Anda di halaman 1dari 18

Hafizar 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya
infiltrat supuratif disertai defek kornea, diskontinuitas jaringan kornea yang dapat
terjadi dari epitel sampai stroma.
Ulkus kornea e.c jamur adalah ulkus kornea yang disebabkan oleh jamur,
biasanya karena trauma dengan tumbuh-tumbuhan, tanah, atau karena pemakaian
kortikosteroid sembarangan yang menurunkan resistensi epitel kornea.
Di Indonesia kekeruhan kornea masih merupakan masalah kesehatan mata sebab
kelainan ini menempati urutan kedua dalam penyebab utama kebutaan. Kekeruhan
kornea ini terutama disebabkan oleh infeksi mikroorganisme berupa bakteri, jamur, dan
virus dan bila terlambat didiagnosis atau diterapi secara tidak tepat akan mengakibatkan
kerusakan stroma dan meninggalkan jaringan parut yang luas.
Walaupun infeksi jamur pada kornea sudah dilaporkan pada tahun 1879 tetapi
baru mulai periode 1950 keratomikosis diperhatikan. Banyak laporan menyebutkan
peningkatan angka kejadian ini sejalan dengan peningkatan penggunaan kortikosteroid
topikal, penggunaan obat imunosupresif dan lensa kontak. Singapura melaporkan
selama 2.5 tahun dari 112 kasus ulkus kornea 22 beretiologi jamur. Mortalitas atau
morbiditas tergantung dari komplikasi dari ulkus kornea seperti parut kornea, kelainan
refraksi, neovaskularisasi dan kebutaan. Berdasarkan kepustakaan di USA, laki-laki
lebih banyak menderita ulkus kornea, yaitu sebanyak 71%, begitu juga dengan
penelitian yang dilakukan di India Utara ditemukan 61% laki-laki. Hal ini mungkin
disebabkan karena banyaknya kegiatan kaum laki-laki sehari-hari sehingga
meningkatkan resiko terjadinya trauma termasuk trauma kornea.Insiden ulkus kornea
tahun 1993 adalah 5,3 juta per 100.000 penduduk di Indonesia, sedangkan predisposisi
terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi karena trauma, pemakaian lensa kontak, dan
kadang-kadang tidak diketahui penyebabnya.

1
Hafizar 2011

1.2. Batasan Masalah

Clinical science session ini membahas mengenai definisi, epidemiologi,


etiologi, faktor resiko, patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi dan
prognosis dari Ulkus Kornea e.c Jamur.

1.3. Tujuan penulisan

Penulisan Clinical science session ini bertujuan menambah pengetahuan para


dokter muda mengenai Ulkus Kornea e.c Jamur.

1.4. Metoda penulisan

Penulisan Clinical science session ini disusun berdasarkan tinjauan


kepustakaan yang merujuk kepada berbagai literatur.

2
Hafizar 2011

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi dan Fisiologi


Kornea adalah jaringan transparan yang ukuran dan strukturnya sebanding dengan
kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus, lekuk
melingkar pda persambungan ini disebut sulkus skleralis. Kornea dewasa rata-rata
mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 mm di tepi, dan diameternya sekitar
11,5 mm. Dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda:
lapisan epitel (yang bersambung dengan lapisan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan
bowman, stroma, membran descement, dan lapisan endotel.
- Epitel

• Tebalnya 50µm, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang
tindih: satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng.

• Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan
menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basa
berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui
desmosom dan makula okluden, ikatan ini menghambat pengaliran air, elekteolit,
dan glukosa yang merupakan barrier.

• Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi
gangguan akan menyebabkan erosi rekuren.

• Epitel berasal dari ektoderm permukaan.

- Membran Bowman

3
Hafizar 2011

• Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang
tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.

• Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi.

- Stroma

Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya,
pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen
ini bercabang. Terbentuknya kembali serat kolagen ini memakan waktu lama kadang-
kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan
fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga kertosit membentuk bahan
dasar dan serat kolagen dalam perkembangan emrio atau sesudah trauma.

- Membrana Descement

Merupakan membran aselular dan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel
endotel dan merupakan membran basalnya. Bersifat sangat elastik dan berkembang
terus seumur hidup, mempunyai tebal 40µm.

