Anda di halaman 1dari 24

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 INVERTER
Kualitas Inverter merupakan penentu dari kualitas daya yang dihasilkan oleh
suatu sistem. Inverter berfungsi merubah tegangan DC baterai atau rangkaian
rectifier-charger menjadi tegangan AC, sinyal atau gelombang output berbentuk
kotak setelah melalui pembentukan gelombang dan rangkaian filter. Tegangan output
yang dihasilkan harus stabil baik amplitudo tegangan maupun frekuensinya.
Inverter yang digunakan secara umum ada dua macam yaitu :
1. Inverter dengan frekuensi dengan tegangan konstan atau CVCF (Constant
Voltage Constant Frequency). Pada umumnya Inverter ini digunakan
untuk peralatan-peralatan elektronika atau peralatan listrik satu fasa.
2. Inverter dengan frekuensi dan tegangan berubah-ubah. Pada umumnya
Inverter ini digunakan pada pemakaian khusus seperti pada motor listrik
tiga fasa dengan sumber tegangan DC.
Inverter satu fasa segi empat adalah suatu Inverter yang bentuk sinyal atau
gelombang keluarannya adalah segi empat (kotak). Inverter satu fasa ada 2 jenis yaitu
Inverter segi empat setengah jembatan (Inverter setengah gelombang) dan Inverter
segi empat jembatan penuh (Inverter gelombang penuh).

2.1.1Rangkaian Inverter Setengah Gelombang


Inverter setengah gelombang dapat dijelaskan melalui gambar 2.1 di bawah
ini:

4
V

E
Ket : 2

S1 = SaklarS
S2 = Saklar
t

E
2 S1 ON S2 ON

(b)

Gambar 2. 1 : (a) Inverter Setengah Jembatan Satu Fasa (b) Grafik tegangan
(Samson DMS,2005)

Saklar S1 dan S2 ON-OFF bekerja secara bergantian. Pada saat S1 ON arus


mengalir dari E/2 (+) – S1 – beban B-A – E/2 (-), sedangkan S2 dalam keadaan
terbuka. Pada waktu S2 ON sedangkan S1 terbuka, maka arus dari E/2 (+) – beban A-
B – S2 – E/2 (-). Dengan demikian dalam satu periode ini beban merasakan adanya
arus yang mengalir dalam dua arah (bolak-balik). Di mana pada gambar 2.1 (b) dapat
dilihat bentuk grafik tegangan beban A-B.
Besarnya tegangan pada beban adalah :
1
T 
Veff2 = V 2 dt

2
1
 (E / 2)
2
= dt
T 0

1
Veff2 = (E/2)2(2  )
2
Veff2 = E/22
Jadi :
Veff = E/2 .........................................................................(2.1)

5
Jika saklar S1 dan S2 diganti dengan suatu saklar elektronik yang dapat
memenuhi kriteria di atas, minsalnya dengan dua buah Mosfet. Maka rangkaian
Inverter segi empat setengah jembatan dapat dilihat pada gambar 2.2 sebagai berikut :

Gambar 2.2 Inverter Segi Empat Setengah Jembatan dengan Menggunakan


Saklar Elektronik (Samson DMS,2005)

2.1.2 Rangkaian Inverter Gelombang Penuh


Rangkaian Inverter jembatan gelombang penuh satu fasa dapat dijelaskan
melalui gambar 2.3 berikut ini :

S1-S4 = Saklar

-E
S1, S2 ON S3, S4 ON

Gambar 2.3 (a) Rangkaian Inverter Segi Empat Jembatan Penuh


(b) Grafik Gelombang Keluaran(Samson DMS,2005)

6
Prinsip kerja dari Inverter segi empat jembatan penuh ini adalah sebagai
berikut :
Pada saat S1, S2 ON dan S3, S4 OFF, maka arus akan mengalir dari sumber
tegangan E (+) – S1 - beban – S2 – E(-). Pada saat saklar S3, S4 ON dan S1, S2 OFF,
maka arus akan mengalir dari sumber tegangan E(+) – S3 – beban – S4 – E(-).
Dengan demikian untuk satu perioda ini beban dialiri arus dalam dua arah (arus
bolak-balik).
Jika saklar S1, S2, S3 dan S4 diganti dengan komponen (saklar) elektronik
yang memenuhi kriteria di atas, misalnya sebuah transistor, maka Inverter segi empat
jembatan penuh dapat dilihat pada gambar 2.4 berikut :

