Anda di halaman 1dari 10

KONSEP UNSUR GOLONGAN VI A

Disusun untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah kimia unsur yang diasuh oleh Dra.
Sri Wardhani, M.Si

Disusun Oleh:

KELOMPOK 9

Alvi Hafsah N. (0810923034)

Ayu Choirun Nizak (0810923036)

Dewi Nur Cahyani (0810923038)

Dhodit Putra (0810923040)

Efiria Riskah (0810923042)

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2011
BAB I

PENDAHULUAN

Golongan golongan VI A dalam sistem table periodic disebut juga dengan golongan
oksigen, yang terdiri dari unsur oksigen, sulfur atau belerang, dan selenium yang termasuk ke
dalam non logam, telurium semilogam dan polonium sebagai logam dalam golongan ini.
Titik leleh dan titik didih menunjukkan kecenderungan kenaikan yang khas bagi non logam,
diikuti kecenderungan penurunan yang khas mulai dari logam polonium(Gani, 2009).
Berikut adalah sifat fisik yang dimiliki oleh unsure golongan VI A (Anonimous1,
2010 ):

Property Oxygen Sulphur Selenium Tellurium Polonium

Atomic radius (Ao) 0.73 1.09 1.16 1.35 -

Ionic (M2+) radius (Ao) 1.40 1.85 1.98 2.21 -

Ionization energy (kJ mol-1) 1314 1000 941 869 -

Electronegativity 3.5 2.5 2.4 2.1 2.0

Electron affinity (k.J mol-1) 141.5 208.5 195.5 190.0 -

Melting point (K) 54 392 490 723 527

Boiling Point (K) 90 718 958 1263 1235

Oxidation state -2 -2,+2,+4,+6 2,+2,+4,+6 2,+2,+4,+6 -2, +4

Density (g cm-3) (in solid 1.14 2.07 4.79 6.25 9.4


state)
Secara umum, reaktifitas unsur golongan VI A dari atas kebawah akan menurun.
Penurunan ini sangat berkaitan erat dengan elektronegatifitas dari tiap atom anggotanya.
Atom O, anggota pertama dari golongan ini, mempunyai elektronegativita yang besar.
Sehingga saat ia berikatan dengan unsur logam, persenyawaan oksida logam yang dihasilkan
berupa senyawa ionik. Sedangkan atom S, yang lebih tidak reaktif dari atom O dengan
elektronegatifitas yang lebih kecil pula. Hanya akan berikatan dengan logam – logam dengan
reaktifitas tinggi (mempunyai elektropositif yang besar) misalnya unsur – unsur golongan
alkali, alkali tanah serta beberapa lantanida(Chemsoc, 2011).

BAB II

PERMASALAHAN DAN SOLUSI


1. Mengapa unsur oksigen (O) cenderung stabil membentuk bilangan oksidasi -2.
Sedangkan pada unsur S, Se, Te dan Po menunjukan bilangan oksidasi +2, +4,
dan +6?

Jawab :

Semua unsur pada golongan 6 A pada dasarkan memiliki konfigurasi electron


valensi ns2np4. Sehingga atom pada golongan 6 A lebih memilih untuk memperoleh
atau berbagi electron untuk mencapai kestabilan sesuai konfigurasi gas mulia.

- Oksigen memiliki elektronegativitas paling besar dalam golongan ini, sehingga


daya tarik terhadap electron dari luar menjadi lebih kuat. Selain itu oksigen tidak
memiliki orbital d, pada konfigurasi elektronnya, sehingga electron oksigen tidak
memungkinkan untuk mengalami eksitasi ke orbital d. oksigen akan lebih stabil
jika menerima electron dari luar sebanyak dua, sehingga membentuk anion (-2).

- Tidak seperti oksigen, elemen S, Se, dan Te juga menunjukan bilangan oksidasi
-2, + 2, + 4 dan + 6 , hal ini didasari dari kemampuannya untuk mempromosikan
electron ke orbital d. Namun pada elemen S, Se, dan Te terbentuknya bilangan
oksdidasi -2 hanya terjadi jika saat membentuk senyawa dengan unsur yang sangat
elektropositif. Contohnya pada groundstate sulfur (S), mempunyai 2 elektron tak
berpasangan yang dapat membentuk 2 ikatan. Hal ini menyebabkan S membentuk
bilangan oksidasi +2. Selanjutnya saat salah satu pasangan electron pada orbital p
dipromosikan ke orbital d, maka akan menghasilkan 4 elektron tak berpasangan
yang dapat digunakan untuk berikatan. Hal ini menyebabkan S membentuk
bilangan oksidasi +4. Dan selanjutnya, pada saat eksitasi salah satu electron dari
orbital 3s ke orbital d, maka dihasilkan 6 elektron tak berpasangan. Hal ini
menghasilkan bilangan oksidasi +6 bagi S.
Referensi:

Anonimous1, 2010, OXIDATION STATES,


http://www.tutorvista.com/content/chemistry/chemistry-iv/p-block-
elements/oxidation-states.php, diakses tanggal 1 april 2011

2. Mengapa Sulfur dapat membentuk alotropi yang lebih stabil dibandingkan


oksigen?

