Anda di halaman 1dari 11

Sudana Atmawidjaja, dkk.

Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Residu Pestisida


Metidation pada Tomat
Sudana Atmawidjaja*, Daryono Hadi Tj*, Rud
Sudana Atmawidjaja*, Daryono Hadi Tjahjono, Rudiyanto

Unit Bidang Ilmu Farmasi Analisis, Departemen Farmasi FMIPA, Institut Teknologi
Bandung Jl. Ganesa 10 Bandung 40132
(Diterima 26 Februari 2004; disetujui 18 Juni 2004)

Abstrak
Telah ditentukan kadar residu metidation dalam tomat yang diperlakukan dengan berbagai
cara seperti perebusan, pencucian menggunakan air suling dan detergen. Penentuan residu
dilakukan dengan cara kromatografi gas dilengkapi detektor fotometri nyala, kolom OV-17
pada suhu 220 oC, laju alir gas pembawa nitrogen 35 mL/menit, suhu injektor dan detektor
230 oC. Pada kondisi tersebut diperoleh waktu retensi metidation rata-rata 8,45 menit. Buah
tomat yang telah diperlakukan tersebut, diekstraksi dengan etilasetat. Nilai perolehan kem-
bali residu metidation rata-rata adalah 93,5% dengan koefisien variasi 3,3%. Sampel tomat
yang telah mengalami perlakuan menunjukkan kadar residu pestisida yang lebih rendah.
Sampel tomat yang diambil secara acak di pasar Lembang Kabupaten Bandung mengan-
dung residu metidation yang tidak melewati “ batas maksimum residu” pestisida.
Kata kunci : residu pestisida, metidation, tomat, kromatografi gas.

Abstract
Metidation pesticide residue in treated tomatoes had been determined by gas chroma-
tography using OV-17 column at 220oC, flame photometric detector, nitrogen carrier gas
with a flow rate of 35 mL/minute, injector and detector temperature of 230oC. This
conditions yielded metidation retention time of 8.45 minutes. The tomatoes were treated by
boiling in water, washing with distilled water, or with detergent. The treated tomatoes were
extracted with ethyl acetate. The average recovery of metidation pesticide residue was
93.5% with a coefficient of variation of 3.3%. Tomato samples randomly obtained from a
market in Lembang Bandung contained metidation residues not exceeding the maximum
residues limit for pesticides.
Key words : pesticide residue, metidation, tomato, gas chromatography

Pendahuluan
Untuk memenuhi kebutuhan makanan penduduk yang meningkat dari waktu ke
waktu terutama di negara berkembang, upaya produksi pangan sering menghadapi
kendala serangan hama yang menyebabkan gagal panen atau minimal hasil panen
berkurang. Salah satu cara yang terbukti meningkatkan produksi hasil tanaman
pangan adalah penggunaan pestisida, namum di sisi lain karena pestisida adalah
bahan kimia beracun, pemakaian pestisida berlebihan dapat menjadi sumber

72 - Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004


Sudana Atmawidjaja, dkk.

pencemar bagi bahan pangan, air dan lingkungan hidup. Residu sejumlah bahan
kimia yang ditinggalkan melalui berbagai siklus, langsung atau tidak langsung,
dapat sampai ke manusia, terhirup melalui pernafasan, dan masuk ke saluran pen-
cernaan bersama makanan dan air minum [1-3].

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data mengenai penurunan kadar residu
pestisida metidation dalam sampel tomat setelah mengalami penanganan tertentu
yang diukur secara kromatografi gas. Metode ini terpilih karena memberikan
beberapa keuntungan di antaranya; memungkinkan analisis sekaligus berbagai
pestisida yang mungkin terdapat dalam suatu sampel yang diuji. Metode ini dengan
detektor yang spesifik dapat diterapkan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif
pestisida yang kadarnya rendah (tingkat ng atau pg), sehingga memungkinkan
analisis residu pada tingkat kandungan bpj (bagian per juta) atau bpm (bagian per
milyar) [1,4,10]. Teknik pengerjaannya relatif mudah dibandingkan dengan teknik
analisis yang lain [5]. Kandungan residu pestisida yang terdapat dalam sampel
dapat dicocokkan dengan data ADI (acceptable daily intake) untuk mengetahui
aman tidaknya pengkonsumsian suatu sampel [2,3].

