Anda di halaman 1dari 34

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sistem teknologi akuaponik merupakan penggabungan antara sistem

akuakultur dan sistem hidroponik. Dalam sistem akuakultur, sumber daya air

merupakan hal yang sangat penting. Ketersediaan air secara kuantitatif maupun

kualitatif merupakan prasyarat untuk dapat berlangsungnya kegiatan akuakultur.

Berdasarkan kadar garamnya (salinitas), perairan di permukaan bumi dibagi

menjadi 3 golongkan, yaitu air tawar, air payau, dan air laut. Air tawar memiliki

salinitas 0-5 ppt (part per thousand), air payau 6-29 ppt, dan air laut 30-35 ppt.

Seiring dengan makin pesatnya laju penbangunan maka salah satu

konsekuensi yang harus kita hadapi adalah semakin menyusutnya sumber air,

khususnya di daerah perkotaan. Padahal, air menjadi salah satu yang dapat

digunakan untuk mendukung aktivitas sehari-hari manusia, di antaranya adalah

untuk bidang perikanan.

Sistem teknologi akuaponik merupakan salah satu alternatif pemecahan

yang dapat diterapkan dalam rangka pemecahan keterbatasan air tersebut. Di

samping itu, sistem teknologi akuaponik juga mempunyai keuntungan lainnya

berupa pemasukan tambahan dari hasil tanaman yang akan memperbesar

keuntungan para peternak ikan.

Sistem teknologi budidaya akuaponik pada prinsipnya adalah

menggabungkan antara budidaya perikanan dan tanaman dalam satu wadah.

Budidaya ikan merupakan sektor utama usaha agribisnis, sedangkan hasil

1
tanaman merupakan produk sampingan yang dapat menambah keuntungan para

peternak ikan.

Tujuan Penelitian

Untuk mengkaji efektifitas teknologi akuaponik dalam mempertahankan

kualitas air dan mengukur kemampuan teknologi akuaponik dalam mengurangi

kadar amonia di perairan dan dapat dimanfaatkan oleh organisme lain.

Kegunaan Penelitian

1. Sebagai bahan bagi penulis untuk menyusun skripsi yang merupakan

syarat untuk dapat menyelesaikan pendidikan di Program Studi Teknik

Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

2. Sebagai bahan masukan dan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

Batasan Penelitian

Penelitian ini dibatasi untuk menganalisis kualitas air pada saat

pembudidayaan ikan dan tanaman, serta untuk mengamati pertumbuhan panjang

dan bobot pada ikan dan tanaman.

2
TINJAUAN PUSTAKA

Akuakultur

Sistem teknologi akuakultur didefenisikan sebagai wadah produksi beserta

komponen lainnya dan teknologi yang diterapkan pada wadah tersebut serta

bekerja secara sinergis dalam mencapai tujuan akuakultur. Tujuan dari akuakultur

adalah memproduksi ikan dan akhirnya mendapat keuntungan.

Sistem akuakultur ini juga bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu sistem

akuakultur berbasiskan daratan (land-based aquaculture) dan sistem akuakultur

berbasiskan air (water-based aquaculture). Pada sistem akuakultur berbasiskan

air, interaksi antara ikan kultur dengan lingkungan luar sangat kuat dan hampir

tidak ada pembatasan karena pada umumnya dilakukan di perairan multifungsi

milik umum. Pemanfaatan air untuk banyak kepentingan lainnya tentu akan

mempengaruhi ikan kultur, demikian sebaliknya. Keberadaan unit produksi

akuakultur di perairan tersebut akan berdampak terhadap lingkungan.

Kolam air tenang adalah wadah pemeliharaan ikan yang di dalamnya

terdapat air bersifat menggenang (stagnant). Air yang masuk ke dalam kolam ini

hanya untuk mengganti air yang hilang akibat penguapan (evaporasi) atau

rembesan (infiltrasi) sehingga tinggi permukaan air kolam dipertahankan tetap.

Untuk kolam seluas 1000 m2, debit air yang dibutuhkan untuk mempertahankan

ketinggian air tetap konstan adalah sekitar 0,5 – 5 l/detik, tergantung pada kondisi

pencahayaan matahari dari kolam. Kolam air tenang menggunakan perairan tawar

sebagai sumber airnya, yaitu sungai, saluran irigasi, mata air, hujan, sumur,

waduk, danau, dan situ (Effendi, 2004).

3
Parameter

Dalam budidaya ikan (khususnya ikan air tawar), kualitas air dapat diukur

dengan beberapa parameter sebagai berikut.

a. Derajat Keasaman (pH)

Keasaman atau pH air (pondus Hydrogenii) adalah indikasi dari bobot

hidrogen yang berada dalam air. Derajat keasaman diukur dengan skala 1-14.

Angka tujuh pada derajat keasaman menandakan keasaman air bersifat netral.

Sementara itu, angka satu menunjukkan air bersifat asam. Sebaliknya, angka 14

menunjukkan air bersifat sangat basa atau alkalis.

Pengukuran pH tidak harus dilakukan di laboratorium, tetapi dapat

dilakukan sendiri dengan menggunakan kertas pH atau kertas lakmus (metode

perbedaan warna). Bentuk kertas lakmus berupa potongan-potongan kertas

berukuran kecil. Cara pengukurannya, diambil sampel air, kemudian dicelupkan

kertas lakmus ke dalam air sampel selama beberapa detik hingga tidak terjadi

perubahan warna. Cocokkan warna kertas lakmus dengan indikator pH yang

tertera dalam kemasan kertas lakmus. Supaya hasilnya lebih akurat, ambil dan tes

2-3 sampel air.

Selain dengan kertas lakmus, pengukuran pH juga dapat dilakukan dengan

menggunakan pH meter otomatis. Cara penggunaannya cukup gampang,

dicelupkan ujung detektor pH meter yang terbuat dari logam ke dalam air. Secara

otomatis, skala pada pH meter menunjukkan angka yang menggambarkan kondisi

pH air yang sesungguhnya. Untuk keakuratan hasil, lakukan 2-3 kali pengukuran

pada tempat yang berbeda.

4
Besar-kecilnya angka pH sangat dipengaruhi oleh kandungan

karbondioksida (CO2) di dalam air. Karbondioksida adalah hasil respirasi atau

pernapasan ikan yang menghasilkan kandungan CO2 berbeda di siang dan malam

hari. Ketika malam hari, kadar CO2 meningkat sehingga pH air juga naik. Ketika

pagi dan siang hari, kadar CO2 akan turun sehingga pH air pun ikut turun.

