Anda di halaman 1dari 17

Bab8 Abnormalitas

Pada bab ini akan dibahas mengenai:


A. Pengertian Abnormalitas atau Gangguan Perilaku
Penyimpangan Dari Norma Statistik
Penyimpangan Dari Norma Sosial
Perilaku Maladaptif
Kesusahan Pribadi
B. Klasifikasi Gangguan
C. Gangguan Kecemasan
Gangguan Kecemasan Menyeluruh dan Gangguan Panik
Phobia
Gangguan Obsesif-Kompulasif
D. Gangguan Afektif
Depresi
Episode Manik
Gangguan Manik-Depresif
E. Gangguan Skizofrenia
Ciri-ciri Skizofrenia
Kekacauan Pikiran dan Perhatian
Kekacauan Persepsi
Kekecauan Afektif
Penarikan Diri dari Realita
Delusi dan Halusinasi
F. Gangguan Kepribadian
Narsistis
Kepribadian Tergantung
Kepribadian Antisosial
G. Gangguan Penyalahgunaan Obat dan Alkoholisme
Adiksi dan Habituasi
Penyalahgunaan Obat
Penggolongan Obat Bius
Alkoholisme
LATIHAN SOAL

124
A. PENGERTIANABNORMALITASATAU GANGGUANPERILAKU
Kebanyakan dari kita pemah mengalami saat-saat dimana kita merasa eemas, tertekan,
marah, gugup, dan sebagainya. Dalam menghadapi hidup yang kian kompleks, manusia
terkadang tidak dapat atau sanggup menghadapinya dengan mudah. Adalah suatu hal yang
muskiljikalau dalam keseluruhan hidupnya, manusia tidak pemah mengalami saat-saat sulit
seperti itu, apalagi di dalam era perubahan sosial dan teknologi yang kini berkembang
sedemikian eepat. Akan tetapi kebanyakan orang bisa jadi tidak benar-benar "putus asa",
karena mereka dapat mengatasi masalah dan melanjutkan hidup dengan semestinya. Lalu apa
definisi dari perilaku abnormal?
Perilaku abnormal (abnormal behavior) bagi para ahli psikologi seringkali disebut
dengan gangguan perilaku (behavior disorder), atau adajuga yang menyebutnya lagi dengan
mental illness (Morgan dkk., 1984).
Untuk mendefinisikan abnormalitas tersebut Atkinson dkk. (1992) meneoba
membandingkannya antara perilaku abnormal dengan perilaku normal. Oleh karena itu eara
mendefinisikannyadapatdilakukandenganbeberapaeara.Beberapaeara untukmendefinisikan
perilaku abnormal antara lain adalah: penyimpangan dari norma statistik, penyimpangan dari
norma sosial, perilaku maladaptif, dan kesusahan pribadi.

Pe.nyimpangan Dari Norma Statistik. Kata abl'lQrmalQf!1li11J?erC!.-rti "g! luar normal".


~befinisi abnormailtas dlcfas.arkanke~ada -penyim.pang.ankurve normal dalam statis!i..k.
Pendefinisian ini bar~ngkali !llenladi leniah~1:arena ~a~.i orang yang eerdas ~tau sangat
gembira akan dapat digolongkan sebagai abnormal. Oleh karena itu, pen'entuan abnormal
dengan eara ini masih perlu ditambah dengan indikator lain.

Penyimpangan Dari Norma Sosial. Setiap masyarakat temyata memiliki patokan tertentu:
untuk peri laku yang dapat diterima ataupun perilaku yang menyimpang (abnormal). Peri laku
menyimpang tersebut di dalam masyarakat umumnya tidak dapat diketahui dari norma
statistiknya.
Peril~~!!'yang dianggap normal oleh suatu mas~ara!<.atbisajadi dian~a1> abJLQOJlalQ.!eh
masyarnkat lain.Wsamya,1!e.ri!al<.JJPolia!ldri bagi kebanyakan ma~yarakat di dunia dianggap
sebagai abnormal, sementara bagi masyarakat gurun di Nepal, dimana pria umumnya bekerja
berhari-hari meninggalkan istrinya, perilaku poliandri (satu wan ita dengan banyak suami)
dianggap normal-normal saja. Jadi, baik perilaku normal maupun abnormal temyata berbeda-
beda dari kebudayaan satu dengan kebudayaan lainnya.

Perilaku Maladaptif. Para ahli dapat memberikan definisi perilaku abnormal berdasarkan
hal-hal yang menyimpang;'1ThiTcseear~ ~1aiistik maupun norma sosiaI.Krife"na terpenting
adalah bagaimana perilaku terse but berpengaruh pada pribadi seseorang dan/atau kelompok.
Oleh karena itu (>erilaku abnormal kemudian disebutperilaku l11aladaptif (tidak dapat
menyesuaikan diri dengan keadaan), yang memiliki dampak yang merugikan dan
membahayakan orang lain atau masyarakat.

125
Kesusahan Pribadi. Kriteria kee~'!t untukmenil~~?normalitas a.~alahadalah dari sudut
p~,!~anID!1!
sub1~ktifseseoran~dan buk~l!!}Yaperilakuorapg Iersebut. Umumnya orang yang
didiagnosis menderita ".sakitji~a;'men~alamipenderitaan batlI1~g "aKur;~_elaluknawatir,
baiinnya menderita, ~elisah, tidak dapat tidur, nafsu makan hilang, mengalami berbagai
"!acam ra~a salcit.daD nyeri. Terkadang penderitaan batin hanyalah merupakan gejala
abnormalitas, dimana perilaku penderita tampak normal-normal saja bagi orang awam.
Dari keempat kriteria di atas, maka tidak diperoleh jawaban yang memuaskan. Dalam
banyak halkeempatnyaharusdipertimbangkanbersamauntuk menilaiabnormalitasseseorang.

