukan. Misalnya: Informan diminta untuk menggambarkan persepsinya pada gambaran
2. Merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai untuk survei dengan skala atau onset sakit.
yang besar dan terstruktur.
Misalnya: Dalam perencanaan suatu studi mengenai Insidens penyakit diare Contoh lain: Peneliti meminta informan untuk melengkapi kalimat seperti:
pada anak-anak dan praktek pemberian makan, hasil diskusi kelompok  Jika saya mengetahui bahwa tetangga saya mengidap penyakit TB, saya
terarah menunjukkan bahwa pada kelompok penelitian ditemukan anak di akan …….;
bawah satu tahun tidak dianggap menderita diare tetapi hanya proses untuk  Jika istri saya mengusulkan bahwa saya menggunakan kondom, saya
berjalan yang dihubungkan dengan tanda seperti duduk, merangkak, dan akan ………….;
tumbuh gigi. Teknik ini dapat dengan mudah dikombinasikan dengan wawancara semi
3. Membantu untuk memahami dan memecahkan masalah-masalah yang tidak terstruktur atau kuesioner tertulis. Teknik ini juga sangat berguna dalam FGD
diharapkan dalam intervensi. untuk mendapatkan pendapat seseorang atas isu-isu yang sensitif.
Misalnya: Pada suatu Kabupaten X, pekan imunisasi nasional menunjukkan
perbedaan rentang cakupan imunisasi per desa cukup lebar (50-90%) dan Ad.7. Pemetaan (Mapping) dan Penyekalaan (Scaling)
pada sejumlah desa terdapat penurunan angka cakupan dibandingkan Pemetaan adalah teknik yang penting untuk secara visual menyajikan hubungan
dengan tahun lalu. Sebanyak delapan kegiatan diskusi kelompok terarah dan sumber daya.
diadakan terhadap ibu-ibu, dua FGD diadakan di kota, tiga FGD diadakan di Misalnya: Dalam proyek penyediaan air bersih, pemetaan ini sangat berguna.
desa yang mengalami penurunan angka cakupan dan tiga FGD diadakan di Teknik ini bisa menyajikan lokasi sumur, jarak antara rumah dengan sumur, atau
desa yang mengalami angka cakupan imunisasi. Sebagian besar masyarakat sistem pengairan lainnya yang akan member kepada peneliti cara pandang yang
percaya bahwa kampanye secara massa memperkuat kekebalan anak baik mengenai kondisi fisik dan membantu untuk menandai hubungan yang tidak
melawan berbagai penyakit pada anak, termasuk malaria dan Infeksi Saluran teridentifikasi.
Pernafasan. Pada desa yang memiliki angka cakupan imunisasi yang rendah Penyekalaan adalah teknik yang mengijinkan para peneliti melalui respondennya
terdapat Insidens penyakit malaria yang tinggi segera setelah kampanye untuk mengkategorisasi variabel-variabel tertentu.
imunisasi dilakukan sebelumnya dan beberapa anak meninggal. Oleh karena Misalnya: Peneliti meminta informan untuk membawa jenis-jenis obat herbal
hal tersebut, ibu-ibu percaya bahwa kampanye imunisasi tidak berguna. tertentu dan meminta mereka untuk menyusunnya menurut kegunaannya.
4. Mengembangkan pesan yang sesuai untuk program pendidikan kesehatan Informant kemudian diminta untuk menjelaskan logika dari rangking tersebut.
dan kemudian mengevaluasi pesan-pesan tersebut untuk kejelasan
Pemetaan dan penyekalaan digunakan sebagai teknik participatory dalam Menguji reliabilitas mempengaruhi situasi
penilaian cepat atau analisis situasi. kuesioner yang diamati.
Diperlukan pelatihan
terhadap asisten peneliti.

Perbedaan antar teknik pengumpulan data dan alat pengumpulan data Teknik Keuntungan Keterbatasan
Wawancara Cocok digunakan untuk Kehadiran pewawancara
Teknik Pengumpulan Data Alat Pengumpulan Data kelompok yang tidak buta dapat mempengaruhi
Penggunaan informasi yang tersedia Checklist, formulir kompilasi data huruf maupun yang buta respon.
Pengamatan Mata dan indera lainnya, huruf. Laporan kejadian mungkin
ballpoint/kertas, jam, timbangan, Dapat mengklarifikasi kurang lengkap daripada
mikroskop, dsb pertanyaan. informasi yang diperoleh
Wawancara Panduan wawancara, checklist, Mempunyai nilai respon melalui observasi
kuesioner, tape-recorder yang tinggi dibanding
Pengisian kuesioner tertulis Kuesioner kuesioner tertulis.
Wawancara dengan Pengumpulan informasi Pewawancara mungkin
derajat fleksibilitas yang secara mendalam dan secara tidak sengaja
Keuntungan dan kerugian berbagai teknik pengumpulan data tinggi mengeksplorasi berbagai mempengaruhi responden.
hal spontan dariAnalisis data dengan
responden pertanyaan terbuka lebih
Teknik Keuntungan Keterbatasan sulit dan memakan banyak
Penggunaan informasi Murah karena data Data tidak selalu dengan waktu.
yang tersedia tersedia. mudah dapat diakses. Wawancara dengan Mudah untuk dianalisis. Informasi yang penting
Dapat membuat trend Isu-isu etik mengenai derajat fleksibilitas yang mungkin terlewatkan
dari masa lalu kerahasiaan meningkat. rendah karena keterangan spontan
Informasi mungkin tidak oleh responden biasanya
tepat atau tidak lengkap. tidak tercatat atau
Pengamatan Memberikan informasi Isu-isu etik mengenai tereksplorasi.
yang lebih detail. kerahasiaan meningkat. Pengisian kuesioner Tidak mahal. Tidak dapat digunakan
Mengumpulkan informasi Bias pengamat mungkin secara tertulis Tanpa identitas dan pada kelompok responden
berdasarkan fakta yang terjadi. mungkin menghasilkan yang buta huruf.
tidak disebutkan dalam Kehadiran pengumpul jawaban yang lebih jujur. Sering memperoleh respon
wawancara. data dapat Tidak memerlukan yang rendah.
asisten peneliti. Pertanyaan mungkin tidak
Menghilangkan bias yang dimengerti.
disebabkan perbedaan
phrase antar responden
Metode participatory dan Memberikan data yang Memerlukan pelatihan
proyeksi kaya dan mempunyai ekstra bagi peneliti.
dampak positif bagi
pengetahuan dan skill
peneliti dan informan
Daftar Pustaka
TEHNIK SAMPLING
th
Abramson JH (1990, 4 ed.) Survey Methods in Community Medicine. London: Setiyowati Rahardjo, SKM., MKM
Churchill-Livingstone. (In particular Chapter 6)

