Anda di halaman 1dari 7

EFFISIENSI PEMAKAIAN DAYA LISTRIK DENGAN SMART

BUILDING SYSTEM
Artha Ayudhiya, Ir. Anang Tjahyono, MT.
Teknik Elektro Industri, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
Telp : +6281333000460
Email :cah.katrox@yahoo.co.id

ABSTRAK

Pengaturan suhu, kelembaban dan cahaya sangatlah penting dalam rumah kaca. Suhu, kelembaban dan
cahaya pada rumah kaca dapat mempengaruhi produktifitas tanaman. Pengaturan suhu, kelembaban dan
cahaya dapat dilakukan secara manual maupun otomatis. Alat ini dapat mengatur suhu, kelembaban dan
cahaya rumah kaca sesuai dengan yang dibutuhkan. Dengan plc Allen Bradley sebagai kontrolnya, alat ini
mempunyai beberapa komponen yaitu pembangkit suhu, pembangkit kelembaban, sensor suhu, sensor
kelembaban dan sensor cahaya. Sensor suhu dan kelembaban yang digunakan adalah H500M, suhu dan
kelembaban yang terukur kenaikannya sama dengan tegangan output sehingga hasilnya akan diproses oleh
plc untuk menggerakkan aktuator. Untuk display temperatur dan kelembaban ditampilkan ke PC melalui
komunikasi serial antara plc dengan PC. Untuk sensor cahaya menggunakan ldr, apabila cahaya disekitar
rumah kaca gelap maka data yang dihasilkan sensor akan diproses oleh plc untuk mengaktifkan lampu
begitu juga sebaliknya.

1. PENDAHULUAN sering dan angin yang kencang. Struktur


Dunia pertanian di Indonesia telah greenhouse di daerah tropis sering
menjadi salah satu penghasil komoditas menggunakan sisinya untuk melindungi dan
unggulan baik untuk konsumsi dalam mengontrol suhu dengan menggunakan
negeri maupun luar negeri. Hal ini ventilasi alamiah maupun terkontrol dengan
menyebabkan semakin banyaknya dilapisi jala (screens) yang mampu
teknologi budidaya pertanian untuk terus mengurangi serangan serangga dan hama.
dikembangkan. Salah satu teknologi yang
banyak digunakan adalah teknologi Namun pada umumnya sistem kontrol
rumah kaca (Greenhouse). kelembaban dan temperatur rumah kaca
masih menggunakan cara konvensional.
Karena dengan Greenhouse faktor Seiring dengan perkembangan jaman, setiap
yang berpengaruh seperti suhu, sinar sistem kontrol diharapkan mempunyai
matahari, kelembaban, dan udara efisiensi dan efektifitas tinggi. Telah ada
disediakan, dipertahankan dan berbagai macam aplikasi yang mendukung
didistribusikan secara merata pada level tuntutan tersebut, diantaranya penggunaan
yang optimal. Untuk tujuan ini disyaratkan plc dalam rumah kaca.
dalam pembuatan greenhouse adalah
mempunyai transmisi cahaya yang tinggi, 2.Dasar Teori
konsumsi panas yang rendah, ventilasi yang 2.1. Programmable Logic Controller (PLC)
cukup dan efisien, struktur yang kuat. Sebuah PLC (Programmable Logic
Controller) adalah sebuah alat yang
Greenhouse untuk daerah tropis digunakan untuk menggantikan rangkaian
sangat memungkinkan dan mempunyai sederetan relai yang dijumpai pada sistem
banyak keuntungan dalam produksi dan kontrol proses konvensional. PLC bekerja
budidaya tanaman. Produksi dapat dengan cara mengamati masukan (melalui
dilakukan sepanjang tahun, dimana sensor-sensor terkait), kemudian melakukan
produksi dalam lahan yang terbuka tidak proses dan melakukan tindakan sesuai yang
memungkinkan karena adanya hujan yang dibutuhkan, yang berupa menghidupkan atau
mematikan keluarannya. memori yang terbatas.
Semakin kompleks proses yang
harus ditangani, semakin penting
penggunaan PLC untuk mempermudah
proses-proses tersebut (dan sekaligus
menggantikan beberapa alat yang
diperlukan). Selain itu sistem kontrol
proses konvensional memiliki beberapa
kelemahan, antara lain :
1) Perlu kerja keras saat dilakukan
pengkabelan.
2) Kesulitan saat dilakukan
penggantian dan atau perubahan.
3) Kesulitan saat dilakukan
pelacakan kesalahan.
4) Saat terjadi masalah, waktu tunggu
tidak menentu dan biasanya lama.
Sedangkan penggunaan kontroler
PLC memiliki beberapa kelebihan
dibandingkan dengan sistem kontrol
konvesional, antara lain:
1) Dibandingkan dengan sistem kontrol
proses konvensional, jumlah kabel
yang dibutuhkan bisa berkurang
hingga 80 %. Gambar 2.3 Bentuk PLC Compact
2) PLC mengkonsumsi daya lebih rendah
Sedangkan untuk PLC bentuk modular
dibandingkan dengan sistem kontrol
terdiri dari modul CPU dan modul I/O
proses konvensional (berbasis relay).
(merupakan bagian yang terpisah-pisah).
3) Fungsi diagnostik pada sebuah
kontroler PLC membolehkan
pendeteksian kesalahan yang mudah
dan cepat.
4) Perubahan pada urutan operasional
atau proses atau aplikasi dapat
dilakukan dengan mudah, hanya
dengan melakukan perubahan atau
penggantian program, baik melalui
terminal konsol maupun komputer
PC.
5) Tidak membutuhkan spare part yang
banyak.
6) Ketahanan PLC jauh lebih baik
dibandingkan dengan relay auto-
mekanik.

