Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Seorang mahasiswa klinik ingin membuatkan pasiennya, gigi tiruan lepasan. Pasiennya
kehilangan gigi. 1.6; 1.5; 2.3: 2.4; dan 2.6. Pasien-nya dicetak dengan bahan cetak alginate
kemudian untuk model kerjanya dibuat dari bahan moldano. Karena ter-buru-buru pulang
cetakkan tersebut dibawa pulang dan dicor dengan bahan moldano esok harinya. Setelah gigi
tiruan lepasan tersebut selesai, ternyata prothesa gigi tiruan tersebut tidak pas dalam mulut
pasien.

1.2 Rumusan Masalah


1. Mengapa dipilih bahan cetak alginate dan bukan rubber base impression ?
2. Apa perbedaan sifat antara bahan cetak Hyrocolloid irreversible dan reversible?
3. Terangkan pula perbedaan bahan cetak Hydrokoloid dan Rubber base impression?
4. Mengapa prothesa gigi tiruan tersebut tak pas, ditinjau dari sudut bahan cetak ?
5. Apa bahan dasar alginate impression dan apa katalisator sehingga terjadi gel?
6. Apa bahan dasar Rubber base impression dan apa katalisator sehingga terjadi proses
polimerisasi?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui alasan dipilihnya bahan alginate daripada bahan rubber base impression.
2. Untuk mengetahui sifat antara bahan cetak Hyrocolloid irreversible dan reversible.
3. Untuk mengetahui perbedaan bahan cetak Hydrokoloid dan Rubber base impression.
4. Untuk mengetahui alasan prothesa gigi tiruan tersebut tidak pas ditinjau dari sudut bahan
cetak.
5. Untuk mengetahui bahan dasar alginate impression dan mengetahui katalisator dari bahan
dasar alginate impression sehingga dapat terjadi gel.
6. Untuk mengetahui bahan dasar Rubber base impression dan untuk mengetahui katalisator
dari bahan dasar rubber base impression sehingga terjadi proses polimerisasi.

1|Pengaruh Waktu Pengisian Cetakan Alginate terhadap


Ketepatan Hasil Cetakan
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 BAHAN CETAK

Untuk menghasilkan cetakan yang akurat, bahan yang digunakan untuk membuat tiruan dari
jaringan intraoral dan ekstraoral harus memenuhi kriteria berikut. Pertama, bahan cetak
tersebut harus cukup air untuk beradaptasi dengan jaringan mulut serta cukup kental untuk
tetap berada dalam sendok cetak yang menghantar bahan cetak ke mulut. Kedua selama di
mulut, bahan tersebut harus berubah (mengeras) menjadi benda padat menyerupai karet
dalam waktu tertentu; idealnya waktu pengerasan total kurang dari tujuh menit. Akhirnya,
cetakan yang mengeras harus tidak berubah atau robek ketika dikeluarkan dari mulut, dan
dimensi bahan harus tetap stabil sehingga bahan cor dapat dituang.

Bahan cetak dapat dikelompokkan berdasarkan pada cara bahan tersebut mengeras
yaitu reversible dan ireversible.

a. Reversible

Bahan ini melunak dengan pemanasan dan memadat dengan pendinginan,


tanpa terjadi perubahan kimia. Hidrokoloid reversibel dan kompoun
cetak( campuran resin dan malam) termasuk dalam katagori ini.

b. Ireversibel

Terjadi reaksi kimia, sehingga bahan tidak dapat diubah kembali ke keadaan
semula pada klinik dokter gigi.misalnya hidrokoloid alginat, pasta cetak oksida
seng eugenol (OSE) dan plaster of paris mengeras dengan reaksi kimia, sedang
bahan cetak elastomerik mengeras dengan polimerisasi.

Cara lain mengelompokkan bahan cetak gigi adalah menurut penggunaanya yaitu
bahan cetak elastik dan bahan cetak tidak elastik.

a. Bahan cetak elastik

Dapat secara akurat memproduksi dengan baik strutur keras maupun lunak
dari rongga mulut, termasuk underkut dan celah proksimal. Meskipun bahan
ini dapat dipakainuntuk mencetak pasien tanpa gigi, kebanyakan digunakan

2|Pengaruh Waktu Pengisian Cetakan Alginate terhadap


Ketepatan Hasil Cetakan
untuk membuat model cor untuk gigi tiruan sebagian cekat atau lepasan
serta untuk unit restorasi tunggal.

b. Bahan cetak tidak elastik

Beberapa bahan cetak menjadi keras dan tidak dapat dikeluarkan melalui
underkut tanpa mematahkan atau mengubah bentuk cetakan. Bahan cetak
tidak elastis ini digunakan untuk semua cetakan sebelum ditemukan agar .
Meskipun bahan cetak ersebut sudah tidak digunakan lagi untuk pasien
bergigi, bahan tidak elastik ini memiliki keunggulan dalam pembuatan
cetakan pasien tak bergigi

