Pasca ditetapkannya Peraturan Daerah (Perda) Kota Bandung Nomor 2 Tahun 2009, tentang pasar

tradisional dan pasar modern, Walikota Bandung H Dada Rosada SH, MSi perintahkan SKPD
terkait termasuk Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP), segera berkoordinasi menyusun
rencana aksi menertibkan bisnis retail seperti mini market dan toko swalayan di Kota Bandung.

"Sambil kita mensosialisasikan kepada masyarakat, Saya juga minta para Camat dan Lurah
menginventarisir mini market yang ada diwilayahnya masing- asing, mana saja yang meiliki ijin
dan yang tidak. Jika jelas-jelas melanggar dan tidak sesuai perda, jangan segan-segan bertindak,
menutup dan mencabut ijin usahanya sesuai norma dan prosedur," kata Wali Kota Bandung, H
Dada Rosada SH, MSi disela acara sosialisasi program PDAM Kota Bandung, di Ruang Serbaguna
Bermartabat Balaikota Pemkot Bandung, Jalan Wastukancana 2, Senin (18/05/09).

Mini market yang ijinnya keluar sebelum perda, Dada menambahkan, akan disesuaikan. "Kita
sesuaikan sambil berjalan. Mini market yang ijinnya terlanjur, dan ternyata dia juga sangat-
sangat melanggar perda, secara bertahap akan kita tertibkan sesuai perda," tandasnya.

Perda pengaturan pasar tradisonal dan modern lahir, dikatakannya, adalah wujud perlindungan
pemerintah kepada warganya yang lemah, kepentingan masyarakat kecil. Kepadanya maupun ke
DPRD, banyak masyarakat usaha kecil mikro warungan mengeluh dan meminta perlindungan,
usahanya terancam gulung tikar dan membunuh penghidupannya. Mereka para pedagang kecil,
dikatakan Dada tidak mampu bersaing baik dalam harga, kualitas barang, pelayanan maupun
tempat berdagang sehingga perlu pengaturan. "Kewajiban pemerintah melindungi seluruh
warganya terutama masyarakat kecil. Si kuat jangan sampai membunuh yang lemah. Alasan ini
perda dibuat. Tapi masyarakat juga yang tradisonal jika merasa tersaingi, harus mau
meningkatkan pelayanan, mutu dan kenyamanan tempat jualannya," tandas Dada.

Dada menginginkan, Kota Bandung ke depan menbuat perda tentang kebutuhan infrastruktur
yang memadai dalam pelayanan masyarakat. "Berapa kebutuhan infrastruktur prasarana dan
sarana untuk melayani sejumlah penduduk Bandung. Berapa banyak rumah sakit, berapa sekolah,
berapa pasar tradisonal, berapa pasar modern dan berapa SPBU. Jangan sampai terlalu banyak
SPBU malah kota jadi kumuh. Kita akan membuat pembatasan jumlah infrastruktur untuk
pelayanan kepada masyarakat," tuturnya.

Terkait keinginannya Kota Bandung kembali meraih Adipura sebagai anugerah tertinggi dalam
penyelenggaraan ketertiban, kebersihan dan lingkungan hidup, wali kota, dari 45 titik pantau
sasaran penilaian tim Adipura Pusat, dirinya sangat apresiatif, upaya maksimal aparat
kewilayahan kecamatan dan kelurahan dalam bentuk aksi nyata operasi K3 termasuk pengecatan
kerb jalan.

Meski tidak merata karena kemampuan daerah tidak sama, menurutnya secara umum semua
kecamatan bisa dikatakan maksimal. "Kita harapkan hasilnya optimal, dan Kota Bandung kembali
meraih Adipura. Namun ada yang lebih penting, terus dipeliharanya kebersamaan, kesadaran dan
komitmen kita untuk memelihara ketertiban, kebersihan, keindahan dan lingkungan hidup,
melembaga dalam kehidupan warga Bandung,".

Kepala Badan Komunikasi dan Informatika
Bulgan Alamin

BANDUNG: Separuh dari 400 izin usaha minimarket di Bandung Raya hanya memegang izin domisili yang
dikeluarkan kecamatan setempat.
Sekretaris Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Barat Hendri Hendarta mengemukakan mereka
hanya mengantongi izin domisili mengingat belum adanya perda pasar modern di kota/kabupaten itu.
"Seperti halnya di Kota Bandung, sebelum perda pasar modern terbit pada 2009, pengusaha saat itu hanya
memegang izin domisili. Setelah perda terbit, mereka tentunya harus menuntaskan perizinan. Demikian juga di
Cimahi yang sudah memiliki perda, pengusaha harus menuntaskan perizinan sesuai aturan berlaku," katanya
hari ini.
Dia mengatakan hal serupa terjadi di Kab. Bandung dan Kab. Bandung Barat. Izin usaha minimarket di kedua
daerah tersebut berupa izin domisili karena ketiadaan perda pasar modern.
Hendri mengatakan idealnya setiap kota/kabupaten di Jabar segera memiliki perda pasar modern, sekaligus
dengan penerbitan peraturan wali kota/bupati supaya tata usaha perpasaran di setiap kota/kabupaten
terkoordinasi baik.
"Selain itu, hal ini juga akan menjaminan kepastian usaha bagi investor pasar modern," katanya.
Dia mengatakan pemerintah telah mengeluarkan Perpres No.112/2007 tentang pasar modern serta Permendag
No.53/2008 yang mengatur hal yang sama. Aturan-aturan tersebut seharusnya bisa segera diadopsi oleh
kota/kabupaten untuk menekan potensi gesekan antara pasar modern dan tradisional.
"Padahal rata-rata kabupaten/kota mungkin sudah memiliki Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah [RTRW]
yang mengatur zonasi pasar modern dan tradisional. Itu bisa menjadi acuan," tuturnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar Ferry Sofwan meminta
pemkot/pemkab tidak terlampau gampang mengeluarkan izin usaha minimarket.
Izin yang dikeluarkan, katanya, harus selektif supaya tidak memicu persaingan usaha tidak sehat terutama
dengan pasar tradisional
















Pusur Trudlslonul vs Toko Modern
8022008
Apukuh Mereku Benur Sullng Berhudupun?
Pudu tunggul 27 Desember 2007 kemurln, Peruturun Preslden No 112 Tuhun 2007 tentung Penutuun dun Pemblnuun Pusur
Trudlslonul, Pusut Perbelun|uun, dun Toko Modern teluh dlsuhkun. Peruturun yung dlberltukun suduh terplngglrkun selumu
humplr tlgu tuhun lnl dlpundung sungut pentlng, terutumu dulum men|embutunl kepentlngun peglut pusur trudlslonul dun
pemuln rltel modern. Selumu lnl selulu muncul tudlngun buhwu pemuln dun pemodul besur lnl teluh mendepuk puru peluku
usuhu kecll dun pusur trudlslonul.
Dulum peruturun lnl dlutur beberupu hul pentlng, mellputl uturun penyedluun fusllltus wu|lb bugl pusur trudlslonul dun toko
modern, uturun lokusl dun perlzlnun, uturun slstem pen|uulun dun |um ker|u, hlnggu uturun kemltruun dengun pemusok.
Aturun mengenul sunksl udmlnlstrusl securu bertuhup |ugu dlberlukukun bugl pelunggurun, mulul durl perlngutun tertulls,
pembekuun, hlnggu pencubutun lzln usuhu.
Numun begltu, Perpres 122/2007 lnl oleh Asoslusl Pedugung Pusur Seluruh Indoneslu (APPSI) muslh dlunggup tlduk ukun
mumpu mengubuh kondlsl pusur trudlslonul dun mengubuh nuslb pedugungnyu men|udl leblh bulk. Sutu hul yung pullng
dlsorot oleh APPSI uduluh soul penguturun zonusl pendlrlun pusut perbelun|uun dun toko modern. Penguturun |uruk lokusl
untur pusur lnl kurung detull dlbuhus. Perpres lnl meru|ukkun uturun ltu pudu Rencunu Tutu Ruung Kotu utuu Wlluyuh
muslng-muslng dueruh. Undung-Undung Nomor 26 Tuhun 2007 dlsebutkun sebugul ru|ukun utumu yung blsu dl|udlkun
dusur lmplementusl zonusl tersebut.
Zonusl unturu pusur trudlslonul dun pusut perbelun|uun modern lnl hurus dlutur dengun tegus, begltu menurut Kubld
Penelltlun dun Pengembungun APPSI Setyo Edy. Menurutnyu, |lku toko modern dlblurkun mendlrlkun usuhu yung
berdekutun dengun pusur trudlslonul muku ukun menyebubkun pembell dl pusur trudlslonul berullh ke toko modern, sehlnggu
semukln membenumkun nuslb pusur trudlslonul ke |urung kepunuhun. Perpres 112/2007 ltu sendlrl teluh memberl |ungku
wuktu selumu tlgu tuhun kepudu pusut perbelun|uun dun toko modern untuk mengutur |uruk dengun pusur trudlslonul.

Bugulmunu dengun Yogyukurtu?
Berdusurkun dutu durl Peruturun Wullkotu Yogyukurtu Nomor 17 Tuhun 2007 tentung Rencunu Pembungunun Jungku
Menenguh Dueruh (RPJMD) Kotu Yogyukurtu Tuhun 2007 գ 2011, suut lnl terduput 31 tltlk pusur trudlslonul yung tersebur
dl wlluyuh kotu Yogyukurtu. Pusur Glwungun termusuk Pusur Kelus I, meluyunl perdugungun tlngkut reglonul. Pusur
Berlnghur|o, termusuk dulum Pusur Kelus II; yuknl pusur yung meluyunl perdugungun tlngkut kotu. Delupun pusur lulnnyu
termusuk dulum Pusur Kelus III; yung meluyunl perdugungun tlngkut wlluyuh buglun kotu. Sebelus pusur termusuk dulum
Kelus IV (duu pusur berlrlsun dengun Kelus III) yung meluyunl perdugungun tlngkut llngkungun. Pusur Kelus V ber|umluh 12
pusur yung meluyunl perdugungun tlngkut blok. Pusur-pusur trudlslonul lnl terletuk menyebur dl seluruh pen|uru wlluyuh
kotu.

Dutu |umluh pusut perbelun|uun dun toko modern yung resml dlkeluurkun oleh pemerlntuh dueruh belum udu. Dutu survel
menun|ukkun pudu suut lnl pullng tlduk udu 18 pusut perbelun|uun dun toko modern dl perkotuun Yogyukurtu. Jumluh lnl
ukun bertumbuh kurenu udu beberupu toko modern yung ukun dlbuku pudu tuhun lnl. Duu belus pusut perbelun|uun tersebut
termusuk dulum tlpe supermurket dun utuudepurtement store. Enum slsunyu merupukun tlpe hypermurket dun utuu
perkulukun. Seburun pusut perbelun|uun dun toko modern lnl hunyu muncul dl beberupu lokusl, yultu dl kuwusun Jl. Achmud
Yunl (Mulloboro), Jl. Jenderul Sudlrmun գ Jl. Luksdu Adlsuclpto, Jl. Ge|uyun, Jl. Kullurung (sekltur Unlversltus Gud|uh
Mudu), dun duu lugl terletuk |uuh dl plngglr kotu, muslng-muslng dl Jl. Mugelung (Jombor) dun Rlng Roud Uturu.
Potensl lrlsun kepentlngun
Durl segl |umluh, pusur trudlslonul dl kuwusun perkotuun Yogyukurtu muslh leblh bunyuk durlpudu pusut perbelun|uun dun
toko modern. Numun, level kelus pusur trudlslonul yung bertlngkut ltu men|udlkun perbundlngun |umluh ltu tlduk lugl
relevun. Terleblh lugl |lku dlhltung keberuduun mlnlmurket yung tersebur dl bunyuk wlluyuh perkotuun Yogyukurtu.

