Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Standar operasi dan prosedur dalam mengelola dana komite sekolah


dimaksudkan menjadi panduan bagi pengurus komite sekolah serta para
penyelenggara KBM di lingkungan SMA Negeri Jakarta. SOP ini
diharapkan menjadi dasar bagi pengurus komite sekolah serta
penyelenggara KBM di SMA Negeri Jakarta dalam mengelola dana
APBS SMA Negeri dan SMKN di Jakarta dan sekitarnya sehingga me-
mudahkan penilaian dan pengawasan penggunaan dana yang tercantum
dalam APBS SMA Negeri dan SMK di Jakarta dan sekitarnya.
Sesuai dengan UU No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 46
ayat 1 “ Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara
Pemerintah, Pemda dan Masyarakat” serta sesuai dengan Anggaran
Dasar Komite Sekolah SMA N yang mengharuskan Komite Sekolah
berperan sebagai pengontrol transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan
kebijakan operasional dan program pendidikan di sekolah. Untuk itu
diharapkan SOP yang disusun secara sederhana ini dapat diterima
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan Komite Sekolah serta
penyelenggara KBM di SMA N Jakarta dan sekitranya.
Disadari bahwa SOP ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna, untuk itu masukan dari berbagai pihak yang terkait untuk lebih
sempurnanya SOP ini sangat diharapkan.
Jakarta, 30 Mei 2007,
A/N Pengurus Komite SMAN 9 Jakarta
Periode tahun 2004 – 2009,
M. Nawir Moha

1
BAB I
SISTEM AKUNTANSI

A. Dasar Hukum

Pada dasarnya setiap institusi/lembaga terutama yang


berbadan hukum diwajibkan melaksanakan atau
menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan setiap transaksi
/keluar masuknya uang dari institusi yang bersangkutan. Sesuai
dengan Peraturan Pemerintah RI No.24 Tahun 2005 tentang
standar akuntansi pemerintahan Pasal 1 ayat 2 “Akuntansi adalah
proses pencatatan, pengukuran, pengklasifikasian, pengikhtisaran
transaksi dan kejadian keuangan, penginterprestasian atas hasilnya,
serta penyajian laporan.” Sedangkan menurut KUHD dalam pasal
6 dinyatakan bahwa antara lain sebagai berikut : “ Setiap
perusahaan yang berbadan hukum diwajibkan menyelenggarakan
pencatatan atas transaksi keuangan secara teratur dan
berkesinambungan.
Demikian pula para ahli akuntansi yang bernaung dalam
organisasi profesi Ikatan Akuntan Indoesia (IAI) mengeluarkan
standar akuntansi keuangan ( SAK) yang mengatur secara baku

2
perlakuan terhadap transaksi keuangan dalam suatu badan usaha
yang ada di Indonesia.

B. Prinsip Akuntansi dan Pelaporan Keuangan.


Menurut Peraturan Pemerintah tersebut diatas prinsip
akuntansi dan pelaporan keuangan dimaksudkan sebagai ketentuan
yang dipahami dan ditaati oleh pembuat standar dalam menyusun
standar akuntansi, oleh penyelenggara akuntansi dan pelaporan
keuangan dalam melakukan kegiatannya, serta oleh pengguna laporan
keuangan dalam memahami laporan keuangan yang disajikan. Berikut
ini adalah delapan prinsip yang digunakan dalam akuntansi dan
pelaporan keuangan institusi pemerintah :
- Basis akuntansi
- Prinsip nilai historis
- Prinsip realisasi
- Prinsip substansi mengungguli bentuk formal
- Prinsip periodisitas
- Prinsip konsistensi
- Prinsip pengungkapan lengkap
- Prinsip penyajian wajar.

1. Basis Akuntansi adalah basis kas untuk penerimaan dan


pengeluaran.
2. Nilai historis yaitu aset dicatat sebesar pengeluaran kas yang
dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan untuk memperoleh
aset tersebut pada saat saat perolehan .

