Anda di halaman 1dari 46

Makalah Ekonomi Islam

Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB)

Dosen: Dr. Multifiah, SE, MS

Kelompok 4 :

1. Andistya Oktaning .L (0910210022)

2. Matelda Fabriana (0910213096)

3. Windy Septya A (0910213127)

4. Tria Anindya .K (0910210090)

5. Lutviati Triamita (0910210067)


6. Eka Adi Nugraha (0910210005)

7. Yosa El Tama (0910210095)

8. Daldiri Zainin (0910210037)

9. Fitra Ardhita (0910213082)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Lembaga Keuangan Bukan Bank

Semua badan yang melakukan kegiatan di bidang keuangan, yang secara


langsung atau tidak langsung menghimpun dana terutama dengan jalan
mengeluarkan kertas berharga dan menyalurkan dalam masyarakat terutama guna
membiayai investasi perusahaan.

1.2 Pendirian Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB )

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 792 / MK / IV / 12 / 70 tanggal 7 Desember


1970 kemudian diubah dan ditambah dengan keputusan Menteri Keuangan.

1.3 Tujuan Didirikannya Lembaga Keuangan Bukan Bank

1. Untuk mendorong perkembangan pasar modal

2. Membantu permodalan perusahaan-perusahaan ekonomi lemah

1.4 Jenis-jenis Lembaga Keuangan Bukan Bank di Indonesia

1. Asuransi

• Asuransi Konvensional
• Asuransi Syariah

2. Pegadaian

• Pegadaian Konvensional

• Pegadaian Syariah

3. Baitul Mal wa Tanwil

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Asuransi

2.1.1 Pengertian Asuransi

Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan,


sistem, atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara
finansial) untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan
penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat
terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, dimana
melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu
sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut.

Asuransi dalam Undang-Undang No.2 Th 1992 tentang usaha


perasuransian adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana
pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima
premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena
kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau
tanggung jawab hukum pihak ke tiga yang mungkin akan diderita
tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau
memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau
hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

2.1.2 Unsur-unsur Asuransi dalam Pasal 246 KUHD

a) Adanya kepentingan

b) Adanya peristiwa tak tentu

c) Adanya kerugian

2.1.3 Istilah Asuransi

a) Tertanggung, yaitu anda atau badan hukum yang memiliki atau


berkepentingan atas harta benda.
b) Penanggung, dalam hal ini Perusahaan Asuransi, merupakan pihak
yang menerima premi asuransi dari Tertanggung dan menanggung
risiko atas kerugian/musibah yang menimpa harta benda yang
diasuransikan.

2.1.4 Tujuan Asuransi

a) Memberikan jaminan perlindungan dari risiko-risiko kerugian yang


diderita satu pihak.
b) Meningkatkan efisiensi, karena tidak perlu secara khusus mengadakan
pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang
memakan banyak tenaga, waktu dan biaya.
c) Pemerataan biaya, yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang
jumlahnya tertentu dan tidak perlu mengganti/membayar sendiri
kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tentu dan tidak pasti.
d) Dasar bagi pihak bank untuk memberikan kredit karena bank
memerlukan jaminan perlindungan atas agunan yang diberikan oleh
peminjam uang.
e) Sebagai tabungan, karena jumlah yang dibayar kepada pihak asuransi
akan dikembalikan dalam jumlah yang lebih besar. Hal ini khusus
berlaku untuk asuransi jiwa.
f) Menutup Loss of Earning Power seseorang atau badan usaha pada saat
ia tidak dapat berfungsi (bekerja)

2.1.5 Prinsip Dasar Asuransi

Dalam dunia asuransi ada 6 macam prinsip dasar yang harus dipenuhi,
yaitu : Industri asuransi, baik asuransi kerugian maupun asuransi jiwa,
memiliki prinsip-prinsip yang menjadi pedoman bagi seluruh
penyelenggaraan kegiatan perasuransian dimanapun berada

1. Insurable Interest (Kepentingan Yang Dipertanggungkan)

Anda dikatakan memiliki kepentingan atas obyek yang


diasuransikan apabila Anda menderita kerugian keuangan
seandainya terjadi musibah yang menimbulkan kerugian atau
kerusakan atas obyek tersebut. Kepentingan keuangan ini
memungkinkan Anda mengasuransikan harta benda atau kepentingan
anda. Apabila terjadi musibah atas obyek yang diasuransikan dan
terbukti bahwa Anda tidak memiliki kepentingan keuangan atas
obyek tersebut, maka Anda tidak berhak menerima ganti rugi.
Utmost Good Faith (Kejujuran Sempurna) yang dimaksudkan adalah
bahwa Anda berkewajiban memberitahukan sejelas-jelasnya dan
teliti mengenai segala fakta-fakta penting yang berkaitan dengan
obyek yang diasuransikan. Prinsip inipun menjelaskan risiko-risiko
yang dijamin maupun yang dikecualikan, segala persyaratan dan
kondisi pertanggungan secara jelas serta teliti.

Kewajiban untuk memberikan fakta-fakta penting tersebut


berlaku:

a) Sejak perjanjian mengenai perjanjian asuransi dibicarakan


sampai kontrak asuransi selesai dibuat, yaitu pada saat kami
menyetujui kontrak tersebut.
b) Pada saat perpanjangan kontrak asuransi.
c) Pada saat terjadi perubahan pada kontrak asuransi dan mengenai hal-hal yang ada kaitannya
dengan perubahan-perubahan itu.

2. Indemnity (Indemnitas)

Apabila obyek yang diasuransikan terkena musibah sehingga


menimbulkan kerugian maka kami akan memberi ganti rugi untuk
mengembalikan posisi keuangan Anda setelah terjadi kerugian
menjadi sama dengan sesaat sebelum terjadi kerugian. Dengan
demikian Anda tidak berhak memperoleh ganti rugi lebih besar
daripada kerugian yang Anda derita.

Contoh:

Harga pasar kendaraan sebesar 100 juta rupiah, diasuransikan


sebesar 100 juta rupiah.

Bila terjadi musibah sehingga kendaraan tersebut:

a) Hilang, dan harga pasar kendaraan saat itu :

• 100 juta rupiah, maka anda menerima ganti rugi sebesar


100 juta rupiah,
• 125 juta rupiah, maka Anda menerima ganti rugi sebesar
nilai yang diasuransikan, yaitu 100 juta rupiah,
• 75 juta rupiah, maka Anda menerima ganti rugi sebesar
harga pasar, yaitu 75 juta rupiah.

b) Rusak akibat kecelakaan, maka biaya perbaikan, penggantian


suku cadang, ongkos kerja bengkel seluruhnya akan menjadi
tanggung jawab kami sehingga maksimum sebesar 100 juta
rupiah.

Beberapa cara pembayaran ganti rugi yang berlaku:

• Pembayaran dengan uang tunai, atau

• Perbaikan, atau

• Penggantian, atau

• Pemulihan kembali.

3. Subrogation (Subrogasi)

Prinsip subrogasi diatur dalam pasal 284 kitab Undang-Undang


Hukum Dagang, yang berbunyi: "Apabila seorang penanggung telah
membayar ganti rugi sepenuhnya kepada tertanggung, maka
penanggung akan menggantikan kedudukan tertanggung dalam
segala hal untuk menuntut pihak ketiga yang telah menimbulkan
kerugian pada tertanggung". Dengan kata lain, apabila Anda
mengalami kerugian akibat kelalaian atau kesalahan pihak ketiga
maka kami, setelah memberikan ganti rugi kepada Anda, akan
menggantikan kedudukan Anda dalam mengajukan tuntutan kepada
pihak ketiga tersebut.

4. Contribution (Kontribusi)
Anda dapat saja mengasuransikan harta benda yanga sama pada
beberapa perusahaan asuransi. Namun bila terjadi kerugian atas
obyek yang diasuransikan maka secara otomatis berlaku prinsip
kontribusi. Prinsip kontribusi berarti bahwa apabila kami telah
membayar penuh ganti rugi yang menjadi hak Anda, maka kami
berhak menuntut perusahaan-perusahaan lain yang terlibat suatu
pertanggungan (secara bersama-sama menutup asuransi harta benda
milik Anda) untuk membayar bagian kerugian masing-masing yang
besarnya sebanding dengan jumlah pertanggungan yang ditutupnya.

