Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

BAHAN PERKERASAN JALAN


Pemeriksaan J - 11
Campuran Aspal Dengan Alat Marshall
(PC – 0201 – 76)
(AASHTO T – 245 – 82)
(ASTM D – 1559 – 76)

KELOMPOK III :

Stephen Christianto 121070008


Rama Krisna Janitra 121070007
Rahmat Pane 121070003
Rusli 121070010
Dian Andika Noviera 121070005

Waktu Praktikum : 29 Desember 2008 – 5 Januari 2009


Asisten Praktikum : Adrian Salman
Tanggal disetujui :
Nilai :
Paraf :

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan


Jurusan Teknik Sipil
Institut Teknologi Indonesia
CAMPURAN ASPAL DENGAN ALAT MARSHALL

I. Teori
Aspal adalah salah satu bagian penting dalam struktur perkerasan jalan. Dalam
penggunaannya, aspal memiliki banyak faktor yang harus turut diperhatikan guna
mendukung kinerja dari campuran aspal, diantaranya Ketahanan atau kestabilan
aspal (Stabilitas), Daya tahan aspal (Durability), Kelenturan (Flexibility).
Pemeriksaan menggunakan alat marshall sendiri adalah salah satu pemeriksaan
dari berbagai pemeriksaan selain ITS (Indirect Tensile Strength Test), dan
pemeriksaan lain dikarenakan sangat sulit mencari satu cara pemeriksaan untuk
meneliti semua faktor pendukung kinerja aspal. Alat Marshal sendiri berguna
untuk menentukan ketahanan (Stabilitas) terhadap kelelehan plastis (Flow) yang
merupakan salah satu faktor yang dibutuhkan untuk mendukung kinerja aspal.

II. Prosedur

II.1 Tujuan Praktikum

Pemeriksaan ini bertujuan menentukan Stabilitas terhadap kelelehan plastis dari


campuran aspal. Ketahanan (Stabilitas) ialah kemampuan suatu campuran aspal
untuk menerima beban sampai terjadi kelelehan yang dinyatakan dalam kilogram
atau pound. Sementara kelelehan plastis ialah keadaan perubahan bentuk suatu
campuran aspalyang terjadi akibat suatu beban sampai batas runtuh yang
dinyatakan dalam milimeter atau 0,01inch.
II.1 Peralatan
a) 3 buah cetakan benda uji yang berdiameter 10 cm (4”) dan
tinggi 7,5 cm (3”) lengkap dengan pelat alas dan leher sambung.
b) Alat pengeluar benda uji. Untuk mengeluarkan benda uji
yang sudah dipadatkan dari dalam cetakan benda uji dipakai sebuah alat
ejector seperti dongkrak.
c) Penumbuk yang emmpnyai permukaan tumbuk rata
berbentuk silinder, dengan berat 4,536 kg (10 pound), dan tinggi jauh lebih
bebas 45,7 cm (18”).
d) Landasan pemadatan terdiri dari balok kayu (Jati atau sejenis)
berukuran kira – kira 20 x 20 x 45 cm (8” x 8” x 18”) yang dilapisi dengan
pelat baja berukuran 30 x 30 x 2,5 cm (12” x 12” x 1”) dan kaitkan pada
lantai beton dengan 4 bagian siku sebagai pijakan.
e) Silinder cetakan benda uji.
f) Mesin tekan lengkap dengan :
i. Kepala penenkan berbentuk lengkung (breaking head)
ii. Cincin penguji yang berkapasitas 2500 Kg (5000 pound) dengan
ketelitian 12,5 Kg (25 pound) dilengkapi arloji tekan dengan
ketelitian 0,0025 cm (0,0001”)
iii. Arloji kelelahan dengan ketelitian 0,25 mm (0,01”) dengna
perlengkapannya.
g) Oven,yang dilengkapi dengan Pengatur suhu untuk memanasi
sampai (200 ± 3)°C.
h) Bak perendam (Waterbath) dilengkapi dengan pengatur suhu
min 20°C.
i) Perlengkapan lain :
i. Panci – panci untuk memanaskan agregat aspal dan campuran aspal.
ii. Pengukuran suhu dari logam (metal thermometer) berkapasitas
250°C dan 100°C dengan ketelitian 0,5 atau 1% dari kapasitas.
iii. Timbangan yang dilengkapi penggantung benda uji berkapasitas
2 kg dengan ketelitian 0,1 gram dan timbangan berkapasitas 5 kg
ketelitian 1 gram.
iv. Kompor. Sarung asbes dan karet.Sendok pengaduk dan
perlengkapan lain.

