P. 1
RENSTRA BLH

RENSTRA BLH

|Views: 1,782|Likes:
Dipublikasikan oleh Irfan Blh Jatim

More info:

Categories:Types, Letters
Published by: Irfan Blh Jatim on May 12, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2013

pdf

text

original

RENCANA STRATEGIS BADAN LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2010 – 2014

KEPUTUSAN KEPALA BADAN LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR ……………………../2009 TENTANG RENCANA STRATEGIS BADAN LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2009 – 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAWA TIMUR Mengingat : a. bahwa Rencana Strategis (RENSTRA) Tahun 2010 – 2014 Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur telah b. c. d. Menimbang : 1. 2. 3. 4. 5. 6. ditetapkan dengan Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur;

MEMUTUSKAN Menetapkan : RENCANA STRATEGIS BADAN LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2010 - 2014. Pasal 1. Rencana Strategis Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2010 – 2014, yang selanjutnya disebut RENSTRA Badan Lingkungan Hidup adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima) tahun sejak Tahun 2010 sampai dengan 2014.

Pasal 2. Rencana Strategis Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2010 – 2014 adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur ini.

Pasal 3. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Surabaya pada tanggal, Oktober 2009 KEPALA BADAN LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAWA TIMUR

Ir. DEWI J PUTRIATNI, MSc Pembina Utama Muda NIP. 010 211 006

Kata Pengantar

Segala Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas perkenan dan hidayah-Nya maka dokumen “Rencana Strategis Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2010 - 2014” dapat disusun sebagai pedoman dan acuan bagi Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur untuk melaksanakan program dan kegiatannya dalam kurun waktu 5 tahun kedepan. Dokumen ini merupakan hasil diskusi, ide-ide, masukan dan analisa yang telah disepakati oleh berbagai pihak yang konsen dengan arah dan tujuan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur dalam melaksanakan prioritas program dan kegiatannya sebagai salah satu instansi pelayanan masyarakat di bidang lingkungan hidup. Diharapkan dokumen ini dapat menjadi salah satu sumber acuan dan pedoman, serta pertimbangan dalam melakukan perencanaan dan evaluasi untuk melaksanakan upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup bagi Pemerintah Kabupaten/Kota di Jawa Timur secara terpadu dan berkelanjutan, baik antar wilayah maupun antar sektor. Dengan segala kerendahan hati, kami mohon masukan dan saran untuk terus dapat meningkatkan kualitas dan arah serta tujuan pengelolaan Lingkungan Hidup yang lebih baik di Jawa Timur. Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak, khususnya anggota Tim RENSTRA Badan Lingkungan Hidup, pihak Akademisi serta LSM, atas segala dukungan dan partisipasinya dalam menyusun dan menyempurnakan dokumen ini. Akhir kata semoga RENSTRA BLH Provinsi Jawa Timur Tahun 2010 – 2014 ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat luas pada umumnya dan untuk lebih meningkatkan kualitas serta kinerja BLH Provinsi Jawa Timur pada khususnya, sehingga pengendalian dampak lingkungan di Jawa Timur dapat dilaksanakan secara optimal dan terpadu dalam rangka menjaga serta melestarikan fungsi lingkungan hidup

Surabaya, Oktober 2009 KEPALA BADAN LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAWA TIMUR

Ir. DEWI J PUTRIATNI, MSc Pembina Utama Muda NIP. 010 211 006

Daftar Isi
Halaman Sampul ..................................................................................................... i Surat Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup .................................................. ii Kata Pengantar ........................................................................................................ iv Daftar Isi .................................................................................................................. v

Bab I Pendahuluan .................................................................................................. 1 1.1 Kondisi Jawa Timur .............................................................................. 1 1.1.1. Geografis ................................................................................. 1 1.1.2. Topografi ................................................................................. 2 1.1.3. Struktur Geologi ...................................................................... 3 1.1.4. Klimatologi............................................................................... 3 1.1.5. Hidrologi .................................................................................. 4 1.1.6. Kependudukan ........................................................................ 4 1.1.7. Ulasan RPJMD Provinsi Jawa Timur 2009 – 2014 .................... 5 1.2 Pengertian ........................................................................................... 8 1.3 Maksud dan Tujuan ............................................................................. 8 1.4 Dasar Hukum ........................................................................................ 9

Bab II Gambaran Pelayanan SKPD........................................................................... 12 2.1 Tupoksi dan Struktur Organisasi .......................................................... 12 2.2 Sumberdaya Manusia .......................................................................... 16 2.3 Sarana dan Prasarana .......................................................................... 18 2.4 Anggaran .............................................................................................. 19

Bab III Isu Strategis .................................................................................................. 20 3.1. Pengelolaan Hutan, Lahan dan Sumber Air ........................................ 20 3.2. Permasalahan Wilayah Pesisir dan Laut .............................................. 21 3.3. Permasalahan Pencemaran Air, Tanah dan Udara .............................. 22 3.4. Permasalahan Lingkungan Perkotaan ................................................. 22 3.5. Permasalahan Sosial Kemasyarakatan ................................................ 22

Bab IV Visi, Misi, Tujuan, Sasaran dan Analisis Strategi .......................................... 24 4.1. Visi ...................................................................................................... 24 4.2. Misi ...................................................................................................... 24 4.3. Tujuan .................................................................................................. 25 4.4. Sasaran ................................................................................................ 25 4.5. Arah Kebijakan ..................................................................................... 26 4.6. Analisis Strategi ................................................................................... 27

Bab V Rencana Program, Kegiatan, Indikator Kinerja, Kelompok Sasaran ............. 35 5.1. Rencana Program dan Kegiatan .......................................................... 35 5.2. Kelompok Sasaran ............................................................................... 38 5.3. Indikator Kinerja .................................................................................. 39

Bab VI Penutup ........................................................................................................ 45

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Kondisi Jawa Timur
1.1.1 Geografis Provinsi Jawa Timur terletak pada 111˚0‟ hingga 114˚4‟ Bujur Timur, dan 7˚12‟ hingga 8˚48‟ Lintang Selatan. Luas wilayah Provinsi Jawa Timur mencapai 46.428 km², terbagi ke dalam empat badan koordinasi wilayah (Bakorwil), 29 kabupaten, sembilan kota, dan 658 kecamatan dengan 8.457 desa/kelurahan (2.400 kelurahan dan 6.097 desa). Secara umum wilayah Jawa Timur terbagi dalam dua bagian besar, yaitu Jawa Timur daratan hampir mencakup 90% dari seluruh luas wilayah Provinsi Jawa Timur, dan wilayah Kepulauan Madura yang sekitar 10% dari luas wilayah Jawa Timur. Di sebelah utara, Provinsi Jawa Timur berbatasan dengan Laut Jawa. Di sebelah timur berbatasan dengan Selat Bali. Di sebelah selatan berbatasan dengan perairan terbuka, Samudera Indonesia, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Panjang bentangan barat-timur sekitar 400 kilometer. Lebar bentangan utara-selatan di bagian barat sekitar 200 kilometer, sedangkan di bagian timur lebih sempit, hanya sekitar 60 kilometer. Madura adalah pulau terbesar di Jawa Timur, dipisahkan dengan daratan Jawa oleh Selat Madura. Pulau Bawean berada sekitar 150 kilometer sebelah utara Jawa. Di sebelah timur Madura terdapat gugusan pulau, paling timur adalah Kepulauan Kangean, dan paling utara adalah Kepulauan Masalembu. Di bagian selatan terdapat dua pulau kecil, Nusa Barung dan Pulau Sempu. Secara fisiografis, wilayah Provinsi Jawa Timur dapat dikelompokkan dalam tiga zona: zona selatan-barat (plato), merupakan pegunungan yang memiliki potensi tambang cukup besar; zona tengah (gunung berapi), merupakan daerah relatif subur terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi (dari Ngawi, Blitar, Malang, hingga Bondowoso); dan zona utara dan Madura (lipatan), merupakan daerah relatif kurang subur (pantai, dataran rendah dan pegunungan). Di bagian utara (dari Bojonegoro, Tuban, Gresik, hingga Pulau Madura) ini terdapat Pegunungan Kapur Utara dan Pegunungan Kendeng yang relatif tandus. Pada bagian tengah wilayah Jawa Timur terbentang rangkaian pegunungan berapi: Di perbatasan dengan Jawa Tengah terdapat Gunung Lawu (3.265 meter). Di sebelah selatan Nganjuk terdapat Gunung Wilis (2.169 meter) dan Gunung Liman (2.563 meter). Pada koridor tengah terdapat kelompok Anjasmoro dengan puncak-puncaknya Gunung Arjuno (3.239 meter), Gunung Welirang (3.156 meter), Gunung Anjasmoro (2.277 meter), Gunung Wayang (2.198 meter), Gunung Kawi (2.681 meter), dan Gunung Kelud (1.731 meter). Pegunungan tersebut terletak di sebagian Kabupaten Kediri, Kabupaten

1

Blitar, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Jombang. Kelompok Tengger memiliki puncak Gunung Bromo (2.192 meter) dan Gunung Semeru (3.676 meter). Semeru, dengan puncaknya yang disebut Mahameru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa. Di bagian timur terdapat dua kelompok pegunungan: Pegunungan Iyang dengan puncaknya Gunung Argopuro (3.088 meter), dan Pegunungan Ijen dengan puncaknya Gunung Raung (3.332 meter). Pada bagian selatan terdapat rangkaian perbukitan, yakni dari pesisir pantai selatan Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, hingga Malang. Pegunungan Kapur Selatan merupakan kelanjutan dari rangkaian Pegunungan Sewu di Yogyakarta. 1.1.2 Topografi Provinsi Jawa Timur dapat dibedakan menjadi tiga wilayah dataran, yakni dataran tinggi, sedang, dan rendah. Dataran tinggi merupakan daerah dengan ketinggian rata-rata di atas 100 meter dari permukaan laut (Magetan, Trenggalek, Blitar, Malang, Batu, Bondowoso). Dataran sedang mempunyai ketinggian 45-100 meter di atas permukaan laut (Ponorogo, Tulungagung, Kediri, Lumajang, Jember, Nganjuk, Madiun, Ngawi). Kabupaten/kota (20) sisanya berada di daerah dataran rendah, yakni dengan ketinggian di bawah 45 meter dari permukaan laut. Surabaya sebagai Ibukota Provinsi Jawa Timur merupakan kota yang letaknya paling rendah, yaitu sekitar 2 meter di atas permukaan laut. Sedangkan kota yang letaknya paling tinggi dari permukaan laut adalah Malang, dengan ketinggian 445 meter di atas permukaan laut. 1.1.3 Struktur Geologi Struktur Geologi Jawa Timur di dominasi oleh Alluvium dan bentukan hasil gunung api kwarter muda, keduanya meliputi 44,5 % dari luas wilayah darat, sedangkan bantuan yang relatif juga agak luas persebarannya adalah miosen sekitar 12,33 % dan hasil gunung api kwarter tua sekitar 9,78 % dari luas total wilayah daratan. Sementara itu batuan lain hanya mempunyai proporsi antara 0 - 7% saja. Batuan sedimen Alluvium tersebar disepanjang sungai Brantas dan Bengawan Solo yang merupakan daerah subur. Batuan hasil gunung api kwater muda tersebar dibagian tengah wilayah Jawa Timur membujur kearah timur yang merupakan daerah relatif subur. Batuan Miosen tersebar disebelah selatan dan utara Jawa Timur membujur kearah Timur yang merupakan daerah kurang subur Bagi kepulauan Madura batuan ini sangat dominan dan utamanya merupakan batuan gamping. Dari beragamnya jenis batuan yang ada, memberikan banyak kemungkinan mengenai ketersediaan bahan tambang di Jawa Timur. Atas dasar struktur, sifat dan persebaran jenis tanah diidentifikasi karakteristik wilayah Jawa Timur menurut kesuburan tanah :

a.

Jawa Timur bagian Tengah, Merupakan daerah subur, mulai dari daerah kabupaten Banyuwangi. Wilayah ini dilalui sungai - sungai Madiun, Brantas, Konto, Sampean. Jawa Timur bagian Utara, Merupakan daerah Relatif tandus dan merupakan daerah yang persebarannya mengikuti alur pegunungan kapur utara mulai dari daerah Bojonegoro , Tuban kearah Timur sampai dengan pulau Madura.

b.