Moser CA, Kalton G (1989, 2nd ed.) Survey Methods in Social Investigation. Hants, A. PENDAHULUAN
UK: Gower Publishing Company. (In particular Chapters 10-13) A.1. Pengertian Dasar
Populasi atau universe adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang
Patton MQ (1990, 2nd ed.) Qualitative Evaluation and Research Methods. Newbury ciri-cirinya akan diduga. Populasi juga diartikan keseluruhan individu yang menjadi
Park, USA: Sage Publications. (In particular Chapters 17-29) acuan hasil-hasil penelitian akan berlaku. Sedangkan sampel adalah sebagian
dari populasi yang mana ciri-cirinya diselidiki atau diukur.
Pretty JN, Guyt I, Thompson J, Scones I (1995) Participatory Learning & Action. A Populasi dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu populasi sasaran
Trainer’s Guide. London: International Institute for Environment and (target populasi) dan populasi studi. Populasi sasaran yaitu kumpulan dari satuan
Development (IIED) (In particular Chapters 4 and 5 on semi-structured atau unit yang ingin dibuat inferensi atau generalisasinya. Populasi studi adalah
interviewing, diagramming, ranking and scoring) kumpulan dari satuan atau unit dimana kita mengambil sampel. Populasi studi
merupakan sebagian dari populasi target. Misalnya akan dilakukan penelitian
tentang rata-rata jumlah konsumsi alkohol perminggu dikota A oleh anak remaja
usia 5 sampai 17 tahun, maka yang menjadi target populasi adalah semua anak
remaja yang berusia 15 sampai 17 tahun yang ada di kota A, dan populasi studi
adalah sekelompok anak remaja yang dipilih dari sebuah sekolah tertentu yang
ada dikota A.

A.2. Kegunaan Sampel


Dalam penelitian ilmiah, banyak masalah yang tidak dapat dipecahkan
tanpa memanfaatkan teknik sampling. Penelitian kesehatan dan kedokteran
meliputi bidang yang sangat luas, yang terdiri dari berbagai sub bidang. Apabila
dilakukan penelitian tidak hanya dapat dilakukan terhadap unit atau sub bidang
tertentu saja. Oleh karena itu agar dapat dilakukan penelitian terhadap semua sub
bidang dan dengan biaya murah, peneliti dapat melakukan pengambilan sampel 5. Pengambilan sampel acak rancangan bertingkat (Multistage Random
terhadap objek yang diteliti. Sampling)

