Anda di halaman 1dari 9

Pros, Seminar Hasil Litbang SDH 14 Juni 1993

EFEKMENGHAMBAT EKSTRAK SRIKAYA (Annona squamosa L.) TERHADAP SEL PEMACU TUMOR (EPSTEIN-BARR VIRUS)

Chairul, Rita D. Rahayu dan Mindarti Harapini

Balitbang Botani, Puslitbang Biologi LIPl

ABSTRACT

INHIBITING EFFECTS OF SRIKAYA EXTRACT ON INDUCING TUMOR CELLS (EPSTEIN-BARR VIRUS). CHAIRUL, RITA D. RAHAYU & MINDARTI HARAPINI. Preliminary test was carried out to investigate the activity of hexane. chloroform, and methanol extracts from Srikaya (Annona squamosa) on the inhibiting tumor cells, using Epstein-Barr virus Early Antigene (EBV-EA). The results of in vitro essays on EBV-EA showed methanol extracts produced from flowers and root skin having high potency as to inhibit the growth of tumor cells. It was noted that almost all parts of Srikaya trees contained biological .active components as tumor inhibitors.

PENDAHULUAN

Hutan tropis mempunyai keanekaragaman jenis (biodiversitas) yang tinggi, dan merupakan gudang dari berbagai sumber daya alam (SDA) baik sumber daya alam hayati maupun nir hayati. Sebagian besar dari sumber daya ini belum banyak diketahui potensinya, terutama yangberguna dalam bidang pengobatan atau tumbuh-turnbuhan yang memiliki kandungan bahan kimia yang bersifat aktif biologis khususnya yang mempunyai aktivitas sebagai tumor inhibitor (Hayashi, 1979; Nishizawa, 1983, 1989; Konoshima, 1987; Itokawa, 1990). Dalam us aha menggali potensi sumber daya alam ini terutama sumber daya alam nabati, dalam waktu lima tahun ini telah dilakukan penelitian baik merupakan uji pendahuluan (skrining), isolasi dan menentukan struktur komponen aktif maupun aktivitas biologi terhadap beberapa jenis tumbuhan yang diduga bersifat sebagai anti-tumor (Chairul, 1988, 1989, 1990, 1991). Sebagai lanjutan dari penelitian ini dilakukan uji pendahuluan (skrining) aktivitas biologissebagai penghambat pertumbuhan seltumor dari Annona squamosa L (Annonaceae)atau srikaya dan mengisolasi beberapa komponen aktifnya.

Annona squamosa L. mempunyai nama daerah antara lain, delima bintang (Aceh), atis (Sulawesi), surikaya (Jawa), srikaya (Sunda), sirikaya (Maluku), srikaya (Minangkabau), seraikaya (Lampung), garoso (Bima). Bagian-bagian dari tanaman ini

114

Pros. Seminar HasilWhang SDH 14 Juni 1993

banyak digunakan dalam pengobatan tradisional seperti, daun digunakan sebagai obat luar untuk bengkak infeksi, kudis, dan gatal-gata1. Daun dari tanaman ini yang dimemarkan sangat dinilai tinggi sebagai bahan untuk mempercepat pecahnya bagian yang membengkak. Juga dipakai untuk bahan mencuci anjing agar bebas dari binatang kecil yang merugikan. Air rebus an daun atau dekoknya digunakan untuk pengobatan skabies, penyakit kulitpada anak-anak, ·rheumatik, batuk, obat cacing (Burkill & Haniff; 1930). Di India daunnya digunakan untuk membunub ikan, sedangkan di Gambia, Hindia Barat, dan Amerika Selatan, daun srikaya juga digunakan untuk membunuh lalat dan kutu busuk (Heyne, 1950). Di Philipina buah yang muda digunakan untuk obat disentri dan obat perut (diare), bubuk bijinya juga dapat digunakan untuk menggugurkan kandungan dengan jalan menaruhnya dalam rahim, juga digunakan untuk membunub cacing-cacing pada luka ternak. Kulit batangnya dapat digunakan sebagai obat diare dan disentri (Crevost & Petelot, 1929). Di Kamboja kulit batangnya digunakan untuk obat anti diarrhoe. Di Afrika akarnya digunakan untuk bahan insektisida, sedangkan di India kulit akarnya digunakan obat kulit terbakar dan disentri (Heyne, 1950).

