Anda di halaman 1dari 9

c 

c
  



A. Definisi Penyakit dan Agen Penyebab Penyakit


Trachoma adalah penyakit infeksi yang dapat menyebabkan kebutaan bagi
penderitanya. Penyakit ini disebabkan oleh tersebarnya bakteri Ê   
 di
tempat-tempat yang kualitas sanitasinya buruk dan kualitas air yang tidak adekuat. Bakteri-
bakteri ini kemudian tersentuh oleh tangan manusia, menempel di tubuh lalat, atau tempat-
tempat lain yang nantinya mengontaminasi mata orang yang sehat. Infeksi oleh bakteri ini
dapat menyebabkan munculnya jaringan parut pada kornea mata. Pada awalnya, terbentuk
reaksi infeksi inflamasi pada bagian kelopak atas. Reaksi inilama-kelamaan membuat
kelopak mata mengerut dan menyempit. Kelopak yang membentuk jaringan parut ini lama-
kelamaan semaki ke dalam hingga pada akhirnya menutupi kornea. Ketika kornea tertutupi
jaringan parut maka si penderita mulai mengalami kebutaan. Dalam setiap kedipan mata, bulu
mata akan menggaruk kornea dan membuat penderita menderita. Kondisi ini disebut
trichiasis.[1]
Ê   
 adalah bakteri intraseluler yang hanya bisa berpoliferasi di
dalam sel host eukariotik. Di luar sel inang, Ê   
 membentuk badan elementer
berupa spora analogus. Ketika spora ini berada dalam sel inang, badan elementernya (BE)
akan berubah/berdiferensiasi menjadi badan retikulat (BR), yaitu bentuk non infeksius dari
Ê  Setelah beberapa saat berada di dalam sel, BR akan mengalami replikasi 
   dan kembali ke bentuk BE. Biasanya EB akan menempati sebagian besar sitoplasma di
dalam sel. EB kemudian membuat sel-sel inang mengalami lisis. Sel asli yang hancur diganti
dengan jaringan parut oleh mekanisme alami dalam tubuh manusia.[2]
Reservoir penyakit ini adalah manusiai Cara penularanmelalui kontak langsung
dengan 
  yang keluar dari mata yang terkena infeksi atau dari 
  nasofaring
melalui jari atau kontak tidak langsung dengan benda yang terkontaminasi, seperti handuk,
pakaian dan benda-benda lain yang dicemari 
  nasofaring dari penderita. Lalat,
terutama 
  di Afrika dan Timur Tengah dan spesies jenis  di
Amerika bagian selatan, ikut berperan pada penyebaran penyakit. Padaanak-anak yang
menderita  
 aktif,
 dapat ditemukan dari nasofaring dan rektum. Akan
tetapi, di daerah endemis untuk serovarian dari trachoma tidak ditemukan reservoir genital.
Masa inkubasi 5 sampai dengan 12 harii Masa penularanberlangsung selama masih ada lesi
aktif di konjungtiva dan kelenjar-kelenjar adneksa maka selama itu penularan dapat
berlangsung bertahun-tahun. Konsentrasi organisme dalam jaringan berkurang banyak
dengan terbentuknya jaringan parut, tetapi jumlahnya akan meningkat kembali dengan
reaktivasi dari penyakit dan terbentuknya discharge kembali. Penderita tidak menular lagi 1-3
hari setelah diberi pengobatan dengan antibiotika sebelum terjadinya perbaikan gejala
klinis.[3]

B. Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Penyakit


Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya penyakit dan
persebarannya yang meluas. Beberapa di antaranya adalah:
1. Kualitas sanitasi dan air
Ñ    
  Kemiskinan
  Kepadatan penduduk