Percobaan
Bahan
Sampel tomat yang telah disemprot larutan pestisida 2 dan 6 hari sebelum dipanen,
tomat tanpa disemprot, tomat disemprot pestisida kemudian dicuci dengan air
suling dan detergen larutan pencuci sayuran, tomat disemprot pestisida kemudian
direbus, dan jus tomat dari Lembang dan dari suatu kantin, tomat tidak diketahui
riwayatnya dari Lembang, dan saus tomat, etil asetat, natrium sulfat anhidrat, baku
pestisida metidation (99,30 %) (diperoleh dari Komisi Pestisida), air.

Alat
Alat pencincang, penyaring vakum, alat penguap putar, alat ekstraksi khusus,
corong pisah, alat kromatografi gas (G-5000 A Hitachi) dilengkapi dengan detek-
tor fotometri nyala dan alat perekam kromatogram, generator hidrogen Whatman
25-32, pompa udara, kolom OV-17 panjang 1,2 m dan diameter 3 mm, alat gelas
umum yang biasa dipakai di laboratorium analisis, timbangan analitik listrik,
pemanas dan blender.

Prosedur :
1. Perlakuan tomat praekstraksi
Sampel dibagi dalam beberapa kelompok berdasarkan cara perlakuan yang
berbeda, yaitu tomat yang telah disemprot larutan pestisida 2 dan 6 hari sebelum-
nya, tomat yang disemprot pestisida dicuci dengan air suling, sampel tomat yang
disemprot pestisida direbus hingga mendidih selama 30 menit, sampel jus tomat
Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004 - 73
Sudana Atmawidjaja, dkk.

dari pasar Lembang, sampel jus tomat dari suatu kantin, sampel tomat yang
disemprot pestisida dicuci dengan larutan detergen pencuci sayuran dan sampel
tomat yang tidak disemprot pestisida.

2. Ekstraksi
Sejumlah 300 g tomat dari hasil perlakuan pra ekstraksi dicincang lalu ditimbang
sebanyak 25 g, ditambah 25 g natrium sulfat anhidrat dan 50 mL etilasetat,
kemudian diekstraksi selama 10 menit dengan alat ekstraksi khusus. Ekstrak disa-
ring dengan penyaring vakum, ampas diekstraksi kembali dengan 25 mL etilasetat
selama 10 menit, kemudian disaring kembali dengan penyaring vakum, filtrat
kedua dicampur dengan filtrat pertama. Hasil kedua campuran kemudian dipekat-
kan dengan rotavapor pada suhu 35oC hingga menghasilkan ekstrak pekat sebanyak
1-3 mL [5, 8].

3. Penentuan kondisi optimum sistem kromatografi gas


Sistem KG dengan detektor fotometri nyala menggunakan filter fosfor kolom OV-
17 suhu 220oC, fase gerak gas nitrogen dengan kecepa-tan aliran 35 mL/ menit,
suhu detektor dan injektor 230oC, tekanan nitrogen, oksigen, hidrogen berturut-
turut 20, 250, 75 kPa dan FPD amplifier1000 [7,8,9].

4. Penentuan kecermatan dan keseksamaan


Kecermatan diukur dengan cara spike recovery sampel. Untuk penentuan kecer-
matan dibuat larutan baku metidation dengan konsentrasi 1 ; 2,5; 5 bpj dalam
etilasetat. Kemudian 25 g sampel tomat yang telah dicincang halus di spike dengan
larutan baku metidation tersebut, lalu diekstraksi sesuai dengan prosedur ekstraksi,
lalu disuntikkan pada kromatografi gas dan perolehan kembali dari sampel terha-
dap kadar larutan baku yang ditambahkan dapat dihitung menurut persamaan
berikut ini :

% PK = (Xr/Xa) × 100 %

dengan Xr adalah kadar yang diperoleh dari hasil pengukuran ekstrak sampel dan
Xa adalah kadar sebenarnya larutan baku yang ditambahkan.

