Anda di halaman 1dari 50

1

PENGEMBANGAN KAHURA
KOMODITI SENGON - JATI SUPER

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pembangunan hutan rakyat bertujuan untuk rehabilitasi lahan dan
konservasi tanah serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan
hutan rakyat pada awalnya dilakukan dengan proyek kegiatan penghijauan.
Namun setelah masyarakat merasa mendapat keuntungan ekonomi, maka
masyarakat mengembangkan sendiri sehingga terbentuklah sentra-sentra
hutan rakyat. Masyarakat mengembangkan hutan rakyat dengan model yang
berbeda-beda. Pemilihan model tersebut didasarkan pada pengalaman petani
yang diduga berdasarkan kesesuaian jenis dengan lokasi tempat tumbuh,
kebiasaan petani dan pasar kayu. Hutan rakyat telah memperbaiki kondisi
lingkungan, sosial dan ekonomi petani dan masyarakat. Namun demikian,
pengembangan hutan rakyat sangat spesifik sehingga pengembangannya
harus memperhatikan kondisi biofisik, sosial, ekonomi, budaya,
kelembagaan, dan preferensi petani terhadap pola hutan rakyat yang
dikembangkan.
Perkembangan hutan rakyat tidak terlepas dari perkembangan
penanganan lahan kritis. Pada mulanya hutan rakyat diperkenalkan melalui
program Karang Kitri. Hutan rakyat dibangun dan dikembangkan dengan
tujuan untuk menghijaukan pekarangan, talun, dan lahan-lahan rakyat yang
gundul untuk konservasi tanah dan air serta perbaikan lingkungan. Namun
pada perkembangan selanjutnya, hutan rakyat ditujukan pula untuk
perbaikan sosial ekonomi dan pemenuhan kebutuhan bahan baku industri.
Program pembangunan hutan rakyat oleh pemerintah merupakan
usaha untuk mengatasi masalah kerusakan hutan dan erosi yang telah
dimulai sejak tahun 1961, dengan dilaksanakannya program Pekan
Penghijauan Nasional untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
rehabilitasi lahan dan konservasi tanah. Selanjutnya pada kurun waktu tahun
1970-an telah dilaksanakan proyek-proyek konservasi tanah secara vegetatif
berupa pengembangan hutan pada lahan petani yang dikombinasilkan
dengan tanaman pertanian (semusim). Pola ini berkembang sebagai usaha
wanatani (agroforestry) dan pada akhirnya pola ini relatif dominan dalam
pengembangan hutan rakyat selanjutnya. Dilihat dari fungsi dibangunnya
hutan rakyat, maka hutan rakyat merupakan bentuk pengelolaan lahan yang
sangat mempertimbangkan segi kelestarian hasil dan konservasi namun
tetap memberi peluang untuk meningkatkan hasil tanaman, pendapatan, dan
perbaikan kesejahteraan petani. Salah satu dampak dari kegiatan tersebut
adalah berkembangnya sentra-sentra hutan rakyat di berbagai daerah.
Dalam perkembangannya, pembangunan hutan rakyat menghasilkan
berbagai model yang tentunya didasarkan pada pengalaman petani tentang
kesesuaian jenis dengan lingkungan fisik, sosial , budaya, dan ekonomi.
2

Berbagai macam model-model hutan rakyat, peranan hutan rakyat dilihat


dari aspek produksi, sosial, ekonomi dan lingkungan serta hasil analisis
kesesuaian jenis tanaman hutan rakyat di Kabupaten Ponorogo yang
diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
pembangunan hutan rakyat di daerah ini dalam waktu yang akan datang.
Menurut jenis tanamannya, ada tiga macam hutan rakyat yang
diusahakan oleh masyarakat di Kabupaten Ponorogo, yaitu:
(1) Hutan rakyat murni (monoculture), yaitu hutan rakyat yang
hanya terdiri dari satu jenis tanaman pokok berkayu yang
ditanam secara homogen atau monokultur.
(2) Hutan rakyat campuran (polyculture), yaitu hutan rakyat yang
terdiri dari berbagai jenis pohon-pohonan yang ditanam secara
campuran.
(3) Hutan rakyat wana tani (agroforestry), yaitu yang mempunyai
bentuk usaha kombinasi antara kehutanan dengan cabang usaha
tani lainnya seperti tanaman pangan, perkebunan, peternakan,
perikanan, dan lain-lain yang dikembangkan secara terpadu.

Pembangunan sentra hutan rakyat pada hakekatnya adalah kegiatan


awal untuk memacu pembangunan ekonomi di Kabupaten Ponorogo. Secara
bertahap berkembangnya kegiatan produksi pertanian diupayakan untuk
dapat diikuti oleh muncul dan berkembangnya kegiatan-kegiatan ekonomi
terkait, baik secara horizontal maupun vertikal, serta pengadaan jasa-jasa di
sekitarnya sehingga menumbuhkan dinamika perekonomian wilayah.
Kalau kita menyimpan uang di bank sebesar Rp. 5 juta dengan
bunga 10%/tahun maka dalam 7 tahun uang Anda menjadi Rp. 9,7 juta,
karena bunga berbunga. Kalau uang yang Rp. 5 juta itu diinvestasikan
dengan menanam tanaman sengon/albazia falcataria varietas Solomon maka
uang itu akan menjadi Rp. 765 juta atau 2100%/tahun. Dengan modal Rp. 5
juta, dapat menanam tanaman sengon sebanyak 1.000 batang dengan jarak
tanam 3 m x 3 m. Pada tahun ke-3 sudah dapat dipanen berupa kayu
jenjing/sengon dengan melakukan penjarangan sebanyak 500 pohon (50%).
Hasil penjarangan ini dapat dijual dengan harga Rp. 500.000/m3, sehingga
kita peroleh Rp. 62.500.000. Baru tahun ke tiga modal sudah kembali
berlipat-lipat sebanyak 12 kali lipat. Sisanya dibiarkan tumbuh sampai
berumur 7 tahun. Setelah penjarangan jarak tanaman pohon albazia menjadi
6 m x 6 m, pertumbuhan tanaman albazia menjadi sangat cepat.
Agar pembangunan kawasan hutan rakyat dapat berhasil, kegiatan
dan pendanaan yang tersebar secara parsial harus dapat dikoordinasikan dan
dirangkai ke dalam suatu kegiatan yang saling bersambung, membentuk
sistem hutan rakyat yang utuh. Untuk itu koordinasi perencanaan dan
pengendalian sejak di tingkat propinsi hingga tingkat lokasi, yang menjamin
terfokusnya berbagai sumberdaya dan dana untuk pengembangan sentra
dimaksud merupakan aspek yang sangat penting. Sehubungan dengan hal
itu peranan Pemerintah Daerah sebagai penguasa yang mengatur gerak
pembangunan daerah sangat penting.
3

1.2. Tujuan

Pengembangan Kawasan Hutan Rakyat (KAHURA) Sengon - Jati


Super di lahan masyarakat sekitar hutan ini ditujukan untuk menyusun
rencana induk serta rencana operasional multi tahun atas pengembangan
KAHURA, untuk memberi kekuatan awal, memfasilitasi dan memandu
masyarakat dan kelembagaan tradisionalnya setempat dalam melaksanakan
usaha hutan rakyatnya secara ekonomis dan lestari.

1.3. Sasaran
Penyusunan rencana menyeluruh atas lokasi pengembangan
KAHURA Sengon - Jati Super di wilayah Kabupaten Ponorogo ini
diharapkan dapat disepakati oleh instansi terkait seperti PERHUTANI,
PEMDA dan memuat hal-hal sebagai berikut :
a. Rancangan Kawasan Hutan rakyat yang memuat output, target grup
(kelembagaan sosial-tradisional yang ada), manfaat yang dihasilkan,
dilengkapi dengan disain bio-fisik yang relevan (sistem wanatani tiga
strata :
Strata I = Jati Super, Sengon dan Petai,
Strata II = Pohon Buah-buahan,
Strata III = Jagung, ubikayu atau kacang-kacangan.
b. Rencana tahapan kegiatan hingga terwujudnya kawasan dimaksud,
memuat rencana kegiatan sinergis lintas sektor, subsektor, program dan
institusi, beserta volume fisik.
c. Rencana operasional rinci yang harus dilaksanakan oleh masing-
masing pelaku (CLUSTER) terkait, terutama kelompok tani yang telah
ada.
d. Mekanisme koordinasi penyelenggaraan dan pemberdayaan di tingkat
lokasi desa.

1.4. Penetapan Lokasi dan Sasaran Jenis Usaha


Pemilihan lokasi KAHURA Sengon Kabupaten Ponorogo
didasarkan atas ketersediaan lahan, kesesuaian lahan serta agroklimatnya
untuk budidaya tanaman tahunan kesiapan kelembagaan sosial penunjang ,
kesediaan masyarakat dan tersedianya tenaga kerja serta sumberdaya lain
yang membentuk keunggulan komparatif wilayah untuk hutan rakyat.
Pemilihan komoditas utama Jati Super, Sengon dan buah-buahan &
Petai serta komoditas penunjang tanaman pangan (jagung, ubikayu dan
kacang-kacangan) serta jenis usahanya didasarkan atas:
(1). Potensi menghasilkan keuntungan ekonomis, melestarikan hutan jati
dan lahan kering milik masyarakat sekitar,
(2). Produksi pangan dan potensi pemasaran produk-produknya mudah,
(3). Akses sosioteknologi: kesiapan dan penerimaan masyarakat atas usaha
hutan rakyat Jati Super – Petai - Sengon - Jagung,
4

(4) Keunggulan Sengon , Jati Super, dan Petai dalam memanfaatkan dan
melestarikan sumberdaya lahan kering - kritis sekitar hutan.
(5). Kesesuaian sumberdaya lahan dan agroklimat bagi tanaman Sengon,
Petai, Jati Super, Jagung, Ubikayu dan kacang-kacangan

II. KEUNGGULAN KAHURA SENGON- JATI SUPER

Tanaman sengon sudah tidak asing lagi bagi masyarakat pedesaan di


wilayah Kabupaten Ponorogo. Tanaman ini sekarang telah mampu menjadi
penopang ekonomi masyarakat pedesaan karena kemampuan jual (nilai jual)
kayunya cukup tinggi. Harga pasaran kayu sengon per m3 (kubik) yang
telah dipotong berdasar ukuran untuk bahan bangunan dipasaran sudah
berkisar 1-2 juta rupiah, sedangkan yang masih dari kebun atau berbentuk
log per m3 masih di bawahnya, namun tetap saja dari tahun ketahun
harganya naik mengikuti harga lainnya. Harga ini beragam antar tempat
sesuai biaya tebang dan biaya angkut, serta jenis dan kualitas kayu
sengonnya. Kayu log sengon dapat dijadikan bahan "pulp", ranting kayu
untuk kayu bakar, dan daunnya untuk bahan pakan ternak (campuran pakan
ternak), kompos (pupuk hijau daun) memiliki nilai ekonomis.
Seiring dengan laju pembangunan perumahan dan banyaknya rumah
bangunan permanen/semi permanen yang mebutuhkan kayu dalam jumlah
banyak, maka nilai kayu semakin mahal. Pada saat kayu-kayu kelas papan
atas seperti kayu jati, kayu kalimantan, semakin mahal maka kayu sengon
mulai diminati untuk digunakan sebagai bahan bangunan.
Sudah banyak teladan masyarakat pedesaan sukses menjadi jutawan
karena sengon. Padahal sewaktu sengon belum menjadi salah satu kayu
yang diminati masyarakat, kayu sengon masih sekelas kayu bakar, sedikit
yang memanfaatkan untuk bangunan. Pemerintah melalui program
penghijauan telah memasukkan sengon sebagai salah satu tanaman untuk
konservasi. Departemen Kehutanan melalui Balai Rehabilitasi Lahan dan
Konservasi Tanah melaksanakan pemberian bantuan bibit sengon dan
bantuan pemeliharaan kepada petani, budidaya sengon dikembangkan
secara meluas. Kemudian di era otonomi kebijakan ini dilanjutkan oleh
Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah Kabupaten Ponorogo.
Pada saat ini petani sengon sudah mulai merasakan manfaatnya
hutan rakyat sengon. Nilai kayu sengon semakin tinggi sebagai kayu yang
memiliki permintaan pasar tinggi dan permintaan cenderung stabil untuk
jangka waktu lama. Masyarakat sudah tidak malu lagi memakai kayu
sengon untuk bahan bangunan konstruksi ringan, bahkan para pengembang
perumahan rakyat (KPR BTN) di daerah telah memakai sengon untuk bahan
bangunannya.
Sambil menunggu dapat dipanen saat telah berumur 5 tahun s/d 9
tahun, petani dapat menanam tanaman bawah tegakan selama belum siap
panen. Dengan cara ini konservasi tanah tetap dapat terjaga dan ekonomi
5

keluarga tetap terpenuhi.

2.1. Beberapa Permasalahan

Beberapa permasalahan hutan rakyat di wilayah lahan kering


Kabupaten Ponorogo, yang dapat diidentifikasikan saat ini adalah:
(a). Volume produksi dan perdagangan Sengon selama ini mengalami
fluktuasi yang sangat tajam dari waktu ke waktu. Beberapa faktor yang
terkait dengan masalah ini adalah fluktuasi potensial-demand pasar
luar daerah dan domestik ; kendala-kendala kualitas (terutama tentang
jenis/varietas yang paling disukai konsumen); keadaan teknik
penanganan budidaya tanaman dan pascapanen buah; serta kendala-
kendala kontinyuitas dan peningkatan produksi.
(b). Sebagian besar tanaman ditanam penduduk di lahan pekarangan dan
lahan tegalan di sela-sela tanaman lainnya, sehingga total populasi
pohon sangat rapat. Sejumlah besar tanaman buah ditanam pada lokasi
yang tingkat kesesuaian lahannya rendah, terutama dari sudut pandang
agroklimat dan ketinggian tempat.
(c). Alternatif pengembangan kebun Sengon tiga strata pada lahan tegalan
atau perkebunan masih belum meyakinkan masyarakat, apakah
tanaman Sengon - yang diusahakan secara komersial cukup "layak"
(feasible) baik ditinjau dari aspek finansial/ ekonomi,
ekologi/lingkungan, maupun sosio-teknologi.
(d). Biaya investasi untuk pengusahaan Sengon apabila dilakukan secara
komersial (kebun monokultur) cukup besar, sulit terjangkau oleh
individual petani.

