Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

GLAUKOMA SUDUT TERBUKA

DISUSUN OLEH:

DESLIANA WULANSARI
201 311 014

PEMBIMBING :

Dr. Naila Karima Sp.M

DEPARTEMEN MATA
RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT
SOEBROTO
JAKARTA
2007

1
LEMBAR PENGESAHAN

Referat

Glaukoma Sudut Terbuka

Disusun Oleh:
Desliana wulansari
(201 311 014)

Telah disetujui dan dipresentasikan


Pada tanggal : November 2007

Dosen Pembimbing:

Dr. Naila Karima Sp.M

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya,
akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas referat yang berjudul : ” Glaukoma
Sudut Terbuka ”. Referat ini menguraikan tentang Glaukoma Sudut Terbuka ditinjau
dari definisi sampai prognosisnya.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :


1. Dr Naila Karima Sp.M, selaku pembimbing dalam penulisan referat ini
2. Staf medis fungsional bagian mata RSPAD Gatot Soebroto
3. Kepada semua pihak dan teman-teman sejawat yang telah membantu
penulisan referat ini.
Penulis menyadari referat ini jauh dari sempurna, untuk itu penulis membuka diri
atas Kritik dan sarannya. Akhirnya semoga referat ini berguna bagi pembaca dan
penulis khususnya.

Jakarta November 2007,

Penulis

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN..............................................................................ii
KATA PENGANTAR.........................................................................................iii
DAFTAR ISI. .....................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG. ..................................................................1
1.2 TUJUAN.........................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................3
2.1 DEFINISI.. ....................................................................................3
2.2 KLASIFIKASI...............................................................................4
2.3 ETIOLOGI. ...................................................................................4
2.4 INSIDENSI. ..................................................................................5
2.5 PATOGENESIS ............................................................................5
2.6 GEJALA KLINIK. ........................................................................6
2.7 PEMERIKSAAN FISIK................................................................7
PEMERIKSAAN TEKANAN BOLA MATA ............................7
GONIOSKOPI..............................................................................9
OFTALMOSKOPI........................................................................9
PEMERIKSAAN LAPANG PANDANGAN.............................10
TES PROVOKASI......................................................................10
2.8 DIAGNOSA. ...............................................................................11
2.9 PENATALAKSANAAN.............................................................12
MEDIKAMENTOSA...................................................................12
OPERASI .....................................................................................14
2.10 PROGNOSIS..............................................................................16
BABIII KESIMPULAN....................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................18

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG 1

Glaukoma ditandai oleh meningkatnya tekanan intraokular yang disertai oleh


pencekungan discus optikus dan pengecilan lapangan pandang. Pada sebagian besar
kasus, tidak terdapat penyakit mata lain. (glaukoma primer).
Hampir 80.000 penduduk Amerika Serikat buta akibat glaukoma, sehingga
penyakit ini menjadi penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah di Amerika
Serikat. Di Amerika Serikat diperkirakan terdapat 2 juta pengidap glaukoma.
Glaukoma sudut terbuka primer, bentuk tersering, menyebabkan pengecilan lapangan
pandang bilateral progresif asimtomatik yang timbul perlahan dan sering tidak
terdeteksi sampai terjadi pengecilan lapang pandang yang ekstensif. Bentuk-bentuk
glaukoma lain merupakan morbiditas visual yang parah pada semua usia.
Mekanisme peningkatan tekanan intraokular pada glaukoma adalah gangguan
aliran keluar humor akueus akibat kelainan sistem drainase sudut kamera anterior
(glaukoma sudut terbuka) atau gangguan akses humor akueus ke sistem drainase
(gaukoma sudut tertutup).
Penurunan pembentukan humor akueus adalah suatu metode untuk
menurunkan tekanan intraokular pada semua bentuk glaukoma. Beberapa obat dapat
menurunkan pembentukan humor akueus. Juga terdapat tindakan-tindakan bedah
yang menurunkan pembentukan humor akueus tetapi biasanya digunakan hanya
setelah terapi medis gagal.
Pada semua pasien galukoma, perlu tidaknya terapi segera diberikan dan
efektivitasnya dinilai dengan melakukan pengukuran tekanan intraokular (tonometri),
inspeksi diskus optikus, dan pengukuran lapangan pandang secara teratur.
Penatalaksanaan glaukoma sebaiknya dilakukan oleh ahli oftalmologi, tetapi
besar masalah dan pentingnya deteksi kasus-kasus asimtomatik mengharuskan adanya
kerjasama dengan bantuan dari semua petugas kesehatan.