Q1 Q2

Beban
+
E
- - + Q4
Q3

Gambar 2. 4 Rangkaian Inverter Segi Empat Jembatan Penuh Menggunakan


Saklar Elektronik(Samson DMS,2005)

Dapat di buat rumus sebagai berikut:


2
1
 V (t ) dt
2 2
Veff =
T 0

 2
1
  E
2
= E2 dt + dt
T 0 0

1 2
= E  + E2, 2   E 2 
T

7
2E 2
=
2
= E2
Veff2 = E2
Jadi :
Veff = E............................................................................. (2.2)

2.2 PENYEARAH (RECTIFIER)


Penyearah adalah alat yang digunakan untuk mengubah sumber arus bolak-
balik (AC) menjadi sinyal sumber arus searah (DC). Umumnya penyearah digunakan
untuk mengisi baterai yang mendapat suplai tegangan AC dari PLN. Rangkaian
penyearah banyak menggunakan transformator step down yang digunakan untuk
menurunkan tegangan sesuai dengan ouput yang diinginkan.
Penyearah dibedakan menjadi 2 jenis, penyearah setengah gelombang dan
penyearah gelombang penuh. Adapun penyearah yang digunakan dalam perancangan
tugas akhir ini adalah penyearah gelombang penuh jembatan dioda.
Gambar 2.5 memperlihatkan bentuk rangkaian dari penyearah gelombang
penuh. Dimana pada saat terinal A dari transformator positif arus menuju dioda D2,
beban dan dioda D3 untuk setengah gelombang pertama selanjutnya untuk setengah
gelombang berikutnya terminal B akan positif sehingga arus mengalir melalui dioda
D4, beban dan D1.

T1
A
D1 D2

AC

D3 D4
B
Beban

Gambar 2.5 Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh Jembatan

8
 2

a. Gelombang tegangan Input

 2

b. Gelombang Tegangan Output


Gambar 2.6 Bentuk Gelombang Penyearah Gelombang Penuh Jembatan

Untuk penyearah gelombang penuh, tegangan arus searah yang dihasilkan :


2Vm
Vdc 
 ……………………………………………………………..…. (2.3)

Arus searah yang dihasilkan :

Tegangan efektifnya :
Vm
Vrms  ………………………………………………………………... (2.4)
2

9
Dan arus efektifnya :
Im
Irms  ………………………………………………………………... (2.5)
2

2.3 MOSFET
Metal Oxida Semiconductor Field effect Transistor atau MOSFET memiliki
sebuah sumber, gerbang dan saluran. Akan tetapi gerbang diisolasi oleh saluran. Oleh
karena itu arus gerbang lebih kecil dari pada JFET. MOSFET kadang-kadang disebut
IGFET, yang merupakan kepanjangan dari insulated gate FET.
Ada dua jenis MOSFET yaitu :
a. Depletion enhanchement MOSFET (DE MOSFET)
b. Enhanchement MOSFET (E MOSFET)
Di luar pengaplikasiannya DE MOSFET jarang digunakan, yang sering
digunakan adalah E MOSFET, secara luas digunakan dalam kedua macam rangkaian
baik diskret maupun terpadu. Dalam rangkaian diskret, kegunaan utamanya adalah
pensaklaran daya, yang mengubah arus besar menjadi hidup dan mati. Dalam
rangkaian terpadu, kegunaannya adalah dalam pensaklaran digital proses dasar di
belakang komputer modern. DE MOSFET adalah semacam MOSFET yang dapat
beroperasi dengan depletion action (aksi pengosongan) dan enhanchement action
(aksi peningkatan). E MOSFET adalah semacam MOSFET yang beroperasi dengan
enhanchement action (aksi peningkatan) saja. Sesuai dengan kanalnya DE MOSFET
dapat dibedakan menjadi DE MOSFET kanal P dan kanal N, begitu juga dengan
E MOSFET kanal P dan kanal N.