Contoh:

Anda mengasuransikan satu unit bangunan rumah tinggal


seharga 100 juta rupiah kepada tiga perusahaan asuransi:

PT Asuransi A = Rp 100.000.000,00

PT Asuransi B = Rp 50.000.000,00

PT Asuransi C = RP 50.000.000,00

Total = Rp 200.000.000,00

Bila bangunan tersebut terbakar habis (mengalami kerugian


total) maka maksimum ganti rugi yang Anda peroleh dari :

PT Asuransi A = (100.000.000 / 200.000.000) x 100.000.000 =

Rp. 50.000.000,00

PT Asuransi B = (50.000.000 / 200.000.000) x 100.000.000 =

Rp. 25.000.000,00

PT Asuransi C = (50.000.000 / 200.000.000) x 100.000.000 =


Rp. 25.000.000,00

Total = Rp 100.000.000,00

Berarti jumlah ganti rugi yang Anda terima dari ke-3 perusahaan
asuransi tersebut bukanlah Rp. 200.000.000,00 melainkan Rp.
100.000.000,00 sesuai dengan harga rumah sebenarnya.

5. Proximate Cause (Kausa Proksimal)

Apabila kepentingan yang diasuransikan mengalami musibah


atau kecelakaan, maka pertama-tama kami akan mencari sebab-sebab
yang aktif dan efisien yang menggerakkan suatu rangkaian peristiwa
tanpa terputus sehingga pada akhirnya terjadilah musibah atau
kecelakaan tersebut. Suatu prinsip yang digunakan untuk mencari
penyebab kerugian yang aktif dan efisien adalah: "Unbroken Chain
of Events" yaitu suatu rangkaian mata rantai peristiwa yang tidak
terputus. Sebagai contoh, kasus klaim kecelakaan diri berikut ini:

a) Seseorang mengendarai kendaraan diajalan tol dengan


kecepatan tinggi sehingga mobil tidak terkendali dan terbalik.
b) Korban luka parah dan dibawa kerumah sakit.
c) Tidak lama kemudian korban meninggal dunia.

Dari peristiwa tersebut diketahui bahwa kausa proksimalnya


adalah korban mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi
sehingga mobil tidak terkendali dan terbalik. Melalui kausa
proksimal akan dapat diketahui apakah penyebab terjadinya musibah
atau kecelakaan tersebut dijamin dalam kondisi polis asuransi
ataukah tidak.

2.1.6 Macam Macam Asuransi Syariah

a. Asuransi Kerugian
Terdiri dari asuransi untuk harta benda (property, kendaraan),
kepentingan keuangan (pecuniary), tanggung jawab hukum (liability) dan
asuransi diri (kecelakaan atau kesehatan).

b. Asuransi Jiwa

Pada hakekatnya merupakan suatu bentuk kerja sama antara orang-orang


yang menghindarkan atau minimal mengurangi risiko yang diakibatkan
oleh risiko kematian (yang pasti terjadi tetapi tidak pasti kapan
terjadinya), risiko hari tua (yang pasti terjadi dan dapat diperkirakan
kapan terjadinya, tetapi tidak pasti berapa lama) dan risiko kecelakaan
(yang tidak pasti terjadi, tetapi tidak mustahil terjadi). Kerjasama mana
dikoordinir oleh perusahaan asuransi, yang bekerja atas dasar hukum
bilangan besar (the law of large numbers), yang menyebarkan risiko
kepada orang-orang yang mau bekerjasama. Yang termasuk dalam
program asuransi jiwa seperti : asuransi untuk pendidikan, pensiun,
investasi, tahapan, kesehatan.

c. Asuransi Sosial

Asuransi sosial adalah program asuransi wajib yang diselenggarakan


pemerintah berdasarkan UU. Maksud dan tujuan asuransi sosial adalah
menyediakan jaminan dasar bagi masyarakat dan tidak bertujuan untuk
mendapatkan keuntungan komersial.

2.1.7 Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah

1. Asuransi Konvensional

Pengertian asuransi menurut Pasal 246 Kitab Undang-Undang


Hukum Dagang (KUHD) yaitu asuransi atau pertanggungan adalah suatu
perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri pada
tertanggung dengan menerima suatu premi, untuk memberikan
penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan
keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena
suatu peristiwa yang tak tertentu”.

• Ciri-ciri Asuransi Konvensional

Ada beberapa ciri yang dimiliki asuransi konvensional, diantaranya


adalah:

a) Akad asuransi konvensional adalah akad mulzim (perjanjian yang


wajib dilaksanakan) bagi kedua balah pihak, pihak penanggung dan
pihak tertanggung. Kedua kewajiban ini adalah keawajiban
tertanggung menbayar premi-premi asuransi dan kewajiban
penanggung membayar uang asuransi jika terjadi peristiwa yang
diasuransikan.
b) Akad asuransi ini adalah akad mu’awadhah, yaitu akad yang
didalamnya kedua orang yang berakad dapat mengambil pengganti
dari apa yang telah diberikannya.
c) Akad asuransi ini adalah akad gharar karena masing-masing dari
kedua belah pihak penanggung dan tertanggung pada waktu
melangsungkan akad tidak mengetahui jumlah yang ia berikan dan
jumlah yang dia ambil.
d) Akad asuransi ini adalah akad idz’an (penundukan) pihak yang kuat
adalah perusahan asuransi karena dialah yang menentukan syarat-
syarat yang tidak dimiliki tertanggung,

• Asuransi Konvensional Diperbolehkan

Pendapat kedua ini dikemukakan oleh Abdul Wahab Khalaf,


Mustafa Akhmad Zarqa (guru besar Hukum Islam pada fakultas
Syari‘ah Universitas Syria), Muhammad Yusuf Musa (guru besar
Hukum Islam pada Universitas Cairo Mesir), dan Abdur Rahman Isa
(pengarang kitab Al-Muammalah Al-Haditsah wa Ahkamuha). Mereka
beralasan:

• Tidak ada nash (Al-Qur‘an dan Sunnah) yang melarang asuransi.


• Ada kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak.
• Saling menguntungkan kedua belah pihak.
• Asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum, sebab premi-
premi yang terkumpul dapat diinvestasikan untuk proyek-proyek
yang produktif dan pembangunan.
• Asuransi termasuk akad mudhrabah (bagi hasil)
• Asuransi termasuk koperasi (Syirkah Ta‘awuniyah).
• Asuransi dianalogikan (qiyaskan) dengan sistem pensiun seperti
taspen.

2. Asuransi Syariah

Asuransi dalam bahasa Arab disebut At’ta’min yang berasal dari


kata amanah yang berarti memberikan perlindungan, ketenangan, rasa
aman serta bebas dari rasa takut. Istilah menta’minkan sesuatu berarti
seseorang memberikan uang cicilan agar ia atau orang yang ditunjuk
menjadi ahli warisnya mendapatkan ganti rugi atas hartanya yang hilang.
Sedangkan pihak yang menjadi penanggung asuransi disebut mu’amin
dan pihak yang menjadi tertanggung disebut mu’amman lahu atau
musta’min.

Sistem asuransi atau ad-diyah ala al’aqilah sudah ada sejak zaman
Nabi SAW. Kemudian, turun-temurun tetap ada dalam implementasi
syariah Islam sampai kepada sistem kekhalifahan yang paling terakhir
yaitu kekhalifahan Utsmaniyah di Turki yang diruntuhkan oleh Kemal
Attaturk pada 1920-an. Setelah itu sistem aqilah hilang ditelan bumi.
Kemudian, pada Muktamar Ekonomi Islam tahun 1976 di Makkah dan
Majma’ al-Fiqh al Islami al-’Alamiy (Kesatuan Ulama Figh Dunia) tahun
1985 memutuskan, bahwa asuransi konvensional yang kita kenal selama
ini bertentangan dengan syariah alias hukumnya haram, dan
merekomendasikan untuk mendirikan asuransi ta’awuni atau takaful
(Asuransi Syariah). Merespons fatwa ulama tersebut, maka pada 1979
pertama kalinya dikenalkan asuransi syariah dalam versi modern yaitu
dengan berdirinya Islamic Insurance di Sudan. Dan di Indonesia,
asuransi syariah pertama adalah Asuransi Takaful yang berdiri tahun
1994, sekitar dua tahun setelah berdirinya Bank Muamalat Indonesia
(BMI). Saat ini Indonesia sudah memiliki sekitar 39 perusahaan asuransi
yang beroperasi secara syariah dari 50 perusahaan yang sudah mendapat
rekomendasi dari DSN MUI.