Faktor utama yang mempengaruhi persebaran penyakit adalah kualitas sanitasi dan
   manusia. Hal ini karena penyakit ini sebagian besar ditularkan lewat pajanan
manusia-manusia atau lewat lalat sebagai vektor. Seseorang penderita trachoma memiliki
peluang sangat besar dalam menularkan penyakit ini. Ketika ada salah satu bagian tubuhnya,
tisu, atau sapu tangan yang digunakan untuk menyapu matanya maka pada saat itu juga
bakteri berpindah dari sumber (mata penderita) ke media perantara (tangan, tisu, sapu
tangan). Ketika ada orang yang bersalaman dengan tangan yang telah mengandung bakteri
chlamidia kemudian dia menggunakannya untuk mengucek matanyapadahal dia belum
mencuci tangannya maka pada saat itu juga penyakit mulai menyebar.
Lingkungan yang sanitasinya tidak terjaga memungkinkan lalat untuk berkembang
biak dengan baik. Lalat dapat menjadi vektor trachoma.[4] Lalat dapat hinggap di mata
penderita. Agen yang menempel di tubuh lalat akan dibawanya ke tempat lain,misalnya
tempat penampungan air, tangan orang yang sehat, atau bahkan langsung hinggap di mata
orang yang sehat. Agen kemudian tersentuh oleh tangan orang sehat. Jika orang tersebut
  nya kurang terjaga maka ia akan menggunakan tangannya yang tadinya
dihinggapi lalat dan mengucek matanya. Pada saat itu agen mulai tersebar di orang yang baru.
Hal yang sama akan terjadi lewat tisu atau saputangan yang terpajan, air, dan sebagainya.
Gambar 1. Jalur transmisi trachoma[5]
C. Masuknya Agen ke Air
Masuknya agen ke dalam air salah satunya disebabkan oleh penderita yang mencuci
matanya di sumber air. Bakteri juga dapat berasal dari tubuh lalat yang membawa agen.
Selain itu, mencuci sapu tangan penderita di sumber air juga dapat mencemari air.

D. Masuknya agen trachoma dari sumber air ke mata


Agen trachoma dapat masuk dan menimbulkan penyakit manusia akibat kurangnya
akses terhadap air bersih. Air yang sudah tercemari dengan cara-cara di atas dapat menempel
di baju yang dicuci bersama sapu tangan tercemar. Baju kita tidak dapat mengetahui di mana
bakteri Chlamydia menempel. Akan tetapi, tanpa kita sadari baju tadi menyentuh mata kita.
Padahal bagian yang menyentuh mata kita adalah bagian yang mengandung bakteri
Ê  Demikian juga jika manusia sehat cuci muka dengan menggunakan air yang
sudah tercemar bakteri chlamydia. Setelah melewati waktu inkubasinya,gejala-gejala awal
konjungtiva akibat aktivitas Ê  dimulai. Selain itu, lalat juga bisa menjadi vektor
perantara penyakit ini.
E. Upaya Pencegahan Penyebaran Agen Lewat Air
Penelitian menunjukkan bahwa upaya pengobatan dengan antibotik mampu mereduksi
14-36% kejadian infeksi trachoma 12 bulan setelah pelakuan.[6] Harus diakui hasil ini
tidakmenjanjikan eradikasi penyakit pada masa yang akan datang karena selama 12 bulan
mata pasien tetap dapat menjadi sumber penyakit dan dapat ditularkan kepada orang lain.
Oleh karena itu, dalam penanganan penyakit ini dibutuhkan upaya pencegahan secara
menyeluruh.
Tujuan dari upaya pencegahan adalah untuk memutus daur transmisi dan
mengeleminasi penyebaran penyakit. Upaya pencegahan penyakit trachoma salah satu di
antaranya adalah dengan mengintervensi lingkungan. Caranya adalah dengan membangun
sarana sanitasi yang baik dengan sistem pengolahan air limbah yang sehat. Para penduduk
diajari agar terbiasa mencuci pakaian di tempat khusus, bukan di sungai. Air limpasannya
dapat diolah dengan menggunakan bak kontrol dan 
  Sehingga air bekas
mencuci pakaian yang tercemar bakteri
 tidakmasuk ke badan air. Warga juga
disuluh agar senantiasa menggunakan sabun dalam setiap aktivitasnya menggunakan air.
Aktivitas ini mencakup mencuci pakaian, piring, bahkan mencuci tangan sebelum makan,
minum, dan beraktivitas sehingga peluang menularnya bakteri lewat tangan dapat diperkecil.