10
2.3.1 Cara Kerja DE MOSFET dan E MOSFET

Gambar 2.7 Rangkaian kerja DE MOSFET ( Malvino, 2003)

Merupakan rangkaian kerja DE MOSFET kanal N, dengan tegangan positif


maupun negatif yang diberikan pada gate tidak akan menyebabkan adalah metal
oxida antara gate dan saluran. Bila gate diberi tegangan negatif, maka muatan negatif
pada gate ini akan menolak elektron-elektron yang ada pada saluran, sehingga arus
drain ID akan berkurang. Pada tegangan gate tertentu, semua elektron bebas pada
saluran akan terusir, sehingga menyebabkan tidak mengalirnya arus drain ID. Karena
itu operasi tegangan gate negatif disebut depletion action (aksi pengosongan). Bila
gate diberi tegangan positif, maka muatan positif ini akan menarik eklekron-elektron
bebas pada saluran antara gate dan substrat. Hal ini akan meningkatkan arus drain ID,
karena itu operasi ini dinamakan enhanchement action (aksi peningkatan). Karena itu
MOSFET ini dapat beroperasi dengan depletion action dan enhanchement action,
maka MOSFET ini dikatakan DE MOSFET (Depletion Enhanchement MOSFET).

Gambar 2.8 Rangkaian kerja E MOSFET ( Malvino 2003)

11
Cara kerja rangkaian E MOSFET adalah Substrat (St) menutup seluruh
jalan (saluran) antara Source (S) dan Drain (D). E MOSFET ini adalah sejenis
MOSFET yang hanya berkerja dengan aksi peningkatan saja. Pada saat VGS = nol,
tidak ada drain ID yang mengalir walaupun VDD ada tegangannya, karena bahan P
tidak mempunyai pembawah muatan. Apabilah gate diberi tegangan positif yang
cukup besar, maka akan mengalirlah arus drain ID. Bila gate mendapat tegangan
positif maka akan terinduksi yang ada pada bahan P tersebut. Selanjutnya bila
tegangan positif pada gate dinaikkan hingga mencapai suatu harga tertentu, maka
elektron-elektron bebas akan membentuk lapisan tipis yang berfungsi sebagai
pembawa muatan yang mengakibatkan arus drain ID naik.

2.3.2 Drain-Source dalam Hambatan


Ketika E-MOSFET dibiaskan di daerah ohmic, E-MOSFET sama dengan
hambatan RDS(on). Hampir semua lembar data akan menampilkan nilai dari hambatan
ini pada arus saluran dan tegangan gate-source spesifik. Gambar 2.8 menunjukkan
ide ini. Ada titik Qtest pada daerah ohmic kurva VGS= VGS(on). Pabrik mengukur ID(on)
dan VDS(on) pada titik Qtes. Dari sini, pabrik menghitung nilai RDS(on) menggunakan
definisi berikut:
VDS ( on )
RDS  ..............................................................................(2.21)
I D ( on )

Gambar 2.9 Pengukuran RDS(on) (Malvino2003)

12
Tabel 2.1 E-MOSFET sinyal kecil (Malvino2003)
Peranti VGS(th)’V VGS(on)’V ID(on) RDS(ON)’  ID(max) PD(max)
VN2406L 1,5 2,5 100mA 10 200mA 350mW
BS107 1,75 2,6 20mA 28 250mA 350mW
2N7000 2 4,5 75mA 6 200mA 350mW
VN10LM 2,5 5 200mA 7,5 300mA 1W
MPF930 2,5 10 1A 0,9 2A 1W
IRFD120 3 10 600mA 0,3 1,3A 1W

