Anda di halaman 1dari 11

KomMTi – Volume : 2, No.

: 4 / April 2008

JURNALISME DAMAI VERSUS JURNALISME KEKERASAN


(ALTERNATIF MEMINIMALISIR POTENSI KONFLIK)

Oleh : Dede Drajat 1

Abstract

This article describes trend of national mass media, although


they don’t yet forging war, but its role in a few conflict in Indonesia
are frequently seen as provocators into certain situation. Mass
media is assumed to sell violence in the pleasing their readers and
getting selling point from it. Media forget social fanaticm of the
public. They forget those news can easily to trigger the public
emotion. We offer peace journalism concept as an alternative to
minimize conflict potencys and to enlarge the potency of integrate
nation.

Keywords: Peace Journalism, Violence Journalism

Artikel ini menjabarkan mengenai trend media massa,


meskipun mereka belum ditempa di peprangan, tetapi perannya di
sejumlah konflik di Indonesia sering membaut mereka nampak
seperti provokator di sejumlah situasi. Media massa dianggap telah
menjual kekerasan untuk menyenangkan pembaca dan
mendapatkan penjualan yang baik dari hal itu. Media melupkan
kefanatikan sosial dari publik. Mereka lupa berita yang mereka
sebarkan dapat memicu emosi publik. Kami menawarkan konsep
jurnalisme damai sebagai alternatif untuk meminimalkan potensi
konflik dan memperbesar potensi dari persatuan bangsa
Kata kunci : Jurnalisme Damai, Jurnalisme Kekerasan

Pendahuluan
Indonesia telah mengalami banyak insiden kekerasan
sejak 1998, mulai dari kekerasan rasial pada 13-14 Mei 1998 di
Jakarta terhadap etnis Tionghoa, pembersihan etnis Madura di
Sambas, Kalimantan Barat pada 1999, konflik di Maluku 2000-

1
Peneliti di Pusat Litbang Aptel, SKDI-Badan Litbang SDM- Depkominfo.
Sebagian data artikel ini disediakan oleh Drs. Henry Subiakto, SH, MA; Staf Ahli
Menkominfo, Bidang Media Massa, Depkominfo, Ketua Program Pasca Sarjana Studi
Media dan Komunikasi, FISIP Universitas Airlangga.
______________________________________________________________________
Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 73
KomMTi – Volume : 2, No. : 4 / April 2008

2001, darurat sipil di Aceh, dan konflik Muslim-Kristen yang kronis


di Poso sejak Desember 1998.
Meletusnya aksi-aksi kekerasan ini tampaknya terkait
dengan peningkatan identitas rasial, etnis, atau keagamaan yang
dahulu ditekan dan dihomogenisasi di bawah rezim otoriter
Soeharto demi kepentingan politik, khususnya stabilitas nasional,
untuk memastikan proses pembangunan ekonomi berjalan
dengan baik.
Selama era Orde Baru, konflik-konflik seperti tadi
disembunyikan di bawah "karpet tebal persatuan dan kesatuan"
dan diselesaikan dengan cara-cara represif. Pihak-pihak yang
berseteru dibungkam. Kita menganggap konflik sudah selesai
tetapi sebenarnya kita terus- menerus menyimpan bom waktu.
Sejak Orde Baru tumbang, euforia demokrasi membuka
peluang bagi kelompok-kelompok tersebut untuk menggaungkan
kepentingan-kepentingannya.
Dalam kondisi demikian, identitas kelompok tumbuh dan
terkadang saling bersaing yang pada gilirannya tidak jarang
menimbulkan ketegangan dan konflik antarkelompok tersebut.
Ketegangan dan konflik tersebut sering menimbulkan kekerasan
dan kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Selain itu,
fenomena ini mengindikasikan integritas nasional yang mulai
terancam. 2
Sejak runtuhnya rezim Soeharto, kekerasan dan kerusuhan
di beberapa wilayah Indonesia seakan-akan tak kunjung usai.
Konflik antar suku, ras, agama, kelompok dan antar golongan
terus berkobar silih berganti dengan tidak sedikit membawa jatuh
korban. Dari masa Presiden Habibie, Presiden Abdurahman
Wahid, Presiden Megawati Soekarnoputri hingga masa
pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kondisi
stabilitas masyarakat Indonesia belum nampak kembali “normal”
seperti sebelum krisis.

