Anda di halaman 1dari 85

TANGGUNG JAWAB BADAN LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN

SUKOHARJODALAM PENILAIAN DOKUMEN ANALISIS


MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAN
AKIBAT HUKUMNYA

Penulisan Hukum
(Skripsi)
Disusun dan Diajukan untuk melengkapi syarat-syarat
Guna memperoleh derajat Sarjana dalam Ilmu Hukum
Pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
Surakarta

Oleh :

BERLIAN MAHARANI
NIM E. 11O7129

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Penulisan Hukum (Skripsi)

TANGGUNG JAWAB BADAN LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN


SUKOHARJO DALAM PENILAIAN DOKUMEN ANALISIS
MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAN
AKIBAT HUKUMNYA

Oleh
Berlian Maharani
NIM. E1107129

Disetujui untuk dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Penulisan Hukum


(Skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta

Surakarta, Maret 2011


Dosen Pembimbing

Dr. I Gusti Ayu Ketut Rachmi H, S.H., M.M.


NIP. 197210082005012001
PENGESAHAN PENGUJI

Penulisan Hukum (Skripsi)

TANGGUNG JAWAB BADAN LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN


SUKOHARJO DALAM PENILAIAN DOKUMEN ANALISIS
MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAN
AKIBAT HUKUMNYA
Oleh
Berlian Maharani
NIM. E1107129

Telah diterima dan dipertahankan di hadapan


Dewan Penguji Penulisan Hukum (Skripsi)
Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
Pada :
Hari : KAMIS
Tanggal : 24 Maret 2011
DEWAN PENGUJI

1. Waluyo, S.H., M.Si. : ...................................................


(Ketua)

2. Pius Tri Wahyudi, S.H., M.Si. : ....................................................


(Sekretaris)

3. Dr. I Gusti Ayu KRH, S.H., M.M.____ : ....................................................


(Anggota)
Mengetahui :
Dekan

Mohammad Jamin, S.H., M.Hum.


NIP. 196109301986011001
PERNYATAAN

Nama : Berlian Maharani


NIM : E1107129
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penulisan hukum (skripsi) berjudul :
TANGGUNG JAWAB BADAN LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN
SUKOHARJO DALAM PENILAIAN DOKUMEN ANALISIS MENGENAI
DAMPAK LINGKUNGAN DAN AKIBAT HUKUMNYA adalah betul-betul
karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam penulisan hukum (skripsi) ini
diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam dafar pustaka. Apabila dikemudian hari
terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi
akademik berupa pencabutan penulisan hukum (skripsi) dan gelar yang saya
peroleh dari penulisan hukum (skripsi) ini.

Surakarta, Maret 2011


yang membuat pernyataan

Berlian Maharani
NIM. E1107129
ABSTRAK

Berlian Maharani, E 1107129. 2011. TANGGUNG JAWAB BADAN


LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN SUKOHARJO DALAM
PENILAIAN DOKUMEN ANALISIS MENGENAI DAMPAK
LINGKUNGAN DAN AKIBAT HUKUMNYA. Fakultas Hukum Universitas
Sebelas Maret Surakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggung jawab Badan


Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo dalam penilaian dokumen Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat
deskriptif yaitu penelitian yang menggambarkan keadaan objek penelitian pada
saat sekarang berdasar fakta yang tampak. Dalam penelitian ini menggunakan data
primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan jalan mengadakan wawancara
dilapangan. Data sekunder diperoleh dengan jalan studi pustaka. Data sekunder
yang dipakai meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan
hukum tersier. Setelah data teridentifikasi secara sistematis kemudian dianalisis
dengan analisa kualitatif model interakif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa
tanggung jawab Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo dalam penilaian
dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan berada dalam lingkup
pengawasan terhadap penaatan hasil laporan AMDAL oleh perusahaan penyusun
AMDAL. Dalam hal pelaksanaan pengawasan, yang dilakukan adalah sebagai
berikut : melakukan pendataan terhadap usaha atau kegiatan yang berpotensi
menimbulkan pencemaran. menetapkan ketentuan teknis pada pengelola usaha
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, melakukan
pembinaan dan bimbingan baik secara teknis maupun administrasi pada pengelola
usaha atau kegiatan.
Implikasi teoritis penelitian ini adalah hasil penelitian ini dapat berguna
untuk perkembangan ilmu pengetahuan dalam Hukum Lingkungan khususnya
yang berhubungan dengan tanggung jawab dalam penilaian AMDAL. Implikasi
praktisnya adalah bagi akademisi, dapat menambah pengalaman dan pengetahuan
yang kelak dapat diterapkan dalam dunia nyata sebagai bentuk partisipasi dalam
pembangunan negara dan masyarakat Indonesia berdasarkan Pancaila dan UUD
1945 serta dalam kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat internasional.
Bagi masayarakat umum, diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada
masyarakat mengenai tanggung jawab badan lingkungan hidup kabupaten
Sukoharjo dalam penilaian dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
beserta akibat hukumnya. Bagi pemerintah khususnya pemerintah Kabupaten
Sukoharjo, Dapat memberikan masukan dalam menyikapi kasus-kasus
perlindungan lingkungan hidup. Bagi Badan Lingkungan Hidup Kabupaten
Sukoharjo, diharapkan agar dapat secara objektif dalam melakukan penilaian
AMDAL tanpa ada pengaruh dari pihak-pihak tertentu.

Kata kunci : Tanggung jawab, Penilaian, AMDAL


ABSTRACT

BERLIAN MAHARANI, E 11071292011. THE RESPOSIBILITY OF


BADAN LINGKUNGAN HIDUP SUKOHARJO DISTRICT IN
ENVIRONMENTAL IMPACT ASSESSMENT DOCUMENT AND LEGAL
CONSEQUENCES. FACULTY OF LAW SEBELAS MARET
UNIVERSITY OF SURAKARTA.

This study aims to determine the responsibility of the Badan Lingkungan


Hidup Sukoharjo in the assessment of Environmental Impact Assessment
document. This research is descriptive research that describes the state of the
object in the present study based on the fact that visible. In this research,the writer
used primary and secondary. Primary data were collected by interviewing the
field. The secondary data obtained by literature study. The secondary data used
include the primary legal materials, secondary legal materials and legal materials
tertiary. After the data identified systematically the nest step was analyzed. The
analisis was using qualitative analysis ineractive model.
Based on the results of research and discussion suggests that the
responsibility of the Badan Lingungan Hidup Sukoharjo in the assessment of
Environmental Impact Assessment documents are within the scope of supervision
of compliance with the AMDAL report by the constituent companies AMDAL. In
terms of supervision, which is done is as follows: perform data collection on
business or activities that potentially cause pollution. technical provisions in
accordance with the business manager of legislation in force, doing coaching and
guidance both technically and administratively in managing the business or
activity.
Theoretical implications of this research is the result of this research can
be useful for the development of science in Environmental Law, especially
relating to the responsibility in the assessment of the AMDAL. The practical
implication is for academics, can add the experience and knowledge that later can
be applied in the real world as a form of participation in the development of the
country and the people of Indonesia based on Pancasila and the 1945 Constitution
and in the life of the nation as part of the international community. For the
society, is expected to provide knowledge to the public about the responsibility of
Badan Lingkungan Hidup in the assessment district Sukoharjo Environmental
Impact Assessment document and its legal consequences. For the government,
especially government Sukoharjo, can provide input in dealing with cases of
environmental protection. For Sukoharjo Environment Agency, is expected to be
able to objectively assess the AMDAL without any influence from certain parties.

Keywords: Responsibility, Assessment, AMDAL


MOTTO

 Religion without science is blind. Science without religion is paralyzed


(Albert Einstein).
 Ilmu menjagamu, sedang engkaulah yang harus menjaga harta. Harta
berkurang jika dibelanjakan sedang ilmu akan tumbuh subur jika
dibelanjakan (Ali bin Abi Thalib).
 Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman diantara kamu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S. Al
Mujaadalah: 11).
PERSEMBAHAN

Penulisan Hukum ini kupersembahkan untuk :


 Papa dan Mama tercinta yang selalu memberikan doa dan kasih sayang
yang tidak pernah terbatas.
 Adikku tersayang yang selalu memberikan motivasi.
 Teman-temanku seperjuangan Fakultas Hukum UNS angkatan 2007
khusunya (Nova, Tika, Endah, Ayu Kusuma, Shinta, Ayu Ocky, Riana,
Henggar) terimakasih buat do‟a dan dukungannya semuanya.
 Almamaterku Universitas Sebelas Maret Surakarta, tempatku menuntut
ilmu.
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat, karunia dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan hukum ini dengan baik dan
lancar.
Penulisan hukum merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh dalam
rangkaian kurikulum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
dan juga merupakan syarat utama yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa
Fakultas Hukum dalam menempuh jenjang kesarjanaan S1.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan hukum ini tidak luput dari
kekurangan, baik dari segi materi yang disajikan maupun dari segi
analisisnya.Namun penulis berharap bahwa penulisan hukum ini mampu
memberikan manfaat baik bagi penulis sendiri maupun bagi pembacanya.
Pada kesempatan ini pula tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih
yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Moh. Jamin, S.H., M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum UNS yang
telah memberikan ijin dan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan
penulisan hukum ini.
2. Ibu Dr. I Gusti Ayu Ketut Rachmi H, S.H., M.M selaku Ketua Bagian Hukum
Administrasi Negara sekaligus selaku Pembimbing penulisan skripsi yang
telah bersedia menyediakan waktu dan pikiran untuk memberikan bimbingan
dan arahan bagi tersusunnya skripsi ini.
3. Bapak Harjono, S.H., M.H selaku Ketua program non regular Fakultas
Hukum UNS.
4. Bapak dan Ibu Dosen serta seluruh karyawan Fakultas Hukum UNS.
5. Bapak dan Ibu tercinta yang selalu mendukung dan memberikan kasih sayang
serta do‟anya kepadaku.
6. Adikku Erlangga Maharesi yang paling kusayangi, terimakasih segala do‟a
dan bantuannya.
7. Mas Duaja yang telah banyak membantu dan selalu memberi support.
8. Teman-temanku seperjuangan angkatan 2007 khususnya (Nova, Tika, Endah,
Ayu Kusuma, Shinta, Ayu Ocky, Riana, Henggar) terimakasih buat do‟a dan
dukungan semuanya.
9. Serta seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
penulisan hukum ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan hukum ini masih jauh dari
sempurna, mengingat keterbatasan dan kemampuan penulis.Oleh karena itu
dengan lapang dada penulis menerima segala saran dan kritik yang bersifat
membangun dari semua pihak untuk kesempurnaan penulisan hukum ini.

Surakarta, Maret 2011


Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………….... iii
HALAMAN PERNYATAAN………………………………………………….... iv
ABSTRAK………………………………………………………………………... v
ABSTRACT............................................................................................................. vi
MOTTO .................................................................................................................. vii
PERSEMBAHAN .................................................................................................. viii
KATA PENGANTAR…………………………………………………………..... ix
DAFTAR ISI……………………………………………………………………... xi
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………... xiii
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………... xiv
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………... 1
A. Latar Belakang Masalah………………………………………………... 1
B. Rumusan Masalah…………………………………………………….... 6
C. Tujuan Penelitian……………………………………………………..... 6
D. Manfaat Penelitian…………………………………………………....... 7
E. Metode Penelitian…………………………………………………….... 8
F. Sistematika Penulisan Hukum ................................................................ 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………..... 14
A. Kerangka Teori……………………………………………………….... 14
1. Tinjauan umum tentang hukum administrasi Negara…………….... 14
2. Tinjauan umum tentang Badan Lingkungan Hidup Daerah
(Kabupaten/kota)………………………………………………....... 15
3. Tinjauan umum tentang Dokumen Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan……………………………………………………….... 17
4. Tinjauan umum tentang tanggungg jawab penilai AMDAL……..... 20
5. Tinjauan umum tentang teori efektifitas hukum............................... 25
B. Kerangka Pemikiran ............................................................................... 33
BAB III PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………………………………... 37
A. Deskripsi Lokasi Penelitian………………………………………...... 37
1. Keadaan Geografis Kabupaten Sukoharjo……………………..... 37
2. Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo……………...... 37
3. Struktur Organisasi Badan Lingkungan Hidup Kabupaten
Sukoharjo……………………………………………………....... 39
4. Wewenang, Tanggungjawab dan Kewajiban Badan Lingkungan
Hidup Kabupaten Sukoharjo Dalam Rangka Pengendalian
Lingkungan Hidup……………………………............................. 47
B. Tanggung Jawab Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo
dalam Penilaian Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Dan Akibat Hukumnya…………………………………………......... 50
1. Proses Penyusunan AMDAL………………………………......... 50
2. Proses Penilaian Dokumen AMDAL………………………........ 56
3. Lingkup Tanggung Jawab Badan Lingkungan Hidup Kabupaten
Sukoharjo dalam Penilaian Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan…………………………………………………........ 58
4. Sanksi yang dapat dikenakan kepada wajib AMDAL……........... 59
C. Hambatan Yang Dihadapi Badan Lingkungan Hidup Kabupaten
Sukoharjo Dalam Penilaian Dokumen Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan……………………………………………………........... 60
BAB IV PENUTUP…………………………………………………………......... 63
A. Kesimpulan……………………………………………………... 63
B. Saran……………………………………………………………. 65
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Bagan Analisis Interaktif

Gambar 2 : Bagan Kerangka Pemikiran

Gambar 3 : Bagan Struktur Jabatan atau Organisasi Badan Lingkungan Hidup


DAFTAR LAMPIRAN

a. Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 9 Tahun 2009 tentang


Pengendalian Lingkungan Hidup.

b. Laporan Pengawasan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo Tahun


2010.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Tujuan nasional Republik Indonesia, seperti dinyatakan dalam
pembukaan Undang-undangDasar 1945, ialah melindungi segenap bangsa
dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk
mewujudkan tujuan nasional tersebut bangsa Indonesia melaksanakan
pembangunan secara terencana dan bertahap. Pembangunan jangka panjang
tahap pertama sampai dengan pertengahan tahun 1997 telah menunjukkan
hasil yang dapat dirasakan oleh sebagian besar rakyat. Namun pembangunan
ini tumbuh berkembang dengan tidak memperhitungkan pengaruhnya kepada
lingkungan. Kegunaan sumber alam yang dicadangkan untuk generasi masa
depan sulit untuk diukur harga dan nilainya, karena itu luput pula
diiperhitungkan dalam pembangunan.
Pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka
mengelola dan memanfaatkan sumber daya, guna mencapai tujuan
pembangunan yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan
bangsa Indonesia. Pembangunan tersebut dari masa ke masa terus berlanjut
dan berkesinambungan serta selalu ditingkatkan pelaksanaannya, guna
memenuhi dan meningkatkan kebutuhan penduduk tersebut berjalan seiring
dengan semakin meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk. Pelaksanaan
pembangunan sebagai kegiatan yang berkesinambungan dan selalu meningkat
seiring dengan baik dan meningkaatnya jumlah dan kebutuhan penduduk,
menarik serta mengundang resiko pencemaran dan perusakan yang
disebabkan oleh tekanan kebutuhan pembangunan terhadap sumber daya
alam, tekanan yang semakin besar tersebut ada dan dapat mengganggu,
merusak struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang
kehidupan.
Seharusnya dalam melakukann pembangunan pemerintah mengikuti
prinsip-prinsip dalam pelestarian lingkungan seperti yang dikemukakan oleh
Allan Ingelson, William Holden dan Meriam Bravante dalam Environment
and Development Journal: Philippine Environmental Impact Assessment,
Mining And Genuine Development Volume 5 No.1
The law reform project „Legislative Options for Promoting
Sustainable Development‟, identified the following principles that
characterise a regulatory system that reflects sustainable or genuine
development:
1. Respects ecological integrity
The first principle, respect for ecological integrity, is critical to promoting
sustainable development. Ecological systems consist of micro-organisms,
plants, animals, soil, water, air and other components. Respect for
ecological integrity is demonstrated by a legal system that prevents
irreversible harm to water, air, and soil resources, and enables
„ecosystems to renew themselves‟.
2. Supports efficient use of natural, manufactured and social capital
The efficient use of capital facilitates the preservation of options for future
generations by emphasising the protection, conservation and efficient use
of a variety of non renewable and renewable natural resources including
metals, water, vegetation and wildlife
3. Promotes equity
The third principle, equity, contemplates a wide distribution of the costs
and benefits from natural resource development on an intra-generational,
inter-generational and international basis.
4. Relies on participatory approaches
An integral part of the environmental impact assessment process refers to
the opportunity for concerned citizens to express their views on natural
resource development. Information contributed by concerned citizens and
environmental groups can lead to better informed decisions and may result
in reduced environmental degradation.
5. Requires environmental stewardship by all levels of decision-makers.
To effectively implement genuine development a government should have
the broad support of industry and citizens.