- Endotel

Berasal dari mesotelium, berlapis satu, berbentuk heksagonal, besar 20-40µm.


Endotel melekat pada membran descement melalui hemidesmosom dan zonula
okluden. Terdiri dari sel yang tidak mengalami regenerasi yang secara aktif
memompa ion dan air dari stroma untuk mengontrol hidrasi dan transparansi kornea.

Perbedaan antara kapasitas regenerasi epitel dan endotel penting. Kerusakan


lapisan epitel, misalnya karena abrasi, dengan cepat diperbaiki. Endotel yang rusak
karena penyakit atau pembedahan misalnya, tidak dapat beregenerasi. Hilangnya
fungsi sawar dan pompa menyebabkan hidarasi berlebihan, distorsi bentuk regular
serat kolagen, dan keruhnya kornea.

4
Hafizar 2011

Gambar Lapisan Kornea

Gambar 1 : Lapisan kornea

5
Hafizar 2011

2.2. Definisi
Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat
supuratif disertai defek kornea, diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari
epitel sampai stroma.
Ulkus kornea e.c jamur adalah ulkus kornea yang disebabkan oleh jamur,
biasanya karena trauma dengan tumbuh-tumbuhan, tanah, atau karena pemakaian
kortikosteroid sembarangan yang menurunkan resistensi epitel kornea.

2.3. Klasifikasi
Berdasarkan Organisme Penyebabnya:
1.Ulkus Kornea Bakteri
Ulkus kornea bakteri adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh
infiltrat supuratif disertai defek epitel kornea yang bergaung. Ulkus kornea bakteri
memerlukan penanganan yang tepat untuk mencegah perluasan ulkus dan timbulnya
komplikasi seperti desmetokel, perforasi, endolftalmitis dan kebutaan.

Gambaran ulkus dapat membantu untuk menentukan kausa penyebab ulkus kornea.

1. Ulkus stafilokokus

Pada awalnya berupa ulkus yang berwarna putih kekuningan disertai


infiltrat berbatas tegas tepat di bawah defek epitel. Apabila tidak diobati secara
adequat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi sel
leukosit. Walaupun terdapat hipopion tukak seringkali indolen yaitu reaksi
radangnya minimal. Ulkus kornea marginal biasanya bebas kuman dan
disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap stafilokokus aureus.

2. Ulkus pseudomonas

Gambaran ulkus biasanya dimulai dengan ulkus kecil di bagian sentral


kornea dengan infiltrat berwarna keabu-abuan disertai edema epiteldan stroma.
Ulkus kecil ini dengan cepat melebar dan mendalam serta menimbulkan perforasi
kornea. Ulkus mengeluarkan discharge kental berwarna kuning kehijauan.
Penatalaksanaan ulkus kornea bakteri menggunakan antibiotik.
Keputusan pemberian antibiotik awal harus didasarkan pada :
1. Gambaran klinik berat ringannya ulkus kornea bakteri pada pemeriksaan awal

6
Hafizar 2011

2. Enterpretasi dari hasil pulasan gram


3. Efektivitas dan keamanan antibiotik
Pada kasus ulkus kornea bakteri terdapat 2 prinsip terapi antibiotik yaitu :
1. Kombinasi antibiotik berspektrum luas, fortified secara intensif tanpa
memperhatikan kasil pulasan (shoot gun therapy)
2. Antibiotik tunggal spesifik berpedoman pada hasil pemeriksaan mikrobiologi.
Cara ini diindikasikan untuk ulkus kornea bakteri ringan dan pemeriksaan
pulasan gram hanya ditemukan satu jenis bakteri.
Pengobatan awal dinilai setelah 24-48 jam.