2.2. Prospek Pengembangan Hutan rakyat Sengon


Jenis Sengon unggul yang saat ini dijumpai di wilayah Kabupaten
Ponorogo adalah Sengon Super. Sebagai salah satu tumbuhan yang dapat
memperbaiki kesuburan lahan, sengon juga merupakan penghasil kayu yang
produktif. Ketinggian pohon dapat mencapai 25-45 meter. Hingga berumur
5 tahun pertumbuhan tingginya mencapai 4 meter/tahun. Dapat ditebang
setelah berumur 5-9 tahun. Potensi produksi kayunya sebesar 10-40
m3/hektar/tahun, atau 250m3 per hektar. Kayu sengon dapat dimanfatkan
untuk kayu kontruksi/bangunan, peti kemas korek api, pulp, jointed
board/wood working, sawmill, moulding, kerajinan tangan meubelair, kayu
bakar dan arang. Daunnya digunakan sebagai pakan ternak. Di Ambon kulit
batang digunakan untuk penyamak jaring, kadangkadang sebagai pengganti
sabun. Ditanam sebagai pohon pelindung, tanaman hias, reboisasi dan
penghijauan. Kayu sengon mudah pengerjaannya: Mudah digergaji, diserut,
dipahat, dibor, diamplas, dan diplitur, serta tidak mudah pecah kalau
dipaku. Dari seluruh kegunaan tanaman sengon, batang kayunya inilah
yang memiliki nilai kegunaan ekonomis tinggi.
6

Pohon sengon berukuran sedang sampai besar, tinggi dapat


mencapai 40 m, tinggi batang bebas cabang 20 m. Tidak berbanir, kulit
licin, berwarna kelabu muda, bulat agak lurus. Diameter pohon dewasa bisa
mencapai 100 cm atau lebih. Berat jenis kayu rata-rata 0,33 dan termasuk
kelas awet IV - V. Tajuk tanaman berbentuk perisai, jarang, selalu hijau.
Daun majemuk, panjang dapat mencapai 40 cm, terdiri dari 8 - 15 pasang
anak tangkai daun yang berisi 15 - 25 helai daun. Daun sengon tersusun
majemuk menyirip ganda dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah
rontok. Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai berukuran
sekitar 0,5 - 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit berbulu.
Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina,
dengan cara penyerbukan yang dibantu oleh angin atau serangga. Sengon
memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus kedalam tanah, akar
rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan tidak menonjol
kepermukaan tanah. Akar rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat
nitrogen, oleh karena itu tanah disekitar pohon sengon menjadi subur. Buah
sengon berbentuk polong, pipih, tipis, lurus dan tidak bersekat-sekat. Buah
sengon waktu muda berwarna hijau, berubah kuning sampai coklat setelah
masak, panjangnya sekitar 6 - 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 - 30 biji.
Bentuk biji mirip perisai kecil dan jika sudah tua biji akan berwarna coklat
kehitaman,agak keras, dan berlilin. Untuk benih sengon berbentuk pipih,
lonjong, 3 - 4 x 6 - 7 mm, warna hijau, bagian tengah coklat. Jumlah benih
sekitar 40.000 butir/kg dengan daya berkecambah rata-rata 80%. Berat
1.000 butir kurang lebih berkisar 16 ? 26 gram.
Keberhasilan pengembangan Sengon di wilayah Kabupaten
Ponorogo menghadapi beberapa tantangan, yaitu:

(a). Penyediaan bahan pangan bergizi


Pengembangan tanaman Sengon haruslah diarahkan pada lahan kering
kritis (pekarangan, tegalan, kebun campuran, dan hutan rakyat ). Arah
kebijakan ini dipertegas oleh Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Desa yang menggelarkan "gerakan Sengonisasi", yaitu menanam tanaman
Sengon dan Jati Super pada setiap jengkal lahan kritis yang kosong dalam
sistem wanatani.

(b). Pengelolaan lahan kritis


Lahan-lahan kritis di wilayah Kabupaten Ponorogo Jawa Timur sampai
saat ini masih terus memerlukan penanganan yang lebih serius, terutama
yang berada di kawasan lahan masyarakat dan kawasan hutan di sekitarnya.
Kenyataan ini mendorong adanya kebijakan khusus untuk menggerakkan
program penghijauan yang ekonomis. Jenis tanaman yang dianjurkan adalah
Sengon berdampingan dengan Jati Super dan tanaman sela
jagung/ubikayu/kacang-kacangan, karena tanaman ini disamping untuk
tujuan penghijauan sekaligus dapat meningkatkan pendapatan masyarakat .

(c). Respons petani


7

Respon petani untuk menanam Sengon dan Jati Super pada lahan kering
(pekarangan, tegalan, kebun, dan lahan-lahan terlantar) cukup besar. Untuk
lebih membantu respon penduduk ini diperlukan adanya Kawasan
Pengembangan Hutan rakyat Sengon sebagai sentra untuk menampung dan
menyalurkan hasil-hasil produksi kebun rakyat /hutan rakyat Sengon

(d). Intensifikasi penggunaan lahan


Intensitas penggunaan lahan kering-kritis masih sangat rendah yakni satu
kali setahun (tanam yang ke dua kadang-kadang berhasil dipanen dan
kadang-kadang gagal dipanen karena mengalami kekeringan). Pada musim
kemarau lahan-lahan seperti ini praktis tidak menghasilkan produk,
sehingga lazimnya dikategorikan sebagai lahan "Sleeping Land". Dengan
demikian penanaman Sengon pada lahan seperti ini diharapkan dapat
meningkatkan intensitas produktivitasnya.

(e). Peningkatan pendapatan petani


Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman Sengon memberikan
sejumlah pendapatan keluarga. Kenyataan ini menunjukkan bahwa
apabila pengembangan Sengon diarahkan pada lahan-lahan petani
tersebut diharakan dapat meningkatkan pendapatan petani.

(f). Kesesuaian Sumberdaya Lahan dan Agroklimat bagi Sengon

1. Kondisi Iklim
Temperatur BERKISAR 15-40oC, dan kisaran optimumnya adalah 22 -
28oC; curah hujan berkisar antara 750 - 2500 mm/tahun dengan bulan
kering mencapai 6 bulan.

2. Tanah
Dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah, kedalaman (>50 cm),
konsistensi gembur (lembab), permeabilitas sedang, drainase baik,
tingkat kesuburan sedang, tekstur lempung dan lempung berdebu; pH
tanah berkisar 4.5 - 8.2, dan kisaran optimum pH 5.5 - 7.8
Penurunan hasil dapat terjadi karena salinitas dengan DHL > 1 dS/m.
Penurunan hasil dapat mencapai 50% kalau DHL mencapai 6 dS/m atau
ESP mencapai 20%; dan tidak mampu berproduksi apabila DHL
mencapai 9dS/m. Tanaman memerlukan pupuk yang banyak terutama
pupuk organik pada masa pertumbuhan.

Keberhasilan penanaman sengon sangat dipengaruhi oleh kondisi


biofisik lokasi yang akan ditanami. Seberapa jauh tingkat kesesuaiannya
tergantung dari kecocokan antara persyaratan tumbuh tanaman dengan
kondisi biofisik lokasi penanaman. Kondisi biofisik yang tidak sesuai
dengan persyaratan yang dibutuhkan mengakibatkan pertumbuhan tanaman
akan terganggu, sehingga secara ekonomis tanaman tersebut tidak
menguntungkan. Kabupaten Ponorogo dengan hutan rakyat sengon yang
8

cukup luas, dikenal cukup berhasil dan mendukung ekonomi masyarakat.


Namun demikian setelah dilakukan pengukuran tegakannya ternyata nilai
bonitanya agak rendah yaitu 1,6. Selain itu daerah tersebut sebagian besar
merupakan daerah perbukitan yang mempunyai lereng yang cukup curam
dan curah hujan yang tinggi. Berdasar hasil pengamatan tersebut maka perlu
dikaji secara lebih cermat tingkat kesesuaian lahannya untuk jenis tanaman
sengon (Paraserianthes falcataria). Meskipun secara sosial ekonomi
tanaman sengon ini dapat diterima masyarakat dan juga menguntungkan
serta telah menjadi hutan rakyat sengon, namun informasi tentang
kesesuaian ini penting diketahui. Dengan diketahuinya tingkat kesesuaian
lahan, maka informasi ini dapat digunakan untuk dasar pertimbangan secara
teknis bagi pengembangan hutan rakyat sengon di Ponorogo. Tingkat
kesesuaian lahan ini juga akan ditunjukkan oleh produktivitas kayu (riap
volume) dalam kurun waktu tertentu. Suatu jenis tanaman dapat dapat hidup
meskipun produktivitasnya rendah, tetapi di sini dapat masuk pada kelas
tidak sesuai, tergantung dari faktor-faktor dalam menentukan kelas
kesesuaian lahan. Meskipun secara fisik tidak sesuai tetapi kenyataannya
secara sosial dapat dianggap sesuai.
Sengon memiliki sebaran alami yang sangat luas, tanaman ini
banyak ditanam di daerah tropis, merupakan species pionir, terutama
terdapat di hutan hujan dataran rendah sekunder atau hutan pegunungan
rendah.
Tanaman Sengon dapat tumbuh baik pada tanah regosol, aluvial, dan latosol
yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu dengan kemasaman
tanah sekitar pH 6-7. Sengon dapat tumbuh mulai dari pantai hingga pada
lahan berketinggian 1.800 mdpl (0 s/d 1.800 m diatas permukaan laut).
Ketinggian lahan yang optimum untuk tumbuh sengon 0 s/d 800 mdpl.
Tanaman ini dapat beradaptasi dengan iklim monsoon dan lembab dengan
curah hujan 200-2700 mm/th dengan bulan kering sampai 4 bulan. Dapat
ditanam pada lahan yang tidak subur tanpa dipupuk.

4. Persyaratan penggunaan lahan untuk Sengon :

Persyaratan penggunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan:


Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N
TEMPERATUR (tc):
Temperatur rataan (oC) 22-28 18-22 15-18 <15
28-34 34-40 >40
KETERSEDIAAN AIR (wa)
Curah hujan, mm/th 1250-1750 1750-2000 750-1000 <750
1000-1250 2000-2500 >2500
KELEMBABAN UDARA (%) >42 36-42 30-36 <30
Ketersediaan oksigen (oa): Baik - Agak Terhambat, Sangat
Drainase Agak baik terhambat agak cepat terhambat -
Cepat
MEDIA PERAKARAN (rc):
Tekstur ah; s ak h k
Bahan kasar (%) <15 15-35 35-55 >55
9

Kedalaman tanah (cm) >100 75-100 50-75 <50


Gambut:
Ketebalan, cm <60 60-140 140-200 >200
+ dgn sisipan/pengkayaan <140 140-200 200-400 >400
Kematangan Saprik+ Saprik Hemik Fibrik
Hemik+ Fibrik+
RETENSI HARA (nr):
KTK liat, cmol >16 <= 16
Kejenuhan Basa , % >35 20-35 <20
pH H2O 5.5-7.8 5.0-5.5 <5.0
7.8-8.0 >8.0
C-organik, % >1.2 0.8-1.2 <0.8
TOKSISITAS (xc):
Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8
SODOSITAS (xn) <15 15-20 20-25 >25
Alkalinitas (ESP) , %
BAHAYA SULFIDIK (xs): >125 100-125 60-100 <60
Kedalaman sulfidik, cm
BAHAYA EROSI (eh):
Lereng, % <8 8-16 16-30 >30
Bahaya Erosi sr r-sd b sb
BAHAYA BANJIR(fh):
Genangan F0 - - > F1
PENYIAPAN LAHAN (lp)
Batuan di permukaan, % <5 5-15 15-40 >40
Singkapan batuan, % <5 5-15 15-25 >25
Keterangan: Tekstur: h = halus; ah = agak halus; s = sedang; ak = agak kasar. + = gambut dengan
sisipan/pengkayaan bahan mineral. Bahaya erosi: sr = sangat ringan; r = ringan; sd = sedang; b =
berat; sb = sangat berat.
10

Tidak tumbuh subur pada lahan berdrainase jelek. Termasuk species


yang memerlukan cahaya dan tumbuhnya memerlukan suhu sekitar 18 ّ ? 27
ّC. Hal ini dikarenakan sengon merupakan jenis tanaman tropis. Tanaman
sengon membutuhkan kelembaban sekitar 50%-75%. Merupakan salah satu
species paling cepat tumbuh di dunia, mampu tumbuh 8 m/tahun dalam
tahun pertama penanaman.

