Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MAKALAH

TEKNIK KONVERSI DAN KONSERVASI ENERGI


“RIVEW SIKLUS RANKINE”

Oleh Kelompok 9:
I Made Dani P (2408 100 086)
Isnaini Dedi Z (2408 100 088)
Widiana Himami (2408 100 094)
M. Saad (2408 100 106)

JURUSAN TEKNIK FISIKA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2011
Siklus Rankine

A. Pendahuluan
Siklus Rankine merupakan siklus ideal untuk siklus tenaga uap. Seperti halnya pada siklus
Brayton, pada siklus Rankine juga terdapat proses kompresi isentropik, penambahan panas
isobarik, ekspansi isentropik, dan pelepasan panas isobarik. Perbedaan antar keduanya terletak
pad fluida kerja yang digunakan. Siklus Rankine fluida kerjanya adalah dua fase fluida, yaitu cair
(liquid) dan uap (vapor), sedangkan siklus Brayton merupakan siklus tenaga gas.
Pada siklus tenaga uap Rankine, fluida yang umum digunakan adalah air, sedangkan fluida
kerja lainnya adalah potassium, sodium, rubidium, ammonia dan senyawa karbon aromatik.
Merkuri juga pernah digunakan sebagai fluida kerja siklus Rankine, hanya saja harganya sangat
mahal dan berbahaya.

B. Komponen

Gambar 1. Sistem Siklus Rankine

Sistem siklus Rankine terdiri atas empat komponen, yaitu:


1. Pump
2. Boiler
3. Turbine
4. Condenser

Fluida kerja berupa air jenuh pada kondensor dikompresi pompa sampai masuk boiler atau
ketel uap. Dari proses kompresi pada pompa terjadi kenaikan temperatur kemudian didalam
boiler air dipanaskan. Sumber energi panas berasal dari proses pembakaran atau dari energi yang
lainya seperti nuklir, panas matahari, dan lainnya. Uap yang sudah dipanaskan di boiler
kemudian masuk turbin. Fulida kerja mengalami ekspansi sehingga temperatur dan tekanan
turun. Selama proses ekspansi pada turbin terjadi terjadi perubahan dari energi fluida menjadi
energi mekanik pada sudu-sudu menghasilkan putaran poros turbin. Uap yang keluar dari turbin
kemudian dikondensasi pada kondensor sehingga sebagian besar uap air menjadi mengembun.
Kemudian siklus berulang lagi.
Cairan yang meninggalkan kondensor pada 1 dipompa dari tekanan londensor ke tekanan
boiler maka kesetimbangan massa dan energi:
(1)

Dimana adalah laju daya input per unit massa melewati pompa.
Fluida kerja suatu siklus seperti air meninggalkan pompa pada 2 disebut boiler feedwater
dipanaskan sampai saturasi dan diuapkan di dalam boiler. Dari keadaan 2 sampai 3,
kesetimbangan lju massa dan energi:
(2)

Dimana adalah laju heat transfer dari sumber energi ke fluida kerja per unit massa melalui
boiler.
Pada Gambar 1, uap dari boiler pada keadaan 3 mempunyai kenaikan temperatur,
berekspansi melalui turbin menghasilkan kerja dan kemudian dikeluarkan ke kondensor pada
keadaan 4 dengan tekanan rendah. Heat transfer dengan lingkungan diabaikan , laju
kesetimbangan massa dan energi untuk control volume sekitar turbin pada steady staete
memberikan:

(3)

Atau: (4)

Dimana menunjukkan laju aliran massa fluida kerja dan adalah laju kerja yang
dibangkitkan per unit massa uap melalui turbin.
Pada kondensor disini heat transfer dari uap ke air pendingin mengalir dalam aliran separasi.
Uap kondensasi dan temperatur air pendingin meningkat. Pada steady state, kesetimbangan
massa dan energi untuk control volume:
(5)

Dimana adalah laju energi yang ditransfer oleh panas dari fluida kerja ke air pendingin per
unit massa fluida kerja melalui kondensor.

