Anda di halaman 1dari 21

MATERI ADMINISTRASI PUBLIK

KURIKULUM MAP

Mata kuliah Waktu


No I
SKS I III IV
. Kode Nama I
Ujian
Mata kuliah Kompetensi Utama 30 sks
1 MAPU5101 Teori Administrasi 3 I.1 x
2 MAPU5102 Teori dan Isu Pembangunan 3 I.2 x
3 MAPU5104 Inovasi dan Perubahan 4 II.2 x
Organisasi
4 MAPU5201 Manajemen Sumber Daya 3 IV.2 x
Manusia
5 MAPU5202 Administrasi Keuangan 4 III.1 x
Publik
6 MAPU5203 Pemerintahan Daerah 3 III.2 x
7 MAPU5301 Analisis Kebijakan Publik 4 IV.3 x
8 MAPU5302 Manajemen Stratejik 3 III.3 x
Organisasi Publik
9 MAPU5303 Kebijakan Pengembangan
3 IV.1 x
Wilayah dan Perkotaan
Mata kuliah Kompetensi Penunjang 6 sks
1 MAPU5103 Metode Penelitian 4 II.1 x
Administrasi
2 MAPU5304 Studi Mandiri 2 99 x
Tugas Akhir Program Magister 6 sks
1 MAPU5400 TAPM/Tesis 6 99 x
Total SKS 42

MAPU5101 Teori Administrasi


Tinjauan Mata Kuliah
Terdapat kecenderungan dalam masyarakat luas bahwa administrasi diumpamakan atau
dipersepsikan secara salah sebagai kegiatan tata usaha atau yang berhubungan dengan
kegiatan kantor sehari-hari. Administrasi tidak saja bersifat sempit, tetapi mencakup berbagai
aspek yang luas, seperti yang diutarakan oleh The Liang Gie, yaitu organisasi, manajemen,
kepegawaian, keuangan, perlengkapan, pekerjaan kantor, tata hubungan, dan perwakilan.
Selain itu jika dikelompokkan berdasarkan kerja sama maka administrasi dibagi menjadi tiga
bidang, yaitu administrasi publik, administrasi bisnis, dan administrasi kemasyarakatan. Mata
kuliah Teori Administrasi mengkaji aspek-aspek yang berhubungan dengan administrasi baik
yang menyangkut organisasi maupun administrasi publik. Untuk lebih jelasnya kajian mata
kuliah ini pertama-tama Anda kami ajak untuk membahas mengenai pengantar administrasi
publik, teori klasik dan neoklasik maupun teori hubungan kemanusiaan dan perilaku
organisasi. Pada bagian lain dikaji mengenai teori sistem, paradigma administrasi publik, dan
reformasi administrasi. Pada bagian akhir dibahas juga mengenai demokratisasi, administrasi
publik sebagai manajamen kebijakan publik dan yang tidak kalah pentingnya adalah good
governance.

Setelah membahas aspek-aspek tersebut Anda diharapkan mampu untuk menjelaskan


berbagai konsep, teori administrasi serta permasalahan yang berhubungan dengan
administrasi.

Untuk mencapai tujuan di atas mata kuliah ini dibagi menjadi 9 modul dengan perincian
sebagai berikut:

1. Modul 1: Pengantar Administrasi Publik


a. Pengertian administrasi
b. Peran teori dan evolusi teori administrasi
2. Modul 2: Teori-teori Klasik dan Neoklasik
a. Teori klasik administrasi
b. Teori Neoklasik administrasi
c. Teori-teori klasik dan neoklasik yangperspektif
3. Modul 3: Teori Hubungan Kemanusiaan dan Perilaku Organisasi
a. Hubungan kemanusiaan
b. Teori-teori perilaku manusia
4. Modul 4: Teori Sistem
a. Definisi dan variabel sistem
b. Evaluasi model sistem
5. Modul 5: Paradigma Administrasi Publik
a. Paradigma I dan II administrasi publik
b. Paradigma III, IV, dan V administrasi publik
6. Modul 6: Reformasi Administrasi
a. Gerakan reformasi administrasi
b. Konsep dan strategi administrasi
7. Modul 7: Demokratisasi
a. Demokrasi dam masyarakat madani
b. Desentralisasi
8. Modul 8: Administrasi Publik
a. Masalah dan Kebijakan Publik
b. Proses pembuatan, implementasi, dan evaluasi kebijakan
9. Modul 9: Good Governance
a. Pentingnya good governance
b. Akuntabilitas dalam good governance
MODUL 1
PENGANTAR ADMINISTRASI PUBLIK

Kegiatan Belajar 1: Pengertian Administrasi


Rangkuman
Menurut Charles A. Beard tidak ada sesuatu hal untuk abad modern sekarang ini yang lebih
penting dari Administrasi. Kelangsungan hidup pemerintahan yang beradab itu sendiri akan
sangat tergantung atas kemampuan kita untuk membina dan mengembangkan suatu
administrasi yang mampu memecahkan masalah-masalah masyarakat modern.

Sondang Siagian mendefinisikan administrasi sebagai "keseluruhan proses kerja sama antara
dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Ada beberapa hal yang terkandung dalam definisi di atas. Pertama, administrasi sebagai seni
adalah suatu proses yang diketahui hanya permulaannya sedang akhirnya tidak ada. Kedua,
administrasi mempunyai unsur-unsur tertentu, yaitu 1) adanya dua manusia atau lebih, 2)
adanya tujuan yang hendak dicapai, 3) adanya tugas atau tugas-tugas yang harus
dilaksanakan, 4) adanya peralatan dan perlengkapan untuk melaksanakan tugas-tugas itu.
Ketiga, administrasi sebagai proses kerja sama bukan merupakan hal yang baru karena ia
telah timbul bersama-sama dengan timbulnya peradaban manusia.

Administrasi sebagai seni dan ilmu. Administrasi sebagai seni adalah suatu proses yang
diketahui hanya permulaan dari suatu kegiatan sedang kapan berakhirnya kegiatan itu sendiri
tidak diketahui. Administrasi sebagai proses kerja sama bukan merupakan hal yang baru
karena ia telah timbul bersama-sama dengan timbulnya peradaban manusia. Tegasnya,
administrasi sebagai "seni" merupakan suatu social phenomenon.

Sampai dengan tahun 1886, manusia hanya mengenal administrasi sebagai seni. Kemudian,
pada tahun 1886 itu timbullah suatu ilmu baru, yang sekarang ini dikenal dengan Ilmu
Administrasi yang objek studinya tidak termasuk objek studi ilmu-ilmu yang lain. Ilmu
Administrasi telah pula memiliki metode analisisnya sendiri, sistematikanya sendiri, prinsip-
prinsip, dalil-dalil serta rumus-rumusnya sendiri.

Sekarang ini administrasi dikenal sebagai suatu artistic science karena di dalam penerapannya
"seninya" masih tetap memegang peranan yang menentukan. Sebaliknya seni Administrasi
dikenal sebagai suatu scientific art karena seni itu sudah didasarkan atas sekelompok prinsip-
prinsip yang telah teruji "kebenarannya".

Bidang-bidang atau percabangan dari pembagian ilmu administrasi dapat dibedakan secara
vertikal dan horizontal. Secara vertikal, berarti penekannya pada sifat atau karakter dari kerja
sama yang ada, dapat dibagi-bagi ke dalam cabang-cabang 1) administrasi kenegaraan (public
administration); 2) administrasi perusahaan (business administration), dan 3) administrasi
kemasyarakatan (social administration).

Secara horizontal berarti melihat administrasi dilihat dari aspek teknisnya/unsur-unsurnya.


Kajian ilmu administrasi ini adalah aspek teknis/unsur-unsur administrasi yang mencakup 1)
organisasi, 2) manajemen, 3) kepegawaian, 4) keuangan, 5) perlengkapan, 6) pekerjaan
kantor, 7) tata hubungan/komunikasi, dan 8) perwakilan/public relation.