2.3. Keragaan Sistem Hutan rakyat Sengon yang ada

Pengelolaan hutan rakyat sengon akan lestari apabila ada manfaat


ekonomis yang dirasakan oleh petani. Manfaat hutan rakyat dapat dibagi
menjadi dua yaitu manfaat finansial dan lingkungan. Manfaat finansial
berupa peningkatan pendapatan, peningkatan kesejahteraan, penyerapan
tenaga kerja, dan lain-lain. Adapun manfaat lingkungan antara lain berupa
pengendalian erosi, perbaikan kualitas air, perbaikan lingkungan dan
sebagainya. Selain penghasil kayu yang seringkali menjadi tujuan utama
petani mengembangkan hutan rakyat, mereka dapat memperoleh pula hasil
ikutannya. Manfaat jangka pendek dari hutan rakyat dapat dikembangkan
menjadi manfaat jangka panjang seperti peningkatan hasil pertanian,
perbaikan gizi dan kesehatan, perbaikan keadaan sosial ekonomi, tata guna
lahan, serta perbaikan konservasi lingkungan. Semuanya tersebut
merupakan manfaat yang secara ekonomi bersifat tangible dan intangible.
Peningkatan pendapatan masyarakat dan retribusi baik dari hasil hutan kayu
maupun non kayu akan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan
juga pembangunan daerah. Kontribusi terhadap pendapatan daerah pada
hutan rakyat ini selain kayu dapat juga berupa jasa lainnya dalam kaitannya
dengan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Secara ekonomi banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa
pembangunan dan pengembangan hutan rakyat sengon layak secara
ekonomi untuk dikembangkan. Pengelolaan hutan rakyat di berbagai lokasi
memiliki kelayakan finansial BCR = 12-15; IRR = 25-30, NPV = Rp.
75.000.000,-. Pengelolaan hutan rakyat layak untuk dikembangkan
meskipun hanya memberikan kontribusi pada pendapatan petani sebesar
10% dari rata-rata pendapatan rumah tangga. Hasil analisis margin pasar
petani menerima margin sebesar 45-50%. Hasil analisis finansial BCR =
3,50, NPV = 6.000.000, IRR = 50,00%. Hasil analisis finansial hutan rakyat
sengon + jahe, memberikan keuntungan (Rp. 14.500.000. BCR 1,10, NPV =
Rp 5.000.000, IRR = 30%.
Usaha tani dengan pola diversifikasi antara tanaman kehutanan dan
perkebunan pada lahan kering memberikan hasil yang lebih tinggi
dibandingkan dengan tanpa diversifikasi. Dengan asumsi rata-rata luas
lahan untuk hutan rakyat adalah 1,00 ha dengan kerapatan pohon 400
pohon/ha. Sedang pohon yang ditebang rata-rata 75 pohon/ha/th dengan
daur 6 tahun. Dari kondisi tersebut pendapatan bersih petani Rp.
950.000,-/KK/ha/th.
Hutan rakyat pola agroforestry lebih menguntungkan dibanding
11

hutan rakyat murni. Hutan rakyat murni NPV Rp. 11.000.000/ha/daur (7


tahun) atau Rp.1.500.000/ha/tahun sedangkan pola agroforestry dengan
campuran kapulaga, kopi, nilam, pisang, kelapa, jagung dan petai
memberikan sumbangan pendapatan sebesar Rp 5.500.000/ha/tahun dimana
Rp 850.000/ha/tahun disumbang dari hasil kayu. Pola hutan rakyat yang
diterapkan di Kabupaten Ponorogo pada umumnya campuran antara
tanaman kayu, buah dan semusim atau tanaman kayu dan buah. Kedua pola
tersebut secara finansial layak dilakukan. Kedua pola tersebut memberikan
peningkatan pendapatan yang hampir sama yaitu sekitar 1,5 juta rupiah,
namun kontribusi hasil kayu terhadap peningkatan pendapatan lebih besar
pada pola campuran kayu dan buah.
Pemanfaatan lahan bawah tegakan hutan rakyat di Kabupaten
Ponorogo, secara ekonomi layak dilakukan, dan dapat meningkatkan
pendapatan sampai 25 %. Di samping itu, juga mampu menyerap tenaga
kerja yang ada seperti penggunaan lahan bawah tegakan dengan nanas dapat
menyerap tenaga kerja sekitar 400 HOK saat pembangunan dan 100 HOK
selama pemeliharaan.
Kontribusi hutan rakyat terhadap pendapatan keluarga rata-rata 25 %
dengan rata-rata pendapatan sekitar Rp. 750.000 /ha/tahun dimana
pendapatan tertinggi ada pada lahan yang kombinasi tanamannya berstrata
seperti pinus, uru, bambu, buangin, tasian, aren, cokelat, kopi, ubi jalar dan
ubi kayu. Kontribusi hutan rakyat terhadap pendapatan rumah tangga petani
sekitar 25 % dari total pendapatan. Misalnya, pada lahan seluas 0,5 - 0.6 ha,
kombinasi sengon, kapulaga dan cabe dapat memberikan keuntungan /
pendapatan bersih sekitar Rp. 15.000.000/th.
Ada kebijakan daerah yang justru menimbulkan ekonomi biaya
tinggi seperti retribusi dan Ijin Pemanfaatan Kayu Tanah Milik (IPKTM).
Permasalahan yang sering dihadapi dalam pemasaran kayu sengon antara
lain: a). lemahnya posisi tawar petani. b). berfluktuasinya harga kayu
sengon rakyat, dan c). kurangnya informasi pasar bagi petani.

(1). Sistem Usahatani


Tanaman Sengon pada umumnya diusahakan di lahan pekarangan
secara sambilan. Estimasi tentang persentase luas pengusahaan Sengon
berdasarkan sistim pengusahaannya disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Estimasi Persentase Usahatani Tanaman Sengon Berdasarkan


Sistem Pengusahaannya

Farming systems %
luasan
12

1. Sengon diusahakan pada lahan pekarangan dan ruang 40 - 50


publik
2. Sengon diusahakan pada lahan penghijauan,
tegalan dan tumpangsari dengan tanaman pangan 30 - 40
3. Sengon diusahakan pada lahan
tegalan secara monokultur ±5

Tanaman Sengon di lahan tegalan dan pekarangan penduduk tidak


mendapatkan perawatan secara memadai, pemupukan dilakukan ala
kadarnya, pemangkasan tajuk tidak dilakukan.

(2). Usahatani Sengon rakyat


Deskripsi ringkas sistem usahatani Sengon yang dilakukan oleh
petani sebagaimana disajikan dalam Tabel 2.

(3). Sistem Pemasaran


Tujuan akhir dari pemasaran hasil hutan rakyat adalah untuk
memperoleh efisiensi pasar dengan cara memperpendek rantai pasar,
sehingga harga akan menjadi lebih baik terutama di tingkat petani. Untuk
sampai ke tangan konsumen, suatu barang dapat dipasarkan baik secara
langsung maupun secara tidak langsung. Secara langsung , apabila barang
yang dipasarkan tidak melalui saluran tata niaga, jadi tidak ada lembaga lain
yang terlibat kecuali produsen awal dan konsumen akhir. Secara tidak
langsung, apabila diantara produsen dan konsumen ada rantai pemasaran
yang disebut saluran tata niaga. Kehadiran pedagang perantara sering
diperlukan, karena selain membantu menyederhanakan pelaksanaan fungsi
pemasaran yang seharusnya dibebankan kepada produsen juga
memperlancar arus komoditas. Namun sering terjadi, justru kehadiran
pedagang perantara merupakan kendala bagi lancarnya arus barang, jika
saluaran tata niaga sudah sedemikian panjang, sehingga mengakibatkan
tidak efisien dan tidak adil dalam pembagian keuntungan/ profit margin.
Kayu sengon pada umumnya dikonsumsikan dalam bentuk kayu
mentah, kurang dari satu persen dari total produksi yang diproses menjadi
bentuk kayu olahan. Kayu sengon sebagian besar dikonsumsi untuk
memenuhi kebutuhan dalam negeri.

a. Saluran Pemasaran.
Kayu Sengon yang dihasilkan di Kabupaten Ponorogo dipasarkan
di dalam wilayah Kabupaten dan sebagian dikirim ke luar wilayah.

b. Cara Pemasaran
Penjualan kayu Sengon pada umumnya dilakukan melalui tiga
cara, yakni tebasan, ijon dan kontrak. Sebagian besar petani melakukan
13

pemasaran kayu sengonnya dengan cara tebasan (80%), sisanya dengan cara
ijon dan kontrak. Dalam hal ijon dan kontrak, penentuan harga sangat
didominasi oleh pedagang.

Tabel 2. Deskripsi Sistem Usahatani Sengon Yang Dilakukan Petani

Kondisi aktual
1. Rata-rata jumlah pohon 15 -50 pohon
2. Lahan yang digunakan Lahan pekarangan, tegalan,
HRKR
3. Jarak tanam Tidak beraturan
4. Sistim penanaman Sebagian besar berasal dari bibit
grafting dan okulasi
5. Jenis Sengon yang banyak diusahakan Suwaru dan Lokal
6. Pemangkasan Umumnya dilakukan pada
waktu tanaman umur 1-3 tahun
7. Pemupukan Umumnya dilakukan pada waktu
tanaman umur 1-2 tahun
8.Pemberantasan hama dan penyakit Jarang dilakukan

c. Marjin pemasaran

Market Share petani dari harga beli konsumen hanya sebesar lebih
kurang 45%.

(4). Aspek Sosio-teknologi


Penguasaan agroteknologi Sengon oleh penduduk pada umumnya
sudah menguasai syarat minimal, akan tetapi untuk menuju kepada
usahatani yang lebih intensif masih diperlukan tambahan informasi
teknologi inovatif. Teknologi bibit dan pembibitan, penanaman bibit dan
perawatan tanaman, serta fungsi pascapanen sederhana telah dikuasai
penduduk.

(5). Ketersediaan sarana produksi


Ketersediaan sarana produksi untuk pengembangan Sengon yang
terpenting adalah bibit yang kualitasnya baik. Potensi bibit Sengon di
Jawa Timur masih dapat dikembangkan lagi sesuai dengan permintaan
pasar. Dalam rangka penyediaan bibit Sengon, peranan masyarakat dalam
usahatani pembibitan Sengon dipandang perlu dilibatkan, karena
usahataninya cukup efisien dan meningkatkan pendapatan petani.

Tabel 3. Keadaan Sosio-Teknologi Budidaya Sengon di wilayah


Kabupaten Ponorogo

Ponorogo:
14

Pekarangan Kebun rakyat


I. Bibit dan Pembibitan
a. Asal bibit
- Sendiri 75.0 % 35 %
- Membeli 25.0 % 65 %
b. Cara Pembibitan : Biji 75.0 % 65.0
- Sambungan 0.0 % 0.0
- Okulasi 0.0 % 0.0
- Cangkok 0% 0
c. Jarak Tanam; m
- Tak teratur 5x5 -
- Teratur 10 x 10 12 x 12
d. Sistim Penanaman
- Tumpangsari 100 % 75 %
- Monokultur - 25 %
II. Pemeliharaan
a. Pemangkasan/
Benalu 60.00 % 40.75 %
b. Pemupukan 11.00 % 55.00 %
c. Pemberantasan
hama penyakit 5.00 % 45.00 %
d. Penyiangan 40.00 % 75.00%
III. Jumlah rata-rata 15-50 pohon 500
pohon setiap orang

(8). Aspek Finansial

Berdasarkan estimasi cash flow selama 20 tahun diperoleh informasi


bahwa tanaman Sengon baru mendatangkan keuntungan setelah umur 5-6
tahun. Sedangkan apabila modalnya berasal dari kredit akan dapat terlunasi
pada tahun ke-8-10. Besarnya keuntungan Sengon pada "discount rate" 22
persen per tahun dengan "Net Present Value" (NPV) sekitar Rp.4.000.000,-
sedangkan besarnya "Internal Rate of Return" (IRR) sekitar 32.5 persen.
Dengan informasi ini dapat disimpulkan bahwa secara finansial usahatani
Sengon sangat menguntungkan.

III. PENGEMBANGAN KAHURA SENGON - PETAI


- JATI SUPER

Pola pengembangan hutan rakyat hingga saat ini terdiri dari pola
subsidi (inpres, padat karya), pola swadaya dan pola kemitraan. Kondisi
tegakan hutan rakyat pada pola pengembangan swadaya tipe pemilik dekat
dengan lokasi hutan rakyat kurang bagus, namun jenis dan jumlah pohonnya
sangat bervariasi. Petani menjadikan hutan rakyat sebagai sumber mata
15

pencaharian utama tetapi bibit yang ditanam berasal dari alamiah yang tidak
selalu tersedia sepanjang tahun sehingga penanaman tidak bisa dilakukan
secara serentak. Sedangkan pada pola pengembangan hutan rakyat swadaya
tipe pemilik jauh dari lokasi hutan rakyat, pola kemitraan dengan
pemerintah maupun Perhutani jenis tanamannya cenderung monokultur
tetapi kondisi tegakannya bagus, karena pada pola ini sudah diterapkan
sistem silvikultur yang baik, memperhatikan waktu penanaman dan
dilakukan pemeliharaan. Sebaran kelas diameter dan sebaran kelas tinggi
tegakan pada pola pengembangan swadaya lebih bervariasi dibandingkan
pada pola kemitraan disebabkan jarak tanam pohon pada pola swadaya lebih
lebar. Jenis pohon yang dominan ditanam pada hutan rakyat adalah sengon.
Dari beberapa pola pengembangan yang ada, potensi sengon terbesar pada
pola pengembangan hutan rakyat swadaya tipe pemilik jauh dari lokasi.
Sedangkan pada pola kemitraan potensi kayu sengon baru dapat dihitung
setelah umur tanaman lebih dari lima tahun.

3.1. Dasar Pertimbangan

1. Pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan, khususnya masyarakat


sekitar kawasan hutan jati Kabupaten Ponorogo, melalui KAHURA
Sengon - Jati Super – Petai - Jagung
2. Antisipasi KRISIS produk hutan, akibat melimpahnya produk impor
3. Sistem Produksi dan Distribusi produk kayu Indonesia:
- lemahnya posisi tawar petani Sengon
- Industri estate di Jawa sekala besar in-feasible
- Produksi Sengon pada lahan-lahan subur mengalami tekanan berat
dari komoditi tanaman pangan
- Sistem kemitraan petani Sengon - pedagang Sengon “kurang adil”
- Biaya produksi relatif tinggi, terutama biaya angkutan
4. Industri hilir masih terbatas pada industri olahan tertentu.
5. Luasnya kawasan lahan kritis yang potensial untuk dikembangkan
menjadi kebun-rakyat Sengon (Wanatani Tiga Strata: Sengon - Jati
mas/Petai - Jagung)

3.2. Tujuan

1. Memberdayakan ekonomi masyarakat hutan rakyat melalui KAHURA


Sengon - Jati Super+Petai - Jagung TERPADU guna peningkatan daya
saing produk buah Sengon dari kawasan lahan kritis sekaligus
memproduksi pangan bagi masyarakat setempat
2. Menginisiasi berkembangnya KAHURA Sengon - Jati Super+Petai -
Jagung Terpadu yang didukung oleh adanya techno-industrial cluster
yang relevan
3. Pengembangan teknologi pengolahan diversifikasi produk hutan rakyat:
Jati Super (kayu, daun), Buah Sengon , olahan Sengon , pupuk
organik, jagung/ubikayu/kacang-kacangan, hijauan pakan ternak
16

4. Pengembangan kelembagaan sosial-masyarakat pengelola KAHURA


Sengon - Jati Super +Petai - Jagung secara terpadu.