Faktor lain yang mempengaruhi pH air adalah sisa pakan dan kotoran ikan.

Jika air jarang diganti, bekas pakan dan kotoran ikan akan semakin menumpuk.

Akibatnya, pH air menjadi semakin rendah. Untuk menetralkan pH di dalam

kolam, air harus dikuras terlebih dahulu kemudian dibersihkan dan dikeringkan

kolamnya.

b. Kesadahan (HD)

Kesadahan air (hardness) menunjukkan kandungan mineral, berupa

kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan seng (Zn) di dalam air. Jika kandungan unsur

mineral tersebut tinggi, air dianggap bersifat hardness atau keras. Jika kandungan

mineralnya rendah, air dianggap bersifat softness atau lunak. Tinggi rendahnya

kesadahan air sangat dipengaruhi oleh unsur mineral dalam tanah tempat air

tersebut berada.

Tabel 1: Kandungan Unsur Mineral dalam Kesadahan Air

No Kesadahan Kandungan Kesadahan


. Kalsium/CaCO3 (ppm) (Derajat HD)
1 Lunak 0 – 50 0 – 3,5
2 Medium 50-150 3,5 – 10,5
3 Keras 150-300 10,5 – 21
4 Sangat keras Lebih dari 300 Lebih dari 21
Sumber : Effendi (2004).

Kesadahan air dan pH merupakan unsur yang berbeda, tetapi memiliki

keterkaitan yang erat. Biasanya air yang ber-pH basa, kesadahan airnya tergolong

5
tinggi. Sebaliknya, air yang ber-pH asam, kesadahannya rendah. Menurunkan

kesadahan air dapat dilakukan dengan menambahkan aquades.

c. Oksigen Terlarut

Sebagian besar ikan membutuhkan oksigen (O2) terlarut dalam air

sebanyak 3 mg/l. Idealnya, batas minimal kandungan oksigen terlarut untuk

pertumbuhan ikan adalah 5 mg/l. Meskipun demikian, ikan masih dapat hidup di

bawah batas minimal tersebut. Konsekuensinya nafsu makannya akan menurun

dan pertumbuhannya juga terhambat.

Untuk mengatasi berkurangnya jumlah oksigen terlarut di dalam air perlu

dilakukan cara-cara sebagai berikut.

- Mekanik. Menggunakan aerator atau alat sirkulasi air (pompa)

yang mampu memutar oksigen dari udara ke dalam air secara cepat dan dalam

jumlah besar. Intinya, aerator berfungsi untuk meningkatkan intensitas

pertukaran air sehingga kualitas air dapat terjaga.

- Kimia. Meskipun jarang digunakan, pemberian superfosfat telah

terbukti mampu merangsang pertumbuhan fitoplankton baru yang dapat

membantu proses fotosintesis.

- Biologi. Cara ini dilakukan dengan menjaga keseimbangan

kandungan oksigen antara tumbuhan penghasil oksigen dan organisme

pengguna oksigen.

Gejala kekurangan oksigen pada ikan tampak dari gerak-geriknya yang

gelisah, selalu berenang di permukaan air, dan frekuensi pernapasan yang lebih

cepat (insang dan mulut membuka dan menutup lebih cepat). Kekurangan oksigen

biasanya terjadi akibat beberapa faktor, antara lain kenaikan temperatur,

6
kandungan bahan-bahan organik, kombinasi tanaman air, dan kepadatan yang

terlalu tinggi.

d. Karbondioksida

Gas karbondioksida adalah komponen udara yang berada di alam bebas

dan di alam air. Karbondioksida juga sering disebut dengan gas asam arang,

sebagai hasil respirasi makhluk hidup dan proses penguraian bahan organik.

Meningkatnya konsentrasi CO2 pada wadah tertutup dapat menimbulkan masalah

serius pada ikan. Hal ini sering terjadi pada pengiriman ikan. Jumlah

karbondioksida tergantung pada konsentrasi oksigen di dalam kolam. Jika

konsentrasi oksigennya berada pada tingkat maksimal, pengaruh karbondioksida

dapat diabaikan.

e. Kandungan Nitrit

Pemberian pakan ikan secara berlebihan dapat memicu terjadinya

penumpukan bahan organik yang dihasilkan dari sisa pakan, kotoran ikan, lumut,

dan pembusukan daun-daunan. Bahan-bahan organik tersebut akan membentuk

zat amoniak yang bersifat racun dan zat ammonium yang tidak bersifat racun.

Kedua kadar zat tersebut dipengaruhi oleh pH air. Pada air ber-pH rendah

(dibawah 7,2), kandungan ammonium yang terbentuk lebih banyak dibandingkan

dengan amoniak. Sebaliknya, air yang ber-pH tinggi (di atas 7,2) lebih banyak

mengandung amoniak yang kadarnya melebihi batas 1 mg/l.

Amoniak akan berubah menjadi nitrit apabila ada kehadiran bakteri

Nitrisomonas. Nitrit adalah unsur kimia yang tidak terlalu berbahaya. Namun, jika

tejadi sekresi dan pembusukan bahan organik, sifatnya akan berubah menjadi

sangat berbahaya. Tingginya kadar nitrit di dalam air dapat dilihat secara kasat

7
mata. Indikatornya, warna air berubah menjadi keruh, cara berenang ikan tidak

terarah, pakan yang diberikan tidak disantap karena nafsu makan hilang, dan

pertumbuhan ikan menjadi terhambat.

f. Temperatur

Kondisi temperatur harus dijaga agar tetap konstan. Temperatur yang

berubah-ubah dapat menyebabkan stres pada ikan. Pada temperatur yang terlalu

tinggi, ikan akan mengalami kekurangan oksigen dan sistem enzim yang

membantu metabolisme tubuh tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pada

kondisi seperti ini, penyakit dapat menyerang dengan cepat. Untuk mengatasinya

perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut.

- Dipasang aerator atau dikurangi populasi ikan dan tanaman air jika

sebagian besar ikan tampak berenang di permukaan air, supaya sirkulasi

udaranya lancar.

- Air diganti secepatnya jika tiba-tiba air menjadi keruh dan ikan

mati secara serentak.

- Jangan dibiarkan kolam berbau busuk. Biasanya, bau busuk

disebabkan oleh konsentrasi senyawa asam sulfida yang berlebihan,

pembusukan ikan mati, dan penumpukan alga di dasar kolam.