Banyaknya peristiwa kekerasan dan kerusuhan yang


menjadi konsumsi pemberitaan sehari-hari. Media massa
cenderung mengeksploitasi aspek dramatik konflik demi
penciptaan sensasi. Implikasi yang berkembang subur justru
potensi konfliknya dibandingkan potensi integrasi, sehingga
eskalasi konflik semakin meluas. Walaupun pada dasarnya

2
http://www.suaramerdeka.com/harian/0502/14/opi4.htm
______________________________________________________________________
Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 74
KomMTi – Volume : 2, No. : 4 / April 2008

mengangkat peristiwa kekerasan menjadi suatu berita merupakan


hal yang wajar karena mengandung realitas yang bernilai berita.
Namun, akan menjadi persoalan manakala kondisi sistem sosial
politik Indonesia saat ini sedang mengalami kerawanan. Artinya,
peran strategis pemberitaan media massa yang cenderung akan
menciptakan potensi konflik akan menjadi signifikan untuk
dibicarakan.

Dalam masyarakat senantiasa hadir potensi konflik dan


sekaligus potensi untuk berintegrasi. Pada konteks konflik,
dikatakan Mark Thompson, tidak dipungkiri bahwa konflik
masyarakat sipil terjadi karena persaingan berbagai kekuatan
politik. Media massa mempunyai peranan besar dalam
menghasilkan konflik tersebut. Dicontohkan, sebagaimana yang
terjadi di Rwanda, Bosnia dan Kosovo. “ All sides have sought to
mobilize and manipulate public opinion. The media no longer
merely comment on war, they are part of the frontline”. (Mark
Thomson, “Forging War”, 1999). 3

Di Indonesia, media massa memang belum sampai pada


“forging war” (membentuk perang), namun peranannya dalam
beberapa konflik di tanah air diasumsikan “memanasi” situasi.
Media massa dianggap menjual kekerasan untuk kepentingan
pembacanya. Media lupa akan fanatisme masyarakat yang bisa
dengan mudah terpicu emosionalnya karena adanya suatu
pemberitaan.

Tulisan ini tidak akan memaparkan jurnalistik kekerasan


versus jurnalistik perdamaian dalam kontek adanya potensi konflik
dan potensi integrasi dalam masyarakat Indonesia secara
mendalam, namun arah tulisan akan lebih memfokuskan
bagaimana sebenarnya gambaran jurnalisme damai sebagai
salah satu alternatif meminimalisir potensi konflik. Tulisan ini juga
tidak berpretensi untuk menarik kesimpulan adanya keterkaitan
antara suatu pemberitaan dengan konflik yang terjadi, namun
hanya akan melihat adanya upaya alternatif dari jurnalisme damai
(peace jurnalism) dalam rangka meredakan konflik-konflik yang
sampai saat ini belum berkesudahan.

3
Henry Subiakto, Kompas, Jurnalisme Damai, 18 Desember 2000
______________________________________________________________________
Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 75
KomMTi – Volume : 2, No. : 4 / April 2008

Jurnalisme Kekerasan

Jurnalisme kekerasan atau juga war journalism, mempunyai


karateristik, ketika memberitakan pertikaian di masyarakat lebih
berorientasi pada peristiwa kekerasannya. Seakan-akan
kekerasan yang merupakan penyebab kekerasan itu sendiri,
violence as its own cause. Jurnalisme ini pemberitaannya
cenderung berfokus pada arena, atau tempat di mana konflik
kekerasan itu sedang terjadi. Dalam liputannya, yang diberi
banyak perhatian pada dampak yang nampak secara fisik, seperti
jumlah korban yang mati, atau cedera, jumlah materi yang hancur,
atau yang terbakar, baik yang berwujud rumah, mobil, masjid,
gereja atau bahkan desa. Dengan kata lain jurnalisme kekerasan
lebih suka mengekspolitasi the visible effect of violence, korban
kekerasan yang nampak dibanding efek kekerasan yang tidak
tampak.

Bagi khalayak yang diterpa media yang menggunakan war


journalism, lebih dimungkinkan ikut larut ke dalam emosi untuk
memihak salah satu bagian masyarakat yang sedang berkonflik.
Apalagi jika dalam pemberitaan itu, media menyederhanakan
masalah dengan mereduksi pihak-pihak yang terlibat konflik
kekerasan hanya dengan konsep "us and them" (kelompok kita
dan mereka). Kemudian menunjukkan ataupun "berkesan"
memberikan penilaian, tentang pihak mana yang sedang menjadi
pemenang ataupun pecundang (winners and losers).