Neurosis dan Psikosis Neur:Q~il'_ataugangguanjiwa adalah gejala:yangumum yang dialami


-
oleh manusia
-.. pad~ ~~[Clft~rteJl.1u.~is m~nca),.llp£~lomppok
-"- gangguan~Qg..dhandai
den~~n.mstrl?~s,k~~m.~~~Ih.k~~edihan. atau gangguan malad<fu1iflctinyfmg pada tingkat
tertentu perlu.dirumah.sakit~_a11'lndividu umumnya masih dapat berhubungan dan berfungsi
di masyarakat, meskipun tidak dalam kapasitas yang penult. Sementara itu, psikosis meliputi
gangguaJlYillJg..lebihserius. Perilaku dan proses berpikir indivjdu sudah.rn~l)gaIClmi~uan
~de!TIiki_Clnrupa, sehingga suda.b tidak ada iagi kOAtakdengan relitas. lndividu juga tidak
dapat berungsi di masyarakat. Oleh karena itu, penderita psikosis tersebut perlu untuk
dirumahsakitkan.

B. KLASIFIKASIGANGGUAN
Beberapa perilaku dapat diklasifikasikan atau digolongkan sebagai perilaku abnormal.
Berdasarkan sifatnya, perilaku abnormal dapat digolongkan menjadi empat:
(1) yang bersifat akut dan sementara, yang disebabkan oleh peristiwa yang penuh dengan
stres;
(2) yang bersifat kronis dan selama-Iamanya;
(3) yang disebabkan oleh penyakit atau kerusakan pada sistem saraf;
(4) yang merupakan akibat dari lingkungan sosial yang tidak menguntungkan dan/atau
pengalaman belajar yang keliru.

Keempat sifat tersebut dapat saling tumpang tindih dan saling berinteraksi di dalam
menghasilkan perilaku abnormal. Individual differences menj(}dikanadanya 1ce.1,11!!kill!Q.?ri
~ ..-

individu, sehingga tidak ada dua orang yang l1lengalami kehidupannya se~arcqam,Lper~i§.
Namun, terdapat beberapa kesamaan yang dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori
(Atkinson dkk., 1992).
Menurut Atkinson dkk. (1992) terdapat beberapa keuntungan dan kelemahan dari
penggolongan terhadap perilaku abnormal. Keuntungannya antara .lain adalah jika kita

~emukan
jt-,!_c!al?~t .l2eJ:bagai-mfteftm-perilakua1>!lQI:mAI~i1Dg
memilah-milahkannyadengan meJl1i(~{Ci
m~ngelo!Tlpokkan ~~_babyangberhe.aa;Fe..<!a,
individu-individu tersepJJt menurut
kesamaanperilakunya dan kemudian mencari ~esamaan lainnya. Misalnya diagnosis t.~ap

-
~angguan ski~ofr~i'l telah_cu.k!.Jp banyak menunjukkan perilaku seseorang, sehingga
seorangpasien
-- yang memiliki gejala
- serupa dengan pasien lain cfapatoiberikan terapi.t~tu
yang serupa pula bila telah diketahui bahwa cara tersebut ada manfaatnya.
126
Kerugiannya ~dalah di~.12C!ikanny.a.konsepindividual differences, sehingga ciri-ciri
khusus pada pasien diabaikan pula. Klinisi berharap bahwa pasien akan cocokdengan
pengclOmpokan (diagnos'is) tertentu. Penilaian terhadap pasien juga cenderung tidak dapat
membedakan antara perilaku yang muncul dengan individu-nya.

Teknik Klasifikasi. Klasifikasi gangguan jiwa atau yang kemudian dikenal dengan istilah
diagnosis yang digunakan oleh para ahli jiwa di Amerika Serikat adalah Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorder, Fourth-Edition atau DSM-IV.
Berdasarkan DSM-IV, diagnosis yang ditegakkan mencakup beberapa hal. Menurut
American Psychiatric Association (1994), diagnosis menurut DSM-IV disebut sebagai
Multitaxial Assessment, diklasifikasikan menjadi 4 aksis, yaitu:

Axis Classification Number of


Classificatiol1

Axis I Clinical Disorders 16


Other Condition That May Be
a Focus of Clinical
Attention

Axis II Personality Disorder 12


Mental Retardation

Axis III General Medical Condition 16


Axis IV Psychological and 9
Environmental Problems

Axis V Global Assessment of scales:


Functioning (GAS) I - 100

Tabel VIII.t. Multitaxial Assessment Menurut APA

Sumber: American Psychiatric Association (1994), diolah.

Di Indonesia yang digunakan adalah PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosa


Gangguan Jiwa). Diagnosis berdasarkan PPDGJ ini juga ditegakkan berdasarkan Lima
Aksis. Kelima aksis tersebut adalah:

Aksis I & II : seluruhnya dapat dilihat di dalam klasifikasi PPDGJ;


Aksis II gangguan ciri kepribadian tertentu;
Aksis III gangguan fisik;
Aksis IV taraf stres psikososial;
Aksis V taraf tertinggi dari fungsi penyesuaian dalam satu tahun terakhir.

127
C. GANGGUAN KECEMASAN
Gangguan keeemasan meneakup sekelompok gangguan dimana keeemasan merupakan
gejala utamanya, yang be!.ll-Eakecemasan menyeluruh & 8..l!n.E.8uan
panik ataupuQ keeemasan
yang dialami .li~fh1drvidu ~rii§~~ 'mne~endaTIkanp~rilal<u_m11Iadaptif tertentu yang
dIarainInya (phobia ~ gangguan obsesif-kompulsif). Pada bagian berfkut, keempat jenis
keeemasan akan dibahas satu-persatu.

