Anda di halaman 1dari 28

Inteligensi

1. Sejarah Tes Intelegensi


Pada abad XIV, di cina, telah berlangsung usaha untuk mengukur kompetensi para pelamar
jabatan pegawai negara. Untuk dapat diterima sebagai pegawai, para pelamar harus mengikuti
ujian, ujian tertulis mengenai pengetahuan konvusion klasik dan mengenai kemampuan menulis
puisi. Ujian ini berlangsung sehari semalam di tingkat distrik. Kurang dari 7% pelamar yang
biasanya lulus tingkat distrik kemudian harus mengikuti ujian berikutnya yang berupa menulis
prosa dan sajak. Dalam ujian ke 2 ini kurang dari 10% peserta yang lulus. Akhirnya barulah ujian
tingkat akhir diadakan di peking dimana diantara para peserta terakhir ini hanya lulus 3% saja.
Lulusan ini kemudian diangkat menjadi mandarin dan bekerja sebagai pegawai negara. Dengan
demikian dari ke 3 tahap ujian tersebut hanya 5 diantara 100.000 pelamar yang akhirnya menjadi
mandarin.
Mungkin suatu kebetulan, bahwa awal perkembangan pengukuran mental berpusat pada
kempuan yang bersifat umum yang kita kenal sebagai tes intelegensi. Usaha pengukuran
intelegensi berkembang dalam kurun waktu yang kurang lebih serempak di amerika serikat dan
perancis.
Di amerika, usaha pertama tersebut dimulai oleh tokoh pencetus istilah “tes mental”, James
Mckeen Cattell (1860-1944), yang menerbitkan bukunya mental tes and measuremens di tahun
1890. buku ini berisi serangkaian tes intelegensi yang terdiri atas 10 jenis ukuran. Ke 10 macam
ukuran tersebut adalah :
a) Dinamo meter peasure, yaitu ukuran kekuatan tangan menekan pegas yang dianggap
sebagai indikator aspek psikofisiologis
b) Rate of movement, yaitu kecepatan gerak tangan dalam satuan waktu tertentu yang
dianggap memiliki komponen mental didalamnya.
c) Sensation areas, yaitu pengukuran jarak terkecil diantara 2 tempat yang terpisah dikulit
yang masih dapat dirasakan sebagai 2 titik berbeda.
d) Peasue caosing pain, yaitu pengukuran yamg dianggap berguna dalam diaknosis
terhadap penyakit saraf dan dalam mempelajari status kesadaran abnormal.
e) Least noticabele difference in weight, yaitu pengukuran perbedaan berat yang terkecil
yang masih dapat dirasakan seseorang.
f) Reaction time for sound, yang mengukur waktu antara pemberian stimulus dengan
timbulnya reaksi tercepat.
g) Time for naming colors, yang dimaksudkan sebagai ukuran terhadap proses yang
lebih”mental”daripada waktu-reaksi yang dianggap reflektif.,
h) Bisection of a 50-cm line, yang dianggap sebagai suatu ukuran terhadap akurasi “ space
judgment’
i) Judgment of 10second time, yang dimaksudkan sebagai ukuran akurasi dalam ‘time
judgment’( subyek diminta menghitung 10 detik tampa bantuan apapun).
j) Number of latters repeated upon once hearing, yang dimaksudkan sebagai ukuran
terhadap perhatian dan ingatan( subyek diminta mengulang huruf yang sudah
disebutkan 1x)

2. Latar Belakang Tes Intelegensi


a) E. Seguin (1812 – 1880) disebut sebagai pionir dalam bidang tes intelegensi yang
mengembangkan sebuah papan yang berbentuk sederhana untuk menegakkan diagnosis
keterbelakangan mental. Kemudian usaha ini distandanisir oleh Henry H. Goddard
(1906). E. Seguin digolongkan kepada salah seorang yang mengkhususkan diri pada
pendidikan anak terkebelakang dan disebut juga bapak dari tes performansi.
b) Joseph Jasnow (1863 – 1944) adalah merupakan salah satu dari beberapa orang yang
pertama kali mengembangkan daftar norma-norma dalam pengukuran psikologis.
c) G.C. Ferrari (1896) mempublikasikan tes yang bisa dipakai untuk mendiagnosis
keterbelakangan mental.
d) August Oehr mengadakan penelitian inhmetasi antara berbagai fungsi psikologis (h. 14).
e) E. Kraepelin, seorang psikotes menyokong usaha ini, empat macam tes yang
dikembangkan, di antaranya yaitu:
 Koordinasi motorik
 Asosiasi kata-kata
 Fungsi persepsi
 Ingatan
f) Dan E. Kraepelin juga mengembangkan tes intelegensi yang berkaiatan dengan tes
penataran aritmatik dan kalkulasi sederhana tahun 1895.
Di samping itu berkembang pula tes yang dipakai untuk kelompok (group). Hal ini diawali
dengan tes verbal untuk seleksi tentara (wajib militer) yang disebut dengan Army Alpha. Untuk
yang buta huruf atau tidak bisa berbicara bahasa Inggris dipergunakan Army Beta sekitar tahun
1917 – 1918, tes ini dipakai hampir dua juta orang.

3. Pendekatan Teori-teori Belajar


Intelegensi adalah kemampuan berpikir individu untuk belajar dari pengawasan,
mengeluarkan pendapat dengan baik, dan untuk mengatasi tuntutan hidup sehari-hari.
Menurut Rergutnrie dalam bukunya (the psychology of learning) mengemukakan definisi
belajar yang artinya sebagai berikut berbuat sesuatu, belajar untuk menulis, belajar untuk
bermain sky, pendek kata ialah hasil suatu kecakapan atau keahlian khusus atau sanggupan dari
beberapa prestasi. Jadi pengertian belajar ini adalah adanya perubahan-perubahan yang menuju
ke arah yang lebih sempurna (maju) dan perubahan-perubahan itu dikarenakan adanya latihan-
latihan yang disengaja.
Inteligensi berkaitan erat dengan proses belajar. Dalam psikologi dikenal istilah teori-
teori belajar serta pendekatan-pendekatannya.