Jawab :

Kemampuan suatu unsur dapat membentuk alotropi yang stabil dapat dilihat
dari kemampuan unsur tersebut berkatenasi. Dimana katenasi adalah ikatan antara
atom kalkogen yang sama dan baik zat sederhana maupun ion kalkogen yang
memiliki berbagai struktur.
Kemampuan katenasi sulfur besar karena ikatan sigma yang kecil akibat jarak
ikatan yang besar. Namun sebaliknya, unsur oksigen memiliki jarak ikatan yang kecil
sehingga ikatan sigma yang terbentuk besar. Besar tidaknya jarak ikatan sangat
dipengaruhi oleh ukuran atau jari-jari dari unsur S dan O itu sendiri. Semakin besar
jari-jari maka ikatan terhadap pasangan electron ikatan akan semakin lemah dan
akibatnya jaraknya semkain jauh.
Berikut adalah katenasi pada oksigen dan sufur:
Polyoxides : H2O2, H - O - O - H

Polysulphides :H2S2, H-S-S-H

H2S3, H-S-S-S-H

H2S, H-S-S-S-S-H

Gambar. ikatan antara S dan O dengan H


Karena kelektronegativan belerang (χ = 2.58) lebih kecil dari oksigen (χ = 3.44) dan
belerang adalah unsur yang lunak, derajat ion ikatan senyawa belerang rendah dan
ikatan hidrogen senyawa belerang tidak terlalu besar. Unsur belerang memiliki
banyak alotrop, seperti S2, S3, S6, S7, S8, S9, S10, S11, S12, S18, S20, dan S∞, yang
mencerminkan kemampuan katenasi atom belerang.

Gambar. Alotrop oksigen dan sulfur


Referensi:
Saito, Taro., 2009, Khalkogen dan khalkogenida, http:// chem-is-
try.org/khalkogendankhalkogenida, diakses tanggal 1 april 2011
Anonimous2, 2011, THE ELEMENT SULFUR: STRUCTURE AND CHEMICAL
PROPERTIES, http://www.green-planet-solar-energy.com/the-
element-sulfur.html, diakses tanggal 1 april 2011
Anonimous1, 2010, PHYSICAL CHARACTERISTICS GROUP 16 ELEMENT,
http://www.tutorvista.com/content/chemistry/chemistry-iv/p-block-
elements/chalcogens-physical-properties.php, diakses tanggal 1 april
2011
3. Ozon (O3) merupakan salah satu alotrop dari oksigen, bagaimanakah proses
pembentukan ozon di alam?

Jawaban :

Ozon terbentuk melalui ikatan kovalen atara atom O penyusunnya. Ozon tidaklah stabil
dan mudah terdekomposisi membentuk O2. O3 mempunyai struktur yang kaku, dengan
sudut ikatan O-O-O 116,048’ dan panjang ikatang kedua O-O adalah 1.28 angstrom. Pada
O3 terdapat 18 elektron pada kulit valensi, yaitu terdiri dari 6 elektron dari setiap
atomnya. O3 memiliki bentuk molekul seperti huruf V, dimana ikatannya digambarkan
dengan atom O pusat terhibridisasi sp2, berikatan dengan 2 atom O yang berada di ujung
dan memiliki 1 PEB. Jika diasumsikan bahwa atom O ujung juga menggunakan orbital
atom sp2, maka akan terdapat 2 PEB pada kedua atom ujung. Sehingga total elektron
yang tidak berpasangan berjumlah 10 (5 PEB), dengan 4 elektron yang digunakan untuk
berikatan sigma (dari atom O pusat). Maka tinggallah 4 elektron untuk membentuk ikatan
ŋ. Orbital 2pz dari masing – masing atom disediakan untuk membentuk ikatan ŋ.
Ketiganya tersusun atas orbital atom dengan tingkat energi rendah, tingkat energi
menengah dan tingkat energy tinggi. Berturut - turut, orbital anti-bonding,orbital non-
bonding dan orbital bonding. 2 pasang elektron yang disiapkan untuk membentuk ikatan
ŋ tadi akan menempati orbital dengan tingkat energi yang paling rendah, yaitu orbital
bonding. 2 elektron lainnya menempati orbital anti-bonding. Elektron – elektron ŋ
tersebut, akan mengalami delokalisasi pada ikatan ŋ. Untuk itulah molekul ozon kurang
stabil dan mudah terdekomposisi. Struktur ozon digambarkan dengan 1 ikatan ŋ dengan
struktur resonansi yang menggambarkan adanya delokalisasi elektron .

