Anda di halaman 1dari 17

GAYA KOGNITIF

Kalau dunia sekolah dasar rendah mutunya, maka segala- galanya yang nanti akan dibangun di atasnya, di perguruan menengah maupun tinggi, akan serba goyah dan hancur berpuing- puing.( Yohanes Bilyarta Mangunwijaya)

dan hancur berpuing- puing. ( Yohanes Bilyarta Mangunwijaya) A pa hubungannya Butterfly Effect, Kurva Lorentz, memetika,

Apa hubungannya Butterfly Effect, Kurva Lorentz,

memetika, dengan budaya komunal sebuah masyarakat ? Dan bagaimana pola budaya komunal, mampu mempengaruhi pola pikir individu yang terlibat di dalamnya, termasuk ke standar sukses/ kurang suksesnya individu tersebut, ketika bersaing di tingkat global ? Bagaimana pula budaya komunal ternyata sangat mempengaruhi tingkat produk domestik bruto, daya beli, hingga indeks daya saing sebuah negara, terhadap negara lain ? Bagaimana pula bisa diketahui, hubungan kesuksesan institusi sekolah mendidik orang, dengan solidaritas kolektif warga negara, dan dengan kemandirian ekonomi sebuah bangsa ?

Mungkin, pertanyaan di atas terlihat “sok intelek”, namun, sesungguhnya, pertanyaan di atas berkaitan dengan pola pendidikan di sekolah dasar, bagian mananya ? Jika dulu ada yang sering mengeluhkan beban berat kurikulum yang harus ditanggung oleh anak usia SD- SMP ( pendidikan dasar), kebijakan pendidikan yang sering berubah setiap kali berganti rezim, atau bentuk penyeragaman kelas, yang nampak “membunuh” kreativitas, maka efek sampingnya akan terlihat, manakala ada tuntutan untuk menerapkan pengetahuan yang didapat, secara praktis dalam kehidupan sehari- hari. Investasi mendidik manusia, adalah bentuk investasi jangka panjang, yang baru akan ketahuan bentuk jadinya, setelah satu dekade lebih, yaitu ketika manusia hasil didikan itu, mulai menemukan masalah, berusaha mencari solusi, dan lalu membuat karya- karya kreatif untuk membangun hidupnya.

Buat para “anak muda” penggemar metode “revolusi”, dalam artian perubahan cepat, dengan satuan harian- bulanan, maka langkah untuk membangun lewat pendidikan, adalah metode yang menjemukan, kurang “bersemangat pemuda”, dan “tidak konkret”, karena bentuk jadi dari hasil perubahan, baru bisa dipetik dalam jangka waktu lama ( tahunan). Namun, seperti halnya perbedaan berburu meramu dengan bercocok tanam, maka pendidikan adalah upaya untuk memperadabkan manusia, memanusiakan manusia, dan prosesnya pun, mengikuti pola natural manusia untuk belajar.

Apa pentingnya penguasaan dasar logika matematika, dan bahasa di pendidikan dasar ? Tanpa berusaha menghakimi tingkat kepintaran anak satu dibandingkan dengan anak lain, maka keduanya adalah alat bantu untuk menunjang hidupnya di masa yang akan datang. Logika skolastik, yang menjadi dasar berpikir matematis, sangat membantu untuk memetakan masalah, memodelkan solusi, dan lalu melakukan kalkulasi dalam proses transaksi, atau membuat kreasi- kreasi baru. Logika linguistik, sangat membantu untuk mendefinisikan masalah, memahami budaya, dan lalu mempelajari pengetahuan yang berbasis bahasa dipelajari. Jikalaupun Anda sekarang mahir menghitung, berdebat sambil tetap waspada dengan “kesalahan berlogika”, membuat pemodelan, berbahasa lebih dari satu jenis, maka kemampuan- kemampuan itu, basisnya dimulai semenjak pendidikan dasar, SD- SMP. Yang menjadi bahan

kekhawatiran adalah, manakala anak didik, bahkan sudah setingkat mahasiswa, lebih takut tidak lulus ujian, daripada takut tidak paham dengan sebuah formula, karena kemungkinan tidak akan bisa digunakan dalam kehidupannya. Karena bagaimanapun, belajar matematika, bahasa, sains, ilmu sosial, itu adalah untuk memudahkan hidupnya ke depan, dan bukan karena takut tidak lulus ujian guru atau dosen.

Jikalaulah ingin melihat sejarah, maka Geertz pernah bilang, bahwa salah satu “kerugian” besar Indonesia pernah dijajah Belanda, adalah pada persoalan bahasa. Lho kenapa ? Karena berarti bahasa induk, yang digunakan saat Hindia Belanda masih ada, adalah Bahasa Belanda, sedangkan kita ketahui, bahwa arus kecepatan pengembangan pengetahuan dasar ke teknik, teknik ke ekonomi, di Belanda sendiri, tidaklah secepat Inggris dan Jerman, saat itu. Bahasa memungkinkan kita untuk bisa mengakses ke pengetahuan dan pemikiran, yang menjadi manifestasi dari bahasa tersebut. Bahasa Inggris digunakan sebagai pengantar untuk banyak sekali buku teks, dari Eropa Barat, dan Amerika Utara, yang ini berarti, kemampuan dasar bahasa, adalah metode untuk mengakses pengetahuan dari budaya yang menggunakan bahasa tersebut. Kemampuan untuk menggunakan sebuah bahasa baru, seringkali karena “kebiasaan”, bukan hanya “kebisaan”, belajar bahasa itu bisa karena biasa.

Pendidikan dasar, juga mengakomodasi untuk gaya kognitif ( metode berpikir) yang divergen. Apa itu divergen ? Divergen: “berpengetahuan luas”, sedangkan Konvergen kalau diistilahkan bahasa kita : “berpengetahuan dalam”. Orang divergen tahu sedikit dalam satu bidang tapi banyak tahu di berbagai bidang. Orang konvergen tahu banyak tentang satu bidang tapi sedikit tahu di bidang lainnya. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Untuk pertanyaan yang sangat spesifik, seperti: apa rumus untuk menghitung jumlah bubuk kopi berdasarkan sifat termodinamika dan hidrodinamika dalam kopi susu dengan proporsi sekian-sekian (fisika). Maka orang konvergen akan langsung dengan cepat menikmati penghitungan, sedangkan orang divergen bengong.Sebaliknya, ketika pertanyaannya multi disiplin, misalnya : bagaimana perilaku simpanse yang tinggal di Pulau Bulu Naga bila berada dalam cuaca panas dimana kadar oksigen sesuai dengan kondisi bumi rata-rata (biologi + geografi + fisika + kimia). Orang divergen mungkin langsung mendemonstrasikannya, orang konvergen basah kuyup, kebingungan.

Nah, dari tulisan di atas pun terlihat, sekarang banyak yang mengeluhkan tema tayangan sinetron, yang seolah meremehkan kecerdasan penonton, atau sinema layar lebar, cenderung memicu prostat*, namun anehnya, produsen tetap memproduksi, artinya, ada permintaan kan ? Dan kalau dikeluhkan bahwa presiden kita sekarang, suka dengan pencitraan, maka, pernyataan itu kembali ke kita secara kolektif, bahwa warga negara secara dominan memang menyukai tampilan subjek yang nampak sempurna, ganteng, kharismatis, tanpa melihat ke karya, atau objek yang pernah dilakukan oleh objek tersebut. Sekali lagi, sedikit banyak, itu berhubungan dengan hasil dari pendidikan dasar.

Sekarang, gaung tentang “wirausaha” digiatkan di media, oleh beberapa pakar. Mereka bilang, golongan menengah di Indonesia, akan menjadi salah satu yang terbesar di dunia, dan mereka harus “diarahkan” untuk wirausaha, katanya. Namun, membangun mental “wirausaha” tidaklah bisa instant, hasilnya pun tidak akan paripurna. Kenapa ? Karena kemampuan itu dibentuk awal mulanya dari pola pikir kemandirian, dan menghargai proses, belum lagi kemampuan membangun tim kerja yang solid ( jika terjun ke sektor riil), dan itu butuh waktu lama, namun kalau dimulainya dari pendidikan dasar, maka peluangnya akan semakin besar, bagi siswa untuk menerapkan pengetahuan, sambil bisa memperdagangkan hasil karya dari pengetahuannya.

Yah, itu saja sih, sekedar mengingatkan, dimana pentingnya membangun pendidikan, yang terasa menjemukan itu….

