Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagaimana kita ketahui bahwa bahasa adalah aspek penting


interaksi manusia. Dengan bahasa, (baik itu bahasa lisan, tulisan maupun
isyarat) orang akan melakukan suatu komunikasi dan kontrak sosial.
Bahasa juga dipandang sebagai cermin kepribadian seseorang karena
bahasa diterjemahkan sebagai refleksi rasa, pikiran dan tingkah laku.
Adakalanya seorang yang pandai dan penuh dengan ide-ide cemerlang
harus terhenti hanya karena dia tidak bisa menyampaikan idenya dalam
bahasa yang baik. Oleh karena itu seluruh ide, usulan, dan semua hasil
karya pikiran tidak akan diketahui dan dievaluasi orang lain bila tidak
dituangkannya dalam bahasa yang baik. Sulit dibayangkan bagaimana
jadinya dunia ini tanpa bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasa
memegang peranan yang sangat penting dalam berbagai sektor
kehidupan tanpa bahasa manusia tidak bisa berbuat apa - apa.

Bahasa sering dianggap sebagai produk sosial atau produk budaya,


yang merupakan wadah aspirasi sosial, kegiatan, perilaku masyarakat,
dan penyingkapan budaya termasuk teknologi yang diciptakan oleh
masyarakat pemakai bahasa. Bahasa bisa dianggap sebagai “cermin
zamannya” artinya bahwa bahasa di dalam suatu masa tertentu
mewadahi apa yang terjadi dalam masyarakat. Sebagai salah satu bagian
budaya, bahasa memegang peranan penting dalam interaksi pada level
lokal maupun global, bahkan dapat dikatakan sebagai kunci utama
berhasilnya sebuah interaksi. Untuk dapat berinteraksi dengan
masyarakat global tentu saja diperlukan pula bahasa-bahasa yang dapat
dipahami oleh semua masyarakat global tersebut, dan salah satunya
adalah Bahasa Inggris.

1
Dalam kerangka lintas budaya (cross culture), bahasa Inggris sudah dinobatkan
sebagai bahasa internasional sejak tahun 1950 ( Crystal, 2000) seperti dikutip oleh
Lengkanawati, (2007: 78). Tidaklah mengherankan kalau kemudian Bahasa Inggris menjadi
bahasa asing yang dipelajari oleh seluruh orang di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri
Bahasa Inggris secara resmi sudah menjadi mata pelajaran yang wajib diajarkan sejak tingkat
SMP, bahkan di daerah tertentu sudah diajarkan sejak Sekolah Dasar, meskipun baru berupa
Muatan Lokal. Dewasa ini, kegunaan bahasa Inggris tersebut semakin dirasakan oleh
banyak orang. Bisa dikatakan bahwa bahasa Inggris merupakan salah satu kebutuhan
dalam kehidupan sekarang. Selain itu, kemampuan berbahasa Inggris dapat dijadikan
sebagai salah satu kebanggaan. Orang yang mampu menguasai bahasa asing, termasuk
bahasa Inggris, akan memiliki nilai lebih dalam kehidupannya.

Namun sangat disayangkan, hingga saat ini masih banyak siswa yang mengalami
kesulitan dalam menguasa Bahasa Inggris. Bila para siswa di sekolah ditanya tentang
mata pelajaran apa yang sulit, hampir dapat dipastikan Bahasa Inggris adalah salah
satunya. Kesulitan yang dialami oleh para pembelajar bahasa Inggris beraneka macam,
ada yang mengalami kesulitan dalam mengucapkan, kesulitan dalam menulis, kesulitan
dalam memahami makna, dan kesulitan memahami tata bahasa dari bahasa tersebut.
Muara dari semua kesulitan itu adalah tidak mampunya mereka untuk berkomunikasi
dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Banyak faktor yang menjadi penyebab sulitnya para pembelajar bahasa Inggris
untuk menguasai bahasa tersebut. Faktor-faktor penyebab tersebut bisa berasal dari
dalam diri si pembelajar sendiri maupun dari luar diri mereka. Faktor-faktor penyebab
yang berasal dari luar bisa berasal dari bahasa yang dipelajari itu sendiri, dari lingkungan
sekitar, dan dari guru. Furchan (1999), memaparkan lima hal yang disinyalir sebagai
penyebab gagalnya pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah, seperti berikut ini:

1. Kurang fokusnya program pembelajaran Bahasa Inggris di lembaga


pendidikan. Pembelajaran Bahasa Inggris biasanya dilakukan di kelas seperti
mata-pelajaran yang lain, dengan murid yang heterogen dan berjumlah banyak.
Bahan dan latihan kebahasaan yang diberikan biasanya didasarkan pada
kurikulum sekolah yang berlaku nasional. Karena Bahasa Inggris merupakan
salah satu mata uji dalam Ujian Nasional (UN), maka fokus perhatian guru dan

2
siswa seringkali lebih terarah kepada bagaimana agar siswa lulus dan mendapat
nilai tinggi dalam (UN) Bahasa Inggris, bukan pada penguasaan keterampilan
berbahasa oleh siswa.
2. Program lebih bersifat formalitas dan melupakan kualitas. Di beberapa
lembaga pendidikan saya melihat seringkali program pembelajaran Bahasa
Inggris di kelas itu hanya merupakan formalitas belaka. Guru Bahasa Inggris
tidak dipilih berdasarkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Bahkan saya menemui
beberapa guru bahasa Inggris yang tidak dapat berbahasa Inggris! Dengan
kualitas guru Bahasa Inggris seperti itu, kiranya tidak mungkin akan
menghasilkan siswa yang mampu berbahasa Inggris.
3. Guru Bahasa Inggris di beberapa sekolah lebih memusatkan perhatiannya
kepada mengajarkan komponen bahasa (Structure, Vocabulary) daripada
mengajarkan keterampilan berbahasa (berbicara, memahami bacaan, dan
mengarang secara tertulis). Siswa lebih banyak belajar tentang bahasa daripada
belajar bahasa. Bahasa yang fungsional pada hakikatnya adalah keterampilan,
yakni keterampilan mendengarkan (memahami percakapan), berbicara (dan
dimengerti oleh orang lain), memahami bacaan, dan menulis (mengungkapkan isi
pikiran melalui tulisan). Setiap keterampilan tersebut didukung oleh beberapa
komponen seperti structure, vocabulary, dan pengenalan bunyi dan tulisan. Kita
sering meoihat bahwa guru bahasa Inggris lebih asyik mengajarkan structure
daripada mengajarkan keterampilan berbicara, memahami bacaan, atau
mengarang.
4. Salah satu faktor kemungkinan penyebab kekurang berhasilan program
pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah, menurut saya, adalah kurangnya
komitmen pengelola lembaga pendidikan akan keterampilan berbahasa
Inggris siswanya. Banyak pimpinan lembaga yang tidak merasa bahwa
penguasaan Bahasa Inggris itu penting bagi siswa. Akibatnya mereka tidak
termotivasi untuk berusaha keras agar pembelajaran Bahasa Inggris di lembaga
pendidikannya berhasil. Tidak ada penunjukan seorang ahli untuk mengelola
program pembelajaran Bahasa Inggris, tidak cukupnya dana yang dialokasikan
untuk program ini, dan tidak ada fasilitas penunjang serta lingkungan yang
kondusif bagi pembelajaran Bahasa Inggris merupakan indikasi kurang
komitmennya pimpinan dalam masalah ini.