- Dalam kondisi kekurangan oksigen, dilakukan penggantian air.

- Jika di permukan kolam dan di dasar kolam dijumpai banyak ikan

yang mati, ada kemungkinan ikan terkontaminasi oleh bahan beracun yang

berasal dari insektisida atau pestisida. Jika hal ini terjadi, kolam harus segera

diganti airnya dan dibersihkan.

8
g. Pemberian Pakan

Pakan yang harus diberikan berupa pelet. Faktor yang perlu diperhatikan

saat pemberian pakan adalah waktu pemberian pakan dan jumlah pakan. Supaya

pakan tidak tersisa, pemberian pakan harus diatur enam jam sekali. Begitu juga

dengan jumlah pakan, harus disesuaikan dengan bobot ikan yang ditebar.

Sebagai contoh, pada ikan hias black ghost, porsi pakan yang diberikan

adalah 5-10% dari bobot totalnya. Jika di dalam kolam ditebar 4.000 ekor ikan

dengan bobot rata-rata 2,5 g/ekor, dihasilkan bobot total ikan sebesar 10.000 g.

Karena porsi makanan yang diberikan 5-10% dari bobot total, setiap hari rata-rata

dibutuhkan pakan sebanyak 0,5-1 kg. Pakan tersebut diberikan setiap 6 jam sekali

dengan takaran 125-250 g setiap kali pemberian. Selain pakan buatan, pakan

alami, seperti cacing rambut dan jentik-jentik nyamuk,juga perlu diberikan.

Takaran untuk setiap kali pemberian sebanyak 200-400 g.

h. Gangguan Parasit

Parasit pada ikan dapat menyebabkan penyakit yang sering menimbulkan

kerugian besar pada petani ikan. Jika serangan parasit sudah terlampau parah,

seluruh ikan di dalam kolam tidak akan tertolong lagi. Secara umum, parasit

menyerang ikan yang terkena infeksi sekunder akibat luka gesek.

Jika kondisi kolam sehat, organisme penyakit yang ada di dalam kolam

dan yang ada di tubuh ikan tidak akan berbahaya, tetapi ketika kondisi ikan

menurun akibat kualitas air yang menurun, parasit akan mudah masuk dalam

tubuh ikan.

9
i. Sumber Air

Air untuk memelihara ikan dapat bersumber dari dalam tanah (air sumur),

sungai, atau Perusahaan Air Minum (PAM).

- Air Tanah. Air tanah atau air sumur relatif lebih aman. Namun, jika

ingin mengetahui lebih jelas kualitasnya, diperiksa terlebih dahulu ke

laboratorium, terutama menyangkut derajat keasaman (pH), kandungan

oksigen, dan kesadahannya.

- Air Sungai. Pada umumnya, air sungai berpenampilan keruh

sehingga sebelum digunakan harus dijernihkan terlebih dahulu. Penjernihan

air juga berfungsi untuk menyaring zat-zat berbahaya.

- Air PAM. Air PAM banyak digunakan di kota-kota besar. Biasanya untuk

memelihara ikan dalam skala kecil di akuarium karena penggunaan air kolam

secara ekonomis kurang menguntungkan. Secara umum, kualitas air PAM

cukup baik, tetapi perlu diwaspadai adanya kandungan klorin (Cl) yang

digunakan oleh PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) sewaktu proses

penjernihan air.

Hidroponik

Di zaman modern sekarang ini, bercocok tanam tidak lagi harus

menggunakan media tanah. Berbagai metode bercocok tanam bisa digunakan bagi

yang ingin menekuninya. Salah satunya adalah bercocok tanam secara hidroponik.

Hidroponik berasal dari bahasa Yunani, Hydroponic, yang artinya hydro berarti

air dan ponous berarti kerja. Sesuai dengan arti tersebut, bertanam secara

hidroponik merupakan bercocok tanam yang menggunakan air, nutrisi, dan

oksigen.

10
Pada budidaya hidroponik, semua kebutuhan nutrisi diupayakan tersedia

dalam jumlah yang tepat dan mudah diserap oleh tanaman. Perbedaan yang paling

menonjol antara hidroponik dan budidaya konvensional adalah penyediaan nutrisi

tanaman. Pada budidaya konvensional, ketersediaan nutrisi untuk tanaman sangat

bergantung pada kemampuan tanah menyediakan unsur-unsur hara dalam jumlah

cukup dan lengkap.

Ada beberapa keuntungan yang diyakini bisa diperoleh dari bercocok

tanam secara hidroponik dibandingkan bercocok tanam secara konvensional.

Keuntungannya adalah sebagai berikut.

1. Produksi per tanaman lebih besar dan kualitas lebih baik

2. Kehilangan setelah panen lebih kecil. Sementara harga lebih tinggi dan relatif

konstan, serta tidak mengenal musim.

3. Tanaman yang dibudidayakan dengan hidroponik juga lebih mudah

terhindar dari erosi dan kekeringan.

4. Panen dengan cara hidroponik lebih cepat dibandingkan dengan cara

konvensional. Petani tidak memerlukan waktu yang lama untuk menunggu

masa tanam atau masa panen.

Teknologi Hidroponik

Terdapat dua teknik utama dalam bercocok tanam hidroponik, yaitu teknik

yang menggunakan larutan, dan teknik yang menggunakan media. Metode yang

menggunakan larutan tidak membutuhkan media yang keras untuk pertumbuhan

akar, hanya cukup dengan larutan mineral bernutrisi. Contoh cara dalam teknik

larutan yang umum dipakai adalah teknik larutan statis dan teknik larutan alir.

Sedangkan untuk teknik media adalah bergantung pada jenis media yang

11
dipergunakan, bisa berupa sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata,

serbuk kayu, dan lain-lain sebagai pengganti media tanah.

1. Teknik Larutan Statis

Pada teknik statis telah dikenal sejak pertengahan abad ke-15 oleh bangsa

Aztec. Dalam teknik ini, tanaman disemai pada media tertentu bisa berupa ember

plastik, baskom, bak semen, atau tangki. Larutan biasanya dialirkan secara

perlahan atau tidak perlu dialirkan. Jika tidak dialirkan, maka ketinggian larutan

dijaga serendah mungkin sehingga akar tanaman berada di atas larutan, dan

dengan demikian tanaman akan cukup memperoleh oksigen.