Tabel 1. Evaluasi klinis pengobatan ulkus kornea bakteri

Tanda Perbaikan Perburukan

Ukuran defek epitel Tidak berubah/mengecil Meluas

Infiltrasi stroma

batas Menurun Meningkat


dalam
Lebih jelas Kurang jelas
ukuran
Reaksi sel darah putih pada Tidak berubah Lebih dalam
stroma
Tidak berubah/mengecil Lebih luas
Reaksi pada bilik mata
Menurun/terlokalisasi Meningkat
depan
Menurun Meningkat

Terapi awal dilanjutkan jika respon klinik terhadap pengobatan membaik


walaupun pada hasil uji resistensi menunjukkan bakteri resisten. Untuk merubah
pengobatan awal perlu dipertimbangkan respon klinik terhadap pengobatan awal,
hasil kultur, dan hasil uji resistensi. Jenis antibiotik dapat diubah jika secara klinis
terjadi perburukan dan hasil uji resistensi menunjukkan organisme resisten.
Obat-obatan penunjang :
1. Sikloplegi

7
Hafizar 2011

2. Kortikosteroid
3. Inhibitor enzim
4. Lensa kontak lunak
5. Antioksidan
Tidak terdapat kesepakatan waktu dihentikannya atau dikuranginya pemberian
antibiotik pada ulkus kornea bakteri. Keberhasilan eradikasi kuman tergantung pada
jenis bakteri, lamanya infeksi, beratnya supurasi dan faktor-faktor lain.
Tanda yang memperlihatkan perbaikan adalah :
1. Reepitelisasi
2. Infiltrat seluler yang berkurang
3. Stroma supurasi menjadi kasa
4. Edema pada perbatasan antara ulkus dengan stroma berkurang

Gambar 2 : Ulkus kornea karena bakteri

2. Ulkus Kornea Jamur


Etiologi :
1. Jamur berfilamen (filamentous fungi); bersifat multiseluler dengan cabang-
cabang hifa.
a. Jamur bersepta : Fusarium sp, Acremonium sp, Aspergilus sp,
Clodosporium sp, Penicillium sp, Paecilomyces sp, Phialophora sp,
Curvularia sp, Altenaria sp.
b. Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp.
2. Jamur ragi (yeast)
Jamur uniselular dengan pseudohifa dan tunas: Candida albicans, Cryptococcus
sp, Rodotolura sp.
3. Jamur difasik

8
Hafizar 2011

Pada jaringan hidup membentuk ragi, sedangkan pada media perbiakan


membentuk misellium : Blastomices sp, Coccididies sp, Histoplasma sp,
Sporothrix sp.
Tampaknya di Asia Tenggara penyebabnya yang terbanyak adalah Aspergllus
sp dan Fusarium sp.

Manifestasi Klinik :
Untuk menegakkan diagnosis klinik dapat dipakai pedoman berikut :
1. Riwayat trauma terutama tumbuhan, tanah, dan pemakaian streoid topikal
lama.
2. Kurang nyeri dibandingkan dengan ulkus bakteri
3. Ulkus luas, tepi ulkus sedikit menonjol, kering dan irregular, putih abu-abu,
atau coklat sesuai koloni jamur. Tonjolan seperti hifa di bawah endotel utuh.
4. Lesi satelit
5. Plak endotel
6. Hipopion, kadang-kadang rekuren
7. Formasi cincin sekeliling ulkus
8. Lesi kornea yang indolen
Reaksi di atas timbul akibat investasi jamur pada kornea yang memproduksi
mikotoksin, enzim-enzim serta antigen jamur sehingga terjadi nekrosis kornea dan
reaksi radang yang cukup berat.

Diagnosis Laboratorium :

1. Melakukan pemeriksaan kerokan kornea


Pemeriksaan kerokan kornea sebaiknya dengan menggunakan spatula kimura
yaitu dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop. Dapat dilakukan pewarnaan
KOH, Gram, Giemsa atau KOH + Tinta India, dengan angka keberhasilan
masing-masing 20-30%, 50-60%, 60-75% dan 80%.
2. Biopsi Jaringan kornea
Diwarnai dengan Periodic acid schiff atau Methenamine Silver.
3. Nomarski differential interference contrast microscope
Untuk melihat morfologi jamur dari kerokan kornea (metode Nomarski).

Penatalaksanaan :

9
Hafizar 2011

Untuk penatalaksanaan jamur pada kornea pengobatan didasarkan pada jenis dari
jamur.
1. Belum diidentifikasi jenis jamur penyebabnya : berikan topikal Amphotericin B
0,25 mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml, Natamycin > 10 mg/ml, golongan Imidazole.
2. Jenis jamur telah diidentifikasi
a. Jamur berfilamen : topikal Amphotericin B, Thiomerosal, Natamycin,
Imidazle.
b. Ragi (yeast) : Amphotericin B, Natamycin, Imidazole
c. Golongan Actinomyces yang sebenarnya bukan jamur sejati :
Golongan sulfa, berbagai jenis antibiotik.