Sumber berita violence journalism lebih banyak berasal dari


elite yang bertikai. Padahal elite politik dimanapun dan siapapun
cenderung menggunakan statementnya sebagai bagian dari
upaya "menyerang" atau "mengalahkan" pihak lain, sehingga
isinya banyak yang bersifat spekulatif dan provokatif. Dalam
konteks, violence journalism, suara-suara alternatif, rakyat kecil,
para korban pertikaian politik, atau mereka yang merindukan
kedamaian, kurang mendapatkan tempat sebagai sumber berita.

Kebanyakan diduga pengelola media ketika berhadapan


dengan fakta sosial yang berupa konflik, memang cenderung lebih
suka menggunakan pendekakan war journalism. Mereka seakan
"menjual" kekerasan untuk kepentingan industri medianya.
Dengan alasan semangat keterbukaan, atau fungsi media sebagai
cermin realitas (the mirror of events), demi menyenangkan target
audience, dan public opinion media itu, lalu mereka melupakan
fanatisme sosial yang terkadang "mudah" terpicu emosionalnya.

______________________________________________________________________
Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 76
KomMTi – Volume : 2, No. : 4 / April 2008

Jurnalisme Perdamaian
Istilah jurnalisme damai mulai diperkenalkan kali pertama
oleh Profesor Johan Galtung, ahli studi pembangunan pada 1970-
an. Galtung mencermati, banyak jurnalisme perang yang
mendasarkan kerja jurnalistiknya pada asumsi yang sama, seperti
halnya para jurnalis yang meliput olahraga. Yang ditonjolkan
hanyalah kemenangan dan kekalahan dalam "permainan kalah-
menang" antardua pihak yang berhadapan. 4
Peace Journalism mendasarkan pada standard jurnalisme
modern, yang berpegang pada azas imparsialitas, faktualitas,
sekaligus dilengkapi dengan prinsip-prinsip yang bertujuan untuk
menghindarkan kekerasan. Atau mencegah terjadinya kekerasan
di dalam masyarakat. Makanya jurnalisme ini mengajarkan,
wartawan jangan menjadi bagian dari pertikaian, melainkan harus
menjadi bagian dari upaya solusi. 5

Pada saat media massa dihadapkan realitas yang isinya


pertikaian dengan kekerasan, jurnalisme damai menyarankan
tetap diungkapnya peristiwa itu, namun menerapkan prinsip-
prinsip obyektivitas berita. Menerapkan framing 6 yang
berorientasi pada pengungkapan informasi konflik, mengungkap
akar masalah, dan menunjukkan konsekuensi negatif akibat
konflik tersebut. Dalam konteks ini, media dituntut mampu
mengungkap fakta secara lebih lengkap, menggambarkan atau
melakukan mapping, memetakan konflik guna memunculkan
solusi. Prinsip jurnalisme 5 W + 1 H, ditambah dengan unsur S,
yaitu solusion. Artinya pers memberi ruang yang cukup untuk
pemikiran lain yang netral, yang rasional, dan kredibel, agar
terjadi diskusi sosial untuk mencari solusi yang paling kecil
resikonya.

4
Muhammad Ali, “Jurnalisme Damai, Suatu Keniscayaan”, dikutip dari
http://www.suaramerdeka.com/ Harian/0502/14/0pi4.htm

5
Henry Subiakto, Kompas, Jurnalisme Damai, 18 Desember 2000.

6
Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau
ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan
pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau
lebih diingat, untuk menggiring interprestasi khalayak sesuai perspektifnya. Framing
adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif ketika menyeleksi isu dan
menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa
yang akan diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak dibawa
ke mana berita tersebu. (Eriyanto, “Analisis Framing”, Konstruksi, Ideologi, dan Politik
Media, LkiS, Yogyakarta, 2004).
______________________________________________________________________
Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 77
KomMTi – Volume : 2, No. : 4 / April 2008

Jurnalisme damai juga menampilkan berita dengan


pendekatan framing bahwa konflik dengan kekerasan merupakan
suatu problem kemanusiaan yang harus dihentikan dan dicegah.
Konflik dengan kekerasan hanya akan memunculkan kerugian,
penderitaan kemanusiaan, trauma psikologis, hilangnya masa
depan, rusaknya struktur sosial, moral, dan budaya. Atau
menunjukkan invisible effect of violence. Yang penyembuhannya
membutuhkan waktu lama, dan sulit.