Pada setiap tanaman terdapat lubang. Tempat bak dapat disesuaikan

dengan pertumbuhan tanaman. Bak yang tembus pandang bisa ditutup dengan

aluminium foil, kertas pembungkus makanan, plastik hitam atau bahan lainnya

untuk menghindari cahaya sehingga dapat menghindari tumbuhnya lumut di

dalam bak. Untuk menghasilkan gelembung oksigen dalam larutan, bisa

menggunakan pompa akuarium. Larutan bisa diganti secara teratur, misalnya

setiap minggu, atau apabila larutan turun di bawah ketingian tertentu bisa diisi

kembali dengan air atau larutan bernutrisi yang baru.

2. Teknik Larutan Alir

Teknik Larutan alir adalah suatu cara bertanam hidroponik yang dilakukan

dengan mengalirkan terus menerus larutan nutrisi dari tangki besar melewati akar

tanaman. Teknik ini lebih mudah untuk pengaturan karena suhu dan larutan

bernutrisi dapat diatur dari tangki besar yang bisa dipakai untuk ribuan tanaman.

Salah satu teknik yang banyak dipakai dalam cara teknik larutan ini adalah teknik

lapisan nutrisi (nutrient film techniquel) atau dikenal sebagai NFT, teknik ini

12
menggunakan parit buatan yang terbuat dari lempengan logam tipis antikarat, dan

tanaman disemai di parit tersebut.

Di sekitar saluran parit tersebut dialirkan air mineral bernutrisi sehingga

sekitar tanaman akan terbentuk lapisan tipis yang dipakai sebagai makanan

tanaman. Parit dibuat dengan aliran air yang sangat tipis lapisannya sehingga

cukup melewati akar dan menimbulkan lapisan nutrisi disekitar akar dan terdapat

oksigen yang cukup untuk tanaman.

3. Teknik Agregat Media

Teknik ini menggunakan media tanam berupa kerikil, pasir, arang sekam,

batu bata, dan media lainnya yang disterilkan terlebih dahulu sebelum

dipergunakan untuk mencegah adanya bakteri pada media tersebut. Pemberian

nutrisi dilakukan dengan teknik mengairi media tersebut dengan pipa dari air

larutan bernutrisi yang ditampung dalam tangki atau tong besar.

Faktor penting dalam teknik hidroponik

1. Larutan hara

Pemberian larutan hara yang teratur sangatlah penting pada hidroponik,

karena media hanya berfungsi sebagai penompang tanaman dan sarana

meneruskan larutan atau air yang berlebihan. Hara yang tersedia bagi tanaman

pada pH 5,5 - 7,5 tetapi yang terbaik adalah 6,5 karena pada kondisi ini unsur hara

dalam keadaan tersedia bagi tanaman.

Kebutuhan tanaman akan unsur hara berbeda-beda menurut tingkat

pertumbuhannya dan jenis tanaman. Larutan hara dibuat dengan cara melarutkan

garam-garam pupuk dalam air. Berbagai garam jenis pupuk dapat digunakan

13
untuk larutan hara, pemilihannya biasanya atas harga dan kelarutan garam pupuk

tersebut.

2. Media tanam

Jenis media tanam yang digunakan sangat berpengaruh terhadap

pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Media yang baik membuat unsur hara

tetap tersedia, kelembaban terjamin dan drainase baik. Media yang digunakan

harus dapat menyediakan air, zat hara dan oksigen serta tidak mengandung zat

yang beracun bagi tanaman. Bahan-bahan yang biasa digunakan sebagai media

tanam dalam hidroponik antara lain pasir, kerikil, pecahan batu bata, arang sekam,

spons, dan sebagainya. Bahan yang digunakan sebagai media tumbuh akan

mempengaruhi sifat lingkungan media. Tingkat suhu, aerasi dan kelembaban

media akan berlainan antara media yang satu dengan media yang lain, sesuai

dengan bahan yang digunakan sebagai media.

3. Kualitas air

Kualitas air yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman secara hidroponik

mempunyai tingkat salinitas yang tidak melebihi 2500 ppm dan tidak

mengandung logam-logam berat dalam jumlah besar karena dapat meracuni

tanaman.

4. Oksigen

Keberadaan oksigen dalam sistem hidroponik sangat penting. Rendahnya

oksigen dapat menyebabkan permeabilitas membran sel menurun, sehingga

dinding sel semakin sukar ditembus. Akibatnya tanaman akan kekurangan air. Hal

ini dapat menjelaskan mengapa tanaman akan layu pada kondisi tanah yang

14
tergenang. Tingkat oksigen di dalam pori-pori media mempengaruhi

perkembangan rambut akar.

Pemberian oksigen ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti

memberikan gelembung-gelembung udara pada larutan (kultur air), penggantian

larutan hara yang berulang-ulang, mencuci akar yang terekspose dalam larutan

hara dan memberikan lubang ventilasi pada tempat penanaman untuk kultur

agregat (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).

Sistem Irigasi

Hidroponik yang dilakukan di rumah tidak akan mengalami kesulitan

dalam penyiraman karena jumlah tanaman yang sedikit. Namun, untuk tanaman

hidroponik yang diusahakan di kebun dalam skala luas, pasti tidak efisien bila

harus menyiram tanaman satu per satu. Oleh karena itu, perlu dibuat suatu sistem

irigasi untuk memudahkan penyiraman.

Irigasi tetes (Drip Irigation) untuk hidroponik substrat

Irigasi tetes atau dikenal juga dengan nama irigasi mikro sangat cocok

diterapkan untuk tanaman hidroponik. Irigasi ini memiliki konsep yang kontinu

dan lamban sehingga mampu menghemat air. Dalam sistem ini air diberikan tetes

demi tetes sesuai dengan kebutuhan tanaman sehingga air yang terbuang sangat

kecil. Walaupun peralatan untuk sistem ini agak rumit dan mahal, tetapi hasil

yang diperoleh dan manfaatnya jauh lebih besar serta dapat dipakai berulang kali.

Irigasi tetes ada dua jenis, yaitu irigasi permukaan dan irigasi bawah tanah.

15
1. Irigasi permukaan (surface irrigation system)

Pada irigasi tetes jenis ini, pipa lateral terletak di permukaan tanah dan air

diteteskan di permukaan tanah. Umumnya, kapasitas emitter (pembahasan titik)

lebih kecil dari 8 liter/jam untuk keluaran tunggal dan lebih kecil dari 12 liter/jam

untuk line source emitter (pembahasan garis). Keuntungan pada sistem ini mudah

dipasang, dikontrol, dan dibersihkan.