3
5. Kegagalan program pembelajaran Bahasa Inggris seringkali juga disebabkan oleh
kurang profesionalnya guru Bahasa Inggris yang diserahi tanggung jawab
oleh sekolah. Guru tersebut mungkin memiliki ijazah dari Jurusan Bahasa
Inggris namun ijazah formal itu mungkin tidak diikuti dengan profesionalitas
yang memadai. Guru bahasa Inggris yang baik dan profesional, menurut saya,
minimal harus memiliki hal-hal sebagai berikut.
o Lancar berbicara dalam Bahasa Inggris
o Memiliki skor TOEFL minimal 500
o Memiliki pengetahuan yang cukup tentang ilmu bahasa (Linguistics)
o Memiliki antusiasme mengajar bahasa

Selain dari yang dipaparkan di atas, penyebab lain kekurangberhasilan dalam


pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah adalah tidak adanya dukungan dari lingkungan
sekitar. Kebanyakan siswa hanya belajar Bahasa Inggris selama pelajaran Bahasa Inggris
di kelas. Ketika pelajaran Bahasa Inggris selesai maka selesai pula belajarnya. Mereka
tidak memiliki tempat dan kesempatan untuk terus menggunakan apa yang dipelajari di
dalam kelas tersebut dalam kehidupan riil sehari-hari. Padahal untuk mendapatkan
sebuah kemampuan berbahasa diperlukan latihan untuk menggunakan bahasa itu secara
terus menerus dalam kehidupan nyata. Akibat dari keadaan ini adalah siswa mendapat
kesan seolah-olah pelajaran bahasa Inggris yang dia pelajari di kelas tidak ada gunanya.

Faktor lainnya adalah karakter bahasa Inggris itu sendiri. Sebagai bahasa asing,
Bahasa Inggris memiliki banyak perbedaan dengan bahasa ibu dan bahasa nasional
bangsa Indonesia. Bahasa Inggris sangat berbeda dengan bahasa Sunda, Bahasa Jawa,
Bahasa Batak, Bahasa Bugis dan bahasa-bahasa lokal lainnya, bahkan dengan bahasa
Indonesia sekali pun. Perbedaan-perbedaan ini menjadi hambatan tersendiri bagi
keberhasilan pemebelajaran Bahasa Inggris di negeri kita. Pelajaran Bahasa Inggris juga
memiliki karakter yang berbeda dengan mata pelajaran yang lain. Sulitnya pelajaran
Bahasa Inggris berbeda dengan sulitnya pelajaran lain (yang sama-sama dianggap sulit
oleh sebagian besar siswa) seperti mata pelajaran IPA Fisika dan Matematika. Bila
kesulitan pada kedua mata pelajaran yang disebut terakhir di atas dapat diatasi dengan
memahami rumus-rumus, atau dalil-dalil, maka tidak demikian halnya dengan cara
mengatasi kesulitan dalam Bahasa Inggris.

4
Sementara itu, faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang menjadi penyebab
kekurangberhasilan pembelajaran bahasa Inggris diantaranya adalah kurangnya motivasi
belajar siswa. Banyak siswa yang belajarnya asal-asalan tanpa didorong keinginan yang
kuat untuk bisa berbahasa Inggris. Padahal, motivasi adalah sesuatu yang sangat
dibutuhkan dalam belajar. Lengkanawati, (2007: 85) mengatakan, “Keberhasilan belajar
siswa juga sangat ditentukan oleh motivasi siswa dalam belajar”. Motivasi yang sangat
dibutuhkan oleh siswa agar berhasil dalam belajar adalah motivasi yang berasal dari
dalam diri siswa sendiri atau yang dikenal dengan motivasi intrinsik. Indikator-indikator
yang menunjukkan lemahnya motivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris antara lain:
siswa tidak mengerjakan tugas bahasa Inggris dengan baik, siswa menghindari pelajaran
bahasa Inggris dengan berpura-pura sakit bahkan membolos, tidak memiliki buku
pelajaran bahasa Inggris dan kamus, serta tidak terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran bahasa Inggris dalam kelas.

Apa yang dipaparkan di atas merupakan tantangan bagi para guru bahasa Inggris.
Dalam menghadapi tantangan tersebut dibutuhkan guru bahasa Inggris yang inovatif dan
kreatif agar mampu mengubah keadaan tersebut. Di samping itu diperlukan kemampuan
guru untuk menumbuhkan motivasi intrinsik siswa sehingga dengan adanya motivasi
tersebut siswa akan mau belajar tidak saja di dalam kelas dan ketika ada guru akan tetapi
juga mau belajar secara mandiri. Upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk
menumbuhkan motivasi tersebut adalah dengan selalu menciptakan kegiatan
pembelajaran bahasa Inggris yang menarik, menyenangkan, dan menantang.

B. Tujuan Penulisan Makalah

Tujuan utama dari penulisan makalah ini adalah untuk membahas tentang manfaat
yang bisa diambil dari internet untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam belajar
bahasa Inggris. Selain tujuan utama di atas melalui makalah ini penulis juga ingin
membahas tentang:

1. manfaat internet;
2. e-Learning;

5
3. pentingnya Motivasi Belajar; dan
4. pentingnya bahasa Inggris.

Pembahasan yang dilakukan sudah barang tentu didasarkan pada


kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh penulis sebagai pengajar
bahasa Inggris pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berada jauh
dari pusat kota.

C. Pembatasan Masalah

Seperti telah dijelaskan pada latar belakang masalah dari makalah


ini, bahwa begitu banyak permasalahan yang dihadapi dalam
pembelajaran bahasa Inggris di sekolah, sehingga tidak mungkin penulis
mampu membahas semua itu pada makalah yang sekecil ini. Hal itu
disebabkan oleh berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh penulis seperti
terbatasnya waktu yang dimiliki dan kemampuan penulis sendiri untuk
membahas semua permasalahan tersebut.

Mengingat berbagai keterbatasan, maka pada makalah ini, penulis


membatasi pembahasan hanya pada bagaimana memanfaatkan internet
sebagai media belajar untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada
mata pelajaran Bahasa Inggris.

BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

A. Manfaat Internet

Kata internet begitu sering kita dengar akhir-akhir ini. Hampir setiap hari kata
tersebut diucapkan oleh setiap orang dari segala kalangan, mulai anak kecil hingga
ilmuwan, meskipun demikian belum tentu setiap orang yang mengucapkan kata tersebut
mengerti apakah sebenarnya internet itu.

6
Menurut Wikipedia, internet adalah sebuah system global dari jaringan
computer yang saling berhubungan yang menggunakan Deretan Protocol Internet untuk
melayani milyaran pengguna di seluruh dunia. Internet adalah sebuah jaringan dari
berbagai jaringan yang terdiri dari jutaan jaringan milik pribadi, milik umum, dunia
pendidikan, bisnis, dan pemerintahan, baik secara local maupun global, yang terhubung
oleh sebuah rangkaian elektronik yang luas, tanpa kabel dan teknologi jaringan optik.
(The Internet is a global system of interconnected computer networks that use the
standard Internet Protocol Suite (TCP/IP) to serve billions of users worldwide. It is
a network of networks that consists of millions of private, public, academic,
business, and government networks, of local to global scope, that are linked by a
broad array of electronic, wireless and optical networking technologies.). Internet
membawakan sumber informasi dan layanan yang sangat luas, seperti dokumen-
dokumen yang saling terhubung pada berbagai situs dunia, World Wide Web
(WWW), dan infrastruktur untuk mendukung surat elektronik.

