Anda di halaman 1dari 11

c c

    


  
      

Seorang wanita hamil berusia 27 tahun (G2P1A0) mengeluh sesak napas satu hari sebelum ke
Rumah Sakit Umum (RSU). Saat itu ia mengeluh nyeri ulu hati, namun kaki tidak bengkak,
tidak nyeri kepala, pandangan tidak kabur, tidak keluar lendir atau darah, tidak mual, dan
tidak muntah. Diduga ia telah diduga menderita sindrom HELLP oleh dokter kandungan
setempat namun karena keterbatasan alat pemeriksaan, ia dirujuk ke Rumah Sakit Umum
Pusat Nasional (RSUPN) dengan diagnosis Intrauterine Fetal Death (IUFD) dari hasil USG.
Di sana ia telah mendapat terapi asam traneksamat, deksametason, ceftriaxone, digoksin,
aspirin, dan regimen antihipertensi.

Karyawan pabrik yang sehari-hari bekerja di kawasan industri ini tengah hamil 25-26 minggu
dan sejak awal kehamilan sang ibu sudah dinyatakan menderita µdarah tinggi¶ oleh dokter
yang memeriksakan perawatan antenatal. Tekanan darahnya saat ini berkisar 130/90 mmHg
(sudah mengkonsumsi obat antihipertensi). Hari pertama haid terakhirnya sesuai dengan
perkiraan usia kehamilan melalui USG. Ia juga telah memiliki riwayat hipertensi pada
kehamilannya yang pertama.

   

Pada pemeriksaan fisik keadaan umum tampak sakit sedang, tampak pucat namun tidak
sesak, tekanan darah 180/110 mmHg dan suhu 36.50C. Terdengar bunyi jantung gallop (S4),
perut membuncit sesuai kehamilan, dan ekstremitas yang tidak edema. Pemeriksaan obstetri
menunjukkan tinggi fundus uteri 15 cm, vulva dan uretra tenang, porsio licin, merah, tidak
ada fluor albus dan fluxus. Porsio kenyal ke arah belakang dengan panjang 2 cm, kepala pada
H1, dan protein stick menunjukkan angka +2. Pemeriksaan USG menunjukkan presentasi
janin kepala tunggal tanpa ada denyut jantung janin dan telah terdapat spalding sign. Di
RSUPN ia didiagnosis ulang sebagai sindrom HELLP akibat preeklamsia berat (PEB).

Saat itu juga ia direncanakan untuk cek darah perifer lengkap (DPL), urinalisis lengkap (UL),
gula darah sewaktu (GDS), enzim transaminase (SGOT/SGPT), dan laktat dehidrogenase
(LDH) ulang. Dicek pula elektrokardiografi (EKG), asam urat, ureum, kreatinin, albumin,
elektrolit, fibrinogen, dan d-dimer. Perawatannya terpadu antara dokter obstetri ginekologi
dengan konsultasi dokter kardiologi dan dokter mata.

Rencana terapi yang utama ialah terminasi pervaginam untuk menghentikan hipertensi
dengan perangsang misoprostol (4x50 mg) dengan folley cathether. Selalu dilakukan
pengawawan tanda vital dan tanda-tanda perburukan. Kepalanya dielevasi 300 dan
dimasukkan bolus MgSO4 4 gram dilanjutkan drip 1 gr/jam dalam 24 jam. Obat yang dipakai
ialah ISDN 3x10 mg (dosis maksimal 80 mg) dengan selalu dilakukan pengawasan tekanan
darah ditambah vitamin C sebanyak 2x400 mg perhari. Deksametason tetap diberikan 10 mg
dua kali sehari, serta pemberian antibiotik Amoxicillin 3x500 mg.