2. Irigasi bawah tanah (subsurface irrigation)

Pipa lateral dikubur di bawah tanah dan irigasinya diteteskan di dalam

tanah pada zona perakaran. Sistem ini mulai diterima atau dijalankan setelah

permasalahan mengenai emitter yang tersumbat terselesaikan. Sistem ini sering

diterapkan pada kebun tanaman buah kecil atau sayuran.

Membangun sebuah sistem irigasi tidaklah mudah, dibutuhkan

penggabungan beberapa disiplin ilmu untuk memperhitungkan dan

mempertimbangkan pengoperasiannya. Untuk proyek hidroponik yang besar

diperlukan seorang ahli mekanisasi pertanian, ahli pompa, dan ahli tanaman.

Penggunaan irigasi ini dapat dipertimbangkan bila air dan tenaga kerja mahal,

keterbatasan suplai air, air tersedia, tetapi yang bersifat asam atau payau, topografi

lahan yang ditanami sulit dijangkau, tidak rata, berbukit atau tandus, dalam skala

luas dan di dalam rumah plastik.

Berdasarkan laporan Norters Regional Agricultural Engineering Service

(NRAES) tahun 1980, sistem irigasi mempunyai beberapa keuntungan yaitu

tanaman dapat memperoleh air sesuai kebutuhan, daun tidak basah sehingga

mengurangi serangan cendawan, biaya operasi dan pemeliharaan relatif rendah

karena otomatisasi penuh, pengelolaan lahan atau tanaman dapat berlangsung

16
selama irigasi karena hanya sekitar tanaman yang memperoleh pembasmian,

distribusi pupuk berlangsung di sekitar zona tanaman saja sehingga

penggunaannya efisien, dan tidak terjadi kehilangan air akibat aliran permukaan

maupun angin.

Sistem irigasi tetes ini memerlukan beberapa peralatan seperti emitter,

pipa lateral, pipa utama, dan bangunan utama.

1. Emitter

Emitter berguna untuk menurunkan tekanan air dan menyalurkan air

dalam jumlah tertentu. Emitter harus memiliki keseragaman dan konstan

menyalurkan air dalam jumlah terbatas. Selain itu, emitter harus murah,

kompak/kecil, dapat diandalkan, tahan cuaca, dan tidak mudah tersumbat. Emitter

dapat dikelompokkan menjadi point source emitter, long path, spiral grouved,

single vortex, capillary atau spaghetti, pressure compensating atau diapraghma,

line source emitter double chamber, sprayer, dan bubler. Diameter lubang

pelepasan dari point source emitter berkisar 0,2 – 2 mm. Adapun sprayer dan

bubler berdiameter di atas 5 mm.

2. Pipa Lateral

Pipa lateral merupakan komponen khas irigasi tetes. Umumnya, pipa ini

terbuat dari PE (polietilen) dan mengandung karbon untuk ketahanan cuaca.

Diameternya bervariasi dari 8 – 20 mm. Pipa lateral umumnya diletakkan 1 – 2

jalur setiap tanaman dan jaraknya semakin lebar bila jumlah airnya semakin

mengecil, tetapi panjang pipa lateral jarang yang lebih dari 300 m. tekanan pada

pipa lateral terhitung rendah, yaitu antara 35 – 175 kPa.

17
3. Pipa Utama

Pipa utama membawa air dari bangunan utama ke pipa lateral. Pada

umumnya, pipa utama terbuat dari bahan PVC dan disambungkan dengan bagian

saluran lainnya memakai sistem sambungan air maupun lekatan (slip).

Penggunaan cara lekatan lebih mudah karena selain cepat kering, lem PVC telah

banyak beredar di pasaran.

4. Bangunan Utama

Bangunan utama didirikan untuk tempat melakukan kegiatan mengukur,

menyaring, dan mengatur kandungan kimiawi air seta mengatur tekanan air dan

waktu penggunaannya. Dalam bangunan utama ini terdapat pompa, katup

pengatur tekanan debit, katup pengatur aliran, alat pengukur jumlah aliran, alat

pengukur tekanan, pengendalian pada waktu operasi, dan perangkat injeksi

kimiawi/nutrient.

5. Filter

Filter merupakan perangkat penting dalam sistem irigasi. Filter dibutuhkan

sebagai pengendali agar yang terbawa air tidak lebih besar dari ukuran lubang

emitter yang dipakai. Air dari bangunan utama dialirkan ke areal tanaman melalui

pipa primer. Jika tidak mencukupi, ditambah dengan pipa sekunder. Filter atau

saringan harus dicuci jika terjadi penurunan tekanan 5 – 10 psi. Cara

membersihkan filter ialah dengan mengeluarkan screen (kassa) dan mencucinya

atau menyemprotnya. Saringan filter yang dianjurkan untuk irigasi tetes adalah

200 mesh atau 175 mikro (Lingga, 2002).

18
Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

1. Sejarah

Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh

memanjang dan pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal

dari Sungal Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke

negara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di

wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik. Ikan nila disukai

oleh berbagai bangsa karena dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan kakap

merah.

Bibit ikan didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian

Perikanan Air Tawar pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian dan

adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia. Nila

adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah melalui Direktur

Jenderal Perikanan.

2. Jenis

Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut:

Kelas : Osteichthyes

Sub-kelas : Acanthoptherigii

Crdo : Percomorphi

Sub-ordo : Percoidea

Famili : Cichlidae

Genus : Oreochromis

Spesies : Oreochromis niloticus.

19
Terdapat tiga jenis ikan nila yang dikenal, yaitu: nila biasa, nila merah (nirah) dan

nila albino.

3. Habitat

Ikan nila memiliki kemampuan menyesuaikan diri yang baik dengan

lingkungan sekitarnya. Ikan memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan

hidupnya. Sehingga ia bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau

maupun dataran yang tinggi dengan suhu yang rendah. Ia mampu hidup pada suhu

14 – 38 oC. Dengan suhu terbaik adalah 25 – 300 oC . Hal yang paling

berpengaruh dengan pertumbuhannya adalah salinitas atau kadar garam jumlah 0

– 29 % sebagai kadar maksimal untuk tumbuh dengan baik. Meski ia bisa hidup di

kadar garam sampai 35% namun ia sudah tidak dapat tumbuh berkembang dengan

baik.