Tanpa disadari kini kita begitu akrab dengan salah satu karya umat manusia yang
sangat monumental ini. Internet yang pada awalnya merupakan jaringan komputer
yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat di tahun 1969, melalui
proyek ARPA yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency
Network), kini penggunaannya telah merambah ke berbagai sektor kehidupan, dan
semua sektor kehidupan tersebut telah merasakan manfaat dari teknologi jenis ini,
termasuk sektor pendidikan.

Menurut Purnawan (2007), internet sebagai media pendidikan


mampu menghadapkan karakteristik yang khas, yaitu:

1. sebagai media interpersonal dan massa;


2. bersifat interaktif,
3. memungkinkan komunikasi secara sinkron maupun
asinkron.

Karakteristik ini memungkinkan pelajar melakukan komunikasi dengan


sumber ilmu secara lebih luas bila dibandingkan dengan hanya menggunakan media
konvensional.

7
Teknologi internet menunjang pelajar yang mengalami keterbatasan ruang dan
waktu untuk tetap dapat menikmati pendidikan. Metoda talk dan chalk, dapat
dimodifikasi dalam bentuk komunikasi melalui e-mail, mailing list, dan chatting.

Berikut adalah beberapa manfaat penggunaan teknologi informasi (internet)


untuk dunia pendidikan yang dikemukakan oleh Purnawan (2007):

1. arus informasi tetap mengalir setiap waktu tanpa ada batasan waktu dan
tempat;
2. kemudahan mendapatkan resource yang lengkap;
3. aktifitas pembelajaran pelajar meningkat;
4. daya tampung meningkat;
5. adanya standardisasi pembelajaran;
6. meningkatkan learning outcomes baik kuantitas maupun kualitas.

Manfaat dari internet secara umum dikemukakan oleh Yuda (2008) sebagai
berikut:

1. Internet sebagai media komunikasi, merupakan fungsi internet yang


paling banyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat
berkomunikasi dengan pengguna lainnya dari seluruh dunia;
2. Media pertukaran data, dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan
www (world wide web/ jaringan situs-situs web) para pengguna internet
di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah;
3. Media untuk mencari informasi atau data, perkembangan internet yang
pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang
penting dan akurat.
4. Kemudahan memperoleh informasi yang ada di internet sehingga
manusia tahu apa saja yang terjadi.
5. Bisa digunakan sebagai lahan informasi untuk bidang pendidikan,
kebudayaan, dan lain-lain;
6. Kemudahan bertransaksi dan berbisnis dalam bidang perdagangan
sehingga tidak perlu pergi menuju ke tempat penawaran/penjualan

8
Namun satu hal yang harus diingat bahwa internet bukanlah pengganti sistem
pendidikan. Kehadiran internet lebih bersifat suplementer dan pelengkap. Metoda
konvensional tetap diperlukan, hanya saja dapat dimodifikasi ke bentuk lain dengan
bantuan internet. Hal lain yang perlu diingat adalah sebagai sebuah sumber
informasi yang serba ada maka yang terdapat dalam internet tidak hanya hal-hal
yang bermanfaat tetapi banyak juga informasi yang kurang/tidak bermanfaat atau
dengan kata lain yang bersifat sampah. Berikut adalah beberapa dampak negative
yang dapat ditimbulkan dari penggunaan internet:

1. Pornografi
Anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang
tidak sepenuhnya salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang
dimiliki internet, pornografi pun merajalela.Untuk mengantisipasi hal ini, perlu
untuk melengkapi program dengan kemampuan untuk memilih jenis home-page
yang dapat di-akses. Di internet terdapat gambar-gambar pornografi dan
kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak
kriminal.
2. Violence and Gore.

Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi
pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala
macam cara agar dapat menjual situs mereka. Salah satunya dengan
menampilkan hal-hal yang bersifat tabu.

3. Penipuan
Hal ini memang merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari
serangan penipu. Cara yang terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini atau
mengkonfirmasi informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi
tersebut.
4. Carding
Karena sifatnya yang “real time” (langsung), cara belanja dengan menggunakan
Kartu kredit adalah carayang paling banyak digunakan dalam dunia internet.
Para penjahat internet pun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini.
Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi

9
(yang menggunakan Kartu Kredit) on-line dan mencatat kode Kartu yang
digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan
untuk kepentingan kejahatan mereka.
5. Perjudian
Dampak lainnya adalah meluasnya perjudian. Dengan jaringan yang tersedia,
para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi keinginannya.
Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, karena umumnya situs perjudian
tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan dari pengunjungnya.
6. Mengurangi sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan
lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face). Dari sifat sosial
yang berubah ini dapat mengakibatkan perubahan pola tingkah laku masyarakat
dalam berinteraksi.

B. E-Learning

Dewasa ini, kita hidup dalam era teknologi komunikasi dan informasi instan.
Perkembangan teknologi informasi telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia,
tak terkecuali dalam pendidikan. Dalam era informasi dewasa ini, kita mengenal istilah
ebanking untuk penerapan ICT dalam perbankan, e-commerce untuk penerapan ICT
dalam perdagangan, , dan lain-lain. Termasuk kita mengenal pula istilah elearning
sebagai bentuk penerapan ICT dalam pembelajaran. Tantangan pendidikan abad 21
adalah membangun masyarakat berpengetahuan (knowledgebased society). Untuk
membangun hal tersebut, e-Learning memainkan peranan yang sangat penting.

E-Learning adalah pembelajaran yang memanfaatkan atau menerapkan teknologi


informasi dan komunikasi. E-Learning itu sendiri adalah suatu terminologi yang
memiliki spektrum yang luas dan para ahli mendefinisikannya secara bervariasi. Menurut
Encarta® World English Dictionary [North American Edition] © & (P)2009 Microsoft
Corporation, yang disebut e-learning adalah: “the acquisition of knowledge and skill
using electronic technologies such as computer- and Internet-based courseware and
local and wide area networks”. (pengenalan ilmu pengetahuan dan kecakapan dengan
menggunakan teknologi elektronik seperti komputer yang dipadukan dengan
pembelajaran berbasis internet baik dalam bentuk jaringan local maupun jaringan yang
luas). Dengan demikian e-learning adalah pembelajaran yang memanfaatkan teknologi

10
informasi dan komunikasi (TIK) atau dalam bahasa Inggris information and
communication technology (ICT).

Dalam konteks pendidikan, sesungguhnya peran TIK adalah sebagai “enabler”


atau alat untuk memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan efisien
serta menyenangkan. TIK adalah sarana untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri.
Dengan demikian, bila dilihat dari sisi peran TIK bagi guru, maka e-Learning yang
sesungguhnya adalah pemanfaatan TIK secara relevan dan tepat oleh guru untuk
memungkinkan dirinya: menjadi fasilitator, kolaborator, mentor, pelatih, pengarah dan
teman belajar, serta dapat memberikan pilihan dan tanggung jawab yang besar kepada
siswa untuk mengalami peristiwa belajar.

Jika, pemanfaatan TIK oleh guru bertujuan hanya untuk mempermudah dirinya
menyampaikan materi, dimana ia tetap bertindak sebagai satu satunya sumber informasi
dan sumber segala jawaban, maka empat keterampilan masyarakat abad 21 yang
dicanangkan PBB seperti diuraikan di bawah ini tidak akan berhasil.