Selain itu, perlu dibangun akses terhadap air bersih yang tertutup. Warga mungkin dapat
tetap menggunakan sumur gali asal sumur selalu ditutup setelah dipakai. Cara yang lumayan
aman adalah dengan menggunakan pompa tangan. Output dari pompa tangan adalah air yang
murni berasal dari air tanah tanpa terkontaminasi bakteri dari luar.
Sumber air tetap dapat tercemar tanpa adanya perubahan perilaku yang sehat dari
masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan sarana-sarana tadi harus diikuti dengan intervensi
perilaku masyarakat. Perilaku utama yang harus diintervensi adalah perilaku untuk terbiasa
menggunakan sarana yang sudah ada untuk mandi dan mencuci baju serta tidak melakukan
aktivitas tadi di sumber air langsung.
Gambar. 2 Bagan kerangka kerja peningkatan higiene[7]
F. Upaya Pencegahan Masuknya Agen dari Air ke Manusia Sehat
Pola transmisi masuknya agen ke manusia yang lain dapat dilihat di gambar 1.
Transmisi dimulai ketika bakteri dari mata penderita pindah ke orang lain yang tidak
terinfeksi. Ketika sumber air yang ada telah tercemar, maka warga harus dihimbau untuk
tidak lagi menggunakan sumber air tersebut hingga dapat dipastikan dengan benar bahwa
agen penyakit benar-benar telah dapat dihilangkan. Itulah mengapa salah satu komponen
penting dalam pemberantasan trachoma adalah tersedianya air bersih yang adekuat (Lihat
Gambar 2). Tanpa suplai air bersih yang adekuat sangatlahtidak mungkin mengarahkan anak-
anak untuk mencuci tangan dan wajahnya.
G. Trachoma Menjadi Masalah kesehatan Masyarakat di Indonesia?
Trachoma tidak menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Hal ini dapat dilihat di
profil kesehatan Indonesia tahun 2007 dimana kejadian trachomatis tidak termasuk dalam
daftar penyakit yang sedang mewabah. Laporan yang sama juga dapat dilihat di kabupaten
Nias, Asahan, dan Situbondo. Akan tetapi, bukan berarti kita bisa meremehkannya dengan
membiarkan higienitas masyarakat Indonesia tetap buruk.[8]
H. Materi Penyuluhan yang Cocok untuk Disampaikan kepada Masyarakat
Materi penyuluhan yang baik adalah materi yang disusun selain berlandaskan dasar
keilmuan juga berdasarkan latar belakang sosial budaya masyarakat tempat kasus terjadi.
Selain itu, materi juga harus disesuaikan dengan latar belakang penerima, apakah mereka
anak-anak, orang tua, atau guru. Untuk penyakit trachoma, materi penyuluhan dapat
diberikan kepada anak-anak, orang tua, dan guru. Tiga domain ini saya rasa adalah pihak
yang paling berperan dalam praktik dan upaya perubahan perilaku.
Anak-anak perlu mendapatkan penyuluhan karena usia yang paling rentan terinfeksi
adalah anak-anak. Mereka berada dalam posisi yang paling rentan karena biasanya anak kecil
belum bisa membedakan tempat main yang bersih dan yang kotor. Pengetahuan mereka yang
minim akan tempat-tempat dan cara penularan penyakit juga menjadi salah satu faktor
pemungkin. Faktor lain yang juga dianggap berpengaruh adalah imunitas. Sistem imun anak-
anak masih belum sempurna untuk menahan infeksi Ê 0  Sedangkan orangtua perlu
mendapatkan penyuluhan karena merekalah yang mengurus keseharian anak mereka,
memandikannya, dan sebagainya. Para guru juga perlu mendapatkana penyuluhan agar
mereka dapat mengembangkan program-program di sekolah yang berbasiskan praktik
  
