Anda di halaman 1dari 6

Etiologi Ulkus diabetik

Ada 4 sebab yang menyebabkan ulkus pada kaki diabetik :

1. Infeksi
2. Iskemik
3. Tekanan abnormal
4. Kontaminasi

Kuman – kuman pada infeksi :

1. Staphylococcus aureus

 bersifat koagulase positif dan non motil


 tidak membentuk spora
 koloninyaberwarna kuning, abu-abu
 menghasilkan katalase dan koagulase

2. streptococcus pyogenes

 termasuk dalam antigen group A


 bersifat hemolitik β
 menghasilkan 2 hemolisin yaitu streptolisis O yang tidak aktif bila erdapat oksigen
dan streptolisis S yang menimbulkan darah hemolitik

3. pseudomonas aeruginosa

 dapat bergerak dan berbentuk btang


 gram negatif
 bersifat aerob obligat
 memproduksi enzim ekstraseluler
 mempunyai pili yang menonjol dari permukaan sel
 memproduksi oksotoksin A yang menyebabkan nekrosis jaringan
4. proteus mirabilis

 menyebabkan bau ganggren karena menghasilkan amonia


 bersifat anaerob

Patogenesis Ulkus Diabetik


Penyebab terjadinya ulkus kaki diabetik bersifat multifaktorial.

Faktor penyebab tersebut dapat dikatagorikan menjadi 3 kelompok, yaitu akibat perubahan
patofisiologi, deformitas
anatomi dan faktor lingkungan.

Perubahan patofisiologi pada tingkat biomolekuler menyebabkan neuropati perifer, penyakit


vaskuler perifer dan penurunan sistem imunitas yang berakibat terganggunya proses
penyembuhan luka.
Deformitas kaki sebagaimana terjadi pada neuroartropati Charcot terjadi sebagai akibat
adanya neuropati motoris.
Faktor lingkungan, terutama adalah trauma akut maupun kronis (akibat tekanan sepatu, benda
tajam, dan sebagainya)
merupakan faktor yang memulai terjadinya ulkus.

Neuropati perifer pada penyakit DM dapat menimbulkan kerusakan pada serabut motorik,
sensoris dan autonom.
Kerusakan serabut motoris dapat menimbulkan kelemahan otot, atrofi otot, deformitas
(hammer toes, claw toes, pes cavus, pes planus, halgus valgus, kontraktur tendon Achilles)
dan bersama dengan adanya neuropati memudahkan
terbentuknya kalus. Kerusakan serabut sensoris yang terjadi akibat rusaknya serabut mielin
mengakibatkan penurunan sensasi nyeri sehingga memudahkan terjadinya ulkus kaki.
Kerusakan serabut autonom yang terjadi akibat denervasi simpatik menimbulkan kulit kering
(anhidrosis) dan
terbentuknya fisura kulit dan edema kaki. Kerusakan serabut motorik, sensoris dan autonom
memudahkan terjadinya
artropati Charcot. Gangguan vaskuler perifer baik akibat makrovaskular (aterosklerosis)
maupun karena gangguan
yang bersifat mikrovaskular menyebabkan terjadinya iskemia kaki. Keadaan tersebut di
samping menjadi
penyebab terjadinya ulkus juga mempersulit proses penyembuhan ulkus kaki.

Untuk tujuan klinis praktis, kaki diabetika dapat dibagi menjadi 3 katagori, yaitu

• kaki diabetika neuropati,


• iskemia
• neuroiskemia.

Pada umumnya kaki diabetika disebabkan oleh faktor neuropati (82%) sisanya adalah akibat
neuroiskemia dan murni akibat iskemia.
II.6. PENATALAKSANAAN

Pengobatan kelainan kaki diabetik terdiri dari pengendalian diabetes dan penanganan
terhadap kelainan kaki.

A. Pengendalian Diabetes.

Langkah awal penanganan pasien dengan kaki diabetik adalah dengan melakukan manajemen
medis terhadap penyakit diabetes secara sistemik karena kebanyakan pasien dengan kaki
diabetik juga menderita malnutrisi, penyakit ginjal kronik, dan infeksi kronis.

Diabetes mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan dapat menyebabkan terjadinya
berbagai komplikasi kronik diabetes, salah satu- nya adalah terjadinya gangren diabetik. Jika
kadar glukosa darah dapat selalu dikendalikan dengan baik, diharapkan semua komplikasi
yang akan terjadi dapat dicegah, paling sedikit dihambat.

Dalam mengelola diabetes mellitus langkah yang harus dilakukan adalah pengelolaan non
farmakologis, berupa perencanaan makanan dan kegiatan jasmani. Baru kemudian kalau
dengan langkah-langkah tersebut sasaran pengendalian diabetes yang ditentukan belum
tercapai, dilanjut-kan dengan langkah berikutnya, yaitu dengan penggunaan obat atau
pengelolaan farmakologis.

Perencanaan makanan pada penderita diabetes mellitus masih tetap merupakan pengobatan
utama pada penatalaksanaan diabetes mellitus, meskipun sudah sedemikian majunya riset
dibidang pengobatan diabetes dengan ditemukannya berbagai jenis insulin dan obat oral yang
mutakhir. Perencanaan makanan yang memenuhi standar untuk diabetes umumnya
berdasarkan dua hal, yaitu; a). Tinggi karbohidrat, rendah lemak, tinggi serat, atau b). Tinggi
karbohidrat, tinggi asam lemak tidak jenuh berikatan tunggal.