Jlku duu luyer |enls pusur yung berbedu ltu dlsutukun muku ukun tumpuk kuwusun-kuwusun yung sullng bersentuhun. Zonu-
zonu sentuhun, yung berurtl udu potensl lrlsun kepentlngun, ter|udl dl beberupu tltlk kuwusun, mellputl kuwusun Mulloboro,
kuwusun Jl. Jenderul Sudlrmun (Kotuburu), dun Jl. Luksdu Adlsuclpto գ Ge|uyun. Sutu tltlk sentuhun lugl ter|udl dl Jl. Brlg|en
Kutumso. Numun, |enls toko modern dl sltu berslfut speslflk, yuknl pusut perbelun|uun elektronlk dun komputer, sehlnggu
dlusumslkun tlduk bunyuk berpenguruh terhudup pengullhun pembell pusur pudu umumnyu.
Dulum Peruturun Dueruh Provlnsl Dueruh Istlmewu Yogyukurtu Nomor 10 tuhun 2005 tentung Perubuhun Atus Peruturun
Dueruh Provlnsl Dueruh Istlmewu Yogyukurtu Nomor 5 Tuhun 1992 tentung Rencunu Tutu Ruung Wlluyuh Provlnsl Dueruh
Istlmewu Yogyukurtu tlduk dl|eluskun securu detull uturun zonusl pendlrlun unturu pusur trudlslonul dun pusut perbelun|uun
modern. Untuk menentukun uturun tersebut, perlu dllukukun ku|lun pemlntukutun (zonusl) dun dumpuk lrlsun untur pusur
trudlslonul dengun pusut perbelun|uun dun toko modern dl seluruh kuwusun Dueruh Istlmewu Yogyukurtu. Vurlubel-vurlubel
penentu hurus men|udl men|udl buhun pertlmbungun utumu, sepertl |umluh penduduk per kuwusun, |urlngun trunsportusl per
kuwusun, profll konsumen muslng-muslng budun usuhu, profll pen|uul/tenunt dun slstem pen|uulun, dun setrusnyu. Ku|lun
utus vurlubel-vurlubel tersebut nuntlnyu ukun mumpu membuntu men|uwub upukuh tudlngun buhwu pusut perbelun|uun dun
toko modern ltu membuut pusur trudlslonul terpuruk ltu berulusun utuu tlduk. Dl luur ltu, perlu udu ku|lun tersendlrl untuk
membuhus dumpuk keberuduun mlnlmurket yung semukln men|umur dl tlngkut llngkungun dun blok permuklmun wurgu.
Elunto Wl|oyono
Buhun Bucuun
Peruturun Dueruh Kotumudyu Dueruh Tlngkut II Yogyukurtu Nomor 3 Tuhun 1992 tentung Pusur
Peruturun Dueruh Kotu Yogyukurtu Nomor 1 Tuhun 2007 tentung Rencunu Pembungunun Jungku Pun|ung dueruh (RPJPD)
Kotu Yogyukurtu Tuhun 2005 գ 2025
Peruturun Dueruh Provlnsl Dueruh Istlmewu Yogyukurtu Nomor 10 Tuhun 2005 tentung Perubuhun Atus Peruturun Dueruh
Provlnsl Dueruh Istlmewu Yogyukurtu Nomor 5 Tuhun 1992 tentung Rencunu Tutu Ruung Wlluyuh Provlnsl Dueruh
Istlmewu Yogyukurtu
Peruturun Preslden Republlk Indoneslu Nomor 112 Tuhun 2007 tentung Penutuun dun Pemblnuun Pusur Trudlslonul, Pusut
Perbelun|uun, dun Toko Modern
Peruturun Wullkotu Yogyukurtu Nomor 17 Tuhun 2007 tentung Rencunu Pembungunun Jungku Menenguh Dueruh (RPJMD)
Kotu Yogyukurtu Tuhun 2007 գ 2011.
Undung-Undung Republlk Indoneslu Nomor 26 Tuhun 2007 tentung Penutuun Ruung
դդ
Dlnus Kebuduyuun dun Purlwlsutu Provlnsl Dueruh Istlmewu Yogyukurtu. 2007. Petu Seburun Potensl Buduyu dun
Purlwlsutu Kotu Yogyukurtu. Versl dlgltul tlpe PDF. Yogyukurtu: Dlnus Kebuduyuun dun Purlwlsutu Provlnsl Dueruh
Istlmewu Yogyukurtu.




















