Anda di halaman 1dari 2

Seri 078

Taujihat Pekanan Rekayasa Indonesia


‫بسم اهلل الرمحن الرحيم‬
Makna Sebuah Amanah P
﴾٢٧﴿ ً
‫ت وَاْألَسِ ِ وَالْبِاَبِأَبَيَنِ َينَىحَمِوِلَْناَب وَنَشِفَقْيَهِِناَب وَحَوََلاَباْإلًِسَبإىِإًَّإ اَبَى لَلماهجب َهاإا ج‬
ِ ‫ِإًَّب عَشَضْنَباْألَهَبًََة عَلَى السَّوَبوَا‬
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka
semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. Al-
Ahzab 73)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari firman Allah SWT di atas, diantara hikmah-
hikmahnya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa amanah merupakah sesuatu yang sesungguhnya “sangat berat” karena segala
amanah, kelak semuanya akan dimintai pertanggung jawabann, sekecil apapun amanah
tersebut. Namun kenyataannya justru kebanyakan manusia merasa bahwa amanah merupakah
sebuah “anugerah” atau “rizki”, atau menganggapnya sebagai bentuk kemuliaan, sehingga manusia
justru merasa senang dan tersanjung ketika mendapatkan sebuah amanah. Misalnya seseorang
yang mendapatkan amanah untuk menjadi pemimpin, baik pemimpin dalam bidang politik, sosial,
ekonomi ataupun yang lainnya. Sebagian manusia bahkan “merayakan” dengan pesta dan nuansa
kesenangan ketika mendapatkan amanah tersebut, serta sedikit sekali yang menyesal serta
menangis ketika mendapatkan amanah. Oleh karena itulah, Allah SWT menyifati manusia yang
“tertipu” dengan gemerlapnya amanah sebagai orang-orang yang zalim dan bodoh, sebagaimana
digambarkan dalam ayat di atas.
2. Amanah berasal dari kata ( ‫“ ) أمن – يأمن – أمنا وأمانة‬a-mu-na – ya„munu – amnan wa
amanatan” yang artinya jujur atau dapat dipercaya. Secara bahasa, amanah dapat diartikan
dengan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Amanah juga berarti titipan (al-wadi’ah),
kepercayaan, pertaruhan, kesetiaan, lurus, dan sebagainya. Dengan kata lain amanah adalah
sesuatu yang diserahkan kepada seseorang untuk disimpan, dijaga dan dipelihara, baik berupa
harta, rahasia, pekerjaan ataupun yang selainnya. Seseorang yang menjaga dan memelihara
amanah dengan baik disebut dengan “al-amin”. Sedangkan lawan kata dari amanah adalah
khiyanah. Khiyanah atau khianat adalah sifat orang yang tidak melaksanakan atau tidak
menunaikan amanah. Orang yang khianat terhadap amanah yang diberikan padanya, disebut “al-
kha’in”. Dan khianat merupakan salah satu ciri mendasar orang munafik, na’udzubillah min dzalik.
3. Amanah merambah pada aspek yang cukup luas dalam kehidupan manusia. Para ulama
membagi amanah dengan pembagian yang beragam, diantaranya terdapat ulama ada yang
mengklasifikasikan amanah menjadi dua bahagian besar, yaitu :
1. Amanah dari Allah, atau amanah yang Allah berikan secara langsung kepada manusia.
Diantara amanah klasifikasi ini adalah :
a. Amanah fitrah, yaitu sebuah amanah untuk senantiasa tegak dan istiqamah di atas tauhid
kepada Allah. Ini merupakah perjanjian yang agung, sebagaimana yang Allah amanahkan
kepada manusia :
ِ‫شِاذًَِبنَىجَقمالمااْحَاِمَالْقِنَبهَةِإًَِّب امنَّب عَي‬
َ ‫ساِنِ نلَسِثَيِشَيِّكمنِقَبلمااْيَلَى‬
ِ ‫شَا َذهإنِ عَلَىنًَفم‬
ِ َ‫سهِنِ رمسِّحَّحَاإنِ وَن‬
ِ ‫وَإِرْنَ َخزَ سَيُّكَهِييَنِي آدَمَهِي ملاإا‬