Konsep asuransi syariah berasaskan konsep Takaful yang


merupakan perpaduan rasa tanggung jawab dan persaudaraan antara
peserta. Takaful berasal dari bahasa Arab yang berakar dari kata ”kafala
yakfulu” yang artinya tolong menolong, memberi nafkah dan mengambil
alih perkara seseorang. Takaful yang berarti saling menanggung/memikul
resiko antar umat manusia merupakan dasar pijakan kegiatan manusia
sebagai makhluk sosial. Saling pikul resiko inidilakukan atas dasar saling
tolong menolong dalam kebaikan dengan cara, setiap orang
mengeluarkan dana kebajikan (tabarru) yang ditujukan untuk
menanggung resiko tersebut.

Menurut Fatwa Dewan Asuransi Syariah Nasional Majelis Ulama


Indonesia (DSN-MUI) Fatwa DSN No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang
Pedoman Umum Asuransi Syariah bagian pertama menyebutkan
pengertian Asuransi Syariah (ta’min, takaful’ atau tadhamun) adalah
usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang
atau pihak melalui investasi dalam bentuk set dan atau tabarru yang
memberikan pola pengembalian untuk mengehadapi resiko tertentu
melalui akad atau perikatan yang sesuai dengan syariah.

• Ciri-ciri Asuransi Syariah di antaranya adalah sebagai berikut:


a) Akad asuransi syariah adalah bersifat tabarru’, sumbangan yang
diberikan tidak boleh ditarik kembali. Atau jika tidak tabarru’,
maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan
diterima jika terjadi peristiwa, atau akan diambil jika akad
berhenti sesuai dengan kesepakatan, dengan tidak kurang dan
tidak lebih. Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah kentungan
hasil mudharabah bukan riba.
b) Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib
dilaksanakan) bagi kedua belah pihak. Karena pihak anggota
ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapat
imbalan, dan kalau ada imbalan, sesungguhnya imbalan tersebut
didapat melalui izin yang diberikan oleh jamaah (seluruh peserta
asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama).
c) Dalam asuransi syariah tidak ada pihak yang lebih kuat karena
semua keputusan dan aturan-aturan diambil menurut izin jamaah
seperti dalam asuransi takaful.
d) Akad asuransi syariah bersih dari gharar, maisir dan riba.

1. Gharar

Gharar atau ketidakjelasan terjadi pada asuransi


konvensional, dikarenakan adanya batas waktu pembayaran
premi yang didasarkan atas usia tertanggung, sementara usia
seseorang berada di tangan Yang Maha Kuasa. Jika baru sekali
seorang tertanggung membayar premi ditakdirkan meninggal,
perusahaan akan rugi sementara pihak tertanggung merasa
untung secara materi. Jika tertanggung dipanjangkan usianya,
perusahaan akan untung dan tertanggung merasa rugi secara
financial. Dengan kata lain kedua belah pihak tidak
mengetahui seberapa lama masing-masing pihak menjalankan
transaksi tersebut.
Ketidakjelasan jangka waktu pembayaran dan jumlah
pembayaran mengakibatkan ketidaklengkapan suatu rukun
akad, yang kita kenal sebagai gharar. Perjanjian jual beli atau
akad tadabuli tersebut cacat secara hukum. Pada asuransi
syariah akad tadabuli diganti dengan akad takafuli, yaitu suatu
niat tolong-menolong sesama peserta apabila ada yang
ditakdirkan mendapat musibah. Jika nasabah baru pertama kali
membayar premi ditakdirkan meninggal maka akan tetap
mendapatkan klaim dengan jumlah sesuai seperti yang
diperjanjikan. Dana pembayaran klaim tersebut diambil dari
dana tabarru’, yaitu dana yang dari awal sudah diikhlaskan
oleh nasabah untuk digunaksn menolong nasabah lain yang
terkena musibah.

2. Maisir

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 90,"Hai


orang-orang yang beriman sesungguhnya khamar, maisir,
berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji,
termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-
perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan." Dalam
asuransi konvensional terdapat unsur gharar yang pada
gilirannya menimbulkan qimar. Sedangkan Al - Qimar sama
dengan Al - Maisir. Unsur maisir atau judi dalam asuransi
konvensional karena adanya unsur gharar, terutama dalam
kasus asuransi jiwa.

Bila pemegang polis asuransi jiwa meninggal dunia


sebelum periode akhir polis asuransinya dan telah membayar
preminya sebagian, maka ahliwaris akan menerima sejumlah
uang tertentu. Pemegang polis tidak mengetahui dari mana dan
bagaimana cara perusahaan asuransi konvensional
membayarkan uang pertanggungannya. Hal ini dipandang
sebagai judi karena keuntungan yang diperoleh berasal dari
keberanian mengambil risiko oleh perusahaan yang
bersangkutan.

3. Riba

Dalam hal riba, semua asuransi konvensional


menginvestasikan dananya dengan bunga, yang berarti selalu
melibatkan diri dalam riba. Investasi asuransi konvensional
mengacu pada peraturan pemerintah yaitu investasi wajib
dilakukan pada jenis investasi yang aman dan menguntungkan
serta memiliki likuiditas yang sesuai dengan kewajiban yang
harus dipenuhi.

Begitu pula dengan Keputusan Menteri Keuangan No.


424/KMK.6/2003 Tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan
Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Semua jenis investasi
yang diatur dalam peraturan pemerintah dan KMK dilakukan
berdasarkan sistem bunga. Asuransi syariah menyimpan
dananya di bank syariah yang berdasarkan syariat Islam
dengan sistem mudharabah. Untuk berbagai bentuk investasi
lainnya didasarkan atas petunjuk Dewan Pengawas Syariah.
Dalam hal ini, Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran
ayat 130, "Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu
memakan riba yang memang riba itu bersifat berlipat ganda
dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapatkan
keberuntungan."

• Dasar Hukum Asuransi Syariah di Al - Quran :


a) Surat Yusuf : 43-49 “Allah menggambarkan contoh usaha manusia
membentuk sistem proteksi menghadapi kemungkinan yang buruk
di masa depan.
b) Surat Al-Baqarah : 188 Firman Allah “...dan janganlah kalian
memakan harta di antara kamu sekalian dengan jalan yang bathil,
dan janganlah kalian bawa urusan harta itu kepada hakim yang
dengan maksud kalian hendak memakan sebagian harta orang lain
dengan jalan dosa, padahal kamu tahu (al:Baqarah:188)
c) Al Hasyr : 18 Artinya :”Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang
telah diperbuat untuk hari esok (masa depan) dan bertaqwalah
kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa
yang engkau kerjakan”.

• Dasar Hukum Asuransi Syariah di Indonesia

Dari segi hukum positif, hingga saat ini asuransi syariah masih
mendasarkan legalitasnya pada Undang-undang No. 2 tahun 1992
tentang perasuransian.Dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang
Pasal 246, yaitu: ”Asuransi adalah suatu perjanjian dimana seseorang
penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung dengan
menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya
karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang
diharapkan yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa
yang tak tentu.”

Pengertian diatas tidak dapat dijadikan landasan hukum yang kuat


bagi Asuransi Syariah karena tidak mengatur keberadaan asuransi
berdasarkan prinsip syariah, serta tidak mengatur teknis pelaksanaan
kegiatan asuransi dalam kaitannya kegiatan administrasinya. Pedoman
untuk menjalankan usaha asuransi syariah terdapat dalam Fatwa
Dewan Asuransi Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-
MUI) No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi
Syariah, fatwa tersebut dikeluarkan kareni regulasi yang ada tidak
dapat dijadikan pedoman untuk menjalankan kegiatan Asuransi
Syariah. Tetapi fatwa DSN-MUI tersebut tidak memiliki kekuatan
hukum dalam Hukum Nasional karena tidak termasuk dalam peraturan
perundang-undangan di Indonesia.