2.3.3 Pembiasan di Daerah Ohmic


Dalam Gambar 2.29 a, arus jenuh saluran pada rangkaian adalah:
VDD
I D ( sat )  ............................................................................(2.22)
RD
Dan tegangan cut off saluran adalah VDD. Gambar 2.90b menunjukan garis
beban DC di antara arus jenuh ID(sat) dan tegangan cut off VDD. Ketika VGS = 0, titik
Q berada pada batas bahwa dari garis beban DC. Ketika VGS = VGS(on), titik Q pada
batas atas dari garis baban. Ketika Q berada di bawah titik Qtest, seperti ditunjukkan
Gambar 2.29b, alat dibiaskan di daerah ohmic. Dengan cara lain, E-MOSFET
dibiaskan di daerah ohmic ketika memenuhi persyaratan:
I D ( sat ) I D ( on ) ketika VGS  VGS (on ) ........................................(2.23)

(a) (b)
Gambar 2.10 ID(sat) lebihkecil ID(on) dengan VGS = VGS(on) memastikan kejenuhan.
(Malvino2003)

13
Persamaan ini memberikan kita tahu apakah E-MOSFET sedang beroperasi
di daerah aktif atau daerah ohmic. Melihat rangkaian E-MOSFET, ketika dapat
menghitung ID(sat). jika ID(sat) lebih kecil dari ID(on) ketika V GS = VGS(on), kita
akan mengetahui bahwa alat dibiaskan di daerah ohmic dan ini sama dengan
hambatan kecil.

2.4 SILICON CONTROLLED RECTIFIER ( SCR )


Silicon Controlled Rectifier disingkat SCR komponen yang tersusun dari
empat lapis bahan semi konduktor (Four Layers Diode). SCR termasuk dalam
keluarga thyristor (Thyratron-Transistor), bahan dasar thyristor ini adalah dari silicon
dengan pertimbangan jauh lebih tahan panas dibandingkan dengan bahan germanium.
Thyristor banyak digunakan sebagai alat pengendali tegangan atau daya yang tinggi
dengan kemampuan yang tinggi. SCR mempunyai tiga buah elektroda, yaitu Anoda,
Katoda dan Gate dimana anoda berpolaritas positif dan kathoda berpolaritas negatif
sebagai layaknya sebuah dioda penyearah (rectifier). Kaki Gate juga berpolaritas
positip.
Konstruksi dasar dan simbolnya digambarkan seperti gambar 2.6 berikut,

Gambar 2.11 Kontruksi dasar dan Simbol SCR

14
Karakteristik V – I SCR :
SCR dapat mengalirkan arus hanya pada satu arah yakni jika VA > VK serta
bisa diatur sudut penyalaannya dengan mengatur tegangan gatenya.

Gambar 2.12 Karakteristik V – I SCR

Pada daerah pemblokiran maju, bila tegangan maju ditambah maka arus bocor
hamper tidak berubah hingga pelipat gandaan pembawa muatan oleh adanya
breakdown avalanche setelah keadaan dilampaui arus di dalam SCR yang
mempunyai nilai cukup besar hingga loop gain = 1, pada keadaan ini SCR
berkonduksi jika VA berada pada nilai tertentu, yang disebut arus bertahan (holding
current). Bila arus anoda turun di bawah nilai arus bertahan SCR akan kembali pada
pemblokiran maju.
Pada keadaan pemblokiran mundur SCR berprilaku seperti dua dioda
dipasang seri (terpanjar mundur).
Pada keadaan VA > VK penambahan harga IG akan memperkecil daerah
pemblokiran, untuk IG yang cukup besar bisa mengakibatkan SCR berperilaku seperti
dioda terpanjar maju.

