P. 1
Laporan Akhir_Bab 5_Kajian Lingkungan WKM

Laporan Akhir_Bab 5_Kajian Lingkungan WKM

|Views: 5,022|Likes:
Dipublikasikan oleh makassar2030

More info:

Published by: makassar2030 on May 11, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/21/2013

pdf

text

original

Dari aspek sumber daya alam, Makassar tidak potensial untuk daerah tambang, karena secara geologi daerah ini

tidak ditemukan titik/sumber tambang. Untuk wilayah darat sebagian masyarakat memanfaatkan pasir sebagai

bahan bangunan. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pengerukan masyarakat di sekitar Maccini Sombala. Pasir

tersebut merupakan akumulasi sedimen dari Dam bili-bili.

Dari sektor maritim, Kota Makassar cukup potensial untuk peningkatan sumber daya alam. Keanekaraman hayati

yang dimiliki cukup menarik perhatian wisatawan, selain itu Makassar juga memiliki gugusan pulau-pulau yang

masing-masing memiliki karakter eksotik yang berbeda-beda. Sebagai contoh pulau Kodingareng Keke, pulau ini

memiliki nilai estetika Coral reefs dengan formasi yang membentuk lereng vertikal.

V - 10

Makassar saat ini telah menjadi kota pengekspor ikan jenis pelagis dan ikan karang untuk kawasan Negara-negara

Asia (Singapura, Hongkong, Cina, dan Filipina) dan bahkan ke benua Amerika (Amerika serikat). Selain itu terdapat

pula jenis karang keras yang di budidayakan untuk penghias akuarium. Jenis Karang ini juga telah berhasil di ekspor

ke luar negeri. Dengan keadaan seperti ini, tentunya dapat meningkatkan kualitas ekonomi daerah. Selain itu Kota

Makassar dan keanekaragaman hayati yang dimilikinya dapat terekspos secara luas. Keadaan seperti ini sangat

menguntungkan terhadap perkembangan wilayah makassar pada umumnya, karena akan semakin banyak

wisatawan atau tourism yang akan berkunjung dan menarik investor-investor baru.

1. Budidaya Perikanan dan Pantai

Makassar berbatasan langsung dengan Selat Makassar, mempunyai garis pantai sepanjang 32 Km serta

mencakup 12 pulau dengan luas keseluruhan 178.5 Ha atau 1,1% dari luas wilayah daratan. Dengan kondisi

geografis yang demikian, maka prospek pengembangan wilayah pesisir dan kepulauan dengan melakukan

eksplorasi terhadap potensi kelautan dan perikanan, harusnya sangat kondusif bagi peningkatan investasi.

Perkembangan sektor perikanan di Kota Makassar tidak hanya terpusat pada potensi perikanan laut tetapi juga

perikanan darat (tambak).

Berdasarkan peta kawasan tambak kota (Gambar 5-24), menunjukkan bahwa luas areal kawasan penggunaan

lahan tambak masih tergolong besar yakni sebesar 2354,183 ha, yang terkonsentrasi di beberapa kecamatan

yang letaknya berdekatan dengan daerah aliran sungai yakni Kec. Biringkanaya, Tamalanrea, Tallo, dan

Tamalatea.

Gambar 5-6 Peta Kawasan Tambak Kota Makassar, 2008

V - 11

Tabel 5-5 Produksi Perikanan Menurut Kecamatan (dalam ton)

Kecamatan

Perikanan
Laut

Perikanan
Darat

Jumlah
Total

MARISO

1227

-

1227

MAMAJANG

-

38.4

38.4

TAMALATE

2696

-

2696

RAPPOCINI

-

-

-

MAKASSAR

-

-

-

UJUNG PANDANG

-

-

-

WAJO

-

-

-

BONTOALA

-

-

-

UJUNG TANAH

6709

-

6709

TALLO

2784

74.9

2858.9

PANAKKUKANG

-

-

-

MANGGALA

-

59.1

59.1

BIRINGKANAYA

1725

149.8

1874.8

TAMALANREA

409

190.1

599.1

Sumber: BPS, 2008

Tabel 5-6 Produksi Perikanan dari Tahun 2006-2008 (dalam ton)

Mengacu pada data BPS 2008 (tabel 5-6) menunjukkan bahwa produksi perikanan tiap kecamatan bervariasi.

Hal ini dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik masing-masing kecamatan serta letak kecamatan dari laut

berbeda-beda. Nilai produksi ikan terbesar dimiliki oleh Kecamatan Tallo sebesar 2858.9 ton dan terendah di

Kecamatan Mamajang sebesar 38.4 ton. Selanjutnya dari tahun 2006 hingga tahun 2008 (Tabel 5-6), produksi

perikanan laut dan darat berfluktuatif bahkan cenderung menurun. Hal ini disebabkan oleh sarana dan prasarana

yang kurang memadai, seperti alat tangkap nelayan yang cenderung masih Manual serta kurangnya keterlibatan

pihak Engineer dalam bidang tersebut. Yakni minimnya kegiatan penyuluhan terhadap petani tambak mengenai

cara peningkatan jumlah produksi ikan hasil budidaya. Selain itu pula, adanya penurunan kualitas air laut yang

mempengaruhi jumlah tangkapan nelayan dan menurunnya kualitas tanah tambak. Penurunan produktivitas

tambak lebih dipengaruhi oleh pesatnya aktivitas industri di kecamatan Biringkanaya, desakan pemukiman

penduduk di beberapa kecamatan yang merubah fungsi kawasan tambak dan peningkatan pencemaran

(air,udara dan tanah) kawasan tambak.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->