Anda di halaman 1dari 26

PENDAHULUAN

Hanya dalam beberapa hari setelah konsepsi sampai kematian, jantung terus
menerus berdetak. Pada kenyataannya, sepanjang rentang usia manusia rata-rata, jantung
berkontraksi sekitar tiga miliar kali, tidak pernah beristirahat, kecuali sepersekian detik
diantara denyutan. Dalam sekitar tiga minggu setelah pembuahan, bahkan sebelum ibu
dapat memastikan bahwa ia hamil, jantung mudigah yang sedang berkembang sudah
mulai berfungsi. Diyakini bahwa jantung merupakan organ pertama yang berfungsi.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang jantung, ada baiknya kita mengerti
dahulu apa pengertian dari jantung itu sendiri. Jantung adalah bagian lambung yang
langsung menempel pada dan mengelilingi ostium cardiacum antara esofagus dan bagian
lambung yang menempel langsung pada dan mengelilingi ostium6.

Fungsi jantung adalah sebagai pompa yang melakukan tekanan terhadap darah
untuk menimbulkan gradien tekanan yang diperlukan agar darah dapat mengalir ke
jaringan. Darah, seperti cairan lain, mengalir dari daerah yang bertekanan tinggi ke
daerah yang bertekanan rendah sesuai penurunan gradien tekanan5.

Adapun tujuan dari refarat ini adalah untuk mengetahui anatomi, fisiologi serta
patofisiologi dari sistem cardiovasculer. Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan
dijabarkan satu persatu mulai dari anatomi, fisiologi, dan patofisiologi dari sistem
cardiovasculer.
Anatomi jantung

Jantung merupakan organ utama dalam sistem kardiovaskuler. Jantung dibentuk


oleh organ-organ muscular, apex dan basis cordis, atrium kanan dan kiri serta ventrikel
kanan dan kiri. Jantung memiliki bentuk jantung cenderung berkerucut tumpul. Ukuran
jantung kira-kira panjang 12 cm, lebar 8-9 cm seta tebal kira-kira 6 cm4.

Berat jantung sekitar 7-15 ons atau 200 sampai 425 gram dan sedikit lebih besar
dari kepalan tangan pemiliknya. Setiap harinya jantung berdetak 100.000 kali dan dalam
masa periode itu jantung memompa 2000 galon darah atau setara dengan 7.571 liter
darah3.
Posisi jantung terletak diantar kedua paru dan berada ditengah tengah dada,
bertumpu pada diaphragma thoracis dan berada kira-kira 5 cm diatas processus
xiphoideus, terlindungi oleh tulang rusuk.

Pada tepi kanan cranial berada pada tepi cranialis pars cartilaginis costa III
dextra, 1 cm dari tepi lateral sternum. Pada tepi kanan caudal berada pada tepi cranialis
pars cartilaginis costa VI dextra, 1 cm dari tepi lateral sternum

Tepi kiri cranial jantung berada pada tepi caudal pars cartilaginis costa II sinistra
di tepi lateral sternum, tepi kiri caudal berada pada ruang intercostalis 5, kira-kira 9 cm di
kiri linea medioclavicularis.

Selaput yang membungkus jantung disebut pericardium dimana teridiri antara

lapisan fibrosa dan serosa, dalam cavum pericardii berisi 50 cc yang berfungsi sebagai

pelumas agar tidak ada gesekan antara pericardium dan epicardium. Epicardium adalah
lapisan paling luar dari jantung, lapisan berikutnya adalah lapisan miokardium dimana
lapisan ini adalah lapisan yang paling tebal. Miokardium merupakan lapisan otot
jantung yang berperan penting dalam memompa darah melalui pembuluh arteri.Lapisan
terakhir adalah lapisan endocardium.

Ada 4 ruangan dalam jantung dimana dua dari ruang itu disebut atrium dan
sisanya adalah ventrikel. Pada orang awan atrium dikenal dengan serambi dan ventrikel
dikenal dengan bilik. . Keempat rongga tersebut terbagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian
kanan dan kiri yang dipisahkan oleh dinding otot yang dikenal dengan istilah septum.

Sesuai dengan etimologis, jantung pada dunia medis memiliki istilah cardio /
kardio. Ialah berasal dari bahasa latin,cor. Dimana cor dalam bahasa latin memiliki arti :
sebuah rongga. Sebagaimana bentuk dari jantung yang memiliki rongga berotot yang
memompa darah lewat pembuluh darah dalam kontraksi berirama yang berulang dan
berkonsistensi.

Pun, dalam kedokteran istilah kardiak memiliki makna segala sesuatu yang
berhubungan dengan jantung. Dalam bahasa Yunani,cardia sendiri digunakan untuk
istilah jantung6.

