Anda di halaman 1dari 12

KARAKTRISTIK, MODEL DAN PENDEKATAN EVALUASI

PEMBELAJARAN
DONSEN PENGAMPU : Dr. SONEDI, M.Pd

Oleh :

YE’ HAERI NAJIB

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

STKIP HAMZANWADI SELONG


2011
KARAKTRISTIK, MODEL DAN PENDEKATAN EVALUASI
PEMBELAJARAN

A. Karaktristik Instrumen Evaluasi


Diadakannya evaluasi diharapkan guru mendapatkan gambaran
mengenai kefektifan pembelajaran dengan melihat berbagai perkembangan
hasil belajar peserta didik, baik yang menyangkut domain kognitif, efektif
maupun psikomotor.
Untuk melakukan evaluasi dibutuhkan suatu instrumen yang dapat
digunakan sebagai alat ukur untuk melihat perkembangan hasil belajar peserta
didik baik itu dalam bentuk tes maupun non-tes. Agar hasil evaluasi benar-
benar dapat menunjukkan berkembang atau tidaknya hasil belajar peserta
didik maka dibutuhkan suatu instrumen atau alat ukur yang baik sehingga
seorang guru diharapkan benar-benar mampu memilih dan mamahami
instrumen yang tepat yang akan dijadikannya sebagai alat ukur untuk melihat
perkembangan peserta didiknya.
Instrumen yang baik adalah instrument yang memenuhi syarat-syarat
atau kaedah-kaedah tertentu, dapat memberikan data yang akurat sesuai
dengan fungsinya, dan hanya mengukur sampel prilaku tertentu. Adapun
karaktristik instrumen evaluasi yang baik adalah valid, reliable, relevan,
representatif, praktis, deskriminatif, spesifik, dan proporsional.
1. Valid, artinya instrumen yang digunakan betul-betul dapat mengukur apa
yang hendak diukur secara tepat.
2. Reliabel (handal), artinya instrumen yang digunakan tersebut mempunyai
hasil yang taat asas (consistent).
3. Relevan, artinya instrumen yang digunakan harus sesuai dengan standar
kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang telah ditetapkan.
4. Representatif, artinya materi instrumen harus betul-betul mewakili seluruh
materi yang disampaikan.
5. Praktis, artinya mudah digunakan.
6. Deskriminatif, artinya instrumen itu harus disusun sedemikian rupa,
sehingga dapat menunjukkan perbedaan-perbedaan yang sekecil apapun.
7. Spesifik, artinya suatu instrumen disusun dan digunakan khusus untuk
objek yang dievaluasi.
8. Proporsional, artinya suatu instrumen harus memiliki tingkat kesulitan
yang proporsional antara sulit, sedang, dan mudah.
Dalam buku Succesful Teaching karangan J. Mursell yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh J. Mursell dan S. Nasution,
dikemukakan bahwa ciri-ciri evaluasi yang baik adalah evaluasi dan hasil
langsung, evaluasi dan transfer, dan evaluasi langsung dari proses belajar.
1. Evaluasi dan Hasil Langsung
Evaluasi diadakan pada proses pembelajaran sedang berlangsung
untuk melihat keefektifan dan kesesuaian strategi pembelajaran dengan
tujuan yang ingin dicapai dan evaluasi sesudah proses pembelajaran
selesai untuk melihat hasil atau prestasi pembelajaran yang diperoleh
peserta didik.
2. Evaluasi dan Transfer
Suatu evaluasi yang menyatakan apabila suatu hasil belajar tidak
dapat ditransfer dan hanya dapat digunakan dalam suatu situasi tertentu
saja, maka hasil belajar itu disebut hasil belajar palsu. Sebaliknya jika
suatu hasil belajar dapat ditransfer kepada penggunaan yang aktual, maka
hasil belajar itu disebut hasil belajar autentik dan kemungkinan dapat
ditransfer.
3. Evaluasi Langsung dari Proses Belajar
Disamping harus mengetahui hasil belajar tetapi juga guru harus
menilai proses belajar. Hal ini dimaksudkan agar proses belajar dapat
diorganisasi sedemikian rupa, sehingga dapat mencapai hasil yang
optimal.