II.2 Benda Uji


a) Persiapan benda uji :
Keringkan agregat sampai beratnya tetap pada suhu (105 ± 5)°C.
Pisahkan agregat dengan cara penyaringan kering kdalam fraksi – fraksi
yang dikehendaki atau seperti beikut ini :
1” sampai 3/4”
3/4” sampai 3/8”
3/8” sampai No 4 (4,76 mm)
No 4 sampai No 8 (2,38 mm)
Lewat saringan No 8 (2,38 mm)
b) Penentuan suhu pencampuran dan pemadatan.
Suhu pencampuran dan pemadatan harus ditentukan sehingga bahan
pengikat yang dipakai menghasilkan viscositas seperti tabel 5.

TABEL 5 Viskositas Penentuan Suhu


Campuran Pemadatan
Bahan
Kinematik Saybolt Furol Engler Kinematik Saybolt Furol Engler
Pengikat
C.St Det S. F. C.St Det S. F.
Aspal Panas 170 ± 20 85 ± 10 280 ± 30 140 ± 15
Aspal Dingin 170 ± 20 85 ± 10 280 ± 30 140 ± 15
Tar 25 ± 3 40 ± 5

c) Persiapan Campuran
Untuk tiap benda uji diperlukan aggregat sebanyak ± 1200 gr sehingga
menghasilkan tinggi benda uji kira – kira 6,25 cm ± 0,125 (2,5” ± 0,05”)
Panaskan panci pencampuran deserta aggregat Kira – Kira 28°C diatas
suhu pencampuran untuk aspal panas dan aduk sampai merata, untuk aspal
dingin pemanasan sampai 14°C diatas suhu pencampuran.
Sementara itu panaskan aspal sampai suu pencampuran. Tuangkan aspal
sebanyak yang dibutuhkan ke dalam aggregat yang sudah dipanaskan
tersebut. Kemudian aduklah dengan cepat pada suhu sesuai tabel 5 sampai
aggregat terlapis merata oleh aspal.
d) Pemadatan Benda uji
Bersihkan perlengkapan cetakan benda uji serta bagian muka penumbuk
dengan seksama dan panaskan sampai suhu 93,3°C dan 148,9°C.
Letakan selembar kertas saring atau kertas penghisap yang sudah digunting
menurut ukuran cetakan kedalam dasar cetakan, kemudian masukkan
seluruh campuran kedalam cetakan dan tusuk – tusuk campuran keras –
keras disekeliling pinggirannya dan bagian dalam agar tidak ada rongga
udara.

Lepaskan lehernya dan ratakanlah permukaan campuran dengan


mempergunakan sendok semen menjadi bentuk yang sedikit cembung.
Waktu akan dipadatkan suhu campuran harus dalam batas – batas suhu
pemadatan seperti yang disebut pada tabel 5.

Letakkan cetakan diatas landasan pemadatan, dalam pemegang cetakan.


Lakukan pemadatan dengan alat penumbuk sebanyak 75, 50, atau 35 kali
sesuai kebutuhan dengan tinggi jatuh 45 cm (18”), selama pemadatan
tahanlah agar sumbu palu pemadatan selalu tegak terhadap cetakan.
Lepaskan keping alas dan lehernya balikkan alat cetak berisi benda uji dan
pasang kembali lehernya lalu tumbukalah sejumlah tumbukkan yang sama
dengan sebelumnya.