Ruang Jantung terbagi atas empat ruang.


a.Serambi kanan dan serambi kiri yang dipisahkan oleh septum intratrial,
b.Bilik kanan dan bilik kiri yang dipisahkan oleh septum interventrikular
Kedua atrium merupakan ruang dengan dinding otot yang tipis karena rendahnya
tekanan yang ditimbulkan oleh atrium. Sebaliknya ventrikel mempunyai dinding otot
yang tebal terutama ventrikel kiri yang mempunyai lapisan tiga kali lebih tebal dari
ventrikel kanan.

Perikardium

Perikardium merupakan semancam kantung dengan 2 lapisan yang mengelilingi jantung.


Lapisan serosa yang dalam (perikard viseralis) menempel ke bagian luar dinding jantung
dipisahkan dari pericard parietalis oleh lapisan tipis cairan pericard.

Katup Jantung3

Ada 4 tipe katup jantung yang mengatur aliran darah dalam jantung, yaitu:

• Katup trikuspid

Katup trikuspid berada diantara atrium kanan dan ventrikel kanan. Bila katup ini terbuka,
maka darah akan mengalir dari atrium kanan menuju ventrikel kanan. Katup trikuspid
berfungsi mencegah kembalinya aliran darah menuju atrium kanan dengan cara menutup
pada saat kontraksi ventrikel. Sesuai dengan namanya, katup trikuspid terdiri dari 3 daun
katup.

• Katup pulmonalis

Setelah katup trikuspid tertutup, darah akan mengalir dari dalam ventrikel kanan melalui
trunkus pulmonalis. Trunkus pulmonalis bercabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan
kiri yang akan berhubungan dengan jaringan paru kanan dan kiri. Pada pangkal trunkus
pulmonalis terdapat katup pulmonalis yang terdiri dari 3 daun katup yang terbuka bila
ventrikel kanan berkontraksi dan menutup bila ventrikel kanan relaksasi, sehingga
memungkinkan darah mengalir dari ventrikel kanan menuju arteri pulmonalis.

• Katup mitral

Katup bikuspid atau katup mitral mengatur aliran darah dari atrium kiri menuju ventrikel
kiri.. Seperti katup trikuspid, katup bikuspid menutup pada saat kontraksi ventrikel.
Katup bikuspid terdiri dari dua daun katup.
• Katup aorta

Katup aorta terdiri dari 3 daun katup yang terdapat pada pangkal aorta. Katup ini akan
membuka pada saat ventrikel kiri berkontraksi sehingga darah akan mengalir keseluruh
tubuh. Sebaliknya katup akan menutup pada saat ventrikel kiri relaksasi, sehingga
mencegah darah masuk kembali kedalam ventrikel kiri.

Katup trikuspid dan katup mitral dihubungkan oleh chorda tendinae ke papillary

muscle. Hal ini mencegah regurgutasi saat ventikel kontraksi

Impuls elektris dari otot jantung (myocardium) menyebabkan jantung berdetak


(kontraksi). Sinyal elektrik ini dimulai di nodus SA, lokasinya pada puncak atrium kanan.
Nodus SA sering disebut ‘pacu jantung alami’. Katika impuls elektris dilepaskan dari
pacu jantung alami, antrium berkontraksi. Sinyal kemudian diteruskan ke nodus AV.
Nodus AV kemudian mengirimkan sinyal ke serat-serat otot ventrikel, menyebabkan
kontraksi ventrikel.

Nodus SA mengirimkan impuls elektrik dengan laju tertentu, tapi frekuesnsi


detak jantung masih dapat berubah tergantung pada kebutuhan fisik, stress atau factor
hormonal.

Pembuluh di Jantung

Pembuluh di di jantung terdiri dari arteri coronaria, vena dan limfe. Komponen
terbesar

struktur ini berada di antara jaringan ikat longgat di lemak epicard.

Arteri Coronaria:

Oleh karena itu jantung tidak pernah istirahat untuk berkontraksi demi memenuhi
kebutuhan tubuh, maka jantung membutuhkan lebih banyak darah dibandingkan dengan
organ lain. Aliran darah yang mengandung oksigen dan nutrisi untuk jantung diperoleh
dari arteri koroner kanan dan kiri. Kedua arteri koroner ini keluar dari aorta kira-kira ½
inchi diatas katup aorta dan berjalan dipermukaan pericardium.