Agar ketentuan Asuransi Syariah memiliki kekuatan hukum, maka


perlu dibentuk peraturan yang termasuk peraturan perundang-
undangan yang ada di Indonesia meskipun dirasa belum memberi
kepastian hukum yang lebih kuat, peraturan tersebut yaitu Keputusan
Menteri Keuangan RI No.426/KMK.06/2003, Keputusan Menteri
Keuangan RI No. 424/KMK.06/2003 dan Keputusan Direktorat
Jendral Lembaga Keuangan No. 4499/LK/2000. Semua keputusan
tersebut menyebutkan mengenai peraturan sistem asuransi berbasis
Syariah.

• Manfaat Asuransi Syariah

a. Tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa sepenanggungan di antara


anggota.
b. Implementasi dari anjuran Rasulullah SAW agar umat Islam saling
tolong-menolong.
c. Jauh dari bentuk-bentuk muamalat yang dilarang syariat.
d. Secara umum dapat memberikan perlindungan-perlindungan dari
resiko kerugian yang diderita satu pihak.
e. Juga meningkatkan efisiensi, karena tidak perlu secara khusus
mengadakan pengamanan dan pengawasan untuk memberikan
perlindungan yang memakan banyak tenaga, waktu, dan biaya.
f. Pemerataan biaya, yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya
yang jumlahnya tertentu, dan tidak perlu mengganti/membayar
sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tertentu dan
tidak pasti.
g. Sebagai tabungan, karena jumlah yang dibayar pada pihak asuransi
akan dikembalikan saat terjadi peristiwa atau berhentinya akad.
h. Menutup Loss of corning power seseorang atau badan usaha pada
saat ia tidak dapat berfungsi (bekerja).
• Perbedaan Mendasar Asuransi Konvensional dan Syariah

1. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi


syariah merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan
dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan
investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam.
Adapun dalam asuransi non syariah, maka hal itu tidak mendapat
perhatian.

2. Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong


menolong). Yaitu nasabah yang satu menolong nasabah yang lain,
yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi non
syariah bersifat tadabuli (jual beli antara nasabah dengan
perusahaan).

3. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah


(premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem
bagi hasil (mudharobah). Sedangkan pada asuransi non
syariah, investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan
sistem bunga.

4. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik


nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk
mengelolanya. Sedangkan pada asuransi non syariah, premi
menjadi milik perusahaan dan perusahaanlah yang memiliki
otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana
tersebut.Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah, dana
diambil dari rekening tabaru (dana sosial) seluruh peserta
yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong menolong
bila ada peserta yang terkena musibah. Sedangkan dalam
asuransi non syariah, dana pembayaran klaim diambil dari
rekening perusahaan.

5. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku


pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola dengan prinsip
bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi non syariah, keuntungan
sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tak ada klaim
nasabah tak memperoleh apa-apa.

• Persamaan Mendasar Asuransi Konvensional dan Syariah

1. Akad kedua asuransi ini berdasarkan keridloan dari masing-masing


pihak.

2. Kedua-duanya memberikan jaminan keamanan bagi para anggota.

3. Kedua asuransi ini memiliki akad yang bersifat mustamir (terus).

4. Kedua-duanya berjalan sesuai dengan kesekapatan masing-masing


pihak.

Dari perbandingan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa asuransi


non syariah tidak memenuhi standar syari’ah yang bisa
dijadikan objek muamalah yang syah bagi kaum muslimin. Hal itu
dikarenakan banyaknya penyimpangan-penyimpangan syariat yang
ada dalam asuransi tersebut.

2.2 Pegadaian

2.2.1 Istilah Pegadaian


Pegadaian adalah sebuah BUMN di Indonesia yang usaha intinya
adalah bidang jasa penyaluran kredit kepada masyarakat atas dasar hukum
gadai. Sejarah Pegadaian dimulai pada saat Pemerintah Belanda (VOC)
mendirikan Bank van Leening yaitu lembaga keuangan yang memberikan
kredit dengan sistem gadai, lembaga ini pertama kali didirikan di Batavia
pada tanggal 20 Agustus 1746.

Sebagai lembaga keuangan non bank milik pemerintahan yang berhak


memberikan pinjaman kredit kepada masyarakat atas dasar hukum gadai
yang bertujuan agar masyarakat tidak dirugikan oleh lembaga keuangan non
formal yang cenderung memanfaatkan kebutuhan dana mendesak
dari masyarakat, maka pada dasarnya lembaga pegadaian (Perum
Pegadaian) tersebut mempunyai tugas, tujuan serta fungsi-fungsi pokok
sebagai berikut (Usman, 1995:359) :

a) Tugas Pokok

Tugas pokok Pegadaian yaitu menyalurkan uang pinjaman atas


dasar hukum gadai dan usaha-usaha lain yang berhubungan
dengan tujuan pegadaian atas dasar materi.

b) Tujuan Pokok.

Sifat usaha pegadaian pada prinsipnya menyediakan pelayanan


bagi kemanfaatan umum sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan
prinsip pengelolah. Oleh karena itu, pegadaian pada dasarnya
mempunyai tujuan-tujuan pokok sebagai berikut :
1. Turut melaksanakan program pemerintah di bedang ekonomi dan
pembangunan nasional pada umumnya melalui penyaluran uang
pinjaman atas dasar hukum dagai.
2. Mencegah praktek pegadaian gelap dan pinjaman tidak wajar.

c) Fungsi Pokok

1. Mengelolah penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai


dengan cara mudah, cepat, aman, dan hemat.
2. Menciptakan dan mengembangkan usah-usaha lain yang
menguntungkan bagi pegadaian maupun masyarakat.
3. Mengelola keuangan, perlengkapan, kepegawaian. Pendidikan dan
pelatihan.
4. Mengelola organisasi, tata kerja dan tata laksana pegadaian.
5. Melakukan penelitian dan pengembangan serta mengawasi
pengelolaan pegadaian.

2.2.2 Produk Layanan Pegadaian

KCA (Kredit Cepat Aman)

KCA adalah layanan kredit berdasarkan hukum gadai dengan pemberian


pinjaman mulai dari Rp. 20.000,- sampai dengan Rp. 200.000.000,-.
Jaminannya berupa barang bergerak, baik barang perhiasan emas dan
berlian, peralatan elektronik, kendaraan maupun alat rumah tangga
lainnya. Jangka waktu kredit maksimum 4 bulan atau 120 hari dan
pengembaliannya dilakukan dengan membayar uang pinjaman dan sewa
modalnya.

Kreasi (Kredit Angsuran Fidusia)

Layanan ini ditujukan kepada pengusaha mikro dan kecil sebagai


alternatif pemenuhan modal usaha dengan penjaminan secara fidusia dan
pengembalian pinjamannya dilakukan melalui angsuran. Kredit Kreasi
merupakan modifikasi dari produk lama yang sebelumnya dikenal
dengan nama Kredit Kelayakan Usaha Pegadaian. Agunan yang diterima
saat ini adalah BPKB kendaraan bermotor (mobil atau sepeda motor).

Krasida (Kredit Angsuran Sistem Gadai)

Merupakan pemberian pinjaman kepada para pengusaha mikro-kecil


(dalam rangka pengembangan usaha) atas dasar gadai yang pengembalian
pinjamannya dilakukan melalui angsuran.

Krista (Kredit Usaha Rumah Tangga)

Merupakan pemberian pinjaman kepada ibu-ibu kelompok usaha rumah


tangga sangat mikro yang membutuhkan dana dalam bentuk pinjaman
modal kerja yang pengembalian pinjamannya dilakukan melalui
angsuran. adapun kredit ini hanya dikenakan bunga 0,9 % per bulan
tanpa menggunakan agunan hal ini semata-mata dilakukan PEGADAIAN
untuk membantu kegiatan UKM di INDONESIA

Kremada (Kredit Perumahan Swadaya)

Merupakan pemberian pinjaman kepada masyarakat berpenghasilan


rendah untuk membangun atau memperbaiki rumah dengan
pengembalian secara angsuran. Pendanaan ini merupakan kerja sama
dengan Menteri Perumahan Rakyat.