1. PENGAMBILAN SAMPEL ACAK SEDERHANA (Simple Random


Kegunaan sampling di dalam penelitian antara lain : Sampling)
1. Menghemat biaya,waktu, dan tenaga Pengambilan sampel acak sederhana adalah pengambilan sampel
2. Mempercepat pelaksanaan penelitian sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elementer dari
3. Memperluas ruang lingkup penelitian populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel.
4. Memperoleh hasil yang lebih akurat Apabila besar sampel yang diinginkan berbeda-beda, maka besar
5. Memudahkan dalam pengolahan data, analisis data dan penyajiannya kesempatan bagi tiap unit penelitian untuk terpilih sebagai sampel juga
berbeda-beda. Misalnya besar populasi adalah N dan besar sampel yang
A.3. Prosedur Pengambilan Sampel diinginkan adalah n, maka besar kesempatan bagi tiap unit penelitian untuk
Langkah – langkah yang perlu ditempuh dalam mengambil sampel dari terpilih dalam sampel adalah n/N
populasi adalah sebagai berikut :
1. Menentukan tujuan penelitian Metode Pengambilan Sampel
2. Menetukan populasi penelitian Metode pengambilan sampel acak sederhana dapat dilakukan dengan
3. Menentukan jenis data yang diperlukan beberapa cara:
4. Menentukan teknik sampling
5. Menentukan besarnya sampel 1) Dengan mengundi unit-unit penelitian dalam populasi
6. Menentukan unit sampel yang diperlukan Penggunaan cara ini tidak praktis apabila populasinya besar
7. Memilih sampel 2) Menggunakan tabel random
- Tentukan populasi studi, lalu buat kerangka sampling
- Dari kerangka sampling ditarik sebagai sampel sejumlah unit penelitian
B. TEHNIK SAMPLING dengan menggunakan tabel random
Pada dasarnya ada dua macam metode pengambilan sampel, yaitu : - Cara penggunaan tabel random adalah sebagai berikut. Misalnya, dari
1. Random Sampling / Probability Sampling : Pengambilan sampel secara populasi (N) yang besarnya 500, akan dipilih 50 satuan elementer sebagai
acak sampel (n). Bilangan 500 terdiri dari tiga digit. Terlebih dahulu dibuat
2. Non Random Sampling : Pengambilan sampel yang bersifat tidak acak, kerangka sampling, dimana tiap satuan elementer diberi nomor 001
dimana sampel dipilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu sampai 500. Kemudian dengan tabel random kita memilih 50 satuan yang
akan diteliti dengan nomor yang terdiri dari tiga digit antara 001 sampai
B.1. PENGAMBILAN SAMPEL SECARA ACAK (Random Sampling) 500. Karena angka-angka dalam tabel ini disusun secara acak, maka
Pengambilan sampel secara acak dapat dilakukan dengan beberapa metode : pemakai tabel dapat mulai melihatnya dari baris dan kolom mana saja. Di
1. Pengambilan sampel acak sederhana (Simple Random Sampling) samping itu, ia dapat mengikutinya ke arah mana saja dengan ketentuan
2. Pengambilan sampel acak sistematis (Systematic Random Sampling) arah harus konsisten darimanapun arah itu dimulai dan tiap nomor tidak
3. Pengambilan sampel acak stratifikasi (Stratified Random Sampling) boleh berulang.
4. Pengambilan sampel acak rancangan klaster (Cluster Random Sampling)
3) Menggunakan komputer
Andaikan yang terpilih sebagai unsur pertama adalah nomor 3, maka
Keuntungan SRS unsur-unsur lainnya dari sampel adalah satuan-satuan nomor 8, 13, 18,
Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dan mudah untuk 23, 28, 33, 38, 43 dan 48.
dimengerti
B.Keuntungan :
Kelemahan SRS  Cara ini relatif mudah melakukannya
- Harus tersedia daftar kerangka sampling (sampling frame).  Dengan menggunakan pengambilan sampel acak sistematis, unit
- Sifat individu harus homogen. penelitian yang terpilih cenderung lebih tersebar dalam keseluruhan
- Individu yang terpilih mungkin sangat tersebar. Ini mengakibatkan populasi dan oleh karena itu mungkin lebih mewakili daripada
kunjungan kepada tiap individu yang terpilih mungkin merupakan proses pengambilan sampel acak sederhana
yang sangat banyak makan waktu dan mahal.  Membutuhkan waktu dan biaya relatif lebih rendah dibandingkan dengan
2. PENGAMBILAN SAMPEL ACAK SISTEMATIS (Systematic Random pengambilan sampel acak sederhana
Sampling)
Pengambilan sampel acak sistematis adalah suatu metode C. Kelemahan
pengambilan sampel, dimana hanya unsur pertama saja dari sampel dipilih  Setiap unit penelitian tidak mempunyai peluang yang sama untuk diambil
secara acak, sedangkan unsur-unsur selanjutnya dipilih secara sistematis sebagai sampel. Oleh karena itu populasi (N) harus besar sehingga
menurut suatu pola tertentu. pengambilan sampel mendekati acak lagi
A. Metode Pengambilan Sampel  Populasi harus bersifat homogen
Cara penggunaan metode ini adalah sebagai berikut :  Bila terdapat suatu kecenderungan tertentu maka metode ini menjadi
 Tentukan dahulu interval sampel (k), yang merupakan hasil bagi jumlah kurang sesuai. Misalkan untuk memilih sampel hari dengan k=7, karena
satuan elementer populasi dibagi besar sampel (N/n). sampel akan selalu jatuh pada hari yang sama.
 Unsur pertama dari sampel lalu dipilih secara acak di antara satuan
elementer bernomor urut i dan k dari populasi. 3. PENGAMBILAN SAMPEL ACAK STRATIFIKASI (Stratified Random
 Andaikan yang terpilih itu adalah satuan elementer bernomor urut s, maka Sampling)
unsur-unsur selanjutnya dalam sampel dapat ditentukan , yaitu : Pengambilan sampel acak stratifikasi adalah suatu metode
Unsur pertama =s pengambilan sampel dimana populasi yang bersifat heterogen dibagi-bagi
Unsur kedua =s+k dalam lapisan-lapisan (strata) yang saling pisah tuntas, dan dari setiap strata
Unsur ketiga = s + 2k dapat diambil sampel secara acak. Pembuatan strata dilakukan untuk
Unsur keempat = s + 3k, dan seterusnya menghomogenkan populasi. Elemen dalam strata dibuat sehomogen mungkin
Contoh : sedang variasi antar strata dibuat seheterogen mungkin.
Andaikan satuan-satuan elementer dalam satuan populasi berjumlah 50,
yang diberi nomor urut 1 sampai 50, dan besar sampel yang akan diambil Pengambilan sampel acak stratifikasi dapat dilakukan dengan 2 cara :
10, maka k = 50/10 = 5.  Pengambilan sampel acak stratifikasi sederhana (Simple stratified random
Unsur pertama dari sampel harus dipilih secara acak di antara satuan sampling), bila jumlah unit penelitian dalam strata kurang lebih sama.
satuan elementer nomor 1 dan 5.  Pengambilan sampel acak stratifikasi proporsional (Proportional stratified
random sampling), bila jumlah unit penelitian berbeda antara strata yang
satu dengan strata yang lain
Ada tiga syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menggunakan metode Penelitian ingin mengetahui faktor – faktor apa yang berhubungan dengan
pengambilan sampel acak stratifikasi ini, yaitu : penerimaan terhadap program KB pada masyarakat daerah X yang terdiri
a. Harus ada kriteria yang jelas yang akan dipergunakan sebagai dasar berbagai suku.
untuk menstratifikasi populasi ini dalam lapisan-lapisan. Yang dapat
dijadikan kriteria untuk pembagian itu ialah variabel-variabel yang menurut
peneliti mempunyai hubungan yang erat dengan variabel-variabel yang
hendak diteliti. Misalnya tingkat penghasilan petani erat hubungannya
dengan luas tanah yang diusahakan. Jadi, dalam penelitian mengenai
tingkat penghasilan petani, populasi dapat distratifikasikan dalam lapisan-
lapisan dengan menggunakan luas tanah yang diusahakan sebagai
kriteria
b. Harus ada data pendahuluan dari populasi mengenai kriteria yang
dipergunakan untuk menstratifikasi
c. Harus diketahui dengan tepat jumlah unit penelitian dari tiap strata dalam
populasi itu.
Metode Pengambilan Sampel Daerah X
Cara penggunaan metode ini adalah sebagai berikut
 Membagi populasi menurut strata yang akan diteliti dan merupakan sub
populasinya yang bersifat homogen. Penentuan strata berdasarkan Jawa, sunda, madura, Batak Jawa
keterangan-keterangan statistik yang objektif dan subjektivitas si peneliti. Batak, Sunda, madura Jawa Sunda
 Membuat kerangka sampling untuk setiap subpopulasi Batak Madura Jawa Sunda Batak
Stratifikasi
 Selanjutnya pengambilan sampel dapat dilakukan secara acak sederhana Madura Jawa Sunda Batak
atau acak proporsional
Keuntungan
 Memberikan presisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengambilan Jawa Sunda Batak Madura
sampel acak sederhana dengan besar sampel yang sama Jawa Sunda Batak Madura
 Semua ciri-ciri populasi yang heterogen dapat terwakili Jawa Sunda Batak Madura
 Kemungkinan bagi peneliti untuk meneliti hubungan atau membandingkan Jawa Sunda Batak Madura
antara satu strata dengan strata yang lain

