Anda di halaman 1dari 4

IMA Gelgel Wirasuta

Analisis Toksikologi Klinik : Tantangan Baru Bagi Farmasis Indonesia

I Made Agus Gelgel Wirasuta1,2* dan K. Suardamana3


1
Jurusan Farmasi-FMIPA-Universitas Udayana
2
Lembaga Forensik Sains dan Kriminologi - Universitas Udayana
3
Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Sanglah Denpasar

Abstrak
Terjadi prevalensi penanganan keracunan yang relativ tinggi di IRD Rumah Sakit (RS) Sanglah Denpasar sekitar 30 s/d 50
kasus perbulan. Frekuensi kasus didominasi oleh keracunan yang diduga disebabkan oleh: makanan, insektisida rumah tangga
(obat nyamuk), parasetamol, psikotropika, narkotika, digitalis dan alkohol. Penegakan terapi pada umumnya hanya
didasarkan pada diagnosa, gejala-gejala klinik yang ditimbulkan, dan ditunjang oleh informasi pre-kasus dari pasien atau
pendamping pasien. Sampai saat ini terapi pasien pada kasus keracunan di RS Sanglah belum dilengkapi pemeriksaan
laboratorium analisis toksikologi. Penyelenggaraan analisis toksikologi klinik dalam penanganan kasus keracuanan di RS
sudah sangat mendesak. Hal ini merupakan tantangan bagi farmasis untuk meningkatkan kompetensinya dan sekaligus
merupakan diversifikasi bidang perkerjaan bagi farmasis di Indonesia.
Kata kunci : analisis toksikologi klinik
Abstract
There were high prevalence cases (about 30 - 50 cases monthly) of intoxications in ICU of Sanglah Hospital - Denpasar. The
intoxications were frequently dominating due to by food, home insecticide, paracetamole, psicotropics, digitalis, and alcohol,
respectively. Diagnosis of acute poisoning was based on clinical observations, patient history, but without result of
toxicological analysis. Clinic toxicological analysis in handling poisoning cases in Sanglah-Hospital is urgently needed. This is
a challenge for the pharmacists in improving their competency. In addition this becomes a new job opportunities for them.

Key words : clinical toxicology analysis

Pendahuluan Prevalensi dan penegakan diagnosa pada ka-


Bekangan ini sering diberitakan terjadi kasus-kasus sus instoksikasi di Instalasi Rawat Darurat
keracunan di berbagai daerah. Penyebab keracunan Rumah Sakit Sanglah
adalah sangat bervariasi. Penyebab keracunan yang Tingginya prevalensi kasus keracunan dapat terlihat
sering diberitakan adalah keracunan yang diakibatkan dari data penanganan kasus keracunan di Instalasi
oleh makanan. Rawat Darurat Rumah Sakit (IRD RS) Sanglah-Den-
pasar. Setiap bulannya IRD RS Sanglah menangani
Instoksikasi sering menunjukkan suatu gejala klinis sekitar 30 sampai 50 kasus keracunan. Penyebab
yang tidak jelas. Simtom yang serupa (akibat keracu- keracunan diantaranya disebabkan oleh : makanan,
nan) sering juga diakibatkan oleh berbagai penyakit insektisida rumah tangga, parasetamol, psikotropika
lainnya. Seperti keluhan pusing-pusing, mual muntah, dan narkotika, alkohol (etanol dan metanol), detergen,
cemas ditunjukkan keracunan yang diakibatkan oleh dan digitalis. Informasi ini pada umumnya diperoleh
histamin (produk ikan tuna) dapat juga ditunjukkan dari rekaman riwayat pasien (informasi pre-kasus),
pada penyakit tekanan darah tinggi. Sudah barang yang diperoleh baik dari pasien maupun dari pen-
tentu kedua kasus ini berimplikasi pada terapi berbeda. dampingnya.