Penyuluhan dapat dilakukan dalam bentuk drama dimana di dalamnya dimainkan
beberapa peran seperti anak-anak, lalat, bakteri
, dan lingkungan yang kumuh. Di
dalam cerita disampaikan bagaimana bakteri chlamydia bisa berada di mata penderita, lalu
bagaimana bakteri itu bisa tersebar akibat    yang buruk seperti memakai
handuk dan baju bekas temannya padahal belum dicuci, tidak suka mencuci tangan dan wajah
dengan sabun, suka main di tempat air yang kotor, dan sebagainya. Di situ juga disampaikan
pentingnya menjaga higienitas sanitasi dan air bersih agar tidak terkontaminasioleh bakteri
patogen yang disebarkan oleh lalat, penderita, dan benda-benda yang telah kontak dengan
penderita.

I. Judul penelitian yang akan saya ambil adalah ³Tingkat Keberhasilan Implementasi Teori
Dahlgreen dalam Mengeradikasi Kejadian Trachoma.´ Tujuan penelitian ini adalah
mengukur tingkat keberhasilan eradikasi kejadian penyakit trachoma dengan pendekatan
paradigma sehat dan intervensi di semua lini seperti yang disebutkan oleh Dahlgreen
dalamteorinya.
J. Saya akan mengambil studi epidemiologi. Hal ini karena agen penyakit adalah agen
biologis. Studi epidemiologi memungkinkan kita untuk membedah faktor-faktor apa saja
yang menyebabkan timbulnya penyakit. Pola persebaran penyakit dapat diketahui dengan
studi epidemiologi karena analisis risiko hanya dapatmenampilkan hasil yang bagus dalam
mengukur risiko kejadian penyakit di masa yang akan datang dengan data pajanan yang
terjadi saat ini. Analisis risiko tidak bisa digunakan untuk mengukur besaran penyakit yang
terjadi pada saat penelitian dimulai.

c 

2 11 2009

Trakoma merupakan infeksi mata yang berlangsung lama yang menyebabkan


inflamasi dan jaringan parut pada konjungtiva dan kelopak mata serta kebutaan.
Penyebab
Trakoma terjadi akibat infeksi oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Masa inkubasi
berlangsung selama 5 ± 12 hari.
Gambaran Klinis
- Kedua mata tampak merah dan berair. Penderita sukar melihat cahaya terang
(silau) dan merasa gatal di matanya.
- Pada stadium awal, konjungtiva tampak meradang, merah dan mengalami
iritasi serta mengeluarkan kotoran (konjungtivitis).
- Pada stadium lanjut, konjungtiva dan kornea membentuk jaringan parut
sehingga bulu mata melipat ke dalam dan terjadi gangguan penglihatan.
- Gejala lainnya adalah:
§ pembengkakan kelopak mata
§ pembengkakan kelenjar getah bening yang terletak tepat di depan mata
§ kornea tampak keruh.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Apusan
mata diperiksa untuk mengetahui organisme penyebabnya
Penatalaksanaan
- Pengobatan meliputi pemberian salep antibiotik yang berisi tetrasiklin dan
erithromisin selama 4 ± 6 minggu. Selain itu antibiotik tersebut juga bisa
diberikan dalam bentuk tablet.
§ Doksisiklin
o Sediaan : kapsul atau tablet 100 mg (HCl)
o Dosis dewasa 100 mg per oral 2 x sehari selama 7 hari atau
§ Tetrasiklin
o Sediaan salep mata 1% (HCl)
o Dosis dewasa 2 x sehari selama 6 minggu

Info Penyakit
Trakoma

Definition :
Trakoma (Konjungtivitis granuler, Oftalmia Bangsa Mesir) adalah suatu infeksi konjungtiva
yang berlangsung lama dan disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis.

Cause :
Trakoma terjadi akibat infeksi oleh bakteri Ê  
 .
Masa inkubasi berlangsung selama 5-12 hari dan berawal sebagai kemerahan pada mata,
yang jika tidak diobati bisa menjadi penyakti   dan menyebabkan pembentukan jaringan
parut.