Macam macam Bahan Cetak:

a. Bahan Cetak Hidrokoloid

1. AGAR (hidrokoloid reversibel)


 Komposisi
Agar merupakan salah satu jenis koloid hidrofilik organic yang diekstrat dari rumput laut
jenis tertentu. Terdapat dalam konsentrasi 8% - 15%, bergantung pada sifat bahan yang
dimaksud. Kandungan utamanya adalah air (>80%). Untuk memperkuat gel, biasanya
ditambah sedikit boraks. Namun sayangnya boraks merupakan salah satu jenis retarder
terbaik untu pengerasan gypsum. Kandungan air yang berlebih dalam agar juga dapat
memperlambat pengerasan gypsum. Oleh karena itu, untuk menyeimbangkan pengaruh
air dan boraks pada gel, ditambahkan sedikit kalium sulfat. Kalium sulfat merupakan zat
pemercepat pengerasan gypsum. Beberapa bahan pengisi juga diberikan, seperti tanah
diatoma, tanah liat, silica, malam, karet dan serbuk kakuk serupa. Zat lain seperti timol
dan gliserin juga ditambahkan untuk menjadi bakterisit dan bahan pembuat plastic.
 Proses Gelasi
Proses gelasi merupakan suatu proses pengerasan hidrokoloid reversible. Perubahan
fisik sol-gel dipengaruhi oleh perubahan temperature. Namun untuk perubahan dari gel
menjadi sol diperlukan titik didih yang lebih tinggi (temperature liquefaction = 70-100
derajat). Biasanya sol berubah menjadi gel pada suhu 37-50 derajat. Temperature gelasi
dipengaruhi oleh beberapa factor termasuk berat molekul, kemurnian agar, dan rasio
terhadap komposisinya. Ketidaksamaan temperature gelasi dan temperatu pendinginan
inilah yang menyebabkan agar dapat digunakan sebagai bahan cetak dalam kedokteran
gigi.

3|Pengaruh Waktu Pengisian Cetakan Alginate terhadap


Ketepatan Hasil Cetakan
 Manipulasi bahan agar
Secara umum ada 3 tahapan, yaitu:
a. Persiapan bahan
Tahapan pertama adalah mengubah gel hidrokoloid menjadi sol. Cara yang paling
efektif adalah dengan menggunakan air panas. Sebaiknya bahan dibiarkan dalam
tempertur ini selama 10 menit. Setelah dilelehkan, bahan dapat disimpan dalam
keadaan sol sampai waktunya diinjeksikan ke dalam preparasi kevitas atau diisikan
ke sendok cetak. Temperatur yang terlalu rendah dapat menghasilkan bahan cetak
dengan kekentalan yang lebih tinggi dan tidak mampu mereproduksi detail halus
dengan tepat.
b. Kondisioning atau pendinginan
Suhu penyimpanan 65 derajat terlalu tinggi untuk rongga mulut. Oleh karena itu,
bahan perlu didinginkan terlebih dahulu (ditempered). Untuk tahap preparasi,
sebuah tube dikeluarkan dari kompartemen penyimpanan dan dimasukkan ke
sendok cetak, sepotong kasa diletakkan diatas bahan yang terletak di sendok cetak,
kemudian diletakkan lagi di kompertemen pendingin 45 derajat selama 3-10menit.
Waktu yang berbeda-beda tergantung pada jenis hidrokoloid dan keenceran yang
diinginkan oleh dokter gigi. Sebagai tambahan, selain menurunkan temperature,
pendinginan juga dapat meningkatkan kekentalan bahan hidrokoloid sehingga
bahan tidak mengalir keluar sendok cetak.
c. Membuat cetakan
Sebelum proses pendinginan bahan cetak terselesaikan, bahan semprit diambil dari
kompartemen penyimpanan dan diaplikasikan pada kavitas yang direparasi. Mula-
mula diaplikasikan pada dasar preparasi, kemudian pada bagian lain yang belum
tertutup. Ujung semprit diletakkan di dekat gigi, dibawah permukaan bahan semprit
untuk mencegah gelembung udara. Begitu kavitas yang akan dipreparasi telah
tertutup bahan cetak, sendok cetak yang telah sempurna didinginkan siap untuk
dimasukkan kedalam rongga mulut. Proses gelasi dapat dipercepat dengan
mengalirkan air dingin sekitar 18-21 derajat selama 3-5menit.
 Keakuratan Bahan Cetak Agar
Bahan Cetak Reversibel adalah bahan cetak paling akurat. Untuk mencapai keakuratan
tersebut perlu diperhatikan beberapa hal, diantaranya :
- Kekentalan sol

4|Pengaruh Waktu Pengisian Cetakan Alginate terhadap


Ketepatan Hasil Cetakan
Kekentalan merupakan pertimbangan paling penting dalam keberhasilan
memanipulasi bahan. Bahan tidak boleh terlalu encer sehingga mengalir keluar
sendok cetak, terutama saat mencetak rahang bawah. Sebaliknya, bahan tidak boleh
terlalu kental, sehingga sulit menembus semua detail gigi-geligi dan jaringan lunak.
- Sifat Viskoelastik
Hubungan tegangan – regangan dari bahan hidrokoloid berubah begitu besarnya
beban berubah. Sifat ini menunjukkan perlunya mengeluarkan cetakan dari dalam
mulut dengan cepat. Karena apabila pengeluaran cetakan dari dalam mulut secra
perlahan, diputar atau diungkit akan menyebabkan terjadi distorsi.
- Distorsi selama gelasi
- Daya reproduksi
Sifat ini mewakili kemampuan untuk membuat die duplikat dari serangkaian
cetakan. Untuk teknik die gandi, dibuat satu cetakan dan kemudian dipotong-potong
menjadi die individual untuk gigi yang akan dipreparasi.