4. Perkembangbiakan

Ikan nila dapat mencapai saat dewasa pada umur 4 – 5 bulan dan ia akan

mencapai pertumbuhan maksimal untuk melahirkan sampai berumur 1,5 – 2

tahun. Pada saat ia berumur lebih dari 1 tahun kira – kira beratnya mencapai 800

gram dan saat ini ia bisa mengeluarkan 1200 – 1500 larva setiap kali ia memijah.

Dan dapat berlangsung selama 6 – 7 kali dalam setahun. Sebelum memijah ikan

nila jantan selalu membuat sarang di dasar perairan dan daerahnya akan ia jaga

dan merupakan daerah teritorialnya sendiri. Ikan nila jantan menjadi agresif saat

musim ini

5. Kebiasaan makan

Ikan nila termasuk dalam ikan pemakan segala atau Omnivora. Ikan ini

dapat berkembang biak dengan aneka makanan baik hewani maupun nabati. Ikan

20
nila saat ia masih benih, pakannya adalah plankton dan lumut sedangkan jika ia

sudah dewasa ia mampu diberi makanan tambahan seperti pelet dan berbagai

makanan lain yaitu daun talas.

Hal yang harus anda ketahui untuk memelihara ikan nila adalah

pertumbuhan dari ikan ini sangat bergantung dari pengaruh fisika dan kimia serta

interaksinya. Pada saat curah hujan yang tinggi misalnya pertumbuhan berbagai

tanaman air akan berkurang sehingga mengganggu pertumbuhan air dan secara

tidak langsung mengganggu pertumbuhan ikan nila. Ikan nila juga akan lebih

cepat tumbuhnya jika dipelihara di kolam yang dangkal airnya, karena di kolam

dangkal pertumbuhan tanaman dan ganggang lebih cepat dibandingkan di kolam

yang dalam. Ada yang lain yaitu kolam yang pada saat pembuatannya

menggunakan pupuk organik atau pupuk kandang juga akan membuat

pertumbuhan tanaman air lebih baik dan ikan nila juga akan lebih pesat

pertumbuhannya (Amri dan Khairuman, 2008).

Ikan nila jantan juga memiliki keunggulan dibandingkan dengan yang

betina. Ikan jantan memiliki pertumbuhan 40% lebih cepat dibandingkan dengan

yang betina. Terlebih jika dipelihara dalam kolam yang dibedakan. Atau

monoseks.

6. Hama

a. Bebeasan (Notonecta)

Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendaliannya dengan

menuangkan minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 m2.

21
b. Ucrit (Larva cyrbister)

Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendaliannya

dengan cara harus menghindari penumpukan bahan organik di sekitar kolam.

c. Kodok

Makan telur telur ikan. Pengendaliannya dengan sering membuang telur

yang mengapung, menangkap dan membuangnya hidup-hidup.

d. Ular

Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendaliannya dengan melakukan

penangkapan dan pemagaran kolam.

e. Lingsang

Memakan ikan pada malam hari. Pengendaliannya dengan memasang

jebakan berumpun.

f. Burung

Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.

Pengendaliannya dengan memberi penghalang bamboo supaya burung sulit

menerkam, dan diberi rumbai-rumbai atau tali penghalang.

Penyakit

a) Penyakit pada kulit

Gejalanya pada bagian tertentu berwarna merah, berubah warna dan tubuh

berlendir. Pengendalian:

1. direndam dalam larutan PK (kalium permanganat) selama 30-60 menit

dengan dosis 2 gram/10liter air, pengobatan dilakukan berulang tiga hari

kemudian.

22
2. direndam dalam Negovon (kaliumpermanganat) selama 3 menit dengan

dosis 2-3,5%.

b) Penyakit pada insang

Gejalanya terlihat pada tutup insang yang bengkak dan lembar insang

pucat/keputihan. Pengendalian yang dilakukan sama dengan pengendalian di atas.

c) Penyakit pada organ dalam

Gejalanya terlihat pada perut ikan bengkak, sisik berdiri, ikan tidak gesit.

Pengendalian yang dilakukan sama dengan pengendalian di atas.

Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya

penyakit dan hama pada budidaya ikan nila:

a) Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.

b) Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.

c) Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.

d) Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi

satu pintu pemasukan air.

e) Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.

f) Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan

secara hati-hati dan benar.

g) Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus

peters) sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal

perkolaman.

Tanaman Sawi (Brassica juncea)

Di Indonesia ini memungkinkan dikembangkan tanaman sayur-sayuran

yang banyak bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi manusia.

23
Sehingga ditinjau dari aspek klimatologis Indonesia sangat tepat untuk

dikembangkan untuk bisnis sayuran. Di antara tanaman sayur-sayuran yang

mudah dibudidayakan adalah caisim. Karena caisim ini sangat mudah

dikembangkan dan banyak kalangan yang menyukai dan memanfaatkannya.

Selain itu juga sangat potensial untuk komersial dan prospek sangat baik.

Ditinjau dari aspek klimatologis, aspek teknis, aspek ekonomis dan aspek

sosialnya sangat mendukung, sehingga memiliki kelayakan untuk diusahakan di

Indonesia. Sebutan sawi orang asing adalah mustard. Perdagangan internasional

dengan sebutan green mustard, chinese mustard, indian mustard ataupun sarepta

mustard. Orang Jawa, Madura menyebutnya dengan sawi, sedang orang Sunda

menyebutnya dengan sasawi.

1. Klasifikasi botani

Divisi : Spermatophyta.

Subdivisi : Angiospermae.

Kelas : Dicotyledonae.

Ordo : Rhoeadales (Brassicales).

Famili : Cruciferae (Brassicaceae).

Genus : Brassica.

Spesies : Brassica Juncea

Secara umum tanaman sawi biasanya mempunyai daun panjang, halus, tidak

berbulu, dan tidak berkrop.

2. Jenis-jenis sawi

Petani kita hanya mengenal 3 macam sawi yang biasa dibudidayakan yaitu

sawi putih (sawi jabung), sawi hijau, dan sawi huma.