Terpuruknya Pasar Rakyat: Wujud Ketidakadilan Pemerintah Kota dan
Dampak Global Ekonomi Kapitalis
30 Agustus 2009kartini87Tinggalkan komentarGo to comments
Monday, 28 May 2007 07:00
(Studi Kasus Kota Bandung)
Oleh Yuana Ryan Tresna*
Syabab.Com ± Sistem hidup µironi¶ memang hanya melahirkan kenyataan ironi. Globalisasi yang
menekankan pada privatisasi, anti intervensi negara dalam ekonomi, dan kepercayaan absolut pada
mekanisme pasar ini, telah menimbulkan problem kehidupan yang tidak sederhana. Mulai level
internasional sampai lokal, telah terjadi ketidakadilan global yang sangat menakutkan. Dua dampak
utama dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalis â¼³sebagai gerbong utama yang dibawa lokomotif
globalisasi- adalah dikuasainya sektor kepemilikan publik oleh swasta dan munculnya kesenjangan
ekonomi.
Di level lokal, khususnya kota Bandung, dampak global ini dirasakan pada sektor µpasar¶. Pertarungan
hebat antara pasar tradisional (traditional market) dengan pasar modern (modern market) adalah
wujud nyata apa yang telah kita perbincangkan tadi. Pasar yang merupakan fasilitas publik mulai
dilalaikan oleh pemerintah karena terbuai dengan modal besar yang dibawa oleh µbos-bos pasar¶
modern. Akhirnya, itervensi pemerintah kota (Pemkot) dalam pengelolaan pasar, seperti revitalisasi
pasar, menjadi tak kunjung terealisasi. Akibatnya, terjadi sebuah kesenjangan ekonomi yang
berdampak luas bagi kehidupan masyarakat. Lagi-lagi terjadilah kebijakan ironi yang dipertontonkan
oleh Pemerintah kota Bandung, yaitu ketika program penertiban pasar berakhir pada ⼜kematianâ
pelaku usaha pada pasar rakyat sebuah istilah yang dirasa lebih tepat untuk menyebut pasar
tradisional. Padahal, sejalan dengan visi kota Bandung, Terwujudnya Kota Bandung Sebagai Kota Jasa
yang Bermartabat, Dinas Pengelolaan Pasar Kota Bandung telah menetapkan visi ⼜Terwujudnya
Pasar yang Tertib Penunjang Ekonomi Kota.
Kembali ke kasus pasar, pusat perbelajaan modern berkembang sangat pesat akhir-akhir ini. Di
berbagai wilayah terus tumbuh pusat-pusat perbelanjaan baru dengan berbagai bentuknya. Pusat-
pusat perbelanjaan ini diisi oleh berbagai retailer (pegecer) yang umumnya adalah pengecer-pengecer
besar, baik perusahaan pengecer multinasional maupun nasional. Untuk minimarket, menurut data
Kompas tahun 2000, jumlahnya di Kota Bandung hanya 50 buah. Empat tahun kemudian, angka ini
meningkat menjadi 350 buah. Selama tahun 2006 ini, penambahan minimarket mencapi 50 buah.
Secara total, saat ini sedikitnya terdapat 7 hipermarket, 65 supermarket, dan 350 minimarket di Kota
Bandung. (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/02/Jabar/6347.htm). Angka ini kemungkinan
besar akan terus bertambah. Artinya, nasib pedagang di pasar rakyat kian terpuruk. Hal ini semakin
membuktikan kelalaian pemerintah dan bahaya global ekonomi kapitalis..
Dampak Kemunculan Pasar Modern
Banyaknya ditemukan hipermarket dan supermarket sebagai wujud pasar modern- telah menyisakan
dampak serius. Walaupun, ada yang menilai bahwa kemunculan pasar modern dinilai menguntungkan,
tetapi hal itu tidaklah signifikan. Mislanya untuk konsumen, ia diuntungkan karena semakin tersedia
banyak pilihan untuk berbelanja. Persaingan yang semakin tajam antar pusat perbelanjaan dan juga
antar pengecer juga akan menguntungkan, karena mereka akan berusaha untuk menarik konsumen
dengan memberikan pelayanan yang lebih baik.
Keuntungan itu sebenarnya tidaklah sebanding dengan kerugian yang muncul. Bagi konsumen, justru
telah terjadi pola hidup konsumerisme yang negatif. Dalam bidang persaingan antar retailer, justru
telah menggiring para pengusaha dengan modal kecil ke dalam jurang kebangkrutan. Di sisi lain,
dengan pola persaingan ini dikhawatirkan akan terjadi kelebihan pasok. Kelebihan pasok ini bisa
menyebabkan banyaknya kredit macet di pusat-pusat perbelanjaan, sebagaimana yang terjadi sektor
properti.
Adapun dampak negatif yang terjadi dari realitas di atas adalah: Pertama, ketidakadilan dalam
persaingan. Hadirnya hipermarket dan supermarket yang sangat gencar semakin memperparah kondisi
pasar rakyat. Akhirnya, pasar rakyat semakin termarjinalkan. Pedagang-pedagang yang tidak mampu
bertahan akhirnya gulung tikar di tengah perjalanan usahanya. (Kompas, 23/11/2005). Hal itu karena
pedagang di pasar rakyat ini secara umum adalah pedagang-pedagang kecil bukan pengecer raksasa
seperti yang ada di pusat-pusat perbelanjaan modern. Jika dahulu pusat perbelanjaan lebih banyak
ditujukan untuk penduduk berpendapatan menengah keatas. Kini mereka mulai masuk juga ke kelas
menengah ke bawah. Para pengecer kini juga bervariasi memasuki berbagai segmen pasar.
Ruang bersaing pedagang pada pasar rakyat kini juga mulai terbatas. Jika selama ini pasar rakyat
dianggap unggul dalam memberikan harga relatif lebih rendah untuk banyak komoditas, dengan
fasilitas berbelanja yang jauh lebih baik. Faktanya, skala ekonomis pengecer pada pasar modern yang
cukup luas dan akses langsung terhadap produsen dapat menurunkan harga pokok penjualan mereka,
sehingga mereka mampu menawarkan harga yang lebih rendah. Sebaliknya, para pedagang di pasar
rakyat, mereka umumnya mempunyai skala yang kecil dan menghadapi rantai pemasaran yang cukup
panjang untuk membeli barang yang akan dijualnya. Keunggulan biaya rendah pedagang rakyat kini
mulai terkikis bahkan nyaris lenyap, digantikan keunggulan bersaing pengecer berduit di pasar modern.
Kedua, omzet pasar rakyat semakin menurun. Menurut H. Asnawi, ketua Bidang Fasilitas dan
Pembiayaan DPP APPSI, tahun 70-an sampai awal 80-an, seluruh pembeli, kelas bawah hingga atas,
belanja di pasar tradisioanl. Pertengahan 80-an sampai awal 90-an, mulai muncul pasar modern,
seperti Golden Trully, Hero, Ramayana, Matahari. Sebagian pembeli beralih dari pasar tradisional ke
pasar modern. (Republika, 19/09/ 2005). Tahun 90-an merupakan booming pasar modern. Masyarakat
pun berbondong-bondong ke pasar modern. Tahun 2000-an, pasar tradisional makin meredup. Apalagi
dengan makin menjamurnya hipermarket. Asnawi juga mengatakan bahwa sekitar 50-60 persen
pangsa pasar tradisional terambil oleh pasar modern. Sisa yang 40 persen itulah yang saat ini masih
diraih oleh pedagang pada pasar tradisional. Bahkan, saat ini keberadaan pasar rakyat makin terpukul.
Logislah jika omzet pasar rakyat menurun tajam.
Sebagai perbandingan, menurut Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia DKI Jakarta menyatakan,
enam pasar tradisional terancam kolaps akibat berdirinya pasar modern Hypermart di kawasan Tanah
Abang. (Tempo Interaktif, 03/10/2006). Keenam pasar itu adalah Pasar Benhil, Pasar Kebun Jati, Pasar
Tanah Abang, Pasar Gandaria, Pasar Kebon Kacang, dan pasar kaget di Jalan Lontar.
Sebagai contoh, sebelum kota Bandung dikepung pasar modern, Aep, penjual telur, mampu menjual
telur hingga 7 kuintal. Namun, kini anjlok menjadi maksimal 4 kuintal. Aep mengatakan, bahwa
murahnya harga telur atau barang lainnya di supermarket dan pasar modern lainnya dikarenakan
pengelola pasar modern mampu memotong jalur distribusi. Caranya, mereka membeli langsung ke
produsen dalam jumlah besar. (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/02/Jabar/6347.htm).
Cara ini juga sangat memungkinkan pengelola pasar modern mendapatkan potongan harga.
Selain itu, beralihnya pembeli dari pasar rakyat ke pasar modern dipicu banyak faktor. Diantaranya
karena kondisi sebagian besar pasar rakyat masih menyedihkan. Seperti kios yang kurang tertata dan
jalan yang rusak. Saat hujan, jalanan becek dan berbau karena drainase dan sanitasi yang tidak
memadai. Saat kemarau, pengunjung harus bermandi debu. Malang nian nasib pasar rakyat.
Menelusuri Akar Masalah
Banyak faktor yang menjadi penyebab dari permasalahan di atas. Hal inilah yang sering kali
menimbulkan perbincangan yang tak berujung, karena menelusuri masalah utama kasus ini bak
mencari kambing hitam untuk dijadikan pelarian. Namun, jika kita analisis secara mendalam,
setidaknya ada lima hal yang menjadi penyebab dari matinya usaha pada pasar rakyat:
Pertama, pasar rakyat yang tidak mampu bersaing
Ketidakberdayaan pasar rakyat itu dikarenakan keterbatasan modal, rantai distribusi barang yang
terlampau panjang sehingga harganya menjadi mahal, kondisi fisik pasar rakyat yang tidak nyaman,
dan kualitas barang dagangan yang ada di pasar rakyat tidak lebih baik dari pasar modern. Keempat
hal itulah yang menyatu menjadi fenomena sosial: ketidakberdayaan. Di sisi lain, rencana kerja
pemerintah daerah (RKPD) Kota Bandung tahun 2007 untuk merevitalisasi pasar rakyat agar mampu
bersaing dengan hipermarket, hanyalah harapan kosong.
Kedua, pola bisnis yang jauh dari etika
Pola saling menzalimi antar pesaing ini seakan wajar terjadi ketika tata kehidupan ini adalah kehidupan
yang machiavelis. Para pengusaha di pasar modern sering kali melakukan politik dumping. Mereka
menjual barang yang lebih rendah dari harga pasar. Hal itu mereka lakukan, karena mereka
mendapatkan barang tidak melalui jalur ditribusi yang melelahkan. Selain itu, jarak yang berdekatan
antara pasar rakyat dan pasar modern seringkali menjadi ajang untuk menghancurkan bisnis pihak
lain. Artinya, ketika pola tidak sehat itu terjadi, maka kelompok usaha kecil yang akan jatuh
tersungkur.
Ketiga, kelalaian pemerintah
Pemerintah dinilai cenderung mementingkan proyek yang menguntungkan golongan berduit dari pada
rakyat kecil. Jika ada keberpihakan kepada rakyat kecil, semestinya pemerintah memperbaiki pasar
rakyat tanpa membunuh pedagang kecil yang ada di sana. Kurangnya perhatian pemerintah ini terbukti
dengan tidak adanya aturan main tegas yang melindungi pasar rakyat ataupun pembatasan kuota
jumlah pasar modern di suatu wilayah yang implementasinya benar-benar dijamin pemerintah.
Demikian juga dengan masalah permodalan, pemerintah kota bandung tidak membantu permodalan
(dana murah) bagi para pedagang pasar rakyat dengan membantu peritel kecil. Karena dengan
permodalan yang kecil inilah, persaingan dengan pasar modern berdampak buruk bagi para pelaku ritel
kecil.
Pemerintah telah berlaku lalai dengan membiarkan kondisi pasar rakyat semakin buruk dari tahun ke
tahun: becek, kotor, bau, dan banjir sampah di mana-mana. Hal inilah yang membuat orang menjadi
antipati terhadap pasar rakyat. Data pasar tahun 2004 dari Dinas Pengelolaan Pasar Kota Bandung
menyebutkan, 13 (37,14%) dari 35 pasar rakyat yang ada di Kota Bandung kondisi fisiknya tidak layak
pakai, sebab kelayakannya di bawah 40%. Sementara, pasar rakyat yang kondisi kelayakannya di atas
70% sebanyak 14 pasar (40%). Selebihnya adalah pasar yang kondisi fisiknya rusak sebagian. (Pikiran
Rakyat, 12/06/2006). Lihat saja Pasar Kosambi, basement yang digunakan sebagai areal parkir, gelap
gulita; septictank tidak tersedia, sehingga semua limbah cair pasar langsung dibuang ke pipa yang
terus mengalir ke riool. Akibatnya, saat pipa tersumbat, air menggenang di basement pasar. Lantai dua
hingga enam tidak berpenghuni karena para pedagangnya angkat kaki setelah toko sepi akibat pembeli
enggan berbelanja di pasar yang tidak nyaman lingkungannya. Kosongnya lima lantai di Gedung Pasar
Kosambi ini kini malah dipergunakan sebagai tempat yang tidak jelas.
Program revitalisasi pasar yang direncanakan pemerintah kota Bandung, nyatanya tak kunjung
terwujud. Padahal, penataan diharapkan rampung akhir 2006 atau paling lambat 2007, sebagaimana
yang pernah dituturkan oleh Kepala Dinas Pengelola Pasar, Dodi Soeryadi. (Pikiran Rakyat,
25/09/2005). Pasar yang direncanakan direvitalisasi itu adalah Pasar Andir di Jln. Waringin, Pasar
Cicadas di Jln. Ibrahim Aji (Jln. Kiaracondong), Pasar Karapitan, Pasar Astanaanyar, Pasar
Kiaracondong, Pasar Simpang Dago di Jln. Ir. H Juanda, Pasar Sederhana, Pasar Cihaurgeulis di Jln.
Suci, dan Pasar Elektronika Banceuy. Demikian juga janji untuk membangun Pasar Balubur yang
tergusur saat pembangunan jembatan layang Pasupati, tidak juga terkabul. Pasar Kosambi pun
mengalami nasib yang sama, pemerintah kota, lewat Dinas Pengelolaan Pasar, yang seharusnya
mengelola kembali Pasar Kosambi, tidak kunjung menuntaskan revitalisasi pasar. Akibatnya, sekitar
250 pedagang resmi di Pasar Kosambi menyatakan sepakat menata sendiri gedung pasarnya, bekerja
sama dengan Koperasi Pedagang Pasar Kosambi. Namun, anehnya pemerintah kota sulit memberikan
ijin terkait hal ini. (http://www.bigs.or.id/bujet/5-3/lapus2.htm).
Anti intervensi pemerintah ini juga terbukti dari lepas tangannya pemerintah kota terhadap pengeloaan
pasar rakyat. Dengan alasan biaya pengelolaan pasar yang telah direnovasi terlalu besar, pemerintah
memberikan hak kepada pengembang pasar (investor) untuk mengelola pasar tersebut. Hasilnya, niat
pemerintah yang semula ingin memperbaiki kondisi pasar rakyat agar mampu bersaing dengan pasar
modern, malah menjadi bencana bagi pedagang asli pasar tersebut. Sebab, harga jual kios yang
mereka tempati dulu, melambung tinggi sehingga tidak dapat terjangkau.
Keempat, regulasi yang tidak memberikan banyak arti
Regulasi bagi operasionalisasi pasar modern dan pasar rakyat yang telah ditetapkan pemerintah,
faktanya nihil. Banyak regulasi ini yang pada akhirnya dilanggar untuk kepentingan pemilik modal.
Padahal, keberadaan regulasi ini pada awalnya untuk menjamin kepentingan masing-masing
pengusaha, baik pengusaha besar maupun pengusaha kecil.
Aturan yang mengatur regulasi pasar modern terhadap pasar rakyat adalah SKB Menperindag dan
Mendagri No. 145/MPP/Kep/5/1997 dan No. 57 Tahun 1997 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar
dan Pertokoan, SK Menperindag No. 107/MPP/Kep/2/1998 Tentang Ketentuan dan Tatacara Pemberian
Izin Usaha Pasar Moodern (IUPM), SK Menperindag No. 420/MPP/Kep/10/1997 Tentang Pedoman
Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan, SK Menperindag No, 261/MPP/Kep/7/1997 Tentang
Pembentukan Tim Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan Pusat, Surat Mendagri No.
511.2/834/PUOD Perihal Petunjuk Pelaksanaan Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan, dan
Surat Dirjen PDN No. 300/DJPDN/XI/1997 perihal Prosedur Perizinan Pasar Modern
Sedangkan hal-hal yang, sebagai turunan dari landasan hukum di atas adalah:
1. Pembangunan Pasar Modern harus berada di lokasi sesuai dengan peruntukannya menurut RTRWK dan
RDTRWK serta wajib AMDAL dengan aspek kajian sosial ekonomi, khususnya pembinaan dan
pengembangan Koperasi dan Pengusaha Kecil (lampiran SK MPP No. 420 Tahun 1997).
2. Setiap perusahaan yang melaksanakan Kegiatan Usaha Pasar Modern wajib memiliki Izin Usaha Pasar
Modern (IUPM) dan IUPM diperlakukan sebagai Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) ± Kep.MPP No.107
Pasal 2
3. Pasar Modern wajib melakukan kerjasama dengan Pedagang Kecil dan Menengah, Koperasi, serta Pasar
Tradisional melalui program kemitraan (SK MPP No. 107 Pasal 5). a) Pola dan Rincian Kerjasama
Kemitraan Usaha Dagang b) Tata Cara Pembayaran, c) Rencana Kerja yang jelas termasuk upaya
mendukung keusahaan Pengusaha Kecil dan Menengah, Koperasi, serta Pasar Tradisional yang
bekerjasama dengan Pasar Modern, d) Pola Perlindungan bagi Mitra Usaha.
4. Jam kerja Pasar Modern ditetapkan mulai dari Hari Senin s/d Minggu buka mulai pukul 10.00 s/d 22.00
waktu setempat. Perubahan sebagaimana dimaksud diatas diusulkan oleh Bupati/Walikota Kotamadya/
Kepala Daerah Tingkat II kepada Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri untuk mendapat
persetujuan (Kep.MPP No.107 Pasal 11).
Kenyataannya, jauh panggang dari api. Sesuai dengan aturan mengenai rencana tata ruang dan
wilayah (RTRW) kota, seharusnya pendirian pasar modern berada di lokasi yang sesuai dengan
peruntukannya, yaitu kawasan perdagangan. Apabila dalam kajian Bappeda, lokasi dibatasi dengan
jarak tertentu untuk satu komoditas, kuotanya bisa dihitung berdasarkan luas Kota Bandung. Dalam
perda Kota Bandung Nomor 2/2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) ditegaskan,
perkembangan pusat belanja dan pertokoan yang cenderung linier sepanjang jalan arteri dan kolektor
harus dikendalikan. Pengembangannya didorong ke wilayah Bandung Timur.
Peraturan itu secara normatif memang melindungi pedagang di pasar rakyat. Namun, karena
ketidakjelasan dalam pelaksanaan, telah membuat pebisnis pasar modern bebas melakukan dominasi
pasarnya. Bahkan, banyak dibangun hipermarket dan sepermarket di daerah Bandung utara dan barat.
Telah beroprasi lima pusat perdagangan modern, yaitu Carrefour, Bandung Electronic Center, Giant
Hypermarket, Cihampelas Walk, ITC Kebon Kelapa, dan ITC Pasar Baru. Kemudian, disusul dengan
dibangunnya empat mal/hipermaket baru, yaitu Bandung Electronical Mal, Parijs Van Java, Braga City
Walk, dan Paskal Hyper Square. Semua pusat perbelanjaan modern yang terakhir dibangun itu
berlokasi di pusat kota, bukan di wilayah Bandung Timur seperti yang diamanatkan Perda RTRW Kota
Bandung (Kompas Jawa Barat, 18/11/05). Inilah yang pada akhirnya menyulitkan pasar rakyat.
Banyak ritel modern yang berdiri tak jauh dari pasar rakyat. Bahkan ada yang berdampingan atau
menempel dengan pasar rakyat. Akibatnya, pasar rakyat semakin terdesak dan sepi pengunjung.
Secara rata-rata, pengunjung pasar rakyat tinggal 40 persen. Bahkan di Jakarta, ada sembilan pasar
yang hampir punah. Konsumen berbondong-bondong beralih ke pasar modern. (Republika.
19/09/2005).
Demikian juga dalam aspek kemitraan, yang seakan menjadi gagasan absurd. Keputusan Menteri
Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 107/MPP/Kep/2/1998, tentang Ketentuan
Tata Cara Pemberian Izin Usaha Pasar Modern. Dalam pasal 5 Kepmendagri itu disebutkan, pasar
modern wajib melakukan kerja sama dengan pedagang kecil dan menengah, koperasi, serta pasar
tradisional melalui pola kemitraan. Namun, kenyataannya lagi-lagi tidak ditemukan. Keberadaan pasar
modern tidak mendukung eksistensi pasar rakyat, bahkan cenderung merugikan. Makin terpuruknya
pasar rakyat, tak lepas dari kebijakan pemerintah yang dinilai masih kurang tegas di bidang ritel.
Dalam radius kurang dari 10 kilo meter, pasar rakyat tidak mampu bersaing dengan hipermarket dan
supermarket yang berdiri megah. Becek, kotor, bau, sampah yang menggunung adalah sederet kata
yang membuat masyarakat untuk berkunjung ke pasar rakyat. Jadi, sesungguhnya tidak ada yang
disebut dengan kemitraan usaha dagang.
Jika ada semacam kerja sama, itu sebatas hanya barang dagangan berupa sayur-mayur dan keperluan
dapur lainnya. Pada kondisi ini pun pemasok kelas kecil akan menemui batu ganjalan, karena sistem
pembayaran yang diberlakukan oleh pedagang pada pasar modern adalah dengan diutang, baru
dibayar setelah sekian bulan. Tentu saja hal ini akan menyulitkan pemasok kelas kecil, karena ia
membutuhkan perputaran uang yang cepat. Akhirnya, peluang ini pun akan diambilalih oleh pemasok
dengan modal besar.
Adapun tentang pengaturan jam buka, ini sebetulnya tidak terlalu signifikan. Walaupun demikian,
faktanya memang selalu lain. Diantara ritel modern justru telah buka sejak pukul 08.00.
Kelima, diterapkannya sistem ekonomi kapitalis
Sejak awal kemunculannya, sistem ekonomi kapitalis adalah sistem ekonomi yang tidak manusiawi.
Karena kendali ekonomi yang sesungguhnya adalah berada pada kaum pemodal. Akhirnya, harta hanya
akan berputar di kalangan berduit saja. Adanya akumulasi modal inilah yang menyebabkan terjadinya
kesenjangan ekonomi.
Terlihat dengan jelas, pada kasus banyaknya ditemukan pasar modern berarti telah terjadi perputaran
uang pada sebagian kecil orang saja. Padahal, pedagang pasar rakyat merupakan salah satu tulang
punggung perekonomian nasional, sebab melibatkan jutaan pedagang. Setidaknya ada 24 ribu pasar,
yang mencakup 12,6 juta pedagang, dan tersebar di 26 provinsi di Indonesia. Pasar tersebut
bervariasi, dari yang kecil, terdiri dari sekitar 200-500 pedagang, hingga yang besar seperti Tanah
Abang dan Senen, yang memiliki anggota 10.000 sampai 20.000 pedagang. (Republika, 19/09/2005).
Bahkan, menurut ketua APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia), Ibih T.G.Hasan,
mengatakan bahwa per Juni 2006 di Indonesia terdapat 13.450 pasar tradisioanl dengan 12,6 juta
pedagang. Nilai aset keseluruhan sebesar Rp 65 triliun. (http://www.depkominfo.go.id). Dengan
adanya pasar modern, berarti nilai aset yang besar hanya beredar disejumlah orang, bukan
terdistribusi pada 12,6 juta pedagang di pasar rakyat.
Anggapan bahwa pasar modern menyerap banyak tenaga kerja, hal itu tidaklah sebanding dengan
bangkrutnya usaha dan hilangnya pangsa pasar jutaan pedagang di pasar rakyat. Masih dalam
pandangan ekonomi kapitalis, tidak ada batasan kepemilikan. Sehingga, setiap orang memiliki akses
terhadap apapun, asalkan memiliki modal untuk memilikinya. Kapitalis memandang bahwa pasar
rakyat dapat dimiliki oleh individu. Tidaklah aneh jika para pengelola pasar rakyat adalah pihak swasta.
Adapun negara, telah lama cuci tangan dalam urusan ekonomi ini. Karena memang globalisasi
menghedaki anti intervensi negara dalam ekonomi dan adanya privatisasi sektor publik.
Pandangan Syariah Islam
Islam memandang bahwa pasar rakyat adalah bentuk kepemilikan publik. Dalam kitab an-Nizham al-
Iqtishadi Fil Islam pasar terkategori kepemilikan publik karena sifat pembentukannya mencegah hanya
dimiliki oleh pribadi, artinya termasuk benda yang memiliki kemanfaatan umum. (An-Nabhani, 1996:
241). Hal itu berbeda dengan pasar modern -dalam arti ritel atau supermarket seperti saat ini, pada
dasarnya pasar modern adalah kepemilikan individu.
Konsekuensinya, pasar rakyat tidak boleh dimiliki oleh individu, melainkan harus dikelola oleh negara
untuk kepentingan publik (rakyat). Inilah yang dimaksud dengan paradigma pengelolaan kepemilikan
publik oleh negara (state based management), bukan yang berbasis swasta (corporate based
management). Di dalam Islam, negaralah yang bertanggungjawab atas pengelolaan pasar. Seperti
membangun (revitalisasi) pasar, modernisasi pasar, dan sejenisnya yang membuat image pasar rakyat
menjadi tempat pembelanjaan yang menyenangkan. Tidak lagi becek, kotor, banyak tumpukan
sampah, dan bau busuk. Negara bertanggungjawab menyediakan semua fasilitas tersebut dengan
murah bahkan gratis. Negara, dalam Islam, harus menolak dengan tegas praktik ekonomi kapitalis
yang hanya melahirkan kesenjangan akibat dari adanya akumulasi modal pada orang tertentu saja.
Negara juga berkewajiban untuk meningkatkan daya saing pasar rakyat atas pasar modern dengan
program pemberdayaan pembangunan. Pemberdayaan pedagang kecil ini dapat dilakukan antara lain
dengan membantu memperbaiki akses mereka kepada informasi, permodalan, dan hubungan dengan
produsen atau supplier (pemasok). Pedagang pasar rakyat perlu mendapatkan informasi tentang masa
depan, ancaman dan peluang usahanya, serta perlunya perubahan sikap dan pengelolaan usahanya
sesuai dengan perubahan tuntutan konsumen. Dalam kaitannya dengan produsen pemasok, pedagang
pasar tradisioanal perlu dibantu dalam mengefisienkan rantai pemasaran untuk mendapatkan barang
dagangannya. Pemerintah harus berperan sebagai mediator untuk menghubungkan pedagang pasar
tradisioanal secara kolektif kepada industri untuk mendapatkan akses barang dagangan yang lebih
murah. Sedangkan pembangunan adalah melalui modernisasi bentuk fisik pasar. Sehingga, pasar
rakyat dapat bersaing, bahka bisa mengalahkan, pasar modern.
Kaitannya dengan investasi asing pada pasar modern (seperti supermarket dan hipermarket), negara
harus memberikan batasan terhadap investasi asing tersebut. Pada dasarnya, investasi pada bisnis
kepemilikan individu, baik berasal dari domestik maupun asing, diperbolehkan dalam Islam. Selain itu,
investasi sangat dibutuhkan untuk berjalannya sebuah usaha. Namun, investasi yang bermuatan
penjajahan ekonomi asing atas ekonomi domestik, tidak diperbolehkan dalam Islam. Allah Swt.
berfirman yang artinya: ⼜Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk
menguasai orang-orang yang beriman (TQS. An-Nisa: 141). Artinya, negara dengan basis ideologi
Islam akan menjadikan orientasi ekonominya adalah demi kesejahteraan rakyat. Sehingga apa-apa
yang mengganggu kestabilan ekonomi rakyat atau mengusik kemaslahatan rakyat, wajib ditolak.
Ekonomi Islam adalah praktik ekonomi yang beretika. Di dalam Islam, diharamkan sebagian menzalimi
sebagian yang lain. Dengan kalimat lain, seorang pengusaha seharusnya memutuskan jaringan
distribusi yang dipandang efektif dan efisien untuk menghubungkan produsen dengan konsumen tanpa
harus menzalimi pesaing lain. Artinya, perilaku ekonomi yang kapitalis-oportunis-machiavelis tidak
pernah dikenal dalam Islam.
Penutup
Dengan demikian, semakin terpuruknya pasar rakyat disebabkan oleh diterapkannya sistem ekonomi
kapitalis dan bukti nyata kelalaian pemerintah kota dalam pengelolaan pasar rakyat di Bandung. Selain
itu, ditemukan pula penyebab cabang lain yang ikut memperparah kondisi pasar rakyat. Sehingga,
muncullah sebuah pertanyaan yang patut dijawab secara jujur, apakah layak pemerintah yang selama
ini membuat kehidupan rakyatnya kian sempit masih diberikan kepercayaan, dan kepadanya kita
memberikan loyalitas? Jika jawabanny, berarti kita sama ironinya dengan pemerintah yang selama ini
menerapkan kebijakan. Wallahu¶alam.
* Penulis adalah anggota Lajnah Mashlahiyah DPD II Kota Bandung Hizbut Tahrir Indonesia


Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar Ferry Sofwan meminta pemkot/pemkab tidak terlampau gampang mengeluarkan izin usaha minimarket. katanya." katanya. sekaligus dengan penerbitan peraturan wali kota/bupati supaya tata usaha perpasaran di setiap kota/kabupaten terkoordinasi baik. Sebelumnya. Demikian juga di Cimahi yang sudah memiliki perda." katanya hari ini. pengusaha harus menuntaskan perizinan sesuai aturan berlaku.112/2007 tentang pasar modern serta Permendag No. Bandung dan Kab. mereka tentunya harus menuntaskan perizinan. Setelah perda terbit.BANDUNG: Separuh dari 400 izin usaha minimarket di Bandung Raya hanya memegang izin domisili yang dikeluarkan kecamatan setempat. Aturan-aturan tersebut seharusnya bisa segera diadopsi oleh kota/kabupaten untuk menekan potensi gesekan antara pasar modern dan tradisional. Dia mengatakan hal serupa terjadi di Kab. Bandung Barat. Itu bisa menjadi acuan. Izin yang dikeluarkan. Dia mengatakan pemerintah telah mengeluarkan Perpres No." tuturnya. Hendri mengatakan idealnya setiap kota/kabupaten di Jabar segera memiliki perda pasar modern. pengusaha saat itu hanya memegang izin domisili.53/2008 yang mengatur hal yang sama. hal ini juga akan menjaminan kepastian usaha bagi investor pasar modern. harus selektif supaya tidak memicu persaingan usaha tidak sehat terutama dengan pasar tradisional . Izin usaha minimarket di kedua daerah tersebut berupa izin domisili karena ketiadaan perda pasar modern. "Padahal rata-rata kabupaten/kota mungkin sudah memiliki Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah [RTRW] yang mengatur zonasi pasar modern dan tradisional. Sekretaris Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Barat Hendri Hendarta mengemukakan mereka hanya mengantongi izin domisili mengingat belum adanya perda pasar modern di kota/kabupaten itu. sebelum perda pasar modern terbit pada 2009. "Seperti halnya di Kota Bandung. "Selain itu.

QGRQHVLD $336.3DVDU7UDGLVLRQDOYV7RNR0RGHUQ  $SDNDK0HUHND%HQDU6DOLQJ%HUKDGDSDQ" 3DGDWDQJJDO'HVHPEHUNHPDULQ3HUDWXUDQ3UHVLGHQ1R7DKXQWHQWDQJ3HQDWDDQGDQ3HPELQDDQ3DVDU 7UDGLVLRQDO3XVDW3HUEHODQMDDQGDQ7RNR0RGHUQWHODKGLVDKNDQ3HUDWXUDQ\DQJGLEHULWDNDQVXGDKWHUSLQJJLUNDQVHODPD KDPSLU WLJD WDKXQ LQL GLSDQGDQJ VDQJDW SHQWLQJ WHUXWDPD GDODP PHQMHPEDWDQL NHSHQWLQJDQ SHJLDW SDVDU WUDGLVLRQDO GDQ SHPDLQULWHOPRGHUQ6HODPDLQLVHODOXPXQFXOWXGLQJDQEDKZDSHPDLQGDQSHPRGDOEHVDULQLWHODKPHQGHSDNSDUDSHODNX XVDKDNHFLOGDQSDVDUWUDGLVLRQDO 'DODPSHUDWXUDQLQLGLDWXUEHEHUDSDKDOSHQWLQJPHOLSXWLDWXUDQSHQ\HGLDDQIDVLOLWDVZDMLEEDJLSDVDUWUDGLVLRQDOGDQWRNR PRGHUQ DWXUDQ ORNDVL GDQ SHUL]LQDQ DWXUDQ VLVWHP SHQMXDODQ GDQ MDP NHUMD KLQJJD DWXUDQ NHPLWUDDQ GHQJDQ SHPDVRN $WXUDQ PHQJHQDL VDQNVL DGPLQLVWUDVL VHFDUD EHUWDKDS MXJD GLEHUODNXNDQ EDJL SHODQJJDUDQ PXODL GDUL SHULQJDWDQ WHUWXOLV SHPEHNXDQKLQJJDSHQFDEXWDQL]LQXVDKD 1DPXQEHJLWX3HUSUHVLQLROHK$VRVLDVL3HGDJDQJ3DVDU6HOXUXK.

 6HW\R (G\ 0HQXUXWQ\D MLND WRNR PRGHUQ GLELDUNDQ PHQGLULNDQ XVDKD \DQJ EHUGHNDWDQGHQJDQSDVDUWUDGLVLRQDOPDNDDNDQPHQ\HEDENDQSHPEHOLGLSDVDUWUDGLVLRQDOEHUDOLKNHWRNRPRGHUQVHKLQJJD VHPDNLQ PHPEHQDPNDQ QDVLE SDVDU WUDGLVLRQDO NH MXUDQJNHSXQDKDQ 3HUSUHV  LWX VHQGLUL WHODK PHPEHUL MDQJND ZDNWXVHODPDWLJDWDKXQNHSDGDSXVDWSHUEHODQMDDQGDQWRNRPRGHUQXQWXNPHQJDWXUMDUDNGHQJDQSDVDUWUDGLVLRQDO  %DJDLPDQDGHQJDQ<RJ\DNDUWD" %HUGDVDUNDQ GDWD GDUL 3HUDWXUDQ :DOLNRWD <RJ\DNDUWD 1RPRU  7DKXQ  WHQWDQJ 5HQFDQD 3HPEDQJXQDQ -DQJND 0HQHQJDK'DHUDK 53-0'.DELG 3HQHOLWLDQ GDQ 3HQJHPEDQJDQ $336.DGDODKVRDOSHQJDWXUDQ]RQDVLSHQGLULDQSXVDWSHUEHODQMDDQGDQWRNRPRGHUQ3HQJDWXUDQMDUDNORNDVL DQWDU SDVDU LQL NXUDQJ GHWDLO GLEDKDV 3HUSUHV LQL PHUXMXNNDQ DWXUDQ LWX SDGD 5HQFDQD 7DWD 5XDQJ .PDVLKGLDQJJDSWLGDNDNDQ PDPSX PHQJXEDK NRQGLVL SDVDU WUDGLVLRQDO GDQ PHQJXEDK QDVLE SHGDJDQJQ\D PHQMDGL OHELK EDLN 6DWX KDO \DQJ SDOLQJ GLVRURWROHK$336.RWD DWDX :LOD\DK PDVLQJPDVLQJ GDHUDK 8QGDQJ8QGDQJ 1RPRU  7DKXQ  GLVHEXWNDQ VHEDJDL UXMXNDQ XWDPD \DQJ ELVD GLMDGLNDQ GDVDULPSOHPHQWDVL]RQDVLWHUVHEXW =RQDVL DQWDUD SDVDU WUDGLVLRQDO GDQ SXVDW SHUEHODQMDDQ PRGHUQ LQL KDUXV GLDWXU GHQJDQ WHJDV EHJLWX PHQXUXW .

HODV.HODV.\DNQLSDVDU\DQJPHOD\DQLSHUGDJDQJDQWLQJNDWNRWD'HODSDQSDVDUODLQQ\D WHUPDVXN GDODP 3DVDU . PHOD\DQL SHUGDJDQJDQ WLQJNDW UHJLRQDO 3DVDU %HULQJKDUMRWHUPDVXNGDODP3DVDU..9 GXDSDVDUEHULULVDQGHQJDQ..RWD<RJ\DNDUWD7DKXQ VDDWLQLWHUGDSDWWLWLNSDVDUWUDGLVLRQDO\DQJWHUVHEDU GL ZLOD\DK NRWD <RJ\DNDUWD 3DVDU *LZDQJDQ WHUPDVXN 3DVDU ..\DQJ PHOD\DQL SHUGDJDQJDQ WLQJNDWZLOD\DK EDJLDQ NRWD6HEHODVSDVDU WHUPDVXN GDODP ..HODV.HODV .HODV .

\DQJPHOD\DQLSHUGDJDQJDQWLQJNDWOLQJNXQJDQ3DVDU.HODV9EHUMXPODK SDVDU \DQJ PHOD\DQL SHUGDJDQJDQ WLQJNDW EORN 3DVDUSDVDU WUDGLVLRQDO LQL WHUOHWDN PHQ\HEDU GL VHOXUXK SHQMXUX ZLOD\DK NRWD .

 'DWDMXPODKSXVDWSHUEHODQMDDQGDQWRNRPRGHUQ\DQJUHVPLGLNHOXDUNDQROHKSHPHULQWDKGDHUDKEHOXPDGD'DWDVXUYHL PHQXQMXNNDQ SDGD VDDW LQL SDOLQJ WLGDN DGD SXVDW SHUEHODQMDDQ GDQ WRNR PRGHUQ GL SHUNRWDDQ<RJ\DNDUWD-XPODKLQL DNDQEHUWDPEDKNDUHQDDGDEHEHUDSDWRNRPRGHUQ\DQJDNDQGLEXNDSDGDWDKXQLQL'XDEHODVSXVDWSHUEHODQMDDQWHUVHEXW WHUPDVXN GDODP WLSHVXSHUPDUNHWGDQ DWDXGHSDUWHPHQW VWRUH (QDP VLVDQ\D PHUXSDNDQ WLSHK\SHUPDUNHWGDQ DWDX SHUNXODNDQ6HEDUDQSXVDWSHUEHODQMDDQGDQWRNRPRGHUQLQLKDQ\DPXQFXOGLEHEHUDSDORNDVL\DLWXGLNDZDVDQ-O$FKPDG <DQL 0DOLRERUR.

 -O -HQGHUDO 6XGLUPDQ  -O /DNVGD $GLVXFLSWR -O *HMD\DQ -O .DOLXUDQJ VHNLWDU 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD.

GDQGXDODJLWHUOHWDNMDXKGLSLQJJLUNRWDPDVLQJPDVLQJGL-O0DJHODQJ -RPERU.

GDQ5LQJ5RDG8WDUD 3RWHQVLLULVDQNHSHQWLQJDQ 'DULVHJLMXPODKSDVDUWUDGLVLRQDOGLNDZDVDQSHUNRWDDQ<RJ\DNDUWDPDVLKOHELKEDQ\DNGDULSDGDSXVDWSHUEHODQMDDQGDQ WRNR PRGHUQ 1DPXQ OHYHO NHODV SDVDU WUDGLVLRQDO \DQJ EHUWLQJNDW LWX PHQMDGLNDQ SHUEDQGLQJDQ MXPODK LWX WLGDN ODJL UHOHYDQ7HUOHELKODJLMLNDGLKLWXQJNHEHUDGDDQPLQLPDUNHW\DQJWHUVHEDUGLEDQ\DNZLOD\DKSHUNRWDDQ<RJ\DNDUWD  -LNDGXDOD\HUMHQLVSDVDU\DQJEHUEHGDLWXGLVDWXNDQPDNDDNDQWDPSDNNDZDVDQNDZDVDQ\DQJVDOLQJEHUVHQWXKDQ=RQD ]RQDVHQWXKDQ\DQJEHUDUWLDGDSRWHQVLLULVDQNHSHQWLQJDQWHUMDGLGLEHEHUDSDWLWLNNDZDVDQPHOLSXWLNDZDVDQ0DOLRERUR NDZDVDQ-O-HQGHUDO6XGLUPDQ .RWDEDUX.

GDQ-O/DNVGD$GLVXFLSWR *HMD\DQ6DWXWLWLNVHQWXKDQODJLWHUMDGLGL-O%ULJMHQ .VWLPHZD<RJ\DNDUWDWLGDNGLMHODVNDQVHFDUDGHWDLODWXUDQ]RQDVLSHQGLULDQDQWDUDSDVDUWUDGLVLRQDOGDQSXVDWSHUEHODQMDDQ PRGHUQ 8QWXN PHQHQWXNDQ DWXUDQ WHUVHEXW SHUOX GLODNXNDQ NDMLDQ SHPLQWDNDWDQ ]RQDVL.DWDPVR 1DPXQ MHQLV WRNR PRGHUQ GL VLWX EHUVLIDWVSHVLILN \DNQL SXVDW SHUEHODQMDDQ HOHNWURQLN GDQNRPSXWHUVHKLQJJD GLDVXPVLNDQWLGDNEDQ\DNEHUSHQJDUXKWHUKDGDSSHQJDOLKDQSHPEHOLSDVDUSDGDXPXPQ\D 'DODP 3HUDWXUDQ 'DHUDK 3URYLQVL 'DHUDK .VWLPHZD<RJ\DNDUWD1RPRU7DKXQWHQWDQJ5HQFDQD7DWD5XDQJ:LOD\DK3URYLQVL'DHUDK .VWLPHZD<RJ\DNDUWD 1RPRU  WDKXQ WHQWDQJ 3HUXEDKDQ $WDV 3HUDWXUDQ 'DHUDK3URYLQVL'DHUDK.

 GDQ GDPSDN LULVDQ DQWDU SDVDU WUDGLVLRQDOGHQJDQSXVDWSHUEHODQMDDQGDQWRNRPRGHUQGLVHOXUXKNDZDVDQ'DHUDK.VWLPHZD<RJ\DNDUWD9DULDEHOYDULDEHO SHQHQWXKDUXVPHQMDGLPHQMDGLEDKDQSHUWLPEDQJDQXWDPDVHSHUWLMXPODKSHQGXGXNSHUNDZDVDQMDULQJDQWUDQVSRUWDVLSHU NDZDVDQ SURILO NRQVXPHQ PDVLQJPDVLQJ EDGDQ XVDKD SURILO SHQMXDOWHQDQWGDQ VLVWHP SHQMXDODQ GDQ VHWUXVQ\D .DMLDQ .

DWDVYDULDEHOYDULDEHOWHUVHEXWQDQWLQ\DDNDQPDPSXPHPEDQWXPHQMDZDEDSDNDKWXGLQJDQEDKZDSXVDWSHUEHODQMDDQGDQ WRNR PRGHUQ LWXPHPEXDW SDVDU WUDGLVLRQDO WHUSXUXN LWX EHUDODVDQ DWDX WLGDN'L OXDU LWX SHUOX DGD NDMLDQ WHUVHQGLUL XQWXN PHPEDKDVGDPSDNNHEHUDGDDQPLQLPDUNHW\DQJVHPDNLQPHQMDPXUGLWLQJNDWOLQJNXQJDQGDQEORNSHUPXNLPDQZDUJD (ODQWR:LMR\RQR %DKDQ%DFDDQ 3HUDWXUDQ'DHUDK..RWD<RJ\DNDUWD1RPRU7DKXQWHQWDQJ5HQFDQD3HPEDQJXQDQ-DQJND3DQMDQJGDHUDK 53-3'.RWDPDG\D'DHUDK7LQJNDW.<RJ\DNDUWD1RPRU7DKXQWHQWDQJ3DVDU 3HUDWXUDQ'DHUDK.

 .RWD<RJ\DNDUWD7DKXQ  3HUDWXUDQ'DHUDK3URYLQVL'DHUDK.VWLPHZD<RJ\DNDUWD 3HUDWXUDQ3UHVLGHQ5HSXEOLN.VWLPHZD <RJ\DNDUWD 1RPRU  7DKXQ  WHQWDQJ 5HQFDQD 7DWD 5XDQJ :LOD\DK 3URYLQVL 'DHUDK .QGRQHVLD1RPRU7DKXQWHQWDQJ3HQDWDDQGDQ3HPELQDDQ3DVDU7UDGLVLRQDO3XVDW 3HUEHODQMDDQGDQ7RNR0RGHUQ 3HUDWXUDQ:DOLNRWD<RJ\DNDUWD1RPRU7DKXQWHQWDQJ5HQFDQD3HPEDQJXQDQ-DQJND0HQHQJDK'DHUDK 53-0'.VWLPHZD<RJ\DNDUWD1RPRU7DKXQWHQWDQJ3HUXEDKDQ$WDV3HUDWXUDQ'DHUDK 3URYLQVL 'DHUDK .

QGRQHVLD1RPRU7DKXQWHQWDQJ3HQDWDDQ5XDQJ  'LQDV .RWD <RJ\DNDUWD 9HUVL GLJLWDO WLSH 3') <RJ\DNDUWD 'LQDV . .HEXGD\DDQ GDQ 3DULZLVDWD 3URYLQVL 'DHUDK .VWLPHZD <RJ\DNDUWD  3HWD 6HEDUDQ 3RWHQVL %XGD\D GDQ 3DULZLVDWD .VWLPHZD<RJ\DNDUWD .HEXGD\DDQ GDQ 3DULZLVDWD 3URYLQVL 'DHUDK .RWD<RJ\DNDUWD7DKXQ  8QGDQJ8QGDQJ5HSXEOLN.

Untuk minimarket.. Di berbagai wilayah terus tumbuh pusat-pusat perbelanjaan baru dengan berbagai bentuknya. menjadi tak kunjung terealisasi. dan 350 minimarket di Kota Bandung. nasib pedagang di pasar rakyat kian terpuruk. Lagi-lagi terjadilah kebijakan ironi yang dipertontonkan oleh Pemerintah kota Bandung. menurut data Kompas tahun 2000. Pusatpusat perbelanjaan ini diisi oleh berbagai retailer (pegecer) yang umumnya adalah pengecer-pengecer besar. pusat perbelajaan modern berkembang sangat pesat akhir-akhir ini. 65 supermarket. Angka ini kemungkinan besar akan terus bertambah. Hal ini semakin membuktikan kelalaian pemerintah dan bahaya global ekonomi kapitalis. dan kepercayaan absolut pada mekanisme pasar ini. Kembali ke kasus pasar. itervensi pemerintah kota (Pemkot) dalam pengelolaan pasar. khususnya kota Bandung. Mulai level internasional sampai lokal. Di level lokal. anti intervensi negara dalam ekonomi. telah menimbulkan problem kehidupan yang tidak sederhana. Akibatnya. Pertarungan hebat antara pasar tradisional (traditional market) dengan pasar modern (modern market) adalah wujud nyata apa yang telah kita perbincangkan tadi. Dampak Kemunculan Pasar Modern . yaitu ketika program penertiban pasar berakhir pada â¼ kematianâ pelaku usaha pada pasar rakyat sebuah istilah yang dirasa lebih tepat untuk menyebut pasar tradisional. Akhirnya. Selama tahun 2006 ini. jumlahnya di Kota Bandung hanya 50 buah. dampak global ini dirasakan pada sektor µpasar¶. Globalisasi yang menekankan pada privatisasi. Pasar yang merupakan fasilitas publik mulai dilalaikan oleh pemerintah karena terbuai dengan modal besar yang dibawa oleh µbos-bos pasar¶ modern.htm). Dinas Pengelolaan Pasar Kota Bandung telah menetapkan visi â¼ Terwujudnya Pasar yang Tertib Penunjang Ekonomi Kota. 28 May 2007 07:00 (Studi Kasus Kota Bandung) Oleh Yuana Ryan Tresna* Syabab. Artinya. Padahal. Dua dampak utama dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalis â¼³sebagai gerbong utama yang dibawa lokomotif globalisasi.com/kompas-cetak/0610/02/Jabar/6347. Empat tahun kemudian.Terpuruknya Pasar Rakyat: Wujud Ketidakadilan Pemerintah Kota dan Dampak Global Ekonomi Kapitalis 30 Agustus 2009kartini87Tinggalkan komentarGo to comments Monday. saat ini sedikitnya terdapat 7 hipermarket.kompas.Com ± Sistem hidup µironi¶ memang hanya melahirkan kenyataan ironi. Secara total. penambahan minimarket mencapi 50 buah. seperti revitalisasi pasar. telah terjadi ketidakadilan global yang sangat menakutkan. baik perusahaan pengecer multinasional maupun nasional.adalah dikuasainya sektor kepemilikan publik oleh swasta dan munculnya kesenjangan ekonomi. angka ini meningkat menjadi 350 buah. terjadi sebuah kesenjangan ekonomi yang berdampak luas bagi kehidupan masyarakat. sejalan dengan visi kota Bandung. Terwujudnya Kota Bandung Sebagai Kota Jasa yang Bermartabat. (http://www.

ada yang menilai bahwa kemunculan pasar modern dinilai menguntungkan. saat ini keberadaan pasar rakyat makin terpukul. Menurut H. kelas bawah hingga atas. Dalam bidang persaingan antar retailer. Sisa yang 40 persen itulah yang saat ini masih diraih oleh pedagang pada pasar tradisional. Kedua. tahun 70-an sampai awal 80-an. pasar rakyat semakin termarjinalkan.telah menyisakan dampak serius. ia diuntungkan karena semakin tersedia banyak pilihan untuk berbelanja. tetapi hal itu tidaklah signifikan. Masyarakat pun berbondong-bondong ke pasar modern. seluruh pembeli. Para pengecer kini juga bervariasi memasuki berbagai segmen pasar. Keenam pasar itu adalah Pasar Benhil. Ramayana. Sebagai perbandingan. Persaingan yang semakin tajam antar pusat perbelanjaan dan juga antar pengecer juga akan menguntungkan. Hero. justru telah terjadi pola hidup konsumerisme yang negatif. Tahun 2000-an. Asnawi juga mengatakan bahwa sekitar 50-60 persen pangsa pasar tradisional terambil oleh pasar modern. 03/10/2006). kini anjlok menjadi maksimal 4 kuintal. Matahari. Kini mereka mulai masuk juga ke kelas menengah ke bawah. Bahkan. Mislanya untuk konsumen. (Kompas. digantikan keunggulan bersaing pengecer berduit di pasar modern. ketua Bidang Fasilitas dan Pembiayaan DPP APPSI. skala ekonomis pengecer pada pasar modern yang cukup luas dan akses langsung terhadap produsen dapat menurunkan harga pokok penjualan mereka. dengan pola persaingan ini dikhawatirkan akan terjadi kelebihan pasok. ketidakadilan dalam persaingan. Pasar Kebun Jati. Pasar Kebon Kacang. Logislah jika omzet pasar rakyat menurun tajam. karena mereka akan berusaha untuk menarik konsumen dengan memberikan pelayanan yang lebih baik. Caranya. mampu menjual telur hingga 7 kuintal. Tahun 90-an merupakan booming pasar modern. Jika dahulu pusat perbelanjaan lebih banyak ditujukan untuk penduduk berpendapatan menengah keatas. Asnawi.Banyaknya ditemukan hipermarket dan supermarket sebagai wujud pasar modern. pasar tradisional makin meredup. seperti Golden Trully. Sebagian pembeli beralih dari pasar tradisional ke pasar modern. Pertengahan 80-an sampai awal 90-an. dengan fasilitas berbelanja yang jauh lebih baik. justru telah menggiring para pengusaha dengan modal kecil ke dalam jurang kebangkrutan. Adapun dampak negatif yang terjadi dari realitas di atas adalah: Pertama. Hadirnya hipermarket dan supermarket yang sangat gencar semakin memperparah kondisi pasar rakyat. Jika selama ini pasar rakyat dianggap unggul dalam memberikan harga relatif lebih rendah untuk banyak komoditas. Walaupun. Apalagi dengan makin menjamurnya hipermarket. mulai muncul pasar modern. penjual telur. 19/09/ 2005). Di sisi lain. dan pasar kaget di Jalan Lontar. omzet pasar rakyat semakin menurun. Hal itu karena pedagang di pasar rakyat ini secara umum adalah pedagang-pedagang kecil bukan pengecer raksasa seperti yang ada di pusat-pusat perbelanjaan modern. Aep. Keuntungan itu sebenarnya tidaklah sebanding dengan kerugian yang muncul. sebelum kota Bandung dikepung pasar modern. Pedagang-pedagang yang tidak mampu bertahan akhirnya gulung tikar di tengah perjalanan usahanya. Pasar Tanah Abang. menurut Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia DKI Jakarta menyatakan. Ruang bersaing pedagang pada pasar rakyat kini juga mulai terbatas. Aep mengatakan. Keunggulan biaya rendah pedagang rakyat kini mulai terkikis bahkan nyaris lenyap. Sebaliknya. bahwa murahnya harga telur atau barang lainnya di supermarket dan pasar modern lainnya dikarenakan pengelola pasar modern mampu memotong jalur distribusi. Pasar Gandaria. sehingga mereka mampu menawarkan harga yang lebih rendah. enam pasar tradisional terancam kolaps akibat berdirinya pasar modern Hypermart di kawasan Tanah Abang. Faktanya. belanja di pasar tradisioanl. Bagi konsumen. (Republika. Kelebihan pasok ini bisa menyebabkan banyaknya kredit macet di pusat-pusat perbelanjaan. mereka membeli langsung ke . mereka umumnya mempunyai skala yang kecil dan menghadapi rantai pemasaran yang cukup panjang untuk membeli barang yang akan dijualnya. (Tempo Interaktif. 23/11/2005). Namun. Akhirnya. para pedagang di pasar rakyat. Sebagai contoh. sebagaimana yang terjadi sektor properti.