A. Teori Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu.
Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek
- aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat
dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks
sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Teori kaum behavoris lebih
dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar
artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau
mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya
ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.
Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang
individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan
pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin”
(Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil,
bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau
respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan
peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang
diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku
manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari
lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara
reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat
bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil
belajar.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :
a. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum
belajar, diantaranya: Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang
memuaskan, maka hubungan Stimulus-Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak
memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara
Stimulus- Respons.
• Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan
organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana
unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau
tidak berbuat sesuatu.
• Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin
bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak
dilatih.
b. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum
belajar, diantaranya :
• Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua
macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai
reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
• Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang
sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa
menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
c. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap
burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
• Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus
penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
• Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui
proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut
akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah
sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant
conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh
reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan
kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai
pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.
d. Social Learning menurut Albert Bandura
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori
belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan
penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata
refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai
hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar
menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi
melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih
memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang
individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

B. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget


Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran
konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan
untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan
individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1)
sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational.
Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan
akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which
a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the
evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind
or concepts by the process of assimilation”
Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap
perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk
melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya
dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan
kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan
menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru
mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.
Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi
dengan teman-temanya.

C. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne


Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang
sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari
pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi,
untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam
pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-
kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan
untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi
eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses
pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,
• motivasi
• pemahaman
• pemerolehan
• penyimpanan
• ingatan kembali
• generalisasi
• perlakuan dan
• umpan balik

D. Teori Belajar Gestalt


Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau
konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan
dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada
tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :
1. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa
setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang.
Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan
figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi
kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
2. Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun
ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
3. Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan
dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
4. Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada
dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk
tertentu.
5. Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya
bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang
baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan
6. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola
obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.
Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:
1. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku
“Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau
keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan
dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah
beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan
perilaku “Molecular”.
2. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan
geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang
sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak.
Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan
behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan
hutan yang lebat (lingkungan geografis).
3. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian
peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya,
adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan
sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti
gunung atau binatang tertentu.
4. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses
yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan
suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang
diterima.
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam
perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan
tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau
peristiwa.
2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang
terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas
makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat
penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan
pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya
memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku
bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan
dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta
didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya
menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam
memahami tujuannya.
4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan
lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki
keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran
tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan
melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk
kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat.
Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam
pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi).
Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok
dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam
memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat
membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang
diajarkannya.
4. Teori Menurut Tokoh
a. Single factor
ALFRED BINET
Alfred Binet (1857-1911) termasuk salah satu ahli psikologi yang mengatakan bahwa
intelegensi bersifat monogenetic, yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum.
Alfred binet beserta Theodore Simon merupakan seorang tokoh utama perintis pengukuran
intelegensi yang mendefinisikan intelegensi terdiri atas tiga komponen, yaitu:
• Kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakan;
• Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan;
• Kemampuan untuk mengeritik diri sendiri atau melakukan autocritism.
Menurut Binet, intelegensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus
berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. Binet menggambarkan intelegensi
sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan
menilai tingkat perkembangan individu berdasar suatu kriteria tertentu. Jadi untuk melihat
apakah seseorang cukup inteligen atau tidak, dapat diamati dari cara dan kemampuannya untuk
melakukan suatu tindakan dan kemampuannya untuk mengubah arah tindakannya itu perlu.
Inilah yang dimaksudkan dengan komponen arah, adaptasi dan kritik dalam definisi intelegensi.
Pada tahun 1904 Menteri Pendidikan Perancis meminta psikolog Alfred Binet untuk
menyusun metode guna mengidentifikasi anak-anak yang tidak mampu belajar di sekolah. Para
pejabat di sekolahan ingin mengurangi sekolahan ingin mengurangi sekolah yang penuh sesak
dengan cara memindahkan murid yang kurang mampu belajar di sekolah umum ke sekolah
khusus. Binet dan mahasiswanya, Theophile Simon, menyusun tes intelegensi untuk memnuhi
permintaan ini. Tes itu disebut skala 1905. Tes ini terdiri dari 30 pertanyaan, mulai dari
kemampuan untuk menyentuh telinga hingga kemampuan untuk menggambar desain
berdasarkan ingatan dan mendefinisikan konsep abstrak.
Binet mengembangkan konsep mental age (MA) atau usia mental, yakni level
perkembangan mental individu yang berkaitan dengan perkembangan lain. Tak lama kemudian,
pada 1912 Wiliam Stern menciptakan konsep intelligence quotient (IQ), yakni usia mental
seseorang dibagi dengan usia kronologis (chronological age-CA), dikalikan seratus. Jadi
rumusnya adalah:
IQ = MA / CA x 100
Jika usia mental sama dengan usia kronologis, maka IQ orang itu adalah 100. Jika usia
mental di atas usia kronologis, maka IQ-nya lebih dari 100. Misalnya anak enam tahun dengan
dengan usia mental 8 tahun akan punya IQ 133. Jika usia mentalnya di bawah usia kronologis,
maka IQ-nya di bawah 100. Misalkan anak usia 6 dengan usia mental 5 akan punya IQ 83.
Tes Binet direvisi berkali-kali untuk disesuaikan dengan kemajuan dalam pemahaman
intelegensi dan tes intelegensi. Revisi-revisi ini disebut tes Stanford-Binet (sebab revisi itu
dilakukan di Stanford University). Dengan melakukan tes untuk banyak orang dari usia yang
berbeda dan latar belakang yang beragam, peneliti menemukan bahwa skor pada tes Stanford-
Binet mendekati distribusi normal. Distribusi normal adalah simetris, dengan mayoritas skor
berada pada tengah-tengah rentang skor yang mungkin muncul dan hanya ada sedikit skor yang
berada mendekati ujung dari rentang itu.
Tes Stanford-Binet kini dilakukan secara individual untuk orang dari usia 2 tahun hingga
dewasa. Tes ini memuat banyak item, beberapa di antaranya membutuhkan jawaban verbal, yang
lainnya respon nonverbal.
Edisi keempat tes Stanford-Binet dipublikasikan pada 1985. Salah satu penambahan
penting pada versi ini adalah analisis respon s individual dari segi empat fungsi: penalaran
verbal, penalaran kuantitatif, penalaran visual abstrak dan memori jangka pendek. Skor komposit
umum masih dipakai untuk mengetahui keseluruhan intelegensi. Tes Stanford-Binet masih
menjadi salah satu tes yang paling banyak digunakan untuk menilai intelegensi murid.
Sehingga jelaslah bahwa peranan Alfred binet sangat luas dalam mendefiniskan
intelegensi. Dan definisi intelegensi itu semakin kuat setelah terciptanya tes Stanford-Binet yang
sangat luas manfaatnya dalam mengukur intelegensi kita.