KTJG (Kredit Tunda Jual Gabah)

Diberikan kepada para petani dengan jaminan gabah kering giling.


Layanan kredit ini ditujukan untuk membantu para petani pasca panen
agar terhindar dari tekanan akibat fluktuasi harga pada saat panen dan
permainan harga para tengkulak.
Investa (Gadai Efek)

Gadai Efek merupakan pemberian pinjaman kepada masyarakat dengan


agunan berupa saham dengan sistem gadai.

Kucica (Kiriman Uang Cara Instan, Cepat dan Aman)

Adalah produk pengiriman uang dalam dan luar negeri yang bekerjasama
dengan Western Union.

Kagum (Kredit Serba Guna untuk Umum)

Merupakan layanan kredit yang ditujukan bagi pegawai berpenghasilan


tetap.

Jasa Taksiran dan Jasa Titipan

Jasa Taksiran adalah pemberian pelayanan kepada masyarakat yang ingin


mengetahui seberapa besar nilai sesungguhnya dari barang yang dimiliki
seperti emas, berlian, batu permata dan lain-lain. Jasa Titipan adalah
pelayanan kepada masyarakat yang ingin menitipkan barang-barang atau
surat berharga yang dimiliki terutama bagi orang-orang yang akan pergi
meninggalkan rumah dalam waktu lama, misalnya menunaikan ibadah
haji, pergi keluar kota atau mahasiswa yang sedang berlibur.

Bisnis Lain

Properti

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan assetnya yang kurang


produktif, Pegadaian membangun gedung untuk disewakan, baik
dengan cara pembiayaan sendiri maupun bekerja sama dengan pihak
ketiga dengan Sistem Bangun-Kelola-Alih atau Build-Operate-
Transfer (BOT) dan Kerja Sama Operasi (KSO).
Jasa Lelang

Perum Pegadaian memiliki satu anak perusahaan PT Balai Lelang


Artha Gasia dengan komposisi kepemilikan saham 99,99% (Perum
Pegadaian) dan 0,01% (Deddy Kusdedi). PT Balai Lelang Artha
Gasia bergerak dibidang jasa lelang dengan maksud
menyelenggarakan penjualan di muka umum secara lelang sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.

2.2.3 Pegadaian Konvensional

Pengertian Gadai menurut Susilo (1999) adalah : Suatu hak


yang diperoleh oleh seseorang yang mempunyai piutang atas suatu
barang bergerak. Barang bergerak tersebut diserahkan kepada orang
yang berpiutang oleh seorang yang mempunyai hutang atau oleh orang lain
atas nama orang yang mempunyai hutang. Seorang yang berutang
tersebut memberikan kekuasaan kepada orang yang berpiutang untuk
menggunakan barang bergerak yang telah diserahkan untuk melunasi hutang
apabila pihak yang berhutang tidak dapat melunasi kewajibannya pada
saat jatuh tempo. Pegadaian merupakan sebuah BUMN di Indonesia yang
usaha intinya adalah bidang jasa penyaluran kredit kepada masyarakat atas
dasar hukum gadai. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa gadai
adalah suatu hak yang diperoleh oleh orang yang berpiutang atas suatu
barang bergerak yang diserahkan oleh orang yang berhutang sebagai
jaminan hutangnya dan barang tersebut dapat dijual (dileleng) oleh
yang berpiutang bila yang berhutang tidak dapat melunasi
kewajibannya pada saat jatuh tempo. Sedangkan Perusahaan Umum
Pegadaian adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berfungsi
memberikan pembiayaan dalam negeri, bentuk penyaluran dana kredit
kepada masyarakat atas dasar hukum gadai.

• Ciri – ciri pegadaian konvensional


a) Gadai menurut hukum perdata disamping berprinsip tolong
menolong juga menarik keuntungan dengan cara menarik bunga atau
sewa modal
b) Dalam hukum perdata hak gadai hanya berlaku pada benda yang
bergerak
c) Adanya istilah bunga (memungut biaya dalam bentuk bunga yang
bersifat akumulatif dan berlipat ganda)
d) Dalam hukum perdata gadai dilaksanakan melalui suatu lembaga
yang ada di Indonesia disebut Perum Pegadaian
e) Menarik bunga 10%-14% untuk jangka waktu 4 bulan, plus asuransi
sebesar 0,5% dari jumlah pinjaman. Jangka waktu 4 bulan itu bisa
terus diperpanjang, selama nasabah mampu membayar bunga

• Kategori Barang Gadai

Pada dasarnya, hampir semua barang bergerak dapat digadaikan


di Perum Pegadaian. Namun ada juga barang-barang bergerak tertentu
yang tidak dapat digadaiakan. Jenis barang-barang bergerak yang dapat
diterima sebagai barang jaminan di perum pegadaian yaitu antara lain
(Marzuki, 1995:360) :

a) Barang-barang perhiasan : emas, perak, intan, mutiara, dan lain-


lain.
b) Barang-barang elektronik : TV, kulkas, radio, video, tape,
recorder, dan lain-lain.
c) Kendaraan : sepeda, motor, mobil.
d) Barang-barang rumah tangga : barang-barang pecah belah.
e) Mesin : mesin jahit, mesin ketik, dal lain-lain.
f) Tekstil : kain batik, permadani.
g) Barang-barang lain yang dianggap bernilai.
Adapun barang-barang yang tidak dapat dijadikan jaminan
karena keterbatasan tempat penyimpanan, sumber daya menusia di
Perum Pegadaian adalah sebagai berikut :

a) Binatang ternak : kerbau, sapi, kambing, dan lain-lain.

b) Hasil bumi : padi, jagung, ketela pohon, dan lain-lain.

c) Barang dagangan dalam jumlah besar.

d) Barang-barang yang cepat rusak, busuk atau susut.

e) Barang-barang yang amat kotor.

f) Kendaraan yang sangat besar.

g) Barang-baragn seni yang sulit ditaksir.

h) Barang-barang yang mudah terbakar.

i) Barang-barang jenis senjata, amunisi, dan mesiu.

j) Barang-barang yang disewa belikan.

k) Barang-barang milik pemerintah.

l) Barang-barang illegal.

• Prosedur Penaksiran Barang Gadai

Adapun menurut Susilo (1999) pedoman penaksiran yang


dikelompokkan atas dasar jenis barangnya adalah sebagai berikut :
a) Barang Kantong

1. Emas

a) Petugas penaksir melihat Harga Pasar Pusat


(HPP) dan standar taksiran logam yang telah
ditetapkan oleh kantor pusat. Harga pedoman
untuk keperluan penaksiran ini selalu disesuaiakan
dengan perkembangan harga yang terjadi.
b) Petugas penaksir melakukan karatase dan berat.
c) Petugas penaksiran menentukan nilai taksiran.

2. Permata

a) Petugas penaksiran melihat standar taksiran


permata yang telah ditetapkan oleh kantor pusat.
Standar ini selalu disesuaikan dengan perkembangan
pasar permata yang ada.
b) Petugas penaksiran melakukan pengujian kualitas dan
berat permata.
c) Petugas penaksiran menentukan nilai taksiran.
d) Barang Gudang
e) Barang-barang gudang yang dimaksud di sini yaitu
meiputi : mobil, motor, mesin, barang elektronik,
tekstil, dan lain-lain.