Selain itu. gelap gulita. Keempat hal itulah yang menyatu menjadi fenomena sosial: ketidakberdayaan. Mereka menjual barang yang lebih rendah dari harga pasar. Jika ada keberpihakan kepada rakyat kecil. Data pasar tahun 2004 dari Dinas Pengelolaan Pasar Kota Bandung menyebutkan. Sementara. Akibatnya. pasar rakyat yang tidak mampu bersaing Ketidakberdayaan pasar rakyat itu dikarenakan keterbatasan modal. jarak yang berdekatan antara pasar rakyat dan pasar modern seringkali menjadi ajang untuk menghancurkan bisnis pihak lain. Selain itu. rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) Kota Bandung tahun 2007 untuk merevitalisasi pasar rakyat agar mampu bersaing dengan hipermarket. kelalaian pemerintah Pemerintah dinilai cenderung mementingkan proyek yang menguntungkan golongan berduit dari pada rakyat kecil. setidaknya ada lima hal yang menjadi penyebab dari matinya usaha pada pasar rakyat: Pertama. Demikian juga dengan masalah permodalan. Selebihnya adalah pasar yang kondisi fisiknya rusak sebagian. jalanan becek dan berbau karena drainase dan sanitasi yang tidak memadai. semestinya pemerintah memperbaiki pasar rakyat tanpa membunuh pedagang kecil yang ada di sana. Hal itu mereka lakukan. kondisi fisik pasar rakyat yang tidak nyaman. ketika pola tidak sehat itu terjadi. Hal inilah yang sering kali menimbulkan perbincangan yang tak berujung. dan kualitas barang dagangan yang ada di pasar rakyat tidak lebih baik dari pasar modern. air menggenang di basement pasar. Saat kemarau. persaingan dengan pasar modern berdampak buruk bagi para pelaku ritel kecil.kompas. bau. basement yang digunakan sebagai areal parkir.com/kompas-cetak/0610/02/Jabar/6347. Malang nian nasib pasar rakyat. Namun. Cara ini juga sangat memungkinkan pengelola pasar modern mendapatkan potongan harga. saat pipa tersumbat. pasar rakyat yang kondisi kelayakannya di atas 70% sebanyak 14 pasar (40%). beralihnya pembeli dari pasar rakyat ke pasar modern dipicu banyak faktor. pola bisnis yang jauh dari etika Pola saling menzalimi antar pesaing ini seakan wajar terjadi ketika tata kehidupan ini adalah kehidupan yang machiavelis. pengunjung harus bermandi debu. jika kita analisis secara mendalam. (http://www. maka kelompok usaha kecil yang akan jatuh tersungkur. Pemerintah telah berlaku lalai dengan membiarkan kondisi pasar rakyat semakin buruk dari tahun ke tahun: becek. Seperti kios yang kurang tertata dan jalan yang rusak. (Pikiran Rakyat. 13 (37. dan banjir sampah di mana-mana.produsen dalam jumlah besar.htm). Menelusuri Akar Masalah Banyak faktor yang menjadi penyebab dari permasalahan di atas. karena mereka mendapatkan barang tidak melalui jalur ditribusi yang melelahkan. sebab kelayakannya di bawah 40%. Di sisi lain. rantai distribusi barang yang terlampau panjang sehingga harganya menjadi mahal. Kedua. Kurangnya perhatian pemerintah ini terbukti dengan tidak adanya aturan main tegas yang melindungi pasar rakyat ataupun pembatasan kuota jumlah pasar modern di suatu wilayah yang implementasinya benar-benar dijamin pemerintah. kotor. septictank tidak tersedia. Lihat saja Pasar Kosambi. Para pengusaha di pasar modern sering kali melakukan politik dumping. Lantai dua hingga enam tidak berpenghuni karena para pedagangnya angkat kaki setelah toko sepi akibat pembeli . karena menelusuri masalah utama kasus ini bak mencari kambing hitam untuk dijadikan pelarian.14%) dari 35 pasar rakyat yang ada di Kota Bandung kondisi fisiknya tidak layak pakai. pemerintah kota bandung tidak membantu permodalan (dana murah) bagi para pedagang pasar rakyat dengan membantu peritel kecil. Artinya. Karena dengan permodalan yang kecil inilah. Diantaranya karena kondisi sebagian besar pasar rakyat masih menyedihkan. Saat hujan. 12/06/2006). hanyalah harapan kosong. sehingga semua limbah cair pasar langsung dibuang ke pipa yang terus mengalir ke riool. Hal inilah yang membuat orang menjadi antipati terhadap pasar rakyat. Ketiga.

Namun. Pasar Karapitan.MPP No. Sebab. Waringin. SK Menperindag No. penataan diharapkan rampung akhir 2006 atau paling lambat 2007.enggan berbelanja di pasar yang tidak nyaman lingkungannya. 420 Tahun 1997). serta Pasar Tradisional yang bekerjasama dengan Pasar Modern. Pasar Cihaurgeulis di Jln.2/834/PUOD Perihal Petunjuk Pelaksanaan Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan. (http://www. Ibrahim Aji (Jln. Hasilnya. Padahal. d) Pola Perlindungan bagi Mitra Usaha. 420/MPP/Kep/10/1997 Tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan. khususnya pembinaan dan pengembangan Koperasi dan Pengusaha Kecil (lampiran SK MPP No. Pasar Kiaracondong. 107 Pasal 5). Pasar Simpang Dago di Jln.bigs. tidak juga terkabul. sebagai turunan dari landasan hukum di atas adalah: 1. Pembangunan Pasar Modern harus berada di lokasi sesuai dengan peruntukannya menurut RTRWK dan RDTRWK serta wajib AMDAL dengan aspek kajian sosial ekonomi. c) Rencana Kerja yang jelas termasuk upaya mendukung keusahaan Pengusaha Kecil dan Menengah. dan Surat Dirjen PDN No.id/bujet/5-3/lapus2. 107/MPP/Kep/2/1998 Tentang Ketentuan dan Tatacara Pemberian Izin Usaha Pasar Moodern (IUPM). Koperasi. . Kiaracondong). anehnya pemerintah kota sulit memberikan ijin terkait hal ini. melambung tinggi sehingga tidak dapat terjangkau. sekitar 250 pedagang resmi di Pasar Kosambi menyatakan sepakat menata sendiri gedung pasarnya. nyatanya tak kunjung terwujud. regulasi yang tidak memberikan banyak arti Regulasi bagi operasionalisasi pasar modern dan pasar rakyat yang telah ditetapkan pemerintah. 25/09/2005). 145/MPP/Kep/5/1997 dan No. Suci. pemerintah kota. keberadaan regulasi ini pada awalnya untuk menjamin kepentingan masing-masing pengusaha. Pasar Cicadas di Jln. Koperasi. 2. 261/MPP/Kep/7/1997 Tentang Pembentukan Tim Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan Pusat. lewat Dinas Pengelolaan Pasar. Banyak regulasi ini yang pada akhirnya dilanggar untuk kepentingan pemilik modal. faktanya nihil. Ir.htm). 300/DJPDN/XI/1997 perihal Prosedur Perizinan Pasar Modern Sedangkan hal-hal yang. baik pengusaha besar maupun pengusaha kecil. Aturan yang mengatur regulasi pasar modern terhadap pasar rakyat adalah SKB Menperindag dan Mendagri No. yang seharusnya mengelola kembali Pasar Kosambi. Demikian juga janji untuk membangun Pasar Balubur yang tergusur saat pembangunan jembatan layang Pasupati. dan Pasar Elektronika Banceuy.or. SK Menperindag No. 57 Tahun 1997 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan. Dodi Soeryadi. malah menjadi bencana bagi pedagang asli pasar tersebut. Program revitalisasi pasar yang direncanakan pemerintah kota Bandung. Pasar yang direncanakan direvitalisasi itu adalah Pasar Andir di Jln. Pasar Modern wajib melakukan kerjasama dengan Pedagang Kecil dan Menengah. Pasar Sederhana. serta Pasar Tradisional melalui program kemitraan (SK MPP No. sebagaimana yang pernah dituturkan oleh Kepala Dinas Pengelola Pasar. harga jual kios yang mereka tempati dulu. SK Menperindag No. (Pikiran Rakyat. H Juanda. Setiap perusahaan yang melaksanakan Kegiatan Usaha Pasar Modern wajib memiliki Izin Usaha Pasar Modern (IUPM) dan IUPM diperlakukan sebagai Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) ± Kep. Surat Mendagri No. Akibatnya.107 Pasal 2 3. Keempat. Dengan alasan biaya pengelolaan pasar yang telah direnovasi terlalu besar. 511. Padahal. Pasar Kosambi pun mengalami nasib yang sama. tidak kunjung menuntaskan revitalisasi pasar. bekerja sama dengan Koperasi Pedagang Pasar Kosambi. Anti intervensi pemerintah ini juga terbukti dari lepas tangannya pemerintah kota terhadap pengeloaan pasar rakyat. Kosongnya lima lantai di Gedung Pasar Kosambi ini kini malah dipergunakan sebagai tempat yang tidak jelas. pemerintah memberikan hak kepada pengembang pasar (investor) untuk mengelola pasar tersebut. Pasar Astanaanyar. a) Pola dan Rincian Kerjasama Kemitraan Usaha Dagang b) Tata Cara Pembayaran. niat pemerintah yang semula ingin memperbaiki kondisi pasar rakyat agar mampu bersaing dengan pasar modern.