Usai dicek,t erdapat penurunan hematokrit, leukositosis, trombositopenia, serta kadar


fibrinogen dan D-dimer yang tinggi. Hasil tes urin menunjukkan sedimen leukosit, eritrosit,
proteinuria, dan hemoglobinuria. Hasil tes fungsi hati menunjukkan peningkatan signifikan
(SGOT, SGPT, dan LDH) disertai hipoalbuminemia. Hemoglobin makin hari makin turun
(8,2 g/mL). Leukositosis tetap terdeteksi dalam nilai 24.000/mm3. Trombosit terakhir
136.000/mm3. Hasil uji D-dimer meningkat tinggi (5,3), fibrinogen juga meningkat (642).

Setelah mengalami persalinan atas induksi oksitoksin secara spontan, keluar janin mati
(IUFD) namun setelah itu tekanan darah masih tidak terkontrol (160/100 mmHg). Setelah
ditransfusi PRC pun konjungtiva masih pucat, akral dingin, dan masih ditemukan beberapa
purpura pada ekstremitas.

      
 
  
A.   !c" 
Nama Klien : Ny.X .
Umur : 27 tahun
Suku :-
Bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan :-
Pekerjaan : Karyawan pabrik
Alamat rumah : Surabaya
c     
sesak napas
#  $ %    
 Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien adalah rujukan dari Rumah Sakit Umum (RSU) dengan keluhan sesak
napas nyeri ulu hati, namun kaki tidak bengkak, tidak nyeri kepala, pandangan
tidak kabur, tidak keluar lendir atau darah, tidak mual, dan tidak muntah. Diduga
ia telah diduga menderita sindrom HELLP oleh dokter kandungan setempat
namun karena keterbatasan alat pemeriksaan, ia dirujuk ke Rumah Sakit Umum
Pusat Nasional (RSUPN) dengan diagnosis Intrauterine Fetal Death (IUFD) dari
hasil USG. Di sana ia telah mendapat terapi asam traneksamat, deksametason,
ceftriaxone, digoksin, aspirin, dan regimen antihipertensi.

 Riwayat Kesehatan Dahulu


Klien mempunyai riwayat hipertensi pada kehamilannya yang pertama
 Riwayat Obstetri.
Riwayat Menstruasi:
Menarche : 13 th.
Siklus haid : 1x 30 hari.
Lama Haid : 5-7 hari.
Banyaknya : 2-3 x ganti.
Bau : Amis.
Warna : Merah segar
Keluhan : Normal.
þ  $&'&( )   * 
+  ) '
1. TD : 180/110 mmHg.
2. Nadi : 84 x/menit
3. Pernafasan : 28x/menit
4. Suhu : 36,5o C

 Rambut
Hitam dan bersih

 Konjungtiva
Pucat

 Wajah
Ekspresi wajah menampakkan ekspresi gelisah dan kesakitan

 Abdomen
Inspeksi : -. Palpasi : nyeri tekan pada ulu hati. Perkusi : redup. Auskultasi : -
"    * , " 
a. Pola persepsi : -
b. Pola nutrisi dan metabolik : -
c. Pola elimnasi
BAB 1x dalam 1 hari
d. Pola aktivitas dan latihan : -
e. Pola istirahat dan tidur
Klien gelisah dan sukar tidur
f. Persepsi diri dan konsep diri
Klien merasa cemas dengan penyakitnya serta tindakan terminasi yang akan
dilakukan
g. Pola reproduksi dan seksual
Menstruasi berjalan dengan lancar
    ,
1. Pemeriksaan USG menunjukkan presentasi janin kepala tunggal tanpa ada denyut
jantung janin dan telah terdapat spalding sign. Di RSUPN ia didiagnosis ulang
sebagai sindrom HELLP akibat preeklamsia berat (PEB).
2. Saat itu juga ia direncanakan untuk cek darah perifer lengkap (DPL), urinalisis
lengkap (UL), gula darah sewaktu (GDS), enzim transaminase (SGOT/SGPT), dan
laktat dehidrogenase (LDH) ulang. Dicek pula elektrokardiografi (EKG), asam urat,
ureum, kreatinin, albumin, elektrolit, fibrinogen, dan d-dimer. Perawatannya terpadu
antara dokter obstetri ginekologi dengan konsultasi dokter kardiologi dan dokter mata.
3. Terdapat penurunan hematokrit, leukositosis, trombositopenia, serta kadar fibrinogen
dan D-dimer yang tinggi.
4. Hasil tes urin menunjukkan sedimen leukosit, eritrosit, proteinuria, dan
hemoglobinuria.
5. Hasil tes fungsi hati menunjukkan peningkatan signifikan (SGOT, SGPT, dan LDH)
disertai hipoalbuminemia. Hemoglobin makin hari makin turun (8,2 g/mL).
Leukositosis tetap terdeteksi dalam nilai 24.000/mm3. Trombosit terakhir
136.000/mm3. Hasil uji D-dimer meningkat tinggi (5,3), fibrinogen juga meningkat
(642).