B. Model-Model Evaluasi
1. Model Tyler
Model Tyler yang sering disebut dengan model black box
dikembangkan oleh Tyler dalam buku Besic Principles of Curriculum and
Instruction. Model ini dibangun atas dua dasar pemikiran yaitu :
 Evaluasi ditujukan pada tingkah laku peserta didik.
 Evaluasi harus dilakukan pada tingkah laku awal peserta didik sebelum
melaksanakan kegiatan pembelajaran dan sesudah melaksanakan
kegiatan pembelajaran (hasil).
Dalam model ini tidak perlu memperhatikan apa yang terjadi dalam
proses. Manurut Tyler ada tiga langkah pokok yang harus dilakukan, yaitu
menentukan tujuan pembelajaran yang akan dievaluasi, menentukan
situasi di mana peserta didik memperoleh kesempatan untuk menunjukkan
tingkah laku yang berhubungan dengan tujuan, dan menentukan alat
evaluasi yang akan dipergunakan untuk mengukur tingkah laku peserta
didik.
2. Model yang Berorientasi pada Tujuan
Dalam model evaluasi ini menggunakan tujuan pembelajaran umum
dan tujuan pembelajaran khusus sebagai kriteria untuk menentukan
keberhasilan. Dalam hal ini evaluasi diartikan sebagai proses pengukuran
untuk mengetahui sejauhmana tujuan pembelajaran telah tercapai. Model
ini dianggap lebih praktis karena menentukan hasil yang diinginkan
dengan rumusan yang dapat diukur. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa terdapat hubungan yang logis antara kegiatan, hasil dan presedur
pengukuran hasil. Kelebihan model ini terletak pada hubungan antar
tujuan dengan kegiatan dan menekankan pada peserta didik sebagai aspek
penting dalam program pembelajaran. Kekurangannya adalah
memungkinkan terjadinya proses evaluasi melebihi konsekuensi yang
tidak diharapkan.