Kandungan kimia pada buah, yaitu sukrosa, fruktosa, lemak, alpha dan beta pinene, limone, protein, vitamin C, asam lemak, karoten dan tannin. Biji mengandung alpha pinene, Caryophyllene, sitosterol. Akar mengandung sesquiterpen, beta caryophyllene, monoterpen, kamfer, borneol, sitosterol. Kulit batang mengandung monoterpen, kamfer, borneol, sitosterol, tannin. Daun mengandung triterpen, sterol, saponin, alpha pinene, sesquiterpen, asam sianida (Leboeuf, 1982).

BAHAN DAN CARA KERJA

Bahan

Seluruh bagian dan tanaman Annona squamosa. L diambil di daerah Cengkareng, Jakarta-Barat, Masing-masing bagian tersebut dicuci, dirajang, dan dikeringkan pada suhu ruang atau di bawah sinar matahari dan diserbuk.

Cara kerja

1. Ekstraksi dengan dengan pelarut organik heksan, CHC13 dan metanol. Dipekatkan dengan evaporator, sehingga diperoleh tiga jenis ekstrak dari masing-masing bag ian tanaman.

2. Ekstrak kasar yang diperoleh diuji aktivitasnya terhadap aktivitas Epstein-Barr Virus, Early Antigen (EBV-EA).

3. Ekstrak yang mempunyai aktivitas tinggi, dilakukan pemisahan secara kolom kromatografi dan pemurnian dengan HPLC.

115

Pros. Seminar Hasil Litbang SDH 14 Juni 1993

Aktivitas Biologi. Uji aktivitas sebagai anti tumor dilakukan dengan menggunakan Epstein-Barr Virus, Early Antigen (EBV genome carrying, non vierus producer atau rajisel). Raji sel dipakai sebagai indikator pada uji aktivitas ini, sel dibiakkan dalam medium RPMI 1640 yang .. mengandung 8 % "fetal calf serum supplemen' dengan pinisillin dan streptomisin. Kemudian sel indikator (I X 10 mJ) diinkubasikan pada medium yang mengandung asam n-butirat (4 mM), 12-0-tetradekanoilforboJ-13-asetat [TPA (32pM)} dan larutan DMSO pada suhu 37 °C selama 48 jam, sehingga diperoJeh larutan test dengan konsentrasi tertentu, Penentuan sel aktif dilakukan dengan cara "indirect immunoflourecent" menggunakan "EA-positif sera nasopharyngeal carcinoma (NPC) " pasien, Induksi EA dibandingkan dengan hasil percobaan positif kontrol (100 %) terhadap asam n-butirat dan TPA. Cuplikan yang menunjukkan keberadaan sel (viability) lebih dari 60 % dianggap mempunyaiaktivitas positif sebagai anti tumor.

Bagan Pemisahan

Serbuk kering sampel

Ekstraksi dengan Heksan, khloroform dan metanol

,.

Bioassay - - - - - - - - - Eksrak kasar

I

,.

Kolom kromatografi

Bioassay - - - - - - - Fraksi-fraksi sederhana Pemurnian HPLC

Bioassay - - - - - - - - Senyawa murni

I

,.

Data spektroskopi (UV, JR, MS dan NMR) Struktur elusidasi

,.

Struktur kimia

116

Pros. Seminar Hasil Litbang SDH 14 Juni 1993

Raj i cell

ekstrak :

1. heksan

2. ktoroform J.metanol

e + ......... -.

E[lV

E!lr!y .~.t~~i~e::

e'" E3V

Early Anlig;e:1

Gambar 1.Percobaan aktivitas biologi in-vitro assay terhadap Epatein-Barr Virus, Early Antigen (EBV-EA).