Dalam konteks ini, intinya media secara etis berkewajiban


mencari empati pada audience-nya, bahwa kekerasan hanyalah
membuahkan kesengsaraan. Karena itu suara-suara orang yang
menginginkan perdamaian, ataupun korban-korban kekerasan
yang sudah cukup banyak di negeri ini, yang biasanya wanita,
orang tua dan anak-anak harus diberi tempat yang proporsional di
dalam pemberitaan. Dengan demikian agenda media tidak hanya
dipenuhi oleh statement elite yang bertikai, yang acapkali
"memanaskan telinga" pihak lain. Tapi lebih banyak menampung
suara pencinta perdamaian, atau jeritan korban pertikaian politik,
giving voice to the voiceless, memberikan kesempatan bicara
pada mereka yang tidak bersuara, agar teriakan segera
diwujudkannya sehingga perdamaian dapat terlaksana.

Selanjutnya pemberitaan media lebih diorientasikan untuk


mencari inisiatif-inisiatif solusi dan rekonsiliasi, sekaligus
mencegah terjadinya kekerasan baru di masyarakat. Di sinilah
perlunya kepandaian dan kreativitas kalangan jurnalis. Di satu sisi
mereka tetap mengungkap fakta, namun di sisi yang lain mereka
dituntut arif, dengan memberikan bingkai pada fakta itu, bahwa
kekerasan hanya akan memunculkan penderitaan dan
kehancuran. Dan kedamaian hanya akan terwujud bila kekerasan
ditiadakan. Itulah sebuah alternatif jurnalisme untuk negara yang
sedang dilanda ancaman konflik kekerasan sosial seperti
Indonesia.

Solusi Alternatif

Pemberitaan media di Indonesia -hanya karena dengan


alasan mengejar tiras- tak jarang meninggalkan standard
jurnalisme profesional, yaitu dalam pengungkapan fakta tidak
didasari pada tuntutan etika dan jurnalisme modern. Seringkali
kurang memperhitungkan konsekuensi dari pemberitaan yang
tidak mengikuti kaidah jurnalisme. Kaidah etika, azas

______________________________________________________________________
Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 78
KomMTi – Volume : 2, No. : 4 / April 2008

imparsialitas, hingga obyektivitas yang menuntut akurasi berita


acapkali dilupakan. Padahal dalam setiap pemberitaan media
massa senantiasa dituntut untuk meperhitungkan segala aspek
jurnalisme ini, dan apabila prinsip jurnalisme itu dilakukan dengan
sendirinya isi media tidak akan terkesan provokatif atau mem
blow up pertentangan.

Penerapan standard jurnalisme tersebut menjadi penting,


mengingat pada dasarnya media massa merupakan sarana
manusia untuk memahami realitas. Sebab itu media massa
senantiasa dituntut mempunyai kesesuaian dengan realitas dunia
yang benar-benar terjadi. Maksudnya agar gambar realitas yang
ada di benak khalayak - the world outside and the pictures in our
heads, demikian istilah Lippman (1922) - tidaklah bias karena
informasi media massa yang tidak kontekstual dengan realitas.

Media massa dibutuhkan masyarakat tak lain karena


informasinya. Informasi itu sebagai dasar menentukan sikap,
perilaku, atau pun respon terhadap berbagai hal, termasuk
persoalan politik. Media massa mempunyai tanggung jawab
moral terhadap kebenaran informasi. Karena etos dasar media
-menurut Magnis Suseno--tak lain adalah etos kebenaran.
Kebenaran dalam pengertian etos ini adalah memberitakan
keadaan sebenarnya (Suseno; 1986:122).

Dalam jurnalisme, kebenaran tidaklah bisa diklaim oleh satu


pihak. Tapi harus dikonfirmasikan menurut kebenaran dari pihak
lain. Inilah mengapa pemberitaan di media senantiasa dituntut
untuk mengungkapkan kebenaran secara impartial. Yaitu salah
satu syarat obyektifitas berita yang sering dikenal dengan istilah
pemberitaan cover both side, dimana media menyajikan semua
pihak yang terlibat sehingga pers mempermudah pembaca
menemukan kebenaran (Siebert, Peterson, Shramm; 1986:100).
Selain tuntutan pemberitaan yang fair, media juga dituntut
melakukan pemberitaan yang akurat, yang tidak boleh berbohong,
menyatakan fakta jika itu memang fakta, dan pendapat jika itu
memang pendapat (Siebert, Peterson, Shramm; 1986:99).