Trakoma ditemukan di seluruh dunia, terutama di daerah pedesaan di negara-negara


berkembang.
Sering menyerang anak-anak.

Trakoma merupakan penyakit menular dan bisa ditularkan melalui:


- kontak tangan dengan mata
- sejenis lalat
-benda-benda yang terkontaminasi (misalnya handuk atau saputangan).

Sign & Symptoms :


Pada stadium awal, konjungtiva tampak meradang, merah dan mengalami iritasi serta
mengeluarkan kotoran (  ).

Pada stadium lanjut, konjungtiva dan   membentuk jaringan parut sehingga bulu mata
melipat ke dalam dan terjadi gangguan penglihatan.

Gejala lainnya adalah:


- pembengkakan kelopak mata
- pembengkakan kelenjar getah bening yang terletak tepat di depan mata
- kornea tampak keruh.

Diagnose :
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Apusan mata diperiksa
untuk mengetahui organisme penyebabnya.

Treatment :
Pengobatan meliputi pemberian salep antibiotik yang berisi tetracyclin dan erythromycin
selama 4-6 minggu.
Selain itu, antibiotik tersebut juga bisa diberikan dalam bentuk tablet.

Jika terjadi kelainan bentuk kelopak mata, kornea maupun konjungtiva, mungkin perlu
dilakukan pembedahan untuk memperbaikinya.

Beranda > Penyakit fisik > Trachoma, trakoma

c 
 

18 Maret 2010 pisangkipas Tinggalkan komentar Go to comments

Trachoma adalah sebuah penyakit mata menular, dan penyebab utama kebutaan akibat
infeksi di dunia. Secara global, 84 juta orang menderita infeksi aktif dan hampir 8 juta orang
menjadi tunanetra sebagai akibat dari penyakit ini.

O
Trachoma disebabkan oleh Chlamydia trachomatis dan disebarkan melalui kontak langsung
dengan mata, hidung, dan tenggorokan yang terkena cairan (yang mengandung kuman ini)
dari pengidap, atau kontak dengan benda mati, seperti handuk dan / atau kain lap, yang
pernah kontak serupa dengan cairan ini. Lalat juga dapat menjadi rute transmisi. Jika tidak
diobati, infeksi trachoma berulang dapat mengakibatkan entropion yang merupakan bentuk
kebutaan permanen dan disertai rasa nyeri jika kelopak mata berbalik ke dalam, karena ini
menyebabkan bulu mata menggaruk kornea. Anak-anak yang paling rentan terhadap infeksi
ini karena kecenderungan mereka untuk dengan mudah menjadi kotor, tetapi efek-efek
pengihatan kabur dan gejala lebih parah lainnya sering tidak terasa sampai dewasa.

c

 
Bakteri ini memiliki masa inkubasi dari 5 sampai 12 hari setelah seseorang mengalami gejala
konjungtivitis atau iritasi mirip dengan ³mata merah muda.´ Endemik kebutaan trakoma
merupakan hasil dari beberapa episode reinfeksi yang menghasilkan peradangan terus-
menerus pada konjungtiva. Tanpa reinfeksi, peradangan akan berangsur-angsur mereda.

Peradangan konjunctiva disebut ³trachoma aktif´ dan biasanya terlihat pada anak-anak,
terutama anak-anak pra sekolah (dasar). Hal ini ditandai dengan benjolan putih di permukaan
bawah tutup mata atas (conjunctival folikel atau pusat-pusat germinal limfoid). Non-
peradangan dan penebalan tertentu sering dikaitkan dengan papila. Folikel mungkin juga
muncul di persimpangan kornea dan sclera (limbal folikel). Trakoma aktif akan sering
menjengkelkan dan memiliki cairan berair. Infeksi sekunder bakteri dapat terjadi dan
menyebabkan discharge purulen.