117

Pros. Seminar Hasil Lhbang SDH 14 Juni 1993

BASIL DAN PEMBAHASAN

Sebagai langkah awal untuk mengetabui aktivitas biologi dari tanaman srikaya

• J

(Annona squamosa L.) dilakukan pengujian pendahuluan (Screening) dari masing-ma-

sing ekstrak kasar dari seluruh bagian tanaman srikaya baik kandungan kimia (fitokimia) maupun aktivitasnya.

Hasil analisis fitokimia ekstrak kasar heksan, khlorofonn dan metanol dari masing-masing bagian tanaman srikaya menunjukkan golongan kandungan kimia yang terdapat di dalamnya dan pada umumnya pada ekstrak kasar mengandung senyawa fenolik, alkaloid, tannin dan terpenoida. Senyawa fenolik, a1kaloida dan triterpen mempunyai aktivitas biologi yang dapat mempengaruhi sifat-sifat fisiologis baik manusia maupun hewan. Selain itu juga mangandung sedikit senyawa saponin dan flavonoida. Dari hasil pemisahan dengan kolom kromatografi dan dilanjutkan dengan pemurnian menggunakan HPLC (kromatografi cair kinerja tinggi) dapat diperoleh senyawasenyawa murni sebagai berikut :

1. Daun 4 senyawa murni golongan triterpenoida

2. Bunga _ 4 senyawa murni golongan diterpen

2 senyawa murni golongan flavonoida

3. Buah 3 senyawa murni golongan fenolik

1 senyawa murni golongan a1ka1oida

4. Kulit 2 senyawa murni golongan fenolik

2 senyawa murni golongan triterpenoida

5. Kulit akar 4 senyawa murni golongan diterpenoida

2 senyawa murni golongan triterpenoida

Masing-masmg senyawa murni sampai saat ini sedang dilakukan pengambiIan data spektroskopinya (UV, JR, MS dan NMR). Setelah itu barn diIakukan analisis untuk menentukan struktur kimia dari masing-masing senyawa. Apabila struktur tersebut telah diketahui kemudian akan dilakukan kajian hubungan antara struktur kimia dengan aktivitas biologinya. Dengan demikian masing-masing senyawa dapat ditentukan efek farmakologinya dengan membandingkannya dengan senyawa-senyawa kimia yang digunakan dalam bidang pengobatan.

Seperti yang telah dilakukan selama lima tahun terakhir ini, telah banyak dilakukan pencarian sumber-sumber daya nabati yang bertujuan untuk memperoleh bahan a1am atau senyawa-senyawa barn untuk dapat digunakan sebagai tumor inhibitor (anti-tumor). Sebagai tindak lanjut dari penelitian ini, uji pendahuluan aktivitas sebagai tumor inhibitor juga dilakukan terhadap masing-masing ekstrak kasar yang diperoleh dari seluruh bagian tanaman srikaya. Hasil pengujian secara in-vitro assay daya hambat

118

Pros. Seminar Hasil Lilbang SDH 14 Juni 1993

terhadap aktivitas Epstein-Barr Virus, Early Antigen (EBV-EA) menunjukkan bahwa ekstrak kasar heksan, khloroform dan metanol dari kulit akar dan ekstrak kasar khloroform dan metanol dari bunga memberikan aktivitas yang tinggi pada konsentrasi I x 10-5 dengan keberadaan sel 50 - 70 %, sedangkan pada konsentrasi yang sarna ekstrak heksan dari bunga.menunjukkan sifat sitotoksik. Pada konsentrasi 1· x 10-4 pada umumnya ekstrak kasar meperlihatkan sifat sitotoksik, kecuali ekstrak metanol dari daun menunjukan daya hambat yang culrup tinggi dengan keberadaan sel 70 %.

Tabel 1. Analisis fitokimia ekstrak kasar heksan, khloroform dan metanol dari seluruh bagian tanaman srikaya (Annona squamosa L.)