1.1.4 Klimatologi Jawa Timur memiliki iklim tropis basah. Dibandingkan wilayah Pulau Jawa bagian barat, Jawa Timur pada umumnya memiliki curah hujan lebih sedikit. Curah hujan rata-rata 1.900 mm per tahun, dengan musim hujan selama 100 hari. Suhu rata-rata berkisar 21-34°C. Suhu di daerah pegunungan lebih rendah, bahkan di daerah Ranu Pane (lereng Gunung Semeru), suhu bisa mencapai minus 4°C, yang menyebabkan turunnya salju lembut. Suhu tertinggi terjadi pada Oktober dan November (35,3°C), dan terendah di bulan Agustus (19,3°C) dengan kelembaban 39%-97%. Tekanan udara tertinggi di bulan Agustus sebesar 1.012,0 Milibar. Jumlah curah hujan terbanyak terjadi di bulan Februari. Rata-rata penyinaran matahari terlama di bulan Agustus, sedangkan terendah di bulan April. Kecepatan angin tertinggi terjadi di bulan Oktober, dan terendah di bulan April. 1.1.5 Hidrologi Dua Daerah Aliran Sungai terpenting di Jawa Timur yaitu DAS Brantas dan DAS Bengawan Solo. DAS Brantas merupakan sebuah sungai terbesar di Jawa Timur dengan panjang ± 320 km yang mengalir secara melingkar dan di tengah-tengahnya terdapat gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Kelud. Sungai Brantas yang bersumber pada lereng Gunung Arjuno, mula-mula mengalir ke arah timur melalui kota Malang, lalu membelok ke arah selatan. Di kota Kepanjen Kali Brantas membelok ke arah barat dan di sini Kali Lesti yang bersumber di Gunung Semeru bersatu dengan Kali Brantas. Setelah bersatu dengan Kali Ngrowo di daerah Tulungagung, Kali Brantas berbelok ke utara melalui kota Kediri. Di kota Kertosono, Kali Brantas bertemu dengan Kali Widas, kemudian ke Timur mengalir ke kota Mojokerto. Di kota ini Kali Brantas bercabang dua, ke arah kota Surabaya dan ke kota Porong yang selanjutnya bermuara di selat Madura. Wilayah DAS Brantas merupakan DAS strategis sebagai penyedia air baku untuk berbagai kebutuhan seperti sumber tenaga untuk pembangkit tenaga listrik, PDAM, irigasi, industri dan lain-lain. Luas Wilayah DAS Brantas seluas 12.000 km2 yang mencakup kurang lebih 25 % luas Provinsi Jawa Timur, dengan potensi sumber daya air per tahun ± 12 milyar m3. DAS Brantas Hulu merupakan daerah tangkapan hujan yang kondisi sangat memprihatinkan. DAS Brantas Hulu terdiri dari sub DAS Brantas Hulu (182 Km2), Amprong (348 Km2), Bango (262 Km2), Metro (309 Km2), Lahor (188 Km2) dan Lesti (608 Km2). Kawasan DAS Brantas Hulu seluas 1897 Km2, meliputi tiga administrasi wilayah yaitu Kabupaten Malang 80,2 %, Kota Malang 3,1% dan Kota Batu 16,7 %. Tata Guna Lahan Eksisting DAS Brantas Hulu didominasi oleh tegalan / ladang yaitu sebesar 37,78 %.

DAS Bengawan Solo berasal dari Kab. Wonogiri - Jawa Tengah, mata air sungai Bengawan Solo berasal Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan Gunung Lawu, mengalir melalui Kabupaten/Kota Madiun, Kab. Ponorogo, Kab. Pacitan, Kab. Magetan, Kab. Ngawi, Kab. Tuban, Kab. Bojonegoro, Kab. Lamongan dan bermuara di Kab. Gresik. Dengan luasan DAS ± 16.100 km2, dan dengan potensi sumber daya air yang mencapai ± 18,61 miliar m3 sungai Bengawan Solo digunakan untuk kebutuhan domestik, air baku air minum dan industri, serta irigasi. Luasan lahan kritis terbesar sepanjang aliran sungai Bengawan Solo adalah di Kabupaten Pacitan dengan luas ± 129,598 ha dan Kabupaten Bojonegoro dengan luas ± 172.261 ha yang tiap tahun kondisinya semakin memprihatinkan. Kedua DAS tersebut dikelola oleh PT Jasa Tirta.

1.1.6 Kependudukan Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Jawa Timur merupakan Provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, pada 2008 mencapai 37.094.836 jiwa, dengan laju pertumbuhan 0,54%. Pada 2007 jumlah penduduk Jawa Timur tercatat sebanyak 36.895.571 jiwa (51% di antaranya adalah perempuan), dengan kepadatan penduduk 814 jiwa/km2. Kepadatan penduduk di kota umumnya lebih tinggi dibanding di kabupaten. Kota Surabaya memiliki kepadatan penduduk tertinggi, yakni 8.335 jiwa/km2, sekaligus mempunyai jumlah penduduk terbesar, yaitu 2.720.156 jiwa, diikuti Kabupaten Malang (2.442.422 jiwa), dan Kabupaten Jember (2.293.740 jiwa).

1.1.7 Ulasan RPJMD Provinsi Jawa Timur 2009-2014 Meningkatnya laju pembangunan diperbagai wilayah tanpa mengindahkan prinsip kaidah keseimbangan alam dan perencanaan tata ruang yang berwawasan lingkungan berpotensi besar mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan sistem lingkungan secara keseluruhan dalam menyangga kehidupan manusia, dan keberlanjutan pembangunan dalam jangka panjang. Selain itu, perubahan iklim (climate change) dan pemanasan global (global warming) akan mempengaruhi kondisi lingkungan di Indonesia, sehingga adaptasi terhadap perubahan iklim tersebut mutlak dilakukan, khususnya yang terkait strategi pembangunan sektor kesehatan, pertanian, permukiman, dan tata ruang. Menurunnya kualitas lingkungan hidup di Jawa Timur kian hari semakin memprihatinkan. Hal ini ditunjukkan antara lain dengan adanya perubahan kualitas udara dan atmosfer yang terjadi secara berkelanjutan yang membahayakan bagi kelangsungan kehidupan ekosistem. Selanjutnya adalah meningkatnya pencemaran air sebagai akibat dari aktifitas manusia melalui kegiatan industri, rumah tangga, pertambangan dan pertanian. Selain itu, degradasi hutan yang disebabkan berbagai kegiatan ilegal terus meningkat, peralihan fungsi kawasan hutan menjadi permukiman, perkebunan, perindustrian, dan pertambangan; terjadinya kebakaran hutan; serta makin meningkatnya illegal logging. Degradasi hutan dan lahan kritis yang terus berlanjut menyebabkan daya dukung ekosistem terhadap pertanian dan pengairan makin menurun, dan mengakibatkan kekeringan dan banjir.

Dampak paling krusial yang saat ini perlu ditangani secara serius adalah masalah ketersediaan air dan pencemaran lingkungan. Berkurangnya kawasan hutan sebagai akibat lemahnya pelaksanaan sistem pengelolaan hutan menyebabkan terganggunya kondisi tata air dan ekosistem keanekaragaman hayati disekitarnya. Gejala ini terlihat dari berkurangnya ketersediaan air tanah terutama di daerah perkotaan, turunnya debit air waduk dan sungai pada musim kemarau yang mengancam pasokan air untuk pertanian dan pengoperasian pembangkit listrik tenaga air (PLTA), membesarnya aliran permukaan yang mengakibatkan meningkatnya ancaman bencana banjir pada musim penghujan. Kerusakan lingkungan hidup pada akhirnya akan membawa kerugian sosial ekonomi yang sangat besar bagi penduduk yang bermukim di wilayah itu khususnya, dan masyarakat secara keseluruhan. Karena itu, pembangunan ekonomi seharusnya mutlak diarahkan pada kegiatan yang ramah lingkungan sehingga pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan dapat dikendalikan, serta semestinya dapat diarahkan pada pengembangan ekonomi yang lebih memanfaatkan jasa lingkungan. Peningkatan kualitas manusia sebagai sumber daya utama pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup perlu lebih diutamakan dan ditingkatkan. Koordinasi dan jalinan kerjasama antar pemangku kepentingan (stake holder) terus dikembangkan secara berkelanjutan untuk menghindari terjadinya konflik dalam kegiatan pemanfaatan sumber daya alam (pertambangan, kehutanan) dan lingkungan. Penerapan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) di seluruh sektor dan wilayah menjadi prasyarat utama untuk diinternalisasikan ke dalam kebijakan dan peraturan, terutama dalam mendorong investasi pembangunan jangka menengah (2009-2014). Prinsip-prinsip tersebut saling sinergis dan melengkapi dengan pengembangan tata pemerintahan yang baik (good governance) yang mendasarkan pada asas partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas yang mendorong upaya perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Dari kondisi-kondisi yang telah disebutkan diatas dapat ditarik 10 Permasalahan Lingkungan Hidup yaitu : 1. Menurunnya kondisi hutan, selain sebagai penunjang perekonomian regional dan nasional, tapi juga sebagai daya dukung lingkungan terhadap keseimbangan ekosistem. Disisi lain lemahnya pengawasan dan penegakan hukum mengakibatkan perencanaan kehutanan kurang efektif atau bahkan tidak berjalan. Hal ini semakin diperparah dengan partisipasi masyarakat untuk ikut serta mengamankan hutan juga sangat rendah yang terutama karena kurangnya wawasan dan kesadaran mereka akan pengelolaan lingkungan hutan sebagai penyangga ekosistem. Meningkatnya kerusakan DAS, terutama yang diakibatkan oleh praktik penebangan liar dan konversi lahan. Rusaknya habitat ekosistem kawasan pesisir dan laut, yang diakibatkan oleh deforestasi hutan mangrove, serta terjadinya degradasi sebagian

2. 3.

besar terumbu karang dan padang lamun, mengakibatkan erosi pantai dan berkurangnya keanekaragaman hayati (biodiversity). 4. Banyaknya pertambangan liar, yang dalam skala besar akan mengganggu keseimbangan fungsi lingkungan hidup, dan berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Meningkatnya pencemaran air, dimana Limbah industri, pertanian, dan rumah tangga merupakan penyumbang pencemaran air. Menurunnya kualitas udara perkotaan, semakin meningkatnya perindustrian dan penggunaan kendaraan bermotor sangat mempengaruhi kualitas udara, khususnya di wilayah perkotaan, serta kejadian kebakaran hutan, dan kurangnya tutupan hijau di perkotaan. Semakin tingginya pencemaran limbah padat, dimana selain membebani pembuangan akhir sampah (TPA) namun sebagian besar sampah yang ada belum diolah dan dikelola secara sistematis, sekedar ditimbun sehingga mencemari tanah maupun air. Lemahnya pelaksanaan penegakan hukum, inkonsistensi dan tumpang tindihnya peraturan perundangan berkaitan dalam pengelolaan lingkungan hidup antar sektor baik di tingkat nasional maupun daerah karena lemahnya koordinasi antar sektor. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap wawasan lingkungan, adanya paradigma di sebagian besar masyarakat mengenai Air, udara, iklim, serta kekayaan alam lainnya dianggap sebagai anugerah Tuhan yang tidak akan pernah habis. Dan hal ini semakin diperparah dengan masalah mendasar seperti kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, dan keserakahan.

5. 6.

7.

8.

9.

10. Kegiatan pembangunan yang mengabaikan penggunaan Rencana Tata Ruang yang lebih mengedepankan aspek lingkungan.

Dari permasalahan yang ada tersebut dapat ditentukan sasaran pembangunan yang ingin dicapai dengan arah kebijakan yang ditempuh dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup sebagai berikut : 1. 2. 3. Pengarusutamaan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke seluruh bidang pembangunan. Meningkatkan koordinasi pengelolaan lingkungan hidup di tingkat Provinsi dan kabupaten/kota. Meningkatkan upaya harmonisasi pengembangan peraturan perundangan lingkungan, dan penegakannya secara konsisten terhadap pencemar lingkungan. Meningkatkan upaya pengendalian dampak lingkungan akibat kegiatan

4.

pembangunan. 5. Meningkatkan kapasitas lembaga pengelola lingkungan hidup, baik di tingkat Provinsi maupun kabupaten/kota, terutama dalam menangani permasalahan yang bersifat akumulatif, fenomena alam yang bersifat musiman dan bencana. Membangun kesadaran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan hidup, dan berperan aktif sebagai kontrol-sosial dalam memantau kualitas lingkungan hidup. Meningkatkan penyebaran data dan informasi lingkungan, termasuk informasi wilayah-wilayah rentan dan rawan bencana lingkungan dan informasi kewaspadaan dini terhadap bencana.

6.

7.