Proyek reformasi hukum merupakan 'pilihan Legislatif untuk


Mendorong Pembangunan Berkelanjutan‟, mengidentifikasi prinsip-prinsip
berikut yang mencirikan sistem regulasi yang mencerminkan pembangunan
berkelanjutan atau asli:
1. Menghormati integritas ekologi
Prinsip pertama, menghormati integritas ekologi, sangat penting untuk
mempromosikan pembangunan berkelanjutan.Sistem ekologi terdiri dari
mikro-organisme, tanaman, hewan, tanah, air, udara dan komponen
lainnya.Menghormati integritas ekologi ditunjukkan oleh sistem hukum
yang mencegah kerusakan permanen pada air, udara, dan sumber daya
tanah, dan memungkinkan 'ekosistem untuk memperbaharui diri mereka
sendiri'.
2. Mendukung efisien penggunaan modal alam, diproduksi dan sosial
Efisiensi penggunaan modal memfasilitasi pelestarian pilihan untuk
generasi mendatang dengan menekankan perlindungan, konservasi dan
efisiensi penggunaan berbagai sumber daya alam yang tidak terbarukan
dan terbarukan termasuk logam, vegetasi air, dan satwa liar
3. Meningkatkan ekuitas
Prinsip ketiga, ekuitas, merenungkan luas distribusi biaya dan manfaat dari
pengembangan sumber daya alam atas dasar, intra-generasi antar-generasi
dan internasional.
4. Bergantung pada pendekatan partisipatif
Bagian integral dari proses penilaian dampak lingkungan mengacu
kesempatan bagi warga yang bersangkutan untuk mengekspresikan
pandangan mereka pada pengembangan sumber daya alam. Informasi
disumbangkan oleh warga yang bersangkutan dan kelompok lingkungan
hidup dapat menyebabkan keputusan yang lebih baik dan dapat berakibat
pada degradasi lingkungan berkurang.
5. Membutuhkan pengelolaan lingkungan oleh seluruh lapisan pengambil
keputusan.
Untuk secara efektif mengimplementasikan pembangunan yang sejati
pemerintah harus memiliki dukungan yang luas dari industri dan warga
negara.

Untuk mencegah kemerosotan lingkungan dan sumber daya alam


dengan maksud agar lingkungan dan sumber daya alam tersebut tetap
terpelihara keberadaan dan kemampuan dalam mendukung berlanjutnya
pembangunan, maka setiap aktivitas pembangunan haruslah dilandasi oleh
dasar-dasar pertimbangan pelestarian dan sumber daya alam tersebut melalui
mekanisme dan system hukum lingkungan dalam apa yang disebut sebagai
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
AMDAL adalah Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu
usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang
diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan
usaha dan/atau kegiatan.
Analisis Mengenai Dampak lingkungan yang sering disebut AMDAL,
lahir dengan diundangkannya lingkungan hidup di Amerika Serikat yaitu
National Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969. NEPA mulai
berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Pasal 102 ayat (1) (c) dalam undang-
undang ini menyatakan, semua usulan legislasi dan aktivitas pemerintah
federal yang besar yang diperkirakan akan mempunyai daampak penting
terhadap lingkungan harus disertai laporan mengenai Environmental Impact
Assesment ( Analisa Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut. NEPA
1969 merupakan suatu reaksi terhadap kerusaakan lingkungan oleh aktivitas
manusia yang semakin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh
pestisida serta limbah industri daan transpor, rusaknya habitat tumbuhan dan
hewan langka, serta rendahnya nilai estetika alam (Otto Soemarwoto, 2003:
1).
Berdasarkan Pasal 22 Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup No.32 tahun 2009 tentang kewajiban Membuat Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) terhadap setiap rencana yang
diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup, serta
tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan
hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkugan Hidup (KEPMEN-LH
No. 17 Tahun 2001) prosedur AMDAL meliputi 3 (tiga) proses besar:
1. Proses penapisan wajib AMDAL
2. Proses penyusunan dan penilai KA-AMDAL.
3. Proses penyusunan dan penilaian AMDAL, RKL & RPL.
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu
pihak yang terlibat dalam proses penilaian dokumen AMDAL di tingkat
daearah. Penilaian terhadap dokumen AMDAL itu melalui 2 (dua) tahap
yaitu:
1. Tahap penilaian terhadap KA-ANDAL
2. Tahap penilaian terhadap dokumen ANDAL, RKL & RPL
Kedua tahap diatas ditempuh melalui prosedur berupa pemeriksaan
kelengkapan dokumen sesuai pedoman penyusunan AMDAL, menyampaikan
1 (satu) sampel dokumen ke sekretariat Komisi Penilaian Amdal Kabupaten
Sukoharjo, kemudian mempersiapkan sejumlah dokumen yang telah
ditetapkan dan terakhir memastikan kepastian waktu persidangan untuk
penilaian oleh komisi AMDAL.
Dengan dilibatkannya Badan Lingkungan Hidup Kabupaten
Sukoharjo sebagai unsur penilai AMDAL, maka penulis tertarik untuk
mengetahui lebih jauh dan meneliti mengenai tanggung jawab badan
lingkungan hidup terhadap AMDAL, dan menyusunnya dalam bentuk
penulisan hukum dengan judul : Tanggung Jawab Badan Lingkungan
Hidup Kabupaten Sukoharjo Dalam Penilaian Dokumen Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Dan Akibat Hukumnya.

B. Rumusan Masalah
Perumusan masalah diperlukan guna mempermudah pelaksanaan
penelitian dan memperjelas permasalahan yang hendak dibahas sehingga
sasaran penelitian menjadi jelas, tegas dan terarah serta mencapai hasil yang
diikehendaki. Selain itu diharapkan dapat memberikan arah pembahasan yang
jelas sehingga terbentuk hubungan dengan masalah yang dibahas.
Berdasarkan hal tersebut, maka masalah yang hendak diteliti dan dibahas
dalam penelitian ini dapat penulis rumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah tanggung jawab Badan lingkungan Hidup Kabupaten
Sukoharjo dalam penilaian Dokumen Analisis Mengenai Dampak
lingkungan dan akibat hukumnya?
2. Apakah hambatan dalam penilaian dokumen Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan serta bagaimana solusinya?

C. Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan penelitian pasti memiliki tujuan yang hendak dicari,
berdasarkan latar belakang masalah serta sesuai permasalahan yang ada,
maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Obyektif
a. Mengetahui mengenai tanggung jawab Badan lingkungan Hidup
Kabupaten Sukoharjo dalam penilaian Dokumen Analisis Mengenai
Dampak lingkungan dan akibat hukumnya.
b. Mengetahui hambatan dalam penilaian dokumen Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan dan akibat hukumnya serta bagaimana solusinya.
2. Tujuan Subyektif
a. Untuk memperluas wawasan pengetahuan serta pemahaman penulis
terhadap teori-teori mata kuliah yang telah diperoleh penulis serta
mempraktekan teori-teori tersebut dalam dunia sehari-hari.
b. Sebagai persyaratan dalam memperoleh gelar kesarjanaan di bidang
Ilmu Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta

D. Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis kegunaan penelitian ini akan berguna untuk
perkembangan ilmu pengetahuan dalam Hukum Lingkungan khususnya
yang berhubungan dengan tanggung jawab dalam penilaian AMDAL.
2. Secara praktis
Adapun manfaat paraktis yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:
a. Bagi Akademisi
Dapat menambah pengalaman dan pengetahuan yang kelak dapat
diterapkandalam dunia nyata sebagai bentuk partisipasi dalam
pembangunan negaradan masyarakat Indonesia berdasarkan Pancaila
dan UUD 1945 serta dalamkehidupan bangsa sebagai bagian dari
masyarakat internasional.
b. Bagi Masayarakat Umum
Diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat
mengenaitanggung jawab badan lingkungan hidup kabupaten
Sukoharjo dalam penilaian dokumen Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan beserta akibat hukumnya.
c. Bagi Pemerintah
Dapat memberikan masukan dalam menyikapi kasus-kasus
perlindungan lingkungan hidup.
d. Bagi Badan Lingkungan Hidup
Diharapkan agar dapat secara objektif dalam melakukan penilaian
AMDAL tanpa ada pengaruh dari pihak-pihak tertentu.
E. Metode Penelitian
Metode yang bersifat ilmiah diperlukan dalam melakukan penelitian
ilmiah yang bertujuan untuk mencari data mengenai suatu masalah. Metode
yang bersifat ilmiah adalah suatu metode penelitian yang sesuai dengan
permasalahan yang diteliti sehingga data-data yang dikumpulkan dapat
menjawab permasalahan yang diteliti. Istilah “metodologi” berasal dari kata
“metode” yang berarti “jalan ke”, namun demikian menurut kebiasaan
metode dirumuskan, dengan kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut:
1. Suatu tipe pemikiran yang dipergunakan dalam penelitin dan penilaian,
2. Suatu teknik yang umum bagi ilmu pengetahuan.

1. Jenis penelitian
Penulisan hukum ini termasuk jenis penelitian hukum empiris yang
bersifat deskriptif.
Menurut Soerjono Soekanto, penelitian deskriptif adalah suatu
penelitian yang dimaksudkan untuk memberikan data yang seteliti
mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya. Maksudnya
adalah terutama untuk mempertegas hipotesa-hipotesa, agar dapat
membantu memperkuat teori-teori lama atau didalam kerangka menyusun
teori-teori baru (Soerjono Soekanto, 1986: 10).

2. Pendekatan penelitian
Penulisan hukum ini menggunakan pendekatan konstruksivisme,
yaitu upaya untuk memahami realitas pengalaman manusia, dan realitas itu
sendiri dibentuk oleh kehidupan sosial dengan cara mengembangkan
sebuah pola makna secara induktif selama proses berlangsung.

3. Jenis data
Jenis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini meliputi :
a. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber
pertama atau melalui penelitian di lapangan. Data primer yang
dimaksud adalah data yang diperoleh dari pihak Badan Lingkungan
Hidup Kabupaten Sukoharjo yang berkompeten untuk memberikan
keterangan yang berhubungan dengan tanggung jawab penilaian
AMDAL.

b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari bahan pustaka atau
sumber data sekunder. Data ini berupa keterangan dari bahan-bahan
kepustakaan dari beberapa buku-buku referensi, artikel-artikel.

4. Sumber data penelitian


Data pokok yang digunakan penulis dalam penelitian ini meliputi :
a. Sumber data primer
Sumber data primer dalam penelitian ini mencakup para pihak yang
terkait secara langsung dengan permasalahan yang diteliti yang
diperoleh dilokasi penelitian yaitu di Badan Lingkungan Hidup
Kabupaten Sukoharjo.
b. Sumber data sekunder
1) Bahan hukum primer
Yaitu norma atau kaidah dasar, peraturan perundang-undangan.
Dalam hal ini yang menjadi bahan hukum primer antara lain :
a) Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup.
b) Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan.
c) Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo No. 9 Tahun 2009
tentang Pengendalian Lingkungan Hidup
2) Bahan hukum sekunder
Bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum
primer, seperti hasil-hasil seminar, pendapat dari pakar hukum
yang relevan dengan penelitian ini, artikel koran dan internet serta
bahan lain yang berkaitan dengan pokok bahasan.
3) Bahan hukum tersier, yaitu bahan-bahan yang memberikan
petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dann
sekunder, seperti misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Ensiklopedia dan bahan-bahan yang berkaitan dengan masalah
yang ditelliti.

5. Teknik Pengumpulan Data


Sebagai upaya untuk mengumpulkan data-data dari berbagai sumber
diatas, penulis menggunakan teknik pengumpulan data yang meliputi :
a. Studi Dokumen
Studi dokumen adalah suatu alat pengumpulan data yang
dilakukan melalui data tertulis dengan mempergunakan “content
analysis”.
b. Wawancara (interview)
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.
Percakapan tersebut dilakukan dengan dua orang pihak, yaitu
pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang
diwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan
itu (Lexy J. Moleong, 2009: 186). Wawancara yang dimaksud diatas
dilakukan penulis dengan beberapa pihak yaitu :
1) Bapak Bambang Darminto Purwohadi, S.T., M.M. selaku Pejabat
Sekretaris Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo.
2) Bapak Bambang Sri Setiyono, S.H. selaku Kepala Bidang
Pengendalian Pencemaran Lingkungan pada Badan Lingkungan
Hidup Kabupaten Sukoharjo.
3) Ibu Eny Kristianti, S.T. selaku Kepala Sub bidang pengkajian
kelayakan dan penegakan hukum lingkungan pada Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo.
c. Observasi (Pengamatan)
Observasi yang dilakukan yaitu dengan cara pengamatan tidak
berperanserta, dimana pengamat hanya melakukan satu fungsi, yaitu
mengadakan pengamatan ( Lexy. J Moleong, 2009: 176). Observasi
yang dimaksud yaitu penulis melakukan pengamatan langsung ke
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo.