1. Gangguan Kecemasan Menyeluruh dan Gangguan Panik


S~seQrang.'y'angmen-z~\1amigangguan lceeemasan rn~n.yeluruh(generalized anxiety

khawatir ~~~:-d5<rllng
.'. -
disorder) setiap hari hidupnya dalam keadaan tegang. Penderita merasa serba salah atau
-

mgmbe&:i,.reak~iy~~g .bWebihan.terhadap .£tres ~Q&.JiDgan.


,_. -
KeTUhanfisik yang muneul antara lain adalah: tidak tenang, tidur terganggu, kelelahan, sakit
kepala, pening, dan jantung berdebar-debar. Selain itu, penderita terus-menerus
mengkhawatirkan segala maeam masalah yang mungkin terjadi dan sulit sekali untuk
berkonsentrasi atau mengambil keputusan. Jika keputusan diambil, maka yang akan muneul
kemudian adalah kekhawatiran lebih lanjut (Atkinson dkk., 1992).
~ng mengalamU5:~ee":las~n menyeluruh juga dapatmengalarnj serangan
panik (panic attaCK), §uatu keadaan seeara tiba-tiba pen)lD,qe_nK.alLkeprihatinan atau teror
yailiakut dan melu~p-Iuap. Pada saat serangan panik tiba, penderita merasa yakin bahwa
~suatu yangmengeman akan terjadi. Serangan ini umumnya juga ditandai dengan
gejala-gejala fisik seperti: kehabisan nafas, berkeringat, otot-otot bergetar, pusing, dan
rasa muak. Oalam serangan panik ini, penderita takut bahwa dirinya akan mati (Atkinson
dkk., 1992).
Orang y-anK.meJ!gal~mLKa!1gguan .!cyeemaSiJD..haikkecemasan m~!!yell!.rul! maupun
gangguan panik biasanya tidak mengetahui sebabnya meng,ap(i rn~[el5~terc~kamketakutan,
se1i1~as.aniDjQ!§e2\l~ g~~_n_ ";'ll~g~lJnJ2ang<!e!!&anbebas" ,~masan yang tidak
jelas pe~ebabnya: stimulusatauperistiwaapa~(Atkinsondkk., 1992). -
2. Phobia
Gangguan
_. - . -
Phobia memiliki _.karakter
-'-, yang berb~a_
. ... cJ~!!.&.a.!1
~angguan
-----------
menyeluruh dan gangguan panik, karenaperiyebab muneulnya phobia adalah stimulus atau
kecemasan

situasi tertentu yang menurut ~~.~anyak~!1 <?!angadalahbiasa dan-iidak'berbahaya.Penderita


pnobla, Iceiikiimenghadapi stimufiis 'atau peristiwa' tertentu biasanya menyadari bahwa
ketakutannya tidak rasional, tetapi dia tetap merasakan bahwa munculnya kecemasan yang
hanya dapat diredakan apabila dia dapat menghindarinya (Atkinson dkk., 1992).
Sebagian besar dari manusia takut pada ular atau binatang melata lainnya, dokter,
ataupun kematian. Beberapa orang mungkin memiliki phobia tertentu, meski masih dapat
bersikap normal pada hal-hal lain. Oalam taraf yang berat dan serius, dimana phobia
seseorang menjadi kian meluas dan eukup banyak mengganggu aspek kehidupan, maka
phobia dapat berkaitan dengan gangguan obsesif atau kompulsif (Atkinson dkk., 1992).
Beberapa Macam Phobia. Beberapa maeam phobia antara lain adalah (Atkinson dkk.,
1992; Chaplin, 1995):

128
Acrophobia ketakutan pada ketinggian v
Agoraphobia ketakutan pada temp at terbuka V
Clausrtophobia ketakutan pada temp at tertutup v
Hemaphobia ketakutan pada darah ,
Nyctophobia ketakutan pada kegelapan '
Enophobia ketakutan pada orang asing ,...,
Zoophobia ketakutan pada binatang tertentu v
Phobia Sekolah phobia pada anak kecil yang takut berpisah dengan orangtuanya,
karena harus sekolah.,;

3. Gangguan Obsesif-Kompulsif
Penderita
, Gangguan Obsesif.,Kompl!lslf !.l1~rasakan..keterpaksaan berpjkk tentan&.hal-
..-

h<]lyang tidak ingin mere~a £ikirkan atau melaku.kanhal-l1aLyan.g..tidak


mereka inginkiln.
Obsesi m~ruJ2akangangguan terus-menerusdaripikiran at~ubayangallya"-gtidak diinginkan.
Kompulsi adalah desakan yang tidak tertahankan yntu}(me1ak!l~antertentu. Pikiran obsesif
dapat dikaitkan dengan tindakan kompulsif. Misalnya pikiranpenderita tentan& kuman
penyakit, maka perilaku kompulsinyaa.?alah mencuci alat-alat makan berkali-kali sebelum
dipakai atau mencuci koran sebelum dibaca (Atkinson dkk., 1992).
Kita seringkali juga mengalami adanya pikiran yang mencekam dalam taraf yang
normal, seperti misalnya "Apakah kompor tadi telah saya matikan?" atau "Apakah pintu
rumah sudah saya kunci?". Pada penderita Obsesif-Kompulsif, pikiran mencekam dan
desakan untuk melakukan sesuatu telah memenuhi benaknya tetapi tidak dapat
mengendalikannya dengan baik. Penderita ini bisa menjadi cemas jika mencoba menahan
kompulsinya, dan merasa lega begitu tindakannya dilakukan (Atkinson dkk., 1992).