Kelemahan
Pengambilan sampel tidak lebih murah dan lebih murah daripada jawa Sunda Batak Madura
pengambilan sampel acak sederhana karena rangka yg terperinci harus
disusun untuk setiap strata sebelum pengambilan sampel
CONTOH : 4. PENGAMBILAN SAMPEL ACAK RANCANGAN KLASTER (Cluster
Random Sampling)
Pengambilan sampel acak rancangan klaster adalah metode random beberapa kabupaten, dan dari kabupaten yang terpilih, dipilih pula
pengambilan sampel yang menggunakan suatu rangka yang terdiri dari secara random beberapa kecamatan dan seterusnya sehingga didapatkan
klaster-klaster. Klaster dapat didefinisikan sebagai tiap unit pengambilan sejumlah klaster sampel tingkat desa yang dikehendaki.
sampel yang dapat dihubungkan dengan satu atau lebih unit pendaftaran. A. Metode Pengambilan Sampel
Satuan ini dapat bersifat geografis atau bersifat sementara. Berbeda dengan Cara penggunaan metode ini adalah sebagai berikut :
metode pengambilan sampel acak stratifikasi, elemen dalam klaster dibuat  Membagi daerah penelitian (populasi) yang sangat luas ke dalam klaster-
seheterogen mungkin, sedangkan antar klaster dibuat sehomogen mungkin. klaster melalui beberapa tingkatan sampai terpilih klaster sampel
 Buat daftar subjek dari semua klaster yang terpilih sebagai klaster sampel
Metode Pengambilan Sampel  Pilihlah subjek sampel dari daftar subjek tersebut, sebanyak yang
Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan cara : dikehendaki dengan menggunakan teknik acak
a. Membagi daerah penelitian ke dalam klaster-klaster (misalnya : desa, RW, B. Keuntungan
RT, dsb), kemudian susunlah daftar klaster. Tidak diperlukannya daftar kerangka sampling dari unit elementer untuk
b. Tetapkanlah jumlah klaster yang akan dipilih atas dasar jumlah subjek atau seluruh populasi .
kesatuan analisis sampel yang dikehendaki
c. Pilihlah klaster sampel dengan cara random murni atau sistematik
d. Identifikasi seluruh individu yang termasuk subjek analisis penelitian dalam C. Kelemahan
semua klaster yang terpilih sebagai sampel Metode ini tidak sering digunakan karena analisanya sangat sulit, sehingga
Keuntungan dalam praktek sulit untuk menentukan berapa sampel yang harus diambil, baik
 Tidak diperlukannya daftar kerangka sampling dari unit elementer untuk mulai tahap pertama maupun sampai tahap akhir.
seluruh populasi, cukup untuk klaster yang terpilih saja sehingga biaya dan
waktu yang diperlukan lebih sedikit. B.2. PENGAMBILAN SAMPEL TIDAK ACAK (Non Random Sampling)
 Metode ini lebih murah dan mudah dilakukan untuk survei pada manusia.
Maka metode ini sangat sering digunakan dalam penelitian survei walaupun 1. Accidental Sampling (Pengambilan sampel seadanya). Pemilihan sampel
menghasilkan estimasi parameter dengan presisi yang lebih rendah dengan metode ini dilakukan seadanya berdasarkan kemudahannya
dibandingkan dengan sampel acak stratifikasi dan sampel acak sederhana mendapatkan data yang diperlukan pada sampling.
Kelemahan 2. Quota sampling (Pengambilan Sampel Berjatah).
Sangat sulit untuk menghitung standar error. Hampir sama dengan pengambilan sampel seadanya tetapi sangat tergantung
pada peneliti dengan kriteria dan jumlah yang telah ditentukan sebelumnya
5. PENGAMBILAN SAMPEL ACAK RANCANGAN BERTINGKAT 3. Judgement Sampling. Memilih sampel dengan cara memakai proses seleksi
(Multistage Random Sampling) bersyarat.
Pengambilan sampel acak rancangan bertingkat adalah metode 4. Purposive Sampling. Sering disebut sampel bertujuan, dilakukan dengan
pengambilan sampel dengan menggabungkan dua atau lebih metode cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah
pengambilan sampel sekaligus. Ada kalanya daerah populasi penelitian begitu tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertetnu. Teknik ini biasanya dilakukan
besar sehingga metode klaster langsung (pembagian klaster yang meliputi karena beberapa pertimbangan misalnya alasan keterbatasan waktu, tenaga
daerah yang kecil) terlalu sulit. Untuk itu, dilakukan pemilihan klaster secara dan biaya sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh.
bertingkat. Misalnya, daerah populasi meliputi satu propinsi, sementara klaster Walaupun cara seperti ini diperbolehkan,dimana peneliti bisa menentukan
yang dikehendaki tingkat desa. Maka dari propinsi tersebut dipilih secara
sampel berdasarkan tujuan tertentu, tetapi ada syarat-syarat yang harus
depenuhi, yaitu:
a. Pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri-ciri, sifat-sifat atau
karakteristik tertentu, yang merupakan ciri-ciri pokok populasi.
b. Subjek yang diambil sebagai sampel benar-benar merupakan subjek yang
paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat pada populasi (key
subjects)
c. Penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan cermat di dalam studi
pendahuluan.
Tetapkan populasi penelitian
5. Panel Sampling. Merupakan sampel semi permanen yang dipilih untuk Apakah dapat dilakukan
keperluan suatu studi yang berkelanjutan. Panel sampel sangat bermanfaat stratifikasi
Tetapkan unit analisis dapat (penggolongan) subjek
dan menguntungkan, karena data yang telah dikumpulkan dapat
penelitian ?
dipergunakan berulang kali.
Apakah suatu daftar subjek dapat tidak
diperoleh ? Gunakan Metode
C. PENENTUAN BESAR SAMPEL
Pengambilan Sampel
Perhitungan besar sampel pada rancangan acak sederhana secara umum Panduan praktis untuk merencanakan metode
tidak pengambilan
Sederhana / sampel
dapat Acak
adalah sebagai berikut : Dapatkah disusun daftar subjek baru Sistematis
1. Untuk populasi terbatas ( N = jumlah populasi diketahui ) dengan informasi yang ada ?
Z2 1-/2 P (1-P) N
tidak Apakah tujuan penelitian
n = ----------------------------- terutama untuk
d2 (N-1) + Z2 1-/2 P (1-P) Buatlah klaster dengan ukuran perbandingan (studi
2. Untuk populasi tidak diketahui sekecil dan sesama mungkin komparasi)
Z2 1-/2 .P(1-P)
n = ------------------------ Pilihlah klaster sampel secara acak Apakah jumlah subjek dalam tiap
d2 stratum sama banyak ?
n = besar sampel
d = presisi mutlak
z = z score ditentukan berdasarkan derajat kepercayaan Tersedia atau dapatkah disusun Gunakan Metode Pengambilan
P = proporsi penelitian sebelumnya (jika tidak diketahui gunakan daftar dan jumlah subjek pada tiap Sampel Acak Stratifikasi Sederhana
0,5) klaster sampel
N = jumlah populasi sama tidak
tidak dapat
GunakanMeto GunakanMeto
dePengambila dePengambila
Gunakan Metode Gunakan nSampelAcak nSampelAcak
Pengambilan Metode StratifikasiSe StratifikasiPr
Sampel Acak Pengambilan derhana oporsional
Rancangan Sampel Acak
Klaster Rancangan
Bertingkat
- Apakah pertanyaan tersebut relevan ?
- Bagaimana jawaban atas pertanyaan tsb dalam tabulasi ?

