Anda di halaman 1dari 25

PROPOSAL SKRIPSI

KEEFEKTIFAN PENERAPAN METODE SIMULASI


UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
DI KELAS XI SEMESTER II MA HIDAYATUL UMMAH BRINGIN
DALAM BELAJAR KONSEP SISTEM GERAK PADA MANUSIA

OLEH

NAMA : M. ARIFIN
NPM : 1103070002
ANGKTAN : 2007

PROGRAM STUDI ILMU BIOLOGI


FUKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI RONGGOLAWE ( UNIROW ) TUBAN
2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat allah swt atas karunia taufik dan hidayahnya sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Penerapan Metode Simulasi
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Di Kelas XI Semester II MA
Hidayatul Ummah Bringin Dalam Belajar Konsep Sistem Gerak Pada Manusia ”
proposal skripsi ini disusun untuk mengikuti ujian akir guna memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan Biologi Di Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas PGRI Ronggolawe Tuban.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan proposal skripsi ini tidak
mungkin terwujud tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh

1
karena itu dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:
1. Rektor Universitas PGRI Ronggolawe ( Unirow ) Tuban atas kesempatan
yang diberikan kepada penulis untuk menyelesaikan studi di UNIROW.
2. Dekan FKIP Universitas PGRI Ronggolawe Tuban yang telah memberikan
kemudahan administrasi dalam penyusunan proposal skripsi ini.
3. Ketua Jurusan Biologi yang telah membantu kelancaran administrasi untuk
menyelesaikan proposal skripsi.
4. Ibu. Dra,Wahyu M.Si selaku dosen pembimbing yang telah banyak
memberikan bimbingan, saran, petunjuk, dan dorongan sehingga penulis
dapat menyelesaikan proposal skripsi ini.
5. Ibu Dra. Aditya Marianti, M.Si selaku penguji utama yang telah banyak
memberikan arahan, masukan, saran, dan petunjuk sehingga penulis dapat
menyempurnakan proposal skripsi ini.
6. Kepala Sekolah MA Hidayatul Ummah Bringin, yang telah memberikan
kesempatan dan kemudahan kepada penulis ketika penulis mengadakan
penelitian.
7. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
memberikan bantuan dan dorongan baik materiil maupun spiritual sehingga
proposal skripsi ini dapat terselesaikan. Semoga proposal skripsi ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak.

Tuban, Janu 2011

Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ........................................................... ................ i
KATA PENGANTAR .......................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................ iii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................. .............................. 1
B. Permasalahan .................................................... ............................... 4
C. Penegasan Istilah ............................................... .............................. 4
D. Cara Pemecahan Masalah ................................. .............................. .5
E. Tujuan Penelitian .............................................. .............................. .5
F. Manfaat Penelitian ............................................ .............................. .5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Pustaka
1. Belajar dan Pembelajaran ............................ .............................. 7
2. Metode Simulasi ......................................... .............................. 7
3. Peran Media dalam Pembelajaran ............... .............................. 11
4. Hasil Belajar ................................................ .............................. 13
5. Pembelajaran Konsep Sistem Peredaran Darah Manusia .......... 14
B. Hipotesis ............................................................ .............................. 15

2
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel ......................................... .............................. 16
B. Variabel Penelitian ............................................ .............................. 17
C. Rancangan Penelitian ........................................ .............................. 17
D. Prosedur Penelitian ........................................... .............................. 17
E. Data dan Cara Pengumpulan Data .................... .............................. 26
F. Metode Analisis Data ........................................ .............................. 27
G. Indikator Keberhasilan ...................................... .............................. 32
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ................................................. .............................. 33
B. Pembahasan ....................................................... .............................. 41
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ........................................................... .............................. 56
B. Saran .................................................................. .............................. 56
DAFTAR PUSTAKA ......................................................... ................. 57
LAMPIRAN-LAMPIRAN .................................................. ................ 59

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses belajar mengajar Biologi tidak selamanya berjalan efektif, karena
masih ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan belajar Biologi.
Berdasarkan hasil angket yang diisi oleh siswa Kelas XI Semester II MA
Hidayatul Ummah Bringin tahun pelajaran 2008/2009 dapat diketahui bahwa
sebanyak 95,12% siswa kesulitan memahami konsep yang berkaitan dengan
proses di dalam tubuh. Hal ini disebabkan guru dalam menyampaikan materi
kurang adanya variasi metode dan media pembelajaran, sehingga proses
pembelajaran terkesan monoton dan kurang melibatkan siswa secara aktif.
Hasil angket menunjukkan bahwa 90,24% siswa tidak puas dengan metode
yang digunakan guru selama ini, yaitu metode ceramah. Penggunaan metode
ceramah bukannya tidak diperlukan tetapi apabila dikombinasikan dengan
metode yang lain akan membuat siswa lebih paham dalam menerima materi.
Penggunaan metode ceramah dalam pembelajaran belum memberikan hasil
yang optimal. Hal ini terlihat dari data hasil observasi awal di MA Hidayatul
Ummah Bringin bahwa nilai untuk Konsep Sistem Gerak Manusia relative
lebih rendah dari konsep lain yang sudah dipelajari. Hal ini dapat dilihat dari
nilai ulangan harian untuk tahun ajaran 2008/2009, nilai rata-rata siswa kelas
II pada konsep Sistem gerak Manusia di MA Hidayatul Ummah Bringin
berturut-turut untuk kelas II A: 5,2; II B: 5,5. Hasil belajar ini menunjukkan
bahwa tingkat pemahaman siswa masih perlu ditingkatkan.
Konsep Sistem Gerak Manusia termasuk salah satu konsep yang ada dalam
GBPP IPA Biologi kelas XI. Konsep Sistem Gerak Manusia membutuhkan
taraf berfikir secara abstrak. Sebab konsep tersebut berhubungan dengan
proses- proses di dalam tubuh yang tidak dapat diamati secara langsung.
Berdasarkan informasi dari guru IPA Biologi di MA Hidayatul Ummah
Bringin pada umumnya metode yang digunakan dalam pembelajaran Sistem
Konsep Sistem Gerak Manusia adalah metode ceramah. Sekolah saat ini
mengembangkan program Manajemen Berbasis Sekolah, dalam rangka
meningkatkan mutu pembelajaran, yang salah satu komponennya adalah
PAKEM. PAKEM adalah kependekan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan yang dapat dilaksanakan antara lain melalui
strategi permainan.
Menurut Saptono (2003: 24) berbagai macam permainan yang dikenal siswa
dapat diintegrasikan dalam pokok bahasan Biologi baik pada jenjang SMP
maupun SMA, sehingga akan tercipta pembelajaran yang menyenangkan
(joyfull learning).
Ada berbagai model permainan yang dapat digunakan dalam pembelajaran.
Salah satu diantaranya adalah model simulasi. Simulasi merupakan suatu