Arteri coronaria utama kiri berjalan diantara atrium kiri dan trunkus pulmonallis
untuk mencapai AV groove. Di sana akan bercabang menjadi arteri coronaria left anterior
decending (LAD) dan circumflex (LCx). LAD berjalan pada anterior interventricular
groove menuju apex jantung. Selama perjalanan menujunnya di permukaan anterior,
LAD memberikan cabang-cabang septal yang memperdarahi 2/3 septum interventricular
anterior dan bagian apeks dari anterior papillary muscle. LAD juga memberikan
percabangan diagonal yang mensuplai permukaan anterior dari ventrikel kiri. Arteri
circumflex berlanjut pada AV groove kiri dan melalui batas jantung kiri untuk mencapai
permukaan posterior. LCx memberikan percabangan obtuse marginal yang mensuplai
dinding posterior dan lateral ventrikel kiri.

Arteri koroner kanan (RCA) berjalan pada AV groove kanan, di posterior


berjalan antara atrium kanan dan ventrikel. RCA memberikan suplai darah ke ventrikel
kanan via percabangan acute marginal. Pada kebanyakan orang, RCA distal memberikan
percabangan besar, arteri posterior decending. Arteri ini berjalan dari aspek
inferoposterior jantung ke apeks dan mensuplai darah di dinding inferior dan posterior
ventrikel dan posterior 1/3 septum interventricular. Tepat sebelum memberikan
percabangan posterior decending, RCA biasanya memberikan cabang arteri AV nodal.

Dari lokasi epikardial, arteri koroner mengirimkan cabang yang mempenetrasi


hingga ke otot ventrikular yang membentuk percabangan dan anastomosis di dinding
seluruh chamber jantung. Dari pleksus ini timbullah sejumlah besar kapiler. Serat otot
berada tepat di bawah endokardium, khususnya papillary muscle dan ventrikel kiri
disuplai oleh cabang terminal arteri coronaria atau langsung dari rongga ventrikel melalui
channel vaskular, vena thebesian.

Koneksi kolateral, biasanya diameter < 200 µm, ada pada level subarteriolar di
antara arteri coronaria. Pada jantung normal, beberapa pembuluh koleteral terlihat.
Namun, itu dapat menjadi lebih besar dan fungsional ketika arterosklerosis
mengobstruksi suatu arteri coronaria, sehingga menyediakan aliran darah ke distal
pembuluh darah dari tetangga yang tidak terobstruksi.

Vena Coronaria:

Sesudah terjadi pertukaran O2 dan CO2 di kapiler , aliran vena dari kapiler
miokard dibawa melalui vena koroner terutama sinus coronarius dan langsung masuk ke
atrium kanan dimana aliran darah vena dari seluruh tubuh akan bermuara. Tidak terdapat
katup pada vena coronaria.

Pembuluh Limfe

Limfe di jantung didrainase oleh pleksus pembuluh berkatup di jaringan ikat sub
endokard di ke-4 ruang jantung. Kemudian akan berlanjut ke beberapa pembuluh limfe
yang lebih besar, mengikuti persebaran arteri koronaria dan vena. Tiap pembuluh itu
kemudian bergabung di AV groove untuk membentuk pembuluh limfe tunggal yang
keluar dari jantung menuju pleksus limfe mediastinal dan akhirnya ke ductus thoraksikus.

Sikulasi Darah

Sirkulasi darah ditubuh ada 2 yaitu sirkulasi paru dan sirkulasi sistemis. Sirkulasi
paru mulai dari ventrikel kanan ke arteri pulmonalis, arteri besar dan kecil, kapiler lalu
masuk ke paru, setelah dari paru keluar melalui vena kecil, vena pulmonalis dan akhirnya
kembali ke atrium kiri. Sirkulasi ini mempunyai tekanan yang rendah kira- kira 15-20
mmHg pada arteri pulmonalis.

Sirkulasi sistemis dimulai dari ventrikel kiri ke aorta lalu arteri besar, arteri kecil,
arteriole lalu ke seluruh tubuh lalu ke venule, vena kecil, vena besar, vena cava inferior,
vena cava superior akhirnya kembali ke atrium kanan.
Fisiologi jantung2

Darah yang terdapat di dalam jantung selalu dipompa keluar secara terus menerus
dan setelah melalui sistem vaskuler, darah kembali ke jantung.

Sistem vaskuler yang dilaluinya dapat berupa sistem sirkulasi paru dan sistem
sirkulasi umum. Pembuluh darah pada kedua sistem tersebut terdiri dari

1. Pembuluh darah nadi (arteri) yang mengalirkan darah dari jantung ke jaringan sel-
sel tubuh

2. Pembuluh darah balik (vena) yang mengalirkan darah dari jaringan sel-sel tubuh
ke jantung

Pada orang normal, darah yang masuk ke jantung melalui vena cava, kemudian akan
dipompa ke sistem sirkulasi paru. Dan setelah mengalami oksigenasi di dalam jaringan
sel-sel paru, kemudian darah kembali ke jantung melalui pembuluh darah balik (vena
pulmonalis).