2.2. PLC Allen Bradley


Programmable Logic Controler
(PLC) Allen Bradley merupakan salah Gambar 2.4 Bentuk PLC Modular
satu jenis PLC yang banyak digunakan
untuk keperluan otomasi di industri. Ada 2
2.3. Kontroller
macam bentuk PLC Allen Bradley yaitu
bentuk compact dan bentuk modular. Karakteristik pada semua plant harus
Untuk bentuk compact, PLCnya diterima sesuai dengan yang telah dibuat
menggunakan system rak (CPU dan I/O sehingga komponen penyusun dari suatu
jadi satu kesatuan) dengan kapasitas sistem tdak dapat diubah. Perubahan perilaku
sistem hanya bisa dilakukan dengan
menambah suatu bab sistem yaitu masukan sistem kontrol merupakan fungsi
kontroler. Oleh karena itu kontroler dalam waktu yang berangsur-angsur berubah maka
sebuah sistem kontrol mempunyai fungsi waktu ”ramp” merupakan sinyal uji
pengaruh yang besar terhadap perilaku yang baik.
sistem. Respon waktu sistem kontrol
Tujuan pembuatan sistem kontrol terdiri dari dua bagian yaitu respon transien
adalah untuk mendapatkan sinyal aktual dan keadaan tunak (steady state). Yang
sesuai dengan yang diinginkan sehingga dimaksud dengan respon transien adalah
sinyal tersebut sama dengan sinyal yang respon sistem yang berlangsung dari keadaan
disetting. Pada sistem kontrol yang awal sampai keadaan akhir. Untuk respon
berumpan balik merupakan sistem kontrol keadaan tunak dimaksudkan sebagai perilaku
yang cenderung menjaga hubungan yang keluaran sistem jika t mendekati tak
telah ditentukan antara keluaran dan terhingga. Sistem kontrol berada dalam
masukan acuan dengan membandingkan kesetimbangan jika tidak ada suatu gangguan
dan menggunakan selisih sebagai alat atau masukan, keluaran berada dalam keadaan
pengontrolan. Kerja dari kontroler yang yang tetap. Sistem kontrol linier parameter
maksimum dan baik harus mampu konstan tidak stabil jika keluaran berosilasi
mengamati perbedaan antara nilai setting terus-menerus atau keluaran membesar tanpa
dengan nilai keluaran secara cepat agar batas dari keadaan kesetimbangannya ketika
segera dapat menghasilkan sinyal keluaran dikenai suatu gangguan. Respon transien
untuk mempengaruhi plant. Apabila reaksi sistem kontrol praktis sering menunjukkan
sistem semakin cepat mengikuti sinyal osilasi teredam sebelum mencapai keadaan
aktual dan semakin kecil kesalahan (error) tunak.
yang terjadi, maka semakin baik kinerja Dalam menentukan karakteristik respon
dari sistem kontrol. transien sistem kontrol terhadap masukan
Dalam persyaratan umum sistem tangga satuan, secara umum dicari parameter
kontrol terdapat persyaratan utama yaitu berikut :
setiap sistem kontrol harus stabil. Tetapi 1. Waktu tunda (delay time) td : Waktu
selain kestabilan mutlak, suatu sistem yang diperlukan respon untuk mencapai
kontrol harus mempunyai kestabilan relatif setengah harga akhir yang pertama kali.
yang kayak jadi kecepatan respon harus 2. Waktu naik (rise time) tr : Waktu yang
cukup cepat dan menunjukkan peredaman diperlukan respon untuk naik dai 10-90%
yang layak. Suatu sistem kontrol juga dari harga akhir.
harus mampu memperkecil kesalahan 3. Waktu puncak (peak time) tp : Waktu
sampai nol atau sampai pada suatu harga yang diperlukan respon untuk mencapai
yang dapat ditoleransi. Setiap sistem puncak lewatan yang pertama kali.
kontrol yang berguna harus memenuhi 4. Lewatan maksimum (maksimum
persyaratan ini. Persyaratan kestabilan overshoot) Mp : Harga puncak
relatif yang layak dan ketelitian keadaan maksimum dari kurva respon yang diukur
yang tunak (steady state) cenderung tidak dari satu.
dapat dipenuhi secara bersama-sama. Oleh Waktu penetapan (settling time) ts :
karena itu dalam mendesain sistem kontrol Waktu yang diperlukan kurva respon untuk
perlu dilakukan kompromi yang efektif mencapai dan menetap dalam daerah sekitar
diantara dua persyaratan ini. harga akhir dengan ukuran ditentukan dari
Dalam menganalisis dan mendesain presentasi mutlak harga akhir (5% atau 2%).
sistem kontrol, kita harus mempunyai
suatu dasar perbandingan performansi 2.4. Motor
berbagai sistem kontrol. Dengan sinyal Prinsip kerja sebuah motor dapat
masukan uji dapat dilakukan analisis dijelaskan sebagai berikut: bila ada
matematik dan eksperimental sistem kntrol penghantar yang dialiri arus listrik, yang
secara mudah karena sinyal-sinyal ini ditempatkan di suatu medan magnet, maka
merupakan fungsi waktu yang sederhana. penghantar tersebut akan mengalami gaya dan
Sinyal masukan uji yang biasa digunakan gaya itu akan menghasilkan torsi yang akan
adalah fingsi tangga, fungsi ”ramp”, fungsi memutar jangkar.
percepatan, fungsi sinusoidal,dsb. Salah
satu eksperimen yang dilakukan yaitu jika
Light 0-12 Vdc Lighting
Sensor
220 V ac
Hum idity 0-5 Vdc Fan
Sensor
PLC 24 Vdc
Tem peratur 0-5 Vdc
Allen Bradley Heater
Sensor
220 V ac