15
2.5 TRANSFORMATOR
Transformator adalah suatu alat yang dapat mengubah nilai tegangan AC
selain itu transformator juga dapat menaikan dan menurunkan tegangan AC menurut
output yang diperlukan oleh pencatu daya. Transformator bekerja berdasarkan prinsip
induksi. Sebuah transformator terdiri atas dua kumparan kawat yang terisolasi yang
dililitkan mengelilingi kepingan-kepingan inti besi lunak. Kumparan input disebut
kumparan primer sedangkan kumparan output disebut kumparan sekunder. Tegangan
bolak-balik dihubungkan pada input dari kumparan primer. Tegangan output yang
dibutuhkan muncul pada ujung-ujung kumparan sekunder. Pada transformator ideal
daya pada sisi primer dan sekunder adalah sama.
P2 = P1 ............................................................................... ................ (2.6)
Atau
V2I2 = V1I1 .......................................................................................... (2.7)
Kita dapat menyusun kembali persamaan tersebut
I 1 V2
 ..............................................................................................(2.8)
I 2 V1

Tetapi persamaan 2.8 mengakibatkan V2 /V1 = N2 /N1 sehingga

I1 N
 2 ......................................................................................... ……….....(2.9)
I2 N1

Efesiensi Transformator
Efesiensi dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara daya keluaran
(output) dengan daya masukan (input).

Daya _ Keluaran
 x100% .. ................................................ .(2.10)
Daya _ masukan
Dalam masukan ialah daya keluaran + rugi-rugi
Pin = Pout + P rugi ........................................................................ .(2.11)
Atau: Pout = Pin+ P rugi ......................................................................... .(2.12)

16
Pin  Prugi
Jadi   x 100%................................................................................. (2.13)
Pin

Adapun Kontruksi dan simbol dari transformator ditunjukkan pada gambar 2.12
dibawah ini :

(a)

(b)
Gambar 2.13 (a) Kontruksi dan (b) Simbol Transformator.

Bila kawat pada kumparan sekunder lebih banyak dari pada kumparan primer,
maka tegangan output lebih besar dari pada tegangan input. Ini yang disebut

17
transformator step-up atau penaik tegangan. Bila lilitan kawat pada kumparan primer
lebih banyak dari pada kumparan sekunder, maka tegangan output akan lebih kecil
dari pada tegangan input. Ini yang disebut dengan transformator step-down atau
penurun tegangan.

2.6 BATERAI
2.6.1 Pengertian Baterai
Baterai adalah salah satu alat yang mampu mengubah energi kimia yang
terdapat didalam bahan aktifnya secara langsung, menjadi energi listrik dengan jalan
reaksi elektro kimia. saat beterai digunakan maka energi kimia tersebut diubah
menjadi energi listrik. Baterai yang digunakan sebagai sumber tenaga utama tegangan
DC mempunyai tegangan sebesar 12 VDC. Adapun simbol baterai ditunjukkan pada
gambar 2.13 dibawah ini :

Gambar 2.14 Simbol Baterai


Kapasitas baterai menyatakan berapa lama kemampuan untuk memberikan
aliran listrik pada tegangan tertentu yang dinyatakan dalam Ampere Hour (AH).
Kapasitas baterai tergantung pada jumlah rancangan dan ukuran sel, elekrolit dan cara
pengisian. Banyaknya energi yang dapat diberikan oleh setiap baterai yang terisi
penuh juga tergantung pada beberapa variable seperti laju pengosongan, temperature,
dan berat jenis elektrolit. Sebagai contoh untuk baterai dengan kapasitas arus 45
Ampere Hour (AH), maka baterai tersebut dapat mencatu erus 45 Ampere selama 1
jam atau 1 Ampere selama 45 jam
Adapun kapsitas baterai dinyatakan sebagai berikut :

Q = I x t ........................................................................................ (2.13)

18
Dimana :
Q = Kapasitas baterai dengan satuan AH.
I = Arus pengisian atau arus pemakaian dengan satuan Ampere.
t = waktu pengisian atau pemakaian dengan satuan Hour.
Menurut penggunaan baterai terdiri dari 2 jenis yaitu :
1. Baterai Primer adalah baterai yang sangat sulit sekali bila dilakukan pengisian
kembali secara listrik,. oleh karena itu baterai ini hanya bias dipakai satu kali dan
tidak bias dipakai kembali. Banyak sekali diantara baterai-baterai primer ini yang
menggunakan elektrolit yang dipisahkan oleh absorbent atau bahan pemisah,
baterai ini dinamakan sel kering. Contoh dari baterai primer ini adalah baterai
alkaline, mercuri dan lainnya.
2. Baterai sekunder adalah baterai-baterai yang bisa dilakukan pengisian kembali
secara elektirk setelah baterai tersebut kosong. Penggunaan baterai sekunder ini
lebih ekonomis dan praktis, karena dapat dilakukan pengisian kembali seperti
semula. Cara pengisian baterai dilakukan dengan mengalirkan arus DC ke baterai
tersebut. Baterai jenis ini merupakan suatu alat yang bisa menyimpan energi
listrik dan dikenal dengan accumulator.