Selanjutnya darah dipompa keluar dari jantung melalui bilik kiri ke sistem sirkulasi
umum menuju ke seluruh sel-sel tubuh.

Pada keadaan normal, jumlah darah yang dapat dipompa oleh jantung sesuai dengan
jumlah darah yang masuk kembali ke jantung, sebesar 5 liter per menitnya dan dapat
meningkat pada olahraga yang berat sampai dengan 25-35 liter per menit.

Sistem kardiovaskuler mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh dan menyalurkan


kembali ke jantung. Dengan jantung berkontraksi dan berelaksasi, maka ia mampu
mengalirkan darah di dalam sistem tersebut. Perubahan-perubahan hemodinamik di
dalam sistem tersebut menyebabkan perubahan tekanan dan mengakibatkan terjadinya
peristiwa aliran darah di dalamnya.

Dan darah dapat kembali ke jantung, karena adanya perbedaan tekanan antara jantung
kiri dengan atrium kanan, dengan tekanan atrium kanan mendekati nol, sedangkan
tekanan kapiler di jaringan tetap lebih tinggi, sehingga memungkinkan darah dari
jaringan sel tubuh melalui vena kembali ke jantung.

Fisiologi curah jantung

Pada orang dengan fungsi kardiovaskuler yang normal, maka curah jantung
menentukan jumlah distribusi darah ke seluruh tubuh, untuk memenuhi kebutuhan
jaringan sel-sel. Curah jantung normal berkisar sekitar 5 liter per menit dan dapat
dipengaruhi oleh usia, posisi tubuh, olah raga, serta obat-obatan seperti digitalis dan
penyakit intrakardial atau ekstrakardial.

Definisi curah jantung adalah jumlah darah yang dapat dipompa oleh ventrikel
setiap menitnya. Curah jantung dapat ditentukan dengan mengalikan komponen denyut
jantung dan isi sekuncup, dengan isi sekuncup didefinisikan sebagai sejumlah darah yang
dapat dikeluarkan oleh ventrikel di tiap denyutnya. Normal berkisar 70 sampai 85 mm
per denyut dan ini sesuai dengan volume diastolik ventrikel dikurangi dengan volume
darah ventrikel pada akhir sistole2.
Pada siklus jantung, diastolik filling ditentukan oleh effective filling pressure dan
tahanan di dalam dinding otot-otot ventrikel, sedangkan kemampuan ejeksi sistolik
tergantung kepada kekuatan kontraksi otot-otot jantung dalam melawan tekanan darah.

Faktor curah jantung2

Terdapat 2 faktor penting yang berpengaruh pada curah jantung, yaitu:

1. Faktor jantung yang terdiri dari denyut jantung dan isi sekuncup

2. Faktor aliran balik vena

Faktor jantung lebih banyak dipengaruhi oleh penampilan ventrikel, ventrikular


filling, ventrikular distensibility, tekanan darah. Semua faktor tersebut lebih banyak
mempengaruhi isi sekuncup, di lain pihak denyut jantung dikendalikan oleh saraf
simpatis dan saraf parasimpatis. Kedua saraf tersebut dapat juga mempengaruhi isi
sekuncup melalui kontraktilitas miocardium.

Aliran balik vena (venous return) adalah faktor yang mampu mengendalikan curah
jantung. Dan pengaruhnya tergantung atas reaksi jantung terhadap rangsangan simpatis
melalui kekuatan kontraksi otot-otot jantung dan iramanya, sehingga mempengaruhi
besar isi ventrikel akhir diastolik.
Detak jantung4

Detak jantung ialah aksi memompa dari 2 bagian yang membutuhkan waktu
sekitar 1 detik. Saat darah berkumpul di chamber atas (atrium kanan dan kiri), pacu
jantung alami (nodus SA) mengirimkan sinyal elektrik yang menyebabkan kedua atrium
kontraksi. Kontraksi ini mendorong darah melalui katup tricuspid dan mitral ke chamber
bawah (ventrikel kanan dan kiri). Bagian fase memompa ini (bagian yang lebih lama)
disebut diastole.