1.2. Pengertian
Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah , setiap satuan kerja perangkat Daerah, SKPD harus menyusun Rencana Strategis dengan berpedoman kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Daerah (RPJMD) untuk kurun waktu 5 (lima) tahun. Sesuai dengan masa jabatan Gubernur Jawa Timur, saat ini telah disusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 38 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Timur 2009 – 2014 untuk kurun waktu tahun 2009 – 2014. Dengan demikian maka RENSTRA Badan Lingkungan Hidup harus konsisten dengan RPJMD dimaksud. Diharapkan RENSTRA Badan Lingkungan Hidup Tahun 2010 – 2014 dapat disusun secara realistis sehingga dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuan yang ada. Untuk itu dibentuk Tim Penyusun RENSTRA Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2010 – 2014 dengan Surat Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur tanggal 3 Pebruari 2009 Nomor : 188/40/KPTS/207/2009 Tahun 2009 tentang Tim Penyusun Rencanaan Strategis Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2010 - 2014. RENSTRA Badan Lingkungan Hidup merupakan suatu proses yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai BLH selama kurun waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahun secara sistematis dan berkesinambungan dengan memperhatikan potensi, peluang dan kendala yang ada atau yang mungkin timbul. RENSTRA BLH Provinsi Jawa Timur Tahun 2010 – 2014 memuat Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Strategi, Kebijakan, Program dan Kegiatan serta ukuran keberhasilan dalam pelaksanaannya.

1.3. Maksud dan Tujuan
RENSTRA BLH Provinsi Jawa Timur Tahun 2010 – 2014 disusun dengan maksud menyediakan dokumen perencanaan bagi BLH untuk kurun waktu tahun 2010 – 2014. Sedangkan tujuannya adalah : 1. 2. 3. Sinkronisasi Tujuan, Sasaran, program dan kegiatan BLH dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur. Menyediakan bahan serta pedoman untuk penyusunan Rencana Kinerja (Rencana Kerja Tahunan) BLH Provinsi Jawa Timur dalam kurun waktu tahun 2010 – 2014. Meningkatkan pelaksanaan tugas dan fungsi BLH beserta seluruh unit kerjanya dalam pengendalian dampak lingkungan hidup dengan menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi.

1.4. Dasar Hukum
Landasan penyusunan Rencana Strategis Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2010 – 2014 sebagai berikut : 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Provinsi Jawa Timur juncto Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1950 Peraturan Tentang mengadakan perubahan dalam Undang-Undang Tahun 1950 Nomor 2 dari hal pembentukan Provinsi Jawa Timur (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 32); Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Republik Indonesia Nomor 2286); Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 164, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 4421); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik

2.

3.

4.

5.

6.

Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723); Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 2009 tentang Perlindungan dan

8.

9.

10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun Pengelolaan Lingkungan Hidup;

11. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4664); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 16. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 17. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815);

18. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4816); 19. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 20. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 21. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 11); 22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebgaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 23. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 1 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2005-2025; 24. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 38 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Timur 2009 – 2014; 25. Keputusan Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur tanggal 3 Pebruari 2009 Nomor : 188/40/KPTS/207/2009 tentang Tim Penyusun Rencanaan Strategis Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 - 2014.

BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD

2.1. Tupoksi dan Struktur Organisasi
Didalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Dan Lembaga Teknis Daerah Provinsi Jawa Timur, Badan Lingkungan Hidup merupakan unsur pendukung Gubernur, dipimpin oleh seorang kepala, yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Yang mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan Daerah yang bersifat spesifik yaitu di bidang lingkungan hidup. Dalam melaksanakan tugasnya Badan Lingkungan Hidup menyelenggarakan fungsi: a. b. c. d. perumusan kebijakan teknis di bidang lingkungan hidup; pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah; pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya; pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur.

Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (BAPEDALDA) Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur dibentuk sesuai dengan Peraturan Daerah No. 9 Tahun 1997, dan sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, BAPEDALDA Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur berubah menjadi Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) Provinsi Jawa Timur, hal sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor : 8 Tahun 2001 tentang Perubahan Pertama Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 9 Tahun 1997 Tentang Organisasi dan Tatakerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (BAPEDALDA) Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur. Kemudian Didalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Dan Lembaga Teknis Daerah Provinsi Jawa Timur, BAPEDAL berubah nama menjadi Badan Lingkungan Hidup (BLH) yang merupakan unsur pendukung Gubernur, dipimpin oleh seorang kepala, yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Yang mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan Daerah yang bersifat spesifik yaitu di bidang lingkungan hidup, dengan demikian Susunan Organisasi Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut :

a. Kepala Badan b. Sekretariat, yang mempunyai tugas merencanakan, melaksanakan, mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan administrasi umum, kepegawaian, perlengkapan, penyusunan program dan keuangan. Sekretariat membawahi : 1) Sub Bagian Tata Usaha 2) Sub Bagian Penyusunan Program 3) Sub Bagian Keuangan c. Bidang Tata Lingkungan, yang mempunyai tugas menyusun perumusan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang pengembangan standardisasi, pengkajian lingkungan, laboratorium lingkungan, pembinaan teknis AMDAL, dan penataan kawasan berwawasan lingkungan. Bidang Tata Lingkungan membawahi: 1) Sub Bidang Standardisasi dan Pengkajian Dampak Lingkungan 2) Sub Bidang Bina Teknis AMDAL d. Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan, yang mempunyai tugas menyiapkan perumusan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan dibidang pengawasan dan pengendalian pencemaran air, Pesisir dan laut, tanah, udara dan kerusakan lingkungan. Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan membawahi: 1) Sub Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Air dan Laut; 2) Sub Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Tanah dan Udara e. Bidang Konservasi dan Pemulihan Lingkungan, yang mempunyai tugas menyiapkan perumusan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang konservasi sumber daya alam dan keaneka ragaman hayati, pemulihan dan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Bidang Konservasi dan Pemulihan Lingkungan membawahi: 1) Sub Bidang Konservasi Lingkungan; 2) Sub Bidang Pemulihan Lingkungan f. Bidang Komunikasi Lingkungan dan Peningkatan Peran serta Masyarakat, yang mempunyai tugas menyiapkan perumusan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan dibidang komunikasi lingkungan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Susunan organisasi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Peningkatan Peran serta Masyarakat terdiri atas: 1) Sub Bidang Komunikasi Lingkungan; 2) Sub Bidang Peningkatan Peran Serta Masyarakat

g. UPT Badan Pada saat tahun disusunnya Renstra ini Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Air Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur masih dalam proses. h. Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok jabatan fungsional sampai saat ini sudah terbentuk. Walaupun hanya dalam bidang perpustakaan, untuk kedepan masih diperlukan jabatan fungsional lainnya untuk menampung personil-personil dengan keahlian khusus antara lain PPNS dan PPLHD. Ketentuan-ketentuan yang dapat digunakan dalam pembentukan Kelompok Jabatan Fungsional sebagai berikut : - Keputusan Presiden No. : 100 Tahun 2004 tentang Fungsional ; Tunjangan Jabatan

- Keputusan Bersama Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.: 47/KEP/MENPAN/8/2002 tentang Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan dan Angka Kreditnya ; - Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.: 145 Tahun 2004 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan dan Angka Kreditnya ; - Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.: 146 Tahun 2004 tentang Pedoman Kualifikasi Pendidikan Untuk Jabatan Fungsional Pengendali Lingkungan ; - Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.: 147 Tahun 2004 tentang Kode Etik Profesi Pengendali Dampak Lingkungan ; - Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 62 Tahun 2004 tentang Tata Cara Permintaan, Pemberian, dan Penghentian Tunjangan Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan. Struktur organisasi Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur dapat dilihat pada Gambar berikut:

2.2. Sumber Daya Manusia
Adapun kualifikasi staf secara umum diasumsikan pada berbagai komposisi di BLH pada setiap level pada struktur organisasi tergantung pada banyak faktor yaitu: Fungsi, prioritas dan beban kerja dari setiap Sub. Bidang, Sub Bagian di BLH. Isu-isu dan Permasalahan lingkungan yang berkembang disetiap daerah Arah dan Prioritas Program dan Kegiatan organisasi Kemampuan anggaran Ketersediaan personil dengan kualifikasi dan pengalaman yang di butuhkan.

Berdasarkan pengalaman BLH Provinsi Jawa Timur, kualifikasi staf yang dibutuhkan pada setiap level adalah sebagai berikut : Semua Kepala Bidang dan Kepala Sub Bidang Teknis seharusnya memiliki kualifikasi sesuai dengan bidang tugas dan paling tidak memiliki pendidikan Strata I. Setiap Kepala Sub. Bagian pada Sekretariat seharusnya memiliki kualifikasi strata I dalam bidang perencanaan, hukum, keuangan, komunikasi dan administrasi/manajemen. Staf di Sub Bidang teknis seharusnya 70% memiliki kualifikasi Strata I, 20% sertifikat diploma/sertifikasi training yang relevan dengan isu-isu lingkungan. Sedangkan 10% cukup berpendidikan SMU dan SLTP. Kelompok fungsional di dalam organisasi BLH Provinsi 90% minimal berkualifikasi Strata I dan 10% cukup Diploma Teknik yang berkaitan dengan tugas fungsinya.

-

-

-

Sosok Aparatur BLH hendaknya memiliki pengetahuan dan berbagai permasalahan lingkungan dan kemampuan koordinasi dan kerjasama dengan berbagai pihak, pengetahuan tentang sistem Fisika, Kimia, Biologi memahami dan berpengalaman dalam proses-proses Industri dan teknologi produksi bersih. Kemampuan dalam melakukan pengukuran berbagai parameter lingkungan. Selain itu juga harus mampu berkomunikasi secara efektif dan memberikan pelayanan informasi. Jumlah personil PNS, Tenaga Kontrak dan Outsorching Laboratorium Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2009.

Tabel 1. Jumlah Karyawan PNS BLH Provinsi Jawa Timur Bagian Sekretariat Bidang Pengembangan Tata Lingkungan Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Bidang Konservasi dan Pemulihan Lingkungan Bidang Komunikasi Lingkungan dan Peningkatan Peran serta Masyarakat Jumlah Jumlah 39 15 18 12 13 98

Tabel 2. Jumlah Karyawan Tenaga Kontrak BLH Provinsi Jawa Timur Bagian Tenaga Kontrak Laboratorium Tenaga Kontrak (Pemberkasan) Tenaga Kontrak (Belum diangkat) Jumlah Jumlah 13 6 2 21

Tabel 3. Jumlah Karyawan PNS Berdasarkan Pendidikan Pendidikan S2 S1 D3 SMA SMP SD Jumlah Jumlah 24 42 4 22 4 2 98

Gambar 2 Grafik Karyawan PNS Berdasarkan Pendidikan SD 2% S2 25% SLTP 4% SLTA 22%

S1 43%

D3 4%

Tabel 4. Tingkatan Pangkat / Golongan PNS BLH Provinsi Jatim Gol/Ruang Jumlah IV/d IV/c 1 IV/b 4 IV/a 12 III/d 20 III/c 17 III/b 12 III/a 9 II/d 1 II/c 1 II/b II/a 17 I/c 3 I/a 1 Jumlah 98

Tabel 5. Eselon PNS BLH Provinsi Jatim Eselon Jumlah II/a 1 III/a 5 IV/a 11 Jumlah 17

2.3. Sarana dan Prasarana
Sarana dan Prasarana yang dimiliki BLH pada saat ini masih belum memadai untuk menjadikan BLH Provinsi Jawa Timur sebagai organisasi yang profesional. BLH Provinsi memiliki 1 mobil unit pengukuran udara yang dapat dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain dalam keadaan rusak sedangkan untuk 2 unit mobil pengukuran kualitas air yang dilengkapi dengan peralatan sampling yang siap digerakan pada setiap saat kalau terjadi kasus-kasus pencemaran belum ada masih dialokasikan pada tahun anggaran 2009. Selanjutnya dari segi pengembangan sistem informasi BLH Provinsi Jawa Timur sudah memiliki website dengan nama www.blhjatim.net yang dapat diakses 24 jam oleh seluruh kalangan stakeholder dan masyarakat yang membutuhkan informasi berkenaan dengan masalah lingkungan. Dengan dukungan sarana Local Area Network (LAN), setiap bidang dapat saling tukar menukar data, mengakses internet, mencari dan menukar data dengan mudah guna menunjang kegiatan BLH Provinsi Jawa Timur. Pada Tahun 2009 telah disetujui pembangunan Gedung Laboratorium Uji Kualitas Lingkungan senilai Rp. 12 milyar secara multiyears sesuai dengan Surat Gubernur tanggal 14 September 2009 No. 050/14099/022/2009 perihal persetujuan Ijin Kontrak Tahun Jamak (Multi Years). Melalui P-APBD tahun 2009 anggaran untuk pembangunan Gedung Lab. Adalah Rp. 2,3 milyar, dan melalui APBD 2010 dianggarkan Rp. 5 milyar, sedangkan sisanya akan dianggarkan melalui P-APBD 2010 senilai 4,7 milyar

2.4. Anggaran
Anggaran BAPEDAL Anggaran. Tahun 2006 sampai dengan 2008 dapat dilihat dalam Tabel

Tabel Anggaran BAPEDAL Tahun 2006 sampai dengan Tahun 2008

No 1 2 3

Tahun 2004 2005 2006 Tahun

Belanja Aparatur 1.748.265.000 4.987.745.600 5.945.710.450 BTL (Belanja Tidak Langsung) 3.437.580.500 4.510.183.000

Belanja Jumlah Pelayanan Publik 6.455.313.500 8.203.578.500 14.122.570.750 19.110.316.350 15.948.103.750 21.893.814.200 BL Jumlah (Belanja Langsung) 13.699.501.025 17.137.081.525 17.251.393.750 21.761.576.750

4 5

2007 2008

Grafik Anggaran Badan Lingkungan Hidup 2004 – 2008
25.000.000.000 20.000.000.000 Rupiah 15.000.000.000 10.000.000.000 5.000.000.000 0 Tahun Aparatur / BL Publik / BL Jumlah

1 2004 1.748.265.00 6.455.313.50 8.203.578.50

2 2005 4.987.745.60 14.122.570.7 19.110.316.3

3 2006 5.945.710.45 15.948.103.7 21.893.814.2

4 2007 3.437.580.50 13.699.501.0 17.137.081.5

5 2008 4.510.183.00 17.251.393.7 21.761.576.7

Mengingat masih terbatasnya kemampuan anggaran tersebut, maka pendanaan alternatif dapat diperjuangkan sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, antara lain melalui skema DNS (Debt for Nature Swap), CDM (Clean Development Mechanism), Trust Fund Mechanism dan Green Tax. Selain itu dapat pula dikembangkan alternatif pendanaan dari dalam negeri dengan mengembangkan berbagai mekanisme pengelolaan melalui lembaga keuangan maupun lembaga independen lainnya.

