Anda di halaman 1dari 72

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA

TAHUN 2010 – 2030

TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA MAKASSAR
2010 – 2030

BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT KOTA


TAHUN 2010
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA
TAHUN 2010 SAMPAI TAHUN 2030

TENTANG

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA


TAHUN 2010 SAMPAI TAHUN 2030

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA KOTA

Menimbang: a. bahwa untuk mengarahkan pembangunan di Kota dengan memanfaatkan


ruang wilayah secara berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras,
seimbang, dan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dan pertahanan keamanan, perlu disusun Rencana Tata
Ruang Wilayah;
b. bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan antar
sektor, daerah, dan masyarakat, maka Rencana Tata Ruang Wilayah
merupakan arahan lokasi investasi pembangunan yang dilaksanakan
Pemerintah, masyarakat, dan/atau dunia usaha;
c. bahwa berdasarkan ketentuan pasal 26 ayat (4) Undang-Undang Nomor
26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, jangka waktu Rencana Tata
Ruang Wilayah Kota adalah 20 tahun sehingga Peraturan Daerah Kota
Nomor 6 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota 2005-
2015 sudah tidak sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku saat ini, maka perlu diganti dengan Peraturan
Daerah baru;
d. bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah Kota sebagaimana ditetapkan
dalam Peraturan Daerah Kota Nomor 2 Tahun 1987 perlu disesuaikan
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a, huruf b, huruf c, dan
huruf d, serta sebagai pelakasanaan Undang-Undang Nomor 26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang, perlu menetapkan Peraturan Daerah
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tahun 2010 sampai
Tahun 2030.

1
Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor
104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043);
2. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Pertahanan Keamanan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3234), sebagaimana telah dirubah dengan Undang-
undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1988 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3368);
3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok
Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1967,
Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
2931);
4. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 37, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3225);
5. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3274);
6. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 75, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3318);
7. Undang-undang Nomor 50 Tahun 1986 tentang Penyediaan dan
Penggunaan Tanah serta Ruang Udara di Sekitar Bandar Udara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 75, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3343);
8. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3419);
9. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 78, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3427);
10. Undang-undang Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 44, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3445);
11. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan
Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor
23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3469);
12. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3469);
13. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya
Tanaman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 46,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3478);
14. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992, tentang Kesehatan;
15. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 3, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4169);
16. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 134,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247)

2
17. Undang-undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377)
18. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4421);
19. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
20. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4438);
21. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 132);
22. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana;
23. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725 );
24. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil;
25. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
26. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik;
27. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran;
28. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan;
29. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1971 tentang Perubahan Batas-
batas Daerah Kotamadya Makassar dan Kabupaten Gowa, maros,
Pangkajene dan Kepulauan dalam Lingkungan daerah Provinsi Sulawesi
Selatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1971 Nomor 65,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2970);
30. Peraturan Pemerintah RI Nomor 22 Tahun 1982 tentang Pengaturan Tata
Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 37,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3225);
31. Peraturan Pemerintah RI Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan
Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 39,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3294);
32. Peraturan Pemerintah RI Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 44, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia 3445);
33. Peraturan Pemerintah RI Nomor 5 Tahun 1992, tentang Cagar Budaya;
34. Peraturan Pemerintah RI Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan;
35. Peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 1993 tentang Analisa
Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1993 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3538);
36. Peraturan Pemerintah RI Nomor 191 Tahun 1995, tentang Pemeliharaan
dan pemanfaatan Benda Cagar Budaya;
37. Peraturan Pemerintah RI Nomor 67 Tahun 1996, tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990, tentang Kepariwisataan;

3
38. Peraturan Pemerintah RI Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan
Hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat
dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1996 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3660);
39. Peraturan Pemerintah RI Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1997 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3721);
40. Peraturan Pemerintah RI Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka
Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1998 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3776);
41. Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun 1999 jo Peraturan Pemerintah
Nomor 85 Tahun 1999, tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun;
42. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3816);
43. Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3838);
44. Peraturan Pemerintah RI Nomor 41 Tahun 1999, tentang Pengelolaan
Kualitas Udara;
45. Peraturan Pemerintah RI Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat
Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3934);
46. Peraturan Pemerintah RI Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tata Cara
Pertanggungjawaban Kepala Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2000 Nomor 210, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4027);
47. Peraturan Pemerintah RI Nomor 70 Tahun 2001 tentang
Kebandarudaraan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001
Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4146);
48. Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air;
49. Peraturan Pemerintah RI Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 119,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4242);
50. Peraturan Pemerintah RI Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan
Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4385);
51. Peraturan Pemerintah RI Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Bebas
hambatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 32
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4468);
52. Peraturan Pemerintah RI Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan
Sistem Penyediaan Air Minum;
53. Peraturan Pemerintah RI Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman
Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;
54. Peraturan Pemerintah RI Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan;
55. Keputusan Presiden RI Nomor 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri;

4
56. Keputusan Presiden RI Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung;
57. Keputusan Presiden RI Nomor 33 Tahun 1991 tentang Penggunaan
Tanah bagi Kawasan Industri;
58. Keputusan Presiden RI Nomor 74 Tahun 2001 tentang Tata Cara
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah;
59. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah
Untuk Kepentingan Umum;
60. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1987 tentang
Penyerahan Prasarana Lingkungan, Utilitas Umum, dan Fasilitas Sosial
Perumahan kepada Pemerintah Daerah;
61. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 1996 tentang Pedoman
Perubahan Pemanfaatan Lahan PeKotaan;
62. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1998 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang di Daerah;
63. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara
Peran Serta Masyarakat dalam Proses Perencanaan Tata Ruang Daerah;
64. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2006 tentang Jenis
dan Bentuk Produk Hukum Daerah;
65. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2006 tentang Prosedur
Penyusunan Produk Hukum Daerah;
66. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2006 tentang
Lembaran Daerah dan Berita Daerah;
67. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 Tahun 2009 tentang
Pedoman Persetujuan Substansi dalam Penetapan Rancangan Peraturan
Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi dan Rencana
Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota beserta Rencana Rincinya;
68. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 Tahun 1992 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan Peraturan Rencana Daerah Kota;
69. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31 Tahun 1995 tentang Terminal
Transportasi Jalan;
70. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor
327/KPTS/M/2002 Tahun 2002 tentang Penetapan Enam Pedoman
Bidang Penataan Ruang;
71. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 147 Tahun 2004 tentang
Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah;
72. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor
376/M/KPTS/2004 tentang Penetapan Ruas-ruas Jalan Menurut
Statusnya;
73. Keputusan bersama Menteri dalam Negeri dan Menteri Kesehatan Nomor
34 Tahun 2005 dan Nomor 1138/Menkes/PB/VIII/2005 tentang
Pengembangan Kabupaten/Kota Sehat;
74. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 369/KPTS/M/2005 tentang
Rencana Umum Jaringan Jalan Nasional;
75. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 44 Tahun 2001
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan;
76. Peraturan daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2003
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Mamminasata;
77. Peraturan Daerah Kota Nomor 13 Tahun 2005 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota.

5
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA
dan
WALIKOTA
MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA TENTANG RENCANA TATA RUANG


WILAYAH (RTRW) KOTA TAHUN 2010 SAMPAI DENGAN TAHUN 2030.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
(1) Daerah adalah Kota.
(2) Kota adalah Kota Makassar
(3) Pemerintah Daerah adalah kepala daerah dan perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan daerah.
(4) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah lembaga
perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan daerah.
(5) Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan Pemerintahan oleh Pemerintah
daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip
otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
(6) Walikota adalah Walikota.
(7) Peraturan Daerah adalah Peraturan Daerah Kota.
(8) Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,
termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan
makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
(9) Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
(10) Visi tata ruang adalah suatu pandangan ke depan yang menggambarkan arah dan
pengelolaan wilayah Kota untuk mencapai visi pembangunan yang telah ditetapkan di
tingkat Kota.
(11) Misi tata ruang adalah komitmen dan panduan arah bagi pembangunan dan
pengelolaan wilayah Kota untuk mencapai visi pembangunan yang telah ditetapkan di
tingkat Kota.
(12) Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan
prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi
masyarakat yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional.
(13) Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi
peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.
(14) Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
(15) Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan,
pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang.
(16) Pengaturan penataan ruang adalah upaya pembentukan landasan hukum bagi
Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat dalam penataan ruang.

6
(17) Pembinaan penataan ruang adalah upaya untuk meningkatkan kinerja penataan ruang
yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat.
(18) Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang
melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian
pemanfaatan ruang.
(19) Pengawasan penataan ruang adalah upaya agar penyelenggaraan penataan ruang
dapat diwujudkan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
(20) Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan
pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.
(21) Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang
sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program
beserta pembiayaannya.
(22) Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang.
(23) Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
(24) Rencana Tata Ruang Wilayah yang selanjutnya disingkat RTRW adalah rencana
struktur tata ruang wilayah yang mengatur struktur dan pola ruang wilayah Kota.
(25) Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau
aspek fungsional.
(26) Sistem wilayah adalah struktur ruang dan pola ruang yang mempunyai jangkauan
pelayanan pada tingkat wilayah.
(27) Wilayah Kota adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian
dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perKotaan, pemusatan
dan distribusi pelayanan jasa Pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
(28) Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya.
(29) Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi
kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam, sumber daya
buatan, dan nilai sejarah dan budaya bangsa guna kepentingan pembangunan yang
berkelanjutan.
(30) Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk
dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya
manusia, dan sumber daya buatan.
(31) Kawasan hijau adalah ruang terbuka hijau yang terdiri dari kawasan hijau lindung dan
hijau binaan.
(32) Kawasan hijau lindung adalah bagian dari kawasan hijau yang memiliki karakteristik
alamiah yang perlu dilestarikan untuk tujuan perlindungan habitat setempat maupun
untuk tujuan perlindungan wilayah yang lebih luas.
(33) Kawasan hijau binaan adalah bagian dari kawasan hijau di luar kawasan hijau lindung
untuk tujuan penghijauan yang dibina melalui penanaman, pengembangan,
pemeliharaan maupun pemulihan vegetasi yang diperlukan dan didukung fasilitasnya
yang diperlukan baik untuk sarana ekologis maupun sarana sosial Kota yang dapat
didukung fasilitas sesuai keperluan untuk fungsi penghijauan tersebut.
(34) Kawasan tangkapan air adalah kawasan atau areal yang mempunyai pengaruh secara
alamiah atau binaan terhadap keberlangsungan badan air seperti waduk, situ, sungai,
kanal, pengolahan air limbah dan lain-lain.
(35) Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dan semua benda, daya, keadaan dan
makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan
kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
(36) Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk
mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.
(37) Daya tampung lingkungan hidup kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat,
energi dan atau komponen lain yang masuk atau dimasukan kedalamnya.
(38) Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh,
menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas
dan produktivitas lingkungan hidup.

7
(39) Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disebut DAS adalah suatu wilayah tertentu
yang bentuk dan sifat alamnya merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-
anak sungainya yang berfungsi menampung air yang berasal dari curah hujan dan
sumber air lainnya dan kemudian mengalirkannya melalui sungai utama ke laut, yang
batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah
perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.
(40) Sempadan Sungai adalah kawasan sepanjang kanan kiri sungai, yang mempunyai
manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai.
(41) Ruang Terbuka Hijau yang selanjutnya disebut RTH adalah area memanjang/jalur
dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh
tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.
(42) Kawasan Sistem Pusat Kegiatan adalah kawasan yang diarahkan bagi pemusatan
berbagai kegiatan campuran maupun yang spesifik, memiliki fungsi strategis dalam
menarik berbagai kegiatan Pemerintahan, sosial, ekonomi, dan budaya serta kegiatan
pelayanan Kota menurut hirarki terdiri dari sistem pusat kegiatan utama yang berskala
Kota, regional, nasional dan internasional dan sistem pusat penunjang yang berskala
lokal.
(43) Kawasan Sentra Primer adalah kawasan dalam sistem pusat kegiatan yang menurut
hirarkinya termasuk dalam sistem pusat utama.
(44) Kawasan Terpadu selanjutnya dapat disingkat KT adalah kawasan yang memiliki
fungsi lebih dari satu, terdiri atas fungsi utama dan penunjang. Masing-masing dari
dua fungsi ini saling terkait dan bersinergi serta saling mempengaruhi dan mendukung
fungsi utama dalam satu sistem.
(45) Kawasan Pusat Kota adalah KT yang tumbuh sebagai pusat Kota dengan
percampuran berbagai kegiatan, memiliki fungsi strategis dalam peruntukannya
seperti kegiatan Pemerintahan, sosial, ekonomi, dan budaya serta pelayanan Kota.
(46) Kawasan Pelabuhan Terpadu adalah KT yang diarahkan sebagai kawasan yang
memberi dukungan kuat dalam satu sistem ruang yang bersinergi terhadap berbagai
kepentingan dan kegiatan yang lengkap berkaitan dengan aktivitas kepelabuhanan
dan segala persyaratannya.
(47) Kawasan Bandara Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai
kawasan yang memberi dukungan kuat dalam satu sistem ruang yang bersinergi
terhadap berbagai kepentingan dan kegiatan yang lengkap berkaitan dengan aktivitas
bandara dan segala persyaratannya.
(48) Kawasan Maritim Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai
kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan kemaritiman yang
dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi
dalam satu sistem ruang yang solid.
(49) Kawasan Industri Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai
kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan industri yang
dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi
dalam satu sistem ruang yang solid.
(50) Kawasan Pergudangan Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan
sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan
pergudangan yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap
yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid.
(51) Kawasan Permukiman Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan bagi
pemusatan dan pengembangan permukiman atau tempat tinggal/hunian beserta
prasarana dan sarana lingkungannya yang terstruktur secara terpadu dengan
Koefisien Dasar Bangunan lebih besar dari 20% (dua puluh persen).
(52) Kawasan Riset dan Pendidikan Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan
sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan riset dan
pendidikan yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang
saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid.

8
(53) Kawasan Budaya Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai
kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan budaya yang
dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi
dalam satu sistem ruang yang solid.
(54) Kawasan Olahraga Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai
kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan olahraga yang
dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi
dalam satu sistem ruang yang solid.
(55) Kawasan Bisnis Dan Pariwisata Terpadu adalah KT yang diarahkan dan
diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai
kegiatan bisnis dan pariwisata yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang
yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid.
(56) Kawasan Bisnis Global Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan
sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan bisnis
global yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling
bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid.
(57) Kawasan Strategis Kota adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan
karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup Kota terhadap ekonomi,
sosial, budaya, dan/atau lingkungan.
(58) Izin pemanfaatan tanah/ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan
pemanfaatan tanah atau ruang sesuai dengan Ketentuan/Peraturan Perundang-
undangan.
(59) Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang
setengah jadi dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk
penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
(60) Industri selektif adalah kegiatan industri yang kriteria pemilihannya disesuaikan
dengan kondisi Makassar sebagai Kota dunia, yakni industri yang hemat lahan, hemat
air, tidak berpolusi, dan menggunakan teknologi tinggi.
(61) Indutri non polutif/ramah lingkungan adalah industri yang tidak menghasilkan limbah
cair dan atau tidak membutuhkan air dalam jumlah banyak.
(62) Industri polutif adalah industri yang menghasilkan limbah cair dan atau membutuhkan
air dalam jumlah banyak.
(63) Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disingkat PKN adalah hirarki fungsional
Kota sebagai pusat kegiatan yang berpotensi sebagai pintu gerbang ke kawasan-
kawasan internasional, dan mempunyai potensi mendorong daerah sekitarnya, serta
sebagai pusat pelayanan keuangan /bank/jasa, pusat pengolahan/pengumpul barang,
pusat jasa Pemerintahan, simpul transportasi serta pusat jasa-jasa kemasyarakatan
yang lain untuk nasional atau meliputi beberapa provinsi.
(64) Kawasan campuran adalah kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan bagi
pengembang kegiatan campuran bangunan umum dengan permukiman beserta
fasilitasnya dengan Koefisien Dasar Bangunan lebih dari 20% (dua puluh persen).
(65) Masyarakat adalah orang perorangan, kelompok orang termasuk masyarakat hukum
adat atau badan hukum.
(66) Peran serta masyarakat adalah berbagai kegiatan masyarakat, yang timbul atas
kehendak dan prakarsa masyarakat untuk berminat dan bergerak dalam
penyelenggaraan penataan ruang.
(67) Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar
dan terencana yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya ke dalam
proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup
generasi masa kini dan generasi masa depan.
(68) Kawasan prioritas adalah kawasan yang diprioritaskan pembangunannya dalam
rangka mendorong pertumbuhan Kota ke arah yang direncanakan dan/atau
menanggulangi masalah-masalah yang mendesak.

9
(69) Tipologi kawasan adalah penggolongan kawasan sesuai karakter dan kualitas
kawasan, lingkungan, pemanfaatan ruang, penyediaan prasarana dan sarana
lingkungan, yang terdiri dari kawasan mantap, dinamis dan peralihan.
(70) Perbaikan lingkungan adalah pola pengembangan kawasan dengan tujuan untuk
memperbaiki struktur lingkungan yang telah ada, dan dimungkinkan melakukan
pembongkaran terbatas guna penyempurnaan pola fisik prasarana yang telah ada.
(71) Pemeliharaan lingkungan adalah pola pengembangan kawasan dengan tujuan untuk
mempertahankan kualitas suatu lingkungan yang sudah baik agar tidak mengalami
penurunan kualitas lingkungan.
(72) Pemugaran lingkungan adalah pola pengembangan kawasan yang ditujukan untuk
melestarikan, memelihara serta mengamankan lingkungan dan atau bangunan yang
memiliki nilai sejarah budaya dan/atau keindahan.
(73) Peremajaan lingkungan adalah pola pengembangan kawasan dengan tujuan
mengadakan pembongkaran menyeluruh dalam rangka pembaharuan struktur fisik
dan fungsi.
(74) Pembangunan baru adalah pola pengembangan kawasan pada area tanah yang
masih kosong dan atau belum pernah dilakukan pembangunan fisik.
(75) Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah selanjutnya disingkat BKPRD merupakan
badan yang bertanggung jawab dalam perencanaan, pemenfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatn ruang Kota.
(76) Panduan rancang Kota adalah panduan bagi perencanaan kawasan yang memuat
uraian teknis secara terinci tentang kriteria, ketentuan-ketentuan, persyaratan-
persyaratan, standar dimensi, standar kualitas yang memberikan arahan bagi
pembangunan suatu kawasan yang ditetapkan mengenai fungsi, fisik bangunan
prasarana dan fasilitas umum, fasilitas sosial, utilitas maupun sarana lingkungan.
(77) Panduan pembangunan kawasan adalah panduan bagi pembangunan kawasan
sebagai implementasi dari hasil panduan rancang Kota dan memuat ketentuan-
ketentuan yang mengatur mengenai komposisi peruntukan-peruntukan, intensitas
pemanfaatan ruang, tahapan dan tata cara pembangunan, pembiayaan
pembangunan, dan pengaturan mengenai keseimbangan antara manfaat ruang yang
diperoleh para pihak yang terkait dengan kewajiban penyediaan prasarana, fasilitas
umum, fasilitas sosial, utilitas umum, dan sarana lingkungan, serta sistem pengelolaan
kawasan yang akan dibangun.
(78) Intensitas ruang adalah besaran ruang untuk fungsi tertentu yang ditentukan
berdasarkan pengaturan Koefisien Lantai Bangunan, Koefisien Dasar Bangunan dan
Ketinggian Bangunan tiap kawasan bagian Kota sesuai dengan kedudukan dan
fungsinya dalam pembangunan Kota.
(79) Koefisien Dasar Bangunan yang selanjutnya dapat disebut KDB adalah angka
persentase berdasarkan perbandingan jumlah luas lantai dasar bangunan terhadap
luas tanah perpetakan perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang Kota.
(80) Koefisien Lantai Bangunan yang selanjutnya dapat disebut KLB adalah besaran ruang
yang dihitung dari angka perbandingan jumlah luas seluruh lantai bangunan terhadap
luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana teknis
ruang Kota.
(81) KLB rata-rata adalah besaran ruang yang dihitung dari nilai KLB rata-rata pada suatu
kawasan berdasarkan ketetapan nilai KLB menurut pemanfaatan ruang yang sejenis.
(82) Koefisien Tapak Besmen yang selanjutnya dapat disebut KTB adalah angka
persentase luas tapak bangunan yang dihitung dari proyeksi dinding terluar bangunan
di bawah permukaan tanah terhadap luas perpetakan/daerah perencanaan yang
dikuasai sesuai rencana tata ruang.
(83) Koefisiensi Daerah Hijau yang selanjutnya dapat disebut KDH adalah angka
persentase berdasarkan perbandingan jumlah luas lahan terbuka untuk penanaman
tanaman dan/atau peresapan air terhadap luas tanah perpetakan/daerah perencanaan
yang dikuasai sesuai dengan rencana Kota.

10
(84) Ketinggian Bangunan yang selanjutnya dapat disebut KB adalah jumlah lantai penuh
suatu bangunan dihitung mulai dari lantai dasar sampai lantai tertinggi.
(85) Wilayah pengembangan yang selanjutnya disingkat WP adalah wilayah yang secara
geografis berada dalam satu pelayanan pusat sekunder.

BAB II
NORMA PENATAAN RUANG
Bagian Kesatu
Asas dan Prinsip Dasar

Pasal 2
(1) Prinsip dasar penyusunan RTRW harus mempertimbangkan tiga aspek pokok, yaitu:
a. Aspek strategis, yaitu kebijksanaan dasar penentu fungsi kawasan
pengembagan fungsi kegiatan yang merupakan penjabaran atau mengisi
rencana-rencana pembangunan nasional dan daerah dalam jangka
panjang;
b. Aspek teknis, yaitu kebijaksanaan dasar yang ditujukan untuk membuat
keserasian dan mengoptimalkan pola tata ruang Kota dengan menetapkan
fungsi kawasan, sehingga dapat memisahkan antar suatu fungsi dengan
fungsi lainnya secara jelas;
c. Aspek pengelolaan pembangunan, meliputi kebijaksanaan dasar
pembangunan dan mempertimbangkan aspek hukum dan perundangan
serta administrasi Kota agar rencana dapat dilaksanakan sesuai dengan
prioritas serta pemerataan pembangunan.
(2) RTRW berdasarkan asas :
a. Pemanfaatan ruang untuk semua kepentingan secara terpadu,
berdayaguna dan berhasil guna, serasi, selaras, seimbang dan
berkelanjutan.
b. Persamaan, keadilan dan perlindungan hukum.
c. Keterbukaan, akuntabilitas dan partisipasi masyarakat.

Bagian Kedua
Maksud Penyusunan RTRW, Visi, Misi, Tujuan Penataan Ruang dan
Sasaran Penyempurnaan RTRW

Pasal 3
(1) Maksud penyusunan RTRW Kota yang terpadu, serasi, selaras dan seimbang,
berkelanjutan, berdaya guna, berhasil guna, terbuka, berkepastian hukum dan
keadilan dan akuntabilitas adalah agar selanjutnya dapat menjadi pedoman atau
acuan untuk:
a. Sinkronisasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota;
b. Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota
dalam kurun waktu Tahun 2010-2030;
c. Pemanfaatan dan pengendalian pembangunan sarana dan prasarana
wilayah Kota;
d. Perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan
antar wilayah, serta keserasian antar sektor;Penetapan lokasi dan fungsi
ruang untuk investasi; dan
e. Penataan ruang kawasan strategis Kota.