Apocalypto

“What information consumes is rather obvious: it consumes the attention of its recipients. Hence a wealth of information creates a poverty of attention, and a need to allocate that attention efficiently among the overabundance of information sources that might consume it.” (Herbert Simon, Computers, Communications and the Public Interest, pages 40-41)

Communications and the Public Interest, pages 40-41) S oal distribusi ekonomi, itu tugas pemerintah pastinya,

Soal distribusi ekonomi, itu tugas pemerintah

pastinya, karena perut kosong dan otak tumpul, memicu sikap beringas memang. Pertahanan keamanan sebuah peradaban atau negara, batas awal dan akhirnya, adalah di benak masing- masing pemerintah dan warga negaranya. Lebih mudah meruntuhkan moral warga, daripada mengirim serdadu untuk membunuhi satu demi satu, belum lagi menghadapi perlawanan dari warga, yang pasti tidak akan semudah itu menyerahkan nyawa.

Meruntuhkan atau membangun moral, butuh media untuk distribusi informasi. Karena informasi melakukan konstruksi sekaligus pengacakan konsentrasi fokus. Media sangat efektif untuk membangun “data smog”, semacam tumpukan data yang kelihatan “informatif”, namun justru mengurangi jam produktivitas penerima, berikut tidak menambah kualita hidup, malah menambah depresi, karena membingungkan.

Ben Anderson pernah bilang, para orang tua ( muslim) di Indonesia kebingungan untuk mewariskan pemahaman tentang tata nilai agama, ke generasi yang di bawahnya, anak- anaknya. Tata nilai yang lemah ini rawan untuk “diserang” oleh informasi dari luar, yang melemahkan identitas diri, dan ujungnya adalah melenyapkan daya seleksi individu, untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah.

Dalam sisi pandang ekonomi, pemikiran yang lemah tata nilai ini, adalah sasaran empuk untuk dijadikan konsumen yang loyal, kenapa ? Karena mereka butuh identitas, lokus psikologis eksternal, dimana identitas diri dibentukkan lewat komoditas yang dimiliki dan afeksi/ apresiasi orang lain. Perbanyak iklan dan informasi yang menjual impian, sambil menawarkan barang- barang konsumtif, yang seolah menjadi identitas diri dan pengalaman hidup. Tanpa sadar, bahwa barang tersebut sama sekali tidak menambah daya produktivitas si pemakainya.

Dalam sisi pandang politik, pemikiran yang lemah identitas tata nilai ini, adalah sasaran empuk menjadi basis pemicu konflik. Karena pemahaman yang dibangun sekedar simbolik emosional, atas dasar “rasa beriman”, dan “persaudaraan sesama penganut agama”. Bentuk pemahaman model begini, sangatlah rapuh untuk diserang, dan cenderung gampang tersinggung. Berikut suka mencari pembenaran untuk menyeragamkan simbol, yang sebenarnya itu jauh sekali dari substansi iman.

Toleransi dalam sebuah komunitas, yang komponennya terdiri dari variasi ragam kelas sosial, dengan tata nilai yang berpotensi konflik, antar masing- masing kelas sosial, harus dibangun atas dasar kepahaman, bukan pemaksaan

bahwa kita semua “sama”. Toleransi yang dibangun atas ketidakpahaman, seperti api dalam sekam, tinggal menunggu konflik dimunculkan oleh pihak yang ingin konflik ada, apapun motifnya. Proses saling mempelajari ini berarti membuka informasi, di dalamnya akan terjadi konflik- konflik kecil, yang bisa meragukan keyakinan atas iman yang sudah dibentuk sebelumnya. Tetapi seberapa kuat iman, harus diuji bukan ? Imunitas yang dibentuk lewat ketahanan atas konflik, jauh lebih bermakna dibanding sterilisitas, yang kelihatan kuat di luar, tapi rapuh di dalamnya.

Yah, tulisan ini hanya sekedar mengingatkan, untuk tetap melindungi diri sendiri, keluarga inti, saudara dekat, tetangga, dan lingkungan kita, dari pihak yang kita tidak tahu apa kepentingannya, sampai menimbulkan konflik di masyarakat kita. Komitmen bermasyarakat jelas butuh yang namanya rasa percaya, dan rasa percaya adalah modal sosial yang harus dipupuk antar generasi, lintas kelas sosial. Sambil memupuk rasa percaya, yang namanya rasa waspada juga tidak boleh dihilangkan, bagaimanapun juga. Dengan berjibunnya informasi seperti sekarang, maka pertahanan diri itu ada di pikiran kita masing- masing, camkan itu baik- baik.

ROMANSA KOPI

Coffee should be black as hell, strong as death, and sweet as love. ( Peribahasa Turki)

“Apakah Paduka mengenali aroma rokok ini? ”… “Paduka, aroma inilah yang menyebabkan bangsa paduka mengarungi lautan 400 tahun yang lalu dan menjajah tanah kami” ( Haji Agus Salim, menteri luar negeri RI, mencairkan kebekuan sikap Pangeran Philip, Duke of Edinburg, suami Ratu Elizabeth 2,pada sebuah jamuan kenegaraan)

suami Ratu Elizabeth 2,pada sebuah jamuan kenegaraan) S ecangkir kopi dan selinting sigaret, kombinasi kompak

Secangkir kopi dan selinting sigaret, kombinasi

kompak kawan meronda, berpikir tengah malam, atau diskusi bersama sobat, apapun topiknya.Lebih nikmat lagi, manakala sambil menyesap, kita mencoba menelaah sejarah biji legam penuh kenikmatan itu, bagaimana bisa tumbuh di tanah kepulauan Indonesia, sampai kita teguk di hadapan kita, sekarang.

Asal tahu saja, tidak banyak anak muda yang sadar, bahwa jalan raya pantura ( Pantai Utara Jawa), tulang punggung transportasi darat Pulau Jawa itu, menyimpan sejarah penuh darah dan air mata kakek- kakek kita, yang dipaksa bekerja, membangun jalur sepanjang lebih dari 1000 km, dari Anyer hingga Panarukan, dibawah instruksi Herman Willem Daendels. Pram menyebutnya genosida,

setidaknya 12,000 kakek- kakek kita tewas binasa, untuk membangun Jalan Pos, yang sekarang masih kita nikmati sebagai jalan utama.Menyelami sejarah, membuat kita akan menghargai kehidupan manusia, sambil membangun masa depan tanpa kehilangan identitas.

Kembali ke kopi, biji legam ini bukanlah tanaman asli Indonesia, masih ingat VOC ? Perusahaan multinasional( MNC)pertama di dunia itulah ( 1602 M), yang menggagas penanaman kopi di kepulauan nusantara. Tahun 1699 adalah pengiriman kedua bibit kopi ke Pulau Jawa,pertama ditanam di Sukabumi dan Bogor.1711, VOC mulai pertama kalinya mengekspor kopi ke Eropa daratan, 1 dasawarsa kuantitasnya di angka 60 ton/ tahun. Nusantara, adalah tempat pertama di dunia, di luar Arabia dan Ethiopia, biji kopi ditumbuhkembangkan, bangga bukan ? VOC ini memonopoli perdagangan global kopi dari kepulauan nusantara, dari 1725- 1780.

Pada awalnya, valuasi biji kopi ini, bernilai 3 gulden/ kg di Amsterdam. Pendapatan perkapita di Belanda waktu itu, sekitar 200- 400 gulden, atau ekuivalen dengan beberapa ratus dolar AS/ kg kopi, hari ini. Harga biji kopi turun hingga 0,6 gulden/ kg di awal abad 18, konsumsinya pun meluas ke kalangan umum.

Biji legam nikmat ini, menyumbang pendapatan terbesar ke VOC, selain komoditas lain. Ekspansi pertanian kopi pun dilanjutkan ke Sulawesi (1750), dataran tinggi Sumatera, dekat Danau Toba (1888), Gayo ( 1924). Bahkan setelah VOC bangkrut di 1799, dan liberalisasi perdagangan dibuka oleh Kerajaan Belanda, perdagangan kopi terus berlanjut, terus semakin membesar valuasinya.

Pada satu masa, pernah kontribusi dari perdagangan komoditas kopi dari wilayah Hindia Belanda, menyumbang sampai 30% dari GDP Kerajaan Belanda.Dan, sobat, jangan bertanya kondisi kakek- kakek kita waktu itu, buat para petani kopinya, harga beli kopi yang ditetapkan sangat rendah, bayangkanlah saja di benak Anda. 1860, Douwes Dekker menuliskannya di buku “Max Havelaar and The Coffee Auctions of The Dutch Trading Company”, yang dengan buku itu, membelalakkan publik di Kerajaan Belanda, betapa tragis nasib yang dihadapi penduduk pribumi nusantara, dan betapa biadab kebijakan kolonial Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, sungguh bertolak belakang dengan budaya masyarakat Belanda, yang cenderung egaliter dan terbuka, sekaligus permisif, relatif jika dibandingkan dengan budaya masyarakat Britania, Jerman, dan Perancis, kala itu.