3
3. Realisasi adalah pendapatan yang tersedia yang telah
diotorisasikan melalui anggaran (APBS) selama satu tahun
anggaran/fiskal yang akan digunakan untuk membiayai belanja
operasional dalam periode tersebut.
4. Substansi mengungguli bentuk formal, Informasi
dimaksudkan untuk menyajikan dengan wajar transaksi serta
peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka transaksi atau
peristiwa lain tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan
substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya aspek
formalitasnya. Apabila subtansi transaksi atau peristiwa lain tidak
konsisten/berbeda dengan aspek formalitasnya maka hal tersebut
harus diungkapkan dengan jelas dalam Catatan atas Laporan
Keuangan.
5. Periodisitas, dimaksudkan kegiatan akuntansi dan pelaporan
keuangan entitas/institusi pelaporan perlu dibagi menjadi
periode-periode pelaporan sehingga kinerja entitas dapat diukur
dan posisi sumber daya yang dimilikinya dapat ditentukan.
Periode utama yang digunakan adalah tahunan, namun periode
bulanan, triwulanan dan semesteran juga dianjurkan.
6. Konsistensi, yakni perlakuan akuntansi yang sama diterapkan
pada kejadian yang serupa dari periode ke periode oleh suatu
entitas pelaporan (prinsip konsistensi internal)
7. Pengungkapan lengkap, dimaksudkan laporan keuangan
menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh
pengguna laporan.

4
8. Penyajian wajar, dimaksudkan laporan keuangan menyajikan
dengan wajar laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas
dan catatan atas Laporan Keuangan.

C. Perbedaan antara Akuntansi dan Pembukuan


1. Akuntansi , sifatnya lebih luas dari pembukuan karena
disamping mencatat transaksi juga mengklasifikasikan,
menganalisis dan mengikhtisarkan transaksi keuangan yang
terjadi.
2. Pembukuan, merupakan bagian dari akuntansi karena kegiatannya
hanya sekedar melakukan pencatatan saja atas transaksi
keuangan.

D. Fungsi Laporan Keuangan


Secara umum fungsi laporan keuangan adalah sebagai berikut :
1. Sebagai informasi kepada para fihak yang
berkepentingan yaitu :
a. Pemilik Modal/Stake Holder/Institusi
- Untuk mengetahui keadaan keuangan/perkembangan
kegiatan masing-masing unit yang bersangkutan.
- Untuk mengetahui keadaan/perkembangan kegiatan usaha
secara menyeluruh.
- Merupakan sarana pengendalian terhadap kegiatan/usaha
b. Para Nasabah/masyarakat terkait
Untuk mengetahui /memantau keadaan dana yang terhimpun
dan apakah dana tersebut dikelola secara baik.

5
c. Para Pengurus, staf dan pegawai institusi
Untuk memperoleh keyakinan akan mendapat jaminan sosial
yang baik dan keamanan dalam bekerja.
2. Sebagai alat /piranti bagi para pengelola untuk menentukan
kebijakan-kebijakan yang perlu dilakukan di saat ini atau pada
masa yang akan datang.

BAB II
STANDAR , OPERASI DAN PROSEDUR KEUANGAN
KOMITE SEKOLAH MENENGAH UMUM DAN KEJURUAN

A. Kas
Kas adalah sejumlah uang dan surat berharga yang disimpan
didalam brankas Komite Sekolah/sekolah yang berasal dari
penerimaan Iuran Peserta Didik Baru (IPDB) dan Iuran Bulanan
siswa dan dapat dipergunakan untuk membayar segala keperluan
kegiatan belajar mengajar (KBM) dan kegiatan operasional lainnya .
Ketentuan tentang pengelolaan Uang kas adalah sebagai berikut :
1. Uang kas harus disimpan di dalam brankas atau kotak uang (cash
box) yang terkunci serta ada kode kombinasinya.