C. Siklus Rankine

Gambar 2. Diagram T-s siklus Rankine


Siklus Rankine ideal tidak melibatkan irreversibel internal dan terdiri dari 4 tahapan proses :
• 1 – 2 merupakan proses kompresi isentropik dengan pompa.
• 2 – 3 Penambahan panas dalam boiler pada P = konstan.
• 3 – 4 Ekspansi isentropik ke dalam turbin.
• 4 – 1 Pelepasan panas di dalam kondenser pada P = konstan.

Air masuk pompa pada kondisi 1 sebagai cairan jenuh dan dikompresi sampai tekanan
operasi boiler. Temperatur air akan meningkat selama kompresi isentropik ini melalui sedikit
pengurangan dari volume spesifik air. Jarak vertikal antara 1 – 2 pada T – s diagram ini biasanya
dilebihkan untuk lebih amannya proses. Air memasuki boiler sebagai cairan terkompresi pada
kondisi 2 dan akan menjadi uap superheated pada kondisi 3. Dimana panas diberikan oleh boiler
ke air pada T tetap. Boiler dan seluruh bagian yang menghasilkan steam ini disebut sebagai
steam generator. Uap superheated pada kondisi 3 kemudian akan memasuki turbin untuk
diekspansi secara isentropik dan akan menghasilkan kerja untuk memutar shaft yang terhubung
dengan generator listrik sehingga dihasilkanlah listrik. P dan T dari steam akan turun selama
proses ini menuju keadaan 4 dimana steam akan masuk kondenser dan biasanya sudah berupa
uap jenuh. Steam ini akan dicairkan pada P konstan didalam kondenser dan akan meninggalkan
kondenser sebagai cairan jenuh yang akan masuk pompa untuk melengkapi siklus ini. Ingat
bahwa data dibawah kurva proses pada diagram T – s menunjukkan transfer panas untuk proses
reversibel internal. Area dibawah kurva proses 2 – 3 menunjukkan panas yang ditransfer ke
boiler, dan area dibawah kurva proses 4 – 1 menunjukkan panas yang dilepaskan di kondenser.
Perbedaan dari kedua aliran ini adalah kerja netto yang dihasilkan selama siklus.

D. Siklus Rankine Ideal Dan Aktual


Jika fluida kerja melewati bermacam-macam komponen dari siklus daya uap sederhana tanpa
irreversibilitas, gesekan pressure drop dari boiler dan kondenor dan fluida kerja akan mengalir
melalui komponen pada tekanan konstan, juga tidak ada reversibilitas dan heat transfer dengan
lingkungan, proses melalui turbin dan pompa akan isentropis, sehingga suatu siklus menjadi
ideal (siklus Rankine ideal).

Gambar 3. Diagram temperatur – entropi siklus Rankine ideal


Pada kenyataannya terdapat penyimpangan dalam siklus Rankine yang terjadi karena:

1. Adanya friksi fluida yang menyebabkan turunnya tekanan di boiler dan condenser sehingga
tekanan steam saat keluar boiler sangat rendah sehingga kerja yang dihasilkan turbin (Wout)
menurun dan efisiensinya menurun. Hal ini dapat diatasi dengan meningkatkan tekanan fluida
yang masuk.
2. Adanya kalor yang hilang ke lingkungan sehingga kalor yang diperlukan (Qin) dalam proses
bertambah sehingga efisiensi termalnya berkurang.

Penyimpangan siklus aktual dari siklus ideal dikarenakan karena beberapa faktor seperti
gesekan fluida, kerugian panas, dan kebocoran uap. Gesekan fluida mengakibatkan tekanan jatuh
pada banyak perlatan seperti boiler, kondensor dan di pipa-pipa yang menghubungkan banyak
peralatan. Tekanan jatuh yang besar pada boiler mengkibatkan pompa membutuhkan tenaga
yang lebih untuk mempompa air ke boiler. Tekanan jatuh juga mengakibatkan tekanan uap dari
boiler ke turbin menjadi lebih rendah sehingga kerja turbin tidak maksimal. Kerugian energi
panas banyak terjadi pada peralatan. Pada turbin karena proses ekspansi uap air pada sudu-sudu
dan rumah turbin banyak kehilangan panas. Kebocoran uap juga mengibatkan kerugian yang
tidak bisa diremehkan, biasanya terjadi didalam turbin. Karena sebab-sebab tersebut
mengakibatkan efisiensi menjadi turun.