Keseksamaan metode ditentukan dengan memperhitungkan harga koefisien variasi


uji perolehan kembali. Keseksamaan sistem dilakukan dengan cara pengukuran
larutan baku pembanding dengan kadar 1 bpj sebanyak 6 kali pengukuran, kemu-
dian dihitung simpangan baku dari simpangan baku relative menurut persamaan
berikut ini :
SBR = (SB/X) × 100%
Dengan SBR adalah harga simpangan baku relatif, X adalah nilai rata-rata dari
hasil analisis dan SB adalah harga simpangan baku [4,8].

74 - Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004


Sudana Atmawidjaja, dkk.

5. Pembuatan kurva kalibrasi


Pembuatan kurva kalibrasi dari larutan baku pembanding metidation dengan kadar
0,1 ; 0,5 ; 1 ; 5 ; 10 bpj di dalam pelarut etilasetat, jumlah penyuntikan adalah 2 µL
kemudian dibuat kurva kalibrasi (persamaan garis antara area kromatogram
terhadap kadar) [8].

6. Penentuan linearitas, batas deteksi, kuantisasi dan determinasi


Linearitas dari metode diperoleh dengan menghitung koefisien korelasi (r) dari
persamaan garis yang diperoleh dari pembuatan kurva kalibrasi dan harga r yang
menunjukan linearitas metode yang masih dapat digunakan adalah r > 0,99.
Batas deteksi (BD) dan batas kuantisasi (BK) dapat dihitung menurut Milles dan
Miller

Batas determinasi metode pada analisis residu pestisida adalah batas nilai terkecil
dari residu pestisida dalam sampel yang dapat diukur dengan metode analisis
residu pestisida [4, 8].

7. Penetapan kadar residu pestisida metidation


Sebanyak 1-2 µL ekstrak disuntikkan pada KG, yang sebelumnya telah diatur pada
kondisi optimum pengukuran kadar residu pestisida. Detektor yang digunakan foto-
metri nyala dengan filter fosfor, diatur pada penguatan 1000 x. Sebelum ekstrak
sampel disuntikkan pada injektor KG, tekanan gas hidrogen pada generator harus
stabil pada 1,5 bar, kolom harus dipanaskan pada suhu 220 oC. Selanjutnya penen-
tuan kuantitatif dilakukan dengan membandingkan area kromatogram antara laru-
tan baku dan sampel dengan persamaan :

R = (Au/Ab) × [(Cb • Vb)Vu] × (Ve/Wu)

Dengan R kadar residu pastisida (mg/kg), Au area kromatogram sampel, Ab area


kromatogram standar/baku, Cb konsentrasi standar (bpj),Vb volume larutan standar
yang disuntikan (µL),Vu volume larutan sampel yang disuntikkan (µL), Ve volume
ekstrak sampel (mL) dan Wu berat sampel (g) [1, 5].

8. Penetapan kadar residu pestisida metidation dalam tomat


Dilakukan uji terhadap 10 macam ekstrak sampel tanaman tomat. Sampel yang
digunakan dibagi menjadi beberapa perlakuan yang berbeda yaitu ; sampel tomat
yang telah disemprot 2 dan 6 hari sebelumnya, sampel tomat yang disemprot pesti-
sida dengan pencucian air suling, sampel tomat yang disemprot pestisida dengan
direbus hingga mendidih selama 30 menit, sampel jus tomat dari pasar Lembang,
sampel jus tomat dari Kokesma, sampel tomat yang disemprot pestisida dicuci
dengan detergen larutan pencuci sayuran dan sampel tomat tanpa disemprot pesti-

Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004 - 75


Sudana Atmawidjaja, dkk.

sida. Ekstrak sampel tomat yang dibuat, langsung disuntikkan ke dalam KG seba-
nyak 2 µL secara kuantitatif.

Hasil dan pembahasan


Pada analisis residu pestisida dengan metode kromatografi gas langkah yang
pertama dilakukan adalah mencari kondisi optimum dan kesesuian sistem kromato-
grafi gas yang akan digunakan agar sistem dapat memisahkan residu pestisida
metidation dalam tomat dengan baik. Sistem kromatografi gas seperti pada tabel 1
dapat memisahkan pestisida dengan baik..