Sulit bagi kita membuat rumusan (definisi) yang singkat tentang Administrasi Negara, untuk
itu para ahli berusaha mencoba mengatasinya dengan mendeskripsikan kegiatan-kegiatan
yang ada dalam praktik Administrasi Negara, yang berfokus pada aktivitas administrator
dalam melaksanakan kebijakan pemerintah/negara.

Kegiatan Belajar 2: Peran Teori dan Evolusi Teori Administrasi


Rangkuman
Menurut Bailey peran teori dalam administrasi publik bisa dilihat dari aspek studi maupun
praktik administrasi publik, untuk itu kita perlu mengetahui penggolongan teori dalam studi
administrasi publik menurut terminologinya. Ada empat golongan teori menurut Bailey, yaitu
teori-teori berikut ini.

1. Deskriptif
2. Normatif.
3. Asumtif.
4. Instrumental.

Morrow memunculkan satu golongan teori di luar empat golongan tersebut di atas, yaitu teori
preskriptif.
Peran teori deskriptif lebih menekankan pada penggambaran dan penguraian tentang apa itu
administrasi publik, objek studinya, hubungan komponen-komponen di dalam administrasi
publik dan hubungan administrasi publik dengan lingkungannya. Teori normatif menekankan
pada pembahasan atas jawaban pertanyaan peran apakah yang seharusnya dimainkan oleh
administrasi publik dalam menjalankan kegiatannya, dalam menjalankan tugas pokok dan
fungsinya.

Peran teori asumtif, menurut Bailey teori asumtif berhubungan dengan pertanyaan untuk apa
peran-peran birokrasi publik yang akan dimainkan dalam perubahan kebijakan dan untuk
menemukan jawaban bagaimana para administrator telah menyumbang terhadap peran
pemerintah modern yang bertindak cepat. Setiap administrator publik mempunyai asumsi-
asumsi operasional tentang kebiasaan/kelaziman manusia dan tentang apa yang dikerjakan
oleh lembaga, tetapi diselidiki ahli teori administrasi publik yang telah memperhalus
proposisi-proposisi yang mereka asumsikan.

Penyempurnaan akhir praktik administrasi akan tergantung pada kemampuan ahli-ahli teori
dalam memformulasikan secara konsisten dan memfokuskan atas citra kepribadian orang dan
kapasitas lembaga.

Peran teori instrumental terutama menyediakan teknik-teknik administrasi manajemen untuk


merumuskan tujuan-tujuan kebijakan lebih banyak lagi, hal ini untuk menyalurkan impian-
impian mereka. Bailey menyebutnya teori instrumental karena teori ini memfokuskan diri
pada usaha-usaha harmonisasi dan koordinasi aparatur administrasi untuk mencapai tujuan-
tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Bailey menggarisbawahi pentingnya teori
instrumental dalam administrasi publik.

Taylorisme, ajaran Taylor atau sering juga disebut sebagai aliran manajemen ilmiah,
menekankan pada peleburan atau penyatuan sumber daya dan tenaga kerja untuk mencapai
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dengan cara yang lebih efisien. Ajaran
Taylor menekankan pada manajemen mekanik, ukuran alat-alat kerja, gerakan para pekerja
dan training pekerja untuk keahlian-keahlian mekanik dan supervisor dengan tujuan untuk
memperoleh "satu cara yang terbaik" guna mengimplementasikan suatu kebijakan yang
ditetapkan sebelumnya.

Gulick memperkenalkan idenya/gagasannya mengenai POSDCORB, yang direpresentasikan


dalam perkataannya "suatu rumusan yang dimaksudkan untuk memperhatikan bahwa
pekerjaan pimpinan eksekutif itu merupakan unsur-unsur fungsional yang beragam".
PODSCORB adalah suatu istilah yang mencakup tanggung-jawab eksekutif atas suatu
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, penyusunan staf, koordinasi, pelaporan, dan
penganggaran.

Tulisan Weber menekankan pada deskripsi yang agak preskripsi, yang memusatkan perhatian
pada pola-pola kewenangan di dalam birokrasi, di mana Weber menguraikan tiga tipe ideal
kewenangan, yaitu tradisional, kharismatik, dan rasional. Masing-masing tipe ideal
disesuaikan dengan kegunaan dan urgensinya. Weber menemukan hal ini dalam studinya di
masyarakat yang beragam.

Model Weberian yang dilambangkan oleh praktik demokrasi Barat, ini sebagai model
rasional dengan tekanannya pada aturan-aturan dan prinsip-prinsip legal formal. Malahan
sebagai pemberian status dan kewenangan ke individu-individu. Masyarakat Barat memuja-
muja tata hukum meskipun ini abstrak dan tidak berkepribadian. Ciri-ciri lain model rasional
termasuk di dalamnya pembagian kerja secara ilmiah, hierarki hubungan atasan-bawahan,
pemilihan pegawai berdasarkan jasa sebagai lawan patronase (perlindungan).

Simon memberi kesan bahwa faktor-faktor sosial dan psikologi sosial mempengaruhi sika-
sikap pekerja, termasuk analisis deskriptif organisasinya. Pemilihan "satu cara terbaik" untuk
meng-implementasikan program akan dipertimbangkan faktor-faktor kemanusiaan sebagai
formalitas dari organisasi dan pembagian kerja. Mengabaikan terhadap faktor-faktor
psikologi sosial, Simon membantah, dapat menghasilkan kurang dari pada banyak, efisiensi.

Maslow dan Chris Argyris adalah ahli teori aktualisasi diri menyatakan bahwa dalam jiwa
orang (laki-laki) terdapat suatu hierarki kebutuhan yang mana ia mencoba untuk
memuaskannya dengan sebagai pekerja. Di dasar piramida adalah kebutuhan fisik dasar,
seperti kebutuhan makanan, pakaian, dan tempat berteduh. Selanjutnya, derajat kebutuhan
yang lebih tinggi, ia mencari persahabatan dan kehormatan dari rekan sekerja.

Selanjutnya derajat kebutuhan yang lebih atas, ia memuaskan egonya melalui prestasinya
kerjanya dan pengakuan dari sesama rekan sekerjanya. Akhirnya, pada tingkat paling atas,
orang mengaktualisasikan dirinya dengan menyatukan kesuksesan dan tanggung jawab di
posisinya dengan cita-cita pribadinya.

Daftar Pustaka

 Ali Mufiz. (2004). Pengantar Administrasi Negara. Jakarta: Pusat Penerbitan


Universitas Terbuka.
 Frederickson, H. George. (1984). Administrasi Negara Baru (diterjemahkan oleh Al
Ghozei Usman). Jakarta: LP3ES.
 Harmon, Michael M. and Mayer, Richard T. (1986). Organization Theory for Public
Administration. Toronto: Little, Brown and Company.
 Henry, Nicholas. (1988). Administrasi Negara. (Diterjemahkan oleh Luciana D.
Lontoh). Jakarta: CV Rajawali.
 Hughes, Owen E. (1994). Public Management and Administration, An Introduction.
New York: St. Martin's Press Inc.
 Morow, William L. (1975). Public Administration, Politics and The Political System.
New York: Random House Inc.
 Pamudji. (1985). Ekologi Administrasi Negara. Jakarta: PT Bina Aksara.
 Shafritz, Jay M. and Russell, EW. (1997) Introducing Public Administration. New
York: Addison-Wesley Educational Publishers Inc.

MODUL 2
TEORI-TEORI KLASIK DAN NEOKLASIK

Kegiatan Belajar 1: Teori Klasik Administrasi


Rangkuman
Mekipun ada semacam pesimisme dari sementara ahli, namun ternyata Birokrasi masih cukup
favorit untuk dibahas. Birokrasi ini ternyata menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari
(unavoidable) karena untuk urusan apa pun kita tetap akan berhubungan dengan birokrasi.
Sebenarnya dengan tipe idealnya, birokrasi dimaksudkan untuk memperlancar,
mempermudah, mempercepat, mengefisienkan proses administrasi, namun apa yang terjadi
tidak selalu demikian. Kesan yang negatif selalu muncul.