Sesudah pemadatan, lepaskan keping alas dan pasanglah alat pengeluar


benda uji pada permukaan ujung ini.

Dengan hati – hati keluarkan dan letakkan benda uji diatas permukaan rata
yang halus, biarkan selama kira – kira 24 jam pada suhu ruangan
II.2 Cara Melakukan
a) Bersihkan benda uji dari kotoran kotoran yang menempel.

b) Berilah tanda pengenal pada masing – masing benda uji.

c) Ukur benda uji dengan ketelitian 0,1 mm.

d) Timbang benda uji.

e) Rendam kira – kira 24 jam pada suhu ruangan.

f) Timbang dalam air untuk mendapatkan isi.

g) Timbang benda uji dalam kondisi kering permukaan jenuh.

h) Rendamlah benda uji dalam kondisi aspal panas atau ter dalam bak
perendam selama 30 sampai 40 menit atau dipanaskan didalam oven selam
2 jam dengan suhu tetap (60 ± 1) °C untuk benda uji aspal panas dan (38
± 1)°C untuk benda uji tar.Untuk benda uji aspal dingin masukan benda
uji kedalam oven selam minimum 2 jam dengan suhu tetap (25± 1) °C
Sebelum melakukan pengujian bersihkan batang penuntun (guide rod) dan
permukaan dalam dari kepala penekan (test head). Lumasi batang
penuntun sehingga kepala penekan yang atas dapat meluncur bebas, bila
dikehendaki kepal penekan direndam bersama – sama benda uji pada suhu
antara 21 sampai 38°C. Keluarkan benda uji dari bak perendam atau oven
pemanas udara dan letakkan kedalam segmen bawah kepala penekan.
Pasang segmen atas diatas benda uji dan letakkan keseluruhannya dalam
mesin penguji. Pasang arloji kelelehan (flow meter) pada kedudukannua
diatas salah satu batang penuntun dan atur jarum penunjunk pada angka
nol, sementara selubung tangki arloji (sleeve) dipegang teguh terhadap
segmen atas kepala penekan (breaking head). Tekan selubung tangkai
arloji kelelehan tersebut pada segmen atas dari kepala penekan selama
pembebanan berlangsung.
i) Sebelum pembebanan diberikan, kepala penekan beserta benda ujinya
dinaikkan hingga menyentuh alas cincin penguji. Atur kedudukan jarum
arloji tekan pada angka nol.
Berikan pembebanan kepada benda uji dengan kecepatan tetap sebesar 50
mm per menit sampai pembebanan maksimum tercapai atau pembebanan
menurut seperti yang ditunjukkan oleh jarum arloji tekan dan catat
pembebanan maksimum yang dicapai.
Lepaskan seubung tangka arloji kelelehan (sleeve) pada saat pembebanan
mencapai maksimum dan catat nilai kelelehan yang ditunjukkan oleh
jarum arloji. Waktu yang diperlukan dan saat diangkatnya benda uji dari
rendaman air sampai tercapainya beban maksimum tidak boleh melebihi
30 detik.

II.2 Catatan
Untuk benda uji yang tebalnya tidak sebesar 2,5 inci, koreksilah bebannya
dengan mempergunakan faktor pengali yang bersangkutan dari tabel 6. Umumnya
benda uji harus didinginkan seperti yang ditentukan diatas. Bila diperlukan
pendinginan yang lebih cepat dapat dipergunakan kipas angin meja. Campuran –
campuran yang daya kohesinya kurang sehingga pada waktu dikeluarkan dari cetakan
segera sesudah pemadatan tidak dapat menghasilkan bentuk silinder yang diperlukan
bisa didinginkan bersama – sama cetakannya di udara, sampai terjadi cukup kohesi
untuk menghasilkan bentuk silinder yang semestinya
TABEL 6 Faktor Koreksi Stabilitas

