Anda di halaman 1dari 6

Perkembangbiakan Vegetatif

Posted on March 18, 2008 by k4107078

Dalam pembahasan ini akan diterangkan beberapa teknik perbanyakan tanaman secara
vegetatif buatan antara lain mencangkok, menyambung pucuk, dan okulasi.

1. Mencangkok

Teknik mencangkok ini telah umum digunakan oleh masyarakat. Tetapi dalam kegiatan
pencangkokkan ini terdapat beberapa kelemahan antara lain ; praktikan atau
pencangkok harus memiliki keahlian dalam pencangkokan ini, kegiatan pencangkokkan
padapohon yang telah tinggi sukar dilakukan karena untuk mencangkok harus lebih
dahulu memanjat. Selain itu karena kegiatan pencangkokkan ini menggunakan cabag
tanaman yang nantinya dipotong, maka terlalu boros dalam pengguanaan bahan tanam
(batang yang untuk dicangkok).

Untuk cangkokkan umumnya digunakan cabang orthotrof yang tidak telalu tua maupun
terlalu muda yang umumnya berwarna hijau kecoklat-coklatan. Bahan untuk
pembungkus cangkokkan biasanya digunakan sabut kelapa atau karung goni untuk
membungkus tanah sebagai media perakaran. Supaya cangkokkan dapat berhasil
dengan baik, dengan waktu yang relatif cepat dan ekonomis maka sabut kelapa atau
karung goni diganti dengan plastik. Medium perakaran tanah dapat diganti dengan
gambut atau lumut. Lumut yang digunakan sebagai media tanam mempunyai sifat
selain anti septik juga dapat menahan kandungan air yang cukup tinggi, sehingga dalam
pelaksanaan pencangkokkan tidak perlu terlalu sering disiram air. Mengenai kulit
bagian atas yang diiris sebaiknya dioles dengan Rootone F yang berguna untuk
mempercepat dan memperbanyak keluarnya akar.
Langkah atau urutan kegiatan dalam perbanyakan tanaman dengan cara pencangkokkan
antara lain :

1) memilih batang yang akan di cangkok.

2) Membuat guratan pada kulit yag akan dicangkok.

3) Mengupas kulit sepanjang 5-7 cm.

4) Mengikis bagian kambium kuli yang telah dikupas.

5) Mengolesi bagian atas batang yang telah dikikis dengan Rootone F untuk
memperceot pertumbuhan (jika ada).

6) Kulit kupasan dibungkus dengan media tanam (tanah, gambut atau luut).

7) Membalut media tanam yang dibuat tadi dengan plastik, sabut kelapa atau karung
goni.

Mengikat pada ujung-ujung balutan.

9) Menyiram cangkokkan secara teratur.

2. Menyambung

Tanaman yang sukar di cangkok atau diokulasi maka dapat juga dilakukan
perkembangbiakan secara vegetatif dengan cara dengan melakukan penyambungan.
Dengan penyambungan diharapkan akan dapat memperoleh keuntungan sebagai berikut
:

- Jika batang atas berasal dari klon yang produksinya tinggi disambuung dengan batang
bawah yang memiliki resistensi terhadap nematoda atau sifat lain yang baik, maka
terdapat kemungkinan bahwa tanaman sambungan itu akan memiliki sifat-sifat baik
tersebut.

- Suatu klon yang sangat susah sekali berakar terkadang masih dapat diusahakan
penanamannya denga cara menyambung.

- Dengan cara penyambungan, tanaman mempunyai batang bawah yang mempunyai


akar tunggang yang lebih tegap tumbuhnya dan tidak mudah riboh karena angin.

Salah satu teknik menyambung yang dapat disampaikan dalam laporan ini adalah
sambung celah. Adapun teknik-teknik dalam kegiatan sambung celah itu sebagai berikut
:
1) batang bawah dipotong mendatar dengan gunting atau pisau yang tajam. Daunnya
disisakan satuata dua pasang kemudian pada luka potongan batang dibuat celah
ditengah-tengah sepanjang 3-4 cm dengan pisau sambung.

2) Entres dipilih dari ruas ke dua dan dipotong per ruas + 7 cm. Daun dan cabang
dikupir labih kurang 1,5 cm dari sumbu entres. Kemudian pangkan entres diruncingkan
sebelah kanan dan kirinya sepanjang 3-4 cm.

3) Entres kemudian dimasukkan sedalam celah pada batang bawah, kemudian diikat
dengan tali rafia.

4) Untuk menjaga kelengesan pada sambungan sambungan sungkup sengan kantong


plastik.

5) Untuk menjaga kelengesan tanah, sebelum dan sesudah penyambungan dilakukan


penyiraman.

6) Setelah selang 30 – 35 hari dapat diketahui berhasil atau tidaknya penyambungan


tersebut yaitu melihat ada tidaknya tunas yang tumbuh pada batang atas. Bila tunas
sudah kelihatan tumbuh maka sungkup plastik harus dibuka.

3. Okulasi

Perbanyakan tanaman dengan cara okulasi paling banyak dilakukan dalam perkebunan
terutama pada perkebunan karet dan kakao. Beberapa kelebihan dari perbanyakan
tanaman dengan cara okulasi yaitu :

- Dengan cara diokulasi dapat diperoleh tanaman yang dengan produktifitas yang tinggi.

- Pertumbuhan tanaman yang seragam.

- Penyiapan benih relatif singkat.

- Pada musim gugur daun pada tanaman karet daun yang gugur dari satu klon agar
serentak pada waktu tertentu, dengan demikian akan memudahkan pengendalian
penyakit Oidium hevea bila terjadi.

