Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA TANAH

MODUL V
COMPACTION

KELOMPOK 2
Anindyolaras Cahyo (0906515931)
Aprilia Dyah Ayu M. R (0906515950)
Fahri Artadi (0906515982)
Iftita Rahmatika (0906516000)
Komang Tatya (0906516045)
Listy Ayuningtyas (0906516064)
Nurusysyifa D. H (0906516083)

Tanggal Praktikum : 12-13 Maret 2011


Asisten Praktikum : Bianca Natasya
Tanggal Disetujui :
Nilai :
Paraf :

LABORATORIUM MEKANIKA TANAH


DEPARTEMEN SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

2011
A. MAKSUD DAN TUJUAN
Mencari nilai kerapatan kering (γdry) maksimum pada kadar air optimum (Wopt) dari
suatu sampel tanah yang dipadatkan

B. ALAT DAN BAHAN


• Mould, lengkap dengan collar dan base plate
• Hammer seberat 5.5 lbs dengan tinggi jatuh 12 inch
• Hydraulic extruder
• Pelat baja pemotong
• Gelas ukur
• Wadah untuk mencampur tanah dengan air
• Pelat besi/penggaris untuk mengukur tinggi tanah
• Timbangan
• Oven
• Sampel tanah lolos saringan No. 4 ASTM sebanyak 5 kantong @ 2 kg
• Jangka sorong

C. TEORI
Compaction (pemadatan tanah) adalah suatu proses dimana pori-pori tanah diperkecil
dan kandungan udara dikeluarkan secara mekanis. Suatu pemadatan tanah adalah juga
merupakan usaha(energi) yang dilakukan pada massa tanah. Suatu pemadatan
(Compactive Effort = CE) yang dilakukan tersebut adalah fungsi dari variabel-variabel
berikut:

dengan :
CE = Compactive Effort (lb/ft2)
W = berat hammer (lb)
H = tinggi jatuh (inch)
L = jumlah layer

2
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

B = jumlah pukulan per-layer


V = volume tanah (ft3)

Pemadatan tanah yang dilakukan di laboratorium pada umumnya terdiri dari dua macam,
yaitu:
1. Standard Proctor - AASHTO T 99 (ASTM D 698)
2. Modified Proctor - AASHTO T 180 (ASTM D 1557)
Perbedaan mengenai dua metode tersebut dirangkum pada tabel di bawah ini:
AASHTO T99 AASHTO T180
Test Identification
ASTM D 698 ASTM D 1557
Diameter Mould (inch) 4" 6" 4" 6"
Berat Hammer (lb) 5.5 5.5 10 10
Tinggi Jatuh Hammer (inch) 12 12 18 18
Jumlah Layer 3 3 5 5
Jumlah Pukulan Per-Layer 25 56 25 56
C.E (lb/ft2) 12.375 12.375 56.25 56.25
Ukuran Butir Maksimum yg
No. 4 (3/4") No. 4 (3/4") No. 4 (3/4") No. 4 (3/4")
Lolos
Tabel C.1 Perbandingan dua metode compaction

Kepadatan tanah bergantung pada kadar airnya. Untuk membuat suatu hubungan tersebut
dibuat beberapa contoh tanah minimal empat contoh dengan kadar air yang berbeda-
beda, dengan perbedaan kurang lebih 4% antara setiap sampel. Dari percobaan tersebut
kemudian dibuat grafik yang menggambarkan hubungan antara kepadatan dan kadar air,
sehingga dari grafik tersebut diperoleh γdry maksimum pada kadar air optimumnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa suatu tanah yang dipadatkan dengan kadar
air tanah lebih dari Wopt akan diperoleh nilai kepadatan yang lebih kecil dari γdry
maksimum.