serial
W asher sinyal listrik. Tranduser dapat dikelompokkan
PC Pump
12 V dc
menjadi dua yaitu:
1) Tranduser aktif yaitu tidak memerlukan
daya dari luar dan menghasilkan arus /
tegangan analog apabila dirangsang
dengan bentuk fisis energi
2) Tranduser pasif yaitu memerlukan daya
dari luar
Sensor adalah alat yang digunakan
Gambar 2.33 Prinsip Kerja Motor untuk mendeteksi dan sering berfungsi untuk
mengukur magnitude sesuatu. Sensor adalah
jenis tranduser yang digunakan untuk
Proses perubahan energi pada mengubah variasi mekanis, magnetis, panas,
motor DC arus searah dapat digambarkan sinar dan kimia menjadi tegangan dan arus
pada gambar 2.34 berikut ini: listrik.

BAB III
PERENCANAAN DAN
PEMBUATAN ALAT
Perencanaan untuk sistem kendali cahaya
Gambar 2.34 Proses Perubahan Energi Pada dan kelembaban rumah kaca dengan menggunakan
Motor DC plc ini dibagi menjadi 2, yaitu perencanaan
perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak
Mengingat hukum kekekalan (software).
energi, proses perubahan energi listrik
menjadi energi mekanik dapat dinyatakan 3.1. Diagram Blok Perencanaan
sebagai berikut: Secara garis besar dari perencanaan ini
Energi listrik sebagai masukan = dapat dilihat berdasarkan diagram blok di
Energi mekanik sebagai keluaran + energi bawah ini
yang diubah menjadi panas + energi yang
tersimpan dalam medan magnet.
Besarnya gaya yang ditimbulkan
oleh penghantar yang dialiri arus,
tergantung pada:
1. Kuatnya medan magnet
(Besarnya induksi
magnet)
2. Besarnya arus yang
mengalir pada
penghantar
3. Panjang kawat Gambar 3.1. Blok Diagram Hardware
penghantar