2.6.2 Accumulator
Accumulator adalah sebuah sel listrik dimana didalamnya berlangsung proses
elektrokimia yang revesibel (dapat berbalikan) dengan efisiensi yang tinggi. Yang
dimaksud dengan proses elektrokimia revesibel, adalah didalam baterai dapat
berlangsung proses pengubahan kimia menjadi tenaga listrik (proses pengosongan),
dan sebaliknya dari tenaga listrik menjadi tenaga kimia pengisian kembali dengan
cara regenerasi dari elektroda-elektroda yang dipakai, yaitu dengan melewatkan arus
listrik dalam arah ( polaritas ) yang berlawanan didalam sel.
Adapun konstruksi accumulator ditunjukkan oleh Gambar 2.15

19
Gambar 2.15 Konstruksi akumulator

Bagian-bagian akumulator timah hitam dan fungsinya sebagai berikut :


1. Rangka, berfungsi sebagai rumah akumulator.
2. Kepala kutub positif, berfungsi sebagai terminal kutub positif.
3. Penghubung sel, berfungsi untuk menghubungkan sel-sel.
4. Tutup Ventilasi, berfungsi menutup lubang sel.
5. Penutup, berfungsi untuk menutup bagian atas akumulator.
6. Plat-plat, berfungsi sebagai bidang pereaktor.
7. Plat negatif, terbuat dari Pb, berfungsi sebagai bahan aktif akumulator.
8. Plat positif, terbuat dari PbO2, berfungsi sebagai bahan aktif akumulator.
9. Ruang sedimen, berfungsi untuk menampung kotoran.
10. Plastik pemisah, berfungsi untuk memisahkan plat positif dan negatif.
11. Sel-sel.

Tiap sel accumulator ini terdiri dari dua macam elektroda yang berlainan,
yaitu elektroda positif dan elektroda negative yang dicelupkan dalam suatu larutan
kimia.
Berikut prinsip kerja accumulator secara sederhana dapat dilihat pada gambar 2.16
dibawah ini :

20
(a) (b)

Gambar 2.16 (a) Proses Pengosongan (Discharge); (b) Proses Pengisian (Charge)

a. Proses pengosongan (discharge) pada sel berlangsung menurut skema Gambar


2.15.(a). Bila sel dihubungkan dengan beban maka, elektron mengalir dari anoda
melalui beban ke katoda, kemudian ion-ion negatif mengalir ke anoda dan ion ion
positif mengalir ke katoda.
b. Pada proses pengisian (charge)menurut skema Gambar 2.15.(b) diatas adalah bila
sel dihubungkan dengan power supply maka elektroda positif menjadi anoda dan
elektroda negatif menjadi katoda dan proses kimia yang terjadi adalah sebagai
berikut:
1). Aliran elektron menjadi terbalik, mengalir dari anoda melalui power suplai
ke katoda.
2). Ion-ion negatif mengalir dari katoda ke anoda
3). Ion-ion positif mengalir dari anoda ke katoda

Jadi reaksi kimia pada saat pengisian (charging) adalah kebalikan dari saat
pengosongan (discharging)