1876, terjadi epidemi yang merusak pertanian kopi di Pulau Jawa, menyebabkan Pemerintah Hindia Belanda mengganti varietas Arabika, dengan Robusta, untuk kawasan rendah, pada 1900 di area perkebunan kopi Jawa Timur.

Indonesia sekarang, tanah yang kita injak ini, adalah penghasil biji kopi terbesar keempat di Planet Bumi. Setelah Brazil ( 2,249,010 ton/ tahun), Vietnam ( 961,200 ton/ tahun), dan Kolombia ( 697,377 ton/ tahun). Saya tidak ingin membahas lebih dalam lagi, siapa saja pemain utama kopi di Indonesia, kemana pendapatan perdagangan kopi itu mengalir, dan berapa yang dikantongi oleh rakyat Indonesia, mungkin lain kesempatan.

Hanya, ingin kembali meresapi kopi, sambil mengingat- ingat romantika heroik, seringkali tragis dan penuh darah, tentang jatuh bangunnya negara bernama Indonesia, dengan sejarah kopi ikut terlibat di dalamnya. Atau justru karena biji hitam legam inilah, manusia- manusia Belanda, mengakrabi dan berkenalan dengan manusia- manusia di Kepulauan Nusantara, untuk lalu terlibat terlalu dalam, dan mungkin, kalau mereka tidak datang ke sini, kita masih berbentuk kerajaan kecil yang perang satu sama lain.

Kopi di Indonesia banyak jenisnya, ada Kopi Mandheling ( Mandailing), Kopi Gayo, Kopi Jawa, Kopi Lampung, Kopi Bali, Kopi Toraja, lalu yang paling unik dari tahi Luwak, Kopi Luwak. Begitu juga lingkaran sosial etnisitas dan suku di masing- masing pulau di Indonesia, lingkaran sosial ini masing- masing punya budaya khas, adat, dan tata aturan, sama seperti kekhasan rasa kopinya

adat, dan tata aturan, sama seperti kekhasan rasa kopinya Dulu, prioritas Rezim Orde Baru adalah stabilitas,

Dulu, prioritas Rezim Orde Baru adalah stabilitas, yang terkadang dipaksakan, sehingga kita membangun toleransi atas ketidakpahaman. Sekarang, semua sudah terbuka, dan kita terbelalak, betapa sungguh beragamnya kita. Yah, proses adaptasi dengan konflik berkelahi sesekali mungkin wajar, tapi kalau kelamaan nggak asyik juga, bikin capek hati.

Kalau kita mulai dengan tukeran kopi serbuk saja bagaimana, di Politikana ? Saya bisa akses paling dekat ke Kopi Aroma, ada Arabika, ada juga Robusta, bagaimana ?

Ing Ngarso Sung Tuladha; Ing Madya Mangun Karso; Tut Wuri Handayani / Di depan menjadi teladan; ditengah membangun kemauan; di belakang memberi dorongan ( Ki Hadjar Dewantoro- Soewardi Soeryaningrat-, Pendiri Taman Siswa, Menteri Pendidikan 1 RI)

Pendiri Taman Siswa, Menteri Pendidikan 1 RI) P ada mulanya manusia menemukan cara menghasilkan api,

Pada mulanya manusia menemukan cara menghasilkan api,

mengubur mayat, membangun rumah, mengolah makanan,membuat roda, hingga membangun kelompok, sejarah belumlah ditulis, kenapa ? Karena dari tulisanlah sejarah manusia dibuat.Komunikasi oral sebagai alat paling purba untuk menyampaikan pesan, mulai berevolusi, seiring semakin kompleknya masyarakat manusia, ke model yang lebih maju, yaitu komunikasi literal dalam bentuk teks dan simbol, yang untuk menghasilkan model ini, dibutuhkan usaha yang lebih keras, proses berpikir canggih, berikut sarana yang harus dibangun sebelumnya ( huruf, kata, media).

Literasi biasanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pengertian itu berkembang menjadi konsep literasi fungsional, yaitu literasi yang terkait dengan berbagai fungsi dan keterampilan hidup.Konsep maupun praksis literasi fungsional baru dikembangkan pada dasawarsa 1960-an .Literasi dipahami sebagai ”seperangkat kemampuan mengolah informasi, jauh di atas kemampuan mengurai dan memahami bahan bacaan sekolah”. Melalui pemahaman ini, literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga mencakup bidang lain, seperti matematika, sains, sosial, lingkungan, keuangan, bahkan moral (moral literacy).

Tiga penelitian terakhir dari PISA ( Programme for International Student Assessment) (2000, 2003, 2006) menunjukkan bahwa kemampuan anak-anak Indonesia usia 15 tahunusia akhir wajib belajar 9 tahundalam tiga macam literasi, yaitu kemampuan membaca (reading literacy), kemampuan menerapkan matematika untuk kehidupan praktis (mathematical literacy), serta kemampuan memakai sains dalam keterampilan hidup sehari-hari (scientific literacy), berada pada level 1. Ini berarti, anak-anak itu baru mampu menangkap satu dua tema dari sebuah bacaan dan belum bisa memakai teks bacaan untuk kepentingan yang lebih dalam, mengembangkan pengetahuan atau mengasah keterampilan.

Lalu, kenapa soal pola komunikasi bisa ditembak ke urusan pendidikan nasional ? Ya, karena sebenarnya, dalam tinjauan genetis, kemampuan otak warga negara Indonesia tidaklah kalah dibanding warga negara lain yang lebih maju secara pencapaian ekonomi, militer, teknologi, maupun budayanya. Sedangkan sekarang, pengetahuan sudah sebegitu kompleksnya terlembagakan dan begitu besar kendali pemerintah negara di dalamnya. Yang artinya, jajaran

pengendali birokrasi pendidikan harus paham, bahwa peradaban Indonesia ini, besar kemungkinan semakin beradab atau justru biadabnya, dipengaruhi oleh pengetahuan dan model didikan di sekolah, karena angka partisipasi pendidikan dasar kita tinggi, 96.1% (7-12 tahun), 79,21% ( 13- 15 tahun), 49,76% ( 16- 18 tahun).

Saat ini, saya personal masih memandang bahwa gelar akademik malah diselewengkan menjadi identitas sosial, semacam kasta jenis baru gitu, bikin gelilah pokoknya. Sebenarnya, fundamental dasar peradaban itu, ada di kualitas pendidikan dasar, bukan pendidikan tinggi. Berbicara ekstrem agar jelas, dapat dikatakan bahwa universitas boleh bermutu rendah atau bobrok, akan tetapi sekolah, atau lebih tepatnya pendidikan dasar jangan ! Kalau dunia sekolah dasar rendah mutunya, maka segala- galanya yang nanti akan dibangun di atasnya, di perguruan menengah maupun tinggi, akan serba goyah dan hancur berpuing- puing.

Kelihatan sebenarnya bagaimana menguji hasil dari pendidikan dasar di kita, yaitu dari reaksi penilaian dan urutan berpikir logis dan bercita rasa dari kalangan terpelajar muda pun, ternyatalah betapa sulitnya para pemuda kita diajak untuk berpikir sistematis, apalagi mengungkapkannya dalam bahasa yang teratur dan komunikatif lagi bertanggung jawab. Sedari SD, siswa dibudayakan untuk naik kelas berdasar hasil ujian, bukan penampakan tampilannya, yang itu berarti siswa diajari berpikir objektif, terfokus pada objek (benda)nya, bukan ke subjek(pelaku)nya. Namun, kalau di forum publik coba lihat, kebiasaan ad hominem ( menembak langsung jati diri pelaku), menuduh kepercayaan yang diyakini pelaku ( praduga bersalah), atau aktivitas narsisisme tanpa konten yang orisinil, karena tergesa ingin dikenal atau dipuji, bertebaran di mana- mana, dari ranah nyata ke ranah maya.