UNESCO seperti dikutip Chaeruman (2009), mengkategorikan pemanfaatan ICT


untuk pembelajaran di sekolah ke dalam empat level seperti digambarkan sebagai
berikut:

1. Tahap emerging, artinya baru menyadari akan pentingnya TIK untuk


pembelajaran dan belum berupaya untuk menerapkannya.
2. Tahap applying, satu langkah lebih maju dimana TIK telah dijadikan sebagai
obyek untuk dipelajari (learning to use ICT).
3. Tahap integrating, TIK telah diintegrasikan ke dalam kurikulum
(pembelajaran).
4. Tahap transforming merupakan tahap yang paling ideal dimana TIK telah
menjadi katalis bagi perubahan/evolusi pendidikan. TIK diaplikasikan secara
penuh baik untuk proses pembelajaran (instructional purpose) maupun untuk
administrasi (administrative purpose).

Keempat tahap pemanfaatan ICT untuk pembelajaran tersebut dapat digambarkan


sebagai berikut:

emerging 11
Learning to
use ICT
applying

integrating Using ICT

transformin to learn
g
Sementara itu, bila dilihat dari sisi peran TIK bagi siswa, maka e-Learning yang
sesungguhnya adalah pemanfaatan TIK secara relevan dan tepat oleh guru,
memungkinkan siswa untuk:
1. menjadi partisipan aktif. Jika pemanfaatan TIK dalam pembelajaran masih
membuat siswa tetap pasif, seperti guru mengajar dengan menggunakan slide
presentasi dimana yang masih dominan adalah dirinya, maka sia-sialah
teknologi tersebut digunakan.
2. menghasilkan dan berbagi (sharing) pengetahuan/keterampilan serta
berpartisipasi sebanyak mungkin sebagaimana layaknya seorang ahli.
3. belajar secara kolaboratif dengan siswa lain.
4. mendorong siswa untuk mau belajar mandiri

Jadi secara ideal, dengan e-Learning seharusnya memungkinkan terjadinya proses


belajar yang:
1. Aktif; memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang
menarik dan bermakna.
2. Konstruktif; memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam
pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau
keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.
3. Kolaboratif; memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang
saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan
memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya.

12
4. Antusiastik; memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha
untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
5. Dialogis; memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu
proses sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses
komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.
6. Kontekstual; memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang
bermakna (realworld) melalui pendekatan ”problembased atau casebased
learning”
7. Reflektif; memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta
merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar
itu sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Chaeruman (2009) dari Norton et al
(2001).
8. Multisensory; memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai
modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik
(dePorter et al, 2000) dikutip oleh Chaeruman (2009).
9. High order thinking skills training; memungkinkan untuk melatih kemampuan
berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.)
serta secara tidak langsung juga meningkatkan ”ICT & media literacy” (Fryer,
2001) dikutip oleh Chaeruman (2009).

C. Pentingnya Motivasi Belajar

Kata motivasi digunakan untuk mendeskripsikan suatu dorongan, kebutuhan atau


keinginan untuk melakukan sesuatu. Orang dapat termotivasi makan apabila sedang
lapar, pergi ke mall hari ini, mendapatkan nilai Bahasa Inggris yang lebih baik semester
ini, atau memperbaiki kondisi lingkungan hidup di sekitar rumah tinggal mereka. Dengan
kata lain, kata motivasi dapat dikenakan pada perilaku dalam suatu ragam atau rentang
situasi yang sangat luas.

Menurut Sagala (2008: 100),” motivasi dapat dipakai sebagai suatu varabel
penyelang yang digunakan untuk menimbulkan faktor-faktor tertentu di dalam
organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan
tingkah laku menuju satu sasaran”. Motivasi, menurut Ivancevich (2006: 144-145),

13
setidaknya dibentuk dari tiga komponen yang berbeda yaitu: arah, intensitas, dan
ketekunan. Arah berhubungan dengan apa yang akan dilakukan oleh seseorang individu
pilih ketika ia dihadapkan dengan sejumlah alternative yang mungkin dilakukan.
Intensitas merujuk pada kekuatan dari respons ketika arah dari motivasi telah dipilih.
Ketekunan, merujuk kepada berapa lama seseorang akan terus memberikan usaha
mereka.

Seseorang menggunakan konsep motivasi untuk memerikan suatu kecenderungan


umum yang mendorong ke arah jenis tujuan tertentu. Dalam pengertian ini, motivasi
sering di pandang sebagai karakteristik kepribadian yang relatif stabil. Sejumlah orang
termotivasi untuk berprestasi, sebagian yang lain termotivasi untuk bergaul dengan orang
lain dan mereka menyatakan motivasi ini dalam berbagai cara yang berbeda. Motivasi
sebagai suatu karakteristik yang stabil merupakan konsep yang agak berbeda dari
motivasi untuk melakukan sesuatu yang spesifik dalam situasi tertentu. Sebagai misal,
seseorang dapat dimotivasi untuk makan apabila telah cukup lapar (motivasi situsional),
namun sejumlah orang umumnya lebih tertarik pada makanan daripada yang lain
(motivasi sebagai suatu karakteristik pribadi atau motivasi kepribadian). Hal ini tidak
bermaksud untuk mengatakan bahwa motivasi situsional dan motivasi kepribadian tidak
berhubungan. Motivasi sebagai sutu karakteristik pribadi (motivasi kepribadian)
sebagian besar merupakan hasil dari sejarah seseorang (motivasi situsional).

Sebagai contoh, anak-anak yang dipuji oleh orang tua dan guru mereka karena
menunjukkan minat terhadap lingkungan di sekitar mereka, berhasil di sekolah,
membaca cukup baik dan menikmati membaca, dan menemukan isi buku yang menarik
dan berguna, mereka akan mengembangkan suatu cinta belajar sebagai suatu ciri
kepribadian umum dan akan membaca serta belajar meskipun tidak ada seorangpun
mendorong mereka untuk melakukan hal itu. Bagaimanapun juga, ciri kepribadian ini
merupakan hasil sejarah panjang dari motivasi situsional untuk belajar, (McCombs,
1991) seperti di kutip oleh Faiz (2008). Hal ini mengandung arti bahwa apabila, karena
terjadi suatu sejarah yang sangat berbeda dari sejarah yang baru saja dicontohkan di atas,
misalnya ada seorang anak yang gagal untuk mengembangkan perasaan cinta untuk
belajar sebagai suatu karakteristik pribadi, maka cinta belajar itu masih dapat ditanamkan
pada diri anak itu dan kemudian menjadi kepribadian anak itu. Sebagai misal, banyak
anak-anak yang berasal dari keluarga di mana belajar tidak dihargai tinggi dan di mana
14
orang-orang dewasa sedikit membaca, tidak mengembangkan rasa cinta belajar sebesar
rasa cinta belajar anak-anak yang berasal dari keluarga yang lebih berorientasi pada
prestasi dan membaca.

Lalu apa pentingnya motivasi dalam belajar, tentu saja penting, diawal sudah
dijelaskan bahwa motivasi adalah merupakan suatu energi dalam diri manusia yang dapat
mendorong untuk melakukan aktivitas tertentu dengan tujuan tertentu, artinya tanpa
motivasi seorang siswa tidak akan membaca, belajar dan sekolah dan akhirnya tentu saja
tidak akan mencapai suatu keberhasilan dalam belajar.

Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya


penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan
memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam
kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai
motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar,

Motivasi yang harus dibangun pada diri siswa adalah motivasi yang berasal dari
dalam diri siswa itu sendiri atau yang lazim disebut motivasi intrinsik. Dengan adanya
motivasi intrinsik seorang siswa akan memiliki energy sendiri untuk mau belajar secara
mandiri. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membangun jenis motivasi ini
adalah dengan menanamkan pemahaman bahwa belajar itu adalah sebuah kebutuhan
untuk keberhasilan masa depan anak itu sendiri, untung ruginya dari belajar bukan untuk
orang lain akan tetapi untuk dirinya sendiri. Bagi anak yang memiliki pondasi agama
Islam yang kuat dapat pula ditanamkan pemahaman bahwa belajar adalah ibadah yang
akan memberikan dua keuntungan sekaligus yakni ilmu dan/atau kompetensi untuk
kesuksesan duniawi dan juga pahala sebagai tabungan untuk keperluan ukhrowi.

D. Pentingnya Bahasa Inggris pada Era Global

Sudah lama penguasaan bahasa Inggris menjadi pengetahuan yang perlu


dipelajari oleh orang Indonesia. Mulai dari tahun 60’an hingga sekarang, pelajaran
bahasa Inggris menjadi subyek yang tidak kalah gengsinya dari pelajaran lain seperti
Matematika dan IPA.

15
Besarnya kebutuhan untuk belajar bahasa Inggris telah membuat pengetahuan ini
menjadi sebuah komoditas bisnis tersendiri. Lembaga pengajaran bahasa Inggris swasta
pun bermunculan seperti LIA, Jakarta College, Oxford, BBC, IEC, EF, TBI dan lain-
lainnya. Orang tua kemudian seperti berlomba-lomba untuk mengirimkan anak mereka
untuk mengikuti kursus di salah satu lembaga pengajaran bahasa Inggris yang sudah
disebutkan di atas. Jika dulu anak Indonesia baru mempelajari bahasa Inggris pada
tingkat SMA, sekarang mereka memulainya pada tingkat yang lebih dini, SD, dan kalau
perlu mulai dari TK. Sayangnya, banyak orang tua yang mengharuskan anaknya
mengikuti kursus bahasa asing yang satu ini tanpa mampu memberikan satu alasan yang
jelas mengapa bahasa Inggris itu penting bagi mereka, serupa dengan pameo tentang
pentingnya belajar matematika. Anak pun belajar bahasa asing ini hanya karena orang
tuanya bilang itu sebagai subyek yang penting. Masih banyak orang tua murid yang
beranggapan bahwa bahasa Inggris dapat membuat seseorang sukses dalam hidup,
mampu membuat orang mendapat pekerjaan bagus, mampu membuat orang pergi ke luar
negeri, dan lainnya.
Dalam hal ini peranan bahasa Inggris sangat diperlukan baik dalam menguasai
teknologi komunikasi maupun dalam berinteraksi secara langsung. Sebagai sarana
komunikasi global, bahasa Inggris harus dikuasai secara aktif baik lisan maupun tulisan.
Tidaklah mustahil perkembangan teknologi yang semakin pesat menuntut kita untuk
lebih proaktif dalam menanggapi arus informasi global sebagai aset dalam memenuhi
kebutuhan pasar. Sebagai bahasa pergaulan dunia bahasa Inggris bukan hanya sebagai
kebutuhan akademis karena penguasaannya hanya terbatas pada aspek pengetahuan
bahasa melainkan sebagai media komunikasi global.Untuk menguasai bahasa Inggris
dengan baik mestinya proses belajar mengajar menekankan aspek latihan ( Trial and
Error ) sehinga siswa akan terlibat secara aktif dalam menyampaikan pendapat / gagasan
secara bebas sesuai dengan kondisi nyata.
Paling tidak ada tiga alasan yang masuk di akal di balik perlunya belajar bahasa
Inggris bagi orang Indonesia.
Pertama, Indonesia dikelilingi oleh negara-negara yang kebanyakan penduduknya
menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama atau kedua. Negara-negara tersebut
adalah Singapura, Malaysia, Filipina, Australia, Selandia Baru, dan Papua Nugini.
Apabila suatu saat nanti seorang WNI bepergian ke salah satu negara yang disebutkan di
atas, bekal pengetahuan bahasa Inggris akan mempermudah orang itu dalam

16
berkomunikasi dengan warga negara setempat. Hal ini juga terjadi di negara Belanda. Di
sana, murid-murid pada tingkat SMA memang dianjurkan mempelajari dan menguasai
bahasa asing mengingat bahasa Belanda tidak dipakai oleh negara di sekelilingnya.
Jerman memakai bahasanya sendiri. Belgia memakai Perancis. Di seberang selat, ada
negara Inggris.
Alasan kedua dan paling umum, bahasa Inggris perlu dipelajari karena
penggunaan luasnya sebagai bahasa komunikasi Internasional. Agar dapat melakukan
komunikasi dengan orang-orang yang berbeda latar belakang budaya dan kenegaraan,
bahasa Inggris menjadi pilihan utama yang sering dipakai dalam melakukan komunikasi.
Contoh yang mudah dilihat ada di dunia pariwisata. Para wisatawan yang melakukan
perjalanan di negara asing lazim menggunakan bahasa Inggris untuk dapat
berkomunikasi dengan warga negara asli yang dikunjunginya. Bukan hanya penutur asli
bahasa Inggris, wistawan yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu
juga memilih bahasa Inggris sebagai lingua franca-nya. Orang Jepang yang melancong
ke Indonesia, menggunakan bahasa Inggris apabila dia hendak menanyakan sesuatu pada
orang pertama yang ditemuinya di jalan. Wisatawan Indonesia yang berjalan-jalan di
Paris akan sangat senang sekali apabila bertemu dengan penduduk setempat yang
menguasai bahasa Inggris untuk dimintai bantuannya. Juga kecil kemungkinannya ada
orang Italia yang berani berwisata ke India tanpa memiliki bekal bahasa Inggris yang
memadai. Bahasa Inggris juga menjadi bahasa pengantar resmi dalam dunia transportasi
udara dan laut. Pilot pesawat, apapun kewarganegaraanya, dilatih untuk menguasai
bahasa Inggris agar dapat berkomunikasi dengan pihak menara pengawas bandara yang
menjadi tujuan pesawat yang diterbangkannya. Apakah dia menerbangkan pesawat di
Asia atau di Afrika, dia harus berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Begitu pula pihak
menara pengawas bandara pun harus mahir berbicara dalam bahasa Inggris, karena
pesawat yang mendarat di bandara tidak hanya datang dari satu negara tapi juga manca
negara. Tidak bisa dibayangkan rupanya apabila para pilot dan petugas menara
pengendali harus menguasai seluruh bahasa di dunia ini. Sama halnya dengan dunia
pelayaran, bahasa Inggris adalah bahasa komunikasi resmi. Para petugas pelabuhan yang
mengendalikan situasi akan selalu berhadapan dengan kedatangan kapal-kapal asing.
Agar komunikasi lancar, petugas dan syahbandar harus mampu berbicara dalam bahasa
Inggris dengan kapal yang mana nahkodanya datang dari Amerika, Rusia, Perancis,