Termasuk dalam kelompok pelopor teori klasik adalah Frederik W. Taylor meskipun latar
belakang pendidikan dan pekerjaannya adalah di bidang teknik, ia dikenal sebagai "bapak
manajemen ilmiah". Pemikirannya yang cemerlang mampu mengembangkan suatu cara
terbaik untuk metode kerja yang baru, menciptakan standar kerja, menemukan orang yang
tepat untuk suatu jenis pekerjaan tertentu melalui proses seleksi dan menyediakan peralatan
dan perlengkapan kerja yang terbaik bagi pekerja.

Pelopor teori klasik lainnya adalah Henry Fayol yang sangat terkenal dengan 14 prinsip
administrasi yang ditulis dalam bukunya berbahasa Perancis Administration Industrielle en
Generale. Dari enam jenis kegiatan sebuah perusahaan ternyata yang lebih banyak disorot
oleh Fayol adalah hal yang terakhir, yakni aspek manajerial, sementara lima kegiatan yang
lain tidak banyak mencurahkan perhatiannya karena sudah banyak ahli lain yang
membahasnya.

POSDCORB dari Gulick dan Urwick merupakan gambaran kegiatan utama dari para
eksekutif di dalam organisasi yang meliputi planning, organizing, staffing, directing,
coordinating, reporting, dan budgeting yang melahirkan beberapa konsekuensi terhadap teori
administrasi, seperti dikotomi antara politik dan administrasi sebagai bagian yang sentral dari
proses administrasi.

Kegiatan Belajar 2: Teori Neoklasik Administrasi


Rangkuman
Dalam bukunya Administrative Behavior, Herbert Simon mengemukakan tiga tema utama
dalam proses pengambilan keputusan dalam organisasi yaitu sebagai berikut.

Keputusan adalah kegiatan sentral dari organisasi.

Instrumental reason atau alasan-alasan instrumental adalah bersifat sentral di dalam perbuatan
keputusan administratif dan pemahaman organisasi.

Konsep satisfying atau memuaskan yang merupakan pembatalan yang signifikan terhadap
rasionalitas dan dampaknya terhadap perilaku organisasi merupakan kondisi utama di dalam
pembuatan keputusan.

Kegiatan Belajar 3: Teori-Teori Klasik dan Neoklasik Yang Perspektif


Rangkuman
Mengawali teori klasik di bidang administrasi publik ini adalah teori Birokrasi dari Weber.
Ternyata ada sedikit perbedaan pandangan penulis mancanegara dengan penulis dalam negeri
tentang birokrasi. Teoretisi lainnya yang masuk kelompok klasik ini adalah Taylor dan Fayol.

Apabila kita mengkritisi teori-teori Neoklasik maka yang menarik adalah pandangan Herbert
Simon tentang Konsep Rasionalitas Murni (Pure Rationality) dan Rasionalitas Terbatas
(Bounded Rationality) pada proses pengambilan keputusan di dalam organisasi. Demikian
juga perbandingan pemikiran-pemikiran intelek dari Herbert Simon dan Chester Barnard.

Daftar Pustaka
 Atmosudirdjo, Prayudi. (1999). Teori Organisasi. Jakarta: STIA, LAN Press.
 Barzelay, Michael. (1992). Breaking Through Bureaucracy. California: University of
California Press.
 Baker, R.J.S. (1972). Administrative Theory and Public Administration. London:
Hutchinson & Co (Publishers) Ltd.
 Caiden, Gerald E. (1987). Public Administration. Pacific Palisades Cal.: Palisades
Publishers.
 Darwin, Muhadjir, Dr. (1993). Diklat Kuliah Teori Administrasi Negara. Program S2
Administrasi Negara.
 Denhardt, Robert. (1999). Public Administration An Action Orientation. Third
Edition. New York: Harcourt Brace College Publishers.
 Gerloff, Edwin. (1985). Organizational Theory and Design (A Strategic Approach For
Management). New York: McGraw-Hill Book Company.
 Harmon, Michael and Richard Mayer. (1986). Organization Theory for Public
Administration. Boston: Little Brown & Co.
 Harmon, Michael M. (1981). Action Theory for Public Administration. New York:
Longman Inc.
 Hooge. (1996). Organization Theory. Fifth Edition. America: Prentice-Hall
International.
 Hummel, Ralph P. (1982). The Bureaucratic Experience. Second Edition. New York:
St Martini Press.
 Khandwalla, Pradip, N. (1997). Design of Organization. New York: Harcourt Brace
Jovanovich.
 Koontz, Harold. (1986). Manajemen. Jakarta: Penerbit Erlangga.
 Maurer, John G. (1971). Reading Organization Theory. New York: Random House.
 Daft, Richard L. (2001). Essentials of Organization Theory & Design. Second
Edition. Australia: South Western.
 Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. (1995). Profil Birokrasi dalam
Mendukung Peningkatan Kinerja Pelayanan Aparatur. Makalah dalam Seminar
Nasional Birokrasi Pemerintah: Kualitas Layanan Masyarakat Sekarang dan Masa
Depan. Semarang: PS. Ilmu Adm. Negara FISIP UNDIP.
 Osborne, David, dan Ted Gaebler. (1997). Mewirausahakan Birokrasi. Jakarta:
Pustaka Binaman Pressindo,
 Robbins, Stephen P. (1994). Teori Organisasi. (Struktur, Desain & Aplikasi). Edisi 3.
Jakarta: Ancan.
 Ripley dan Franklin. (1982). Policy Implementation and Bureaucracy. Second
Edition. Homewood, Illinois: The Dorsey Press.
 Setiyono, Budi. (2004). Birokrasi dalam Perspektif Politik dan Administrasi.
Semarang: Puskodak Fisip Undip.
 Stoner, James. (1985). Management, Second Edition. New Delhi: Prentice Hall of
India Private Limited.
 (1986). Manajemen. Jilid 1. Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga.
 Thoha, Miftah. (1995). Birokrasi Indonesia dalam Era Globalisasi. Jakarta: Batang
Gadis.
 Thoha, Miftah. (1999). Demokrasi dalam Birokrasi Pemerintah Peran Kontrol Rakyat
dan Netralitas Birokrasi. Yogyakarta: Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada
FISIPOL UGM
 Warella, Y. (1997). Budaya Birokrasi yang Kondusif sebagai Prasyarat Terciptanya
Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Makalah dalam Seminar Nasional Pemberdayaan
Ekonomi Rakyat. Semarang: Senat Mahasiswa FISIP UNDIP.

MODUL 3
TEORI HUBUNGAN KEMANUSIAAN DAN PERILAKU ORGANISASI

Kegiatan Belajar 1: Hubungan Kemanusiaan


Rangkuman
Pendahulu-pendahulu Teori Hubungan Kemanusiaan meskipun masih terikat pada pandangan
Teori Organisasi Klasik, tetapi telah mulai menekankan bahwa manusia adalah unsur penting
yang perlu mendapatkan perhatian yang penuh dari organisasi.

Studi Hawthorne yang menyangkut serangkaian penelitian mengenai tingkah laku manusia
dalam situasi kerja pada perusahaan Western Electric Company yang berlangsung sejak tahun
1924 sampai tahun 1933 menemukan Konsep Manusia Sosial yang didorong oleh kebutuhan
sosial yang menginginkan imbalan hubungan pada pekerjaan dan yang merespons lebih besar
terhadap tekanan-tekanan kelompok kerja dibandingkan terhadap kendali manajemen
sehingga pendapat teori klasik tentang Manusia Rasional yang dimotivasi oleh kebutuhan
ekonomi pribadi berubah menjadi Konsep Manusia Sosial yang menekankan pada hubungan-
hubungan dalam kelompok kerja. Namun demikian perlu pula diperhatikan berbagai kritik
yang dilontarkan terhadap penelitian Hawthorne ini baik dari aspek konsep, metodologi,
maupun kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh.