21
2.7 Metode Charge Discharge
Baterry (accumulator) merupakan salah satu komponen yang sangat penting
untuk memberikan suplai tenaga terutama pada sepeda motor listrik, untuk itu perlu
perhatian khusus agar penggunaan atau pemanfaatan baterai dapat secara maksimum.
Dengan teknik proses charge discharge maka sebuah baterai dapat dimanfaatkan
secara maksimum bahkan dengan teknik ini diperkirakan waktu operasi dari baterry
akan lebih lama.
Penelitian atau percobaan tentang charge discharge telah menghasilkan banyak
sekali metode yaitu antara lain:
 Proses charge discharge dengan arus konstan Dari model ini didapat
kesimpulan bahwa proses charge discharge akan berakhir ketika waktu yang
telah diset terlampaui atau apabila kapasitas baterai (accumulator) yang
ditentukan telah terpenuhi.
 Proses charge discharge dengan daya konstan Charge dengan daya konstan
dilakukan ketika tegangan naik dan arus turun, proses ini berakhir ketika set
time terpenuhi atau tegangan pada baterai terpenuhi. Sedangkan discharge
dengan daya konstan ketika tegangan baterai turun dan arus naik dan
discharge berakhir saat set time terlampaui atau tegangan beban terpenuhi.
 Proses charge dengan arus konstan ketika tegangan terminal lebih rendah dari
pada tegangan charge
 Proses discharge dengan resistansi konstan ketika tegangan baterai turun dan
arus juga turun.
Untuk mengetahui waktu dalam proses pengisian accumulator, dapat
menggunakan perhitungan dibawah ini
- Lamanya pengisian Arus (fauzi, 2007)

Ta = Ah ...........................................................................(2.14)
A

Keterangan :
Ta = Lamanya pengisian arus (jam).

22
Ah = Besarnya kapasitas accumulator (Ampere hours).
A = Besarnya arus pengisian ke accumulator (Ampere).
- Lama Pengisian Daya

Td = energiAh ..............................................................(2.15)
energiA
keterangan :
Td = Lamanya pengisian energi (jam).
energi Ah = Besarnya energi yang didapat dari perkalian Ah dengan
besar tegangan accumulator (Watt hours).
energi A = Besarnya energi yang didapat dari perkalian A dengan
besar tegangan accumulator (VA)

2.8 RELAY
Relay merupakan piranti elektronik yang telah digunakan dalam penerapan
yang sangat luas. Relay adalah suatu elemen kontrol penting dalam beberapa aplikasi
pada industri. Pada pokoknya relay digunakan sebagai alat penghubung suatu
rangkaian. Fungsi relay adalah untuk memutuskan atau menghubungkan suatu kontak
elektronik. Relay terdiri dari atas dua bagian yaitu kontak dan koil. Kontak-kontak
pada relay digerakkan secara tidak langsung menggunakan prinsip konversi
elektromekanik, yakni dengan cara mengalirkan arus listrik pada bagian koilnya.
Bagian koil dapat dialiri arus searah ataupun arus bolak-balik, tergantung jenis relay
yang digunakan.
Relay pengendali elektronik mekanis rangkaian pengendali elektronik
mekanis atau dalam istilah asing sering disebut EMR (an electronic mecanical relay),
merupakan suatu saklar mekanis. Relay jenis ini berfungsi untuk menghubungkan
rangkaian beban ON atau OFF dengan memberi arus listrik pada bagian koilnya,
yang kemudian akan membuka atau menutup kontak pada rangkaian.
Relay biasanya mempunyai suatu kumparan (koil) tetapi mempunyai beberapa
kontak, model sebuah relay dapat dilihat pada gambar 2.16.

23
Gambar 2.17 Relay elektromagnet dengan 1 kontak NO dan 1 kontak NC

Dari gambar 2.10. dapat dilihat bahwa relay ini berisi kontak diam dan kontak
bergerak. Kontak ditunjukkan dengan Normally open (NO) dan normally Close (NC).
Jika bagian koil dari relay dialiri arus listrik maka kontak NO akan menutup
sedangkan kontak NC akan membuka, posisi kontak tersebut akan tetap selama arus
listrik tetap mengalir pada bagian koil. Kontak akan kembali ke posisi normalnya jika
arus listrik pada koil diputus.