11
(2) Visi penataan ruang diarahkan untuk mewujudkan Makassar untuk Kembali ke Kota
Dunia dengan Kearifan Lokal.
(3) Misi penataan ruang adalah:
a. Membangun Makassar yang berbasis pada masyarakat;
b. Mengembangkan lingkungan kehidupan perKotaan yang berkelanjutan;
c. Mengembalikan Makassar ke Kota Dunia dengan kearifan lokal.
(4) Tujuan Penataan Ruang Wilayah Kota 2030 secara khusus adalah mewujudkan ruang
wilayah Makassar sebagai Kota tepian air kelas dunia yang didasari keunggulan dan
keunikan lokal menuju kemandrian lokal dalam rangka persaingan global demi
ketahanan nasional serta wawasan nusantara yang aman, nyaman, produktif dan
berkelanjutan.
(5) Tujuan penataan ruang wilayah Kota secara umum adalah menyusun satu dokumen
RTRW Kota yang lengkap agar dapat dimanfaatkan:
a. Sebagai bahan acuan/referensi bagi kebijakan perencanaan penataan
ruang lainnya;
b. Sebagai matra ruang RPJP/RPJM Kota;
c. Sebagai pedoman dasar perencanaan yang diharapkan mampu menjawab
masalah-masalah tuntutan pembangunan dan tuntutan lingkungan global
serta rumusan maupun kebijaksanaan yang dibutuhkan di masa
mendatang (prospektus ruang);
d. Sebagai pedoman dasar perencanaan yang diharapkan bisa menjadi
pegangan untuk bagaimana membangun dan menjadikan Makassar berdiri
dan berkembang sesuai dengan ciri keunikan dan keunggulan lokalnya,
dengan tetap berbasis pada peruntukan dan kepentingan hak-hak dasar
masyarakat;
e. Sebagai pedoman dasar perencanaan pembangunan Kota yang secara
konsep desain rencana disusun berdasarkan filosofi rencana tata ruang
yang sehat, untuk rakyat, dan terkendali;
f. Sebagai kebijakan pokok pemanfaatan dan pengendalian ruang dalam
wilayah Makassar dan sekitarnya sesuai dengan dasar kondisi wilayahnya
yang berazaskan pada pembangunan berkelanjutan;
g. Sebagai wadah keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan
perkembangan antar wilayah/kawasan di dalam dan di luar wilayah
Makassar serta keserasian antarsektor pembangunan;
h. Sebagai wadah perencanaan yang bertujuan meningkatkan peran dan
fungsi Makassar tidak hanya sebagai satu Kota, tetapi lebih jauh dari itu
perannya ingin ditingkatkan secara lebih besar menjadi satu Kota dengan
representasi sebagai ruang keluarga Indonesia Timur;
i. Sebagai refleksi dalam perencanaan mamminasata khususnya untuk Kota
dan tingkat keterhubungannya baik secara spasial maupun aspasial
dengan wilayah-wilayah mamminasata lainnya;
j. Sebagai bahan informasi dalam penetapan investasi yang dilakukan oleh
Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha/swasta; dan
k. Sebagai acuan dalam perumusan program pembangunan baik yang
menyangkut sumber pembiayaan, pentahapan atau pelaksanaan kegiatan
pembangunan dalam ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang;
(6) Sasaran penyempurnaan RTRW adalah:
a. Memantapkan sistem perencanaan tata ruang yang bersifat umum ke
khusus yaitu Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), RTRW
Pulau, RTRW Provinsi, dan RTRW Kota, yang berarti bahwa RTRW
Nasional menjadi acuan dalam penyusunan RTRW Pulau, RTRW Pulau
menjadi acuan dala peyusunan RTRW Provinsi, dan seterusnya;

12
b. Mengelola sistem pengaturan zonasi yang berperan sebagai instrumen
pelaksanaan rencana tata ruang yang memuat aturan-aturan spesifik
keruangan yang mengikat untuk setiap kawasan dengan fungsi tertentu
dalam suatu wilayah perencanaan;
c. Menerapkan peraturan zonasi, pemberian insentif dan diinsentif serta
pengenaan sanksi terhadap pelanggaran tata ruang yang dikenakan tidak
hanya kepada pemberi izin pemanfaatan ruang tetapi juga kepada
penerima izin;
d. Mempertegas dan memperjelas kewenangan antara Pemerintah Pusat,
Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kota agar dalam pengaturan,
pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan penataan ruang
dapat terwujud harmonisasi dan saling melengkapi antara Pemerintah
pusat, propinsi dan Kota;
e. Menegaskan muatan rencana tata ruang yang meliputi perkembangan
lingkungan strategis, pemerataan dan keselarasan pembangunan antara
permerintah pusat (nasional) dengan daerah-daerah dengan
memperhatikan dan mempertimbangkan daya dukung serta daya tampung
lingkungan masing-masing daerah;
f. Memantapkan pengelolaan kawasan yang tidak hanya terbatas pada
kawasan lindung dan budidaya tetapi diperluas pada kawasan
metropolitan dan Kawasan Strategis nasional dan Kota;
g. Memantapkan kepastian hukum dan akuntabilitas dalam pelaksanaan
penataan ruang setelah perencanaan RTRW Kota ini dibuat;
h. Memberikan arahan penataan ruang yang berdasarkan sistem wilayah dan
sistem internal perKotaan termasuk di dalamnya fungsi utama kawasan,
wilayah administrasi, kegiatan kawasan dan nilai strategis kawasan;
i. Membatasi penataan ruang wilayah Kota tidak hanya untuk keperluan
ekonomi dan estetis tetapi juga aspek kenyamanan dan bioekologis.

BAB III
KEDUDUKAN, LINGKUP WILAYAH, LINGKUP MATERI DAN
JANGKA WAKTU PERENCANAAN
Bagian Kesatu
Kedudukan

Pasal 4
Kedudukan RTRW Kota merupakan :
a. Acuan dalam penyusunan rencana rinci tata ruang di bawahnya, yakni Rencana
Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan, dan Rencana Teknik Ruang (RTR)
Kawasan.
b. Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah Kota.
c. Rencana struktur ruang wilayah Kota yang meliputi sistem perKotaan, jaringan
transportasi, energi, telekomunikasi, dan sumber daya air bersih di wilayahnya
yang terkait dengan kawasan perdesaan;
d. Rencana pola ruang wilayah Kota yang meliputi kawasan lindung Kota dan
kawasan budi daya Kota.
e. Penetapan Kawasan Strategis Kota.
f. Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kota yang berisi indikasi program utama
jangka lima tahunan.

13
g. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kota yang berisi ketentuan
umum, peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan insentif dan disinsentif,
serta arahan sanksi.
h. Rencana penyediaan dan pemanfaatan RTH.
i. Rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka nonhijau.

Bagian Kedua
Lingkup Wilayah
Pasal 5
(1) Lingkup wilayah RTRW Kota mencakup strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang
wilayah Kota sampai batas ruang daratan, ruang perairan, dan ruang udara menurut
peraturan perundang-undanganyang berlaku, dengan luas wilayah Kota ± 17.585,00
Ha yang terdiri dari 14 kecamatan yaitu: Mariso (± 182,00 Ha), Mamajang (± 225,00
Ha), Tamalate (± 2.021,00 Ha), Rappocini (± 923,00 Ha), Makassar (± 252,00 Ha),
Ujung Pandang (± 263,00 Ha), Wajo (± 199,00 Ha), Bontoala (± 210,00 Ha), Ujung
Tanah (± 594,00 Ha), Tallo (± 583,00 Ha), Biringkanaya (± 4822,00 Ha), Tamalanrea
(± 3184,00 Ha), Manggala (± 2422,00 Ha), dan Panakkukang (± 1705,00 Ha).
(2) Batas-batas daerah adalah sebelah utara: Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep;
sebelah timur: Kabupaten Gowa dan Kabupaten Maros; sebelah Selatan: Kabupaten
Gowa, serta sebelah Barat: Selat Makassar .
(3) Lingkup wilayah seperti yang dimaksud ayat (1) pasal ini mencakup ruang darat, ruang
udara serta ruang di dalam bumi.

Bagian Ketiga
Lingkup Materi
Pasal 6
Lingkup materi adalah penyusunan RTRW Kota Tahun 2010 – 2030.

Bagian Keempat
Jangka Waktu Perencanaan
Pasal 7
(1) Jangka waktu RTRW Kota adalah 20 (duapuluh) tahun.
(2) RTRW yang telah ditetapkan ditinjau kembali tiap 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.

BAB IV
KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG
Bagian Kesatu
Kebijakan Perencanaan Tata Ruang, Pemanfaatan Ruang
dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang

14
Paragraf 1
Kebijakan Perencanaan Tata Ruang
Pasal 8
Kebijakan perencanaan tata ruang meliputi :
a. Penyusunan kerangka regulasi sebagai penjabaran dari RTRW.
b. Peninjauan kembali dan penyempurnaan RTRW.

Pasal 9
Kebijakan pengembangan penataan ruang Kota adalah:
a. Memantapkan fungsi Kota sebagai Kota Dunia dengan Kearifan Lokal;
b. Memprioritaskan arah pengembangan Kota ke arah koridor timur, selatan, utara,
dan membatasi pengembangan ke arah barat agar tercapai keseimbangan
ekosistem;
c. Melestarikan fungsi dan keserasian lingkungan hidup dalam penataan ruang
dengan mengoptimalkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
d. Mengembangkan sistem prasarana dan sarana Kota yang berintegrasi dengan
sistem regional, nasional dan internasional;

Paragraf 2
Kebijakan Pemanfaatan Ruang
Pasal 10
Kebijakan pemanfaatan ruang meliputi :
a. Kebijakan pengembangan struktur ruang.
b. Kebijakan pengembangan pola ruang.

Pasal 11
Kebijakan pengembangan struktur ruang yang dimaksud dalam Pasal 10 huruf a, meliputi:
a. Kebijakan pengembangan sistem Kota.
b. Kebijakan pengembangan Kawasan Terpadu.
c. Kebijakan pengembangan Kawasan Strategis.

Pasal 12
Kebijakan pengembangan pola ruang yang dimaksud dalam Pasal 10 huruf b, meliputi:
a. Kebijakan pengelolaan dan pemantapan Kawasan Terpadu.
b. Kebijakan pengendalian Kawasan Terpadu.
c. Kebijakan pengembangan Kawasan Terpadu sesuai dengan daya dukung dan
daya tampung lingkungan.
d. Kebijakan pengembangan fasilitas sosial dan fasilitas umum.
e. Kebijakan pengembangan potensi perekonomian daerah.
f. Kebijakan pengendalian terhadap kawasan rawan bencana alam.

Pasal 13
Kebijakan pengembangan sistem Kota yang dimaksud dalam Pasal 11 huruf a, meliputi:
a. Kebijakan pembangunan/pengembangan infrastruktur sistem Kota.
b. Kebijakan pengembangan sistem Kota sesuai fungsi utamanya.

15
Paragraf 3
Kebijakan Pengendalian Tata Ruang
Pasal 14
Kebijakan pengendalian tata ruang meliputi:
a. Pengaturan zonasi rencana pola ruang.
b. Penerapan mekanisme dan prosedur perizinan.
c. Penerapan sistem insentif dan disinsentif.
d. Penerapan sanksi.

Pasal 15
Kawasan pengembangan terpadu Kota yang dimaksud dalam Pasal 11 huruf b, terdiri atas:
a. Kawasan pusat Kota, yang berada pada bagian tengah barat dan selatan Kota
mencakup wilayah Kecamatan Wajo, Bontoala, Ujung Pandang, Mariso,
Makassar, Ujung Tanah dan Tamalate;
b. Kawasan permukiman terpadu, yang berada pada bagian tengah pusat dan timur
Kota, mencakup wilayah Kecamatan Manggala, Panakukang, Rappocini dan
Tamalate;
c. Kawasan pelabuhan terpadu, yang berada pada bagian tengah barat dan utara
Kota, mencakup wilayah Kecamatan Ujung Tanah dan Wajo;
d. Kawasan bandara terpadu, yang berada pada bagian tengah timur Kota,
mencakup wilayah Kecamatan Biringkanaya dan Tamalanrea;
e. Kawasan maritim terpadu, yang berada pada bagian utara Kota, mencakup
wilayah Kecamatan Tamalanrea;
f. Kawasan industri terpadu, yang berada pada bagian tengah timur Kota,
mencakup wilayah Kecamatan Tamalanrea dan Biringkanaya;
g. Kawasan pergudangan terpadu, yang berada pada bagian utara Kota, mencakup
wilayah Kecamatan Tamalanrea, Biringkanaya dan Tallo;
h. Kawasan riset dan pendidikan terpadu, yang berada pada bagian tengah timur
Kota, mencakup wilayah Kecamatan Panakukang, Tamalanrea dan Tallo;
i. Kawasan budaya terpadu, yang berada pada bagian selatan Kota, mencakup
wilayah Kecamatan Tamalate;
j. Kawasan olahraga terpadu, yang berada pada bagian selatan Kota, mencakup
wilayah Kecamatan Tamalate;
k. Kawasan bisnis dan pariwisata terpadu, yang berada pada bagian tengah barat
Kota, mencakup wilayah Kecamatan Tamalate;
l. Kawasan bisnis global terpadu, yang berada pada bagian tengah barat Kota,
mencakup wilayah Kecamatan Mariso.

Pasal 16
Kawasan pengembangan strategis Kota yang dimaksud dalam Pasal 11 huruf c, terdiri atas:
a. Kawasan Strategis Wisata Pulau Terpadu berada di pesisir sebelah barat Kota,
yang termasuk dalam Kepulauan Spermonde, mencakup wilayah Kecamatan
Ujung Pandang dan Ujung Tanah;
b. Kawasan Strategis koridor pesisir berada di Kecamatan Tamalanrea;
c. Kawasan Stategis pelabuhan terpadu berada pada bagian tengah barat dan utara
Kota, mencakup wilayah Kecamatan Ujung Tanah dan Wajo;
d. Kawasan Strategis Sungai Jene’berang Terpadu yang bermuara di sebelah
selatan Kota, yang melintasi Kota dan Kab.Gowa;
e. Kawasan Strategis Sungai Tallo yang berada di sebelah utara Kota, mencakup
wilayah Kecamatan Tallo;
f. Kawasan Strategis lindung Lakkang berada di Kecamatan Tallo, yang diapit oleh
Sungai Tallo dan Sungai Pampang;

16
g. Kawasan Strategis pusat energi berada di sebelah utara Kota yang mencakup
wilayah Kecamatan Tamalanrea, tepatnya di muara Sungai Tallo yang berdekatan
dengan Kawasan Strategis maritim terpadu;
h. Kawasan Bandara Terpadu berada pada bagian tengah timur Kota, mencakup
wilayah Kecamatan Biringkanaya dan Tamalanrea, serta berbatasan langsung
dengan Kabupaten Maros;
i. Kawasan Strategis maritim terpadu berada di pesisir utara Kota tepatnya berada
di Kelurahan Untia;
j. Kawasan Strategis bisnis karebosi berada di lapangan Karebosi yang merupakan
jantung Kota, alun-alun Kota kebanggaan masyarakat yang telah ada sejak
zaman dahulu dan merupakan titik nol Kota;
k. Kawasan Strategis bisnis losari yang terletak di kawasan pusat Kota lama;
l. Kawasan Strategis bisnis global terpadu berada di kawasan pusat Kota lama
yakni di sekitar Tanjung Beringin.

Bagian Kedua
Strategi Pengembangan Tata Ruang
Misi dan Strategi Pengembangan Tata Ruang Kota

Pasal 17
Misi Pengembangan Tata Ruang Kota
Untuk mewujudkan misi tata ruang yang dimaksud Pasal 3 ayat (3), ditetapkanlah misi
pengembangan kawasan tata ruang sebagai berikut:
a. Kawasan Terpadu mempunyai misi:
1) Misi kawasan pusat Kota adalah menjadikan kawasan tersebut
sebagai kawasan dengan kualitas standar pelayanan yang lebih baik
terhadap lingkungan dan masyarakatnya dengan mendorong
aktivitas pembangunan fisik yang berkembang dan mengelola
lingkungan dengan lebih terkendali;
2) Misi kawasan permukiman terpadu adalah mewujudkan dan
mengembangkan kawasan pemukiman yang berkepadatan sedang
hingga tinggi ke arah timur Kota serta mengendalikan kegiatan jasa
dan niaga yang melebihi kebutuhan kawasan;
3) Misi kawasan pelabuhan terpadu adalah mendukung pengembangan
pelabuhan beserta lingkungannya menjadi kawasan dengan tingkat
pelayanan terbaik yang berstandar internasional dan meningkatkan
kualitas ruang dari kondisi eksisting kawasan yang ada dengan
meremajakan, menata kembali, serta merevitalisasi untuk
mendukung fungsi utama sebagai pusat jasa kepelabuhanan;
4) Misi kawasan bandara terpadu adalah mewujudkan kawasan
bandara sebagai gerbang dan ruang tamu Kota dengan penataan
kembali dan mengarahkan pengembangan kawasan berikat dalam
mendukung peran Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin
sebagai pusat koordinasi di Kawasan Timur Indonesia;
5) Misi kawasan maritim terpadu adalah mewujudkan kawasan Untia
menjadi kawasan maritim terpadu berskala regional dan nasional,
mewujudkan pengembangan kawasan menjadi Kota nelayan
terpadu sekaligus menjadi percontohan yang dapat dibanggakan,
serta mengembangkan pariwisata berwawasan lingkungan dengan
melestarikan dan mengelola kawasan mangrove di pesisir pantai
utara Makassar;

17
6) Misi kawasan industri terpadu adalah meningkatkan pengembangan
kawasan sebagai pusat industri (selektif) terpadu dalam skala global,
membatasi pertumbuhan dan pemanfaatan ruang sebagai kawasan
pergudangan, serta mendorong tumbuhnya ruang-ruang pendukung
kawasan yang bisa mendukung kawasan dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal;
7) Misi kawasan pergudangan terpadu adalah mengarahkan
pengembangan kawasan sebagai pusat pergudangan yang lengkap
dan terpadu, menghentikan pertumbuhan pemanfaatan ruang
pergudangan yang tidak tertata baik, menata dan mewujudkan
kawasan bebas banjir dengan merencanakan sistem drainase
terpadu serta mendorong tumbuhnya ruang-ruang pendukung
kawasan secara optimal;
8) Misi kawasan riset dan pendidikan terpadu adalah meningkatkan
fungsi kawasan sebagai pusat riset dan pendidikan dengan standar
global, citra yang baik dan atmosfir akademik yang tinggi, membatasi
kegiatan pemanfaatan ruang yang bertentangan dengan fungsi
utama kawasan, menata kawasan kosong sekitar Sungai Tallo
dengan model pemanfaatan ruang berbasis lingkungan yang
berstandar global, serta mendorong tumbuhnya ruang-ruang
pendukung kawasan, sekaligus mewujudkan fungsi kawasan
sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
berbasis agropolitan dan maritim, yang menjadi penentu percepatan
pembangunan Kota, menetapkan sebagai pusat kawasan hijau
binaan dalam bentuk Kota taman, mewujudkan Kota tepi sungai
sebagai usaha untuk memberi batas jelas antara kawasan
konservasi dengan kawasan budidaya perKotaan dan mendorong
tumbuhnya ruang-ruang pendukung kawasan;
9) Misi kawasan budaya terpadu adalah melakukan perencanaan dan
penataan kembalikawasan Benteng Somba Opu sebagai pusat
budaya dan sejarah Sulawesi, mengembangkan ruang-ruang
pendukung kawasan untuk memperkuat daya tarik fungsi utama
kawasan, menetapkan/mewajibkan seluruh bangunan yang ada
pada kawasan ini agar menerapkan gaya tradisional serta memberi
batas jelas dengan kawasan Kota Baru Tanjung Bunga;
10) Misi kawasan olahraga terpadu adalah mewujudkan fungsi kawasan
sebagai pusat olahraga, baik olahraga air maupun olahraga lainnya,
memanfaatkan kebutuhan mitigasi pantai sebagai ruang untuk fungsi
olahraga dan rekreasi, serta mendorong tumbuhnya ruang-ruang
pendukung kawasan;
11) Misi kawasan bisnis dan pariwisata terpadu adalah melakukan
peninjauan kembali terhadap masterplan Tanjung Bunga,
mengendalikan kegiatan pemanfaatan ruang sesuai penetapan
fungsi kawasan sebelum dan sesudahnya;
12) Misi kawasan bisnis global terpadu adalah mewujudkan kawasan
Tanjung Beringin sebagai kawasan bisnis dengan standar
internasional melalui pembangunan dan pengembangan kawasan
Centerpoint of Indonesia sebagai penengara baru Kota dengan
Wisma Negaranya, mewujudkan kegiatan mitigasi pantai sebagai
kebutuhan lingkungan yang mendesak, mengembangkan fungsi
kawasan hanya pada fungsi bisnis yang berskala global, serta
memperjelas status tanah untuk mempersiapkan atmosfir investasi
berdaya tarik tinggi.

18
b. Kawasan Strategis mempunyai misi:
1) Misi Kawasan Strategis wisata pulau terpadu adalah
mengoptimalkan pemanfaatan ruang pesisir dan laut dalam upaya
mitigasi bencana terhadap kenaikan muka air laut yang dapat
berakibat pada hilang/tenggelamnya suatu pulau dan pemanfaatan
potensi sumber daya alam pulau sebagai salah satu objek wisata
bahari sehingga mampu meningkatkan sumber pendapatan bagi
Pemerintah Kota;
2) Misi Kawasan Strategis koridor pesisir adalah memberi kontrol kuat
terhadap kestabilan dan keseimbangan lingkungan ekosistem-
ekosistem pesisir;
3) Misi Kawasan Strategis pelabuhan terpadu adalah memberi
dukungan kuat dan sinergitas yang solid terhadap kepentingan dan
aktivitas kepelabuhanan dengan Kawasan Strategis yang lain;
4) Misi Kawasan Strategis Sungai Jene’berang Terpadu untuk
kepentingan lingkungan diarahkan dalam hal pengendalian dan
pengembangan kawasan secara komprehensif untuk pemanfaatan
fungsi hulu-hilir sungai menjadi kawasan konservasi dan
pembatasan kegiatan pembangunan diatasnya, sedangkan untuk
kepentingan ekonomi, pengembangan Sungai Jene’berang
diarahkan pada pengembangan kegiatan pariwisata, budidaya
perikanan dan mengembangkan pinggir sungai menjadi kawasan
yang mampu berproduksi secara ekonomi;
5) Misi Kawasan Strategis Sungai Tallo diarahkan pada pemanfaatan
fungsi sungai sebagai kawasan pariwisata dan sarana transportasi
alternatif guna menunjang pertumbuhan dan aktivitas perKotaan;
6) Misi Kawasan Strategis lindung Lakkang untuk kepentingan fungsi
dan daya dukung lingkungan diarahkan pada keberlanjutan sumber
daya hayati yang ada melalui pelestarian dan perlindungan
ekosistem, sehingga dapat menjadi daerah penyangga lingkungan
perairan, mampu mengatasi tingkat pencemaran udara dengan
penetepan kawasan sebagai ruang terbuka hijau, pemanfaatan
sumber daya hayati sebagai objek wisata yang berbasis lingkungan
serta pusat pengembangan ilmu pengetahuan dengan Lakkang
sebagai kawasan konservasi berbasis agropolitan dan maritim;
7) Misi Kawasan Strategis pusat energi untuk kepentingan ekonomi
adalah sebagai tempat penyimpanan gas, cikal bakal sentral
penyimpanan konversi gas di wilayah Indonesia dan menjadi pusat
pembangunan kilang minyak, tangki gas, penyulingan minyak, bio
fuel, sampai pembangkit listrik, sedangkan untuk kepentingan
pengamanan, Kawasan Strategis pusat energi menerapkan
standardisasi pengamanan keselamatn hidup tingkat 2 serta jauh
dari kawasan pemukiman penduduk guna mencegah terjadi
kebakaran akibat ledakan tangki;
8) Misi Kawasan Strategis bandara terpadu untuk kepentingan
pertumbuhan ekonomi dan berdasarkan potensi yang dimilikinya
diarahkan pada pengembangannya sebagai zona berikat dalam
mendukung peran bandara Internasional Sultan Hasanuddin sebagai
hub di Indonesia Timur dalam memobilitasi arus barang dan jasa
antar wilayah bahkan keluar negeri sehingga mampu meningkatkan
sumber pendapatan daerah di sektor jasa khususnya bagi Kota dan
mampu mewujudkan kawasan bandara sebagai ruang tamu Kota;

19
9) Misi Kawasan Strategis maritim terpadu untuk kepentingan ekonomi
dan keberlanjutan ekosistem diarahkan pada pemanfaatan sumber
daya alam laut bagi masyarakat nelayan yang berwawasan
lingkungan melalui penggunaan alat tangkap ramah lingkungan serta
memfasilitasi pembangunan Pelabuhan Perikanan Nusantara,
pengembangan ekoturisme yang memanfaatkan fungsi kawasan
hutan mangrove, serta pengembangan kawasan sebagai daerah
mitigasi bencana alam sekaligus sebagai kawasan pendidikan
maritim terbesar di Asia;
10) Misi Kawasan Strategis bisnis Karebosi diperuntukan sebagai objek
wisata belanja, ruang terbuka hijau, dan ruang terbuka publik yang
mampu mengakomodir segala kebutuhan masyarakat;
11) Misi Kawasan Strategis bisnis Losari diarahkan dan diperuntukkan
pada kegiatan bisnis dan sosial masyarakat, yang ditunjang dengan
pengadaan hotel dan restoran.
12) Misi Kawasan Strategis bisnis global terpadu diarahkan sebagai
kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan
bisnis global yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang
yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang
solid, sedangkan di aspek lingkungan ditetapkan bahwa
pengembangan kawasan ini diarahkan pada upaya mitigasi bencana
terhadap kenaikan muka air laut, abrasi, dan sedimentasi.