Chester Barnard dalam bukunya The Functions of the Executive sangat menaruh perhatian
besar terhadap organisasi terutama organisasi formal yang dianggapnya memiliki karakter
yang paling penting dari kehidupan sosial serta sebagai suatu aspek struktur utama
masyarakat itu sendiri. Barnard menaruh perhatian besar hampir secara eksklusif pada proses
bagaimana individu-individu berhubungan dan dipengaruhi oleh organisasi. Inti daripada
proses ini adalah cooperation atau kerja sama.

Untuk dapat lebih memahami teori kehidupan organisasi dari Barnard perlu diperhatikan 3
hal, yaitu organisasi sebagai suatu sistem, organisasi formal, dan organisasi informal, dan
peranan eksekutif.

Kegiatan Belajar 2: Teori-Teori Perilaku Manusia


Rangkuman
Dalam Teori Perilaku Manusia yang muncul, kemudian dijelaskan berbagai konsep dari
Abraham Maslow, Douglas McGregor, dan Warren Bennis. Abraham Maslow dengan Teori
Tingkat Kebutuhannya sangat menekankan pada self actualization man atau manusia yang
dapat mengaktualisasikan potensi dirinya. Maslow melihat kebutuhan manusia dalam suatu
jenjang tangga mulai dari kebutuhan dasar dan kebutuhan yang lebih tinggi. Maslow
menekankan pada konsep partisipasi dan self actualization man-nya adalah sinonim dengan
konsep organizational democracy.

Penulis berikutnya adalah Douglas McGregor yang sangat terkenal dengan Teori X dan Teori
Y-nya. Teori X dan Teori Y ini sebetulnya adalah asumsi sadar atau tidak sadar yang
dipergunakan manajer dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya, yang apabila dilaksanakan
sepenuhnya akan mempunyai konsekuensi self full filling prophecy.

Salah seorang teoretisi Human Relation yang dibahas berikutnya adalah Warren Bennis yang
mengatakan bahwa demokrasi tidak dapat dielakkan dalam organisasi yang pada era tahun
1960-an dan tahun 1970-an menjadi bidang yang menarik bagi para teoretisi administrasi.

Bagian akhir dari Modul 2 memberikan berbagai pandangan kritis terhadap Teori Hubungan
Kemanusiaan dan Teori Perilaku Organisasi.

Daftar Pustaka

 Atmosudirdjo, Prayudi. (1999). Teori Organisasi. Jakarta: STIA - LAN Press.


 Baker, R.J.S. (1972). Administrative Theory and Public Administration. London:
Hutchinson & Co (Publishers) Ltd.
 Darwin, Muhadjir, Dr. (1993). Diktat Kuliah Teori Administrasi Negara. Program S2
Administrasi Negara.
 Denhardt, Robert . (1999). Public Administration An Action Orientation. Third
Edition. New York: Harcourt Brace College Publishers.
 Gerloff, Edwin. (1985). Organizational Theory and Design (A Strategic Approach For
Management) New York: McGraw-Hill Book Company.
 Harmon, Michael M dan Richard T. Mayor. (1986). Organization Theory for Public
Administration. Boston: Little, Brown & Co.
 Hooge. (1996). Organization Theory. Fifth Edition. America: Prentice-Hall
International.
 Harmon, Michael M. (1981). Action Theory for Public Administration. New York:
Longman Inc.
 Maurer, John G. (1971). Reading Organization Theory. New York: Random House.
 Daft, Richard L. (2001). Essentials of Organization Theory & Design. Second
Edition. Australia: South Western.
 Robbins, Stephen P. (1994). Teori Organisasi (Struktur, Desain & Aplikasi). Edisi ke-
3. Jakarta: Ancan.
 Stoner, James. (1985). Management. Second Edition. New Delhi: Prentice Hall of
India Private Limited.

MODUL 4
TEORI SISTEM

Kegiatan Belajar 1: Definisi dan Variabel Sistem


Rangkuman
Sebuah sistem pada dasarnya suatu kesatupaduan (entity) dari elemen-elemen input, process,
output, dan feedback. Birokrasi/organisasi pemerintah dapat dipandang sebagai sistem atau
subsistem (bagian) dari sistem yang lebih besar. Desa bagian dari sistem pemerintahan
kabupaten atau fakultas yang memiliki banyak jurusan merupakan bagian dari sistem
universitas
Dalam menganalisis praktik birokrasi/organisasi pemerintah akan lebih memberikan wacana
yang luas dan analisis yang lebih komprehensif manakala digunakan pendekatan sistem
karena akan diketahui hubungan antarsistem, subsistem, maupun elemen sistem.

Konsep organisasi sebagai sistem terbuka (open system) menerima semua pengaruh dari luar,
maupun sebagai sistem tertutup (closed system) bersifat steril terhadap pengaruh
lingkungannya hanya ada dalam wacana atau kajian akademis. Dalam praktiknya pengaruh
dari luar sistem diseleksi sesuai dengan kebutuhan organisasi yang bersangkutan.

Sebuah sistem pada dasarnya dipengaruhi oleh lingkungan luarnya, sekaligus sistem mampu
mempengaruhi lingkungannya atau terjadi hubungan timbal balik (reciprocal).

Faktor internal yang diduga kuat pengaruhnya (determinan) terhadap aktivitas sebuah sistem
terlihat pada proses: kepemimpinan, motivasi, komunikasi, pengawasan, interaksi, penetapan
tujuan, keputusan.

Faktor eksternal yang menjadi determinan sebuah sistem di antaranya adalah faktor ideologi,
politik, ekonomi, sosial-budaya, dan keamanan. Antara sistem dengan lingkungan luarnya
terjadi hubungan pengaruh timbal balik (reciprocal).

Tolok ukur yang dapat digunakan untuk mengukur sistem birokrasi pemerintah terdiri dari
manfaat yang dirasakan masyarakat, dukungan masyarakat, kreativitas/ide baru, kemampuan
mempengaruhi lembaga/sistem lainnya, keberlangsungan sistem.

Kegiatan Belajar 2: Evaluasi Model Sistem


Rangkuman
Evaluasi Kinerja Proyek Instansi Pemerintah merupakan salah satu model evaluasi terhadap
kegiatan pemerintah dengan menggunakan pendekatan sistem. Komponen sistem yang
dievaluasi adalah masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat (benefit),
dampak (impact).

Konsep dasar Evaluasi Kinerja Proyek Instansi Pemerintah dengan pendekatan sistem pada
prinsipnya menilai perbandingan antara target dan realisasi pada masing-masing komponen
masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat (benefit), dampak (impact).

Manfaat Evaluasi Kinerja Proyek Instansi Pemerintah dengan pendekatan sistem di antaranya
(a) memperjelas tentang informasi proyek, (b) menciptakan kesepakatan untuk menghindari
kesalahan interpretasi dan perbedaan pendapat selama pelaksanaan kegiatan, (c) membangun
dasar bagi pemantauan dan evaluasi.

Salah satu kelemahan model ini, yaitu (1) tidak semua kegiatan selesai, langsung dapat
dievaluasi manfaat (benefit), dan dampak (impact), (2) kemungkinan masuknya unsur
subjektivitas ke dalam sistem evaluasi model ini, (3) kesulitan dalam menetapkan
indikator/tolok ukur untuk bidang sosial budaya.