* þ ," c  ,


Pasien sindrom HELLP dapat menunjukkan tanda dan

gejala yang sangat bervariasi, yang tidak bernilai diagnostik

pada preeklampsi berat. Akibatnya sering terjadi salah

diagnosis, diikuti dengan kesalahan pemberian obat dan

pembedahan.

Diagnosis banding pasien sindrom HELLP meliputi

( 2-5,7) :

- Perlemakan hati akut dalam kehamilan


- Apendistis

- Gastroenteritis

- Kolesistitis

- Batu ginjal

- Pielonefritis

- Ulkus peptikum

- Glomerulonefritis trombositopeni idiopatik

- Trombositipeni purpura trombotik

- Sindrom hemolitik uremia

- Ensefalopati dengan berbagai etiologi

- Sistemik lupus eritematosus (SLE)


 þ ,"    

1. Perubahan perfusi jaringan serebal b.d hipertensi, vasospasme siklik, edema serebral,
perdarahan.
2. Penurunan curah jantung b/d hipovolemia/ penurunan aliran balik vena.
3. Nyeri epigastrik b/d proses penyakit.
4. Risiko cedera pada janin b/d tidak adekuatnya perfusi darah ke plasenta.
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia
6. Ansietas b/d kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
7. Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi.

 )    


 þ ,"  ' Perubahan perfusi jaringan b.d hipertensi, vasospasme siklik, edema
serebral, perdarahan.
+  : Setelah dilakukan tindakan keperawatan , perfusi jaringan kembali normal.
$-  +  '
a. Pantau tanda-tanda vital, catat CRT.
Rasional : dengan memanyau TTV dan pengisian kapiler dapat dijadikan
pedoman untuk penggantian cairan atau menilai respon kardiovaskuler.
b. Evaluasi status mental. Perhatikan teradinya afasia, kejang, muntah, peningkatan
tekanan darah.
Rasional : indikator yang menunjukkan embolisasi sistemik pada otak.
c. Perhatikan Hb atau Ht sebelum dansesudah kehilangan darah. Kaji status nutrisi,
tinggi dan berat badan.
Rasional : nilai bandingan membantu menentukan beratnya kehilangan darah.
Status sebelumnya dari kesehatan yang buruk meningkatkan luasnya cedera
karena kekurangan oksigen.
d. Kolaboratif: memberikan antihipertensi pada klien.
Rasional : menurunkan risiko gagal ventrikel kiri & perdarahan otak.

  þ ," 'Penurunan curah jantung b/d hipovolemia/ penurunan aliran balik vena.
+  : Curah jantungkembali normal.
$-  +  '
a. Pantau nadi dan tekanan darah.
Rasional : dengan memantau nadi dan tekanan darah dapat melihat peningkatan
volume plasma, relaksasi vaskular dengan penurunan tahanan perifer .
b. Lakukan tirah baring pada ibu dengan posisi miring ke kiri.
Rasional : meningkatkan aliran balik vena, curah jantung, dan perfusi ginjal.
c. Kolaboratif: pemantauan parameter hemodinamik invasif.
Rasional : memberikan gambaran akurat dari perubahan vaskular dan volume
cairan. Konstruksi vaskular yang lama, peninkatan hemokonsentrasi, serta
perpindahan cairan menurunkan curah jantung.
d. Kolaboratif: memberikan antihipertensi pada klien.
Rasional : obat antihipertensi bekerja ecara langsung pada arteriol untuk
meningkatkan relaksasi otot polos kardiovaskuler dan membantu meningkatkan
suplai darah.
e. Pemantauan tekanan darah dan obat antihipertensi.
Rasional : mengetahui efek samping yang terjadi seperti tachicardi, sakit
kepala, mual, muntah, dan palpitasi.