Paragraf 4
Strategi Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pengendalian Ruang
Pasal 18
Untuk mewujudkan misi pengembangan tata ruang Kota sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17, maka strategi pengembangan tata ruang wilayah Kota 2030 adalah sebagai
berikut:
a. Memantapkan fungsi Kota sebagai Kota dunia dengan kearifan lokal;
1) Mengembangkan kawasan-kawasan terpadu yang mengakomodasi
dan memperkuat posisi utama Kota sebagai Kota dunia sesuai daya
dukung, daya tampung dan daya tumbuh serta daya saing;
2) Mengembangkan kawasan-kawasan terpadu yang mendukung dan
melengkapi anatomi posisi utama untuk menciptakan ruang yang
organis dan mencapai ruang yang profesional, yaitu kawasan pusat
Kota, kawasan permukiman terpadu, kawasan pelabuhan terpadu,
kawasan bandara terpadu, kawasan maritim terpadu, kawasan
industri terpadu, kawasan pergudangan terpadu, kawasan riset dan
pendidikan terpadu, kawasan budaya terpadu, kawasan olahraga
terpadu, kawasan bisnis dan pariwisata terpadu, serta kawasan
bisnis global terpadu;
b. Memperkokoh atmosfir tata ruang yang berciri Makassar yang kuat;
1) Mendorong percepatan pembukaan, pengembangan dan
pengendalian ruang-ruang tepian air dan pulau-pulau dalam suatu
sistem Integrated Coastal Zone Management (ICZM) yang berbasis
mitigasi dan adaptasi yang diatur dalam sistem kode pesisir Kota;
2) Merevitalisasi dan mengintegrasikan semua situs peninggalan
sejarah lokal, nasional, nusantara dan global dalam suatu sistem
yang terakumulasi, terangkai, dan turistik sebagai warna dari
atmosfir tata ruang wilayah Kota 2030 (sejarah & budaya);

20
3) Mengembangkan dan menyebarkan sentra-sentra kuliner Makassar
secara terpadu yang melibatkan orang Makassar sebagai pelaku-
pelaku ekonomi utama sebagai aroma dari atmosfir tata ruang
wilayah Kota 2030;
4) Menetapkan Kawasan Strategis yang harus mengakomodasi
arsitektur lokal dalam tingkatan gradasi penerapan sebagai irama
dari atmosfir tata ruang wilayah Kota 2030.
c. Memprioritaskan mitigasi dan adaptasi lingkungan pesisir dan sungai:
1) Membentuk kembali pantai Kota menjadi garis pantai melalui
kegiatan reklamasi pantai yang terencana, terkendali dan terbatasi
sesuai dengan prosedur peraturan perundang-undangan yang
berlaku sebagai usaha mitigasi dan adaptasi pesisir;
2) Menetapkan standar level pesisir dengan membangun patok
penanda mitigasi pada semua kawasan koridor pantai dan sungai;
3) Mengembangkan sistim jaringan prasarana drainase tangkap di
sepanjang pesisir pantai dan sungai;
4) Mengembangkan ruang-ruang di tepi perairan dalam bentuk Kota
tepi sungai maupun Kota tepi laut yang terpadu dengan RTH,
konservasi DAS dan konservasi mangrove pantai yang produktif dan
turistik;
d. Mengembangkan fungsi tematik ruang yang berdaya saing tinggi dan berstandar
global:
1) Mengembangkan kawasan-kawasan progresif dan prospektif baru
yang memilki keunggulan strategis untuk membangun dan
memperkuat posisi Kota, baik dalam perannya di Pulau Sulawesi,
Indonesia Timur, nusantara dan global yaitu: kawasan bisnis global
terpadu, kawasan riset dan pendidikan terpadu, kawasan energi
terpadu. Kawasan bandara terpadu, kawasan pelabuhan terpadu,
dan kawasan maritim terpadu.
2) Mengembangkan seluruh kawasan ruang wilayah dengan konsep
rasio tutupan hijau yang tinggi walaupun KDH yang tersedia cukup
rendah untuk mewujudkan Makassar Green (program lingkungan
berwawasan hijau Kota) dan Makassar Low Carbon Waterfront City
(program pembatasan penggunaan karbon Kota);
3) Mengembangkan kawasan-kawasan ekowisata laut tropis dan
kawasan-kawasan ekowisata sungai tropis yang merupakan ikon-
ikon wisata yang paling diminati dunia sebagai kawasan penggerak
ekonomi berbasis ekoturisme saat ini.
e. Menyebar pusat-pusat kegiatan perKotaan yang tematik dan terpadu:
1) Mengembangkan kawasan-kawasan tematik berdasarkan
karakteristik daya dukung, daya tampung, daya tumbuh dan daya
saing terpadu yang terakumulasi, baik antar kawasan dalam ruang
wilayah Kota maupun terpadu dalam kawasan dengan fungsi
permukiman yang sesuai serta fungsi-fungsi pendukung lainnya
dalam membentuk kawasan-kawasan yang anatomis, otonomis dan
profesional serta prospektif yang tersebar merata dalam bentuk Kota
terpadu yang berkarakter Makassar;
2) Mengembangkan dan meningkatkan jangkauan pelayanan sistem
jaringan prasarana yang terpadu antar kawasan dan sistem jaringan
prasarana yang terpadu dalam kawasan dengan standar global.
3) Mengembangkan atmosfir karakter arsitektur masing-masing
kawasan dengan ciri masing-masing sebagai sub-karakter untuk
membangun ruang wilayah Kota yang berciri Makassar yang kuat.
f. Memaksimalkan ruang terbuka menjadi RTH.

21
g. Meningkatkan kualitas hijau ruang wilayah dengan rasio tutupan hijau:
1) Mengembangkan gerakan satu orang menanam satu pohon, satu
rumah memiliki koefisien tutupan hijau di atas 50%, dan satu
kawasan memiliki satu jenis pohon;
2) Menetapkan RTH kawasan baru hasil reklamasi di atas minimum
30% dengan tingkat tutupan hijau di atas minimum 50%;
3) Mengembangkan kawasan taman mangrove baru pada setiap muara
sungai dan muara kanal buatan serta kawasan-kawasan pemecah
gelombang.
h. Merevitalisasi kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana di wilayah
Kota:
1) Mengembangkan dan meningkatkan interkoneksi antarpusat-pusat
kegiatan;
2) Merevisi dan mengembangkan sistem jaringan drainase Kota;
3) Mengembangkan sistem energi alternatif untuk mencukupi
kebutuhan maksimal Kota;
4) Mengembangkan sistem IPAL Kota dan IPAL kawasan;
5) Menetapkan sistem antenna utama untuk menara telekomunikasi;
6) Mengembangkan sistem jaringan air bersih mandiri untuk setiap
kawasan;
7) Mengembangkan Kota cyber yang semua ruang wilayah Kotanya
terlayani hot spot;
8) Mengembangkan sistem jaringan CCTV Kota.
i. Melengkapi jaringan prasarana Kota standar global:
1) Mengembangan sistem jalan layang pada simpul-simpul penting
Kota;
2) Mendorong pembangunan kelanjutan jalan bebas hambatan;
3) Mengembangkan sistem jaringan prasarana jalan baru dengan 4
(empat) jalur 2 (dua) arah;
4) Mengembangkan sistem STP Kota;
5) Mengembangkan sistem jaringan air konsumsi bersih;
6) Mengembangkan sistem transportasi massal monorel terpadu;
7) Mengembangkan sistem penanda publik berstandar global;
8) Mengembangkan sistem jaringan jalan terpadu untuk pejalan kaki
dan sepeda.
j. Mengembangkan sistim transportasi air dan sistem transportasi darat yang
terpadu melalui sistem ODOT:
1) Mengembangan sistem transportasi air Kota mulai dari Sungai
Jeneberang – Pantai Makassar – Sungai Tallo;
2) Mengembangkan sistem transportasi massal bis transKota dan
monorel;
3) Mengembangkan sistem terminal serta dermaga laut yang
berwawasan hijau dan terpadu;
4) Mengembangkan sistem terminal serta halte yang berwawasan hijau
dan terpadu;
5) Mengembangkan pusat-pusat kegiatan pesisir yang turistik,
berwawasan lingkungan, dan produktif;
6) Mengembangkan sistem moda transportasi laut yang sesuai dengan
karakteristik laut dan sungai.
k. Mengembangkan sistim intermoda transportasi yang terpadu dan hirarkis:
1) Bis transKota untuk moda transportasi massal utama antar kawasan;
2) Pete-pete menjadi media transportasi pembantu dalam kawasan;
3) Taksi becak menjadi moda transportasi dalam lingkungan;
4) Sepeda menjadi moda transportasi individu utama;

22
5) Pembatasan dan pengendalian motor;
6) Pembatasan dan pengendalian mobil pribadi;
7) Taksi motor menjadi moda transportasi antar lingkungan dalam
Kota;
8) Mengarahkan secara bertahap seluruh moda transportasi Kota
berbahan bakar gas dan campuran;
9) Strategi pengembangan kawasan terpadu Kota.

Pasal 19
Sesuai dengan karakteristik fisik dan perkembangannya, Makassar dibagi atas 12 (dua
belas) Kawasan Terpadu dan 12 (dua belas) Kawasan Strategis, dengan strategi
pembangunan untuk masing-masing wilayah pengembangan dimanfaatkan sebagai berikut:
a. Wilayah Pengembangan (WP) I di bagian atas Sungai Tallo, tepatnya di bagian
utara dan timur Kota. Dasar kebijakan utamanya diarahkan pada peningkatan
peran dan fungsi-fungsi kawasan yang berbasiskan pengembangan infrastruktur
dasar ekonomi perKotaan melalui pengembangan kegiatan secara terpadu seperti
pengembangan fungsi dari sektor industri dan pergudangan, pusat kegiatan
perguruan tinggi, pusat riset, bandar udara yang berskala internasional, kawasan
maritim dan pusat kegiatan riset sebagai sentra primer baru di bagian utara Kota.
b. Wilayah Pengembangan (WP) II di bagian bawah Sungai Tallo, tepatnya di bagian
timur Jalan Andi Pangeran Pettarani sampai batas bagian bawah Sungai Tallo.
Dasar kebijakan utamanya mengarah pada pengembangan kawasan pemukiman
perKotaan secara terpadu dalam bingkai pengembangan sentra primer baru di
bagian timur Kota;
c. Wilayah Pengembangan (WP) III di pusat Kota, tepatnya di sebelah barat Jalan
Andi Pangeran Pettarani sampai dengan Pantai Losari dan batas bagian atas dari
Sungai Balang Beru (Danau Tanjung Bunga). Dasar kebijakan utamanya
mengarah pada kegiatan revitalisasi Kota, pengembangan pusat jasa dan
perdagangan, pusat bisnis dan Pemerintahan serta pengembangan kawasan
pemukiman secara terbatas dan terkontrol guna mengantisipasi semakin
terbatasnya lahan Kota yang tersedia tanpa mengubah dan mengganggu
kawasan dan/atau bangunan cagar budaya;
d. Wilayah Pengembangan (WP) IV di bagian bawah Sungai Balang Beru, tepatnya
sampai batas administrasi Kabupaten Gowa. Dasar kebijakan utamanya
mengarah pada pengembangan kawasan secara terpadu untuk pusat kegiatan
kebudayaan, pusat bisnis global terpadu yang berstandar internasional, pusat
bisnis dan pariwisata terpadu dan pusat olahraga terpadu yang sekaligus menjadi
sentra primer baru di bagian selatan Kota;
e. Wilayah Pengembangan (WP) V di Kepulauan Spermonde Makassar dengan
dasar kebijakan utama yang diarahkan pada peningkatan kegiatan pariwisata,
kualitas kehidupan masyarakat nelayan melalui peningkatan budidaya laut dan
pemanfaatan sumber daya perikanan dan konservasi ekosistem terumbu karang.

Pasal 20
Strategi untuk melaksanakan kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang seperti yang
dimaksud dalam Pasal 19, meliputi:
a. Pengaturan zonasi rencana pola ruang dilaksanakan melalui harmonisasi antara
rencana pemanfaatan ruang yang satu dengan rencana pemanfaatan ruang di
sekitarnya.
b. Pengendalian dan pengawasan pemanfaatan ruang secara konsisten.
c. Penerapan mekanisme dan prosedur perizinan yang efisien dan efektif.

23
d. Penerapan sistem insentif dan disinsentif untuk mendukung perwujudan tata
ruang sesuai rencana.
e. Penerapan sanksi yang jelas sesuai ketentuan Perundang-undangan.

Pasal 21
Strategi peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi
wilayah meliputi:
a. Meningkatkan interkoneksi antara kawasan perkotaan baik Makassar sebagai
Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat-Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) yaitu
Palopo, Watampone, Parepare, Barru, Pangkajene, Jeneponto dan Bulukumba,
maupun Pusat-Pusat Kegiatan Lokal (PKL) berupa ibukota-ibukota Kabupaten
yang tidak termasuk dalam PKN maupun PKW, antara kawasan perkotaan
dengan pusat-pusat kegiatan kawasan perdesaan, serta antara kawasan
perkotaan dengan wilayah sekitarnya, termasuk dengan pulau-pulau kecil;
b. Mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang potensial dan belum
terlayani oleh pusat pertumbuhan yang ada;
c. Mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan, khususnya daerah pantai
dan daerah irigasi teknis; dan
d. Mendorong kawasan perkotaan dan pusat-pusat pertumbuhan agar lebih
produktif, kompetitif dan lebih kondusif untuk hidup dan berkehidupan secara
berkelanjutan, serta lebih efektif dalam mendorong pengembangan wilayah
sekitarnya, terutama PKN, PKW dan PKL.

BAB V
ARAH PERENCANAAN WILAYAH KOTA
Bagian Kesatu
Rencana Struktur Tata Ruang
Paragraf 1
Umum

Pasal 22
Struktur pemanfaatan ruang wilayah Kota dijabarkan ke dalam rencana pengembangan
yang meliputi:
a. Rencana persebaran penduduk;
b. Rencana pengembangan kawasan hijau;
c. Rencana pengembangan kawasan permukiman;
d. Rencana pengembangan kawasan bangunan umum;
e. Rencana pengembangan kawasan industri;
f. Rencana pengembangan kawasan pergudangan;
g. Rencana pengembangan sistem pusat kegiatan;
h. Rencana pengembangan sistem transportasi;
i. Rencana pengembangan sistem prasarana dan sarana wilayah;
j. Rencana intensitas ruang.

Paragraf 2
Rencana Persebaran Penduduk
Pasal 23
(1) Untuk mewujudkan tata ruang wilayah yang ideal, maka ditetapkan kebijakan
persebaran penduduk di masing-masing Kota sebagai berikut:

24
a. Jumlah penduduk kawasan pusat Kota pada tahun 2030 dibatasi atau
dikendalikan sampai sekitar 360.127 jiwa;
b. Jumlah penduduk kawasan permukiman terpadu dibatasi atau
dikendalikan sampai sekitar 441.892 jiwa;
c. Jumlah penduduk kawasan pelabuhan terpadu dibatasi atau dikendalikan
sampai sekitar 35.787 jiwa;
d. Jumlah penduduk kawasan bandara terpadu dibatasi atau dikendalikan
sampai sekitar 137.188 jiwa;
e. Jumlah penduduk kawasan maritim terpadu dibatasi atau dikendalikan
sampai sekitar 28.917 jiwa;
f. Jumlah penduduk kawasan industri terpadu dibatasi atau dikendalikan
sampai sekitar 169.393 jiwa;
g. Jumlah penduduk kawasan pergudangan terpadu dibatasi atau
dikendalikan sampai sekitar 79.886 jiwa;
h. Jumlah penduduk kawasan riset dan pendidikan terpadu dibatasi atau
dikendalikan sampai sekitar 86.367 jiwa;
i. Jumlah penduduk kawasan budaya terpadu dibatasi atau dikendalikan
sampai sekitar 1.500 jiwa;
j. Jumlah penduduk kawasan olahraga terpadu dibatasi atau dikendalikan
sampai sekitar 98.855 jiwa;
k. Jumlah penduduk kawasan bisnis dan pariwisata terpadu dibatasi atau
dikendalikan sampai sekitar 14.812 jiwa;
l. Jumlah penduduk kawasan bisnis global terpadu dibatasi atau
dikendalikan sampai sekitar 85.797 jiwa.
(2) Ketentuan sebagaimana tercantum pada ayat (1) pasal ini dapat disesuaikan dengan
perkembangan dan dinamika hidup masyarakat Kota serta Keputusan Walikota.

Paragraf 3
Rencana Pengembangan Kawasan Hijau
Pasal 24
(1) Pengembangan kawasan hijau lindung dilakukan melalui pembinaan kawasan sesuai
dengan fungsinya, meliputi kawasan pesisir pantai utara Kota sebagai kawasan hutan
bakau dan kawasan hilir Sungai Tallo sebagai kawasan hutan bakau sekaligus area
pembibitan mangrove;
(2) Kawasan hijau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini meliputi:
a. RTH berbentuk area dengan fungsi sebagai fasilitas umum;
b. RTH berbentuk jalur untuk fungsi pengaman, peneduh, penyangga
dan/atau keindahan lingkungan.
(3) Pengembangan kawasan hijau yang dijabarkan dalam 12 Kawasan Terpadu, dengan
persentase luas RTH sebagai berikut:
a. Persentase luas RTH di kawasan pusat Kota ditargetkan sebesar 5% (lima
persen) dari luas kawasan dengan arahan pengembangan sebagai berikut:
1) Mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan dalam
pusat Kota serta hijau produktif di pekarangan;
2) Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang bagian barat
pantai Makassar;
3) Mempertahankan lahan pemakaman (Perkuburan Arab,
Baroanging, Dadi, dan Maccini) dan lapangan olah raga yang
ada (Lapangan Hasanuddin, dan Karebosi);
4) Meningkatkan RTH di daerah permukiman padat (Spasial Lette,
Baraya dan Abu Bakar Lambogo);

25
5) Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman
(Taman Gatot Subroto, Safari, Segitiga BalaiKota, Segitiga
Hassanuddin, Segitiga Jalan Masjid Raya, Segitiga Pasar Baru,
Segitiga Pualam, Segitiga Ratulangi, Segitiga Tugu Harimau,
dan Tempat Hiburan Rakyat Kerung-Kerung) serta pengadaan
RTH umum melalui program perbaikan lingkungan dan
peremajaan di beberapa kawasan dalam pusat Kota;
6) Mengembangkan area budidaya tanaman hias sebagai RTH
sementara pada lahan tidur;
7) Menanam pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah,
ruas jalan, dan di pinggir Sungai Jeneberang, terutama pada
lingkungan padat.
b. Persentase luas RTH di kawasan permukiman terpadu ditargetkan sebesar
7% (tujuh persen) dari luas kawasan, dengan arahan pengembangan
sebagai berikut:
1) Menata kawasan resapan air Balang Tonjong sebagai kawasan
hijau lindung;
2) Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang
jalan dalam kawasan permukiman terpadu serta hijau produktif
di pekarangan;
3) Mempertahankan lahan pemakaman (Perkuburan Islam
Panaikang dan Taman Makam Pahlawan) dan lapangan olah
raga yang ada di Hertasning;
4) Meningkatkan RTH di daerah permukiman padat pada Kawasan
Sukaria dan sekitarnya juga di Perumnas – Toddopuli dan
sekitarnya;
5) Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman
serta pengadaan RTH umum melalui program perbaikan
lingkungan dan peremajaan di beberapa kawasan;
6) Mengembangkan area budidaya tanaman hijau produktif
sebagai RTH sementara di lahan tidur;
7) Menanam pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah,
ruas jalan, dan di pinggir Sungai Jeneberang, terutama pada
lingkungan padat.
c. Persentase luas RTH di kawasan pelabuhan terpadu ditargetkan sebesar
7% (tujuh persen) dari luas kawasan, dengan arahan pengembangan
sebagai berikut:
1) Meningkatkan RTH di area pengembangan Pelabuhan
Soekarno-Hatta yang sekaligus berfungsi sebagai sarana
sosialisasi;
2) Menata bagian hilir muara Sungai Tallo;
3) Mempertahankan lahan pemakaman Perkuburan Raja-Raja
Tallo dan lapangan olah raga yang ada di Sabutung-Koptu
Harun;
4) Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang
jalan dalam kawasan pelabuhan terpadu serta hijau produktif di
pekarangan;
5) Meningkatkan RTH di daerah permukiman padat Sabutung-
Barukang dan sekitarnya;
6) Melestarikan lingkungan permukiman dengan pengadaan RTH
umum pada kawasan Sabutung-Barukang dan sekitarnya
melalui program perbaikan dan peremajaan lingkungan;