Pemberian Amphotericin B subkonjungtival hanya untuk usaha terakhir.


Steroid topikal adalah kontraindikasi, terutama pada saat terapi awal. Diberikan juga
obat siklopegik (atropin) guna mencegah sinekia posterior untuk mengurangi uveitis
anterior.

Terapi bedah dilakukan membantu medikamentosa yaitu :


1. Debridement
2. Flap konjungtiva, partial atau total
3. Keratoplasti tembus
- Penyembuhan lama dan anti jamur topikal masih diperlukan paling kurang 3
minggu setelah epitelisasi sempurna terjadi
- Penanganan yang tidak akurat sering terjadi perforasi kornea dan diakhiri dengan
eviserasi.

Gambar 3 : Ulkus kornea katrena fungi

3. Ulkus Kornea Viral

10
Hafizar 2011

 Dapat karena toksik dari antiviral topikal sendiri atau karena pemakaian antiviral
dihentikan dan diberikan kortikosteroid
 Dapat terjadi Endoteliosis, uveitis, dan retinitis, yang memerlukan antiviral sistemik
 Sensibilitas kornea menurun, dapat terjadi Neurotropik Ulcer

Gambar 4 : Ulkus kornea karena viral

2.4. Etiologi dan Faktor Resiko


Etiologi :
1. Jamur berfilamen ( filamentous fungi ); bersifat multiseluler dengan cabang-cabang
hifa.
2. Jamur bersepta: fusarium sp, Acremonium sp, Aspergilus sp, Clodosporium sp,
Penicillium sp, Paecilomyces sp, phialophora sp, Curvularia sp, Altenaria sp.
3. Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp.
4. Jamur ragi ( yeast )
Jamur uniselular dengan pseudohifa dan tunas : candida albicans, Cryptococcus sp,
Rodotolura sp.
5. Jamur difasik
Pada jaringan hidup membentuk ragi sedang pada media perbiakan membentuk
miselium : Blastomices sp, Coccidididies sp, Histoplasma sp, Sporothrix sp.
Tampaknya di Asia Tenggara penyebabnya yang terbanyak adalah Aspergllus
sp dan fusarium sp.

Faktor resiko terjadinya ulkus kornea dapat dibedakan atas dua, yaitu :
1. Faktor Okular
a. Trauma

11
Hafizar 2011

Trauma akibat tumbuh-tumbuhan, trauma kimia dan panas, Iatrogenic trauma


ocular, seperti Keratoplasty dan Keratorefractive surgery.
b. Abnormalitas pada permukaan mata
Misdirection of lashes, Incomplete lid closure
c. Infeksi pada adneksa
Blepharitis, Meibomitis, Dry Eye, Dacryocystitis
d. Nutrisi
Defisiensi vitamin A
e. Lensa kontak
Kebersihan lensa kontak, penggunaan solusi yang terkontaminasi
f. Compromised cornea

2. Faktor Sistemik
Diabetes mellitus, Stevens-Johnson Syndrome, Blepharoconjunctivitis, Infeksi
Gonococcal dengan konjungtivitis, Immunocompromised status.

2.5. Patogenesis
Berdasarkan letak anatomisnya kornea terletak paling luar sehingga paling mudah
terpapar mikroorganisme dan faktor lingkungan lainnya. Pada dasarnya lapisan epitel
kornea merupakan barier utama terhadap paparan mikroorganisme, namun jika epitel ini
rusak maka stroma yang avaskuler dan membran bowman akan mudah terinfeksi oleh
berbagai macam organisme seperti bakteri, amuba dan jamur. Apabila infeksi ini
dibiarkan atau tidak mendapat pengobatan yang adekuat maka akan terjadi kematian
jaringan atau ulkus kornea.