6
2. Kunci dan kode brankas dipegang oleh Kasir (Bendahara) dan
Ketua Komite /Kepala Sekolah atau yang ditunjuk oleh Ketua
Komite.
3. Agar dilakukan pemeiksaan secara periodik terhadap saldo awal,
mutasi penambahan atau pengurangan serta saldo akhir yang
selanjutnya ditandatangani oleh kasir (bendahara) dan Ketua
Komite Sekolah.
4. Jumlah uang kas agar dijaga tidak terlalu berlebihan , agar
diupayakan selalu menyimpan uang di bank apabila uang dalam
kas terlalu berlebihan .Jumlah minimal dan maksimal di kas agar
disesuaikan dengan keperluan kegiatan operasional
KBM.Umumnya maksimum Rp. 5 juta dan setelah itu dapat diisi
kembali setelah jumlah sebesar Rp. 5 juta dalam kas yang
terpakai untuk keperluan operasional KBM.

B. Bank
Kegiatan pengelolaan keuangan komite sekolah sebaiknya
melakukan kerjasama dengan fihak bank karena untuk menyimpan
uang dalam jumlah yang besar tidak terjamin keamanannya kalau
hanya disimpan dalam brankas di ruangan bendahara komite
sekolah. Oleh sebab itu diusahakan agar Komite Sekolah membuka
rekening di Bank untuk menyimpan uangnya dengan ketentuan
sebagai berikut :
a. Bank yang ditunjuk untuk membuka rekening sebaiknya bank
pemerintah

7
b. Pembukaan rekening atas nama komite sekolah berupa
rekening giro atau rekening tabungan atas nama Komite Sekolah.
c. Jumlah pengurus yang menandatangani cek/giro untuk
mengambil uang atau untuk pembayaran transaksi minimal 2
orang yaitu Ketua Komite Sekolah dan Bendahara. Untuk
keperluan tersebut pada saat pembukaan rekening harus
memberikan contoh tandatangan/speciment Ketua komite
sekolah dan bendahara pada formulir yang disediakan oleh fihak
bank.

C. Pembayaran Biaya Biaya Operasional dan


Investasi
1. Pembayaran biaya operasional KBM.
Bukti bukti untuk keperluan pembayaran sebaiknya dicetak
dengan diberi nomor terlebih dahulu (prenumber invoice).Hal
tersebut dimaksudkan sebagai alat pengendalian pengeluaran
yang mengakibatkan berkurangnya jumlah uang dalam kas.
Bukti-bukti tersebut adalah bukti intern (Bukti Kas Keluar)
disamping bukti ekstern sebagai lampirannya berupa faktur dan
kuitansi pembelian serta bukti bukti lainnya sesuai dengan
kegiatan yang telah dilaksanakan. Bukti kas keluar dibuat dengan
format yang mencakup :
- Nomor dan tanggal bukti kas keluar
- Nomor kode mata anggaran/kode rekening
- Untuk keperluan
- Jumlah biaya dalam angka dan huruf

8
- Rincian biaya (apabila ada)
- Tandatangan penerima, pembayar/bendahara dan Ketua
Komite
- Stempel Komite Sekolah dan stempel lunas
2. Pembayaran Biaya Investasi/Sarana dan Prasarana
Pada prinsipnya sama dengan bukti pengeluaran untuk biaya
operasional Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) namun sebelum
bendahara melakukan pembayaran kepada yang berhak terlebih
dahulu membuat Berita Acara Penerimaan Barang dan Berita
Acara Pembayaran.

D.Penerimaan IPDB dan Iuran Bulanan


Bukti penerimaan IPDB dan iuran bulanan sebaiknya disamping
diterima langsung melalui loket dengan membuat kartu kontrol
persiswa dapat juga diterima langsung oleh Bendahara komite
dengan membuat Bukti Kas Masuk yang mencakup:
- Nomor Induk siswa
- Nama Siswa dan Kelasnya
- Jumlah pembayaran IPDB sekaligus lunas atau secara mencicil
serta jumlah pembayaran iuran bulanan yang dibuat terpisah. Hal
ini sangat membantu untuk menyusun jumlah siswa yang telah
membayar lunas dan yang masih mencicil IPDB serta jumlah siswa
yang telah membayar iuran bulanan serta jumlah uang yang telah
diterima bendahara.
- Tanggal dan tanda tangan penerima uang/bendahara dan pembayar
IPDB dan iuran bulanan(siswa langsung atau walinya).