Lalu, kenapa petuah Ki Hadjar saya sampaikan di awal ? Karena manusia- manusia hasil pendidikan dasar inilah, yang akan membangun peradaban Indonesia sekarang dan nanti. Mereka yang akan menjadi PNS, industrialis, jenderal, birokrat, guru, presiden, bahkan sopir angkot dan tukang becak, adalah produk dari pendidikan dasar juga ! Mangun karso, artinya membangun kemauan, itulah yang salah satu yang menjadi dasar eksistensi lembaga formal bernama sekolah, beserta para pendidik yang ada di dalamnya. Kemauan untuk berprestasi, berkarya, belajar, berkomunikasi, berbagi, dan segala sesuatu yang memang beradab…

Adapun kemampuan literasi, saya ulang lagi, ”seperangkat kemampuan mengolah informasi, jauh di atas kemampuan mengurai dan memahami bahan bacaan sekolah”, mencakup bidang bahasa, matematika, sains, sosial, lingkungan, keuangan, bahkan moral (moral literacy).Akan menjadi daya dukung atas “kemauan” atau “karso” yang sudah ada di benak siswa. Saya yakin setiap anak usia SD, atau SMP, punya keluguan- keluguan sederhana, dan mereka harus diberikan semangat untuk membangun “kemauan” tadi, sambil berusaha untuk akrab dengan mata pelajaran.

Lalu, kenapa saya tidak ingin menyalahkan siapapun, bahkan termasuk birokrat pendidikan ? Karena saya kenal beberapa manusia di dalamnya juga sedang berusaha keras memperbaiki diri, di tengah ketidakpastian budaya yang menghambat kinerja. Saya hanya ingin berbagi ke sesama warga negara, bahwa akan lebih baik dan optimal hasilnya, jika kita mau membangun kemauan anak, keponakan, atau sepupu, sedari usia dini, dan jangan pernah berhenti.

Sekarang pengetahuan dan informasi bertebaran dimana- mana, namun kalau manusianya tidak punya kemauan, semua hal tadi hanya akan jadi sampah, dan kita terus menerus jadi konsumen barang- barang baru yang nampak “trendi” dan “modern” tadi. Sama sekali tidak membuat manusia Indonesia menjadi lebih beradab, karena kembali ke awal lagi, manusia yang tidak punya kemauan, tidak akan pernah berusaha bergerak untuk mencapainya, bahkan akan selalu terombang- ambing gelombang “kemauan- kemauan” manusia lain.

Mari berkarya, Sobat.

Ledakan ekonomi dalam suatu negara dimulai dari aktivitas ekonomi yang berbasis pada budaya masyarakatnya ( Satjipto Rahardjo, Prof )

pada budaya masyarakatnya ( Satjipto Rahardjo, Prof ) T eknologi tidaklah pernah berdiri sendiri. Dalam satuan

Teknologi tidaklah pernah berdiri sendiri. Dalam

satuan teori, bisalah beberapa pihak mengklaim bahwa teknologi itu netral, namun dengan keadaan sekompleks saat ini, teknologi, dan saudaranya sains (teori maupun terapan), akan selalu bergandengan tangan dengan bisnis ( ekonomi- makroekonomi). Jika mau meneliti lebih dalam lagi, maka teknologi, sains, dan bisnis, akan terhubung dengan substrat terdalam sebuah populasi manusia, yaitu budaya khas komunitas. Sains teori dan terapan, menjadi komponen penyusun utama teknologi mutakhir, berkolaborasi dengan kapital, berbuah lembaga interdisiplin yang disebut dengan perusahaan, yang berkembang membesar menjadi industri. Industri berevolusi membesar, yang bahkan bisa mencaplok institusi bernama negara, seperti halnya VOC, perusahaan multinasional pertama di planet bumi, yang kerapkali kita sebut sebagai “kompeni”, pelunakan dari idiom “company” alias “perusahaan”.

Kita sudah mengalami sendiri, bahwa teknologi, sains, ekonomi, adalah alat budaya, atau pendeknya : alat produksi politis. Ilmuwan, teknokrat, atau industriawan, tidaklah bisa murni bebas nilai, dan lalu lantas menutup mata, akan selalu ada konflik dalam benaknya, karena memang ketiganya adalah alat budaya massa, yang sangat efektif untuk perluasan pasar. Ahli fisika nuklir Cina, yang juga nobelis di bidang Fisika, Tsing Dao Lee, pada awal perkenalannya dengan fisika modern, ternyata harus mengalami pergulatan pemikiran yang amat hebat, untuk bisa beradaptasi dalam substruktur ala pemikiran Eropa Barat, terutama dalam sudut pandang terhadap “materi”, yang menjadi inti kajian utama bidangnya : fisika modern.Dalam kepercayaan transenden, dan filsafat kembangan budaya tradisi Cina, tidak pernah memandang dunia realitas fenomena sebagai objek yang berharga, semua adalah fana. Bahkan, segala hal yang empiris, adalah maya, semu, tidak sejati, tipuan, serta godaan penjerumusan kesejatian diri. Konflik yang frontal bukan ? Dengan kerangka pemikiran kesarjanaan barat, yang dibentukkan untuk berkarakter empiris, rasional ( terukur), dan simplifikatif.

Kita tidak bisa, dan justru tidak boleh abai, jika memang berkeinginan untuk membentuk jati diri yang utuh. Kajian terapan teknologi, sains, bisnis, tidak bisa dipisahkan dengan urusan budaya dan politik. Mengenali dan membentuk diri, dengan tradisi lokal khas, adalah mutlak, tanpa harus menjadi xenofobia, dengan menganggap bahwa segala hal yang asing adalah “musuh”. Menganggap bahwa segala produk teknologi adalah bebas nilai, juga tidak tepat, karena Asia Tenggara, adalah “pasar potensial”, yang selalu menjadi sasaran pemasaran produk terbaru, dari produsen Asia timur jauh, Eropa barat utara, dan Amerika utara. Tak peduli dengan fungsionalitas, dengan alasan gaya hidup yang “techie” namun dangkal pemikiran, seringkali produk teknologi tinggi, yang seharusnya menjadi alat penunjang produktivitas, dan profitabilitas tentunya, malah oksimoron, menjadi sumber pemborosan waktu, asesoris tidak penting, serta objek pengurang produktivitas. Dalam hubungannya dengan makroekonomi, konsumtivitas yang cuma sekedar asesoris, dan tidak menunjang produktivitas, juga tidak sinergis dengan upaya untuk meningkatkan devisa negara.

Saya tidak mengetahui angka pastinya, sebenarnya seberapa besar upaya untuk membangun karakter nasion Indonesia, berikut upaya lain, untuk melakukan adaptasi,pencurian metode, dan lalu kolaborasi efektif- efisien antara manusia yang berkecimpung di sains, teknologi, dan bisnis, buat mendistribusikan kesejahteraan, lalu membangun kemandirian yang lebih kokoh. Dulu, Habibie pernah bercita semacam itu, tapi entah bagaimana

keadaannya sekarang, walaupun langkahnya kontroversial dan menimbulkan banyak efek kejut, yang luluh lantak setelah Orde Baru meninggal, setidaknya ada langkah jelas. Hampir satu dekade yang lalu, Deklarasi Milenium yang ditandatangani, mulai dari peningkatan bantuan bilateral dan multilateral sampai penanaman tumbuhan jenis polong- polongan yang mengikat nitrogen untuk menambah kesuburan tanah; antiretroviral untuk AIDS; dari telepon seluler untuk memperbarui informasi pasar sampai perencanaan kesehatan dan pemanfaatan air hujan. Proyek MDGs mengusulkan 449 langkah untuk mencapai 18 target dari delapan tujuan MDGs.Membantu orang miskin itu mudah, begitu diyakini para ekonom dan pemimpin. Obat untuk mengurangi separuh kematian akibat malaria hanya 12 sen dollar AS per orang, kelambu hanya 4 dollar AS, dan mencegah kematian anak dan anak balita selama 10 tahun hanya membutuhkan tambahan 3 dollar bagi setiap ibu yang melahirkan anak pertama.

David Sogge, dari Transnational Institute menyatakan, tak ada bantuan tulus karena tak pernah ada makan siang gratis dalam fundamentalisme pasar yang terus dipromosikan oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Sejak 1990- an, aliran global, setelah diperhitungkan dengan bantuan luar negeri, bantuan investasi asing langsung (FDI) dan remiten, justru mengalir dari yang miskin kepada yang kaya.

Mungkin ini terdengar klise, tapi memang untuk membangun kesadaran kritis, dari urusan sudut pandang, sampai ke implementasi lapangan, hingga urusan aplikasinya ke aktivitas ekonomi, tentunya butuh waktu antar generasi dan usaha yang tidak mudah. Urusannya pun, jadi bukan hanya urusan pemerintah negara, karena fungsi pemerintah adalah semata administratur dan koordinator. Urusan semacam ini, jadi urusan kolektif warga negara, karena jadinya membangun budaya. Menjadi penting bagi pemerintah negara, untuk menegaskan kembali, fungsionalitas pendidikan dasar, untuk membangun generasi yang berbudaya, dan bisa menggunakan budayanya, untuk menyerap sains- teknologi, demi kepentingan lokal juga, bukan malahan menjadi pasar, tanpa ada usaha sama sekali untuk melakukan imbal balik berprofit.Jikalaupun sekarang, ada beberapa pihak yang berkoar ingin menanamkan jiwa kewirausahaan di pendidikan formal, maka itu dimulainya di pendidikan dasar, bukan pendidikan tinggi, karena sudah terlambat, walaupun tidak salah jika mau dimulai sekarang juga.Urusan kewirausahaan, juga bukan cuma urusan penyerapan tenaga kerja, karena urusan mengelola kapital dan memvaluasi aset, adalah urusan yang efeknya jauh lebih besar, yaitu membangun industri dari nol, dengan aset yang semula hanya berupa ide dan pengetahuan.

Pendewasaan satu orang saja, prosesnya bukan main rumitnya, terkadang beberapa manusia sudah berusia tua pun, nampak tidak menunjukkan kedewasaan sama sekali. Sekarang, untuk membangun kedewasaan satu negeri, yang seluas jarak London sampai Moskwa, Stockholm sampai Roma,dengan 231 juta jiwa, yang tersebar di 17,504 pulau, wow ! Ini tantangan yang luar biasa, belum lagi ancaman disintegrasi, yang suka jadi alat politik sesaat, para elit yang kekanak-kanakan. Kalau boleh saya menilik ke kisah Bima muda, Bratasena, yang mencari makna hidup,proses untuk bertemu Dewa Ruci yang begitu beratnya, dia mengajarkan kebijakan untuk menghadapi kenyataan hidup, berikut nasehat untuk tidak lelah mencari kebenaran, dalam kendali hati yang tunduk pada Tuhan, untuk menunjukkan jalan. Ini sebagai perimbangan, dari ideologi Faust, yang menjadi sumber energi tersirat, dari upaya pencarian kebenaran tanpa henti ala budaya Eropa barat, yang bahkan sampai terkesan menantang Sang Pencipta, yang dalam semesta mereka, Tuhan terkesan menyembunyikan api pengetahuan, untuk kemudian direbut oleh para ilmuwan dan teknokrat, yang juga anak keturunan Prometheus, si pencuri api kebijakan dewa. Bratasena yang egaliter, dan tidak pernah menaruh takut, bahkan terhadap dewa sekalipun, tetap mencari kebenaran, tanpa harus menubrukkan dengan urusan keTuhanan, apalagi dengan upaya hipotesis prematur, yang mengkhianati metode pencarian kebenaran itu sendiri.

Apapun itu, ini hanya upaya kecil, supaya kita paham, bahwa setiap produk, apapun muatan kompleksitas tingkat teknologi yang dimuat, selalu mengandung budaya muatan, dari produsen, untuk diterimakan kepada konsumen. Dalam tahapan yang lebih abstraknya, perluasan budaya, adalah perluasan pasar, untuk urusan ekonomi produsen. Maka, jika ingin membalas, maka produksilah sendiri makna- makna baru, dari hasil renungan kita sendiri, buatlah massal, gunakan sains dan teknologi sebagai alat, dan perluas pasar, maka budaya kita, juga akan bisa dikonsumsi oleh konsumen dari komunitas bangsa lain, kuncinya diawali dari kesadaran diri.

Kemerdekaan Bangsa Indonesia hanyalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih luhur, yaitu kemerdekaan manusia- manusia Indonesia ( Sutan Sjahrir, Perdana Menteri I Republik Indonesia)

( Sutan Sjahrir, Perdana Menteri I Republik Indonesia) J ika mau jujur, siapakah diantara kita ini

Jika mau jujur, siapakah diantara kita ini sebetulnya

bukan Indo atau Indisch juga ? Apakah kita dapat menjamin, dan dapat membuktikan tidak tercampuri 1 cc darah Arab, misalnya, atau 10 mg darah India, Cina, Portugis, Belanda, Jepang ? Apalagi di kalangan kaum ningrat, yang istananya diperkaya selir- selir “upeti” atau tanda persahabatan dari Jambi, Brunei, Cina, Jawa, Batak, Belanda, Jerman ?

Seperti bahasa, dengan gramatika dan idiomnya, sistem negara nasional adalah perkara yang berkembang historis, dimana nalar dan perhitungan ikut ambil bagian juga, tetapi ramuan unsur emosi, paksaan para adikuasa, kepentingan ekonomi,vested interest, agama, dan sebagainya, sangat berperan

Nasionalisme memang bibit sekawitnya sebagian terbesar adalah soal emosi, setidak- tidaknya bukan sesuatu yang tumbuh karena rasionalitas melulu, apalagi ilmiah. Namun, bukan berarti tanpa logika. Kalau dipikir, apa alasan Irian ikut RI dan bukan Papua Nugini ? Lalu Swiss, yang terdiri dari tiga “bangsa”; Frangkofonik, Jermanik, dan Italianik ? Juga Belgia yang penduduknya terdiri dari dua nasionalisme sebetulnya, Kaum Walonia yang berafiliasi pada Budaya Perancis, dan Vlaam, yang mengacu pada tata hidup, dan Bahasa Belanda ? Namun, memandang gejala nasionalisme hanya selaku hal yang mengada- ada belaka, berarti kurang memahami proses sejarah dan evolusi. Manusia adalah makhluk yang ada plus mengadakan plus mengada-adakan.

Orang eropa pun, butuh proses seribu tahun untuk memulai suatu kesadaran baru tentang kesatuan eropa. Padahal, negeri kita seluas jarak London sampai Moskwa, Stockholm sampai Roma, dan sebagian terbesar terdiri dari lautan serta selat- selat, dengan segala akibat cita rasa manusia pulau yang selalu cenderung untuk menafsirkan, ” Betapa pulauku selalu yang paling hebat, sedangkan pulau lain adalah musuh, paling sedikit saingan”.

Enam puluh tahun kita berdiskusi tentang usaha melek huruf bagi kaum terbelakang yang belum dapat membaca dan menulis dengan huruf latin, namun diam- diam, kita masuk ke dunia zaman baru, dengan orang “buta huruf” jenis baru, bahasa, sains, dan teknologi. Anak- anak kita diam- diam sedang “diculik” oleh suatu revolusi besar, masuk ke dalam era budaya pasca Indonesia.

Namun, ternyata salah satu masalah sosial budaya yang sangat rawan dan rupa- rupanya menuju ke jurang ialah dunia persekolahan kita. Ini kita catat tanpa menyalahkan para guru, karena mereka hanya menjalankan politik pendidikan dan pengajaran.Khususnya di jajaran sekolah dasar, karena disinilah dasar dari segala struktur persekolahan di atasnya, maka harus dibangun secara bagus dan berkualitas tinggi. Berbicara ekstrem agar jelas, dapat dikatakan bahwa universitas boleh bermutu rendah atau bobrok, akan tetapi sekolah, atau lebih tepatnya pendidikan dasar jangan ! Kalau dunia sekolah dasar rendah mutunya, maka segala- galanya yang nanti akan dibangun di atasnya, di perguruan menengah maupun tinggi, akan serba goyah dan hancur berpuing- puing.

Dari reaksi penilaian dan urutan berpikir logis dan bercita rasa dari kalangan terpelajar muda pun, ternyatalah betapa sulitnya para pemuda kita diajak untuk berpikir sistematis, apalagi mengungkapkannya dalam bahasa yang teratur

dan komunikatif lagi bertanggung jawab. Tentu saja terkecuali the happy few yang berkesempatan memperoleh sekolah favorit bermutu atau yang sempat belajar berpikir di luar negeri. Di kalangan pembesar, dan yang tergolong eselon tinggi sekalipun, kita melihat betapa daya pikir, gaya argumentasi, serta sistematika logika mereka sulit dibanggakan bila berhadapan dengan masyarakat internasional yang setaraf dengan mereka, atau masyarakat terpelajar dari dalam negeri sekalipun

Meski setiap orang punya potensi penuh menuntut sains, tetapi aktualisasinya, pengembangan cepatnya, atau mendalamnya jiwa sains sungguh sangat terkondisi oleh lingkungan budaya, serta sejarah bangsanya. Jiwa sains memerlukan suatu sikap keyakinan bahwa seluruh semesta alam, yang mikro maupun makro, ada dan bergerak dalam suatu tatanan teratur, dalam suatu kosmos, artinya semesta yang teratur, mengikuti hukum- hukum yang tidak mengizinkan sembarang berjalan serba sembarangan. Apabila sains terapan dituangkan dalam alam produksi yang sistematis menjadi barang atau sistem, makan sains mengejawantah ke dalam teknologi yang berjalan lewat industri dan bisnis. Di sini dunia ekonomi dan politik, taktik strategi, dan rekayasa, sudah masuk, juga aspek militernya.