Gambar VIII.t. Kartun Seorang Penderita Kompulsif

Sumber: Atkinson dkk. (1993)

129
D. GANGGUAN AFEKTIF
Gangguan afektif merupaka~gmm past!la(~k~iJ!w:1osi2
atau ~o9d (~asana hati)
seseorang. Penderita gangguan ini dapat mengalami depresi atau manik (kegirangan yang
tidak wajar) afiiUdap-atbergiinlHinantaramanik dan depresif (Atkinson dkk., 1992).
1. Depresi
Setiap orang hampir_pernahmengalami depresi pada saat-saat tertentu, s~pertimisalnya
sedih,~~_n1jpa~a aKfivTtas-apapun
-~skl me~enangk_aI)..Situasi ya~ menjadi
penyebab utama depresi adalah kegagalan di sekolah di tempat kerja, atau kegagalan dalam
hal cinta. Depresi dianggap abnormal ketika depresi tersebut di luar kewajaran dan berlanjut
sampai saat dimana kebanyakan orang sudah dapat pulih kembali (Atkinson dkk., 1992).

Kehidupan Keluarga; Seorang anakberusia 7 tahun mengalami masalah dengan persepsinya.


Gambar yang dibuat menggambarkan situasi keluarga dimana anggota keluarganya
bepergian keluar rumah untuk aktivitas hadan, sehingga satu sama lain menjadi terisolasi.

Gambar VIII.2. Gambar Seorang Anak Penderita Depresi

Sumber: Meyer & Salmon (1984)

- --
Depresi gada orang norm&...d.~.atdiartikan
... "'--"..- . sebagai
_..,~- keadaan--- murungikesedihan, patah
hati, danJ2at'!.h.~emangat)
__ yang
_,.._ ditandai dengan perasaan
0"- .~._ ",. tidik puas, 11]~nurunnya
' .._ aktiyita~,
~~sE!e di.dalam men.ghadaQimasa datang. Sedang'ka.n.~.depr~)ii~~<;;~ra abnormal
dapat diartikan sebagat ketidakmauan yang ekstrim untuk merespons stiIl1ulusdan disertai
menurunnya nilaj qirj, ketidakmampuan, delusi, dan putus asa (Chaplin, 1995).
Penderita depresi tidak mampu mengambil keputusan untuk memulai suatu kegiatan
atau memusatkan perhatiannya kepada sesuatu yang menarik. Dalam taraf yang ekstrim,
penderita dapat disertai adanya kecemasan dan bisajadi mencoba untuk bunuh diri (Atkinson
dkk., 1992).
130
2. Episode Manik
Manik dapat diartikan §eg~~i tingl<.~lJ.ll!k1Lb~ra!!&.keras...Qej1m.k~~~~,
tidak terkontrol,
yang disertai dengan tidakan motorikyangberlebihan dan IJeril~u impul~Jf(Chaplin, 1995).
Dalrrni beberapa Iiii perilaku manik berlawanan dengan depresl. Gangguan ini dapat
dikategorikan lagi menjadi episode manik ringan (hipomania) dan episode parah (mania)
(Atkinson dkk., 1992).
Pada episode ringan, penderita penuh dengan energi, antusias, dan percaya diri. Dia
berbicara tems-menems, berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain tanpa memikirkan
istirahat yang cukup. Ia juga membuat rencana-rencana besar tanpa diimbangi dengan
pelaksanaannya. Perilaku manik dibandingkan dengan orang normal seringkali lebih
mengekspresikan kebencian daripada kegembiraan.
Pada episode parah (mania), penderita amat bersemangat dan hams selalu aktif. Mereka
dapat melangkah bolak-balik, menyanyi, berteriak, atau memukul-mukul dinding selama
berjam-jam. Jika orang lain akan mengganggu aktivitasnya, maka ia akan marah dan menjadi
ganas. Impuls (termasuk seksual) segera hams diekspresikan dalam bentuk tindakan atau
kata-kata. Penderita ini selain mengalami disorientasi, juga sering mengalami delusi.
3. Gangguan Manik-Depresif
Beberapa individu dapat mengalami manik saja, tetapi kebanyakan individu yang
mengalami episode manik juga mengalami saat-saat depresi. Siklus episodenya dapat
berganti-ganti antara episode manik dengan episode depresif, serta sering menunjukkan
perilaku norma di antara kedua episode tersebut. Gangguan Manik-Depresif seringkali
disebut dengan istilah gangguan bipolar, karena penderita beralih dari satu kutub perasaan
ke kutub perasaan lainnya (Atkinson dkk., 1992).

E. GANGGUAN SKIZOFRENIA
Dalam suatu pertengkaran, Vicent van Gogh pernah melemparkan sebuah gelas absinta
kepada temannya Paul Gaugiun, seorang pelukis asal Perancis. Kemudian Gauguin membawa
pulang seniman gila itu dan menidurkannya. Pada malam berikutnya, van Gogh mendatangi
Gauguin dengan membawa pisau silet. Akan tetapi tiba-tiba ia kembali ke kamarnya. Dan
di situ ia memotong sebagian telinganya (tepatnya pada bagian atas) karena luapan rasa
bersalah. Potongan telinga tadi diberikannya kepada seorang pelacur yang bernama
Rachel. "Jaga baik-baik benda ini, " katanya dalam surat terakhir van Gogh kepada
saudaranya yang ditemukan pada saat van Gogh meninggal dunia. fa menulis, "Nah,
karyaku, aku meresikokan kehidupanku untuknya, pikiranku setengah tenggelamkarenanya"
(Prabowo, 1995).

Fenomena yang dial ami oleh pelukis terkenal dari Belanda, Vincent van Gogh di atas
mempakan fenomena klasikpenderita gangguan skizofrenia. Peristiwa "memotong telinganya
sendiri" sampai sekarang masih menjadi perdebatan sejumlah ahli hingga kini.
Lalu apa yang dimaksud dengan gangguan skizofrenia?