17
Afrika Selatan, Korea, ataupun kepulauan Salomon. Agar urusan pekerjaan lancar, para
pelaut dan petugas pelabuhan musti menggunakan satu bahasa yang umum dan netral.
Alasan ketiga adalah, bahwa informasi yang berlimpah di dunia ini kebanyakan
diterbitkan dalam bahasa Inggris. Buku-buku banyak yang diterbitkan dalam bahasa
Inggris. Tidak soal siapa yang menerbitkannya, yang pasti untuk memperoleh pasar yang
luas banyak penerbit menerbitkan bacaan dalam bahasa Inggris. Majalah besar seperti
Newsweek, Time, Vogue, Bazaar, People, Life, National Geographic, MacWorld dll
ditulis dan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Koran seperti Washington Post, New York
Times, Wall Street Journal, dan Sun juga terbit dengan bahasa Inggris. Buku-buku ilmiah
pun terbit dalam bahasa Inggris. Apabila ada bahan bacaan yang terbit dalam bahasa
non-Inggris, maka terjemahan bahasa Inggris pun pasti langsung dibuat dan dipasarkan.
Website populer di dunia internet lebih banyak menggunakan bahasa Inggris sebagai
pengantar untuk artikel di dalamnya, lihat saja Yahoo, Google, Wikipedia, Amazon,
YouTube, dan Reuters. Acara televisi populer di seluruh dunia--F1, MotoGP, World
Cup, Champions, American Idol, 24, CSI, MacGyver, dll--disajikan dengan bahasa
pengantar Inggris. Stasiun televisi terkenal di dunia juga disiarkan dalam bahasa
Inggris--CNN, BBC, NBC, Discovery, National Geographic, Animal Planet, ESPN,
HBO, dan masih banyak lainnya. Jurnal ilmiah yang bersirkulasi di antara universitas elit
dunia juga tercetak dalam bahasa Inggris. Bahan referensi yang tersedia di universitas-
universitas di Indonesia pun secara tidak langsung mengharuskan mahasiswa untuk
memiliki bekal pengetahuan bahasa Inggris. Apapun minat kita, informasi yang tersedia
di sekitar kita saat ini mensyaratakan pengetahuan bahasa Inggris yang akan sangat
membantu dalam menambah pengetahuan dan memperluas wawasan. Keterampilan
bahasa Inggris yang dimiliki seseorang akan menolong dia untuk mengakses hal-hal
yang selama ini tidak ada di dalam bacaan-bacaan yang terbit di Indonesia. Karena itu,
kemampuan berbahasa Inggris akan memudahkan orang Indonesia untuk
mengembangkan wawasan pengetahuannya dengan memberikan akses pada pengetahuan
yang ada di luar Indonesia.

Berdasarkan ketiga alasan di atas, pengetahuan bahasa Inggris untuk


perkembangan seorang individu di negara Indonesia menjadi suatu hal yang tidak
terelakan. Suka tidak suka, subyek yang satu ini menjadi hal yang perlu dipelajari oleh
setiap orang Indonesia. Biarpun kita tidak yakin akan mendapat kesempatan untuk ke

18
keluar negeri, pengetahuan ini tetap diperlukan juga. Minimal, kita tidak perlu
terbengong-bengong ketika menonton siaran berita CNN lantaran tidak ada terjemahan
di bagian bawah layar televisi atau bingung saat membaca buku manual penggunaan alat
elektronik yang hanya tercetak dalam bahasa Inggris.

Bila kita dapat berbahasa Inggris, maka kita dapat berbicara dengan lebih dari 1,5
miliar orang di seluruh dunia. Satu di antara empat orang di dunia berbicara paling tidak
sedikit bahasa Inggris, dan jumlah yang belajar terus bertambah. Misalnya, di Cina
sendiri, jumlah orang yang belajar bahasa Inggris telah melampaui jumlah seluruh
penduduk Amerika Serikat. Bila kita menguasai bahasa Inggris, kita dapat chatting
secara online, menulis surat dan berkeliling di dunia maya – menggunakan satu bahasa
asing, yakni bahasa Inggris.

Bahasa Inggris merupakan bahasa resmi atau paling tidak memiliki kedudukan
khusus di 75 negara dan digunakan di lebih dari 100 negara. Bahasa Inggris merupakan
bahasa internasional untuk bisnis, olahraga, akademik, ilmu pengetahuan, teknologi,
periklanan dan diplomatik. Kita tidak perlu memanfaatkan jasa translator bahasa Inggris
apabila kita sendiri menguasainya.

Menguasai bahasa Inggris berarti membuka jendela dunia lebih lebar. Banyak
buku berbahasa asing yang hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Jika kita dapat
membaca bahasa Inggris, kita akan memiliki pilihan bacaan yang jauh lebih beragam;
sama pula halnya dengan film.

Kita mungkin berpikir bahwa banyak situs yang diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia. Tetapi kenyataannya, 80% informasi elektronik hanya tersedia dalam bahasa
Inggris. Sedangkan 20% bagian yang lainnya itu tidak semuanya didominasi oleh bahasa
Indonesia, tetapi juga bahasa asing non-Inggris lain, seperti bahasa Cina, bahasa Jepang,
bahasa Perancis dan sebagainya. Jadi bayangkan hanya berapa persen dari seluruh
informasi di internet yang tersaji dalam bahasa Indonesia.

E. Pemanfaatan Internet Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Bahasa Inggris

19
Bagi sebagian siswa dan guru menggunakan internet mungkin bukan barang baru
dan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Akan tetapi bagi sebagian siswa dan guru yang
lain menggunakan media informasi dan komunikasi ini merupakan pengalaman yang
baru dan jarang dilakukan. Namun, meskipun mereka yang sering menggunakan internet,
belum tentu yang mereka lakukan itu dalam rangka “using ICT to learn” seperti yang
dikemukakan oleh UNESCO, akan tetapi baru sekedar “learning to use ICT”.

Penggunaan internet yang saat ini hingga ke tingkat pedesaan, adalah momentum
yang paling tepat untuk mempromosikan penggunaan media tersebut untuk pembelajaran
terutama pembelajaran bahasa Inggris.

Bagi para guru bahasa Inggris, internet menawarkan beberapa kesempatan untuk
meraih pengembangan profesional, seperti:

1. meningkatkan pengetahuan bahasa Inggris mereka untuk melengkapi dan juga


meng-update, pengetahuan bahasa Inggris mereka sebelumnya;
2. berbagi dan mencari sumber/bahan pembelajaran yang sebanyak-banyaknya
sesuai dengan kebutuhan;
3. bekerjasama dengan guru-guru dari luar negeri;
4. kesempatan untuk mempublikasikan secara langsung karya-karyanya
5. mengatur komunikasi secara teratur dengan para siswa;
6. berpatisipasi dalam forum dengan rekan sejawat baik local maupun
internasional;
7. mengakses rencana belajar mengajar & metodologi baru.

Khusus dalam pembelajaran bahasa Inggris, internet menawarkan berbagai


manfaat, keuntungan dan kesempatan bagi peserta didik berupa:

1. kesempatan untuk belajar bahasa Inggris secara sendiri dengan lebih cepat;
2. kesempatan untuk menambah pengetahuan bahasa Inggris dengan lebih
lengkap;
3. belajar berinteraktif dengan guru dan peserta didik lain;
4. menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan orang-orang dari
negara lain (to put English into practice).