2. ALGINATE
 Komposisi
Alginat merupakan hidrokoloid ireversibel yang komponen utamanya adalah salah satu
alginate larut air seperti natrium, kalium, atau alginate trietanolamin. Alginate yang
dicampur air akan membentuk sol dengan cepat. Besar berat molekul alginate
bervariasi, semakin besar berat molekul maka kekentalan sol akan bertambah. Biasanya
ditambahkan bahan pengisi seperti tanah diatoma yang berfungsi sebagai penambah
kekerasan dan kekuatan gel alginate. Oksida seng juga merupakan bahan pengisi yang
mempengaruhi sifat fisik serta waktu pengerasan gel.
 Lama Penyimpanan
Temperatur dan kontaminasi kelembaban udara merupakan 2 faktor utama yang
mempengaruhi lama penyimpanan bubuk alginate. Bahan cetak alginate dikemas dalam
kantung tertutup secara individual dengan berat bubuk yang sudak ditakar untuk
membuat satu cetakan, atau dalam kaleng besar yang tertutup rapat.
 Alginat modifikasi
 Proses gelasi
Reaksi khas sol-gel dapat digambarkan secara sederhana sebagai reaksi alginate larut air
dengan kalsium sulfat dan pembentukan gel kalsium alginate yang tidak larut. Kalsium
sulfat cepat bereaksi untuk membentuk kalsium alginate tak larut air dari kalium atau

5|Pengaruh Waktu Pengisian Cetakan Alginate terhadap


Ketepatan Hasil Cetakan
natrium alginate dalam larutan cair. Produk kalsium alginate sangat cepat, oleh karena
itu tidak tersedia waktu yang cukup untuk bekerja. Oleh karena itu perlu ditambahkan
garam pemerlambat (retarder) seperti trinatrium untuk memperpanjang waktu kerja.

 Manipulasi bahan alginate


- Mempersiapkan pengadukan
Campurkan bubuk alginate yang telah ditakar dengan air sesuai takaran pada bowl.
Gerakan pengadukan yang salah dapat merusak bahan alginate. Cara pengadukan
yang benar adalah dengan menggunakan spatula logam, awali dengan gerakan
angka delapan, dan lanjutkan dengan menekan bahan ke dinding bowl searah
180derajat. Waktu pengadukan terlalu lama juga dapat merusak alginate. Biasanya
45 detik sampai 1 menit adalah waktu yang pas untuk mengaduk alginate.
- Membuat cetakan
Bahan harus mencapai konsistensi tertentu sehingga tidak mengalir keluar sendok
cetak dan menyebabkan tersedak. Bahan cetak juga harus menempel pada sendok
cetak agar dapat ditarik dari sekitar gigi. Ketebalan cetakan alginate antara sendok
cetak dan jaringan harus sekurang-kurangnya 3mm.
 Kekuatan gel maksimal diperlukan untuk mencegah fraktur dan menjamin bahwa
cetakan cukup elastic ketika dikeluarkan dari mulut.
 Katahanan terhadap sobekan pada alginate akan meningkat bila cetakan dikeluarkan
dengan sentakan secara tiba-tiba.
 Keakuratan cetak alginate kurang, karena dia tidak dapat menembus detail kecil yang
ada pada gigi.

b. Bahan Cetak Elostomerik Tanpa Air

Secara kimia terdapat 4 jenis : polisulfida, slikon polimerisasi kondensasi, silikon polimerisasi
tambahan, polieter. Merupakan sistem 2 komponen yang dikemas dalam bentuk pasta. Kedua
pasta yang berbeda warna dikeluarkan dalam panjang yang sama pada kertas pengaduk dan
diaduk dengan spatula sampai terbentuk warna homogen.

6|Pengaruh Waktu Pengisian Cetakan Alginate terhadap


Ketepatan Hasil Cetakan
1. Bahan cetak polisulfid
 Komposisi
Pasta basis mengandung polimer polisulfid, bahan pengisinya yang cocok(seperti
lithopone dan titanium dioksida) untuk memberikan kekuatan yang diperlukan, bahan
pembentuk sifat plastik(seperti dibutil phtlat) untuk menghasilkan kekentalan yang tepat
bagi pasta, sulfur ± 0,5%. Untuk menungkatka reaksi yang disebut sebagai pasta katalis
atau aselator reaksi mengandung timah dioksid yang menghasilkan sifat warna cokelat
gelap.
 Manipulasi
Pasta katalis dan pasta basis dikeluarkan denagn panjang yang sama pada lembaran
kaca pengaduk. Pasta katalis mula- mula dikumpulkan pada spatula tahan karat dan
kemudian diistribusikan di atas pasta basis, diaduk di lembar pengadukan.
 Polisulfid
Yaitu bahan cetak elastomerik yang paling sedikit kekakuannya. Kelenturan ini
denagn tekanan minimal, memiliki ketahanan tertinggi terhadap robekan.
 Biokompatibilitas
Polisulfid mempunyai hasil hitung kematian sel yang terendah (kurang memiliki efek
pada kehidupan sel).
 Keuntungan
Waktu kerja lama
Tebukti akurat
Ketahanan robek tinggi
Sedikit hidrofibik
Harga tidak mahal
Wakktu penyimpanan lama
 Kerugian
Memerlukan sendok cetak perseorangan
Harus diisi dengan stone secepatnya
Berpotensi terhadap distorsi yang nyata
Aroma mengganggu pasien
Kotor dan menimbulakan noda pada pakaian
Hasil pengisian berikutnya kurang akurat