Bagian ke-2 dari fase memompa mulai ketika ventrikel terisi penuh darah. Sinyal
elektrik dari nodus SA berjalan melalui jalur di sepanjang sel-sel ventrikel, menyebabkan
kontraksi. Ini disebut sistol. Saat katup trikuspid dan pulmonal tertutup erat untuk
mencegah regurgitasi darah, katup pulmonalis dan aorta didorong terbuka. Ketika darah
didorong dari ventrikel kanan ke paru untuk mengambil oksigen, darah yang kaya
oksigen mengalir dari ventrikel kiri ke jantung dan seluruh bagian tubuh lainnya.Setelah
darah pindah ke arteri pulmonalis dan aorta, ventrikel relaksasi dan katup aorta maupun
pulmonalis tertutup. Tekanan yang rendah pada ventrikel menyebabkan katup trikuspid
dan mitral terbuka, dan siklus dimulai kembali. Serentetan kontraksi ini diulang terus-
menerus, meningkat ketika aktiviitas fisik dan berkurang ketika istirahat. Normalnya
jantung berdetak 60 hingga 80 kali saat istirahat, tapi ini bisa bervariasi. Semakin tua
frekuensi detak jantung saat istirahat makin meningkat. Pada orang yang fit secara fisik
frekuensinya lebih rendah. Jantung tidak bekerja sendiri. Otak mendeteksi kondisi
sekitar, seperti iklim, stress, level aktifitas fisik dan menyesuaikan system kardiovaskuler
untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Isi sekuncup (stroke volume)

Setiap kali setelah ventrikel berkontraksi, terdapat sejumlah sisa darah di dalam
ventrikel. Dan jumlah darah yang dapat dikeluarkan oleh ventrikel di tiap denyutnya
disebut isi sekuncup, yang dapat diperkirakan besarnya dengan mengurangi isi akhir
diastolik dengan isi akhir sistolik.

Jika diketahui isi sekuncup sebesar 70 mm dan denyut jantung rata-rata 70-80 kali
per menitnya, maka dapat dihitung curah jantung yang berkisar antara 4900 mm per
menit sampai 5600 mm per menitnya.

Isi sekuncup selalu bervariasi dan ini disebabkan oleh perubahan-perubahan pada
panjang serabut myocardium. Ia dipengaruhi pengisian diastolik, keadaan inotropik,
tekanan aorta dan arteri paru serta denyut jantung. Selain itu isi sekuncup dapat
ditentukan oleh preload, afterload dan kontraktilitas myocardium. Yang dimaksudkan
dengan preload adalah faktor regangan dinding ventrikel kiri selama diastole.
Hubungannya dengan isi sekuncup dilukiskan pada kurva frank-starling. Pada praktek
klinik, maka faktor preload adalah manifestasi dari tekanan akhir diastolik ventrikel yang
dapat dengan mudah diketahui sebagai pulmonary capillary wedge pressure.

Faktor afterload adalah tahanan yang mampu menghambat kerja jantung. Pada
praktek klinik, afterload diidentifikasikan sebagai tahanan vaskuler sistemik yang dapat
diperoleh dengan membagi tekanan arteri rata-rata dengan curah jantung.
Hukum Frank-Starling

Terdapat hubungan linear antara performance ventrikel dengan isi akhir diastolik
ventrikel. Karena struktur dan karakteristik fisiologi sel-sel myocardium terletak di antara
sel-sel otot polos dan otot rangka, maka hampir semua ahli fisiologi menganggap bahwa
sel myocardium memiliki sifat-sifat kedua otot tersebut, dengan rhytmicity otot jantung
mirip dengan otot polos, sedangkan kekuatan dan kecepatan kontraksinya mirip otot
rangka. Sehingga hukum frank-starling untuk otot rangka dapat diberlakukan pada otot
jantung. Jadi berarti bahwa the length tension relationship pada otot jantung akan sama
seperti yang terjadi pada otot rangka. Oleh karena itu panjang serabut myocardium
berbanding langsung dengan isi akhir diastolik.

Aliran balik vena (venous return)

Kembalinya darah ke jantung memiliki aspek yang penting dalam fisiologi


kardiovaskuler, karena ikut menentukan cardiac performance dalam menunjang curah
jantung. Karena curah jantung harus sama dengan cardiac input, maka semua faktor yang
mempengaruhi cardiac input akan mempengaruhi pula curah jantung, seperti isi akhir
diastolik dan peregangan kontraktil unsur myocardium. Perubahan-perubahan mekanik
jantung menyebabkan ia mampu menyalurkan darah ke seluruh bagian tubuh dan
kemudian darah kembali ke jantung sebagai aliran balik vena. Sedangkan alirannya
ditentukan oleh perbedaan tekanan antara ventrikel kiri dengan antrium kanan.