BAB III ISU STRATEGIS

Berdasar kajian kondisi dan situasi Pengelolaan Lingkungan Hidup tahun 2006 – 2010 (Renstra PLH 2006 – 2010), dan potensi maupun isu strategis yang ada di Provinsi Jawa Timur, dapat dirumuskan ada 5 (lima) isu pokok yang wajib mendapat perhatian bersama, yaitu :

1.1. Pengelolaan Hutan, Lahan dan Sumber Air
Kerusakan ekosistem hutan telah memberikan dampak pada konservasi lahan maupun kelangkaan sumber air/mata air. Kecenderungan ini telah tampak dari indikator menurunnya kualitas lingkungan hidup karena tekanan penduduk maupun bencana alam, dan pemanfaatan berlebihan sumber daya alam yang melampaui daya dukung lingkungannya. Kasus pembalakan hutan secara liar, erosi dan longsor, rusaknya habitat biota, menurunnya biodiversitas, banjir dan kekeringan, berubahnya iklim, kebakaran hutan, masalah dampak sosial ekonomi akibat eksploitasi dan sebagainya, telah menjadikan masalah laten yang memerlukan pendekatan holistik dan bertahap guna menyelesaikan atau menangani masalah ini. Keberadaan Taman Hutan Raya (Tahura) ditujukan untuk menjaga pelestarian alam, mengembangkan pendidikan dan wisata, juga berperan dalam pemeliharaan kelangsungan fungsi hidrologis Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, DAS Konto, dan DAS Kromong, juga untuk melestarikan mata air sumber Sungai Brantas di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, yang kondisinya sangat memprihatinkan. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1992, dan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 11190/KPTS-II/2002, di Jawa Timur dibentuk kawasan pelestarian alam yang disebut Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo, yang mencakup areal seluas 27.868,30 hektare. Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur melalui Balai Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo mengelola kawasan Tahura R. Soerjo seluas 27.868,30 hektare, dengan rincian Tahura seksi wilayah Malang (8.928,30 hektare), Tahura seksi wilayah Pasuruan (4.607,30 hektare), dan Tahura seksi wilayah Mojokerto (11.468,10 hektare), dan Tahura seksi wilayah Jombang (2.864,70 hektare). Hasil pantauan Citra Landsat (foto udara), Mei 2003, terhadap Tahura R. Soerjo seluas 27.868,30 hektare, terdapat kawasan berhutan sekitar 13.387 hektare, dan sisanya 14.000 hektare tidak berhutan lagi (gundul). Dari areal gundul yang dikategorikan lahan kritis itu, 1.500 hektare di antaranya tergolong lahan kritis abadi, yaitu sekitar puncak Gunung Welirang, dan Gunung Arjuno. Dengan demikian, tersisa lahan kritis seluas 12.500 hektare. Penanganan lahan kritis berlangsung setiap tahun melalui kegiatan reboisasi, yang rata-rata per tahun sekitar 1.000 hektare. Sampai 2008, sisa lahan yang masih tergolong kritis berkurang menjadi 8.286 hektare. Kondisi fisik tiga wilayah Tahura (Malang, Pasuruan, Mojokerto) yang cenderung kering, dan berisi jenis tanaman alang-alang, serta semak belukar, membuat kawasan hutan itu rawan bencana kebakaran saat musim kemarau.

Sedangkan Tahura di wilayah Jombang, sebagian besar ditumbuhi tanaman basah, seperti pohon pisang, dan bambu, sehingga aman di musim kemarau. Hampir setiap tahun, di musim kemarau, kawasan hutan selalu mengalami kebakaran. Jenis tanaman yang terbakar adalah tanaman jati muda, rumput, dan alang-alang. Penyebab bencana kebakaran hutan, hampir 90% karena ulah manusia, seperti api unggun yang tidak dimatikan, puntung rokok milik pendaki yang masih menyala, atau sengaja dibakar oleh masyarakat sekitar untuk membuka lahan. Sisanya, karena faktor alam, seperti letusan gunung atau gesekan ranting-ranting yang kering. Untuk lahan kritis non-Tahura R. Soerjo, terbagi menjadi dua kategori, yakni lahan kritis dalam kawasan, yaitu dalam kawasan hutan lindung (tidak termasuk areal HPH, ex-HPH, areal bekas tebangan, dan areal hutan mangrove). Dan, lahan kritis luar kawasan, yaitu di luar kawasan hutan (tidak termasuk lahan kritis areal hutan mangrove di luar kawasan hutan). Luas kawasan hutan dan perairan Provinsi Jawa Timur berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi, Nomor 417/Kpts-II/1999, mencapai 1.357.337,07 hektare. Data Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, menyatakan sampai dengan 2006, luas lahan kritis dalam kawasan mencapai 165.619,53 hektare, sedangkan lahan kritis luar kawasan seluas 502.405,68 hektare. (RPJMD Jatim 2009 – 2014)

1.2. Permasalahan Wilayah Pesisir dan laut
Luasnya wilayah pesisir dan keanekaan sumberdaya yang ada, maka wilayah pesisir sebagai daerah ekoton yang labil, perlu ditangani dengan kehati-hatian dan menyeluruh, karena ciri khas pantai yang cukup beraneka ragam. Interaksi nelayan dengan perairan pesisir maupun laut, dengan kegiatan utama eksploitasi hayati laut telah berlangsung sejak lama, yang menyangkut kehidupan masyarakat, dalam aspek ekonomi, sosial dan budaya. Oleh karena itu untuk mengurangi masalah pesisir dan laut dibutuhkan pendekatan kemasyarakatan yang menyeluruh, terencana, melibatkan fihak terkait, serta konsisten dalam pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi. Dengan meningkatnya pembangunan diwilayah pesisir yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan hidup, utamanya didaerah Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya telah menyebabkan kerusakan ekosistem pesisir dan laut. Sebagai contoh ekosistem mengrove di Jawa Timur saat ini tercatat 37.237 Ha, dengan kondisi rusak seluas 11.124 Ha dan tanah kosong yang ideal untuk ditanami mangrove sluas 5.242 Ha, sedangkan luas hutan mangrove idealnya sebesar 45.000 Ha. Kondisi di Jawa Timur masih kurang optimal. Untuk ekosistem terumbu karang di perairan laut Jawa Timur, pada tahun 2004 kondisi kerusakannya bervariasi antara 30 – 80 % yang tersebar antara lain di wilayah pesisir Situbondo, dan beberpa pulau kecil diantaranya, Pulau Sabunten, Pulau Sesiil, Pulau Bili Raja, Pulau Raas dan Pulau Mamburit.

1.3. Permasalahan Pencemaran Air, Tanah dan Udara
Pencemaran lingkungan, baik dalam medium air, udara maupun tanah telah menjadikan kualitas lingkungan hidup menurun. Sumber-sumber pencemar dari industri, domestik, maupun yang lain harus dapat diatasi, dalam bentuk pencegahan maupun pengendalian. Dampak pencemaran yang bersifat akut atau kronis perlu diantisipasi, agar sumber daya yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Masalah pencemaran ini perlu ditangani secara sistemik, terencana, taat asas dan terus menerus. Upaya pemulihan dan pencegahan juga harus dimulai dari perencanaan hingga evaluasi pelaksanaannya, agar prinsip pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan dalam mencegah dan mengendalikan pencemaran lingkungan. Pada tahun 2003, tercatat pencemaran air dari industri sebanyak 14 kasus, sedangkan tahun 2004 tercatat 5 kasus ditambah dengan kualitas air sungai yang buruk pada masing-masing Daerah Aliran Sungai (DAS), terutama bagian hilir. Hal ini juga diakibatkan oleh karena penggunaan pestisida yang tidak terpantau. Berdasarkan indikator kualitas air, khususnya BOD (Biologycal Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand), pada tahun 2004 sungai Brantas mencapai BOD : 18, 83 Mg/l, COD : 39,59 Mg/l yang masing-masing diatas ambang batas baku mutu yang ditetapkan yaitu BOD : 6 Mg/l dan COD :10 Mg/l. Hasil penghitungan secara statisik ( metode STORET) untuk menentukan status kualitas air sungai di DAS Brantas menunjukkan bahwa Kali Brantas di daerah hulu dan tengah (mulai dari jembatan pendem kota batu sampai dengan DAM Lengkong) berada pada kondisi tercemar sedang dan di hilir (mulai dari DAM lengkong hingga pecah menjadi Kali surabaya dan Kali Porong sampai ke muara) tercemar berat.

1.4. Permasalahan Lingkungan Perkotaan
Permasalahan lingkungan yang paling utama di perkotaan adalah masalah pengelolaan sampah, banjir, emisi kendaraan bermotor, limbah cair domestik, minimnya ruang terbuka hijau (RTH), penataan ruang kota dan sebagainya. Sebagai contoh pengelolaan limbah padat, produksi sampah di Surabaya dikumpulkan pada lokasi-lokasi TPA (Tempat Pembuangan Akhir), yaitu : TPA Sukolilo dan TPA Benowo, yang telah menimbulkan konflik sosial. Rata-rata produksi sampah di Surabaya sebesar 8.700 M3/hari atau 2.436 ton/hari, sedangkan produksi sampah di Gresik ratarata 1.580 M3/hari atau 442,45 ton/hari. Hal ini ditambah dengan sistem pengelolaannya yang kurang tepat, yaitu dengan „open dumping‟ dan bukan „sanitary landfil‟ sehingga mengakibatkan umur TPA terbatas, pencemaran lindi cair,dan harus menyediakan lahan TPA baru.

1.5. Permasalahan Sosial Kemasyarakatan
Pendekatan pada komponen utama Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH) yaitu ekonomi, ekologi dan sosial perlu diterapkan mulai tahap perencanaan, hingga operasional dan evaluasinya. Oleh karena masalah pengelolaan lingkungan hidup tidak akan lepas dari aspek sosial, ekonomi, budaya dan tingkat pendidikan karena menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar dan kesejahteraan masyarakat. Aspek kemasyarakatan dilihat dari indikator memburuknya kualitas fisik/infrastruktur

perkotaan, serta menurunnya kualitas hidup masyarakat perkotaan, serta menurunnya kualitas hidup masyarakat perkotaan, antara lain disebabkan karena keterbatasan pelayanan kebutuhan dasar perkotaan yang lebih banyak dipicu oleh factor daya tarik ekonomi dalam urbanisasi. Masalah kemasyarakatan ini dapat didekati dengan perubahan paradigma yang berfihak pada pengelolaan lingkungan hidup, untuk kemudian diikuti dengan sosialisasi tentang hak dan kewajiban mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, dan diikuti dengan perubahan budaya tingkah laku menuju masyarakat yang hidup baik, sehat dan bertanggung jawab.