Kelemahan dari perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cara okulasi yaitu :

- terkadang suatu tanaman hasil okulasi ada yang kurang normal terjadi karena tidak
adanya keserasian antara batang bawah dengan batang atas (entres)

- perlu menggunakan tenaga ahli untuk pengokulasian ini.

- Bila salah satu syarat dalam kegiatan pengokulasian tidak terpenuhi kemngkinan gagal
atau mata entres tidak tumbuh sangat besar.
Syarat tanaman dapat diokulasi yaitu :

- tanaman tidak sedang Flush (sedang tumbuh daun baru)

- antara batang atas dan batang bawah harus memiliki umur yang sama.

- Tanaman harus masih dalam satu family atau satu genus.

- Umur tanaman antara batang atas dan batang bawah sama.

- Pada klon yang dijadikan batang bawah memiliki perakaran yang kuat/kokoh, tidak
mudah terserang penyakit terutama penyakit akar, mimiliki biji/buah yang banyak yang
nantinya disemai untuk dijadikan batang bawah, umur tanaman induk pohon batang
bawah yang biji/buahnya akan dijadikan benih untuk batang bawah minimal 15 tahun,
memiliki pertumbuhan yang cepat.

- Pada klon yang akan dijadika batang atas atau entres tanaman harus memiliki produksi
yang unggul, dan memiliki pertumbuhan yang cepat, dan tahan terhadap penyakit.

Macam-macam okulasi pada tanaman karet :

1. Okulasi Coklat (Brown Budding) merupakan okulasi dilaksanakan diperkebunan


karet. Dengan batang bawah berumur 8-18 bulan diokulasi dengan entres umur 1-2
tahun, dengan garis tengah 2,5-4 cm. Warna kayu entres coklat, yang dipergunakan
adalah mata prima yang berwarna coklat.

2. Okulasi Hijau (Green Budding) merupakan cara okulasi yang lazim dilaksanakan
diperkebunan karet. Dengan batang bawah yang berumur 4-6 bulan diokulasi dengan
entres yang berumur 3-4 bulan, garis tengah 0,5-1 cm, warna kayu entres hijau tua, yang
dipergunakan adalah mata burung yang berwarna hijau.

3. Okulasi dini (Pro Green Budding) merupakan cara okulasi dengan batang bawah
berumur 2-3 bulan, diokulasi dengan entres umur 3-4 minggu, garis tengah kurang dari
0,5 cm warna kayu entres hijau muda sampai hijau. Yang dipergunakan sebagai mata
entres adalah mata sisik (csale bud.

Teknik pengokulasian pada okulasi dini sama saja dengan yang dilakuka pada okulasi
hijau. Hasi dari okulasi sama dengan yang dicapai okulasi hijau maupun okulsi coklat.

Teknik Mengokulasi :

1) Membuat Jendela Okulasi


Ukuran jendela disesuaikan dengan perisai dan besarnya batang bawah. Untuk batang
bawah yang dibawah umur 5-6 bulan dapat ukuran jendela (¾ - 1) cm x (3 – 4) cm.

Torehan membujur dapat dimulai daribawah atau dari atas. Jarak torehan terbawah lebih
kurang 5 cm dari tanah. Torehan melintang dapat dari atas ataudari bawah. Jika diatas
jendela akan terbuka kebawah atau juga sebaliknya.

Sebelum ditoreh, batang dibersihkan dari kotoran atau tanah yang menempel akubat
percikan air hujan.

Setelah ditoreh akan keluar lateks, lateks ini dibiarkan membeku kemudian dibersihkan
dengan kain sebelum jendela dibuka.

2) Mengambil Mata Okulasi

Mata okulasi diambil dari kayu okulssiyang sehat, segar dan mudah dikupas.

Mata okulasi diambil bersama sedikit bagian kayu, bentuk perisai yang ukuranya sedikit
lebih kecil dari ukuran jendela okulasi. Pengambilan mata okulsi yang terlalu kecil akan
mengakibatkan pemulihan luka lambat.

Untuk melepas bagian kayu, menariknya pelan-pelan supaya mata tetap menempel pada
kulit.

Pembuatan perisai harus bersih dan lapisan kambium jangan sampai terkena tangan atau
kotoran.

Perisai yang telah dibuat harus segera diselipkan ke jendela okulasi.

3) Menempel Mata Okulasi Dan Membalut

Setelah perisai disiapkan, jendela okulasi dibuka denga cara menarik bibir jendela
okulasi.

Perisai diselipkan dibawah jendela okulasi dan dijepit dengan ibu jari untuk
memudahkan pembalutan. Dalam keadaan perisai terlalu kecil, diusahakan supaya tepi
tepi bagian atas dan salah satu sisi perisai berimpit dengan jendela okulasi.

Pembalutan dimulai dari torehan melintang digunakan plastik ukuran 2 x 0,02 cm


dengan panjang 40 cm. Akhir ikatan sebaiknya dibawah. Pada waktu membalut jangan
sampai perisai bergeser.

4) Pemeriksaan Hasil Okulasi


Pemeriksaan pertama dilakukan 2-3 minggu setelah okulasi dilaksanakan bersamaan
dengan pembukaan pembalut.

Okulasi yang gagal diberi tanda dengan mengikat tali pada batang bawah, hal ini
dilakukan untuk memudahkan okulasi janda.

Pemeriksaan ke dua dilakukan 10 – 15 hari dari pemeriksaan pertama. Cara


pemeriksaan sama seperti pemeriksaan pertama.