Referensi:
Anonimous1, 2010, OXIDATION STATES,
http://www.tutorvista.com/content/chemistry/chemistry-iv/p-block-
elements/oxidation-states.php, diakses tanggal 1 april 2011

Silampari, 2008, MANFAAT DAN BAHAYA OZON,


http://ozonsilampari.wordpress.com/tag/proses-terjadinya/, diakses tanggal 1 april
2011

4. Mengapa hidrida dari unsur-unsur golongan 6 A, semakin ke bawah dalam satu


golongan sudut ikat hidridanya semakin kecil?

Semua unsur golongan 6 A membentuk hidrida yaitu H2O, H2S, H2Se, H2Te dan H2Po.
Semua hidrida terebut memiliki struktur angular yang menunjukan hibridisasi sp3.
Hidrida unsur golongan 6 A mengalami penurunan sudut ikat sebagai berikut:
• H2O : 104.5o
• H2S : 92.1o
• H2Se : 91o
• H2Te : 90o

Berikut adalah struktur angular dari H2O, jika dilihat terjadi penurunan sudut ikat
antara hidrida saat beikatan dengan unsur-unsur golongan 6 A. penurunan sudut ini
dikarenakan, semakin bawah ukuran atom pusat ikatan semakin besar dari usur O ke
Te, naiknya ukuran ini menyebabkan elektronegatifitasnya semakin turun. Akibat
kemampuan untuk menarik electron dari luar semakin kecil, maka atom H akan
semakin tidak tertarik oleh atom pusat sehingga pasangan electron ikatan jaraknya
semakin jauh. Contohnya jarak antara O-H lebih pendek daripada S-H . Makin
jauhnya atom H dengan atom pusat maka tolakan antar pasangan electron ikatan akan
semakin lemah. Hal ini yang menyebabkan sudut ikatnya semakin kecil.

Referensi:
Anonimous1, 2010, PHYSICAL CHARACTERISTICS GROUP 16 ELEMENT,
http://www.tutorvista.com/content/chemistry/chemistry-iv/p-block-
elements/chemical-properties-hydrides.php

5. Mengapa O2 mempunyai sifat paramagnetic sedangkan O3 mempunyai sifat


diagmagnetik ?
Pada dioksigen O2 dalam keadaan dasar memiliki dua spin yang tidak paralel
atau tidak berpasangan dalam orbital molekulnya, menunjukkan sifat paramagnetic,
disebut oksigen triplet. Saat berbentuk O3, maka oksigen keadaan standart akan
mengalami eksitasi sehingga spinnya berpasangan dan dioksigen menjadi tripel
oksigen yang bersifat diamagnetic, disebut oksigen singlet. Oksigen singlet sangat
penting untuk sintesis kimia, sebab oksigen singlet ini memiliki kereaktifan
karakteristik. Oksigen singlet dihasilkan dalam larutan dengan reaksi transfer energi
dari kompleks yang teraktivasi oleh cahaya atau dengan pirolisis ozonida (senyawa
O3).

O2 =

O3 =

Referensi:

Chemsoc, 2011, CHEMICAL DATA,


http://www.rsc.org/chemsoc/visualelements/pages/data/intro_groupvi_dat
a.html, diakses tanggal 1 April 2011

Anonimous3 ,GROUP 16,THE OXYGEN GROUP,


http://www.worldofteaching.com/powerpoints/chemistry/group
%2016.ppt, diakses tanggal 1 april 2011
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous1, 2010, OXIDATION STATES,


http://www.tutorvista.com/content/chemistry/chemistry-iv/p-block-
elements/oxidation-states.php, diakses tanggal 1 april 2011

Anonimous1, 2010, PHYSICAL CHARACTERISTICS GROUP 16 ELEMENT,


http://www.tutorvista.com/content/chemistry/chemistry-iv/p-block-
elements/chalcogens-physical-properties.php, diakses tanggal 1 april 2011

Anonimous2, 2011, THE ELEMENT SULFUR: STRUCTURE AND CHEMICAL


PROPERTIES, http://www.green-planet-solar-energy.com/the-element-
sulfur.html, diakses tanggal 1 april 2011
Anonimous3 ,GROUP 16,THE OXYGEN GROUP,
http://www.worldofteaching.com/powerpoints/chemistry/group%2016.ppt,
diakses tanggal 1 april 2011

Chemsoc, 2011, CHEMICAL DATA,


http://www.rsc.org/chemsoc/visualelements/pages/data/intro_groupvi_data.html
, diakses tanggal 1 April 2011

Gani, Dahlia., 2009, GOLONGAN OKSIGEN,


http://www.scribd.com/doc/26832315/Golongan-Oksigen, diakses tanggal 1
April 2011

Saito, Taro., 2009, Khalkogen dan khalkogenida, http:// chem-is-


try.org/khalkogendankhalkogenida, diakses tanggal 1 april 2011

Silampari, 2008, MANFAAT DAN BAHAYA OZON,


http://ozonsilampari.wordpress.com/tag/proses-terjadinya/, diakses tanggal 1 april 2011