Kelima isu tersebut perlu diterjemahkan dalam program dan kegiatan yang mendukung berbagai upaya perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH), dalam rangka menjaga agar pembangunan tetap terlanjutkan, dan sumberdaya alam dan lingkungan dapat lestari guna pemanfaatan yang terkendali, serta membangun sikap ramah dengan lingkungan alam sekitarnya. Pembangunan akan menjadi tak terlanjutkan, apabila para fihak terkait mengabaikan atau meninggalkan wawasan dan kesadaran tentang kelestarian fungsi lingkungan hidup

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, KEBIJAKAN, STRATEGI

4.1. Visi
Dalam rangka mewujudkan hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai mana amanah dari Undang Undang Lingkungan Hidup No. 23 tahun 1997 Pasal 5 ayat (1), serta untuk mendukung tujuan pembangunan Jawa Timur saat ini yang pro terhadap wong cilik, maka Visi pengelolaan lingkungan hidup di Jawa Timur adalah: ”Terwujudnya Lingkungan Hidup Jawa Timur Yang Baik dan Sehat”

4.2. Misi

Mengingat bahwa permasalahan lingkungan merupakan suatu permasalahan kompleks yang ditimbulkan oleh berbagai aktivitas manusia baik aktifitas yang terorganisir dalam skala besar seperti kegiatan industri dan kegiatan usaha yang lain, maupun permasalahan sosial kemasyarakatan yang tidak terorganisir namun sudah menjadi bagian dari pola hidup masyarakat karena terkait dengan faktor ekonomi dan sosial budaya seperti penebangan hutan secara liar, pembuangan sampah secara sembarangan, emisi kendaraan bermotor dan lain lain, serta lemahnya kontrol dari pihak pemerintah sehingga mengakibatkan adanya pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya maka penyelesaian masalah tidak akan dapat terwujud tanpa adanya kerja sama dan partisipasi dari semua pihak. Kualitas lingkungan hidup saat ini relatif masih rendah dan keberadaan sumber daya alam yang mengalami banyak kerusakan maka salah satu cara untuk mewujudkan lingkungan hidup yang baik dan sehat adalah melalui upaya peningkatan kualitas lingkungan dan pelestarian sumber daya alam. Perumusan Misi Pengelolaan Lingkungan Hidup diarahkan untuk membangun suatu kebersamaan antara pihak pemerintah sebagai regulator, pihak swasta sebagai kontributor pencemaran, pihak akademisi sebagai penghasil teknologi dan solusi ilmiah dan pihak Masyarakat yang sangat diperlukan perannya dalam bentuk perilaku yang berwawasan lingkungan serta sebagai pengendali / pengontrol pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka Misi Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur adalah:

”Bersama mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan hidup dan pelestarian sumber daya alam di Jawa Timur”

4.3. Tujuan
a. b. c. d. e. f. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup melalui upaya pencegahan dan pengendalian pencemaran lingkungan hidup pada media air tanah dan udara. Melindungi sumber daya alam dari kerusakan dan mengelola kawasan ekosistem sesuai dengan fungsinya. Merehabilitasi kawasan ekosistem yang rusak dan pemulihan fungsi sumber daya alam. Meningkatkan manajemen perkotaan yang ramah lingkungan. Meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan peran serta semua pihak didalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Meningkatkan kualitas dan akses informasi tentang sumber daya alam dan lingkungan hidup.

4.4. Sasaran
Memperhatikan adanya permasalahan mendasar, potensi, peluang, kebutuhan akan partisipasi semua pihak dan teknologi yang tersedia maka sasaran pengelolaan lingkungan hidup Jawa timur adalah sebagai berikut: a. Memperkuat instrumen peraturan perundang undangan lingkungan hidup serta meningkatkan upaya pentaatan dan penegakan hukum lingkungan secara konsisten. Memenuhi ketentuan lisensi bagi komisi penilai AMDAL Kabupaten/Kota Mewujudkan, melaksanakan dan mengawasi ketentuan perijinan lingkungan. Menurunkan beban pencemaran limbah cair, padat dan gas dari sumber pencemar dan meningkatkan pengelolaan limbah B3. Pengawasan eksplorasi dan eksploitasi pemanfaatan sumber daya alam dan pertambangan untuk menjamin pemanfaatan secara berkelanjutan. Mengkoordinasikan dan memantau pelaksanaan pengelolaan kawasan konservasi, pesisir dan laut serta menjaga keanekaragaman hayati. Meningkatkan kualitas pengelolaan persampahan dan daya dukung lingkungan hidup perkotaan. Meningkatkan kualitas udara perkotaan. Membangun kesadaran dan meningkatkan peran aktif masyarakat masyarakat atas hak dan kewajibannya dalam pengelolaan lingkungan hidup. Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan membangun koordinasi harmonis antar pemangku kepentingan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Menyediakan informasi lingkungan hidup yang berkualitas.

b. c. d. e. f. g. h. i. j. k.

4.5. Arah Kebijakan
Untuk mewujudkan sasaran tersebut, arah kebijakan yang akan ditempuh meliputi perbaikan manajemen dan sistem pengelolaan sumber daya alam, optimalisasi manfaat ekonomi dari sumber daya alam termasuk jasa lingkungannya, pengembangan peraturan perundangan lingkungan, penegakan hukum, rehabilitasi dan pemulihan cadangan sumber daya alam, dan pengendalian pencemaran lingkungan hidup, dengan memperhatikan kesetaraan gender. Melalui arah kebijakan ini diharapkan sumber daya alam dapat tetap mendukung perekonomian Jawa Timur, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan daya dukung dan fungsi lingkungan hidupnya. Secara lebih rinci arah kebijakan yang ditempuh dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah sebagai berikut: a. Pengarusutamaan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke seluruh bidang pembangunan. b. Meningkatkan koordinasi pengelolaan lingkungan hidup di tingkat Provinsi dan kabupaten/kota. c. Meningkatkan upaya harmonisasi pengembangan peraturan perundangan

lingkungan, dan penegakannya secara konsisten terhadap pencemar lingkungan. d. Meningkatkan pembangunan. e. Meningkatkan kapasitas lembaga pengelola lingkungan hidup, baik di tingkat Provinsi maupun kabupaten/kota, terutama dalam menangani permasalahan yang bersifat akumulatif, fenomena alam yang bersifat musiman dan bencana. f. Membangun kesadaran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan hidup, dan berperan aktif sebagai kontrol-sosial dalam memantau kualitas lingkungan hidup. g. Meningkatkan penyebaran data dan informasi lingkungan, termasuk informasi wilayah-wilayah rentan dan rawan bencana lingkungan dan informasi kewaspadaan dini terhadap bencana upaya pengendalian dampak lingkungan akibat kegiatan

4.6. Analisis Strategi
Strategi pembangunan daerah Provinsi Jawa Timur 2010-2014 bertumpu pada pemberdayaan rakyat dan menempatkan strategi pro poor sebagai prioritas utama untuk mewujudkan terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat, seperti hak pangan, pelayanan kesehatan, pendidikan, air bersih dan sanitasi, pekerjaan secara merata, berkualitas, dan berkeadilan. Fungsi penyediaan lingkungan hidup yang baik dan sehat sangat erat hubungannya dengan pemenuhan hak dasar masyarakat sebagai makhluk hidup karena berkaitan dengan tingkat kesehatan masyarakat akan kebutuhan terhadap air bersih, udara bersih dan pencegahan bencana karena pemanfaatan sumber daya alam secara tidak bijaksana. Di satu sisi, perkembangan industri sangat diperlukan untuk menopang kebutuhan ekonomi, namun disisi lain dampak lingkungan yang dihasilkan juga dapat merusak lingkungan baik air, udara maupun tanah dan merugikan masyarakat, sehingga diperlukan suatu strategi yang bijaksana untuk tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi tanpa harus merugikan lingkungan dan masyarakat. Sumber pencemar, selain dari pihak industri juga berasal dari aktivitas manusia sebagai masyarakat, diantaranya adalah adanya limbah rumah tangga berupa sampah, limbah cair domestik, emisi kendaraan bermotor dan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam secara liar seperti pembabatan hutan, penambangan pasir, dan lain lain. Secara umum, permasalahan dan tantangan pengelolaan lingkungan hidup meliputi hal hal sebagai berikut: 1. Semakin meluasnya degradasi lahan menjadi lahan pertanian serta akibat penebangan liar di kawasan hutan lindung , yang berdampak menurunnya ketersediaan sumber-sumber air. 2. Penurunan kualitas air, udara dan tanah akibat pembuangan limbah ke media lingkungan 3. Peningkatan intensitas banjir akibat kurangnya pengelolaan Daerah Aliran Sungai 4. Kurangnya kesadaran masyarakat umum akan pentingnya fungsi lingkungan dalam setiap usaha/kegiatan ekonomi atau pembangunan. 5. Lemahnya sangsi penegakan hukum bidang lingkungan hidup Dalam melakukan analisis untuk menentukan strategi, sasaran dan program, Renstra ini menggunakan telaahan SWOT dengan menganalisis faktor internal, mencakup Kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness) serta faktor Eksternal yang mencakup Peluang (Opportunity) dan Kendala (Threat) dengan hasil sebagai berikut: 1. Lingkungan Internal a. Kekuatan (strength) - Adanya peraturan perundangan dibidang lingkungan hidup baik ditingkat Pusat, Provinsi, maupun Kabupaten Kota - Dukungan kebijakan dan regulasi dibidang Lingkungan Hidup baik dari Pemerintah Pusat, Provinsi maupun Kab./Kota.

- Adanya Organisasi BLH dengan stuktur dan instrumen yang cukup lengkap untuk mendukung pelaksanaan program dan kegiatan - Tersedianya SDM yang berpotensi untuk melaksanakan tugas di bidang pengelolaan lingkungan. - Tersedianya PPNS dan PPLHD sebagai instrumen pengawasan terhadap pelaku pencemaran. - Tersedianya laboratorium lingkungan sebagai alat pemantauan kualitas lingkungan. - Tersedianya Sumber dana dari APBN maupun APBD Jawa Timur Hal utama yang harus ada agar dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup agar dapat berjalan dengan baik adalah adanya dukungan kebijakan serta sangsi dalam aturan perundangan yang tegas dan adil. Dalam Undang-Undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Bab I, Pasal 1 Ayat 3 menyebutkan bahwa :
“ Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, kedalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan “

Kata “upaya sadar dan terencana” diatas, menunjukkan betapa besar perhatian Pemerintah mengenai pentingnya fungsi lingkungan dalam setiap aspek pelaksanaan pembangunan di segala bidang, hal ini juga berarti merupakan suatu pemberian jaminan hak rakyat untuk mendapatkan keberlangsungan dan kualitas hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Wujud perhatian tersebut diimplementasikan dalam bentuk peraturan perundangan di setiap daerah yang disesuaikan dengan kebutuhan masingmasing daerah ( Perda, Pergub dsb ), Regulasi, kebijakan serta sumber dana yang pada intinya adalah untuk menjamin bahwa pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dapat berjalan dengan baik dan maksimal dengan segala konsekuensinya. Sebagai jaminan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang optimal di Provinsi Jawa Timur, Badan Lingkungan Hidup telah memiliki potensi SDM dengan kualifikasi yang dapat diandalkan dari berbagai bidang disiplin ilmu ( Teknik Kimia, Teknik Biologi, Teknik Pertambangan, Teknik Informatika, Teknik Lingkungan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat ), serta petugas PPNS dan PPLHD yang handal sebagai instrumen pengawasan di lapangan. Keberadaan Laboratorium Lingkungan Hidup yang telah diakui kapabilitasnya dengan standart kualitas mutu ISO/IEC 17025 : 2005 tentang Persyaratan Laboratorium Penguji dan Laboratorium Kalibrasi serta kemampuan personil dengan latar belakang akademis yang sesuai dan teruji dalam melakukan analisa hasil laboratorium, sarana dan prasarana laboratorium yang cukup lengkap dan pada tahun 2009 ini akan dilaksanakan pembangunan

Gedung Laboratorium Uji Kualitas Lingkungan 3 lantai yang dibiayaai oleh APBD secara multiyears (tahun jamak) termasuk penambahan sarana kendaraan MobiLab untuk uji lapangan.

b.