20
Selain manfaat di atas, ternyata berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Azwar Rhosyied, dan Bambang Wijanarko Otok, menyimpulkan bahwa penggunaan
internet sebagai media belajar mampu mempengaruhi motivasi belajar siswa sekaligus
meningkatkan kreativitasnya. Penelitian lain yang dilakukan Mustafa (2008)
menyimpulkan bahwa: “terdapat adanya hubungan yang signifikan antara pengaplikasian
e-Learning dengan motivasi belajar”.
Seorang guru bahasa Inggris dapat menggunakan internet sebagai alat untuk
meningkatkan motivasi belajar siswa dengan beberapa cara. Pertama, dengan
menunjukkan fakta-fakta bahwa internet dan juga komputer sebagai sarana utama untuk
bisa tersambung dengan internet itu sendiri sebenarnya menggunakan bahasa Inggris
sebagai bahasa utama. Sedangkan bahasa-bahasa lainnya termasuk bahasa Indonesia
adalah merupakan bahasa penunjang bagi pengguna yang tidak mampu berbahasa
Inggris. Sebagai bahasa penunjang tentu memiliki keterbatasan antara lain bahwa bahasa
itu tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan semua orang di seluruh dunia.
Berbeda dengan bahasa Inggris sebagai bahasa utama, maka dengan tanpa ragu kita
dapat menggunakan bahasa itu dengan sipapun dan di manapun di seluruh dunia.

Kedua, pada saat proses pembelajaran guru bahasa Inggris harus memberi contoh
bagaimana menggunakan internet untuk pembelajaran bahasa Inggris. Guru bisa
mengajak siswa untuk belajar bahasa Inggris secara on line. Guru bahasa Inggris harus
menunjukkan pada siswa bahwa betapa menariknya belajar bahasa Inggris secara on line
itu, karena mereka dapat mengerjakan soal kemudian langsung mengecek jawaban yang
mereka buat tanpa perasaan takut dimarahi guru atau ditertawakan teman seperti ketika
di kelas apabila jawaban mereka salah. Bila jawaban mereka salah mereka dapat
langsung memperoleh penjelasan mengapa jawaban itu salah sekaligus diberitahu
jawaban yang benarnya bagaimana. Selain itu siswa bisa memilih tingkat kesulitan soal
sesuai dengan kemampuan yang dia miliki apakah mau tingkat beginner,
preintermediate, intermediate, atau advanced. Bentuk soal yang mau dikerjakanpun bisa
dipilih sesuai dengan keinginan apakah mau pilihan ganda, isian, atau easay. Untuk itu
guru harus mengetahui sejumlah situs yang menyediakan latihan on line seperti itu.

Ketiga, di luar proses pembelajaran guru harus memberi kesempatan kepada


siswa untuk berkomunikasi secara langsung melalui e-mail atau melalui jejaring social
yang sedang digandrungi oleh para remaja saat ini yakni Facebook, melalui fasilitas
21
chatting atau update status. Untuk itu tidak ada salahnya kalau guru memiliki akun
jejaring social Faebook sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan para siswanya.
Berdasarkan pengalaman penulis cara ini ternyata cukup efektif untuk memotivasi siswa
berbahasa Inggris. Bahkan siswa yang pada saat di kelas tampak pasif pun berubah
menjadi siswa yang aktif dan mau menggunakan bahasa Inggrisnya pada saat chatting
serta mau bertanya tentang masalah yang berkaitan dengan kesulitan belajar bahasa
Inggris. Suatu hal yang jarang ditemui di dalam kelas.

Keempat, guru bahasa Inggris hendaknya secara rutin memberi tugas kepada
siswa untuk dicarikan jawabannya atau penyelesaiannya di internet atau pada buku
sekolah elektronik (BSE) yang dapat dengan mudah ditemukan dalam internet. Dengan
semakin seringnya siswa menggunakan internet untuk belajar bahasa Inggris, diharapkan
siswa semakin menyadari betapa pentingnya belajar bahasa Inggris.

Dengan demikian ada beberapa alasan mengapa internet dapat dimanfaatkan


sebagai sarana untuk meningkatkan motivasi belajar bahasa Inggris pada siswa, yakni:

1. para siswa yang merupakan para remaja pada umumnya sangat menyukai
internet. Jadi kalau mereka diajak belajar melalui internet tidak akan sulit
bahkan akan bersemangat. Terlebih lagi bagi siswa yang berada di daerah di
mana internet sebagai sesuatu yang baru.
2. para siswa sangat suka melakukan browsing dalam internet dan kegiatan itu
akan lebih menyenangkan bila disertai kemampuan berbahasa Inggris yang
baik agar bisa mengunjungi situs-situs yang berbahasa Inggris. Di sinilah
mereka akan merasa membutuhkan bahasa Inggris. Dengan adanya kebutuhan
tersebut akan mendorong mereka untuk terus belajar.
3. para siswa sangat menyukai chatting. Kegiatan itu akan lebih asyik dan
menarik apabila menggunakan bahasa Inggris atau paling tidak dicampur
antara bahasa local dengan bahasa Inggris.
4. apabila siswa belajar menjawab/mengerjakan soal-soal bahasa Inggris secara
On Line, maka siswa dapat secara langsung mengetahui tingkat
kemampuannya sendiri dengan cara mengecek jawabannya. Di sini secara
tidak langsung siswa melakukan refleksi atas kemampuan dirinya sendiri
tanpa diketahui orang lain.

22
5. pada saat mengerjakan latihan On line, siswa dapat memilih soal latihan
berdasarkan keinginannya, baik bentuk soal, jumlahnya, levelnya maupun
lamanya waktu untuk mengerjakan soal-soal tersebut disesuaikan dengan
kemampuannya sendiri.
6. soal-soal yang tersedia di internet sangat lengkap untuk melatih keempat
skills dalam bahasa Inggris yakni, listening, speaking, reading, maupun
writing. Tersedia pula materi ketatabahasaan yang sangat lengkap untuk
meningkatkan kemampuan grammar-nya. Dengan demikian siswa dengan
bebas dapat memilih kemampuan mana yang ingin lebih dia kembangkan.

Kesimpulannya adalah, di era teknologi informasi dan komunikasi ini tidak ada
alasan untuk tidak tahu apalagi sampai bodoh. Orang yang bodoh pada jaman ini adalah
ibarat tikus di lumbung padi yang mati kelaparan.

Berikut beberepa alamat web yang dapat digunakan untuk membantu guru bahasa
Inggris dan juga siswa untuk belajar bahasa Inggris melalui internet:

1. http://www.qualitytime-esl.com/spip.php?
2. http://shop.english-test.net/toeic-prep-products/toeic-based-listening-
comprehension-exercises-part-ii
3. http://www.eslall.com/learn_english_262.html
4. http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish/general/
5. http://www.englishclub.com/listening/
6. http://www.englisch-hilfen.de/en/exercises_list/alle_grammar.htm
7. http://a4esl.org/q/f/z/zz60fck.htm
8. http://www.edufind.com/english/grammar/
9. http://grammar.ccc.commnet.edu/grammar/sentences.htm
10. http://www.radioaustralia.net.au/learnenglish/

23
Alamat-alamat di atas hanyalah sejumlah kecil dari ratusan situs yang
menyediakan program/materi pembelajaran bahasa Inggris baik secara On line maupun
Off line.