3.3. Keterkaitan Sistem Kelembagaan

Hutan rakyat merupakan salah satu model pengelolaan sumberdaya


alam yang berdasarkan inisiatif masyarakat, hutan rakyat di Kabupaten
Ponorogo pada umumnya dikembangkan pada lahan masyarakat.
Pembangunan hutan rakyat diarahkan untuk mengembalikan produktivitas
lahan kritis, konservasi lahan, perlindungan hutan, dan pengentasan
kemiskinan melalui upaya pemberdayaan masyarakat pengelola hutan
rakyat.
Ada tiga pola pengembangan hutan rakyat hingga saat ini yaitu pola
subsidi (inpres, padat karya), pola swadaya dan pola kemitraan. Pola subsidi
bertujuan agar masyarakat mau terlibat dalam upaya rahabilitasi dan
konservasi tanah sekaligus sebagai tambahan pendapatan. Pola swadaya
yang merupakan tindak lanjut dari keberhasilan pola subsidi bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mutu lingkungan dan menunjang
pemenuhan bahan baku kayu industri. Sedangkan pola kemitraan bertujuan
agar terciptanya unit-unit usaha perhutanan rakyat pada daerah sentra
industri pengolahan kayu serta terbinanya partisipasi masyarakat dalam
pelestarian sumberdaya hutan (Dirjen RRL, 1997).
Salah satu kendala yang dihadapi oleh petani dalam pengembangan
dan pembangunan hutan rakyat adalah faktor modal. Pola kemitraan
diyakini sebagai suatu cara untuk mengatasi permasalahan ini dengan
mengembangkan kemitraan baik dengan pemerintah, swasta maupun
dengan Perhutani (BUMN). Dengan adanya pola kemitraan paling tidak ada
tiga hal yang akan dicapai yaitu kualitas dan kuantitas tegakan yang lebih
baik, pasar yang telah terjamin dan minat serta kemampuan petani semakin
meningkat. Kondisi dan potensi tegakan sangat penting diketahui untuk
menilai keberhasilan pengelolaan hutan rakyat, di mana kondisi tegakan ini
dipengaruhi oleh bentuk-bentuk pengembangan hutan rakyat.
Pada saat sekarang ini pembangunan hutan rakyat banyak
dikembangkan dengan berbagai pola diantaranya yaitu pola kemitraan, pola
swadaya dan bentuk bantuan murni seperti bantuan dari pemerintah dan
pihak lainnya. Tegakan yang dihasilkan pada pola-pola uaha ini cukup
bagus baik diamater maupun tinggi pohonnya. Dengan adanya pola
kemitraan diharapkan akan menghasilkan kualitas dan kuantitas tegakan
yang lebih baik lagi.
Kondisi dan potensi tegakan akan memberikan gambaran bagaimana
pertumbuhan tegakan yang sesungguhnya pada pola pengembangan yang
ada. Selain itu akan diketahui pula hal-hal lain yang menjadi sebab dari baik
atau tidaknya pertumbuhan tegakan hutan rakyat tersebut, karena
pertumbuhan tegakan kayu atau tanaman sangat dipengaruhi oleh berbagai
faktor baik faktor internal maupun faktor eksternal. Selanjutnya dengan
17

dihasilkannya tegakan yang berkualitas maka diharapkan akan


meningkatkan daya jual kayu rakyat dan pada akhirnya akan menambah
pendapatan petani sehingga kesejahteraannya akan meningkat. Dengan
kondisi tersebut akan merangsang petani untuk terus mengembangkan hutan
rakyatnya sehingga kelestarian kayu rakyat akan terjamin.
18

MANAJEMEN PENDANAAN DAN TEKNOLOGI

DANA INVESTASI AWAL

POSYANTEK Teknol Koperasi KAHURA-Sengon


dana

Kebun KSP Sengon


Teknologi & 100-500 ha
SIM-Pasar Kebun-Rakyat 3-S

Industri Pengolahan
Jati Super, Jagung,
SENGON

Industri Industri
Pupuk Organik Jasa Transport
Pangan Promosi
Pakan Ternak Pemasaran
19

KETERKAITAN ANTAR CLUSTER KAHURA SENGON - JATI


SUPER

Cluster
ALSINTAN

KSP INDUSTRI Olahan Cluster PASAR


KEBUN olahan Sengon produk Regional
Sengon Jati Super- Sengon Jati - Sengon
3-Strata
Ampas
olahan

- Pupuk
- Pestisida Bahan
- Herbisida penolong

Hijauan Cluster
Cluster pakan Pemasaran &
Agrokimia Transportasi

Pasar
Industri Industri Cluster Nasional
Silages Pupuk Kemas &
Pakan Organik Packaging
ternak

SISTEM PERBANKAN DAN ASURANSI


20

3.4. EVALUASI KONDISI Hutan rakyat Sengon

1. KEKUATAN

a. Ketersediaan bahan baku yang didukung oleh keunggulan komparatif


kualitas sumberdaya lahan dan agroklimat
b. Sifat unggul buah Sengon SS1 untuk pasar regional dan nasional
c. Ketersediaan SDM dan masyarakat dengan etos kerja pantang
menyerah
d. Sarana /prasarana dan kelembagaan penunjang yang komitmennya
tinggi terhadap pengembangan Kebun-Rakyat Sengon
e. Potensi pasar yang sangat besar

2. KELEMAHAN

a. Kesenjangan hasil LITBANG ke aplikasi komersial


b. Lembaga pemasaran bertindak juga sebagai “lembaga eksklusif”
c. Belum terbentuknya keterkaitan-kemitraan yang adil antar pelaku
(cluster) hutan rakyat Sengon
d. Produk hilir masih terbatas pada buah Sengon segar.
e. Tingginya komponen biaya transportasi dalam struktur biaya produksi

3. PELUANG

a. Pasar domestik (lokal, regional dan nasional) sangat terbuka


b. Diversifikasi produk-produk perkebunan Sengon sangat potensial
c. Kebutuhan pengembangan keterkaitan antara cluster /pelaku kegiatan
hutan rakyat Sengon (KAHURA Sengon - Jati Super - Jagung)
d. Kebutuhan Pemberdayaan sistem kelembagaan produksi Sengon

5. ANCAMAN
a. Hambatan-hambatan sistem distribusi buah Sengon domestik
b. Persaingan dengan produk buah impor
c. Persaingan dengan komoditi non-Sengon dalam penggunaan lahan
d. Hambatan-hambatan sistem industri pengolahan buah Sengon

3.5. Program Pengembangan

1. Pemberdayaan Koperasi Pengelola KAHURA Sengon - Jati Super -


Jagung secara Terpadu di wilayah Kabupaten Ponorogo bagian selatan,
Jawa Timur
2. Pengembangan KAHURA Sengon - Jati Super - Jagung secara Terpadu
dengan komponen utamanya:
a. KSP (Kawasan Sentra Produksi) Kebun rakyat 3-Strata” Jati Super -
21

Sengon- Jagung yang dikelola oleh Kelompok Tani


b. Cluster Industri Olahan Sengon dan Jati Super
c. Cluster Industri Pupuk Organik Limbah kebun Sengon
d. Cluster Industri Hijauan Pakan Ternak
e. Cluster ALSINTAN Pendukung
f. Cluster Agrokimia: Pupuk dan pestisida
g. Cluster LITBANG, Kebun Teknologi dan Sistem Informasi Pasar
h. Cluster PengSuperan dan Pengepakan
g. Cluster Transportasi dan Pemasaran
3. Kajian Keunggulan Sengon dan produk-produk hilir kebun Sengon
rakyat
4. Sosialisasi dan Komersialisasi hasil-hasil kajian
5. Implementasi sistem Quality Assurance (QA)

3.6. OUTCOME
1. Berkembangnya KAHURA Sengon - Jati Super - Jagung dengan
keterkaitan yang adil di antara cluster-cluster yang ada melalui
pendekatan kawasan
2. Terbentuknya Kelompok Tani dan Koperasi pengelola KAHURA
Sengon - Jati Super - Jagung yang mampu mengkoordinasikan sistem
produksi dan sistem distribusi produk-produk Sengon
3. Berkembangnya industri pengolahan buah Sengon sekala mikro
4. Meningkatnya citra Sengon dan produk olahan Sengon domestik

3.7. DAMPAK

1. Sinergi kelembagaan dan aktivitas hutan rakyat dalam “CLUSTER”


2. Sinergi antar pelaku hutan rakyat dalam KAHURA Sengon - Jati Super
- Jagung
3. Tumbuh-kembangnya semangat masyarakat untuk memproduksi
Sengon dan Jati Super
4. Tumbuh-kembangnya pasar produk-produk olahan Sengon
5. Tumbuhnya semangat untuk melestarikan sumberdaya hutan dan lahan
kritis sekitarnya

IV. SASARAN Pengembangan KAHURA

Tujuan utama dari pengembangan Kawasan Hutan rakyat Sengon -


Jati Super + Petai - Jagung ini khususnya adalah peningkatan pendapatan
petani di wilayah lahan kering yang direncanakan menjadi sentra produksi
komoditi Sengon dan Jati Super. Tujuan lainnya adalah meningkatkan
kegiatan perekonomian pedesaan di sekitar sentra produksi Sengon
tersebut yang pada akhirnya diharapkan membawa perbaikan pada taraf
22

hidup masyarakat sekitarnya.


Sasaran pokok atau target yang ingin dicapai untuk menjadikan
wilayah Jawa Timur bagian selatan sebagai sentra pengembangan agribis
komoditas Sengon dan Jati Super adalah :
1. Pengembangan atau pembangunan kebun-rakyat komoditi utama
Sengon dan Jati Super di wilayah KAHURA dengan total areal sekitar
500-1000 ha.
2. Penumbuhan dan peningkatan peran kelembagaan dalam pembangunan
pertanian meliputi : Kelompok Tani sebagai Kelompok Usaha Bersama
Hutan rakyat (KUBA) Sengon , Koperasi Petani Sengon ,
perusahaan/swasta, Balai Penyuluhan Informasi Pertanian (BIPP) dan
FORKA (Forum Komunikasi Hutan rakyat).
3. Pembangunan perluasan dan perbaikan sarana dan prasarana di wilayah
KAHURA, khususnya pada lokasi-lokasi dimana sentra hutan rakyat
akan dibangun. Sarana prasarana tersebut meliputi antara lain : sistem
pengairan air hujan (PAH), Pengairan Air sumur (PAS), jalan
desa/jalan kebun, pasar/kios desa dan pusat informasi agro-teknologi.
4. Perbaikan dan peningkatan fasilitas pengolahan dan sistem pemasaran
tradisional.
5. Menjaga kelestarian kawasan hutan jati milik PERHUTANI yang
berada di sekitarnya.

4.1. Pengembangan Komoditas Unggulan

4.1.1. Pembangunan Hutan rakyat Sengon - Jati Super +Petai -


Jagung

Sengon dan Jati Super Super, serta jagung genjah dan ubikayu
Ardira ditetapkan sebagai kultivar yang akan ditanam pada lokasi Kawasan
Hutan rakyat (KAHURA) Sengon - Jati Super - Jagung di Kabupaten
Ponorogo bagian selatan.
Target pembangunan sentra produksi pada tiga kecamatan terpilih
adalah seluas 1000 Ha kebun rakyat; sebagian lahan ini merupakan kawasan
hutan jati gundul milik PERHUTANI dan sebagian lainnya merupakan
lahan masyarakat sekitar. Agar pembangunan kebun Sengon dapat
dilaksanakan secara terpadu dan berada pada areal yang kompak (saling
berdekatan), maka dasar pembangunan kebun-rakyat adalah satu KAHURA.
Disamping pembangunan kebun-rakyat tiga strata sebagai inti, diharapkan
pula akan tumbuh partisipasi petani untuk menanam di lahan
pekarangannya dengan bantuan penyediaan bibit Sengon jenis unggul.

Teknologi Hutan rakyat Sengon - Jati Super +Petai - Jagung

Berdasarkan hasil-hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa


23

pengembangan sistem hutan rakyat Sengon-Jati Super - Jagung ditempuh


dengan mengintegrasikan (secara fungsional) aktivitas kebun wanatani
Sengon - Jati Super - Jagung dengan pusat-pusat inovasi agroteknologi
yang ada.
Lima hal yang masih dipandang sangat penting untuk menunjang
pengembangan KAHURA ini, adalah : (1). Inovasi teknologi bibit dan
pembibitan Sengon dan Jati Super; (2). Teknologi off-season tanaman
Sengon; (3). Teknologi percepatan pertumbuhan kayu Sengon ; (4).
Pengembangan pusat informasi Sengon ; (5). Teknologi pengolahan kayu
Sengon.
Pengembangan hutan rakyat dipahami sebagai suatu proses untuk
mendokumentasikan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan hutan agar
tercapainya tujuan tertentu, dengan menggunakan cara yang disepakati
bersama. Pengelolaan hutan rakyat dapat dilakukan untuk jangka waktu
tertentu, untuk jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Dalam
perencanaan ada hal-hal penting yang diperlukan yaitu:
Ada proses yang harus dijalani
Ada tujuan yang ingin dicapai
Ada cara (metode) untuk mencapai tujuan
Ada cara untuk mengukur hasil kerja
Ada alat untuk menilai hasil kerja
Ada pertimbangan sosial dan budaya.