Bagian tanaman Uji Fitokimia
(Ekstrak) Fen. Alk. Stero .ITriter. Fla. Tann. Sapo.
1. Daun
Heksan + + +
Khlorofonn + ++ +++ + +
Metanol + ++ ++ + + +
2. Bunga
Heksan +++ + ++ +
Khloroform +++ ++ ++ +
Metanol ++ + + +
3. B ij i
Heksan + +
KhIorofonn ++ ++ + ++
Metanol + + + +
4. Kulit batang
Heksan +++ + + +
Khloroform ++ ++ ++ + +++
Metanol ++ ++ ++ + +++ +
5. Kulit akar
Heksan +++ + +
KhIorofonn ++ ++ ++ ++
Metanol + + ++ +++
Catatan : = tidak terdapat (negatit)
+ = kadar rendah
++ = kadar sedang
+++ = kadar tinggi 119

Pros. Seminar Hasil Wbang SDH14 Juni /993

Tabel 2. Relative ratio of plant extracts activation with respect to positive control.

Concentration (ug/ml)
Sample 100 10 1
% to control (% viability)
- TPA (20 ng/ml) 100 %
- Daun:
Heksan 18.6(10) 73.4(70) 100
Khloroform 15.2(20) 64.8(60) 90.4
Metanol 29.5(70) 62.2 86.5
- Bunga:
Heksan 0.0(10) 0.0(60) 41.8
Khloroform 0.0(20) 28.5(70) 73.7
Metanol 0.0(10) 22.6(50) 80.2(70)
- Biji:
Heksan 0.0(10) 55.3(70) 89.1
Khloroform 0.0(0) 48.7(70) 82.5
Metanol 0.0(10) 52.5(70) 81.3
- Kulit Batang:
Heksan 0.0(10) 35.4(80) 79.2
Khloroform 14.6(20) 65.2(80) 90.5
Metanol 42.3(80) 86.9 100
- Kulit Akar :
Heksan 0.0(20) 24.6(50) 44.4
Khloroform 0.0(10) 13.7(50) 63.1
Metanol 0.0(30) 29.3(70) 81.8
TPA : 12-0-tetradecanoylphorbol-13-acetate. KESIMPULAN DAN SARAN

Hasil analisis fitokimia dapat diketahui bahwasanya tanaman srikaya mengandung senyawa kimia yang terdiri dari senyawa fenotik, alkaloida, terpenoida, tannin dan sedikit flavonoida dan saponin. Dari hasil pemisahan dan pemurnian diperoleh 23 senyawa murni yang terdiri dari: 5 fenolik, 14 terpenoida (diterpenoida dan triterpeno ida) , 2 flavonoida dan 1 alkaloida.

Ekstrak kasar heksan, khloroform dan metanol dari kulit akar dan ekstrak kasar khloroform dan metanol dari bunga menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi terhadap EBV-EA dengan keberadaan sel 50- 70 % dan masing-masing ekstrak kasar pada konsentrasi yang lebih tinggi menunjukkan sifat sitotoksik.

120

Pros. Seminnr Hasil [)tbang SDH 14 Juni 1993

Dari hasil-hasil di atas dapat disimpulkan bahwa seluruhbagian tanaman srikaya mempunyai kandungan komponen aktif yang bersifat aktif biologi terutama yang mempunyai aktivitas sebagai penghambat sel tumor (tumor inhibitor). Untuk mengetahui aktivitas biologi lainnya dari tanaman srikaya perlu dilakukan penelitian lanjutan baik struktur dari komponen aktif maupun efek fisiologinya, sehingga potensi dad tanaman ini sebagai bahan obat tradisional dapat diungkapkan dengan jelas. Prospeknya dirnasa yang akan datang dapat ditingkatkan untuk pengobatan moderen dan dapat dipakai sebagai bahan dasar atau baku pada industri farmasi,

DAFfAR PUSTAKA

Burkill & Hannif. 1930. Malay Village Medicine, Gard. Bull. Straits, Settl 6: 165 -321.

Chairul, S. Kosela & Y. Hayashi. 1988. Tumor Inhibitor Homolanostanoid Malonat Ester Dari Jarnur Ganoderma. Presiding Kongres Nasional Ke III dan Seminar llmiah Himpunan Kimia Indonesia: 787 - 798.