Tebal benda uji


Isi benda uji (cm) Angka Korelasi
(in) (m)
200 - 213 1 25.4 5.56
214 - 225 1 1/16 27.0 5.00
226 - 237 1 1/8 28.6 4.55
238 - 250 1 3/16 30.2 4.17
251 - 264 1 1/4 31.8 3.85
265 - 276 1 5/16 33.3 3.57
277 - 289 1 3/8 34.9 3.33
290 - 301 1 7/16 36.5 3.03
302 - 316 1 1/2 38.1 2.78
317 - 328 1 9/16 39.7 2.50
329 - 340 1 5/8 41.3 2.27
341 - 353 1 11/16 42.9 2.08
354 - 367 1 3/4 44.4 1.92
368 - 379 1 13/16 46.0 1.79
380 - 392 1 7/8 47.6 1.67
393 - 405 1 15/16 49.2 1.56
406 - 420 2 50.8 1.47
421 - 431 2 1/16 52.4 1.39
432 - 443 2 1/8 54.0 1.32
444 - 456 2 3/16 55.6 1.25
457 - 470 2 1/4 57.2 1.19
471 - 482 2 5/16 58.7 1.14
483 - 495 2 3/8 60.3 1.09
496 - 508 2 7/16 61.9 1.04
509 - 522 2 1/2 63.5 1.00
523 - 535 2 9/16 64.0 0.96
536 - 546 2 5/8 65.1 0.93
547- 559 2 11/16 66.7 0.89
560 - 573 2 3/4 68.3 0.86
574 - 585 2 13/16 71.4 0.83
586 - 598 2 7/8 73.0 0.81
599 - 610 2 15/16 74.6 0.78
611 - 625 3 76.2 0.76
a) Stabilitas benda uji yang diukur dikalikan angka perbandingan tebal sama
dengan stabilitas setelah koreksi untuk benda uji tabal 63.5 mm

b) Hubungan isi/tebal, didasarkan pada benda uji yang berdiameter 101,6 mm

III. Pengolahan Data


Perhitungan menentukan presentase aggregat dan filler dalam benda uji
Saringan
Nila
i
Ten
Sp gah
ec Spe Gradasi
Agregat Kasar Agregat Medium Agregat Halus Filler * c
(% lolos (% lolos
No. komulatif) (% lolos komulatif) (% lolos komulatif) komulatif) Gabungan
Total 9 % Total 22 % Total 64 % Total 5 % 100

1 1/2" (38.1 mm) - - - - - - - - - - -


1" (25.4 mm) 100,00 9,00
3/4" (19.1 mm) 100,00 9,00 100,00 22,00 100,00 64,00 100,00 5,00 100 100,00 100,00
1/2" (12.7 mm) 29,93 2,69 99,55 21,90 100,00 64,00 100,00 5,00 80 - 100 90,00 93,59
3/8" (9.52 mm) 8,16 0,73 68,75 15,13 100,00 64,00 100,00 5,00 70 - 90 80,00 84,86
No. 4 (4.76 mm) 0,45 0,04 7,45 1,64 100,00 64,00 100,00 5,00 50 - 70 60,00 70,68
No. 8 (2.38 mm) 0,00 0,00 3,20 0,70 63,44 40,60 100,00 5,00 35 - 50 42,50 46,31
No. 16 0,00 0,00 3,20 0,70 31,72 20,30 0,00 0,00 21,01
No. 30 (0.59 mm) 0,00 0,00 2,50 0,55 19,46 12,45 100,00 5,00 18 - 29 23,50 18,00
No. 50 (0.279
mm) 0,00 0,00 0,00 0,00 12,50 8,00 100,00 5,00 13 - 23 18,00 13,00
No. 100 (0.149
mm) 0,00 0,00 0,00 0,00 4,72 3,02 100,00 5,00 8 - 16 12,00 8,02
No. 200 (0.074
mm) 0,00 0,00 0,00 0,00 1,30 0,83 100,00 5,00 4 - 10 7,00 5,83
Pan 9,00 0,81 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,81

Tabel di atas menjelaskan persentase aggregat dan filler yang akan digunakan dalam
pembuatan benda uji aspal dari total berat keseluruhan benda uji dan didapat :
o Aggregat kasar sebesar 9%
o Aggregat medium sebesar 22%
o Aggregat halus sebesar 64%
o Filler sebesar 5%