Partisipasi secara harafiah berarti keikutsertaan seseorang dalam


suatu tindakan. Partisipasi merupakan proses yang melibatkan para pihak
yang terkait, dimana dalam proses tersebut terpenuhi:
 Adanya kemitraan dan kesetaraan dalam berperan
 Terbangunnya suasana yang terbuka dan komunikatif sehingga
menimbulkan dialog yang sehat.
 Adanya keseimbangan kewenangan dan tidak ada pihak yang
dominan
 Adanya rasa memiliki tanggung jawab bersama
 Adanya peran aktif dalam setiap proses kegiatan, sehingga terjadi
proses saling belajar dan saling memberdayakan
 Adanya kerjasama berbagai pihak untuk saling berbagi kelebihan
guna mengurangi berbagai kelemahan yang ada.
 Ada niat baik dari semua untuk membangun keadaan menjadi
lebih baik.
24

HUTAN-RAKYAT SENGON: 1 RTPLK = 0.5 ha HUTAN Sengon


(Lahan kawasan hutan dan / atau lahan masyarakat sekitar)

Tanm pagar : JATI MAS

10 m
Phn Sengon

10 m

jalan kebun/teras kebun: Rumput gajah

tnm sela JAGUNG, KAC HIJAU

arah slope PAH/sumur batas lahan

Kandang ternak: Unit pengolah


Kambing/ rabuk-kandang
Sapi kereman

4.1.2. Pola Pengembangan Kawasan


Sebagaimana telah dikemukakan bahwa pada setiap wilayah yang
25

terpilih akan dikembangkan sentra produksi Sengon seluas 1000 ha (100


ha kebun inti dan 900 ha daerah dampak). Sekitar 5 Ha dari kebun inti
tersebut dapat dikelola oleh Pendamping Lapangan (PL), merupakan kebun
inti sekaligus berfungsi sebagai Kebun Teknologi Sengon - Jati Super.
Sedangkan selebihnya merupakan kebun campuran yang dikelola kelompok
Tani.

4.1.3. Tanaman Sela, dan Tanaman Pagar /Pembatas


Pada areal KAHURA di antara pohon Sengon muda yang ditanam
dengan jarak 8 x 8 meter akan ditanam tanaman palawija ubikayu, jagung
genjah, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, cabai/lombok yang dapat
dipanen setelah 3 - 4 bulan. Tujuan dari pemberian tanaman sela ini antara
lain agar petani dapat memperoleh hasil/ pendapatan dari lahan
usahataninya sebelum tanaman Sengon berproduksi. Salah satu dari kedua
palawija tersebut akan ditanam secara bergilir hingga pohon Sengon
mencapai usia 5 tahun. Sedangkan tanaman pagar/pembatas dapat berupa
Jati Super.

4.1.4. Kondisi Fisik


Setelah kurun waktu beberapa tahun, diharapkan tercipta sentra
produksi Sengon milik petani di wilayah KAHURA dengan kondisi
sebagai berikut :
a. Terdapat kebun-rakyat inti dengan populasi tanaman sebanyak 100-200
pohon per hektar dengan jarak tanam 8 x 8 meter.
b. Setiap petani berhasil mengelola 0.5-1 ha kebun Sengon atau 50 - 75
pohon produktif.
c. Kebun dilengkapi dengan jalan (jalan kebun) sepanjang 100 meter/Ha.
d. Terdapat sumur gali (PAS) atau PAH dua buah per/ha sebagai sumber air
bersih.

4.2. Kelembagaan

Kelembagaan yang ingin diwujudkan kurun waktu tersebut di atas


adalah sebagai berikut.

4.2.1. Kelompok Usaha Bersama Hutan rakyat (KUBA) Sengon

Mengingat bahwa sasaran areal pengembangan hutan rakyat Sengon


tersebar di wilayah Kabupaten Ponorogo bagian selatan dalam kurun waktu
5 tahun adalah seluas 1000 Ha, maka target penumbuhan kelompok tani
sebagai lembaga inti pengembangan sentra hutan rakyat Sengon dalam
kurun waktu tersebut mencapai jumlah 50 KUBA. Target penumbuhan
kelompok tani sebanyak 50 KUBA ini berdasarkan pertimbangan bahwa
dalam skala/luasan 20 Ha kebun/pekarangan dapat dibentuk satu kelompok
26

tani dan dapat bekerja secara efektif.


Satu KUBA Sengon terdiri dari 20-30 RTPLK dengan setiap orang
diharapkan menguasai lahan tegalan rataan seluas 0.5 Ha. Dalam 1 Ha lahan
akan ditanami Sengon sebanyak 250 pohon. Dengan demikian satu KUBA
Sengon mempunyai tanaman sebanyak 2500-3125 pohon Sengon .
Penumbuhan kelompok tani pada Sentra Hutan rakyat Sengon
seyogyanya didasarkan pada kedekatan hamparan dengan maksud
mempermudah menghadapi masa panen dan pemasaran hasil. Karena
penumbuhan kelompok tani berdasarkan kedekatan hamparan usahata-
ninya, maka melalui pelatihan-pelatihan (sekolah lapang) dan dengan
bimbingan Petugas Penyuluh Lapangan (PL II) petani-petani yang
tergabung dalam kelompok tani hamparan tersebut diharapkan mampu
mandiri.
Pembentukan kelompok tani hutan rakyat umumnya merupakan
bantuan dari proyek sehingga dengan adanya stimulus tersebut
memudahkan untuk mempersatukan anggota kelompok dalam mencapai
tujuan bersama yaitu pembangunan hutan rakyat yang mampu
meningkatkan kesejahteraan para anggotanya. Stimulus tersebut tidak hanya
berupa bantuan proyek saja tetapi juga dapat berupa lingkungan pemberi
pengaruh seperti ketua kelompok, pembina, penyuluh atau lingkungan lain.
Dengan adanya stimulus tersebut akan terjadi interaksi antar anggotanya,
karena adanya suatu hal yang esensial bagi individu petani yang menjadi
milik bersama, yaitu pelaksanaan pembangunan hutan rakyat untuk
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Tujuan bersama yang
ingin dicapai tersebut akan memunculkan suatu tingkat dinamika kelompok.
Dinamika kelompok akan melahirkan pembentukan struktur, norma dan
identitas kelompok. Kedinamikaan ini akan nampak pada kelompok dari
tinggi rendahnya kerjasama. Makin tinggi dinamika maka makin tinggi
kerjasama dan juga sebaliknya. Dengan demikian, dinamika kelompok
merupakan analisis dari hubungan kelompok sosial yang berdasarkan
prinsip bahwa perilaku dalam kelompok itu adalah hasil dari interaksi yang
dinamis antara individu-individu dalam situasi sosial.
Selanjutnya kelompok tani yang dinamis ditandai oleh selalu adanya
kegiatan ataupun interaksi baik di dalam maupun dengan pihak luar
kelompok untuk secara efektif dan efisien mencapai tujuan-tujuannya,
dimana tingkat kedinamisan kelompok tani tersebut dipengaruhi oleh
faktor-faktor sosial. Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut maka
diperoleh gambaran kondisi dari kelompok apakah perlu mendapat stimulus
lagi, serta faktor-faktor mana saja yang perlu mendapat perhatian untuk
pembinaan. Selain itu dengan mengetahui kedinamisan dari kelompok maka
diketahui seberapa jauh peran para anggotanya untuk mencapai tujuan yaitu
pembangunan hutan rakyat.

Hutan-rakyat 3-strata Sengon seluas 200 ha


27

RTPLK-2 RTPLK-400
RTPLK-1
0.5 ha tegalan
0.5 ha tegalan 125 phn Sengon 0.5 ha tegalan
125 ph Sengon tnm sela 125 ph
Sengon
tnm sela tnm sela

PPL
5 ha Tegalan
1250 phn Sengon
tnm sela

KUBA-1 KUBA- 2 KUBA-...


25 RTPLK 25 RTPLK ....... 25
RTPLK
12.5 ha kebun 12.5 ha kebun .... ha kebun
3125 ph Sengon .... ph Sengon

KOPERASI PETANI Sengon

Kebun Inti 200 ha, 50.000 pohon Sengon SS1


Tanaman sela jagung, kedelai, kac tanah 200 ha

SUASTA PASAR BRI/BPD

Industri Olahan Pedagang KKPA, KUT


28

4.2.2. Pengembangan Koperasi Petani Sengon


29

Koperasi dan Kios/Waserda adalah prasarana pelayanan yang akan


dikembangkan menjadi lembaga pemasaran. Pelayanan yang dimaksud
berupa :
- Penyediaan saprodi
- Membantu menyediakan modal
- Sebagai lembaga pemasaran
- Investasi armada pengangkutan

Koperasi diharapkan tumbuh dan keberadaannya dibutuhkan oleh


para petani baik dalam fungsinya sebagai lembaga yang menyediakan
kebutuhan para petani maupun sebagai lembaga pemasaran bersama yang
dapat mSuperarkan hasil produksi milik petani. Karena itu pengurus
koperasi sedapat mungkin berasal dari para kontak tani (Ketua KUBA)
dalam kelompok-kelompok tani dalam di wilayah kecamatan yang sama.
Dalam fungsinya sebagai lembaga pemasaran bersama, Kontak Tani
Andalan (Ketua KUBA) sebagai pengurus kelompok tani serta sebagai
pengurus Koperasi diharapkan mampu mengadakan rintisan kemitraan
dengan pengusaha/swasta agar bersedia menampung hasil panen petani.
Dengan demikian petani memperoleh kepastian pasar bagi produksinya.

4.2.3. Perusahaan/swasta

Fungsi perusahaan/swasta adalah :


1. Penyediaan saprodi
2. Membantu penyuluhan
3. Membantu pemasaran

Asperti di Jawa Timur diharapkan merupakan perusahaan swasta


yang akan memelopori pola kemitraan usaha dengan petani dengan prinsip-
prinsip saling menguntungkan dan saling membutuhkan dalam arti
pengusaha membutuhkan pasokan bahan produk/baku dan petani
memerlukan penampungan hasil. Selain Asperti sebagai penampung dan
pembeli produk Sengon dalam bentuk buah segar, maka pada kurun waktu
tertentu (± 15/20 tahun) diharapkan munculnya usaha agroindustri
pengolahan Sengon yang bahan bakunya dapat dipasok dari kebun-kebun
petani khususnya dari lima Kecamatan lokasi sentra hutan rakyat Sengon .
Dengan terjalinnya kemitraan antara pengusaha dan petani,
pengusaha dapat menjadi alternatif penyedia modal bagi petani
disamping lembaga keuangan/permodalan resmi. Pembayaran kembali
pinjaman petani dapat diperhitungkan dari hasil penjualan produk petani
kepada pengusaha tersebut.

4.2.4. Balai Informasi dan Penyuluhan Pertanian (BIPP)


BIPP merupakan pusat penyuluhan yang diharapkan mampu
mengakomodasikan seluruh permasalahan di bidang penyuluhan khususnya
30

pada komoditi Sengon .


Setiap Kecamatan yang dialokasikan untuk tanaman Sengon
diharapkan dapat dikembangkan 1 BIPP yang berfungsi sebagai pusat
pelayanan penyuluhan dan merupakan Home Base bagi para penyuluh yang
melakukan pembinaan khusus dalam komoditas Sengon .
Sebagai lembaga kepanjangan Pemerintah yang berada dan terdekat
dengan petani maka diharapkan BIPP akan mampu menjadi pusat untuk :
- Meningkatkan kemampuan manajerial kelompok tani antaranya
memantapkan/membudayakan usaha bersama antar petani dalam satu
kelompok dan antar KUBA yang bergabung dalam satu wadah
koperasi.
- Membina para kontak tani sebagai pengurus koperasi dalam
kemampuan pengurus Koperasi mengelola usaha dalam hal
perencanaan pengadaan saprodi yang dibutuhkan petani (anggota
koperasi).
- Mendukung kebutuhan modal petani melalui menyediakan informasi
fasilitas kredit yang layak.
- Mendukung tersebarnya informasi pasar harga dan permintaan kepada
para petani sebagai jaminan petani memperoleh harga yang wajar bagi
produknya.
- Mendukung peningkatan kerjasama/kemitraan antara petani dan
pengusaha.
- Pusat disseminasi informasi teknologi spesifik lokasi sebagai
kepanjangan dari BPTP.
- Pusat disseminasi informasi pasar dan pengembangan pasar.
- Menjalin kerjasama dengan Lembaga Keuangan (BRI Unit Desa) dan
Koperasi Unit Desa untuk pelatihan penyusunan proposal pinjaman
kredit usaha.
- Penyebaran informasi standard Pertanian Indonesia bagi produk Sengon

Petugas Pendamping Lapangan (PL II)


PL II merupakan tenaga pendamping lapangan yang dalam tugasnya
sehari-hari berhubungan langsung/memberikan bimbingan langsung kepada
kelompok-kelompok tani (KUBA). Dengan mempertimbangkan bahwa
satu orang PL II mampu membina areal seluas ± 200-300 Ha atau ± 15
KUBA, maka pada lima Kecamatan lokasi sentra hutan rakyat Sengon
harus terdapat minimal 5 orang petugas PL II yang profesional dalam hutan
rakyat Sengon .
Diharapkan ke 5 orang PL II tersebut merupakan mediator antara
Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) sebagai penyedia informasi yang
dibutuhkan petani dengan kelompok-kelompok tani yang memanfaatkan
informasi-informasi tersebut melalui program- program Sekolah Lapang
(SL).
Pendamping Lapangan ini terdiri atas para Petugas Penyuluh
Pertanian, Tokoh masyarakat, Sarjana/ Mahasiswa Pertanian yang berminat.
31

4.3. Sarana dan Prasarana yang dibutuhkan

4.3.1. Pengairan
Ketersediaan air merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi pada
saat proses produksi s/d proses pengolahan. Bantuan pembuatan sistem
Pengairan Air Sumur (PAS) diharapkan dapat terlaksana, atau kalau tidak
memungkinkan dapat dikembangkan sistem Pengairan Air Hujan (PAH)
melalui pembangunan embung penampung air hujan. Idealnya, 2 buah
sumur harus terdapat pada 1 ha kebun Sengon . Dengan standard tersebut
maka selama 5 tahun pembangunan Kebun Sengon (KAHURA Sengon )
akan dibutuhkan sebanyak 2000 buah sumur gali atau 1000 buah embung
air hujan untuk memenuhi kebutuhan air pada lokasi KAHURA Sengon
seluas 1000 Ha.

4.3.2. Jasa Angkutan dan Transportasi


Pembangunan sarana/prasarana angkutan kondisi jalan di sekitar
sentra produksi Sengon maupun dari sentra produksi ke jalan Kabupaten
menentukan kecepatan penyaluran saprodi dan pengangkutan/pemasaran
hasil produksi. Kondisi jalan desa disekitar sentra produksi Sengon perlu
ditingkatkan dari jalan tanah/makadam ke jalan aspal, sehingga mudah
dilalui kendaraan roda empat walaupun pada musim hujan, yang lebih lanjut
meningkatkan efisiensi pengangkutan hasil/saprodi. Dengan rencana
pengembangan sentra produksi Sengon seluas 1000 Ha dan standard
kebutuhan jalan kebun/jalan desa adalah 100 m/ha, maka dalam kurun
waktu lima tahun dibutuhkan perbaikan/ pembangunan jalan kurang lebih
sepanjang 100 km.
Dengan meningkatnya kondisi jalan di sekitar sentra, diharapkan
akan meningkatkan frekwensi lalulintas angkutan umum termasuk angkutan
barang disekitar sentra produksi Sengon yang pada akhirnya
menumbuhkan dan meningkatkan kegiatan sektor sektor jasa yaitu jasa
angkutan umum termasuk angkutan barang.

4.3.3. Pasar
Pasar yang ada untuk tingkat wilayah desa/kecamatan telah cukup
memadai. Hal yang perlu ditingkatkan fasilitasnya adalah pasar di tingkat
kabupaten. Untuk mengantisipasi melimpahnya Sengon yang akan
dipasarkan dalam bentuk buah segar, maka lembaga pemasaran di tingkat
kabupaten perlu dilengkapi armada angkutan untuk mendistribusikan hasil
produksi dari desa dan kecamatan.
4.3.4. Agro-Teknologi

Petani Sengon di Kabupaten Ponorogo pada saat ini umumnya masih


kurang menerapkan teknologi budidaya secara intensif maupun penanganan
panen dan pasca panen. Dalam hal budidaya, tanaman belum mendapat
perawatan dan pemupukan secara memadai. Dalam hal panen dan pasca
32

panen tidak dilakukan perlakuan tertentu karena sebagian besar petani


menjualnya dengan sistem tebasan.
Teknologi tepat guna yang diperlukan dan akan dilatihkan kepada
para petani meliputi :
- Teknik penyiapan lahan
- Pembibitan dan penanaman bibit
- Budidaya
- Panen
- Pasca Panen (pengolahan skala kecil).

4.4. Pengolahan dan Pemasaran

4.4.1. Pengolahan
Kayu sengon dapat dijual dalam bentuk kayu mentah atau hasil
olahannya. Upaya budidaya sengon untuk mendapatkan kayu yang
berkualitas tinggi meliputi :
a. Pemeraman untuk menyeragamkan kematangan kayu dengan
perlakuan fisiko-kimia.
b. Penghambatan proses kerusakan kayu dengan perlakuan fisik.
c. Grading
d. Packing/pengemasan
e. Kalender panen setelah tanam.
f. Buku harian (untuk memonitor kualitas kayu).

Industri kerajinan dapat dilakukan sebagai home Industri dan bahan


bakunya cukup dipenuhi dari Sengon yang bukan kualitas super.

4.4.2. Pemasaran: Pasar Sengon sangat cerah

Pengalaman menarik dari petani hutan rakyat sengon yang berhasil


memanen (tahun 2008) 3 ha sengon setelah menunggu 5 tahun. Populasi
setiap hekar 600 pohon yang menjulang 16-20 m dan berdiameter 25 cm.
Petani ini berhasil mengantongi hasil sekitar Rp 211.750.000 dari penjualan
kayu sengon. Nilai itu berasal dari penjualan 270 m3 kayu gelondongan
berdiameter minimal 19 cm. Harganya Rp 650.000 per m3. Pekebun ini
juga menjual 50 m3 palet dengan harga Rp 725.000 per m3. Dengan biaya
perawatan setiap tahun rata-rata Rp 1.200.000 per ha, petani ini menangguk
laba bersih Rp 193.750.000. Itulah sebabnya menjelang musim hujan ini, ia
mempersiapkan lahan yang lebih banyak untuk menanam sengon.
Petani sengon dapat memanen semua pohon sengon atau tebang
habis, atau dapat pula memilih pohon untuk menjarangkan. Dengan luas
tanaman sengon 4 ha masing-masing berpopulasi 600 pohon sengon,
petani dapat menjarangkan 150 pohon per ha sehingga tersisa 450 pohon
sengon/ha. Dengan cara ini dapat memanen 250 m3 dari rata-rata tinggi
pohon 19-20 m dan berdiameter 25 cm. Dengan harga jual Rp 450.000 per
33

m3, dapat mengantongi hasil Rp 112.500.000. Sisa pohon dapat dipanen 2


tahun mendatang. Dengan asumsi memanen 300 m3 dari 450 pohon
berumur 7 tahun, jika harga jual tetap, maka dapat memperoleh Rp 135 juta
atau Rp 540 juta dari lahan 4 ha.
Dua tahun terakhir popularitas sengon memang meningkat. Padahal,
ia dikenal sebagai kayu kelas 3. Penyebabnya adalah karena adanya
kerusakan hutan alam sangat parah. Laju degradasi areal hutan setiap tahun
menyebabkan hutan tak mampu lagi menjadi pemasok kayu untuk bahan
baku industri.
Kayu sengon tidak sekeras kayu jati, namun dengan perendaman
dalam garam wolman, kayu sengon mampu bertahan 30-45 tahun. Garam
wolman dapat dibuat berupa campuran 25% natrium fluorida, 25%
dinatrium hidrogen arsenat, 37,5% natrium kromat, 12,5% dinitro fenol.
Teknologi lain untuk memperkuat sengon adalah biokomposit. Sengon
yang tak sekuat jati dicampur dengan kayu lain sesuai dengan peruntukan.

Masyarakat senang menanam sengon karena masa tebang relatif


singkat 5-10 tahun. Selain itu, ‘Pengelolaan budidaya sengon mudah,
kesesuaian tumbuh tak sulit, kayunya serbaguna, dan memperbaiki kualitas
serta kesuburan tanah. Budidaya sengon sangat mudah, risikonya tak
terlalu besar, dan pasarnya luas. Hutan rakyat sengon adalah tabungan untuk
masa depan.
Di pasaran internasional harga barecore US $220 setara Rp 1,98-juta
per m3. Barecore adalah papan berukuran 1,2 m x 2,4 m. Ketebalannya 10
mm dan 13 mm. Kebutuhan bahan baku untuk memproduksi 150 kontainer
barecore mencapai 14.000 m3. Misalnya, Taiwan meminta 50.000 m3
sawntimber, tetapi baru terpasok 8.000 m3.
Sengon khualitas kayu super, masih memiliki potensi yang cukup
besar untuk dijual dalam bentuk kayu. Alur pemasaran kayu Sengon ini
dalam kurun waktu lima tahun yang akan datang adalah seperti pada bagan
berikut ini.
Rantai/alur pemasaran A akan terus ditingkatkan dan dikembangkan,
guna memperpendek rantai tata niaga dan sebagai hasilnya diharapkan
meningkatkan market share petani lebih besar dari 45 % dari harga beli
konsumen.
Rantai/alur pemasaran B adalah sistem pemasaran kayu Sengon
yang telah terbentuk sejak lama. Pada pemasaran dengan sistem ini, upaya
yang diperlukan adalah memberikan/ meningkatkan kesadaran petani untuk
mengurangi penjualan dengan sistem tebasan kontan atau ijon, guna
meningkatkan market share petani dari harga beli konsumen.

Produsen Sengon Super


34

A. Petani anggota KUBA


Kemitraan Swasta

Exportir Expor

Sengon Lokal

Pedagang
besar

B. Petani non proyek Pasar


Pedagang Regional
pengumpul

Pasar
Pedagang lokal
eceran
35

V. MANAJEMEN KAHURA SENGON-JATI SUPER

Dalam mengelola hutan miliknya, para petani yang mengelola hutan


rakyatnya secara individual maupun secara komunal, memiliki kesamaan
dalam aspek-aspek kegiatan yang dilakukan. Dalam perkembangannya
direncanakan suatu arahan bagi para petani hutan rakyat yang ada agar
mampu aktif sebagai anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat. Hal ini
dimaksudkan agar seluruh masyarakat dapat merasakan keuntungan dari
kegiatan kelompok.
Aspek-aspek pengelolaan hutan rakyat di Ponorogo digambarkan
sebagai berikut.

a. Penanaman

Aspek penanaman terdiri atas 3 kegiatan pokok, yaitu :

(1) Penyiapan lahan


Kegiatan persiapan lahan merupakan usaha petani dalam
menyiapkan lokasi untuk kegiatan penanaman. Kegiatan persiapan lahan ini
biasanya bersamaan waktunya dengan kegiatan persiapan lahan untuk
tanaman pertanian. Kegiatan persiapan lahan biasanya dilakukan pada bulan
Agustus dan September, karena pada bulan-bulan tersebut belum turun
hujan. Lamanya kegiatan persiapan lahan tergantung pada kondisi masing-
masing petani yaitu berdasarkan luas kepemilikan lahan, dan ada/ tidaknya
tenaga kerja yang cukup.

Biasanya kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama dalam


mekanisme kerja kelompok. Dengan menggunakan mekanisme kerja
36

kelompok kegiatan persiapan lahan tersebut dapat dikerjakan dalam waktu


1-2 hari untuk tiap kepemilikan lahan. Kegiatan persiapan lahan terdiri atas
kegiatan pengolahan tanah, pemasangan acir, pembuatan lubang tanaman,
dan pemberian pupuk. Pengolahan tanah dilakukan dengan mencangkul dan
menggemburkan tanah dalam rangka mempersiapkan lahan garapan untuk
penanaman tanaman semusim. Penggemburan tanah dilakukan dengan
membalikkan tanah, pendangiran tanah dan pemberian pupuk. Biasanya
pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang.
Jumlah pupuk kandang yang dicampurkan dengan tanah disesuaikan
dengan kebutuhan. Pengolahan tanah dan pemberian pupuk kandang
biasanya dilakukan sebelum turun hujan agar pekerjaan menjadi relatif lebih
ringan karena kondisi pupuk kering sehingga mempermudah pengangkutan
ke lokasi penanaman.
Untuk penyiapan lahan tanaman berkayu dilakukan pemasangan
acir, pembuatan lubang tanaman dan pemberian pupuk kandang atau
kompos. Pembuatan lubang tanaman dilakukan dengan jarak tanam
(4mx4m) atau 2m x lebar bidang olah teras untuk bentuk tumpangsari, dan
(2x2) m untuk lahan yang menggunakan bentuk hutan murni.
Pemasangan acir dilakukan dengan menggunakan acir yang terbuat
dari bambu atau ranting cabang yang dapat diperoleh di sekitar lahan yang
sedang disiapkan. Panjang acir 1,5 m dengan bagian yang ditanam sedalam
0,5 m. Untuk lubang tanaman dibuat dengan ukuran (20x20x30) cm.
Setelah lubang tanaman siap kemudian diberi pupuk kandang ke dalam
setiap lubang sebanyak 1-2 kg. Kegiatan ini juga membutuhkan waktu
kurang lebih 1-3 hari jika dikerjakan secara kelompok. Setelah semua
kegiatan selesai, lahan dibiarkan sampai turun hujan, baru lahan mulai
ditanami.

(2) Persiapan bibit tanaman


Bibit tanaman berasal dari dua sumber yaitu dari permudaan
generatif dengan menggunakan cabutan dan permudaan vegetatif dengan
menggunakan trubusan. Dilihat dari asal permudaannya maka HR dapat
diklasifikasikan sebagai Middle Forest karena berasal dari permudaan
generatif atau vegetatif. Kedua bentuk hutan rakyat, baik bentuk murni
maupun tumpangsari menggunakan kedua tipe permudaan tersebut. Untuk
jenis Jati, Akasia, dan Mahoni permudaan generatif diperoleh dari anakan
alami yang cukup melimpah, sedangkan permudaan vegetatif diperoleh dari
trubusan pohon yang telah ditebang. Permudaan yang berasal dari anakan
alami yang berupa cabutan biasanya digunakan untuk menambah jumlah
tanaman yang ditanam sebagai kewajiban petani setelah menebang dan
untuk menyulam tanaman yang gagal, sedangkan permudaan yang berasal
dari trubusan biasanya digunakan untuk mengganti pohon yang telah
ditebang pada hutan rakyat bentuk tumpangsari. Permudaan yang berasal
dari cabutan tidak membutuhkan kriteria khusus, dengan demikian bibit
diambil dari anakan alami dengan ukuran kurang lebih 30 cm, kemudian
langsung ditanam pada lubang tanaman yang telah disiapkan.
37

Perlakuan yang biasa dilakukan hanya mengurangi jumlah daun dan


pemangkasan akar serabut. Permudaan yang berasal dari trubusan, tidak
mendapat perlakuan khusus, kecuali hanya menjarangi jumlah trubusan
dalam satu tonggak. Biasanya dalam satu tonggak biasanya dapat tumbuh 2-
4 trubusan yang saling bersaing dalam pertumbuhannya, sehingga seiring
dengan berjalannya waktu perlu dilakukan penjarangan terhadap trubusan
yang kondisinya tertekan ( inferior ) untuk memperoleh hasil yang lebih
baik.
38

Tanaman sengon
muda yang terawat
bagus

Untuk tanaman jenis lain seperti jenis Turi, Gliriside, Nangka, Pete,
dan Sengon Laut, bibit diperoleh dari areal KBD (Kebun Benih Desa) atau
membeli. Pada kenyataannya pemanfaatan bibit yang berasal dari areal
KBD kurang optimal karena bibit yang dikembangkan di areal KBD
sebagian besar merupakan jenis yang kurang diminati oleh masyarakat atau
jenis yang anakan alaminya melimpah. Hal ini menyebabkan masyarakat
tidak perlu mengambil bibit dari areal KBD untuk menanami lahannya
sehingga fungsi KBD belum optimal.
Petani umumnya lebih menyukai menggunakan permudaan yang
39

berasal dari trubusan, terutama untuk hutan rakyat bentuk tumpangsari,


karena memiliki pertumbuhan yang lebih baik jika dibandingkan dengan
yang berasal dari cabutan. Hal ini dimungkinkan karena permudaan yang
berasal dari trubusan tidak memerlukan adaptasi yang lama terhadap
lingkungannya, sedangkan yang berasal cabutan perlu beradaptasi terlebih
dahulu dengan lingkungan. Kegiatan persiapan bibit tanaman yang berasal
dari cabutan maupun trubusan tidak memerlukan waktu yang lama, karena
biasanya bibit yang hasil cabutan langsung ditanam di lokasi penanaman,
sedangkan untuk pembuatan bibit untuk areal KBD memerlukan waktu
kurang lebih 1-2 bulan sampai bibit siap tanam.
Peran dari kelompok tani dalam penyediaan bibit tanaman dapat
dilihat dari kegiatan penyiapan bibit tanaman, yaitu mulai dari pengumpulan
benih, pengumpulan anakan alami, perlakuan terhadap bibit sampai bibit
siap tanam dilakukan oleh seluruh anggota kelompok dalam bentuk
mekanisme kerja kelompok. Di samping itu, kelompok tani juga merupakan
lembaga yang mengelola kebun benih desa (KBD), dimana pada areal KBD
tersebut dibudidayakan jenis-jenis tanaman kayu untuk memenuhi
kebutuhan petani.

(3). Penanaman
Kegiatan penanaman tanaman tahunan biasanya dilakukan
bersamaan dengan penanaman tanaman semusim, yaitu pada saat hujan
turun pertama kali sekitar awal bulan Oktober. Lama kegiatan ini juga
tergantung dari besarnya volume pekerjaan, akan tetapi biasanya kegiatan
ini dilakkan dalam bentuk kerja kelompok sehingga hanya membutuhkan
waktu 1-2 hari untuk menyelesaikannya. Kegiatan penanaman dilakukan
pada awal musim penghujan dengan harapan tanaman tahunan dan tanaman
semusim mendapatkan air yang cukup. Tanaman semusim yang ditanam
adalah Padi (Gogo Rancah), Jagung, Kacang, Kedelai, Ketela Pohon, dan
rumput-rumputan, sedangkan tanaman kayu yang ditanam adalah Jati,
Akasia, Mahoni, dan jenis yang lain. Untuk memacu pertumbuhan baik
tanaman pertanian maupun tanaman berkayu ditambah dengan pemberian
pupuk TSP. Pemberian pupuk kimia tersebut hanya bersifat tambahan, yaitu
jika pemberian pupuk kandang dan kompos dirasa masih kurang.
Penanaman pada lahan bekas panen harus memperhatikan lokasi
bekas tonggak-tonggak tanaman sebelumnya. Penanaman bibit harus
terpisah jauh dari lokasi tonggak tanaman sebelumnya.
40
41

b. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman tahunan tidak terlepas dari tata waktu
( pranoto mongso ) pengelolaan tanaman pertanian, karena kegiatan itu
biasanya dilakukan bersamaan atau berurutan waktunya dengan kegiatan
pengelolaan tanaman pertanian. Aspek pemeliharaan tanaman tahunan
terdiri atas kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
(1) Rehabilitasi Teras dan Saluran Pembuangan Air (SPA/SPAT)
Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan pemeliharaan tanaman
tahunan, karena tanaman tahunan pada hutan rakyat biasanya berada pada
tepi teras sehingga kesempurnaan dan kestabilan bangunan teras merupakan
salah satu faktor yang menentukan keberhasilan tanaman.
Kegiatan perbaikan teras dan saluran pembuangan air (SPA/SPAT)
dilaksanakan pada bulan Oktober-November di saat petani sudah selesai
melakukan penanaman. Di sisi lain pada awal musim penghujan dimana
curah hujan belum terlalu tinggi, sehingga kegiatan itu merupakan antisipasi
terhadap datangnya curah hujan yang lebih tinggi. Pada waktu itu
diperlukan bangunan teras yang kokoh dan saluran pembuangan air/air
tanah yang baik. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan secara bersama-sama
oleh seluruh anggota kelompok tani., sehingga waktu yang dibutuhkan
untuk menyelesaikannya menjadi lebih singkat dan lamanya disesuaikan
dengan volume pekerjaannya. Menurut masyarakat setempat esensi dari
kegiatan ini adalah untuk menyempurnakan bangunan teras sehingga dapat
mengurangi degradasi lahan akibat terjadinya erosi sehingga kualitas lahan
dapat terjaga.

(2) Pendangiran Tanah dan Penyulaman Tanaman


Kegiatan ini biasanya dilakukan secara bersamaan, yaitu pada saat
petani tidak terlibat dalam kegiatan pengelolaan tanaman semusim. Lama
waktu pelaksanaan kagiatan ini biasanya 1-2 hari untuk tiap kepemilikan
lahan. Pendangiran tanah dimaksudkan untuk memperbaiki struktur tanah
sehingga tercipta kondisi aerasi dan drainase tanah yang baik, sedangkan
penyulaman tanaman dimaksudkan untuk mengganti tanaman yang mati
guna meningkatkan keberhasilan tanaman. Pendangiran tanah dan
penyulaman tanaman dikerjakan sekitar bulan Desember-Januari, pada saat
hujan masih turun sehingga tanaman hasil sulaman memiliki kesempatan
untuk mendapatkan air. Bibit tanaman untuk penyulaman berasal dari
cabutan anakan alami yang terdapat di sekitar areal hutan rakyat.

(3). Pemupukan
Kegiatan pemupukan dilakukan pada bulan Maret, bersamaan
dengan kegiatan penanaman tanaman palawija berupa kacang tanah. Pada
saat penanaman kacang tanah tersebut dilakukan pendangiran tanah yang
dilanjutkan dengan pemupukan. Setelah pemupukan tanaman kacang selesai
kemudian dilakukan pemupukan terhadap tanaman tahunan dengan
menggunakan pupuk kandang atau dengan pupuk kompos yang berasal dari
daun-daunan yang ada di lahan tersebut. Jumlah pupuk kandang yang
42

diberikan disesuaikan juga dengan kebutuhan. Lama waktu yang digunakan


untuk menyelesaikan kegiatan pemupukan ini biasanya 1-2 hari untuk tiap
kepemilikan lahan, bila melalui mekanisme kerja kelompok.

(4). Penyiangan
Kegiatan penyiangan dilakukan pada bulan Juni-Juli setelah kegiatan
panen kacang tanah dan ketela pohon. Penyiangan dilakukan dengan tujuan
membersihkan lahan dari gulma, rumput dan tanaman penggangu lainnya.
Bersamaan dengan kegiatan itu, dilakukan pula pembersihan lahan
dari sisa-sisa hasil panenan. Hasil kegiatan itu merupakan sumber tambahan
untuk mendapatkan hijauan makanan ternak. Hasil kegiatan penyiangan
berupa rumput-rumputan dan batang tanaman kacang dapat digunakan
untuk hijauan makanan ternak apalagi pada bulan Juni-Juli adalah bulan-
bulan kering dimana produksi rumput untuk pakan ternak sangat kurang.
Bagi tanaman tahunan kegiatan penyiangan dimaksudkan untuk
menghilangkan tanaman pengganggu yang dapat mengganggu pertumbuhan
tanaman dan mengurangi kompetisi dengan tanaman pengganggu dalam
memperoleh air, unsur hara, dan cahaya matahari.
Kegiatan penyiangan ini dilakukan secara perorangan (individual)
setiap hari pada bulan Juni-Juli, karena pada saat itu petani tidak memiliki
waktu yang relatif senggang. Kegiatan tersebut dapat juga dilakukan secara
kelompok jika memang volume pekerjaannya relatif besar.

(5) Pemangkasan Cabang ( Prunning )


Kegiatan pemangkasan cabang biasanya bersifat kondisional karena
tanaman tahunan sudah cukup besar sehingga menaungi tanaman pertanian
sehingga mengganggu produktivitas tanaman pertanian. Kegiatan prunning
dilakukan secara periodik pada bulan Juni-Juli, setelah tanaman kayu
berusia kurang lebih 5 tahun, sedangkan intensitasnya tergantung dari
kebutuhan. Jika naungan dirasa berat maka intensitasnya tinggi demikian
pula sebaliknya. Jika naungan tidak dapat dikurangi lagi dengan prunning
maka perlu dilakukan penjarangan. Kegiatan prunning, biasanya dilakukan
secara perorangan (individual) oleh petani dan bersamaan dengan kegiatan
penyiangan. Jadi sambil mencari HMT petani juga mencari kayu bakar
melalui kegiatan ini untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak dan
kebutuhan energi rumah tangganya. Lama kegiatan ini tidak bisa ditentukan
biasanya tiap hari pada saat petani memiliki waktu luang. Hasil dari
kegiatan prunning yang berupa cabang dan ranting kayu digunakan oleh
petani untuk memenuhi kebutuhan energi berupa kayu bakar, sedangkan
hasil kegiatan prunning yang berupa daun-daunan terutama untuk jenis
Mahoni dan Sengon Laut juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan
hijauan makanan ternak.
Esensi dari kegiatan prunning ini adalah mengurangi gangguan
tanaman pertanian berupa naungan dari tanaman tahunan, meningkatkan
kualita batang dengan mengurangi cacat mata kayu, memenuhi kebutuhan
energi berupa kayu bakar, serta untuk memenuhi kebutuhan akan hijauan
43

makanan ternak.

(6) Penjarangan
Kegiatan penjarangan juga bersifat kondisional karena penjarangan
baru dilakukan bila pemangkasan cabang ( Prunning ) dirasa tidak dapat
mengatasi/mengurangi naungan. Di samping itu kegiatan penjarangan
berguna untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih baik terhadap tegakan
tinggal sehingga pertumbuhannya dapat optimal. Kegiatan penjarangan
dilakukan setelah tanaman tahunan berumur 5-10 tahun, di mana pada saat
itu tanaman kayu sudah menaungi tanaman pertanian. Kegiatan penjarangan
dilakukan petani secara perorangan (individual) dengan sepengetahuan
kelompok tani, karena setiap penebangan pohon baik untuk pemanenan
maupun penjarangan harus sepengetahuan kelompok. Penjarangan yang
dilakukan adalah penjarangan bawah karena pohon yang dijarangi adalah
pohon-pohon yang pertumbuhannya jelek dan tertekan ( inferior ),
sedangkan intensitas penjarangan disesuaikan dengan kebutuhan. Kayu hasil
kegiatan penjarangan juga dapat digunakan sebagai sumber pendapatan
antara bagi petani hutan rakyat.
44

Dari uraian mengenai aspek kegiatan penanaman dan pemeliharaan


terlihat jelas besarnya peranan kelompok tani dalam membantu petani untuk
mengelola lahan mereka terutama berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan
tenaga kerja.

c. Pemanenan
Kegiatan pemanenan/penebangan kayu pada hutan rakyat dilakukan
sesuai dengan kebutuhan petani pemilik hutan rakyat. Kayu yang
dipanen/ditebang adalah kayu yang sudah cukup umur dan sudah laku di
pasaran, sedangkan bentuk dan ukuran kayu dijadikan faktor penentu harga,
sehingga makin baik kualita kayu maka harga kayu makin mahal. Kayu
dijual oleh petani kepada pengumpul dalam keadaan kayu berdiri,
sedangkan sistem penebangannya didasarkan atas peraturan dan tata tertib
kelompok tani yakni sistem tebang pilih. Sistem tebang pilih tersebut
didasarkan pada umur tanaman minimal yang boleh dipanen, sehingga
diharapkan kayu yang ditebang adalah kayu yang sudah cukup umur dan
memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Berdasarkan tata tertib kelompok tani, kegiatan penebangan
umumnya ditetapkan dengan sistem tebang pilih dengan menggunakan batas
minimal umur. Untuk jenis Jati umur tebang minimal 20 tahun, untuk Jenis
Akasia umur tebang minimal 10 tahun, dan untuk jenis Mahoni umur tebang
minimal 15 tahun. Pada prakteknya umur tebang rata-rata untuk jenis Jati
adalah 15 tahun, untuk jenis Mahoni 20 tahun, dan untuk jenis Akasia 10
45

tahun.
Pada umumnya kegiatan penebangan dilakukan oleh pembeli yang
merupakan pedagang pengumpul. Penebangan dilakukan secara manual
dengan menggunakan gergaji tangan, dengan komponen-komponen
kegiatan sebagai berikut : perebahan pohon ( felling ), pembersihan cabang
( limbing ) dan pembagian batang ( bucking ), serta kegiatan penyaradan
( skidding ) dan pengangkutan ( haulling ). Kegiatan penebangan dilakukan
oleh 1 regu tebang yang beranggotakan 6 orang blandong, yang tugasnya
melakukan penebangan, penyaradan dengan di pikul dan loading/reloading
kayu ke atas truk. Dalam kegiatan penebangan semua biaya ditanggung oleh
pembeli. Komponen biaya eksploatasi terdiri atas biaya upah blandong Rp
7000,-/hari/orang, biaya transportasi (truk) Rp 20.000,-/rit, dan biaya untuk
pas angkutan kayu Rp 50.000,- untuk sekali angkut.
Dalam kegiatan penebangan ini peranan kelompok tani dan
perangkat desa sangat besar dalam mengontrol pemanenan kayu karena
setiap penebangan harus diketahui/ mendapat ijin dari perangkat desa dan
kelompok tani. Dengan demikian lembaga-lembaga di atas dapat berfungsi
sebagai pengawas dalam kegiatan penebangan agar asas kelestarian dapat
terjamin.
Selesai kegiatan penebangan, kayu kemudian dibawa ke tempat
penumpukan kayu (TPn). Tempat itu dapat terletak di pinggir jalan atau di
area khusus seperti di halaman pekarangan milik pedagang kayu. Setelah
melakukan penebangan petani diwajibkan untuk menanami lahan mereka
dengan permudaan baru sebanyak 5-10 batang untuk tiap pohon yang
ditebang. Jumlah tersebut diharapkan mampu mengganti jumlah pohon yang
ditebang, dengan asumsi keberhasilan tanaman rata-rata 70% (berdasarkan
pengalaman) ditambah permudaan hasil trubusan jumlah tersebut mampu
menjamin kelestarian.

d. Pengaturan Hasil
Pada dasarnya aspek pengaturan hasil hutan rakyat tidak
didefinisikan secara khusus oleh petani, karena petani biasanya melakukan
pemanenan kayu berdasarkan kebutuhan, dan belum direncanakan secara
baik. Dari hasil wawancara dengan pedagang kayu setempat diperoleh
informasi bahwa petani rata-rata memanen/menebang pohon miliknya
secara periodik dan kontinyu, yaitu rata-rata setahun 2 kali. Waktu
penebangan biasanya menjelang hari raya dan pada tahun ajaran sekolah
dimulai, karena kedua kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan yang agak
besar.
Kedua kebutuhan itu memerlukan biaya lebih, sehingga mereka
perlu untuk melakukan pemanenan kayu miliknya. Mengenai jenis, volume
dan jumlahnya kurang diperhatikan, dalam hal ini disesuaikan dengan
kebutuhan. Hal tersebut dikuatkan dengan besarnya volume perdagangan
kayu pada waktu-waktu tersebut. Dari keterangan di atas dapat diasumsikan
bahwa petani rata-rata menebang kayu miliknya dua kali pertahun dengan
jumlah batang dan volume yang disesuaikan kebutuhan, yaitu jika
46

kebutuhan kecil pohon yang ditebang jumlah dan volumenya relatif kecil,
sedangkan bila kebutuhan besar pohon yang ditebang jumlah dan
volumenya juga besar. Untuk menjamin kelestarian, petani yang menebang
kayu diwajibkan menanami lahannya dengan 2-5 batang untuk setiap batang
pohon yang ditebang. Di samping itu, kelestarian diperoleh dari hasil
permudaan berupa trubusan tonggak sebanyak 2-4 batang. Metode
pengaturan hasil hutan rakyat, seperti digambarkan di atas sangat spesifik
dan berbeda dengan metode pengaturan hasil konvensional yang biasa
diterapkan pada hutan negara, karena mereka lebih menekankan pada
pengelolaan individu pohon per pohon dan bukan pengelolaan kawasan.
Bagi masyarakat setempat yang penting adalah terjaminnya kelestarian baik
kelestarian produksi maupun kelestarian sumber daya hutan, sehingga
mereka dapat secara kontinu memanen produksi kayu miliknya.
Petani memiliki rutinitas dalam pemanenan kayu setiap tahunnya,
dengan jumlah batang dan volumenya disesuaikan kebutuhan. Kegiatan
penebangan ini diimbangi dengan kewajiban melakukan permudaan setiap
kali mereka menebang pohon miliknya sehingga dapat tercipta kelestarian
baik kelestarian produksi maupun kelestarian sumber daya hutan. Hal
tersebut merupakan salah satu bentuk metode pengaturan hasil yang
dipraktekkan oleh petani walaupun metode tersebut belum merupakan
model yang konseptual.

e. Aspek Pemasaran
Pemasaran hasil hutan rakyat berupa hasil hutan kayu atau nonkayu
pada dasarnya tidak mengalami kesulitan yang berarti. Untuk pemasaran
hasil hutan berupa kayu, kesulitan yang sering dihadapi oleh petani adalah
posisi tawar mereka yang rendah dalam penentuan harga jual. Hal ini
dikarenakan kurangnya pengetahuan petani tentang potensi volume kayu
dan tentang kualita kayu. Di samping itu, penjualan kayu oleh petani hanya
didasarkan pada kebutuhan yang mendesak menyebabkan petani selalu
berada pada posisi tawar yang rendah, karena petani butuh segera
mendapatkan uang, sehingga harga jual kayu yang menentukan biasanya
tengkulak.
Pemasaran hasil hutan kayu baik dalam bentuk kayu gelondong
maupun kayu gergajian setengah jadi tidak mengalami kesulitan, karena
biasanya petani yang akan menjual kayu miliknya, akan didatangi oleh
pedagang/tengkulak kayu.
Pemasaran hasil hutan kayu dibagi menjadi dua untuk kayu jenis
komersial dijual dalam bentuk gelondongan, sedangkan untuk kayu rimba
dari jenis nonkomersial dijual dalam bentuk bahan baku mebeler setengah
jadi. Volume pemasaran kayu rata-rata untuk Dusun Kedung Keris juga
bervariasi antara 4 m3-24 m3 untuk tiap bulannya.
Untuk pengolahan hasil tebangan berupa kayu nonkomersial
dilakukan oleh pedagang. Tujuannya adalah untuk meningkatkan
keuntungan yang didapat dengan memberikan nilai tambah pada produk.
Bentuk produk hasil olahan biasanya berupa bahan baku mebel dalam
47

bentuk setengah jadi. Untuk pengolahan hasil produksi tersebut diperlukan


tambahan biaya Rp 80.000,- per hari, untuk keperluan sewa circle saw dan
upah tenaga kerja. Produk yang dihasilkan berupa kayu gergajian yang
digunakan untuk bahan baku mebeler, dengan kapasitas produksi 50 set
bahan mebeler per hari. Satu set kayu gergajian untuk bahan mebeler dijual
dengan harga jual Rp 17.000, sehingga diperoleh pendapatan total Rp
850.000,- tiap hari. Usaha untuk memberikan nilai tambah pada hasil
produksi kayu non komersial, yang dilakukan oleh petani yang merangkap
sebagai pedagang pengumpul merupakan salah satu bentuk usaha hutan
rakyat ( Small Scale Forest-Based Enterprises ).
Dalam kegiatan pemasaran, jalur distribusi perdagangan kayu bulat
dan kayu gergajian dalam bentuk bahan baku mebeler setengah jadi
mengikuti saluran yang berbeda. Dari skema jalur distribusi kayu bulat
maupun kayu gergajian petani menjual langsung kepada pengumpul kecil
yang biasanya merupakan pedagang kayu lokal, selanjutnya pengumpul
kecil menjual kepada pengumpul besar yang biasanya merupakan pedagang
yang berasal dari luar daerah, dari pengumpul besar kemudian
didistribusikan ke industri pengolahan baik industri penggegajian atau
industri mebeler, akhirnya setelah keluar dari industri pengoalahan produk
kayu olahan didistribusikan ke konsumen, baik lokal maupun ekspor.
Dalam kegiatan pemasaran terjadi proses jual beli. Pembeli yang
akan membawa kayunya ke tempat ( kota ) lain memerlukan pas angkutan
kayu. Untuk mendapatkan pas angkutan kayu, pembeli (pedagang kayu)
dapat memperolehnya dari Cabang Dinas Kehutanan. Pas angkutan kayu
yang diperoleh hanya dapat digunakan untuk sekali pakai untuk satu kota
tujuan, sehingga untuk kota yang lain diperlukan pas angkutan kayu yang
lain pula.

5. Kelembagaan
Aspek kelembagaan yang dimaksud adalah kelembagaan baik formal
maupun nonformal yang terlibat dalam pengelolaan hutan rakyat.
Kelembagaan formal meliputi organisasi/lembaga yang berada di bawah
struktur pemerintah, baik pemerintah Daerah Tingkat I maupun pemerintah
Daerah Tingkat II, sedangkan kelembagaan nonformal berupa organisasi
kelompok tani. Kelembagaan formal dalam prakteknya lebih berperan
dalam memberikan penyuluhan dan bimbingan teknis kepada petani baik
melalui kelompok tani maupun secara individual, sedangkan lembaga
nonformal lebih berperan dalam operasional pengelolaan hutan rakyat.
Gambaran mengenai struktur kelembagaan formal pengelolaan hutan
rakyat menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten melalui Dinas
Kehutanan memiliki peranan penting dalam pengembangan hutan rakyat.
Kontribusi kelembagaan formal adalah memberikan bimbingan dan
penyuluhan teknis tentang pengelolaan hutan rakyat, serta membantu
kelompok tani dalam menyusun Perencanaan Pengelolaan Hutan Rakyat
(PPHR). Di samping itu, kelembagaan formal juga memberi bantuan berupa
insentif dalam bentuk proyek yang membantu petani bila ingin melakukan
48

penanaman tanaman berkayu di lahan miliknya. Lembaga formal juga dapat


berperan sebagai mediator yang menghubungkan kelompok tani dengan
instansi/lembaga lain yang dapat bekerja sama dalam pengembangan hutan
rakyat.
Target dan tujuan yang ingin dicapai oleh kelembagaan formal
dalam pengembangan hutan rakyat adalah mengembangkan hutan terutama
di luar kawasan hutan negara. Arahan pengembangan hutan rakayat tersebut
diharapkan mampu menciptakan kawasan hutan seluas 30% dari total luas
daratan di Kabupaten Ponorogo. Untuk kelembagaan nonformal kontribusi
yang diberikan lebih besar karena lembaga nonformal yang berupa
Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR) merupakan alternatif solusi yang
dapat membantu petani apabila mereka mengalami permasalahan di dalam
mengelola hutan rakyat miliknya. KTHR dapat berperan secara langsung
dalam membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan petani hutan rakyat
dalam mengelola hutan rakyat milik mereka, diantaranya kebutuhan akan
tenaga kerja, kebutuhan akan modal, dan kebutuhan akan peralatan
pertanian. KTHR merupakan kelompok tani yang dibentuk oleh petani
hutan rakyat. Tujuannya adalah mewujudkan tujuan bersama dalam
mengelola hutan rakyat mereka secara bersama. Kelompok tani tersebut
memiliki areal hutan rakyat seluas rata-rata 35 ha yang dikelola secara
komunal. Umumnya struktur organisasi KTHR telah lengkap menurut
kebutuhan petani. Kelompok itu juga memiliki administrasi yang baik dan
kegiatan kelompok yang kontinu dan sudah direncanakan dengan baik untuk
menunjang pengelolaan hutan rakyat maupun untuk meningkatkan
kesejahteraan anggotanya. Struktur organisasi yang berlaku dalam
kelompok tani itu adalah pembagian wewenang dan tanggung jawab yang
jelas dari setipa pengurusnya, serta administrasi kegiatan misalnya
pencatatan buku-buku administrasi untuk setiap kegiatan yang ada. Di
samping itu telah dilakukan Perencanaan Pengelolaan Hutan Rakyat
(PPHR) terhadap kegiatan-kegiatan pengelolaan tanaman tahunan seperti
penanaman dan pemeliharaan, serta pencatatan realisasi kegiatan dan
evaluasi hasil yang di capai untuk tiap-tiap kegiatan. Kegiatan-kegiatan
yang dilaksanakan oleh KTHR:

a. Pertemuan Rutin
Pertemuan rutin kelompok tani dilakukan setiap malam tertentu
(Selapan). Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh seluruh anggota dan oleh
Petugas Lapangan Penghijauan (PLP) kecamatan. Agenda pertemuan
biasanya terdiri atas penyuluhan dan bimbingan teknis dari PLP,
mendiskusikan permasalahan yang dihadapi beserta solusinya, serta arisan
anggota kelompok tani. Kegiatan penyuluhan dan bimbingan teknis
dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan teknis
petani dalam mengelola hutan rakyat milik mereka, kegiatan diskusi
dimaksudkan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh petani
dalam mengelola hutan rakyat dan mencari solusi pemecahannya,
sedangkan kegiatan arisan merupakan kegiatan sosial guna mempererat
49

hubungan sosial antar anggota kelompok di samping untuk melatih anggota


untuk menabung.

b. Kegiatan Kerja Kelompok


Kegiatan kerja kelompok merupakan kegiatan yang besar
menfaatnya bagi anggota kelompok tani dalam mengelola lahan miliknya.
Kegiatan kerja kelompok diikuti oleh seluruh anggota kelompok, yang
dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota kurang
lebih 10 orang. Salah seorang anggota kelompok tersebut dipilih menjadi
ketua.
Masing-masing anggota kelompok kecil tersebut dapat
menggunakan tenaga anggota kelompok yang lain secara bergiliran, dalam
melakukan kegiatan pengelolaan lahan baik pengelolaan tanaman pertanian
maupun tanaman tahunan. Kompensasi dari penggunaan tanaga itu adalah
membayar biaya Rp 100,- per orang per hari yang disetorkan ke dalam kas
kelompok. Giliran penggunaan tenaga anggota kelompok diatur secara
musyawarah dengan prioritas pada anggota yang kebutuhan tenaganya
paling mendesak.
Kegiatan ini sangat besar manfaatnya karena banyak petani yang
kekurangan tenaga kerja dalam mengelola lahan miliknya sehingga adanya
kegiatan kerja kelompok kesulitan untuk mencari tenaga kerja untuk
mengelola lahan tidak dialami. Keuntungan yang diperoleh adalah petani
dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja dengan biaya murah karena jika
menggunakan tenaga kerja/buruh penggarap mereka harus mengeluarkan
upah sebesar Rp 5000,- per orang per hari. Di samping itu, kegiatan kerja
kelompok ini mengandung nilai sosial yang tinggi karena setiap pekerjaan
dilakukan secara gotong royong.

c. Kegiatan Simpan Pinjam


Kegiatan kelompok tani yang lain adalah kegiatan simpan pinjam
kepada anggota. Anggota memiliki hak untuk meminjam uang yang berasal
dari kas kelompok tani dengan bunga rendah ( 1%) dan angsuran sebanyak
10 kali.
Jumlah pinjaman disesuaikan dengan kebutuhan petani dan jumlah
uang kas milik kelompok tani. Kegiatan simpan pinjam ini dilakukan agar
anggota kelompok yang memiliki kebutuhan mendesak dapat memenuhi
kebutuhannya tanpa harus menebang pohon milik mereka. Hal ini
dimaksudkan agar petani tidak terburu-buru menjual kayu miliknya karena
kebutuhan yang mendesak. Dengan demikian petani menjual kayu miliknya
karena kayu tersebut memang telah cukup umur.
Kendala yang dihadapi dalam kegiatan simpan pinjam ini adalah
jumlah modal/kas kelompok tani yang relatif masih kecil sehingga belum
mampu mengakomodir semua kebutuhan anggota, tetapi dalam
perkembangan selanjutnya kegiatan ini diharapkan dapat mengakomodir
semua kebutuhan anggota.
50