Bila sudah ada kuesioner yang terdahulu dan relevan, bisa digunakan lagi tetapi
dengan syarat harus didiskusikan dulu dengan peneliti sebelumnya apa
kekurangannya, dan menyarankan untuk menambah atau bahkan menghilangkan
pertanyaan.
Isi Pertanyaan
1. Pertanyaan tentang fakta
Contoh : umur, pendidikan, agama, status perkawinan.
2. Pertanyaan tentang pendapat dan sikap
Ini menyangkut perasaan dan sikap responden tentang sesuatu.
3. Pertanyaan tentang informasi
Pertanyaan ini menyangkut apa yang diketahui oleh responden dan sejauh
mana hal tersebut diketahuinya.
4. Pertanyaan tentang persepsi diri
Responden menilai perilakunya sendiri dalam hubungannya dengan yang
TEKNIK PEMBUATAN KUESIONER orang lain.
Sri Nurlela, SKM., M.Kes
Beberapa Cara Pemakaian Kuesioner :
1. Kuesioner digunakan dalam wawancara tata muka dengan responden
Tujuan pokok pembuatan kuesioner adalah untuk : 2. Kuesioner diisi sendiri oleh kelompok
a) Memperoleh informasi yg relevan dengan tujuan survey 3. Wawancara melalui telepon
b) Memperoleh informasi yg reliabilitas dan validitas tinggi. 4. Kuesioner diposkan
Pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner harus berkaitan dengan hipotesis dan Jenis Pertanyaan
tujuan penelitian. 1. Pertanyaan terbuka
Kemungkinan jawaban tidak ditentukan lebih dahulu. Setiap pertanyaan dapat
Kuesioner merupakan instrumen didalam teknik komunikasi tidak langsung. dijawab secara bebas oleh responden. Jawaban bebas maksudnya adalah
Kuesioner sebagai alat pengumpul data adalah sejumlah pertanyaan tertulis, yang uraian berupa pendapat, hasil pemikiran, tanggapan dan lain-lain mengenai
harus dijawab oleh responden. Hasil kuesioner tersebut akan terjelma dalam segala sesuatu yang ditanyakan pada setiap item. Uraian jawaban tersebut
angka-angka, tabel-tabel, analisa statistik dan uraian serta kesimpulan hasil diserahkan sepenuhnya pada responden, sehingga mungkin saja panjang dan
penelitian. mungkin saja pendek.
Jawaban tersebut tidak mustahil menyimpang atau tidak seluruhnya berkenan
Titik tolah teknis pembuatan kuesioner adalah variabel dalam survey. Variabel
dengan maksud pertanyaan, sehingga sangat tergantung dengan kemampuan
harus jelas dan relevan. Tiap pertanyaan dimaksudkan untuk dipakai dalam
responden menangkap maksud atau menafsirkannya.
analisis. Perlu ditanyakan dalam hati :
Contoh :
- Apakah pertanyaan tersebut diperlukan ?
Menurut pendapat ibu apakah masalah paling penting yang melatarbelakangi 4. Untuk berkumpul dengan teman-teman
terjadinya Diare pada anak Balita ?

2. Pertanyaan tertutup 3.Kombinasi tertutup dan terbuka


Kemungkinan jawaban sudah ditentukan terlebih dahulu. Responden dalam Jawaban sudah ditentukan, tetapi kemudian disusul dengan pertanyaan
memberikan jawaban diminta untuk memilih jawaban yang paling tepat diantara terbuka.
alternatif-alternatif yang sudah disediakan. Contoh :
Alternatif-alternatif jawaban itu biasanya ditempatkan dibagian bawah setiap Apakah ibu pernah mendengar tentang imunisasi ?
pertanyaan. Kecenderungan untuk membuat lembaran jawaban tersendiri atau 1. Pernah 2. Tidak pernah
terpisah, dianjurkan untuk dihindari karena dapat membingungkan. Jika pernah, sebutkan imunisasi apa saja yang ibu ketahui ?
Dilihat dari struktur jawaban yang disediakan dapat dibedakan dalam beberapa
bentuk : 4. Pertanyaan semi terbuka
a. Bentuk dua alternatif ( Force Choice Item ) Pada pertanyaan semi terbuka, jawabannya sudah disusun tapi masih ada
Jawaban hanya terdiri dari dua alternatif yang harus dipilih salah satu kemungkinan tambahan jawaban
diantaranya. Contoh :
Contoh : Dimanakah biasanya saudara mandi ?
Apakah ada pelayanan kesehatan di daerah setempat ? 1. Di kamar mandi
1. Ya 2. Tidak 2. Di sungai
b. Bentuk pilihan ganda ( Multiple Choice Item ) 3. Di sumur
Setiap pertanyaan diikuti dengan lebih dari dua alternatif jawaban yang 4. Lainnya ………….. ( sebutkan )
harus dipilih responden. Alternatif jawaban mungkin tiga, empat atau lima
dan seterusnya. Perumusannya dapat dibedakan sebagai berikut :
 Kuesioner yang jawabannya dihubungkan dengan skala nilai. Petunjuk membuat pertanyaan :
Contoh : 1. Gunakan kata-kata yang sederhana dan dimengerti oleh semua responden
Apakah pendapat ibu tentang imunisasi ? Contoh :
1. Setuju 2. Ragu-ragu 3. Tidak setuju Bagaimana status perkawinan saudara ?
Lebih baik : Apakah saudara sudah menikah ?