5
1.2 TUJUAN
Tujuan dari penyusunan referat ini adalah untuk memberikan gambaran
definisi, klasifikasi, etilogi, insidensi, patogenesis, gejala klinis, pemeriksaan fisik,
diagnosis, serta penatalaksanaan glaukoma sudut terbuka.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Glaukoma adalah suatu penyakit dimana gambaran klinik yang lengkap
ditandaioleh peninggian tekanan intraokular, penggaungan dan degenerasi papil saraf
optik serta dapat menimbulkan skotoma ( kehilangn lapangan pandang).2
Tekanan intraokular ditentukan oleh kecepatan pembentukan humor akueus
dan tahanan terhadap aliran keluarnya dari mata. Tekanan intraokular dianggap
normal bila kurang dari 20 mmHg pada pemeriksaan dengan tonometer aplanasi yang
dinyatakan dengan tekanan air raksa.2
Glaukoma sudut terbuka adalah glaukoma yang penyebabnya tidak ditemukan
dan ditandai dengan sudut bilik mata depan yang terbuka. Glaukoma sudut terbuka ini
diagnosisnya dibuat bila ditemukan glaukoma pada kedua mata pada pemeriksaan
pertama, tanpa ditemukan kelainan yang dapat merupakan penyebab.2,3

7
2.2 KLASIFIKASI
Klasifikasi glaukoma primer :1,2
1. Glaukoma sudut terbuka ( glaukoma sudut terbuka kronik, glaukoma
sederhana kronik)
2. Glaukoma tekanan normal ( glaukoma tekanan rendah)
Glaukoma tekanan rendah adalah suatu keadaan dimana ditemukan
penggaungan papil saraf optik dan kelainan lapang pandang yang khas
glaukoma tetapi disertai tekanan bola mata yang tidak tinggi. Keadaan ini
dihubungkan dengan terdapatnya gangguan pendarahan papil saraf optik
walaupun tekanan bola mata tidak tinggi.

2.3 ETIOLOGI
Glaukoma sudut terbuka etilogi tidak pasti, dimana tidak didapatkan kelainan
yang merupakan penyebab glaukoma.2,3
Glaukoma ini didapatkan pada orang yang telah memiliki bakat bawaan
glaukoma, seperti:3
1. Bakat dapat berupa gangguan fasilitas pengeluaran cairan mata atau susunan
anatomis bilik mata yang menyempit.
2. Mungkin disebabkan kelainan pertumbuhan pada sudut bilik mata depan
( goniodisgenesis), berupa trabekulodisgenesis, iridodisgenesis dan
korneodisgenesis dan yang paling sering berupa trabekulodisgenesis dan
goniodisgenesis.

Glaukoma sudut terbuka sering terjadi setelah usia 40 tahun, tetapi kadang
terjadi pada anak-anak. Penyakit ini cenderung diturunkan dan paling sering
ditemukan pada penderita diabetes atau miopia. Glaukoma sudut terbuka lebih sering
terjadi dan biasanya penyakit ini lebih berat jika diderita oleh orang kulit hitam.2,3,4

2.4 INSIDENSI
Di Indonesia, glaukoma diderita oleh 3% dari total populasi penduduk.
Umumnya penderita glaukoma telah berusia lanjut. Pada usia 50 tahun, tingkat resiko
menderita glaukoma meningkat sekitar 10 %. Hampir separuh penderita glaukoma
tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit tersebut. 5