7|Pengaruh Waktu Pengisian Cetakan Alginate terhadap


Ketepatan Hasil Cetakan
2. Bahan Cetak Silikon Kondensasi
Dikemas sebagai pasta basis dan katalis atau cairan dengan kekentalan rendah. Karena
polimer silikon merupakan suatu cairan,silikon koloidal / logam oksida ukuran mikro
ditambahkan sebagai pengisi untuk membetuk suatu pasta. Pengaruh pengisi terhadap
kekuatan adalah hal yang lebih penting untuk suatu elastomer silikon dibanding cetakan
yang lainnya. Bhan denagn kekentalan tinggi(putty, seperti dempulan) dikembangkan untuk
mengatur pengerutan polimerisasai yang besar dari bahan cetak silikon kondensasi
 Manipulasi
Panjang basis yang sesuai dikeluarkan dari dalam tubepada lembar pengaduk. Lalu
satu tetes cairan katalis ditambahkan untuk tiapa unit panjang basis. Bhan ini agak sulit
diaduk karena perbedaan- perbedaan komponen
 Elastisitas
Lebih ideal daripada polisulfid. Menunjukkan deformasi permanen minimal dan
dapat kembali ke bebtuk semula dengan cepat bila direnggangkan. Bila terlalu kaku.
 Biokompatibilitas
Silkon dapat diterima secara biologis sehingga tidak menyebabkan masalah
 Keuntungan
Tersedia waktu kerja dan waktu pengerasan yang cukup
Aroma menyenangkan dan tidak menimbulkan bercak
Memiliki ketahan robek yang cukup
Memiliki sifat elastik yang dikeluarkan
Distorsi lebih sedikit ketika dikeluarkan
 Kerugian
Cukup akurat jika langsung dituang
Kestabilan dimensi buruk
Berpotensi pada distorsi yag nyata
Metode puttywash merupakan teknik yang sensitif
Sedikit lebih mahal

3. Bahan Cetak Silikon dengan Reaksi Tambahan


 Manipulasi
Vinyl polysiloxane encer dan agak kental dikenas dalam dua pasta, bahan putty
dikemas dalam dua toples yang terdiri dari bahan basis denagn kekentalan tinggi dam
bahan katalis. Bahan havy, body dan putty telah dimodifikasi untuk menggunakan alat

8|Pengaruh Waktu Pengisian Cetakan Alginate terhadap


Ketepatan Hasil Cetakan
pengaduk otomatis, dengan menggunakan alat mekanis tersebut, terdapat keseragaman
dalam membagi danmengaduk bahan, semakin kecil kemungkiana masuknya udara ke
dalam adukan, waktu pengadukan menjadi lebih singkat, kontaminasi bahan lebih
sedikit. Bahan cetak yang telah diaduk dimasukkan langsung ke dalam sendok cetak yang
dilapisi adhesi. Waktu kerja dan pengerasan, dapat diperpanjang 100% dengan
penambahan retarder yang dipasok oleh masing- masing pabrik dan dengan pendinginan
alas pengaduk. Silikan dapat disimpan di lemari es.
 Elastisitas
Merupakan bahan bersifat elastis paling ideal. Distorsi ketiak mengeluarkan melalui
underkut umumnya tidak terjadi.
 Biokompatibilatas
Bahaya tertinggalnya sebagian bahan sirna mengeluarkan cetakan dapat dihindari
dengan penanganan bahan yang tepat dan pemeriksaan tepi cetakan secara cermat
untuk tidak ada daerah yang sobek. Benda asing dari bahan cetak dapat menyebabkan
inflamasi gingiva yang parah dan mungkin salah diagnosis pada kunjungan berikutnya.
 Keuntungan
Waktu pengerasan lebih pendek
Mudah diaduk alat otomatis
Kekuatan robek sedang
Kakuratan amat tinggi
Distorsi tidak terdeteksi ketika dibuka
Bila hidrofilik, amat sesuai dengan gypsum
 Kerugian
Terbentuknya gas hidrogen pada beberapa bahan
Bahan hidrofilik tetap memerlukan penanganan hati- hati dan lingkungan amat -kering
Lebih mahal, khususnya alat pengaduk otomatis.
4. Bahan Cetak Polieter
 Komposisi
Karet polieter dipasok berupa dua pasta
 Basis
Polimer polieter, suatu silika koloidal sebagai pengisi, dan suatu bahan pembuat plastik
seperti glikoeter/ ftalat.