Diantara ritel modern justru telah buka sejak pukul 08. yaitu kawasan perdagangan. pasar rakyat semakin terdesak dan sepi pengunjung.00. faktanya memang selalu lain. perkembangan pusat belanja dan pertokoan yang cenderung linier sepanjang jalan arteri dan kolektor harus dikendalikan. pengunjung pasar rakyat tinggal 40 persen. Walaupun demikian. Dalam perda Kota Bandung Nomor 2/2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) ditegaskan. Akibatnya. yaitu Bandung Electronical Mal. Telah beroprasi lima pusat perdagangan modern. serta pasar tradisional melalui pola kemitraan.MPP No. tak lepas dari kebijakan pemerintah yang dinilai masih kurang tegas di bidang ritel. Braga City Walk. Akhirnya. Banyak ritel modern yang berdiri tak jauh dari pasar rakyat. Namun. 19/09/2005). (Republika. Sesuai dengan aturan mengenai rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) kota. Karena kendali ekonomi yang sesungguhnya adalah berada pada kaum pemodal. telah membuat pebisnis pasar modern bebas melakukan dominasi pasarnya. 18/11/05). kuotanya bisa dihitung berdasarkan luas Kota Bandung. kotor. Bahkan di Jakarta. Namun. yang seakan menjadi gagasan absurd. ada sembilan pasar yang hampir punah. Tentu saja hal ini akan menyulitkan pemasok kelas kecil. dan Paskal Hyper Square. Perubahan sebagaimana dimaksud diatas diusulkan oleh Bupati/Walikota Kotamadya/ Kepala Daerah Tingkat II kepada Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri untuk mendapat persetujuan (Kep. bau. Kemudian. Cihampelas Walk. harta hanya . Apabila dalam kajian Bappeda. bukan di wilayah Bandung Timur seperti yang diamanatkan Perda RTRW Kota Bandung (Kompas Jawa Barat.00 s/d 22. Konsumen berbondong-bondong beralih ke pasar modern. Giant Hypermarket. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 107/MPP/Kep/2/1998. Adapun tentang pengaturan jam buka. karena sistem pembayaran yang diberlakukan oleh pedagang pada pasar modern adalah dengan diutang. Jadi. sampah yang menggunung adalah sederet kata yang membuat masyarakat untuk berkunjung ke pasar rakyat. ini sebetulnya tidak terlalu signifikan. dan ITC Pasar Baru. Bahkan. Kenyataannya. karena ketidakjelasan dalam pelaksanaan. peluang ini pun akan diambilalih oleh pemasok dengan modal besar. pasar modern wajib melakukan kerja sama dengan pedagang kecil dan menengah. seharusnya pendirian pasar modern berada di lokasi yang sesuai dengan peruntukannya. lokasi dibatasi dengan jarak tertentu untuk satu komoditas.4. diterapkannya sistem ekonomi kapitalis Sejak awal kemunculannya. Kelima. Semua pusat perbelanjaan modern yang terakhir dibangun itu berlokasi di pusat kota. itu sebatas hanya barang dagangan berupa sayur-mayur dan keperluan dapur lainnya. Keberadaan pasar modern tidak mendukung eksistensi pasar rakyat.00 waktu setempat. Dalam pasal 5 Kepmendagri itu disebutkan. Pengembangannya didorong ke wilayah Bandung Timur. sesungguhnya tidak ada yang disebut dengan kemitraan usaha dagang. Dalam radius kurang dari 10 kilo meter. Jam kerja Pasar Modern ditetapkan mulai dari Hari Senin s/d Minggu buka mulai pukul 10. karena ia membutuhkan perputaran uang yang cepat. baru dibayar setelah sekian bulan. Jika ada semacam kerja sama. jauh panggang dari api. ITC Kebon Kelapa. Becek. bahkan cenderung merugikan. pasar rakyat tidak mampu bersaing dengan hipermarket dan supermarket yang berdiri megah. kenyataannya lagi-lagi tidak ditemukan. Bandung Electronic Center. koperasi. Pada kondisi ini pun pemasok kelas kecil akan menemui batu ganjalan. sistem ekonomi kapitalis adalah sistem ekonomi yang tidak manusiawi. Demikian juga dalam aspek kemitraan. Makin terpuruknya pasar rakyat. tentang Ketentuan Tata Cara Pemberian Izin Usaha Pasar Modern. disusul dengan dibangunnya empat mal/hipermaket baru. Peraturan itu secara normatif memang melindungi pedagang di pasar rakyat. Inilah yang pada akhirnya menyulitkan pasar rakyat. banyak dibangun hipermarket dan sepermarket di daerah Bandung utara dan barat. Secara rata-rata.107 Pasal 11). Akhirnya. Parijs Van Java. yaitu Carrefour. Bahkan ada yang berdampingan atau menempel dengan pasar rakyat.

6 juta pedagang. Terlihat dengan jelas. Pedagang pasar rakyat perlu mendapatkan informasi tentang masa depan. dan hubungan dengan produsen atau supplier (pemasok). mengatakan bahwa per Juni 2006 di Indonesia terdapat 13. Sehingga.450 pasar tradisioanl dengan 12. pada kasus banyaknya ditemukan pasar modern berarti telah terjadi perputaran uang pada sebagian kecil orang saja. negaralah yang bertanggungjawab atas pengelolaan pasar. .G. pedagang pasar rakyat merupakan salah satu tulang punggung perekonomian nasional. melainkan harus dikelola oleh negara untuk kepentingan publik (rakyat).go.id). Karena memang globalisasi menghedaki anti intervensi negara dalam ekonomi dan adanya privatisasi sektor publik. modernisasi pasar. bahka bisa mengalahkan. banyak tumpukan sampah. Negara bertanggungjawab menyediakan semua fasilitas tersebut dengan murah bahkan gratis. Adanya akumulasi modal inilah yang menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi. hal itu tidaklah sebanding dengan bangkrutnya usaha dan hilangnya pangsa pasar jutaan pedagang di pasar rakyat.6 juta pedagang. Sehingga. dalam Islam. terdiri dari sekitar 200-500 pedagang. Di dalam Islam. ancaman dan peluang usahanya. Ibih T. menurut ketua APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia). Padahal. pada dasarnya pasar modern adalah kepemilikan individu. bukan terdistribusi pada 12. Anggapan bahwa pasar modern menyerap banyak tenaga kerja.depkominfo. Tidaklah aneh jika para pengelola pasar rakyat adalah pihak swasta. artinya termasuk benda yang memiliki kemanfaatan umum. (Republika.6 juta pedagang di pasar rakyat. Inilah yang dimaksud dengan paradigma pengelolaan kepemilikan publik oleh negara (state based management). Adapun negara. Dalam kaitannya dengan produsen pemasok. Masih dalam pandangan ekonomi kapitalis. Seperti membangun (revitalisasi) pasar. 19/09/2005). Bahkan. Setidaknya ada 24 ribu pasar. Sedangkan pembangunan adalah melalui modernisasi bentuk fisik pasar. Nilai aset keseluruhan sebesar Rp 65 triliun. asalkan memiliki modal untuk memilikinya. (http://www. Pemerintah harus berperan sebagai mediator untuk menghubungkan pedagang pasar tradisioanal secara kolektif kepada industri untuk mendapatkan akses barang dagangan yang lebih murah. permodalan. yang memiliki anggota 10. hingga yang besar seperti Tanah Abang dan Senen. Pemberdayaan pedagang kecil ini dapat dilakukan antara lain dengan membantu memperbaiki akses mereka kepada informasi. serta perlunya perubahan sikap dan pengelolaan usahanya sesuai dengan perubahan tuntutan konsumen.akan berputar di kalangan berduit saja. Hal itu berbeda dengan pasar modern -dalam arti ritel atau supermarket seperti saat ini. harus menolak dengan tegas praktik ekonomi kapitalis yang hanya melahirkan kesenjangan akibat dari adanya akumulasi modal pada orang tertentu saja. 1996: 241). pedagang pasar tradisioanal perlu dibantu dalam mengefisienkan rantai pemasaran untuk mendapatkan barang dagangannya. tidak ada batasan kepemilikan.000 pedagang. (An-Nabhani. Pandangan Syariah Islam Islam memandang bahwa pasar rakyat adalah bentuk kepemilikan publik. pasar rakyat tidak boleh dimiliki oleh individu. sebab melibatkan jutaan pedagang.Hasan. yang mencakup 12. Konsekuensinya. Tidak lagi becek. pasar rakyat dapat bersaing. kotor. dan tersebar di 26 provinsi di Indonesia. Pasar tersebut bervariasi. dan bau busuk. Dengan adanya pasar modern. Dalam kitab an-Nizham alIqtishadi Fil Islam pasar terkategori kepemilikan publik karena sifat pembentukannya mencegah hanya dimiliki oleh pribadi. telah lama cuci tangan dalam urusan ekonomi ini. bukan yang berbasis swasta (corporate based management). Negara. dan sejenisnya yang membuat image pasar rakyat menjadi tempat pembelanjaan yang menyenangkan. pasar modern. dari yang kecil. Kapitalis memandang bahwa pasar rakyat dapat dimiliki oleh individu. berarti nilai aset yang besar hanya beredar disejumlah orang. Negara juga berkewajiban untuk meningkatkan daya saing pasar rakyat atas pasar modern dengan program pemberdayaan pembangunan. setiap orang memiliki akses terhadap apapun.000 sampai 20.

Kaitannya dengan investasi asing pada pasar modern (seperti supermarket dan hipermarket). dan kepadanya kita memberikan loyalitas? Jika jawabanny. tidak diperbolehkan dalam Islam. Ekonomi Islam adalah praktik ekonomi yang beretika. An-Nisa: 141). Wallahu¶alam. diperbolehkan dalam Islam. apakah layak pemerintah yang selama ini membuat kehidupan rakyatnya kian sempit masih diberikan kepercayaan. berarti kita sama ironinya dengan pemerintah yang selama ini menerapkan kebijakan. ditemukan pula penyebab cabang lain yang ikut memperparah kondisi pasar rakyat. Sehingga. Di dalam Islam. investasi sangat dibutuhkan untuk berjalannya sebuah usaha. berfirman yang artinya: â¼ Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman (TQS. negara dengan basis ideologi Islam akan menjadikan orientasi ekonominya adalah demi kesejahteraan rakyat. perilaku ekonomi yang kapitalis-oportunis-machiavelis tidak pernah dikenal dalam Islam. Selain itu. Selain itu. Penutup Dengan demikian. semakin terpuruknya pasar rakyat disebabkan oleh diterapkannya sistem ekonomi kapitalis dan bukti nyata kelalaian pemerintah kota dalam pengelolaan pasar rakyat di Bandung. Artinya. Artinya. seorang pengusaha seharusnya memutuskan jaringan distribusi yang dipandang efektif dan efisien untuk menghubungkan produsen dengan konsumen tanpa harus menzalimi pesaing lain. negara harus memberikan batasan terhadap investasi asing tersebut. Pada dasarnya. muncullah sebuah pertanyaan yang patut dijawab secara jujur. investasi pada bisnis kepemilikan individu. investasi yang bermuatan penjajahan ekonomi asing atas ekonomi domestik. wajib ditolak. Allah Swt. * Penulis adalah anggota Lajnah Mashlahiyah DPD II Kota Bandung Hizbut Tahrir Indonesia . Dengan kalimat lain. Sehingga apa-apa yang mengganggu kestabilan ekonomi rakyat atau mengusik kemaslahatan rakyat. diharamkan sebagian menzalimi sebagian yang lain. baik berasal dari domestik maupun asing. Namun.