3. Model Pengukuran
Model pengukuran (measurement model) banyak mengemukakan
pemikiran-pemikiran dari R. Thorndike dan R.L.Ebel. sesuai dengan
namanya, model ini sangat menitikberatkan pada kegiatan pengukuran.
Pengukuran digunakan untuk menentukan kuantitasi suatu sifat (atribute)
tertentu yang dimiliki oleh objek, orang maupun pristiwa, dalam bentuk
unit ukuran tertentu. Dalam bidang pendidikan, model ini telah diterapkan
untuk mengungukap perbedaan-perbedaan individual maupun kelompok
dalam hal kemampuan, minat, dan sikap. Objek evaluasi dalam model ini
adalah tingkah laku peserta didik, mencakup hasil belajar (kognitif),
pembawaan, sikap, minat, bakat, dan juga aspek-askpek kepribadian
peserta didik. Instrumen yang digunakan pada umumnya adalah tes tertulis
dalam bentuk tes objektif, yang cendrung dibakukan. Oleh sebab itu,
dalam menganalisis soal sangat memperhatikan difficulty index dan index
of discrimination. Model ini menggunakan pendekatan Penilaian Acual
Norma.
4. Model Kesesuaian (Ralph W.Tyler, John B.Carrol, and Lee J.Cronbach)
Menurut model ini, evaluasi adalah suatu kegiatan untuk melihat
kesesuaian (congruence) antara tujuan dengan hasil belajar yang telah
dicapai. Hasil evaluasi digunakan untuk menyempurnakan system
bimbingan peserta didik dan untuk memberikan informasi kepada pihak-
pihak yang memerlukan. Objek evaluasi adalah tingkah laku peserta didik,
yaitu perubahan tingkah laku yang diinginkan pada akhir kegiatan
pendidikan, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, maupun
psikomotor.
5. Educational System Evalu Ation Model (Daniel L. Stufflebeam, Michael
Scriven, Robert E. Stake, dan Malcolm M. Provus)
Menurut model ini, evaluasi berarti membandingkan performance
dari berbagai dimensi (tidak hanya dimensi hasil saja) dengan sejumlah
criterion, baik yang bersifat mutlak/intern maupun relatif/ekstern. Model
ini menekankan system sebagai suatu keseluruhan ini dan merupakan
penggabungan dari bebarapa model, sehingga objek evaluasinya pun
diambil dari beberapa model, yaitu :
a. Model countenance dari Stake, yang meliputi keadaan sebelum
kegiatan berlangsung (antecedents), kegiatan yang terjadi dan saling
memengaruhi (transactions), hasil yang diperoleh (outcomes).
b. Model CIPP dan CDPP dari Stufflebeam. CIPP yaitu Cintext, Input,
Process, dan Product. CDPP yaitu context, design, precess, product.
c. Model Scriven yang meliputi instrumental evaluation and
consequential evaluation.
d. Model Provus yang meliputi design, operation program, interim
products, dan terminal products.
e. Model EPIC (evaluative innovative curriculum). Model ini
mengevaluasi : (1) prilaku, yang meliputi kognitif, afektif, dan
psikomotor, (2) pembelajaran, yang meliputi organisasi, isi, metode,
fasilitas dan biaya, (3) Institusi, yang meliputi peserta didik, guru,
administrator, spesialis pendidikan, keluarga dan masyarakat.
f. Model CEMREL (central Midwestern regional educational
laboratory). Model ini dikembangakan oleh Howard Russell, dan Louis
Smith dengan menekankan pada tiga segi, yaitu (1) focus evaluasi
yang menekankan pada peserta didik, mediator dalam material, (2)
peranan evaluasi adalah untuk evaluasi kegiatan yang sedang berjalan
dan evaluasi pada akhir kegiatan, (3) data evaluasi bersumber dari
pengukuran skala, jawaban angket, dan observasi.
g. Model Atkonson, yang mengemukakan tiga domain tujuan, yaitu (1)
struktur, yang mencakup perencanaan sekolah dan organisasi sekolah,
(2) proses, yang mencakup proses pembelajaran, dan (3) produk, yang
mencakup perilaku sebagai hasil belajar.
6. Model Alkin
Model ini dikembangkan oleh Marvin Alkin (1969) menurutnya
evaluasi adalah suatu proses untuk menyakinkan keputusan,
mengumpulkan informasi, memilih informasi yang tepat, dan menganalisis
informasi sehingga dapat disusun laporan bagi pembuat keputusan dalam
memilih bebarapa alternatif. Alkin mengemukakan ada lima jenis evaluasi,
yaitu :
a. Sistem assessment, yaitu untuk memberikan informasi tentang keadaan
atau posisi dari suatu sistem.
b. Program planning, yaitu untuk membantu pemilihan program tertentu
yang mungkin akan berhasil memenuhi kebutuhan program.
c. Program impelemantation, yaitu untuk menyiapkan informasi apakah
suatu program sudah diperkenalkan kepada kelompok tertentu yang
tepat sebagaimana yang direncanakan.
d. Program improvement, yaitu memberikan informasi tentang
bagaimana suatu program dapat berfungsi, bekerja atau berjalan.
e. Program certification, yaitu memberikan informasi tentang nilai atau
manfaat suatu program.
7. Model Brinkerhoff
Robert O.Brinkerhoff (1987) mengemukakan ada tiga jenis evaluasi
yang disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama, yaitu:
a. Fixed vs Emergent Evaluation Design
Desain evaluasi fixed (tatap) harus derencanakan dan disusun
secara sistematik-terstruktur sebelum program dilaksanakan. Meskipun
demikian, desain fixed dapat juga disesuikan dengan kebutuhan yang
sewaktu-waktu dapat berubah. Desani evaluasi ini dikembangkan
berdasarkan tujuan program, kemudian disusun pertanyaan-pertanyaan
untuk mengumpulkan berbagai informasi yang diperoleh dari sumber-
sumber tertentu. Begitu juga dengan model analisis yang akan
digunakan harus dibuat sebelum program dilaksanakan.
Kegiatan-kegiatan evaluasi yang dilakukan dalam desain fixed
ini, antara lain menyusun pertanyaan-pertanyaan, menyusun dan
menyiapkan instrumen, menganalisis hasil evaluasi, dan melaporkan
hasil evaluasi secara formal kepada pihak-pihak yang bekepentingan.
Untuk mengumpulkan data dalam desain ini dapat digunakan
berbagai teknik, seperti tes, observasi, wawancara, kuesioner, dan
skala penilaian.
b. Formative vs Summative Evaluation
Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Michael Scriven.
Evaluasi formatif berfungsi untuk memperbaiki kurikulum dan
pembelajaran, sedangkan evaluasi sumatif berfungsi untuk melihat
kemanfaatan kurikulum dan pembelajaran secara menyeluruh. Artinya,
jika hasil kurikulum dan pembelajaran memang bermanfaat bagi
semua pihak yang terkait (terutama peserta didik) maka kurikulum dan
pembelajaran dapat dihentikan.
c. Desain eskprimental dan desain quasi eskprimental vs natural inquiry
Desain eksperimental banyak menggunakan pendekatan
kuantitatif, random sampling, memberikan perlakuan, dan mengukur
dampak. Tujuannya adalah untuk menilai manfaat hasil percobaan
program pembelajaran. Untuk itu, perlu dilakukan manipulasi terhadap
lingkungan dan pemilihan strategi yang dianggap pantas.
Jika prosesnya sudah terjadi, evaluator cukup melihat dokumen-
dokumen sejarah atau menganalisis hasil tes. Jika prosesnya sedang
terjadi, evaluator dapat melakukan pengamatan atau wawancara
dengan orang-orang yang terlibat. Untuk itu, kriteria internal dan
eksternal sangat diperlukan.
8. Illumiantive Model (Malcolm Parlett dan Hamilton)
Model ini lebih menekankan pada evaluasi kualitatif terbuka
(open-ended). Kegiatan evaluasi dihubungkan dengan learning milieu,
dalam konteks sekolah sebagai lingkungan material dan psikososial, di
mana guru dan peserta didik dapat berintraksi. Tujuan evaluasi adalah
untuk mempelajari secara cermat dan hati-hati terhadap pelaksanaan
sistem pembelajaran, faktor-faktor yang memengaruhinya, kelebihan dan
kekeurangan sistem, dan pengaruh sistem terhadap pengalaman belajar
peserta didik. Hasil evaluasi lebih bersifat deskriptif dan interpretasi,
bukan pengukuran dan prediksi. Model ini lebih banyak menggunakan
judgement. Fungsi evaluasi adalah sebagai input untuk kepentingan
pengabilan keputusan dalam rangka penyusaian dan penyempurnaan
sistem pembelajaran yang sedang dikembangkan.
9. Model Responsif
Model ini menekankan pada pendekatan kualitatif-naturalistik.
Evaluasi tidak diartikan sebagai pengukuran melainkan pemberian makna
atau melukiskan sebuah realitas dari barbagai perspektif orang-orang yang
terlibat, berminat dan berkepentingan dengan program pembelajaran.
Tujuan evaluasi adalah untuk memahami semua komponen program
pembelajaran melalui berbagai sudut padang yang berbeda. Sesuai denga
pendekatan yang digunakan, maka model ini kurang percaya terhadap hal-
hal yang bersifat kuantitatif. Instrumen yang digunakan pada umumnya
mengandalkan observasi langsung maupun tak langsung dengan
interpreatasi data yang impresionistik. Langkah-langkah kegiatan evaluasi
meliputi observasi, merekam hasil wawancara, mengumpulkan data,
mengecek pengetahuan awal peserta didik, dan mengembangkan desain
atau model.
Kelebihan model ini adalah peka terhadap berbagai pendangan dan
kemampuannya mengakomodasi pendapat yang ambigius serta tidak
fokus, sedangkan kekurangannya antara lain (a) pembuat keputusan sulit
menentukan prioritas atau penyederhanaan informasi (b) tidak mungkin
menampung semua sudut pandang dari barbagai kelompok (c)
membutuhkan waktu dan tenaga. Evaluator harus dapat beradaptasi
dengan lingkungan yang diamati.