 Kuesioner yang jawabannya berupa uraian singkat 2. Usahakan supaya pertanyaan jelas dan khusus
Pada setiap pertanyaan disediakan alternatif jawaban lebih dari dua Contoh :
dalam bentuk uraian-uraian singkat. Berapa orang berdiam disini ?
Apakah yang dimaksud disini itu : rumah, desa atau yang lain
Contoh : Lebih baik : Berapa orang penghuni rumah ini ?
Apa alasan ibu menimbangkan anak di Posyandu ?
1. Untuk mengetahui pertumbuhan dan berat badan anak 3. Hindarkan pertanyaan yang membuat lebih dari satu pertanyaan
2. Karena anjuran Kader Contoh :
3. Karena anjuran tokoh masyarakat Apakah membersihkan kamar mandi dalam sebulan ?
Lebih baik : Apakah mempunyai kamar mandi ? Disini timbul persoalan apakah responden dapat membedakan cepat atau
Kalau jawaban “ Ya “ , kemudian ditanyakan : Berapa kali dalam sebulan lambatnya aliran darah dalam tubuh.
membersihka kamar mandi ?

4. Hindarkan pertanyaan yang mengandung sugesti


Contoh : 4. Apakah urutan pertanyaan perlu diubah
Air minum keluarga, apakah diambil dari sumur atau yang lain? Contoh :
Lebih baik : Darimana air minum keluarga diambil ? Urutan pertanyaan :
1. Sosial Ekonomi 2. Riwayat Kehamilan
5. Pertanyaan harus berlaku bagi semua responden 3. Keluarga Berencana 4. Sosial Ekonomi
Contoh :
Apakah pekerjaan saudara sekarang ? Pada bagian pertama sudah ditanyakan masalah sosial ekonomi, tapi setelah
Ternyata responden menganggur. Seharusnya ditanyakan terlebih dahulu : pertanyaan tentang keluarga berencana selesai, kembali ditanyakan tentang
Apakah saudara bekerja ? Bila jawabannya “ Ya “ baru ditanyakan : sosial ekonomi walaupun dengan pertanyaan yang tidak persis sama. Hal ini
Pekerjaan saudara ? perlu dihindarkan, olehkarena itu pertanyaan bagian 4 perlu dipindahkan
seluruhnya ke bagian 1.
Pretest
Pretest diadakan untuk menyempurnakan kuesioner. Melalui pretest akan 5. Apakah pertanyaan yang sensitive dapat diperlunak dengan mengubah bahasa
diketahui berbagai hal : Contoh : Mengapa setelah melahirkan ibu tidak berhubungan seks sekian lama
?
1. Apakah pertanyaan tertentu perlu dihilangkan Dapat diubah menjadi : Mengapa ibu melakukan puasa berhubungan sekian
Pertanyaan tertentu mungkin tidak relevan untuk masyarakat yang diteliti. lama setelah melahirkan ?
Contoh :
Pada masyarakat kota mungkin tidak relevan bila ditanyakan ; 6. Berapa lama wawancara memakan waktu
Berapa hektar sawah yang saudara miliki ? Contoh :
Dari hasil pretest diketahui bahwa kuesioner memerlukan waktu 3-3,5 jam
2. Apakah pertanyaan tertentu perlu ditambah untuk mewawancarai responden sehingga responden menjadi lelah dan bosan.
Adakalanya terlupa memasukkan pertanyaan yang perlu dimasukkan. Oleh karena itu pertanyaan dapat dikurangi atau dibagi atas dua tahap.
Contoh : Pedoman Pengisian Kuesioner
Pada saat dilakukan pretest ternyata diketahui identitas responden lupa Pedoman pengisian kuesioner merupakan pegangan bagi pewawancara. Dalam
memasukkan nama, maka pertanyaan tersebut perlu ditambahkan. pedoman pengisian kuesioner, tiap pertanyaan yang diajukan diberi keterangan
yang jelas dan terperinci.
3. Apakah tiap pertanyaan dapat dimengerti dengan baik oleh responden dan
apakah pewawancara dapat menyampaikan pertanyaan tersebut dengan Daftar Pustaka
mudah. Nawawi, Hadari H, HM Martini Hadani. 1995. Instrumen Penelitian Bidang
Contoh : Sosial.Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Selama minum pil, apakah kadang-kadang Ibu merasakan darah Praktiknya, Ahmad W. 1986. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan
mengalir lebih cepat dari biasanya ? Kesehatan. CV Rajawali, Jakarta.
Sastroasmoro, Sudigdo, Sofyan Ismael. 1995. Dasar-dasar Metodologi Penelitian
Klinis. Binarupa Aksara, Jakarta.
Singarimbun, Masri, Sofian Effendi. 1991. Metode Penelitian Survei. Penerbit
LP3ES, Jakarta
Lampiran 2 7. Hasil
Hasil kegiatan hendaknya disajikan secara bersistem. Untuk memperjelas
DESKRIPSI ISI LAPORAN dapat dilengkapi dengan sajian tabel dan atau gambar yang dilengkapi
dengan inrterpretasinya.
1. Ringkasan
Ringkasan memuat tujuan dan hasil praktek belajar lapangan yang paling 8. Pembahasan
menonjol serta kesimpulan dan implikasinya. Ditulis dalam bahasa Indonesia, Berisi pembahasan terhadap hasil yang diperoleh dengan menghubungkan
panjang maksimum 250 kata dan ditulis dalam satu paragrap. atau membandingkan dengan hasil teori atau hasil penelitian yang sesuai
atau rujukan yang relevan
2. Latar Belakang
Bagian ini berisi uraian yang melatar belakangi dilaksanakannya Praktek 9. Simpulan dan Saran
Belajar Lapangan (PBL) I serta pengantar pada topik utama yang akan Simpulan dirumuskan secara ringkas serta mencerminkan jawaban terhadap
dibahas. permasalahan, serta saran harus berkaitan dengan pelaksanaan atau hasil
kegiatan.
3. Tujuan
Tujuan umum menguraikan tujuan umum pelaksanaan PBL I, sementara 10. Daftar Pustaka
tujuan khusus disesuaikan dengan rumusan masalah masing-masing. Merupakan daftar artikel atau kepustakaan lain yang dirujuk
di dalam penyusunan laporan.
4. Manfaat
Uraikan manfaat kegiatan baik terhadap masyarakat, Puskesmas, FKIK 11. Lampiran
Jurusan Kesehatan Masyarakat, dan Pemerinta Daerah (Dinas Kesehatan Biasanya memuat bermacam hal yang dapat membantu
Kabupaten) memperjelas atau mendukung isi laporan,