Berdasarkan point-point diatas, 3.1.1. Prinsip Kerja Diagram Blok


maka akan didapatkan rumusan untuk gaya
tersebut yaitu: Dari diagram blok diatas dapat
F = BIL diketahui bahwa terdapat tiga buah sensor
(2.9) yang menjadi masukan dari plc yaitu sensor
cahaya, sensor kelembaban dan sensor
2.5. Tranduser Dan Sensor temperature. Sedangkan untuk keluaran plc
Tranduser adalah alat yang terdapat empat jenis aktuator yaitu lampu,
mengubah energi dari satu bentuk ke kipas, pemanas dan pompa.
bentuk yang lain atau alat yang mengubah Untuk sensor cahaya, keluarannya
gaya atau perpindahan mekanis menjadi
Vcc 12V Vcc 5V
H500M

Vo Output signal
Humidity
3 4
humidity
RT 2
masuk
LM 324
1 ke plc berupaInput
PLC
data digital yaitu sehingga tegangan yang menuju pin 3 dari
Vcc 12V
bernilai
11 12Vdc atau 0Vdc, sedangkan lm 324 akan kecil. Bila tegangan yang
sensor kelembaban dan temperatur, menuju pin 3 lebih kecil daripada tegangan
25 kΩ keluarannya berupa data analog yaitu
Output signal
referensi yang menuju pin 2 maka pin 1 dari
25 k Ω dengan range tegangan 0 – 5Vdc
temperature lm 324 tidak akan keluar tegangannya.
T 330 Ω Antara PLC dengan PC Besar tegangan yang menuju pin 3 (V3)
menggunakan 25 k Ωkomunikasi serial rs 232. ialah V3 = ( Rv / Rldr + Rv ) * Vcc
PC digunakan untuk memonitoring nilai
dari temperatur dan kelembaban. 3.2.2. Rangkaian Sensor Kelembaban dan
Untuk setting pointnya dilakukan Temperatur
didalam program plc, jadi apabila Pada module h500m ini bila pin 1
temperatur dibawah setting point maka diberi supply 5 volt dan pin 3 ground, maka
plc akan mengaktifkan aktuator heater, pin 2 yang merupakan output dari
bila temperatur diatas setting point maka kelembaban sudah berupa tegangan. Namun
plc akan mengaktifkan aktuator fan. untuk pin 4 yang merupakan output dari
Aktuator akan berhenti apabila setting temperatur masih berupa resistansi, sehingga
point sudah terpenuhi. untuk mendapatkan nilai tegangan dari
Apabila kelembaban kurang dari output temperatur, maka harus di paralel
setting pointnya maka aktuator yang dengan resistansi yang besarnya tergantung
berkerja adalah pompa, bila kelembaban kebutuhan (disini dipakai resistansi 25 k
diatas setting point maka aktuator heater ohm). Jadi besar tegangan temperatur ialah
akan bekerja dan berhenti bila nilai VT = ( Rv / RT + Rv ) * Vcc.
setting point suda terpenuhi.
Untuk mengetahui lebih jelas
mengenai perbandingan antara tegangan
3.2. Perencanaan Bagian Sensor
ouput dengan besar kelembaban dan juga
3.2.1. Rangkaian Sensor Cahaya
perbandingan tegangan ouput dengan besar
temperatur dapat dilihat pada tabel berikut.

Gambar 3.2. Rangkaian Sensor Cahaya

Prinsip dari rangkaian ini ialah


seperti prinsip rangkaian pembagi
Gambar 3.3. Schematic Rangkaian Sensor
tegangan. Apabila ldr ini terkena cahaya
Kelembaban dan Temperatur
maka resistansinya akan mengecil
sehingga tegangan yang menuju pin 3
dari lm 324 akan besar. Bila tegangan
yang menuju pin 3 lebih besar daripada BAB IV
tegangan referensi yang menuju pin 2 PENGUJIAN DAN ANALISA
maka pin 1 dari lm 324 akan keluar
tegangan.
Namun apabila ldr tidak terkena 4.1 Pendahuluan
cahaya maka resistansinya akan besar Dalam Bab ini akan dibahas tentang
Vcc 12V

