Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM SERAT

UJI PEMBAKARAN DAN UJI BERAT JENIS

Disusun oleh :
Nama : Rijal Fauzi
N.P.M : 10.T40010
Group : TPB 5
Dosen : Elina H., S.Teks., M. Si.
Asisten : Sri Lestari
Karlina S., S. ST.

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2011
UJI PEMBAKARAN DAN BERAT JENIS

I. Maksud dan Tujuan


1. mengetahui dan menentukan jenis serat tunggal yang dalam uji pembakaran
serat ini dapat diidentifikasi dengan melihat asap yang terjadi, proses
pembakaran, sisa pembakaran, dan bau asap.
2. mengetahui dan menentukan jenis serat tunggal yang dalam uji berat jenis serat
ini dapat diidentifikasi dengan melihat kedudukan serat dalam tabung reaksi dan
melalui perhitungan dari dua jenis larutan yang diketahui berat jenisnya.

II. Teori Dasar


Uji Pembakaran
Uji pembakaran ini adalah cara yang paling tua untuk identifikasi serat. Cara
ini hanya dapat digunakan untuk menentukan golongan serat secara umum dan tidak
dapat dipertanggung jawabkan untuk campuran serat. Dengan mengamati serat
yang terbakar, asap dari serat yang terbakar, bau pembakaran, dan sisa
pembakaran maka dapat ditentukan termasuk golongan apa serat yang sedang diuji
tersebut. Nyala api untuk membakar serat paling baik digunakan pembakar bunsen
atau pembakar dengan bahan bakar spirtus / alkohol.

Uji Berat Jenis


Berat jenis adalah salah satu sifat fisika yang penting untuk identifikasi serat.
Berat jenis serat dapat ditentukan dengan bantuan suatu zat cair yang diketahui
berat jenisnya dimana serat tidak tenggelam dan juga tidak terapung atau disebut
melayang. Untuk hal ini diperlukan dua zat cair yang tercampur sempurna didalam
berbagai perbandingan dan menghasilkan campuran zat cair dengan berat jenis
antara 1,0 sampai 1,6. Beberapa zat cair yang dapat digunakan antara lain,yaitu
campuran antara :

1. Karbon tetra klorida ( berat jenis 1,60 ) dengan xilena (berat jenis
0,87)
2. Karbon tetra klorida ( berat jenis 1,60 ) dengan n-heptana
( berat jenis 1,10 )
3. Perklor etilena ( berat jenis 1,63 ) dengan xilena ( berat jenis 0,87 )

III. Percobaan

3.1. Alat dan bahan

1. Uji pembakaran
- pembakar bunsen - serat poliester
- pinset - serat poliakrilat
- selotip - serat poliamida ( nilon )
- gunting - serat poliester kapas
- serat kapas - serat poliester rayon
- serat rayon viskosa viskosa
- serat rami - serat poliester wol
- serat wol
- serat sutera

2
2. Uji berat jenis
- tabung reaksi dan raknya.
- campuran pembanding yang diketahui berat jenisnya
- gunting
- pinset
- pengait tembaga
- jenis serat yang digunakan sama seperti pada uji pembakaran.
- larutan yang diketahui berat jenisnya.

3.2. Cara kerja

1. Uji pembakaran

- beberapa helai serat yang akan diamati, dipuntir kira-kira sebesar batang
korek api dengan panjang 4-5 cm.
- contoh serat didekatkan pada nyala api dari samping dengan perlahan-lahan,
waktu serat dekat nyala amati apakah bahan meleleh, menggulung atau terbakar
mendadak.
- pada saat serat menyala, diperhatikan dimana nyala terjadinya api, bila api
segera padam begitu dijauhkan dari api maka segera cium bau gas dari serat
yang terbakar tersebut.
- jika api terus menyala, api dimatikan dengan cara ditiup kemudian diamati
bau yang dikeluarkan serat tersebut.
- setelah nyala api padam, perhatikan apakh menghasilkan asap atau tidak
kemudian dilihat sisa pembakaran yang ditinggalkan serat tersebut.