Seperti keracunan yang diakibatkan oleh narkotika Penegakan terapi keracunan pada umumnya hanya
opiat dan juga psikotropika antidepresiva, simtom didasarkan pada diagnosa dari gejala-gejala klinis
klinis yang ditunjukkan akan bervariasi tergatung yang ditimbulkan, dan ditunjang oleh informasi pre-
pada tingkat instoksikasinya, dari depresi saluran kasus penyebab instoksikasi. Pada umumnya penega-
pernafasan sampai pingsan ”koma” dibarengi dengan kan terapi keracunan di IRD RS Sanglah telah dida-
udema paru-paru. Kematian pada keracunan opiate sarkan pada perosedur baku penaganan keracunan,
biasanya diakibatkan oleh gagalnya pengambilan ok- yang ditetapkan oleh DepKes RI.
sigen di paru-paru akibat udema, sehingga mengaki-
batkan berkurangnya oksigen di otak. Jika pada kasus Kesadaran akan pentingnya untuk melakukan analisis
keracunan (opiat), dilakukan analisis toksikologi, toksikologi telah dimiliki oleh para dokter di IRD RS
maka pada penganganan terapi dengan cepat dapat
diberikan antidotnya, yaitu nalokson.
*Penulis yang dapat dihubungi untuk korespondensi

Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXXII, No.2, 2007 - 59


IMA Gelgel Wirasuta

Sanglah dalam usaha menegakkan terapi yang lebih Dengan lain kata, hampir satu dari setiap lima kasus
spesifik dan terarah. keracunan adalah salah diagnosa jika diagnosa hanya
didasarkan pada gejala klinis saja.
Sebagai contoh, pada suatu hari diantarkan pasien ke
IRD RS Sanglah dalam keadaan pingsan. Menurut Analisis toksikologi klinik dapat berupa analisis kua-
informasi pre-kasus, pingsannya diakibatkan karena litatif maupun kuantitatif. Dari hasil analisis kualitatif
pasien telah minum ”wiski” (minuman beralkohol) dapat dipastikan bahwa kasus keracunan adalah me-
dalam jumlah berlebih di Pub. Dari gejala-gejala kli- mang benar diakibatkan oleh instoksikasi. Sedangkan
nis dan pengamatan diduga keracunan diakibatkan dari hasil analisis kuantitatif dapat diperoleh informasi
oleh alkohol dikombinasi dengan psikotropika atau tingkat toksisitas pasien. Dalam hal ini diperlukan
narkotika. Untuk memastikan diagnosa awal, dokter interpretasi konsentrasi toksikan, baik di darah mau-
menerok darah dan urin pasien guna selanjutnya dila- pun di urin, yang lebih seksama. Untuk mengetahui
kukan analisis toksikologi. Namun usaha ini menjadi tepatnya tingkat toksisitas pasien, biasanya diperlukan
gagal, karena tidak ada laboratorium penunjang medis analisis toksikan yang berulang baik dari darah mau-
di Denpasar yang dapat dan bersedia melakukan ana- pun urin. Dari perubahan konsentrasi di darah akan
lisis alkohol dan narkoba dari materi biologis (darah, diperoleh gambaran apakah toksisitas pada fase ek-
urin, cairan lambung). sposisi atau sudah dalam fase eleminiasi.

Makna analisis toksikologi dalam diagno- Secara umum dapat disimpulkan, bahwa manfaat
sa instoksikasi analisis toksikologi klinik adalah:

Gambaran di atas menunjukkan betapa pentingnya - indentifikasi awal yang cepat, sebagai pendahuluan
analisis toksikologi klinik dalam menegakkan terapi sebelum melakukan terapi yang spesifik dan terarah,
instoksikasi. Hasil analisis toksikologi dapat memas- - untuk mengontrol keberhasilan dan efek dari
tikan diagnosa klinis, dimana diagnosa ini dapat dija- penegakan terapi instoksikasi,
dikan dasar dalam melakukan terapi yang cepat dan - untuk memastikan atau menjamin diagnosa klinis.
tepat, serta lebih terarah, sehingga ancaman kegagalan
pengobatan (kematian) dapat dihindarkan. Selain manfaat klinis (terapi instoksifikasi), analisis
toksikologi klinik dapat mempunyai makna yang be-
Menurut Clarmann (1987), terdapat dua jalan paralel sar dalam penelitian dan pengembangan ilmu penge-
yang dapat dilakukan dalam menegakkan diagnosa tahuan. Seperti tidak mungkinnya untuk mela-kukan
dari suatu kasus keracunan, yaitu : uji toksisitas (uji farmakologis, toksokinetik dan uji
lainnya) langsung pada manusia. Sehingga beberapa
1. melalui gejala-gejala klinis, dimana gejala ini dapat masalah, seperti data toksisitas, dapat dikumpulkan
dibedakan menjadi: dari data-data hasil analisis toksikologi klinik, seperti:

a. simtom, biasanya simtom dapat diamati oleh - studi metabolisme dan toksokinetik dari senyawa
manusia dengan menggunakan panca indranya. toksikan tertentu,
Simtom ini pada umumnya dijadikan dasar - studi penyimpangan farmakokinetik dari toksikan
dalam memberikan pertolongan pertama pada pada kasus instoksikasi (waktu paruh, volume
keracunan. distribusi, clearance),
b. gambaran klinis, untuk mendapatkan gambaran - evaluasi data-data toksisitas yang diperoleh dari
klinis diperlukan alat-alat tertentu, seperti hewan uji terhadap kenyataannya pada manusia.
Rongen, laboratorium, dan sebagainya,
c. yang ketiga adalah proses, yaitu informasi pro- Tugas analisis toksikolog klinik dalam pe-
ses keracunan dan gejala klinis yang ditimbul-
kan. Peroses dapat diamati sediri oleh dokter negakan diagnosa keracunan
atau diperoleh dari informasi pasien atau pen- Analisis toksikologi klinik mencangkup anlisis kuali-
dampingnya. dan kuantitatif toksikan serta menentukan efek toksik
yang ditimbulkannya. Dengan demikian tugas utama
2. melalui analisis racun (analisis toksikologi). dari analisis toksikologi klinik yang berhubungan de-
ngan diagnosa keracunan dapat dirinci sebagai beri-
Dari proses diagnosa seperti diatas akan diperoleh kut :
diagnosa yang spesifik dan terarah, sehingga hasil
- mendeteksi dan mengidentifikasi toksikan yang
diagnosa ini merupakan diagnose akhir pada kasus
terlibat,
keracunan. Dari pengalaman, Clarmann menemukan,
- menentukan kadar toksikan dan metabolitnya,
bahwa sekitar 20% dari kasus instoksikasi, diagnosa
akhir ditegakkan melalui hasil analisis toksikologi.