Chairul, T. Tokuyaina, H. Tokuda, M. Shiro, M. Nishizawa & Y. Hayashi. 1988.

Isolation And Structure Elucidation Of Steroids And Triterpenes, Anti-tumor Activity From Tropical Asian Plants. Proceeding of The 3Td Symposium On The Chemistry of Terpenes, Essential Oils and Aromatics: 165 - 187.

Chalrul, S.M. Chairul, T. Tokuyama & Y. Hayashi. 1989. Two Novel Homolanostene Triterpenes, An Anti-tumor Promoter From An Indonesian Ganoderma Fungi. Acta Pharmaceutica Indonesia 14 (4): 181 - 192.

Chairul, T. Tokuyama. M. Nishizawa, M. Shiro, H. Tokuda & Y. Hayashi. 1990.

Malonate Half Ester OfHomolanostanoid From An Asian Ganoderma Fungus .. Phytochemistry 29: .923 - 928.

Chalrul, T. Tokuyama, M. Nishizawa, H. Tokuda & Y. Hayashi. 1990.

Biologically Active Components Of Lanostanoids From Tropical Asian Polyporaceae. Proceeding of The 34m Symposium On The Chemistry of Terpenes, Essential Oils and Aromatics: 282 - 283.

Chalrul, T. Tokuyama, M. Nishizawa, S.M. Chairul & Y. Hayashi, 1991.

Inhibitory Effect Of Triterpens Acids From Some Indonesian Ganoderma Fungi On Epstein-Barr Virus Activation. Proceeding of The Regional Conference On Medicinal Products of Tropical Rain Forests.

Chairul, T. Tokuyama, Y. Hayashi, M. Nishizawa, H. Tokuda, S.M. Chairul & Y. Hayashi. Applanoxidic Acids A, B, C and D, Biologically Active Tetracyclic Triterpenes From Ganoderma applanatum. Phytochemistry 30(12): 4105 - 4109.

Crevost & A.Petelot. 1929. Catalogua des prouct de Indo chine Plantes medicinales: 32 - 26.

Yuji, H., T. Matsumoto & T. Tashiro. 1979. Antitumor Activity Of Norditerpenoid Dilactones From Podocarpus Plants: Structure-Activity Relationship On InVitro Cytotoxicity Against Yoshida Sarcoma. Gann. 70: 365 - 369.

Heyne, K. 1950. De Nuttige Planten lbn Indonesie I: 634 - 635.

121

Pros. Seminar HasitLitbang SDH 14 Juni 1993

Hemeji I., F. Hirayama, S. Tsuruoka, K. Mizuno, K. Takeya & A. Nitta. 1990.

Screening Test For Anti-Tumor Activity Of Indonesian Medicinal Plants. Shoyakugaku Zasshi 44 (1): 58 - 62.

Leboeuf, M., A. Cave, P.K. Bhaumik, B. Mukherjee & R. Mukherjee. 1982. The Phytochemistry of the Armonaceae. Phytochemisry 21 (J 2): 2783 - 2813.

Takao, K., M. Takasaki, M. Kozuka & H. Tokuda. 1987. Studies On Inhibitors Of Skin-Tumor Promotion, I. Inhibitory Effects Of Triterpenes From Euptelea polyandra On Epstein-Barr Virus Activation. J. Nat. Prod. 50: 1167 - 1170.

Mugio, N., M. Emura, H. Yamada, M. Shiro, Chalrul, Y.Hayashi & H. Tokuda. 1989. Isolation of A New cycloartanoid Triterpenoid from Leaves of Lansium domesticum Novel skin Tumor Promotion Inhibitors. Tetrahedron Letters 30: 5615 - 5618.

Nishizawa, M., A. Nishide, S. Kosela dkk. Structure of Lansiosides : Biologically Active New Triterpene Glycosides from Lansium dornesticum. J. Org. Chern. 48: 4468 - 4466.

122