3
pembelajaran dengan cara bermain peran (Anonim, 1998: 20). Metode
simulasi merupakan suatu model pembelajaran yang dapat menciptakan
suasana yang menyenangkan sehingga para siswa terdorong untuk
berpartisipasi dalam pembelajaran.
Pembelajaran dengan metode simulasi menggunakan media bantu berupa
kartu peran (apron) yaitu karton bertuliskan nama peran yang dikalungkan
pada siswa sesuai perannya (Saptono, 2003: 42). Penggunaan kartu peran
sebagai salah satu media pembantu dalam belajar sangat menunjang. Apalagi
diperankan sehingga berkesan hidup, bergerak serta dapat diamati langsung,
sehingga membantu siswa dalam menganalogikan dengan organ yang terlibat
pada peristiwa yang diperankan. Menurut Kong Fu Tse seorang filosof Cina
bahwa "apa yang ku dengar aku lupa, apa yang ku lihat aku ingat, dan apa
yang ku lakukan aku paham".
Untuk mengetahui keefektifan dari penerapan metode pembelajaran Biologi
yang bervariasi, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul ”
Keefektifan Penerapan Metode Simulasi Pada Konsep Sistem Peredaran
Darah Manusia di Kelas XI Semester I MA Hidayatul Ummah Bringin”.
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang timbul dalam
penelitian ini adalah apakah pembelajaran dengan penerapan metode simulasi
lebih efektif dari pada metode ceramah pada konsep Sistem Peredaran Darah
Manusia di kelas XI semester I MA Hidayatul Ummah Bringin?
C. Penegasan Istilah
Keefektifan
Keefektifan berasal dari kata efektif yang berarti ada efeknya
(pengaruhnya, akibatnya, hasilnya, kesannya) terhadap suatu tindakan/usaha.
(Depdiknas, 2002a: 300). Keefektifan dalam penelitian ini adalah
keberhasilan suatu tindakan/usaha yaitu keberhasilan pembelajaran yang
dilihat dari hasil belajar dan keaktifan siswa.
Metode Simulasi
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau
berbuat seolah-olah. Kata simulation artinya tiruan atau perbuatan yang pura-
pura. Dengan demikian simulasi dalam metode mengajar dimaksudkan
sebagai cara untuk menjelaskan sesuatu (bahan pelajaran) melalui perbuatan
yang bersifat pura-pura atau melalui proses tingkah laku imitasi, atau bermain
peran mengenai suatu tingkah laku yang dilakukan seolah-olah dalam keadaan
yang sebenarnya (Sudjana, 2000: 89).
Konsep Sistem Gerak pada manusia adalah salah satu konsep mata
pelajaran sains yang diajarkan pada siswa kelas XI semester I.
D. Cara Pemecahan Masalah
Upaya untuk menyelesaikan masalah adalah dengan menerapkan metode
simulasi. Pembelajaran dengan metode simulasi mengikutsertakan siswa

2
dengan berperan sebagai organ/jaringan seperti yang terjadi pada tubuh
manusia. Hal ini sangat penting, karena ketidakaktifan siswa dalam KBM
dapat mengakibatkan siswa menjadi malas berfikir dan merasa bosan.
Penerapan metode simulasi diharapkan minat siswa dalam mempelajari
konsep-konsep Biologi akan meningkat, sehingga hasil belajar tercapai
dengan optimal.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan penggunaan
metode simulasi pada konsep Konsep Sistem Gerak Manusia di kelas XI
semester I MA Hidayatul Ummah Bringin.

F. Manfaat Penelitian

Bagi Siswa
Meningkatkan hasil belajar siswa konsep Konsep Sistem Gerak Manusia.
Meningkatkan keaktifan siswa selama pembelajaran.
Bagi Guru
Membantu guru dalam menciptakan suatu kegiatan belajar yang menarik
dan memberikan alternatif model pembelajaran yang dapat dilakukan
guru dalam proses pembelajaran.
Bagi Sekolah
Memberikan kontribusi kepada sekolah dalam rangka perbaikan proses
pembelajaran Biologi sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka

1. Belajar dan Pembelajaran


Belajar sebagai suatu proses yang terjadi karena adanya usaha untuk
mengadakan perubahan terhadap diri manusia yang melakukan, dengan
maksud memperoleh perubahan dalam dirinya, baik berupa pengetahuan,
ketrampilan ataupun sikap (Arikunto, 1990: 19). Menurut W.S. Winkel
(dalam Darsono, dkk, 2000: 4) belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis
yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang
menghasilkan peningkatan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai
sikap. Kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar
secara umum adalah terjadinya perubahan pada diri seseorang yang belajar.
Di dalam peristiwa belajar selalu ada usaha berupa latihan.
Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian
rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik (Darsono,
dkk, 2000: 24). Jadi pembelajaran dapat diartikan sebagai perubahan dalam
kemampuan, sikap atau perilaku siswa yang relatif permanen sebagai akibat
dari pengalaman/pelatihan.
2. Metode Simulasi
Simulasi dalam metode mengajar dimaksudkan sebagai cara untuk
menjelaskan sesuatu (bahan pelajaran) melalui perbuatan yang bersifat
purapura atau melalui proses tingkah laku imitasi, atau bermain peranan
mengenai suatu tingkah laku yang dilakukan seolah-olah dalam keadaan yang
sebenarnya (Sudjana, 2000: 89). Menurut Suparman (dalam Suwono, dan
Andari, 1999: 24) metode simulasi menampilkan simbol-simbol atau
peralatan yang menggantikan proses, kejadian atau benda yang sebenarnya.

2
Metode simulasi terutama dipakai untuk menjelaskan proses atau kejadian
yang tidak dapat diamati secara langsung atau yang diprediksi akan terjadi.
Kejadian atau proses analogis yang dimunculkan dalam simulasi akan
memudahkan siswa untuk memahami proses atau kejadian sebenarnya yang
tidak dapat diamati secara langsung.
Simulasi merupakan jenis permainan yang cukup menyenangkan. Selain
siswa harus memainkan peran tertentu, melalui permainan ini siswa juga
dapat mengembangkan kemampuan bersosialisasi dengan temannya. Apron
(karton bertuliskan nama peran) yang dikalungkan pada siswa sesuai perannya
digunakan untuk memperjelas peran seorang siswa (Saptono, 2003: 42).
Menurut Roestiyah (2001: 22) teknik simulasi baik sekali digunakan karena:
1. Menyenangkan siswa.
2. Menggalakkan guru untuk mengembangkan kreativitas siswa.
3. Memungkinkan eksperimen berlangsung tanpa memerlukan
lingkungan yang sebenarnya.
4. Mengurangi hal-hal yang verbalistis atau abstrak.
5. Tidak memerlukan pengarahan yang pelik dan mendalam.
6. Menimbulkan semacam interaksi antarsiswa, yang member
kemungkinan timbulnya keutuhan dan kegotongroyongan serta
kekeluargaan yang sehat.
7. Menimbulkan respon yang positif dari siswa yang lamban/kurang
cakap.
Menumbuhkan cara berfikir yang kritis. Teknik ini baik dan memiliki
keunggulan, tetapi masih juga mempunyai kelemahan, yaitu:
Sebagian besar siswa yang tidak bermain peran dapat menjadi kurang
aktif.
Banyak memakan waktu, baik persiapan dalam rangka pemahaman isi
maupun pada pelaksanaannya.
Memerlukan tempat yang cukup luas, jika tempat bermain sempit
menjadi kurang bebas.
Sering kelas lain terganggu oleh suara para pemain dan penonton yang
kadang bertepuk tangan dan tertawa. Bila guru mampu mengurangi
kelemahan-kelemahan itu, maka pelaksanaan teknik simulasi akan
berhasil.
Menurut Joyce dan Weil (dalam Sukamto, 1997: 50), proses pembelajaran
dengan simulasi memiliki tahap-tahap sebagai berikut:
Tahap pertama, adalah tahap orientasi yang meliputi menyajikan topic
yang akan disimulasikan, menjelaskan prinsip simulasi dan memberikan
gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi.

2
Tahap kedua, merupakan tahapan latihan bagi peserta simualsi. Pada
tahap ini meliputi membuat skenario (menentukan peranan) dan mencoba
dengan singkat kegiatan simulasi.
Tahap ketiga, yaitu tahap inti (proses simulasi). Pada tahap ini ada
beberapa kegiatan yang dilakukan oleh para pemain peran simuasi.
Tahap keempat, disebut juga tahap pemantapan/debricfing. Ada beberapa
kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini yaitu memberikan penjelasan
mengenai kegiatan yang telah dilakukan, memberi penjelasan mengenai
kesulitan-kesulitan dan wawasan para siswa, menganalisis proses,
membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata dan
menghubungkan proses simulasi dengan isi pelajaran. Pada kegiatan
akhir pembelajaran siswa diberi kesempatan membuat simpulan sendiri
mengenai hal yang telah disimulasikan, maka siswa akan menjadi lebih
aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan simulasi (Anonim,
2002a: 5-6), yaitu:
• Faktor yang menunjang
1). Tidak bertentangan dengan hakikat manusia sebagai makhluk bermain
(Homo Luden), dimana manusia cenderung untuk memperoleh
kesegaran moril dengan menikmati permainan yang ada. Kesegaran ini
diperoleh dari karakteristik yang ada dalam setiap permainan,
termasuk permainan simulasi, yaitu menarik, memikat, penuh variasi,
dan menggairahkan.
2). Praktis: permainan simulasi sangat mudah dilaksanakan karena
peraturan-peraturan permainannya dapat dicerna oleh siapa saja.
3). Ekonomis: sarana untuk menyelenggarakan simulasi sangat murah
dan mudah didapat.
Faktor yang menghambat Kurang memadainya keterampilan pemimpin
simulasi dalam menumbuhkan gairah untuk berdiskusi. Oleh karena itu
perencanaan yang matang perlu dilakukan.
• Hasil yang diharapkan
1). Perubahan sikap mental yaitu berani menyatakan pendapat,
berargumentasi, berani menjawab.
2). Dapat menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan
berpikir.

1
3. Peran Media dalam Pembelajaran
Pembelajaran dengan metode simulasi digunakan media bantu berupa kartu
peran (apron) yaitu sepotong kertas berukuran tertentu yang memuat nama
peran yang harus dimainkan, dan dipakai sebagai identitas dengan
dikalungkan (Saptono, 2003: 42).
Dale (dalam Sadiman, 1993: 85) memandang bahwa nilai media dalam
pengajaran diklasifikasikan berdasar pengalaman. Pengalaman itu mempunyai
12 tingkatan. Tingkatan yang paling tinggi nilainya adalah pengalaman yang
paling konkret, sedangkan yang paling rendah adalah pengalaman yang paling
abstrak. Klasifikasi pengalaman tersebut dibuat dalam bentuk kerucut
pengalaman (the cone experience) seperti pada gambar 1 berikut:
Keterangan :
1.Simbol Verbal
2.Simbol Visual
3.Radio dan Kaset
Gambar Diam
Gambar Bergerak
Televisi Pendidikan
Eksitisi
Karyawisata
Demonstrasi
Pengalaman yang didramatisasi
Pengalaman yang disimulasi
Pengalaman Langsung
8
1
2
3
4
5
6
7
9
10
11
12

(Dale, dalam Sadiman 1993:85)


Gambar 1. Diagram Kerucut Pengalaman (The Cone of Experience)
Berdasarkan kerucut pengalaman Dale, pengalaman yang paling tinggi adalah
pengalaman langsung yaitu pengalaman yang diperoleh dari hasil kontak
langsung dengan lingkungan, objek binatang, manusia, dan sebagainya
dengan cara melakukan langsung. Pengalaman yang disimulasi adalah
pengalaman yang diperoleh dari kontak melalui model benda tiruan/simulasi.
Pengalaman yang didramatisasi yaitu pengalaman yang diperoleh melalui
permainan (permainan pengajaran) sandiwara boneka, permainan peran

1
sosial/psikologis. Demonstrasi yaitu pengalaman yang diperoleh melalui
pertunjukkan karya wisata melalui kunjungan museum, kebun binatang,
kantor pemerintahan. Televisi pendidikan melalui siaran-siaran pendidikan.
Gambar bergerak melalui gambar/film hidup atau bioskop. Gambar diam
melalui gambar mati, slide/fotografi. Radio dan kaset melalui kaset/radio
pendidikan. Simbol visual melalui simbol yang dapat dilihat seperti grafik,
bagan, atau diagram. Simbol verbal diperoleh melaiui penuturan kata-kata
(Dale, dalam Sadiman 1993:85).
4. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar
setelah mengalami aktivitas belajar. Menurut Gagne (dalam Djiwandono,
1989: 205), hasil belajar dapat dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu sebagai
berikut:
Informasi verbal yaitu tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang yang
dapat diungkapkan melalui bahasa lisan maupun tertulis kepada orang lain.
✔ Kemahiran intelektual yaitu kemampuan seseorang untuk berhubungan
dengan lingkungannya dan dengan dirinya sendiri.
✔ Pengetahuan kegiatan kognitif yaitu kemampuan yang dapat
menyalurkan dan mengarahkan aktifitas kognitifnya sendiri, khususnya
bila sedang belajar dan berfikir.
✔ Ketrampilan motorik yaitu seorang yang mampu melakukan suatu
rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu dengan mengadakan
koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu.
✔ Sikap yaitu kesiapan dan kesediaan seseorang untuk menerima/menolak
sesuatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu.
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh 2 faktor utama yaitu faktor
dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor
lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang
dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap
hasil belajar yang dicapai. Di samping faktor kemampuan yang dimiliki
siswa, juga ada faktor lain seperti motivasi belajar, ketekunan, sosial
ekonomi, factor fisik dan psikis (Sudjana, 2000: 39).
5. Pembelajaran Konsep Sistem Peredaran Darah pada Manusia
Berdasarkan Kurikulum SMP 2004, konsep Sistem Peredaran Darah pada
Manusia merupakan salah satu konsep yang diajarkan di kelas VIII semester
II. Konsep ini mempelajari tentang macam organ penyusun Sistem Peredaran
Darah pada Manusia, fungsi jantung, pembuluh darah dan darah dalam sistem
peredaran darah, mendata contoh penyakit yang berhubungan dengan dengan
sistem peredaran darah yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan
upaya mengatasinya.
Kompetensi dasar yang ada dalam silabus SMP, disebutkan bahwa dari
konsep sistem peredaran darah pada manusia adalah siswa mampu
mendeskripsikan sistem peredaran darah pada manusia dan hubungannya
dengan kesehatan. Sedangkan indikator yang harus dicapai oleh siswa dalam

2
konsep Sistem Peredaran Darah Manusia adalah membandingkan macam
organ penyusun sistem peredaran darah pada manusia, menjelaskan fungsi
jantung, pembuluh darah dan darah dalam sistem peredaran darah, dan
mendata contoh penyakit yang berhubungan dengan sistem peredaran darah
yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan upaya mengatasinya.
B. Hipotesis
Berdasarkan pendahuluan dan tinjauan pustaka maka hipotesis dalam
penelitian ini adalah pembelajaran dengan metode simulasi lebih efektif dari
pada pembelajaran dengan metode ceramah.

BAB III

2
METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel

Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII
MTs Hidayatul Ummah Bringin tahun ajaran 2006/2007 yang sedang
menempuh semester II. Jumlah populasi seluruhnya 364 siswa yang terbagi
dalam 7 kelas. Menurut Arikunto (2002a: 120), jika jumlah subjeknya kurang
dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan
penelitian populasi, sedangkan apabila lebih dari 100 dapat diambil 10-15%
atau 20-25% atau lebih.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, maka sampel dalam penelitian ini
diambil 25% dari jumlah populasi yaitu sebanyak 91 siswa yang terbagi
dalam 2 kelas yaitu sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen. Dua kelas
tersebut dipilih secara purposive sample yaitu dengan memilih kelas yang
hasil belajarnya lebih rendah dari kelas lain dan keaktifan siswanya kurang.
Menggunakan cara ini karena diharapkan dapat menunjukkan adanya
peningkatan terhadap hasil belajar dan keaktifan siswa dibandingkan sebelum
perlakuan.
B. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini adalah :
✔ Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penerapan metode simulasi
dan metode ceramah pada konsep sistem peredaran darah manusia.
✔ Variabel terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa kelas
VIII MTs Hidayatul Ummah Bringin yang di dalamnya termasuk
keaktifan siswa.
C. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Pre-test, Post-test Desain yang
disajikan dalam tabel 1 berikut ini:
Tabel 1. Rancangan Pelaksanaan Penelitian kelas Pengukuran (tes awal)
Perlakuan Pengukuran (tes akhir)
Eksperimen T0 X1 T1
Kontrol T0 X2 T1
Keterangan :
X1: Pembelajaran dengan metode simulasi T0: Tes awal
X2: Pembelajaran dengan metode ceramah T1: Tes akhir
D. Prosedur Penelitian
1. Persiapan Penelitian
Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan adalah:

1
○ Melaksanakan observasi awal untuk identifikasi masalah dan
analisis akar penyebab masalah melalui pengamatan proses
pembelajaran di kelas.
○ Peneliti bersama dengan guru bidang studi berkolaborasi
menentukan tindakan yang tepat melalui metode simulasi dalam
pembelajaran konsep sistem peredaran darah manusia.
○ Peneliti bekerjasama dengan guru bidang studi untuk menyusun
instrument penelitian, berupa silabus, RP, LKS, dan alat evaluasi
berupa soal-soal.
○ Menyusun lembar observasi siswa dan guru, kuesioner tanggapan
siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
○ Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam proses
pembelajaran.
○ Melakukan uji coba soal yang akan digunakan sebagai alat ukur
hasil belajar siswa.
Uji coba soal dilakukan terhadap siswa kelas IX yang telah mendapat konsep
sistem peredaran darah manusia. Soal yang dapat digunakan sebagai alat ukur
yaitu soal-soal yang valid, reliabel, dan mempunyai daya pembeda cukup,
baik, atau baik sekali. Soal-soal yang tidak valid dan mempunyai daya
pembeda jelek tidak dapat digunakan.
a. Validitas
Validitas tiap soal dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi product
moment dengan angka kasar sebagai berikut:

rxy= { ( ) }{ ( ) } 2 2 2 2
( )( )
ΣΣΣΣ
ΣΣΣ
−−

NXXNYY
N XY X Y
Keterangan:
rxy = validitas tes
N = jumlah peserta tes

1
Σ X = jumlah skor butir soal
Σ X 2 = jumlah kuadrat skor butir soal
ΣY = jumlah skor total
ΣY 2 = jumlah kuadrat skor total
Σ XY = jumlah perkalian skor butir soal dengan skor total
(Arikunto, 2002a: 72).
Variabel yang dikorelasikan adalah jawaban responden tiap item dikorelasikan
skor total yang diperoleh tiap responden. Selanjutnya nilai rxy yang diperoleh
masing-masing soal dikonsultasikan dengan nilai tabel r product moment dengan
taraf signifikan 5 %. Jika rxy > r tabel maka soal tersebut adalah valid.
Hasilnya:
Soal-soal yang termasuk kategori valid pada lampiran 20
adalah soal dengan nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11,
12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 23, 24, 25, 27, 28,
29, 30, 32, 34, 35, 36, 37, 39, 40, dan 42.
Soal-soal yang termasuk kategori valid pada lampiran 20
adalah soal dengan nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11,
12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 23, 24, 25, 27, 28,
29, 30, 32, 34, 35, 36, 37, 39, 40, dan 42.
Soal-soal yang termasuk kategori tidak valid pada
lampiran 20 adalah soal dengan nomor 22, 26, 31, 33, 38,
41, 43, 44, dan 45.
Hasil perhitungan soal yang dipakai adalah soal dengan nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,
8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 23, 24, 25, 27, 28, 29, 30, 32, 34,
35, 36, 37, 39, 40, dan 42.
Sedangkan soal yang tidak dipakai adalah soal dengan nomor 21, 22, 26, 31, 33,
38, 41, 43, 44, dan 45. Perhitungan validitas dapat dilihat pada
lampiran 21.
b. Reliabilitas
Penentuan reliabilitas atau keterandalan alat ukur dalam penelitian ini
menggunakan rumus K-R20 adalah sebagai berikut:.
r11 =
⎭⎬⎫
⎩⎨⎧