Generasi muda yang sebentar lagi akan bertugas memikul tanggung jawab yang berat terhadap sains dan teknologi semogalah selalu penuh harapan. Seriuskah kita dengan pembinaan generasi dan masyarakat baru yang berjiwa sains dan teknologi, dengan memberi mereka tanah tumbuh dan iklim yang cocok, yang bersih ?

Tulisan di atas, adalah kompilasi dari koleksi pribadi, kumpulan esai Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, medio 1986- 1993 yang lampau. Beliau berpikir tentang makna nasionalisme Indonesia, terhubung dengan usaha untuk memupuknya lewat pendidikan dasar, keluaran dari sistem persekolahan, yaitu manusia, dalam upayanya untuk memahamkan esensi bahwa sains dan teknologi, punya kontribusi besar, untuk membangun kemanusiaan itu sendiri, tetap dalam kerangka memakmurkan saudara sebangsa, Indonesia. Saya keluarkan lagi, karena ternyata masih relevan dengan keadaan sekarang, terutama pasca bergantinya rezim pemerintahan, berikut lahirnya jejaring maya global, internet

1. Buat Bapak Mendiknas, Prof.M. Nuh, yah, mengendalikan institusi dengan jejaring birokrasi seperti kementerian Anda, tentunya tidak mudah, apalagi dengan tanggung jawabnya yang tidak ringan : Mencerdaskan kehidupan bangsa, yang 2010 ini manusianya sekitar 237 jiwa, wow! Namun, ada satu hal yang diingatkan oleh Romo Mangun ( alm) diatas, bahwa keluaran dari sistem persekolahan yang Bapak ( dan staf) rancang, akan sangat mempengaruhi pola pikir, terhadap sains dan teknologi. Sains dan teknologi, butuh budaya manusia yang mendukungnya, dan bisa mengendalikannya, untuk melakukan inovasi- inovasi bernilai tambah ekonomi, ke aset di dalam tanah, air, dan udara wilayah kedaulatan NKRI. Akan sangat absurd, apabila manusia- manusia Indonesia keluaran pendidikan tingginya, dimanja oleh “produk teknologi”, menjadi konsumen “produk teknologi”, tetapi tidak becus mengolah aset di otaknya ( pengetahuan), dan mengonversi bahan mentah, jadi punya nilai jual, dengan teknologi di otaknya.

Jumlah SD; 144,567 , SMP ; 26,277 , dan SMU; 10,239, terbayang tuh, kebijakan Kemendiknas sangat punya nilai pengali yang luar biasa, dan tentunya tak bisa main- main menyusun kurikulum, apalagi coba- coba, karena kebijakan Bapak akan signifikan, mempengaruhi wajah Indonesia, lima generasi yang akan datang, wow !

2. Buat Bapak Menkominfo, (Ustadz) Tifatul Sembiring yang jago pantun. Tulisan Romo Mangun ( alm), dibuat jauh hari, ketika jejaring internet belum mewabah seperti sekarang. Jumlah pulau di Negara Kesatuan Republik Indonesia itu, 17, 504 pulau, dengan luasan seperti yang telah dianalogikan Romo, “seluas jarak London sampai Moskwa, Stockholm sampai Roma”, dengan konsentrasi penduduk, 58% di Jawa, 21% di Sumatra, 7% di Sulawesi, 6% di Kalimantan, 6% di Bali dan Nusa Tenggara, serta 3% di Papua dan Maluku.

Tantangan nasionalisme Indonesia, adalah distribusi ! Terlihat dari angka yang tercantum, walaupun harus diverifikasi lagi, mensolidkan yang namanya “nasionalisme” Indonesia, tidaklah mudah, karena itu akan menyangkut ke kebutuhan dasar manusia, yaitu : Perut ! Perut tidak kenal makanan berlabel nasionalisme.Kementerian Pak Tif, punya otoritas, yang setidaknya, bisa melakukan upaya menyeimbangkan distribusi tadi, yaitu : Distribusi informasi. Apapun alasannya, infrastruktur informasi di Indonesia, punya tenaga

besar untuk melakukan kesetimbangan informasi, antara warga negara dengan warga negara, ataupun warga negara, dengan pemerintah negara.

Yah, kami adalah bagian dari “warga negara”, sedangkan Bapak berdua, adalah bagian dari pemerintah negara, yang fungsinya, menjadi administratur negara, alangkah baiknya, jika pemikiran lama Romo Mangun ( alm) itu, jadi bahan Bapak berdua buat memperbaiki lagi kondisi infrastruktur persekolahan dan informasi- komunikasi, yang sesungguhnya, punya kekuatan besar, untuk memanusiakan manusia Indonesia

Bagi yang sudah melakukan literasi terhadap tiga karya matematika quasi empirik, fisika kuantum, dan sosiologi populer ini :

1. Black Swan ( Nicholas Taleb, JS. Mill, Popper )

2. Outliers ( Malcolm Gladwell)

3. Butterfly Effect ( Edward Lorenz, Henry Poincare)

Maka, ada satu kesimpulan menarik, yaitu :

“Peluang akan mendatangi siapa yang paling siap untuk menerimanya”

akan mendatangi siapa yang paling siap untuk menerimanya” B anyak, atau beberapa manusia yang bekerja keras

Banyak, atau beberapa manusia yang

bekerja keras mencari “peluang”, lupa bahwa peluang yang Tuhan berikan, sangatlah berlimpah, dan mereka justru melupakan untuk melakukan persiapan diri dalam rangka mendapat peluang tadi.

Mempersiapkan ide yang “belum jelas” nilai peluangnya, membutuhkan keyakinan diri ( faith), keuletan ( determination), dan keteguhan ( persistence). Karena, secara empirik matematis pun, dominan pasar manusia akan mengikuti yang disebut dengan “tren”, atau seringkali pertanyaan bodoh keluar, ” Kira- kira, peluang bisnis yang menjanjikan apa ya, tahun ini ?”, secara empiris, semua hal punya peluang untuk memiliki nilai ekonomis, hanya saja, siapa manusia yang paling siap untuk mengubah peluang ini jadi nyata ? Tentunya yang memiliki persiapan paling tinggi, dialah ( merekalah) yang akan menjadi inspirator ( trend setter).

Ini hanya renungan pendek saya, semoga bermanfaat.

NB :

1. Buat yang agnostik atau (mengaku) atheis, teori ini bisalah dipakai untuk menafikan peran Tuhan.

2. Buat pemikir jabariyah, probabilitas ini untuk qadar, bukan qada. Jadi, untuk subjek eksakta di luar lingkungan

horizontal manusia, maka teori yang berlaku sifatnya definit.

3. Buat pelaku qadariyah, probabilitas ini adalah cara untuk mengenal apa pola takdir ( yang ternyata penuh dengan

uncredited randomness)

4.

Buat para investor dan spekulan, perhatikan baik- baik nasehat Buffet dan Soros, mereka menggunakan beberapa

pemikiran Popper soal ludic fallacy, randomness, dan black swan, perhatikan baik- baik !

5. Untuk saya, sementara ini masih memegang sumpah syahadat dan dengan bahagia menikmatinya.

6. Untuk mendapatkan kasus empiris, silakan telaah sejarah : Penisillin, Microsoft, Hitler, pengacara korporat

American- Jews yang terkonsentrasi di New York, kartel Bank global, PIXAR, dan relativitas.

I‟m not a bad guy! I work hard, and I love my kids. So why should I spend half my Sunday hearing about how I‟m going to Hell?

How is education supposed to make me feel smarter? Besides, every time I learn something new, it pushes some old stuff out of my brain. Remember when I took that home winemaking course, and I forgot how to drive?

But Marge, what if we chose the wrong religion? Each week we just make God madder and madder.

America‟s health care system is second only to Japan … Canada, Sweden, Great Britain … well, all of Europe. But you can thank your lucky stars we don‟t live in Paraguay!

I‟m normally not a praying man, but if you‟re up there, please save me, Superman.(Homer Simpson )

up there, please save me, Superman. (Homer Simpson ) K eluarga Simpson yang apa adanya mereka

Keluarga Simpson yang apa adanya mereka itu, dengan

segala problema kehidupan mereka yang komikal ( ya iyalah, memang kartun !), seringkali bisa menjadi bahan refleksi publik, yang cerdas, kritis, menggigit, serta memberikan nuansa sudut pandang baru, tentang kehidupan keluarga “biasa saja”, di pinggiran kota kecil, dari kalangan kelas menengah pekerja ( atau buruh ?), di kota kecil AS.