9
Dalam keadaan tertentu terdapat sejumlah siswa/walinya yang
membayar IPDB secara mencicil dan iuran bulanan pada saat
pemberian laporan kemajuan siswa(rapor) baik mid semester
maupun akhir semester sehingga jumlah uang yang terhimpun tidak
mencukupi untuk membayar keperluan operasional setiap bulan. Hal
ini dapat mengakibatkan rencana pengeluaran yang telah tersusun
mengalami kendala sehingga tidak jarang fihak sekolah/komite
melakukan pembayaran kepada fihak ketiga secara mencicil .

BAB III
PENUNJANG PEMBUKUAN

A. Kuitansi

10
Kuitansi sebagai tanda bukti penerimaan uang atau
pengeluaran uang harus mencakup hal-hal sebagai berikut :
1. Nomor Kuitansi
2. Tanggal transaksi
3. Jumlah uang dalam angka dan huruf
4. Untuk Keperluan apa kuitansi dibuat
5. Tandatangan penerima dan saksi (apabila perlu)
6. Meterai , sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24
tanggal 20 April 2000 diberlakukan ketentuan meterai
sebagai berikut :
- jumlah dibawah Rp. 500.000,- tidak dikenakan meterai
- jumlah Rp. 500.000,- sampai dengan Rp. 1.000.000,-
dikenakan Rp. 3.000,-
- Jumlah diatas Rp. 1.000.000,0 dikenakan meterai sebesar
Rp. 6.000,-
Dalam pembukuan, apa yang tertulis dalam kuitansi akan digunakan
pula sebagai bukti untuk melaksanakan pembukuan dalam
menyusun laporan keuangan/neraca surplus maupun defisit. Oleh
sebab itu diharuskan untuk menulis dengan jelas dalam kuitansi.
Kuitansi sebagai tanda bukti bisa berasal dari fihak lain/fihak ketiga
atau dapat juga dikeluarkan oleh kalangan sekolah/komite sekolah.

B. Buku Kas Umum


Buku Kas Umum adalah buku berlajur untuk mencatat semua
transaksi baik penerimaan uang maupun pengeluaran uang secara

11
tunai yang dibuat berdasarkan jenis penerimaannya dan jenis
pengeluaranya berdasarkan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Sekolah (APBS).
Setiap penerimaan dan pengeluaran kas harus berdasarkan bukti
penerimaan dan pengeluaran kas yang dibuat prenumber dan
dilampiri bukti bukti lainnya sesuai dengan keperluannya. Hal ini
untuk memudahkan penelusuran apabila terjadi perbedaan antara
uang kas tunai dan menurut catatan dalam buku kas umum.
Lajur-lajur dalam buku kas umum minimal harus mencakup :
1. Nomor Urut
2. Uraian
3. Nomor Bukti/tanggal bukti
4. Penerimaan (Debet)
5. Pengeluaran (Kredit) perjenis mata anggaran
6. Jumlah penerimaan dan pengeluaran total
7. Saldo akhir periode.
Apabila ada penempatan dana di bank maka pencatatan penerimaan
kas yang berasal dari pencairan dana dari bank agar dicatat dalam
buku kas umum atau biasanya di catat sebagai Pre Memory (PM)
dan apabila ada penerimaan jasa giro bank agar dibukukan sebagai
penerimaan kas.

C. Buku Bank
Buku ini diperlukan apabila Komite menginginkan keamanan
dalam penyimpanan dana yang terhimpun di bank maupun di
brandkas bendahara. Dalam buku akan dicatat segala transaksi yang

12
dilakukan dengan menggunakan dana yang telah tersimpan di Bank.
Kegiatan transaksi yang meliputi setoran tunai, setoran giral,
pengambilan tunai, pembayaran biaya operasional KBM,
pembayaran lainnya melalui transfer, bunga serta biaya bank yang
timbul dan lain sebagainya.
Sebagai alat kontrol dari buku bank adalah rekening giro atau buku
tabungan atas nama komite sekolah yang diterbitkan fihak bank.
Dalam buku bank di halaman depannya dicantumkan :
a. Nama Bank
b. Nomor Rekening
c. Atas Nama
Dan kolom-kolom dalam buku bank adalah :
a. Nomor Urut
b. Tanggal
c. Uraian
d. Penerimaan
e. Pengeluaan
f. Saldo akhir
Penempatan dana di bank dimana setiap akhir bulan memperoleh
bunga bank atau jasa giro bank yang harus dicatat dalam
pembukuan dimasukan sebagai penerimaaan lain-lain komite
Sekolah.