Daftar Pustaka

 Deal, Terrence E & Kennedy Allan A. (1982). Corporate Culture. California:


Addison-Wesley Publishing Company, Inc.
 Furnham, Andrian & Gunte, Barrie. (1993). Corporate Assessment, Auditing a
Company's Personality. London: Thornville Square.
 Heckscher, Charles & Donnellon, Ane. (1994). The Post Bureaucratic Organization,
New Perspective on Organizational Change. London: Sage Publication.
 Kast, James R. (1968). General System Theory. Dalam Theories of Human
Communication. (Littlejohn, Stephen W., ed.). Belmont: Wadsworth.
 Kosecoff, Jacqueline and Arlene Fink. (1982). Basic Evaluation. Sage Publication.
 Nisjar Karhi dan Winardi. (1997). Teori Sistem dan Pendekatan Sistem dalam Bidang
Manajemen. Bandung: Mandar Maju.
 Likert, Rensis. (1986). Human Organization. Terjemahan.
 Rossi, Peter & Freeman Howard E. Evaluation A Systematic Approach. Sage
Publication.
 Simon, Herbert A. (1984). Administrative Behavior. (Terjemahan). Jakarta: CV
Rajawali.
 Lembaga Administrasi Negara - Bappenas. (1989). Evaluasi Kinerja Proyek.

MODUL 5
PARADIGMA ADMINISTRASI PUBLIK

Kegiatan Belajar 1: Paradigma I dan II Administrasi Publik


Rangkuman
Pada Paradigma 1, periode 1900-1926 Lokus Administrasi dengan politik dapat dilakukan
secara empiris (Proses Pemerintahan), maupun teoretis (di lingkungan Universitas). Secara
tegas memisahkan antara lokus administrasi.

Menurut Goodnow, ada dua fungsi yang berbeda dari pemerintah yang berhubungan dengan
"politik" kebijakan atau berbagai masalah yang berhubungan dengan tujuan negara, yang
berada di tangan legislatif beserta yudikatif dan "administrasi" harus berkaitan dengan
pelaksanaan kebijaksanaan tersebut yang berada di tangan eksekutif yang bersikap netral.

Model birokrasi yang berkembang pada tahap ini adalah Birokrasi Klasik. Masalah yang
bersangkut-paut dengan model birokrasi klasik adalah kerangka organisasi atau tentang
manajemen organisasi yang ekonomis dan efisien.

Ada prinsip-prinsip administrasi yang bersifat universal (bebas waktu, ruang, nilai), yang
dapat ditemukan dan dapat berlaku kapan dan di mana saja. Prinsip-prinsip administrasi
adalah prinsip dalam arti yang sebenar-benarnya. Prinsip administrasi akan berlaku dalam
setiap lingkungan administrasi, tanpa memandang segala macam bentuk faktor budaya,
fungsi, lingkungan, misi, dan institusi.

Bagi Gulick dan Urwick, prinsip-prinsip administrasi adalah penting, sedangkan keterkaitan
dengan tempat di mana prinsip tersebut diterapkan tidaklah terlalu penting. Pada Paradigma
II, kajian administrasi meletakkan fokus lebih penting daripada lokus.

Perbedaan yang tampak antara model birokrasi dan neobirokrasi, di mana birokrasi
menekankan struktur, pengendalian, dan prinsip-prinsip administrasi dengan unit analisis
yang biasanya berupa kelompok kerja, instansi, departemen, atau pemerintahan-pemerintahan
keseluruhan.

Kegiatan Belajar 2: Paradigma III, IV, dan V Administrasi Publik


Rangkuman
Herbert Simon, yang menolak prinsip administrasi yang berlaku universal, membawa akibat
negatif terhadap perkembangan ilmu administrasi negara, yaitu mundur ke dalam disiplin
induknya, yaitu ilmu politik.

Periode ketiga ini dapat dipandang sebagai suatu usaha untuk meninjau kembali segala
jalinan konseptual antara administrasi negara dan politik. Perkembangan pendekatan
administrasi dengan menggunakan metode kasus dimulai pada tahun 1930 yang kebanyakan
di bawah prakarsa Komite Administrasi Negara Lembaga Penelitian Ilmu Sosial secara
tipikal, kasus juga metode komparatif.

Berdasarkan kondisi empiris, para ahli administrasi negara pada periode (Paradigma IV)
mulai menerima bahwa kata negara dalam administrasi negara tak bisa diartikan dalam
makna institusi, seperti masa sebelumnya. Kata negara kini diartikan sebagai makna filosofis,
normatif, dan etika, yaitu sebagai segala sesuatu yang mempengaruhi kepentingan umum.

Meskipun administrasi negara sangat kontras keberadaannya selama berlangsungnya


Paradigma IV, setidaknya pada dua hal yang terpisah, namun komplementer. Yang satu
adalah perkembangan program-program interdisipliner dalam "ilmu pengetahuan, teknologi
dan kebijakan umum (atau dalam terminologi yang lain) di universitas-universitas terkemuka.
Sedangkan yang satu lagi adalah munculnya "administrasi negara baru".

Periode ini terjadi kesepakatan tentang focus dan locus administrasi negara. Pada periode ini
para pakar administrasi juga menganalisis model hubungan kemanusiaan yang menekankan
pada nilai-nilai kepuasan pekerja, perkembangan pribadi, martabat individu dengan publik
yang menekankan nilai-nilai keadilan sosial dalam mendeskripsikan fokus bagi administrasi
negara.

Daftar Pustaka

 Ali Mufiz. (1987). Pengantar Administrasi Negara. Jakarta: Universitas Terbuka.


 Fredereicckson. (1988). Administrasi Negara Baru. Jakarta: LP3ES.
 Henry, Nicholas. (1988). Administrasi Negara dan Masalah-masalah Kenegaraan.
Jakarta: CV Rajawali.

MODUL 6
REFORMASI ADMINISTRASI

Kegiatan Belajar 1: Gerakan Reformasi Administrasi


Rangkuman
Pada dasarnya gerakan reformasi administrasi disebabkan birokrasi tidak mampu merespons
keinginan masyarakat. Traditional bureaucracy yang merupakan konsepsi birokrasi yang
selama ini kita kenal tidak bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat yang
sangat pesat sehingga mereka tidak mampu memenuhi tuntutan publik.
Secara terperinci dapat disebutkan 4 faktor yang mendorong reformasi administrasi di
negara-negara berkembang, yaitu sebagai berikut.

1. Ketidakpuasan kepada pemerintah, yang bersumber pada terlalu besarnya organisasi


pemerintah sehingga cenderung mengkonsumsi seluruh sumber daya yang ada,
pemerintah terlalu campur tangan dan melakukan kegiatan-kegiatan yang sebenarnya
bisa dilakukan oleh swasta dan masyarakat sendiri, pemerintah dipandang
menggunakan cara-cara usang dalam menerapkan manajemen baru.
2. Munculnya teori-teori ekonomi baru.
3. Globalisasi dan perdagangan bebas.
4. Perkembangan teknologi.

Umumnya negara-negara berkembang mempunyai ciri-ciri pola dasar sistem administrasinya


merupakan tiruan atau jiplakan dari sistem kolonial, kekurangan sumber daya yang
berkualitas, cenderung mengutamakan atau berorientasi pada kepentingan pribadi maupun
kelompok, formalisasi birokrasi, cenderung bersifat otonom, sangat lamban dan birokratis,
dan adanya unsur-unsur non birokrasi dalam pengambilan keputusan.

Di negara-negara Asia Pasifik kita mengenal adanya 3 trend reformasi, yaitu weberian,
demokratisasi dan privatisasi. Privatisasi mempunyai 2 bentuk, yaitu privatisasi nilai dan
privatisasi material. Meskipun privatisasi dipandang sebagai salah satu alternatif dalam
penyelenggaraan pemerintah, namun mempunyai sejumlah kelemahan, antara lain dapat
meningkatkan biaya pelayanan, menutup kesempatan publik untuk mengontrol unit
pelayanan secara langsung, adanya kecenderungan mengutamakan kepentingan bisnis
daripada kepentingan sosial.