5. Tinjauan Pustaka
Pada bagian ini sebaiknya diuraikan dasar pemikiran (landasan teori) yang
terkait dan menjadi dasar kegiatan atau penelitian dari berbagai sumber
kepustakaan.

6. Metode Pelaksanaan
Metode disini mencakup rancangan pelaksanaan kegiatan , cara pengambilan
sampel, cara pengambilan data, instrumen yang digunakan, analisis data,
serta waktu dan lokasi penelitian.
Lampiran 3 Lampiran 4

Contoh Halaman Sampul : Contoh Halaman Pengesahan :

Halaman Pengesahan
LAPORAN PBL
1. Judul : …………………………………
……..JUDUL……. …………………………………
2. Ruang Lingkup : Kesehatan Masyarakat

3. Anggota Kelompok : Nama Nim


1. …………………….. ……
2. ……………………. ……
3. …………………….. ……
4. ……………………. ……
5. ……………………. ……
6. ……………………. ……
Oleh : 4. Lokasi Kegiatan : ………………………………..
Nama NIM 5. Waktu : ……………………………….
………. ……….
……… ………
Purwokerto, ……….2010
Dosen Pembimbing Lapangan

……..……………………
Universitas Jenderal Soedirman
Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan
Jurusan Kesehatan Masyarakat
Purwokerto
2010
HALAMAN PENGESAHAN Lampiran : 5