pengujian
3 4 berdasarkan perencanaan dari sistem 2 9 8 5
1 Input
yang 2dibuat.
LM 324
Program pengujian
PLC disimulasikan 36.5 37.4 2.0 2.0
11
Vcc 12Vdi suatu sistem yang sesuai. Pengujian ini 32 2 37 9 3 2.02 0
dilaksanakan untuk mengetahui kehandalan 35.0 35.4 35.9 2.0 2.0
25 kΩ
dari sistem dan untuk mengetahui apakah 33 1 8 6 8 2.07 5
25 k Ω
sudah sesuai dengan perencanaan atau belum. 33.5 34.0 2.1 2.1
330 Ω
Pengujian pertama-tama dilakukan secara 34 6 3 34.5 3 2.12 0
terpisah, dan kemudian ke dalam dilakukan ke 32.1 32.6 33.1 2.1 2.1
dalam sistem yang telah terintegrasi. 35 8 4 1 9 2.17 5
Pengujian yang dilakukan pada bab ini 30.8 31.3 31.7 2.2 2.2
antara lain: 36 6 2 8 4 2.22 0
1. Pengujian sensor temperatur 29.6 30.0 30.5 2.2 2.2
2. Pengujian sensor kelembaban 37 1 6 1 9 2.27 5
3. Pengujian I/O PLC 28.4 28.8 2.3 2.3
4. Pengujian komunikasi PLC 38 1 5 29.3 4 2.32 0
dengan PC 27.2 28.1 2.3 2.3
5. Pengujian sistem secara 39 7 27.7 5 9 2.37 5
keseluruhan
Dari data tabel diatas dapat dianalisa
4.2. Pengujian sensor bahwa dengan bertambahnya temperatur
temperature maka nilai tegangan akan bertambah pula.
Pengujian ini dilakukan untuk Untuk merubah nilai tahanan menjadi
mengetahui tegangan output dan tegangan digunakan rangkaian pembagi
karakteristik dari sensor. tegangan. Sensor temperatur ini termasuk
sensor NTC karena dengan bertambahnya
nilai suhu maka tahanan akan turun

Tabel 4.1 Hasil Pengujian sensor temperatur


Temperat Resistansi ( k Tegangan Output
ur Ohm ) Temp (Volt) 4.3. Pengujian sensor kelembaban
Typi Mi Typi Ma Pengujian ini dilakukan untuk
Celcius Min c Max n c x mengetahui kelinieran dari sensor
62.4 63.2 1.4 1.4 kelembaban.
20 61.7 6 2 4 1.43 2
59.0 59.7 60.4 1.4 1.4 Tabel 4.2 Hasil Pengujian sensor kelembaban
21 1 1 1 9 1.48 6
56.4 57.7 1.5 1.5
22 5 57.1 4 3 1.52 1
54.0 54.6 55.2 1.5 1.5
23 2 1 1 8 1.57 6
52.2 52.7 1.6 1.6 Dari hasil tabel pengujian diatas dapat
24 51.7 5 9 3 1.62 1 dianalisa bahwa nilai tegangan output dari
1.6 1.6 sensor berbanding lurus dengan nilai
25 49.5 50 50.5 8 1.67 6 kelembaban. Sensor kelembaban ini linier
47.3 47.8 48.3 1.7 1.7 karena setiap penambahan nilai kelembaban
26 6 6 6 3 1.72 0 sebesar 10% maka tegangan juga akan
45.3 45.8 46.3 1.7 1.7 bertambah sebesar 0.33V.
27 3 2 2 8 1.77 5
43.3 43.8 44.3 1.8 1.8 4.4. Pengujian sensor cahaya
28 9 8 8 3 1.81 0 Pengujian ini dilakukan untuk
41.5 42.0 42.5 1.8 1.8 mengetahui kerja dari sensor cahaya. Untuk
29 5 4 3 8 1.86 5 mengujinya diperlukan supply dc sebesar
39.7 40.2 40.7 1.9 1.9 12V 1 buah.
30 9 8 7 3 1.91 0
31 38.1 38.6 39.0 1.9 1.97 1.9
Dari hasil pengujian sensor cahaya dapat
dianalisa bahwa jika ldr diberi cahaya maka
tahanan akan mengecil sehingga output akan
menghasilkan tegangan sebesar 12V,
sebaliknya jika ldr tidak dikenai cahaya maka
output tidak mengeluarkan tegangan.

BAB VI
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan


,pengujian dan analisa yang telah
dilakukan pada makalah ini dapat
disimpulakan bahwa.
1.Pada pengerjaan proyek akhir ini sudah
dapat melakukan monitoring dan
pengontrolan PLC.

5.2 Saran
Dalam pengerjaan proyek akhir ini
tentunya tidak lepas dari berbagai macam
kekurangan dan kelemahan baik pada sistem
pada peralatan yang dibuat untuk itu demi
kesempurnaan proyek akhir ini dapat
memberikan beberapa catatan:
1 .penentuan sensor sangat bergantung pada
plant

6. DAFTAR PUSTAKA

1. Malvino Albert Paul,1996,”Prinsip–


Prinsip Elektronika Edisi ketiga Jilid
2”,Penerbit Erlangga,Jakarta.