24
a. Sawi putih (Brassica rugosa)

Sawi putih (Brassica rapa convar. pekinensis; suku sawi-sawian atau

Brassicaceae ) dikenal sebagai sayuran olahan dalam masakan Tionghoa; karena

itu disebut juga sawi cina. Disebut sawi putih karena daunnya yang cenderung

kuning pucat dan tangkai daunnya putih. Sawi putih dapat dilihat penggunaannya

pada asinan (diawetkan dalam cairan gula dan garam), pada capcay, atau pada sup

bening. Sawi putih beraroma khas namun netral.

b. Sawi hijau (Brassica juncca)

Varietas berdaun besar dan hidup di tanah kering dari tanaman yang sama

ini rasanya lebih tajam. Biasanya sawi hijau banyak dijadikan asinan untuk

konsumsi penduduk golongan Cina.

c. Sawi huma (Brassica juncea)

Ini adalah suatu varietas berbatang panjang dan berdaun sempit. Tanaman

ini tak tahan terhadap hujan, tak mudah diserang oleh ulat. Sawi ini berbulu dan

rasanya tajam. Biasanya banyak ditemukan di sawah-sawah dan hanya dimakan

di pedalaman.

3. Syarat-syarat tumbuh

Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena

Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga

dikembangkan di Indonesia ini.

a. Iklim

Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun

berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran

25
tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di

dataran tinggi.

b. Daerah

Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter

sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya

dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500

meter dpl.

c. Tanah

Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah yang gembur, banyak

mengandung humus, subur, serta memiliki pembuangan air yang baik. Derajat

kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhan tanaman sawi adalah

antara pH 6 - 7.

d. Cuaca

Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam

sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah

penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini

membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam

suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang

menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bils di tanam pada akhir

musim penghujan.

4. Bercocok tanam

Cara bertanam sawi sesungguhnya tak berbeda jauh dengan budidaya

sayuran pada umumnya. Budidaya konvensional di lahan meliputi proses

pengolahan lahan, penyiapan benih, teknik penanaman, penyediaan pupuk dan

26
pestisida, serta pemeliharaan tanaman. Sawi dapat ditanam secara monokultur

maupun tunmpang sari. Tanaman yang dapat ditumpangsarikan antara lain :

bawang, wortel, bayam, kangkung darat. Sedangkan menanam benih sawi ada

yang secara langsung tetapi ada juga melalui pembibitan terlebih dahulu. Berikut

ini akan dibahas mengenai teknik budidaya sawi secara konvensional di lahan.

a. Benih.

Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Benih

yang baik akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan bagus. Kebutuhan

benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram.

Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak

keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus

mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama

penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga

harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah

dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman

kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil

sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Dan penanaman sawi yang akan

dijadikan benih terpisah dari tanaman sawi yang lain. Juga memperhatikan proses

yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, tempat penyimpanan dan

diharapkan lama penggunaan.

b. Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah secara umum melakukan penggemburan dan pembuatan

bedengan. Tahap-tahap pengemburan yaitu pencangkulan untuk memperbaiki

struktur tanah dan sirkulasi udara dan pemberian pupuk dasar untuk memperbaiki

27
fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan yang akan kita

gunakan.

Tanah yang hendak digemburkan harus dibersihkan dari bebatuan,

rerumputan, semak atau pepohonan yang tumbuh. Dan bebas dari daerah

ternaungi, karena tanaman sawi suka pada cahaya matahari secara langsung.

Sedangkan kedalaman tanah yang dicangkul sedalam 20 sampai 40 cm.

Pemberian pupuk organik sangat baik untuk penyiapan tanah. Sebagai contoh

pemberian pupuk kandang yang baik yaitu 10 ton/ha. Pupuk kandang diberikan

saat penggemburan agar cepat merata dan bercampur dengan tanah yang akan kita

gunakan.

Bila daerah yang mempunyai pH terlalu rendah (asam) sebaiknya

dilakukan pengapuran. Pengapuran ini bertujuan untuk menaikkan derajad keasam

tanah, pengapuran ini dilakukan jauh-jauh sebelum penanaman benih, yaitu kira-

kira 2 - 4 minggu sebelumnya. Sehingga waktu yang baik dalam melakukan

penggemburan tanah yaitu 2 – 4 minggu sebelum lahan hendak ditanam. Jenis

kapur yang digunakan adalah kapur kalsit (CaCO3) atau dolomit (CaMg(CO3)2).

c. Pembibitan

Pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk

penanaman. Karena lebih efisien dan benih akan lebih cepat beradaptasi terhadap

lingkungannya. Sedang ukuran bedengan pembibitan yaitu lebar 80 – 120 cm dan

panjangnya 1 – 3 meter. Curah hujan lebih dari 200 mm/bulan, tinggi bedengan

20 – 30 cm. Dua minggu sebelum di tabur benih, bedengan pembibitan ditaburi

dengan pupuk kandang lalu di tambah 20 gram urea, 10 gram TSP, dan 7,5 gram

KCl.

28
Cara melakukan pembibitan ialah sebagai berikut : benih ditabur, lalu

ditutupi tanah setebal 1 – 2 cm, lalu disiram dengan sprayer, kemudian diamati 3 –

5 hari benih akan tumbuh setelah berumur 3 – 4 minggu sejak disemaikan

tanaman dipindahkan ke bedengan.

d. Penanaman

Bedengan dengan ukuran lebar 120 cm dan panjang sesuai dengan ukuran

petak tanah. Tinggi bedeng 20 – 30 cm dengan jarak antar bedeng 30 cm,

seminggu sebelum penanaman dilakukan pemupukan terlebih dahulu yaitu pupuk

kandang 10 ton/ha, TSP 100 kg/ha, KCl 75 kg/ha. Sedang jarak tanam dalam

bedengan 40 x 40 cm , 30 x 30 dan 20 x 20 cm. Pilihlah bibit yang baik,

pindahkan bibit dengan hati-hati, lalu membuat lubang dengan ukuran 4 – 8 x 6 –

10 cm.

e. Pemeliharaan

Pemeliharaan adalah hal yang penting. Sehingga akan sangat berpengaruh

terhadap hasil yang akan didapat. Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah

penyiraman, penyiraman ini tergantung pada musim, bila musim penghujan dirasa

berlebih maka kita perlu melakukan pengurangan air yang ada, tetapi sebaliknya

bila musim kemarau tiba kita harus menambah air demi kecukupan tanaman sawi

yang kita tanam. Bila tidak terlalu panas penyiraman dilakukan sehari cukup

sekali sore atau pagi hari. Tahap selanjutnya yaitu penjarangan, penjarangan

dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang

tumbuh terlalu rapat.

Selanjutnya tahap yang dilakukan adalah penyulaman, penyulaman ialah

tindakan penggantian tanaman ini dengan tanaman baru. Caranya sangat mudah

29
yaitu tanaman yang mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan

tanaman yang baru. Penyiangan biasanya dilakukan 2 – 4 kali selama masa

pertanaman sawi, disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng

penanaman. Biasanya penyiangan dilakukan 1 atau 2 minggu setelah penanaman.