Dalam sirkulasi darah, terdapat kecenderungan darah tersebar di dalam vena. Hal
ini karena vena lebih distensible daripada arteri, adanya efek gravitasi dan pengaruh
hubungan langsung arteri dan vena. Kekuatan fungsional yang mendorong darah kembali
ke jantung adalah perbedaan tekanan antara aorta dengan atrium kanan selama jantung
berdenyut. Dan tekanan ini berasal dari ventrikel kiri, yang kemudian ditransfer ke sistem
arteri dan selanjutnya ke sistem vena. Tekanan inilah yang disebut dengan tekanan
pengisian sistemik dan besarnya kurang lebih 7 mmHg, yang merupakan tekanan rata-
rata sirkulasi dan aorta sampai dengan vena cava. Perbedaan tekanan antara tekanan
pengisian sistemik dan tekanan atrium kanan merupakan tekanan efektif yang
menentukan aliran balik vena. Dan jika tekanan atrium kanan 0 mmHg, maka tekanan
efektif sama dengan tekanan pengisian sistemik. Pada perdarahan, maka volume darah
akan berkurang dan jika disertai dengan penurunan tonus simpatis, maka ia akan
menurunkan tekanan arteri dan vena serta selanjutnya tekanan pengisian sistemik juga
menurun. Jika tekanan pengisian menurun di bawah 5,2 mmHg sedangkan tekanan
atrium kanan relatif konstan, maka berarti tekanan efektif aliran balik vena kurang dari 7
mmHg, sehingga aliran balik vena berkurang dan akibatnya curah jantung juga menurun.
Tetapi adanya refleks simpatis akan menjaga penurunan curah jantung masih dalam
batas-batas normal. Sebaliknya pada olahraga, yang otot-otot rangkanya bekerja lebih
aktif, maka terjadi kenaikkan tekanan pengisian sistemik, sehingga melebihi tekanan
efektif 7 mmHg dan menyebabkan kenaikkan aliran balik.
Patofisiologi Jantung

Kelainan jantung merupakan kelainan yang banyak terjadi, dengan kejadian 8


diantara 1000 kelahiran. Karena pertumbuhan jantung pada embrio terjadi sebelum
minggu ke 12 kehamilan, gangguan pada masa kehamilan muda dianggap sebagai
penyebab timbulnya kelainan jantung bawaan. Faktor lingkungan intrauterin tentu
merupakan salah satu penyebab timbulnya kelainan jantung, seperti infeksi virus rubela,
virus coxsackie B, atau toksoplasmosis. Merokok, penyinaran ion, dan obat seperti
talidomid, dekstroamfetamin, dan amopterin agaknya juga merupakan penyebab
kelainan jantung bawaan1.

Penyakit jantung didapat yang paling sering terdapat di negara berkembang


adalah demam reuma yang umumnya menyerang katup mitral dan katup aorta. Penyakit
ini menyebabkan kelainan berupa insufisiensi dan / atau stenosis katup yang baru
menggejala 8-10 tahun kemudian. Penyakit lain adalah arterioskelrosis yang
menyebabkan penyumbatan atau penyempitan pembuluh koroner yang berakibat
insufisiensi sampai infark miokard. Infeksi yang dapat menimbulkan perikarditis
konstriktif dan menyebabkan otot jantung terjepit oleh perikard yang menebal dan
menjerat adalah penyebab lain. Miokarditis dapat disebabkan oleh berbagai penyakit
infeksi, seperti difteri, demam tifoid, dan penyakit lain seperti lupus eritematosis
diseminatus, penyakit kolagen, dan morbus loeffler. Kekurangan vitamin B1, yaitu beri-
beri, dapat menimbulkan dilatasi miokard dan akhirnya gagal jantung yang kadang tidak
pulih sehingga menyebabkan kematian1.

Kelainan jantung bawaan1

• Defek sekat atrium (ASD)

Kelainan jantung bawaan yang memerlukan permbedahan jantung terbuka adalah


defek sekat atrium dan defek sekat ventrikel. Defek sekat atrium adalah hubungan
langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya yang bocor karena
kegagalan pembentukkan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venosus di dekat
muara vena cava superior, foramen ovale terbuka yang umumnya menutup spontan
setelah kelahiran, defek septum sekundum, yaitu kegagalan pembentukkan septum
sekundum (ASD II) dan defek septum primum, yaitu kegagalan penutupan septum
primum yang letaknya dekat sekat antarbilik atau pada bantalan endokard. Macam-
macam defek sekat ini harus ditutup dengan tindak bedah sebelum terjadinya pembalikan
arah aliran darah melalui pintasan ini dari kanan ke kiri sebagai timbulnya sindrom
Eisenmenger. Bila sudah terjadi pembalikan darah, pembedahan tidak boleh dilakukan.
Tindak bedah berupa penutupan dengan menjahit langsung dengan jahitan jelujur atau
dengan menambal defek dengan sepotong dakron. Perkembangan terakhir bidang
kardiologi invasif, penutupan ASD II yang mempunyai bibir sekat dapat dilaksanakan
melalui metode katerisasi transkutan.