b. two factor
CHARLES E. SPEARMAN
Pandangan Spearman (1927) mengenai inteligensi ditunjukkan dalam teori mengenai
kemampuan mental yang populer dengan nama teori dua faktor (two factor theory)
penjelasannya mengenai teori ini berangkat dari analisis korelasional yang dilakukannya
terhadap skor seperangkat tes yang mempunyai tujuan dan fungsi ukur yang berlainan. Hasil
analisisnya memperlihatkan adanya interkorelasi positif diantara berbagai tes tersebut. Menurut
Spearman, interkorelasi positif itu terjadi dikarenakan masing-masing tes tersebut memang
mengukur suatu faktor umum yang sama, yang dinamakannya dengan faktor-g. Namun
demikian korelasi-korelasi itu tidaklah sempurna disebabkan setiap tes, disamping mengukur
faktor umum yang sama, mengukur pula komponen tertentu yang spesifik bagi tes masing-
masing. Faktor yang spesifik dan hanya diungkap oleh tes tertentu saja ini disebut faktor-s.

1
2
3
g

Gambar X : Ilustrasi Teori Spearman

Gambar X memberikan model ilustratif teori Spearman mengenai kemampuan mental.


Dalam model ini, dua tes akan berkorelasi tinggi satu sama lain hanya bila masing-masing
mengandung faktor g dalam proporsi besar. Tes 3 dan tes 1 dalam gambar tersebut akan
mempunyai korelasi yang lebih tinggi daripada koreasi tes 3 dan tes 2 serta lebih tinggi daripada
tes 1 dan tes 2, dikarenakan tes 2 hanya mengandung sedikit faktor g. Semakin besar korelasi
suatu tes dengan g maka akan semakin besar pula korelasinya dengan tes lain yang juga
mengandung g. Korelasi antara dua tes dapat diprediksikan dari korelasi masing-masing dengan
faktor g. Bila korelasi tes 1 dengan g sebesar r1g = 0,60 sedangkan korelasi tes 3 dengan g

sebesar r3g = 0,80 maka prediksi terhadap korelasi antara tes 1 dan tes2 adalah sebesar r13 = (r1g)

(r3g) = (0,60)(0,80) = 0,48.

Namun demikian, menurut Spearman, beberapa tes dapat saja berkorelasi melebihi
korelasi masing-masing dengan g apabila terhadap suatu kemampuan khusus yang sama-sama
diukur oleh tes-tes tersebut atau apabila terjadi kemiripan pada aitem dalam tes-tes tersebut.
Interkorelasi yang melebihi korelasi tes dengan g ini oleh Spearman dikatakan sebagai petunjuk
adanya faktor kelompok (group factor).
Korelasi positif tadi jika digambarkan adalah sebagai berikut :

Teori TwoFactor dari Spearman g : Faktor umum : s1 – s6; faktor

Spesifik : L1 – L6; Faktor Loading

s3
s2

L3
L2

s5
s5 L4
s1 s4
L1 L6 L5
g

s6 s5

s6 s5

Gambar Y. Hubungan antara faktor G dan beberapa faktor s menurut Teori Dua (Two) Faktor
dari Charles Spearman

Faktor G digambarkan dengan elips besar dengan kode G (sebenarnya elips besar). Dan
faktor-faktor khusus digambarkan dengan elips-elips yang kecil dengan tidak sama besarnya,
yakni s1, s2, s3 dan s4. Masing-masing faktor khusus tadi mempunyai korelasi dengan faktor G,
dan ada bagan-bagiannya yang gambarnya berimpit dengan G. Bagian-bagian yang berimpit
tersebut diberi simbol L1, L2, L3 dan L4. Bagian-bagian yang berimpit inilah yang disebut
faktor loaded atau loading, atau juga faktor saturated (faktor milik bersama).

Dalam gambar tersebut nampaklah, bahwa faktor khusus s1 berkorelasi dengan faktor G
dan mempunyai faktor loading L1. Demikian juga faktor-faktor khusus lainnya berkorelasi
dengan faktor G dan faktor-faktor loading-nya s2 dengan L2, s3 dengan L3 dan s4 dengan L4.
Dengan adanya faktor-faktor loading tadi ditafsirkan, bahwa bagian-bagian dari faktor-faktor
khusus tadi mempunyai sifat sama atau persamaan dengan sifat-sifat faktor G. Jika di dalam
perhitungan statistik, yakni perhitungan angka koefisien korelasinya dengan teknik tertentu,
hasilnya menunjukkan ada korelasi positif tinggi, maka faktor loading-nya akan terlihat besar;
dan sebaliknya jika angka korelasinya kecil, maka faktor loading-nya juga akan nampak kecil.