9|Pengaruh Waktu Pengisian Cetakan Alginate terhadap


Ketepatan Hasil Cetakan
 Pasta aselator
Alkil sulfonat aromatik sebagai tambahan terhadap bahan pengisi, waktu kerja dan
pengerasan, kecepatan pengerasan polieter kurang sensitif terhadap perubahan
temperatur.
 Elastisitas
Bahan yang paling keras tidak termasuk bahan puty viskositas tinggi kurang elastik
dibanding vinyl polysixane
 Biokompatibilitas
Dermatitis kontak akibat polieter. Namun penelitian akhir- akhir ini menunjukkan tidak
ada efek sitoksik yang berhubungan dengan katalis imin yang terjadi berasal dari bagia
bahan cetak yang tertinggal di dalam sulkus.
 Keuntungan
Waktu kerja dan pengerasan cepat
Terbukti akurat
Ketahanan sobek cukup
Kurang hidrofibik
Distorsi kurang
Waktu penyimpanan lama
 Kerugian
Cukup akurat jika dituangkan langsung
Kestabilan dimensi buruk
Bersih, tetapi rasa tidak enak
Keras, sehingga meliputi permukaan undecut
Sedikit lebih mahal
Dapat diisi ulang

2.2 BAHAN PENGISI

Gypsum merupakan salah satu jenis bahan pengisi. Kriteria pemilihan produk gypsum
tertentu bergantung pada penggunaannya serta sifat fisik tertentu untuk penggunaan
tertentu. Misalnya, stone kedokteran gigi merupakan materi yang buruk untuk digunakan
sebagai bahan cetak karena bila ada gigi geligi, tidaklah mungkin mengeluarkan cetakan
melalui undercut gigi tanpa melukainya (karena besarnya kekuatan stone ). Macam-macam
gypsum :

10 | P e n g a r u h W a k t u P e n g i s i a n C e t a k a n A l g i n a t e t e r h a d a p
Ketepatan Hasil Cetakan
1. Plaster cetak (tipe I)
Bahan cetak ini terdiri dari plaster of paris yang ditambahkan zat tambahan untuk mengatur
waktu pengerasan dan ekspansi pengerasan. Plaster cetak jarang digunakan lagi untuk
mencetak dalam kedokteran gigi karena telah digantikan oleh bahan yang kurang kaku
seperti hidrokoloid dan elastomer . plaster terbatas digunakan untuk cetakan akhir, atau
wash, dalam pembuatan gigi tiruan penuh.

2. Plaster model (tipe II)


Plaster model ini atau plaster laboratorium tipe II sekarang digunakan untuk mengisi kuvet
dalam pembuatan protesa bila ekspansi pengerasan tidaklah penting dan kekuatan cukup,
suatu batasn yang disebutkan dalam spesifikasi. Biasanya dipasarkan dalm warna putih
alami, jadi terlihat kontras dengan stone yang umumnya berwarna.

3. Stone Gigi (tipe III)


Pada tahun 1930, suatu peristiwa penting terjadi, yaitu ketika α-gipsum ditemukan dan
diperkenalkan dalam kedokteran gigi. Dikombinasikan dengan kemajuan dari bahan cetak
hidrokoloid, α-gipsum yang diperbaharui kekerasannya membuat die stone dapat digunakan
dan pembuatan model tidak langsung mungkin dilakukan.

Kedokteran gigi banyak membantu sejarah perkembangan plaster. Seorang peneliti pada
Perusahaan Gipsum USA mempelajari bahwa mold plaster yang digunakan untuk
membentuk basis karet protesa dalam suatu tekanan uap vulkanisasi menjadi amat keras
dalam semalam. Penelitian lanjut menunjukkan bahwa gipsum yang mengeras mengalami
pengapuran di bawah tekanan uap, membentuk kristalisasi kalsium sulfat hemidrat yang
lebih bermutu. Karena perbaikan ini, bahan kemudian langsung dipatenkan sebagai α-
gipsum. Sejak penemuan ini, untuk penemuan komersial, proses tersebut dilakukan dalam
suatu otoklaf.

Stone tipe III memiliki kekuatan kompresi minimal 1 jam sebesar 20,7 Mpa (3000 psi), tetapi
tidak melebihi 34,5 Mpa (5000 psi). Bahan ini ditujukan untuk pengecoran dalam
membentuk gigi tiruan penuh yang cocok dengan jaringan lunak. Die stone merupakan
reproduksi gigi yang dipreparasi dimana protesa dibuat pada atau di dalam model tersebut.
Karena kondisi keausan yang parah pada bagian tepi ketika dilakukan pembuatan pola
malam, dan karena tekanan yang lebih tinggi mengenai die stone selama mencoba dan
penyesuaian, kekuatan dan kekerasan yang lebih tinggi dibutuhkan oleh bahan die. Sebagai
tambahan, sedikit ekspansi pengerasan dapat ditolerir pada model yang mereproduksi

11 | P e n g a r u h W a k t u P e n g i s i a n C e t a k a n A l g i n a t e t e r h a d a p
Ketepatan Hasil Cetakan
jaringan lunak, tetapi tidak bila menyangkut gigi. Stone tipe III lebih disukai untuk
pembuatan model yang digunakan pada konstruksi protesa, karena stone tersebut memiliki
kekuatan yang cukup untuk tujuan itu serta protesa lebih mudah dikeluarkan setelah proses
selesai.