• Defek sekat ventrikel (VSD)

Defek sekat ventrikel dapat berupa defek di atas atau di bawah krista
supraventrikularis, di daerah katup trikuspidal, atau di daerah septum muskulorum. Defek
di atas krista supraventrikularis tidak bergejala karena arah aliran pintas dan tekanannya
normal. Defek sekat ventrikel di bawah krista supraventrikularis sering cepat
menyebabkan sindrom Eisenmenger, yang kadang bahkan sudah terjadi pada masa
intrauterin sehingga bayi lahir sudah tidak boleh menjalani operasi koreksi defek. Bila
pada masa bayi sudah mulai tampak tanda hipertensi pulmonal, maka dapat dilakukan
tindak bedah paliatif berupa ligasi sebagian arteri pulmonalis untuk mengurangi tekanan
di arteri pulmonalis yang tinggi ke arah paru.

Pembedahan untuk menutup defek sekat ventrikel ini harus dilakukan segera setelah
diagnosis ditegakkan, umumnya dilakukan dengan menambal dengan potongan dakron.
Operasi ini memerlukan pengalaman ahli bedah. Hanya kurang lebih 5% defek sekat
ventrikel yang terletak di atas krista supraventrikularis dapat menutup spontan sekitar
umur akil balik.

• Tetralogi Fallot

Tetralogi fallot merupakan salah satu kelainan jantung bawaan yang menunjukkan
gejala klinis bayi biru. Kelainan ini terdiri dari empat unsur, yaitu defek sekat ventrikel,
aorta yang berpindah ke arah kanan, stenosis pulmonal, baik pada katup atau
infundibulumnya, dan hipertrofi ventrikel kanan sebagai reaksi kompensasi. Bila terdapat
juga defek sekat atrium, disebut pentalogi.

Keadaan biru terjadi karena aliran pintas dari kanan ke kiri yaitu darah vena dari
ventrikel kanan masuk ke arah aorta yang menghadap ke kanan melalui defek sekat
ventrikel yang berada di bawah katup aorta. Posisi aorta yang demikian inilah yang
membedakannya dengan defek sekat ventrikel biasa.

Tindak bedah harus dilakukan, karena bila dibiarkan, anak akan tumbuh cacat secara
fisik. Bila anak pada masa bayi atau neonatus sangat sianotik sehingga menyebabkan
gagal jantung, maka sementara dapat dilakukan tindak bedah paliatif berupa operasi
Blalock-Taussig, yaitu membuat hubungan pintas antara sirkulasi pulmonal dengan
sirkulasi sistemik di ekstrakardial, sehingga hanya sedikit darah arteri tercampur dengan
darah vena. Hubungan ini dapat dibuat antara arteri pulmonalis dengan aorta, atau antara
arteri subklavia kanan dengan arteri pulmonalis (operasi Blalock-Taussig asli), atau arteri
subklavia kiri dengan arteri pulmonalis melalui suatu prostesis pembuluh darah
(modifikasi Blalock-Taussig). Tindakah paliatif ini tidak memerlukan bedah jantung
terbuka.

Tindakan koreksi total dapat dilakukan bila umur penderita dan berat badannya
sudah dianggap cukup untuk daapt menerima tindak bedah besar, dan memenuhi syarat
hukum 10, yaitu berat badan 10 pon (kira-kira 5 Kg) dan umur minimal 10 minggu. Hasil
pembedahan saat ini memuaskan.

• Transposisi arteri besar

Transposisi pembuluh besar merupakan kelainan jantung bawaan yang menyebabkan


gejala sianosis berat pada bayi disertai tanda gagal jantung dini. Ini disebabkan oleh
tertukarnya tempat dua pembuluh darah utama, aorta dan arteri pulmonalis sehingga
darah dari ventrikel kanan akan masuk ke aorta, dan darah arterial dari ventrikel kiri akan
masuk ke arteri pulmonalis. Anak tidak mendapatkan oksigenasi untuk sikulasi
sistemiknya kecuali duktus arteriosusnya terbuka, atau ada defek sekat atrium atau sekat
ventrikel. Pertolongan pertama dilakukan dengan membuat defek pada sekat atrium
dengan menggunakan balon yang dapat menyebabkan sekat atrium robek, atau dengan
pembedahan. Biasanya dilakukan septostomi dengan balon. Tindak bedah yang
sesungguhnya adalah mengganti tempat kedua pembuluh, yaitu aorta dan arteri
pulmonalis, dengan menyertakan kedua ostium koroner. Lebih dari 50% pasien TAB
tanpa defek sekat ventrikel (VSD) meninggal pada 1 bulan pertama. Oleh karena itu,
pembedahan harus dikerjakan pada usia dini. Operasi definitif berupa arterial switch atau
atrial switch dilakukan pada usia 2 minggu pada TAB tanpa VSD atau sebelum 3 bulan
pada TAB dengan VSD.