Kelemahan (Weakness) - Masih kurangnya koordinasi, kerjasama, sinkronisasi program serta adanya kecenderungan berpola fikir lama bahwa pelaksanaan program kegiatan hanya sebagai sarana untuk mempercepat penyerapan anggaran bukan pelaksanaan program sebagai sarana pendukung pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan ( sustainable development ). - Masih adanya pelaksanaan program kegiatan pembangunan yang tidak berpijak pada akar rumput masalah ( analisa awal pencegahan ) namun lebih cenderung pada pelaksanaan program yang bersifat pemulihan setelah terjadinya bencana. - Masih kurangnya sinergi antara stakeholder terkait dalam memberikan hal-hal yang bersifat informatif, komunikatif, sosialisasi, dan komitmen yang terus menerus sebagai usaha untuk memberikan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya fungsi lingkungan dalam setiap kegiatan/usaha pembangunan. - Masih adanya kegiatan yang bersifat top down dan tidak konsisten dalam implementasi kegiatan. - Masih adanya pengkotak kotakan peruntukan anggaran yang kurang sesuai dengan kebutuhan strategis. - Keterbatasan Kualitas Sumberdaya Manusia Kelemahan yang nampak jelas dari kelembagaan BLH yaitu tidak tersedianya sumber daya manusia yang memadai dan relevan dengan kebutuhan pengelolaan lingkungan hidup. Lembaga yang handal adalah lembaga yang didukung sumberdaya manusia memadai. Tidak banyak ketersediaan sumberdaya manusia di daerah yang berlatar belakang ilmu lingkungan atau ilmu-ilmu yang mendukung pengelolaan lingkungan hidup. Sampai dengan tahun 2008, jumlah sumber daya manusia untuk pegawai yang telah memiliki sertifikat AMDAL penyusun sebanyak 14 orang, AMDAL penilai sebanyak 13 orang, tenaga ahli laboratorium 15 orang dan tenaga dibidang auditor lingkungan 6 orang. Dan sumber daya manusia yang tak kalah pentingnya adalah tenaga ahli dibidang hukum lingkungan yang disebut sebagai penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) lingkungan hidup. Saat ini hanya ada 6 orang di BLH Jatim sebagai pejabat pengawas lingkungan hidup daerah (PPLHD) dan 31 orang PPNS tersebar di Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Dari sumberdaya manusia tersebut di atas sebagian besar berada di BLH Provinsi Jawa Timur dan beberapa Kabupaten/Kota yang berwenang di bidang lingkungan hidup. Meskipun telah mengalami penambahan sumberdaya

manusia bidang lingkungan hidup namun jumlah dan penyebarannya belum sesuai dengan kebutuhan dan tanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup diseluruh Jawa Timur. Hal ini merupakan kelemahan utama dari organisasi Badan Lingkungan Hidup. Sehingga sangat bisa jadi sumberdaya manusia untuk pengelolaan lingkungan hidup daerah diambil dari bidang-bidang yang tidak relevan. Sehingga persyaratan instrumen pengelolaan lingkungan hidup di daerah tidak dapat dipenuhi. Sebagai contoh, salah satu kriteria pembentukan komisi penilai AMDAL berdasarkan PP No 25 Tahun 2000 untuk daerah otonom, mensyaratkan bahwa :
“Tersedianya sumber daya manusia yang telah lulus mengikuti pelatihan Dasar-dasar AMDAL dan/atau Penyusunan AMDAL dan/atau Penilaian AMDAL khususnya diinstansi pemerintah untuk melaksanakan tugas dan fungsi komisi penilai.”

Lalu pertanyaannya adalah apakah sudah tersedia sumberdaya manusia yang sesuai dengan kriteria tersebut di atas pada seluruh daerah otonom? sehingga instrumen AMDAL yang merupakan salah satu instrumen pengelolaan lingkungan hidup dapat dijalankan? Apabila mengamati data dari BLH seperti diatas, diketahui bahwa ketersediaan sumberdaya yang dipersyaratkan tersebut dapat dipenuhi oleh pemerintah Jawa Timur sebagai leading sektor pengelola lingkungan hidup se Jawa Timur, disatu sisi BLH bersemangat melaksanakan pembangunan, tetapi di sisi lain instrumen AMDAL tidak dapat berjalan, padahal AMDAL merupakan salah satu prasyarat bagi proses pengambilan keputusan penyelenggaraan usaha atau kegiatan pembangunan (pasal 15 UU LH No. 23 tahun 1997 dan pasal 1 (1) PP No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL). Selain itu juga AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan (pasal 2 (1) PP No. 27 tahun 1999). Jadi, secara legal apabila suatu kegiatan yang masuk kriteria melakukan ketentuan AMDAL namun tidak dipenuhi, tentu kegiatan tersebut tidak dapat diizinkan beroperasi oleh instansi berwenang.

2. Lingkungan Eksternal a. Oppotunity (Kesempatan) - Adanya UU PPLH 2009 sebagai pengganti UU No. 23 Tahun 1997. - Meningkatnya kesadaran masyarakat atas hak nya untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat - Adanya motivasi, keyakinan dan komitmen yang terus tumbuh berkembang dari aparatur pengelola lingkungan hidup untuk meningkatkan kinerjanya dalam mendukung pelaksanaan pembangunan berkelanjutan yang lebih mengedepankan aspek dan penyelamatan fungsi lingkungan hidup.

- Tersedianya instrumen yang dapat meningkatakan kinerja lingkungan industri dan masyarakat seperti program PROPER, ADIPURA, ADIWIYATA, KALPATARU, dll - Adanya sektor perbankan yang dapat mendukung program pengendalian pencemaran lingkungan seperti adanya bunga lunak dan pembebasan biaya bea cukai untuk import peralatan pengendalian pencemaran serta pengendalian pengeluaran kredit terhadap industri yang tidak ramah lingkungan. - Tersedinya akademisi dari berbagai perguruan tinggi yang dapat memberikan solusi ilmiah untuk mengatasi pencemaran lingkungan. - Adanya sumber dana dari pihak industri dan pelaku kegiatan usaha lain untuk mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan. - Adanya tuntutan global terhadap pelaku usaha untuk menerapkan teknologi ramah lingkungan. - Adanya dukungan kerjasama baik dari institusi Akademisi, LSM pemerhati lingkungan maupun dari negara-negara maju pemerhati lingkungan berupa studi dan transfer ilmu dan teknologi mengenai usaha pengelolaan lingkungan hidup yang lebih baik. - Adanya standard Internasional dan Standard Nasional dibidang pengelolaan lingkungan.

Ada beberapa peluang bagi Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur untuk meningkatkan kinerja sesuai dengan tupoksinya sebagai salah satu institusi pelayanan utama kepada masyarakat, yaitu: Pertama, dengan disahkannya Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang disahkan DPR RI, sebagai pengganti Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup Nomor 23 Tahun 1997, maka harapan untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan ( sustainable development ) yang lebih mengedepankan aspek dan pelestarian fungsi lingkungan akan semakin menjadi jelas. Sebagaimana kita ketahui sebelumnya UU No.23/1997 meskipun telah bermanfaat bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia, tetapi efektifitas implementasinya belum dapat mencapai tujuan yang diharapkan karena adanya persoalan pada masalah substansial, struktural maupun kultural. Dengan lahirnya UU PPLH yang baru ini kedepan risiko bencana ekologi yang semakin masif dan dan tak terkendali sebagai akibat tingkah manusia yang selalu mengedepankan fungsi ekonomi sebagai tolok ukur pembangunan akan dapat diminimalisir dan ditekan. Ini juga berarti bahwa secara fungsional BLH mulai saat ini akan menjadi lembaga yang sangat diperhitungankan dan dibutuhkan sebagai konsekuensi dari semakin intensifnya pembangunan di daerah. Karena dengan adanya UU PPLH yang baru mewajibkan pemerintah daerah membuat kajian lingkungan hidup strategis ( KLHS ) yang pada intinya adalah untuk memastikan penerapan

pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam kebijakan, rencana, dan program pembangunan Kedua, BLH juga berpeluang melakukan kerjasama yang intensif untuk memperkuat perannya dengan badan atau lembaga internasional pada bidang lingkungan hidup yang banyak melakukan kegiatan di Indonesia terutama pada lokasi-lokasi yang memiliki keunikan ekosistem. BLH memiliki kesempatan besar untuk mengembangkan diri sebagai lembaga yang dinamis, tidak terkesan birokratis dan selalu inovatif merespon isu-isu lingkungan hidup di provinsi Jawa Timur pada khususnya dengan cara melakukan kerjasama intensif dengan lembaga-lembaga internasional tersebut. Ketiga, Dengan peran BLH yang semakin dinamis dan terbuka, maka BLH akan semakin berpeluang untuk selalu didukung masyarakat yang mulai memahami dan peduli terhadap usaha pengelolaan lingkungan hidup. Kondisi ini sejalan dengan makin meningkatnya pengetahuan masyarakat. Dengan kehidupan bermasyarakat yang makin demokratis, transparan dan berani, memberikan dukungan kuat bagi inisiatif masyarakat untuk kontrol dan claim bagi pelaku-pelaku perusakan lingkungan hidup, serta bagi prakarsa dan partisipasi dalam pemeliharaan lingkungan hidup. Keempat, Dengan adanya tuntutan global bagi para pelaku usaha untuk lebih meningkatkan kualitas produksi dengan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan serta semakin ketatnya standar yang diterapkan dalam usaha pengelolaan lingkungan hidup, maka BLH berpeluang untuk mendapatkan dana dari pihak ketiga. Hal ini akan semakin meningkatkan performan kinerjanya dengan menyusun rencana strategi program kegiatan yang lebih menguntungkan bagi masyarakat untuk mendapatkan kualitas hidup sehat yang lebih baik tanpa mengorbankan kepentingan pelaku usaha dalam menjalankan roda ekonominya dalam pembangunan. b. Ancaman (Threats) - Laju kerusakan dan pencemaran lingkungan yang terjadi tidak sebanding dengan usaha pencegahan, pemulihan dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan. - Waktu kritis atau titik jenuh dari kemampuan alam dalam menampung/menghadapi laju kerusakan dan pencemaran lingkungan akan sangat berpengaruh pada perencanaan program yang akan semakin kompleks, biaya yang semakin tak terjangkau, lama dan kemampuan menanggulangi dampak yang terjadi. - Adanya pola pemikiran (mindset) dari sebagian masyarakat baik dari kalangan industri maupun masyarakat umum untuk tetap menghalalkan segala cara serta mengabaikan aturan pengelolaan lingkungan hidup karena alasan desakan atau motif keuntungan ekonomi yang lebih besar. - Kurangnya kesadaran masyarakat akan kewajibannya untuk menjaga dan melestarikan fungsi lingkungan hidup.

- Jumlah penduduk yang semakin meningkat memicu peningkatan pencemaran dari sumber domestik dan emisi kendaraan bermotor. - Jumlah beban pencemaran dari industri dan kegiatan usaha lain baik skala besar, menengah maupun kecil.

Titik Jenuh / Waktu Kritis Kemampuan Alam
Kemampuan Alam dalam menerima kondisi kerusakan yang dialaminya pada titik tertentu akan memiliki titik jenuh/waktu kritis dimana Alam sukar atau hampir mustahil untuk dipulihkan ke kondisi semula meskipun dengan waktu pemulihan yang sangat panjang. Hal ini bisa terjadi apabila laju kerusakan yang terjadi tidak sebanding dengan usaha pemulihan yang dilakukan. Dengan semakin banyaknya serta menyebarnya lokasi bencana ekologi yang ditimbulkan oleh ulah-polah manusia sedangkan dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan rencana program pemulihan yang sangat terbatas, maka dibeberapa tempat lokasi bencana ekologis yang belum sempat tertangani akan semakin parah menuju titik kritisnya. Hal ini kedepan akan semakin menyulitkan BLH dalam menentukan kebijakan dalam penanganannya, dilain pihak dana yang dibutuhkan tentu akan semakin besar.

Paradigma Pembangunan yang sempit
Sebagian Kepala Daerah ataupun pejabat di daerah tidak jarang masih memandang bahwa otonomi adalah kesempatan pemanfaatan sumber-sumber daerah untuk dikelola semaksimal mungkin dan digunakan oleh daerahnya sendiri dengan mengabaikan faktor lingkungan sebagai pertimbangan utama. Egoisme yang berlatar belakang ekonomi tersebut dapat berakibat diabaikannya prinsif holistik pengelolaan lingkungan hidup. Dilain pihak ada pula dari sebagian masyarakat baik dari kalangan industri maupun masyarakat umum untuk tetap menghalalkan segala cara serta mengabaikan aturan pengelolaan lingkungan hidup karena alasan desakan atau motif keuntungan ekonomi yang lebih besar. Paradigma atau pemikiran-pemikiran yang keliru seperti ini meskipun dalam prosentase yang kecil dari kebijakan pemimpin daerah ataupun pelaku usaha sedikit banyak akan memberikan dampak yang tidak bisa diremehkan dalam kelancaran pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. Padahal dalam mewujudkan pelaksanaan pembangunan berkelanjutan tersebut semua aspek dan parameter pendukung seperti peningkatan kesadaran masyarakat, kerjasama antar sektor terkait, kebijakan dan aturan yang harus diterapkan harus didukung secara bulat oleh semua pihak yang berkepentingan.

Berdasarkan hasil analisis lingkungan strategis maka ditetapkan 4 Strategi Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur sebagai berikut: - Pro Cooperation :

Pemerintah, Swasta, Masyarakat dan Akademisi bersatu padu mengatasi permasalahan lingkungan di Jawa Timur
- Pro Green Development

(Mengedepankan pembangunan yang berwawasan lingkungan di semua sektor).
- Pro Green Law Enforcement

(Penegakan hukum yang berpihak pada lingkungan hidup melalui Penguatan jejaring aparatur penegak hukum lingkungan).
- Green Regulation & Budgeting

(Kebijakan dan Pendanaan yang pro lingkungan)

BAB V RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA DAN KELOMPOK SASARAN
5.1. Rencana Program dan Kegiatan
Program adalah Instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. (UU No. 25 Th. 2004 Pasal 1 Ayat (16), PP No. 8 Th. 2008 Pasal 1 Ayat (13)). Kegiatan adalah Bagian dari program yang dilaksakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program, terdiri dari sekumpulan tindangan pengerahan sumber daya berupa personil (sumber daya manusia), barang modal termasuk peralatan dan teknologi, dana atau kombinasi daripada atau kesemua jenis sumber daya tersebut (Permenpan No.

PER/09/M.PAN/5/2007 Pasal 1 Ayat (8)). Oleh karena itu setiap program dan
kegiatan harus terkait dengan suatu sasaran dan kebijakan yang telah ditetapkan. Program dan kegiatan tersebut harus konsisten dengan RPJMD. Dalam RPJMD telah ditetapkan program Prioritas dan Program Penunjang serta arahan kegiatan pokok pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup sebagai berikut : Program Prioritas a. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup Program ini bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan hidup dalam upaya mencegah perusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup, baik di darat, perairan tawar, dan laut, maupun udara, sehingga masyarakat memperoleh kualitas lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup dititik beratkan, antara lain pada: 1. Pengawasan Kinerja Pengelolaan Lingkungan Industri Hasil Tembakau Tembakau 3. Penyusunan regulasi pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan

2. Penerapan AMDAL bagi Usaha dan Kegiatan Industri Rokok dan Perkebunan

hidup, pedoman teknis, baku mutu (standar kualitas) lingkungan hidup, dan penyelesaian kasus pencemaran dan perusakan lingkungan secara hukum 4. 5. 6. 7. 8. Pengembangan dan penerapan berbagai instrumen pengelolaan lingkungan hidup, termasuk tata ruang, kajian dampak lingkungan, dan perijinan Pemantauan Kualitas Udara dan Air Tanah di Perkotaan, Kualitas Air Permukaan, serta Kualitas Air Laut di Kawasan Pesisir Pengawasan Penaatan Baku Mutu Air Limbah, Emisi atau Gas Buang dan Pengelolaan Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) Peningkatan Kelembagaan Teknologi Laboratorium yang Lingkungan, serta Fasilitas termasuk Pemantauan Udara (Ambient) di Kota-kota Besar Pengembangan Berwawasan Lingkungan, Teknologi Tradisional dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam, Pengelolaan Limbah, dan Teknologi Industri yang Ramah Lingkungan 9. Upaya Konservasi Tanah dan Air pada Budidaya Tanaman Tembakau Masyarakat sejak Dini dan Publikasi Pengelolaan Lingkungan Industri Rokok dan Pendukungnya a. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam Program ini bertujuan melindungi sumber daya alam dari kerusakan, dan mengelola kawasan yang sudah ada untuk menjamin kualitas ekosistem agar fungsinya senagai penyangga sistem kehidupan dapat terjaga dengan baik. Kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup dititik beratkan, antara lain pada: 1. 2. 3. 4. Pengembangan koordinasi kelembagaan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) terpadu. Pengembangan daya dukung dan daya tampung lingkungan Pengelolaan dan perlindungan keanekaragaman hayati dari ancaman kepunahan. Pengembangan kemitraan dalam rangka perlindungan dan pelestarian sumber daya alam. b. Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber Daya Alam Program ini bertujuan Merehabilitasi alam yang telah rusak, dan mempercepat pemulihan cadangan sumber daya alam, sehingga selain berfungsi sebagai 10. Sosialisasi tentang Bahaya Pencemaran Udara akibat Merokok pada

penyangga sistem kehidupan, juga memiliki potensi dimanfaatkan secara berkelanjutan. Kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup dititik beratkan, antara lain pada: 1. Rehabilitasi daerah hulu untuk menjamin pasokan air irigasi pertanian, dan mencegah terjadinya erosi dan sedimentasi di wilayah sungai dan pesisir 2. Rehabilitasi ekosistem dan habitat yang rusak di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan, pesisir (terumbu karang dan mangrove) serta pengembangan sistem manajemen pengelolaannya Program Penunjang a. Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengelolaan sumber daya alam dan fungsi lingkungan hidup melalui tata kelola yang baik

(good

environmental governance) berdasarkan prinsip transparansi, partisipasi dan
akuntabilitas. Kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup dititik beratkan, antara lain pada: 1. 2. 3. 4. 5. Penegakan hukum terpadu dan penyelesaian hukum atas kasus perusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Peningkatan pendidikan lingkungan hidup formal dan non formal. Pengembangan program Good Environmental Governance (GEG) secara terpadu Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengelola Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Pendidikan Kemasyarakatan Produktif melalui Peningkatan Sumber Daya Manusia Pengawas Lingkungan

b. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Program ini bertujuan meningkatkan kualitas dan akses informasi sumber daya alam dan lingkungan hidup dalam rangka mendukung perencanaan pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan fungsi lingkungan hidup.

Kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup dititik beratkan, antara lain pada: 1. 2. Peningkatan pelibatan peran masyarakat dalam bidang informasi dan pemantauan kualitas lingkungan hidup Penyebaran dan Peningkatan Akses Informasi kepada Masyarakat, termasuk Informasi Mitigasi Bencana dan Potensi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Setelah penetapan program organisasi, maka yang dilalkukan adalah perumusan dan penetapan Kegiatan guna pengukuran masing-masing program sebagai standar keberhasilan yang berorientasi pada hasil yang akan dicapai. Pencapaian kinerja akan dapat diukur dengan baik apabila terdapat satuan pengukuran secara jelas, yang dirumuskan dalam program aksi dan dijabarkan kedalam aktifitas atau kegiatan Instansi Pemerintah yang disusun dengan dimensi waktu tahunan.

5.2. Kelompok Sasaran
Kelompok sasaran Rencana Strategis Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut: 1. Dinas/Instansi Pengelola Lingkungan Hidup se Jawa Timur. 2. Dinas/Instansi terkait pengelola lingkungan hidup ditingkat Provinsi maupun Kab./Kota. 3. Masyarakat diwilayah Hulu DAS Brantas 4. Masyarakat disempadan kali Brantas 5. Masyarakat Pondok Pesantren 6. Masyarakat dilingkungan sekolah 7. Industri/Usaha/Industri yang berpotensi sumber pencemar

5.3. Indikator Kinerja
Badan Lingkungan Hidup telah menyusun indikator kinerja utama untuk Tahun 2010 – 1014 adalah sebagai berikut:
Indikator kinerja Utama Badan Lingkungan Hidup untuk Tahun 2010 – 1014
Tujuan Sasaran Uraian Pengendalian Beban Pencemaran Air Limbah Industri Pengendalian Pencemaran Emisi Sumber Tidak Bergerak Pengendalian Limbah B3 Indikator % penurunan beban pencemaran parameter kunci BOD, COD % pemenuhan jumlah industri terhadap baku mutu % ketaatan terhadap per-UU Pengelolaan Limbah B3 Rencana Tingkat Capaian 21 % RENCANA TINGKAT CAPAIAN SASARAN TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 2014 8 12 15 18 21

Memelihara kualitas dan fungsi lingkungan hidup serta meningkatkan perbaikan pengelolaan SDA

35 %

15

20

25

30

35

35 %

15

20

25

30

35

Untuk penjelasan Indikator Utama Badan Lingkungan Hidup Tahun 2010 – 2014 dapat diuraikan berikut: 1. Pengendalian Beban Pencemaran Air Limbah Industri Penghitungan prosentase penurunan BOD dan COD diperoleh dengan

menghitung jumlah penurunan beban pencemaran BOD dan COD dari industri prioritas di Jawa Timur, dimana: Data tahun 2009 dijadikan data awal (X ton BOD/Tahun) dan (A ton COD/Tahun) Data tahun tahun berikutnya (Y ton BOD/tahun) dan (B ton COD/tahun) digunakan untuk menghitung penurunan beban pencemaran Penurunan beban pencemaran BOD = [(X-Y)/X]*100% Penurunan beban pencemaran BOD = [(A-B)/A]*100%

Melalui penghitungan ini, diharapkan progres kinerja pengelolaan limbah cair oleh industri prioritas di Jawa Timur dapat diketahui secara kuantitatif berdasarkan jumlah penurunan beban pencemaran (Khususnya BOD dan COD) yang dilepaskan oleh industri industri dimaksud ke lingkungan.

2. Pengendalian Pencemaran Emisi Sumber Tidak Bergerak Penghitungan prosentase pemenuhan jumlah industri terhadap baku mutu diperoleh dengan menghitung jumlah industri yang emisi gas buangnya sudah memenuhi baku mutu, dimana: Pada tahun 2009 ditetapkan jumlah industri prioritas yang akan dihitung pemenuhan baku mutunya (X).

-

Pada tahun tahun berikutnya, dihitung jumlah industri yang memenuhi baku mutu (Y) (dari X industri) Prosentase pemenuhan baku mutu = Y/X*100%

Melalui perhitungan ini, progress peningkatan kinerja pengelolaan udara emisi sumber tidak bergerak dari industri prioritas di Jawa Timur dapat diketahui.

3. Pengendalian Limbah B3 Penghitungan prosentase ketaatan industri terhadap peraturan perundangundangan dibidang pengelolaan limbah B3 diperoleh dengan menghitung jumlah industri yang sudah taat, khususnya terkait perijinan, dimana: Pada tahun 2009 ditetapkan jumlah industri prioritas yang akan dihitung ketaatannya (X). Pada tahun tahun berikutnya, dihitung jumlah industri yang sudah taat/lengkap perijinannya (Y) (dari X industri) Prosentase ketaatan = Y/X*100%

Melalui perhitungan ini, progress ketaatan industri prioritas di Jawa Timur terhadap peraturan perundangan dibidang pengelolaan limbah B3 dapat diketahu kuantitasnya. Untuk rincian indikator kinerja perkegiatan secara keseluruhan sebagaimana dijelaskan pada tabel berikut:

RENCANA STRATEGIS 2010 – 2014 (Rencana Kegiatan Tahunan)
INSTANSI VISI MISI : : : BADAN LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAWA TIMUR Terwujudnya Lingkungan Hidup Jawa Timur Yang Baik dan Sehat Bersama mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan hidup dan pelestarian sumber daya alam di Jawa Timur
SASARAN TUJUAN URAIAN Memelihara kualitas dan fungsi lingkungan hidup serta meningkatkan perbaikan pengelolaan SDA Pengendalian Beban Pencemaran Air Limbah Industri Pengendalian Pencemaran Emisi Sumber Tidak Bergerak Pengendalian Limbah B3 Mengidentifikasi kinerja kegiatan hasil tembakau dalam pengelolaan lingkungan hidup Monitoring pelaksanaan pengelolaan lingkungan industri rokok dan perkebunan mengacu AMDAL dokumen UKL/UPL INDIKATOR % penurunan beban pencemaran parameter kunci BOD, COD % pemenuhan jumlah industri terhadap baku mutu % ketaatan terhadap per-UU Pengelolaan Limbah B3 Meningkatnya kinerja kegiatan hasil tembakau dalam pengelolaan lingkungan hidup Pembangunan IPAL Rumah Sakit Paru (3 IPAL RS) Pendampingan ISO 14001 bagi industri rokok dan perkebunan tembakau (3 Industri) Pengadaan peralatan laboratorium uji kualitas udara untuk pemantauan udara ambient industri rokok dan pendukungnya (1 paket) Jumlah peraturan Daerah pengelolaan lingkungan hidup yang di susun RENCANA TINGKAT CAPAIAN 21 % RENCANA TINGKAT CAPAIAN SASARAN TAHUNAN 2010 8 2011 12 2012 15 2013 18 2014 21 CARA MENCAPAI TUJUAN DAN SASARAN PROGRAM KEGIATAN

35 % 35 % 35 Kegiatan/ Usaha 15 IPAL 25 industri

15 15 25

20 20 30

25 25 30

30 30 35

35 35 35 PROGRAM UTAMA 1. Program pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup a. Pengawasan Kinerja Pengelolaan Lingkungan Industri Hasil Tembakau (cukai) b. Penerapan AMDAL bagi Usaha dan Kegiatan Industri Rokok dan Perkebunan Tembakau

Meningkatkan kualitas lingkungan hidup dalam upaya mencegah perusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup, baik di darat, perairan tawar, dan laut, maupun udara, sehingga masyarakat memperoleh kualitas lingkungan hidup yang bersih dan sehat.