Data di atas digunakan dalam penghitungan berat masing masing aggregat dengan
kadar aspal 5%, 6%, 7%, (sesuai kebutuhan praktikum) untuk 1200 gr benda uji untuk
selanjutnya dicampurkan.
Benda Uji 1200gr
Persentase Persentase Persentase
5% 6% 7%
Aspal 60gr 72gr 84gr
Benda Uji 1200gr – Aspal
Persentase Persentase Persentase
5% 6% 7%
Aggregat Kasar (9%) 102,6gr 101,52gr 100,44gr
Aggregat Medium
250,8gr 248,16gr 245,52gr
(22%)
Aggregat Halus (64%) 729,6gr 721,92gr 714,24gr
Filler (Semen) (5%) 57gr 56,4gr 55,8gr

Setelah prose pencampuran dan compact (penumbukkan) maupun perendaman selama


24 jam pada suhu ruangan di dapatkan sampel aspal dengan data sebagai berikut :
Tabel Berat Benda Uji
Kadar No Penimbangan dalam keadaan
Aspal Sampel Kering Jenuh Dalam Air
5% 1164.5 gr 1178 gr 650 gr
6% I 1152.0 gr 1132 gr 625 gr
7% 1126.0 gr 1132.5 gr 634.5 gr
5% 1120.5 gr 1161.5 gr 642.5 gr
6% II 1104.5 gr 1114.5 gr 619 gr
7% 1123.0 gr 1113.1 gr 631 gr
5% 1174.5 gr 1187 gr 657.5
6% III 1104.0 gr 1109 gr 623 gr
7% 1209.0 gr 1217 gr 677 gr

Tabel Tinggi Benda Uji

Ketinggian Benda Uji dari 3 titik


Kadar Rata rata
Sampel (mm)
Aspal (mm)
I II III
I 64,5 63,4 63 63,6
5% II 63 62,8 62,7 62,8
III 65,1 65 64,1 64,7
I 62 61,5 62,2 61,9
6% II 60,55 60,45 60,6 60,5
III 59,4 58,7 59,3 59,1
I 61 61 61,3 61,1
7% II 61,1 62 62,1 61,7
III 66,6 67 67,7 67,1

Setelah benda uji direndam selama ± 30 menit dengan suhu ekstrim (60 ± 1)°C untuk
mengkondisikan aspal dalam keadaan yang mungkin terjadi di lapangan (kondisi
nyata) dengan suhu pemanasan matahari dan basah akibat hujan, lalu dilanjutkan
dengan Marshall test dan di dapat data sebagai berikut:

Hasil Aspal
Sampel
Marshall 5% 6% 7%
I 44 32 39
Stabilitas
II 37 38 37
(O) Kg
III 45 46 30
I 3,3 3,27 3,48
Kelelehan
II 3,4 3,55 3,94
(r) mm
III 2,9 3,12 3,76
Data yang dibutuhkan :

o a = Persen Aspal terhadap campuran (5%, 6%, 7%)


o b = Rata – rata tinggi benda uji
o c = Berat sampel dalam keadaan kering
o d = Berat sampel dalam keadaan jenuh
o e = Berat sampel dalam air
o f = Isi (d – e)
o g = Berat isi benda uji (c / f)
100
o h = Berat jenis teoritis = %. agregat +
%. aspal
B.J .agregat B.J .aspal
a ×g
o i =
B.J .aspal
(100 ×a ) g
o j =
B.J .agregat
o k = Jumlah kandungan rongga (100 – i – j)
o l = Persen rongga terhadap agregat (100 – j)
o m = VMA = Voids Mineral Agregat
= Persen rongga terisi aspal (100 x (i / j))
o n = VIM = Voids in the Mix
= Persen rongga terhadap campuran (100 – (100(g / h))
o o = Pembacaan arloji stabilitas (O)
o p = Stabilitas (o x kalibrasi alat)
o q = Stabilitas (p x korelasi tinggi)
o r = Kelelehan (r)
o s = Stabilitas / kelelehan (q / r)