8
Glaukoma sudut terbuka adalah bentuk glaukoma yang tersering dijumpai,
sekitar 0,4-0,7% orang berusia lebih dari 40 tahun dan 2-3% orang berusia lebih dari
70 tahun diperkirakan mengidap glaukoma sudut terbuka.1

2.5 PATOGENESIS 6
Sudut bilik mata dibentuk dari jaringan korneosklera dengan pangkal iris.
Pada keadaan fisiologis bagian ini terjadi pengaliran keluar cairan bilik mata.
Berdekatan dengan sudut ini didapatkan jaringan trabekulum, kanal Schlemm, baji
sklera, garis Schwalbe dan jonjot iris. Pada sudut filtrasi terdapat garis Schwalbe yang
merupakan akhir perifer endotel dan membran desemet, kanal schlemn yang
menampung cairan mata kesalurannya.
Sudut filtrasi berbatas dengan akar iris berhubungan dengan sklera kornea dan
disini ditemukan sklera spur yang membuat cincin melingkar 360 derajat dan
merupakan batas belakang sudut filtrasi serta tempat insersi otot siliar longitudinal.
Anyaman trabekula mengisi kelengkungan sudut filtrasi yang mempunyai dua
komponen yaitu badan siliar dan uvea.

Tekanan intraokular ditentukan oleh kecepatan terbentuknya cairan mata


(akueus humor) bola mata oleh badan siliar dan hambatan yang terjadi pada jaringan
trabekular meshwork. Akueus humor yang dihasilkan badan siliar masuk ke bilik
mata belakang, kemudian melalui pupil menuju ke bilik mata depan dan terus ke
sudut bilik mata depan, tepatnya ke jaringan trabekulum, mencapai kanal Schlemm
dan melalui saluran ini keluar dari bola mata. Pada glaukoma kronik sudut terbuka,
hambatannya terletak pada jaringan trabekulum maka akan terjadi penimbunan cairan

9
bilik mata di dalam bola mata sehingga tekanan bola mata meninggi. Pada glaukoma
akut hambatan terjadi karena iris perifer menutup sudut bilik depan, hingga jaringan
trabekulum tidak dapat dicapai oleh akueus.

2.6 GEJALA KLINIS


Glaukoma disebut sebagai “ pencuri penglihatan “ karena berkembang tanpa
ditandai dengan gejala yang nyata. Oleh karena itu, separuh dari penderita glaukoma
tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit tersebut. Biasanya nanti diketahui
disaat penyakitnya sudah lanjut dan telah kehilangan penglihatan.2,5,7
Glaukoma primer yang kronis dan berjalan lambat sering tidak diketahui bila
mulainya, karena keluhan pasien amat sedikit atau samar. Misalnya mata sebelah
terasa berat, kepala pening sebelah, kadang-kadang penglihatan kabur dengan
anamnesa tidak khas. Pasien tidak mengeluh adanya halo dan memerlukan kacamata
koreksi untuk presbiopia lebih kuat dibanding usianya. Kadang-kadang tajam
penglihatan tetap normal sampai keadaan glaukomanya sudah berat.3
Pada akhirnya akan terjadi penyempitan lapang pandang yang menyebabkan penderita
sulit melihat benda-benda yang terletak di sisi lain ketika penderita melihat lurus ke
depan ( disebut penglihatan terowongan).4

10
2.7 PEMERIKSAAN FISIK
1. Pemeriksaan tekanan bola mata 3,6,8
Pemeriksaan tekanan bola mata dilakukan dengan alat yang dinamakan
tonometer. Pemeriksaan tekanan yang dilakukan dengan tanometer pada bola mata
dinamakan tonometri. Tindakan ini dapat dilakukan oleh dokter umum dan dokter
spesialis lainnya.
Pengukuran tekanan bola mata sebaiknya dilakukan pada setiap orang berusia
di atas 20 tahun pada saat pemeriksaan fisik medik secara umum. Dikenal beberapa
alat tonometer seperti alat tonometer Schiotz dan tonometer aplanasi Goldman.

a. Tonometri Schiotz
Tonometer Schiotz merupakan alat yang praktis sederhana. Pengukuran
tekanan bola mata dinilai secara tidak langsung yaitu dengan teknik melihat daya
tekan alat pada kornea karena itu dinamakan juga tonometri indentasi Schiotz.
Dengan tonometer Schiotz dilakukan indentasi penekanan terhadap kornea.

Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien ditidurkan dengan posisi horizontal


dan mata ditetesi dengan obat anestesi topikal atau pantokain 0,5%. Penderita diminta
melihat lurus ke suatu titik di langit-langit, atau penderita diminta melihat lurus ke
salah satu jarinya, yang diacungkan, di depan hidungnya. Pemeriksa berdiri di sebelah
kanan penderita. Dengan ibu jari tangan kiri kelopak mata digeser ke atas tanpa
menekan bola mata; jari kelingking tangan kanan yang memegang tonometer,
menyuai kelopak inferior. Dengan demikian celah mata terbuka lebar. Perlahan-lahan
tonometer diletakkan di atas kornea.
Tonometer Schiotz kemudian diletakkan di atas permukaan kornea, sedang mata yang
lainnya berfiksasi pada satu titik di langit-langit kamar penderita.
Jarum tonometer akan menunjuk pada suatu angka di atas skala. Tiap angka
pada skala disediakan pada tiap tonometer. Apabila dengan beban 5,5 gram (beban
standar) terbaca angka 3 atau kurang, perlu diambil beban 7,5 atau 10 gram. Untuk
tiap beban, table menyediakan kolom tersendiri.

11
b. Tonometer aplanasi
Cara mengukur tekanan intraokular yang lebih canggih dan lebih dapat
dipercaya dan cermat bias dikerjakan dengan Goldman atau dengan tonometer
tentengan Draeger.
Pasien duduk di depan lampu celah. Pemeriksaan hanya memerlukan waktu
beberapa detik setelah diberi anestesi. Yang diukur adalah gaya yang diperlukan
untuk mamapakan daerah kornea yang sempit.
Setelah mata ditetesi dengan anestesi dan flouresein, prisma tonometer
aplanasi di taruh pada kornea. Mikrometer disetel untuk menaikkan tekanan pada
mata sehingga gambar sepasang setengah lingkaran yang simetris berpendar karena
flouresein tersebut. Ini menunjukkan bahwa di semua bagian kornea yang
bersinggungan dengan alat ini sudah papak ( teraplanasi). Dengan melihat melalui
mikroskop lampu celah dan dengan memutar tombol, ujung dalam kedua setengah
lingkaran yang berpendar tersebut diatur agar bertemu yang menunjukkan besarnya
tekanan intraokular. Dengan ini selesailah pemeriksaan tonometer aplanasi dan hasil
pemeriksaan dapat dibaca langsung dari skala mikrometer dalam mmHg.

c. Tonometri Digital
Pemeriksaan ini adalah untuk menentukan tekanan bola mata dengan cepat
yaitu dengan memakai ujung jari pemeriksa tanpa memakai alat khusus (tonometer).
Dengan menekan bola mata dengan jari pemeriksa diperkirakan besarnya tekanan di
dalam bola mata. Pemeriksaan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
• Penderita disuruh melihat ke bawah
• Kedua telunjuk pemeriksa diletakkan pada kulit kelopak tarsus atas penderita
• Jari-jari lain bersandar pada dahi penderita
• Satu telunjuk mengimbangi tekanan sedang telunjuk lain menekan bola mata.
Penilaian dilakukan dengan pengalaman sebelumnya yang dapat menyatakan
tekanan mata N+1, N+2, N+3 atau N-1, N-2, N-3 yang menyatakan tekanan lebih
tinggi atau lebih rendah daripada normal.
Cara ini sangat baik pada kelainan mata bila tonometer tidak dapat dipakai
atau dinilai seperti pada sikatrik kornea, kornea irregular dan infeksi kornea. Cara
pemeriksaan ini memerlukan pengalaman pemeriksaan karena terdapat faktor
subyektif.