26
7) Mengembangkan area budidaya tanaman hijau produktif
sebagai RTH sementara di lahan tidur;
8) Menanam pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah,
ruas jalan, dan di pinggir Sungai Tallo, terutama pada
lingkungan padat.
d. Persentase luas RTH pada kawasan bandara terpadu ditargetkan sebesar
15% (lima belas persen) dari luas kawasan, dengan arahan
pengembangan sebagai berikut:
1) Mengamankan RTH di sekitar Kawasan Keselamatan Operasi
Penerbangan (KKOP) Bandar Udara Internasional Sultan
Hasanuddin dengan budi daya pertanian;
2) Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang
jalan serta hijau produktif di pekarangan;
3) Mempertahankan lahan pemakaman Sudiang dan lapangan olah
raga yang ada di kawasan bandara terpadu;
4) Mengembangkan penghijauan di pusat-pusat permukiman
dalam kawasan bandara terpadu seperti Kawasan Perumnas
Sudiang, Perumahan Pemerintah Provinsi dan kompleks
perumahan lainnya dalam kawasan ini;
5) Mendorong peningkatan RTH di daerah permukiman
berkelompok yang terdapat dalam Kawasan Terpadu ini;
6) Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman
serta mengadakan RTH Umum melalui program perbaikan
lingkungan dan peremajaan di beberapa kawasan;
7) Mendorong pengembangan area budidaya tanaman hias
sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
8) Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada
halaman rumah, ruas jalan, terutama pada lingkungan
permukiman.
e. Persentase luas RTH pada kawasan maritim terpadu ditargetkan sebesar
10% (sepuluh persen) dari luas kawasan, dengan arahan pengembangan
sebagai berikut:
1) Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis pantai
utara Makassar;
2) Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang
jalan serta hijau produktif di pekarangan;
3) Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman
serta mengadakan RTH umum melalui program perbaikan
lingkungan dan peremajaan di beberapa wilayah;
4) Mengembangkan area budidaya tanaman hijau produktif
sebagai RTH sementara di lahan tidur;
5) Menanam pohon-pohon besar/pelindung di halaman rumah dan
ruas jalan, terutama pada lingkungan permukiman.
f. Persentase luas RTH pada kawasan industri terpadu ditargetkan sebesar
7 % (tujuh persen) dari luas kawasan, dengan arahan pengembangan
sebagai berikut:
1) Menata jalur hijau binaan di sepanjang jalan bebas hambatan
Kota;
2) Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang
jalan dalam kawasan;
3) Menyediakan RTH yang seimbang pada areal kawasan industri;

27
4) Melestarikan taman-taman lingkungan dalam kawasan industri
dan kawasan permukiman sekitarnya serta pengadaan RTH
umum melalui program perbaikan lingkungan dan peremajaan di
beberapa kawasan;
5) Menanam pohon di halaman rumah, ruas jalan, dan pinggir
Sungai Tallo terutama di lingkungan permukiman.
g. Persentase luas RTH pada kawasan pergudangan terpadu ditargetkan
sebesar 5% (lima persen) dari luas kawasan, dengan arahan
pengembangan sebagai berikut:
1) Menata jalur hijau di sepanjang jalan bebas hambatan Kota;
2) Menata bagian hilir muara Sungai Tallo;
3) Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang
jalan dalam kawasan;
4) Menyediakan RTH yang seimbang di kawasan industri;
5) Mengadakan taman-taman lingkungan dalam kawasan
pergudangan melalui program perbaikan dan peremajaan
lingkungan;
6) Mendorong penanaman pohon-pohon pelindung di sepanjang
ruas jalan dan pinggir Sungai Tallo.
h. Persentase luas RTH pada kawasan Riset dan Pendidikan terpadu
ditargetkan sebesar 7 % (tujuh persen) dari luas kawasan, dengan arahan
pengembangan sebagai berikut:
1) Menghijaukan pusat-pusat kegiatan dalam kawasan riset dan
pendidikan terpadu (Universitas Hasanuddin, Universitas
Cokroaminoto, STIMIK Dipanegara, Universitas Islam Makassar,
Universitas Muslim Indonesia, Universitas 45, dan lain-lain);
2) Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang
jalan serta hijau produktif di pekarangan;
3) Mempertahankan lahan pemakaman (Perkuburan Kristen
Pannara) dan lapangan olah raga milik kampus;
4) Meningkatkan RTH di daerah-daerah permukiman yang terdapat
dalam kawasan ini;
5) Melestarikan taman-taman lingkungan yang terdapat dalam
kawasan kampus dan permukiman penduduk serta pengadaan
RTH umum melalui program perbaikan lingkungan dan
peremajaan di beberapa kawasan;
6) Mengembangkan area budidaya tanaman hijau produktif
sebagai RTH sementara di lahan tidur;
7) Menanam pohon-pohon besar/pelindung di halaman kampus,
rumah, dan ruas jalan.
i. Persentase luas RTH pada kawasan budaya terpadu ditargetkan sebesar
18 % (delapan belas persen) dari luas kawasan, dengan arahan
pengembangan sebagai berikut:
1) Mengamankan RTH dalam areal kawasan Taman Miniatur
Sulawesi;
2) Menata bagian hilir daerah aliran Sungai Jeneberang dan
Balang Beru;
3) Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang
jalan serta hijau produktif dalam kawasan pengembangan
Taman Miniatur Sulawesi;

28
4) Melestarikan taman-taman lingkungan yang terdalam dalam
kawasan Taman Miniatur Sulawesi serta pengadaan RTH baru
melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa
bagian dalam kawasan ini;
5) Mengembangkan area budidaya tanaman hias maupun tanaman
hijau produktif sebagai RTH sementara pada lahan tidur.
j. Persentase luas RTH pada kawasan olahraga terpadu ditargetkan sebesar
10% (sepuluh persen) dari luas kawasan, dengan arahan pengembangan
sebagai berikut:
1) Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis pantai
bagian barat Makassar;
2) Menata bagian hilir muara Sungai Jeneberang;
3) Meningkatkan penghijauan di area pengembangan kawasan;
4) Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang
jalan serta hijau produktif pada pusat-pusat kegiatan yang akan
dikembangkan pada kawasan ini;
5) Membentuk taman-taman Kota dan RTH sebagai wadah
sosialisasi dan aktivitas warga.
k. Persentase luas RTH pada kawasan bisnis dan pariwisata terpadu
ditargetkan sebesar 10% (sepuluh persen) dari luas kawasan,
dengan arahan pengembangan sebagai berikut:
1) Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis pantai
bagian barat Makassar;
2) Menata bagian hilir muara Sungai Jeneberang;
3) Meningkatkan penghijauan di daerah sekitar danau Tanjung
Bunga (Sungai Baling Beru) guna menjadi wadah rekreasi dan
sosialisasi warga;
4) Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang
jalan serta hijau produktif di dalam kawasan permukiman
Tanjung Bunga;
5) Meningkatkan RTH dan taman-taman Kota di kawasan Kota
Terpadu Tanjung Bunga;
6) Mengembangkan area budidaya tanaman hijau produktif
sebagai RTH sementara di lahan tidur.
l. Persentase luas RTH pada kawasan bisnis global terpadu ditargetkan
sebesar 12% (dua belas persen) dari luas kawasan, dengan arahan
pengembangan sebagai berikut:
1) Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis pantai
bagian barat Makassar;
2) Melanjutkan penataan dan pengembangan kawasan hijau baru
dari proses revitalisasi Pantai Losari;
3) Menata bagian hilir muara kanal Kota;
4) Menata bagian hilir muara Sungai Balang Beru;
5) Meningkatkan RTH melalui pembuatan hutan dan taman-taman
Kota secara seimbang dalam kawasaan global terpadu.

Paragraf 4
Rencana Pengembangan Kawasan Permukiman
Pasal 25
(1) Kawasan permukiman terdiri atas kawasan permukiman dengan kepadatan tinggi,
sedang, dan kawasan permukiman berkepadatan rendah.

29
(2) Pengembangan permukiman secara bertahap diarahkan untuk mencapai norma satu
unit rumah yang layak huni untuk setiap keluarga.
(3) Setiap kawasan permukiman secara bertahap dilengkapi dengan sarana lingkungan
yang jenis dan jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat
berdasar standar fasilitas umum/fasilitas sosial.
(4) Fasilitas umum/fasilitas sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi:
a. Fasilitas Pendidikan;
b. Fasilitas Kesehatan;
c. Fasilitas Peribadatan;
d. Fasilitas Olah Raga/Kesenian/Rekreasi;
e. Fasilitas Pelayanan Pemerintah;
f. Fasilitas Bina Sosial;
g. Fasilitas Perbelanjaan/Niaga;
h. Fasilitas Transportasi.
(5) Bangunan campuran pada kawasan permukiman terdiri dari campuran antara
perumahan dengan jasa, perdagangan, industri kecil dan atau industri rumah tangga
secara terbatas beserta fasilitasnya;
(6) Rencana pengembangan kawasan permukiman sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), (2), (3), (4), (5) di masing-masing Kawasan Terpadu diuraikan sebagai berikut:
a. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada kawasan pusat Kota
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 733,50 Ha, dengan
uraian arahan pengembangan berikut:
1) Mengembangkan pola perbaikan lingkungan pada kawasan
permukiman kumuh berat dan sedang (Lette, Baraya dan Abu
Bakar Lambogo) termasuk yang berada di sepanjang bantaran
kanal Kota;
2) Mendorong pengembangan peremajaan lingkungan terbatas
pada kawasan permukiman kumuh berat;
3) Mengembangkan kawasan permukiman secara vertikal dan
memperkecil perpetakan untuk penyediaan perumahan
golongan menengah-bawah yang dilengkapi dengan sarana dan
prasarana yang memadai serta manusiawi;
4) Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang
tersebar dalam kelompok-kelompok perumahan berkompleks di
dalam Kota;
5) Membatasi pemanfaatan dan pelestarian lingkungan khususnya
pada kawasan pemugaran dan bangunan bersejarah dalam
Kota;
6) Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
7) Melengkapi fasilitas umum yang manusiawi di kawasan
permukiman;
8) Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah
ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.
b. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada kawasan
permukiman terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan
seluas 2.160,10 Ha, dengan uraian arahan pengembangan berikut:
1) Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang
tersebar dalam kelompok-kelompok perumahan berkompleks
dalam kawasan ini;
2) Mengembangkan kawasan permukiman baru terutama di
wilayah timur Kota (antara jalan lingkar tengah dan luar);
3) Mendorong pengembangan kawasan permukiman KDB rendah
beserta fasilitasnya di daerah pengembangan permukiman
Panakkukang Mas;

30
4) Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang
tersebar dalam kelompok-kelompok perumahan berkompleks di
dalam kawasan;
5) Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
6) Melengkapi fasilitas umum yang manusiawi di kawasan
permukiman;
7) Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah
ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.
c. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada kawasan
pelabuhan terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan
seluas 29,16 Ha, dengan uraian arahan pengembangan berikut:
1) Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang
terdapat dalam kawasan pelabuhan terpadu;
2) Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan
permukiman kumuh sedang dan ringan (kawasan pesisir pantai
utara, Galangan Kapal Paotere) secara terbatas melalui
pengembangan secara vertikal, yang dilengkapi sarana dan
prasarana yang memadai;
3) Mengembangkan permukiman masyarakat menengah ke atas
pada areal reklamasi pantai utara;
4) Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman di kawasan
Kota tua/bersejarah dan Pelabuhan Soekarno-Hatta sekaligus
melestarikan lingkungannya;
5) Membatasi pemanfaatan kawasan dengan fungsi tertentu
khususnya pada kawasan pemugaran dan atau bangunan
bersejarah dalam Kota seperti lingkungan dan bangunan makam
Raja-raja Tallo;
6) Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
7) Melengkapi fasilitas umum yang manusiawi di kawasan
permukiman;
8) Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah
ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.
d. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada kawasan
bandara terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas
201,18 Ha, dengan uraian arahan pengembangan berikut:
1) Mengembangkan kawasan permukiman ber-KDB rendah di
sekitar KKOP Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin
dengan upaya mengembangkan budidaya tanaman hijau
produktif dan pertanian;
2) Mendorong pengembangan peremajaan lingkungan pada
kawasan permukiman kumuh;
3) Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang
tersebar dalam kelompok-kelompok perumahan berkelompok
dalam kawasan;
4) Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
5) Melengkapi fasilitas umum yang manusiawi di kawasan
permukiman;
6) Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah
ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.
e. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada kawasan
maritim terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas
53,01 Ha, dengan uraian arahan pengembangan berikut:
1) Mengembangkan pola perbaikan lingkungan pada kawasan
permukiman kumuh dalam kawasan maritim terpadu berikut
dengan penyediaan saranan dan prasarana yang memadai;

31
2) Mengembangkan permukiman nelayan yang bernuansa wisata
dan berwawasan lingkungan hidup di kawasan pantai utara dan
pulau-pulau yang dihuni di Kepulauan Spermonde;
3) Mengembangkan kawasan permukiman baru yang sesuai
dengan atmosfir kawasan maritim;
4) Mempertahankan, mengembangkan dan merevitalisasi
lingkungan permukiman nelayan Untia yang sudah ada;
5) Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
6) Melengkapi fasilitas umum yang manusiawi di kawasan
permukiman;
7) Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah
ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.
f. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada kawasan
industri terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas
151,81 Ha, dengan uraian arahan pengembangan berikut:
1) Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan
permukiman kumuh dalam kawasan industri terpadu secara
terukur dan terkontrol;
2) Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang
terdapat dalam kawasan;
3) Pengembangan dan perbaikan lingkungan pada kawasan
permukiman kumuh dilakukan melalui pengembangan secara
vertikal, dan memperkecil perpetakan untuk penyediaan
perumahan golongan menengah-bawah yang dilengkapi dengan
sarana dan prasarana yang memadai bagi masyarakat;
4) Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur;
5) Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
6) Melengkapi fasilitas umum yang manusiawi di kawasan
permukiman dalam kawasan industri terpadu;
7) Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah
ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.
g. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada kawasan
pergudangan terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan
seluas 156,20 Ha, dengan uraian arahan pengembangan berikut:
1) Mengembangkan lingkungan permukiman secara lebih teratur
berdasarkan uraian dan arahan perencanaan yang sesuai
dengan atmosfir kawasan pergudangan;
2) Menyediakan fasilitas umum yang manusiawi di kawasan
permukiman yang dikembangkan;
3) Membatasi pengembangan lingkungan permukiman yang tidak
sesuai dengan atmosfir kawasan pergudangan.
h. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada kawasan riset
dan pendidikan terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan
seluas 358,86 Ha, dengan uraian arahan pengembangan berikut:
1) Mengembangkan pola perbaikan lingkungan pada kawasan
permukiman kumuh ringan (Pampang – pesisir Sungai
Pampang) berikut dengan penyediaan sarana dan prasarana
yang memadai bagi masyarakat;
2) Mengembangkan kawasan permukiman ber-KDB rendah dalam
kawasan;
3) Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
4) Melengkapi fasilitas umum yang manusiawi di kawasan
permukiman;
5) Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah
ada sekaligus melestarikan lingkungannya;

32
i. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada kawasan
budaya terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas
3,30 Ha, dengan uraian arahan pengembangan berikut:
1) Mengembangkan lingkungan permukiman yang sesuai dengan
konsep dan atmosfir wilayah sebagai kawasan budaya terpadu;
2) Mengarahkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman
warga dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai
bagi masyarakat;
3) Membatasi pemanfaatan dan pelestarian lingkungan khususnya
pada kawasan pemugaran dan bangunan bersejarah dalam
kawasan.
j. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada kawasan
olahraga terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan
seluas 161,08 Ha, dengan uraian arahan pengembangan berikut:
1) Mengembangkan kawasan permukiman baru berikut dengan
penataan lingkungannya yang disesuaikan dengan irama, aroma
dan warna kawasan sebagai kawasan olahraga terpadu;
2) Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman dan
lingkungannya yang tidak sesuai dengan konsep dan atmosfir
kawasan sebagai kawasan olahraga terpadu;
3) Menyediakan sarana dan prasarana dalam kawasan
permukiman yang dikembangkan di kawasan olahraga terpadu.
k. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada kawasan
bisnis dan pariwisata terpadu ditargetkan menempati wilayah
perencanaan seluas 72,40 Ha, dengan uraian arahan
pengembangan berikut:
1) Mengarahkan pengembangan lingkungan permukiman yang
sesuai dengan konsep dan atmosfir wilayah sebagai kawasan
bisnis dan pariwisata terpadu;
2) Mempertahankan kawasan permukiman ber-KDB rendah pada
daerah permukiman Tanjung Bunga;
3) Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
4) Melengkapi fasilitas umum yang manusiawi di kawasan
permukiman;
5) Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah
ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.
l. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada kawasan
bisnis global terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan
seluas 62,91 Ha, dengan uraian arahan pengembangan berikut:
1) Mendorong perbaikan dan penataan lingkungan permukiman
pada kawasan perencanaan melalui pengembangan sarana dan
prasarana yang memadai;
2) Mengembangkan kawasan permukiman ber-KDB rendah melalui
pengembangan permukiman masyarakat menengah-atas di area
reklamasi pantai;
3) Melengkapi fasilitas umum yang manusiawi di kawasan
permukiman.

33
Paragraf 5
Rencana Pengembangan Kawasan Bangunan Umum
Pasal 26
(1) Rencana pengembangan kawasan bangunan umum pada kawasan pusat Kota
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 440,10 Ha, dengan arahan
rencana berikut:
a. Mengembangkan fasilitas perdagangan, terutama pasar tradisional yang
terdapat di kawasan pusat Kota sesuai kebutuhan dan jangkauan
pelayanannya;
b. Mengembangkan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan
lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai bagi
masyarakat;
c. Membatasi pengembangan perdagangan, jasa dan perkantoran sepanjang
jalan arteri dan kolektor dengan memperhatikan lalu lintas dan penyediaan
lahan parkir;
d. Mengembangkan kawasan campuran untuk meningkatkan daya tampung
penduduk yang dikembangkan terutama di koridor jalan arteri dan kolektor;
e. Mengendalikan perkembangan kawasan campuran secara terbatas;
f. Menata fungsi kawasan Kota tua/bersejarah untuk mendukung kegiatan
perkantoran, perdagangan, jasa, dan pariwisata;
g. Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan
penataan kawasan sekitar pantai.
(2) Rencana pengembangan kawasan bangunan umum pada kawasan permukiman
terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 540,02 Ha, dengan
arahan rencana berikut:
a. Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama pasar tradisional yang
terdapat di kawasan permukiman terpadu sesuai kebutuhan dan
jangkauan pelayanannya;
b. Mengembangkan kawasan multifungsi bertaraf global secara terpadu di
kawasan ekonomi prospektif, terutama di Kawasan Niaga Panakkukang
Square;
c. Mengembangkan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan
lingkungan melalui penyediaan fasilitas umum yang memadai bagi
masyarakat;
d. Mengembangkan kawasan campuran untuk membantu peningkatan daya
tampung penduduk yang dikembangkan, terutama di koridor jalan arteri
sekunder dan kolektor.
e. Mengembangkan bangunan umum yang terintegrasi dengan penataan
kawasan sekitar Sungai Tallo;
f. Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang
terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas
penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;
g. Mengembangkan sentra primer timur Kota yang bertaraf internasional;
h. Mendorong pengembangan kawasan Pasar Induk Kota pada Kecamatan
Manggala.
(3) Rencana pengembangan kawasan bangunan umum pada kawasan pelabuhan
terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 26,24 Ha, dengan arahan
rencana berikut:
a. Mengembangkan bangunan umum yang terintegrasi baik dengan konsep
rencana pengembangan pelabuhan secara terpadu;
b. Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk mendukung
pengembangan kawasan yang sesuai dengan kebutuhan dan jangkauan
pelayanannya;

34
c. Mengembangkan wilayah pantai utara di sub-kawasan pengembangan
pelabuhan melalui pola pengembangan multifungsi/super blok dengan
fasilitasnya yang bertaraf internasional;
d. Mengembangkan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan
lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai;
e. Mengendalikan pengembangan perdagangan, jasa, dan perkantoran di
sepanjang jalan arteri primer dengan memperhatikan lalu lintas dan
penyediaan lahan parkir;
f. Mengembangkan dan mengendalikan kawasan campuran secara terbatas
untuk meningkatkan daya tampung penduduk yang dikembangkan secara
vertikal terutama di koridor jalan arteri sekunder;
g. Mengembangkan sentra primer baru utara Kota yang bertaraf
internasional.
(4) Rencana pengembangan kawasan bangunan umum pada kawasan bandara terpadu
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 167,65 Ha, dengan arahan
rencana berikut:
a. Mengembangkan kawasan multifungsi bertaraf global secara terpadu di
kawasan ekonomi prospektif terutama yang berada dekat dengan kawasan
bandara;
b. Mengembangkan bangunan umum yang terintegrasi baik melalui konsep
rencana pengembangan bandara secara terpadu;
c. Mengembangkan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan
lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai;
d. Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang
terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas
penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;
e. Mengendalikan perkembangan kawasan campuran terutama yang berada
pada jalan arteri primer;
f. Mengembangkan sentra primer baru utara Kota yang berskala
internasional.
(5) Rencana pengembangan kawasan bangunan umum pada kawasan maritim terpadu
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 17,67 Ha, dengan arahan
rencana berikut:
a. Mengembangkan bangunan umum yang sesuai dengan atmosfir kawasan
sebagai kawasan maritim terpadu;
b. Mengembangkan wilayah pantai utara di sub-kawasan pengembangan
maritim dengan pola pengembangan yang lebih terencana, terkontrol, dan
terintegrasi dengan atmosfir ruang rencana kawasan maritim;
c. Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk pasar tradisional
sesuai kebutuhan dan jangkauan pelayanannya;
d. Mengembangkan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan
lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai;
e. Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang
terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas
penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;
f. Mengembangkan sentra primer baru utara Kota bertaraf nasional.
(6) Rencana pengembangan kawasan bangunan umum pada kawasan industri terpadu
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 41,40 Ha, dengan arahan
rencana berikut:
a. Mengembangkan kawasan multifungsi secara terpadu di kawasan
ekonomi prospektif terutama pada Kawasan Niaga Daya;
b. Mengembangkan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan
lingkungan sesuai atmosfir kawasan sebagai kawasan industri terpadu
dengan menyediakan fasilitas umum yang lebih baik dan memadai;

35
c. Mengembangkan kawasan campuran untuk membantu peningkatan daya
tampung penduduk yang dikembangkan secara vertikal terutama di koridor
jalan arteri sekunder dan kolektor;
d. Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang
terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas
penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman.
(7) Rencana pengembangan kawasan bangunan umum pada kawasan pergudangan
terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 195,25 Ha, dengan
arahan rencana berikut:
a. Mengembangkan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan
lingkungan sesuai dengan atmosfir kawasan sebagai kawasan
pergudangan terpadu melalui penyediaan fasilitas umum yang memadai;
b. Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang
terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas
penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman.
(8) Rencana pengembangan kawasan bangunan umum pada kawasan riset dan
pendidikan terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 52,77 Ha,
dengan arahan rencana berikut:
a. Mengembangkan bangunan umum yang terintegrasi baik dengan konsep
pengembangan kawasan riset dan pendidikan secara terpadu;
b. Mengembangkan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan
lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai;
c. Membatasi pengembangan perdagangan, jasa dan perkantoran di
sepanjang jalan arteri primer dengan memperhatikan arus lalu lintas dan
penyediaan lahan parkir;
d. Mengembangkan kawasan campuran untuk membantu peningkatan
pelayanan pada masyarakat;
e. Mengendalikan perkembangan kawasan campuran terutama yang berada
pada jalan arteri primer;
f. Mengendalikan pengembangan bangunan umum secara terbatas yang
terintegrasi dengan penataan kawasan sekitar Sungai Tallo.
(10) Rencana pengembangan kawasan bangunan umum pada kawasan budaya terpadu
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 1,83 Ha, dengan arahan rencana
berikut:
a. Mengembangkan wilayah bagian selatan Kota di sub-kawasan
pengembangan kawasan Taman Miniatur Sulawesi melalui pola
pengembangan multifungsi yang tetap terintegrasi baik secara bentuk dan
ruang sesuai atmosfir ruang budaya yang ingin dicapai;
b. Mengembangkan bangunan umum yang tetap terintegrasi dengan rencana
pengendalian serta revitalisasi Sungai Balang Beru dan Jeneberang
secara terpadu;
c. Melestarikan dan menata fungsi-fungsi kawasan/bangunan bersejarah
untuk mendukung kegiatan perdagangan, jasa, dan pariwisata dengan
pengaturan dan penataan arus lalu lintas beserta jalur pejalan kaki yang
lebih nyaman;
d. Mengembangkan sentra primer baru selatan Kota, dengan penempatan
sektor budaya sebagai warna dari atmosfir pengembangan kawasan.
(11) Rencana pengembangan kawasan bangunan umum pada kawasan olahraga terpadu
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 80,54 Ha, dengan arahan
rencana berikut:
a. Mengembangkan wilayah bagian selatan Kota di sub-kawasan pesisir
pantai barat Makassar yang bertaraf global, dengan pola pengembangan
multifungsi yang tetap terintegrasi baik secara bentuk dan ruang serta
berwawasan lingkungan sesuai dengan atmosfir ruang olahraga terpadu
yang ingin dicapai;

36
b. Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang
terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas
penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;
c. Mengembangkan sentra primer baru bertaraf internasional di selatan Kota.
(12) Rencana pengembangan kawasan bangunan umum pada kawasan bisnis dan
pariwisata terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 36,20 Ha,
dengan arahan rencana berikut:
a. Mengembangkan kawasan multifungsi bertaraf global secara terpadu di
kawasan ekonomi prospektif terutama yang berada pada kawasan
permukiman Tanjung Bunga;
b. Mengembangkan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan
lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai bagi
masyarakat;
c. Mengendalikan pengembangan perdagangan, jasa dan perkantoran
secara terbatas sepanjang jalan arteri primer dengan memperhatikan arus
lalu lintas dan penyediaan lahan parkir;
d. Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan
penataan kawasan sekitar pantai Makassar bagian barat.
(13) Rencana pengembangan kawasan bangunan umum pada kawasan bisnis global
terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 33,55 Ha, dengan arahan
rencana berikut:
a. Mengembangkan wilayah bagian barat Kota di sub-kawasan tanah tumbuh
dengan pola pengembangan multifungsi yang tetap terintegrasi baik
secara bentuk dan ruang serta berwawasan lingkungan sesuai dengan
atmosfir ruang bisnis global;
b. Mengembangkan kegiatan perdagangan, jasa, dan perkantoran secara
terbatas dan terkendali di sepanjang jalan arteri primer dengan
memperhatikan arus lalu lintas dan penyediaan lahan parkir.
(14) Pengembangan kawasan bangunan umum ber-KDB rendah:
a. Mengembangkan kawasan bangunan umum ber-KDB rendah secara
terbatas terutama pada daerah sebelah utara dan timur yaitu pada
kawasan industri terpadu, kawasan pergudangan terpadu, kawasan
maritim terpadu dan kawasan riset dan pendidikan terpadu;
b. Persentase luas kawasan bangunan umum ber-KDB rendah ditargetkan
sebesar 6,17 % dari luas seluruh Kawasan Terpadu Kota.
(15) Pengembangan kawasan campuran dalam 12 Kawasan Terpadu Kota diuraikan
sebagai berikut:
a. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan pusat Kota ditargetkan
menempati wilayah perencanaan seluas 586,80 Ha;
b. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan permukiman terpadu
ditargetkan untuk menempati wilayah perencanaan seluas 1.080 Ha;
c. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan pelabuhan terpadu
ditargetkan untuk menempati wilayah perencanaan seluas 58,31 Ha;
d. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan bandara terpadu
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 335,31 Ha;
e. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan maritim terpadu
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 70,68 Ha;
f. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan industri terpadu
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 276,01 Ha;
g. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan pergudangan terpadu
ditargetkan untuk menempati wilayah perencanaan seluas 390,51 Ha;
h. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan riset dan pendidikan
terpadu ditargetkan untuk menempati wilayah perencanaan seluas 211,09
Ha;

37
i. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan budaya terpadu
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 1,33 Ha;
j. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan olahraga terpadu
161,08 Ha;
k. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan bisnis dan pariwisata
terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 90,51 Ha;
l. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan bisnis global terpadu
ditargetkan untuk menempati wilayah perencanaan seluas 62,91 Ha.

Paragraf 6
Rencana Pengembangan Kawasan Industri
Pasal 27
Rencana pengembangan kawasan industri di Makassar hanya diperbolehkan pada empat
Kawasan Terpadu berikut:
(1) Kawasan pelabuhan terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas
14,58 Ha, dengan arahan rencana berikut:
a. Mengembangkan industri selektif yang mendukung fungsi pelabuhan
secara terpadu;
b. Mengembangkan kegiatan industri pada kawasan yang terbangun dengan
penyediaan dan/atau penambahan fasilitas penunjang beserta
penghijauan yang lebih nyaman.
(2) Kawasan bandara terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 167,65
Ha dengan arahan rencana berikut:
a. Mengembangkan industri berteknologi tinggi yang tidak mengganggu
lingkungan hidup sebagai satu kesatuan kawasan berikat;
b. Mengembangkan industri kecil yang tidak berpolusi dan berwawasan
lingkungan hidup.
(3) Kawasan maritim terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 17,67
Ha dengan arahan rencana berikut:
a. Mengarahkan kegiatan industri yang berlokasi di dekat permukiman agar
hanya digunakan untuk jenis-jenis industri kecil dan tidak polutif, selain
harus berwawasan lingkungan;
b. Mengembangkan kegiatan industri yang berhubungan dengan kegiatan
industri perikanan.
(4) Kawasan industri terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 759,04
Ha dengan arahan rencana sebagai berikut:
a. Menjadi pusat dari semua kegiatan pengembangan industri;
b. Merelokasi industri menengah dan besar dari pusat Kota ke dalam
kawasan;
c. Mengatur dan mengendalikan kegiatan industri secara terbatas terhadap
kegiatan industri yang berisiko tinggi menimbulkan efek negatif terhadap
perkembangan manusia dan lingkungan.

Paragraf 7
Rencana Pengembangan Kawasan Pergudangan
Pasal 28
Rencana pengembangan kawasan pergudangan di Makassar hanya diperbolehkan pada
empat Kawasan Terpadu sebagai berikut:

38
(1) Kawasan pergudangan pada kawasan pelabuhan terpadu ditargetkan menempati
wilayah perencanaan seluas 58,31 Ha, dengan arahan rencana berikut:
a. Mengembangkan kawasan pergudangan untuk mengantisipasi
perkembangan pelabuhan Soekarno-Hatta dan menunjang kegiatan
perdagangan dan jasa;
b. Mengembangkan kawasan pergudangan yang nyaman, asri, dan tertata
serta tetap terintegrasi baik dengan atmosfir kawasan pelabuhan.
(2) Kawasan bandara terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 335,31
Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
a. Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang dapat
menunjang kegiatan industri, perdagangan, dan jasa yang ada di bandara;
b. Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang lebih tertata
secara bentuk dan berwawasan lingkungan.
(3) Kawasan maritim terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 35,34
Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
a. Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang dapat
menunjang kegiatan industri, perdagangan, dan jasa kemaritiman;
b. Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang lebih tertata
secara bentuk dan berwawasan lingkungan.
(4) Kawasan pergudangan terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas
898,16 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
a. Merelokasi kawasan pergudangan dari dalam Kota;
b. Menjadi pusat konsentrasi serta relokasi gudang di dalam Kota;
c. Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang sejalan dengan
nilai ruang rencana yang ingin dicapai.

Paragraf 8
Rencana Pengembangan Sistem Pusat Kegiatan
Pasal 29
(1) Sistem pusat kegiatan ditetapkan untuk menunjang Makassar sebagai Kota maritim,
niaga, budaya, jasa, dan pendidikan serta memeratakan pusat kegiatan
Pemerintahan, kegiatan sosial, ekonomi, budaya, serta kegiatan pelayanan;
(2) Sistem pusat kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, dibedakan
berdasarkan kegiatan kawasan sebagai pembentuk struktur ruang dan kawasan fungsi
khusus sebagai pusat Pemerintahan, pusat kegiatan sosial, ekonomi dan budaya;
(3) Sistem pusat kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pasal ini, terdiri dari
pusat kegiatan utama dan pusat kegiatan penunjang;
(4) Sistem pusat kegiatan utama menurut fungsi kawasan sebagai pembentuk struktur
ruang sebagaimana dimaksud ayat (2) dan (3) pasal ini ditetapkan sebagai berikut:
a. Sentra primer baru timur sebagai pusat perkantoran, perdagangan dan
jasa;
b. Sentra primer baru barat sebagai pusat Pemerintahan Kota, perkantoran,
perdagangan dan jasa yang bertaraf global;
c. Sentra primer baru selatan sebagai pusat bisnis, pariwisata, perdagangan,
budaya, dan olahraga;
d. Sentra primer baru utara sebagai pusat bisnis, pariwisata, perdagangan,
dan jasa kemaritiman;
(5) Sistem pusat kegiatan utama menurut fungsi khusus ditetapkan sebagai berikut :
a. Pusat Pemerintahan provinsi di WP II: kawasan Jalan Urip Sumoharjo;
b. Pusat Pemerintahan Kota di WP III: Pusat Kota;
c. Pusat bisnis dan pariwisata di WP II, III, IV dan V: Kota Baru Tanjung
Bunga, Panakukang Square, dan Kepulauan Spermonde;

39
d. Pusat bisnis global di WP IV: Tanjung Beringin;
e. Pusat olahraga di WP IV: Barombong;
f. Pusat energi dan gas di WP III: Kawasan Strategis pusat energi dan bahan
bakar terpadu;
g. Pusat kesehatan di Rumah Sakit Dr.Wahidin Sudirohusodo dan Rumah
Sakit Labuang Baji.
(6) Sistem pusat kegiatan penunjang menurut fungsi kawasan sebagai pembentuk
struktur ruang dan menurut fungsi khusus ditetapkan pada rencana pengembangan
sistem pusat kegiatan Kota;
(7) Rencana pengembangan sistem pusat kegiatan penunjang menurut kegiatan sebagai
pembentuk struktur ruang dan menurut kegiatan pelayanan yang berfungsi khusus di
Kota ditetapkan dengan besaran kegiatan dan jangkauan pelayanan di bawah pusat
kegiatan utama.

Paragraf 9
Sistem Transportasi
Pasal 30
(1) Peningkatan kualitas pergerakan dilakukan antara lain dengan meningkatkan
kapasitas, daya dukung struktur, perbaikan geometrik, serta peningkatan fungsi jalan
dan pembangunan jalan bebas hambatan.
(2) Jalan dilengkapi dengan lampu jalan.
(3) Pengelolaan jalan arteri primer dilakukan melalui :
a. Jalan arteri primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah
60 (enam puluh) kilometer per jam dengan lebar badan jalan paling sedikit
11 (sebelas) meter;
b. Jalan arteri primer mempunyai kapasitas yang lebih besar dari volume lalu
lintas rata-rata;
c. Pada jalan arteri primer lalu lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh
lalu lintas ulang-alik, lalu lintas lokal, dan kegiatan lokal;
d. Jumlah jalan masuk ke jalan arteri primer dibatasi sedemikian rupa
sehingga ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b, dan c harus
tetap terpenuhi;
e. Persimpangan sebidang pada jalan arteri primer dengan pengaturan
tertentu harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf a,
b, dan c.
(4) Pembangunan jalan dan jembatan serta pengembangan dan pembangunan terminal.
(5) Pengembangan sistem angkutan umum lokal yang terintegrasi dengan sistem
angkutan umum regional.
(6) Pengembangan sistem angkutan umum massal yang berbasis jalan dan moda
transportasi lainnya.
(7) Pelebaran jalan dan perkerasan dilakukan di sepanjang bibir Danau Balang Tonjong.

Paragraf 10
Sistem Prasarana dan Sarana Wilayah
Pasal 31
(1) Pengembangan prasarana dan sarana wilayah bertujuan untuk mendukung
pencapaian fungsi pelayanan lokal dan regional secara seimbang dan menyeluruh ke
seluruh kawasan.

40
(2) Pengembangan prasarana dan sarana meliputi penyediaan sistem jaringan air bersih,
air baku, jaringan drainase, persampahan, jaringan listrik, jaringan telepon, serta
fasilitas umum dan fasilitas sosial lainnya melalui :
a. Pengembangan sistem jaringan air bersih bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan hidup masyarakat akan air bersih guna menunjang peningkatan
kesehatan;
b. Pengelolaan air baku, baik untuk keperluan irigasi maupun industri;
c. Pengembangan sistem jaringan drainase tetap memanfaatkan sistem
jaringan drainase yang sudah ada, membangun sistem jaringan drainase
baru serta memanfaatkan sungai-sungai yang ada sebagai jaringan
pembuangan akhir;
d. Pengembangan sistem pengelolaan sampah dilakukan melalui :
1) Proses pengumpulan dan pengangkutan sampah dilaksanakan
melalui sistem terpilah;
2) Peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengelola
persampahan harus dilakukan secara reguler.
e. Pengembangan jaringan listrik dilakukan melalui penambahan daya listrik
secara bertahap dan terpadu dengan pengembangan infrastruktur lainnya;
f. Pengembangan sistem pelayanan telekomunikasi melalui peningkatan
kualitas dan jangkauan pelayanan;
g. Penyediaan fasilitas sosial dan fasilitas umum di pusat-pusat pelayanan
WP dan lingkungan sesuai dengan skala pelayanannya.

Paragraf 11
Rencana Intensitas Ruang
Pasal 32
(1) Rencana intensitas ruang tingkat Kota yang dijabarkan dalam rencana intensitas
ruang di masing-masing kawasan dengan tingkat KLB dari 1 sampai 5;
(2) Rencana intensitas ruang Kota yang dimaksud ayat (1) pasal ini dijabarkan lebih lanjut
ke dalam RTRW Kawasan.

Bagian Kedua
Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota
Paragraf 1
Umum
Pasal 33
Untuk mewujudkan struktur pemanfaatan ruang wilayah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 21, pola pemanfaatan ruang wilayah dilaksanakan berdasar arahan berikut :
a. Arahan pengelolaan kawasan hijau lindung;
b. Arahan pemanfaatan ruang kawasan hijau binaan;
c. Arahan pemanfaatan ruang kawasan permukiman;
d. Arahan pemanfaatan ruang kawasan ekonomi prospektif;
e. Arahan pemanfaatan ruang kawasan pusat kegiatan;
f. Arahan pengembangan sistem prasarana wilayah;
g. Arahan pengembangan kawasan prioritas;
h. Arahan kebijakan tata guna air, tata guna udara, dan tata guna ruang bawah
tanah.

41
Paragraf 2
Arahan Pengelolaan Kawasan Hijau Lindung
Pasal 34
(1) Pemanfaatan ruang dalam pengelolaan kawasan hijau lindung di sepanjang koridor
sungai diarahkan pada kegiatan pemeliharaan habitat, tumbuhan, satwa dan plasma
nutfah, kegiatan riset dan pendidikan;
(2) Pemanfaatan ruang dalam pengelolaan kawasan hijau lindung di sepanjang pesisir
pantai utara Makassar diarahkan pada kegiatan riset dan penilitian, dan pembinaan
kelestarian lingkungan dan fungsi alami hutan bakau mangrove, serta kegiatan
kepelabuhanan dan terminal gas dan bahan bakar secara terbatas.

Paragraf 3
Arahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Hijau Binaan
Pasal 35
(1) Rencana pengembangan kawasan hijau binaan di masing-masing Kawasan Terpadu
sebagai berikut:
a. Rencana pengembangan kawasan hijau binaan di kawasan pusat Kota
menempati wilayah perencanaan seluas 146,70 Ha;
b. Rencana pengembangan kawasan hijau binaan di kawasan permukiman
terpadu menempati wilayah perencanaan seluas 378,02 Ha;
c. Rencana pengembangan kawasan hijau binaan di kawasan pelabuhan
terpadu akan menempati wilayah perencanaan seluas 20,41 Ha;
d. Rencana pengembangan kawasan hijau binaan di kawasan bandara
terpadu menempati wilayah perencanaan seluas 251,48 Ha;
e. Rencana pengembangan kawasan hijau binaan di kawasan maritim
terpadu menempati wilayah perencanaan seluas 35,34 Ha;
f. Rencana pengembangan kawasan hijau binaan di kawasan industri
terpadu menempati wilayah perencanaan seluas 96,60 Ha;
g. Rencana pengembangan kawasan hijau binaan di kawasan pergudangan
terpadu menempati wilayah perencanaan seluas 97,63 Ha;
h. Rencana pengembangan kawasan hijau binaan di kawasan riset dan
pendidikan terpadu akan menempati wilayah perencanaan seluas 73,88
Ha;
i. Rencana pengembangan kawasan hijau binaan di kawasan budaya
terpadu menempati wilayah perencanaan seluas 6,60 Ha;
j. Rencana pengembangan kawasan hijau binaan di kawasan olahraga
terpadu menempati wilayah perencanaan seluas 80,54 Ha;
k. Rencana pengembangan kawasan hijau binaan di kawasan bisnis dan
pariwisata terpadu menempati wilayah perencanaan seluas 36,20 Ha;
l. Rencana pengembangan kawasan hijau binaan di kawasan bisnis global
terpadu menempati wilayah perencanaan seluas 50,33 Ha.
(2) Peningkatan kualitas dan kuantitas kawasan hijau binaan dilakukan melalui:
a. Pemeliharaan dan pengadaan baru RTH melalui pengembangan
penggunaan tanaman keras berkanopi besar;
b. Pemeliharaan dan pengadaan hutan Kota baru di tiap wilayah Kota;
c. Pengembalian fungsi RTH yang telah terkonvensi;
d. Pengembangan jalur hijau pada sempadan sungai dan di bawah jaringan
listrik tegangan tinggi;
e. Pengembangan RTH di lingkungan yang penggunaannya dapat sekaligus
sebagai sarana olahraga, rekreasi, dan taman lingkungan perumahan;

42
f. Pengadaan RTH baru pada peremajaan di kawasan-kawasan terbangun;
g. Meningkatkan peran serta aktif masyarakat dalam pemeliharaan dan
pengembangan RTH.

Paragraf 4
Arahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Permukiman
Pasal 36
(1) Pemanfaatan ruang untuk kawasan permukiman dilakukan dengan pembangunan
perumahan melalui berbagai program yang disesuaikan dengan kondisi kawasan:
a. Pembangunan baru pada lingkungan siap bangun, baik yang merupakan
bagian dari kawasan maupun yang berdiri sendiri;
b. Pemugaran terhadap bangunan dan lingkungan perumahan bersejarah
atau berciri khas budaya tertentu;
c. Pemeliharaan lingkungan perumahan terhadap kawasan yang sudah
mantap;
d. Perbaikan lingkungan terhadap kawasan perumahan kumuh kategori
ringan;
e. Peremajaan terhadap kawasan perumahan kumuh kategori sedang dan
berat dengan membangun rumah susun murah/sederhana.
(2) Pembangunan rumah susun murah/sederhana yang dimaksud ayat (1) huruf e pasal
ini dikaitkan dengan peremajaan pada kawasan perumahan kumuh kategori sedang
dan berat, diprioritaskan pada kawasan yang terletak di sekitar jalan lingkar dalam
serta yang berada di bagian lingkar luar yang memiliki akses tinggi terhadap jaringan
jalan arteri tersebut, serta pada kawasan perumahan yang terletak berdekatan atau
berada di dalam kawasan ekonomi prospektif;
(3) Lokasi pengembangan kawasan perumahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diarahkan sebagaimana tercantum pada lampiran Peraturan Daerah ini;
(4) Urutan prioritas pembangunan rumah susun sederhana diarahkan sebagaimana
tercantum pada lampiran Peraturan Daerah ini;
(5) Pembangunan perumahan pada kawasan konservasi atau kawasan resapan air
dibatasi dengan kepadatan rendah disertai upaya mempertahankan fungsi resapan
air, khususnya kawasan di sebelah Selatan jalan lingkar luar;
(6) Perubahan fungsi pemanfaatan ruang pada kawasan-kawasan yang telah mantap dan
memiliki nilai sejarah, budaya serta arsitektur khas dikendalikan secara khusus.

Paragraf 5
Arahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Ekonomi Prospektif
Pasal 37
(1) Pengembangan kawasan perkantoran, perdagangan dan jasa wajib memperhitungkan
dan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan untuk mengatasi dampak yang timbul dari
aktifitas yang berlangsung pada kawasan tersebut;
(2) Pembangunan fasilitas perdagangan/jasa dilaksanakan dengan memenuhi kebutuhan
sarana tempat usaha yang ditata secara adil bagi semua golongan usaha termasuk
pengembangan golongan usaha kecil dalam bentuk pasar induk maupun pasar-pasar
tradisional;
(3) Pembentukan area penghubung antar bangunan dan/atau kompleks bangunan dalam
rangka meningkatkan integrasi pembangunan kawasan ekonomi prospektif dibarengi
dengan penyediaan ruang-ruang untuk golongan usaha skala kecil termasuk sektor
informal dan ruang-ruang terbuka bersifat umum;

43
(4) Pemanfaatan ruang pada kawasan campuran perumahan dan bangunan umum dapat
berbentuk pita atau superblok dengan proporsi ruang untuk perumahan berkisar 35%
hingga 65% dari total besaran ruang yang dibangun sesuai dengan kategori pola sifat
lingkungan setempat;
(5) Penataan kawasan pelabuhan dilakukan sebagai bagian integral dari penataan ruang
Kota.

Paragraf 6
Arahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Pusat Kegiatan
Pasal 38
Pemanfaatan ruang pada sistem pusat kegiatan perkantoran, perdagangan dan jasa
khususnya pada pusat bisnis dan pusat perbelanjaan diarahkan sebagai berikut :
a. Dilaksanakan berdasarkan panduan rancang Kota dan panduan pembangunan
kawasan;
b. Dapat diisi dengan kegiatan campuran antara kegiatan perdagangan dan jasa
dengan perumahan;
c. Pembangunan per persil dilakukan berdasarkan panduan rancang Kota dan
panduan pembangunan kawasan dengan memperhitungkan keseimbangan
manfaat ruang serta kewajiban penyediaan prasarana dan fasilitas umum yang
layak bagi masyarakat;
d. Dikembangkan prasarana yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki;
e. Dilaksanakan pengembangan sistem pengelolaan kawasan yang terpadu;
f. Dilaksanakan pengembangan kemitraan antara Pemerintah, swasta dan
masyarakat dalam perencanaan, pembiayaan, dan pelaksanaan pembangunan.

Paragraf 7
Arahan Pengembangan Sistem Prasarana Wilayah
Pasal 39
Pengembangan prasarana transportasi diarahkan melalui:
a. Peningkatan integrasi antara moda angkutan laut dan udara dengan moda
angkutan darat dilakukan dengan menyediakan fasilitas penghubung sehingga
diperoleh jasa layanan angkutan yang terpadu;
b. Peningkatan pelayanan angkutan umum dilakukan dengan optimalisasi
perbaikan fisik dan pembangunan prasarana baru;
c. Peningkatan kelancaran arus lalu lintas kendaraan dilakukan melalui upaya
optimalisasi pemanfaatan ruang jalan, perbaikan fisik dan pembangunan
prasarana baru serta kualitas lingkungan hidup;
d. Pembangunan fasilitas jalan kaki yang memadai untuk menumbuhkan budaya
berjalan kaki terutama untuk jarak perjalanan yang relatif pendek;
e. Peningkatan ketertiban dan keselamatan berlalu lintas dilakukan melalui
peningkatan disiplin lalu lintas bagi seluruh pengguna jalan, peningkatan
pengawasan kelayakan kendaraan, serta pembangunan fasilitas-fasilitas yang
mendukung keselamatan berlalu lintas.

Pasal 40
Pengembangan prasarana sumber air dan air bersih bagi masyarakat diarahkan melalui:
a. Peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan air bersih jaringan pipa melalui:
1) Pembangunan instalasi, produksi dan jaringan pipa distribusi yang
baru untuk memperluas pelayanan;
2) Peningkatan kemampuan jangkauan instalasi penjernihan air guna
menjamin kualitas air bersih;

44
3) Rehabilitasi seluruh jaringan pipa distribusi untuk mengurangi
kebocoran;
4) Pencegahan dan penanggulangan pencemaran sumber air baku;
5) Meningkatkan efisiensi manajemen pengelolaan air bersih.
b. Pengadaan hidran umum serta terminal air pada kawasan yang memiliki
kepadatan penduduk tinggi dan rawan air bersih namun belum terlayani jaringan
pipa air bersih;
c. Perluasan pemanfaatan air hujan sebagai sumber air bersih alternatif melalui
reservoir air alam dan buatan;
d. Perlindungan dan rehabilitasi terhadap reservoir air berupa waduk dan situ-situ
dengan memperhatikan kuantitas dan kualitas sumber-sumber air di hulu serta
kapasitas tampung dan bangunan reservoirnya;
e. Penyeimbangan kebutuhan dan penyediaan air tanah dengan membangun
pengisian air tanah pada kawasan pengguna air tanah yang banyak, baik secara
alamiah maupun melalui penggunaan teknologi;
f. Perluasan pembangunan sumur resapan dan merintis pengisian reservoir air di
bawah tanah;
g. Pengurangan penggunaan air tanah pada kawasan yang sudah terlayani
jaringan pipa distribusi air bersih;
h. Pengendalian penggunaan air tanah terutama di kawasan resapan air dan rawan
air tanah;
i. Perlindungan terhadap kawasan resapan air dari kemungkinan pencemaran dan
perusakan lingkungan hidup.

Pasal 41
Pengembangan prasarana pengendalian banjir dan drainase diarahkan melalui:
a. Peningkatan kapasitas dan daya tampung prasarana pengendalian banjir 100
tahunan serta pengembangan sistem polder pada kawasan rendah;
b. Penataan kembali kawasan sempadan sungai bebas dari bangunan dan
menjadikan sungai sebagai bagian dari halaman depan;
c. Peningkatan kapasitas saluran makro, sub makro, saluran mikro dan lokasi
penampungan air yang ada melalui pengerukan secara berkala;
d. Pembangunan dan pengembalian fungsi situ-situ dan waduk sebagai lokasi
tempat penampungan air;
e. Kerjasama antar Pemerintah dan masyarakat dalam pembangunan dan
pengelolaan prasarana/sarana pengendalian banjir dan penataan sungai
terutama dalam hal pembiayaan pembangunan dan pemanfaatan hasilnya.

Pasal 42
Pengembangan prasarana air limbah diarahkan melalui:
a. Perluasan pelayanan sistem perpipaan tertutup melalui pengembangan sistem
terpusat dan sistem modular dengan menggunakan teknologi terbaik yang dapat
diterapkan;
b. Pengembangan fungsi waduk sebagai lokasi instalasi pengolahan air limbah;
c. Pengelolaan air limbah dengan sistem daur ulang secara menyeluruh;
d. Pemanfaatan RTH sebagai instalasi pengolahan air limbah bawah tanah;
e. Pengembalian fungsi drainase sebagai saluran air hujan secara bertahap yang
disertai pengelolaan air limbah.

Pasal 43
Pengembangan prasarana persampahan diarahkan melalui:
a. Pengembangan lokasi baru bagi kegiatan TPA saniter yang melayani Kota;
b. Pengembangan teknologi transfer station untuk meningkatkan kapasitas daya
angkut sampah ke lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA);

45
c. Pengembangan penggunaan tempat pembakaran sampah untuk mengurangi
volume sampah yang diangkut ke TPA;
d. Perluasan penggunaan teknik komposting dan alternatif teknologi lainnya dalam
pengolahan sampah khususnya pada sebagian WP selatan-utara dan WP
selatan-selatan;
e. Peningkatan peran serta masyarakat dalam penanggulangan persampahan
melalui pelaksanaan konsep Recycling (daur ulang), Reused (penggunaan
kembali), dan Reduced (pengurangan sampah);
f. Perluasan penggunaan metode pemilahan sampah, baik di sumber sampah,
dalam proses pengangkutan maupun di TPA;
g. Pengembangan lokasi pengumpulan sampah B3 sebagai bagian dari sarana
pengelolaan sampah B3 serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap
pemahaman sampah B3;
h. Pencegahan lokasi-lokasi Tempat Penampungan Sementara (TPS) di pinggir
sungai untuk menghindari pencemaran sungai.

Pasal 44
Pengembangan prasarana telekomunikasi diarahkan melalui:
a. Peningkatan penggunaan sistem digital, baik dengan sistem kabel maupun
dengan gelombang mikro;
b. Pengembangan sistem jaringan sentral telepon fiber optik, jaringan kabel bawah
tanah, sistem telepon bergerak dan koridor frekuensi bagi pelanggan tetap dan
fasilitas umum;
c. Perluasan distribusi warung telekomunikasi dan telepon umum ke Kota.

Paragraf 8
Arahan Pengembangan Kawasan Prioritas
Pasal 45
(1) Kawasan prioritas di tingkat Kota ditetapkan berdasarkan besar dan strategisnya
kontribusi yang diberikan dalam pembangunan Kota untuk mewujudkan Kota sebagai
Kota maritim, niaga, pendidikan, budaya dan jasa.
(2) Kawasan prioritas di tingkat Kota ditetapkan berdasarkan kontribusi terhadap upaya
pencapaian misi pembangunan wilayah Kota yang bersangkutan.

Paragraf 9
Arahan Kebijakan Tata Guna Air, Tata Guna Laut, Tata Guna Udara, dan Tata Guna
Ruang Bawah Tanah
Pasal 46
(1) Arahan kebijakan tata guna air meliputi kebijakan terhadap tata guna air permukaan
dan tata guna air tanah.
(2) Pengembangan penatagunaan air permukaan dimaksud ayat (1) pasal ini dilakukan
melalui penetapan peruntukan air sungai, situ, waduk.
(3) Arahan pengembangan penatagunaan air permukaan dimaksud ayat (1) pasal ini
adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan kualitas dan debit air sungai dilakukan secara terpadu
mencakup DAS dengan berpedoman pada peruntukan air sungai;

46
b. Stasiun pemantauan kualitas dan debit air sungai ditempatkan di lokasi-
lokasi yang sesuai dengan peruntukannya;
c. Peningkatan kualitas volume air situ dan waduk dilakukan secara terpadu
mencakup daerah tangkapan airnya dengan berpedoman kepada
peruntukan air situ dan atau waduk.
(4) Untuk sumber air kebutuhan Kota yang berada di luar wilayah administrasi Kota,
kebijakan yang ditempuh adalah melakukan koordinasi dengan instansi dan pihak-
pihak yang terkait serta ikut berupaya memelihara kelestarian sumber-sumber air.
(5) Arahan pengembangan dan pemeliharaan yang ditempuh untuk memelihara dan
memperbaiki kondisi permukaan air tanah dangkal maupun air tanah dalam adalah:
a. Pengawasan secara ketat pada pengambilan langsung air tanah dan
terutama air tanah dalam;
b. Mengendalikan secara ketat dewatering dalam pembangunan ruang
bawah tanah;
c. Melakukan injeksi air tanah dalam zona rawan di bagian tengah Kota;
d. Mengawasi realisasi kewajiban pembuatan sumur resapan terutama di
bagian utara, selatan dan timur Kota;
e. Mencegah merembesnya limbah cair ke dalam tanah.

Pasal 47
(1) Arahan kebijakan tata guna laut meliputi konservasi kawasan-kawasan hijau lindung,
rehabilitasi, mempertahankan kualitas air laut, dan mendayagunakan pemanfaatan
penggunaan ruang lautan.
(2) Arahan pengembangan tata guna laut adalah sebagai berikut :
a. Konservasi bagi kawasan hijau lindung sesuai ekosistemnya khususnya di
wilayah pesisir pantai Makassar dan Kepulauan Spermonde;
b. Rehabilitasi untuk memulihkan tatanan ekosistem yang telah mengalami
kerusakan dan atau pencemaran khususnya wilayah pesisir pantai
Makassar dan Kepulauan Spermonde;
c. Mempertahankan kualitas air laut yang memenuhi baku mutu untuk
pelestarian sumberdaya terumbu karang beserta ekosistemnya;
d. Mendayagunakan pemanfaatan penggunaan ruang lautan secara terpadu
untuk berbagai kepentingan dengan mempertimbangkan daya dukung
lingkungannya seperti perhubungan, rekreasi dan olahraga, serta kabel
telekomunikasi bawah laut.

Pasal 48
(1) Arahan kebijakan tata guna udara meliputi pemanfaatan ruang udara untuk atmosfir
kehidupan, transportasi, telekomunikasi, transmisi listrik, bangunan tinggi, bangunan
atas tanah, bangunan atas air dan ruang pandang.
(2) Arahan pengembangan tata guna udara adalah sebagai berikut:
a. Arahan pemanfaatan ruang udara untuk atmosfir kehidupan dilakukan
dengan menyeimbangkan pengembangan hutan Kota dan program
penghijauan Kota dengan besarnya beban emisi gas hasil bakar dan atau
perubahan iklim mikro;
b. Pemanfaatan ruang udara untuk transportasi dilakukan melalui
pengamanan jalur keselamatan operasi penerbangan di sekitar bandar
udara;
c. Pemanfaatan ruang udara untuk telekomunikasi antara lain untuk frekuensi
radio, gelombang mikro dan selular;
d. Pemanfaatan ruang udara untuk transmisi listrik antara lain untuk jaringan
listrik tegangan tinggi dan jaringan distribusi listrik;
e. Pemanfaatan ruang udara untuk bangunan tinggi pelaksanaannya diatur
sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;

47
f. Pemanfaatan ruang udara untuk bangunan atas tanah antara lain untuk
jalan layang, simpan susun, kereta layang dan jembatan penyeberangan
orang;
g. Pemanfaatan ruang udara untuk bangunan atas air antara lain untuk
jembatan atas sungai, anjungan dan pondok inap;
h. Pemanfaatan ruang udara untuk ruang pandang terhadap bentang alam
atau unsur buatan yang dijadikan orientasi kawasan.

Pasal 49
(1) Arahan kebijakan tata guna ruang bawah tanah meliputi pemanfaatan ruang untuk
prasarana jaringan dan fungsi perKotaan beserta fasilitasnya secara terpadu.
(2) Pengembangan tata ruang bawah tanah meliputi pengembangan lahan di bawah areal
kepemilikan pribadi dan areal kepemilikan umum.
(3) Arahan pengembangan tata guna ruang bawah tanah di bawah lahan areal
kepemilikan pribadi dilakukan berdasarkan ketentuan bangunan dan batasan
intensitas bangunan yang pemanfaatannya terutama untuk parkir, gudang ruang
komersil dan ruang untuk kepentingan militer beserta ruang fasilitas penunjangnya.
(4) Arahan pengembangan tata ruang bawah tanah di bawah lahan kepemilikan umum
adalah sebagai berikut:
a. Pemanfaatan untuk pengembangan sistem prasarana transportasi yang
diarahkan untuk pengembangan sistem angkutan umum massal beserta
fasilitas penunjangnya;
b. Pemanfaatan untuk jalur penghubung dalam sistem transportasi
kendaraan umum dan pejalan kaki beserta fasilitas penunjangnya;
c. Pemanfaatan untuk pengembangan jaringan utilitas dan sanitasi.
(5) Pembangunan ruang bawah tanah harus memperhatikan struktur geologi, geohidrologi
dan keterpaduan antarbangunan bawah tanah maupun dengan bangunan di atasnya.
(6) Pengaturan yang lebih rinci tentang bangunan bawah tanah akan diatur tersendiri.

Bagian Empat
Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota
Paragraf 1
Umum
Pasal 50
Rencana Struktur Tata Ruang Wilayah Kota diwujudkan dengan pemanfaatan ruang di
masing-masing kawasan yang terdiri atas :
a. Kawasan hijau lindung.
b. Kawasan hijau binaan.
c. Kawasan permukiman.
d. Kawasan permukiman KDB rendah.
e. Kawasan bangunan umum.
f. Kawasan bangunan umum KDB rendah.
g. Kawasan campuran.
h. Kawasan industri dan pergudangan.
i. Sistem pusat kegiatan;
j. Sistem prasarana wilayah;
k. Kawasan prioritas.

48
Paragraf 2
Pengelolaan Kawasan Hijau Lindung
Pasal 51
(1) Kawasan hijau lindung terdapat di sepanjang koridor wilayah Sungai Tallo dan pantai
utara Makassar;
(2) Pengelolaan kawasan hijau lindung dimaksud ayat (1) pasal ini dilakukan dengan:
a. Melestarikan ekosistem alami dan hutan bakau/mangrove sebagai bagian
dari kegiatan pariwisata;
b. Penyelamatan keutuhan potensi keanekaragaman hayati, baik potensi fisik
wilayahnya (habitat), potensi sumber daya kehidupan maupun
keanekaragaman sumber genetiknya;
c. Pembatasan kegiatan fisik dan kegiatan pelayaran sekitar daerah yang
dilindungi.
(3) Pengelolaan kawasan hijau lindung hutan bakau/mangrove di bagian darat pantai
utara Makassar dilakukan dengan:
a. Pencegahan pencemaran air laut sekitar hutan bakau;
b. Pembatasan pembangunan fisik terutama yang langsung dapat
menimbulkan pencemaran air laut sekitar hutan bakau;
c. Pengendalian kegiatan reklamasi pantura terutama pada kawasan sekitar
hutan bakau;
d. Pelestarian vegetasi mangrove dengan kegiatan rehabilitasi tanaman
sekitar hutan bakau;
e. Peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan Bakau dan
pembangunan daerah penyangganya.

Paragraf 3
Pemanfaatan Ruang Kawasan Hijau Binaan
Pasal 52
Pemanfaatan ruang kawasan hijau binaan di tiap kawasan dilakukan sebagai berikut:
a. Kawasan pusat Kota meliputi:
1) Penghijauan jalur jalan dengan jenis tanaman berbunga dan
penanaman pohon pelindung sesuai dengan wilayahnya;
2) Penataan dan pemeliharaan areal pemakaman yang berada dalam
kawasan, seperti perkuburan Arab, Baroanging, Dadi, dan Maccini;
3) Penataan dan pemeliharaan taman-taman Kota seperti taman Gatot
Subroto, Safari, Segitiga BalaiKota, Segitiga Hasanuddin, Segitiga
Masjid Raya-Bawakaraeng, Segitiga Pasar Baru, Segitiga Pualam,
Segitiga Ratulangi-Kakatua, dan taman Segitiga Tugu Harimau;
4) Pengadaan lahan untuk RTH di kawasan permukiman yang padat
penduduk sebagai wadah bagi warga untuk bersosialisasi, terutama
di sekitar bantaran kanal Kota, kawasan pemukiman Lette, Bara-
Baraya, dan Abu Bakar Lambogo.
b. Kawasan permukiman terpadu meliputi:
1) Penanaman pohon pelindung yang berfungsi sebagai peneduh di
sepanjang sempadan Sungai Tallo;
2) Penataan dan pemeliharaan taman-taman Kota dengan penanaman
pohon/tanaman produktif;
3) Penataan dan pemeliharaan area pemakaman yang berada dalam
suatu kawasan, seperti Pemakaman Islam Panaikang dan Taman
Makam Pahlawan-Panaikang;

49
4) Penghijauan jalur jalan dengan jenis tanaman berbunga dan
penanaman pohon pelindung sesuai dengan wilayahnya;
5) Penanaman pohon pelindung di areal pemakaman yang berfungsi
sebagai peneduh terutama pada kawasan pekuburan Cina dan
Kristen di daerah Antang;
6) Pengadaan lahan untuk RTH di kawasan permukiman yang padat
penduduk sebagai wadah bagi warga untuk bersosialisasi.
c. Kawasan pelabuhan terpadu meliputi:
1) Penanaman pohon pelindung yang berfungsi sebagai peneduh
terutama di sepanjang sempadan dan muara Sungai Tallo;
2) Penghijauan jalur jalan dengan jenis tanaman berbunga sesuai
dengan wilayahnya terutama di sekitar kawasan pelabuhan;
3) Pengadaan lahan untuk RTH di kawasan permukiman yang padat
penduduk, terutama di sekitar Paotere;
4) Penataan dan pemeliharaan taman-taman Kota dengan penanaman
berbagai pohon/tanaman produktif.
d. Kawasan bandara terpadu meliputi:
1) Penataan RTH di sekitar kawasan operasi keselamatan
penerbangan dengan kegiatan penghijauan yang disesuaikan
dengan kebutuhan dan kepentingan kawasan;
2) Penghijauan jalur jalan dengan jenis tanaman berbunga sesuai
dengan wilayahnya;
3) Penataan dan pemeliharaan taman Kota dengan penanaman
pohon/tanaman produktif;
4) Penanaman pohon pelindung di areal pemakaman yang berfungsi
sebagai peneduh terutama pada kawasan Pekuburan Sudiang;
5) Penataan area Pemakaman Sudiang dan penanaman pohon
pelindung yang berfungsi sebagai peneduh;
6) Pengadaan RTH sebagai wadah bagi warga untuk bersosialisasi.
e. Kawasan maritim terpadu meliputi:
1) Penanaman hutan bakau di kawasan pantai dan pelestarian hutan
bakau di pesisir pantai utara Makassar;
2) Penghijauan jalur jalan dengan jenis tanaman berbunga dan
penanaman pohon pelindung sesuai dengan wilayahnya;
3) Pembangunan taman Kota dengan penanaman pohon/tanaman
produktif terutama di kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara;
4) Pengadaan lahan untuk RTH pada kawasan permukiman baru.
f. Kawasan industri terpadu meliputi:
1) Penghijauan jalur jalan dengan jenis tanaman berbunga dan
penanaman pohon pelindung sesuai dengan wilayahnya, terutama di
sepanjang Jalan Bebas hambatan Ir. Sutami;
2) Penataan dan pemeliharaan RTH pada kawasan industri Makassar;
3) Penataan dan pemeliharaan taman Kota dengan penanaman
pohon/tanaman produktif dan tanaman berbunga, terutama di Taman
”Patung Ayam” Daya;
4) Pengadaan lahan untuk RTH sebagai wadah bagi warga
bersosialisasi, terutama pada kawasan-kawasan permukiman
penduduk padat yang terdapat dalam kawasan ini.
g. Kawasan pergudangan terpadu meliputi:
1) Penghijauan jalur jalan dengan jenis tanaman berbunga dan
penanaman pohon pelindung sesuai dengan wilayahnya, terutama di
daerah sepanjang Jalan Bebas hambatan Sutami;
2) Penataan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau pada kawasan
pergudangan Makassar;

50
3) Penanaman pohon pelindung yang berfungsi sebagai peneduh
terutama disepanjang sempadan Sungai Tallo;
4) Pengadaan lahan untuk ruang terbuka hijau sebagai wadah bagi
warga bersosialisasi terutama pada wilayah-wilayah pembangunan
permukiman baru.
h. Kawasan riset dan pendidikan terpadu meliputi:
1) Penghijauan jalur jalan dengan jenis tanaman berbunga dan
penanaman pohon pelindung sesuai dengan wilayahnya, terutama di
sepanjang Jalan Urip Sumaharjo dan Perintis Kemerdekaan;
2) Penanaman pohon pelindung yang berfungsi sebagai peneduh
terutama disepanjang sempadan Sungai Tallo;
3) Penanaman pohon pelindung di areal pemakaman yang berfungsi
sebagai peneduh terutama pada kawasan pekuburan Panaikang;
4) Penataan dan pemeliharaan taman-taman Kota sebagai wadah bagi
warga bersosialisasi;
5) Pengadaan lahan untuk ruang terbuka hijau khususnnya di kawasan
permukiman yang padat penduduk.
i. Kawasan budaya terpadu meliputi:
1) Penghijauan jalur jalan dengan jenis tanaman berbunga dan
penanaman pohon pelindung sesuai dengan wilayahnya, terutama di
kawasan Taman Miniatur Sulawesi;
2) Pembangunan taman Kota dengan penanaman tanaman produktif;
3) Penanaman pohon pelindung mengikuti sempadan sungai;
4) Penataan areal pemakaman dan penanaman pohon pelindung yang
berfungsi sebagai peneduh;
5) Pengadaan lahan untuk RTH di kawasan permukiman padat
penduduk;
6) Pengadaan RTH sebagai wadah bagi warga untuk bersosialisasi.
j. Kawasan olahraga terpadu meliputi:
1) Penghijauan jalur jalan dengan jenis tanaman berbunga dan
penanaman pohon pelindung sesuai dengan wilayahnya, terutama di
kawasan pembangunan pusat olahraga Kota;
2) Pembangunan taman Kota dengan penanaman tanaman produktif;
3) Penataan kawasan hijau dan penanaman pohon pelindung yang
berfungsi sebagai peneduh terutama pada daerah sempadan Sungai
Jeneberang;
4) Pengadaan lahan untuk RTH bagi setiap kegiatan pembangunan
permukiman baru;
5) Pengadaan RTH sebagai wadah bagi warga untuk bersosialisasi.
k. Kawasan bisnis dan pariwisata terpadu meliputi:
1) Penghijauan jalur jalan dengan jenis tanaman berbunga sesuai
dengan wilayahnya;
2) Pembangunan taman Kota dengan penanaman tanaman produktif;
3) Penataan kawasan hijau dan penanaman pohon pelindung yang
berfungsi sebagai peneduh;
4) Melaksanakan refungsionalisasi taman;
5) Pengadaan lahan untuk RTH di kawasan permukiman penduduk;
6) Pengadaan RTH sebagai wadah bagi warga untuk bersosialisasi.
l. Kawasan bisnis global terpadu meliputi:
1) Penghijauan jalur jalan dengan jenis tanaman berbunga sesuai
dengan wilayahnya;
2) Pembangunan taman Kota dengan penanaman tanaman produktif;
3) Pengadaan RTH sebagai wadah bagi warga untuk bersosialisasi.