D. Buku Pencatatan Hutang/Kewajiban


Apabila komite mempunyai tagihan-tagihan pelaksanaan kegiatan
yang belum terselesaikan (tidak dibayar tunai) maka harus dicatat

13
dalam buku catatan hutang, termasuk dalam catatan ini dana pihak
ketiga yang dititipkan atau dipinjam untuk membiayai kegiatan
operasional komite (KBM).

Pada dasarnya Buku Catatan Hutang terdiri dari :


a. Nomor Urut
b. Tanggal
c. Keterangan/Uraian
d. Masuk/Debet
e. Keluar/Kredit
f. Saldo akhir
Pembayaran/penyelesian kewajiban/hutang/pinjaman sementara
dicatat pada kolom masuk/debet sedangkan penambahan hutang
dicatat pada kolom keluar/kredit

E. Catatan Piutang Siswa/Tagihan Iuran Bulanan /IPDB


/Talangan sementara.
Buku ini sangat perlu untuk mencatat semua tagihan-tagihan
iuran bulanan/IPDB yang masih belum dibayarkan oleh para siswa
pada saat tertentu serta pinjaman/talangan sementara yang
dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan operasional yang belum
ada pertanggung jawabannya.
Dalam buku ini dicatat secara umum setiap kewajiban siswa yang
masih terbuka/tertunggak sebagai jumlah global siswa perkelas yang
rincian siswa seta kelasnya dibuat terpisah .

14
Yang dicatat dalam buku ini adalah tagihan iuran bulanan/IPDB
yang benar-benar masih terbuka serta talangan pinjaman sementara
yang belum diselesaikan. Untuk mendukung keakuratan
pencatatannya perlu dibuat kartu tagihan iuran bulanan/IPDB per
masing masing siswa dan kartu pinjaman/talangan sementara.
Kolom yang perlu ada dalam buku ini adalah :
1. Nomor Urut
2. Tanggal
3. Keterangan/Uraian
4. Masuk/Debet
5. Keluar/kredit
6. Saldo
Setiap penambahan tagihan iuran bulanan/IPDB serta
pinjaman/talangan sementara dicatat dalam kolom masuk/debet yang
akan menambah saldo piutang/tagihan dan apabila ada
pembayaran/angsuran iuran bulanan/IPDB serta pinjaman
sementara, akan mengurangi saldo piutang/tagihan.

F.Kartu Iuran Bulanan Siswa/IPDB serta Talangan Sementara.


Untuk menunjang pencatatan piutang/tagihan yang belum
dibayar maka di buat kartu untuk masing-masing siswa dengan lajur
lajur sebagai berikut :
1. Untuk Siswa
2. Nama Siswa/Kelas
3. Bulan dan Tahun
4. Tanggal pembayaran

15
5. Tanda tangan Siswa/Wali
6. Jumlah yang dibayar/kewajiban bulanan/IPDB
7. Keterangan
8. Tanda tangan Petugas/kasir.
Untuk mempermudah control terhadap jumlah kewajiban siswa
setiap bulan perlu dicantumkan besarnya kewajiban siswa dalam
setahun.
Untuk pemegang pinjaman/talangan sementara lajur-lajur
yang diperlukan disesuaikan dengan keadaan karena umumnya
waktunya yang singkat/sementara namun lajur umum adalah sebagai
berikut:
1. Nama Peminjam
2. Uraian
3. Masuk/debet
4. Keluar/kredit
5. Saldo

BAB IV
PROSEDUR PENGELUARAN

A. Prosedur Belanja Operasioal


Pengeluaran belanja operasional KBM SMA Negeri
mengaju kepada APBS yang setiap tahun disusun oleh Komite
Sekolah dan unsur sekolah setelah memperoleh persetujuan orang