12
2.Gonioskopi 3,6,8
Pemeriksaan gonioskopi adalah tindakan untuk melihat sudut bilik mata
dengan goniolens. Gonioskopi adalah suatu cara untuk melihat langsung keadaan
patologik sudut bilik mata, juga untuk melihat hal-hal yang terdapat pada sudut bilik
mata seperti benda asing. Dengan gonioskopi dapat ditentukan klasifikasi glaukoma
penderita apakah glaukoma terbuka atau glaukoma sudut tertutup dan malahan dapat
menerangkan penyebab suatu glaukoma sekunder.

3.Oftalmoskopi 3,6
Oftalmoskopi, pemeriksaan ke dalam mata dengan memakai alat yang
dinamakan oftalmoskop. Dengan oftalmoskop dapat dilihat saraf optik di dalam mata
dan akan dapat ditentukan apakah tekanan bola mata telah mengganggu saraf optik.
Saraf optik dapat dilihat secara langsung. Warna serta bentuk dari mangok saraf optik
pun dapat menggambarkan ada atau tidak ada kerusakan akibat glaukoma yang
sedang diderita.
Kelainan pada pemeriksaan oftalmoskopi dapat dilihat : 8
• Kelainan papil saraf optik
- saraf optik pucat atau atrofi
- saraf optik tergaung
• Kelainan serabut retina, serat yang pucat atau atrofi akan berwarna hijau
• Tanda lainnya seperti perdarahan peripapilar.
4. Pemeriksaan lapang pandang 6
Penting, baik untuk menegakkan diagnosa maupun untuk meneliti perjalanan
penyakitnya, juga bagi menetukan sikap pengobatan selanjutnya. Harus selalu diteliti
keadaan lapang pandangan perifer dan juga sentral. Pada glaukoma yang masih dini,
lapang pandangan perifer belum menunjukkan kelainan, tetapi lapang pandangan
sentral sudah menunjukkan adanya bermacam-macam skotoma. Jika glaukomanya
sudah lanjut, lapang pandangan perifer juga memberikan kelainan berupa
penyempitan yang dimulai dari bagian nasal atas. Yang kemudian akan bersatu
dengan kelainan yang ada ditengah yang dapat menimbulkan tunnel vision, seolah-
olah melihat melalui teropong untuk kemudian menjadi buta.

13
5. Tes provokasi 6
• Tes minum air
Penderita disuruh berpuasa, tanpa pengobatan selama 24 jam. Kemudian
disuruh minum 1 L air dalam 5 menit. Lalu tekanan intraokular diukur setiap
15 menit selama 1,5 jam. Kenaikan tensi 8 mmHg atau lebih, dianggap
mengidap glaukoma.
• Pressure Congestive test
Pasang tensimeter pada ketinggian 50-60 mmHg, selama 1 menit. Kemudian
ukur tensi intraokularnya. Kenaikan 9 mmHg, atau lebih mencurigakan,
sedang bila lebih dari 11 mmHg pasti patologis.
• Kombinasi tes air minum dengan pressure congestive test
Setengah jam setelah tes minum air dilakukan pressure congestive test.
Kenaikan 11 mmHg mencurigakan, sedangkan kenaikan 39 mmHg atau lebih
pasti patologis.
• Tes steroid
Diteteskan larutan deksametason 3-4 dd g 1, selama 2 minggu. Kenaikan tensi
intraokular 8 mmHg menunjukkan glaukoma.

2.8 DIAGNOSIS
• Pada anamnesa tidak khas, seperti mata sebelah terasa berat, kepala pening
sebelah, kadang-kadang penglihatan kabur. Pasien tidak mengeluh adanya
halo dan memerlukan kaca mata koreksi untuk presbiopia lebih kuat dibanding
usianya.3
• Kita harus waspada terhadap glaukoma sudut terbuka pada orang-oarang :
berumur 40 tahun atau lebih, penderita diabetes mellitus, pengobatan
kortikosteroid lokal atau sistemik yang lama dan dalam keluarga ada penderita
glaukoma, miopia tinggi.2,3,4,6,8
• Pemeriksaan Tonometri bila antara kedua mata, selalu terdapat perbedaan
tensi intraokular 4 mmHg atau lebih, maka itu menunjukkan glaukoma sudut
terbuka.6

• Pemeriksaan lapang pandangan 6

14
Pada glaukoma yang masih dini, lapang pandangan perifer belum
menunjukkan kelainan, tetapi lapang pandangan sentral sudah menunjukkan
adanya bermacam-macam skotoma. Jika glaukomanya sudah lanjut, lapang
pandangan perifer juga memberikan kelainan berupa penyempitan yang
dimulai dari bagian nasal atas.
• Pemeriksaan oftalmoskopi 6
Pada glaukoma sudut terbuka, didalam saraf optik didapatkan kelainan
degenerasi yang primer, yaitu disebabkan oleh insufisiensi vaskuler.
• Pemeriksaan gonioskopi 6
Pada glaukoma sudut terbuka sudutnya normal. Pada stadium yang lanjut, bila
telah timbul goniosinechiae ( perlengketan pinggir iris pada kornea atau
trabekula ) maka sudut dapat tertutup.
• Tes provokasi 6
 tes minum air kenaikan tensi 8-9 mmHg, mencurigakan, 10 mmHg
pasti patologis
 tes steroid kenaikan 8 mmHg menunjukkan glaukoma
 pressure congestive test kenaikan 9 mmHg atau lebih, mencurigakan .
sedangkan 11 mmHg pasti patologis.

2.9 PENATALAKSANAAN
I. Medikamentosa 6
Harusnya disadari betul, bahwa glaukoma primer merupakan masalah terapi
pengobatan (medical problem). Pemberian pengobatan medikamentosa harus
dilakukan terus-menerus, karena itu sifat obat-obatnya harus mudah diperoleh dan
mempunyai efek sampingnya sekecil-kecilnya. Harus dijelaskan kepada penderita
dan keluarga, bahwa perlu pemeriksaan dan pengobatan seumur hidup. Obat-obat ini
hanya menurunkan tekanan intraokularnya, tetapi tidak menyembuhkan penyakitnya.
Minum sebaiknya sedikit-sedikit. Tak ada bukti bahwa tembakau dan alkohol dapat
mempengaruhi glaukoma.

Obat-obat yang dipakai :

15
1.Parasimpatomimetik : miotikum, memperbesar outflow
a. Pilokarpin 2-4%, 3-6 dd 1 tetes sehari
b. Eserin ¼-1/2 %, 3-6 dd 1 tetes sehari
Kalau dapat pemberiannya disesuaikan dengan variasi diurnal, yaitu diteteskan pada
waktu tekanan intraokular menaik. Eserin sebagai salep mata dapat diberikan malam
hari.
Efek samping dari obat-obat ini; meskipun dengan dosis yang dianjurkan hanya
sedikit yang diabsorbsi kedalam sirkulasi sistemik, dapat terjadi mual dan nyeri
abdomen. Dengan dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan : keringat yang
berlebihan, salivasi, tremor, bradikardi, hipotensi.

2. Simpatomimetik : mengurangi produksi humor akueus.


Epinefrin 0,5%-2%, 2 dd 1 tetes sehari.
Efek samping : pingsan, menggigil, berkeringat, sakit kepala, hipertensi.

3. Beta-blocker (penghambat beta), menghambat produksi humor akueus.


Timolol maleat 0,25-0,5% 1-2 dd tetes, sehari.
Efek samping : hipotensi, bradikardi, sinkop, halusinasi, kambuhnya asma, payah
jantung kongestif. Nadi harus diawasi terus. Pada wanita hamil, harus
dipertimbangkan dulu masak-masak sebelum memberikannya. Pemberian pada anak
belum dapat dipelajari.
Obat ini tidak atau hanya sedikit, menimbulkan perubahan pupil, gangguan visus,
gangguan produksi air mata, hiperemi. Dapat diberikan bersama dengan miotikum.
Ternyata dosis yang lebih tinggi dari 0,5% dua kali sehari satu tetes, tidak
menyebabkan penurunan tekanan intraokular yang lebih lanjut.

4. Carbon anhydrase inhibitor (penghambat karbonanhidrase), menghambat produksi


humor akueus.
Asetazolamide 250 mg, 4 dd 1 tablet ( diamox, glaupax).
Pada pemberian obat ini timbul poliuria
Efek samping : anoreksi, muntah, mengantuk, trombositopeni, granulositopeni,
kelainan ginjal.

16
Obat-obat ini biasanya diberikan satu persatu atau kalau perlu dapat dikombinasi.
Kalau tidak berhasil, dapat dinaikkan frekwensi penetesannya atau prosentase
obatnya, ditambah dengan obat tetes yang lain atau tablet.
Monitoring semacam inilah yang mengharuskan penderita glaukoma sudut terbuka
selalu dikelola oleh dokter dan perlu pemeriksaan yang teratur.

II. Operasi 8
Pada umumnya operasi ditangguhkan selama mungkin dan baru dilakukan bila :
1. tekanan intraokular tak dapat dipertahankan dibawah 22 mmHg
2. lapang pandangan terus mengecil
3. orang sakit tak dapat dipercaya tentang pemakaian obatnya
4. tidak mampu membeli obat
5. tak tersedia obat-obat yang diperlukan
Prinsip operasi : fistulasi, membuat jalan baru untuk mengeluarkan humor akueus,
oleh karena jalan yang normal tak dapat dipakai lagi.
Pembedahan pada glaukoma :
1. Bedah filtrasi
Bedah filtrasi dilakukan tanpa perlu pasien dirawat dengan memberi anestesi
lokal kadang-kadang sedikit obat tidur.
Dengan memakai alat sangat halus diangkat sebagian kecil sklera sehingga
terbentuk suatu lubang. Melalui celah sclera yang dibentuk cairan mata akan keluar
sehingga tekanan bola mata berkurang, yang kemudian diserap di bawah konjungtiva.
Pasca bedah pasien harus memakai penutup mata dan mata yang dibedah tidak boleh
kena air. Untuk sementara pasien pascabedah glaukoma dilarang bekerja berat.
2. Trabekulektomi
Pada glaukoma masalahnya adalah terdapatnya hambatan filtrasi
(pengeluaran ) cairan mata keluar bola mata yang tertimbun dalam mata sehingga
tekanan bola mata naik.
Bedah trabekulektomi merupakan teknik bedah untuk mengalirkan cairan
melalui saluran yang ada. Pada trabekulektomi ini cairan mata tetap terbentuk normal
akan tetapi pengaliran keluarnya dipercepat atau salurannya diperluas.
Bedah trabekulektomi membuat katup sklera sehingga cairan mata keluar dan
masuk di bawah konjungtiva. Untuk mencegah jaringan parut yang terbentuk

17
diberikan 5 fluoruracil atau mitomisin. Dapat dibuat lubang filtrasi yang besar
sehingga tekanan bola mata sangat menurun.
Pembedahan ini memakan waktu tidak lebih dari 30 menit. Setelah
pembedahan perlu diamati 4-6 minggu pertama. Untuk melihat keadaan tekanan mata
setelah pembedahan.

3. Bedah filtrasi dengan implan


Pada saat ini dikenal juga operasi dengan menanam bahan penolong
pengaliran (implant urgary).
Pada keadaan tertentu adalah tidak mungkin untuk membuat filtrasi secara
umum sehingga perlu dibuatkan saluran buatan (artificial) yang ditanamkan ke dalam
mata untuk drainase cairan keluar.
Beberapa ahli berusaha membuat alat yang dapat mempercepat keluarnya
cairan dari bilik mata depan.
Upaya di dalam membuat ini adalah :
 Dapat mengeluarkan cairan mata yang berlebihan.
 Keluarnya tidak hanya dalam jumlah dan persentase.
 Mengatur tekanan maksimum, minimum optimal, seperti hidrostat.
 Tahan terhadap kemungkinan penutupan
 Minimal terjadinya hipotensi
 Desain yang menghindarkan migrasi dan infeksi.
 Bersifat atraumatik.
4. Siklodestruksi
Tindakan ini adalah mengurangkan produksi cairan mata oleh badan siliar
yang masuk ke dalam bola mata. Diketahui bahwa cairan mata ini dikeluarkan
terutama oleh pembuluh darah di badan siliar dalam bola mata. Pada siklodestruksi
dilakukan pengrusakan sebagian badan siliar sehingga pembentukan cairan mata
berkurang.
Tindakan ini jarang dilakukan karena biasanya tindakan bedah utama adalah
bedah filtrasi.

18
2.10 PROGNOSIS 5
Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan glaukoma, pada
kebanyakan kasus glaukoma dapat dikendalikan. Glaukoma dapat dirawat dengan
obat tetes mata, tablet, operasi laser atau operasi mata. Menurunkan tekanan pada
mata dapat mencegah kerusakan penglihatan lebih lanjut. Oleh karena itu semakin
dini deteksi glaukoma maka akan semakin besar tingkat kesuksesan pencegahan
kerusakan mata.

19
BAB III
KESIMPULAN

• Glaukoma adalah suatu penyakit dimana gambaran klinik yang lengkap ditandai
oleh peninggian tekanan intraokular, penggaungan dan degenerasi papil saraf optik
serta dapat menimbulkan skotoma ( kehilangn lapangan pandang).

• Glaukoma sudut terbuka adalah glaukoma yang penyebabnya tidak ditemukan


dan ditandai dengan sudut bilik mata depan yang terbuka. Glaukoma sudut terbuka ini
diagnosisnya dibuat bila ditemukan glaukoma pada kedua mata pada pemeriksaan
pertama, tanpa ditemukan kelainan yang dapat merupakan penyebab.

• Glaukoma disebut sebagai “ pencuri penglihatan “ karena berkembang tanpa


ditandai dengan gejala yang nyata. Oleh karena itu, separuh dari penderita glaukoma
tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit tersebut. Biasanya nanti diketahui
disaat penyakitnya sudah lanjut dan telah kehilangan penglihatan.

• Glaukoma sudut terbuka perlu diwaspadai pada orang : usia 40 tahun atau lebih,
penderita diabetes mellitus, dalam keluarga ada penderita glaukoma, miopia tinggi.

• Pemeriksaan glaukoma yaitu : pemeriksaan tekanan bola mata ( tonometri


Schiotz, tonometri aplanasi, tonometri digital ), gonioskopi, oftalmoskopi,
pemeriksaan lapang pandangan, tes provokasi.
• Penatalaksanaan glaukoma dilakukan dengan 2 cara yaitu : medikamentosa dan
operatif.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan, D.G. Asbury, T. Riodan-Eva, P. Glaukoma. dalam : Oftalmologi


Umum, ed. Suyono Joko, edisi 14, Jakarta, Widya Medika, 2000, hal : 220-
232
2. Yulia, glaucoma, diunduh dari http://fkuii.org/tiki-index.php?=Glaukoma2,
dipublikasikan 3 Desember 2006.
3. Ilyas Sidartha, dkk. Glaukoma. dalam: Ilmu Penyakit Mata, edisi 3,
Jakarta,Balai Penerbit FKUI, 2002, hal 212-217.
4. Anonim, Glaukoma, diunduh dari
http://www.medicastore.com/images/glaucoma.jpg&imgreful , dipublikasikan
tahun 2004.
5. Anonim, Glaukoma, diunduh dari
http://www.klinikmatanusantara.com/glaukoma.php , dipublikasikan Tahun
2006.
6. Wijaya Nana. Glaukoma. dalam : Ilmu Penyakit Mata, ed. Wijaya Nana, cet.6,
Jakarta, Abadi Tegal, 1993, hal : 219-232.
7. Anonim, Macam-Macam Penyakit, diunduh dari
http://www.pfizerpeduli.com/pfizer , dipublikasikan Tahun 2007.
8. Ilyas, Sidarta, Glaukoma. edisi 3, Jakarta, Sagung Seto, 2007, hal 57-60, 121-
139.

21