51
Paragraf 4
Pemanfaatan Ruang Kawasan Permukiman
Pasal 53
Pemanfaatan ruang kawasan permukiman di masing-masing kawasan sebagai berikut:
a. Kawasan pusat Kota meliputi:
1) Pembangunan rumah susun di kawasan permukiman kumuh berat
terutama di daerah Permukiman Lette, Baraya, dan Abubakar
Lambogo;
2) Perbaikan bangunan rumah dan lingkungan kawasan permukiman
kumuh ringan melalui Program Tribina (bina fisik, bina ekonomi, dan
bina sosial);
3) Pelestarian bentuk dan fungsi bangunan dalam rangka pemugaran;
4) Perbaikan lingkungan permukiman.
b. Kawasan permukiman terpadu meliputi:
1) Perbaikan bangunan rumah dan lingkungan di kawasan permukiman
kumuh ringan melalui Program Tribina (bina fisik, bina ekonomi, dan
bina sosial);
2) Pelestarian bentuk dan fungsi bangunan dalam rangka pemugaran;
3) Perbaikan lingkungan permukiman.
c. Kawasan pelabuhan terpadu meliputi:
1) Pembangunan rumah susun di kawasan permukiman kumuh
terutama disekitar kawasan pemukiman Paotere;
2) Perbaikan bangunan rumah dan lingkungan di kawasan permukiman
kumuh ringan melalui Program Tribina (bina fisik, bina ekonomi, dan
bina sosial);
3) Pelestarian bentuk dan fungsi bangunan dalam rangka pemugaran;
4) Perbaikan lingkungan pada permukiman padat.
d. Kawasan bandara terpadu meliputi:
1) Penataan kembali terhadap bentuk dan fungsi rumah dan lingkungan
terutama yang berada dalam KKOP Bandar Udara Internasional
Sultan Hasanuddin;
2) Perbaikan lingkungan permukiman warga;
3) Pelestarian bentuk dan fungsi bangunan dalam rangka pemugaran.
e. Kawasan maritim terpadu meliputi:
1) Pembangunan rumah sehat sederhana di kawasan permukiman
penduduk terutama kawasan permukiman nelayan di Untia;
2) Perbaikan bangunan rumah dan lingkungan di kawasan permukiman
kumuh ringan melalui Program Tribina (bina fisik, bina ekonomi, dan
bina sosial);
3) Perbaikan lingkungan permukiman warga.
f. Kawasan industri terpadu meliputi:
1) Pembangunan permukiman mengikuti konsep dan fungsi dari
pengembangan kawasan sebagai kawasan industri;
2) Perbaikan bangunan rumah dan lingkungan di kawasan permukiman
kumuh ringan melalui Program Tribina (bina fisik, bina ekonomi, dan
bina sosial);
3) Pelestarian bentuk dan fungsi bangunan dalam rangka pemugaran.
g. Kawasan pergudangan terpadu meliputi:
1) Pembangunan permukiman mengikuti konsep dan fungsi dari
pengembangan kawasan sebagai kawasan pergudangan;
2) Pembangunan perumahan mengikuti konsep rumah town house di
kawasan pergudangan;
3) Pelestarian bentuk dan fungsi bangunan dalam rangka pemugaran;
4) Perbaikan dan peremajaan lingkungan.

52
h. Kawasan riset dan pendidikan terpadu meliputi:
1) Pembangunan permukiman mengikuti konsep dan fungsi dari
pengembangan kawasan sebagai kawasan riset dan pendidikan;
2) Perbaikan bangunan rumah dan lingkungan di kawasan permukiman
kumuh ringan melalui Program Tribina (bina fisik, bina ekonomi, dan
bina sosial);
3) Pelestarian bentuk dan fungsi bangunan dalam rangka pemugaran;
4) Pelestarian dan perbaikan lingkungan permukiman padat.
i. Kawasan budaya terpadu meliputi:
1) Pembangunan permukiman mengikuti konsep dan fungsi dari
pengembangan kawasan sebagai kawasan budaya;
2) Perbaikan bangunan rumah dan lingkungan di kawasan permukiman
kumuh ringan melalui Program Tribina (bina fisik, bina ekonomi, dan
bina sosial);
3) Pelestarian bentuk dan fungsi bangunan dalam rangka pemugaran;
4) Pelestarian dan perbaikan lingkungan permukiman padat.
j. Kawasan olahraga terpadu meliputi pembangunan dan pengembangan kawasan
permukiman baru disesuaikan dengan nilai atmosfir kawasan yang ingin dicapai
yaitu sebagai pusat kawasan olahraga Kota;
k. Kawasan bisnis dan pariwisata terpadu meliputi:
1) Pembangunan permukiman mengikuti konsep dan fungsi dari
pengembangan kawasan sebagai kawasan bisnis dan pariwisata;
2) Perbaikan lingkungan permukiman warga, yang disesuaikan dengan
nilai strategis pengembangan kawasan.
l. Kawasan bisnis global terpadu meliputi pembangunan dan pengembangan
kawasan permukiman baru disesuaikan dengan nilai atmosfir kawasan yang
ingin dicapai yaitu sebagai kawasan bisnis global yang berskala internasional.

Paragraf 5
Pemanfaatan Ruang Kawasan Permukiman KDB Rendah
Pasal 54
Pemanfaatan ruang kawasan permukiman ber-KDB rendah di masing-masing kawasan
terpadu secara umum dalam bentuk pengendalian pembangunan perumahan khususnya
untuk pembangunan perumahan baru di daerah keselamatan operasi penerbangan.

Paragraf 6
Pemanfaatan Ruang Kawasan Bangunan Umum
Pasal 55
Pemanfaatan ruang kawasan bangunan umum di masing-masing kawasan sebagai berikut:
a. Kawasan pusat Kota meliputi:
1) Penataan kawasan pusat Kota;
2) Penataan kawasan perdagangan dan jasa.
b. Kawasan permukiman terpadu meliputi:
1) Penataan kawasan perdagangan dan jasa;
2) Pembangunan sentra primer baru timur sebagai pusat perdagangan,
jasa, dan perkantoran.
c. Kawasan pelabuhan terpadu meliputi pembangunan sentra primer baru utara
sebagai pusat jasa kepelabuhanan, dan bisnis perdagangan melalui kegiatan
reklamasi pantai utara Makassar.

53
d. Kawasan bandara terpadu meliputi:
1) Penataan bangunan umum di kawasan bandara;
2) Pembangunan sentra primer baru timur sebagai kawasan berikat
yang mendukung peran bandara sebagai hub international.
e. Kawasan maritim terpadu meliputi pembangunan pelabuhan perikanan
nusantara dan bangunan lainnya yang sejalan dengan nilai ruang kawasan yang
ingin dicapai.
f. Kawasan industri terpadu meliputi:
1) Penataan bangunan umum di kawasan industri;
2) Pembangunan bangunan umum yang lebih memadai sesuai
kebutuhan dan jangkauan pelayanan.
g. Kawasan pergudangan terpadu meliputi:
1) Penataan bangunan umum di kawasan pergudangan;
2) Pembangunan bangunan umum yang lebih memadai sesuai
kebutuhan dan jangkauan pelayanan.
h. Kawasan riset dan pendidikan terpadu meliputi:
1) Penataan bangunan umum pada kawasan riset dan pendidikan;
2) Penataan kawasan perdagangan dan jasa.
i. Kawasan budaya terpadu meliputi pembangunan bangunan umum yang sesuai
dengan nilai ruang rencana dan kebutuhan kawasan.
j. Kawasan olahraga terpadu meliputi pembangunan bangunan umum yang sesuai
dengan nilai ruang rencana dan kebutuhan kawasan.
k. Kawasan bisnis dan pariwisata terpadu meliputi pembangunan bangunan umum
yang sesuai dengan nilai ruang rencana dan kebutuhan kawasan.
l. Kawasan bisnis global terpadu meliputi pembangunan bangunan umum yang
sesuai dengan nilai ruang rencana dan kebutuhan kawasan.

Paragraf 7
Pemanfaatan Ruang Kawasan Bangunan Umum KDB Rendah
Pasal 56
Kawasan bangunan umum ber-KDB rendah di masing-masing Kawasan Terpadu diarahkan
pada pembatasan fungsi hanya untuk mendukung pusat Pemerintahan, olahraga dan
rekreasi di samping usaha-usaha pengendalian pelaksanaan bangunan umum.

Paragraf 8
Pemanfaatan Ruang Kawasan Campuran
Pasal 57
Kawasan campuran di masing-masing 12 Kawasan Terpadu diarahkan pada peningkatan
intensitas bangunan dan perbaikan lingkungan disertai dengan penyediaan infrastruktur
yang memadai, penataan kawasan bangunan umum campuran, serta pengembangan
kawasan campuran bangunan umum dengan perumahan secara vertikal terutama kawasan
pusat Kota.

Paragraf 9
Pemanfaatan Ruang Kawasan Industri dan Pergudangan
Pasal 58
Kawasan industri dan pergudangan memiliki persyaratan-persyaratan tertentu dalam
pembangunan dan pengembangannya, dengan arahan pemanfaatannya sebagai berikut:
(1) Pembangunan kawasan industri beserta fasilitasnya;

54
(2) Relokasi kegiatan industri menengah dan besar secara bertahap dari dalam Kota ke
wilayah kawasan industri;
(3) Penyediaan fasilitas pergudangan untuk menunjang kegiatan industri, perdagangan
dan jasa;
(4) Penataan industri yang berlokasi di dekat permukiman dengan penyediaan fasilitas
pengolahan limbah.

Paragraf 10
Pemanfaatan Ruang Sistem Pusat Kegiatan
Pasal 59
Pemanfaatan ruang untuk sistem pusat kegiatan di tiap Kawasan Terpadu adalah:
(1) Kawasan pusat Kota meliputi:
a. Pembangunan kembali fasilitas perdagangan dan perbaikan lingkungan
fasilitas perdagangan dengan menyediakan ruang bagi pengusaha
ekonomi lemah serta penataan terminal penumpang secara terpadu;
b. Pembangunan sarana dan prasarana pendukung pusat kegiatan
Pemerintahan tingkat Kota;
c. Peremajaan pasar lama (Pasar Maricayya, Pasar Abubakar Lambogo,
Pasar Hartako, Pasar Mamajang, Pasar Merpati, Pasar Pa’baeng-baeng,
Pasar Panampu, Pasar Kalimbu, Pasar Kalukuang) dan pengaturan moda
angkutan umum yang aman dan nyaman bagi masyarakat;
d. Perbaikan lingkungan pasar lama (Pasar Sentral, Pasar Terong dan Pasar
Ikan Rajawali) dengan peningkatan sarana dan prasarana yang aman dan
nyaman bagi pejalan kaki;
e. Peremajaan lingkungan Pasar Induk sebagai pusat distribusi bahan
pangan bagi masyarakat.
(2) Kawasan permukiman terpadu meliputi:
a. Pembangunan kembali fasilitas perdagangan dan perbaikan lingkungan
fasilitas perdagangan dengan menyediakan ruang bagi pengusaha
ekonomi lemah serta penataan terminal penumpang secara terpadu;
b. Pembangunan kembali fasilitas perdagangan dengan meningkatkan
sarana perparkiran serta penyediaan sarana dan prasarana yang aman
dan nyaman bagi pejalan kaki;
c. Peremajaan pasar lama (Pasar Tamalate) dan pengaturan moda angkutan
umum yang aman dan nyaman bagi masyarakat;
d. Perbaikan lingkungan pasar lama (Pasar Manggaraya dan Pasar Nipa-
nipa) dengan peningkatan sarana dan prasarana pejalan kaki;
e. Peremajaan lingkungan Pasar Induk sebagai pusat distribusi bahan
pangan bagi masyarakat.
(3) Kawasan pelabuhan terpadu meliputi:
a. Pembangunan fasilitas perdagangan dan lingkungannya dengan
menyediakan ruang bagi pengusaha ekonomi lemah serta penataan
terminal penumpang secara terpadu;
b. Pembangunan fasilitas perdagangan dengan sarana perparkiran serta
penyediaan sarana dan prasarana yang aman dan nyaman bagi pejalan
kaki;
c. Peremajaan dan perbaikan lingkungan sistem pusat kegiatan dengan
peningkatan sarana dan prasarana yang aman dan nyaman bagi pejalan
kaki.

55
(4) Kawasan bandara terpadu meliputi:
a. Pembangunan fasilitas perdagangan dan lingkungannya dengan
menyediakan ruang bagi pengusaha ekonomi lemah serta penataan
terminal penumpang secara terpadu;
b. Pembangunan fasilitas perdagangan dengan sarana perparkiran serta
penyediaan sarana dan prasarana yang aman dan nyaman bagi pejalan
kaki;
c. Peremajaan dan perbaikan lingkungan Pasar Mandai dengan peningkatan
sarana dan prasarana pendukung yang aman dan nyaman bagi
masyarakat.
d. Pembangunan Pasar Induk sebagai pusat distribusi bahan pangan bagi
masyarakat.
(5) Kawasan maritim terpadu meliputi:
a. Pembangunan fasilitas perdagangan dan lingkungannya dengan
menyediakan ruang bagi pengusaha ekonomi lemah secara terpadu;
b. Pembangunan fasilitas perdagangan dengan sarana perparkiran serta
penyediaan sarana dan prasarana yang aman dan nyaman bagi pejalan
kaki.
(6) Kawasan industri terpadu meliputi:
a. Pembangunan fasilitas perdagangan dan lingkungannya dengan
menyediakan ruang bagi pengusaha ekonomi lemah secara terpadu;
b. Pembangunan fasilitas perdagangan dengan sarana perparkiran serta
penyediaan sarana dan prasarana yang aman dan nyaman bagi pejalan
kaki.
(7) Kawasan pergudangan terpadu meliputi:
a. Pembangunan fasilitas perdagangan dan lingkungannya dengan
menyediakan ruang bagi pengusaha ekonomi lemah secara terpadu;
b. Pembangunan fasilitas perdagangan dengan sarana perparkiran serta
penyediaan sarana dan prasarana yang aman dan nyaman bagi pejalan
kaki.
(8) Kawasan riset dan pendidikan terpadu meliputi:
a. Pembangunan fasilitas perdagangan dan lingkungannya dengan
menyediakan ruang bagi pengusaha ekonomi lemah secara terpadu;
b. Pembangunan fasilitas perdagangan dengan sarana perparkiran serta
penyediaan sarana dan prasarana yang aman dan nyaman bagi pejalan
kaki;
c. Peremajaan dan perbaikan lingkungan Pasar Daya dan Pasar Daya Metro
dengan peningkatan sarana dan prasarana pendukung serta pengaturan
moda angkutan umum yang aman dan nyaman bagi masyarakat.
(9) Kawasan budaya terpadu meliputi:
a. Pembangunan fasilitas perdagangan dan lingkungannya dengan
menyediakan ruang bagi pengusaha ekonomi lemah secara terpadu;
b. Pembangunan fasilitas perdagangan dengan sarana perparkiran serta
penyediaan sarana dan prasarana yang aman dan nyaman bagi pejalan
kaki.
(10) Kawasan olahraga terpadu meliputi:
a. Pembangunan fasilitas perdagangan dan lingkungannya dengan
menyediakan ruang bagi pengusaha ekonomi lemah secara terpadu;
b. Pembangunan fasilitas perdagangan dengan peningkatan sarana
perparkiran serta penyediaan sarana dan prasarana yang aman dan
nyaman bagi pejalan kaki.

56
(11) Kawasan bisnis dan pariwisata terpadu meliputi:
a. Pembangunan fasilitas perdagangan dan lingkungannya dengan
menyediakan ruang bagi pengusaha ekonomi lemah secara terpadu;
b. Pembangunan fasilitas perdagangan dengan peningkatan sarana
perparkiran serta penyediaan sarana dan prasarana yang aman dan
nyaman bagi pejalan kaki.
(12) Kawasan bisnis global terpadu meliputi:
a. Pembangunan fasilitas perdagangan dan lingkungannya dengan
menyediakan ruang bagi pengusaha ekonomi lemah secara terpadu;
b. Pembangunan fasilitas perdagangan dengan peningkatan sarana
perparkiran serta penyediaan sarana dan prasarana yang aman dan
nyaman bagi pejalan kaki.

Paragraf 11
Pengembangan Sistem Prasarana Wilayah
Pasal 60
Pengembangan prasarana transportasi di tiap Kawasan Terpadu sebagai berikut:
a. Kawasan pusat Kota meliputi:
1) Pembatasan lalu lintas melalui penerapan kebijakan kawasan
terbatas lalu lintas serta pengaturan perparkiran;
2) Pembangunan jaringan jalan lokal yang berfungsi sebagai jalan
tembus;
3) Pembangunan fasilitas pejalan kaki termasuk penyeberangan;
4) Pembangunan fasilitas sarana dan prasarana transportasi yang
terpadu dengan sistem angkutan umum massal;
5) Penataan moda angkutan umum yang sesuai dengan hirarki jalan;
6) Penataan manajemen lalu lintas dan penyediaan kelengkapan
sarana lalu lintas pada kawasan yang padat lalu lintas terutama di
sekitar pusat-pusat keramaian.
b. Kawasan permukiman terpadu meliputi:
1) Pengembangan ruas timur-selatan, termasuk penyelesaian
persimpangan jalan arteri dan pengelolaan kawasan koridor Sungai
Tallo yang diprioritaskan;
2) Pembangunan dan peningkatan jaringan dan jalan arteri yang
mendukung sistem transportasi antar wilayah;
3) Pembatasan lalu lintas melalui penerapan kebijakan kawasan
terbatas lalu lintas serta pengaturan perparkiran;
4) Pembangunan jaringan jalan lokal yang berfungsi sebagai jalan
tembus;
5) Pembangunan fasilitas pejalan kaki;
6) Pembangunan fasilitas sarana dan prasarana transportasi yang
terpadu dengan sistem angkutan umum massal;
7) Penataan moda angkutan umum yang sesuai dengan hirarki jalan;
8) Penataan manajemen lalu lintas dan penyediaan kelengkapan
sarana lalu lintas pada kawasan yang padat lalu lintas terutama di
sekitar pusat-pusat keramaian.
c. Kawasan pelabuhan terpadu meliputi:
1) Pembangunan dan peningkatan jaringan dan jalan arteri yang
mendukung sistem transportasi antar wilayah;
2) Pembatasan lalu lintas melalui penerapan kebijakan kawasan
terbatas lalu lintas serta pengaturan perparkiran;

57
3) Pembangunan jaringan jalan lokal yang berfungsi sebagai jalan
tembus;
4) Pembangunan fasilitas pejalan kaki termasuk penyeberangan;
5) Pembangunan fasilitas sarana dan prasarana transportasi yang
terpadu dengan sistem angkutan umum massal;
6) Penataan moda angkutan umum yang sesuai dengan hirarki jalan;
7) Penataan manajemen lalu lintas dan penyediaan kelengkapan
sarana lalu lintas pada kawasan yang padat lalu lintas terutama di
sekitar pusat-pusat keramaian.
d. Kawasan bandara terpadu meliputi:
1) Pengembangan ruas timur Kota;
2) Pembangunan dan peningkatan jaringan dan jalan arteri yang
mendukung sistem transportasi antar wilayah;
3) Pembatasan lalu lintas melalui penerapan kebijakan kawasan
terbatas lalu lintas serta pengaturan perparkiran;
4) Pembangunan jaringan jalan lokal yang berfungsi sebagai jalan
tembus;
5) Pembangunan fasilitas sarana dan prasarana transportasi yang
terpadu dengan sistem angkutan umum massal;
6) Penataan moda angkutan umum yang sesuai dengan hirarki jalan;
7) Penataan manajemen lalu lintas dan penyediaan kelengkapan
sarana lalu lintas pada kawasan yang padat lalu lintas terutama di
sekitar pusat-pusat keramaian.
e. Kawasan maritim terpadu meliputi:
1) Pengembangan ruas utara Kota;
2) Pembangunan dan peningkatan jaringan dan jalan arteri yang
mendukung sistem transportasi antar wilayah;
3) Pembatasan lalu lintas melalui penerapan kebijakan kawasan
terbatas lalu lintas serta pengaturan perparkiran;
4) Pembangunan jaringan jalan lokal yang berfungsi sebagai jalan
tembus;
5) Pembangunan fasilitas pejalan kaki termasuk penyeberangan;
6) Pembangunan fasilitas sarana dan prasarana transportasi yang
terpadu dengan sistem angkutan umum massal;
7) Penataan moda angkutan umum yang sesuai dengan hirarki jalan;
8) Penataan manajemen lalu lintas dan penyediaan kelengkapan
sarana lalu lintas pada kawasan yang padat lalu lintas terutama di
sekitar pusat-pusat keramaian.
f. Kawasan industri terpadu meliputi:
1) Pengembangan ruas timur-utara Kota;
2) Pembangunan dan peningkatan jaringan dan jalan arteri yang
mendukung sistem transportasi antar wilayah;
3) Pembatasan lalu lintas melalui penerapan kebijakan kawasan
terbatas lalu lintas serta pengaturan perparkiran;
4) Pembangunan jaringan jalan lokal yang berfungsi sebagai jalan
tembus;
5) Pembangunan fasilitas sarana dan prasarana transportasi yang
terpadu dengan sistem angkutan umum massal;
6) Penataan moda angkutan umum yang sesuai dengan hirarki jalan;
7) Penataan manajemen lalu lintas dan penyediaan kelengkapan
sarana lalu lintas pada kawasan yang padat lalu lintas terutama di
sekitar pusat-pusat keramaian.

58
g. Kawasan pergudangan terpadu meliputi:
1) Pengembangan ruas timur-utara Kota;
2) Pembangunan dan peningkatan jaringan dan jalan arteri yang
mendukung sistem transportasi antar wilayah;
3) Pembatasan lalu lintas melalui penerapan kebijakan kawasan
terbatas lalu lintas serta pengaturan perparkiran;
4) Pembangunan jaringan jalan lokal yang berfungsi sebagai jalan
tembus;
5) Pembangunan fasilitas sarana dan prasarana transportasi yang
terpadu dengan sistem angkutan umum massal;
6) Penataan moda angkutan umum yang sesuai dengan hirarki jalan;
7) Penataan manajemen lalu lintas dan penyediaan kelengkapan
sarana lalu lintas pada kawasan yang padat lalu lintas terutama di
sekitar pusat-pusat keramaian.
h. Kawasan riset dan pendidikan terpadu meliputi:
1) Pengembangan ruas timur, termasuk penyelesaian persimpangan
jalan arteri dan pengelolaan kawasan koridor Sungai Tallo yang
diprioritaskan;
2) Pembangunan dan peningkatan jaringan dan jalan arteri yang
mendukung sistem transportasi antar wilayah;
3) Pembatasan lalu lintas melalui penerapan kebijakan kawasan
terbatas lalu lintas serta pengaturan perparkiran;
4) Pembangunan jaringan jalan lokal yang berfungsi sebagai jalan
tembus;
5) Pembangunan fasilitas sarana dan prasarana transportasi yang
terpadu dengan sistem angkutan umum massal;
6) Penataan moda angkutan umum yang sesuai dengan hirarki jalan;
7) Penataan manajemen lalu lintas dan penyediaan kelengkapan
sarana lalu lintas pada kawasan yang padat lalu lintas terutama di
sekitar pusat-pusat keramaian.
i. Kawasan budaya terpadu meliputi:
1) Pengembangan ruas selatan, termasuk penyelesaian persimpangan
jalan arteri dan pengelolaan kawasan koridor Sungai Jeneberang
yang diprioritaskan;
2) Pembangunan dan peningkatan jaringan dan jalan arteri yang
mendukung sistem transportasi antar wilayah;
3) Pembatasan lalu lintas melalui penerapan kebijakan kawasan
terbatas lalu lintas serta pengaturan perparkiran;
4) Pembangunan jaringan jalan lokal yang berfungsi sebagai jalan
tembus;
5) Pembangunan fasilitas pejalan kaki;
6) Pembangunan fasilitas sarana dan prasarana transportasi yang
terpadu dengan sistem angkutan umum massal;
7) Penataan moda angkutan umum yang sesuai dengan hirarki jalan;
8) Penataan manajemen lalu lintas dan penyediaan kelengkapan
sarana lalu lintas pada kawasan yang padat lalu lintas terutama di
sekitar pusat-pusat keramaian.
j. Kawasan olahraga terpadu meliputi:
1) Pengembangan ruas selatan, termasuk pengelolaan kawasan
koridor Sungai Jeneberang yang diprioritaskan;
2) Pembangunan dan peningkatan jaringan dan jalan arteri yang
mendukung sistem transportasi antar wilayah;
3) Pembatasan lalu lintas melalui penerapan kebijakan kawasan
terbatas lalu lintas serta pengaturan perparkiran;

59
4) Pembangunan jaringan jalan lokal yang berfungsi sebagai jalan
tembus;
5) Pembangunan fasilitas pejalan kaki;
6) Pembangunan fasilitas sarana dan prasarana transportasi yang
terpadu dengan sistem angkutan umum massal;
7) Penataan moda angkutan umum yang sesuai dengan hirarki jalan;
8) Penataan manajemen lalu lintas dan penyediaan kelengkapan
sarana lalu lintas pada kawasan yang padat lalu lintas terutama di
sekitar pusat-pusat keramaian.
k. Kawasan bisnis dan pariwisata terpadu meliputi:
1) Pengembangan ruas selatan Kota;
2) Pembangunan dan peningkatan jaringan dan jalan arteri yang
mendukung sistem transportasi antar wilayah;
3) Pembatasan lalu lintas melalui penerapan kebijakan kawasan
terbatas lalu lintas serta pengaturan perparkiran;
4) Pembangunan jaringan jalan lokal yang berfungsi sebagai jalan
tembus;
5) Pembangunan fasilitas pejalan kaki;
6) Pembangunan fasilitas sarana dan prasarana transportasi yang
terpadu dengan sistem angkutan umum massal;
7) Penataan moda angkutan umum yang sesuai dengan hirarki jalan;
8) Penataan manajemen lalu lintas dan penyediaan kelengkapan
sarana lalu lintas pada kawasan yang padat lalu lintas terutama di
sekitar pusat-pusat keramaian.
l. Kawasan bisnis global terpadu meliputi:
1) Pengembangan ruas barat Kota;
2) Pembangunan dan peningkatan jaringan dan jalan arteri yang
mendukung sistem transportasi antar wilayah;
3) Pembatasan lalu lintas melalui penerapan kebijakan kawasan
terbatas lalu lintas serta pengaturan perparkiran;
4) Pembangunan jaringan jalan lokal yang berfungsi sebagai jalan
tembus;
5) Pembangunan fasilitas sarana dan prasarana transportasi yang
terpadu dengan sistem angkutan umum massal;
6) Penataan moda angkutan umum yang sesuai dengan hirarki jalan;
7) Penataan manajemen lalu lintas dan penyediaan kelengkapan
sarana lalu lintas pada kawasan yang padat lalu lintas terutama di
sekitar pusat-pusat keramaian.