Kegiatan Belajar 2: Konsep dan Strategi Administrasi


Rangkuman
Pada dasarnya reformasi menyangkut empat aspek, yaitu pertalian adanya inovasi dan
transformasi, membutuhkan perubahan yang sistematik dan dalam kerangka yang luas serta
perubahan tersebut harus dengan cara hati-hati dan direncanakan, tujuannya untuk mencapai
efisiensi dan efektivitas serta harus dapat menanggulangi perubahan-perubahan lingkungan.

Tujuan reformasi dapat diklasifikasikan dalam tujuan eksternal dan internal. Tujuan internal
meliputi efisiensi administrasi, penghapusan penyakit administrasi, penggalakan merit sistem.
Sedangkan tujuan eksternal meliputi menyesuaikan sistem administrasi terhadap
meningkatnya keluhan masyarakat, mengubah pembagian pekerjaan antara sistem
administrasi dan sistem politik serta mengubah hubungan antara sistem administrasi dengan
masyarakat.

Dalam melaksanakan reformasi pada umumnya diterapkan berbagai strategi, yaitu global
reform, Island of excellence, desentralisasi, public service reform, strategi fiskal, strategi
struktural, strategi, program dan strategi budaya.

Kegiatan Belajar 3
Rangkuman
NPM merupakan model yang dikembangkan dalam upaya memperbaiki kinerja birokrasi
yang dirasakan kurang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan dalam memenuhi
harapan masyarakat akan pelayanan yang diinginkan. Dalam rangka mendukung model ini
maka hendaknya ditopang oleh birokrasi dengan ciri-ciri berorientasi pada konsumen,
desentralisasi manajemen personel, dan sumber daya, fleksibel dalam manajemen keuangan,
performance terukur, perbandingan biaya dan prestasi terukur, adanya investasi pada
pengembangan kualitas personel dan teknologi, serta tanggap terhadap kompetisi pasar. NPM
memperkenalkan empat model, yaitu the efficiency drive, downsizing and decentralization, in
search of excellence, dan public service orientation.

Penerapan NPM dalam manajemen pemerintahan pada akhirnya mengarah pada peningkatan
kualitas pelayanan publik. Kualitas pelayanan publik adalah segala sesuatu bentuk pelayanan
sektor publik yang dilaksanakan aparatur pemerintah dalam bentuk barang dan jasa, yang
sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Dalam rangka meningkatkan pelayanan publik terdapat beberapa strategi yang perlu
dikembangkan, yaitu self-esteem, exceed expectation, recovery, vision, improve, care,
empower, strategi inti, strategi konsekuensi, strategi pelanggan, strategi pengendalian, dan
strategi budaya.

Daftar Pustaka

 Caiden E.Gerald (ed). (1982). Strategies for Administrative Reform. Toronto:


Lexington Books.
 (1991). Administrative Reform Comes of Age. Berlin. New York: Walter de Gryter.
 Cooper J, Phillip. (ed). (1998). Public Administration For The Twenty First Century.
USA: Harcourt Brace College Publishers.
 Chandarasorn, Voradej. (1994). Changes and Trends in Public Administration in
Thailand: Privatization. Dalam Asian Review of Public Administration. Volume
VI/1994.
 Dwiyanto, Agus. (1993). Kemitraan Pemerintah Swasta: Strategi Reformasi
Administrasi Negara. Dalam Seminar Reformasi Administrasi Negara. Yogyakarta:
FISIPOL UGM.
 (2002). Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia. Yogyakarta: Pusat Studi
Kependudukan UGM.
 (2003). Reformasi Tata Pemerintahan dan Otonomi Daerah. Yogyakarta: Pusat Studi
Kependudukan UGM.
 Ferlie, dkk. (1996). The New Public Management in Action. New York: Oxford
University Press.
 Gaspersz, Vincent. (2002). Total Quality Management. Jakarta: Gramedia.
 Gupta, Sen. (1999). Health, Education and Government in Bangladesh Public
Services: New Approach. Liberal Times, FNS.
 Hughes E, Owen. (1994). Public Management and Administration an Introduction,
USA: St. Martin's Press.
 J.P.G Sianipar. (1999). Manajemen Pelayanan Publik. Jakarta: LAN.
 Kartasasmita, Ginanjar. (1997). Administrasi Pembangunan Perkembangan Pemikiran
dan Praktiknya di Indonesia. Jakarta: LP3ES.
 Kiggundu N, Moses. (1993). Managing Organizations in Developing Countries An
Operational and Strategis Approach. USA: Kumarian Press.
 Mufiz, Ali. (2003). Reformasi Pemerintahan antara Harapan dan Kenyataan. Dalam 5
Tahun Reformasi Indonesia. Semarang: Pengurus Daerah Persatuan Purnawirawan
POLRI.
 Plastrik dan Osborne. (1997). Memangkas Birokrasi: Lima Strategi menuju
Pemerintahan Wirausaha. (Terj). Jakarta: PPM.
 Putra, Fadillah dan Arif, Saiful. (2001). Kapitalisme Birokrasi Kritik Reinventing
Government Osborne-Gabbler. Yogyakarta: LKIS.
 Rana, Anoop SJB. (1999). The Sky Limit Public Services: New Approach. Liberal
Times, FNS.
 Rohdewohhld, Rainer. (1995). Public Administration in Indonesia. Australia:
Montech PTY LTD.
 Sugiyanti. (1999). Strategi Pelayanan Prima. Jakarta: Bahan Diklat SPAMA, LAN.
 Setiyono, Budi. (2003). Birokrasi dalam Perspektif Politik dan Administrasi.
Semarang: Puskodak UNDIP.
 Thoha,Miftah dan Darma, Agus. (1999). Menyoal Birokrasi Publik. Jakarta: Balai
Pustaka.
 Warsito Utomo. (2003). Dinamika Administrasi Publik Analisis Empiris seputar Isu-
su Kontemporer dalam Administrasi Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
 Wibawa, Samodra dan Purbokusumo, Yuyun. (1999). Peningkatan Kualitas
Pelayanan Administrasi, Jurnal Administrasi Publik No 5/1999.
 Zauhar, Susilo. (1996). Reformasi Administrasi Konsep Dimensi dan Strategi.
Jakarta: Bumi Aksara.
 Zhijian, Zhang (Ed). (1992). Administrative Reform Toward Promoting Productivity
In Bureaucratic Performance. Philippines: Eropa Secretariat General.

MODUL 7
DEMOKRATISASI

Kegiatan Belajar 1: Demokrasi dan Masyarakat Madani


Rangkuman
Demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan di mana kekuasaan terletak pada mayoritas
rakyat dan pelaksanaannya dilakukan melalui wakil-wakil yang terpilih. Sebuah ungkapan
yang terkenal untuk menggambarkan demokrasi adalah government of people, by people; for
people.

Pemerintahan yang demokratis adalah pemerintahan yang mengamalkan prinsip-prinsip


demokratis di segala bidang. Pemerintah bisa bertindak demokratis jika peran kontrol yang
dilakukan oleh rakyat dijalankan secara maksimal, proporsional, dan bertanggung jawab.

Pemerintahan yang demokratis dapat berjalan jika dalam suatu negara terdapat masyarakat
sipil yang mendukung proses demokrasi tersebut. Masyarakat sipil dalam istilah Barat disebut
civil society atau dikenal dengan istilah "masyarakat madani. Masyarakat madani adalah
yang masyarakat menjamin adanya kesamaan (equality) hak di antara individu dalam
bernegara dan bermasyarakat. Dalam masyarakat madani, hadir prinsip-prinsip moral yang
menjamin keseimbangan antara kebebasan individual dan kestabilan masyarakat.