Tanpa melihat jenis stone yang digunakan, terdapat sedikitnya 2 metode untuk membuat
model. Dalam salah satu metode, mold untuk pengecoran dibuat dengan membungkus
sekitar cetakan dengan lembaran malam lunak sehingga melebihi kurang lebih 12 mm di luar
sisi jaringan pada cetakan. Basis untuk model dibentuk pada daerah ini. Proses ini disebut
boxing. Adukan stone dan air kemudian dituang ke dalam cetakan di bawah vibrator. Adukan
dibiarkan mengalir perlahan dalam aliran yang terkendali sepanjang cetakan, sehingga aliran
tersebut dengan sendirinya mendorong udara keluar begitu adukan mengisi semua cetakan
gigi tanpa adanya gelembung udara yang terjebak.

Metode lain adalah dengan mengisi cetakan seperti yang telah dijabarkan. Sisa
adukan stone-air dituang pada lempeng kaca. Cetakan yang telah terisi kemudian dibalikkan
pada tumpukan stone di lempeng kaca tersebut, dan basis dibentuk dengan spatula sebelum
stone mengeras. Prosedur tersebut tidak diindikasikan bila digunakan bahan cetak yang
mudah mengalami deformasi atau bila stone mengalir menyebar. Model baru boleh
dilepaskan dari cetakan setelah pengerasan awal tercapai. Waktu pengerasan minimal
bervariasi dari 30-60 menit, bergantung pada kecepatan pengerasan stone atau plaster serta
jenis bahan cetak yang digunakan.

4. Stone gigi, kekuatan tinggi (tipe IV)


Persyaratan utama bagi bahan stone untuk pembuatan die adalah kekuatan, kekerasan, dan
ekspansi pengerasan minimal. Untuk memperoleh sifat ini, digunakan α-hemihidrat dari
jenis ’Densite’. Partikel-partikel berbentuk kuboidal serta daerah permukaan yang lebih kecil
menghasilkan sifat tersebut tanpa menyebabkan pengentalan adukan.

Diperlukan permukaan keras bagi suatu die yang terbuat dari stone, karena preparasi kavitas
diisi dengan malam dan diukir sehingga selaras dengan tepi-tepi die. Suatu instrumen yang
tajam digunakan untuk tujuan ini. Karenanya, stone harus tahan terhadap abrasi.
Untungnya, kekerasan permukaan meningkat lebih cepat bila dibandingkan dengan
kekuatan kompresi, karena permukaan lebih cepat mengering. Ini merupakan keunggulan
nyata, dimana permukaan tahan terhadap abrasi, sementara inti die cukup liat dan kurang
terpaparkan terhadap patah tanpa disengaja. Rata-rata kekerasan permukaan kering dari

12 | P e n g a r u h W a k t u P e n g i s i a n C e t a k a n A l g i n a t e t e r h a d a p
Ketepatan Hasil Cetakan
stone tipe IV (’stone die’) kurang lebih 92 (kekerasan Rockwell), stone tipe III adalah 82.
meskipun permukaan lebih keras, tetaplah harus berhati-hati ketika mengukir pola malam.

5. Stone gigi, kekuatan tinggi, ekspansi tinggi ( tipe V)


Ini merupakan produk gipsum yang dibuat akhir-akhir ini, dan memiliki kekuatan kompresi
yang lebih tinggi dibandingkan stone gigi tipe IV. Kekuatan yang ditingkatkan ini diperoleh
dengan menurunkan lebih jauh rasio W:P. Sebagai tambahan, ekspansi pengerasan
ditingkatkan dari maksimal 0,10%-0,30%. Alasan peningkatan batasan ekspansi pengerasan
disebabkan karena logam campur yang baru, seperti basis logam, memiliki pengerutan
pengecoran yang lebih besar dibandingkan logam campur mulia konvensional. Jadi,
dibutuhkan ekspansi lebih tinggi pada stone yang digunakan untuk die untuk mengimbangi
pengerutan pemadatan logam campur.

6. Gypsum sintetik
α-hemihidrat dan β-hemihidrat juga dapat dibuat sebagai produk sampingan atau produk
sisa dalam pembuatan asam fosforik. Produk sintetik biasanya lebih mahal dibandingkan
yang dibuat dari gipsum alami tetapi bila produk tersebut dibuat dengan tepat, sifatnya
sebanding atau melebihi stone alami. Kendala dalam prosesnya cukup banyak dan hanya
sedikit yang berhasil. Metode yang digunakan adalah rahasia perusahaan. Sumber
hemihidrat tidaklah sepenting sifat dari penggunaan produk akhir yang pada dasarnya sama.
Terlepas dari manapun asalnya.

13 | P e n g a r u h W a k t u P e n g i s i a n C e t a k a n A l g i n a t e t e r h a d a p
Ketepatan Hasil Cetakan
BAB III

PEMBAHASAN

1. Mengapa dipilih bahan cetak alginate dan bukan rubber base impression ?
Karena bahan Alginat lebih murah dibandingkan dengan bahan Elastomer (rubber base
impression), penanganannya mudah, alat yang dipergunakan relatif sederhana, elastis,
cukup akurat dan bahan alginate mudah didapatkan serta bahan alginate banyak disukai
pasien karena memiliki rasa yang bervariasi.