16
tua siswa melalui rapat komite sekolah dan disampaikan kepada
Suku Dinas Diknas, Kodya Jakarta X serta Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta untuk diketahui.
Setiap jenis pengeluaran/belanja operasi yang tercantum dalam
APBS harus dilaksanakan secara cermat oleh Komite
Sekolah/penyelengara KBM, apabila terdapat pengeluaran/belanja
yang tidak tercantum dalam APBS maka Komite
Sekolah/penyelenggara KBM harus terlebih dahulu mengajukan
Revisi APBS yaitu dengan melakukan pergeseran anggaran yang
telah tersedia dalam APBS, namun dengan melakukan uji skala
prioritas serta angggaran yang diusulkan tidak melebihi total
anggaran yang tersedia dalam APBS.
Pada prinsipnya APBS disamping berfungsi sebagai anggaran yang
menjadi pedoman pengeluaran juga berfungsi sebaga alat
pengendalian biaya pengeluaran/belanja operasional. Untuk itu para
pengurus Komite Sekolah/penyelenggara KBM agar mematuhi
ketentuan yang telah dalam APBS.
Walaupun APBS merupakan pedoman pengeluaran setiap tahun,
namun pedoman tersebut masih bersifat formal.Pngeluaran setiap
kegiatan yang tercantum dalam APBS tersebut sesuai dengan
Keputusan Kepala Dinas Dikmenti Propinsi DKI Jakarta No. 49
tahun 2005 tanggal 23 Juli 2005. Untuk itu perlu diatur lebih lanjut
prosedur pengelolaan APBS secara internal di SMA N yang
berfungsi sebagai pedoman penyelenggaraan dana APBS baik oleh
Komite Sekolah maupun pengelenggara KBM SMA N.

17
Hal hal yang perlu diatur tersebut antara lain adalah : Prosedur
pengeluaran operasional untuk keperluan kelancaran KBM,prosedur
pengadaan sarana prasarana yang berasal dari Dana Masyarakat
dalam bentuk IPDB serta pengeluaran operasional yang berasal dari
Iuran bulanan siswa.

1. Prosedur pengeluaran operasional KBM


Setiap pengeluaran/belanja operasional yang akan
direalisasikan oleh penyelenggara KBM terlebih dahulu secara
periodik diusulkan kepada komite sekolah setelah mendapat
persetujuan dari Kepala Sekolah dengan mengacu pada APBS
yakni setiap triwulan atau sesuai dengan kondisi penerimaan
IPDB dan Iuran bulanan siswa sedangkan setiap kegiatan yang
akan dilaksanakan setelah memperoleh persetujuan dari komite
sekolah harus di otorisasi oleh kepala sekolah atau yang
mewakilinya. Tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan KBM
yang tidak tersedia anggarannnya dalam APBS dan belum
mendapat persetujuan dari komite sekolah/kepala sekolah secara
periodik

2. Prosedur Pengadan Sarana dan Prasarana.


Prosedur pengadaan sarana dan prasarana disamping
mengacu pada tersedianya dana dalam APBS, perlu diatur
tentang tata cara pengadaannya yakni:

18
- Barang - barang yang benar benar baru/bukan bekas

- Pengelola KBM/Seksi Sarpras/PanitiaPengadaan terlebih


dahulu membuat estimasi harga (Harga Perkiraan Sendiri)
setelah melakukan survey harga pasar yang wajar.
- Untuk setiap pengadaan yang nilainya diatas Rp. 5 juta,
diupayakan agar melakukan permintaan penawaran harga dari
minimal 3 rekanan penjual/pemasok barang .
- Untuk pembelian senilai dibawah Rp. 5 Juta dapat dilakukan
dengan pembelian langsung namun tetap menjaga kualitas
barang yang dibeli serta jaminan purna jual dari penjual.
- Untuk pengadaan barang/pekerjaan konstruksi yang nilainya
diatas Rp. 5 juta agar buat Surat Perjanjian/Kontrak (Purchase
Order} yang sekurang-kurangnya memuat jenis
pembelian/pekerjaan, spesifikasi pekerjaan, jaminan
penyelesaian pekerjaan, harga yang mengikat, serta kualitas
barang/pekerjaan yang diperjanjikan serta denda
keterlambatan penyerahan pekerjaan sesuai dengan jangka
waktu yang diperjanjikan dan sistim pembayarannya.
- Untuk pekerjaan/pembelian yang nilainya cukup materil dan
jenis pekerjaannya memerlukan kecermatan agar penyerahan
barang/pekerjaan dilakukan dengan membuat Berita Acara
Penyerahan/Penyelesaian pekerjaan. Berita Acara ini
dharapkan sebagai dasar pembayaran pengadaan/pekerjaan.
- Untuk pekerjaan yang sifatnya konstruksi/renovasi
bangunan agar dibuat dokumentasi penyelesaian pekerjaan

19
secara bertahap mulai dari nol prosen sampai dengan 100
prosen.
- Agar setiap barang/pekerjaan yang telah dibeli/dilaksanakan
diadministrasikan dengan tertib oleh seksi Sarpras serta
menyampaikan laporan realisasi pengadaan barang/sarpras
setiap triwulan kepada komite sekolah melalui kepala sekolah
dan tembusannya diserahkan kepada tata usaha sekolah untuk
dicatat sebagai inventaris sekolah.
- Nilai barang/sarpras yang telah diadakan dicatat dalam buku
kas Bendahara komite Sekolah sesuai dengan nilai yang
tercantum dalam Kuitansi pembelian/Nilai SPK, apabila
terdapat perbedaan karena adanya pemberian diskon/komisi
penjualan harus dicatat sebagai pendapatan lain-lain.
- Apabila ada ketentuan lainnya yang sudah berlaku untuk
setiap pengeluaran yang dananya berasal dari APBN/APBD ,
dapat dipakai sebagai acuan untuk melengkapi prosedur
pengelolaan dana yang berasal dari masyarakat (orang tua
siswa) yang tercantum dalam APBS.

BAB V

PELAPORAN

20
Laporan /catatan yang dilaksanakan setiap hari dan berkala.

1. Buku Kas Umum


2. Buku Bank
3. Buku Catatan Piutang/Tagihan iuran siswa
4. Buku Catatan Hutang/Kewajiban yang harus
dibayar
5. Buku Pembantu Penerimaan iuran bulanan/IPDB
6. Buku Pembantu Himpunan Pengeluaran per jenis
anggaran
7. Laporan Bulanan Realisasi Penerimaan dan Pengeluaran
8. Laporan Triwulanan realisasi penerimaan dan pengeluaran
9. Laporan semester realisasi penerimaan dan pengeluaran
10. Laporan realisasi pengadaan sarana prasarana triwulanan
11. Laporan realisasi pengadaan sarana prasarana semesteran /tahunan
12. Laporan realisasi penerimaan dan pengeluaran tahunan
13. Laporan realisasi APBS triwulanan
14. Laporan realisasi APBS per semester
15. Laporan realisasi APBS tahunan
16. Laporan arus kas bulanan/triwulan/semester dan tahunan
17. Laporan evaluasi pelaksanaan APBS tahunan
18. Laporan Keuangan secara keseluruhan dalam bentuk Neraca/LRA
19. Laporan Sisa anggaran lebih dan sisa anggaran kurang (Silpa dan
Sikpa)

Laporan –laporan tersebut diatas dibuat dalam rangkap 5(lima) dan


ditandatangani oleh ketua komite sekolah dan bendahara, dengan
21
ketentuan laporan dipublikasikan ditempat pengumuman umum
sekolah serta disampaikan kepada pengurus komite dan kepala
sekolah serta staf tata usaha dan guru. Setiap minimal tiga bulan sekali
laporan-laporan tersebut diverifikasi oleh komite sekolah bersama-
sama kepala/manajemen sekolah.
Apabila realisasi penerimaan iuran bulanan /iuran IPDB yang telah
dtuangkan dalam APBS tidak dapat memenuhi kebutuhan
pengeluaran yang telah dianggarkan dalam APBS maka berdasarkan
hasil evaluasi komite sekolah serta kepala sekolah dan staf ,
diupayakan agar melaksanakan kegiatan KBM serta pengadaan sarana
/prasarana berdasarkan skala prioritas. Selanjutnya pengurus komite
sekolah dan penyelenggara KBM melakukan upaya persuasif kepada
para orang tua/wali siswa untuk memenuhi kewajibannya dalam
membayara iuran bulana/IPDB.