Kegiatan Belajar 2: Desentralisasi


Rangkuman
Desentralisasi adalah transfer kewenangan untuk menyelenggarakan beberapa pelayanan
kepada publik dari seseorang atau agen pemerintah pusat kepada beberapa individu atau agen
lain yang lebih dekat kepada publik yang dilayani.

Para teoretisi organisasi percaya bahwa desentralisasi akan meningkatkan akuntabilitas


pemerintah terhadap masyarakat. Sebab, desentralisasi memperjelas siapa harus melakukan
apa. Dengan demikian, apabila masyarakat tidak puas dengan suatu pelayanan mereka dapat
mengetahui dengan jelas unit mana sebenarnya yang bertanggung jawab atas penyediaan
pelayanan tersebut. Ini berarti akan memudahkan masyarakat untuk memberi saran maupun
kritik tanpa harus melalui prosedur yang berbelit.

Para pakar politik juga mendukung desentralisasi karena memberikan peluang bagi
masyarakat untuk berpartisipasi di bidang politik menjadi lebih besar. Keikutsertaan
masyarakat dalam pengambilan keputusan akan mendorong partisipasi dalam pelaksanaan
maupun monitoring kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah. Hal ini sejalan dengan
adanya kebutuhan yang semakin meningkat dengan munculnya educated urban middle class
di negara-negara berkembang, sebab apabila aspirasi mereka kurang dapat disalurkan maka
akan mengganggu stabilitas politik.

Dalam praktik desentralisasi di negara-negara berkembang tidak ada yang bersifat murni,
tetapi lebih menunjukkan percampuran dengan variasi yang berbeda-beda. Terdapat empat
tipe desentralisasi, yaitu dekonsentrasi, delegasi, devolusi, dan privatisasi.

Daftar Pustaka

 Anderson, Benedict, dkk. (1999). Mencari Demokrasi. Jakarta: Institut Studi Arus
Informasi.
 Bryant, Coraile and White, Louise G. (1987). Manajemen Pembangunan untuk
Negara Berkembang. Jakarta: LP3ES.
 Cheema G, Shabbir and Rondinelli, Dennis A. (1988). Decentralization and
Development Policy Implementation in Developing Countries. London: Sage
Publication.
 Dilinger, B. (1995). Decentralization, Politics and Public Service. Washington DC,
USA: The World Bank.
 Dwiyanto, Agus, dkk. (2003). Reformasi Tata Pemerintahan dan Otonomi Daerah.
Pusat Studi kependudukan dan Kebijakan, Yogyakarta: UGM.
 Etzione, Eva & Halevey. (1983). Bureaucracy and democracy, London: Rouyledge &
Kegan Paul.
 Huntington, Samuel P. (1995). Gelombang Demokratisasi Ketiga. Jakarta: Pustaka
Grafiti.
 Koswara, E. (1997). Kebijaksanaan Desentralisasi dalam Rangka Menunjang
Pembangunan Daerah. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Pembangunan
Administrasi dalam Pelita VII yang diselenggarakan oleh PERSADI pada tanggal 7-9
Maret 1997.
 Miftah Thoha. (2003). Birokrasi dan Politik di Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
 Mustopadidjaja, A,R. (1999). Administrasi Negara, Demokrasi dan Masyarakat
Madani. Jakarta: LAN.
 Onny S. Prijono & A.M.W, Pranarka. (1996). Pemberdayaan, Konsep, Kebijakan, dan
Implementasi. Jakarta: CSIS.
 Salam, Rahmat. (2002). System Thinking dalam Penerapan Otonomi Daerah. Dalam
Majalah Forum Inovasi Capacity Building & Good Governance, Vol.3, Juni/Agustus
2002.
 Sedarmayanti. (2003). Good Governance, Kepemerintahan yang Baik dalam Rangka
Otonomi Daerah. Bandung: Mandar Maju.
 Subowo, Ari. (1998). Devolusi: Napas Baru Demokratisasi Daerah (Kembali). Dalam
Majalah OPINI Edisi 23 Tahun XIV/1998.
 Turner, Mark and Hulme, David. (1997). Governance. Administration and
Development Making The State Work. London: Macmillan Press LTD.
 Warsito & Teguh Yuwono, ed. (2003). Otonomi Daerah, Capacity Building dan
Penguatan Demokrasi Lokal, Semarang: Puskodak.
 Yunan Syaifullah, dkk. (1999). Membangun Masyarakat Madani. Yogyakarta: Aditya
Media.
 Yuwono, Teguh (ed). (1997). Manajemen Otonomi Daerah Membangun Daerah
Berdasar Paradigma Baru. Semarang: CLOGAPPS Diponegoro University.
 LAN. (2001). Menguak Peluang dan Tantangan Administrasi Publik, Bunga Rampai
Wacana Administrasi Publik. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
 (2003). Laporan Ketiga, Indonesia Rapid Decentralization Appraisal (IRDA). The
Asia Foundation.

MODUL 8
ADMINISTRASI PUBLIK

Kegiatan Belajar 1: Masalah dan Kebijakan Publik


Rangkuman
Dari masyarakat yang paling sederhana sampai dengan masyarakat yang paling modern
sekalipun akan selalu menghadapi masalah bersama (masalah publik) yang menuntut
pemecahan secara bersama melalui serangkaian tindakan yang terorganisasi yang dilakukan
oleh berbagai komponen masyarakat yang ada. Masalah publik mempunyai dampak yang
luas dan mencakup konsekuensi-konsekuensi bagi orang-orang yang tidak secara langsung
terlibat. Masalah yang mempunyai dampak terbatas terhadap satu atau beberapa orang yang
terlibat secara langsung dapat dikatakan sebagai masalah pribadi (private). Administrasi
Publik membahas bagaimana orang-orang mengorganisasikan diri mereka sebagai publik
secara kolektif dan dengan tugas dan kewajiban masing-masing memecahkan masalah-
masalah publik untuk mencapai tujuan bersama mereka.

Istilah kebijakan publik sebenarnya telah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari dan
dalam kegiatan-kegiatan akademis, seperti dalam kuliah-kuliah ilmu politik maupun ilmu
administrasi negara atau administrasi publik. Banyak batasan atau definisi kebijakan publik
(public policy) dalam literatur ilmu politik. Masing-masing definisi itu memberi penekanan
yang berbeda-beda. Perbedaan ini timbul karena masing-masing ahli mempunyai latar
belakang yang berbeda-beda. Sementara di sisi lain, pendekatan dan model yang digunakan
para ahli pada akhirnya juga akan menentukan bagaimana kebijakan publik tersebut hendak
didefinisikan. Satu definisi mengemukakan "hubungan satu unit pemerintah dengan
lingkungannya" sementara lainnya mengatakan "apa pun yang dipilih oleh pemerintah untuk
dilakukan dan tidak dilakukan".
Untuk memecahkan masalah publik, kebijakan publik memerlukan proses yang panjang
mulai dari penentuan agenda kebijakan, negosiasi dan pengesahan kebijakan, implementasi
kebijakan, dan evaluasi kebijakan

Kegiatan Belajar 2: Proses Pembuatan, Implementasi, dan Evaluasi Kebijakan


Rangkuman
Agenda kebijakan merupakan kesepakatan umum adanya suatu masalah publik yang perlu
menjadi perhatian bersama, dan menuntut campur tangan pemerintah untuk memecahkannya.
Setiap kebijakan harus memiliki landasan yang jelas kuat dengan menunjukkan tujuan-tujuan
dan target yang hendak dicapai, cara-cara mencapai tujuan dan strategi implementasinya.
Untuk itu, pengumpulan informasi menjadi sangat penting melalui teknik analisis tertentu.
Suatu kebijakan dikatakan sah jika telah diputuskan secara resmi sebagai keputusan atau
peraturan yang mengikat sesuai dengan hukum yang berlaku

Suatu kebijakan publik belum akan menimbulkan akibat tertentu dalam masyarakat sebelum
kebijakan itu dilaksanakan. Pelaksana kebijakan melaksanakan apa yang telah diputuskan
oleh pembuat kebijakan. Kebijakan dilaksanakan secara kelembagaan oleh lembaga birokrasi
dengan struktur dan distribusi fungsi yang jelas. Kebijakan paling tidak dilaksanakan oleh
suatu lembaga pelaksana, dan banyak kasus dilaksanakan oleh lebih dari satu lembaga. Di
dalam birokrasi terdapat banyak departemen yang membuat dan melaksanakan kebijakan di
sektornya masing-masing. Lembaga peradilan dan aparat keamanan juga merupakan
pelaksana kebijakan. Organisasi swasta (baik yang berorientasi mencari laba maupun
lembaga swadaya masyarakat yang bersifat nirlaba) mempunyai peranan penting dalam
proses implementasi.