2. Apa perbedaan sifat antara bahan cetak Hyrocolloid irreversible dan reversible?
 Bahan cetak hidrokoloid irreversible.
Dapat dicontohkan dengan alginat. Bahan ini disebut irreversible, sebab bahan
ini tidak dapat kembali menjadi wujud dasarnya setelah bereaksi membentuk
wujud sol. Bahan ini ditemukan pada saat bahan cetak yang digunakan
sebelumnya menjadi langka, yakni pada waktu perang dunia kedua. Bahan ini
memiliki kelebihan dibandingkan bahan cetak lainnya, yakni proses
manipulasinya yang mudah, nyaman bagi pasien, dan relatif tidak mahal karena
tidak memerlukan banyak peralatan.
 Bahan cetak hidrokoloid reversible.
Bahan ini dipengaruhi oleh suhu, sehingga bahan ini dapat kembali ke bentuk
semula (reversible). Bahan ini leleh pada temperatur 70-100⁰C, sedangkan
pada temperatur 37-50⁰C, bahan ini dapat menjadi gel. Contoh bahan cetak
jenis ini ialah agar.

3. Terangkan pula perbedaan bahan cetak Hydrokoloid dan Rubber base impression?
 Bahan cetak hidrokoloid merupakan bahan cetak yang substansi dasarnya berupa
koloid yang direaksikan dengan air, sehingga disebut hidrokoloid. Koloid merupakan
kombinasi dari wujud benda apapun, terkecuali bentuk gas. Semua penghambur
koloid disebut sol. Bahan cetak hidrokoloid sendiri dapat diklasifikasikan menjadi
bahan cetak hidrokoloid irreversible, dan bahan cetak hidrokoloid reversible.
 Elastomer (Rubber base impression) merupakan jenis bahan cetak elastis lain diluar
bahan cetak hidrokoloid. Suatu bahan cetak elastomer terdiri atas molekul atau
polimer besar yang diikat oleh sejumlah kecil ikatan. Ikatan tersebut mengikat rantai
polimer yang melingkar pada titik tertentu untuk membentuk jalinan 3 dimensi yang
sering disebut sebagai gel. Pada keadaan ideal, peregangan menyebabkan rantai
polimer membuka lingkaran hanya sampai batas tertentu yang dapat kembali ke
keadaan semula, yaitu rantai kembali melingkar pada keadaan berikatan ketika
diangkat. Banyaknya ikatan silang menentukan kekakuan dan sifat elastis bahan
tersebut.

4. Mengapa prothesa gigi tiruan tersebut tak pas, ditinjau dari sudut bahan cetak ?
Alginate terkemas dalam bentuk bubuk dan tinggal ditambahkan air dengan rasio yang
sesuai dalam proses pengadukan. Adonan bahan cetak ini bersifat plastis. Lalu,
diaplikasikan pada rahang yang dicetak dan cetakan dilepas dengan cepat kira-kira
2menit dari saat kelihatan menjadi elastis. Kalsium alginate yang terisisa setelah
pengerasan mempunyai sifat syneresis (penyusutan) dan imbibitions (ekspansi).

14 | P e n g a r u h W a k t u P e n g i s i a n C e t a k a n A l g i n a t e t e r h a d a p
Ketepatan Hasil Cetakan
Syeneresis disebabkan oleh cetakan alginate yang terlalu lama disimpan pada udara
terbuka serta adanya kenaikan suhu. Sedangkan imbibitions dapat terjadi apabila
cetakan direndam dalam air atau zat antiseptik yang terlalu lama. Hal ini mempengaruhi
hasil kekerasan permukaan model gibs atau mengalami distorsi bentuk apabila hasil
cetakan negative tidak segera di cor. Prothesa gigi tiruan tidak pas karena bahan cetak
alginate tidak segera di cor dengan moldano setelah dikeluarkan dari mulut pasien.
Sehingga, bahan cetak alginate mengalami syneresis atau penyusutan yang dikarenakan
oleh cetakan alginate yang terlalu lama dibiarkan selama kurang lebih 24 jam. Salah
satu sifat bahan alginate adalah ketidakstabilan secara dimensi karena syneresis. Dalam
kasus ini, prosedur tidak memenuhi syarat-syarat bahan cetak karena selama setting
(pengerasan) terjadi perubahan dimesi yang menyebabkan hasil cetakan tidak akurat
(prothesa gigi tiruan tidak pas). Agar bahan cetak tidak mengalami perubahan dimensi
seharusnya cetakan di lapiskan dengan serbet basah setelah dikeluarkan dari mulut dan
segera di cor dengan moldano untuk mencegah syneresis.

5. Apa bahan dasar alginate impression dan apa katalisator sehingga terjadi gel?

BAHAN DASAR JUMLAH (%) FUNGSI

Sodium atau potassium 18 Untuk melarutkan powder


alginate salt dalam air
Calcium sulfate 14 Untuk bereaksi melarutkan
powder alginate dari
bentuk tidak larut calcium
alginate
Sodium phospate 2 Untuk bereaksi dengan
calcium sulfate dan
sebagai perlambat
Diatomaceous earth atau 56 Untuk kontrol konsistensi
silicate powder pencampuran dan
fleksibilitas bahan cetak
Sodium silicofluoride 4 Untuk kontrol pH
Potassium sulfate atau 10 Untuk menetralkan efek
potassium zinc fluoride penghambat kekerasan
selama pembuatan model
gips atau die material
Organic glycol Untuk melapisi partikel-
partikel powder untuk
meminimalkan debu
selama pengadukkan
Pigment’s Untuk memberikan warna
Quaternary ammonium Untuk memberikan self
compounds atau desinfection
chlorhexidine
Phenylalanine Untuk bahan pemanis