Homer Simpson,sang ayah dengan usia hampir kepala empat, botak, kelebihan berat badan, bertemperamen kasar, suka main-

main, impulsif, pelupa, cuek, spontan, suka meminjam barang tetangga dan sengaja lupa mengembalikan, serta kecanduan alkohol. Dengan segala karakternya itu, Homer sangat mencintai keluarganya, walaupun seringkali timbul konflik dengan istri dan anaknya, itu membuat mereka semakin kompak dan bahagia, dengan segala permasalahan yang dihadapi.

Marge Simpson, tipikal ibu yang cerdas, berkebalikan dengan suaminya. Marge ini punya kesabaran tingkat tinggi, berikut kemampuan untuk berpikir logis dan komprehensif. Marge juga, adalah satu- satunya sosok yang dihormati oleh tipikal anak lelaki pemberontak nomor wahid, Bart Simpson, si putra pertama. Bart Simpson, menjadi simbol anak lelaki hiperaktif yang cerdas, kritis, sekaligus anarkis. Menjadi anak bandel nomor satu di sekolahnya, kerapkali dihukum karena ketidakpeduliannya dengan yang namanya otoritas dan aturan institusi. Lisa Simpson, adik pertama Bart, justru mirip dengan ibunya yang pintar. Lisa sangat feminim, tipikal calon wanita karir independen, yang kritis, serta berpola pikir ala aktivis heroik. Bart yang cerdas- anarkis, dan Lisa yang pintar- taat aturan, seringkali berkelahi dengan komikal, ditambah Homer yang turun tangan, untuk menambah masalah jadi tambah runyam, dan diakhiri dengan Marge yang mendamaikan semua.

Keseharian Keluarga Simpson ini, seringkali bertemakan muatan- muatan kritis yang reflektif,sekaligus menuntut kesigapan mengikuti informasi terbaru, untuk bisa ikut tertawa dengan humor- humor satiris yang dilontarkan, oleh Homer biasanya. Tentang sistem pajak, asuransi, pendidikan, upah buruh, transportasi, militer, kebodohan politisi yang narsis, dan banyak hal lain. Menarik, karena sudut pandang yang diambil adalah : Keluarga kecil. Dalam perbincangan media arus kuat, seringkali tingkah laku politisi membuat undang- undang, birokrat yang juga pemalas, pebisnis rakus bermain dengan klik politik, guru yang tidak pantas diteladani, seolah- olah tidak terhubung dengan kehidupan pribadi pembacanya. Disadari atau tidak, setiap perubahan sosial, dipicu dari sisi manapun itu, apakah di kalangan warga negara, atau pemerintahan negara, sedikit banyak, serpihan- serpihannya akan memberikan akibat pada lingkar terkecil sebuah komunitas negara : keluarga.

Di sini, Indonesia, mungkin bisa disebutkan beberapa karya yang punya muatan anarkis, semisal Panji Koming, dengan tokoh Panji yang memiliki karakter lugu dan agak peragu, kekasihnya Ni Woro Ciblon yang cantik, pendiam dan sabar.Kawan setia bernama Pailul yang agak konyol namun lebih terbuka dan berani bertinda, kekasih Pailul, Ni Dyah Gembili, perempuan montok yang selalu bicara terus terang. Terkadang muncul tokoh Mbah, seorang ahli nujum yang sering ditanya mengenai masalah-masalah spiritual, serta punya penerawangan fotografis ke masa depan, serta seekor anjing buduk yang dijuluki “Kirik”. Atau, kalau yang sempat mengoleksi kompilasi sketsa Prof.Umar Kayam ( Alm),pasti akrab dengan tokoh Pak Ageng ( yang juga bentuk personifikasi dari Umar Kayam sendiri), Bu Ageng, serta kabinet dapurnya, Mister Rigen, Missis Nansiyem, serta stafnya Beni Prakosa. Keluarga hangat di kota pendidikan ( digambarkan Jogja), dengan segala kesehariannya yang penuh warna, serta sarat dengan muatan falsafah kejawaan. Kalau dalam bentuk sinema berseri, dulu pernah ada Keluarga Cemara yang sempat menjadi hit, walau sekejap.

George Orwell pernah mengatakan bahwa bentuk novel adalah yang “paling anarkis” dalam kesusastraan. Orwell benar, sepanjang sifat “anarkis” itu diartikan penampikan novel kepada segala yang ortodoks dan mengekang. Tetapi pada sisi lain, novel-seperti yang ditulis oleh Orwell terutama novel sejarah itu-mempunyai dorongan yang dekat dengan kehendak “mengetahui”. Dan “mengetahui” bukanlah sesuatu yang bisa terjadi dengan anarki; mengetahui adalah proses yang tertib. Novel, cergam ( komik), esai, kartun, dengan media publik yang masif, menjadi alat untuk menghorizontalkan entitas abstrak bernama ” otoritas kekuasaan”. Anarkisme, dalam perkembangannya tumbuh menjadi bentuk gerakan sosial politik dan pemikiran filsafat yang menyatakan bahwa semua bentuk negara, pemerintahan dan kekuasaan adalah buruk dan oleh karena itu harus ditolak dan dihancurkan.

Bentuk sastra klasik, semacam Mahabarata, Ksatria Meja Bundar Arthur, atau Beowulf, yang istanasentris, tidak memberikan tempat ke rakyat biasa, tanpa embel- embel kedigdayaan sakti mandraguna, atau label keningratan, semacam Homer Simpson, atau Panji Koming. Tanpa berpihak ke genre manapun, namun sastra, komik, atau kartun sekalipun, sebenarnya adalah manifestasi dari wajah sosiokultural, dari masyarakat yang menjadi modelnya.

Harus diakui tidak sedikit manusia di dunia justru menjadi lebih humanis karena inspirasi pemikiran kaum anarkis. Kekuasaan bukan lagi barang konkret yang sakral dan anti kritik, mitos orang kuat juga semakin sirna, berikut semakin horizontalnya jarak kekuasaan, antara pemerintah, dengan warga negaranya. Bagaimanapun, pemikiran semacam ini, harus diimbangi dengan sikap tanggung jawab yang mumpuni, kenapa ? Karena otoritas, yang pada

awalnya untuk membangun sebuah peradaban, adalah bertujuan untuk membangun keteraturan antar hubungan manusia, yang sarat dengan benturan antara kepentingan privat ( pribadi), dan publik ( umum). Sikap anarki tanpa adanya kepentingan untuk membangun peradaban, tanpa ada tanggung jawab solidaritas sosial, justru akan menimbulkan kekacauan di sisi yang lainnya, dan itu nampaknya bukan pilihan yang bijak pula.

Obrolan di warung kopi, forum maya bebas 2.0 semacam Politikana, mungkin terlihat hangat- hangat tahi ayam, yang bagi sebagian “manusia bersemangat”, terlihat tidak heroik, tidak konkret, tidak revolusioner, dalam artian dalam waktu pendek, secara serta merta, menimbulkan dentuman besar sosial, “meruntuhkan” oligarki yang dominan. Okelah, mungkin saya juga bukan termasuk “manusia bersemangat” semacam itu, namun dalam skala tertentu, dan dalam dimensi ruang waktu tertentu, setiap bahan obrolan, dalam bentuk lontaran serius penuh data, sarkastis yang menyebalkan ( dan terlihat seksi karena nampak “cerdas”), atau humor ringan yang bermuatan satir, ada serpihan ide yang tersebar, ada resonansi intelektual yang terproduksi ulang di benak manusia yang berada di dalam lingkaran itu, entah seberapa besar serpihan itu terbentuk, namun sudah terjadi reproduksi ide, itu intinya.

Yah, apapun itu, dengan teknologi informasi yang ada sekarang, ada baiknya dimanfaatkan untuk berbagi pemikiran, bentuk lain dari sikap beramal, hitung- hitung saling menasehati, karena walaupun “cuma” lontaran lelucon ringan, bisa jadi yang “cuma ringan” itu, bisa memberi inspirasi manusia di sekelilingnya, untuk lebih mawas diri dan sadar kritis, pelan tapi pasti, dan menyenangkan….

Ya, begitulah….

Menyitir lagi pendapat dari tokoh “anarkis” yang mengedepankan langkah tanpa kekerasan, Mohandas Karamchand Gandhi :

If one has no affection for a person or a system, one should feel free to give the fullest expression to his disaffection so long as he does not contemplate, promote, or incite violence.