Gambar 4. Diagram T-s siklus Rankine ideal dan aktual

Penyimpangan ini terjadi karena adanya irreversibilitas yang terjadi pada pompa dan turbin
sehingga pompa membutuhkan kerja (Win) yang lebih besar dan turbin menghasilkan kerja
(Wout) yang lebih rendah seperti pada grafik dibawah ini:

Gambar 5. Diagram T-s siklus rankine aktual


Efisiensi pompa dan turbin yang mengalami irreversibilitas dapat dihitung dengan:

Dimana:
2a & 4a  menyatakan keadaan yang sebenarnya pada turbin dan pompa
2a & 4s  menyatakan keadaan isentropik.

E. Analisa Energi dan Efisiensi Pada Siklus Rankine


Analisis energi ini dilihat dari tiap komponen (alat-alat) yang terdapat pada siklus Rankine
dengan menggunakan asumsi bahwa komponen-komponen tersebut bekerja pada aliran steady.
Persamaan energi untuk sistem yang alirannya steady yaitu:

ΔE = m(h+Ep+Ek)i – m(h+Ek+Ep)e + Q – W
0 = hi – he + Q – W
Q - W = he – hi

Persamaan energi untuk masing-masing komponen dapat ditulis:


• Pompa (Q = 0)  Wpompa,in = h2 – h1
• Boiler (W = 0)  Qin = h3 – h2
• Turbin (Q = 0)  Wturb,out = h3 – h4
• Condenser (W = 0)  Qout = h4 – h1

Berdasarkan hal diatas diperoleh Wnet yaitu :


Wnet = Qin – Qout = Wturb,out – Wpompa,in

Efisiensi termal siklus Rankine dapat ditulis :


η=

F. Parameter desain
Untuk membuat sistem siklus Rankine dengan efisiensi termal yang baik serta untuk
menghindari penyimpangan siklus lain, dalam mendesain sistem siklus Renkine harus
memperhatikan parameter-parameter berikut:
1. Tekanan minimum kondensor
2. Temperatur maksimum steam
3. Tekanan maksimum boiler

1. Tekanan Minimum Kondensor


Dengan menurunkan tekanan minimum akan meningkatkan efisiensi termal dan kerja spesifik
dari siklus, tetapi akan meningkatkan kelembaban pada keluaran turbin, menimbulkan kebocoran
udara, menurunkan efisiensi turbin dan mengerosi turbin. Batasan tekanan yang dibuat yaitu P <
Psat.

2. Temperatur Maksimum Steam


Dengan menaikkan temperatur superheated steam akan meningkatkan kerja spesifik, dan
menurunkan kelembaban dalam steam pada keluaran turbin. Batasan dari temperatur steam
adalah T > 6200⁰C.

3. Tekanan Maksimum Boiler


Dengan meningkatkan tekanan maksimum akan meningkatkan kerja spesifik jika temperatur
maksimum boiler juga dipelihara, tapi akan meningkatkan kelembaban dalam keluaran turbin.
Solusi dari masalah tersebut adalah dengan pemanasan kembali.
Daftar Pustaka

Culp, Archie W. 1987. Principles of Energy Conversion. McGraw-Hill, Inc: Singapore


http://mesin.ub.ac.id/diktat_ajar/data/03_a_termo2.pdf
http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/0690b1520a531271082a51f1fe0f1757984802cb.pdf
http://www.scribd.com/doc/50624255/buku-ajar-mesin-konversi-energi