DAFTAR NOMOR HANDPONE


Laporan PBL I yang berjudul ……………………………………………… DOSEN PEMBIMBING PBL 2010
………………………………………………………………… telah direvisi
berdasarkan saran dan masukan dari tim penilai NO NAMA NO. HP
1. Sri Nurlaela, SKM, M.Epid. 085842975345
2. Elviera Gamelia, SKM, M.Kes 08562274737
3. Colti Sistiarani, SKM, M.Kes. 08122890582
Purwokerto, 2010
4. Arih Diyaning Intiasari, SKM,MPH 085647707321
Penilai I Penilai II 5. Siti Nurkhayati, S. Pt., M.Kes 081326362888
6. Eri Wahyuningsih, S.Ked.,M.Kes 08122676542
7. Dyah Umiyarni P, SKM,M.Si 081575388785
(Puskesmas) (Jurusan kesmas) 8. Nur Ulfah, SKM., M.Sc 081327076014
9. Drs. Heryanto, M.Si.
10. Arif Kurniawan, SKM., M.Kes (ARS) 085640333993
11. Kuswanto, SKM, M.Kes 081542978822
12. Drs. Bambang Hariyadi, M.Kes. 085842554166
Lampiran 6. 1 G1B007098 Anindya Yoga H
Daftar Kelompok dan Dosen pembimbing Lapangan 2 G1B008004 Ayu Sekar Nuraeni
3 G1B008016 Elisiana Hendrawati
Puskesmas/ Kelp NO. NIM Nama Mahasiswa Pembimbing KALIMANAH 4 G1B008024 Isma Riyani Suardi
Desa Arih Diyaning
5 G1B008034 Ratna Indah Pertiwi
1. G1B008001 Iska Fitrianis Istiqomah IV Intiasari,
BABAKAN 6 G1B008096 Yunita Angggraeni SKM., M.PH
2. G18008011 Rebekca
7 G1B008102 Anggitaningrum
PADAMARA 3. G1B008031 Citra Denali
8 G1B008112 Nurbaiti Fadhilah
4. G1B008041 Ilham Zakaria
Sri Nurlaela, 9 G1B008124 Nofan Aji Purwantoro
5. G1B008053 Feri Yudha A
KARANG I SKM, M.Epid 10 G1B008134 Mohammad Maskur
JAMBE 6. G1B008065 Ratri Praharsini Putri
7. G1B008071 Fety Fatimah 1 G1B007093 Sri Rahayu Prihatni A
8. G1B008081 Enggar Youasanti 2 G1B008005 Isnawati
9. G1B008127 Siti Jamilah 3 G1B008015 Retno Hidayati
10. G1B008129 Mariel Melini KALI 4 G1B008025 Antika Rizkiani
GONDANG 5 G1B008035 Fajar Fadilat Siti Nurhayati,
1. G1B008002 Faaris Abdi Rahman V
6 G1B008047 Siti Khudaefah SPt, MSc
2. G1B008012 Lilis Muntamah SLINGA
7 G1B008103 Nugrah Nevian Sari
3. G1B008030 Angga Saktia W
PADAMARA 8 G1B008113 Rizqi Nurfaizah
4. G1B008040 Adnan Agnesa
Elviera 9 G1B008125 Rina Noverina
5. G1B008044 Dwiary Primadani
KARANG
II Gamelia, 10 G1B008135 Arrizqi Irfa Arzuqi
6. G1B008062 Ari Ani Khoirunnisa SKM.,M. Kes
GAMBAS
7. G1B008070 Desi Damayanti 1 G1B007118 Clara Sheptian A
8. G1B008072 Gita Naftasari 2 G1B008006 Dwi Lestari
9. G1B008084 Ghina Nurdiyani KALI 3 G1B008014 Imroatul Aflah
10. G1B008092 Eka Apriyanti GONDANG 4 G1B008018 Fakih Hidayat
Eri
5 G1B008078 Sri Wahyuningsih
1. G1B008003 Desi Afi Ani VI Wahyuningsih,
6 G1B008088 Afiet Permatasari S.Ked, M.Kes
2. G1B008013 Siti Ilmawati
SELA 7 G1B008098 Imma Hibatul Maula
3. G1B008023 Santi Dwi Andini NEGARA 8 G1B008108 Indra Wiyan Saga
KALIMANAH 4. G1B008033 Dewi Puspitasari
9 G1B008118 Aisah Kurniati
5. G1B008045 Septina Priyanti Colti Sistiarani,
III
S.KM., M.Kes
10 G1B008130 Septyani Windy A
SELABAYA 6. G1B008067 Chandy Swastika P
7. G1B008073 Ringa Cantika A R
8. G1B008083 Rizqa Ulfah
9. G1B008093 Tri Haryani
10. G1B008119 Aprilia Nur W
1 G1B008008 Aris Dewa Handayanto
1 G1B007119 Bunga Rizky Fitriana 2 G1B008022 Gugun Gunara
2 G1B008007 Imas Dwi Hastuti 3 G1B008026 Ariani Novantika
3 G1B008017 Ineke Desitarius BOJONG 4 G1B008036 Ary Indah Kurniawati
KEMANG 4 G1B008027 R. Widhy Cah K SARI 5 G1B008052 Rizka Apriliyana Drs. Heryanto,
KON X
5 G1B008021 Gilang Setyadi Dyah Umiyarni 6 G1B008064 Desi Mirantika R M.Si
VII KAJONGAN
6 G1B008089 Theresnia Yulianti P, SKM, M.SI 7 G1B008068 Yannita Kejora
PENICAN 7 G1B008099 Titis Ria Maryanti 8 G1B008074 Resti Qodariah
8 G1B008111 Regina K 9 G1B008100 Puji Rahayu Choliska
9 G1B008123 Putri Rizki I 10 G1B008114 Ainurrofik
10 G1B008133 Harry Fauzi
1 G1B008037 Tri Septyana Pratiwi
1 G1B008010 Yuanita Terika Sari 2 G1B008049 Intan Tri Masroah
2 G1B008020 Dwi Yuniarti 3 G1B008051 Arie Ardiyanti Rufaedah
3 G1B008028 Anita Febrianti BOBOTSARI 4 G1B008055 Anggar Cahyo Diarno
Drs. Bambang
KEMANG 4 G1B008038 Arumdhika Nurindah 5 G1B008059 Elfa Kartikasari
KARANG
XI Hariyadi,
KON 5 G1B008050 Triwulan Nurmanita Nur Ulfah, 6 G1B008069 Rahma Purwanti M.Kes
VIII DUREN
6 G1B008054 Silviana Dian Prastiwi SKM M.Kes 7 G1B008091 Andri Astuti
BAKULAN 8 G1B008095 Dwiyan Harsono
7 G1B008082 Indra Krisbiantoro
8 G1B008106 Sri Wulandari 9 G1B008109 Chichilia Clarasati
9 G1B008116 Retna Dwi Pratiwi 10 G1B008117 Tri Jumantoro
10 G1B008128 Sudiono 11 G1B008121 Umi Hani
1 G1B008009 Anteng Melani 1 G1B008032 Resti Yudiarti
2 G1B008019 Rilek Irawati 2 G1B008039 Sri Handayani
3 G1B008029 Astriana Indah Y 3 G1B008046 Putri Dini Safitri
BOJONG 4 G1B008063 Wahyu Nugroho 4 G1B008056 Leli Nuraeni
Arif BOBOTSARI
SARI 5 G1B008077 Meta Adhadinika 5 G1B008057 Kiki Kurniasih
IX Kurniawan, XII Drs.
6 G1B008085 Nunik Nurfitriana SKM, M.Kes
6 G1B008058 Retnowati
BROBOT GANDASULI Kuswanto,
7 G1B008097 Estining Tri U W P 7 G1B008060 Fandi Aji Satria
M.Kes
8 G1B008101 Ardinal Denis S A 8 G1B008076 Ahmad Luthfil Hakim
9 G1B008107 Drajat Prastya 9 G1B008104 Angelia Ratri AP
10 G1B008131 Munawarah Nurriza 10 G1B008122 Arino Nur Widianto
11 G1B008126 Akhlimah Rizkha AP
JADWAL PEMBEKALAN PBL I
TAHUN 2010

Pelaksanaan
Materi PBL I Pembicara Ruang Hari, Tanggal Waktu

RK IV
1 Konsep PBL Tim PBL Sabtu, 9 Okt 2010 07.00 - 08.40
JKM

Kebijakan Kepala Dinas


RK IV
2 Pembangunan Kesehatan Kab. Sabtu, 9 Okt 2010 09.00-10.40
JKM
Kesehatan Purbalingga

Pendekatan Ir. Endo RK IV


3 Sabtu, 9 Okt 2010 11.00 – 12.40
Kemasyarakatan Dardjito, MPPM JKM

Elviera Gamelia, RK IV
4 Analisis Situasi Sabtu, 16 Okt 2010 07.00-08.40
SKM, M.Kes. JKM

Suratman,
Teknik RK IV
5 SKM., M.Kes Sabtu, 16 Okt 2010 09.00 – 10.40
Pengumpulan Data JKM
Setiyowati
RK IV
6 Teknik Sampling Rahardjo, SKM., Sabtu, 16 Okt 2010 11.00 – 12.40
JKM
MKM

Pembuatan Sri Nurlaela RK IV


7 Sabtu, 16 Okt 2010 13.00 – 14.40
Kuesioner SKM., M. Epid JKM

Anda mungkin juga menyukai