﴾١٢٧﴿ َ‫َهزَا غَبأِِلني‬


“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?"
Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian
itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-
orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS. Al-A’raf : 172)
b. Amanah Syari‟ah (Ad-Din), yaitu amanah untuk senantiasa tunduk dan patuh pada
aturan dan hukum Allah SWT (baca ; syariah) dengan memenuhi segala perintah-Nya serta
menjauhi segala larangan-Nya. Allah SWT berfirman :
﴾٠٣﴿ َ‫شةَ اللَِّالَّحِيأَطَشَ النَّبسَ عَلَِناَب ًَجَِاذِحلَلِخَلْقِ اللَِّ رَلِكَ الذِّحيإالْقَنِّنإ ولَكِيَّنَاْثَشَ النَّبسِ ًَحَعِلَوإاى‬
َ ْ‫أَبَقِنِ وَ ِهاَكَلِلذِّحيِ حَنِنفبجأِط‬
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang
telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama
yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum : 30)
c. Amanah pancaindera (al-hawasi); yaitu amanah berupa anggota tubuh dan panca
indera kita yang merupakan anugerah Allah SWT. Panca indera ini seyogianya digunakan
untuk hal-hal yang baik dan dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT, dan bukan untuk
Seri 078
Taujihat Pekanan Rekayasa Indonesia
melakukan perbuatan dosa atau kemaksiatan kepada Allah SWT.
﴾٧٢﴿ َ‫شَاذإ عَلَِناِنِنَلْسِنَمحاإنِ وَنَحِذِحاِنِ وَنَسِهإملاإنيِوَب اَبًمااحَعِوَلماى‬
ِ َ‫حَاِمَج‬
“Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang
dahulu mereka kerjakan.” (QS. An-Nur : 24)
2. Amanah antara sesama manusia, yaitu amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban
oleh Allah SWT, namun amanah ini juga memiliki unsur hak sesama manusia (baca : haqqun
adamiyun). Diantara yang masuk dalam amanah dalam kategori ini adalah sebagai berikut :
a. Amanah yang berkaitan dengan hak dan kewajiban, seperti hak dan kewajiban
sebagai seorang muslim, hak dan kewajiban sebagai seorang warga negara, hak dan
kewajiban sebagai seorang karyawan, amanah sebagai seorang pedagang, dsb. Bahwa
segala hak dan kewajibannya akan dimintai petanggung jawaban, baik oleh pemberi
amanah di dunia maupun oleh Allah SWt.
﴾١٣١﴿ َ‫لشاَبدَِةأَنإنَاِّئمكمنيِوَب امنحمنِجَعِوَلماى‬
َّ ‫وَقملِ اعِوَلماْاأَسَنَشَى اللّإ عَوَلَكمنِ وَسَسإالمإ وَالْوإؤِهِنإاىَ وَسَحمشَدُّوىَإِلَى عَبلِنِالْغَنِبِ وَا‬
Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan
melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang
ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS. At-
Taubah : 105)
b. Amanah yang berkaitan dengan harta benda; seperti dari mana ia memperoleh harta
bendanya tersebut, bagaimana mempergunakannya, kemana menginvestasikannya, apakah
dikeluarkan zakatnya. Atau juga dalam aspek harta orang lain, apakah ia menjaga dan
memeliharanya dengan baik, tidak mengambil atau memakannya, dsb. Dalam sebuah
riwayat
‫آد َم يَ ْوَم ال ِْقَي َام ِة ِم ْن ِعْن ِد َربِِّو َحتَّى يُ ْسأ ََل َع ْن َخ ْمس‬
َ ‫ول قَ َد ُم ابْ ِن‬
ُ ‫ال ََل تَ ُز‬َ َ‫صلَّى اللَّ ُو َعلَْي ِو َو َسلَّ َم ق‬ ِ
َ ‫ َع ْن النَّبِ ِّي‬،ُ‫َع ْن ابْ ِن َم ْس ُعود َرض َي اللُ َعْنو‬
)‫يما َعلِ َم (رواه الترمذي‬ ِ ِ ِ ِ ِِ ِ ِِ ِِ