2.6. Manifestasi Klinis

Pada pasien dengan ulkus kornea karena jamur, biasanya terdapat riwayat
trauma mata saat beraktivitas di luar/lapangan. Selain itu juga perlu diketahui faktor
risiko yang dimiliki, seperti:
- Trauma (misalnya, lensa kontak, benda asing); dalam sebuah studi tentang keratitis
jamur dari Florida Selatan, trauma dengan terhadap sayuran (tumbuhan) adalah faktor
risiko utama pada 44% pasien.
- Penggunaan kortikostreroid topical.

12
Hafizar 2011

- Operasi kornea seperti keratoplasti, operasi katarak kornea bersih (tanpa benang), atau
laser in situ keratomileusis (LASIK).
- Keratitis kronis karena herpes simpleks, herpes zoster, atau konjungtivitis vernal.
- Laki-laki muda.
- Sehat.
- Tidak memiliki penyakit mata yang signifikan.
- Riwayat trauma sebelumnya (terutama karena tumbuhan)
- Pekerjaan pertanian.

Gejala-gejala yang muncul meliputi:

- Sensasi Benda asing

- Meningkatknya rasa nyeri atau ketidaknyamanan pada mata

- Pandangan mendadak kabur

- Mata menjadi merah (kemerahan yang tidak biasa)

- Kerusakan yang luas dan keluarnya cairan dari mata

- Meningkatnya sensitivitas terhadap cahaya

Untuk menegakkan diagnosis klinik didasarkan pada analisis factor risiko dan
karakteristik tampilan kornea. Tanda-tanda yang paling sering ditemukan pada
pemeriksan slitlamp tidak spesifik dan meliputi:
- injeksi konjungtiva
- defek pada epitel
- infiltrasi pada stroma

- hipopion

Tampilan klinis yang spesifik pada keratitis jamur meliputi suatu infiltrat
dengan tepi berbulu, tepi yang meninggi, tekstur yang kasar, pigmentasi putih-keabu-
abuan, lesi satelit, hipopion, plak endotel, dan tampilan cincin putih pada kornea dan
lesi satelit pada tepi focus primer infeksi.

13
Hafizar 2011

Reaksi di atas timbul akibat investasi jamur pada kornea yang memproduksi
mikotoksin, enzim-enzim serta antigen jamur sehingga terjadi nekrosis kornea dan
reaksi radang yang cukup berat.

2.7. Diagnosis
Diagnosis dari ulkus kornea ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
oftalmologi dan pemeriksaan laboratorium.
1. Anamnesis
Dari anamnesis didapatkan adanya riwayat trauma, benda asing dan abrasi
pada kornea, riwayat pernah terkena kerattis yang berulang, pemakaian lensa
kontak, serta kortikosteroid yang merupakan presdiposisi infeksi virus dan jamur,
dan juga gejala klinis yang ada.
2. Pemeriksaan Oftalmologi
Untuk memeriksa ulkus kornea diperlukan slit lamp atau kaca pembesar dan
pencahayaan terang. Harus diperhatikan pantulan cahaya saat menggerakkan cahya
di atas kornea, daerah yang kasar menandakan defek pada epitel.
Cara lain untuk melihat ulkus adalah dengan tes fluoresein. Pada tes fluoresein
defek epitel ditandai dengan adanya daerah yang berwarna hijau.
3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium berguna untuk diagnosa kausa dan juga penting
untuk pemilihan terapi yang tepat dengan hasil kultur kerokan.
a. Melakukan pemeriksaan kerokan kornea
Pemeriksaan kerokan kornea sebaiknya dengan menggunakan spatula
kimura yaitu dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop. Dapat dilakukan
pewarnaan KOH, Gram, Giemsa atau KOH + Tinta India, dengan angka
keberhasilan masing-masing 20-30%,50-60%,60-75% dan 80%.
b. Biopsi Jaringan kornea
Diwarnai dengan Periodic acid schiff atau Methenamine Silver.

2.8. Penatalaksanaan
Untuk penatalaksanaan jamur pada kornea pengobatan didasarkan pada jenis dari
jamur.
1. Belum diidentifikasi jenis jamur penyebabnya

14
Hafizar 2011

Berikan topikal amphotericin B 0,25 mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml, Natamycin >


10 mg / ml, golongan imidazole.
2. Jamur berflamen
topikal Amphotericin B, Thiomerosal, Natamycin, imidazle.
3. Ragi (yeast)
Amphotericin B, Natamycin, imidazole
4. Golongan Actinomyces yang sebenarnya bukan jamur sejati
Golongan sulfa, berbagai jenis antibiotik.
Pemberian Amphotericin B subkonjungtival hanya untuk usaha terakhir.
Steroid topikal adalah kontraindikasi, terutama pada saat terapi awal. Diberikan juga
obat siklopegik (atropin) guna mencegah sinekia posterior untuk mengurangi uveitis
anterior.