C. Pendekatan Evaluasi
Pendekatan evaluasi merupakan sudut pandang seseorang dalam
menelaah atau mempelajarai evaluasi. Dilihat dari komponen pembelajaran,
pendekatan evaluasi dapat dibagi dua yaitu :
1. Pendekatan Tradisonal
Pendekatan ini berorientasi pada praktik evaluasi yang telah berjalan
selama ini di sekolah yang ditujukan pada perkembangan aspek intelektual
peserta didik sedangkan aspek ketarampilan dan pengembangan sikap
kurang mendapat perhatian yang serius. Kegiatan-kegiatan evaluasi juga
lebih difokuskan pada komponen produk saja, sementara komponen proses
cendrung diabaikan.
2. Pendekatan Sistem
Sistem adalah totalitas dari berbagai komponen yang saling
berhubungan dan ketergantungan. Jika dikaitkan dengan evaluasi maka
pembahasan lebih difokuskan pada komponen evaluasi, yang meliputi
komponen kebutuhan dan feasibility, komponen input, komponen proses,
dan komponen produk. Dalam bahasa Stufflebeam di singkat CIPP, yaitu
context, input, process, dan product. Komponen-komponen ini harus
menjadi landasan pertimbangan dalam evaluasi pembelajaran secara
sistematis.
Dalam menafsirkan hasil evaluasi dalam literatur modern terdapat
dua pendekatan yang dapat digunakan yaitu :
a. Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Dalam penggunaannya guru harus membandingkan hasil yang
diperolah peserta didik dengan sebuah patokan atau kriteria secara
mutlak telah ditetapkan oleh guru. Guru juga dapat menggunakan
langkah-langkah tertentu untuk menggunakan PAP, seperti
menentukan skor ideal, mencari rata-rata dan simpangan bauk ideal,
kemudian menggunakan pedoman konversi skala nilai.
b. Penialain Acuan Norma (PAN)
Dalam pendekatan ini yang dibandingkan sebagai tolak ukur
yaitu hasil atau skor setiap peserta didik dengan teman satu kelasnya.
Makna nilai dalam bentuk angka maupun kualifikasi memiliki sifat
relatif. Artinya jika pedoman konversi skor sudah disusun untuk suatu
kelompok, maka pedoman ini hanya berlaku untuk kelompok itu saja
dan tidak berlaku untuk kelompok lain, karena distribusi skor peserta
didk sudah berbeda.
3.