131
1. Pengertian
Skizofrenia adalah satu istilah untuk beberapa gangguan yang ditandai dengan kekacauan
kepribadian, distorsi terhadap realitas, ketidakmampuan untuk berfungsi dalam kehidupan
sehari-hari (Atkinson dkk., 1992), perasaan dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya,
wahamldelusi, dan gangguan persepsi (PPDGJ, 1983).
Gangguan Skizofreniaini terdapat pada semuakebudayaan dan mengganggu di sepanjang
sejarah, bahkan pada kebudayaan-kebudayaan yang jauh dari tekanan modem sekalipun.
Umumnya gangguan ini muncul pada usia yang sangat muda, dan memuncak pada usia antara
25-35 tahun. Gangguan yang muncul dapat terjadi secara lambat atau datang secara tiba-tiba
pada penderita yang cenderung suka menyendiri yang mengalami stres (Atkinson dkk.,
1992).
Berdasarkan hasil penelitian di Eropa dan Asia, maka prevalensi penderita skizofrenia
adalah 0,2% sampai 1%. Semen tara di Indonesia berdasarkan survei di beberapa rumah sakit
adalah 0,05% sampai 0,15% (PPDGJ, 1983).
2. Ciri-ciri Skizofrenia
Penderita Skizofrenia menderita penyakitnya secara cepat atau lambat, dengan gejala-
gejala yang bermacam-macam. Beberapa ciri utama penderita Skizofrenia yang tidak selalu
muncul pada setiap penderitanya antara lain adalah (Atkinson dkk., 1992):
a. Kekacauan Pikiran dan Perhatian
b. Kekacauan Persepsi
c. Kekacauan Afektif
d. Penarikan Diri dari Realita
e. Delusi dan Halusinasi
Kekacauan Pikiran dan Perhatian
Menurut Atkinson dkk. (1992) kekecauan pikiran di sini merupakan kesulitan umum
untuk menyaring stimulus yang relevan.Padakebanyakan orang normal pemusatan perhatian
dapat dilakukan secara efektif.Dariberagamnyainformasiyang masuk, kita dapat menyeleksi
stimulusmanayangrelevan.Sementarapadapenderitaskizofreniakemampuaninimenghilang,
karenajika ia menghadapi banyak stimulus pada waktu yang bersamaan, maka ia sulit untuk
mengambil makna dan menyeleksi masukan-masukan yang beragam terse but.
Ketidakmampuan menyaring stimulus ini ditandai dengan pembicaraan yang tidak berujung
pangkal.
Kekacauan Persepsi
Pada penderita skizofrenia akut seringkali mengalami bahwa dunia tampak berbeda
baginya. Suara terdengar lebih keras, wama terlihat lebih mencolok, dan tubuhnya terlihat
tidak sarna (misalnya tangan tampak lebih panjang atau lebih pendek, kaki sangat panjang,
dan mata tampak keluar dari wajah). Beberapa penderita sudah tidak dapat mengenali dirinya
sendiri di dalam cermin atau melihat bayangannya sendiri seperti bayangan rangkap tiga
(Atkinson dkk., 1992).

132
Kekacauan Afektif
Penderita skizofrenia umumnya tidak dapat memberikan respons emosional yang
normal dan wajar. Mereka seringkali pasif dan tidak responsif terhadap situasi-situasi yang
seharusnya membuat mereka sedih atau gembira. Kadang-kadang mereka mengungkapkan
perasaan yang tidak sesuai dengan situasi atau pikiran yang diungkapkan (Atkinson dkk.,
1992).

Gambar VIII.3. Fragmentasi Persepsi

Gambar ini dibuat oleh seorang wan ita penderita skizofrenia yang mengalami kesu/itan
dalam menghayati wajah sebagai satu keseluruhan

Sumber: Atkinson dkk. (1993)

Penarikan Diri dari Realita


Selama mengalami penderitaan skizofrenia seseorang cenderung menarik diri dari dari
pergaulan dengan orang lain dan cenderung asyik dengan dunianya sendiri (khayalan dan
pikirannya sendiri). Keasyikan dengan diri sendiri tersebut seringkali disebut dengan
autisme. Keasyikan terhadap diri sndiri dapat menjadi amat intens, sehingga penderita
mengalami disorientasi waktu (tidak tahu hari, tanggal, dan bulan) dan disorientasi tempat
(tidak tahu dimana dia berada). Penarikan diri dari realita ini pada penderita yag akut dapat
bersifat sementara. Sedangkan pada penderita kronis, penarikan diri dapat bertahan dan
berkembang sedemikian rupa, sehingga penderita menjadi tidak responsif pada peristiwa-
peristiwa ekstemal, tetap diam dan tidak bergerak selama berhari-hari, serta harus dirawat
seperti bayi (Atkinson dkk., 1992).

133

--- -- -
- -

Gambar VIllA. Gambar Seorang Anak Penderita Autisme

Sumber: Meyer & Salmon (1984)

Delusi dan Halusinasi


Delusi adalah suatu perasaan keyakinan atau kepercayaan yang keliru, yang tidak dapat
diubah lewat penalaran atau dengan disajikannya fakta-fakta. Delusi yang sifatnya menetap
dan sistematis akan berakibat menjadi abnormal (Chaplin, 1995). Delusi pada penderita
skizofrenia berupa keyakinan bahwa kekuatan eksternal mencoba mengendalikan pikiran
dan tindakannya.Delusitersebutjuga meliputikeyakinanbahwapikirannyadapat dipancarkan
pada dunia sekelilingnya, sehingga merasa bahwa pikiran-pikirannya dapat diketahui oleh
sekelilingnya (Atkinson dkk., 1992).
Beberapajenis delusi pada penderita skizofrenia antara lain adalah delusi paranoid dan
waham kebesaran. Delusiparanoid atau delusi persekusi adalah adanya keyakinan penderita
bahwa ada orang atau kelompok tertentu mengancam atau secara diam-diam merencanakan
akan melawan penderita. Sementara waham kebesaran adalah keyakinan bahwa dirinyalah
yang kuat atau yang terpenting (Atkinson dkk., 1992).
Halusinasi adalah persepsi atau tanggapan yang keliru atau palsu, dimana penderita
menghayati gejala-gejala yang dikhayalkan sebagai hal yang nyata. Halusinasi adakalanya
dialami juga oleh orang normal (Chaplin, 1995). Pada penderita skizofrenia, delusi bisa
berdiri sendiri maupun berkaitan dengan halusinasi. Halusinasi pada penderita skizofrenia
bisa secara auditoris, visual, maupun sensoris. Halusinasi auditoris biasanya merupakan
suara-suara yang mengatakan kepada penderita tentang sesuatu yang harus dilakukannya.

134
Halusinasi visual adalah keyakinan melihat suatu objek tertentu yang tidak biasa, misalnya
melihat makhluk aneh atau malaikat. Sementara halusinasi sensoris tidak banyak terjadi,
misalnya keyakinan bahwa terdapatbau busukyang terpancar dari tubuh penderita (Atkinson
dkk., 1992).

3. Tipologi Skizofrenia
Menurut Baron (1989) Skizofrenia dapat dikategorikan lagi menjadi empat yaitu:
Disorganized Schizofrenia, Paranoid Schizofrenia, Catatonic Schizofrenia, & Undifferenti-
ated Schizofrenia. Masing-masing tipe Skozofrenia tersebut akan dijabarkan berikut ini:
Disorganized Schizofrenia
Disorganized Schizofrenia seringkali disebut dengan istilah Skizofrenia Hebefrenik
(kacau), dimana ciri yang menonjol adalah ketololan dan inkoherensi. Para penderita
seringkali tertawa atau menangis keras-keras untuk sebab yang tidak jelas dan berceloteh
tanpa makna dalam beberapajam. Beberapa di antaranya kadang-kadang mengalami delusi
dan halusinasi, meski kabur dan tidak jelas (Baron, 1989).
Paranoid Schizofrenia
Pada tipe ini, penderita mengalami delusi persekusi, yaitu adanya keyakinan melihat
orang-orang berkomplotan untuk merusak atau menyerang penderita dimana saja berada.
Mereka juga mengalami waham kebesaran. Dari kedua delusi tersebut, delusi penderita
makin terinci dan sistematis, sehingga pada suatu titik tertentu penderitaannya tersebut
seperti suatu alur dalam novel (Baron, 1989).
Catatonic Schizofrenia
Penderita skizofrenia katatonik banyak mengalami kejadian-kejadian aneh dan ganjil
(bizzare) secara menyeluruh. Penderita ini menunjukkan salah satu perilaku dari "dingin"
(beku total) atau justru mudah sekali terangsang. Seringkali mereka berada di antara kedua
sifat tersebut. Misalnya duduk seperti orang lumpuh untuk beberapa waktu yang lama,
kemudian secara tiba-tiba diinterupsi dengan suatu tindakan tertentu.Tipe ini merupakan tipe
skizofrenia yang jarang terjadi (Baron, 1989).
Undifferentiated Schizofrenia
Skizofreniajenis iniadalahbagipenderitayang tidakdapat dikategorikanpada skizofrenia
tipe yang lain, termasuk di dalamnya skizofrenia yang menunjukkan adanya gangguan pada
pikiran, persepsi, emosi, meski tidak terlihat aneh pada tipe yang lainnya (Baron, 1989).

F. GANGGUAN KEPRIBADIAN
Gangguan Kepribadian adalah pola-pola perilaku maladaptif yang sifatnya kronis, dan
sepenuhnya tidak merasakan bahwa dirinya mengalami gangguan (Meyer dan Salmon,
1984). Beberapa ciri lain penderita gangguan kepribadian antara lain adalah: kepribadian
rnenjadi tidak fleksibel, tidak wajar atau tidak dewasa dalarn menghadapi stres atau di dalam

135

- -
memecahkan masalah. Mereka umumnya tidak kehilangan kontak dengan realitas dan tidak
menunjukkan kekacauan perilaku yang mencolok seperti pada penderita skizofrenia. Penderita
ini biasanya dialami oleh para remaja dan dapat berlangsung sepan jang hidup (Atkinson dkk.,
1992). Beberapa bentuk gangguan kepribadian antara lain adalah Narsistis, Kepribadian
Tergantung, dan Kepribadian Antisosial.
Narsistis
Narsistik atau cinta pada diri sendiri digambarkan sebagai orang yang memiliki rasa
kepentingan diri yang melambung dan dipenuhi dengan khayalan-khayalan sukses, selalu
mencari puj ian dan perhatian, serta tidak peka terhadap kebutuhan orang lain, malahan justru
seringkali mengeksploitasinya (Atkinson dkk., 1992).
Kepribadian Tergantung
Kepribadian tergantung atau dependent personality disorder ditandai dengan adanya
orientasi hidup yang j2asif, tidak mampu mengambil keputusan atau menerima tanggung
jawab, cenderung/men~kan diri sendiri, dan selalu berharap memperoleh dukungan
orang lain (AtkiJ}sondkk., 1992).
Kepribadian Antisosial
Daribeberapajenis gangguankepribadian,kepribadianantisosial ataupsikopath agaknya
yang paling sering dikaji dan diagnosisnya paling handal. Para penderita umumnya hanya
sedikit sekali memiliki tanggungjawab, moralitas, dan perhatian kepada orang lain. Perilaku
mereka hampir seluruhnya ditentukan oleh kepentingan mereka sendiri. Mereka tidak
terbiasa menggunakan hati nuraninya. Jika pada orang yang normal menyadari bahwa suatu
"kesenangan" pada usia muda terkadang harus bisa ditunda untuk kepentingan orang lain,
maka tidak demikian halnya dengan penderita psikopath, yang cenderung hanya
memperhatikan kemauannya sendiri.Perilakunya impulsif,segeramemuaskan keinginannya,
dan tidak dapat menahan frustrasi (Atkinson dkk., 1992).
Kepribadian Antisosial sebenamya merupakan istilah yang tidak tepat, karena ciri-ciri
penderitanya tidak menggambarkan perilaku atau tindakan antisosial. Perilaku antisosial
disebabkan oleh beberapa hal, termasuk di dalamnya menjadi anggota gang atau tindakan
kriminal, kebutuhan akan status dan perhatian, hilangnya kotak dengan realita, dan
ketidakmampuan mengendalikan impuls. Kebanyakan kenakalan remaja yang disertai
dengan kriminalitas berkaitan dengan kepentingan keluarga (ekonomi) atau kepentingan
kelompok (gang). Sementara pada kepribadian antisosial hampir tidak berperasaan dan
agaknya tidak merasa bersalah dan mau menyesalinya, meski tindakan yang mereka lakukan
menyakitkan orang lain (Atkinson dkk., 1992).
Dua ciri yang paling umum penderita kepribadian antisosial adalah tidak dimilikinya
rasa cinta (empati kurang, tidak setia) dan perasaan bersalah atau guilty feeling (Atkinson
dkk., 1992).

136
G. GANGGUAN PENYALAHGUNAAN OBA T DAN ALKOHOLISME
Sebelummembahasmengenaigangguanpenyalahgunaanobatdangangguanalkoholisme,
ada baiknya kita bahas terlebih dahulu adiksi dan habituasi yang akan banyak terjadi pada
penderita penyalahgunaan obat dan alkoholisme.

Adiksi dan Habituasi Adiksi atau kecanduan/ketagihan adalah keadaan bergantung secara
fisik pada suatujenis obat bius. Pada umumnya kecanduan tersebut akan menambah toleransi
terhadap obat bius, ketergantungan fisik, dan ketergantungan psikologis (Chaplin, 1995).
Ketergantungan psikologis itulah yang kemudian disebut sebagai habituasi. Keadaan adiksi
biasanya ditandai dengan adanya toleransi, penambahan dosis secara terus-menerus untuk
mendapatkan dampak yang sarna, dan withdrawal atau penarikan diri dari masyarakat
apabila pemberian obat bius tersebut dihentikan (Atkinson dkk., 1992; Chaplin, 1995).
Habituasi (ketergantungan psikologis) mengacu kepada kebutuhan yang berkembang
melalui belajar. Orang yang terbiasa menggunakan obat untuk meredakan kecemasannya
dapat menjadi kecanduan pada obat tertentu, meski tidak terdapat adanya kebutuhan secara
fisiko Misalnya para pemain sepakbola yang menggunakan obat-obatan tertentu untuk
mengurangi rasa sakit akibat cedera kaki, akan ketagihan dalam pemakaian obat-obat
tersebut meski ia tidak mengalami cedera lagi.
Baik adiksi maupun habituasi tersebut dapat terjadi pada seseorang yang mengkonsumsi
alkohol, obat bius, dan narkotika (Atkinson dkk., 1992).

1. Penyalahgunaan Obat (Drug Abuse)


Menurut Chaplin (1995) penyalahgunaan obat (dalam hal ini adalah obat bius) adalah
penggunaan obat bius sampai derajat sedemikian rupa, sehingga mengakibatkan rusaknya
kemampuan penyesuaian diri secara sosial, kesehatan secara fisik dan mental. Semen tara
kecanduan obat bius (drug addiction) adalah penggunaan obat bius sebagai kebiasaan yang
disertai dengan ketergantungan psikologis dan fisiologis.

2. Penggolongan Obat Bius


Obat bius biasanya digolongkan dalam beberapa bagian: Obat Penawar, Opiate Narcot-
ics, Stimulans, Obat Penenang, dan Halusinogen. Penggolongan obat bius yang disertai
dengan pengaruh yang ditimbulkan bagi penggunanya akan dibahas berikut ini (Chaplin,
1995).

Obat Penawar
Obat penawar mencakup alkohol, barbiturate/obat bius tidur (phenobarbital, nembutal,
seconal), hidrat khloral, dan bromidal. Secara medis obat penawar ini digunakan untuk
merangsangistirahat,relaksasi,tidur,mengurangi/menghilangkankecemasan,dan meredakan
kejang-kejang atau ketegangan. Ketergantungan penderita dapat secara fisiologis maupun
psikologis disertai konsumsi yang makin parah, sehingga menyebabkan toleransi dan
ketergantungan silang dengan obat-obat lain yang sejenis, serta adanya dampak potensial

137
(potential effect), yang ditandai dengan satu jenis obat bius justru akan menonjolkan
pengaruh pada obat bius lainnya yang sejenis.
Opiate Narcotics
Opiate Narcotics mencakup obat bius seperti candu/opium, morfin, kodein, serta obat
sintetis seperti demeroldan methadon.Obat biusjenis ini dapat menimbulkankeadaan euforia
(perasaan senang dan keenakan), rasa muak, rasa kantuk, apati, dan letargi (kelesuan). Secara
medis obat jenis morfin, kodein, dan demerol dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit.
Ketergantungan psikologis pada pecandu obat-obatanjenis ini akan menjadi amat kuat
dan sukar untuk disembuhkan. Sementara ketergantungan secara fisiologis paling kuat
pengaruhnya adalah dari jenis heroin, yang berdampak terhadap masalah sosial yang serius
(pengasingan diri).
Stimulans
Stimulans (obat perangsang) yang paling umum digunakan adalah nikotin, kafein,
amphetamine (benzedrine,dexedrine, dan mathadrine), dan kokain. Nikotin (pada tembakau)
dan kafein (pada kopi dan teh) dipakai secara umum dan luas oleh masyarakat. Beberapa ahli
berpendapat bahwa tingkat ketergantungan pada nikotin dan kafein terdapat pada para
pecandu obat-obatan lain jenis ini.
Amphetamine banyak digunakan untuk mengobati narkolepsi, depresi, obesitas, dan
anak hiperaktif. Obat ini memiliki efek menenangkan, menekan atau menghilangkan rasa
lapar (bagi kegemukan), bertambahnya kesiagaan, insomnia, dan euforia. Penggunaan
secara kronis akan memberikan efek lekas tersinggung dan marah, berkurangnya bobot
badan, agitasi (mudah gelisah, bingung, bergejolak, dan terhasut) reaksi paranoid, dan
pengasingan diri.
Obat Penenang (Tranquilizers)
Obat penenang mencakup perantara anti psikotik (chloromazine, reserpine, dan garam
lithium) dan obat anti kecemasan (valium, miltown, dan equanil). Obat jenis ini berfungsi
untuk mengurangi atau menghilangkan ketegangan, menekan delusi dan halusinasi, dan
menyembuhkan gejala-gejala psikosis. Obat jenis ini banyak digunakan di RSJ, dan dalam
taraf yang ringan digunakan juga di masyarakat luas dengan resep dokter bagi penderita
gejala psikosis yang masih ringan.
Halusinogen (Psychedelics)
Halusinogen mencakup LSD (lysergicacid diethymide), mescaline (dari kaktus peyote),
psilocybin (dari jamur Mexico), hashish (dari rami-rami Indian), dan marijuana (dari
Canabis sativa). Obat halusinogen dapat menimbulkan atau mempertinggi gambaran-
gambaran visual, meningkatkankesadaransensorisdankecemasan, terganggunyakoordinasi,
dalam beberapa kasus menimbulkan perasaan yang tergantung. Secara medis penggunaan
obat ini hanya untuk penelitian eksperimen belaka. Sementara pada masyarakat luas, karena

138
kemudahan diperolehnya menyebabkan penggunaannya tidak dapat dikendalikan, terutama
dari jenis marujiana, yang dapat menimbulkan reaksi mirip psikosis berupa halusinasi.
3. Alkoholisme
Alkoholisme dapat diartikan sebagai kekacauan dan kerusakan kepribadian yang
disebabkan karena nafsu untuk minum yang bersifat kompulsif, sehingga penderita akan
rninum rninuman beralkohol secara berlebihan dan dijadikan kebiasaan (Chaplin, 1995).
Pengertian alkoholisrne tersebut juga mencakup tidak dapat dikendalikannya kernampuan
berpantang atau adanya perasaan tidak dapat hidup tanpa minurn (Atkinson dkk., 1992).
4. Tahapan dalam Alkoholisme
Penderita Alkoholisme umumnya melewati empat tahap yang meliputi: Pra Alkoholik,
Prodormal, Gawat, Kronis (Atkinson dkk., 1992).
a. Pra Alkoholik
Patahap ini individu minum-rninum bersarna-sama ternan sebayanya dan terkadang
minum agak banyak untuk meredakan ketegangan dan rnelupakan masalah yang
dialaminya. Minum dalam jurnlah yang banyak makin sering, dan pada saat rnencapai
kemelut, individutersebut menarnbahjumlah minumannyauntuk mendapatkan pengaruh
alkohol yang dianggapnya rnembantu.
b. Prodormal
Pada tahap ini individu minum secara sembunyi-sembunyi. Ia masih tetap sadar dan
relatif koheren tetapi kemudian tidak lagi dapat mengingat kejadian-kejadian yang
pernah dialaminya. Ia merasa asyik dengan minuman keras dan menyesalkan hal itu,
tetapi selalu gelisah kapan dan dimana ia akan memperoleh minuman berikutnya.
c. Gawat
Pada tahap ini, semuakendali hilang. Penderita akan minum dan rnelanjutkannya sampai
pingsan atau sakit. Pergaulan sosial rnenjadi makin buruk dan ia terang-terangan
melakukannya di hadapan keluarga, teman-teman atau di kantor. Penderita pada tahap
ini mulai minum pada pagi hari, lalu minum terus-rnenerus sampai berhari-hari tanpa
mengindahkan aturan makannya. SeWaktu-waktuia dapat "berpuasa minurn" (selama
berminggu-minggu sarnpai berbulan-bulan), akan tetapi begitu ia minum, maka pola
keseluruhannya akan dimulainya lagi. Sebutan "gawat" diberikan karena jika ia tidak
mendapat pertolongan, maka ia akan beranjak menjadi pecandu alkohol yang kronis.
d. Kronis
Pada tahap ini hidup penderita hanya untuk minum, minum terus-menerus tanpa
berhenti. Kondisi tubuhnya sudah terbiasa dengan alkohol, sehingga ia mengalami
gejala-gejala penarikan diri tanpa alkohol dan gejala-gejala gangguan fisiologis. Orang
ini sudah tidak memperhatikan penampilan diri dan hubungan sosialnya, sehingga
hidupnya berkeliaran di jalan-jalan.

139

-- --
LATIHAN SOAL
1. lndikator-indikatorapayang dapat dijadikan ukuran untuk membedakan orang yang
berperilaku normal dan orang yang berperilaku abnormal?
2. Apa perbedaan antara psikosis dengan neurosis?
3. Gejala-gejala apa yang menandai berkembangnya kecemasan menyeluruh menjadi
serangan panik?
4. Terdapat beberapa jenis phobia, sebutkan tiga di antaranya!
5. Ciri-ciri apa yang menandainya berkembangnya gangguan dan obsesifmenjadi obsesif-
kompulsif!
6. Sebutkan dan jelaskan secara singkat beberapa gangguan afeksi!
7. Sebutkan beberapa ciri utama dari Skizofrenia!
8. Apa bedanya delusi dengan halusinasi!
9. Apa yang dimaksud dengan:
a. SkizofreniatipeParanoid
b. Skizofrenia tipe Katatonik.
10. Sebutkan dan jelaskan secara singkat beberapa gangguan kepribadian!

140

Beri Nilai