2.9 DIODA
Dioda adalah komponen elektronika yang bersifat setengah penghantar
(semikonduktor), berarti dioda hanya dapat mengalirkan arus listrik dari satu arah saja
dan menghentikan arus listrik dari arah yang berlawanan.
Dioda tersusun dari bahan semikonduktor tipe P dan semikonduktor tipe N.
Pada dioda itu bahan semikonduktor tipe P dinamakan anoda sedangkan bahan
semikonduktor tipe N dinamai dengan katoda. Simbol dioda dapat dilihat pada
gambar 2.17. sebagai berikut:

Anoda

Katoda

Gambar 2.18. Simbol dioda

24
Jika anoda yang terdapat pada dioda dihubungkan dengan kutub positif
sumber arus, sedangkan katodanya dihubungkan dengan kutub negatif sumber arus,
maka mengalirlah arus listrik dengan sempurna. Dapat dilihat pada gambar 2.18 a.
Jika anoda dihubungkan dengan kutub negatif sumber arus sedangkan katodanya
dengan kutub positif, maka tidak ada arus yang mengalir atau arus mengalir sangat
lemah sekali. Dapat dilihat pada gambar 2.8 b.

P N
P N

(a) (b)
Gambar 2.19. (a). Dioda dengan tegangan maju,
(b). Dioda dengan tegangan mundur

2.9.1 Karakteristik Dioda


Didalam penggunaan dioda ada beberapa hal yang harus diingat yaitu jatuh
tegangan dalam arah maju, biasanya berharga kecil yaitu 0,7 V untuk dioda silikon
dan 0,3 V untuk dioda germanium. Jika tegangan dioda melebihi harga tersebut, arus
dioda akan bertambah dengan cepat.
Karakteristik dioda menunjukkan bahwa dioda menghantar dengan mudah
dalam arah maju dan bekerja sebagai penghantar buruk dalam arah sebaliknya, jadi
bila digunakan secara tepat suatu dioda akan bekerja sebagai penghantar searah. Hal
ini dapat dilihat pada karakteristik dioda dala gambar 2.19

25
I (Am pere )

G S
80

60

40

20
V (V olt)

50 25 0 ,3 0 ,7
0 ,2

0 ,3
R everse
0 ,4

0 ,5

Gambar 2.20. Karakteristik Dioda

2.10 Light Emiting Dioda (LED)


Light Emiting Dioda (LED) adalah komponen yang dapat memancarkan
cahaya. LED merupakanproduk temuan lain setelah dioda dan strukturnya sama
dengan dioda. Bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan LED adalah bahan
Galium Arsenida (GaAs) atau Galium Arsenida Phospida (GaAsP) atau juga Galium
Phospida (GaP), bahan-bahan ini memancarkan cahaya dengan warna yang berbeda-
beda. Bahan GaAs memancarkan cahaya infra-merah, Bahan GaAsP memancarkan
cahaya merah atau kuning, sedangkan bahan GaP memancarkan cahaya merah atau
hijau. Bentuk fisik dan Simbol dioda LED ini ditunjukkan pada gambar 2.20 di
bawah ini :

Gambar 2.21 Bentuk fisik dan Simbol LED

26
Dalam memilih LED selain warna, perlu diperhatikan tegangan kerja, arus
maksimum, dan dayanya. Cashing dan bentuk fisik LED juga bermacam-macam ada
yang bulat, persegi empat dan juga lonjong.

2.11 Dioda Zener


Dioda zener adalah dioda yang dirancang khusus untuk beroperasi pada
tagangan mundur. bentuknya sama dengan dioda biasa. Sifat dioda zener sama
dengan dioda biasa, hanya saja dioda zener dapat menghantar walau dalam keadaan
bias mundur yang rendah. Simbol dioda zener ditunjukkan pada gambar 2.21
dibawah ini :

Gambar 2.22 Simbol Dioda Zener

Prinsip kerja doida zener yaitu dioda akan menghantar apabila tegangan
sebesar tegangan tembusnya telah tercapai atau lebih. tetapi akam menyumbat bila
tegangan kurang dari tegangan tembusnya.

27