Pasal 61
Pemanfaatan prasarana sumber air dan air bersih di masing-masing kawasan terpadu
dalam Kota diarahkan pada:
a. Perluasan jaringan pelayanan air bersih melalui peningkatan kegiatan
pendisitribusian dan penyediaan hidran umum di lokasi yang belum terlayani air
bersih, terutama pada kawasan yang padat penduduknya;
b. Pemanfaatan waduk sebagai reservoir air;
c. Pembatasan pengambilan air tanah dangkal secara bertahap;
d. Pelarangan pengambilan air tanah dalam terutama di zona kritis air tanah;
e. Perluasan daerah resapan air melalui penambahan RTH;
f. Pencegahan terhadap peresapan air limbah ke dalam tanah dan pencemaran
sumber-sumber air.

60
Pasal 62
Pemanfaatan pengembangan prasarana dan sarana tata air dan pengendalian banjir di
masing-masing Kawasan Terpadu dalam Kota diarahkan pada:
a. Peningkatan kapasitas kali;
b. Pembangunan dan peningkatan kapasitas saluran untuk menyelesaikan
masalah genangan air;
c. Penataan bantaran sungai melalui penertiban bangunan ilegal;
d. Peningkatan kapasitas air sungai saluran penghubung dan saluran lingkungan
serta pengembangan sistem polder pada areal dataran rendah;
e. Pembangunan tangkapan air.

Pasal 63
Pengembangan prasarana dan sarana sanitasi dan persampahan di masing-masing
Kawasan Terpadu dalam Kota diarahkan dengan:
a. Pembangunan jaringan prasarana air limbah;
b. Pembangunan jaringan prasarana air limbah dan instalasi pengolahan air
limbah;
c. Pengembangan penggunaan teknologi pengolahan sampah diantaranya
penggunaan tempat pembakaran sampah yang ditempatkan pada kawasan
permukiman padat di sisi bantaran sungai yang belum sepenuhnya terlayani;
d. Pengadaan lokasi penampungan sementara pada setiap kelurahan;
e. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah, dengan
penerapan konsep 3R (Reused, Reduced, dan Recycling).

Pasal 64
Pengembangan sektor listrik dan gas di masing-masing Kawasan Terpadu dalam Kota
diarahkan pada:
a. Pengembangan jaringan transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat;
b. Pemerataan pelayanan penerangan jalan umum pada seluruh lingkungan
permukiman dan peningkatan kualitas penerangan jalan umum pada jalan
protokol, jalan penghubung, taman serta pusat-pusat aktifitas masyarakat;
c. Pengembangan pelayanan dan penambahan jaringan distribusi gas terutama di
kawasan industri, perdagangan dan jasa, serta rumah susun.

Pasal 65
Pengembangan prasarana dan sarana telekomunikasi di masing-masing kawasan terpadu
dalam Kota diarahkan pada:
a. Pengembangan sistem pelayanan telekomunikasi melalui penerapan teknologi
telekomunikasi yang memadai;
b. Penambahan dan pembangunan sentral-sentral telepon baru;
c. Perluasan pengadaan telepon umum dan peningkatan pelayanan warung
telekomunikasi di kawasan permukiman padat penduduk.

BAB VI
PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
Bagian Pertama
Pedoman Pengendalian

61
Pasal 66
(1) Pedoman pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
huruf g didasarkan atas arahan-arahan sebagaimana dimaksud pada rencana struktur
tata ruang dan pemanfaatan ruang di tingkat Kota;
(2) Pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat 1 di kawasan
hijau, kawasan permukiman, kawasan ekonomi prospektif, sistem pusat kegiatan,
sistem prasarana wilayah, kawasan prioritas dan intensitas ruang dilaksanakan
melalui kegiatan pengawasan, penertiban, dan perizinan terhadap pemanfaatan
ruang, termasuk terhadap pemanfaatan air permukaan, air bawah tanah, air laut,
udara serta pemanfaatan ruang bawah tanah.

Bagian Kedua
Pengawasan Pemanfaatan Ruang
Pasal 67
Kegiatan pengawasan pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada Pasal 66 ayat (2)
terdiri atas:
a. Pemantauan, adalah usaha atau perbuatan mengamati, mengawasi dan
memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang
tidak sesuai dengan rencana tata ruang;
b. Pelaporan adalah kegiatan memberi informasi secara objektif mengenai
pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana
tata ruang;
c. Evaluasi adalah usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang
dalam mencapai tujuan rencana tata ruang.

Bagian Ketiga
Penertiban Pemanfaatan Ruang
Pasal 68
Kegiatan penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata
ruang dilakukan dengan cara pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perUndang-
undangan yang berlaku.

Bagian Keempat
Pendayagunaan Mekanisme Perizinan
Pasal 69
Setiap pemanfaatan ruang harus mendapat izin sesuai dengan peraturan Perundang-
undangan yang berlaku.

BAB VII
KELEMBAGAAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG KOTA
Bagian Pertama
Penyusunan Rencana Tata Ruang

62
Pasal 70
(1) Penyusunan RTRWK yang menjadi kewenangan Kota dikoordinasikan oleh Bappeda
Kota;
(2) Hasil penyusunan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini
dituangkan dalam bentuk rancangan Peraturan Daerah yang terkoordinasi antara
Bagian Hukum dengan Bappeda Kota.

Pasal 71
(1) Penyusunan RDTR Kawasan dikoordinasikan oleh Bappeda Kota.
(2) Hasil penyusunan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini
dituangkan dalam bentuk rancangan Peraturan Daerah yang terkoordinasi antara
Bagian Hukum dengan Bappeda Kota.

Pasal 72
(1) Penyusunan rencana teknik ruang di wilayah Kota dilakukan oleh unit kerja
Pemerintah Kota yang secara fungsional berwenang dan/atau dapat dilakukan
bekerjasama dengan badan usaha yang berkedudukan dan/atau mempunysi hak atas
ruang di wilayah atau kawasan yang direncanakan.
(2) Hasil penyusunan rencana teknik ruang sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini
dibahas dalam forum rapat BKPRD Kota sebelum ditetapkan dalam bentuk peraturan
Walikota.
(3) Penyusunan rancangan peraturan Walikota yang dimaksud ayat (2) pasal ini disusun
secara terkoordinasi antara bagian hukum dengan unit kerja fungsional yang
bersangkutan.

Bagian Kedua
Pemanfaatan Ruang
Pasal 73
Penyusunan pengaturan persyaratan teknis dan kebijakan insentif dan disinsentif bagi
pemanfaatan ruang dilakukan oleh unit kerja teknis yang berwenang dan dikoordinasikan
dengan unit kerja terkait.

Pasal 74
(1) Penjabaran RTRW Kota ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)
Daerah dan Rencana Kerja Pembangunan Daerah beserta pembiayaannya, dilakukan
oleh Bappeda Kota.
(2) Penjabaran RDTR Kawasan di wilayah Kota ke dalam RPJM daerah dan rencana
kerja tahunan pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya, dilakukan oleh instansi
yang berwenang.
(3) Penjabaran rencana teknik ruang kedalam rencana kerja tahunan pemanfaatan ruang
beserta pembiayaannya, dilakukan oleh instansi yang berwenang atau badan usaha
yang melaksanakan penyusunan rencana teknik ruang.

Pasal 75
Sinkronisasi rencana kegiatan pemanfaatan ruang serta pembiayaannya dengan kegiatan
sektoral dan daerah dilakukan dalam musyawarah rencana pembangunan daerah provinsi
dan Kota.

Pasal 76
Pelaksanaan pemanfaatan ruang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah,
masyarakat dan/atau dunia usaha.

63
Bagian Ketiga
Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Pasal 77
(1) Penyelenggaraan perizinan pemanfaatan ruang dilaksanakan oleh Instansi,
Badan/Dinas sesuai dengan kewenangannya dibidang perizinan.
(2) Pemberian izin pemanfaatan ruang diterbitkan oleh Walikota dengan mengacu pada
rencana tata ruang yarig telah ditetapkan.

Pasal 78
(1) Pelaporan dalam rangka pengawasan RTRW Kota, RDTR Kawasan dan Rencana
Teknik Ruang di wilayah Kota, dilakukan oleh Bappeda Kota dan dibahas dalam forum
BKPRD Kota.
(2) Pemantauan pengawasan pemanfaatan ruang dalam wilayah Kota, dilakukan oleh
dinas teknis fungsional terkait.
(3) Evaluasi RTRW Kota dilakukan oleh Bappeda Kota.

Pasal 79
(1) Penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
yang telah ditetapkan dilakukan melalui pemeriksaan, penyidikan dan penindakan.
(2) Penertiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dilakukan oleh Polisi
Pamong Praja dan Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil secara terpadu sesuai tugas
dan kewenangannya berdasar peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 80
(1) Pemberi izin pemanfaatan ruang wajib melaporkan izin yang telah dikeluarkannya
kepada Ketua BKPRD Kota setiap triwulan, termasuk masalah yang timbul terkait
dengan pemanfaatan ruang.
(2) Laporan masalah pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini
dilengkapi dengan data secukupnya.
(3) BKPRD Kota menyelesaikan memfasilitasi penyelesaian permasalahan pengendalian
pemanfaatan ruang.

BAB VIII
HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN SERTA MASYARAKAT
Bagian Pertama
Hak Pertama

Pasal 81
Dalam kegiatan penataan ruang wilayah, masyarakat berhak berperan serta dalam proses
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang,
melalui wawancara langsung, tanggapan di media massa, interaktif di radio, seminar dan
diskusi publik.

Pasal 82
(1) Masyarakat berhak mengetahui secara terbuka RTRW Kota, Rencana Detail Tata
Ruang Kota, Rencana Teknik Ruang Kota, melalui pengumuman atau penyebarluasan
oleh Pemerintah Daerah pada tempat-tempat yang memungkinkan masyarakat
mengetahui dengan mudah;

64
(2) Pengumuman atau penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini
diketahui masyarakat dari penempelan/pemasangan peta RTRW Kota yang
bersangkutan pada tempat-tempat umum, kantor kelurahan dan kantor-kantor yang
secara fungsional menangani rencana tata ruang tersebut.

Pasal 83
(1) Dalam kegiatan penataan ruang wilayah, masyarakat berhak menikmati manfaat
ruang dan/atau pertambahan nilai ruang sebagai akibat dari penataan ruang yang
pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan Perundang-undangan
atau kaidah yang berlaku;
(2) Manfaat ruang yang dapat dinikmati masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
pasal ini dapat berupa manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan, dilaksanakan atas
dasar pemilikan, penguasaan, atau pemberian hak tertentu berdasarkan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 84
(1) Masyarakat berhak memperoleh ganti rugi yang layak atas kondisi yang dialaminya
sebagai akibat dari pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan RTRW.
(2) Hak memperoleh penggantian yang layak atas kerugian terhadap perubahan status
tanah dan ruang udara semula yang dimiliki oleh masyarakat sebagai akibat
pelaksanaan RTRW Kota sebagaimana dimaksudkan ayat (1) pasal ini dilakukan
dengan cara musyawarah antara pihak yang berkepentingan dan masyarakat;
(3) Dalam hal tidak tercapai kesepakatan mengenai penggantian yang layak
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pasal ini maka penyelesaiannya dilakukan
sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Bagian Kedua
Kewajiban Masyarakat
Pasal 85
(1) Dalam kegiatan penataan ruang wilayah, masyarakat wajib :
a. Berperan serta dalam memelihara kualitas ruang;
b. Berlaku tertib dalam keikutsertaannya dalam proses perencanaan tata
ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang sesuai
peraturan Perundang-undangan yang berlaku;
c. Menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan.
(2) Dalam pelaksanaan ayat (1) pasal ini tata caranya adalah :
a. Pelaksanaan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang dilaksanakan
dengan mematuhi dan menerapkan kriteria, kaidah, baku mutu, dan
aturan-aturan penataan ruang yang ditetapkan dengan peraturan
Perundang-undangan;
b. Peraturan dan kaidah pemanfaatan ruang yang dipraktekkan masyarakat
secara turun temurun dapat diterapkan sepanjang memperhatikan faktor-
faktor daya dukung lingkungan hidup, estetika lingkungan, lokasi dan
struktur pemanfaatan ruang serta dapat menjamin pemanfaatan ruang
yang serasi, selaras dan seimbang.

65
Bagian Ketiga
Peran Serta Masyarakat
Pasal 86
Peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang wilayah meliputi:
a. Pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan wilayah;
b. Pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah pembangunan, termasuk
bantuan untuk memperjelas hak atas ruang di wilayah dan termasuk pula
pelaksanaan tata ruang kawasan;
c. Bantuan untuk merumuskan perencanaan tata ruang Kota;
d. Pemberian informasi, saran, pertimbangan atau pendapat dalam penyusunan
strategi dan struktur pemanfaatan ruang Kota;
e. Pengajuan keberatan terhadap rancangan RTRW Kota;
f. Kerjasama dalam riset dan pengembangan dengan/tanpa bantuan tenaga ahli.

Pasal 87
Peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang meliputi:
a. Pemanfaatan ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara berdasarkan
peraturan Perundang-undangan, agama, adat, atau kebiasaan yang berlaku;
b. Bantuan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan pelaksanaan
pemanfaatan ruang wilayah dan kawasan yang mencakup lebih dari satu
Kawasan Terpadu;
c. Penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan RTRW Kota dan rencana
tata ruang kawasan yang meliputi lebih dari satu Kawasan Terpadu;
d. Perubahan atau konversi pemanfaatan ruang sesuai dengan RTRW Kota yang
telah ditetapkan;
e. Bantuan teknik dan pengelolaan dalam pemanfaatan ruang; dan/atau
f. Kegiatan menjaga, memelihara, dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan
hidup.

Pasal 88
Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang meliputi:
a. Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang skala Kota, kecamatan, dan
kawasan, termasuk pemberian informasi atau laporan pelaksanaan pemanfaatan
ruang kawasan dimaksud dan/atau sumberdaya tanah, air, udara dan
sumberdaya lainnya;
b. Bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan penertiban
pemanfaatan ruang.

Bagian Keempat
Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang.
Pasal 89
Tata cara peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang dilaksanakan
dengan pemberian saran, pertimbangan, pendapat, tanggapan, keberatan, masukan
terhadap informasi tentang arah pengembangan, potensi dan masalah yang dilakukan
secara lisan atau tertulis pada Walikota.

Pasal 90
Tata cara peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang dilakukan sesuai Peraturan
Perundang-undangan yang berlaku yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Walikota.

66
Pasal 91
Tata cara peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang disampaikan
secara lisan atau tertulis kepada Walikota dan pejabat yang berwenang.

Bagian Kelima
Pemberdayaan Peran Serta Masyarakat
Pasal 92
(1) Pemerintah menyediakan informasi penataan ruang dan rencana tata ruang secara
mudah dan cepat melalui media cetak, media elektronik, atau forum pertemuan;
(2) Masyarakat dapat memprakarsai upaya peningkatan tata laksana hak dan kewajiban
masyarakat dalam penataan ruang melalui kegiatan diskusi, bimbingan, pendidikan
atau pelatihan untuk tercapainya tujuan penataan ruang;
(3) Untuk terlaksananya upaya peningkatan tata laksana hak dan kewajiban sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) pasal ini, Pemerintah menyelenggarakan pemberdayaan
untuk menumbuhkan serta mengembangkan kesadaran, memberdayakan dan
meningkatkan tanggung jawab masyarakat dalam penataan ruang;
(4) Pemberdayaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) pasal ini dilakukan oleh
instansi yang berwenang dengan cara:
a. Memberikan dan menyelenggarakan diskusi dan tukar pendapat,
dorongan, pengayoman, pelayanan, bantuan teknik, bantuan hukum,
pendidikan dan atau pelatihan;
b. Menyebarluaskan semua informasi mengenai proses penataan ruang
kepada masyarakat secara terbuka;
c. Mengumumkan dan menyebarluaskan rencana tata ruang kepada
masyarakat;
d. Menghormati hak yang dimiliki masyarakat;
e. Memberikan penggantian yang layak kepada masyarakat atas kondisi
yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang
sesuai dengan rencana tata ruang;
f. Melindungi hak masyarakat untuk berperan serta dalam proses
perencanaan tata ruang, menikmati manfaat ruang yang berkualitas dan
pertambahan nilai ruang akibat rencana tata ruang yang ditetapkan serta
dalam menaati rencana tata ruang;
g. Memperhatikan dan menindaklanjuti saran, usul, atau keberatan dari
masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan ruang.

BAB IX
SANKSI
Pasal 93
Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Daerah ini dapat dikenakan
sanksi berupa sanksi administrasi, sanksi perdata, maupun sanksi pidana.

BAB X
KETENTUAN PIDANA
Pasal 94

67
(1) Barangsiapa melakukan tindak pidana pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan
yang dimaksud dalam Peraturan Daerah ini diancam pidana kurungan paling lama 3
(tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.
(3) Selain tindak pidana pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tindak pidana
atas pelanggaran pemanfaatan ruang yang mengakibatkan perusakan dan
pencemaran lingkungan serta kepentingan umum lainnya dikenakan ancaman pidana
sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.

BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 95
Apabila pemanfaatan ruang yang sudah ada sebelum Peraturan Daerah ini diundangkan
tidak sesuai dengan rencana pemanfaatan ruang, maka :
a. Bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang sudah memiliki izin dan dalam
pelaksanaan tidak mengubah perwujudan struktur/pola pemanfaatan ruang,
maka kegiatan tersebut dapat diteruskan;
b. Bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang sudah memiliki izin dan dalam
pelaksanaan mengubah perwujudan struktur/pola pemanfaatan ruang, maka
kegiatan tersebut diatur sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
c. Bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang tidak memiliki izin, namun dalam
pelaksanaannya tidak mengubah perwujudan struktur/pola pemanfaatan ruang,
maka kegiatan tersebut dapat diizinkan melalui pembayaran retribusi dan denda
sesuai dengan peraturan Perundang-undangan.
d. Bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang tidak memiliki izin, namun dalam
pelaksanaannya mengubah perwujudan struktur/pola pemanfaatan ruang, maka
kegiatan tersebut harus dibongkar atau dihentikan.

BAB XII
PENYIDIKAN
Pasal 96
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang
khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran
Peraturan Daerah ini;
(2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini adalah :
a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan
berkenaan dengan pelanggaran pidana dalam Peraturan Daerah ini, agar
keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;
b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi
atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan
dengan adanya pelanggaran;
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan
sehubungan dengan pelanggaran;
d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain
berkenaan dengan adanya tindakan pelanggaran;

68
e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan,
pencatatan dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan
bukti tersebut;
f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan
terhadap pelanggaran.

BAB XIII
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 97
RTRW Kota berfungsi sebagai matra ruang dari pola pembangunan daerah untuk
penyusunan rencana pembangunan daerah.

Pasal 98
RTRW Kota digunakan sebagai pedoman bagi:
a. Penyusunan RDTR Wilayah Kota pada skala 1:5.000 dan RTR Kota pada skala
1:1.000, dengan ketentuan;
1) RDTR Wilayah Kota ditetapkan dengan Peraturan Walikota dengan
persetujuan DPRD;
2) RTR Kota ditetapkan oleh Walikota.
b. Penyusunan ketentuan pemanfaatan:
1) Ketentuan pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada huruf a pasal
ini memuat kriteria teknis yang digunakan sebagai pedoman dalam
penjabaran RTRW baik tingkat Kota maupun kecamatan ke dalam
rencana yang lebih rinci;
2) Ketentuan pemanfaatan akan diatur dalam suatu peraturan daerah
tersendiri.
c. Perumusan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang di wilayah Kota dengan
ketentuan bahwa penataan ruang lautan, ruang udara, dan ruang bawah tanah
akan diatur lebih lanjut sesuai Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;
d. Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar
wilayah Kota serta keserasian antar sektor;
e. Pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan/atau
masyarakat.

BAB XIV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 99
Dengan diberlakukannya peraturan daerah ini, maka :
a. Peraturan Daerah Kota Nomor 6 Tahun 2006 tentang RTRW Kota Tahun
2005 sampai 2015 dan peraturan pelaksanaan lainnya yang merupakan
penjabaran dari peraturan daerah sebagaimana tersebut pada huruf a pada
pasal ini, masih tetap berlaku untuk Kota sampai terbentuknya Peraturan
Daerah Kota tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota.
b. Hal-hal yang merupakan pelaksanaan Peraturan Daerah ini ditetapkan oleh
Walikota.

69
Pasal 100
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam peraturan daerah ini sepanjang mengenai teknis
pelaksanaannya diatur lebih lanjut oleh Walikota.

Pasal 101
(1) Peraturan daerah ini dapat disebut Rancangan Peraturan Daerah tentang RTRW Kota
2030.
(2) Peraturan daerah ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan. Agar setiap orang
dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan peraturan daerah ini dengan
penempatannya dalam lembaran daerah Kota.

Ditetapkan di Makassar
pada tanggal 23 Maret 2010
WALIKOTA

Diundangkan di Makassar
pada tanggal 23 Maret 2010
Plt. SEKRETARIS DAERAH KOTA

70