6. Teknik Analisis Data


Dalam proses analisis terdapat 3 (tiga) komponen utama, yaitu :
a. Reduksi data
Reduksi data merupakan komponen pertama dalam analisis yang
merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan abstraksi
data dari fieldnote. Proses ini berlangsunng terus sepanjang pelaksanaan
penelitian.

b. Sajian data
Sajian data merupakan suatu rakitan organisasi informasi, deskripsi
dalam bentuk narasi yang memungkinkan simpulan penelitian dapat
dilakukan. Sajian data selain dalam bentuk narasi kalimat, juga dapat
meliputi berbagai jenis matriks, gambar atau skema, jaringan kerja
kaitan kegiatan dan juga tabel sebagai pendukung narasinya.

c. Penarikan kesimpulan dan verifikasi


Kesimpulan akhir tidak akan terjadi sampai pada waktu proses
pengumpulan data berakhir. Kesimpulan tersebut perlu diverifikasi agar
mantap dan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.
Dari uraian diatas dalam penelitian ini penulis menggunakan model
analisis interaktif, yang dapat digambarkan sebagai berikut :
Pengumpulan data

Reduksi data Penyajian data

Penarikan Kesimpulan

Gambar 1 : Bagan Analisis Interaktif

Model analisis interaktif ini menunjukkan, reduksi dan sajian


data disusun pada waktu peneliti sudah memperoleh unit data dari
sejumlah unit yang diperlukan dalam penelitian. Pada waktu
pengumpulan data sudah berakhir, peneliti mulai melakukan usaha
untuk menarik kesimpulan dan verifikasinya berdasarkan semua hal
yang terdapat dalam reduksi maupun sajian datanya. Jika kesimpulan
dirasa kurang mantap karena kurangnya rumusan dalam reduksi
maupun sajian datanya, maka peneliti dapat kembali melakukan
pengumpulan data yang sudah terfokus untuk mencari pendukung
kesimpulan yang ada dan juga bagi pendalaman data (HB. Sutopo,
2002: 96).

F. Sistematika Penulisan Hukum


BAB I PENDAHULUAN
Pada awal bab ini penulis berusaha memberikan gambaran awal
tentang penelitian yang meliputi latar belakang masalah,
perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
metodologi penelitian yang digunakan untuk memberikan
pemahaman terhadap isi penelitian ini secara garis besar.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini diuraikan tentang kerangka teori dan kerangka
pemikiran. Kerangka teori ini meliputi tinjauan umum tentang
Hukum Administrasi negara, tinjauan umum tentang Badan
Lingkungan Hidup Daerah (Kabupaten/kota), tinjauan umum
tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, tinjauan umum
tentang tanggung jawab penilai AMDAL, dan tinjauan umum
tentang teori efektifitas hukum.

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Pada bab III ini penulis akan membahas mengenai deskripsi lokasi
penelitian, dan tanggung jawab Badan Lingkungan Hidup
Kabupaten Sukoharjo dalam Penilaian Dokumen Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan dan akibat hukumnya, dan
hambatan yang terjadi serta solusinya.

BAB IV PENUTUP
Bab ini merupakan bagian akhir dari penelitian iini yang berisikan
kesimpulan-kesimpulan yang diambil berdasarkan hasil penelitian
dan saran-saran sebagai tindak lanjut dari kesimpulan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
LAMPIRAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori
1. Tinjauan umum tentang hukum administrasi negara
Kata “Administrasi” berasal dari bahasa latin “Administrare”
yang berarti “to manage”. Derivasinya antara lain menjadi
“Administratio” yang berarti besturing atau pemerintahan. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, administrasi diartikan sebagai :
a. Usaha dan kegiatan yang meliputi penetapan tujuan serta penetapan
cara-cara penyelenggaraan pembinaan organisasi.
b. Usaha dan kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan
kebijaksanaan serta mencapai tujuan.
c. Kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan.
d. Kegiatan kantor dan tata usaha.
Menurut The Liang Gie dalam Inu Kencana Syafiie (2006: 4-5)
mengatakan Administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan penataan
terhadap pekerjaan pokok yang dilakukan oleh sekelompok orang
dalam kerjasama mencapai tujuuan tertentu. Sedangkan menurut
Sondag P. Siagian administrasi adalah keseluruhan proses pelaksanaan
dari keputusan-keputusan yang telah diambil dan pelaksanaan itu pada
umumnya dilakukan oleh dua orang manusia atau lebih untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Pengertian diatas dimaksudkan sebagai administrasi dalam arti
luas, sedangkan dalam arti sempit adalah administrasi sebagaimana
yang sering kita dengar sehari-hari, yaitu tata usaha.
Menurut Edward H. Litchfield, Administrasi negara adalah suatu
studi mengenai bagaimana macam-macam badan pemerintah
diorganisir, dilengkapi dengan tenaga-tenaganya, dibiayai, digerakkan
dan dipimpin. Sedangkan menurut George J. Gordon, administrasi
negara dapat dirumuskan sebagai seluruh proses baik yang dilakukan
organisasi maupun perseorangan yang berkaitan dengan ppenerapan
atau pelaksanaan hukum dan peraturan yang dikeluarkan oleh badan
legislatif, eksekutif, serta peradilan (Inu Kencana Syafiie, 2006: 32-33).
Menurut GJ. Wiarda hukum administrasi hanya mempelajari
sebagian dari lapangan “bestuur” yaitu bagian tentang rechstregel,
rechtivormen dan rechsbeginselen yang menyelenggarakan turut serta
pemerintahan dalam pergaulan sosial ekonomi yang harus disalurkan
menurut sistem tertentu. Sistem itu terdiri atas petunjuk-petunjuk yaitu
kaidah-laidah hukum yang memberi sanksi dalam hal pelanggaran.
Kaidah-kaidah hukum tersebut mengatur hubungan alat-alat
pemerintahan dengan individu dalam masyarakat, demikian juga
hubungan-hubungan masing-masing alat-alat pemerintahan satu
terhadap yang lain.

2. Tinjauan umum tentang Badan Lingkungan Hidup Daerah


(Kabupaten/kota)
Dalam mengelola dan mengatasi berbagai masalah lingkungan,
dalam suatu daerah (kabupaten/kota), maka terdapat suatu institusi
pemerintah daerah yaitu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten/kota.
Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh kabupaten
dan kota meliputi pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan
kebudayaan, pertanian, perhubungan, industri, perdagangan, penanaman
modal, lingkungan hidup, pertanahan, koperasi, dan tenaga kerja.
Pemerintah daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang
tersedia di wilayahnya, namun tetap memelihara kelestarian lingkungan
hidup (Inu Kencana Syafiie, 2006: 129)
Badan lingkungan hidup kabupaten pada dasarnya memiliki
tugas pokok yaitu membantu Bupati dalam melaksanakan sebagian
kewenangan daerah di bidang pengelolaan lingkungan hidup serta tugas
pembantuan yang ditugaskan kepada Pemerintah Daerah.
Dalam kedudukannya sebagai unsur pemerintah daerah yang
melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan kepala daerah, badan
lingkungan hidup kabupaten memiliki tugas menyelenggarakan
program pengkoordinasian dan perencanaan pembangunan di bidang
lingkungan hidup, dalam artian mempersiapkan dan mengolah bahan
penyusunan rencana program pembangunan lingkungan hidup, tata
ruang dan pertanahann.
Secara umum Badan Lingkungan Hidup mempunyai fungsi
sebagai berikut :
a. Penyelenggarakan kesekretariatan badan;
b. Penyusunan rencana program, pengendalian, evaluasi dan pelaporan;
c. Pengawasan dan pengendalian dampak lingkungan;
d. Pemantauan dan pemulihan lingkungan;
e. Pematuhan hukum lingkungan dan pengembangan kapasitas;
f. Penyelenggaraan sosialisasi;
g. Pembinaan jabatan fungsional.
Dalam rangka pengendalian lingkungan hidup Badan
Lingkungan Hidup Daerah mempunyai kewajiban :
a. melakukan inventarisasi dan evaluasi ekonomi sumber daya alam
dan lingkungan hidup;
b. menyusun neraca sumber daya alam dan lingkungan hidup serta
melakukan evaluasi sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali;
c. melakukan penilaian dokumen AMDAL sesuai kewenangannya;
d. melakukan penilaian dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan
Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL);
e. menyusun strategi pengendalian pencemaran dan perusakan
lingkungan hidup;
f. melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang kebijakan
pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup;
g. melakukan pembinaan terhadap usaha dan atau kegiatan dalam
pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup;
h. menyediakan data atau informasi berkaitan dengan lingkungan
hidup di daerah dan menyebarluaskannya kepada masyarakat;
i. memfasilitasi penyelesaian sengketa mengenai lingkungan hidup;
j. memfasilitasi pengusahaan prasarana dan sarana
pembuangan/pengolahan limbah untuk industri kecil dan/atau air
limbah rumah tangga;
k. melaksanakan konservasi sumber daya alam;
l. melestarikan nilai sosial budayadan kearifan lokaldalamm rangka
pelestarian fungsi lingkuungan;
m. melestarikan kawasan lindung, sumber air, situs kepurbakalaan dan
cagar budaya;
n. meningkatkan kemampuan warga untuk memanfaatkan dan
mengembangkan teknologi ramah lingkungan hidup;
o. melaksanakan kajian, pendidikan dan pengembangan potensi serta
permasalahan sumber daya alam dan lingkungan hidup (Peraturan
Daerah Kabupaten Sukoharjo nomor 9 tahun 2009).

3. Tinjauan umum tentang Dokumen Analisis Mengenai Dampak


Lingkungan
“Setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting
terhadap lingkungan hidup wajib memiliki amdal” (pasal 22 Undang-
undang nomor 32 tahun 2009).
Menurut Fola S. Ebisemiju (1993) Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan atau Environmental Impact Analysis (EIA) muncul sebagai
jawaban atas keprihatinan tentang dampak negatif dari kegiatan
manusia, khususnya pencemaran lingkungan akibat kegiatan industri
pada tahun 1960-an. Sejak itu AMDAL telah menjadi alat utama untuk
melaksanakan kegiatan-kegiatan manajemen yang bersih lingkungan
dan selalu melekat pada tujuan pembangunan yang berkelanjutan (Gatot
P. Soemartono, 2004: 158)
Analisis Mengenai Dampak lingkungan merupakan kajian
mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan
suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan
hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Amdal sendiri merupakan
suatu kajian mengenai dampak positif dan negatif dari suatu rencana
kegiatan/proyek, yang dipakai pemerintah dalam memutuskan apakah
suatu kegiatan/proyek layak atau tidak layak lingkungan. Kajian
dampak positif dan negatif tersebut biasanya disusun dengan
mempertimbangkan aspek fisik, kimia, biologi, sosial-ekonomi, sosial
budaya dan kesehatan masyarakat (Peraturan Pemerintah nomor 27
tahun 1999).
Agar pelaksanaan AMDAL berjalan efektif dan dapat mencapai
sasaran yang diharapkan, pengawasannya dikaitkan dengan mekanisme
perijinan, Peraturan pemerintah tentang AMDAL secara tegas
menegaskan bahwa salah satu syarat perijinan, dimana para pengambil
keputusan wajib mempertimbangkan hasil studi AMDAL sebelum
memberikan ijin usaha/kegiatan. AMDAL secara umum digunakan
unuk mengambil keputusan tentang penyelenggaraan/pemberian ijin
usaha dan/atau kegiatan.
Secara garis besar proses AMDAL mencakup langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi dampak dari rencana usaha dan/atau kegiatan
Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih terinci dampak
negatif dan positif yang timbul dari usaha atau kegiatan tersebut,
sehingga sejak dini telah dipersiapkan langkah untuk
menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak
positifnya.
b. Menguraikan rona lingkungan awal
Deskripsi rona lingkungan hidup menguraikan data yang terkait atau
relevan dengan dampak yang mungkin terjadi dari rencana usaha
dan/atau kegiatan. Deskripsi ini didasarkan data sekunder yang
bersifat aktual dan didukung oleh hasil observasi lapangan. Dalam
hal terdapat beberapa alternatif lokasi, maka uraian rona lingkungan
hidup tersebut dilakukan untuk masing-masing alternatif lokasi.
c. Memprediksi dampak penting
Bagian ini menjelaskan metode prakiraan dampak yang digunakan
untuk memprakirakan besaran dan sifat penting dampak dalam studi
ANDAL untuk masing-masing dampak penting hipotetik, termasuk
rumus-rumus dan asumsi prakiraan dampaknya disertai
argumentasi/alasan pemilihan metode tersebut.
d. Mengevaluasi dampak penting dan merumuskan arahan RKL/RPL.
Bagian ini menguraikan metode-metode yang lazim digunakan
dalam studi ANDAL untuk mengevaluasi dampak penting yang
ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan
hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik, bagan alir,
overlay). Metode-metode tersebut digunakan secara triangulasi
untuk digunakan sebagai:
1) dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai
alternatif usaha dan/atau kegiatan;
2) identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak penting
lingkungan hidup yang ditimbulkan (Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup nomor 8 tahun 2006)
Menurut Gatot P. Soemartono, dokumen AMDAL terbagi dalam
beberapa komponen dokumen yang menjadi satu kesatuan rangkaian
studi yang saling terkait dan tidak terpisahkan. Dokumen AMDAL
terdiri dari :
a. Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-
ANDAL):
Dokumen ini merupakan ruang lingkup dan kedalaman kajian
analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang akan
dilaksanakan sesuai hasil proses pelingkupan.
b. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL):
Dokumen ini memuat telaahan secara cermat dan mendalam tentang
dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan
berdasarkan arahan yang telah disepakati dalam dokumen KA-
ANDAL.
c. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
Dokumen ini memuat berbagai upaya penanganan dampak besar dan
penting terhadap Lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat
rencana usaha dan/atau kegiatan.
d. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)
Dokumen ini memuat berbagai rencana pemantauan terhadap
berbagai komponen Lingkungan Hidup yang telah dikelola akibat
terkena dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau
kegiatan.