2

⎭⎬⎫
⎩⎨⎧

Σ
Vt
Vt pq
k
k
1
Keterangan:
r11 = reliabilitas instrument
k = banyaknya butir soal
p = proporsi siswa yang menjawab benar tiap butir soal
q = proporsi siswa yang menjawab salah tiap butir soal
Vt = Varians total
(Arikunto, 2002b: 163).
Proses selanjutnya hasil r reliabilitas dikonsultasikan dengan r tabel.
Apabila 11 r > r tabel maka dikatakan instrumen tersebut reliabel.
Hasil perhitungan diperoleh nilai reliabilitas soal sebesar 0, 910 > rtabel
= 0, 312 yang berarti soal tersebut reliabel. Perhitungan reliabilitas disajikan pada

lampiran 22.
c. Tingkat kesukaran soal
Rumus yang digunakan menentukan taraf kesukaran soal adalah :
P=
JS
B
Keterangan:
P = indeks kesukaran
B = banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS = jumlah seluruh siswa peserta tes
Klasifikasi indeks kesukaran butir soal adalah sebagai berikut:
Soal dengan P 0,00 – 0,30 = soal sukar
Soal dengan P 0,31 – 0,70 = soal sedang

3
Soal dengan P 0,71 – 1,00 = soal mudah
(Daryanto, 1997: 182).
Hasil perhitungan indeks kesukaran soal diperoleh dengan cara mengkorelasikan
skor total jawaban benar dengan jumlah siswa. Setelah didapatkan nilai indeks
kesukaran dikonsultasikan dengan kriteria indek kesukaran yang berdasar pada
interval indek kesukaran
Hasilnya:
Soal-soal dengan kategori sukar pada lampiran 20 dengan
nomor 2, 12, 16, 22, dan 29.
Soal-soal dengan kategori sedang pada lampiran 20
dengan nomor 1, 5, 15, 21, 23, 25, 26, 27, 30, 31, 32, 33,
34, 36, 37, 38, 39, 41, 42, 44, dan 45.
Soal-soal dengan kategori mudah pada lampiran 20
dengan nomor 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 14, 17, 18, 19,
24, 28, 35, 40, dan 43.
Perhitungan tingkat kesukaran dapat dilihat pada lampiran 23.
d. Daya pembeda soal
Rumus yang digunakan adalah :
D=
JB
BB
JA
BA −
Keterangan :
D = daya pembeda
JA = banyaknya peserta kelompok atas
JB = banyaknya peserta kelompok bawah
BA = banyaknya jawaban benar dari kelompok atas
BB = banyaknya jawaban benar dari kelompok bawah
Klasifikasi daya pembeda adalah sebagai berikut:
D = 0, 00 – 0, 20 = soal jelek
D = 0, 21 – 0,40 = soal cukup
D = 0, 41 – 0, 70 = soal baik
D = 0, 71 – 1, 00 = soal baik sekali
(Daryanto, 1997: 186).

4
Hasil perhitungan daya pembeda soal diperoleh hampir sama dengan perhitungan
tingkat kesukaran soal, yaitu dengan mengkorelasikan skor total jawaban yang
benar dengan jumlah siswa kelompok atas. Setelah didapatkan nilai daya
pembeda kemudian dikonsultasikan dengan kriteria daya pembeda yang berdasar
pada interval daya pembeda.
Hasilnya:
1. Soal yang termasuk kategori baik pada lampiran 20 adalah soal dengan nomor
5, 7, 15, 25, 27, 37, dan 42.
2. Soal yang termasuk kategori cukup pada lampiran 20 adalah soal dengan
nomor 1, 2, 3, 4, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 20, 22, 23, 24, 28, 29,
30, 32, 33, 34, 35, 36, 39, dan 40.
3. Soal yang termasuk kategori jelek pada lampiran 20 adalah soal dengan nomor
21, 26, 31, 38, 41, 43, 44, dan 45.
Perhitungan daya pembeda dapat dilihat pada lampiran 24.
2. Langkah-Langkah Penelitian
Penelitian memuat 3 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan,
observasi.
Perencanaan
1). Memilih unit percobaan secara purposive sample.
2). Membagi unit percobaan atas dua kelompok.
Kelompok satu sebagai kelompok eksperimen sedangkan
yang lain sebagai kelompok kontrol.
3). Menyiapkan RP, menyiapkan LKS, menyiapkan media
pembelajaran, menyiapkan alat evaluasi, menyiapkan
lembar observasi, dan menyiapkan kuesioner tanggapan
siswa.
Pelaksanaan Penelitian telah dilaksanakan di SMP N 1
Dukuhturi Tegal dengan 2 kelas sebagai sampel
penelitian, satu sebagai kelompok eksperimen dan satu
sebagai kelompok kontrol. Pada prinsipnya, kedua
kelompok melaksanakan kegiatan pembelajaran melalui
tiga tahap kegiatan yaitu tes awal, pembelajaran, dan tes
akhir. Tes awal digunakan untuk mengetahui kemampuan
dasar siswa tentang Sistem Peredaran Darah Manusia
sebelum diadakan pembelajaran dan tes akhir digunakan
untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti
pembelajaran. Perbedaan pembelajaran yang mendasar
antarkedua kelompok yaitu penggunaan metode dalam