Sementara dalam konsepsi yang sama Everette Denis dan


DeFleur dalam buku Understanding Mass Communication,
menunjukkan bahwa media senantiasa dituntut mengembangkan
pemberitaan yang obyektif, yaitu "reporting format that generally
separates fact from opinion, presents an emosionally detached
view of the news, and strives for fairness and balance" (DeFleur;

______________________________________________________________________
Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 79
KomMTi – Volume : 2, No. : 4 / April 2008

1994:635). Tuntutan lain suatu pemberitaan yang ideal adalah


tidak menggunakan bahasa yang mengeraskan realitas, atau
puffery. Media hendaknya bisa mengungkap fakta tanpa harus
membuat pembacanya menjadi ingin ikut terlibat dalam konflik
yang diberitakan. Sedang menurut McQuail, suatu pemberitaan
yang objektif mempunyai syarat-syarat sebagaimana yang dia
kemukakan dalam buku Mass Communication Theory bahwa
"information should be objective in the sense of being accurate,
honest, sufficiantly complete, true to reality, realible, and
separating fact from opinion. Information Should be balanced and
fair (impartial) ---reporting alternative perspectives in a non-
sensational, unbiased way" (McQuail; 2000 : 172). Jadi menurut
perspektif ini, informasi dikatakan objektif jika akurat, jujur,
lengkap, sesuai dengan kenyataan, bisa diandalkan, dan
memisahkan fakta dengan opini. Informasi juga harus seimbang
dan andil, dalam arti melaporkan perspektif-perspektif alternatif
dalam sifat yang tidak sensasional dan tidak bias.

Obyektivitas, betapapun sulitnya, harus diupayakan oleh


insan-insan media. Obyektivitas berkait erat dengan kemandirian
media sebagai institusi sosial. Institusi media memang dituntut
obyektif dan netral atas semua fakta. Hal itu penting mengingat
signifikasi efek media terhadap khalayak, sebagaimana konsepsi
Lippmann di bagian muka.

Upaya menyampaikan kebenaran fakta yang akurat juga


berkait dengan persoalan pemilihan bahasa. Dalam proses
komunikasi bahasa bukan sekadar sarana untuk dimuati oleh
pesan, tetapi pilihan bahasa memiliki arti yang sangat penting
terhadap proses pemaknaan. Menurut teori Terministic Screen
dari Burke, bahasa mempunyai makna yang amat penting. "Term
with not only focus the attention of the audinece on a specific
subject, but also limit the audience' perception and direct the
audience though and belief system" (Burke, 1966). Disini bahasa
tidak hanya untuk memfokuskan perhatian khalayak pada
masalah tertentu, tetapi juga membatasi persepsi mereka dan
mengarahkannya pada cara berpikir tertentu.

Permasalahannya adalah apabila bahasa yang digunakan


menggunakan bahasa kekerasan, atau puffery. Yaitu bahasa
yang menurut Preston dan Johnston diartikan sebagai: Blow up,
exaggerate, over state, or state superlatives concerning matters of
subjectives judsments and opinion…(Presston dan Johnson,
1972:558).

______________________________________________________________________
Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 80
KomMTi – Volume : 2, No. : 4 / April 2008

Namun karena media massa dengan insan pengelolanya


memiliki berbagai kepentingan, termasuk kepentingan politik,
maupun ekonomi, ataupun juga ada keterbatasan profesionalisme
maka tak jarang berita surat kabar tidak memenuhi tuntutan
standar jurnalisme. Hal demikian menjadi amat penting untuk
diketahui, terutama bersamaan dengan adanya agenda politik
nasional yang diwarnai dengan konflik antar elite. Sekaligus masih
seringnya terjadi konflik kekerasan di berbagai daerah, baik itu
berupa kerusuhan SARA, maupun separatisme, dan konflik politik
lokal.

Kesimpulan

Dalam upaya mengeliminir pemberitaan yang cenderung


lebih mengedepankan pemberitaan kekerasan konflik, dan
kerusuhan SARA, tampaknya jurnalisme damai merupakan solusi
yang perlu diterapkan insan - insan media dalam mencegah –
meminimalisir- potensi konflik dan memperbesar ruang bagi
potensi integrasi bangsa (nation and character building).