Tabel 1 : Kondisi optimal sistem kromatografi gas dalam pemisahan

Parameter Kondisi optimal


Kolom OV-17
Fase gerak Gas nitrogen
Laju alir gas pembawa 35 ml/menit
Suhu kolom 220 oC
Suhu detektor 230 oC
Suhu injektor Tekanan 230 oC
Nitrogen 20 kPa
Tekanan Hidrogen 75 kPa
Tekanan Oksigen 250 kPa
FPD Amplifier 1000

Kromatograf gas yang dilengkapi dengan kolom kemas OV-17 yang mengandung
fase diam poli(fenilmetil)siloksan(50% fenil) yang bersifat semipolar dapat memi-
sahkan dengan baik pestisida organofosfat yang diuji. Ekstraksi pestisida dari sam-
pel dilakukan dengan etil asetat dengan penambahan natrium sulfat anhidrat. Suhu
kolom yang digunakan 220oC dan suhu injektor dan detektor 230oC. Suhu detektor
lebih tinggi dibandingkan dengan suhu kolom sehingga komponen yang dianalisis
dapat terdorong keluar dari kolom menuju detektor, badan detektor diprogram
suhunya 160oC, untuk mengeliminasi terjadinya embun yang dapat menggangu
kestabilan nyala api dari detektor. Detektor fotometri nyala yang dilengkapi dengan
filter P hanya mendeteksi senyawa yang mengandung fosfor, menjadikan detektor
ini sangat tepat digunakan dalam analisis pestisida golongan organofosfat, tanpa
terganggu oleh adanya pengotor di dalam matriks sampel. Sebelum detektor dinya-
lakan, laju aliran gas pembawa N2 diukur dengan flowmeter dengan mengatur knob
column head pressure karena laju aliran gas pembawa nitrogen sangat berpengaruh
terhadap waktu retensi. Laju aliran gas pembawa nitrogen dalam sistem KG yang
digunakan sekitar 35 mL/menit. Setelah itu, tekanan gas N2, O2 ,H2 diatur
sehingga komposisi ke 3 gas tersebut menghasilkan nyala detektor FPD yang sem-

76 - Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004


Sudana Atmawidjaja, dkk.

purna. Tekanan kurang atau lebih gas tersebut berpengaruh terhadap nyala api
detektor yaitu nyala api yang terlalu besar atau terlalu kecil.

140000

120000

Area kromatogram (mV)


100000

80000

60000 y = 11858x + 1040,6


r = 0,999
40000

20000

0
0 2 4 6 8 10 12
Konsentrasi (bpj )

Gambar 1 : Kurva kalibrasi metidation dengan volume penyuntikan 2 µL

Berdasarkan kurva kalibrasi dari larutan pembanding metidation diperoleh persa-


maan y = 11858 x + 1040,6 dari persamaan garis dapat diperoleh koefisien korelasi
(r) 0,999 yang menunjukkan kelinieran dari respons detektor sangat baik.

Batas deteksi dan kuantisasi dari hasil penelitian ini diperoleh 0,106 µg/mL dan
0,354 µg/mL. Nilai ini tidak terlampau jauh dari batas maksimum residu metida-
tion pada tomat yaitu 0,1 mg/kg. sedangkan batas determinasi yang diperoleh dari
penelitian ini jauh di bawah batas maksimum residu (BMR) untuk sampel tomat,
hal ini menunjukkan bahwa metode ini dapat digunakan untuk menganilisis apakah
kadar residu pestisida yang ada dalam sampel tomat melewati batas maksimum
residu metidation. Adapun pertimbangan senyawa metidation yang dianalisis pada
penelitian ini adalah karena pestisida ini termasuk jenis pestisida yang sering
digunakan oleh petani dikombinasikan dengan pestisida yang lain, dimana metida-
tion mempunyai BMR yang relatif kecil sehingga kemungkinan terjadinya toksisi-
tas relatif tinggi Kecermatan metode ini dapat dilihat dari harga persen perolehan
kembali residu metidation dalam matriks sampel tomat. Prasyarat metode ini me-
miliki kecermatan yang baik apabila persen perolehan kembali berada pada rentang
80%-110%.

Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004 - 77


Sudana Atmawidjaja, dkk.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa persen perolehan kembali residu metidation


dalam matriks tomat sebesar 93,49%. Penentuan keseksamaan terbagi dalam
keseksamaan metode dan sistem. Keseksamaan sistem ditunjukkan untuk mengeta-
hui kinerja alat pada kondisi pengukuran yang ditetapkan dari koefisien variasi
hasil pengukuran larutan baku standar konsentrasi 1 bpj. Menurut Horwitz (4),
koefisien variasi yang memunuhi syarat adalah apabila kurang dari 16%. Diperoleh
hasil KV untuk area kromatogram 8,57% dan untuk waktu retensi yang dihasilkan
1,49%. Dengan demikian sistem yang digunakan seksama. Penentuan keseksamaan
metode ditetapkan dari hasil koefisien variasi perolehan kembali. Kriteria keseksa-
maan metode yang memenuhi syarat adalah apabila nilai koefisien variasinya
kurang dari 5%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa nilai koefisien variasi yang
diperoleh adalah 3,82% Dari hasil data tersebut menunjukkan bahwa metode yang
dipakai memenuhi syarat keseksamaan metode.
Setelah validasi metode dilakukan, langkah berikutnya adalah menganalisis dan
menghitung pengurangan residu pestisida dari ekstrak sampel tomat 2 hari setelah
penyemprotan dengan ekstrak sampel tomat yang diberi perlakuan (seperti dicuci
detergen pencuci sayuran dan direbus). Perlakuan sampel tomat dengan proses
perebusan dan pencucian merupakan representatasi perlakuan yang sering dilaku-
kan oleh masyarakat.

Gambar 2 : Kromatogram ekstrak dari sampel tomat tanpa peptisida metidation


(volume penyuntikkan 2 µl)

78 - Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004


Sudana Atmawidjaja, dkk.

Gambar 3 : Kromatogram ekstrak sampel tomat 2 hari setelah penyemprotan


mengandung residu 0,86 mg/kg (volume penyuntikkan 2 µl)

Gambar 4 : Kromatogram ekstrak sampel tomat 6 hari setelah penyemprotan


mengandung residu 0,11 mg/kg (volume penyuntikkan 2 µl)

Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004 - 79


Sudana Atmawidjaja, dkk.

Gambar 5 : Kromatogram ekstrak dari sampel tomat yang dicuci air suling mengan-
dung residu 0,86 mg/kg (volume penyuntikan 2 µl)

Tabel 2 : Data hasil pengujian akurasi metode penentuan kadar


metidation dan tomat

Konsentrasi Persen perolehan


Konsentrasi teoritis
hasil penetapan kembali
(µg/g) (%)
(µg/g)
1 0,94 94,41
1 0,98 98,01
1 0,94 94,18
2,5 2,25 90,08
2,5 2,19 87,92
2,5 2,26 90,30
5 4,87 97,28
5 4,85 96,93
5 4,62 92,37

80 - Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004


Sudana Atmawidjaja, dkk.

Tabel 3 : Data penentuan keseksamaan sistem penyuntikan 2 µL


(metidation 1 bpj)

Waktu Retensi Area kromatogram metidation


Penyuntikan
(menit) (mV)
1 8,430 139263
2 8,443 144565
3 8,453 118175
4 8,460 138920
5 8,470 151725
6 8,473 123422

Hasil pengujian dari ekstrak sampel tomat tersebut di atas menunjukkan adanya
pengurangan residu pestisida. Pengurangan atau degradasi residu pestisida dapat
disebabkan oleh beberapa faktor antara lain (1) Penguapan, sebagian pestisida akan
berkurang karena menguap dari permukaan tanaman [2] Perlakuan mekanis dan
fisis, pestisida berkurang karena terlarut akibat pencucian. [3] Kimiawi, mengalami
penurunan/degradasi disebabkan oleh peristiwa kimia (pencucian dengan deter-
gen). Sedangkan hasil pengujian ekstrak sampel tomat yang diambil secara acak di
pasar Lembang menunjukkan bahwa ekstrak dari sampel tomat mengandung
metidation. Hasil pengujian produk-produk dari buah tomat sepeti jus dan saus
menunjukkan ekstrak dari sampel produk tomat tersebut tidak terdeteksi mengan-
dung metidation.