Kelainan jantung didapat1

Penyakit jantung yang muncul setelah dewasa berubah polanya, semula akibat
demam reuma yang menyerang katub mitral dan aorta, kini akibat pola hidup modern
dengan faktor resiko hiperkolesterolemia, hipertensi, dan diabetes melitus yang
mengakibatkan penyakit jantung koroner.

• Kelainan katup aorta atau mitral

Demam reuma sering disertai endokarditis reumatik akut yang akan mengakibatkan
cacat katup jantung beberapa tahun berselang. Cacat ini biasanya berupa insufisiensi yang
umumnya berubah menjadi stenosis. Pada stenosis katup mitral dan aorta akibat demam
reuma dapat dilakukan tindak bedah berupa komisurotomi bila yang terjadi hanya
stenosis murni tanpa kalsifikasi. Kadang dapat dilakukan rekonstruksi dengan berbagai
teknik bedah. Sering juga dipasang katup buatan berupa katup mekanik, katup
bioprostesis, atau katup homolog dari donor kadaver.

Tindakan pilihan utama adalah pemasangan katup mekanik yang saat ini lebih banyak
berhasil baik, dengan dua katup. Penderita yang dipasang katup ini harus mendapatkan
antikoagulan seumur hidup. Untuk perempuan yang masih dalam usia subur dan
menginginkan kehamilan, pilihan lebih ditujukan pada penggunaan katup bioprostesis
atau katup homolog karena pemakaian katup jenis ini tidak perlu antikoagulan. Katup ini
tahan untuk jangka waktu 8-10 tahun.
• Kelainan pembuluh koroner

Penyakit jantung koroner merupaka sindrom yang melanda kehidupan modern yang
penuh stres dan penggunaan rokok dengan pola makan kaya kolesterol. Penyempitan
arteri koronaria akan menimbulkan iskemia atau menyebabkan infark miokard. Keduanya
ditandai dengan nyeri angina pektoris yang khas, disertai kelainan pada gambaran
elektrokardiogram. Tindak bedah harus didahului dengan diagnosis berdasarkan
angiografi koroner untuk menentukan letak penyumbatan atau penyempitan serta fungsi
ventrikel kiri.

Tindakan konservatif pada keadaan gawat antara lain terdiri dari pemberian
trombolitik melalui kateter arteri. Penderita yang gambaran obstruksi arteri koronaria
jelas pada angiogram dan keluhannya tidak hilang dengan penanganan konservatif,
mungkin sekali memerlukan revaskularisasi. Revaskularisasi dapat dikerjakan melalui
angioplastik arteri koronaria atau bedah pintas dengan cangkok vena atau arteri mamaria
interna atau arteri radialis atau arteri gastroepiploica.

Tindak bedah umumnya berupa pintas koroner menggunakan vena safena magna
dan / atau arteri mamaria interna atau arteri radialis. Hasil pembedahan pada penyakit ini
sangat baik karena memperbaiki kualitas hidup penderita. Pintas kedua pembuluh ini
memberikan hasil jangka panjang yang baik sampai 20 tahun.

Angioplastik merupakan dilatasi pembuluh menggunakan balon yang dipasang pada


penyempitan atau sumbatan arteri koronaria dengan kateter melalui pungsi arteri.
Angioplastik balon atau percutaneous transluminal coronary angioplasty (PTCA) dan /
atau diteruskan dengan pemasangan stent, ini biasanya dikerjakan oleh kardiolog
berpengalaman, dan dapat dianggap lebih sederhana. Metode ini berhasil baik jika
obstruksi terbatas dan segmental, sedangkan bedah pintas dapat digunakan untuk
kelainan yang lebih luas dan oklusi multipel.

Dalam jangka waktu lama hasil revaskularisasi biasanya baik jika penderita
mengubah gaya hidup, misalnya berhenti merokok, membatasi asupan kalori, zat lemak,
dan menurunkan kadar kolesterol LDH, serta membiasakan olah raga secara teratur.
Biasanya penderita juga memerlukan antikoagulan atau penghambat agregasi trombosit.
Daftar pustaka

1. De Jong, W. Buku ajar ilmu bedah. Ed 2. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC
2005.

2. Masud, I. Dasar-dasar fisiologi kardiovaskuler. Ed 2. Jakarta: Penerbit buku


kedokteran EGC 2006.

3. Lilly, L.S. Pathophysiology of Heart Disease-4th Ed. Philadelphia: Lippincott


Williams & Wilkins 2007.

4. Boio. Anatomi jantung manusia. 2009. Sept (2009 apr 1); 1, 1, available from:
http://sinau-biologi.blogspot.com/2009/04/anatomi-jantung-manusia.html

5. Sherwood, L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Ed 2. Jakarta: Penerbit buku


kedokteran EGC 2005.

6. Dorland. Kamus kedokteran. Ed 25. Jakarta: 2007

Anda mungkin juga menyukai