• Bunga Gadai
Biaya sewa modal (bunga) yang harus dibayar oleh nasabah
kepada pegadaian adalah bervariasi. Adapun mengenai rincian besarnya
bunga yang harus dibayarkan oleh nasabah adalah sebagai berikut :

a) Untuk golongan A, besarnya bunga 1.25 %, dengan maksimum


sebesar 10% dan sewa modal yang diperhitungkan minimum
lakunya lelang adalah 10%. Sedangkan nasabah harus membayar
sewa modal tersebut setiap 15 hari sekali, dengan batas waktu
kredit selama 120 hari atau 4 bulan. Sedangkan keseluruhan bunga
yang harus dibayarkan oleh nasabah sampai jatuh tempo adalah 10%
dan nasabah masih harus membayar uang asuransi antara Rp. 200,-
sampai dengan Rp. 400.
b) Untuk golongan B, besarnya bunga 1.5 %, dengan maksimum
sebesar 12% dan sewa modal yang diperhitungkan minimum
lakunya lelang adalah 12%. Sedangkan nasabah harus membayar
sewa modal tersebut setiap 15 hari sekali, dengan batas waktu
kredit selama 120 hari atau 4 bulan. Sedangkan keseluruhan bunga
yang harus dibayarkan oleh nasabah sampai jatuh tempo adalah 12%
dan nasabah masih harus membayar uang asuransi antara Rp. 1000,-
sampai dengan Rp. 2000.
c) Untuk golongan C, besarnya bunga 1.75 %, dengan maksimum
sebesar 14% dan sewa modal yang diperhitungkan minimum
lakunya lelang adalah 14%. Sedangkan nasabah harus membayar
sewa modal tersebut setiap 15 hari sekali, dengan batas waktu
kredit selama 120 hari atau 4 bulan. Sedangkan keseluruhan bunga
yang harus dibayarkan oleh nasabah sampai jatuh tempo adalah 14%
dan nasabah masih harus membayar uang asuransi antara Rp. 5000,-
sampai dengan Rp. 12.000.
d) Untuk golongan D, besarnya bunga 1.75 %, dengan maksimum
sebesar 14% dan sewa modal yang diperhitungkan minimum
lakunya lelang adalah 14%. Sedangkan nasabah harus membayar
sewa modal tersebut setiap 15 hari sekali, dengan batas waktu
kredit selama 120 hari atau 4 bulan. Sedangkan keseluruhan bunga
yang harus dibayarkan oleh nasabah sampai jatuh tempo adalah 14%
dan nasabah masih harus membayar uang asuransi antara Rp.
10200,- sampai dengan Rp. 400 dan nasabah masih harus
membayar uang asuransi sebesar 0,5% x Uang Pinjaman
Minimum sampai dengan Rp. 25.000,-

• Prosedur Pemberian Kredit Gadai

Prosedur untuk mendapatkan dana pinjaman dari perum


pegadaian adalah sebagai berikut :

a) Calon nasabah datang langsung ke loket penaksir dan menyerahkan


barang yang akan dijadikan jaminan dan menunujukkan surat bukti
diri seperti KTP atau surat kuasa apabila pemilik barang tidak bisa
datang.
b) Barang jaminan tersebut diteliti kualitasnya untuk menaksir dan
menetapkan harganya. Berdasarkan taksiran yang dibuat penaksir,
ditetapkan besarnya uang pinjaman yang dapat diterima oleh
nasabah. Besarnya nilai uang pinjaman yang diberikan lebih
kecil daripada nilai pasar dari barang yang digadaikan. Perum
Pegadaian secara sengaja mengambil kebijakan ini guna mencegah
munculnya kerugian.
c) Selanjutnya, pembayaran uang pinjaman dilakukan oleh kasir
tanpa ada potongan biaya apapun kecuali potongan premi asuransi.
• Prosedur Pelunasan Kredit Gadai

Pelunasan uang pinjaman oleh nasabah prosedurnya adalah sebagai


berikut :

a) Nasabah membayarkan uang pinjaman dan ditambah sewa modal


(bunga) langsung kepada kasir disertai dengan bukti surat gadai.
b) Barang dikeluarkan oleh petugas penyimpanan barang.
c) Barang yang digadaikan dikembalikan kepada nasabah

• Prosedur Pelelangan Barang Gadai

Pelaksanaan lelang harus dipilih waktu yang paling baik agar


tidak mengurangi hak nasabah, karena setelah nasabah tidak melunasi
hutangnya pada saat jatuh tempo dan tidak melakukan
perpanjangan, maka barang jaminannya akan dilelang dan hasil
pelelangan barang yang digadaikan akan digunakan untuk melunasi
seluruh kewajaban nasabah yang terdiri dri : pokok pinjaman, bunga,
serta biaya lelang. Sedang pelelangannya adalah sebagai berikut :

a. Waktunya diumumkan tiga hari sebelum pelaksanaan lelang.

b. Lelang dipimpin oleh kantor cabang (Kepala Cabang).

c. Dibicarakan tata tertib melalui berita acara sebelum pelaksanaan


lelang.

d. Pengambilan keputusan lelang adalah bagi mereka yang menawar


paling tinggi.

2.2.4 Pegadaian Syariah


Konsep pegadaian syariah mengacu kepada syariah Islam yang bersumber
dari Al-Quran dan Hadist Nabi SAW.

a. Al-Qur’an

Yang artinya “jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak


secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, hendaklah
ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan
tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka
hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan
hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu
(para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang
menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa
hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”(Al-
Baqarah : 283).

Secara eksplisit menyebutkan “barang tanggungan yang dipegang


(oleh yang berpiutang)”. Dalam dunia financial barang tanggungan
dengan dikenal sebagai jaminan (collateral) atau objek pegadaian.
b. Hadist

1. Aisyah berkata bahwa Rasul bersabda: Rasulullah membeli makanan


dari seorang yahudi dan meminjamkan kepadanya baju besi. (HR
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah r.a. Nabi SAW bersabda: Tidak terlepas
kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Ia
memperoleh manfaat dan menanggung risikonya. (HR Asy’Syafii, al
Daraquthni dan Ibnu Majah)
3. Nabi Bersabda: Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh
dinaiki dengan menanggung biayanya dan bintanag ternak yang
digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya.
Bagi yang menggunakan kendaraan dan memerah susu wajib
menyediakan biaya perawatan dan pemeliharaan. (HR Jamaah,
kecuali Muslim dan An Nasai)
4. Dari Abi Hurairah r.a. Rasulullah bersabda : Apabila ada ternak
digadaikan, maka punggungnya boleh dinaiki ( oleh yang menerima
gadai), karena ia telah mengeluarkan biaya ( menjaga)nya. Apabila
ternak itu digadaikan, maka air susunya yang deras boleh diminum
(oleh orang yang menerima gadai) karena ia telah mengeluarkan
biayanya. Kepada orang yang naik dan minum, maka ia harus
mengeluarkan biaya (perawatan) nya. (HR Jemaah kecuali Muslim
dan Nasai-Bukhari)
5. Di samping itu, para ulama sepakat membolehkan akad Rahn ( al-
Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adilatuhu, 1985,V:181)

• Ciri – ciri Pegadaian Syariah

1. Nasabah menjaminkan barang kepada pegadaian syariah untuk


mendapatkan pembiayaan.
2. Kemudian pegadaian menaksir barang jaminan untuk dijadikan dasar
dalam memberikan pembiayaan.
3. Pegadaian syariah dan nasabah menyetujui akad gadai. Akad ini
mengenai berbagai hal, seperti kesepakatan biaya gadaian, jatuh
tempo gadai dan sebagainya.
4. Pegadaian syariah menerima biaya gadai, seperti biaya penitipan,
biaya pemeliharaan, penjagaan dan biaya penaksiran yang dibayar
pada awal transaksi oleh nasabah.
5. Nasabah menebus barang yang digadaikan setelah jatuh tempo

• Ketentuan Umum Pegadaian Syariah

1. Murtahin (penerima barang) mempunya hak untuk menahan Marhun


(barang) sampai semua utang rahin (yang menyerahkan barang)
dilunasi.
2. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Pada prinsipnya
marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin kecuali seizin Rahin,
dengan tidak mengurangi nilai marhun dan pemanfaatannya itu
sekedar pengganti biaya pemeliharaan perawatannya.
3. Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya menjadi
kewajiban rahin, namun dapat dilakukan juga oleh murtahin,
sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi
kewajiban rahin.
4. Besar biaya administrasi dan penyimpanan marhun tidak boleh
ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman.
5. Penjualan marhun

Teknik Transaksi
1. Akad Rahn. Rahn yang dimaksud adalah menahan harta milik si
peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, pihak
yang menahan memperoleh jaminan untuk mengambil kembali
seluruh atau sebagian piutangnya. Dengan akad ini Pegadaian
menahan barang bergerak sebagai jaminan atas utang nasabah.
2. Akad Ijarah. Yaitu akad pemindahan hak guna atas barang dan atau
jasa melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan
kepemilikan atas barangnya sendri. Melalui akad ini dimungkinkan
bagi Pegadaian untuk menarik sewa atas penyimpanan barang
bergerak milik nasabah yang telah melakukad akad rukun dari akad
transaksi tersebut meliputi :

a) Orang yang berakad : 1) Yang berhutang (rahin) dan 2) Yang


berpiutang (murtahin).
b) Sighat ( ijab qabul)
c) Harta yang dirahnkan (marhun)
d) Pinjaman (marhun bih)

• Sistem Cicilan atau Perpanjangan

Nasabah (rahin) dapat melakukan cicilan dengan jangka waktu 4 bulan.


Jika belum dapat melunasi dalam waktu tersebut, maka rahin dapat
mengajukan permohonan serta menyelesaikan biayanya. Lamanya waktu
perpanjangan adalah ± 4 bulan. Jika nasabah masih belum dapat
mengembalikan pinjamannya, maka marhun tidak dapat diambil. Namun
selain cara tersebut juga dapat diambil konklusi sebagai berikut :

a) Apabila jatuh tempo, murtahin harus memperingatkan rahin untuk


segera melunasi utangnya.
b) Apabila rahin tetap tidak melunasi utangnya, maka marhun dijual
paksa/dieksekusi.
c) Hasil Penjualan Marhun digunakan untuk melunasi utang, biaya
pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya
penjualan.
d) Kelebihan hasil penjualan menjadi milik rahin dan kekurangannya
menjadi kewajiban rahin.
• Persamaan dan Perbedaan Pegadaian Syariah dan Pegadaian
Konvensional

1. Persamaan

a. Hak gadai atas pinjaman uang

b. Adanya agunan sebagai jaminan utang

c. Tidak boleh mengambil manfaat barang yang digadaikan

d. Biaya barang yang digadaikan ditanggung oleh para pemberi


gadai

e. Apabila batas waktu pinjaman uang habis barang yang digadaikan


boleh dijual atau dilelang.

2. Perbedaan

a. Di Pegadaian konvensional, tambahan yang harus dibayar oleh


nasabah yang disebut sebagai sewa modal, dihitung dari nilai
pinjamannya sedangkan di syariah tidak, karena nasabah hanya
dipungut biaya pemeliharaan dan penyimpanan.
b. Pegadaian konvensional hanya melakukan satu akad perjanjian:
hutang piutang dengan jaminan barang bergerak yang jika ditinjau
dari aspek hukum konvensional, keberadaan barang jaminan dalam
gadai bersifat aksesoir, sehingga Pegadaian konvensional bisa tidak
melakukan penahanan barang jaminan atau dengan kata lain
melakukan praktik fidusia. Berbeda dengan Pegadaian syariah yang
mensyaratkan secara mutlak keberadaan barang jaminan untuk
membenarkan penarikan bea jasa simpan.

• Kekuatan dan Kelemahan Pegadaian Syariah


1. Kekuatan (S)

a. Persyaratan yang sangat sederhana, sehingga memudahkan


konsumen untuk memenuhinya;
b. Waktu yang relatif singkat untuk memperoleh uang, yaitu pada hari
itu juga, hal ini disebabkan prosedurnya yang sederhana cukup 15
menit;
c. Keanekaragaman barang yang dapat dijadikan jaminan; Angsuran
ringan karena tidak ditentukan besarnya, sehingga dapat diangsur
sesuai kemampuan dengan jangka waktu 120 hari;
d. Cukup dipungut biaya administrasi dan biaya ijarah;
e. Pihak Pegadaian tidak mempermasalahkan uang tersebut digunakan
untuk apa, jadi sesuai dengan kehendak masyarakat atau
nasabahnya;
f. Dapat dilunasi sewaktu-waktu atau pun dapat diperpanjang hanya
dengan membayar biaya administrasi dan biaya ijarahnya;
g. Operasional gadai syariah telah dikeluarkan fatwa oleh MUI
tentang kebolehannya.

2. Kelemahan (W)

a. Harus ada jaminan berupa barang bergerak yang mempunyai nilai;


b. Barang bergerak yang digadaikan harus diserahkan ke Pegadaian,
sehingga barang tersebut tidak dapat dimanfaatkan selama
digadaikan;
c. Jumlah kredit gadai yang dapat diberikan masih terbatas untuk jenis
emas dan berlian terutama di kota-kota besar padahal justru di kota
besar ini angka kemiskinan relatif tinggi dibandingkan di daerah/
kota kecil;
d. Tidak semua SDM memahami betul tentang operasional gadai
syariah;
e. Belum memiliki visi dan misi sendiri karena masih ikut dengan
perusahaan induk (Perum Pegadaian).
• Peluang dan Tantangan Pegadaian Syariah

1. Peluang (O)

a. Nasabah pegadaian syariah bukan hanya dari umat Islam, umat non
Islam pun memanfaatkan keberadaan pegadaian syariah ini karena
mereka lebih pada faktor pelayanan bukan pada faktor ‘idialisme
atau agama.

b. Konsumen atau calon nasabah pegadaian syariah, masih cukup


terbuka lebar dikarenakan pesaingnya relatif masih belum banyak.
Saat ini, pesaingnya hanya dari internal perusahaan sendiri
‘pegadaian konvensional’ dan pegadaian illegal ‘swasta’ yang
jumlah assetnya masih cukup kecil serta jumlah pinjaman
atau‘pendanaan’ relatif masih dalam jumlah kecil (nasabah
menengah-bawah); (Rais, Sasli: 2005).

2. Tantangan (T)

a. Belum ada undang-undang atau aturan lainnya, yang mengatur


tentang keberadaan pegadaian swasta atau pun pegadian syariah
sehingga pengembangan pegadaian syariah belum cukup optimal
selama ini. Saat ini, aturan berkaitan dengan gadai swasta ini
sedang dipersiapkan draft undang-undangnya oleh Depkeu (Rais,
Sasli: 2009);

b. Adanya masyarakat yang membuka ‘gadai’ swasta dengan


memberikan kemudahan untuk semua jenis barang gadai sehingga
keberadaannya terus berkembang meskipun masih illegal;
• Strategi

2.3 Baitul Mal wat Tanwil

2.3.1 Istilah Baitul Mal wat Tanwil

Baitul Maal wat Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu,
adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi
hasil, menumbuhkembangkan bisnis usaha mikro dalam rangka mengangkat
derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin,
ditumbuhkan atas prakarsa dan modal awal dari tokoh tokoh masyarakat
setempat dengan berlandaskan pada sistem ekonomi yang salam:
keselamatan (berintikan keadilan), kedamaian dan kesejahteraan.

BMT memiliki arti penting bagi pembangunan ekonomi


berwawasan syariah, BMT merupakan lembaga keuangan yang
berpedoman Al Qur’an dan Hadist, berbasis kerakyatan dengan
pemberdayaan usaha kecil dan menengah, serta langsung bersinggungan
dengan masyarakat di perkampungan dan desa-desa, sehingga dapat
mengentaskan kemiskinan dengan pengembangan kewirausahaan dan
pelayanannya yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan membuat
BMT cepat populer.

Namun realitas keberadaannya ini masih belum selaras dengan


tatanan hukum yang ada. Masalah utamanya adalah faktor kelembagaan
yang sering menjadi kendala, belum diatur secara spesifik sampai saat
ini menyatakan dirinya sebagai koperasi artinya secara Badan Hukum
tunduk pada Undang-undang Perkoperasian. Sebagai koperasi simpan
pinjam harus mampu memenuhi persyaratan legalitas sebagai koperasi
seperti anggaran dasar, keanggataan, permodalan, tata organisasi, dan cara
kerja lainnya.

BMT mengambil bentuk hukum koperasi adalah menurut Prakarsa


sendiri, yaitu karena desakan kebutuhan praktis yaitu untuk
memperoleh payung hukum, dan bukan karena adanya dasar hukum yang
menentukan atau mengharuskannya demikian, sebab dasar peraturan
tentang BMT memang belum ada, maka diperlukan kebijakan tepat bagi
BMT demi kepastian hukum sebagai landasan peraturan hukum yang
kokoh dan memperkuat kedudukan hukum serta jaminan perlindungan
dalam pengembangan usahanya

2.3.2 Kegiatan Baitul Mal wat Tanwil

a. Baitut Tamwil (Bait = Rumah, at - Tamwil = Pengembangan Harta)


melakukan kegiatan pengembangan usaha - usaha produktif dan investasi
dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil
terutama dengan mendorong kegitan menabung dan menunjang
pembiayaan kegiatan ekonominya.
b. Baitul Maal (Bait = Rumah, Maal = harta) menerima titipan dana zakat,
infaq, dan sedekah serta mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan
peraturan dan amanahnya

2.3.3 Visi, Misi, Tujuan dan Usaha Baitul Mal wat Tanwil
a. Visi

Visi BMT adalah mewujudkan kualitas masyarakat di sekitar BMT yang


selamat, damai, dan sejahtera dengan mengembangkan lembaga dan
usaha BMT dan POKUSMA (Kelompok Usaha Muamalah) yang maju
berkembang, terpercaya, aman, nyaman, transparan, dan berkehati -
hatian.

b. Misi

Misi BMT adalah mengembangkan POKUSMA dan BMT yang maju


berkembang, aman, terpercaya, nyaman, transparan, dan berkehati -
hatian sehingga terwujud kualitas masyarakat di sekitar BMT yang
selamat, damai, sejahtera.

c. Tujuan

BMT bertujuan mewujudkan kehidupan keluarga dan masyarakat di


sekitar BMT yang selamat, damai, dan sejahtera.

d. Usaha BMT

Untuk mencapai visi pelaksanaan misi dan tujuan BMT, maka BMT
melakukan usaha - usaha :

a. Mengembangkan kegiatan simpan pinjam dengan prinsip bagi hasil/


syariah

b. Mengembangkan lembaga dan bisnis Kelompok Usaha Muamalah


yaitu kelompok simpan pinjam yang khas binaan BMT.
c. Jika BMT telah berkembang cukup mapan, meprakarsai
pengembangan badan usaha sektor riil (BUSRIL) dari Pokusma -
pokusma sebagai badan usaha pendamping menggerakkan ekonomi
riil rakyat kecil di wilayah kerja BMT tersebut yang manajemennnya
terpisah sama sekali dengan BMT;

d. Mengembangkan jaringan kerja dan jaringan bisnis BMT dan sektor


riil (BUSRIL) mitranya sehingga menjadi barisan semut yang tangguh
sehingga mampu mendongkrak kekuatan ekonomi bangsa Indonesia.

2.3.4 Prinsip Operasional Baitul Mal wat Tanwil

1. Prinsip Syariah

Menerapkan cita - cita dan nilai - nilai islam (salaam keselmatan


berkeadilan, kedamaian, dan kesejahteraan) dalam kehidupan ekonomi
masyarakat banyak.

2. Prinsip Penumbuhan

a. Tumbuh dari masyarakat sendiri dengan dukungan tokoh masyarakat,


orang berada dan kelompok Usaha Muamalah (POKUSMA) yang ada
di daerah tersebut.

b. Modal awal (Rp. 20 - Rp 30 juta) dikumpulkan dari para pendiri dan


POKUSMA dalam bentuk Simpanan Pokok dan Simpanan Pokok
Khusus

c. Jumlah pendiri minimum 20 orang.

d. Landasan sebaran keanggotaan yang kuat sehingga BMT tidak


dikuasai oleh perseorangan dalam jangka panjang

e. BMT adalah lembaga bisnis, membuat keuntungan, tetapi juga


memiliki komitmen yang kuat untuk membela kaum yang lemah
dalam penanggulangan kemiskinan, BMT mengelola dana Maal.
3. Akad yang jelas

Rumusan penghargaan dan sanksi yang jelas dan penerapannya yang


tegas/lugas.

4. Berpihak pada yang lemah

Program Pengajian/ Penguatan Ruhiyah yang teratur dan berkala secara


berkelanjutan sebagai bagian dari program tazkiah Da'i Fi-ah Qalillah
(DFQ).
BAB III

PENUTUP

Lembaga keuangan bukan bank (LKBB) adalah semua badan yang melakukan
kegiatan di bidang keuangan, yang secara langsung atau tidak langsung menghimpun dana
terutama dengan jalan mengeluarkan kertas berharga dan menyalurkan dalam masyarakat
terutama guna membiayai investasi perusahaan. Dalam hal ini, pendirian LKBB bertujuan
mendorong perkembangan pasar modal dan membantu permodalan perusahaan-perusahaan
ekonomi lemah. Adapun jenis – jenis LKBB di Indonesia yaitu: asuransi, pegadaian, dan
baitul maal wat tamwil (BMT).

Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau
bisnis dimana perlindungan finansial untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya
mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat
terjadi. Asuransi pada dasarnya diklasifikasikan jenisnya menjadi dua, yaitu: asuransi
konvensional dan asuransi syariah. Dalam hal ini perbedaan utama antara asuransi
konvensional dengan syariah terletak pada sistem laba investasinya dimana asuransi
konvensional selalu menetapkan bunga yang berarti melibatkan diri dalam riba, sedangkan
asuransi syariah bentuk laba investasinya dibagi antara nasabah (pemilik investasi) dan
perusahaan asuransi tersebut dengan pembagian seadil – adilnya sesuai syariat islam.

Pegadaian adalah sebuah BUMN di Indonesia yang usaha intinya adalah bidang jasa
penyaluran kredit kepada masyarakat atas dasar hukum gadai. Pegadaian pada dasarnya
diklasifikasikan jenisnya menjadi dua, yaitu: pegadaian konvensional dan pegadaian
syariah. Dalam hal ini perbedaan utama antara pegadaian konvensional dengan syariah
terletak pada pembiayaannya dimana asuransi konvensional selalu menarik bunga (sewa
modal) berarti melibatkan diri dalam riba, sedangkan asuransi syariah tidak ada sistem
bunga (sewa modal) melainkan penarikan biaya pemeliharaan dan penyimpanan.

Baitul Maal wat Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu, adalah lembaga
keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuh kembangkan
bisnis usaha mikro dalam rangka mencapai keselamatan (berintikan keadilan), kedamaian,
dan kesejahteraan.

DAFTAR PUSTAKA

“Lembaga Keuangan Bukan Bank”.scribd.com. 6 Mei 2011

Alhamsyah. “Keunggulan Dan Kelemahan Pegadaian Konvensional Dan Syariah”.


alhamsyah.com. 6 Mei 2011

Departemen Keuangan. “Kajian Asuransi Syariah”. fiskal.depkeu.go.id. 11 Mei 2011

Wikipedia. “Asuransi”. id.wikipedia.org. 7 Mei 2011

Wikipedia. “Pegadaian”. id.wikipedia.org. 7 Mei 2011

Suryo Mukti, Wiku.“Asuransi Syariah”.wikusuryomurti.com. 7 Mei 2011

Wordpress. “Baitul Maal wa Tamwil”. infoindonesia.wordpress.com. 7 Mei 2011

Agus dan Nasrudin. “Baitul Maal wa Tamwil”. images.professorwafa.multiply.


multiplycontent.com. 7 Mei 2011

“Lembaga Keuangan Non Bank (Leasing, Asuransi, Gadai, dll)”.


syariah1.blogspot.com. 7 Mei 2011
Nuris. “Pengembangan Pegadaian Syariah Dengan Analisis SWOT”.
images.nuris2007.multiply.multiplycontent.com. 7 Mei 2011

Zona Ekis. “Persamaan, Perbedaan Rahn dan Gadai”. zonaekis.com. 7 Mei 2011

Kaahil. “Pegadaian Konvensional”. kaahil.wordpress.com. 8 Mei 2011

Syafi’I, Imam. “Pegadaian Konvensional”. scribd.com. 8 Mei 2011

Miradi, Erwin. “Persamaan Pegadaian Syariah Dengan Pegadaian Konvensional”.


erwinmiradi.com. 8 Mei 2011

Al- Fakir, Suara. “Hukum Asuransi Dalam Islam” facebook.com. 8 Mei 2011

Yusnita, Jihan. “Konsep Operasionalisasi dan Prospek Pegadaian dalam Islam.


jihanyusnita.blogspot.com. 8 Mei 2011