MITOS ORANG KUAT

A government big enough to give you everything you want is a

government big enough to take from you everything you have. ( Gerald

Ford)

If the government becomes a law-breaker, it breeds contempt for the

law. It invites every man to become a law unto himself. It invites anarchy. ( Louis Brandeis, Hakim Agung AS) “Do you know who is responsible?” “Why of course, it‟s the government!” “Jill, „the government‟ is several million people.” ( Robert A Heinlein)

I de tentang kekuasaan, dalam historiografi kerajaan- kerajaan di kepulauan nusantara masa lalu, adalah sesuatu

Ide tentang kekuasaan, dalam historiografi kerajaan-

kerajaan di kepulauan nusantara masa lalu, adalah sesuatu hal yang konkret. Istilah “darah biru” dan “manusia kuat”, adalah komoditas, yang seolah menjadi pembenaran tak tertulis, selama beberapa abad, yang digunakan oleh sebagian kecil manusia, untuk mengklaim kekuasaan, atas sebagian besar manusia lain, dalam format yang disebut dengan negara dinasti.

Tidak heran, maka para penguasa, yang bergelar raja itu, selalu berusaha mengait-ngaitkan dirinya, dengan raja- raja dari kerajaan yang sudah pernah ada sebelumnya. Selalu ada usaha- usaha pembenaran, untuk melegitimasi, bahwa kursi kekuasaan yang diduduki, merupakan hak tak terbantahkan, salah satunya adalah mengklaim, bahwa dirinya adalah keturunan penguasa. Dan, karena ide bahwa kekuasaan itu konkret, juga sudah mendarah daging dalam akal budi manusia di nusantara, maka semakin lestarilah yang disebut dengan mitos “manusia kuat”, “pemimpin kharismatik”, atau “ratu adil” itu.

Apakah Anda berpikir bahwa manakala Republik Indonesia, dinyatakan berdiri di Kepulauan Nusantara, dengan format negara-bangsa, maka mitos manusia kuat, yang berbau negara dinasti, akan serta merta hilang ? Oh, tentu tidak. Bahkan, boleh saya bilang, bahwa semenjak Orde Lama, dilanjutkan sampai ke Orde Baru, terbentuk semacam usaha- usaha pembentukan mitologi baru, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia, adalah pelanjut dari “kerajaan nasional” yang sudah pernah ada sebelumnya, Majapahit dan Sriwijaya. Dan inipun, otentisitas data sejarahnya masih harus digali lagi lebih dalam. Seolah- olah, nasionalisme Indonesia berdiri karena adanya kesamaan sejarah, yang justru ini menjadi legitimasi budaya lamanya bercokol Presiden Sukarno, pada masa Orde Lama, dan Presiden Suharto, pada masa Orde Baru.

Terminologi “pusat kekuasaan”, juga adalah frase yang sangat populer semasa pemerintahan Orde Lama, berikut Orde Baru. Dikotomi “pusat” dan “daerah”, sebenarnya adalah lazim, jika kita hidup pada masa sistem administrasi publiknya, adalah negara dinasti, dimana rentang jarak kekuatan antara “penguasa” dan “rakyat”nya, sangat dipengaruhi oleh seberapa jauh letak geografisnya, dengan kediaman sang penguasa. Namun, dengan format negara- bangsa, yang dibentukkan ke NKRI, seharusnya tidak semacam itu, ada terminologi “pemerintah negara” dan “warga negara”, dalam lembaga yang bernama “negara”. Dimana dalam negara bangsa ini, batas- batas geopolitik sebuah peradaban, ditentukan dengan tegas, berikut jarak kekuasaan dan distribusi keadilan sosial, tidak dipengaruhi oleh letak geografis antara “warga negara” dengan “pemerintah negara”.

Saya tidak ingin menyalahkan pemerintahan Orde Lama, maupun Orde Baru, atas lambatnya transformasi perspektif tentang kekuasaan ini, dalam akal budi kolektif manusia Indonesia. Sekarang, dengan keadaan masih kuatnya mitos orang kuat di benak kolektif manusia Indonesia, derasnya arus informasi dari luar, distribusi keadilan sosial yang masih dalam taraf proses perbaikan pasca Orde Baru, dan serangkaian masalah dalam birokrasi pemerintah negara sendiri, maka memahamkan diri secara kolektif, tentang peran dan posisi warga negara, dalam lembaga berformat negara bangsa, semacam Indonesia ini, adalah kerja kolektif yang penting dan mendesak.

Saya ingin menyoroti tentang operasional sistem administrasi publik, yang menjadi peran- posisi pemerintah negara kita, masih banyak masalah yang harus dibenahi di dalamnya. Pegawai Departemen Pendidikan Nasional (selain

guru) jumlahnya lebih dari 200 ribu orang, Pegawai Departemen Agama jumlahnnya sekitar 180 ribu orang, apakah aset SDM bernama PNS ini efektif menjalankan fungsionalitasnya dalam sistem operasi pemerintahan negara ? Anggaran tahun 2009 untuk Depdiknas mencapai Rp 51 triliun-terbesar di antara departemen teknis lainnya. Sementara anggaran untuk Depag mencapai Rp 20 triliun-sedikit di bawah kepolisian (Rp 25 triliun), namun di atas Departemen Kesehatan (19 triliun), Departemen Perhubungan (Rp 16 triliun), dan Departemen Keuangan (Rp 15 triliun).

Saat ini, Depag dan Depdiknas menduduki peringkat atas lembaga terkorup, selain Kejaksaan dan Kepolisian. Maka, salahkah kalau kita berpendapat bahwa rakyat membiayai sistem operasi penyelenggaraan negara terlalu boros? Sebagian besar PNS pendidikannya SMA (35%) , yang Sarjana hanya 28,9%. PNS bergelar S2 dan S3 hanya 2,5% dan 0,2% saja. Artinya, selain jumlahnya besar, kualitasnya pun masih perlu dipertanyakan. Terlebih lagi, ongkos yang dikeluarkan untuk menggaji mereka begitu mahal-lebih dari Rp 100 triliun per tahun.

Bukan apa- apa sih, tetapi jika pemerintah negara, yang peran dan posisinya adalah pengendali sistem administrasi publik, berikut pemegang peran tunggal untuk distribusi keadilan sosial, dalam sebuah lembaga bernama negara, ternyata komponen- komponen di dalamnya tidak bisa bekerja optimal, bahkan cenderung rusak parah, lalu apa yang bisa diharapkan oleh warga negara, terhadap pemerintahnya sendiri ? Karena ini akan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan lembaga bernama negara tersebut kedepannya, jika tidak ingin terjerumus ke “negara gagal”.

Menantikan sosok “pemimpin kharismatik”, “orang kuat”, atau “ratu adil”, mungkin saya bisa kategorikan sebagai patologi sosial yang sebaiknya kita obati segera. Itu sama saja dengan berangan- angan di tengah masalah aktual yang dihadapi sekarang. Dan misalnya ya, ternyata nih, sosok manusia yang sakti mandraguna, kharismatik, dan ( mungkin) masih keturunan Gajah Mada atau tokoh digdaya lain semacam Ki Ageng Selo, yang bisa menangkap petir itu, benar- benar muncul, bisa dengan hebatnya menyelesaikan semua masalah yang kita hadapi sekarang, sekejap, sendirian saja, lalu apa reaksi kita selanjutnya ? Apakah ini tidak lain hanyalah melahirkan lagi sosok tiran baru, semacam yang sebelum- sebelumnya, dan ini berarti cari penyakit ! Kekuasaan itu legit soalnya, juga cenderung korup, dan harus kita sadari bahwa kita juga manusia biasa, bukan malaikat.

Saya sendiri juga belum mendapat datanya, apakah tingkat literasi yang sudah sampai 92,5 %, di kalangan warga negara Indonesia, juga berkorelasi positif terhadap minat baca ? Yang berarti berkontribusi positif terhadap tingkat kemampuan logika dan sistem kognitifnya. Karena yang menyuburkan mitos orang kuat itu, ternyata kita- kita juga, atau setidaknya kawan, saudara, tetangga sebelah kita. Mitos orang kuat ini, yang berulang kali menjadi pembenaran, bahwa kekuasaan sebagian kecil manusia, terhadap manusia lain, adalah konkret. Ini secara kultural, bertubrukan dengan konsepsi negara bangsa, yang selama ini sudah berjalan.

Yah, sebaiknya, sebagai warga negara, kita mulai sadar diri, akan peran dan posisi kita, dalam lembaga bernama negara ini. Berikut, mengingatkan pemerintah negara, tentang peran dan posisinya. Walaupun ini terlihat klise, namun percayalah, dengan keadaaan kolektif kita saat ini, kalau pekerjaan ini segera terlaksana, maka akan banyak masalah yang bisa terselesaikan.