Rumus-rumus yang digunakan:


1. Menentukan kadar air :

………....(1)

…………(2)

3
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

…….....(3)
Di mana :
W = kadar air (%)
wwater = berat air (gram)
wdry = berat tanah kering (gram)
wwet = berat tanah basah (gram)

2. Menentukan perubahan volume air :

…………(4)
Di mana :
Vadd = volume air yang ditambahkan (ml)
Wx = kadar air yang akan dibuat (%)
Wo = kadar air awal (%)
w = berat sampel tanah (gram)

3. Menghitung nilai γwet dan γdry :

………….(5)

………..(6)
Di mana :
γwet = berat isi tanah dalam keadaan basah (gr/cm3)
wwet = berat tanah basah (gr)
V = volume sampel tanah yang telah dipadatkan (cm3)
γdry = kerapatan kering (gr/cm3)
wdry = berat tanah kering (gr)
W = kadar air (%)

4. Mencari Zero Air Void Line (ZAV- line) :


ZAV-line adalah garis yang menggambarkan hubungan antara berat isi kering dengan
kadar air dalam kondisi derajat kejenuhan (Sr) 100 %.

4
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

…………..(7)
Di mana :
Gs = nilai specific grafity
γw = berat jenis air (gr/cm3)
W = kadar air tanah (%)
Sr = derajat kejenuhan

5. Mencari nilai Compaction Effort (CE) :

………….(8)
Di mana :
C.E. = Compactive Effort (lb/ft2)
W = berat hammer (lb), yang digunakan pada percobaan ini adalah 5.5 lb
H = tinggi jatuh (inch), pada percobaan ini adalah 12 inch
L = jumlah layer, pada percobaan ini adalah 3 lapisan
B = jumlah pukulan per-layer, pada percobaan ini adalah 25 kali
V = volume tanah (ft3)

D. PROSEDUR PERCOBAAN
Persiapan Percobaan
1. Sampel tanah yang akan dipadatkan dicampur dengan rata dalam satu wadah
sehingga nilai kadar air awal dapat dianggap sama.
2. Sebagian sampel yang dianggap mewakili nilai kadar air seluruhnya ditimbang, lalu
dimasukkan ke dalam oven selama ±24 jam sampai berat tetap.
3. Sisa sampel tanah yang lain dimasukkan ke dalam lima kantong yang masing-
masing kantong diisi sampel tanah 2 kg yang lolos saringan No. 4 ASTM.
4. Sehari kemudian sampel tanah dikeluarkan dari oven dan ditimbang beratnya.
Dengan demikian dapat diketahui nilai kadar air awal sampel tanah.
5. Setelah kadar air diketahui, dapat ditentukan volume air yang harus ditambahkan ke
dalam masing-masing kantong sampel tanah agar mencapai kadar air tertentu.
6. Sampel tanah dicampur dengan air yang sudah dihitung volumenya, kemudian
dibiarkan selama 18-24 jam agar campuran air merata.

5
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

Proses (Jalannya) Percobaan


1. Semua alat dan bahan dipersiapkan.
2. Dimensi mould diukur untuk mengetahui volume tanah hasil pemadatan.
3. Sebelum digunakan, dinding mould diolesi dengan pelumas (oli) agar setelah
dipadatkan tanah tidak lengket menempel di dinding mould.
4. Mould diletakkan pada base plate dan kertas lingkaran diletakkan di bagian dasar
agar tanah tidak menempel di base plate.
5. Kedudukan mould dikunci terhadap base plate agar tidak bergerak saat proses
pemadatan.
6. Tanah dimasukkan ke dalam mould tingginya diperkirakan dengan menggunakan
penggaris atau pelat besi sehingga setelah dipadatkan tingginya mencapai 1/3 tinggi
mould. Kemudian setiap lapisan ditumbuk sebanyak 25 kali secara merata dengan
hammer 5.5 lb dan tinggi jatuh 12 inch.
7. Pada lapisan tanah ketiga, collar dipasang pada mould agar tinggi tanah setelah
dipadatkan melebihi tinggi mould.
8. Setelah pemadatan lapisan ketiga selesai, collar dibuka. Kelebihan tanah diratakan
dengan pelat pemotong.
9. Berat mould + tanah ditimbang dengan timbangan.
10. Sampel tanah dikeluarkan dari mould dengan bantuan extruder.
11. Sampel tanah tersebut dibelah menjadi tiga bagian. Kemudian mengambil bagian
tengah tiap lapisan untuk kemudian diletakkan pada can, menimbang beratnya, lalu
memasukkannya ke dalam oven untuk mengetahui kadar air setelah pemadatan.

E. HASIL PRAKTIKUM
Data hasil praktikum
pengukur D mold H mold Berat
an ke cm cm gr
1 10,152 11,454
2 10,126 11,551
3 10,141 11,584 1394
10,139 11,529
rata-rata 67 67
Tabel C.2 Dimensi Mould

6
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

Sampel no I II III IV V
Wt of can + wet 255,9 247,6
soil 246,6 gr 228,4 gr gr 165,73 2
Wt of can +dry 185,84 170,81 186,54 175,4
soil gr gr gr 121,93 1
69,36
Wt of water 60,76 gr 57,59 gr gr 43,8 72,21
Wt of can 20,3 gr 23,4 gr 19,7 gr 19,69 16,75
165,54 147,41 166,84 158,6
Wt of dry soil gr gr gr 102,24 6
45,51
water , w% 36,70% 39,07% 41,57% 42,84% %
Tabel C.3 Data setelah compavtion
F. PERHITUNGAN
1. Menghitung Volume mold

V = 3,14x (10,13967)2 x (11,52967)/4


V = 931, 097 cm3
2. Kadar air sebelum pemadatan = 26,76 %
3. Menghitung penambahan volume air untuk
compaction
Perhitungan dilakukan pada tahap persiapan praktikum compaction
Kondisi awal sample tanah adalah wo = 26,76 %
w = 2000 gram
Volume air yang ditambahkan ditentukan dengan persamaan :

Dari perhitungan, berikut adalah besar volume yang harus ditambahkan untuk
mencapai kadar air yang diinginkan.

Sample Wo (%) Wx (%) Vadd (ml)

I 37,5 169,454

II 40 208,899
26,76 %
III 42,5 248,343

IV 45 287,788

V 47,5 327,232 7
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

Tabel C.4 Data penambahan volume


4. Menghitung kadar air setelah compaction
Tanah yang sudah mengalami compaction dikeluarkan dari mold dengan bantuan
extruder. Diambil tanah bagian tengah dari layer atas, tengah dan bawah. Sampel
tanah pada ketiga lapisan ini dianggap sama kadar airnya sehingga untuk
menghitungan kadar air cukup dengan satu can.

Samp Wcan Wcan+w Wcan+dr Wwater Wdry


W (%)
le (gr) et (gr) y (gr) (gr) (gr)
I 20,3 246,6 185,84 60,76 165,54 36,704
II 23,4 228,4 170,81 57,59 147,41 39,07
III 19,7 255,9 186,54 69,36 166,84 41,573
IV 19,69 165,73 121,93 43,8 102,24 42,84
V 16,75 247,62 175,41 72,21 158,66 45,51
Tabel C.5. Kada air setelah compaction

5. Menentukan kerapatan kering (γd)

γwet = (wt can + wet soil – wt )/ 931, 097


can

W wet = wt
Sample Vol mold γwet W (%) γdry (gr/cm3)
soil in mold
I 1488 1,598 36,704 1,169
II 1602 1,721 39,07 1,237
III 1628 931, 097 1,748 41,573 1,234
IV 1632 1,753 42,84 1,227
V 1602 1,721 45,51 1,183
Tabel C.6. Berat isi kering tanah hasil compaction

6. Menghitung Garis Zero Air Void :


Sr = 100%
SG =SG1+ SG2
2
2,771 + 2,767

8
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

SG =
2
= 2,769
γ water = 1 gr/cm3

Samp 1+w.G
W (%) Gs w.Gs γwater ZAV
le s
0,367 1,0163 2,0163
I 1,373
04 34 34
0,390 1,0818 2,0818
II 1,330
7 48 48
0,415 1,1511 2,1511
III 2,769 1 1,287
73 56 56
0,428 1,1862 2,1862
IV 1,267
4 4 4
0,455 1,2601 2,2601
V 1,225
1 72 72
Tabel C.7 Zero Air Void

7. Menghitung Nilai Compactive Effort (CE) :

1 feet = 0,3048 m
1m = 3,281 feet
Vol = 931,097 cm3 = 931,097 x 10-6 m3 = 0,033 ft3

5,5 lb x 12 inc x 3 x 25
CE =
0,033

= 150000 lb/ft2

8. Grafik Pemadatan Tanah


Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan di atas, diperoleh nilai γdry dan ZAV
sebagai berikut :

9
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

1,4

1,35
dry density gr/cm3

1,3
S eries 1
S eries 2
1,25

1,2

1,15
35 37 39 41 43 45 47
w a te r co nte nt %

Keterangan :
series 1 = dry density vs water content
series 2 = ZAV vs water content
Dari grafik tersebut dapat diperkirakan besar dry density maksimum adalah 1,24 gr/cm3 pada
kadar air optimum sebesar 40 %. Nilai ini bias jadi kurang presisi karena hanya berdasarkan
estimasi. Untuk itu perhitungan nilai dry density maksimum dan kadar air optimum dilakukan
dengan persamaan kuadrat.
Berikut adalah perhitungan dengan persamaan kuadrat :
no x y y=ax2+bx=c
1,169 = 1346,89a +
1 36,704 1,169 36,7b +c
1,237 = 1528,81a +
2 39,07 1,237 39,1b +c
1,234 = 1730a + 41,6b
3 41,573 1,234 +c
4 42,84 1,227
5 45,51 1,183
Tabel C.4 hubungan kadar air dan berat isi dalam bentuk persamaan kuadrat

Dari persamaan 1 dan 2 :


1,169 = 1346,89a + 36,7b +c
1,237 = 1528,81a + 39,1b
- +c
0,068 = 181,92a + 2,4b (4)

Dari persamaan 2 dan 3 :


1,237 = 1528,81a + 39,1b +c

10
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

1,234 = 1730a + 41,6b- + c


0,003 = -201,19a – 2,5b (5)

Persamaan (4) dikalikan dengan 2,5 dan (5) dengan 2,4 :


0,17 = 454,8a + 6b
0,0072 = - 482,856a – 6b
-

0,1772 = -201,19a
a = -0,0063
b = 0,506
c = -8,916
y = - 0,0063 x2 + 0,506 x – 8,916
x optimum = -b/2a

x = -0,506/2(-0,0063)

x = 40,159 % kadar air optimum = 40,159 %


y maksimum = -0,0063 (40,159)2 + 0,506 (40,159) – 8,916
y = 1,2441 gr/cm3 dry density maximum = 1,2441 gr/cm3

9. menentukan derajat saturasi

SG.γ water
γ dry maks =
1 + w SG/Sr

1,2441 = 2,769.1
1+
0,40159.2,769/Sr
1 + 0,40159.2,769/Sr = 2,2257
0,40159.2,769/Sr = 1,2257
Sr = 0,9072 = 90,72 %

G. ANALISIS
1. Analisis percobaan
Compaction adalah proses pemadatan tanah untuk memperoleh besar berat isi
tanah kering maksimum dan kadar air optimum. Berat isi maksimum dapat diartikan
sebagai nilai paling besar yang dapat dicapai oleh suatu pemadatan tanah tertentu
sedangkan kadar air optimum adalah kadar air yang paling baik yang disarankan
untuk mencapai berat isi maksimum tersebut.

11
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

Compaction dilakukan terhadap 5 sampel masing-masing 2000 gram. Tanah


yang digunakan adalah tanah lolos saringan no. 4 ASTM dengan kadar air awal 26,76
%. Dalam percobaan ini, yang menjadi variable bebas adalah kadar air asumsi tanah
yaitu 37,5 ; 40 ; 42,5 ; 45 ; dan 47,5 %. Untuk mencapai kadar air asumsi dari kadar
air awal itu perlu adanya penambahan air. Persamaan yang digunakan adalah
persamaan (4).
Pencampuran harus dilakukan secara merata agar kadar air tanah menjadi
homogen. Kadar air yang tidak homogen akan berpengaruh pada nilai dry density
maksimum yang tidak akurat. Akan tetapi kemungkinan kadar air yang tidak
homogen juga diantisipasi dengan cara memeram sample tanah di dalam plastik
selama kurang lebih 18 jam.
Setelah 18 jam compaction dapat dilaksanakan. Metode yang digunakan
adalah Standard Proctor AASHTO T 99 (ASTM D 698). Setelah semua peralatan yang
diperlukan sudah siap, compaction pertama dilakukan terhadap sampel yang berkadar
air 37,5 % sampai yang terakhir 42,5 %.
Banyak lapisan yang diizinkan pada metode ini adalah 3 layer. Maka praktikan
harus benar-benar memastikan akan memperoleh 3 layer pemadatan. Untuk
memastikannya, pada pemadatan tiap lapis, tanah ditumbuk sebanyak 10 kali terlebih
dahulu. Lalu sebuah penggaris pengukur tinggi tanah dimasukkan ke dalam mold.
Penggaris logam ini memiliki ruas yang masing-masing berjarak sepertiga tinggi
mold. Dengan bantuan penggaris ini, praktikan dapat mengira-ngira seberapa banyak
tanah yang harus ditambahkan agar padatan dapat mencapai tinggi yang diharapkan
setelah mengalami 15 tumbukan berikutnya. Jika hasilnya lebih tinggi, praktikan
wajib mengerok padatan tanah tersebut. Lapis ketiga/teratas juga harus tepat satu
permukaan dengan mold agar volume padatan sama dengan volume mold.
Pada tahap ini praktikan mengalami kesulitan mencapai permukaan yang tepat
rata dengan mold. Diantara lima sampel compaction, ada yang menghasilkan padatan
yang cekung, ada pula yang cembung, dan berlubang-lubang di beberapa bagian.
Permukaan cekung dihasilkan dari pemadatan sampel ketiga yang berkadar air asumsi
42,5 %. Untuk menutup permukaan cekung itu praktikan menambahkan tanah dengan
jumlah yang cukup signifikan. Jika penambahan tanah terlalu signifikan, proses
compaction dapat dikatakan menyalahi prosedur Standard Proctor AASHTO T 99
(ASTM D 698). Berbeda dengan ketika mengerok permukaan tanah yang cembung,

12
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

seperti yang terjadi pada sampel kedua yang berkadar air asumsi 40 %, sebanyak apa
pun tanah yang dikerok, tidak akan menyalahi prosedur asal hasil akhir pengerokkan
rata dengan mold.
Selesai dengan proses pemadatan, percobaan dilanjutkan dengan menimbang
mold beserta padatan tanah tersebut. Tanah kemudian dikeluarkan dari mold dengan
bantuan mesin extruder. Praktikan mengambil bagian tengah dari tiap lapisan padatan
tanah supaya kadar airnya dapat diasumsikan telah mewakili kadar air padatan tanah
seluruhnya karena dikhawatirkan kadar airnya tidak merata. Kadar air dari tiga sampel
pertama setelah compaction ini digunakan untuk menghitung dry dencity setelah
compaction.
Compaction terhadap sampel keempat dan kelima dilakukan oleh kelompok
lain. Terlepas dari prosedur compaction yang dilakukan terhadap sampel keempat dan
kelima, kedua sampel ini mengalami prosedur yang kurang tepat untuk menentukan
kadar air setelah compaction. Kedua sampel tersebut tidak langsung dioven,
melainkan sempat didiamkan di laboratorium selama sehari. Sehingga kedua sampel
ini sudah mengalami kekeringan akibat suhu ruangan selama sehari. Kemudian kedua
sampel ini baru dioven. Kadar airnya dihitung pada hari berikutnya.

2. Analisis hasil
Dari serangkaian proses compaction ini, praktikan memperoleh data kadar air setelah
compaction.

w
asumsi w setelah
no (%) compaction (%)
1 37,5 36,704
2 40 39,07
3 42,5 41,573
4 45 42,84
5 47,5 45,51
Tabel C.8 Perbandingan kadar air asumsi dan kadar air setelah compaction
Dari tabel hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tanah mengalami
pengurangan kadar air setelah mengalami compaction. Penurunan kadar air tiap
sampel berturut-turut adalah 0,796 ; 0,93 ; 0,927 ; 2,16 ; dan 1,99 %. Penurunan

13
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

drastis pada sampel keempat dan kelima disebabkan karena sebelumnya kedua sampel
ini mengalami kekeringan pada suhu ruang yang terlebihdulu mengurangi kadar air.
Ketidaksempurnaan prosedur perhitungan kadar air setelah compaction yang
terjadi pada dua sampel terakhir ini tidak berpengaruh besar pada grafik compaction
karena dari tiga sampel pertama sudah dapat ditemukan koordinat puncak kurva
sehingga sudah dapat diperoleh dry dencity maksimum dan kadar air optimum.
Selain itu, dari kadar air hasil compaction, dapat diperoleh besar berat isi
kering tanah hasil compaction. Dengan melihat sebaran data pada tabel, tidak terdapat
hubungan linier antara kadar air dengan berat isi tanah kering. Keduanya dihubungkan
ZAV-line, yaitu garis yang menggambarkan hubungan antara berat isi kering dengan
kadar air dalam kondisi derajat kejenuhan (Sr) 100%.

γdry
no W (%) (gr/cm3)
1 36,704 1,169
2 39,07 1,237
3 41,573 1,234
4 42,84 1,227
5 45,51 1,183
Tabel C.8 Perbandingan kadar air dan berat isi tanah setelah compaction

3. Analisis grafik
Grafik yang diperoleh menunjukkan hubungan antara dry dencity dengan kadar air
dan ZAV line. Pada grafik series 1 terdapat ketidaksesuaian pola dari sample keempat
dan kelima. Kedua sample ini menghasilkan angka yang kurang presisi akibat
kesalahan prosedur pengukuran kadar air.

14
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

1,4

1,35
dry density gr/cm3

1,3
S eries 1
S eries 2
1,25

1,2

1,15
35 37 39 41 43 45 47
w a te r co nte nt %

Jika dilihat dengan metode estimasi, puncak kurva terdapat pada koordinat (40;1,24).
Setelah dibuktikan dengan perhitungan persamaan kuadrat, angka estimasi itu
mendekati akurasi yaitu (40,159 ; 1,2441). Baik dengan metode estimasi atau
persamaan kuadrat menggunakan data dari tiga sample pertama sehingga kesalahan
dari sample keempat dan ketiga tidak akan berpengaruh besar.
Garis ZAV tidak memotong kurva. Hal ini menunjukkan bahwa compaction yang
dilakukan kurang sempurna yang artinya masih terdapat udara di dalam padatan.
Akan tetapi, pada kenyataannya memang tidak mungkin menghilangkan pori dari
dalam tanah sampai benar-benar 0 %.

4. Analisis kesalahan
Kesalahan dari hasil percobaan ini adalah adanya perbedaan kadar air yang diperoleh
dari compaction dengan kadar air asumsi atau yang diharapkan. Bahkan sampai ada
penurunan yang signifikan pada sample keempat dan kelima,
Kesalahan ini dapat terjadi karena pada waktu persiapan sampel, pencampuran tanah
dengan air kurang merata ditambah lagi dengan adanya kesalahan prosedur
perhitungan kadar air.

H. KESIMPULAN
1. Kadar air optimum hasil compaction sebesar 40,159 % dan berat isi kering tanah
maksimum sebesar 1,2441 gr/cm3

15
Laporan Praktikum Mekanika Tanah
Modul C
Compaction

2. Garis ZAV tidak memotong kurva menunjukkan derajat saturasi padatan masih
tinggi yaitu 90,72 %
3. Besar berat isi kering tanah akan lebih besar dan derajat saturasi akan lebih kecil
jika dilakukan dengan metode Modified Proctor - AASHTO T 180 (ASTM D
1557)

I. REFERENSI
Buku Pedoman Praktikum Mekanika Tanah, Laboratorium Mekanika Tanah, Depok.

LAMPIRAN

16