Apa yang menyebabkan faktor-faktor s berkorelasi dengan faktor G, dalam bentuk-


bentuk tes khusus, dihipotesiskan ada fungsi yang bersamaan dengan faktor G. Jadi, yang
berkorelasi itu adalah fungsi dari tes khusus dan tes umum. Artinya, ada persamaan fungsi antara
faktor-faktor s dengan faktor G. Berdasarkan konsep ini, jika makin besar persamaannya antara
faktor s dan faktor G, maka kekhususannya akan makin kecil. Dan sebaliknya, jika makin kecil
persamaannya, maka faktor s makin spesifik, artinya faktor khususnya makin besar. Dan jika
faktor s dipandang sebagai bakat, maka makin kecil korelasinya dengan faktor G, berarti
bakatnya makin besar atau bakatnya makin menonjol. Sebaliknya, makin besar korelasinya,
berarti makin kecil bakatnya.

Dengan teori dua faktor dari Spearman, maka tes psikologis dapat untuk mengukur besar
faktor G pada individu-individu, demikian juga besar faktor s. Hal ini ditunjukkan oleh besar
kecilnya korelasi sebagai hasil perhitungannya. Kalau dua macam tes menghasilkan persamaan
yang besar, bahkan semuanya sama, berarti tidak mengukur perbedaan khusunya, tetapi hanya
berarti berbeda situasi saja.

Spearman mengusulkan, bahwa sebuah tes yang mempunyai faktor loading sangat tinggi,
dapat digantikan oleh sekumpulan items yang heterogen terdapat pada inteligensi. Suatu tes yang
mengukur kemampuan hubungan-hubungan abstrak, mungkin tes ini mengukur faktor G, dan
dapat dipakai sebagai tes intelegensi. Misalnya, tes Raven, yang disebut Standard Progressive
Matrices (SPM), dan tes intelegensi yang bebas budaya dari Cattel.

Definisi inteligensi menurut Spearman mengandung dua komponen kualitatif yang


penting, yaitu :

(a). Edukasi relasi ( eduction of relation)

Eduksi relasi adalah kemampuan untuk menemukan suatu hubungan dasar yang
berlaku diantara dua hal. Misalnya, dalam menemukan hubungan yang terdapat diantara
dua kata “panjang-pendek”.
(b). Edukasi korelasi (eduction of correlates).

Eduksi korelasi adalah kemampuan untuk menerapkan hubungan dasar yang


telah ditemukan dalam proses eduksi relasi sebelumnya ke dalam situasi baru. Misalnya,
bila telah diketahui bahwa hubungan lawan-arti, maka menerapkannya dalam situasi
pertanyaan seperti “baik-.......” tentu dapat dilakukan.

r r

f1 f2 f1 f2

Eduksi hubungan (r) antara Eduksi korelasi (f2) dari hal (f1)

dua hal (f1 dan f2) dan hubungan (r)

Gambar Z. Diagram Eduksi Relasi dan Eduksi Korelasi (Spearman, 1927 dalam
Eysenck, 1981)

Dalam istilah modern apa yang dikonsepkan oleh Speraman itu dapat disebut sebagai
proses Enkoding (encoding), proses penyimpulan (inference), dan aplikasi (apliation). Inilah
proses penalaran dengan menggunakan analogi yang menurut Sperman, merupakan salah satu
indikator faktor g terbaik.

Disamping itu, Sperman juga mengemukakan lima prinsip kuantitatif dalam kognisi,
yaitu :

1. Energi Mental, setiap fikiran cenderung untuk menjaga total output kognitif simultanya
dalam kuantitas yang tetap walu bagaimanapun variasi kualitatifnya.

2. Kekuatan Menyimpan (retantivity), terjadinya peristiwa kognitif menimpulkan


kecenderungan untuk terulang kembali.
3. Kelelahan, terjadinya peristiwa kognitif menimbulkan kecenderungan untuk
melawanterulangnya peristiwa tersebut.

4. Kontrol Konatif, intensitas kognisi dapat dikendalikan olah konasi (motivasi).

Potensi Primordial, setiap manifestari dari keempat prinsip kuantitatif terdahulu akan
ditimbun di atas potensi awal individu yang bervariasi.

c. Multiple Factor
EDWARD LEE THORNDIKE
Thorndike lahir di Williamsburg pada tangal 31 Agustus 1874 dan meninggal di
Montrose, New York. Pada tahun 1898, di usianya ke 24 tahun Thorndike menerbitkan buku
“Animal Intelligence, An Experimental Study of Association Process in Animal”. Buku ini
nerupakan penelitian dari Thorndike terhadap tingkah laku beberapa jenis hewan seperti kucing,
anjing dan burung, yang mencermikan prinsip dasar dari proses belajar, Thorndike menganut
bahwa dasar dari belajar (learning) tidak lain sebenarnya adalah asosiasi. Suatu stimulus (S),
akan menimbulkan suatu respon (R) tertentu. Teori ini juga sering di sebut teori S-R. Dalam teori
ini dikatakan bahwa dalam proses belajar, pertama sekali organisme (manusia atau hewan)
belajar dengan cara trial and error. Intelegensi beroperasi pada empat tingkat trial & error yaitu,
(1) perilaku nyata (trial & error), (2) Perseptual (trial & error), (3 )Ideational, (4) Konseptual
yang dijadikan acuan bagi pengukuran intelegensi. Di bawah ini ada proses belajar yang
mengikuti prinsip trail and error ini, dan ada beberapa hukum yang di kemukakan Thorndike.

Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.


Teori belajar yang dikemukakan oleh Edward Thorndrik yang kemudian berpengaruh pada
pendidikan dan pengajaran di Amerika Serikat. Thorndike berpendapat bahwa belajar merupakan
proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Teori ini sering pula disebut
“Trial and Error learning”,. Penelitian ini dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap
kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
1. Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan,
maka hubungan Stimulus - Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak
memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi
antara Stimulus- Respons.
2. Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan
organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana
unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau
tidak berbuat sesuatu.
3. Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan
semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang
atau tidak dilatih.
Pada penelitian Thorndike tentang ”Transfer of Training” yang ditulis bersama Woodwort,
Thorndike mengemukakan bahwa apa yang telah dipelajari terdahulu akan mempengarui apa
yang dipelajari kemudian. Apabila hal yang dipelajari mempunyai banyak persamaa dengan hal
yang dipelajari dulu, makan akan terjadi transfer yang positif dimana hal yang baru tidak akan
terlalu sulit dipelajari. Misalnya, bila kita sudah bisa mengendari sepeda, maka sewaktu kita akan
mengendari sepeda motor tidak begitu sulit, sebaliknya bila yang kita pelajari dengan yang
terdahulu yang kita pelajari terdapat banyak perbedaan, maka akan sulit mempelajari hal yang
baru itu, disini terjadi transfer yang negatif. Misalnya, orang yang biasa menggunakan tangan
kiri, pada suatu saat di suruh menggunakan tangan kanan, maka hal ini sangatlah sulit.
Prinsipnya mengenai transfer ini kemudian ditulisnya kedalam buku Eductional Psychology
(1903) dan karena prestasi-prestasinya, beliau diangkat menjadi guru besar di Teacher’s Colege
of Colombia.