- perlu dicatat pula bagaimana bentuk, warna dan kekerasannya dari abu
sisa pembakaran
- tempelkan serat pada jurnal praktikum sebagai bukti dengan menggunakan
isolasi

2. Uji berat jenis


- tabung reaksi dibersihkan lalu dikeringkan
- tiap tabung reaksi diisi dengan larutan campuran CCL 4 dan xylena yang telah
diketahui berat jenisnya
- serat yang akan diuji berat jenisnya diambil 2- 3 helai kemudian dibentuk bulatan
kecil
- bulatan serat dimasukan satu per satu ke dalam tabung reaksi berisi larutan BJ
tersebut
- lalu diamati apakah serat mengapung, melayang, atau tenggelam
- serat yang mempunyai berat jenis lebih kecil dari larutan pertama yang
mempunyai BJ 1,600 akan terapung
- serat yang mempunyai BJ sama dengan BJ larutan akan melayang
- berat jenis serat ditentukan dengan mengamati larutan pada posisi serat
melayang, hal ini menunjukan BJ larutan sama dengan BJ serat

3
- jika posisi serat tenggelam pada larutan dengan BJ lebih kecil dari BJ serat dan
terapung pada larutan dengan BJ lebih besar dari BJ serat, maka BJ serat ada
diantara keduanya atau BJ serat rata - rata

3.4. Data percobaan


Terlampir

IV. Kesimpulan

1. Uji pembakaran

Beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil dari pecobaan tersebut adalah :
1. analisa dengan cara ini disimpulkan adalah analisa yang termudah dan tercepat,
disamping alat –alat yang dibutuhkan adalah umum

2. analisa serat dengan cara pembakaran dapat membedakan anatara serat selulosa,
protein, atau poliester
3. tetapi ntuk menentukan secara pasti jenis suatu serat analisa tidak dapat
menggunakan metode ini karena tidak secara mendetail
4. uji pembakaran ini dilakukan dengan mengamati sifat fisika serat seperti asap bau
dan sisa pembakaran dan terbukti bahwa serat selulosa, protein dan buatan memiliki
sifat fisika yang berbeda dari warna asap, bau dan sisa pembakarannya.

a. Uji pembakaran :

- Kapas
Bau : Seperti kertas terbakar.
Asap : Putih
Sisa pembakaran : Abunya hitam, halus, mudah meneruskan pembakaran.

- Rayon viskosa
Bau : Seperti kertas terbakar.
Asap : Putih
Sisa pembakaran : Abunya hitam, halus, tidak meneruskan pembakaran.

- Rami
Bau : Seperti kertas terbakar.
Asap : Putih.
Sisa pembakaran : Abunya hitam, remuk, mudah meneruskan pembakaran

- Wool
Bau : Seperti rambut terbakar.
Asap : Putih.
Sisa pembakaran : Abunya hitam, halus, rapuh, dan tidak meneruskan
pembakaran

- Sutera
Bau : Seperti rambut terbakar.
Asap : Putih.

4
Sisa pembakaran : Abunya hitam, remuk, menggumpal, tidak meneruskan
pembakaran.

- Polyester
Bau : Seperti plastik terbakar.
Asap : Hitam.
Sisa pembakaran : Abu-abu, keras, menggumpal, mudah terbakar dan
meneruskan pembakaran

- Polyamida/ nylon
Bau : Seperti plastik terbakar.
Asap : Putih.
Sisa pembakaran : Lelehan hitam, menggumpal, keras, mudah terbakar dan
tidak meneruskan pembakaran
- Polyakrilat

Bau : Seperti plastik terbakar.

Asap : Putih.

Sisa pembakaran : Lelehan hitam, menggumpal, cepat terbakar dan meneruskan


pembakaran

- Polyester kapas
Bau : Seperti kertas terbakar.
Asap : Hitam.
Sisa pembakaran : Abunya berwarna hitam, menggumpal, mudah terbakar dan
tidak meneruskan pembakaran

- Polyester rayon
Bau : Seperti kertas terbakar.
Asap : Hitam.
Sisa pembakaran : Abu hitam, rapuh, tidak meneruskan pembakaran

- Polyester woll
Bau : Seperti rambut terbakar.
Asap : putih
Sisa pembakaran : Lelehan hitam, menggumpal, keras, mudah terbakar dan
meneruskan pembakaran.

b. Berat jenis :

Untuk percobaan berat jenis serat yang akan diuji harus bersih dari kotoran
dan ukuran gumpalan serat jangan terlalu besar (secukupnya). Apabila dalam
percobaan tidak ditemukan serat yang melayang (tidak tenggelam dan tidak
terapung) maka perhitungan berat jenis dilakukan dengan menjumlah bj terapung
dan bj tenggelam (cari yang terdekat) kemudian dibagi dua.