Terapi bedah dilakukan membantu medikamentosa yaitu :


a. Debridement
b. Flap konjungtiva, partial atau total
c. Keratoplasti tembus

2.9. Pencegahan
Pencegahan terhadap ulkus dapat dilakukan dengan segera berkonsultasi kepada
ahli mata setiap ada keluhan pada mata. Sering kali luka yang tampak kecil pada kornea
dapat mengawali timbulnya ulkus dan mempunyai efek yang sangat buruk bagi mata.
- Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk kedalam mata
- Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak mata tidak bisa menutup
sempurna, gunakan tetes mata agar mata selalu dalam keadaan basah
- Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara memakai dan merawat
lensa tersebut.

2.10. Komplikasi
Pengobatan ulkus yang tidak adekuat dan terlambat dapat menimbulkan
komplikasi yaitu :
1. Terbentuk jaringan parut kornea sehingga dapat menurunan visus mata
2. Perforasi kornea
3. Iritis dan ridosiklitis

15
Hafizar 2011

4. Descematokel
5. Glaukoma sekunder
6. Endoftalmitis atau panoftalmitis
7. Katarak

2.11. Prognosis

Dengan penanganan sedini mungkin, infeksi pada kornea dapat sembuh, tanpa
harus terjadi ulkus. Bila ulkus kornea tidak diterapi, dapat merusak kornea secara
permanen. Dan juga dapat mengakibatkan perforasi dari interior mata, sehingga
menimbulkan penyebaran infeksi dan meningkatkan resiko kehilangan penglihatan
yang permanen. Semakin telat pengobatan ulkus kornea, akan menimbulkan kerusakan
yang banyak dan timbul jaringan parut yang luas.

BAB III
KESIMPULAN

Di Indonesia kekeruhan kornea masih merupakan masalah kesehatan mata sebab


kelainan ini menempati urutan kedua dalam penyebab utama kebutaan. Penyakit ini makin
banyak dijumpai pada pekerja pertanian dan kini makin banyak dijumpai pada penduduk
perkotaan sejak mulai dipakainya obat kortikosteroid dalam pengobatan mata.

16
Hafizar 2011

Kebanyakan ulkus kornea karena jamur disebabkan oleh organisme oportunis seperti
candida fusarium, aspergillus, penicilium, cephalosporium, dan lain-lain. Tidak ada ciri khas
yang membedakan ulkus jamur ini.
Dengan penanganan sedini mungkin, infeksi pada kornea dapat sembuh, tanpa harus
terjadi ulkus. Bila ulkus kornea tidak diterapi, dapat merusak kornea secara permanen. Dan
juga dapat mengakibatkan perforasi dari interior mata, sehingga menimbulkan penyebaran
infeksi dan meningkatkan resiko kehilangan penglihatan yang permanen. Semakin telat
pengobatan ulkus kornea, akan menimbulkan kerusakan yang banyak dan timbul jaringan
parut yang luas.

DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan DG, et al. Kornea dalam Oftalmologi Umum. Jakarta: Widia Medika, 2000,
hal. 129-40.

2. Ilyas, Sidarta. Ulkus kornea dalam Ilmu Penyakit Mata edisi ketiga. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI. 2006. Hal. 159-67.

17
Hafizar 2011

3. James, Bruce., Chew, Chris., Bron Anthony. Lecture Notes Oftamologi. Jakarta:
Penerbit Erlangga, 2006. hal. 5.

4. Wijaya Nana. Ilmu Penyakit Mata.

5. American Academy of Opthalmology section 8. San Francisco. 2008

6. Fungal Keratitis. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com. Diakses pada tanggal

11 Mei 2011.

7. Ulkus Kornea. Diunduh dari : www.razimaulana.files.wordpress.com.


Diakses tanggal 11 mei 2011.

18