BAB VI
TUGAS, KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB KOMITE
SEKOLAH DALAM KAITANNYA DENGAN PENGELOLAAN
KEUANGAN KOMITE SEKOLAH

A. Ketua Komite Sekolah

22
1. Melakukan pemeriksaan /verifikasi rutin setiap bulan
dengan menandatangani Buku Kas Umum
2. Menandatangani laporan bulanan /triwulanan/semester
dan tahunan
3. Melakukan otorisasi terhadap setiap penerimaan dan
pengeluaran yang tertuang dalam Bukti Kas Masuk dan Bukti
Kas Keluar
4. Melakukan pemeriksaan kas sebagai atasan langsung
Bendahara minimal 3 (tiga) bulan sekali dengan membuat
Berita Acara Pemeriksaan Kas
5. Melakukan evaluasi pengelolaan keuangan komite
sekolah secara menyeluruh minimal setiap semester
6. Bertanggung jawab atas kelangsungan pelaksanaan
pengelolaan keuangan komite sekolah sejak penyusunan
RAPBS sampai APBS sampai dengan realisasi pelaksanaan
bersama-sama pengurus komite lainnya serta fihak kepala
sekolah dan stafnya.

B Wakil Ketua Komite Sekolah


1. Melakukan penelaahan atas setiap usulan pelaksanaan
kegiatan KBM dan pengadaan sarpras setiap triwulan
2. Melakukan monitoring atas pencapaian target APBS
minimal setiap triwulan baik penerimaan maupun pengeluaan
3. Melakukan evaluasi atas realisasi penyelenggaraan
KBM dan sarpras

23
4. Melakukan review atas setiap laporan pengelolaan
keuangan yang disusun oleh Bendahara sebelum ditandatangani
oleh ketua komite
5. Bersama-sama Sekretaris melakukan
pemeriksaan/verifikasi pengelolaan keuangan setiap minimal 6
(enam) bulan serta menyiapkan laporan hasil
pemeriksaan/verifikasinya
6. Melakukan koordinasi dengan fihak sekolah dalam upaya
memperlancar pembayaran iuran bulanan/IPDB siswa

B. Sekretaris Komite Sekolah


1. Bersama-sama fihak sekolah menyiapkan RAPBS setiap awal
tahun pelajaran/penerimaan peserta didik baru.
2. Menyiapkan konsep Surat Keputusan penetapan besarnya iuran
IPDB/iuran bulanan bagi siswa yang meminta fasilitas
keringanan.
3. Bersama-sama wakil ketua komite melakukan
pemeriksaan/verifikasi terhadap pengelolaan keuangan minimal
setiap 6 (enam) bulan serta menyusun laporan hasil
pemeriksaan/verifikasinya
4. Melakukan koordinasi dengan fihak sekolah/seksi sarpras untuk
melakukan kegiatan pengadaan sarpras serta membuat laporan
realisasi pengadaan sarpras
5. Bersama-sama wakil ketua komite sekolah melakukan evaluasi
terhadap ealisasi pelaksanaan kegiatan KBM/pengadaan sarpras

24
C. Bendahara
1. Melakukan pembukuan keuangan komite sekolah sesuai
ketentuan
2. Membuat laporan-laporan pengelolaan keuangan komite
sekolah
3. Menyimpan uang penerimaan iuran bulanan siswa/IPDB dalam
brandkas maupun bank yang telah ditunjuk
4. Membayarkan uang kepada fihak ketiga berdasarkan bukti-
bukti yang sah /telah diotorisasi oleh ketua komite atau yang
mewakilinya
5. Menjaga agar posisi kas tetap likuid/seimbang antara
penerimaan dan pengeluaran
6. Segera melaporkan kepada ketua komite/pengurus lainnya
maupun kepala sekolah apabila terjadi hal-hal yang tidak
kondusif dalam pengelolaan keuangan komite sekolah

25