4. Tinjauan umum tentang tanggungg jawab penilai AMDAL


a. Definisi Tanggung Jawab
Menurut Albert Einstein, mengatakan, "The price of greatness
is responsibility" (harga sebuah kebesaran ada di tanggung jawab).
Mempunyai rasa tanggung jawab adalah mutiara kehidupan.
Menurut Berten, responsibility adalah keharusan seseorang
sebagai mahluk rasional dan bebas untuk tidak mengelak serta
memberikan penjelasan mengenai perbuatannya, secara retrosfektif
atau prosfektif. Berdasarkan pengertain di atas tanggung jawab
diartikan sebagai kesiapan memberikan jawaban atas tindakan-
tindakan yang sudah dilakukan pada masa lalu atau tindakan yang
akan berakibat di masa yang akan datang.
Istilah “tanggung jawab (responsibility)” seringkali disama
artikan dengan kewajiban atau tugas, akan tetapi sebenarnya
tanggung jawab memiliki makna yang lebih luas, karena tidak hanya
berupa kewajiban untuk “merespons” (menjawab; memenuhi) atas
apa yang pernah dilakukan terkait dengan keputusan, keahlian, dan
kemampuan seseorang, tetapi juga kewajiban untuk “memulihkan”
(restitution; pembayaran ganti rugi) terhadap kerugian yang
disebabkan oleh tindakan yang pernah dilakukan. Ini berarti bahwa
istilah “tanggung jawab (responsibility)” mencakup tidak hanya
kewajiban untuk memenuhi atau memikul “tanggung jawab hukum”
tetapi juga “tanggung jawab moral” terkait dengan tindakan,
keputusan, atau keahlian (profesi) tertentu yang pernah dilakukan.
Sedang, istilah “kewajiban (liability)” berarti suatu keadaan untuk
melaksanakan kewajiban hukum tertentu. Dengan demikian, berarti
istilah “tanggung jawab” baik dalam arti “responsibility” maupun
“liability” tidak bisa dilepaskan dari makna “kewajiban” (obligation;
duty). Atas dasar inilah maka bisa dimengerti apabila penggunaan
istilah “tanggung jawab” sering diartikan sama dan dipertukarkan
penggunaannya dengan istilah “kewajiban atau tugas”.

b. Penilai AMDAL Daerah


Penilaian AMDAL akan dilakukan oleh pejabat penilai
AMDAL yang sering disebut dengan komisi penilai AMDAL.
Komisi Penilai AMDAL adalah komisi yang bertugas untuk menilai
dokumen AMDAL. Adapun aspek-aspek yang dinilai adalah aspek
kelengkapan dan kualitas kajian dalam dokumen AMDAL.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun
2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL telah
memberikan panduan tentang aspek-aspek penilaian dokumen
AMDAL. Komisi tersebut di bentuk oleh Bupati/ Walikota. Dalam
melaksanakan tugasnya komisi penilai dibantu oleh tim teknis
komisi penilai dan sekretaris komisi penilai.
Komisi penilai AMDAL daerah terdiri atas unsur-unsur :
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I, instansi yang
ditugasi mengendalikan dampak lingkungan, instansi yang ditugasi
mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I, instansi yang
ditugasi bidang penanaman modal daerah, instansi yang ditugasi
bidang pertanahan di daerah, instansi yang ditugasi bidang
pertahanan keamanan daerah, instansi yang ditugasi bidang
kesehatan Daerah Tingkat I, wakil instansi pusat dan/atau daerah
yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan, wakil
instansi terkait di Propinsi Daerah Tingkat I, wakil
Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan, pusat
studi lingkungan hidup perguruan tinggi daerah yang bersangkutan,
ahli di bidang lingkungan hidup, ahli dibidang yang berkaitan,
organisasi lingkungan hidup di daerah, organisasi lingkungan hidup
sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji, warga
masyarakat yang terkena dampak, serta anggota lain yang dipandang
perlu (Pasal 8 Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun1999)
Terdapat 3 hal utama yang perlu diperhatikan dalam
pembentukan Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/Kota yaitu:
Kelembagaan, Sumber Daya Manusia dan Dana.
Dari segi kelembagaan, Komisi Penilai AMDAL Daerah dapat
dibentuk jika:
1) Memiliki sekretariat komisi penilai yang berkedudukan di instansi
yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat
Kabupaten/Kota. Komisi penilai AMDAL akan berfungsi secara
efektif. Jika lembaga yang menaungi komisi penilai mempunyai
eselon yang cukup tinggi sehingga dapat melakukan koordinasi
antar dinas dan instansi lain yang berkaitan dengan AMDAL
2) Adanya organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat yang
bergerak di bidang lingkungan hidup yang telah lulus mengikuti
pelatihan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dalam
fungsinya sebagai salah satu anggota komisi penilai
3) Adanya kemudahan akses ke laboratorium yang memiliki
kemampuan menguji contoh uji kualitas sekurang-kurangnya
untuk parameter air dan udara balk laboratorium yang berada di
Kabupaten/Kota maupun di ibukota propinsi terdekat
Dari segi sumber daya manusia, Komisi Penilai AMDAL
Daerah dapat dibentuk dengan persyaratan:
1) Tersedianya sumber daya manusia yang telah lulus mengikuti
pelatihan Dasar-dasar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup dan/atau Penyusunan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup dan/atau Penilaian Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup khususnya di instansi pemerintah
untuk melaksanakan tugas dan fungsi komisi penilai;
2) Tersedianya tenaga ahli sekurang-kurangnya di bidang
biogeofisik-kimia, ekonomi, sosial, budaya, kesehatan,
perencanaan pembangunan wilayah/daerah, dan lingkungan
sebagai anggota komisi penilai dan tim teknis;
Dan dari segi dana, pemerintah Kabupaten / Kota harus
menyediakan dana yang memadai dalam APBD untuk pelaksanaan
tugas Komisi Penilai AMDAL. Perlu ditegaskan bahwa Komisi
Penilai AMDAL dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada
publik, sehingga pendanaan untuk kegiatan komisi perlu disediakan
oleh pemerintah.
Ada tiga syarat pokok yang harus dipenuhi oleh para penilai
untuk mengevaluasi dokumen AMDAL. Yakni :
1) Penilai dokumen AMDAL harus memenuhi salah satu atau lebih
dari syarat berikut :
a) Sudah pernah menyusun dokumen AMDAL; dan/atau
b) Sudah memperoleh sertifikasi kursus Penyusun AMDAL
(AMDAL B), kursus Penilai AMDAL atau kursus yang
sejenis; dan/atau
c) Berpendidikan sarrjana/sederajat (terutama berlatar
belakang masalah lingkungan atau ahli dalam masalah
AMDAL); dan/atau
d) merupakan wakil masyarakat yang terkena
dampak/pemerhati lingkungan.
2) Penilai harus memiliki dan menggunakan pedoman-pedoman
atau panduan-panduanpenyusunan AMDAL yang berlaku,
seperti antara lain : Panduan kajian aspek sosial dalam AMDAL.
3) Penilai dapat memahami maksud-maksud yang terkandunng
dalam panduan penilaian dokumen AMDAL ini dan
menggunakannya (Nursyahid H.N, 2000: 131).

c. Tanggung Jawab Penilai AMDAL


Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai mempunyai
kewajiban untuk memberikan masukan dan pertimbangan-
pertimbangan sebagai dasar pengambilan Keputusan Kesepakatan
Kerangka Acuan ANDAL dan Kelayakan Lingkungan. Rekomendasi
tersebut harus didasarkan atas pertimbangan kesesuaian dengan
kebijakan pembangunan nasional, memperhatikan kepentingan
pertahanan dan keamanan, kesesuaian dengan rencana
pengembangan wilayah dan rencana tata ruang wilayah.
Komisi penilai daerah berwenang menilai analisis mengenai
dampak lingkungan hidup bagi jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan
yang diluar kriteria sebagai berikut :
1) usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut
ketahanan dan keamanan negara;
2) usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu
wilayah propinsi daerah tingkat I;
3) usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa
dengan negara lain;
4) usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang lautan;
5) usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di lintas batas negara
kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain (Pasal 11
Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 1999).
5. Tinjauan umum tentang teori efektifitas hukum
a. Definisi Hukum
Diantara pakar hukum tidak ada keserasian pendapat tentang
apa yang dimaksud dengan hukum itu. Menurut Lawrence Friedman,
hukum merupakan suatu produk tuntutan sosial. Bahwa individu atau
kelompok yang mempunyai kepentingan tidaklah serta merta
berpaling pada pranata hukum untuk mendesakkan tuntutan mereka.
Sebaliknya mereka merumuskan kepentingan mereka dalam bentuk
tuntutan. Suatu tuntutan datang dari suatu keyakinan atau keinginan
mengenai sesuatu yang harus terjadi untuk mewujudkan kepentingan
itu. Tuntutan-tuntutan semacam itulah yang menentukan isi hukum
(Peter Mahmud Marzuki, 2008: 131-132).
Menurut Satjipto Raharjo dalam bukunya Ilmu Hukum,
„„Hukum adalah norma yang mengajak masyarakat untuk mencapai
cita-cita serta keadaan tertentu, tetapi tanpa mengabaikan dunia
kenyataan dan oleh karenanya ia digolongkan kedalam norma
kultur‟‟ (Satjipto Rahardjo, 1996: 25).
Tugas hukum adalah untuk mencapai kepastian hukum (demi
adanya ketertiban) dan keadilan di dalam masyarakat. Kepastian
hukum mengharuskan diciptakannya peraturan-peraturan umum atau
kaidah-kaidah hukum yang berlaku umum, agar supaya tercipta
suasana yang aman dan tenteram di dalam masyarakat, maka kaidah-
kaidah termaksud harus ditegakkan serta dilaksanakan dengan tegas.
Untuk kepentingan itu, maka kaidah-kaidah hukum tersebut harus
diketahui sebelumnya dengan pasti (Soerjono Soekanto, 1976: 38)

b. Akibat Hukum
Timbulnya suatu akibat hukum adalah dikarenakan adanya
suatu perbuatan hukum. Perbuatan hukum adalah setiap perbuatan
atau tindakan subjek hukum yang mempunyai akibat hukum, dan
akibat hukum tersebut memang dikehendaki oleh subyek hukum.
Akibat hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh hukum
karena adanya suatu peristiwa hukum atau perbuatan dari subjek
hukum. Terdapat tiga jenis akibat hukum, yaitu :
1) Akibat hukum berupa lahirnya, berubahnya, atau lenyapnya suatu
keadaan hukum tertentu.
2) Akibat hukum berupa lahirnya, berubahnya, atau lenyapnya suatu
hubungan hukum tertentu.
3) Adanya sanksi (Wasis SP, 1998: 52-53)

c. Penegakan Hukum
Menurut Mertokusumo, penegakan hukum mempunyai makna,
bagaiman hukum itu harus dilaksanakan, sehingga dalam penegakan
hukum tersebut harus diperhatikan unsur-unsur kepastian hukum,
kemanfaatan, dan keadilan. Kepastian hukum menghendaki
bagaimana hukumnya dilaksanakan, tanpa peduli bagaimana
pahitnya (fiat justitia et pereat mundus: meskipun dunia ini runtuh
hukum harus tetap ditegakkan). Hal ini dimaksudkan agar tercipta
ketertiban dalam masyarakat. Masyarakat menghendaki adanya
manfaat dalam pelaksanaan peraturan atau penegakan hukum
lingkungan tersebut. Hukum lingkungan dibuat dengan tujuan untuk
melindungi lingkungan dan memberi manfaat kepada masyarakat.
Unsur ketiga adalah keadilan. Dalam penegakan hukum lingkungan,
keadilan harus diperhatikan. Namun demikian hukum tidak identik
dengan keadilan, karena hukum itu sifatnya umum, mengikat setiap
orang, dan menyamaratakan (Gatot P. Soemartono, 2004: 65-66).
Penegakkan hukum lingkungan dapat ditempuh melalui tiga
alternatif, yaitu administratif, perdata dan pidana :
1) Administratif, dimulai dengan mekanisme pengawasan yang
dilakukan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup/pejabat yang
ditunjuk oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, atau oleh
Kepala Daerah/pejabat yang ditunjuk Kepala Daerah terhadap
penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan
hidup seperti persyaratan izin, baku mutu lingkungan, dll,
sebagaimana hal ini diatur dalam Pasal 36-40 UUPLH. Ada
beberapa sanksi administrasi dalam Pasal 76-83 UUPLH yang
dapat dijatuhkan kepada pelaku usaha dan/atau kegiatan. Pertama,
paksaan pemerintahan (bestuursdwang) untuk mencegah dan
mengakiri terjadinya pelanggaran, atas beban biaya
penanggungjawab usaha dan atau kegiatan yang wewenangnya
ada pada Gubernur atau Bupati/Walikota. Kedua, terhadap
pelanggaran tertentu dapat dijatuhi sanksi pencabutan izin usaha
dan/atau kegiatan.
2) Penegakan hukum secara perdata, dapat ditempuh melalui
mekanisme ADR/diluar pengadilan) maupun di dalam pengadilan
(Pasal 84 Undang-undang Perlindungan Lingkungan Hidup) oleh
masyarakat secara perorangan atau melalui gugatan perwakilan
(class action), dan Non Government Organization (NGO) serta
instansi pemerintah yang bertanggungjawab dibidang pengelolaan
lingkungan hidup untuk mewakili kepentingan masyarakat dan
lingkungan hidup atas ganti kerugian dan pemulihan lingkungan
hidup.
3) Undang-undang Perlindungan Lingkungan Hidup menempatkan
penerapan sanksi pidana sebagai upaya yang terakhir (ultimum
remedium). Dalam penjelasan umum Undang-undang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup terkandung
suatu prinsip yang dikenal yaitu primary jurisdiction atau disebut
sebagai asas subsidiaritas. Asas ini menegaskan bahwa hukum
pidana baru dapat digunakan apabila:
a) sanksi bidang hukum lain, seperti sanksi administrasi dan
sanksi perdata dan alternatif penyelesaian sengketa lingkungan
tidak efektif;
b) tingkat kesalahan pelaku relatif berat; dan
c) menimbulkan keresahan masyarakat.
Hal ini berarti bahwa sarana hukum lain harus dioptimalkan
terlebih dahulu, sebelum diambil tindakan secara pidana. Akan tetapi
persoalan lingkungan sudah sedemikian mengkhawatirkan, sehingga
menurut Hamzah ketentuan sanksi pidana terhadap pencemaran
lingkungan seharusnya dirubah dari ketentuan yang sifatnya ultimum
remidium, yang menganggap bahwa pelanggaran hukum lingkungan
belum merupakan persoalan yang serius menjadi premium remidium
yang menjadikan sanksi pidana sebagai instrumen yang diutamakan
dalam menangani tindak perbuatan pencemaran atau perusakan
lingkungan. Seperti yang dikemukakan oleh Joe D. Whitley and
David B. Weinstein and Douglas S. Arnold and David M. Meezan
dalam The Expanding Criminalization of Environmental Laws: The
Recent Decisions in Hanousek, Hong, and Hansen Volume LXXVII,
No. 1
That significant imprisonment and large fines are appropriate
penalties for “environmental criminals,” another objective is the
deterrent effect of an environmental criminal case on other
companies and individuals. Many government officials and agents
believe that the harsh penalties associated with environmental
crimes positively affect environmentally related business decisions
and, consequently, promote greater compliance with environmental
laws.

Penjara yang signifikan dan denda besar tersebut merupakan


hukuman yang tepat untuk "penjahat lingkungan," tujuan lainnya
yaitu efek jera dari kasus pidana lingkungan terhadap perusahaan
lain dan individu. Banyak pejabat pemerintah dan agen percaya
bahwa sanksi-sanksi keras yang terkait dengan kejahatan lingkungan
positif mempengaruhi keputusan bisnis yang berhubungan dengan
lingkungan hidup dan, akibatnya, meningkatkan kepatuhan yang
lebih besar dengan Undang-undang lingkungan.

Namun di Indonesia pilihan akan jatuh pada hukum pidana jika


suatu kerusakan sudah tidak dapat diperbaiki atau dipulihkan,
misalnya penebangan pohon, pembunuhan terhadap binatang yang
dilindungi, dsb. Perbaikan atau pemulihan kerusakan termasuk tidak
dapat dilakukan secara fisik.

d. Teori Bekerjanya Hukum


Sistem hukum memiliki aturan-aturan hukum atau norma-
norma, kesemuanya berhubungan pada sumber dan keabsahan
aturan-aturan yang lebih tinggi. Hubugan-hubugan ini membentuk
kelas-kelas struktur piramid dan hirarki dengan aturan norma dasar
di puncaknya.
Seperti Grand Theory Three Element Of Legal System yang
di kemukakan oleh Lawrence M. Friedman. Menurut Lawrence M.
Friedmen sistem hukum memiliki tiga komponen dasar yang saling
berkaitan satu sama lain. Tiga komponen tersebut adalah substansi
hukum (legal Substance), struktur hukum (legal structure), dan
budaya hukum (legal culture).
1) Struktur Hukum (Legal Structure)
Menurut Lawrence M. Friedman, “the structure of a
system its skeletal framework; it is the permanent shape, the
institutional body of the system, the tough, rigid bones that keep
the process flowing within bounds”(Lawrence M. Friedmen,
1975: 14). Jadi struktur adalah kerangka atau rangkanya, bagian
yang tetap bertahan, bagian yang memberi semacam bentuk dan
batasan terhadap keseluruhan. Lebih jelasnya struktur hukum
menurut Friedmen adalah pola yang memperlihatkan tentang
bagaimana hukum itu dijalankan menurut ketentuan formalnya.
Struktur ini memperlihatkan bagaimana pengadilan, pembuatan
hukum dan lain- lain badan serta proses hukum itu berjalan dan
dijalankan (Satjipto Rahardjo, 1996: 154).

2) Substansi Hukum (Legal Substance)


Menurut Lawrence M. Friedman, “the substance is
composed of substantive rules and rules about how institutions
should be have” (Lawrence M. Friedmen, 1975: 14). Jadi, yang
dimaksud dengan substansi adalah aturan, norma dan pola
perilaku nyata manusia yang berada dalam sistem itu. Substansi
juga berarti produk yang dihasilkan oleh orang yang berada di
dalam sistem hukum itu, mencakup keputusan yang mereka
keluarkan, aturan baru yang mereka susun. Substansi juga
mencakup living law (hukum yang hidup), dan bukan hanya
aturan yang ada dalam kitab undang-undang (law books).
Pendapat mengenai legal Substance ini sejalan dengan
pandangan Lon Fuller. Lebih dalam Lon Fuller menjelaskan
mengenai substansi hukum dalam sebuah sistem hukum yang
menjadi landasan dan syarat-syarat legitimasi bagi implementasi
legalitas hukum, teori Fuller ini kemudian terkenal dengan
principles of legality theory.
Menurut Fuller, dikatakan bahwa untuk mengenal hukum
sebagai suatu sistem maka ukuran tersebut diletakkannya pada 8
(delapan) asas yang dinamakannya principles of legality berikut
ini:
a) Suatu sistem hukum harus mengandung peraturan-peraturan.
Yang dimaksud disini adalah, bahwa tidak boleh
mengandung sekedar keputusan-keputusan yang bersifat ad
hoc.
b) Peraturan-peraturan yang telah dibuat itu harus diumumkan.
c) Tidak boleh ada peraturan yang berlaku surut, oleh karena
apabila yang demikian itu tidak ditolak, maka peraturan it
tidak bisa dipakai untuk menjadi pedoman tingkah laku.
Membolehkan pengaturan secara berlaku surut berarti
merusak integritas peraturan yang ditujukan untuk berlaku
bagi waktu yang akan datang.
d) Peraturan-peraturan harus disusun dalam rumusan yang bisa
dimengerti.
e) Suatu sistem tidak boleh mengandung peraturan-peraturan
yang bertentangan satu sama lain.
f) Peraturan-peraturan tidak boleh mengandung tuntutan yang
melebihi apa yang dapat dilakukan.
g) Tidak boleh ada kebiasaan untuk sering mengubah peraturan
sehingga menyebabkan seorang akan kehilangan orientasi.
h) Harus ada kecocokan antara peraturan yang diundangkan
pelaksanaannya sehari-hari (Satjipto Raharjo, 1996: 51)
Dari rangkaian pembahasan tersebut disimpulkan, bahwa
pada dasarnya hukum mempunyai banyak fungsi dalam usahanya
mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, Oleh karena itu,
dalam perumusannya sebagai hukum positif harus dipahami suatu
sistem norma.

3) Kultur Hukum (Legal Culture)


Menurut Lawrence M. Friedman, Legal culture is the
element of social attitude and value (Lawrence M. Friedmen,
1975: 15). Sehinggadapat diartikan bahwa kultur hukum
mengandung unsur nilai dan sikap sosial yang menentukan
bagaimana hukum digunakan, dihindari atau disalahgunakan.
Tanpa kultur hukum, maka sistem hukum itu sendiri tidak dapat
berjalan sebagaimana mestinya.
Budaya hukum dibedakan menjadi dua macam. Pertama
internal legal culture, yakni kultur hukum bagi hakim dan
pengacara dan exsternal legal culture, yakni kultur hukum
masyarakat pada umumnya.
B. Kerangka Pemikiran

NKRI

Pemerintah Pusat

Kementrian Lingkungan Hidup

Badan Lingkungan Hidup Propinsi

Badan Lingkungan Hidup Daerah (Kabupaten / Kota)

Izin Usaha / atau Kegiatan Pembangunan

Penyusunan dan Penilaian AMDAL

Undang-undang No.32 Tahun 2009 Tentang Pengendalian


dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Peraturan Pemerintah no.27 Tahun 1999 Tentang


Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo No. 9 Tahun 2009


Tentang Pengendalian Lingkungan Hidup

Hambatan Pendukung

Solusi

Gambar 2 : Bagan Kerangka Pemikiran


Keterangan Bagan :
Tujuan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti dinyatakan
dalam pembukaan Undang-undangDasar 1945, ialah melindungi segenap bangsa
dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk menuju
terwujudnya tujuan nasional tersebut bangsa Indonesia melaksanakan
pembangunan secara terencana dan bertahap. Namun pembangunan ini tumbuh
berkembang dengan tidak memperhitungkan pengaruhnya kepada lingkungan.
Lingkungan Hidup di Indonesia menyangkut tanah, air, dan udara dalam
wilayah negara Republik Indonesia.Semua media lingkungan hidup tersebut
merupakan wadah tempat kita tinggal, hidup serta bernafas.Pembangunan
industri, eksploitasi hutan serta sibuk dan padatnya arus lalu lintas akibat
pembangunan yang terus berkembang, memberikan dampak samping.Dampak
samping tersebut berakibat pada tanah yang kita tinggali, air yang kita gunakan
untuk kebutuhan hidup maupun udara yang kita hirup.Apabila tanah, air dan udara
tersebut pada akhirnya tidak dapat lagi menyediakan suatu iklim atau keadaan
yang layak untuk kita gunakan, maka pencemaran atau kerusakan lingkungan
hidup telah terjadi.
Pencemaran lingkungan hidup, bukan hanya akan berdampak buruk bagi
kehidupan masyarakat yang ada sekarang namun juga akan mengancam
kelangsungan hidup anak cucu kita kelak. Oleh karena itu baik masyarakat,
maupun pemerintah berhak dan wajib untuk melindungi lingkungan hidup,
Pemerintah melalui Kementrian Linngkungan Hidup secara aktif
berupaya melakukan pelestrian lingkungan dan memberikan perlindungan bagi
lingkungan hidup serta masyarakat yang tinggal dalam lingkungan hidup di
Indonesia melalui berbagai peraturan perundang-undangan.
Undang-undang No. 32 tahun 2009 adalah suatu produk pemerintah
untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup sekaligus memberi perlindungan
hukum bagi masyarakat agar selalu dapat terus hidup dalam lingkungan hidup
yang sehat.
Meskipun kesadaran terhadap lingkungan hidup di Indonesia sekarang ini
semakin membaik, tetapi masih dalam tingkatan yang masih sangat rendah jika
dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini di butkikan dengan gencarnya
isu-isu lingkungan yang mulai banyak dipublikasikan di media massa, salah
satunya adalah tentang analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) suatu
usaha dan/ kegiatan yang memiliki dampak penting. AMDAL digunakan sebagai
syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau
kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang. Keputusan kelayakan
lingkungan hidup suatu usaha dan atau kegiatan yang diterbitkan pejabat yang
berwenang tersebut wajib dilampirkan pada permohonan izin melakukan
usaha.Dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup terdapat ketentuan yang
wajib dipatuhi oleh pemrakarsa atau pemohon yaitu rencana pengelolaan
lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan dari usaha atau kegiatan itu.
Selain itu AMDAL juga sebagai alat evaluasi apakah suatu rencana usaha atau
kegiatan dapat dilaksanakan atau tidak.
Untuk menyusun studi AMDAL pemrakarsa dapat meminta jasa
konsultan untuk menyusun AMDAL. Anggota penyusun ( minimal koordinator
pelaksana) harus bersertifikat penyusun AMDAL (AMDAL B). Sedangkan
anggota penyusun lainnya adalah para ahli di bidangnya yang sesuai dengan
bidang kegiatannya. Sedangkan penilaian dokumen AMDAL dilakukan oleh
Komisi Penilaian AMDAL Pusat yang berkedudukan di Badan Penilai AMDAL.
Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999
memberikan dasar hukum Penyusunan dan Penilaian AMDAL yang di dukung
oleh paket keputusan menteri lingkungan hidup tentang jenis usaha dan/ atau
kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL. Dengan ditetapkannya
Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 1999 maka suatu hal yang lebih di tekankan
dalam Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 1999 adalah keterbukaan informasi dan
peran serta masyarakat, selain itu terjadi perubahan dimana semua Komisi
AMDAL Pusat dihapuskan dan diganti dengan satu Komisi Penilai Pusat yang
ada di Bapedal. Sedangkan didaerah yaitu Provinsi dan Kabupaten/Kota
mempunyai Komisi Penilai Daerah. Salah satu unsur penilai dalam keanggotaan
komisi penilai AMDAL daerah (Kabupaten/Kota) yaitu instansi yang bertugas
mengendalikan dampak lingkungan yang dalam penulisan hukum ini adalah
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo.
Kabupaten Sukoharjo telah memiliki suatu produk hukum guna
menunjang keberhasilannya dalam pengendalian lingkungan hidup serta
membantu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo dalam melakukan
penilaian terhadap dokumen AMDAL yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah
Kabupaten Sukoharjo No. 9 Tahun 2009 tentang Pengendalian Lingkungan
Hidup. Dalam melakukan penilaian dokumen AMDAL tentunya Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo tidak lepas dari adanya beberapa
hambatan, baik hambatan secara internal maupun eksternal.
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian


1. Keadaan Geografis Kabupaten Sukoharjo
Kabupaten Sukoharjo merupakan kabupaten terkecil kedua di
Jawa Tengah dengan luas 46.666 Ha atau sekitar 1.43% dari luas
wilayah propinsi Jawa Tengah. Terdapat 12 kecamatan dengan
kecamatan yang terluas yaitu Kecamatan polokarto yaitu 6.218 Ha
(13%), sedangkan yang paling kecil adalah Kecamatan Kartasura
dengan luas wilayah 1.923 Ha (4%) dari luas Kabupaten Sukoharjo.
Letak Kabupaten Sukoharjo jika dihitung dari Meredian
Greenwich berada diantara 7o 32‟ 17”-7o 49‟ 32” Lintang Selatan dan
110o 42‟ 06.79”-110o 57‟ 33,7” Bujur Timur. Ketinggian wilayah
Kabupaten Sukoharjo yaitu antara 80-125m diatas permukaan laut yang
dilewati sungai Bengawan solo dengan arah aliran sungai 35 Km.
Kabupaten Sukoharjo berbatasan dengan :
a. Sebelah Utara : Kota Surakarta dan Kabupaten Karanganyar.
b. Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar.
c. Sebelah Selatan : Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten
Wonogiri.
d. Sebelah Barat : Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten.

2. Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo


Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo merupakan
lembaga teknis daerah sebagai unsur pendukung tugas Bupati yang
memiliki tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahan daerah di
bidang lingkungan hidup.
Dalam melaksanakan tugas pokoknya Badan Lingkungan Hidup
Kabupaten Sukoharjo menyelenggarakan fungsi antara lain sebagai
berikut :
a. Merumuskan kebijakan teknis di bidang lingkungan hidup;
b. Memberikan dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah
di bidang lingkungan hidup;
c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang lingkungan hidup.
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo memiliki
strategi pengembangan pembangunan sumber daya alam dan
lingkungan hidup Kabupaten Sukoharjo yang diarahkan pada upaya dan
proses pengelolaan lingkungan hidup secara terpadu terhadap unsur-
unsur lingkunga hidup yang meliputi : sumber daya manusia, sumber
daya hayati dan non hayati, serta sumber daya buatan untuk
melestarikan lingkungan hidup yang lebih dinamis.
Kebijakan umum yang berkaitan dengan upaya pengelolaan
lingkungan hidup meliputi : upaya penataan, pengembangan,
pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian pemanfaatan
sumber-sumber daya, terutama sumber daya alam hayati dan non hayati
sebagai unsur lingkungan hidup. Kebijakan tersebut meliputi :
a. Peningkatan kesadaran masyarakat dan dunia usaha tentang arti
pentingnya kelestarian dan fungsi lingkungan hidup bagi kehidupan
manusia.
b. Peningkatan peran aktif dari semua pihak dalam pengelolaan dan
pemanfaatan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan dan
berkelanjutan guna memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
kemakmuran rakyat, baik untuk generasi sekarang maupun yang
akan datang.
c. Pengendalian dan pengaturan tata ruang yang mantap untuk
mencegah dan menghindari penggunaan lahan produktif dan
pencegahan kerusakan lingkungan yang dapat mengganggu stabilitas
ekosistem secara keseluruhan.
d. Dibentuknya Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 9
Tahun 2009 Tentang Pengendalian Lingkungan Hidup.

3. Struktur Organisasi Badan Lingkungan Hidup Kabupaten


Sukoharjo
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Bambang Darminto
selaku pejabat sekretaris pada Badan Lingkungan Hidup kabupaten
Sukoharjo bahwa struktur organisasi Badan Lingkungan Hidup
Kabupaten Sukoharjo dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut :

KEPALA

Jabatan Fungsional Sekretariat

Sub. Bag. Program Sub. Bag. Sub.Bag.Umum dan


Keuangan Kepegawaian

Bidang Pengkajian Bidang Pengembangan Bidang Pengendalian


dan Penegakan Kapasitas Pengendalian Pencemaran
Hukum Lingkungan Kerusakan dan Konservasi Lingkungan
Lingkungan

Sub. Bid. Pengkajian Sub. Bid. Pengembangan Sub. Bid. Pengendalian


Kelayakan dan Kapasitas dan Pelayanan Pencemaran Air
Penegakan Hukum Masyarakat

Sub. Bid. Penerapan Sub. Bid. Pengendalian Sub. Bid Pengendalian


Sistem Manajemen Kerusakan dan Konservasi Pencemaran Udara,
Laboratorium Sumber Daya Alam Limbah Padat dan B3
Lingkungan

Gambar 3 : Bagan Struktur Jabatan atau Organisasi Badan Lingkungan Hidup


Adapun penjabaran tugas pokok pelayanan organisasi Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo adalah sebagai berikut :
a. Kepala Badan
1) Merumuskan kebijakan di bidang lingkungan hidup sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2) Membina pelaksanaan kegiatan di bidang lingkungan hidup.
3) Menyelenggarakan pelayanan umum sesuai prosedur yang telah
ditetapkan secara mudah, cepat, dan tepat.
4) Mengendalikan seluruh kegiatan bidang lingkungan hidup.

b. Sekretariat
1) Menyiapkan rumusan strategis program dan kegiatan dalam
rangka penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan Belanja
Daerah.
2) Melaksanakan pelayanan pengelolaan kegiatan administrasi
umum, kepegawaian, keuangan, kearsipan, perpustakaan, dan
perlengkapan rumah tangga Badan Lingkungan Hidup.
3) MElaksanakan koordinasi dalam rangka penyusunan LKPJ
Bupati, LPPD, dan LAKIP BLH.
4) Melaksanakan bimbingan teknis fungsi-fungsi pelayanan
administrasi perkantoran.

c. Sub Bagian Program


1) Menyusun Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA), DPA
penetapan dan perubahan.
2) Menghimpun, meneliti, dan mengkoreksi bahan usulan dan
laporan program dan kegiatan dari sekretariat dan masing-
masing bidang di BLH.
3) Menyiapkan bahan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan
operasional untuk pengendalian.
4) Menyiapkan bahan dalam rangka penyusunan LKPJ Bupati,
LPPD, dan LAKIP BLH.

d. Sub Bagian Keuangan


1) Melaksanakan pengelolaan, mengkoordinasikan, menyiapkan
bahan proses pencairan dana dan pelayanan administrasi
keuangan.
2) Meneliti kelengkapan Surat Permintaan Pembayaran (SPP)
langsung pengadaan barang dan jasa yang disampaikan oleh
Bendahara Pengeluaran dan diketahui/disetujui oleh Pejabat
Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).
3) Meneliti kelengkapan SPP-Uang Persediaan (IP), SPP-GU, SPP-
TU, SPP-Gaji dan Tunjangan PNS lainnya.
4) Melaksanakan verifikasi SPP dan menyiapkan Surat Perintah
Membayar (SPM).
5) Melaksanakan akuntansi yang meliputi Jurnal Umum, Buku
Besar, dan Buku Besar Pembantu.
6) Menyiapkan laporan keuangan yang meliputi laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, dan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK).
7) Melaksanakan koordinasi terhadap kegiatan lain yang berkaitan
dengan keuangan yang dilaksanakan oleh Bidang-bidang
dilingkungan BLH.
8) Menyusun laporan evaluasi atas pelaksanaan tugas-tugas
pengelolaan keuangan BLH berdasarkan data yang terkumpul dari
bidang-bidang dilingkungan BLH.
9) Menyelesaikan perhitungan Anggaran setiap tahun yang menjadi
beban BLH.

e. Sub Bagian Umun dan Kepegawaian


1) Menyiapkan bahan dalam rangka pelayanan urusan administrasi
umum, organisasi, dan tata laksana, pengurusan rumah tangga,
perlenkapan, dokumentasi, perpustakaan, dan kearsipan, serta
pengelolaan administrasi kepegawaian.
2) Merencanakan dan melaksanakan pengadaan barang untuk
keperluan rumah tangga BLH.
3) Melaksanakan inventarisasi barang untuk tertib administrasi
barang serta melaksanakan pemeliharaan barang inventaris.
4) Membuat laporan rutin data kepegawaian, Daftar Urut
Kepangkatan (DUK) dan Daftar Nominatif Pegawai.
5) Menyiapkan berkas usulan mutasi, kenaikan pangkat, kenaikan
gaji berkala, Diklat pegawai dan urusan kepegawaian lainnya.

f. Bidang Pengkajian Kelayakan dan Penegakan Hukum Lingkungan


1) Merumuskan kebijakan di bidang Pengkajian Kelayakan dan
Penegakan Hukum, Penerapan Sistem Manajemen dan
laboratorium lingkungan.
2) Membina pelaksanaan kegiatan operasional Pengkajian kelayakan
dan Penegakan Hukum, Penerapan Sistem Manajemen dan
laboratorium lingkungan.
3) Menyelenggarakan kegiatan operasional Pengkajian kelayakan
dan Penegakan Hukum, Penerapan Sistem Manajemen dan
laboratorium lingkungan.
4) Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan operasional di bidang
Pengkajian kelayakan dan Penegakan Hukum, Penerapan Sistem
Manajemen dan laboratorium lingkungan.

g. Sub Bidang Pengkajian Kelayakan dan Penegakan Hukum


Lingkungan
1) Menyusun rencana program operasional dan pengendalian
penyelenggaraan pengkajian kelayakan dan penegakan hukum
lingkungan.
2) Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup bagi seluruh jenis usaha dan/atau
kegiatan di luar usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi
AMDAL dalam wilayah kabupaten.
3) Melaksanakan penilaian AMDAL , pengawasan terhadap
pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bagi jenis usaha
dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL dan yang
mempunyai dampak penting terhadap lingkungan sesuai dengan
standart, norma, prosedur yang berlaku.
4) Memberikan rekomendasi kelayakan lingkungan baik AMDAL
maupun UKL-UPL.
5) Melaksanakan pemantauan, penataan terhadap perjanjian
Internasional, pengendalian pelaksanaan konvensi dan protokol di
bidang pengendalian dampak lingkungan.
6) Melaksanakan pemantauan, pengawasan, dan penyelesaian
konflik dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati.
7) Menetapkan kebijakan pemantauan, pengendalian, dan
perlindungan terhadap lapisan Ozon dan perubahan iklim sesuai
ketentuan yang berlaku.

h. Sub Bidang Penerapan Sistem Manajemen dan Laboratorium


Lingkungan
1) Menyediakan laboratorium lingkungan sesuai kebutuhan daerah.
2) Menganalisis semua limbah padat, limbah cair, dan limbah udara.
3) Mengembangkan manajemen sistem informasi dan pengelolaan
data base keanekaragaman hayati.
4) Melaksanakan pembinaan dan pengawasan penerapan sistem
manajemen lingkungan, ekolabel, produksi bersih dan teknologi
berwawasan lingkungan yang mendukung pola produksi dan
konsumsi yang berkelanjutan.
i. Bidang Pengembangan Kapasitas Pengendalian Kerusakan dan
Konservasi Lingkungan
1) Merumuskan kebijakan di bidang Pengembangan kapasitas dan
pelayanan masyarakat dan pengendalian kerusakan dan observasi
sumber daya alam.
2) Membina pelaksanaan kegiatan operasional Pengembangan
kapasitas dan pelayanan masyarakat dan pengendalian dan
konservasi sumber daya alam.
3) Menyelenggarakan kegiatan operasional di bidang Pengembangan
kapasitas dan pelayanan masyarakat dan pengendalian dan
konservasi sumber daya alam.
4) Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan operasional Pengembangan
kapasitas dan pelayanan masyarakat dan pengendalian dan
konservasi sumber daya alam.

j. Sub Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pelayanan Masyarakat


1) Membina pelaksanaan kegiatan operasional dan pengawasan
penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Standar
Kompetensi personil pengelolaan lingkungan hidup.
2) Membina pelaksanaan kegiatan operasional dan pengawasan
penerapan instrument ekonomi dalam pengolahan sumber daya
alam.
3) Membina pelaksanaan kebersihan lingkungan, dan pengembangan
sistem manajemen pengelolaan sampah rumah tangga.

k. Sub Bidang Pengendalian Kerusakan dan Konservasi Sumber Daya


Alam
1) Menetapkan criteria teknis baku kerusakan lingkungan dan
penanggulangan kebakaran hutan.
2) Melaksanakan operasional pengendalian dan penanggulangan
kebakaran hutan /lahan, pengawasan atas pengendalian kerusakan
hutan/lahan.
3) Melaksanakan operasional pengendalian kerusakan dan/atau
pencemaran lingkungan.
4) Menetapkan kriteria baku penetapan lahan untuk kegiatan
pertanian, perkebunan, dan/atau hutan tanaman.
5) Melaksanakan pengawasan atas pengendalian kerusakan lahan
akibat kegiatan berdampak.
6) Menetapkan kondisi lahan/tanah.
7) Mengendalikan kerusakan lahan dan/atau tanah akibat bencana,
penanggulangan kerusakan tanah untuk produksi Biomassa,
penetapan kawasan yang beresiko bencana.
8) Melaksanakan koordinasi dalam perencanaan konservasi
keanekaragaman hayati, dan melaksanakan kebijakan konservasi
keanekaragaman hayati.

l. Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan


1) Merumuskan kebijakan di bidang pencemaran lingkungan.
2) Membina pelaksanaan kegiatan operasional pengendalian
pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, limbah padat
dan limbah berbahaya dan beracun (B3).
3) Menyelenggarakan kegiatan operasional dibidang pengendalian
pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, limbah padat
dan limbah berbahaya dan beracun (B3)
4)Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan operasional pengendalian
pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, limbah padat
dan limbah berbahaya dan beracun (B3)
m. Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Air
1) Melaksanakan operasional kegiatan penetapan kelas air pada
sumber air, pemantauan kualitas air pada sumber air, pengelolaan
kualitas air dan pengendalian pencemaran air.
2) Melaksanakan pengawasan terhadap penataan persyaratan yang
tercantum dalam izin pembuangan air limbah ke air atau ke
sumber air, dan penerapan uang paksa terhadap pelaksanaan
penanggulangan pencemaran air pada keadaan darurat.
3) Melaksanakan pengaturan pengelolaan kualitas air dan
pengendalian pencemaran air.
4) Memberikan pelayanan perizinan pembuangan air limbah ke air
atau ke sumber air, pemanfaatan air limbah ke tanah untuk
aplikasi pada tanah.

n. Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Udara, Limbah Padat dan


Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
1) Melaksanakan koordinasi dan pemantauan kualitas udara,
ambient, emisi sumber bergerak dan tidak bergerak, pengujian
emisi gas buang dan kebisingan kendaraan bermotor lama secara
berkala.
2) Melaksanakan pengawasan terhadap penataan penanggung jawab
usaha dan/atau kegiatan yang dapat menyebabkan terjadinya
pencemaran udara dari sumber bergerak dan tidak bergerak.
3) Melaksanakan pemantauan kualitas udara ambient dalam
ruangan, pemantauan dampak deposi asam.
4) Melaksanakan pengawasan pelaksanaan pengolahan limbah B3,
izin pengumpulan limbah B3, pengawasan pemulihan akibat
pencemaran limbah B3, penanggulangan kecelakaan pengolahan
limbah B3 dan pelaksanaan sistem tanggap darurat.
5) Melaksanakan pelayanan pemberian izin lokasi pengolahan dan
penyimpanan sementara limbah B3.
4. Wewenang, Tanggungjawab dan Kewajiban Badan Lingkungan
Hidup Kabupaten Sukoharjo Dalam Rangka Pengendalian
Lingkungan Hidup
Pengendalian lingkungan hidup merupakan upaya atau kegiatan
oleh Badan Lingkungan Hidup dalam melaksanakan pencegahan
dan/atau penanggulangan dan/atau pemulihan pencemaran, mulai dari
perencanaan, penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemulihan,
pengawasan, pemeliharaan dan monitoring, evakuasi dan pengawasan
serta penataan lingkungan yang bersih, sehat, nyaman dan terhindar dari
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Adapun wewenang
dan tanggungjawab Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo
dalam pengendalian lingkungan hidup meliputi :
a. Wewenang Badan Lingkungan hidup Kabupaten Sukoharjo dalam
pengendalian lingkungan hidup :
1) Menetapkan kebijakan pengendalian lingkungan hidup
berdasarkan kebijakan nasional pengelolaan lingkungan hidup
dengan memperhatikan kearifan lokal yang hidup dan
berkembang.
2) Menetapkan kelayakan kajian lingkungan hidup suatu rencana
usaha dan/atau kegiatan.
3) Menerbitkan dan mencabut perizinan di bidang lingkungan
hidup.
4) Membentuk komisi penilai AMDAL.
5) Menerbitkan rekomendasi AMDAL sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
6) Menerbitkan rekomendasi Upaya Pengelolaan Lingkungan
Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup
(UPL).
7) Membentuk tim penanganan kasusu lingkungan hidup.
8) Melakukan pengawasan penaatan.
9) Memerintahkan penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan
untuk melakukan pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan
lingkungan hidup.
10) Melakukan upaya-upaya pengendalian lingkungan hidup
berdasarkan arahan, pedoman, supervisi dan pengawasan dari
pemerintah dan atau pemerintah propinsi.
11) Melakukan penegakan hukum sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
12) Mengembangkan kerjasama dan kemitraan dalam
penyelenggaraan pengendalian lingkungan hidup dengan pihak
ketiga dan/atau pihak luar negeri sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

b. Tanggungjawab Badan Lingkungan hidup Kabupaten Sukoharjo


dalam pengendalian lingkungan hidup :
1) Melaksanakan kebijaksanaan pengendalian lingkungan hidup
berdasarkan kebijakan nasional.
2) Melaksanakan pengendalian terhadap pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan hidup.
3) Memfasilitasi dan mengembangkan teknologi yang ramah
lingkungan.
4) Meningkatkan kepedulian masyarakat dalam penanganan dan
pelestarian alam.

c. Kewajiban Badan Lingkungan hidup Kabupaten Sukoharjo dalam


pengendalian lingkungan hidup :
1) Melakukan inventarisasi dan evaluasi ekonomi sumber daya
alam dan lingkungan hidup.
2) Menyusun neraca sumber day alam dan lingkungan hidup serta
melakukan evaluasi sekurang-kurangnya satu tahun sekali.
3) Melakukan penilaian dokumen AMDAL sesuai kewenangannya.
4) Melakukan penilaian dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan
Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup
(UPL).
5) Menyusun strategi pengendalian pencemaran dan perusakan
lingkungan hidup.
6) Melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang kebijakan
pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.
7) Melakukan pembinaan terhadap usaha dan/atau kegiatan dalam
pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.
8) Menyediakan data atau informasi berkaitan dengan lingkungan
hidup di daerah dan menyebarluaskannya kepada masyarakat.
9) Memfasilitasi penyelesaian sengketa mengenai lingkungan
hidup.
10) Memfasilitasi pengusahaan prasarana dan sarana
pembuangan/pengolahan limbah untuk industri kecil dan/atau
air limbah rumah tangga.
11) Melaksanakan konservasi sumber daya alam terbaharui dan
tidak terbaharui.
12) melestarikan nilai sosial budaya dan kearifan lokal dalam rangka
pelestarian fungsi lingkungan.
13) Melestarikan kawasan, sumber air, situs kepurbakalaan dan
cagar budaya.
14) Meningkatkan kemampuan warga untuk memanfaatkan dan
mengembangkan teknologi ramah lingkungan.
15) Melaksanakan kajian, pendidkan dan pengembangan potensi
serta permasalahan suumber daya alam dan lingkungan hidup.
B. Tanggung Jawab Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo
dalam Penilaian Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Dan Akibat Hukumnya
1. Proses Penyusunan AMDAL
Pemahaman mengenai prosedur penyusunan AMDAL akan
sangat membantu kelancaran penyelesaian AMDAL, sekaligus juga
meningkatkan kualitas kajian dan pengelolaan lingkungan. Berdasarkan
Panduan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Di Indonesia dan
keterangan dari Ibu Eny Kristianti, bahwa peyusunan dokumen
AMDAL antara lain meliputi :
a. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)
Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi Analisis Dampak
Lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan bertujuan untuk :
1) Merumuskan lingkup dan ruang studi ANDAL
2) Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan
efisien sesuai dengan biaya, tenaga dan waktu yang tersedia.
Dokumen KA-ANDAL memiliki fungsi antara lain sebagai
berikut :
1) Sebagai rujukan bagi pemrakarsa, instansi yang bertanggung
jawab yang membidangi rencana usaha atau kegiatan, dan
penyusunan studi ANDAL tentang lingkup dan kedalaman studi
ANDAL yang akan dilakukan.
2) Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilaian dokumen
ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL
Manfaat dari adanya penyusunan Kerangka Acuan ANDAL
adalah :
1) Kerangka Acuan menggambarkan ruang lingkup sesuatu
pekerjaan yang disepakati bersama oleh pihak yang
berkepentingan. Dengan disepakatinya ruang lingkup pekerjaan
tersebut maka semua pihak akan berpegang pada Kerangka Acuan
tersebut, baik dalam proses pelaksanaan pekerjaan maupun dalam
evaluasinya. Semua pihak dalam hal ini adalah pihak pemrakarsa,
konsultan penyusun, komisi AMDAL, tim teknis dan instansi
teknis yang bertanggung jawab.
2) Kerangka Acuan sangat berguna untuk mempercepat proses
penyelesaian penusunan AMDAL.

b. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)


Dokumen Analisis Dampak Lingkungan merupakan uraian
prakiraan dan evaluasi dampak penting yang teridentifikasi dalam
pelingkupan dan tertera dalam Kerangka Acuan , sehingga ANDAL
hanya terfokus pada dampak penting saja. Sedangkan untuk dampak
yang tidak penting akan diabaikan.
Tujuan dari penyusunan Dokumen Analisis Dampak
Lingkungan (ANDAL) yaitu :
1) Mengemukakan masukan penting yang bermanfat bagi
pengambilan keputusan, perencanaan dan pengelolaan rencana
usaha atau kegiatan;
2) Mempermudah semua pihak dalam memahami isinya, termasuk
masyarakat, dan mempermudah bagi pemuatan dalam media
masa, bila dipandang perlu.
3) Memuat uraian singkat tentang :
a) Rencana kegiatan atau usaha dengan berbagai kemungkinan
dampak pentingnya. Baik pada tahap pra konstruksi, kontruksi
maupun pasca kontruksi.
b) Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data
informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan, yang
dihadapi selama menyusun ANDAL.
c) Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi
ringkasan
Dalam Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) ada 5 (lima)
tahapan kegiatan utama yang akan dilaksanakan sebagai berikut :
1) Pengumpulan Data dan Informasi tentang :
a) Komponen rencana kegiatan
Data yang dikumpulkan adalah data tentang berbagai
aktivitas rencana kegiatan baik pada pra kontruksi, kontruksi
maupun pasca kontruksi. Pemilihan data yang dikumpulkan
tersebut harus mengutamakan data yang berkaitan langsung
dengan berbagai dampak yang mungkin akan timbul apabila
rencana kegiatan tersebut akan dilaksanakan nantinya.
b) Komponen rona lingkungan awal
Data yang dikumpulkan terutama komponen
lingkungan (biogeofisik, sosial ekonomi, sosial budaya dan
kesehatan masyarakat), yang akan mengalami dampak akibat
rencana kegiatan maupun yang dapat mempengaruhi terhadap
rencana kegiatan tersebut.
2) Proyeksi Perubahan Rona Lingkungan Awal
Rona lingkungan awal merupakan kondisi lingkungan
sesuai hasil analisis data lingkungan yang dikumpulkan sebelum
ada kegiatan. Rona lingkungan awal ini akan mengalami
perubahan akibat adanya rencana kegiatan apabila telah
dilaksanakan nantinya. Besarnya perubahan lingkungan ini perlu
diketahui menurut ruang dan waktu bagi kepentingan evaluasi
maupun penanganan.
3) Evaluasi Dampak Penting
Pada tahap evaluasi dampak penting ini, uraian yang
disajikan meliputi hal-hal berikut ini :
a) Evaluasi dampak penting yang bersifat holistik terhadap
seluruh dampak yang diperkirakan. Seperti misalnya dampak
positif maupun dampak negatif dianalisis sebagai satu kesatuan
yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi sehingga akan
diketahui pertimbangannya.
b) Hubungan sebab akibat antara rencana kegiatan dengan rona
lingkungan. Setiap rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan
akan menimbulkan dampak yang berbeda pada rona
lingkungan yang berbeda.
c) Ciri dampak penting, pada bagian ini yang perlu dikemukakan
adalah sifat-sifat sesuatu dampak.
d) Luas penyebaran dampak penting, sesuatu dampak mungkin
akan mengenai sesuatu daerah yang sempit atau mungkin akan
sangat luas.
e) Cara pendekatan dalam penanganan dampak, hal ini memuat
cara penanganan dampak yang mungkin akan terjadi, baik dari
segi ekonomi, teknologi maupun instansi. Dari segi ekonomi
misalnya dengan bantuan, untuk menanggulangi masalah
lingkungan. Dari segi teknologi adalah dengan cara
membatasi, mengisolasi atau menetralisasi terhadap bahan
berbahaya dan bahan beracun. Dari segi instansi misalnya
dengan memperluas sistem pengelolaan agar hal yang
menyangkut penanggulangan masalah lingkungan dengan jalan
merangsang kerjasama dengan berbagai pihak untuk
meningkatkan pengawasan dan lain sebagainya.
4) Alternatif Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan
Uraian ini akan memuat hal-hal sebagai berikut :
a) Komponen lingkungan terkena dampak, sumber dampak, tolak
ukur dan bobot dampak untuk kepentingan pengelolaan
maupun pemantauan lingkungan.
b) Metode pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang
mencakup faktor biogeofisik-kimia, sosial ekonomi, sosial
budaya dan kesehatan masyarakat.
c) Saat pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan
dilaksanakan frekwensi kekerapannya menurut ruang dan
waktu.
d) Pelaksanaan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan.
c. Rencana Pengelolaan Lingkungan
Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
merupakan dokumen yang memuat upaya-upaya mencegah,
mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan
yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul
sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan.
Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan
mencakup empat kelompok aktivitas antara lain :
1) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau
mencegah dampak penting yang bersifat negatif melalui
pemilihan atas alternatif, tata letak lokasi dan rencana bangun
proyek.
2) Pengelolan lingkungan yang bertujuan untuk menanggulangi,
meminimalisasi atau mengendalikan dampak negatif baik yang
timbul di saat usaha atau kegiatan beroperasi, maupun hingga saat
usaha atau kegiatan terakhir.
3) Pengelolaan lingkungan yang bersifat meningkatkan dampak
positif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang
lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama
masyarakat yang turut menikmati dampak positif tidak hanya
pada manfaat ekonomi saja.
4) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan memulihkan atau
merehabilitasi fungsi-fungsi tertentu ekosistem yang terkena
dampak penting negatif sebagai kompensasi atas sumber daya
tidak dapat pulih, hilang atau rusak sebagai akibat usaha atau
kegiatan.
Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi
kelayakan, maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan
pokok-pokok arahan, prinsip-prinsip atau persyaratan untuk
mencegah/mengendalikan dampak. Akan tetapi apabila dipandang
perlu dapat dilengakapi dengan acuan literatur tentang rancangan
bangunan untuk pencegahan dan pengendalian dampak.

d. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)


Yang dimaksud dengan pemantauan adalah pengukuran
berdasarkan waktu atau suatu pengukuran yang berulang-ulang pada
waktu-waktu tertentu. Sehingga pengertian dari pemantauan
lingkungan adalah pengulangan pengukuran pada komponen-
komponen atau parameter lingkungan pada waktu-waktu tertentu.
Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami
fenomena-fenomena yang terjadi pada tingkatan, mulai dari tingkat
proyek sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional, tergantung
pada skala keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul.
Disamping skala keacuhan, ada 2 kata kunci yang
membedakan pemantauan merupakan suatu kegiatan yang
berorientasi pada data sistematik, berulang dan terencana.dengan
demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan
yang bersifat acak dan sesaat.
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam
penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan, antara lain
adalah :
1) Komponen/parameter lingkungan yang dipantau hanyalah yang
mengalami perubahan mendasar, atau terkena dampak penting.
Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan yang harus
dipantau, hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan
tidak perlu dipantau.
2) Uraian tentang keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen
ANDAL, RKL dan RPL. Aspek-aspek yang dipantau perlu
memperhatikan benar dampak penting yang dinyatakan dalam
ANDAL, dan sifat pengelolaan dampal lingkungan yang
dirumuskan dalam dokumen RKL.
3) Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan
atau terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak.
4) Pemantauan lingkungan harus layak secara ekonomi walau aspek-
aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting
saja, namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu
diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa
berlangsung sepnjang usia, usaha atau kegiatan.
5) Rencana pengumpulan dan analisis data serta aspek-aspek yang
akan dipantau, mencakup hal :
a) Jenis data yang dikumpulkan
b) Lokasi pemantauan
c) Frekwensi dan jangka waktu pemantauan
d) Metode pengumpulan data

6) Dokumen RPL perlu memuat kelembagaan pemantauan


lingkungan, yang dimaksud disini adalah instansi yang
bertanggung jawab sebagai penyandang dana pemantauan,
pelaksanaan pemantauan, penggunaan hasil pemantauan dan
pengawasan kegiatan pemantauan.

2. Proses Penilaian Dokumen AMDAL


Dari Panduan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Di
Indonesia pula dapat penulis ketahui, bahwa proses penilaian dokumen
KA-ANDAL, ANDAL, RKL dan RPL secara formal dilakukan dalam
sidang Komisi Penilai AMDAL Pusat yang berkedudukan di
BAPEDAL untuk menilai dokumen AMDAL dari usaha dan/atau
kegiatan yang bersifat strategis, lokasinya melebihi satu propinsi,
berada di wilayah sengketa, berada di ruang lautan, dan/ atau lokasinya
dilintas batas negara Republik Indonesia dengan negara lain. Jika dalam
suatu dokumen AMDAL terdapat ketidaksiapan, ketidaklengkapan
maupun rendahnya kualitas dokumen yang diserahkan untuk dinilai
akan menghambat proses penilaian, karena Komisi Penilai tidak dapat
segera mengambil keputusuan.
Beberapa faktor yang dapat mempercepat keseluruhan proses
penilaian, sekaligus meningkatkan kualitas pengembilan keputusan,
yaitu:
a. Melaksanakan dengan cermat langkah-langkah proses pengajuan
dokumen AMDAL.
b. Faktor yang mempengaruhi presentasi dan diskusi dalam sidang.
c. Faktor yang mempengaruhi kelulusan dokumen AMDAL.
Penilaian dokumen AMDAL dilakukan untuk beberapa
dokumen dan meliputi penilaian terhadap kelengkapan administrasi dan
isi dokumen. Dokumen yang di nilai adalah meliputi:
a. Penilaian dokumen Kerangka Acuan (KA), meliputi :
1) Kelengkapan administrasi
2) Isi dokumen, yang terdiri dari:
a) Pendahuluan
b) Ruang lingkup studi
c) Metode studi
d) Pelaksanaan studi
e) Daftar pustaka dan lampiran
b. Penilaian dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)
1) Kelengkapan administrasi
2) Isi dokumen, yang terdiri dari:
a) Pendahuluan
b) Ruang lingkup studi
c) Metode studi
d) Rencana usaha dan /atau kegiatan
e) Rona lingkungan awal
f) Prakiraan dampak penting
g) Evaluasi dampak penting
h) Daftar pustaka dan lampir
c. Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), meliputi:
1) Lingkup RKL
2) Pendekatan RKL
3) Kedalaman RKL
4) Rencana pelaksanaan RKL
5) Daftar pustaka dan lampiran
d. Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), meliputi:
1) Lingkup RPL
2) Pendekatan RPL
3) Rencana pelaksanaan RPL
4) Daftar pustaka dan lampiran.

3. Lingkup Tanggung Jawab Badan Lingkungan Hidup Kabupaten


Sukoharjo dalam Penilaian Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Ibu Eny
Kristianti,S.T selaku Kepala Sub bidang pengkajian kelayakan dan
penegakan hukum lingkungan pada Badan Lingkungan Hidup
Kabupaten Sukoharjo bahwa Anggota komisi penilai terdiri dari
institusi sektoral atau dari pemerintah daerah (bukan dari tim penilai
tetap), dimana institusi sektoral atau dari pemerintah daerah tersebut
sering kali belum banyak menguasai mengenai AMDAL. Penilaian oleh
LSM dan wakil dari masyarakat kadang-kadang kurang obyektif. Tim
teknis yang ikut duduk di dalam komisi penilai perlu lebih memahami
peran bidangnya dalam AMDAL.
Dijelaskan pula bahwa lingkup tanggung jawab Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo dalam penilaian AMDAL
sebatas dalam hal pengawasan terhadap penaatan terhadap hasil laporan
AMDAL yang meliputi:
a. Melakukan pendataan terhadap usaha atau kegiatan yang berpotensi
menimbulkan pencemaran.
b. Menetapkan ketentuan teknis pada pengelola usaha sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. Melakukan pembinaan dan bimbingan baik secara teknis maupun
administrasi pada pengelola usaha atau kegiatan.