Data yang didapatkan :

o B.J. Agregat kasar bulk = 2,85 kg/L


o B.J. Agregat medium bulk = 2,42 kg/L
o B.J. Agregat halus bulk = 3,01 kg/L
o B.J.Filler = 3,15 kg/L
o B.J.Aspal = 0,91 kg/L
o B.J. Agregat
=
100
%. A.K %. A.M %. A.H %. Filler
+ + +
B.J . A.K .Bulk B.J . A.M .Bulk B.J . A.H .Bulk B.J .Filler .Bulk
100
= 0,09 0, 22 0,64 0,05 = 284,911 kg/L
+ + +
2,85 2,42 3,01 3,15
o B.J.Theoritis
100
= %. Agregat +
%. Aspal
B.J . Agregat B.J . Aspal

III. Analisa

III.1 Analisa Percobaan


Pengujian ini dilakukan dengan tujuan mencari Stabilitas terhadap kelelehan yang
untuk selanjutnya digunakan dalam perbandingan mencari kadar aspal maksimum
campuran perkerasan jalan dari sampel yang telah dipakai dengan aspal sebanyak 5%,
6%, 7% dari berat benda uji. Dalam perhitungannya mencari kadar aspal optimum
dilakukanlah percobaan – percobaan untuk mendapat nilai seperti berat jenis agregat
dan sebagainya yang untuk selanjutnya diproses dalam tabel maupun grafik. Setelah
di dapat persen agregat serta persen filler dari percobaan analisa saringan, didapatkan
berat masing – masing agregat dalam 1 sampel benda uji yang akan dipakai dalam
Marshall test. Agregat dalam keadaan kering oven serta filler dipanaskan hingga
mencapai suhu ± 150°C agar dalam proses pencampuran agregat dan aspal saling
mengikat sempurna, proses selanjutnya adalah pencetakan campuran aspal dan
agregat ke dalam cetakan silinder yang diberi alas berupa kertas saring dengan selalu
diusahakan semua campuran mengisi semua bagian cetakan lalu tutup kembali dengan
kertas saring.

Cetakan berikut campuran aspal tersebut selanjutnya dipadatkan secara manual


dengan alat penumbuk berupa beban ± 4,5 kg yang dijatuhkan secara jatuh bebas
diatas benda uji sebanyak 75 kali pada salah satu sisi dan hal serupa untuk sisi
lainnya.

Benda uji hasil pemadatan selanjutnya dikeluarkan dengan alat ejector seperti
dongkrak untuk selanjutnya didinginkan kurang lebih 1 hari. Setelah benda uji cukup
dingin dilanjutkan dengan pengukuran berat dalam keadaan kering dan tinggi benda
uji di 3 titik untuk setiap benda uji berdasar kadar aspal.
Benda uji yang telah diukur berat dan tingginya di rendam dalam suhu ruangan untuk
diukur kembali berat dalam keadaan SSD dan berat benda uji di dalam air, setelah
semua data terkumpul maka benda uji dimasukkan dalam waterbath dengan keadaan
suhu ± 60°C yang dikondisikan sebagai suhu ekstrim aspal dalam keadaan lapangan
yang mengalami pemanasan matahari dan basah hujan selama kurang lebih 30 menit.
Proses selanjutya adalah pengujian dengan alat Marshall untuk mencari ketahanan dan
kelelehan untuk setiap sampel, dalam pengujian ini alat marshal menekan benda uji
dari tepi benda uji. Stabilitas dan kelelehan dicatat dengan membaca arloji stabilitas
dan arloji kelelehan setelah arloji stabilitas berhenti yang artinya proses penekanan
pun berhenti.