BJ Kapas : 1,5635

5
BJ Rayon : 1,5635
BJ Rami : 1,5635
BJ Wol : 1,5635
BJ Sutera : 1,4175
BJ Polyester : 1,4175
BJ Polyamida : 1,1985
BJ Polyakrilat : 1,1985
BJ Polyester kapas : 1,5635
BJ Polyester rayon : 1,5270
BJ Polyester wol : 1,5635

V. Diskusi

a. Uji pembakaran
1. Apabila serat terbakar cepat, meninggalkan abu berbentuk serat dan berbau
kertas terbakar, maka keadaan ini menunjukan serat selulosa.
2. Apabila serat terbakar tanpa ada abu, berbau rambut terbakar dan
meninggalkan bulatan kecil diujungnya, maka serat ini termasuk serat rambut /
protein.
3. Apabila serat meleleh membentuk bulatan kecil diujungnya dan bau asam
asetat menunujukan serat rayon asetat. Bau amida dengan bulatan kecil tak
teratur dan keras, menunjukan serat serat nilon.
4. Bau yang menyengat seperti plastik terbakar dan bulatan kecil menunjukan
serat poliester.

Dalam evaluasi diatas kita dapat mendiskusikan beberapa hasil percobaan yang
telah dilakukan. Untuk analisa serat tunggal hasil yang didapat sesuai dengan
evaluasi diatas dengan hasil yang akurat untuk membedakan antara serat alam yaitu
selulosa atau rambut dan serat buatan atau polyester.
Pada analisa untuk serat campuran, praktikan sedikit mengalami kesulitan
dikarenakan hasil yang didapat sering kali merupakan campuran beberapa cirri-ciri
serat. Misalkan ketika kita mengamati bau asap yang terjadi, praktikan mengalami
kebingungan untuk membedakan antara bau kertas dengan bau plastik dikarenakan
serat tersebut adalah serat campuran polyester kapas dan praktikan menyimpulkan
pada data percobaan adalah sifat yang paling dominan, contohnya pada polyester
kapas bau yang didapat adalah campuran antara bau kertas terbakar dan bau plastik
terbakar. Kertas terbakar lebih dominan dari hal tersebut, diperkirakan kadar kapas
lebih banyak dibanding polyester karena sifat serat kapas lebih dominan muncul.
Untuk serat serat campuran yang lain praktikan menuliskan data yang dominan pada
serat campuran tersebut.
Analisa serat menggunakan metode pembakaran belum dapat menentukan jenis
serat secara pasti, hanya dapat membedakan antara serat selulosa, rambut atau
serat buatan. Hal ini terlihat dari beberapa hasil pada serat-serat tersebut yang
cenderung tidak menunjukan perbedaan yang terperinci antara tiga jenis serat
tersebut.

b. Berat jenis.

Pada percobaan ini terdapat beberapa penyelewengan data berat jenis antara
perhitungan dengn literatur. Hal tersebut dapat disebabkan oleh serat yang diuji
gumpalannya yerlalu besar sehingga menghambat mobilitas serat dalam tabung
reaksi,pengamat terlalu cepat menyimpulkan keadaan serat ; terapung, tenggelam

6
atau melayang,sebelum serat benar-benar terendam ( dalam arti menyerap cairan
penguji ).
Dapat didiskusikan bahwa dengan menggunakan metode ini kita dapat
mengetahui jenis serat dengan lebih terperinci melalui berat jeni dari serat tersebut
ttetapi dalam melakukan percbaan dituntut untuk lebih hait-hati dan teliti agar
mendapat hasil yang akurat.

VI. Daftar Pustaka

1. Wibowo Moerdoko, S.Teks., Evaluasi Tekstil Bagian Kimia. , Institut Teknologi


Tekstil – Bandung, 1975.
2. Serat – Serat Tekstil . ,Institut Teknologi Tekstil – Bandung.

7
8