3 3

3 4

3 5

3 6

3 7

5 Paket

1

1

1

1

1

Memperkuat instrumen peraturan perundang undangan lingkungan hidup serta meningkatkan upaya pentaatan dan penegakan hukum lingkungan secara konsisten

3 Perda

1

0

1

0

1

c. Penyusunan regulasi pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup, pedoman teknis, baku mutu (standar kualitas) lingkungan hidup, dan penyelesaian kasus pencemaran dan perusakan lingkungan secara hukum

SASARAN TUJUAN URAIAN Peningkatan kualitas penilai Amdal Kab./Kota INDIKATOR Bertambahnya Jumlah Kab./Kota yang dapat melaksanakan penilaian AMDAL RENCANA TINGKAT CAPAIAN 13 Kab./Kota

RENCANA TINGKAT CAPAIAN SASARAN TAHUNAN 2010 5 2011 2 2012 2 2013 2 2014 2

CARA MENCAPAI TUJUAN DAN SASARAN PROGRAM KEGIATAN d. Pengembangan dan penerapan berbagai instrumen pengelolaan lingkungan hidup, termasuk tata ruang, kajian dampak lingkungan, dan perijinan e. Pemantauan Kualitas Udara dan Air Tanah di Perkotaan, Kualitas Air Permukaan, serta Kualitas Air Laut di Kawasan Pesisir f. Pengawasan Penaatan Baku Mutu Air Limbah, Emisi atau Gas Buang dan Pengelolaan Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) g. Peningkatan Kelembagaan Laboratorium Lingkungan, serta Fasilitas Pemantauan Udara (Ambient) di Kotakota Besar

Menurunkan Beban Pencemaran lingkungan melalui pemantauan kualitas lingkungan air badan air (PROKASIH) Menurunkan Beban Pencemaran lingkungan melalui pengawasan/ Inspeksi pengelolaan kualitas lingkungan pada sumber pencemar dan kerusakan lingkungan. Pendampingan akreditasi Laboratorium Kualitas lingkungan Kab./Kota Pembangunan Laboratorium Uji Kualitas Lingkungan BLH

Prosentase penurunan beban pencemaran parameter kunci BOD, COD

21 %

8

12

15

18

21

Prosentase penurunan beban pencemaran parameter kunci BOD, COD

21 %

8

12

15

18

21

Jumlah Laboratorium Kab./Kota yang terakreditasi Gedung Laboratorium uji kualitas lingkungan

5 Lab

1

1

1

1

1

100 %

75

100

-

-

-

Pengembangan Teknologi yang Berwawasan Lingkungan

Meningkatkan pengolahan limbah dan teknologi industri yang ramah lingkungan di sempadan kali Surabaya dengan sarana IPAL Pondok Pesantren yang ramah lingkungan dengan sarana IPAL Meningkatnya kesadaran Petani tembakau terhadap budidaya tanaman tembakau yang ramah lingkungan

13 IPAL

2

3

3

3

3

9 IPAL

1

2

2

2

2

h. Pengembangan Teknologi yang Berwawasan Lingkungan, termasuk Teknologi Tradisional dalam Pengelolaan SDA, Pengelolaan Limbah, dan Teknologi Industri yang Ramah Lingkungan i. Upaya Konservasi Tanah dan air pada budidaya tanaman tembakau

Memfasilitasi kelompok tani tembakau untuk melaksanakan budidaya tanaman tembakau yang ramah lingkungan

48 orang

8

10

10

10

10

SASARAN TUJUAN URAIAN Sosialisasi dan tentang bahaya pencemaran udara akibat merokok dan Publikasi pengelolaannya INDIKATOR Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang bahaya pencemaran udara akibat merokok Publikasi tentang pencemaran udara akibat merokok Strategi pengelolaan Daerah Alran Sungai (DAS) terpadu RENCANA TINGKAT CAPAIAN 800 orang

RENCANA TINGKAT CAPAIAN SASARAN TAHUNAN 2010 160 2011 160 2012 160 2013 160 2014 160

CARA MENCAPAI TUJUAN DAN SASARAN PROGRAM KEGIATAN

13 publikasi 4 laporan

2

2

3

3

3

Melindungi sumber daya alam dari kerusakan, dan mengelola kawasan yang sudah ada untuk menjamin kualitas ekosistem agar fungsinya senagai penyangga sistem kehidupan dapat terjaga dengan baik

Penyusunan Strategi pengelolaan Daerah Alran Sungai (DAS) terpadu Membangun kesadaran dan meningkatkan peran aktif masyarakat masyarakat atas hak dan kewajibannya dalam pengelolaan lingkungan hidup Fasilitasi pelaksanaan kewenangan ijin pembuangan air limbah di Kab./Kota Upaya Perlindungan Keanekaragaman Hayati dari Ancaman Kepunahan

0

1

1

1

1

j. Sosialisasi tentang Bahaya Pencemaran Udara akibat Merokok pada Masyarakat sejak Dini dan Publikasi Pengelolaan Lingkungan Industri Rokok dan Pendukungnya 2. Program a. Pengembangan koordinasi Perlindungan dan kelembagaan pengelolaan Konservasi Sumber daerah aliran sungai (DAS) Daya Alam terpadu b. Peningkatan pemberdayaan masyarakat dan dunia usaha dalam perlindungan sumber daya alam c. Pengembangan daya dukung dan daya tampung lingkungan d. Pengelolaan dan Perlindungan Keanekaragaman Hayati dari Ancaman Kepunahan, baik yang Ada di Daratan, maupun di Pesisir dan Laut

Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam Rekomendasi teknis dalam IPLC Tersusunnya Strategi dan Profil Keanekaragaman Hayati Jawa Timur

30 lokasi

4

4

6

6

10

18 Kab./Kota 3 laporan (Update)

6

3

3

3

3

2

2

2

2

2

Mengembangkan kemitraan dalam Perlindungan dan Pelestarian Sumber Daya Alam melalui Dewan Lingkungan Hidup

Pendampingan dan pelatihan masyarakat dalam PLH Penataan lingkungan Ponpes yang ramah lingkungan

50 lokasi 9 Ponpes

8 1

8 2

10 2

12 2

12 2

e. Pengembangan Kemitraan dengan Perguruan Tinggi, Masyarakat Setempat, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan Dunia Usaha dalam Perlindungan dan Pelestarian Sumber Daya Alam

SASARAN TUJUAN URAIAN Merehabilitasi alam yang telah rusak, dan mempercepat pemulihan cadangan sumber daya alam, sehingga selain berfungsi sebagai penyangga sistem kehidupan, juga memiliki potensi dimanfaatkan secara berkelanjutan Pelaksanaan Program Menuju Indonesia Hijau (Sosialisasi dan Pemetaan) dan Penilaian lomba GSP INDIKATOR Terlaksananya Program Menuju Indonesia Hijau (Sosialisasi dan Pemetaan) dan Penilaian lomba GSP RENCANA TINGKAT CAPAIAN 10 laporan (update)

RENCANA TINGKAT CAPAIAN SASARAN TAHUNAN 2010 2 2011 2 2012 2 2013 2 2014 2

CARA MENCAPAI TUJUAN DAN SASARAN PROGRAM 3. Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber Daya Alam KEGIATAN a. Rehabilitasi ekosistem dan habitat yang rusak di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan, pesisir (terumbu karang dan mangrove) serta pengembangan sistem manajemen pengelolaannya b. Rehabilitasi daerah hulu untuk menjamin pasokan air irigasi pertanian, dan mencegah terjadinya erosi dan sedimentasi di wilayah sungai dan pesisir a. Peningkatan pelibatan peran masyarakat dalam bidang informasi dan pemantauan kualitas lingkungan hidup

Upaya rehabilitasi dan konservasi daerah hulu Brantas

Penghijauan pada sumber mata air Pembuatan demplot pertanian ramah lingkungan

16 Demplot 16 Demplot 15 laporan

2

2

4

4

4

2 3

2 3

4 3

4 3

4 3 PROGRAM PENUNJANG 1. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Meningkatkan kualitas dan akses informasi sumber daya alam dan lingkungan hidup dalam rangka mendukung perencanaan pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan fungsi lingkungan hidup

Meningkatkan pemahaman masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup dan perumusan kebijakan oleh DLH

Meningkatnya peran serta masyarakat dalam PLH melalui Peringatan Hari Lingkungan, Pameran Lingkungan dan optimalisasi pelayanan pengaduan masyarakat serta Peningkatan Peran DLH dalam penyediaan informasi dan kebijakan lingkungan

Menyediakan informasi lingkungan hidup yang berkualitas

Tersusunnya SLHD (Update) Penerbitan Bulletin Publikasi Lingkungan Meningkatnya pengunjung website BLH

5 laporan 15 edisi 8 publikasi 50.000 visitor

1 3 2 10.000

1 3 2

1 3 2

1 3 2

1 3 2

20.000 30.000 40.000 50.000

b. Penyebaran dan Peningkatan Akses Informasi kepada Masyarakat, termasuk Informasi Mitigasi Bencana dan Potensi Sumber Daya Alam dan Lingkungan

SASARAN TUJUAN URAIAN Sosialisasi pada masyarakat sejak dini tentang bahaya pencemaran udara akibat merokok dan publikasinya INDIKATOR Meningkatnya Jumlah masyarakat yang tersosialisasikan RENCANA TINGKAT CAPAIAN 500 orang

RENCANA TINGKAT CAPAIAN SASARAN TAHUNAN 2010 100 2011 100 2012 100 2013 100 2014 100

CARA MENCAPAI TUJUAN DAN SASARAN PROGRAM KEGIATAN c. Sosialisasi tentang bahaya pencemaran udara akibat merokok pada masyarakat sejak dini dan publikasi pengelolaan lingkungan industri rokok dan pendukungnya (cukai) a. Penegakan hukum terpadu dan penyelesaian hukum atas kasus perusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup

Meningkatkan kapasitas pengelolaan sumber daya alam dan fungsi lingkungan hidup melalui tata kelola yang baik (good environmental governance) berdasarkan prinsip transparansi, partisipasi dan akuntabilitas

Pengawasan terhadap industri dan kegiatan usaha lain dengan Patroli lingkungan

Meningkatnya Jumlah industry yang taat terhadap peraturan perundangundangan lingkungan hidup melalui Patroli terpadu Meningkatnya Jumlah Sekolah Berbudaya Lingkungan (ADIWIYATA) Meningkatnya motivasi pengelolaan lingkungan perkotaan menuju kota bersih dan teduh Jumlah laporan pelaksanaan pembangunan dibidang lingkungan hidup Fasilitasi Pelaksanaan Standart Pelayanan Minimal (SPM) bidang lingkungan hidup di Kab./Kota Jumlah masyarakat yang terlibat dalam pengawasan lingkungan

60 kali patroli

10

10

10

15

15

2. Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat khususnya dikomunitas sekolah tentang LH dan PLH Meningkatnya kualitas kota sehat Adipura

300 sekolah

50

50

50

75

75

b. Peningkatan pendidikan lingkungan hidup formal dan non formal c. Pengembangan program Good Environmental Governance (GEG) secara terpadu dengan program good governance lainnya d. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengelola Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

30 Kab./Kota

25 Kab./ Kota

26 Kab./ Kota

27 Kab./ Kota

28 Kab./ Kota

30 Kab./ Kota

Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan membangun koordinasi harmonis antar pemangku kepentingan dalam pengelolaan lingkungan hidup.

15 laporan (update) 15 Kab./Kota

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

Pelibatan masyarakat dalam pengawasan lingkungan

250 orang

50

50

50

50

50

e. Pendidikan Kemasyarakatan Produktif melalui Peningkatan Sumber Daya Manusia Pengawas Lingkungan

BAB VI PENUTUP

Rencana Strategis Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Tahun 2010 – 2014 berfungsi sebagai pedoman, penentu arah, sasaran dan tujuan bagi aparatur BLH dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan, pengelolaan pembangunan, dan pelaksanaan pelayanan kepada stakeholders yang ada. Rencana Strategis ini merupakan penjabaran dari visi dan misi Badan Lingkungan Hidup yang mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur. Dengan melaksanakan Rencana Strategis ini sangat diperlukan partisipasi, semangat, dan komitmen dari seluruh aparatur Badan Lingkungan Hidup, karena akan menentukan keberhasilan program dan kegiatan yang telah disusun. Dengan demikian Rencana Strategis ini nantinya bukan hanya sebagai dokumen administrasi saja, karena secara substansial merupakan pencerminan tuntutan pembangunan yang memang dibutuhkan oleh stakeholders sesuai dengan visi dan misi yang ingin dicapai. Akhir kata semoga Rencana Strategis Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur ini dapat diimplementasikan dengan baik sesuai dengan tahapantahapan yang telah ditetapkan secara konsisten dalam rangka mendukung terwujudnya good governance. Surabaya, Oktober 2009 KEPALA BADAN LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI JAWA TIMUR

Ir. DEWI J PUTRIATNI, MSc Pembina Utama Muda NIP. 010 211 006

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->