III.2 Analisa Data


Dari Percobaan Marshall di dapatkan nilai VIM, VMA, Stabilitas dan Kelelehan
untuk selanjutnya dijadikan pembanding agar di dapat kadar aspal optimum.
Grafik yang digunakan adalah :
Grafik Perbandingan Kelelehan dengan Kadar Aspal

3
r

1
5 6 7
Kadar Aspal

Kadar Aspal r (Rata -


(%) rata)
5 3,2
6 3,313
7 3,727

Grafik ini menjelaskan dimana benda uji dengan kadar aspal 5% memiliki nilai
kelelehan rata – rata sebesar 3,2 mm, dengan kadar aspal 6% memiliki nilai
kelelehan rata – rata 3,313 mm dan dengan kadar aspal 7% memiliki nilai
kelelehan rata – rata 3,727 mm.
Hasil ini memenuhi syarat yang diberikan dengan nilai r (Kelelehan) berada
diantara 2 – 4 mm.

Grafik Perbandingan Stabilitas dengan Kadar Aspal

800
r

550

300
5 6 7
Kadar Aspal

Kadar
Aspal(%) Stabilitas (Kg)
5 948,4575
6 969,1196
7 818,6982

Grafik ini menjelaskan dengan kadar aspal 5% didapat nilai stabilitas sebesar
948,46 kg, dengan kadar aspal 6% didapat nilai stabilitas sebesar 969,12 kg dan
dengan kadar aspal 7% didapat nilai stabilitas 818,70 kg
Nilai ini memenuhi syarat dengan stabilitas minimum sebesar 550 kg.

Grafik Perbandingan VIM dengan Kadar Aspal


Grafik Perbandingan VMA dengan Kadar Aspal

III.3 Analisa Hasil


III.4 Analisa Kesalahan

T −P
Kesalahan Relatif = ×100 0
0
T
T = Nilai syarat minimum
P = Nilai yg didapat dalam praktikum

Kesalahan Relatif =
Secara garis besar penyebab kesalahan yang mungkin terjadi dalam percobaan adalah
dikarenakan :

o Kurang akuratnya alat ukur yaitu neraca ukur yang ketelitiannya berkurang
akibat adanya benda atau zat lain yang secara tidak langsung mempengaruhi
pengukuran, serta neraca yang tingkat ketelitiannya berkurang akibat sudah
cukup tua dan hampir rusak.
o Kekurang telitian praktikan saat pembacaan dengan alat ukur untuk tinggi
benda uji dengan jangka sorong, massa benda uji, saat proses pemadatan,
maupun proses pencampuran yang kurang merata.
o Keadaan benda uji dengan pecahan yang menempel ikut mempengaruhi berat
maupun tinggi aspal saat pengukuran dilakukan.
o Dalam tabel persentase agregat untuk saringan no 4 tidak memenuhi spec 70
karena nilai yang didapat 70,68, lebih 0,68 dari spec yang dianjurkan
o Penghitungan data dalam praktikum sebelumnya yang kurang akurat seperti
Berat jenis agregat maupun analisa saringan sehingga ikut mempengaruhi
penghitungan dalam Marshall test.

IV. Kesimpulan
Di analisa hasil masukin grafik gabungan VIM VMA STABILITAS
KELELEHAN utk mencari kadar aspal optimum, analisa hasilnya
Lihat kira2 kadar aspal optimum di dapat pada range aspal berapa persen.
Kl VIMnya ngga ada yg masuk, buat aja analisa kadar aspal optimum tidak
bisa didapat pd range kadar aspal 5,6,7 %
Trus di analisa kesalahan analisa kemungkinan kesalahan dari 4 parameter
diatas : VIM VMA STABILITAS KELELEHAN

Buat kesalahan relatof utk parameter yg ngga didapat [VIM]

Buat analisa data tampilin masing2 grafik VIM VMA STABILITAS


KELELEHAN, analisa hasilnya, lihat minimum dan maksimumnya,bandingin
dgn yg didapat dr praktikum, cari kira2 berapa persen rata2 nilainya trus
bandingin dgn standar minimum dan maksimumnya

Pokoknya utk analisa data, jelasin pengaruh tiap GRAFIK terhadap nilai kadar
aspal optimum nantinya