5
proses pembelajarannya. Pada kelas eksperimen
digunakan metode simulasi pada pembelajarannya,
sedangkan pada kelas kontrol proses pembelajarannya
menggunakan metode ceramah. Waktu yang digunakan
dalam pembelajaran dari kedua kelas tersebut relatif
sama yaitu 1 kali pertemuan untuk tes awal, 4 kali
pertemuan untuk pembelajaran, dan 1 kali pertemuan
untuk tes akhir. Setelah kedua kelas diberi tes awal dan
tes
akhir kemudian dihitung rata-rata hasil belajar untuk
masing-masing kelas serta membandingkannya secara
statistik.
1). Proses pembelajaran pada kelas eksperimen
Pertemuan I dilakukan tes awal untuk mengetahui kondisi awal siswa. Pada akhir
pertemuan I guru memberikan penjelasan tentang metode simualsi yang
digunakan untuk membahas organ dan fungsi organ pada Sistem Peredaran
Darah Manusia pada pertemuan II. Tiap kelompok akan memainkan
peran dengan naskah yang sama. Tiap anggota kelompok akan mendapatkan
peran yang berbeda. Penentuan peran ini dipilih oleh anggota kelompok itu
sendiri. Juga dijelaskan bahwa pada pelaksanaannya ada kegiatan tanya jawab
dan mengemukakan pendapat untuk kelompok yang sedang memainkan peran.
Pada pertemuan II kelas eksperimen dibuat dalam kelompok, setiap kelompok
terdiri dari 7-8 siswa. Sebelum dilaksanakan kegiatan simulasi guru menjelaskan
kembali tentang kegiatan yang akan dilakukan dan mengingatkan kembali bahwa
sesudah kelompok yang ditunjuk memainkan perannya siswa lainnya diberi
kesempatan untuk bertanya/mengemukakan pendapatnya yang ditujukan kepada
kelompok yang maju. Jika kelompok itu mengalami kesulitan guru akan
membantu menjelaskan.
Pada pertemuan III kelas eksperimen dibuat dalam kelompok, setiap
kelompok terdiri dari 7-8 siswa. Pada pertemuan itu juga menggunakan metode
simulasi untuk membahas proses peredaran darah manusia.
Pertemuan IV kelas eksperimen dibuat kelompok, setiap kelompok terdiri dari 7-
8 siswa. Pada pertemuan ini juga menggunakan metode simulasi untuk
membahas peredaran getah bening. Setelah simulasi, siswa melakukan praktikum
penentuan golongan darah dan mendiskusikan proses transfuse darah.

2
Pertemuan V kelas eksperimen dibuat kelompok, setiap kelompok terdiri dari 7-8
siswa. Pada pertemuan ini mendiskusikan penyakit-penyakit pada sistem
peredaran darah manusia.
Pertemuan V1 diadakan tes akhir.
2). Proses pembelajaran pada kelas kontrol
Pertemuan I dilakukan tes awal untuk mengetahui kondisi awal siswa. Pada akhir
pertemuan I guru membagi siswa ke dalam kelompok yang terdiri dari 5-6 orang.
Pertemuan II guru menjelaskan secara garis besar tentang organ dan fungsi organ
penyusun sistem peredaran darah manusia. Kemudian siswa berkelompok pada
kelompoknya masing-masing untuk mendiskusikan LKS yang diberikan oleh
guru.
Pada pertemuan III guru menjelaskan di depan kelas tentang proses peredaran
darah manusia dan melaksanakan tanya jawab pada siswa.
Pada pertemuan IV guru menjelaskan tentang peredaran getah bening dan
golongan darah kemudian siswa berkelompok untuk menyelesaikan LKS yang
diberikan oleh guru tentang transfusi darah.
Pertemuan V guru menjelaskan tentang contoh-contoh penyakit yang
berhubungan dengan sistem peredaran darah manusia.
Pertemuan VI diadakan tes akhir.
c. Observasi
Observer (peneliti dan 3 orang observer) melakukan observasi dan mengamati
jalannya proses pembelajaran di dalam kelas yaitu keaktifan siswa dan kegiatan
guru dengan mengisi lembar observasi, meminta siswa untuk memberikan
tanggapan selama proses pembelajaran berlangsung dengan mengisi kuesioner.
Peneliti menganalisis hasil tes.
E. Data dan Cara Pengumpulan Data
1. Sumber data penelitian
a. Siswa
b. Guru
2. Jenis data
Jenis data yang diperoleh terdiri atas:
a. Hasil belajar siswa
b. Tanggapan siswa pada proses pembelajaran

3
c. Kegiatan siswa selama proses pembelajaran
d. Kegiatan guru dalam menerapkan metode simulasi
3. Cara pengumpulan data
a. Data tentang hasil belajar siswa diambil dengan memberikan tes/evaluasi
kepada siswa secara individual pada akhir pembelajaran.
b. Data tentang tanggapan siswa selama proses pembelajaran diambil
dengan kuesioner.
c. Data tentang aktivitas siswa diambil dengan cara pengamatan selanjutnya
ditulis dalam lembar observasi.
d. Data tentang keterkaitan antara RP dengan pelaksanan proses
pembelajaran diambil melalui lembar observasi kegiatan guru.
F. Metode Analisis Data
1. Data hasil tanggapan siswa
Hasil tanggapan siswa ini dianalisis dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
P = x100%
N
f
Keterangan:
P : Prosentase
F : Banyaknya responden memilih jawaban
N : Banyaknya responden yang menjawab kuesioner
(Sudjana, dan Rivai, 1989: 185).
2. Data hasil aktivitas siswa
Tingkat keaktifan siswa secara klasikal dapat dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:

TK = ΣmuridX 2
FaktorA X100%
Keterangan:
TK : Tingkat Keaktifan
Faktor A : jumlah (siswa pada kategori tingkat keaktifan ringgi X 2, siswa pada
kategori tingkat keaktifan sedang X 1, siswa pada kategori tingkat keaktifan
rendah X 0) (Wragg, 1996: 81).