THURSTONE
Teori Multifaktor dikembangkan oleh Thurstone. Metoda analisis faktor yang
dipergunakan untuk menganalisa faktor-faktor inteligensi adalah metoda centroid dan metoda
rotasi. Metoda centroid dipergunakan untuk meringkaskan faktor-faktor yang terdapat dalam tes
tabel korelasi. Sedangkan metoda rotasi dipergunakan untuk melukiskan faktor-faktor yang
terdapat dalam tes, sehingga mudah dimengerti (Loevinger, Helson, 1951 : 572-573). Multifaktor
disini dimaksudkan sebagai faktor-faktor inteligensi yang dianalisis dengan mempergunakan
metoda analisis faktor itu, terdiri dari lima faktor atau lebih. Apabila banyak sekali, faktor-faktor
itu dikelompok-kelompokkan sehingga akhirnya faktor-faktor itu tidak lebih dari sepuluh buah.
Model korelasi antar faktor-faktor inteligensi itu digambarkan dalam bagan berikut :
Misalkan, tes inteligensi yang dimaksud terdiri dari 5 subtes, yang dilambangkan dengan persegi
empat yang diberi angka 1, 2, 3, 4 dan 5. subtes 1, 2 dan 3 berkorelasi, sama-sama mengandung
faktor spatial (keruangan), dan subtes 4 dan 5 berkorelasi, sama-sama mengandung faktor
numerical (bilangan). Lingkaran bulat telur melambangkan korelasi antara faktor-faktor dari
subtes-subtes tersebut.
Teori Multifaktor ini tidak lagi mempermasalahkan jenis-jenis faktor, seperti faktor
umum, faktor kelompok atau faktor khusus, tetapi lebih memperhatikan faktor-faktor apa yang
termuat di dalam sebuah tes inteligensi.
Di dalam teorinya ini, Thurstone mengemukakan 6 faktor utama yang terdapat dalam tes
inteligensi, yaitu : faktor verbal (V), faktor bilangan (N = numerical), faktor keruangan (S =
spatial), faktor kefasihan kata-kata (W = words fluency), faktor ingatan (M = memory), faktor
pikiran ( P = perceptual speed). Keenam faktor inteligensi ini disebut “primary mental abilities”.
Sedangkan enam faktor di dalam inteligensi menurut Witherington adalah : faktor kemudahan
penggunaan bilangan, faktor efisiensi pemakaian bahasa, faktor kecepatan pengamatan, faktor
kemudahan pemahaman ruang dan waktu, faktor kemudahan mengingat-ingat dan faktor khayal
yang rekonstruktif (Witherington, 1952 : 135). Kesembilan subtes IST memuat keenam faktor
utama ini.
Thurnstone mempunyai pandangan tersendiri. Dia berpendapat bahwa dalam intelegensi
terdapat faktor-faktor primer yang merupakan “group factor”, yaitu.
a) Spatial relation (S)
Kemampuan untuk melihat gambar tiga dimensi
b) Perceptual speed (P)
Kecepatan dan ketepatan dalam mempertimbangkan kesamaan dan perbedaan atau dalam
merespon detil-detil visual.
c) Verbal comprehension (V)
Kemampuan memahami bacaan, kosakata, analogi verbal, dan sebagainya.
d) Word fluency (W)
Kecepatan dalam menghubug-hubngkan kata dengan berbagai rima dan intonasi.
e) Number facility (N)
Kecepatan ketepatan dalam perhitungan
f) Associative memory (M)
Kemampuan menggunakan memori untuk menghubungkan berbagi assosiasi.
g) Induction (I)
Kemampuan untuk menarik suatu kesimpulan suatu prinsip atau tugas.
Menurutnya faktor-faktor tesebut berkombinasi sehingga menghasilkan tindakan atau
perbuatan yang intelegen.

JOY PAUL GUILFORD


Menurut Guilford dalam Mulyadi (2004), penelitian tentang kreativitas dimulai dari
Galton yang memulainya dengan meneliti tentang orang – orang genius pada tahun 1869. Saat
itu ia mencoba memahami cara kerja fungsi mental para pemimpin dan tokoh – tokoh yang
berhasil mengetengahkan ide – ide cemerlang. Perhatiannya terutama tertuju untuk mengupas
faktoriter (keturunan) dari intelegensi dan kreativitas. Sehubungan dengan itu, maka penelitian
Galton dianggap sebagai sumbangan yang sangat penting dalam upaya para ahli memahami
kreativitas, meski tidak berhasil secara penuh untuk menciptakan teori dan definisi yang mantap
tentang hal tersebut.
Di lapangan intelektual, di tahun 1959, Guilford mengeluarkan satu model untuk
menjelaskan kreativitas manusia bernama Model Struktur Intelek. Di dalamnya terdapat konsep
berpikir konvergen dan divergen. Konvergen adalah cara berpikir untuk memberikan satu-
satunya jawaban yang benar sedangkan berpikir divergen adalah pemikiran yang memberikan
serangkaian alternatif jawaban yang beraneka ragam.
Model struktur intelektual (SI) diilustrasikan oleh Guilford dalam bentuk sebuah kubus
dengan masing-masing dimensi mewakili faktor-faktor intelektual yang bersesuaian satu sama
lain. Dimensi-dimensi tersebut ialah:
1. Dimensi isi (content)
Isi menunjukkan kepada tipe informasi yang sedang diproses. Dalam dimensi ini terdapat
4 jenis bentuk yang merupakan input yang bbeda kompleksitasnya
a) Figure :informasi yan berupa bentuk yang menggambarkan keadaan suatu objek.
Setiap input yang diproses berupa gambaran suatu objek dari bentuknya
diklasifikasikan sebagai isi yang figural
b) Symbol : informasi yang diproses disini dapat mempunyai bentuk yang sama
seperti isi figural,akan tetapi arti yang dikehendaki merupakan penggambaran
objek lain. Jadi merupakan sesuatu yang lain,bukan objek itu sendiri
c) Semantic : informasi yang harus diproses berupa input yang disajikan secara lisan
d) Perilaku : informasi yang diterima berupa perilaku orang lain. Isi kemampuan
inilah yang dapat disamakan dengan konsep intelegensi sosial menurut teori
Thorndike,yaitu suatu kemampuan yang kita gunakan sehari-hari dalam
melakukan hubungan interaktif dengan orang lain disekitar kita
2. Dimensi operasi
Dimensi ini menunjuk kepada cara bagaimana suatu informasi diproses. Cara pemrosesan
informasi terdiri atas lima macam
a) Kognisi : proses penemuan suatu informasi atau pengenalan kembali suatu
informasi
b) Ingatan : proses langsung dalam mengangkat kembali informasi yang pernah
diterima ke atas kesadaran
c) Produksi konvergen :kemampuan memanfaatkan informasi yang diterima guna
mencapai satu jawaban atau satu penyelesaian yang benar
d) Produksi divergen : proses informasi guna memperoleh berbagai jawaban yang
baik. Proses ini mencerminkan kemampuan berpikir kreatif
e) Evaluasi : kemampuan untuk menilai setiap dari segi evaluative,seperti baik buruk
atau salah benar. Termasuk dalam bentuk proses ini adalah penilaian berdasarkan
moral (moral judgement)
3. Dimensi produk
Dimensi ini menunjuk kepada hasil pemrosesan yang dilakukan oleh dimensi operasi
terhadap berbagai macam bentuk isi informasi. Jadi,merupakan proses berpikir. Menurut
tingkat kompleksitasnya terdapat enam macam produk
a) Satuan (unit) : produk satuan berupa suatu respon tunggal,misalnya (X)
b) Kelas : produk kelas berupa respon dalam bentuk kelompok kelas,misalnya (X,Y,Z)
c) Relasi : produk yang dinyatakan dalam bentuk satuan yang saling berhubungan atau
dalam bentuk hubungan diantara satuan-satuan,misalnya (X=Y;X>Y>Z)
d) System : respon yang strukturnya terorganisasikan secara keseluruhan
e) Transformasi : berupa perubahan satu jenis produk ke dalam bentuk atau jenis produk
lain
f) Implikasi : produk yang hasilnya berlaku pula di luar data yang diproses
Jadi, menurut Guilford seluruhnya ada 15 faktor inteligensi. Kelimabelas faktor itu jika
disusun berdasarkan struktur menurut dimensinya masing-masing akan menghasilkan 120
macam model tingkah laku intelegen, yaitu 4 x 5 x 6. bagi Guilford tingkah laku intelegen itu
merupakan fungsi-fungsi dari intelek
(Anastasi, 1997 : 315).

SOI
Structure of Intellect’s System (SOI) adalah dasar dari asesmen akademik atau
pendidikan.Didasarkan pada theory of multiple intelligence yang dikemukakan oleh Guilford dan
dikembangkan oleh Mary Meeker untuk digunakan di sekolah. SOI adalah tes yang memiliki
jarak kemampuan (inteligen) dimana dibutuhkan untuk menilai kesuksesan dalam bidang
akademik dan dapat juga digunakan di tempat kerja. Mary Meeker menemukan bahwa inteligen
tidak menetap, tetapi dapat berkembang. Berdasarkan kekuatan dan kelemahan diagnosa, SOI
melaksanakan suatu program yang membangkitkan kemampuan potensial untuk memampukan
individu sukses dalam sekolah dan kehidupan. Program ini memiliki aplikasi yang luas dalam
kesiapan membaca, asesmen akademik dan penyelesaian masalah yang berhubungan dengan
akademik, dan konseling karir.
Structure of Intellect (SOI) adalah teori mengenai intelegensi manusia yang
dikembangkan dari penelitian Dr.J.P.Guilford yang dilakukan di University of Southern
California. Para psikolog di U.S.Air Force pada pertengahan tahun 1990-an, Guilford
menciptakan alat asesmennya untuk membantu Air Force menemukan pilot yang ahli di
bidangnya. Meskipun tipe lain dari tes disaring seperti untuk IQ dan bakat, 30% dari para trainer
tidak membuatnya melalui pelatihan kejuruan mereka. Peletakan teorinya untuk praktek,
pengurangan tingkat turun secara dramatis. Asesmen Guilford diadaptasi dari theory of multiple
intelligence nya, dimana diusulkan 150 perbedaan kemampuan, diperhitungkan dari three
dimensional model nya.
Dr. Mary Meeker, adalah murid dari Guilford dan seorang psikolog, melihat potensi dari
penelitian Guilford untuk digunakan dalam bidang pendidikan, dan dimodifikasi modelnya untuk
menjadi asesmen dan alat remediasi untuk siswa dalam sistem pendidikan. Versi yang
diadaptasinya (SOI) juga menunjukkan potensi dalam konseling karir dan perkembangan
kemampuan kognitif yang dibutuhkan di tempat kerja.
Kesuksesan model ini dibuktikan oleh model ini sendiri. SOI digunakan di sekolah dan
pembelajaran klinik di Amerika Utara untuk mendiagnosa dan memperbaiki kembali
ketidakmampuan belajar bagi siswa untuk memperkaya bakat anak. Program ini juga
dimplementasikan dalam program pelatihan pegawai dan dalam bisnis dan industri.
Struktur dari filosofi intelektual adalah bahwa inteligen tidak tetap. Kemampuan
intelektual dapat dipelajari.
Dengan adanya penelitian mengenai otak, peneliti membawa kesadaran baru ini ke dalam area
neuroscience dan pendidikan. Tes IQ secara tradisional mengarah kepada pengukuran jarak
kemampuan. Struktur dari tes intelektual mengukur jarak yang luas dari kemampuan yang
dibutuhkan untuk kesuksesan akademik.
Walaupun kemampuan untuk menunjukkan area masalah adalah sesuatu yang berharga
tinggi, hasil tidak menjadi efektif tanpa kesesuaian sistem dalam menempatkan penyelesaian area
ini. Structure of intellect’s diagnostic tests menyebabkan secara langsung untuk penyelesaian
dengan mengembangkan potensi kemampuan belajar.

Models of Creativity
J.P.Guilford (1959) mengemukakan structure of intellect (SOI), terdiri dari kumpulan
kemampuan yang diorganisasikan digunakan untuk memproses informasi. Model SOI meliputi
tiga dimensi, dimana menetapkan tipe yang berbeda dari kemampuan intelektual: operasi, isi,
dan hasil. Guilford percaya ada enam kelompok utama mengenai kemampuan kreatif, kebutuhan
bagi usaha kreatif seseorang:
1. sensitivity to problem----kemampuan untuk sadar akan kebutuhan untuk merubah atau melihat
kerusakan dan kekurangan yang butuh untuk diperliatkan.
2. fluency----kemampuan untuk menghasilkan ide dalam jumlah yang besar
3. flexibility----kemampuan untuk merubah set atau kumpulan
4.originality----kemampuan untuk mengembangkan hal yang tidak biasa, penerimaan solusi
untuk ide
5. redefinition----kemampuan untuk memindahkan objek yang eksis atau ide kedalam pikiran
dengan design yang berbeda, fungsi, atau kegunaan
6.penetration----kemampuan untuk melihat lebih daripada apa itu atau itu adalah…..

HOWARD GARDNER
Howard Gardner lahir 11 Juli 1943 di Scranton, Pennsylvania adalah psikolog
Amerika dari Harvard University. Dia terkenal dengan teorinya Multiple Intelligences.
Sepanjang hidup Howard Gardner, ia adalah seorang pelajar yang memiliki rasa ingin
tahu yang tinggi. Gardner tidak pernah diizinkan mengikuti olah raga di sekolah karena sebelum
kelahirannnya, saudara Gardner meninggal akibat sebuah kecelakaan tragis dalam olah raga. di
umur yang ke-13, dia telah menjadi pianis yang luar biasa dan meraih peringkat di Eagle Scout.
Howard masuk ke Harvard pada September 1961. Dengan pengaruh Erik Erikson ia
menjadi tertarik pada hubungan sosial (gabungan psikologi, sosiologi, dan antropologi) dan
fokus di psikologi klinis. minatnya kembali berubah ketika bertemu dengan Jerome Bruner yang
merupakan psikolog kognitif.
Setelah lulus dari Harvard, Howard bertemu dengan Nelson Goodman. Bersama-sama
mereka mendirikan Project Zero pada tahun 1967. Project Zero adalah sebuah proyek yang
ditujukan untuk program studi yang sistematis pada artistic thought dan creativity dengan misi
untuk memahami dan meningkatkan belajar, berpikir, dan kreativitas dalam seni, serta
humanistik dan disiplin ilmu, pada tingkat individu dan kelembagaan. Howard juga bekerja
dengan David Perkins dari 1972 sampai 1 Juli 2001 ketika Dr Steve Seidel mengambil alih
sebagai direktur proyek. Tahun 1981, dia mendapatkan Mac Arthur Prize Fellowship.
Teori intelegensi Gardner merupakan teori intelegensi ganda (multiple intelegence). Hal
ini didorong oleh pandangannya yang mengatakan bahwa konsep intelegensi tidak cukup
digambarkan dari sisi psikometri dan kognitif saja. Howard Garner (1983, 1993, 2002) percaya
bahwa ada banyak intelegensi spesifik atau kerangka pikiran. Dalam usahanya melakukan
identifikasi terhadap tipe-tipe intelegensi, Gardner menggunakan beberapa macam kriteria, yaitu:
• pengetahuan mengenai perkembangan individu yang normal dan yang superior
• informasi mengenai kerusakan otak
• studi mengenai orang-orang eksepsional seperti individu yang luar biasa pintar, juga
individu idiot savant, dan orang-orang yang autistik
• data psikometris; dan
• studi pelatihan psikologis
Menurut Gardner, ada delapan tipe inteligensi khusus, atau kerangka berpikir, yang
dideskripsikan bersama dengan contoh pekerjaan yang merefleksikan kekuatan masing-masing
kerangka (Campbell, Campbell & Dickinson, 1999), yaitu:
1. Inteligensi linguistik ( Linguistic intelligence)
• Kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata – kata secara efektif baik
secara oral maupun secara tertulis
• contohnya pencipta puisi, editor , jurnalis, dramawan, sastrawan, orator Tokoh
terkenal seperti : Sukarno, Paus Yohanes Paulus II, Winston Churhill.
2. Inteligensi matematis-logis ( Logical – mathematical intelligence )
• Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika . Jalan pikiran
bernalar dengan mudah mengembangkan pola sebab akibat
• contohnya matematikus, programer, logikus.
Tokoh terkenal seperti : Einstein ( ahli fisika ), Habibie ( ahli pesawat )
3. Inteligensi ruang (Spatial intelligence)
• Kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat dan kemampuan
untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat serta mempunyai daya imaginasi
secara tepat.
• contohnya pemburu, arsitek, dekorator.
Tokoh terkenal seperti Sidharta (pemahat), Pablo Pacasso (pelukis)
4. Inteligensi kinestetic-badani (bodily- kinesthetic intelligence)
• Kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan
gagasan dan perasaan .
• contohnya aktor, atlet, penari ahli bedah.
Tokoh terkenal seperti : Charlie Chaplin (pemain pantonim yang ulung), Steven
Seagal (actor)
5. Inteligensi musikal ( Musical intelligence)
• Kemampuan untuk mengembangkan , mengekspresikan dan menikmati bentuk–
bentuk musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi, dan intonasi serta
kemampuan memainkan alat musik.
• Contohnya komponis.
Tokoh terkenal seperti Beethoven, Mozart.
6. Inteligensi interpersonal (Interpersonal intelligence)
• Kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi,
motivasi, watak, temperamen orang lain.
• Kemampuan yang menonjol dalam berelasi dan berkomunikasi dengan berbagai
orang.
• contohnya komunikator, fasilitator.
Tokoh terkenal Mahatma Gandhi (tokoh perdamaian India ), Ibu Teresa ( Pejuang
kaum miskin )
7. Inteligensi intrapersonal (Intrapersonal intelligence)
• Kemampuan berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan
untuk bertindak secara adaptif berdasar pengalaman diri serta mampu berefleksi
dan keseimbangan diri, kesadaran tinggi akan gagasan–gagasan. Mereka mudah
berkonsentrasi dengan baik, suka bekerja sendiri dan cenderung pendiam
• contohnya para pendoa batin.
8. Inteligensi lingkungan / naturalis (Naturalist inetlligence)
• Kemampuan untuk mengerti flora dan fauna dengan baik, menikmati alam,
mengenal tanaman dan binatang dengan baik.
• Tokoh terkenal Charles Darwin
Selain kedelapan inteligensi tersebut, perkembangan terakhir diketahui bahwa terdapat
satu inteligensi lagi yaitu:
Inteligensi eksistensial (Exixtential intlligence)
• Kemampuan menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang untuk menjawab
persoalan–persoalan terdalam keberadaan atau eksistensi manusia.
• contohnya persoalan mengapa ada, apa makna hidup ini.
Tokoh terkenal seperti Plato, Sokrates, Thomas Aquina.
Teori Gardner ini lebih banyak diaplikasikan pada bidang pendidikan. Gardner percaya
bahwa masing-masing bentuk inteligensi di atas dapat dihancurkan oleh pola kerusakan otak
tertentu, yang masing-masing melibatkan keahlian kgnitif yang unik, dan masing-masing tampak
dalam cara unik baik di dalam diri orang berbakat maupun orang yang tidak berbakat.
Meskipun Gardner menganjurkan penerapan model teorinya untuk pendidikan, dia juga
menjadi saksi atas penyalahgunaan pendekatannya. Berikut ini beberapa peringatannya dalam
mengaplikasikan pendekatannya (Gardner, 1998):
1. Tidak ada alasan untuk berasumsi bahwa setiap subjek dapat diajari secara efektif dengan
delapan cara yang berbeda untuk delapan tipe inteligensi. Usaha melakukan usaha ini
akan sia-sia
2. Jangan berasumsi bahwa sudah cukup mengaplikasikan tipe inteligensi tertentu.
Misalnya, dalam keahlian tubuh kinestetik, gerakan otot secara acak tidak ada kaitannya
dengan memperbesar keahlian kognitif
3. Tidak ada alasan untuk percaya bahwa adalah berguna untuk menggunakan satu tipe
inteligensi sebagai aktivitas pendukung saat anak-anak mengerjakan aktivitas yang
berhubungan dengan inteligensi yang berbeda. Misalnya, Gardner percaya bahwa
memberi latarbelakang musik saat murid memecahkan soal matematika adalah bentuk
penyalahgunaan teorinya.

5. Jenis-Jenis Tes Intelegensi


Berdasarkan penataannya ada beberapa jenis tes intelegensi, yaitu :
a) Tes Intelegensi individual, beberapa di antaranya:
 Stanford – Binet Intelegence Scale.
 Wechster – Bellevue Intelegence Scale (WBIS)
 Wechster – Intelegence Scale For Children (WISC)
 Wechster – Ault Intelegence Scale (WAIS)
 Wechster Preschool and Prymary Scale of Intelegence (WPPSI)
b) Tes Intelegensi kelompok, beberapa di antaranya:
 Pintner Cunningham Prymary Test
 The California Test of Mental Makurity
 The Henmon – Nelson Test Mental Ability
 Otis – Lennon Mental Ability Test
 Progassive Matrices
c) Tes Intellegensi dengan tindakan perbuatan
Untuk tujuan program layanan bimbingan di sekolah yang akan dibahas adalah tes
intelegensi kelompok berupa:
 The California Test of Mental Maturity (CTMM)
 The Henmon – Nelson Test Mental Ability
 Otis – Lennon Mental Ability Test, and
 Progassive Matrices. (22)
Ada kalsifikasi atau standar tingkat IQ yang cukup berpengaruh yaitu klasifikasi dari
Wechsler yang menciptakan tes WISC yang diperuntukan bagi anak-anak pada tahun 1949.
Adapun kalsifikasi IQ-nya.
Name IQ
Very superior 130 +
Superior 120 – 129
Bright normal 110 – 119
Average 90 – 109
Dull normal 80 – 89
Borderline 70 – 79
Mental defective 69 and below
(Harriman, 1958)
Daftar pustaka

• Azwar, S (2004). Pengantar Psikologi Intelegensi.Pustaka Pelajar: Yogyakarta.


• Santrock, J. W (2007). Psikologi Pendidikan (edisi Bahasa Indonesia). Kencana Prenada
Media Group: Jakarta.
• Anastasi, A (2007). Tes Psikologi, psychological testing (edisi Bahasa Indonesia). PT.
Indeks: Jakarta.
• Azwar, Saifuddin. 1996. Psikologi Inteligensi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset
• Santrock, John. 2007. Psikologi Pendidikan Ed. Ke-2. Jakarta: Kencana Prenada Media
Grup
• Lahey Benjamin. 2007. Psychology an Introduction. NewYork: McGraw Hill