  þ ," '. Nyeri epigastrik b/d proses penyakit.


+   : Dalam 24 jam nyeri berkurang dan klien mampu beristirahat dengan
nyaman.
$-  +  '
a. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya, dan intensitas (skala 0-10).
Perhatikan petunjuk verbal dan non-verbal.
Rasional : membantu mengidentifikasi derajat ketidaknyamanan dan kebutuhan
untuk pemberian analgesik .
b. Bantu pasien untuk menemukan posisi yang nyaman.
Rasional : posisi yang nyaman dapat menurunkan intensitas nyeri,
mempengaruhi pasien untuk rileks dan beristirahat ecara efektif.
c. Berikan tindakan kenyamanan dasar ( contoh, perubahan posisi pada
punggung atau sisi yang tak sakit, pijatan punggung) dan aktivitas yang
terapeutik. Dorong ambulasi dini dan penggunaan teknik relaksasi, bimbingan
imajinasi, sentuhan teapeutik.
Rasional : meningkatkan relaksasi, membantu untuk memfokuskan perhatian,
dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
d. Kolaboratif: berikan analgesik/ narkotik sesuai indikasi.
Rasional : memberikan penghilang ketidaknyamanan/ nyeri dan memfasilitasi
tidur.

s  þ ," 'Risiko cedera pada janin b/d tidak adekuatnya perfusi daah ke plasenta.
+  : Tidak terjadi cedera pada janin dan meminimalkan resiko distress nafas.
$-  +  '
a. Istirahatkan ibu.
Rasional : dengan mengistirahatkan ibu diharapkan metabolisme tubuh menurun
dan peredaran darah ke plasenta menjadi adekuat, sehingga kebutuhan akan
oksigen untuk janin dapat terpenuhi .
b. Anjurkan ibu agar tidur miring ke kiri.
Rasional : dengan tidur miring ke kiri diharapkan vena cava di bagian kanan
tidak tertekan oleh uterus yang membesar, sehingga aliran darah ke plasenta
menjadi lancar.
c. Pantau tekanan darah pada ibu.
Rasional : dengan memantau tekanan darah ibu dapat diketahui keadaan
aliran darah ke plasenta seperti tekanan darah tinggii, aliran darah ke plasenta
berkurang, sehingga suplai oksigen ke janin berkurang.
d. Pantau denyut jantung janin
Rasional : dengan memantau denyut jantung janin dapat diketahui keadaan
jantung janin yang lemah atau menurun menandakan suplai oksigen ke
plasenta berkurang, sehingga dapat direncanakan tindakan selanjutnya.
e. Kolaboratif: berikan obat anti hipertensi.
Rasional : obat antihipertensi akan menurunkan tonus arteri dan menyebabkan
penurunan à à jantung dan vasodilatasi pembuluh darah, sehingga tekanan
darah turun. Dengan menurunnya tekanan darah, maka aliran darah ke plasenta
menjadi adekuat.

ã  þ ," 'Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia



+  : - mual teratasi dan nutrisi pasien terpenuhi.
- Menyiapkan pola diet dengan masukan kalori yang adekuat untuk
meningkatkan/ mempertahankan berat badan yang seimbang.
$-  +  '
a. Buat tujuan berat badan minimum dan kebutuhan nutrisi harian pasien.
Rasional : malnutrisi adalah kondisi gangguan minat yang menyebabkan depresi,
agitasi dan mempengaruhi fungsi kognitif, pengambilan keputusan. Perbaikan
status nutrisi meningkatkan kemampuan berpikir dan kerja psikologis.
b. Berikan makanan sedikit-sedikit tapi sering dan makanan tambahan yang
tepat.
Rasional : meningkatkan pemasukan nutrisi pada tubuh dan menghindari
mual, meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali.
c. Buat pilihan menu yang ada menjadi sevariaif mungkin dan izinkan pasien
untuk mengontrol pilihan sebanyak mungkin.
Rasional : dengan menu makan yang variatif diharapkan dapat meningkatkan
nafsu makan pasien.
d. Timbang berat badan pasien dengan teratur dan dokumentasikan dengan baik.
Rasional : dengan menimbang badan secara teratur dan mencatat data
dimaksudkan agar dapat melihat laju perkembangan nutrisi pasien.
(  þ ,"  ' Ansietas b/d kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan
penatalaksanaannya.
+   : - menunjukan relaksasi dan ansietas berkurang ke tingkat yang dapat
diatasi.
- Klien memahami tentang penyakitnya dan tindakan untuk mengatasinya.
$-  +  '
a. Identifikasi tingkat kecemasan dan persepsi pasien/ orang terdekat teradap
situasi yang dihadapi.
Rasional : mengetahui tingkat kecemasan dan persepsi pasien serta memudahkan
untuk merencanakan penatalaksanaan selanjutnya.
b. Informasikan pada klien, keluarga, atau orang terdekat tentang rencana
prosedur tindakan.
Rasional : Keluarga dan pasien tahu kemungkinan hasil terburuk setelah
dilakukan tindakan.
c. Evaluasi mekanisme koping yang digunakan pasien.
Rasional : mengetahui sejauh mana pasien dapat mengatasi masalahnya dan
menenukan tindakan selanjutnya.
d. Temani atau atur supaya ada seseorang bersama pasien sesuai indikasi.
Rasional : dukungan yang terus-menerus akan membantu pasien untuk
mengurangi ansietas.
e. Sediakan informasi yang akurat sesuai kebutuhan jika diminta pasien/
keluarga pasien terdekat. Menjawab pertanyaan dengan bebas dan jujur serta
bahasa yang dapat dimengerti oleh semua orang. Ulangi informasi sesuai
kebutuhan, koreksi kesalahan konsepsi.
Rasional : informasi yang lengkap dan jelas dapat mengurangi ansietas pasien
dalam hal pemahaman terhadap penyakit dan penatalaksanaanya. Kata-kata/
ucapan mungkin akan memiliki arti yang berbeda untuk setiap individu, oleh
karena itu, penjelasan sangat diperlukan untuk menjamin pemahaman.

ë  þ ," 'Kurang pengetahuan b/d kurangnya inormasi


+     ' Menunjukan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis, mampu
menunjukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan rasional dari tindakan dan
pasien ikut serta dalam program pengobatan.
$-  +  '
a. Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan.
Rasional : mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi .
b. Berikan informasi mengenai terapi obat-obatan, efek samping dan
pentingnya kepatuhan pada program.
Rasional : Klien bisa mengerti dan mau melakukan sesuai dengan anjuran
demi keberhasilan pengobatan.
c. Tinjau faktor-faktor resiko individual dan bentuk penularan/tempat masuk
infeksi.
Rasional : Mengurangi infeksi nosokomial.
d. Health education tentang pentingnya hygiene pribadi dan kebersihan
lingkungan.
Rasional : mengurangi komplikasi penyakit dan infeksi dari luar.

þ *+ $+  


Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa
YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.

Doenges, Marilynn E, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman


untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien). Jakarta : EGC.

Mitayani. 2009. Asuhan keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika.

www.hidayat2.wordpress.com
www.jurnal.PDII.lipi.go.id
www.kalbefarma.com
www.majalah.farmacia.com
www.papdiplg.multiply.com