15 | P e n g a r u h W a k t u P e n g i s i a n C e t a k a n A l g i n a t e t e r h a d a p
Ketepatan Hasil Cetakan
Katalisator pada alginate sehingga terjadi gel :

Salah satu sifat dari larutan natrium alginat adalah jika dicampurkan dengan larutan
kalsium klorida akan membentuk gel kalsium alginat, yang tidak larut dalam air. Ikatan
antara kalsium dengan alginate adalah ikatan kelat yaitu antara kalsium dengan rantai L-
Guluronatdari alginat. Gel terbentuk melalui reaksi kimia diamana kalsium
menggantikan natrium dengan alginat mengikat molekul molekul alginat yang panjang
sehingga membentuk gel. Tergantung dari jumlah kalsium yang memberikan assosiasi
sementara dan meningkatkan viskositas larutan, sementara kandungan kalsium yang
tinggi menghasilkan assosiasi permanen yang menyebabkan pengendapan atau gelatin.

6. Apa bahan dasar Rubber base impression dan apa katalisator sehingga terjadi proses
polimerisasi?
RUBBER BASE IMPRESSION MATERIAL
a. Polysulfide
• Nama produk I : LP-2 (Thiokol Corporation)
• Kandungan dasar : Polimer polisulfid (bahan pengisi : lithopne, titanium dioksid
dan bahan pembentuk plastis : dibuthyl phtalat)
• Katalisator : timah dioksida (PbO₂) menghasilkan warna cokelat gelap
b.Polyether
• Nama produk : Impregnum F, Permadyne, Polyjel NF
• Kandungan dasar : Polimer Polieter (pengisi silika koloidal, bahan pembuat
plastisnya Glikoeter/ftalat)
• Katalisator : Alkil sulfonat aromatik
c. Condensation silicone
• Pengganti polysulfide,dg karakter yg lebih baik 
• Susunan kimia Mengandung α-ω-hydroxy-terminated polydimethyl siloxane

16 | P e n g a r u h W a k t u P e n g i s i a n C e t a k a n A l g i n a t e t e r h a d a p
Ketepatan Hasil Cetakan
KESIMPULAN dan SARAN

Kesimpulan

 Pada kasus ini dipilih bahan cetak Alginate dan bukan rubber base impression dikarenakan :
1. Bahan Alginate lebih murah dibandingkan dengan bahan Elastomer (rubber base
impression)
2. Penanganannya mudah,
3. Alat yang dipergunakan relatif sederhana, elastis, cukup akurat
4. Alginate mudah didapatkan
5. Alginate banyak disukai pasien karena memiliki rasa yang bervariasi.
 Perbedaan bahan cetak Hydrocoloid irreversible dan reversible terletak pada kemampuan
bahan untuk kembali ke wujud semula. Hydrocoloid irreversible tidak dapat kembali ke
wujud semula sedangkan Hydrocoloid reversible dapat kembali ke wujud semula.
 Bahan cetak hydrocolloid merupakan bahan cetak yang substansi dasarnya berupa koloid
yang direaksikan dengan air, berbeda dengan rubber base impression yang terdiri atas
molekul atau polimer yang diikat sejumlah kecil ikatan.
 Prosthesa gigi tiruan tidak pas dikarenakan prosedur tidak memenuhi syarat-syarat bahan
cetak karena selama setting (pengerasan) terjadi perubahan dimesi (pengerutan) yang
menyebabkan hasil cetakan tidak akurat (prothesa gigi tiruan tidak pas).
 Katalisator alginate sehingga terjadi gel adalah kalsium klorida
 Bahan dasar dan katalisator rubber base impression :
1. Polysulfide dengan katalisator berupa timah dioksida
2. Polyether dengan katalisator berupa Alkil sulfonat aromatik
3. Condensation silicone

Saran

Untuk pembuatan bahan cetak pada pasien, perhatikan pemilihan bahan dan alat
yang baik digunakan dan cocok untuk pasien. Serta perhatikan dan patuhi syarat-
syarat yang memenuhi prosedur selama setting agar tidak terjadi kesalahan yang
menyebabkan hasil cetakan tidak akurat. Memperluas pengetahuan dan mencari
informasi terbaru dapat membantu kinerja dokter gigi menjadi lebih baik.

17 | P e n g a r u h W a k t u P e n g i s i a n C e t a k a n A l g i n a t e t e r h a d a p
Ketepatan Hasil Cetakan
DAFTAR PUSTAKA

Anusavice, J Kenneth.2003. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Jakarta : EGC.

http://repository.usu.ac.id/xmlui/handle/123456789/8385?show=full

http://library.usu.ac.id/index.php/index.php?option=com_journal_review&id=2858&task=view

http://www.scribd.com/doc/44379317/Sifat-Fisiko-Kimia-Alginat

18 | P e n g a r u h W a k t u P e n g i s i a n C e t a k a n A l g i n a t e t e r h a d a p
Ketepatan Hasil Cetakan