60 - Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXXII, No.2, 2007


IMA Gelgel Wirasuta

- bersama-sama dengan dokter dan toksikolog klinik dapat berupa tes rekasi warna, terha-dap toksikan
melakukan interpretasi temuan analisis dan data- yang terdapat dalam materi biologi (darah, urin,
data klinis, guna menyusun diagnosa akhir. cucian lambung), sisa tablet atau makanan. Belaka-
ngan ini telah berkembang dengan pesat metode uji
Tujuan utama dari analisis kualitatif (test penapisan penapisan yang lebih sederhana dalam pengerjaannya
dan identifikasi) adalah untuk mengetahui atau me- dan memberikan hasil yang lebih spesifik dibanding-
mastikan toksikan sebagai penyebab instoksika-sinya, kan rekasi warna, yaitu metode immunoki-
dapat berupa toksikan tunggal atau kombinasi dari mia ”immunoassay”. Pemeriksaan gas dari buangan
beberapa toksikan. Makna dari analisis kualitatif pernapasan juga dikelompokkan dalam tahap ini.
adalah untuk memastikan diagnosa awal terhadap Pemeriksaan ini ditujukan pada toksikan yang dapat
dugaan instoksikasi. Sedangkan dari hasil analisis dianalisis dalam bentuk gasnya, seperti pada kasus
kuantitatif dimungkinkan untuk menarik dugaan ting- keracunan alkohol, sianida. Analisis tahap pendahu-
kat toksisitas dari pasien. luan dalam analisis toksikologi forensik dikelompok-
kan ke dalam uji penapisan. Sedangkan analisis tahap
Gambaran diatas menyatakan tugas seorang toksiko- lanjut disebut dengan uji determinasi.
log dalam kaitannya dengan diagnosa keracunan tidak
hanya melakukan analisis, tetapi juga dituntut dapat Analisis tahap lanjut meliputi:
menerjemahkan data analisis ke dalam suatu kalimat
yang menyatakan penyebab dan tingkat dari keracu- - pemastian dugaan/hasil pada analisis kualitatif
nan, serta dengan mempertimbangkan gejala-gejala (indentifikasi dan kharakterisasi), disini diperlukan
klinis bersama dokter untuk menganjurkan suatu pe- metode instrumentasi yang lebih canggih seperti
negakan terapi yang lebih spesifik dan terarah. GC-MS, LC-MS.
- penetapan kadar toksikan serta metabolitnya.
Agar dapat melaksanakan tugas tersebut di atas
seorang toksikolog klinik harus didukung oleh perala- Evaluasi dan pengkajian hasil analisis tok-
tan/instrumentasi laboratorium yang handal serta do- sikologi klinik
kumen data yang sahih. Dalam pengumpulan doku-
men, data dapat dikelompokkan menjadi dua kelom- Agar hasil analisis toksikologi dapat dijadikan acuan
pok besar, yaitu : dalam membuat diagnosa akhir dari instoksikasi dan
mempunyai makna dalam penegakan terapi instoksi-
- data yang berorientasi pada toksikan, seperti sifat kasi yang terarah, maka hasil analisis haruslah valid
fisikokimia toksikan dan kelakuan dari toksikan dan sahih. Untuk itu haruslah dikenali sumber-sumber
baik dalam uji penapisan (identifikasi dan analisis yang mungkin memberikan kesalahan analisis. Ada
kualitatif) maupun pada uji determinasi (uji tiga tingkat yang dapat menjadi sumber kesala-han
karakterisasi dan penetapan kadar), termasuk pe- dalam analisis toksikologi, yaitu tataran teknis, tataran
ngumpulan metode dan prosedur analisis toksi-kan, biologis dan tataran nosologi (pengelompokan pe-
- data klinik, seperti sifat toksokinetik, therapeutic nyakit).
and toxic blood levels, gejala-gejala klinis yang
ditimbulkan toksikan pada keracunan. Dalam tataran teknis kesalahan analisis dapat muncul
akibat masalah teknis, seperti prosedur analisis, meto-
Semua data-data ini harus berada dekat dengan tempat de analisis, akurasi dan presisi dari intrumentasi
kerja toksikolog. analisis.

Sistematika analisis toksikologi klinik Sedangkan kesalahan yang mungkin ditimbulkan dari
tataran biologis adalah akibat besarnya variasi materi
Pemeriksaan toksikologi yang sistematis adalah biologis dari sampel toksikologi, waktu pengambilan
merupakan suatu keharusan dalam melakukan analisis sampel. Faktor toksokinetik dan waktu pengambilan
toksikologi, jika terdapat dugaan keracunan tetapi akan banyak menentukan hasil analisis toksikologi,
tidak terdapat informasi yang tepat tentang toksikan misal jika penerokan dilakukan tepat pada saat pasien
sebagai penyebabnya. Gibitz et al. (1995) mengelom- terpapar, kemungkinan besar akan dapat menemukan
pokkan langkah analisis menjadi dua tahap, yaitu toksikan dalam jumlah besar, baik di dalam saluran
tahap analisis pendahuluan dan analisis lanjutan. pencernaan (jika terekspose melalui oral), maupun di
darah. Namun jika penerokan dilakukan pada fase
Tahap analisis pendahuluan adalah analisis yang cepat terminal, dan jika toksikan mempunyai waktu paruh
dan tepat, merupakan analisis kualitatif, yang meru- yang singkat, maka kemungkinan kecil menemukan
pakan orientasi mencari dugaan penyebab intoksikasi. toksikan di darah. Untuk memahami kesalahan-
Uji ini seharusnya dikerjakan di rumah sakit pada saat kesalah yang berpengaruh dari tataran biologis, maka
pada awal pasien diterima. Analisis pendahuluan ini

Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXXII, No.2, 2007 - 61


IMA Gelgel Wirasuta

sangat dituntut pemahaman terhadap sifat formakoki- Kesimpulan


netik dan metabolisme toksikan.
Tingginya prevalensi kasus keracunan di Indonesia
Ada sejumlah jenis penyakit tertentu dapat mempe- menuntut peningkatan peran farmasis dalam mengusa-
ngaruhi sifat farmakodinamik toksikan. Seperti, se- hakan penyelenggaraan analisis toksikologi klinik di
nyawa opiat sebagian besar dieliminasi melalui clea- rumah sakit.
rance hepatis dengan demikian insufisien hati akan
menghambat laju metabolisme opiat di dalam tubuh, Pustaka
sehingga morfin akan berada dalam waktu yang lebih
1. Clarmann, M.V., et al., 1987, Klinisch-toxikolo-
lama di dalam tubuh. Demikian juga pada pasien
gische Analytik - gegenwaertiger Stand der
gagal ginjal terjadi akumulasi dari morfin glukuronida,
Forderung fuer die Zukunft, VCH Verlag-
sehingga akan terjadi perpanjangan waktu paruh dari
sgesellschaft mbH, Weinheim.
morfinglikuronida (Wirasuta 2004).
2. Gibitz, H.J. dan Schültz, H., 1995, Einfache
toxikologische Laboratoriumsuntersuchungen
Kompetensi yang dibutuhkan dalam pe-
bei akuten Vergiftungen, VCH Verlagsgesell-
nyelenggaraan analisis toksikologi klinik schaft mbH, Weinheim.
Kemampuan dasar yang diperlukan agar dapat menye- 3. Shama, A.N., et al., 2001, Toxidromes and vital
lenggarakan analisis toksikologi klinik sampai inter- signs”, in Ling, L.J. et al., Toxicology Secrets,
pretasi temuan analisis adalah: Hanley & Belfus, Inc. Philadelphia
4. Wirasuta, I.M.A.G., 2004, Untersuchung zur
- penguasaan kimia analisis, yaitu penguasaan pengo-
Metabolisierung und Ausscheidung von Hero-
perasian instrumentasi analisis, dari preparasi sam-
in im menschlichen Koerper. Ein Beitrag zur
pel, penyiapan prosedur analisis, sampai validasi
Verbesserung der Opiatbefundinterpretation,,
hasil analisis;
Cuvillier Verlag, Goettingen.
- penguasaan farmakologi dan toksikologi klinik;
- penguasaan farmakokinetik klinik dan metabolisme
obat,
- serta kemampuan kimia klinik.

Semua kompetensi ini merupakan mata kuliah wajib


dalam kurikulum farmasi di Indonesia, oleh sebab itu
secara teoritis seorang farmasis dengan sendirinya
telah siap untuk melakukan analisis toksikologi klinik.
Namun dalam hal ini dituntut pengalaman dan tempat
kerja. Jika seandainya setiap rumah sakit rujukan
mempersyaratkan adanya laboratorium toksikologi
klinik, maka hal ini merupakan peluang kerja baru
bagi farmasis Indonesia di rumah sakit, disamping
yang telah eksis yaitu farmasi rumah sakit.

62 - Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXXII, No.2, 2007