Perubahan-perubahan struktural trakoma disebut sebagai ³cicatricial trakoma´. Ini termasuk


jaringan parut di tutup mata (konjungtiva tarsal) yang mengarah pada distorsi tutup mata
dengan tekuk dari tutup (Tarsus) sehingga muncul bulu mata gosok pada mata (trichiasis).
Bulu mata ini akan mengakibatkan kekeruhan kornea dan bekas luka dan kemudian mengarah
ke kebutaan. Bekas luka linear hadir dalam sulkus subtarsalis disebut µgaris Arlt¶s¶. Selain
itu, pembuluh darah dan jaringan parut dapat menyerang bagian atas kornea (pannus).
Lebih lanjut gejala termasuk:

1.? Keluarnya cairan kotor dari mata ± bukan air mata (emisi atau sekresi cairan yang
mengandung lendir dan nanah dari mata)
2.? Pembengkakan kelopak mata
3.? Trichiasis (berbalik-nya bulu mata)
4.? Pembengkakan kelenjar getah bening di depan telinga
5.? Munculnya garis parutan pada kornea
6.? Komplikasi pada telinga, hidung dan tenggorokan.

Komplikasi utama atau yang paling penting adalah ulkus (luka/iritasi) pada kornea karena
infeksi bakteri.
O

!"! #
Meskipun trakoma dihapuskan dari banyak negara maju dalam abad terakhir, penyakit ini
bertahan di banyak bagian dunia berkembang khususnya di masyarakat tanpa akses yang
memadai terhadap air dan sanitasi. Dalam banyak masyarakat ini, wanita tiga kali lebih besar
daripada laki-laki akan dibutakan oleh penyakit ini,karena peran mereka sebagai pengasuh
dalam keluarga.

Tanpa intervensi, trakoma keluarga tetap bertahan dalam lingkaran kemiskinan, karena
penyakit dan efek jangka panjang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pencegahan yang penting meliputi:

j? Pembedahan: Bagi individu dengan trichiasis (berbaliknya arah lengkungan bulu mata
ke arah dalam), sebuah prosedur rotasi bilamellar tarsal dibenarkan untuk
mengarahkan bulu mata menjauh dari bola mata.
j? Terapi antibiotik: Pedoman WHO merekomendasikan jika terjadi endemik massa
(sekitar 10 % dari populasi suatu daerah) maka perawatan/pengobatan dengan
antibiotik tahunan harus terus dilakukan sampai prevalensi turun di bawah lima
persen. Jika prevalensi lebih rendah dari itu maka pengobatan antibiotik harus
berbasiskan keluarga.
j? Pilihan antibiotik: oral dosis tunggal 20 mg / kg atau topical tetracycline (satu persen
salep mata dua kali sehari selama enam minggu). Azitromisin lebih disukai karena
digunakan sebagai oral dosis tunggal.
j? Kebersihan: Anak-anak dengan hidung terlihat terlalu berair, okular discharge, atau
lalat di wajah mereka paling tidak dua kali lebih mungkin untuk memiliki trakoma
aktif dibanding anak-anak dengan wajah yang bersih. Intensif kesehatan berbasis
masyarakat untuk mempromosikan program pendidikan muka-cuci dapat secara
signifikan mengurangi prevalensi trachoma aktif.
j? Perbaikan lingkungan: Modifikasi dalam penggunaan air, kontrol lalat, penggunaan
jamban, pendidikan kesehatan dan kedekatan dengan hewan peliharaan semuanya
telah diusulkan untuk mengurangi penularan dari C. trachomatis. Perubahan-
perubahan ini menimbulkan banyak tantangan untuk pelaksanaannya. Agaknya
perubahan lingkungan ini pada akhirnya berdampak pada penularan infeksi okular
melalui wajah kurangnya kebersihan.

O $ $
Jika tidak diobati dengan baik dengan antibiotik oral, gejalanya dapat meningkat dan
menyebabkan kebutaan, yang merupakan hasil dari ulkus (luka/iritasi) dan jaringan parut
pada kornea. Operasi juga mungkin diperlukan untuk memperbaiki kelainan bentuk kelopak
mata.