Tabel 4 : Data hasil uji sampel tomat


Kadar residu metidation
Perlakuan sampel
(mg/kg)
Tomat tanpa penyemprotan pestisida metidation td
Tomat 2 hari setelah penyemprotan ( Tomat A ) 0,86
Tomat 6 hari setelah penyemprotan 0,11
Tomat A yang dicuci dengan air suling 0,08
Tomat A yang dicuci dengan detergen 0,07
Tomat A yang diiris kemudian direbus td
Tomat A tanpa diiris (utuh) kemudian direbus 0,15
Sampel tomat dari pasar Lembang 0,09
Sampel jus tomat dari Lembang td
Sampel jus tomat dari Kokesma td
Sampel saus tomat td
Keterangan : td = tidak terdeteksi

Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004 - 81


Sudana Atmawidjaja, dkk.

Kesimpulan
Terdapat pengurangan kadar residu metidation pada buah tomat setelah perlakuan.
Kandungan residu pestisida awal (tomat 2 hari setelah penyemprotan) 0,86 mg/kg
setelah dicuci dengan detergen pencuci sayuran menjadi 0,07 mg/kg (penurunan
92 %), dengan air suling menjadi 0,08 mg/kg (penurunan 91 %), sedang dengan
direbus menjadi 0,15 mg/kg (penurunan 83 %) Hasil pengujian juga menunjukkan
bahwa residu metidation berkurang sesuai dengan fungsi waktu. Sedangkan kadar
residu pestisida yang diperoleh dari sampel tomat dari pasar Lembang adalah 0,09
mg/kg .

Daftar pustaka
1. Atmawidjaja, S., Satiadarma K., Kisman S., Firman K. dan Ibrahim S., 1983,
Pemeriksaan Residu Pestisida dalam Bahan Makanan dan Komponen
Lingkungan, Laporan Penelitian No. 6064282, Ditjen Dikti, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1-11, 21-22, 25-31.
2. Harthley, G.S. and West, T.F.,1969, Chemical for Pest Control, 1 st ed.,
Pergamon Press, Oxford, 26-33.
3 Komisi Pestisida, 2000, Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan, Depar-
temen Pertanian RI, Jakarta, 202-218.
4. Mc Nair, H.M., Bonelli E.J., 1988, Dasar Kromatrografi Gas, terjemahan
Padmawinata K., Penerbit ITB, Bandung, 1-44.
5. Skoog, D.A., Holler F.J. and Nieman T.A., 1998, Principles of Instru-
mental Analysis, 4th ed., Harcourt Barce College, Orlando, 701-722
6. Ditjen Tanaman Pangan dan Hortikultura Departemen Pertanian RI, 1997,
Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian Tentang
Batas Maksimum Residu Pestisida pada Hasil Pertanian, Departemen
Pertanian RI, Jakarta, 60-90
7. Horwitz, W., Evaluation of Analytical Methods Used for Regulation of Foods
and Drugs, Anal. Chem., 54 (1), 1082, 67A – 76a.
8. Komisi Pestisida, 1997, Metode Pengujian Residu Pestisida dalam Hasil
Pertanian, Departemen Pertanian RI, Jakarta, 5-7, 93-100, 211-214.
9. Rahim, A., 2002, Analisis Residu Pestisida Golongan Organofosfat pada
Sayuran Menggunakan Teknik Kromatografi Gas dengan Detektor
Fotometri Nyala, Departemen Farmasi, FMIPA Institut Teknologi Bandung,
Bandung, 10-14, 17-21.
10. Robert, L.G., 1977, Modern Practice of Gas Chromatography, John Willey
and Son Inc., New York, 266-269.

82 - Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 2, 2004