Anda di halaman 1dari 3

3.

DIAGNOSIS CEREBRAL PALSY


3.1. GEJALA AWAL
Tanda awal CP biasanya tampak pada usia <3 tahun, dan orang tua sering mencurigai
ketika kemampuan perkembangan motorik tidak normal. Bayi dengan CP sering mengalami
kelambatan perkembangan, misalnya tengkurap, duduk, merangkak, sering mengalami
kelambatan perkembangan, misalnya tengkurap, duduk, merangkak, tersenyum atau berjalan
(Blasco, 1989). Sebagian mengalami abnormalitas tonus otot. Penurunan tonus otot/hipotonia;
bayi tampak lemah dan lemas, kadang floppy. Peningkatan tonus otot/hipertonia, bayi tampak
kaku. Pada sebagian kasus, bayi pada periode awal tampak hipotonia dan selanjutnya
berkembang menjadi hipertonia setelah 2-3 bulan pertama. Anak-anak CP mungkin
menunjukkan postur abnormal pada satu sisi tubuh.

3.2. PEMERIKSAAN FISIK


Dalam menegakkan diagnosis CP perlu melakukan pemeriksaan kemampuan motorik
bayi dan melihat kembali riwayat medis mulai dari riwayat kehamilan, persalinan dan kesehatan
bayi. Perlu juga dilakukan pemeriksaan refleks dan mengukur perkembangan lingkar kepala anak
(Capute AJ, 1996). Refleks adalah gerakan dimana tubuh secara otomatisasi bereaksi sebagai
respon terhadap stimulus spesifik. Sebagai contoh, jika bayi baru lahir menekuk kepalanya maka
kaki akan bergerak ke atas kepala, dan lengannya, yang dikenal dengan refleks moro, yang
tampak seperti gerakan akan memeluk. Secara normal, refleks tersebut akan menghilang pada
usia 6 bulan, tetapi pada penderita CP, refleks tersebut akan bertahan lebih lama. Hal tersebut
merupakan salah satu dari beberapa refleks yang harus diperiksa (Capute AJ, 1984).
Perlu juga memeriksa penggunaan tangan, kecenderungan untuk menggunakan tangan
kanan atau kiri. Jika dokter memegang obyek didepan dan pada sisi dari bayi, bayi akan
mengambil benda tersebut dengan tangan yang cenderung dipakai, walaupun obyek didekatkan
pada tangan yang sebelahnya. Sampai usia 12 bulan, bayi masih belum menunjukkan
kecenderungan menggunakan tangan yang dipilih. Tetapi bayi dengan spastik hemiplegia, akan
menunjukkan perkembangan pemilihan tangan lebih dini, sejak tangan pada sisi yang tidak
terkena menjadi lebih kuat dan banyak digunakan.
Langkah selanjutnya dalam diagnosis CP adalah menyingkirkan penyakit lain yang
menyebabkan masalah pergerakan. Yang terpenting, harus ditentukan bahwa kondisi anak tidak
bertambah memburuk. Walaupun gejala dapat berubah bersama waktu, CP sesuai dengan
definisinya tidak dapat menjadi progresif. Jika anak secara progresif kehilangan kemampuan
motorik, ada kemungkinan terdapat masalah yang berasal dari penyakit lain, misalnya penyakit
genetik, penyakit muskuler, kelainan metabolik, tumor SSP.
Riwayat medis anak, pemeriksaan diagnostik khusus, dan, pada sebagian kasus,
pengulangan pemeriksaan akan sangat berguna untuk konfirmasi diagnostik dimana penyakit lain
dapat disingkirkan.

3.3. PEMERIKSAAN NEURORADIOLOGIK


Pemeriksaan khusus neuroradiologik untuk mencari kemungkinan penyebab CP perlu
dikerjakan, salah satu pemeriksaan adalah CT scan kepala, yang merupakan pemeriksaan
imaging untuk mengetahui struktur jaringan otak. CT scan dapat menjabarkan area otak yang
kurang berkembang, kista abnormal, atau kelainan lainnya. Dengan informasi dari CT Scan,
dokter dapat menentukan prognosis penderita CP. MRI kepala, merupakan tehnik imaging yang
canggih, menghasilkan gambar yang lebih baik dalam hal struktur atau area abnormal dengan
lokasi dekat dengan tulang dibanding dengan CT scan kepala
Dikatakan bahwa neuroimaging direkomendasikan dalam evaluasi anak CP jika etiologi
tidak dapat ditemukan. Pemeriksaan ketiga yang dapat menggambarkan masalah dalam jaringan
otak adalah USG kepala. USG dapat digunakan pada bayi sebelum tulang kepala mengeras dan
UUB tertutup. Walaupun hasilnya kurang akurat dibanding CT dan MRI, tehnik tersebut dapat
mendeteksi kista dan struktur otak, lebih murah dan tidak membutuhkan periode lama
pemeriksaannya.

3.4. PEMERIKSAAN LAIN


Pada akhirnya, klinisi mungkin akan mempertimbangkan kondisi lain yang berhubungan
dengan CP, termasuk kejang, gangguan mental, dan visus atau masalah pendengaran untuk
menentukan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan. Jika dokter menduga adanya penyakit
kejang, EEG harus dilakukan. EEG akan membantu dokter untuk melihat aktivitas elektrik otak
dimana akan menunjukkan penyakit kejang
Pemeriksaan intelegensi harus dikerjakan untuk menentukan derajat gangguan mental.
Kadangkala intelegensi anak sulit ditentukan dengan sebenarnya karena keterbatasan pergerakan,
sensasi atau bicara, sehingga anak CP mengalami kesulitan melakukan tes dengan baik. Jika
diduga ada masalah visus, dokter harus merujuk ke optalmologis untuk dilakukan pemeriksaan;
jika terdapat gangguan pendengaran, dapat dirujuk ke otologist
Identifikasi kelainan penyerta sangat penting sehingga diagnosis dini akan lebih
mudah ditegakkan. Banyak kondisi diatas dapat diperbaiki dengan terapi spesifik, sehingga
dapat memperbaiki kualitas hidup penderita CP.