BAB III

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. KESIMPULAN

Internet dapat digunakan sebagai katalis untuk melaksanakan e-


Learning. Sebagai produk dari kemajuan teknologi informasi dan
komunikasi (ICT), internet memiliki banyak manfaat yang dapat
digunakan dalam proses pembelajaran bahasa Inggris. Namun demikian
internet pun memiliki dampak negative yang harus diantisipasi apabila
digunakan sebagai media untuk proses pembelajaran. Kehadiran internet

24
dalam proses pembelajaran adalah sebagai pelengkap bagi proses
pembelajaran tersebut. Seorang guru yang mau memanfaatkan internet
sebagai salah satu sumber dalam pembelajaran tidak akan pernah
kekurangan bahan untuk pembelajaran. Namun demikian, keberadaan
internet tidak dapat menggantikan kehadiran seorang guru.
Pembelajaran bahasa Inggris dengan memanfaatan internet adalah
upaya guru untuk mengarahkan dan menyalurkan besarnya minat siswa
dalam ber-internet sehingga tidak salah arah. Arah utama penggunaan
internet dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah agar siswa mau
belajar bahasa Inggris selain di sekolah/kelas, sehingga tumbuh motivasi
untuk mau belajar mandiri sepanjang hayat.

Motivasi adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam belajar siswa.


Keberadaan motivasi pada diri siswa akan menambah daya juang siswa
dalam mencapai kompetensi bahasa Inggris yang diharapkan. Beberapa
penelitian menunjukkan motivasi belajar siswa dapat meningkat dengan
digunakannya internet sebagai media pembelajaran.

Dalam dunia pendidikan, dikenal istilah e-Learning yang merupakan pemanfaatan


TIK untuk pembelajaran. Penggunaan TIK dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah
sebagai “enabler” atau alat untuk memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang
efektif dan efisien serta menyenangkan. TIK adalah sarana untuk mencapai tujuan, bukan
tujuan itu sendiri. Dengan demikian, bila dilihat dari sisi peran TIK bagi guru, maka e-
Learning yang sesungguhnya adalah pemanfaatan TIK secara relevan dan tepat oleh guru
untuk memungkinkan dirinya: menjadi fasilitator, kolaborator, mentor, pelatih, pengarah
dan teman belajar, serta dapat memberikan pilihan dan tanggung jawab yang besar
kepada siswa untuk mengalami peristiwa belajar.

Bahasa Inggris memiliki kedudukan yang sangat penting dalam komunikasi tingkat
global. Hal itu sudah lama disadari oleh banyak orang sehingga tidak heran banyak orang
yang berupaya untuk mempelajari bahasa tersebut meskipun tidak semuanya berhasil
dengan baik. Pentingnya bahasa Inggris tersebut dikarenakan bahasa Inggris adalah salah
satu bahasa Internasional yang paling banyak digunakan sebagai bahasa pengantar dalam
forum-forum resmi. Bahasa Inggris juga merupakan bahasa yang paling banyak

25
digunakan dalam buku-buku dan tulisan-tulisan ilmiah yang ditulis oleh para penulis
tingkat dunia.

B. REKOMENDASI

Adalah sudah merupakan suatu keharusan bahwa guru memiliki komitmen untuk
meningkatkan mutu pendidikan. Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tersebut
maka sebaiknya guru:

1. meningkatkan profesionalisme dengan menguasai berbagai hal yang berkaitaan


dengan pelaksanaan tugasnya di lapangan, termasuk menguasai penggunaan dan
pemanfaatan internet dalam proses pembelajaran;
2. mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan dari penggunaan
internet dalam pembelajaran agar dia mampu memanfaatkan kelebihan dan juga
bisa mengatasi kelemahan – kelemahan yang ada pada penggunaan internet
tersebut;
3. memiliki serta mampu menggunakan computer/laptop/notebook dan sarana lain
yang diperlukan untuk bisa mengakses internet pada saat melaksanakan proses
pembelajaran ataupun untuk mencari sumber/materi pembelajaran baik sebagai
bahan acuan ataupun bahan perbandingan;
4. kreatif dan inovatif untuk menciptakan teknik – teknik mengajar yang menarik
yang dapat digunakan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas
sehingga proses pembelajaran tersebut menjadi tidak membosankan bagi siswa
dan mampu membangkitkan motivasi siswa untuk terus belajar.

Sementara itu, agar bisa dilaksanakan pembelajaran dengan


memanfaatkan internet, maka pihak sekolah sebaiknya berupaya untuk
melakukan hal - hal sebagai berikut:

1. mengalokasikan dana untuk memenuhi segala kebutuhan untuk


menyelenggarakan proses pembelajaran yang berbasis
computer dan internet.
2. sebaiknya memiliki ruangan khusus untuk melaksanakan proses
pembelajaran berbasis internet.

26
3. mendorong para guru terutama yang sudah mendapat
tunjangan professional untuk memiliki portable computer
/laptop/notebook serta menggunakannya untuk membantu
proses pembelajaran.
4. menyelenggarakan pelatihan penggunaan computer dan
pemanfaatan TIK bagi para guru yang belum mampu/mahir
menggunakannya.

27
DAFTAR PUSTAKA

Agustin, Helena I.R, Anugrahwati, M. dan Wachidah, Siti. (2004). Materi Pelatihan
Terintegrasi Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Jakarta: Depdiknas.

Chaeruman, Uwes A. (2009). Pemanfaatan Teknologi dalam


Pembelajaran (on line).Tersedia:
(http://fakultasluarkampus.net)pemanfaatan_teknologi_dalam_pembelajaran.pdf (8
April 2011).

Depdiknas. (2003). Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003


Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.

Encarta® World English Dictionary [North American Edition] © &


(P)2009 Microsoft Corporation. All rights reserved. Developed for
Microsoft by Bloomsbury Publishing Plc. (8 April 2011).

Faiz, (2008) Motivasi Belajar dan Teori Kepribadian. (On line) Tersedia
: http://motivasibelajar.wordpress.com/2008/05/20/motivasi-
belajar-dan-teori-kepribadian. (8 April 2011)

Furchan, Arief. (1999). Pembelajaran Bahasa Inggris di Lembaga Pendidikan Islam di


Milenium III. Surabaya. IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Ivancevich, John M., Konopaske, Robert., dan Matteson, Michael T.,


(2005). Perilaku dan Manajemen Organisasi, Jilid I. Jakarta.
Erlangga.

Lengkanawati, Nenden Sri. (2007). Pendidikan Bahasa dalam Ilmu dan


Aplikasi Pendidikan Bagian III: Disiplin Ilmu. Bandung. Imperial
Bhakti Utama.

Mustafa. (2008). Alasan dibalik Pentingnya Belajar Bahasa Inggris. (On


line). http://todoeducare.posterous.com/alasan-di-balik-pentingnya-
belajar-bahasa-inggris/. (8 April 2011)

Purnawan, Yudi (2007). Manfaat Internet Sebagai Media Pendidikan.


(On line). Tersedia:
http://yudipurnawan.wordpress.com/2007/11/17/manfaat-internet-
sebagai-media-pendidikan/

Rhosyid, Azwar dan Otok, Bambang Wijanarko. Analisa Pengaruh


Penggunaan Internet Sebagai Media Belajar, Motivasi Belajar

28
Dan Kreativitas Terhadap Prestasi Belajar Siswa Dengan
Menggunakan Structural Equation Modeling (Studi Kasus SMAN 1
Probolinggo). Surabaya. ITS

Sagala, Syaiful. (2007). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung.


Alfabeta

Yuda (2008). Dampak positif dan Negatif Akibat Perkembangan


Teknologi Internet. (On line). Tersedia:
http://yudakuyudz.wordpress.com/2008/03/19/dampak-positif-dan-
negatif-akibat-perkembangan-teknologi-internet/ (8 April 2011)

29