Sarana pengendalian secara farmakologis pada penderita diabetes mellitus dapat berupa ;

a. Pemberian Obat Hipoglikemik Oral (OHO)

- Golongan Sulfonylurea

- Golongan Biguanid

- Golongan Inhibitor Alfa Glukosidase

- Golongan Insulin Sensitizing

b. Pemberian Insulin

Tabel 3. Jenis Obat Hipoglikemik Oral yang tersedia di Indonesia.

Lama Kerja
Frekuensi
NAMA GENERIK DOSIS
(Kali)
(jam)
Harian (mg) Awal (mg)
SULFONILUREA
- Klorpropamid 100-500 50 24-36 1

- Tolbutamid 500-2000 - 6-12 2-3

- Glibenklamid 2.5-20 2.5 12-24 1-2

- Glipizid 5-20 5 10-16 1-2

- Glikazid 80-240 40 10-20 1-2

- Glikuidon 30-120 15 10-20 1-3


BIGUANID
- Metformin 250-3000 15 6-8 1-3
Inhibitor α
Glukosidase
- Acarbose 150-300 50 - 1-3

B. Penanganan kelainan kaki

1) Strategi pencegahan

Fokus utama penanganan kaki diabetik adalah pencegahan terhadap terjadinya luka. Strategi
pencegahan meliputi edukasi kepada pasien, perawatan kulit, kuku dan kaki dan penggunaan
alas kaki yang dapat melindungi.

Pada penderita dengan risiko rendah diperbolehkan mengguna-kan sepatu, hanya saja sepatu
yang digunakan tidak sempit atau sesak. Sepatu atau sandal dengan bantalan yang lembut
dapat mengurangi risiko terjadinya kerusakan jaringan akibat tekanan langsung yang dapat
memberi beban pada telapak kaki.

Pada penderita diabetes mellitus dengan gangguan penglihatan sebaiknya memilih kaos kaki
yang putih karena diharapkan kaos kaki putih dapat memperlihatkan adanya luka dengan
mudah. 3

Perawatan kuku yang dianjurkan pada penderita diabetes mellitus adalah kuku-kuku harus
dipotong secara transversal untuk mengurangi risiko terjadinya kuku yang tumbuh kedalam
dan menusuk jaringan sekitar.

Edukasi tentang pentingnya perawatan kulit, kuku dan kaki serta penggunaan alas kaki yang
dapat melindungi dapat dilakukan saat penderita datang untuk kontrol.

Kaidah pencegahan kaki diabetik, yaitu;

- Setiap infeksi meskipun kecil merupakan masalah penting sehingga menuntut perhatian
penuh

- Penderita dan keluarganya harus sadar akan penyulit berat pada tungkai
- Kaki harus dibersihkan secara teliti dan dikeringkan dengan handuk kering setiap kali
mandi

- Kaki harus diinspeksi setiap hari termasuk telapaknya; dapat dengan menggunakan cermin

- Kaki harus dilindungi dari kedinginan; pakai kaus kaki

- Kaki harus dilindungi dari kepanasan,batu atau pasir panas dan api

- Sepatu harus diperiksa setiap hari

- Sepatu harus cukup lebar dan pas

- Dianjurkan memakai kaus kaki setiap saat

- Kaus kaki harus cocok dan dikenakan secara teliti tanpa lipatan

- Alas kaki tanpa pegangan, pita atau tali antara jari

- Kuku dipotong secara lurus

- Berhenti merokok

2) Penanganan ulkus

Di klinik dibedakan 2 bentuk ulkus diabetik pada kaki, yaitu kaki neuropati dan kaki neuro-
iskemik.

Ulkus pada kaki neuropati biasanya terjadi pada kalus yang tidak terawat dengan baik. Kalus
ini terbentuk karena rangsangan dari luar pada ujung jari atau penekanan oleh ujung tulang.
Nekrosis terjadi dibawah kalus yang kemudian membentuk rongga berisi cairan serous dan
bila pecah akan terjadi luka yang sering diikuti oleh infeksi sekunder.

Penanganan ulkus diabetik dapat dilakukan dalam beberapa tingkatan, yaitu;

a) Tingkat 0 :

Penanganan meliputi edukasi kepada pasien tentang alas kaki khusus dan pelengkap alas kaki
yang dianjurkan. Sepatu atau sandal yang dibuat secara khusus dapat mengurangi tekanan
yang terjadi. Bila pada kaki terdapat tulang yang menonjol atau adanya deformitas, biasanya
tidak dapat hanya diatasi dengan pengguna-an alas kaki buatan umumnya memerlukan
tindakan pemotongan tulang yang menonjol (exostectomy) atau dengan pembenahan
deformitas.

b) Tingkat I :

Memerlukan debridemen jaringan nekrotik atau jaringan yang infeksius, perawatan lokal luka
dan pengurangan beban.
c) Tingkat II :

Memerlukan debridemen, antibiotik yang sesuai dengan hasil kultur, perawatan lokal luka
dan teknik pengurangan beban yang lebih berarti.

d) Tingkat III :

Memerlukan debridemen jaringan yang sudah menjadi gangren, amputasi sebagian,


imobilisasi yang lebih ketat, dan pemberian antibiotik parenteral yang sesuai dengan kultur.

e) Tingkat IV :

Pada tahap ini biasanya memerlukan tindakan amputasi sebagian atau amputasi seluruh kaki.