Evaluasi Kebijakan adalah suatu proses untuk menilai seberapa jauh suatu kebijakan
membuahkan hasil, yaitu membandingkan antara hasil yang diperoleh dengan tujuan dan/atau
target kebijakan yang ditentukan.

Daftar Pustaka

 Anderson, James. (1979). Public Policy Making, New York: Holt Rinehart and
Winston.
 Caiden, Gerald. (1982). Public Administration, New York: Holt, Rinehart and
Winston.
 Darwin, Muhadjir. (1998). Diktat Kuliah Teori Administrasi Publik. Yogyakarta:
FISIPOL-UGM.
 Dye, Thomas R. (1975). Understanding Public Policy. New York: Englewood Cliff.
 Eyestone, Robert. (1971). The Threads of Policy: A Study in Policy Leadership.
Indianapolis: Bobbs-Merril.
 Harmon, Michael M. & Richard T. Mayer. (1986). Organization Theory for Public
Administration, Boston: Little Brown and Company.
 Santoso, Amir. (1993). "Analisis Kebijakan Publik: Suatu Pengantar", Jurnal Ilmu
Politik 3. Jakarta: Gramedia.
 Winanrno, Budi. (2002). Teori dan Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: Media
Pressindo.
MODUL 9
GOOD GOVERNANCE

Kegiatan Belajar 1: Pentingnya Good Governance


Rangkuman
Dalam kegiatan belajar satu ini diuraikan mengenai latar belakang munculnya good
governance, antara lain terdiri dari penguatan ideologi liberal yang ditandai dengan runtuhnya
Uni Soviet yang berpaham komunis dan mengakibatkan Amerika yang berpaham Liberal
tidak memiliki lawan yang sebanding. Hal ini menyebabkan tersebarnya ideologi liberal yang
memperkenalkan lima pandangan, yaitu HAM, Demokrasi, Pasar Bebas, Supremasi Hukum,
Kepedulian terhadap Lingkungan.

Sejalan dengan meluasnya ideologi liberal tersebut, terjadi globalisasi di bidang ekonomi,
dengan diberlakukannya pasar bebas, di mana masyarakat banyak ikut terlibat dalam
perdagangan yang global tersebut. Hal ini menyebabkan pemerintah bukan sebagai pelaku
dominan dalam penyelenggaraan perdagangan dan masalah-masalah publik lainnya.

Demikian juga dengan munculnya kekuatan masyarakat sipil atau civil society juga menjadi
pendorong terwujudnya good governance. Masyarakat ini merupakan masyarakat yang
mandiri, yang tidak tergantung dari pemerintah bahkan mempunyai kedudukan yang sejajar
dengan pemerintah sehingga posisi tawar kuat.

Good governance adalah merupakan proses penyelenggaraan kekuasaan negara dalam


melaksanakan penyediaan public good and service. Disebut governance (pemerintah atau
keperintahan), sedangkan praktik terbaiknya disebut "good governance" (kepemerintahan
yang baik). Dalam penyelenggaraan Good governance ada tiga domain yang berperan yaitu
pemerintah, sektor swasta dan masyarakat. Masing-masing domain mempunyai posisi yang
sejajar dalam penyelenggaraan kepemerintahan.

Karakteristik good governance terdiri dari: partisipasi, transparansi, taat hukum, transparansi,
responsif, berorientasi kesepakatan, efektif dan efisien, kesetaraan, akuntabilitas dan visi
strategis. Karakteristik ini harus dipenuhi untuk mewujudkan good governance.

Untuk melaksanakan good governance harus memenuhi persyaratan tertentu antara lain: Tipe
kepemimpinan yang baru, kekuatan civil society, kemampuan teknis dan manajemen, ruang
partisipasi, moral dan budaya.

Kegiatan Belajar 2: Akuntabilitas Dalam Good Governance


Rangkuman
Akuntabilitas menunjuk pada institusi tentang check and balance dalam sistem administrasi.
Akuntabilitas berarti menyelenggarakan penghitungan terhadap sumber daya atau
kewenangan yang digunakan. Dengan demikian, akuntabilitas merupakan kewajiban untuk
memberikan pertanggungjawaban atau menjawab menerangkan kinerja atas tindakan
seseorang/badan hukum/pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau
kewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.

Akuntabilitas memiliki tipe, antara lain Akuntabilitas Tradisional, Akuntabilitas Fiskal


(keuangan), Akuntabilitas Manajerial, Akuntabilitas Legal, Akuntabilitas Program,
Akuntabilitas Outcomes, Akuntabilitas Manfaat, Akuntabilitas Proses, Akuntabilitas
Profesional, Akuntabilitas Politik, Akuntabilitas Moral.
Dalam pelaksanaan akuntabilitas terdapat prinsip-prinsip, antara lain komitmen pimpinan,
sistem yang menjamin penggunaan sumber daya secara konsisten, tingkat pencapaian tujuan,
dan sasaran yang ditetapkan secara konsekuen, berorientasi pada pencapaian visi dan misi,
jujur, objektif, transparan, dan inovatif sebagai katalisator perubahan manajemen instansi
pemerintah.

Hambatan-hambatan dalam pelaksanaan akuntabilitas meliputi Low literacy percentage, Poor


standard of living, General decline in the moral value, A policy of live and let live, Cultural
factors, Government monopoly, Deficiencies in the accounting system, Lack of will in
enforcing accountability, Bureaucratic secrecy, Conflict in perspective and inadequate
institusional linkage, Quality of officers, Technological obsolesce and inadequate
surveillance system, Colonial heritage, Defect in the concerning accountability, Crisis
environment

Daftar Pustaka

 Bintoro Tjokroamidjojo. (2001). Good Governance, Paradigma Baru Manajemen


Pembangunan. Cet. ke-2. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
 Hetifah Sj Sumarto. (2003). Inovasi, Partisipasi dan Good Governance, Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
 Joko Widodo. (2001). Good Governance, Akuntabilitas dan Kontrol Birokrasi,
Surabaya: Insan Cendekia.
 Miftah Thoha. Birokrasi dan Politik. (2003). Cet. ke-2. Jakarta: PT Raja Grafindo
Perkasa.
 Mustopadidjaja AR, dkk. (1999). Administrasi Negara Demokrasi dan Masyarakat
Madani. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
 Pierre, Jon & B. Guy Peters. (2000). Governance, Politic and State. England:
Macmillan Press Ltd.
 Sedarmayanti. (2003). Good Governance, kepemerintahan yang baik dalam rangka
Otonomi Daerah. Bandung: Mandar Maju.
 Teguh Yuwono & Warsito. (2001). (Ed). Manajemen Otonomi Daerah, Semarang:
CLoGapps Diponegoro University.
 Warsito & Teguh Yuwono. (2003). Otonomi Daerah, Capacity Building dan
Penguatan Demokrasi Lokal. Semarang: Puskodak UNDIP.
 Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan.
(2000). Modul Akuntabilitas dan Good

Anda mungkin juga menyukai