Anda di halaman 1dari 10

OSMOREGULASI

Oleh :
Nama : Rina Andriyani
NIM : B1J009052
Rombongan : III
Kelompok :5
Asisten : Didi Humaedi Yusuf

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2011
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Data Pengamatan Sintasan Larva (Tingkat Kelulusan Kehidupan)


No. Jenis Metode ∑ Ikan ∑ Ikan Hidup Sintasan
Ikan Mati
1 Nilem Direct (0-15) 10 0 100%

2 Nila Direct (0-15) 10 0 100%

3 Nilem Direct (0-25) 3 7 30%

4 Nila Direct (0-25) 10 0 100%

5 Nilem Indirect 4 6 40%


(0-15-25)
6 Nila Indirect 10 0 100%
(0-15-25)

Tabel 2. Data Pengukuran Osmolalitas Plasma dan Media Ikan


Kelompok Salinitas Osmolalitas (mmol/kg) Kapasitas
Plasma Media osmoregulasi

1 0 ppt 291 197 1,48


2 5 ppt 284 193 1,47
3 10 ppt 317 253 1,25
4 15 ppt 315 278 1,13
5 20 ppt 795 411 1,93
6 25 ppt 713 511 1,4

Perhitungan :
 Sintasan = X 100%
4
= 10 X 100%
= 40%

 Kapasitas Osmoregulasi = Osmolalitas plasma


Osmolalitas medium

= 795
411
= 1,93 mmol/kg
Grafik Kapasitas Osmoregulasi
B. Pembahasan

Berdasarkan hasil percobaan pada kelompok 1 sampai 6 maka nilai yang


diperoleh dari salinitas 0 ppt, 5 ppt, 10 ppt, 15 ppt, 20 ppt dan 25 ppt mempunyai
osmolalitas plasma berturut-turut yaitu 291, 284, 317, 315, 795 dan 713 mmol/kg,
sedangkan osmolalitas media berturut-turut ada1ah 197, 193, 253, 278, 411 dan
511 mmol/kg. Berdasarkan grafik dapat diketahui bahwa semakin tinggi salinitas
lingkungan, maka nilai osmolalitas yang diperoleh baik pada media maupun
plasma semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan (Hurkat and Martur, 1976) yang
menyatakan bahwa ikan Nila mempunyai tingkat osmolalitas yang lebih tinggi
jika dibandingkan dengan lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri sampai
salinitas yang cukup tinggi, sedangkan ikan nilem tidak mampu hidup pada
salinitas yang cukup tinggi. Semakin tinggi salinitasnya maka semakin tinggi pula
nilai osmolalitas plasma dan medianya (Hurkat dan Martur, 1976).
Nilai standar osmolalitas ikan Nila yang masih segar berkisar antara 260-
330 mmol/kg. Organisme air tawar, lingkungan luarnya sangat hipoosmotik
terhadap cairan tubuh internal hewan air tawar, dan hewan ini harus menghadapi
kecenderungan air untuk masuk melalui cara difusi ke dalam tubuhnya, terutama
ke bagian yang berlapis tipis, seperti insang. Berdasarkan keadaan tersebut, maka
dapat dikatakan bahwa semua hewan air ialah osmoregulator (Ville et al., 1988).
Osmoregulasi adalah kemampuan organisme untuk mempertahankan
keseimbangan kadar dalam tubuh, didalam zat yang kadar garamnya berbeda
(Kashiko.2000:389). Secara sederhana hewan dapat diumpamakan sabagai suatu
larutan yang terdapat di dalam suatu kantung membran atau kantung permukaan
tubuh. Hewan harus menjaga volume tubuh dan kosentrasi larutan tubuhnya
dalam rentangan yang agak sempit. Yang menjadi masalah adalah konsentrasi
yang tepat dari cairan tubuh hewan selalu berbeda dengan yang ada
dilingkungannya. Perbedaan kesentrasi tersebut cenderung mengganggu keadaan
manpat dari kondisi internal. Hanya sedikit hewan yang membiarkan kosentrasi
cairan tubuhnya berubah-ubah sesuai dengan lingkungannya dalam kedaan
demikian hewan dikatakan melakukan osmokonfirmitas. Kebanyakan hewan
menjaga agar kosentrasi cairan tubuhnya tetap lebih tinggi dari mediumnya
(regulasi hiporosmotis) atau lebih rendah dari mediumnya (regulasi hipoosmotis).
Untuk itu hewan harus berusaha mengurangi gangguan dengan menurunkan (1)
permeabilitas membran atau kulitnya (2) gardien (landaian) kosentrasi antara
cairan tubuh dan lingkungannya.
Osmoregulator merupakan hewan yang harus menyesuaikan osmolaritas
internalnya, karena cairan tubuh tidak isoosmotik dengan lingkungan luarnya.
Seekor hewan osmoregulator harus membuang kelebihan air jika hewan itu hidup
dalam lingkungan hiperosmotik. Kemampuan untuk mengadakan osmoregulasi
membuat hewan mampu bertahan hidup, misalnya dalam air tawar dimana
osmolaritas tertemtu rendah untuk mendukung osmokonformer, dan didarat
dimana air umumnya tersedia dalam jumlah yang sangat terbatas. Semua hewan
air tawar dan hewan air laut adalah osmoregulator. Manusia dan hewan darat
lainnya yang juga osmoregulator harus mengkompensasi kehilangan air.
Keadaan kondisi internal yang mantap dapat dipelihara hanya bila
organisme mampu mengimbangi kebocoran dengan arus balik melawan gradient
kosentrasi yang memerlukan energi. Untuk memelihara air dan kosentarsi larutan
cairan tubuh konstan yang berdeba dengan lingkungannya, antara hewan air laut,
air tawar, dan hewan darat sangatlah berbeda. Kelompok hewan yang berbeda
menggunakan organ yang berbeda. Rentangan zat-zat yang diregulasi sangat luas
melibatkan senyawa-senyawa seperti hormon, vitamin dan larutan yang signifikan
terhadap perubahan nilai osmotik.
Pengukuran sintasan ikan nila dengan ikan nilem dilakukan dengan secara
direct transfer dan indirect transfer. Berdasarkan hasil percobaan dan perhitungan
pada percobaan direct transfer (kelompok 1-4), yaitu pada ikan nila 10 ekor
langsung dimasukkan ke dalam air dengan salinitas 0-15 ppt setelah 10 menit
didapatkan hasil semua ikan hidup, sedangkan ikan nilem hanya terdapat 3 ekor
yang hidup, berarti kelangsungan hidup atau sintasannya adalah 100% untuk
kelompok 1, 2 dan 4, sedangkan sintasan untuk kelompok 3 hanya 30%.
Perlakuan indirect transfer (kelompok 5 dan 6) mula-mula 10 ikan dimasukkan ke
dalam air dengan salinitas 0-10-25 ppt, setelah 10 menit untuk kelompok 6
dengan jenis ikan nila semuanya hidup, sedangkan untuk kelompok 5 dengan jenis
ikan nilem tersisa 4 ekor ikan yang hidup, sehingga sintasannya secara berurutan
yaitu 100%, 100%, 30%, 100%, 40%, 100%. Semakin tinggi konsentrasi maka
semakin kecil nilai sintasannya atau semakin banyak ikan yang mati. Ikan nila
jika dilihat dari toleransinya terhadap perubahan kadar garam termasuk ke dalam
ikan yang eurihalin. Ikan eurihalin yaitu ikan yang toleransi terhadap perubahan
salinitasnya luas.
Hubungan antara plasma darah, media dan konsentrasi media atau
salinitas dapat dituliskan bahwa semakin tinggi konsentrasi media, maka semakin
tinggi pula media dan konsentrasi plasma darahnya. Besarnya osmolalitas pada
plasma darah lebih besar jika dibandingkan dengan osmolalitas media. Hal ini
disebabkan karena hewan-hewan air tawar harus menyimpan kadar garam pada
cairan tubuhnya lebih tinggi daripada yang terdapat dalam media (air). Oleh
karena itu, air akan masuk ke dalam tubuh secara osmosis dan garam keluar
secara difusi (Hickman, 1972).
Menurut Campbell et al. (2004), terdapat dua penyelesaian dasar terhadap
permasalahan keseimbangan antara perolehan dan kehilangan air. Satu
penyelesaian untuk hewan laut adalah tetap bersifat isoosmotik dengan
lingkungan air asinnya. Hewan seperti itu yang tidak secara aktif menyesuaikan
osmolaritas internalnya dikenal sebagai osmoconformer. Sebaliknya
osmoregulator merupakan hewan yang harus menyesuaikan osmolaritas
internalnya karena cairan tubuhnya tidak isoosmotik dengan lingkunga luarnya.
Sebagian besar hewan baik merupakan osmokonformer maupun osmoregulator
tidak dapat mentolerir perubahan yang sangat besar dalam osmolaritas eksternal.
Hewan seperti itu dikatakan sebagai hewan stenohalin. Akan tetapi, beberapa
hewan yang disebut euryhalin, dapat bertahan hidup dalam lingkungan dengan
fluktuasi osmolaritas eksternal yang sangat besar. Hewan-hewan itu bisa
menyesuaikan dengan perubahan suhu atau mengatur osmolaritas internalnya di
dalam kisaran yang sempit bahkan ketika lingkungan eksternalnya berubah.
Contoh hewan osmoregulator adalah ikan nila, sedangkan hewan
osmoconformer adalah ikan laut, ubur-ubur, dan rajungan. Salah satu contoh
hewan euryhalin yaitu ikan bertulang sejati yang disebut tilapia, ikan asli Afrika
yang dapat menyesuaikan diri dengan konsenterasi garam dengan kisaran antara
konsentrasi air tawar dan dua kali konsentrasi air laut.
Kapasitas adaptif ikan nila untuk salinitas yang berbeda tergantung pada
fungsi osmoregulatori terintegrasi berbagai organ, terutama insang, saluran
pencernaan dan ginjal (1). Insang ikan teleost memainkan peran penting dalam
peraturan ion (2,3). Adaptasi ikan nila untuk salinitas air melibatkan beberapa
perubahan fungsional dalam epitel insang klorida sel (CCS) dan +-ATPase Na +-
K kegiatan. CCS mitokondria-kaya jarang ditemukan dibagikan pada filamen, di
daerah interlamellar, dan pada dasar lamellae (4,5). CCS telah diidentifikasi
sebagai satunya elemen epitel insang mengalami modifikasi yang jelas pada ikan
euryhaline selama adaptasi terhadap salinitas yang berbeda (1). Sel-sel ini adalah
utama lokasi + Na +-K-ATPase insang (3,6). Peningkatan
salinitas hasil di augmentasi Na +-K +-ATPase kegiatan maupun perubahan
morfologi CCS (3,7,8). Tujuan dari studi ini adalah untuk menentukan pengaruh
salinitas yang tinggi pada insang aktivitas +-ATPase Na +-K dan CC kelimpahan
dalam Oreochromis niloticus ( Guner et al., 2004).
Mekanisme menjaga konsentrasi tubuh pada ikan dapat dilihat melaui
osmoregulasi pada ikan bertulang sejati yang hidup di air laut dan air tawar.
Seekor ikan laut, seperti ikan cod, adalah hipoosmotik terhadap air laut
disekitarnya dan dengan demikian secara konstan kehilangan air melalui osmosis.
Ikan itu meminum banyak sekali air laut, insang pada permukaan tubuh umumnya
membuang natrium klorida (sel-sel khusus yang disebut sel klorida secara aktif
mengangkut Cl- keluar dan Na+ mengikutinya secara pasif) dan ginjalnya
emngeluarkan kelebihan ion-ion kalsium (Ca2+), magnesium (Mg2+) dan sulfat
(SO42-) sementara mengekskresikan hanya sejumlah kecil air. Menghadapi situasi
yang berlawnan, seekor ikan air tawar seperti ikan perch ini secara konstan
mendapatkan air karena ia berada dalam keadaan hiperosmotik dibandingkan
dengan sekelilingnya. Ikan itu menyeimbangkan perolehan air dengan cara
mengekskresikan banyak sekali urin yang hipoosmotik terhadap cairan tubuhnya.
Garam yang hilang dalam urin dipulihkan kembali melalui makanan dan melalui
pengambilan melewati insang, sel-sel klorida pada insang secara aktif
mentrasnspor Cl- masuk ke dalam (Campbell et al., 2004).
Ikan bertulang rawan mempertahankan mereka iso-plasmaosmotik atau
sedikit hiper-osmosis air laut ke daerah sekitarnya,terutama melalui retensi urea
(ureosmotic) untuk mengatasi stres hyperosmotic di lingkungan laut. Sistem
osmoregulatory awalnya dianggap unik pada ikan bertulang rawan, tetapi sebuah
bukti menunjukkan, bahwa ureosmotic merupakan strategi yang didistribusikan
secara luas di seluruh spesies vertebrata. Misalnya, coelacanth adalah ikan
bertulang yang melakukan osmoregulasi urea. Dalam ginjal mamalia, konsentrasi
yang tinggi urea dijaga dalam medula untuk menciptakan lingkungan osmolalitas
tinggi di intersititium tersebut, air diserap kembali dari urine primer ke
intersititium dengan gradien osmotik, mengakibatkan retensi air dalam tubuh.
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa strategi ureosmotic adalah mekanisme dasar
dalam vertebrata untuk retensi air di lingkungan salinitas tinggi dan kering
(Hyodo et al., 2007).
Proses adaptasi terhadap kondisi salinitas dilakukan melalui proses
osmoregulasi yaitu proses pengaturan antara tekanan osmotik dalam tubuh agar
sesuai dengan tekanan osmotik medianya. Proses osmoregulasi ini membutuhkan
sejumlah energi yang diperoleh dari pakan yang dikonsumsi. Dengan demikian,
energi yang diperoleh dari hasil metabolisme dalam tubuh yang seharusnya
digunakan untuk pertumbuhan akan berkurang atau habis yang menyebabkan
pertumbuhan menjadi terhambat (Rusdi et al., 2006).
Faktor yang mempengaruhi osmoregulasi adalah salinitas, yaitu kadar ion-
ion ter larut dalam air dan dinyatakan dalam g/lt (1/100) atau ppt. Samakin tinggi
salinitas maka semakin tinggi tekanan osmotiknya. Hal ini membuktikan bahwa
salinitas berhubungan dengan tekanan osmotik air. Tingkat osmotik yang
diperlukan berbeda-beda. Ikan air tawar tidak mampu beradaptasi terhadap
lingkungan dengan salinitas tinggi karena sifatnya yang hiperosmotik. Salinitas
yang optimla bagi ikan air tawar adalah 20 ppt, karena pada salinitas ini
konsentrasi cairan tubuh ikan mendekati isoosmotik dengan konsentrasi cairan
lingkungan. Perubahan salinitas medium yang menyababkan perubahan
osmolalitas plasma juga menghasilkan perubahan kapasitas osmoregulasi
(Gordon, 1982).
Sintasan adalah persentase dari individu yang bertahan hidup setelah
beberapa waktu, relatif terhadap banyaknya telur yang menetas menjadi larva.
Ikan akan mati setelah melewati batas sintasan dan dapat disebabkan oleh tiga
kemungkinan antara lain karena gagalnya mekanisme pengaturan yang akhirnya
menyebabkan perubahan konsentrasi internal yang bersifat fatal, gangguan fungsi
respirasi insang sehingga menyebabkan asphysia yang fatal, dan kegagalan
jantung sehingga ikan tidak dapat melakukan fungsi metabolisme dengan baik
(Goenarso, 1989). Berdasarkan beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa
semakin tinggi konsentrasi perlakuan yang diberikan, maka tingkat kelangsungan
ikan semakin rendah.
Kapasitas Osmoregulasi yaitu rasio antara nilai osmolalitas plasma
dengan nilai osmolalitas media. Bila nilai kapasitas osmoregulasi mendekati dua
maka ikan dikelompokkan dalam kondisi hiperosmotik, bila nilai kapasitas
osmoregulasi berkisar satu ikan dikatakan isoosmotik dan bila nilai kapasitas
osmoregulasi di bawah satu maka ikan dikatakan dalam kondisi hipoosmotik.
Fungsi alat dan bahan yang dipakai dalam praktikum ini ialah ikan nilem
dan ikan nila sebagai ikan uji. Air dengan salinitas 0 ppt, 10 ppt dan 25 ppt
merupakan media untuk percobaan. Gunting berfungsi untuk memotong ekor
ikan. Kapiler hematokrit berfungsi untuk mengambil darah ikan. Osmometer
berfungsi untuk mengukur osmolalitas baik plasma maupun media. Sentrifuse
berfungsi untuk memisahkan plasma darah dengan korpuskula. Henrefraktometer
berfungsi untuk mengukur salinitas.

KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :


1. Batas salinitas air yang dapat digunakan ikan sample untuk tetap hidup adalah
dalam kadar 2 %.
2. Semakin tinggi josentari garam maka kemampuan hidup organisme air tawar
semakin menurun dan dalam waktu yang lama akan mengakibatkan kematian.
3. Ikan air tawar yang digunakan bersifat hiperosmotik.
4. Ikan air tawar yang dimasukkan kedalm larutan garam yang kosentrasinya
masih potensial untuk hidup akan berusaha untuk mengisoosmotikkan kondisi
tubuhnya dengan lingkungan hidupnya.

DAFTAR REFERENSI

Campbell, N.A., J.B Reece dan L.G. Mitchell. 2004. Biologi Edisi kelima Jilid III.
Erlangga. Jakarta.
Goenarso. 1989. Fisiologi Hewan. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, ITB,
Bandung.

Gordon, M.S. 1982. Animal Physiology Principles. MacMillan Pub. Co., New
York.

Guner, Yusuf. Osman Osden, Hasmet .Cagirgan, Muhammet Altunok, Volkan


Kizak. 2005. Effects of Salinity on the Osmoregulatory Functions of the
Gills in Nile Tilapia (Oreochromis niloticus). Department of Aquaculture,
Faculty of Fisheries, Ege University, Üzmir – TURKEY Received:
17.09.2004 Turk J Vet Anim Sci 29 (2005) 1259-1266 © T.BÜTAK

Hickman, C. F. 1972. Biology of Animals. The C. V. Mosby Company, Saint


Louis.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sintasan. Diakses tanggal 26 Maret 2011 pukul 19.00


WIB.

Hurkat and Martur. 1976. A Text Book of Animal Physiology. Chank and Co.
Ltd., New Delhi.

Hyodo, S., J.D. Bell, J.M. Healy, T. Kaneko, S. Hasegawa, Y. Takei, J.A. Donald
dan T. Toop. 2007. Osmoregulation in elephant fish Callorhinchus milii
(Holocephali), with special reference to the rectal gland. The Journal of
Experimental Biology. Vol 210. Halaman 1303-1310.

Kashiko.2000.Kamus Lengkap Biologi. Kashiko Press : Bandung


Rusdi, Ibnu dan Muhammad Yusri Karim. 2006. Salinitas Optimum bagi Sintasan
dan Pertumbuhan Crablet Kepiting Bakau (Scylla paramamosain). J. Sains
& Teknologi, Desember 2006, Vol. 6 No.3: 149–157 ISSN 1411-4674.

Ville, C.W., W.F. Barnes, R.D. Barnes. 1988. Zoologi Umum. Erlangga;
Jakarta.