Jurnalisme Damai adalah penerapan jurnalisme dalam berita


yang menggunakan ukuran-ukuran etis, seperti memisahkan
antara fakta dan opini media, menerapkan azas impartialitas atau
tidak memihak, memberitakan dengan tidak menonjol-nonjolkan
kekerasan itu sendiri melalui ukuran dan penempatan yang
"berlebihan", serta tidak menggunakan istilah atau bahasa yang
mendorong permusuhan. Kemudian memberikan kesempatan
suara pada voiceless, bukan suara para elite yang bertikai. Lebih
berorientasi pada korban yang tidak tampak, yang bersifat jangka
panjang. Pemberitaannya cenderung lengkap, melakukan
mapping terhadap persoalan, mencari akar permasalahan, dan
solusi, bukan pemberitaan justru terkonsentrasi pada arena
konflik.

Rekomendasi

Untuk penerapan jurnalistik damai setidaknya media massa


nasional mengedepankan unsur-unsur sebagai berikut :.

a. Tidak mencampurkan antara fakta dan opini yang berasal


dari wartawan, yang diindikasi dengan kata-kata : tampaknya,

______________________________________________________________________
Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 81
KomMTi – Volume : 2, No. : 4 / April 2008

diperkirakan, seakan-akan, terkesan, kesannya, seolah,


agaknya, diramalkan, kontroversi, mengejutkan, manuver,
sayangnya, dan kata-kata opinionatif lainnya.
b. Adanya keseimbangan pemberitaan (cover both side),
artinya ketidakberpihakan pemberitaan.
c. Tidak membesar-besarkan berita (konflik), ditempatkan
sebagai berita utama (exagerrate).
d. Tidak menggunakan bahasa yang bersifat puffery
(kekerasan)
e. Menggunakan konsep "giving voice to the voiceless"
(memberikan kesempatan bicara pada mereka yang tidak
bersuara).
f. Berita yang disampaikan lebih memperhatikan akibat
(implikasi) yang ditimbulkan oleh pertikaian.
g. Beritanya berorientasi lebih banyak pada arena konflik,
yaitu hanya meliput konfliknya saja, dan deskripsi di daerah
pertikaian. Pemberitanya lebih diarahkan sebagai persoalan
yang tidak sederhana, melakukan mapping, mencari atau
melihat latar belakang masalah, problem-problem kultural dan
politik yang mendasari, serta diharapkan dapat memberi
alternatif solusi.

Daftar Kepustakaan

Akbar, Akhmad Zaini, “1966-1974 Kisah Pers Indonesia”, LkiS,


1995

Henry Subiakto, Kompas, Jurnalisme Damai, 18 Desember 2000.

Kompas, Mencegah Disintegrasi Bangsa, Debat Publik Seputar


Reformasi Kehidupan Bangsa, Jakarta, 1999.

Lembaga Informasi Nasional dan Institut Pengembangan


Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (INPEDHAM), Yogyakarta,
“Studi Pengembangan Informasi Potensi Konflik dan Potensi
Integrasi Bangsa”, tahap I, 2002.

The Crisis of Public Communication, (London : Routledge, 1995)

______________________________________________________________________
Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 82
KomMTi – Volume : 2, No. : 4 / April 2008

Siebert, Fred S., Theodore Peterson & Wilbur Schramm, Four


Theories of The`Press. (Urbana : University of Illionis Press,
19)

Tuchman, Gaye. Making News, (New York : Free Press, 1978)

Victor Causin (1983), dalam William. L. Rivers Cleve Mathews,


Etika Media Massa dan Kecenderungan Untuk Melanggarnya,
Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994.

Lync, Jake and Anabel, Towards Peace Journalism


http//members aol.com/jarrettjs/conflict/homepage.

Floyd, Fiona, Reportase untuk Perdamaian, buku 1 dan 2,


internews Indonesia,2000

Thompson, Mark, Forging War, University of Luton Press


Bedfordshire 1999

Mc Quail, Denis, Mass Communicatin Theory, Sage Publication,


London, 2000

Cote, William Cote, William and Simpson Roger, Covering


Violence, Columbia University Press, 2000

http://www.suaramerdeka.com/harian/0502/14/opi4.htm

______________________________________________________________________
Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 83