4. Sanksi yang dapat dikenakan kepada wajib AMDAL


Sanksi yang dapat dikenakan kepada wajib AMDAL jika tidak
melakukan penyusunan dan mengajukan dokumen untuk dilakukan
penilaian, sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 antara
lain sebagai berikut :
a. Berdasarkan ketentuan Pasal 37 Ayat (1), bahwa apabila suatu usaha
dan/atau kegiatan yang memiliki dampak besar dan penting tidak
dilengkapi dengan AMDAL maka bupati wajib menolak
permohonan izin lingkungan sesuai kewenangannya.
b. Menurut ketentuan Pasal 40 Ayat (2), jika izin lingkungan dicabut,
maka izin usaha dan/atau kegiatan dibatalkan.
Dari ketentuan Pasal diatas maka dapat diartikan bahwa izin
lingkungan tidak akan diterbitkan jika penanggung jawab suatu usaha
dan/atau kegiatan tidak melakukan penyusunan AMDAL terhadap
usaha dan/atau kegiatan tersebut.
Sedangkan untuk suatu usaha dan/atau kegiatan yang sudah
berjalan dan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap
lingkungan, namun belum memiliki dokumen Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan, maka sesuai dengan ketentuan Pasal 46 Ayat (1)
Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 9 Tahun 2009 Tentang
Pengendalian Dampak Lingkungan bahwa penanggung jawab suatu
usaha dan/atau kegiatan tersebut harus melakukan audit lingkungan
hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
C. Hambatan Yang Dihadapi Badan Lingkungan Hidup Kabupaten
Sukoharjo Dalam Penilaian Dokumen Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan
Dalam hal penilaian dokumen AMDAL, Badan Lingkungan Hidup
Kabupaten Sukoharjo berada dalam lingkup memberikan pengawasan
terhadap ketaatan para pemrakarsa dalam penyusunan dan penilaian
AMDAL. Pengawasan penyusunan dan penilaian AMDAL pada Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo merupakan kewenangan dari Sub
Bidang pengkajian kelayakan dan penegakan hukum lingkungan.
Implementasi Undang-undang No.32 Tahun 2009 tentang pengendalian
dan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyusunan dan penilaian
AMDAL di Kabupaten Sukoharjo tergolong cukup berhasil, ini salah
satunya terbukti dengan dibuatnya dokumen AMDAL oleh pemrakarsa
dari pemilik usaha “PT. Sampurna Ethanol” dengan lokasi usaha di desa
Pengkol Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo. Tetapi dalam mencapai
tujuan keberhasilan tersebut tentunya tidak luput dari adanya berbagai
kendala, baik kendala yang bersifat internal maupun kendala yang bersifat
eksternal.
Seperti yang telah disampaikan oleh ibu Eny Kristianti, beberapa
kendala yang bersifat internal, yang berasal dari dalam Badalan
Lingkungan Hidup sendiri , seperti :
1. Baru dibentuknya Tim komisi penilai dan tim teknis penilai AMDAL
kabupaten Sukoharjo akan tetapi masih terdapat kendala pada
kurangnya tenaga ahli geologi sehingga berakibat tidak dapat
dikeluarkannya rekomendasi untuk pembentukan komisi penilai dan tim
teknis penilai AMDAL kabupaten Sukoharjo.
2. Kurangnya sistem pengawasan dari Badan Lingkungan Hidup
mengenai evaluasi laporan secara periodik dari perusahaan.
3. Untuk pengawasan di lapangan selalu terbentur oleh biaya.
Sedangkan kendala yang bersifat eksternal, yang meupakan
kendala yang berasal dari luar Badan Lingkungan Hidup, seperti :
1. Perusahan pemilik kegiatan dan/atau usaha sebagai pemrakarsa
AMDAL yang seharusnya wajib memberikan laporan secara periodik
per semester kepada Badan Lingkungan Hidup, tetapi seringkali
perusahaan mengabaikan dan tidak melakukan pelaporan.
2. Belum meratanya pengetahuan masyarakat mengenai peran sertanya
dalam penyusunan AMDAL.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam mengatasi kendala internal
maupun eksternal yang dihadapi oleh Badan Lingkungan Hidup
Kabupaten Sukoharjo dalam penilaian dokumen analisis mengenai dampak
lingkungan yaitu:
1. Belum bisa dikeluarkannya rekomendasi untuk pembentukan komisi
penilai AMDAL dan tim teknis penilai AMDAL Kabupaten Sukoharjo
karena kurangnya tenaga ahli geologi, maka pihak Badan Lingkungan
Hidup berusaha mencari tim teknis ahli geologi.
2. Badan Lingkungan Hidup lebih sering melakukan pengawasan dengan
cara turun langsung ke lapangan, yaitu dengan sistem jemput bola.
3. Mengenai pengawasan di lapangan yang sering kali terbentur biaya,
Badan Lingkungan Hidup menambahkan anggaran pada APBD guna
pengawasan di lapangan.
Sedangkan untuk menghadapi endala yang bersifat eksternal maka
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo mengambil langkah
sebagai berikut :
1. Dalam hal Perusahaan pemilik kegiatan dan/atau usaha sebagai
pemrakarsa AMDAL yang seharusnya wajib memberikan laporan
secara periodik per semester kepada Badan Lingkungan Hidup, tetapi
seringkali perusahaan mengabaikan dan tidak melakukan pelaporan,
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo mengambil langkah
untuk selalu memberikan peringatan kepada para pemrakarsa untuk
selalu memberikan laporan secara periodik, baik peringatan secara lisan
maupun tertulis.
2. Masih rendahnya pengetahuan masyarakat megenai peran sertanya
dalam penyusunan AMDAL, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten
Sukoharjo bekerjasama dengan pemerintah desa pada saat melakukan
pengumuman mengenai pembangunan perusahaan dan penyusunan
AMDAL sekaligus untuk memberikan pengetahuan mengenai peran
serta masyarakat dalam penyusunan AMDAL.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat
disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. a. Tanggung jawab Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo
dalam penilaian dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL) berada pada lingkup pengawasan yaitu :
1) Melakukan pendataan terhadap usaha atau kegiatan yang
berpotensi menimbulkan pencemaran.
2) Menetapkan ketentuan teknis pada pengelola usaha sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3) Melakukan pembinaan dan bimbingan baik secara teknis maupun
administrasi pada pengelola usaha atau kegiatan.
b. Sanksi yang dapat diterapkan bagi pemrakarsa yang tidak melakukan
penyusunan dan mengajukan penilaian AMDAL, yaitu :
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 antara
lain sebagai berikut :
1) Berdasarkan ketentuan Pasal 37 Ayat (1), bahwa apabila suatu
usaha dan/atau kegiatan yang memiliki dampak besar dan penting
tidak dilengkapi dengan AMDAL maka bupati wajib menolak
permohonan izin lingkungan sesuai kewenangannya.
2) Menurut ketentuan Pasal 40 Ayat (2), jika izin lingkungan dicabut,
maka izin usaha dan/atau kegiatan dibatalkan.
3) Untuk suatu usaha dan/atau kegiatan yang sudah berjalan dan
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan,
namun belum memiliki dokumen Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan, maka sesuai dengan ketentuan Pasal 46 Ayat (1)
Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 9 Tahun 2009
Tentang Pengendalian Dampak Lingkungan bahwa penanggung
jawab suatu usaha dan/atau kegiatan tersebut harus melakukan
audit lingkungan hidup.
2. a. Hambatan Badan Lingkungan Hidup dalam melakukan pengawasan
sebagai lingkup tanggung jawab dalam penilaian AMDAL yaitu :
1) Kendala Internal
a) Baru dibentuknya Tim komisi penilai dan tim teknis penilai
AMDAL kabupaten Sukoharjo akan tetapi masih terdapat
kendala pada kurangnya tenaga ahli geologi sehingga
berakibat tidak dapat dikeluarkannya rekomendasi untuk
pembentukan komisi penilai dan tim teknis penilai AMDAL
Kabupaten Sukoharjo.
b) Kurangnya sistem pengawasan dari Badan Lingkungan
Hidup mengenai evaluasi laporan secara periodik dari
perusahaan.
c) Untuk pengawasan di lapangan selalu terbentur oleh biaya.
2) Kendala Eksternal
a) Perusahan pemilik kegiatan dan/atau usaha sebagai
pemrakarsa AMDAL yang seharusnya wajib memberikan
laporan secara periodik per semester kepada Badan
Lingkungan Hidup, tetapi seringkali perusahaan
mengabaikan dan tidak melakukan pelaporan.
b) Belum meratanya pengetahuan masyarakat mengenai peran
sertanya dalam penyusunan AMDAL.

b. Langkah-langkah yang ditempuh dalam mengatasi kendala internal


maupun eksternal yaitu:
1) Kendala Internal
a) Belum bisa dikeluarkannya rekomendasi untuk pembentukan
komisi penilai AMDAL dan tim teknis penilai AMDAL
Kabupaten Sukoharjo karena kurangnya tenaga ahli geologi,
maka pihak Badan Lingkungan Hidup berusaha mencari tim
teknis ahli geologi.
b) Badan Lingkungan Hidup lebih sering melakukan pengawasan
dengan cara turun langsung ke lapangan, yaitu dengan sistem
jemput bola.
c) Mengenai pengawasan di lapangan yang sering kali terbentur
biaya, Badan Lingkungan Hidup menambahkan anggaran pada
APBD guna pengawasan di lapangan.
2) Sedangkan untuk menghadapi kendala yang bersifat eksternal
maka Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo mengambil
langkah sebagai berikut :
a) Dalam hal Perusahaan pemilik kegiatan dan/atau usaha sebagai
pemrakarsa AMDAL yang seharusnya wajib memberikan
laporan secara periodik per semester kepada Badan
Lingkungan Hidup, tetapi seringkali perusahaan mengabaikan
dan tidak melakukan pelaporan, Badan Lingkungan Hidup
Kabupaten Sukoharjo mengambil langkah untuk selalu
memberikan peringatan kepada para pemrakarsa untuk selalu
memberikan laporan secara periodik, baik peringatan secara
lisan maupun tertulis.
b) Masih rendahnya pengetahuan masyarakat megenai peran
sertanya dalam penyusunan AMDAL, Badan Lingkungan
Hidup Kabupaten Sukoharjo bekerjasama dengan pemerintah
desa pada saat melakukan pengumuman mengenai
pembangunan perusahaan dan penyusunan AMDAL sekaligus
untuk memberikan pengetahuan mengenai peran serta
masyarakat dalam penyusunan AMDAL.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta kesimpulan diatas,
maka penulis memberikan saran sebagai berikut :
1. Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo sesegera mungkin
mengupayakan tenaga teknis geologi supaya mendapatkan rekomendasi
pembentukan komisi penilai AMDAL daerah Kabupaten Sukoharjo guna
kelancaran penilaian AMDAL di Kabupaten Sukoharjo.
2. Perlunya memberikan peringatan yang lebih tegas terhadap perusahaan
agar memberikan laporan per semester mengenai jalannya perusahaan.
3. Badan Lingkungan Hidup harus lebih mensosialisasikan AMDAL di
tingkat desa, sehingga masyarakat akan lebih mengerti seluk beluk
AMDAL bukan hanya saat akan ada penyusunan AMDAL di lingkungan
tempat tinggalnya saja, tetapi AMDAL juga sebagai suatu pengetahuan.
Daftar Pustaka

Buku

Chandera dan rekan. 2004. Modul Mata Kuliah Eksaminasi. Yogyakarta :


Universitas Katolik Atma Jaya Yogyakarta.

Gatot P. Soemartono. 2004 . Hukum Lingkungan Indonesia . Jakarta : Sinar


Grafika Offset.

H.B. Sutopo. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta : UNS Press.

Inu Kencana Syafiie. 2006 . Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia


(SANRI) . Jakarta : Sinar Grafika Offset.

Koesnadi Hardjasoemantri. 2002. Hukum Tata Lingkungan. Yogyakarta : Gadjah


Mada University Press.

Lawrence M. Friedmen. 1975. The Legal System: A Social Science Perspective.


New York: Russel Sage Foundation.

Lexy J. Moleong. 2009. Metodologi penelitian kulitatif. Bandung : PT. Remaja


Rosdakarya.

Nursyahid H.N. 2000 . Panduan Penyusunan AMDAL dan Budi Daya Kawasan
Lindung. Jakarta : BP. Panca Usaha.

Otto Soemarwoto. 2003 . Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . Yogyakarta :


Gadjah Mada University Press.
Peter Mahmud Marzuki. 2008. Pengantar ilmu hukum. Jakarta : Kencana Prenada
Media Group.

Satjipto Raharjo. Ilmu Hukum. 1996. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.

Sasmini. Materi Ajar Metodologi Penelitian Hukum. Surakarta : UNS Fakultas


Hukum.

Soerjono Soekanto. 1986. Pengantar Penelitian Hukum . Jakarta : UI Press.

Wasis SP. 1998. Pengantar Ilmu Hukum . Malang : Medio.

Jurnal

Absori. 2005. Penegakan Hukum Lingkungan Pada Era Reformasi. Jurnal Ilmu
Hukum. Vol. 8, No. 2.

Allan Ingelson, William Holden, & Meriam Bravante. 2009.Philippine


Environmental Impact Assessment, Mining And Genuine Development.
Environment and Development Journal.Vol. 5, No. 1.

H.J.Mukono. 2005. Kedudukan AMDAL Dalam Pembangunan Berwawasan


Lingkungan yang Berkelanjutan (Sustainable Development). Jurnal
Kesehatan Lingkungan. Vol. 2, No.1.

Joe D. Whitley and David B. Weinstein and Douglas S. Arnold and David M.
Meezan. 2003. The Recent Decisions in Hanousek, Hong, and Hansen.
The Expanding Criminalization of Environmental Laws. Vol. LXXVII,
No. 1.
Internet
Gilang Kurniawan. Pelaksanaan Prinsip Tanggung Jawab Mutlak Strict Liability
Pencemar Lingkungan Hidup. http://gilangkurnia.blogspot.com> [2
November 2010 pukul 22.00]

Green & smile office BPLHD Propinsi Jawa Barat. AMDAL .


http://www.bplhdjabar.go.id> [1 November 2010 pukul 20.45].

Ilham. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. http://www.migas-


indonesia.com> [24 Oktober 2010 pukul 21.30].

Prof. Mukono. Analisis Mengenai DAmpak Lingkungan (AMDAL) dan Faktor


Recovery Ekonomi. http://mukono.blog.unair.ac.id> [1 November 2010
pukul 21.30].

Perundang-undangan

Kitab Undang-undang Hukum Perdata

Undang-undang Nomor 32Ttahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup.

Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak


Lingkungan Hidup.

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 8 Tahun 2006 tentang


Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 17 tahun 2001 tentang


Jenis Rencana dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo nomor 9 tahun 2009 tentang
Pengendalian Lingkungan Hidup.