Apabila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan

penyiangan.

Pemupukan tambahan diberikan setelah 3 minggu tanam, yaitu dengan

urea 50 kg/ha. Dapat juga dengan satu sendok teh sekitar 25 gram dilarutkan

dalam 25 liter air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan benih tidak lebih dari 3

tahun.

f. Panen dan Penanganan Pasca Panen

Dalam hal pemanenan penting sekali diperhatikan umur panen dan cara

panennya. Umur panen sawi paling lama 70 hari. Paling pendek umur 40 hari.

Terlebih dahulu melihat fisik tanaman seperti warna, bentuk dan ukuran daun.

Cara panen ada 2 macam yaitu mencabut seluruh tanaman beserta akarnya dan

dengan memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah dengan pisau

tajam. Pascapanen sawi yang perlu diperhatikan adalah pencucian dan

pembuangan kotoran, sortasi, pengemasan, penympanan dan pengolahan.

5. Hama dan Penyakit

Hama pada tanaman sawi:

a. Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell.).

b. Ulat tritip (Plutella maculipennis).

c. Siput (Agriolimas sp.).

d. Ulat Thepa javanica.

30
e. Cacing bulu (cut worm).

Penyakit pada tanaman:

a. Penyakit akar pekuk.

b. Bercak daun alternaria.

c. Busuk basah (soft root).

d. Penyakit embun tepung (downy mildew).

e. Penyakit rebah semai (dumping off).

f. Busuk daun.

g. Busuk Rhizoctonia (bottom root).

h. Bercak daun.

i. Virus mosaik.

6. Manfaat Sawi

a. Biasanya menjadi sayuran pendamping mie atau pangsit

b. Mampu menangkal hipertensi, penyakit jantung, dan berbagai

jenis kanker.

c. Menghindarkan ibu hamil dari anemia.

d. Dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular seperti stroke,

dan jantung koroner.

e. Sawi sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan

pada penderita batuk.

f. Penyembuh penyakit kepala, bahan pembersih darah.

g. Memperbaiki fungsi ginjal, serta memperbaiki dan memperlancar

pencernaan.

31
7. Kandungan Sawi

Sawi banyak mengandung vitamin dan mineral. Kadar vitamin K, A, C, E,

dan folat pada sawi tergolong dalam kategori unggul. Mineral pada sawi yang

tergolong dalam kategori unggul adalah mangan dan kalsium. Sawi juga unggul

dalam hal asam amino triptofan dan serat pangan (dietaryfiber).

Vitamin K mempunyai potensi dalam mencegah penyakit-penyakit serius,

seperti penyakit jantung dan stroke, karena efeknya mengurangi pengerasan

pembuluh darah oleh faktor timbunan plak kalsium. Vitamin K juga terkait

dengan pengaturan protein tulang dan kalsium di dalam tulang dan darah,

sehingga dapat menjaga tulang dari proses osteoporosis. Selain itu juga digunakan

untuk menangani kanker karena dapat bertindak sebagai racun bagi sel-sel kanker,

tetapi tidak membahayakan sel-sel yang sehat.

Vitamin A berperan menjaga kornea mata agar selalu sehat. Mata yang

normal biasanya mengeluarkan mukus, yaitu cairan lemak kental yang

dikeluarkan sel epitel mukosa, sehingga membantu mencegah terjadinya infeksi.

Kekurangan vitamin A membuat sel epitel akan mengeluarkan keratin, yaitu

protein yang tidak larut dalam air dan bukan mukus. Bila sel-sel epitel

mengeluarkan keratin, sel-sel membran akan kering dan mengeras, dan bila tidak

segera diobati akan menyebabkan kebutaan.

Peran utama vitamin C adalah dalam pembentukan kolagen interseluler.

Kolagen merupakan senyawa protein yang banyak terdapat dalam tulang rawan,

kulit bagian dalam tulang, dentin, dan vascular endothelium. Vitamin C sangat

penting perannya dalam proses hidroksilasi dua asam amino prolin dan lisin

menjadi hidraksiprolin dan hidroksilisin. Kedua senyawa ini merupakan

32
komponen kolagen penting. Selain itu, vitamin C sangat berperan dalam

penyembuhan luka serta daya tahan tubuh melawan infeksi dan stres.

Peran Asam folat dalam proses sintesis nukleoprotein merupakan kunci

pembentukan dan produksi butir-butir darah merah normal dalam sumsum tulang.

Asam folat juga terlibat dalam proses oksidasi fenilalanin menjadi tirosin.

Kandungan Kalsium yang tinggi pada sawi dapat mengurangi hilangnya bobot

tulang yang biasa terjadi pada usia lanjut. Tekanan darah tinggi juga dapat

disebabkan oleh rendahnya kadar kalsium di dalam darah.

Kandungan Mangan pada sawi digunakan untuk proses metabolisme

tubuh, sedangkan triptotan merupakan protein utama penghubung antarsaraf dan

pengatur pola kebiasaan (neurobehaviour} yang berdampak kepada pola makan,

kesadaran, persepsi atas rasa sakit, dan pola tidur. Kandungan Vitamin E pada

sawi dapat berfungsi sebagai antioksidan utama di dalam sel.. Selain itu juga

berperan baik untuk mencegah penuaan.

Teknologi Akuaponik

Pada dasarnya, teknologi akuaponik terbagi atas dua bagian, yaitu

teknologi pemeliharaan ikan dan teknologi pemeliharaan tanaman. Pada teknologi

tersebut, air yang telah terpakai digunakan sebagai media penyubur pada bagian

lainnya yaitu berupa usaha penanaman sayuran.

Usaha penanaman sayuran tersebut bukan merupakan hal yang utama

dalam sistem teknologi akuaponik, tetapi bagian tersebut mempunyai peranan

yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan budidaya pemeliharaan ikan.

Hal ini mengingat bagian tanaman sayuran yang ternyata juga berfungsi sebagai

filter/ penyaring air yang menyediakan media untuk pertumbuhan ikan yang baik.

33
Kandungan racun yang sering kali dihasilkan dari suatu usaha budidaya

ikan umumnya dalam bentuk ammonia. Ternyata kandungan racun tersebut dapat

direduksi oleh tanaman hingga 90% dari kadar yang ada sehingga air tersebut

masih layak digunakan kembali sebagai media dalam pemeliharaan ikan.

34