4
Berdasarkan rumus tersebut maka keaktifan siswa dikelompokkan menjadi 3
macam kategori yaitu tingkat keaktifan tinggi, tingkat keaktifan sedang, dan
tingkat keaktifan rendah. Tingkat keaktifan tinggi ('[') apabila siswa dapat
memenuhi 6-7 macam variabel keaktifan siswa, keaktifan sedang
(S) dapat memenuhi 3-5 macam variabel keaktifan siswa, dan tingkat keaktifan
rendah (R) dapat memenuhi 0-2 macam variabel keaktifan siswa. Variabel-
variabel keaktifan siswa meliputi keikutsertaan siswa dalam mempersiapkan
pelajaran, kegembiraan dalam belajar, kemauan dan
kreativitas dalam belajar, keberanian menyampaikan gagasan dan minat, sikap
kritis dan ingin tahu, kesungguhan bekerja sesuai dengan prosedur, dan
pengembangan penalaran dedutif dan pengembangan penalaran induktif. Data
yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk
melihat peningkatan atau penurunan jumlah siswa yang memenuhi
variabelvariabel keaktifan siswa sebagai pencerminan tingkat keaktifan.
3. Data hasil kegiatan guru
Data hasil kegiatan guru dilakukan dengan menggunakan check list. Jawaban ya
diberi skor 1 dan jawaban tidak diberi skor 0. Jumlah skor dihitung dengan
menggunakan rumus:
S = X100%
N

Σni
Keterangan:
S : Jumlah skor

Σni : jumlah aktivitas guru


N : Jumlah pernyataan
4. Data hasil belajar
a. Uji Normalitas Data
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang digunakan berupa
data yang berdistribusi normal atau tidak. Rumus yang digunakan adalah uji chi
kuadrat, yaitu sebagai berikut :

Σ=

5
=
k
ii
ii
E
xOE
1
2
2 ()
Keterangan :
X2 : Chi kuadrat
Oi : Frekuensi Pengamatan
Ei : Frekuensi yang diharapkan
Jika X2 data < X2
(1-α)(k-1) dari tabel, maka sampel berasal dari populasi

distribusi normal. (Sudjana, 1996: 305).


b. Uji Homogenitas
Uji ini bertujuan untuk menentukan rumus t- tes yang akan digunakan. Adapun
hipotesis yang digunakan adalah :
Ho : Kedua kelompok mempunyai varian yang sama
Hi : Kedua kelompok mempunyai varian berbeda.
Rumus yang digunakan:
F=
Varians terkecil
Varians terbesar
Kemudian nilai F dicocokkan dengan F tabel dengan melihat derajat kebebasan
pembilang n1-1 (untuk sampel 1) dan derajat kebebasan
penyebut n2-1 (untuk sampel 2).
F hitung < F tabel artinya terima Ho.
F hitung > F tabel artinya tolak Ho.
Untuk menguji perbedaan rata - rata terdapat dua rumus uji statistic untuk asumsi
varian, yaitu uji asumsi varian sama dan uji asumsi varian tidak sama.
Untuk asumsi varian sama digunakan rumus t antara lain : Hipotesis yang
digunakan : Ho : 0 1 2 x − x = , yang berarti nilai rata-rata tes kelompok

6
eksperimen sama dengan nilai rata-rata kelompok kontrol. Hi : 0 12 x − x ≠ , yang
berarti ada perbedaan antara nilai rata-rata tes kelompok eksperimen dengan nilai
rata-rata tes kelompok kontrol.
Rumus uji statistik : t =
( 2)
1
1
21
12
snn
xx
+

Dimana :
2
( 1) ( 1)
12
2
22
2
211
+−
−+−
=
nn
snsns
Terima Ho jika -t1– ½ α < t < t1- ½ α, dengan taraf signifikan 5 % dan dk : n1 + n2 -
α.
(Sudjana, 1996: 239).
Dengan hipotesis statistika yang digunakan untuk menentukan keefektifan
pembelajaran adalah sebagai berikut:
Ho : x1 < x2 : hasil belajar siswa pada konsep sistem peredaran darah manusia
setelah menggunakan metode simulasi tidak efektif atau sama dengan

7
menggunakan metode ceramah. Hi : x1 > x2 : hasil belajar siswa pada konsep
sistem peredaran darah manusia setelah menggunakan metode simulasi lebih
efektif daripada menggunakan metode ceramah. Untuk asumsi varian tidak sama
digunakan rumus t’. Hipotesis yang digunakan : Ho : 0 1 2 x − x = vs Hi : 0 1 2 x − x

Rumus uji statistik : t’ =
)
2

2
12
2
1
12
s ns n
xx
+

Terima Ho jika -t1– ½ α < t < t1- ½ α, dengan taraf signifikan 5 % dan dk : n1 + n2 -
α . (Sudjana, 1996: 241).
G. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu:
1. Sekurang-kurangnya 75% dari jumlah siswa terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran. (Mulyasa, 2002: 101).
2. Sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa memperoleh nilai lebih dari atau
sama dengan 65. (Mulyasa, 2002: 99).__