َ ‫يم أَنْ َف َقوُ َوَماذَا َعم َل ف‬ َ ‫سَبوُ َوف‬َ ‫يم أَبََْل ُه َوَمالو م ْن أَيْ َن ا ْكَت‬ َ ‫َع ْن ُع ُم ِره ف‬
َ ‫يم أَف َْناهُ َو َع ْن َشَبابو ف‬
Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan dapat bergerak tapak kaki anak
cucu Adam pada hari kiamat di sisi Allah SWT, hingga ia ditanya tentang lima perkara ; umurnya
untuk apa dihabiskannya, masa mudahnya digunakan untuk apa, hartanya dari mana ia
memperolehnya, kemana ia belanjakannya, dan ilmunya apakah diamalkannya? (HR. Turmudzi).
c. Amanah yang berkaitan dengan keluarga dan rumah tangga. Karena keluarga
merupakan sesuatu yang harus dijaga dan dipelihara. Seorang anak dapat menuntut orang
tuanya, apabila ia tidak diberikan bimbingan agama yang baik oleh orangtuanya, tidak
diajarkan untuk shalat, tidak diperintahkan untuk memakai jilbab, dsb. Dalam sebuah
riwayat disebutkan :
،‫ول َع ْن َر ِعيَّتِ ِو‬ ِِ ِ ُ ‫صلَّى اللَّوُ َعلَْي ِو َو َسلَّ َم يَ ُق‬
ٌ ُ‫ول ُكلُّ ُك ْم َر ٍاع َوُكلُّ ُك ْم َم ْسئ‬
ُ ‫ اْ ِإل َم‬،‫ول َع ْن َرعيَّتو‬
ٌ ‫ام َر ٍاع َوَم ْسُئ‬ ِ َ ‫َن رس‬
َ ‫ول اللَّو‬
ِ
ُ َ َّ ‫َع ْن ابْ ِن ُع َمَر َرض َي اللَّوُ َعْن ُه َما أ‬
)‫ (رواه البخاري‬،...‫ول َع ْن َر ِعيَّتِ ِو‬ ٌ ُ‫الر ُج ُل َر ٍاع ِِف أ َْىلِ ِو َوُى َو َم ْسئ‬
َّ ‫َو‬
Dari Abdullah bin Umar ra, Rasulullah SAW bersabda. “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap
kalian akan dimintai pertanggung jawaban dari apa yang dipimpinnya. Seorang Imam (pimpinan)
adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggung jawaban dari apa yang dipimpinnya. Seorang laki-
laki adalah pemimpin di keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang
dipimpinnya. (HR. Bukhari)
d. Amanah yang berkaitan dengan kedudukan dan tanggung jawab, seperti ketika
diberi amanah untuk menjadi pemimpin, baik dalam konteks politik, ekonomi, sosial,
maupun yang lainnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda ;
ِ ِ ِ ِ ِ ٌّ َ‫وت و ُىو غ‬ ُ ‫َما ِم ْن َعْبد يَ ْستَ ْر ِع ِيو اللَّوُ َر ِعيَّةً يَ ُم‬
َ ‫اش ل َرعيَّتو إِ ََّل َح َّرَم اللَّوُ َعلَْيو ال‬
)‫ْجنَّةَ (رواه مسلم‬ َ َ ُ ‫وت يَ ْوَم يَ ُم‬
“Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan amanah untuk memimpin rakyatnya, lalu ia meninggal
dunia sedangkan ia dalam kondisi berbuat curang terhadap raknyatnya, melainkan Allah SWT akan
haramkan baginya surga.” (HR. Muslim)
4. Bahwa beratnya amanah bukan berarti bahwa kita tidak boleh memikul sebuah amanah.
Amanah memang memiliki resiko dan konsekwensi, namun di sisi yang lain amanah juga
merupakan peluang untuk mendapatkan benefit yang mulia, baik di dunia maupun di akhirat. Di
dunia, seroang yang amanah akan mendapatkan kesuksesan secara duniawi, sementara di akhirat
ia akan mendapatkan benefit ukhrawi yang mempesona, yaitu mendapatkan jannatul ma’wa..
Maka marilah kita pikul sebaik mungkin, apapun amanah yang telah diamanahkan kepada kita.
Semoga kita semua termasuk orang yang amanah, serta terhindar dari sifat khiyanah…

Wallahu A’lam bis Shawab


By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag