Anda di halaman 1dari 105

Kelompok I

DOSEN PENGASUH :
DR. Johanes, SE, M.Si
Novita Sari, SE

Kelompok 3:
1) AZHAR MUNANDAR C1B006004
2) DIAS MARLIANDA C1B006024
3) RINI NOPRIYANTI C1B006022
4) THIRTA CEMPAKAPURI C1B006014

JURUSAN Manajemen
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JAMBI
2008

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI .................................................................................................... 1

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 2

1.2 Tujuan Penulisan ................................................................................... 2


1.3 Manfaat Penulisan ................................................................................. 2

BAB II. ISI dan Pembahas

1. Komoditi Kedelai ..................................................................................... 3

2. Prospek Kedelai dari Sisi Produksi ......................................................... 3

3. Prospek Kedelai dari Sisi Konsumsi ........................................................ 5

4. Prospek Kedelai dari Sisi Permintaan ...................................................... 6

5 Permasalahan dalam Komoditi Kedelai .................................................... 7

6. Subsistem Yang Berkaitan Dengan Agribisnis ........................................ 8

7. Subsistem Yang Berperan ........................................................................ 12

8. Misi Pengembangan Komoditi Kedelai ................................................... 12

9. Potensi Ekspor ......................................................................................... 15

10. Atribut Kualitas ....................................................................................... 16

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 18

3.2 Saran ..................................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kedelai atau kacang kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang
menjadi bahan dasar banyak makanan Timur Jauh seperti kecap, tahu dan tempe. Kedelai
yang dibudidayakan sebenarnya terdiri dari paling tidak dua spesies: Glycine max
(disebut kedelai putih, yang bijinya bisa berwarna kuning, agak putih, atau hijau) dan
Glycine soja (kedelai hitam, berbiji hitam). G. max merupakan tanaman asli daerah Asia
subtropik seperti Tiongkok dan Jepang selatan, sementara G. soja merupakan tanaman
asli Asia tropis di Asia Tenggara.Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan
minyak nabati dunia. Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun
kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910.Di Indonesia,
kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun Indonesia harus mengimpor
sebagian besar kebutuhn kedelai. Ini terjadi karena kebutuhan Indonesia yang tinggi akan

Manajemen Agribisnis “Karet” 2


kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih
rendah daripada di Jepang dan Tiongkok. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil
sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang
tidak fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam pemuliaan meskipun dari segi
adaptasi lebih cocok bagi Indonesia

1.2. Tujuan

Tujuan penyusunan makalah ini agar pembaca mengetahui bahwa tanaman Kedelai
merupakan tanaman serba guna,dapat dimanfaatkan serta mengetahui nilai ekonomis
yang dihasilkan dari Kedelai. Selain itu, Kedelai yang berkualitas juga mempunyai
potensi dan prospek usaha yang cukup besar dalam peluang dan konsumsinya agar dapat
bersaing dengan komoditi lainnya sehingga dapat meningkatkan nilai ekspor kedelai
dipasar global.

1.2.2 Manfaat
Adapun Manfaat makalah ini adalah :
1. Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti dan menyelesaikan Mata kuliah
Manajemen Agribisnis (MAG173)
2. Sebagai bahan masukan berupa informasi yang jelas bagi pihak – pihak
berkepentingan.
BAB II
PEMBAHASAN

1. KOMODITI “KEDELAI”
Orang Cina merupakan pengguna kacang kedelai sebagai makanan yang pertama.
pada sekitar tahun 1100 BC kacang kedelai telah ditanam di bagian selatan Cina dan
dalam waktu singkat menjadi makanan pokok diet Cina.Kacang kedelai telah
diperkenalkan di Jepang sekitar tahun 100 AD dan meluas ke seluruh negara-negara Asia
secara pesat. Kacang kedelai dikenal di Eropa sekitar tahun 1500 AD. Pada awal abad ke
18, kacang Kedelai telah ditanam secara komersial di Amerika Serikat
Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia.
Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru
dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910.
Di Indonesia, kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun
Indonesia harus mengimpor sebagian besar kebutuhn kedelai. Ini terjadi karena
kebutuhan Indonesia yang tinggi akan kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman
tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di Jepang dan Tiongkok. Pemuliaan
serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif kedelai putih.
Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam
pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi Indonesia.

2. PENTINGNYA PENGAMATAN MULAI DARI:


 DARI SISI PRODUKSI:
Produksi Menurun Kedelai, menunjukkan penyusutan lahan dan produksi. Pada
2000 luas lahan 824.484 ha kemudian turun menjadi 678.848 ha pada 2001 dan
menyusut lagi pada 2002 menjadi 544.522 ha tahun 2002. Seiring dengan penyempitan
lahan, juga produksi anjlok. Tercatat produksi kedelai pada 2000 mencapai kisaran 1

Manajemen Agribisnis “Karet” 3


juta ton dan tahun 2001 sebanyak 827 ribu ton dan pada 2002 hanya bisa sebesar 573
ribu ton.
Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi
kedelai tahun 2002 mengalami penurunan sebesar 18,61 persen. Dari 0,83 juta ton biji
kering pada 2001 menjadi 0,67 juta ton biji kering di tahun 2001. Atau mengalami
penurunan sebesar 0,15 juta ton biji kering. Penurunan ini karena turunnya luas panen
kedelai sekitar 19,79 persen atau 0,13 juta hektare. Di sisi lain kebutuhan pangan
cenderung meningkat 2,5-4% sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Kebutuhan
kedelai pada tahun 2003 masing-masing berjumlah 1,95 juta ton, 3 juta ton, dan
Melihat data produksi akan kebutuhan kedelai pada tahun 2003 terlihat bahwa terjadi
defisit untuk komoditas kedelai 1,3 juta ton Defisit kedelai ini diatasi dengan cara
mengimpor. Harga kedelai saat ini mencapai kisaran Rp3500/kg . Dengan jumlah
penduduk yang besar sekitar 216 juta jiwa pada tahun 2003 dan laju pertumbuhan
1.35% per tahun, maka kebutuhan kedelai akan semakinbesar di masa mendatang. Pada
tahun 2005 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 220.6 juta jiwa,
dan tahun 2010 sebesar 236 juta.
Apabila kemampuan produksi kedelai nasional tidak dapat mengikuti
peningkatan kebutuhannya, maka Indonesia akan semakin tergantung pada
impor yang berdampak membahayakan ketahanan nasional.
Negara importir utama untuk komoditi kedelai ke Indonesia adalah Amerika
Serikat, dengan rata – rata share impor dari tahun 1999 – 2004 sebesar 54% dari
seluruh impor kedelai Indonesia atau 1,42 juta ton per tahun. India menempati posisi
kedua dengan rata – rata share sebesar 19% (sekitar 491,935,245 kg per tahun)
Market share Negara importir

MALAYSI
OTHERS ARGENTI
3% A 2%
NA10%
12%
BRAZIL

INDIA
UNITED
19%
STATES
54%

Kedelai, perkembangan produksinya dapat dibagi dalam dua periode besar, yaitu
pertumbuhan yang menurun dan stagnant. Pertumbuhan menurun terjadi selama 1990-
2000. Produksi rata-rata mencapai 1,4 juta ton dan menurun sebesar 3,6 %/Th. Produksi
stagnant terjadi pada 2001-2006, produksi menurun drastis dari periode sebelumnya dan
bergerak lambat pada angka 742 ton. Pertumbuhan produksi pun demikian rendah, hanya
0,4 %/Th. Pertumbuhan produksi tidak sejalan dengan gencarnya program bangkit
kedelai. Persentase produksi terhadap kedelai dunia mengecil .

Tabel . Perkembangan Produksi Kedelai Nasional dan Dunia Tahun 1990 – 2006
Tahun Produksi Kedelai (Ton)

Indonesia Dunia Persentase

1990 1.487.433 108.464.511 1,37

1991 1.555.453 103.320.158 1,51

1992 1.869.713 114.460.616 1,63

1993 1.708.530 115.176.710 1,48

Manajemen Agribisnis “Karet” 4


1994 1.564.847 136.483.471 1,15

1995 1.680.010 126.997.618 1,32

1996 1.517.180 130.223.250 1,17

1997 1.356.891 144.418.185 0,94

1998 1.305.640 160.103.858 0,82

1999 1.382.848 157.796.852 0,88

2000 1.018.000 161.400.626 0,63

2001 826.932 177.923.563 0,46

2002 673.056 181.815.725 0,37

2003 671.600 187.514.812 0,36

2004 723.483 206.289.954 0,35

2005 808.353 214.909.669 0,38

2006 749.038 221.500.938 0,34

Sumber: BPS diolah


Kendala:
Kini rata-rata produktivitas kedelai nasional baru mencapai 1,3 ton/ha dengan
kisaran 0,6-2,0 ton/ha di tingkat petani, sementara di tingkat penelitian mencapai 1,73,0
ton/ha, beragam tergantung pada kondisi Iahan/lingkungan. Senjang produktivitas yang
besar tersebut menunjukkan peluang peningkatan produksi melalui peningkatan
produktivitas di tingkat petani. Penyebab atas rendahnya produktivitas kedelai petani
adalah tingkat penerapan teknologi yang masih rendah, di antaranya penggunaan benih
bermutu varietas unggul yang masih rendah, serta teknik budidaya (populasi tanaman,
ameliorasi lahan, pemupukan, pengelolaan air) dan pengendalian organisme pengganggu
tanaman (hama, penyakit, gulma) yang tidak optimal..Walaupun telah banyak yang
menanam varietas unggul, namun secara umum benihnya belum berkualitas, penggunaan
benih bermutu baru sekitar 10%, dan yang bersertifikat hanya sekitar 3 persen saja.

Solusi Strategi Peningkatan Produksi


Beberapa strategi penting untuk menjamin keberhasilan peningkatan produksi kedelai
nasional ialah:
1. Perbaikan Harga
2. Pemanfaatan Potensi Lahan
3. Intensifikasi Pertanaman
4.Perbaikan Proses Produksi
5. Konsistensi Program dan Kesungguhan Aparat

DARI SISI KOMSUMSI:


Indonesia merupakan salah satu negara pengkonsumsi kedelai terbesar di dunia.
Olahan pangan asal kedelai dominan di Indonesia adalah tahu dan tempe. Komoditas
kedelai saat ini tidak hanya diposisikan sebagai bahan pangan dan bahan baku industri
pangan, namun juga ditempatkan sebagai bahan makanan sehat dan baku industri non-
pangan. Pengaruh teori permintaan dalam komsumsi komoditi kedelai

Manajemen Agribisnis “Karet” 5


Dalam teori permintaan bahwa pada saat harga naik maka permintaan akan turun
dan sebaliknya apabila harga turun maka permintaan akan naik.
Dalam kenyatanya teori tesebut hanya sebagai teori dan hanya pada produk-
produk tertentu yang dapat mengunakan teori tersebut.berbeda dengan komoditi kedelai
walau pun harga kedelai naik konsumen tetap akan membeli uintuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Itu didukung oleh kegiatan produksi kedelai yang berbanding terbalik oleh
konsumsi kedelai.Kacang kedelai bagi industri pengolahan pangan di Indonesia banyak
digunakan sebagai bahan baku pembuatan tahu, tempe dan kecap dan susu. Jenis industri
yang tergolong skala kecil - menengah ini tetapi dalam jumlah sangat banyak
menyebabkan tingginya tingkat kebutuhan konsumsi kedelai.
Lonjakan importasi kedelai disebabkan peningkatan konsumsi produk industri
rumahan seperti tahu, tempe yang jenis makanan ini semakin banyak atau populer
digunakan sebagai pengganti daging.
Adapun manfaat dari kedelai :
 Sumber protein nabati yang terbaik
 Meningkatkan metabolisme tubuh
 Menguatkan sistem imun tubuh
 Menstabilkan kadar gula dalam tubuh
 Melindungi jantung dan menurunkan resiko sakit jantung
 Menambah daya ingat
 Membentuk tulang yang kuat
 Menurunkan tekanan darah dan kolestrol
 Mencegah menopause pada wanita
 Menurunkan kanker payudarah dan menurunkan resiko kanker prostate
 Menghasilkan tenaga dan meningkatkan kesehatan

3. PROSPEK KEDELAI DARI SISI PERMINTAAN

Kedelai memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan secara komersial.


Kedelai merupakan komoditas bahan baku industri pengolahan susu kedelai, tahu dan
tempe yang sekarang menjadi makanan rakyat yang sangat populer, serta produk industri
hasil olahan lainnya. Pertumbuhan permintaan kedelai selama 15 tahun terakhir cukup
tinggi, namun tidak mampu diimbangi oleh produksi dalam negeri, sehingga harus
dilakukan impor dalam jumlah yang cukup besar.

Prospek pengembangan kedelai di dalam negeri untuk menekan impor cukup


baik, mengingat ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas, iklim yang cocok,
teknologi yang telah dihasilkan, serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam
usahatani. uktur, serta pengaturan tata niaga dan insentif usaha.

Untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, dengan sasaran peningkatan produksi


15% per tahun, sasaran produksi 60% dicapai pada tahun 2009. dan swasembada baru
tercapai pada tahun 2015. Untuk mendukung upaya khusus peningkatan produksi kedelai
tersebut diperlukan investasi sebesar Rp. 5,09 trilyun (2005-2009) dan 16,19 trilyun
(2010-2025). Dalam periode yang sama, investasi swasta diperkirakan masing-masing
sebesar Rp. 0,68 trilyun dan Rp. 2,45 trilyun.

Kedelai dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan protein murah bagi masyarakat


dalam upaya meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Sejalan dengan pertambahan jumlah
penduduk maka permintaan akan kedelai semakin meningkat. Pada tahun 1998 konsumsi
per kapita baru 9 kg/tahun, kini naik menjadi 10 kg/th. Dengan konsumsi perkapita rata-
rata 10 kg/tahun maka dengan jumlah penduduk 220 juta dibutuhkan 2 juta ton lebih  per
tahun. Untuk itu diperlukan program khusus peningkatan produksi kedelai dalam negeri.
Produksi kedelai pernah mencapai 1,86 juta pada tahun 1992 (tertinggi) kemudian turun
terus hingga kini 2007, hanya 0,6 juta ton.

Manajemen Agribisnis “Karet” 6


4.PERMASALAHAN DALAM KOMODITI KEDELAI
  a. Subsistem Up Stream Agribussiness (Hulu)/Input pertanian
 Industri penghasil sarana/prasarana produksi pertanian belum mampu
memberikan teknologi yang bisa dengan mudah diadopsi oleh petani dengan
harga yang terjangkau.
 Lemahnya modal petani untuk melakukan betanam kedelai
 Pemberian pupuk pada kedelai yang diradsa belum efisien, seperti pemberian
pupuk N yang tinggi bagi kedelai akan menghambat proses fiksasi N oleh bintir
akar.

b. Subsistem On Farm/ produksi pertanian


 Salah satu penyebab tidak bersaingnya harga pokok produksi produk Agribisnis di
Indonesia adalah rendahnya produktivitas Produktivitas kedelai di Indonesia baru
mencapai 1.23 ton per Ha hingga Tahun 2000, jauh dibawah produktivitas kedelai
China yang telah mencapai 1.70 ton kedelai per Ha, dan jika dibandingkan dengan
produktivitas kedelai Amerika yang mencapai 2.56 ton per Ha, kita semakin jauh
tertinggal. Rendahnya produktivitas tersebut menyebabkan biaya per-satuan
produk menjadi tinggi.
 Gairah petani dalam melaksanakan pembudidayaan kedelai menurun ,hal ini
disebabkan karena bercocok kedelai dianggap tidak menguntungkan.
 Kemitraan dibidang agribisnis kedelai belum berkembang baik,masih sangat
terbatas yang berminat untuk mengembangkan usahanya dibidang agribisnis
kedelai

c. Subsistem/ Pengolahan/Agroindustri/hilir
 Impor kedelai murah meningkat.Kebijakan impor kedelai merupakan suatu hal
yang sangat menentukan gairah petani dalam melakukan budidaya kedelai.
Penyebabnya adalah karena harga kedelai impor lebih murah dari pada harga
kedelai dalam negeri. Hal tersebut antara lain disebabkan karena petani luar
negeri (Amerika, Brazil, Argentina, Cina dan lain-lain) bisa memproduksi kedelai
dengan biaya rendah.fluktuasi harga kedelai local dan impor sebagai berikut :

 Rendahnya mutu kedelai yang dihasilkan petani local

5. SUBSISTEM YANG BERKAITAN DENGAN AGRIBISNIS


 farming system :

Manajemen Agribisnis “Karet” 7


1.Pembibitan
1.Teknik Benih
Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, maka benih yang digunakan harus
yang berkualitas baik, artinya benih mempunyai daya tumbuh yang besar dan
seragam, tidak tercemar dengan varietas-varietas lainnya, bersih dari kotoran, dan
tidak terinfeksi dengan hama penyakit.

2.Penyiapan Benih
Pada tanah yang belum pernah ditanami kedelai, sebelum benih ditanam harus
dicampur dengan legin, (suatu inokulum buatan dari bakteri atau kapang yang
ditempatkan di media biakan, tanah, kompos untuk memulai aktifitas biologinya
Rhizobium japonicum). Pada tanah yang sudah sering ditanam dengan kedelai
atau kacang-kacangan lain, berarti sudah mengandung bakteri tersebut. Bakteri ini
akan hidup di dalam bintil akar dan bermanfaat sebagai pengikat unsur N dari
udara.

3. Teknik Penyemaian Benih

4. Pemindahan Bibit
Pemindahan bibit yang ceroboh dapat merusak perakaran tanaman,
Penanaman dengan benih yang mempunyai daya tumbuh agak rendah dapat
diatasi dengan cara menanamkan 3-4 biji tiap lubang, atau dengan memperpendek
jarak tanam. Jarak tanam pada penanaman benih berdasarkan tipe pertumbuhan
tegak dapat diperpendek, sebaliknya untuk tipe pertumbuhan agak condong
(batang bercabang banyak) diusahakan agak panjang, supaya pertumbuhan
tanaman yang satu dengan lainnya tidak terganggu

2. Pengolahan
1.Persiapan
Terdapat 2 cara mempersiapkan penanaman kedelai, yakni: persiapan tanpa
pengolahan tanah (ekstensif) di sawah bekas ditanami padi rendheng dan
persiapan dengan pengolahan tanah (intensif). Persiapan tanam pada tanah tegalan
atau sawah tadah hujan sebaiknya dilakukan 2 kali pencangkulan.

2.Pembentukan Bedengan
Pembuatan bedengan dapat dilakukan dengan pencangkulan ataupun dengan
bajak lebar 50-60 cm, tinggi 20 cm. Apabila akan dibuat drainase, maka jarak
antara drainase yang satu dengan lainnya sekitar 3-4 m.

3. Pengapuran
Tanah dengan keasaman kurang dari 5,5 harus dilakukan pengapuran untuk
mendapatkan hasil tanam yang baik. Pengapuran dilakukan 1 bulan sebelum
musim tanam, dengan dosis 2-3 ton/ha.

3.Teknik Penanaman
1. Penentuan Pola Tanam
Jarak tanam pada penanaman dengan membuat tugalan berkisar antara 20-
40 cm. Jarak tanam yang biasa dipakai adalah 30 x 20 cm, 25 x 25 cm, atau 20 x
20 cm.

2. Pembuatan Lubang Tanam


Jika areal luas dan pengolahan tanah dilakukan dengan pembajakan,
penanaman benih dilakukan menurut alur bajak sedalam kira-kira 5 cm.
Sedangkan jarak jarak antara alur yang satu dengan yang lain dapat dibuat 50-60
cm, dan untuk alur ganda jarak tanam dibuat 20 cm.

Manajemen Agribisnis “Karet” 8


3.Cara Penanaman
Sistem penanaman yang biasa dilakukan adalah:Sistem tanaman tunggal
Sistem tanaman campuran, Sistem tanaman tumpangsari.

4. Waktu Tanam
Karena umur kedelai menurut varietas yang dianjurkan berkisar antara 75-
120 hari, maka sebaiknya kedelai ditanam menjelang akhir musim penghujan,
yakni saat tanah agak kering tetapi masih mengandung cukup air.Waktu tanam
yang tepat pada masing-masing daerah sangat berbeda.

4.Pemeliharaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman
Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari. Dalam kenyataannya tidak
semua biji yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, sehingga akan terlihat tidak
seragam. Untuk menjaga agar produksi tetap baik, benih kedelai yang tidak
tumbuh sebaiknya segera diganti dengan biji-biji yang baru yang telah dicampur
Legin atau Nitrogen. Hal ini perlu dilakukan apabila jumlah benih yang tidak
tumbuh mencapai lebih dari 10 %. Waktu penyulaman yang terbaik adalah sore
hari.

2. Penyiangan
Penyiangan ke-1 pada tanaman kedelai dilakukan pada umur 2-3 minggu.
Penyiangan ke-2 dilakukan pada saat tanaman selesai berbunga, sekitar 6 minggu
setelah tanam. Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2
(pemupukan lanjutan). Penyiangan dapat dilakukan dengan cara mengikis gulma
yang tumbuh dengan tangan atau kuret.

3.Pembubunan
Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak
merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang
berbahaya.

4.Pemupukan
Dosis pupuk yang digunakan sangat tergantung pada jenis lahan dan
kondisi tanah. Pada tanah subur atau tanah bekas ditanami padi dengan dosis
pupuk tinggi, pemupukan tidak diperlukan. Pada tanah yang kurang subur,
pemupukan dapat menaikkan hasil. Dosis pupuk secara tepat adalah sebagai
berikut:

5.Pengairan dan Penyiraman


Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab tetapi tidak becek.
Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat
menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering. Kekurangan air pada
masa pertumbuhan akan menyebabkan tanaman kerdil, bahkan dapat
menyebabkan kematian apabila kekeringan telah melalui batas toleransinya.
Kekeringan pada masa pembungaan dan pengisian polong dapat menyebabkan
kegagalan panen.

6.Waktu Penyemprotan Pestisida


Penyemprotan pestisida dilakukan pada waktu yang berbeda-beda tergantung
jenis hama dan pola penyerangannya.

 Processing :
Pengumpulan dan Pengeringan
Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera
dijemur. Kedelai dikumpulkan kemudian dijemur di atas tikar, anyaman bambu,
atau di lantai semen selama 3 hari.

Manajemen Agribisnis “Karet” 9


Penyortiran dan Penggolongan
Terdapat beberapa cara untuk memisahkan biji dari kulit polongan.
Diantaranya dengan cara memukul-mukul tumpukan brangkasan kedelai secara
langsung dengan kayu atau brangkasan kedelai sebelum dipukul-pukul
dimasukkan ke dalam karung, atau dirontokkan dengan alat pemotong padi.

Penyimpanan dan pengemasan


Sebagai tanaman pangan, kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu
cukup lama. Caranya kedelai disimpan di tempat kering dalam karung. Karung-
karung kedelai ini ditumpuk pada tempat yang diberi alas kayu agar tidak
langsung menyentuh tanah atau lantai. Apabila kedelai disimpan dalam waktu
lama, maka setiap 2-3 bulan sekali harus dijemur lagi sampai kadar airnya sekitar
9-11 %.

 Marketing :
Dari segi pemasaran, Indonesia belum mampu menerapkan prinsip bauran
pemasaran dengan baik untuk produk Agribisnis kedelai. Harga produk
Agribisnis kedelai Indonesia relatif lebih mahal dibandingkan dengan produk
competitor dari negara lain. Hal ini terkait dengan produktivitas dan efisiensi
produksi Sektor Agribisnis kedelai. Belum lagi harga yang tinggi tersebut tidak
diimnagani dengan kualitas produk yang memadai sesuai dengan nilai kompenasi
yang dibayarkan oleh konsumen.
Sistem distribusi produk Agribisnis yang cenderung menggunakan rantai
pemasaran yang panjang menyebabkan margin pemasaran relatif tinggi dan
kemungkinan kerusakan produk lebih besar. Promosi terhadap produk unggulan
Agribisnis yang dihasilkan Indonesia kurang dilakukan.
kedelai pada umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan. Oleh karena itu,
pemasarannya mulai dari daerah sentra produksi ke industri pengolahan melalui
pedagang, dan bermuara ke konsumen akhir. Selanjutnya dipasarkan ke
pengerajin tahu dan tempe. Dalam pemasaran kedelai, petani umumnya berada
dalam posisi tawar yang lemah, sehingga harga kedelai di tingkat petani lebih
banyak ditentukan oleh pedagang. Biasanya kedelai mereka jual kepada pedagang
yang dapat memberi harga yang baik. Kebanyakan perdagangan dilakukan di
pasar (50%) dan di desa (25-30%). Kira-kira 4-7% petani menjual ke toko di ibu
kota kabupaten jika kedelainya banyak; bila tidak, mereka menjual kepada
tengkulak di desanya.

Kendala :

Berdasarkan survei ini (1983), ada beberapa kesimpulan tentang kendala pemasaran:
1. Produksi kedelai terpusat dalam kantong-kantong kecil yang letaknya saling berjauhan.
2. Pengendalian mutu sulit diterapkan.
3. Musim dan kombinasi usaha menyulitkan penilaian ekonomi.

Solusi :
Peningkatan system produksi yang baik dan lancar dapat memperbaiki system
pemasaran yang ada saat ini. Semakin meningkatknya produksi kedelai maka akan
mengakibatkan lonjakan harga kedelai yang lebih stabil. Hal inilah yang memberikan
peluang usaha yang lebih baik akan komoditas kedelai.

 Penelitian dan pengembangan (R&D)


Pendekatan genetik untuk perbaikan kualitas protein diarahkan untuk mengeliminir
keberadan Betha-congglycinin, sehingga kandungan sistein dan methionin pada biji
kedelai akan meningkat.Kedelai memiliki kandungan isoflavon lebih tinggi dibanding

Manajemen Agribisnis “Karet” 10


tanaman bahan pangan lainnya. Isoflavon merupakan senyawa metabolit sekunder yang
berfungsi sebagai antiestrogen, antioksidan dan antikarsinogenik. Isoflavon dari golongan
genistien dan daidzien dinilai paling berperan untuk kesehatan. Teknologi produksi
kedelai meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan, air, tanaman, dan
organisme pengganggu tanaman (LATO). Inovasi teknologi dengan penggunaan benih
bermutu, pembuatan saluran drainase, pemberian air yang cukup, pengendalian hama dan
penyakit dengan sistem PHT, panen dan pasca panen dengan alsintan mampu
meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya (Anonimous, 2004a).
Oleh karena itu dukungan penelitian terhadap inovasi teknologi peningkatan produksi
kedelai sangat diperlukan.

 Pendukung

Dukungan bagi Sektor Agribinis Indonesia perlu diberikan agar dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik dalam bentuk kelembagaan, lembaga pembiayaan yang berbasis
pada karakteristik Agribinis perlu dioptimalkan dan terus dikembangkan fungsinya,
seperti lembaga penjamin dan bank khusus. Paling tidak, memanfaatkan infrastruktur
perbankan yang ada sebagai wadah untuk membangun sistem pendanaan yang dapat
bermanfaat atau dimanfaatkan. Pengembangan lembaga dan program promosi Agribisnis
perlu terus dilakukan, terutama memanfaatkan yang sudah ada. Untuk lebih menduniakan
Agribinis kedelai Indonesia, pemerintah seyogianya mengalokasikan dana yang cukup
untuk membantu melakukan promosi yang luas.

6.SUBSYSTEM YANG PALING BERPERAN


 penelitian dan pengembangan
Upaya perbaikan kedelai sebagai bahan pangan dapat secara bertahap diarahkan pada
peningkatan kuantitas dan kualitas protein serta peningkatan produktivitas.sehingga
komoditi kedelai dalam negeri dapat bersaing dengan kedelai luar negeri.

7.MISI PENGEMBANGAN KOMODITI KEDELAI :


Misi pengembangan,yaitu : 1) Membina dan mengembangkan kernarnpuan
sumberdaya manusia (SDM) untuk meningkatkan daya saing, 2) Menumbuhkan
keikutsertaan masyarakat khususnya dunia usaha dalam proses pengembangan komoditi
kedelai. 3) Meningkatkan pendapatan petani kedelai .4) Pengembangan atau adanya
pelatihan untuk petani kedelai yang lemah. 5) Meningkatkan pangsa ekspor 6)
Mengarahkan untuk terciptanya pola petani yang efisiensi.

ANALISIS SWOT
A.STRENGTH (Kekuatan)
 Adanya program bangkit kedelai, pengapuran, supra insus, opsus kedelai dan
program gerakan mandiri kedelai yang diupayakan pemerintah untuk
meningkatkan hasil produksi. Departemen Pertanian melaksanakan Program
Bangkit Kedelai 2004 melalui pengembangan pusat pertumbuhan dengan
dukungan dana dekonsentrasi di 20 provinsi pada lahan seluas 14.500 ha.
 Meningkatnya pertumbuhan penduduk serta meningkatkan penduduk untuk
mengkonsumsi kedelai sebagai kebutuhan sehingga kebutuhan akan kedelai
meningkat. Komoditas kedelai saat ini tidak hanya diposisikan sebagai bahan
pangan dan bahan baku industri pangan, namun juga ditempatkan sebagai bahan
makanan sehat dan baku industri non-pangan. Menurut Departemen Pertanian,
total konsumsi kedelai pada tahun 2007 mencapai 2,235 juta ton, pada tahun 2014
meningkat menjadi 2,646 juta ton, dan pada tahun 2021 meningkat lagi menjadi
sekitar 3 juta ton.
 ada program pengembangan usaha kedelai di 30 provinsi dengan luas tanam
577.139 ha serta pengembangan kemitraan pada 12 provinsi dengan 10 mitra
usaha BUMN dan swasta pada areal seluas 250 ribu ha.

Manajemen Agribisnis “Karet” 11



B.WEAKNEES (Kelemahan)
 Sarana produksi belum tersedia (benih,pupuk,pestisida) sesuai dengan prinsip 4
tepat yaitu tepat mutu,harga,kualitas dan lokasi.
 Gairah petani untuk melakukan budidaya kedelai menurun disebabkan tanaman
kedelai tidak menguntunggkan.dan kebijakan impor. Dicontohkan pada tahun
2002 biaya produksi yang harus dikeluarkan petani untuk menanam kedelai Rp
2,32 juta/ha, sedangkan pendapatan yang diperoleh hanya Rp 2,8 juta/ha sehingga
keuntungannya hanya Rp 517.000/ha.
 Belum banyaknya keterkaitan swasta untuk mengembangkan usaha agribisnis
kedelai antara lain.
 Ketrampilan dan pengawalan dalam melaksanakan belum optimal alam penerapan
teknologi panen dan banyaknya organisme penganggu tanaman kedelai.
 Komoditas kedelai, hanya sekitar 5% yang menggunakan teknologi baru benih.
lembaga perbenihan yang terkait dalam sistem perbenihan formal belum berperan
secara optimal.
 program intensifikasi maupun ektensifikasi untuk tanaman kacang-kacangan dan
umbi-umbian  sekitar 80% belum  menggunakan benih sumber varietas unggul
baru yang berkualitas.
 Pertumbuhan kredit ke sektor pertanian relatif rendah dibandingkan dengan sektor
ekonomi lain.

C.OPPURTUNITIES (Peluang)
 Kemajuan teknologi yang tersedia saat ini ,apabila dimanfaatkan di Indonesia
membuka peluang meningkatkan produktivitas kedelai.
 Pemanfaatan lahan yang tidak terpakai sebagai lahan pengembangan kedelai.
 Adanya peluang dalam perbaikan mutu kedelai,dengan pendekatan genetika yang
dilakukan oleh Negara cina,dengan diperlukan program terintegrasi antar disiplin
ilmu dan kelembagaan.
 Lima BUMN berkomitmen menggenjot peningkatan produksi komoditas kedelai.
Lima BUMN yang melakukan sinergi tersebut adalah Perum Perhutani, PT Sang
Hyang Sri (Persero), PT Pupuk Kujang, PT Petrokimia Gresik, dan PT Pertani
(Persero). Mereka telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk
meningkatkan produksi kedelai nasional di Jakarta, Kamis, 27 Maret 2008.

 Dengan langkanya kedelai impor mulai akhir-akhir ini akibat lonjakan harga
kedelai dunia jelas saja mengakibatkan lonjakan harga kedelai yang sangat
tinggi.di Indonesia. Dengan kata lain, potensi pasar bagi komoditas kedelai di
dalam negeri cukup besar untuk masa mendatang.
 Adanya kebijakan pemerintah, yaitu Departemen Pertanian melalui Program
Revitasisai Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) telah menetapkan lima
komoditas pangan utama mendesak untuk diusahakan swa sembada. Kelima
komoditas tersebut adalah beras, jagung, kedelai, gula dan daging sapi.

D. THREATS ( Ancaman )
 Ketersediaan sumber gen,belum tersedianya metode seleksi yang efisiensi dan
biaya untuk seleksi ( bahan kimia ) mahal.
 Terjadinya kekeringan pada lahan pertanian kedelai.
 Banyak nya impor yang dilakukan pemerintah atau swasta sehingga kedelai local
tidak laku dipasaran. Pada tahun 2001, produksi kedelai mencapai 826.932 ton
dan jumlah permintaan mencapai 1,96 juta ton sehingga volume impor
mencapai1,136 juta ton. Pada tahun 2002 diperkirakan terjadi peningkatan sekitar
12 persen.

Manajemen Agribisnis “Karet” 12


 Adanya kebijakan pembangunan pertanian yang keliru dari Pemerintah yang lebih
mengutamakan usaha-usaha agrobisnis perkebunan yang berlahan luas seperti
kelapa sawit, disisi lain pembangunan tanaman pangan terbengkalai.
 infrastruktur irigasi pertanian kedelai tidak dibangun bahkan yang sudah ada pun
tidak dipelihara sehingga kuantitas dan kualitasnya menurun, sehingga menjadi
salah satu penyebab turunnya produksi kedelai.

Segmen Pasar kedelai


Kedelai mempunyai banyak kegunaan di Indonesia: konsumsi manusia, pakan ternak,
dan benih. Segmen pasar kedelai sendiri dapat terlihat dari pemanfaatan atau
penggunaan kedelai, seperti:

Makanan Indonesia dari kedelai


Kedelai telah menjadi sumber penting protein, lemak, dan penyedap bagi masyarakat
Asia selama ribuan tahun. Berbagai macam pangan dari kedelai dapat digolongkan dalam
dua kelompok: yang diragikan dan yang tidak diragikan. Peragian makanan melibatkan
mikrobiologi yang cukup canggih, yang merupakan prestasi mengagumkan pada
permulaan sejarah Cina. Produk utama kedelai ragian di Indonesia adalah tempe, oncom,
tauco, dan kecap. Produk-produk yang bukan ragian meliputi tahu, tauge, susu kedelai,
kedelai goreng (sebagai kudapan), kedelai rebus (juga sebagai kudapan), dan kedelai
yang dimasak sebagai sayur atau bahan sop.

Produk-produk ragian

Oncom juga merupakan hasil peragian yang dibuat dari bungkil kedelai atau kacang
tanah. Di Jawa Barat oncom populer sebagai pengganti daging atau sebagai kudapan.
Awal pembuatannya adalah penambahan pati pada bungkil kedelai. Pati akan
meningkatkan kegiatan jamur Neurospora. Bungkil itu dikukus, didinginkan, dan
kemudian diinokulasi dengan laru oncom (Neurospora sitophila) dan dibiarkan
selama satu hari.

Kecap adalah saus yang dibuat dari cairan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan
hewan dicampur dengan garam, gula, dan bumbu. Kecap kedelai dibuat dari cairan
kedelai yang diragikan, dicampur dengan garam dan gula. Kadang-kadang
ditambahkan pula bahan-bahan lain seperti bumbu-bumbu, sari ikan, dan kaldu.
Kecap dipakai sebagai penyedap masakan dan sangat populer di Indonesia..

Produk-produk bukan ragian

Tahu adalah produk kedelai tradisional yang tidak diragikan, yang telah dikonsumsi
selama ribuan tahun di Asia.Tahu merupakan endapan protein yang diperoleh dari air
sari kedelai gilingan.Biasanya tahu dibuat dari kedelai kuning atau hijau.. Produk
lainya yang buka ragi adalah Tauge yang dibuat dengan merendam kedelai dalam air
dan membiarkan kedelai yang lembab itu dalam ruang gelap pada suhu 22°-23°C.
Kedelai mulai berkecambah dalam 24 jam, dan dapat dipanen setelah 5 hari.Hanya
satu pabrik di Indonesia (Sari Husada, di Yogyakarta) yang membuat susu
kedelai.Produk ini diperkaya dengan susu skim kering (yang kepala susunya diambil),

Industri pakan ternak


Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah lebih meningkat permintaan akan hasil-hasil
peternakan seperti telur, daging dan produk susu. Pada gilirannya, ini mendorong
perkembanganindustri pakan ternak. Bungkil kedelai merupakan unsur penting dalam

Manajemen Agribisnis “Karet” 13


pakan ternak; dan karena produksi kedelai dalam negeri terbatas jumlahnya. Indonesia
terpaksa mengimpor dalam jumlah besar

Perkembangan Penggunaan Kedelai antara Tahun 1990-2001

Tahun Untuk Bahan Pakan Untuk Konsumsi


(000 ton) (kg/kapita/tahun)

1990 161 10,5


1991 182 11,1
1992 231 12.6
1993 230 11,8
1994 210 11,2
1995 191 11,0
1996 169 11,1
1997 145 9,0
1998 225 6,3
1999 284 11,7
2000 154 10,4
2001 133 8,8
Perkembangan - 0,8 -2,18
(%/thn)

Sumber : Neraca Bahan Makanan berbagai tahun, yang disitir Ariani (2003).

8. BAURAN PEMASARAN (4 P)
 Product
Kedelai merupakan tumbuhan serbaguna. Pemanfaatan utama kedelai adalah dari
biji. Biji kedelai kaya protein dan lemak serta beberapa bahan gizi penting lain,
misalnya vitamin (asam fitat) dan lesitin. Olahan biji dapat dibuat menjadi
tahu (tofu), bermacam-macam saus penyedap (salah satunya kecap, yang aslinya
dibuat dari kedelai hitam), tempe kedelai (baik bagi orang yang sensitif laktosa),
tepung kedelai, minyak (dari sini dapat dibuat sabun, plastik, kosmetik, resin, tinta,
krayon, pelarut, dan biodiesel.

 Price
Harga kedelai local berfluktuasi.harga kedelai local yang tertinggi sebelum terjadi
kenaikan yaitu mencapai 4000/kg sedangkan harga kedelai dunia rata-rata US$
199/MT Dan pada saat ini harga kedelai di pasar dunia yang mencapai US$ 600 per
ton, diakibatkan oleh orientasi pembangunan yang salah. Isu biofuel yang
digembar-gemborkan selama ini telah menyebabkan harga bahan baku seperti
kedelai dan CPO meningkat karena permintaan industri pengolahan biofuel
terhadap bahan-bahan pangan meningkat.

 Promotion
Pemasaran hasil panen Kedelai dapat melalui Cooperative atau ”Coop”, atau dapat
langsung kepada pedagang besar ,Kampanye,kerjasama berbagai event penjualan
produk olahan kepada anak sekolah dan kelompok sasaran lainnya.

 Place
Di Indonesia, saat ini kedelai banyak dipasarkan seperti di pesisir Utara Jawa
Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Utara (Gorontalo), Lampung, Sumatera
Selatan dan Bali sedangkan untuk ekspor kedelai dengan negara tujuan yaitu
malasyia,singpura,Australia.

9.POTENSI EKSPOR

Manajemen Agribisnis “Karet” 14


Potensi ekspor untuk komoditi kedelai ada,jika pemerintah mengambil kebijakan yang
mencakup :
 Kemudahan prosedur untuk mengaskes modal kerja bagi petani dan swsta yang
bergerak dalam bidang agribisnis kedelai.
 Percepatan alih teknologi /diseminasi hasil penelitian dan percepatan penerapan
teknologi di tiap melalui revitalisasi tenaga penyuluhan pertanian kedelai.
 Pembinaan/pelatihan produsen/penangkaran benih dalam aspek teknis
 Mendorong /membina pengembangan usaha kecil dalam subsistem (pengolahan
tahu,tempe,kecap,tauco,susu) untuk menghasilkan produk olahan yang bermutu
tinggi .
 Kebijakan makro untuk mendorong pengembangan kedelai didalam negeri
dengan memberlakukan impor yang cukup tinggi.
 Pengembangan prasarana pertanian secara umum yang mendorong
pengembangan kedelai dalam negeri.
 Kebijakan alokasi sumberdaya (SDM,anggaran) yang memadai dalam kegiatan
penelitian dan pengembangan (R&D) dalam rangka menghasilkan tepat guna.

Perkembangan Neraca Perdagangan Komoditas Kedelai


Tahun 2000 – 2004
NO Uraian Volume (ton) Pertumbuhan
2000 2001 2002 2003 2004 2000-2003 (%)

1 Ekspor 521 1.188 235 169 74 -37,93


2 Impor 1.277.685 1.136.419 1.365.252 1.192.717 651.979 14,03

Ditinjau dari sisi kontinuitas di negara tujuan ekspor, tampak Indonesia mampu
memelihara ekspor secara continue. Vietnam yang tadinya sebagai Negara utama tujuan
Ekspor pada tahun 2000 – 2001, sama sekali bukan lagi tujuan ekspor sejak tahun 2002.
ekspor olahan kedelai mencapai 1,2 ribu ton menurun secara drastic hingga tahun 2004.
Bedasarkan data-data tersebut jelaslah bahwa sebenarnya Indonesia mempunyai potensi
besar untuk menjadi Eksportir kedelai ataupun bahan makanan dari kedelai. Sekarang
tergantung dari berbagai pihak untuk lebih meningkatkan produktivitas kedelai, karn
unsur utama keterlambatan perkembangan ekspor kedelai adalah minimnya produksi
kedelai di tanah air. Salah satu peningkatan produksi dapat dilakukan dengan
Swasembada Kedelai. Pemerintah yang mulai menggalakkan Swasembada kedelai harus
lebih jeli melihat peluang ini.

10. ATRIBUT KUALITAS KOMODITI KEDELAI


- tuntutan atribut produk misalnya kesesuaian dengan ISO series (ecolabeling,
ecoefficiency), dll sesuai dengan tuntutan pasar
- Pemerintah, untuk mengantisipasi adanya kenyataan tersebut telah mencanangkan
program Bangkit Kedelai, yang dicanangkan mulai tahun 2006 sampai tahun
2010. dalam kegiatan koordinasi pengembangan kedelai IP-300, Implementasi
program bangkit kedelai, akan ditempuh melalui 2 sub program yaitu pertama sub
program peningkatan mutu intensifikasi melalui 3 rancang bangun yaitu
pengembangan pusat pertumbuhan, pengembangan usaha dan pengembangan
kemitraan.
- Standar mutu kedelai di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia
SNI 01-3922-1995.

Klasifikasi dan Standar Mutu


a) Syarat umum

Manajemen Agribisnis “Karet” 15


1. Bebas hama dan penyakit.
2. Bebas bau busuk, asam, atau bau asing lainnya.
3. Bebas dari bahan kimia, seperti: insektisida dan fungisida.
b) Syarat khusus
1. Kadar air maksimum (%): mutu I=13; mutu II=14; mutu III=14 dan mutu
IV=16.
2. Butir belah maksimum (%): mutu I=1; mutu II=2; mutu III=3 dan mutu
IV=5.
3. Butir warna lain maksimum (%): mutu I=1; mutu II=3; mutu III=5 dan
mutu IV=10.
4. Butir rusak maksimum (%): mutu I=1; mutu II= 4; mutu III=3 dan mutu
IV=5.
5. Kotoran maksimum (%): mutu I=0; mutu II=1; mutu III=2 dan mutu IV
=3
6. Butir keriput maksimum (%): mutu I=0; mutu II=1; mutu III=3 dan mutu
IV=5.

11. Pembiayaan

Pembiayaan di sector kedelai sebenarnya telah menjadi program permerintah yang


dikoordinasi oleh Departemen Pertanian dan Departemen keuangan. Program
pembiayaan kedelai ini termasuk kedalam program Kredit Ketahanan Pangan dan
Energi (KKP-E). Kegiatan usaha yang dapat didanai melalui KKP-E bisa dilakukan
secara mandiri atau bekerjasama dengan mitra usaha, antara lain meliputi: i)
Pengembangan padi, jagung, kedelai, ubi jalar, tebu, ubi kayu, kacang tanah, dan
sorgum; ii) Pengembangan tanaman holtikultura antara lain berupa: cabe, bawang
merah, dan kentang; dan iii) Pengadaan pangan berupa: gabah, jagung, dan kedelai.
Selain itu, pendanaan KKP-E yang berasal dari Bank Pelaksana dapat diberikan
kepada Peserta KKP-E melalui kelompok Tani dan/atau Koperasi.
Fitur Kredit
 Jangka waktu max. 1 tahun.
 Limit kredit max. Rp 15 juta untuk individu dan max. Rp 500 juta untuk koperasi.
 Tujuan penggunaan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja sbb :
o Intensifikasi padi, jagung, kedelai, ubi kayu dan ubi jalar
o Ekstensifikasi budidaya tebu, peternakan dan pengadaan pangan.
 Penarikan dilakukan sekaligus pada saat awal musim tanam.

Manfaat :

 Mendapat bimbingan teknis dan manajemen dari Petugas Penyuluh Pertanian


Lapangan, Dinas Pertanian, Departemen Pertanian.
 Suku bunga yang ringan.
 Pembiayaan dapat diberikan secara kelompok.
 Dijamin dengan asuransi kredit dari PT Askrindo (Persero), khusus untuk tujuan
usaha intensifikasi.

Jangka waktu KKP-E ditetapkan paling lama 5 tahun. dengan subsidi bunga dari
pemerintah sebesar 7-8 persen per tahun;

Manajemen Agribisnis “Karet” 16


Manajemen Agribisnis “Karet” 17
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang didapat dari pembahasan pada BAB II adalah sebagai
berikut :
1. Apabila kemampuan produksi kedelai nasional tidak dapat
mengikuti peningkatan kebutuhannya, maka Indonesia akan
semakin tergantung pada impor yang berdampak membahayakan
ketahanan nasional.

2. Beberapa strategi penting untuk menjamin keberhasilan


peningkatan produksi kedelai nasional ialah:
1. Perbaikan Harga
2. Pemanfaatan Potensi Lahan
3. Intensifikasi Pertanaman
4. Perbaikan Proses Produksi
5. Konsistensi Program dan Kesungguhan Aparat

3. Peningkatan system produksi yang baik dan lancar dapat


memperbaiki system pemasaran yang ada saat ini. Semakin
meningkatknya produksi kedelai maka akan mengakibatkan
lonjakan harga kedelai yang lebih stabil. Hal inilah yang
memberikan peluang usaha yang lebih baik akan komoditas
kedelai.

4. Kemampuan ekspor kedelai nasional menurun drastis sejak tahun


2001 hingga 2004 ini mencapai 1,2 ribu ton. unsur utama
keterlambatan perkembangan ekspor kedelai adalah minimnya
produksi kedelai di tanah air. Salah satu peningkatan produksi
dapat dilakukan dengan Swasembada Kedelai. Pemerintah yang
mulai menggalakkan Swasembada kedelai harus lebih jeli melihat
peluang ini.

3.2. Saran
Saran yang dapat disampaikan dari hasil penulisan ini adalah sebaiknya
pemerintah dan aparat desa lebih memperhatikan masyarakat dan sering memberikan
pelatihan untuk menambah keahlian dan ketrampilan masyarakat sehingga masyarakat
memiliki modal dalam bentuk pengetahuan dan keahlian dalam penanaman kedelai agar
dapat tumbuh dan berkembang lebih.

Pembahasan dalam makalah ini hanyalah sebagian kecil saja. Masalah yang
dibahas di dalamnya harus terus dibahas secara lebih luas lagi agar didapatkan kebenaran
yang hakiki.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Anjuran Pemupukan Tanaman Kedelai, Liptan, BIP Departemen Pertanian Jawa
Timur, No. 13, tahun 1988.
______, Kedelai, Seri Pembangunan Desa (Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1980).
______, Hama dan Penyakit Tanaman (Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1974).
_______, Kedelai (Jakarta : Pusat Penelitian Hortikultura Pasar Minggu, 1989).

Manajemen Agribisnis “Karet” 18


Lembaga Biologi Nasional, Manfaat Kedelai, 12 April 1989.
Rukmana Rahmat, Kedelai Budidaya dan Pasca Panen (Jakarta : kannisius, 1996).

Manajemen Agribisnis “Karet” 19


2008
[MAKALAH AGRIBISNIS UDANG ]
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JAMBI
KELOMPOK II

DOSEN PEMBIMBING :
DR. Johanes, SE, M.Si 1:
OLEH KELOMPOK Hikcher
NovitaPasma
Sari,Franata
SE (C1B 006016) Khairul
Ardani (C1B 006032) Naarah
Natalia Lature (C1B 006031) Peki
Sasmar Putra (C1B 006015)

Manajemen Agribisnis “Karet” 20


DAFTAR ISI

Latar belakang ................................................................................................... 2

Pentingnya Pengamatan Mulai Dari Produksi dan Konsumsi ..................... 2


Produksi ………………………………………………………………. 2
Konsumsi ……………………………………………………………… 2
Prospek Komoditi Udang dari Sisi Permintaan ............................................. 3

Permasalahan Komoditi Udang dari Sisi Agribisnis ..................................... 3

SUB-SYSTEM AGRIBISNIS ........................................................................... 4


Farming system. .................................................................................... 4
Processing .............................................................................................. 4
R & D ..................................................................................................... 5
Government as Support Sub System ……………………………….. 5
Cooperative Enterpreneur ………………………………………….. 6
Subsistem yang berperan penting ....................................................... 6

ANALISIS SWOT ………………………………………………………….. 6


Strenght ……………………………………………………………..... 6
Weakness ……………………………………………………………… 7
Opportunities ………………………………………………………… 7
Threath ……………………………………………………………….. 8
Segmentasi Pasar .................................................................................. 8
Bauran Pemasaran ........................................................................................... 8

Potensi Ekspor Komoditi ................................................................................ 9

Atribut Kualitas Komoditi .............................................................................. 10

Lembaga pembiayaan ………………………………………………………. 10

KESIMPULAN ................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 15

UDANG

Manajemen Agribisnis “Karet” 21


1. Latar belakang

Sektor perikanan Indonesia dalam era perdagangan bebas mempunyai peluang


yang cukup besar. Salah satu komoditas ekspor Indonesia yang diharapkan dapat
menyumbangkan devisa negara dari sektor non migas adalah udang. Konsumsi udang
dunia terus meningkat, sementara itu sumber daya pantai Indonesia belum dimanfaatkan
secara optimal. Dengan demikian, dilihat dari sisi produksi, prospek industri udang
Indonesia adalah sangat cerah. Ekspor udang Indonesia selama 25 tahun terakhir ini
dengan laju pertumbuhan yang terus meningkat. Dimana, pasar udang terbesar di dunia
saat ini adalah Jepang,Amerika Serikat serta Uni eropa.
Udang merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis
tinggi. Rasanya yang gurih dan bentuk serta warnanya yang khas,menyebabkan udang
menjadi makanan yang digemari oleh segala usia. Keunikan postur tubuhnya yang khas
dan kerenyahannya membuat udang berbeda dari jenis makanan seafood lainnya. Sebagai
salah satu sajian khas yang berselera,udang tentunya layak disajikan di hotel-hotel
mewah,restoran-restoran terkenal,sampai di warung pinggir jalan sekalipun.

2. Pentingnya Pengamatan Mulai Dari Produksi dan Konsumsi

A. Produksi
Indonesia merupakan daerah terluas untuk pengelolaan tambak udang. Areal yang
cocok untuk usaha ini mencapai ±960.000 hektar, tetapi yang tergarap baru sekitar
380.000 hektar. Jika kekurangan tersebut dibenahi secara serius dan total, lalu areal
tambak yang dikelola mencapai sekitar 500.000 hektar, berarti volume produksi setiap
tahun minimal dua ton per hektar atau satu juta ton per tahun. Namun, saat ini produksi
udang hanya mencapai 300.000 ton/tahun
Sementara itu Produksi udang Indonesia sampai saat ini masih tetap
diorientasikan ke pasar internasional, dengan negara-negara tujuan eksport, dimana
dalam beberapa tahun terakhir ini udang indonesia telah menunjukkan laju pertumbuhan
yang sangat fantastis. Selain peningkatan volume produksi, industri udang dunia juga
diwarnai oleh pergeseran sistem produksi dari usaha penangkapan ke usaha budidaya
khususnya di tambak.
Iwan mengatakan, “udang di Indonesia merupakan salah satu komoditas budidaya
perikanan unggulan. Tahun lalu, produksi udang 300.000 ton. Produksi udang untuk
tahun 2009 ditargetkan sebanyak 450.000 ton”. Maka dari itu permintaan akan udang
dunia sangat tinggi, dan ini mendorong Indonesia untuk menjadi salah satu negara
produsen udang. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai negara produsen udang kedua
terbesar di Asia setelah Cina.

B. Konsumsi
Dari 380.000 hektar tambak yang dikelola, menghasilkan udang sekitar 300.000
ton per tahun. Sekitar 15 persen dari total produksi itu dikonsumsi dalam negeri.
Selebihnya diekspor. Negara tujuan ekspor antara lain ke Jepang mencapai 60 persen, AS
sekitar 14,5 persen, dan Uni Eropa 10,5 persen.
Konsumsi udang dunia pun mencapai tiga juta ton per tahun. Sekitar 500.000 ton
dikonsumsi di AS. Konsumsi udang terbesar terjadi di Jepang. Di sana setiap orang
mengonsumsi tiga kilogram udang per tahun. Lalu, disusul AS sebanyak 1,8 kg per orang
per tahun dan Uni Eropa sekitar 1,5 kg per orang per tahun, tetapi konsumsi udang untuk
setiap orang di Indonesia umumnya masih jauh di bawah satu kilogram per tahun
Perhitungan konsumsi nasional udang dilakukan dengan metoda produksi
nasional ditambah impor dikurangi ekspor Dengan tingkat konsumsi yang terjadi di
indonesia, menunjukkan bahwa selain sebagai komoditas pasar internasional, udang
memiliki peluang untuk memenuhi permintaan pasar domestik. Apalagi, seiring dengan
perkembangan perekonomian Indonesia yang diperkirakan membaik pada tahun-tahun
yang akan datang, akan meningkatkan daya beli masyarakat dan konsumsi udang pun
akan meningkat.

Manajemen Agribisnis “Karet” 22


3. Prospek Komoditi Udang dari Sisi Permintaan

Udang merupakan komoditas unggulan yang mempunyai nilai ekspor terbesar


(sekitar 21 %) dari nilai perdagangan dunia hasil perikanan. Bagi Indonesia, udang
merupakan komoditi ekspor andalan dengan sumber perolehan devisa meningkat lebih
dari 50 % dari total ekspor hasil perikanan bersumber pada komoditas ini.
Devisa yang diraup dari ekspor perikanan per tahun di Indonesia mencapai sekitar
US$ 2 miliar, maka separuh di antaranya berasal dari ekspor udang. Ini menandakan
bahwa perkembangan potensi udang sebagai usaha agribisnis sangatlah baik untuk
digeluti di Indonesia.
Produksi udang di Indonesia dihasilkan dari penangkapan di laut dan budidaya
tambak, yang sebagian besar diekspor ke Jepang, Hongkong, Amerika Serikat (AS) dan
Eropa.
Bahkan dewasa ini jika agrbisnis udang dikelola secara serius maka udang tidak
hanya sebatas konsumsi makanan tetapi dapat juga dimanfaatakan sebagai produk inovasi
seperti limbah kulit udang yang dapat diolah menjadi khitin dan khitosan sebagai obat
antikolesterol, obat pelangsing tubuh, perban penghenti perdarahan, dan bahan kaus yang
mampu menyerap keringat
• Bahan serat penyeimbang makanan dalam tubuh. Produk khitosan dalam bentuk
pil kapsul bisa dipakai untuk mengurangi kadar kolesterol. Artinya produk
tersebut bisa dipakai sebagai obat pelangsing tubuh tanpa efek samping
• khitosan dipakai untuk bahan pakaian dalam seperti kaus singlet, kaus oblong,
dan kaus kaki bermutu tinggi. Sebab, kaus dari serat bahan khitosan ini mampu
menyerap keringat dan menyerap bau badan secara maksimal
Di samping itu, daya serap serat khitosan tadi amat cocok sebagai materi
tambahan untuk pembuatan kain tekstil. Berdasarkan riset, serat khitosan mampu
mempertahankan warna dari kain tekstil agar tetap cerah

4. Permasalahan Komoditi Udang dari Sisi Agribisnis

Diperkirakan komoditi udang akan tetap menjadi primadona ekspor hasil


perikanan dalam dasawarsa ke depan. Alasannya, komoditas ini termasuk jenis yang
paling banyak diminati para konsumen di berbagai penjuru dunia. Ini artinya, peluang
bagi dunia perudangan nasional. Di sisi lain persaingan pasar global akan semakin ketat,
sedangkan pola pemasaran ekspor Indonesia masih tergolong single market, akibat
tingginya ketergantungan pada pasar tradisional. Maka sudah waktunya dirumuskan pola
pengembangan pemasaran yang lebih agresif dengan melibatkan seluruh komponen
bangsa dalam wadah Indonesian Fisheries Incorporated. Dan untuk mendorong kinerja
ekspor hasil perikanan, Indonesia perlu meningkatkan kemampuan di bidang market
intelligence. Tujuannya, agar dapat mewaspadai pesaing-pesaing baru dan mencari pasar-
pasar baru / alternatif.
Sedangkan masalah utama dalam pengembangan industri udang di Indonesia yaitu:
1. Masalah sosial - terutama keamanan dan gejolak sosial,
2. Finansial - terbatasnya modal usaha khususnya bagi para petambak kecil dan
investasi dari luar negeri,
3. Masalah residu antibiotik,
4. Rencana pemberlakuan anti-dumping oleh Amerika Serikat,
5. Harga udang di pasar internasional yang sulit diramalkan
6. Maraknya kampanye anti udang tambak

5. SUB-SYSTEM AGRIBISNIS

Farming system.
Tahapan farming system pada agribisnis udang meliputi beberapa tahapan, antara
lain:
 Penentuan tambak

Manajemen Agribisnis “Karet” 23


Tambak udang dirancang untuk meningkatkan dan memproduksi udang
laut atau tawar untuk konsumsi manusia. Pertambakan udang komersial
dimulai pada 1970-an, dan produksi tumbuh dengan cepat, terutama untuk
memenuhi pertumbuhan permintaan Produksi global total dari udang tambak
mencapai lebih dari 1,6 juta ton pada 2003, mewakili hampir 9 milyar dolar
AS. Sekitar 75% udang tambak diproduksi di Asia, 25% sisanya diproduksi di
Amerika Latin,
Pertambakan udang telah berubah dari bisnis tradisional, skala-kecil di
Asia Tenggara menjadi sebuah bisnis global. Kemajuan teknologi telah
mendorong pertumbuhan udang dengan kepadatan yang lebih tinggi.
 Pembenihan
Pada umumnya, pembenihan udang mengambil waktu ± 35 hari. Sehingga
dalam setahun dapat dilakukan 5 kali proses pembenihan, pembenihan itu
sendiri dapat dilakukan setelah memperkirakan masa untuk membersihkan
kelengkapan, waktu rehat / istirahat (break cycle) dan kinerja pemulihan
peralatan yang akan dipakai.
 Tekhnik pembudidayaan
Langkah-langkah penerapan budidaya udang yaitu didahului dengan
memenuhi kelayakan dasar (pre-requisite) budidaya. Kelayakan dasar ini
berisi GCP (Good Culture Practices) yang mengatur kebersihan umum,
pembesaran dan penanganan tambak atau kolam pembudidayaan udang..
Kebersihan umum meliputi kebersihan area, pembersihan peralatan sebelum
dan sesudah digunakan dan kebersihan gudang penyimpanan. Sedangkan
pembesaran dan penanganan meliputi catatat dalam menjaga dan
menyediakan : air dan penggunaan air, pakan dan pemberian pakan, penyakit
dan pengontrolan penyakit, obat-obatan dan bahan kimia dengan petunjuk
penggunaan, waktu dan periode pemberian; teknik pasca panen, pembersihan
produk dengan air bersih, temperatur produk, pencegahan kontaminasi selama
panen, sortasi, transpotasi serta kelambatan penanganan seminim mungkin.
Secara garis besarnya, alur proses budidaya terdiri dari pemilihan
lokasi/tempat budidaya, suplai air, pengelolaan lingkungan ikan/udang yang
dipelihara, produksi dan panen.

Processing.
Konsep pengembangan budidaya udang dipengaruhi oleh 4 faktor utama, yaitu :
perairan, lahan, teknologi budidaya, dan sumberdaya manusia yang masing-masing
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Mengingat budidaya udang
merupakan suatu kegiatan yang ‘profit oriented”, maka pendekatan yang dilakukan
terhadap ke empat faktor tersebut haruslah dikondisikan pada pendekatan yang mengarah
pada ‘safety and comfortable financial” bagi para pelaku yang terlibat di dalam kegiatan
budidaya tersebut.
Pemasaran udang merupakan tahapan terakhir untuk dapat memulai budidaya
pada periode selanjutnya. Tidak seperti komoditas lainnya, udang merupakan komoditas
yang ‘high perishable’ sehingga penanganan saat sebelum dipasarkan memerlukan
konsep ‘fast and simple handling’ agar tidak terjadi penurunan kualitas udang, karena
degradasi mutu udang berpengaruh nyata terhadap harga jualnya.
Setelah melalui proses pemanenan maka udang ditangani oleh bagian cold storage untuk
dilakukan penyortiran udang berdasarkan size dan kualitasnya untuk menentukan standar
harga udang tersebut. Size merupakan ukuran besar kecilnya udang atau secara definisi
yaitu jumlah udang yang terdapat dalam 1 kilogram, sehingga semakin besar size udang
maka ukurannya akan semakin kecil.
Mengacu pada konsep size dan mutu udang maka harga jual udang keseluruhan
diperoleh melalui penghitungan presentase size dan mutu udang dari berat total hasil
panen dikalikan harga berdasarkan size dan mutunya.

R & D.

Manajemen Agribisnis “Karet” 24


Dalam pengembangan udang lokal, diperlukan reorientasi program budidaya
udang nasional yang lebih mengedepankan kepada pengembangan budidaya udang lokal
(indigenous) yang mempunyai nilai ekonomi tinggi khususnya udang windu (Penaeus
monodon) dan udang putih (P. indicus). Hal ini mengingat bahwa akhir-akhir ini,
budidaya udang nasional mulai di dominasi oleh udang “exotic” yang induknya sangat
tergantung dari impor. Dalam jangka pendek, pengembangan budidaya udang “exotic” ini
mungkin sangat menguntungkan, karena produktivitasnya dapat mencapai 50
ton/ha/panen. Tetapi, dalam jangka panjang – langkah ini mempunyai risiko yang sangat
tinggi.
1. Harga udang di pasar dunia saat ini terus merosot karena melimpahnya pasokan
udang dari berbagai negara..
2. Dari segi “market intelligence,” pengembangan budidaya udang “exotic” ini
mempunyai beberapa kerawanan. Apabila terjadi konflik politik antara Indonesia
dengan negara pemasok induk udang maka industri udang nasional dapat
“collapse”.
Dari aspek “comparative advantage” pun, pengembangan udang secara
komparatif tentunya lebih menguntungkan dibanding dengan pengembangan udang-
udang “exotic”. Masalahnya adalah, bagaimana mengubah berbagai tantangan yang
dihadapi dalam pengembangan udang menjadi peluang, termasuk peningkatan
produktivitas, ancaman penyakit, dsb. Sementara itu, dukungan makro seperti jaminan
keamanan, pola birokrasi yang efisien, tidak adanya rent seeking dan red tape practices
akan meningkatkan minat investasi pada industri udang. Pola tindak antara para pihak
yang bersinergi dalam konteks Indonesia incorporated  tidak hanya akan mempercepat
perkembangan bisnis udang di tanah air tetapi akan mampu menggerakan roda
perekonomian nasional agar dapat segera keluar dari krisis.

Government as Support Sub System.


Di Indonesia , Pemerintah melalui Departemen Kelautan dan Perikanan juga
menyediakan bantuan modal yang disalurkan melalui dinas di tingkat kabupaten.
Pinjaman ini juga tidak spesifik untuk udang saja.
Upaya lain yang dilakukan oleh pemerintah meliputi, pembebtukan lembaga-
lembaga yang mampu meringankan para petani udang dalam pengelolaan agribisnis
udang mereka, seperti:
 Membentuk lembaga pembiayaan, guna membantu peningkatan komoditi
udang di berbagai daerah di Indonesia, dalam hal ini meliputi pembiayaan
input-input produksi.
 Membentuk Lembaga Pemasaran dan Distribusi dimana lembaga ini menjadi
ujung tombak keberhasilan pengembangan agribisnis, karena fungsinya
sebagai fasilitator yang menghubungkan antara deficit units (konsumen
pengguna yang membutuhkan produk) dan surplus units (produsen vang
menghasilkan produk).
 Lembaga Riset, lembaga ini merupakan salah satu faktor penentu daya saing
karma adanya keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.

Sedangkan peran langsung dari pemerintah yang efisien meliputi, penerapan


sertifikasi perbenihan dan pembudidayaan udang, penembangan laboratorium lingkungan
dan penyakit, penyediaan saran dan prasarana budidaya, dan membantu pengutan
permodalan bagi pembudi dayaan udang.

Cooperative Enterpreneur.
Dengan jumlah penduduk  lebih dari 220 juta jiwa, Indonesia merupakan potensi
pasar domestik yang sangat besar, apalagi mengingat bahwa tingkat konsumsi ikan rata-
rata per kapita masih sangat rendah dibandingkan dengan negara lain.  Disamping itu,
melalui berbagai saluran yang ada, promosi dan lobi pemasaran harus ditingkatkan
mengingat persaingan di pasar global terhadap produk  sejenis semakin ketat.
Keikutsertaan pada pameran internasional dan promosi secara aktif ke negara-negara baru
yang potensial untuk meningkatkan akses pasar merupakan langkah konkrit yang perlu

Manajemen Agribisnis “Karet” 25


untuk dilaksanakan. Disamping itu, peningkatan citra mutu produk Indonesia perlu secara
terus menerus digaungkan dan dilaksanakan oleh semua pihak terkait. Hal ini mengingat
bahwa persyaratan mutu dan sanitasi akan banyak dipakai sebagai hambatan non-tarif
oleh negara-negara maju. Karena itu, cooperative enterpreneur antar sektor menjadi salah
satu prasyarat yang perlu ditingkatkan.  Kemungkinan mengembangkan pemasaran
melalui sistem future market dan pembentukan National Shrimp Board nampaknya perlu
dikaji untuk kemungkinan penerapannya di lapangan.

6. Subsistem yang berperan penting

Dari subsistem yang telah di jelaskan di atas peranan yang sangat penting pada
agribisnis yang terjadi saat ini di indonesia yaitu “ Government as Support Sub System ”
dimana pada tahapan ini peran aktif dari pemerintah dalam pengembangan agribisnis
udang, khususnya di indonesia sangat di pengaruhi oleh peran langsung dari pemerintah
guna membantu kelangsungan peningkatan mutu serta kualitas udang di indonesia agar
udang di indonesia dapat diakui oleh inernasional. Sehingga ini berdampak langsung
pada perolehan kas negara secara tidak langsungnya karna mampu mendongkrak devisa
negara khususnya disektor non migas yaitu pada agribisnis udang.

7. ANALISIS SWOT.

Strenght
Besarnya potensi perekonomian khususnya di sektor perikanan dan kelautan ini
mempunyai nilai yang cukup strategis bagi peningkatan devisa negara melaui kebijakan-
kebijakan pembangunan yang mengarah pada pemanfaatan sumberdaya yang ada secara
optimal, berwawasan lingkungan, berbasis pada prinsip ekonomi kerakyatan dan
berkelanjutan
Usaha tambak udang memberika dampak positf terutama bagi masyarakat di
sekitar tempat pembudidayaan. Dilihat dari sisi ekonomi usaha ini memberikan
keuntungan yang berlipat apabila dibandingkan dengan bercocok tanam padi dan bagi
pemilik lahan memberikan penghasilan dari usaha persewaan lahan non produktif. Akibat
dari perlunya penyediaan kebutuhan untuk usaha antara lain penyediaan
pakan,peralatan,obat-obatan dan pemasaran,muncul usaha lain yang mendukung usaha
budidaya udang tersebut,misalnya toko atau kios pakan dan saprokan serta pedagang
pengepul khusus untuk udang. Untuk memenuhi akan benih,di desa pertambakan telah
berdiri pula suatu hatchery.

Weakness
Kelemahan dalam peningkatan agribisnis udang secara spesifik di Indonesia
didominasi oleh munculnya isu-isu dan masalah secara musiman yang dapat melemahkan
kegiatan bisnis udang.. Meskipun mengalami peningkatan dalam produksinya, Indonesia
memiliki kendala dalam agribisnis udang diantaranya:

a. Masalah sosial - terutama keamanan dan gejolak sosial,


b. Finansial - terbatasnya modal usaha khususnya bagi para petambak kecil dan
investasi dari luar negeri
c. Belum diketahuinya sumber antibiotik secara pasti dalam pakan, perlakuan di
kolam/tambak atau di tempat pengolahan
d. Survival rate yang belum konsisten karena wabah white spot
e. Rencana pemberlakuan anti-dumping oleh Amerika Serikat
f. Isu antibiotik. Inovasi yang dilakukan dalam produksi meliputi penggunaan
probiotik sebagai pengganti antibiotik, penggunaan "absorptive" mineral,
sterilisasi lapisan kolam, penggunaan bio-filters dan adaptasi dalam "waste water
treatment" serta water blending dan sterilisasi.
g. Harga udang di pasar internasional yang sulit diramalkan

Manajemen Agribisnis “Karet” 26


Sementara itu,Ketua Umum Shrimp Club Indonesia Iwan Sutanto mengakui
meski ekspor udang dari Indonesia telah ditolak beberapa kali oleh Negara Eropa dan
Jepang akibat mengandung antibiotic melebihi ambang batas,namun pemerintah belum
mengambil tindakan. Sampai kini pemerintah belum melakukan pembinaan dan
mentoring kepada petani udang agar tidak menggunakan antibiotic dan beberapa hal
lainnya sesuai standarisasi yang diterapkan Eropa sejak 2004.
Kelemahan produsen produk pertanian khususnya petani adalah kurang sadarnya
terhadap mutu, sehingga nilai produk agribisnis yang kini menjadi andalan kurang
maksimal

Opportunities
Peluang pengembangan udang diperkirakan akan terus membaik seiring dengan
meningkatnya permintaan udang dipasaran internasional, baik disebabkan karena laju
pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan maupun pergeseran pola
konsumsi,kebutuhan manusia akan makanan sehat (healthy food) serta rasa ketidak
amanan manusia untuk mengkonsumsi daging ternak
Disisi lain peluang pasar udang masih terbuka luas baik di dalam maupun di luar
negeri. Untuk pasar lokal, permintaan datang terutama dari wilayah yang banyak
dikunjungi turis seperti Bali, Jakarta, Batam, dan Surabaya.
Sementara pasar udang di luar negeri telah terbentuk diJepang, Korea, Singapura,
Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Belanda, Australia dengan pasokan utama datang dari
Thailand,Cina, dan India, untuk itu akan sangat memungkinkan bagi Indonesia untuk
terjun kedalam pasar udang yang telah terbentuk di Negara-negara konsumsi udang
tersebut..

Threath
Perdagangan ekspor komoditi perikanan cenderung semakin kompetitif.
Disamping itu, ekspor komoditi perikanan juga dihadapkan pada berbagai hambatan
tarif, food safety, issu lingkungan dan lain-lain. Sedangkan hambatan lainnya berkaitan
dengan persyaratan mutu dan sanitasi dan gencarnya kampanye anti udang tambak oleh
GAA (Global Aquaculture Alliance) dengan anggapan merusak hutan bakau dan
kelestarian lingkungan. Untuk itu produksi perikanan budidaya perlu menerapkan
system jaminan mutu/food safety (HACCP) yang diwajibkan oleh CAC/FAO/WHO
(Codex Alimentarius Commission) dan negara-negara importir. Disamping itu setiap
pembuat tambak udang selalu mengikuti kaidah-kaidah AMDAL.
Selain itu Sedikitnya 300.000 ton udang ekspor asal Indonesia terancam ditolak
Negara tujuan yakni Amerika Serikat dan Uni Eropa,karena tidak memenuhi standar
kualitas internasional. Hal ini lah yang menjadi ancaman tersendiri pada agribisnis udang
yang terjadi di indonesia.

Segmentasi Pasar.
Proses melayani pasar secara lebih terarah diawali dengan melakukan segmentasi
pasar, menurut Handito, ada beberapa cara dalam menentukan segmentasi pasar dalam
pemasaran udang di Indonesia, faktor-faktor tersebut meliputi:
 Berdasarkan faktor demografi atau kependudukan, seperti usia, jenis kelamin,
tingkat pendidikan, status perkawinan, dan jumlah anggota keluarga.
 Berdasarkan faktor geografi atau tempat tinggal konsumen.
 Berdasarkan faktor psikografi atau reaksi konsumen terhadap perubahan pasar,
seperti perubahan kualitas atau harga.
 Berdasarkan perilaku konsumen.

8. Bauran Pemasaran

Bauran pemasaran udang yang terjadi di indonesia terdiri atas:


1) Produk (product).

Manajemen Agribisnis “Karet” 27


Udang di indonesia memiliki banyak potensi untuk dipasarkan, baik itu di pasar
dalam negeri maupun untuk dipasar kan ke luar negeri. Walupun pada saat ini
sedang marak kasus antibiotic pada udang, tetapi udang Indonesia masih mampu
bersaing di pentas ekspor dunia.
2) Harga (price).
Walaupun volume udang yang dipasok di indonesia terus meningkat, sementara
penambahan konsumsi udang dunia cenderung tetap, sehingga harga udang
cenderung turun. Maka perlunya dilakukan penentuan harga yang tetap menurut
standarisasi internasional agar harga udang di dunia cendrung stabil.
3) Distribusi (place).
Indonesia bersama dengan negara-negara produsen udang di ASEAN yang
tergabung dalam ASEAN Shrimp Alliance (ASA) bersepakat untuk meningkatkan
daya saing dan mempertahankan diri sebagai produsen mayoritas udang dunia.
”Negara ASEAN sepakat untuk bersama-sama memperluas pasar udang sehingga
mendorong nilai ekspor,” Achmad Poernomo.
Hal ini tentunya sangat menguntungkan bagi Negara-negara produsen udang,
khususnya Indonesia, karena Pendistribusian udang ke pasar dunia tidak lagi
melalui saluran yang cukup panjang dan komplek dan menyulitkan.
4) promosi (promotion).
Produksi udang Indonesia sampai saat ini masih tetap diorientasikan ke pasar
internasional, dengan negara-negara tujuan ekspor Jepang, USA, dan uni eropa.
Namun akhir-akhir ini volume ekspor udang Indonesia mengalami penurunan.
Turunnya ekspor udang Indonesia tersebut dapat diakibatkan oleh turunnya
penawaran udang domestik dan juga turunnya ekspor udang Indonesia ke
Negara-negara tujuan ekspor utama. Turunnya volume ekspor udang domestik ini
dimungkinkan akibat pengaruh eksternal seperti turunnya harga udang dunia
ataupun pengaruh internal di Indonesia akibat dari kebijakan makro ekonomi
Indonesia yang kurang mendukung, seperti tingkat bunga yang selalu meningkat.
Maka dari itu perlunya bauran pemasaran khususnya untuk promosi, dimana
tingkat konsumsi udang Indonesia untuk Negara-negara seperti Jepang, USA dan
lain-lain masih memiliki daya tampung yang besar dan Konsumsi udang rata-rata
di negara maju masih sangat rendah sehingga perlu langkah-langkah untuk
menggalakkan promosi, walaupun dalam beberapa tahun ini masih marak kasus
anti dumping serta pemakaian antibiotic yang berlebihan pada udang, namun
Indonesia tidak terkana dampak dampak yang signifikan, maka dari itu perlu
dilakukan promosi besar-besaran untuk udang Indonesia yang tidak memakai
antibiotic serta mempunyai size dan kualitas udang yang dapat diunggulkan
dipasaran dunia bahkan domestic sekalipun.

9. Potensi Ekspor Komoditi

Potensi ekspor yang sangat besar menjadikan peluang yang besar dalam
pengembangan budidaya udang di Indonesia. Namun demikian, tantangan yang dihadapi
dalam pengembangan budidaya udang ini juga tidak kalah besarnya. Hal ini menuntut
upaya berbagai pihak, baik Pemerintah, Pembudidaya, Swasta maupun Stakeholder
lainnya untuk bersama-sama menanggulangi tantangan tersebut, agar potensi ekspor
udang yang sangat besar tersebut tidak hanya menjadi peluang, tetapi secara nyata dapat
dimanfaatkan dan dikelola secara baik untuk meningkatkan konstribusinya dalam
pembangunan nasional.
Ditetapkannya udang salah satu komoditas yang harus ditingkatkan produksinya
cukup beralasan,karena udang merupakan primadona ekspor hasil perikanan Indonesia
yang budi dayanya telah terbukti memiliki backward dan forward lingkage yang cukup
luas bagi aktivitas ekonomi masyarakat. Menurutnya aktivitas usaha budi daya udang di
beberapa sentra produksi beberapa tahun terakhir ini,telah membawa dampak yang cukup
signifikan bagi menurunnya pertumbuhan ekonomi masyarakat di beberap kawasan
budidaya tersebut. Sebagai komoditas ekspor,udang masih memperlihatkan penampilan
yang mengembirakan.

Manajemen Agribisnis “Karet” 28


Tabel 1. Sepuluh Besar Negara Tujuan Ekspor Udang Indonesia sejak Tahun 2000
Volume Ekspor
No. Negara
(Ton)
1 Jepang 54.064
2 Amerika Serikat 16.216
3 Hongkong 7.164
4 Belanda 6.900
5 Singapura 6.572
6 Malaysia 5.236
7 Inggris 4.218
8 Taiwan 2.623
9 RRC 2.223
10 Belgia & Luxemburg 2.011
Sumber : Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
Departemen Kelautan & Perikanan,

Dalam program ekspor hasil perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan


menetapkan target ekspor udang sebesar USD 6,78 milyar. Untuk mencapai target nilai
ekspor tersebut, produksi udang harus mencapai 6,06 juta ton dimana 1,11 juta ton
(18,3%) dari perikanan budidaya yaitu hasil perikanan yang tidak diperoleh dari
penangkapan. Untuk memenuhi target tersebut, udang mempunyai potensi untuk
dijadikan komoditi ekspor karena perdagangan udang telah meluas di dunia, harganya
cukup tinggi dan permintaannya dari tahun ke tahun diperkirakan semakin meningkat.

Pesaing Pasar Ekspor.


Sebetulnya kalangan petambak udang sangat sadar bahwa Indonesia bukan satu-
satunya negara pembudidaya udang di dunia. Banyak negara yang menggiatkan usaha
tersebut, seperti Thailand, Filipina, China, India, Vietnam, Brasil, Ekuador, dan Meksiko.
Bahkan, negara-negara itu mengembangkan sistem teknologi canggih sehingga volume
produksi pun tinggi. Di Thailand, misalnya, produksi udang tiap tahun rata-rata enam ton
per hektar.
Maka dari itu saat ini telah ada 50 negara penghasil udang di dunia antara lain
Negara produsen terbesar adalah China, Thailand, Vietnam, dan Ekuador. Mereka
pesaing utama Indonesia. Dalam jumlah yang relative kecil,komoditi ini juga diproduksi
di India, Costa Rika, Brazil, dan Malaysia, Banglades, Taiwan.

10. Atribut Kualitas Komoditi.

Sejak tahun 2004 lalu,Uni Eropa mulai menerapkan standarisasi kualitas udang
yang ketat. Diantaranya harus bebas dari antibiotic atau zat chlorampenicol,sehingga
udang yang diketahui mengandung antibiotic akan ditolak Negara tujuan ekspor. Selain
bebas dari antibiotic,masalah dampak kerusakan lingkungan dan kesinambungan
produksi juga harus memenuhi standar yang ditetapkan UE. Sayangnya,menurut Iwan,
meski peraturan UE itu sudah dikeluarkan sejak tahun 2004,namun hingga saat ini aturan
tersebut kurang disosialisasikan ke para pengusaha udang Indonesia, khususnya yang
tetgabung dalam SCI. Untuk menerapkan pembudidayaan udang seperti yang
dipersyaratkan UE tidaklah mudah. Butuh dukungan dan kerja sama dari semua pihak.
Dari semua persyaratan yang diminta, yang paling berat untuk dilakukan adalah
mengenai lingkungan dan HAM pekerja. Termasuk mengenai tempat tinggal pekerja dan
pembuangan limbahnya. Sedangkan untuk kandungan antibiotic dapat diatasi dengan
tidak menggunakan bahan antibiotic dalam pembudidayaan.

11. Lembaga pembiayaan yang mendukung Agribisnis Udang di Indonesia.

Manajemen Agribisnis “Karet” 29


Keberhasilan maupun keterpurukan agribisnis Indonesia bukan merupakan karya
satu atau dua pihak/instansi saja, melainkan keseluruhan komponen penunjang ekonomi
bangsa, termasuk di dalamnya budaya (etos kerja, rasa kebersamaan/nasionalisme, dll).
Kebangkitan agribisnis terutama dalam menghadapi persaingan global baik di pasar
dalam negeri, terlebih lagi di pasar luar negeri, memerlukan kerjasama yang erat bahu-
membahu berbagai pihak yang menyatu dalam “Indonesia incorporated”. Konsep
Indonesia Incorporated merujuk pada keberpihakan berbagai pihak pada pihak-pihak
yang mendapatkan kesulitan atau ancaman serta tantangan persaingan bisnis dari luar
negeri. Artinya permasalahan di sektor agribisnis, misalnya, pemecahannya haruslah
mendapatkan dukungan dari sektor-sektor ekonomi lainnya. Misalnya adanya kuota atau
pelarangan masuk komoditas tertentu di suatu negara mungkin dapat diatasi dengan
mempertimbangkan impor komoditas lain dari negara tersebut.
Salah satu komponen penunjang ekonomi ini dari segi investasi agribisnis yang
mulai brkembang di Indonesia adalah Lembaga Pembiayaan Pembiayaan merupakan urat
nadi usaha. Pembiayaan diperlukan di semua sektor, baik hulu maupun hilir, mulai dari
produsen primer yang menyediakan input-input produksi seperti benih udang yang baik,
antibiotik hingga agroindustri di hilir beserta lembaga-lembaga distribusi.
Permasalahan umum yang dihadapi dalam kaitan dengan lembaga pembiayaan ini
adalah pagu kredit, agunan, suku bunga, proses yang rumit, dan berbagai persyaratan
formal lain yang menyertainya. Tanpa adanya terobosan sektor pembiayaan sulit bagi
pelaku agribisnis terutama petani kecil dan bisnis informal sulit berkembang. Salah satu
bantuan pembiayaan untuk pengembangan agribisnis udang di Indonesia adalah melalui
Pola kemitraan.
Pola kemitraan pada dasarnya merupakan bentuk kerjasama usaha yang saling
menguntungkan antara pemilik modal/perusahaan dengan beberapa individu/kelompok
dalam menjalankan suatu kegiatan tertentu yang bersifat ?profit oriented?. Pola kerja
sama tersebut lebih dikenal dengan istilah Perusahaan Inti Rakyat (PIR), dimana secara
garis kemitraan pemilik/perusahaan modal disebut dengan inti dan individu/kelompok
penerima bantuan modal disebut dengan plasma. Pola kemitraan ini merupakan salah satu
bentuk pengembangan wilayah melalui pembangunan ekonomi lokal yang berbasis pada
ekonomi kerakyatan yang pelaksanaannya lebih ditekankan pada pembangunan yang
berpihak pada rakyat. Bantuan yang diberikan lebih diarahkan pada penyaluran kredit
usaha dan kredit modal kerja yang dari pemerintah kepada individu/kelompok melalui
perusahaan dan cara pengembalianya melalui sistem bagi hasil yang diperoleh dari
keuntungan usaha yang dijalankan berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati
bersama.
Penerapan pola kemitraan didalam pengembangan tambak udang merupakan
salah satu wujud kebijakan pemerintah sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dengan memanfaatkan sumberdaya manusia dan alam (pesisir) serta financial
yang ada dan selaras dengan program ekonomi kerakyatan. Komponen yang bertindak
sebagai inti adalah perusahaan atau pengusaha yang kuat dalam permodalan, sedangkan
plasma terdiri dari kelompok petambak yang mempunyai kemampuan teknis budidaya
tetapi lemah/kurang dalam permodalan.
Bantuan yang diberikan oleh pihak inti berupa pemberian kredit yang didapat dari
pemerintah dengan pihak plasma sebagai agunan, sedangkan sistem pengembalian kredit
tersebut dilakukan melalui bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh plasma dari
kegiatan budidayanya. Kredit yang diberikan dari pihak inti meliputi kredit modal usaha
yang mencakup kepemilikan lahan tambak dan pemukiman beserta dengan fasilitas
penunjangnya, serta kredit modal kerja yang berupa permodalan yang diperlukan untuk
melaksanakan proses kegiatan budidaya (benur, saprodi, panen serta sarana penunjang
lainnya). Sistem perkreditan yang dilakukan tersebut dijalankan melalui kesepakatan
yang telah disetujui oleh pihak inti dan plasma yang dituangkan dalam surat perjanjian.
Faktor utama yang perlu diperhatikan adalah transparansi dalam melaksanakan
sistem perkreditan, terutama akuntabilitas perkembangan nilai kredit dari pihak plasma
berdasarkan periode budidaya. Pemberian informasi tersebut sangat diperlukan untuk
menjaga keharmonisan dan tidak menimbulkan krisis kepercayaan antara kedua belah

Manajemen Agribisnis “Karet” 30


pihak yang pada akhirnya dapat menimbulkan konflik dalam kegiatan pengembangan
tambak udang.
Selain sistem perkreditan tersebut diatas, konsep kerja sama pola kemitraan juga
membutuhkan suatu kesepakatan kerja antara pihak inti dengan plasma sebagai upaya
membentuk sistem kerja dalam menjalankan kegiatan budidaya di wilayah
pengembangan tambak udang. Secara garis besar dilihat dari struktural dan fungsional
antara inti dan plasma merupakan mitra (partner) kerja, sehingga memerlukan garis
pembatas yang jelas dalam mengatur hubungan kerja agar tidak terjadi ?overlapping?
mengenai hak dan kewajibannya masing-masing. Sistem kerja yang dimaksud biasanya
meliputi, antara lain :
1. Kualifikasi dan persyaratan.
2. Hak dan kewajiban
3. Hirarki struktural dan fungsional
4. Penghargaan dan sanksi
5. Pemutusan hubungan kemitraan
6. dsb

Sistem kerja diatas juga harus melalui kesepakatan bersama antara inti dan plasma
agar dalam kegiatan pengembangan tambak udang dengan pola kemitraan dapat berjalan
selaras/harmonis pada suasana yang kondusif yang sangat dibutuhkan dalam kelancaran
proses kegiatan budidaya.

Contoh kasus pembiayaan agribisnis udang di Indonesia :

 BRI Kucurkan Pembiayaan Kredit Kepada Petambak Udang


Fasilitas pinjaman yang akan diberikan kepada petambak udang secara signifikan
adalah sebagai modal untuk melakukan proses budidaya. Dalam hal ini pihak Bank
bertindak sebagai mitra perusahaan untuk menjembatani dalam proses pendanaan,
dimana BRI bersama-sama dengan Inti mempunyai tujuan yang sama, untuk dapat
mempercepat pertumbuhan kesejahteraan petambak. Disisi lain, keberadaan BRI sebagai
pihak ketiga juga akan mampu memberikan kontrol secara obyektif dalam penggunaan
dana tersebut guna menjamin produktifitas yang transparan bagi petambak udang.

 Bank Niaga Syariah (BNS)


Bank Niaga Syariah (BNS) bekerjasama dengan PT Central Proteinaprima Tbk
kembali menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 30 miliar kepada 210 petani tambak udang
binaan PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) di desa Bumi Dipasena Kecamatan Rawa Jitu
Timur, kabupaten Tulang Bawang, Lampung
BNS sebelumnya telah menyalurkan pembiayaan kepada 1.000 petani tambak
udang binaan PT Central Pertiwi Bahari (CPB) di desa Adiwarna, kecamatan Gedung
Meneng Kabupaten Tulang Bawang, Lampung dengan plafon kredit sebesar Rp 160
miliar, yang direalisasikan pada bulan Desember 2007. Pembiayaan ini digunakan untuk
kebutuhan produksi bagi para petani tambak udang.
Pembiayaan tersebut menggunakan pola channeling yakni petani tambak udang
bertindak sebagai debitor, dan akad syariah yang digunakan adalah Akad Murabahah
(jual beli) . Sedangkan dengan perusahaan inti (PT CPB dan PT AWS) yang bertindak
sebagai wakil dari BNS, untuk melakukan pengawasan, pembinaan dan mengkoordinir
seluruh petani tambak udang dalam membudidayakan udang secara teknis maupun non
teknis, menggunakan akad syariah yaitu akad wakalah.
PT Central Proteinprima Tbk memiliki fokus usaha pada bidang pembibitan
udang, produksi pakan udang, tambak udang dan pengelolaan hasil budidaya udang.
Adapun luas areal tanah yang dimiliki PT CPB dan PT AWS adalah sekitar 41.250 ha.
Sementara kedua inti tersebut di atas memiliki hampir 18.000 lebih tambak udang.

Manajemen Agribisnis “Karet” 31


Dengan luas tanah dan jumlah tambak yang besar tersebut, merupakan potensi yang besar
bagi BNS untuk membantu pengembangan bisnis ini dari sisi pembiayaan.

KESIMPULAN

Udang indonesia merupakan penghasil devisa negara yang cukup besar dari sektor
non migas, maka dari itu pengembangan produktivitas udang seharusnya mengalami
peningkatan yang signifikan, apalagi ditinjau dari segi konsumsi dunia, tingkat konsumsi
udang selalu meningkat setiap tahunnya.
Hal ini seharusnya menjadi motivator untuk pemerintah agar mampu mensuport
kegiatan-kegiatan dalam produktivitas udang di indonesia, dimana peran aktif dari
pemerintah sangat dibutuhkan saat ini guna pencapaian mutu, saize, kualitas serta
kuantitas udang agar udang indonesia mampu bersaing dengan udang dari negara-negara
produsen lainnya.
Dilihat dari segi pembiayaan pemerintah dan pihak-pihak swasta telah
memberikan solusi bagi petambak udang yang terkendala dalam finansial untuk

Manajemen Agribisnis “Karet” 32


pengembangan budidaya udang dengan memberi bantuan-bantuan berupa bantuan
keuangan dan pengadaan alat-alat pembudidayaan.

DAFTAR PUSTAKA

ANONIM 2005 ; Revitalisasi Budidaya Udang. Koswara, Prof. Dr. Bachrulhajat,


Jakarta.

Balai Pengembangan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan, 1999. Monitoring Sanitasi
Kekerangan. BPPMHP, Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta.
 
Direktorat Jenderal Perikanan, 1995. Promosi Peluang Usaha Di Bidang Perikanan.
Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.
 
Direktorat Jenderal Perikanan, 2000. Statistik Produksi Perikanan Indonesia tahun 1998.
Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.
 
Direktorat Jenderal Perikanan, 2000. Statistik Ekspor Perikanan Indonesia tahun 1998.
Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.

Manajemen Agribisnis “Karet” 33


Wibowo, Ir.Sigit. Pemeliharaan Udang di Air Tawar,1986;PT. Waca Utama
Pramesti,Jakarta.

Mudjiman L., Budidaya Udang Windu, 1987; Penebar Swadaya, Jakarta.

Webside : http/:www.google.com

Laporan Dirjen. PK2P kepada Menteri Dep. KP, tgl 24 Des 2003

[ LAPORAN SIDANG GLOBAL SHRIMP-2003.doc ]

www.korantempo.com/news/2004/9/9/Ekonomi%20dan%20Bisnis/19.html - 22k -

www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2006/02/10/brk,20060210-73738,id.html - 29k

www.sinarharapan.co.id/berita/0608/23/ipt02.html - 25k

www2.kompas.com/kompas-cetak/0406/07/ekonomi/1062187.htm - 47k –

www.adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=jiptunair-gdl-res-1999-irawan2c-324-
cytisine&PHPSESSID=dd2cc1da310... - 24k

Manajemen Agribisnis “Karet” 34


Komoditi Pisang

DOSEN PENGASUH :
DR. Johanes, SE, M.Si
Novita Sari, SE

Kelompok III
1. Ahmad Taufik Ridho (C1B006017)
2. M. Afiq Susanto (C1B006019)
3. Villya Novariza (C1B006027)
4. Vutty Cindrageni (C1B006011)

JURUSAN Manajemen
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JAMBI
2008

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI .................................................................................................... 1

BAB I. PENDAHULUAN

Manajemen Agribisnis “Karet” 35


1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 2

1.2 Tujuan Penulisan ................................................................................... 2

1.3 Manfaat Penulisan ................................................................................. 2

BAB II. ISI

2.I Pentingnya Pengamatan Mulai Dari Produksi dan Konsumsi ............... 3

2.2 Prospek Buah Pisang Dari Sisi Permintaan .......................................... 4

2.3 Permasalahan Buah Pisang Dari Segi Agribisnis ................................. 5

2.4 Subsistem Agribisnis Buah Pisang ....................................................... 6

2.5 Subsistem Yang Paling Berperan .......................................................... 11

2.6 Pengembangan Agribisnis .................................................................... 11

2.7 Pengembangan Komoditi Agribisnis Berdasarkan Bauran Pemasaran. 15

2.8 Potensi Ekspor Komoditi Pisang dan Saingannya Dipasar Ekspor ...... 17

2.9 Atribut Kualitas Komoditi Pisang ......................................................... 18

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 19

3.2 Saran ..................................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA

Manajemen Agribisnis “Karet” 36


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pisang mempunyai nama latin “Musa Paradisiaca“. Nama musa diambil dari
nama seorang dokter kaisar Romawi Octavianus Augustus yang bernama “Antonius
Musa”. Sesuai dengan kemajuan tekhnologi, budidaya pisang pun mengalami kemajuan
pesat. Budidaya buah pisang saat ini tidak hanya dilakukan sambil lalu, tetapi telah
dilakukan secara intensif, terutama pisang untuk keperluan eksport.
Pada masyarakat Asia Tenggara, diduga buah pisang telah lama dimanfaatkan.
Masyarakat di daerah itu, saat berkebudayaan pengumpul (food gathering), telah
menggunakan tunas dan pelepah buah pisang sebagai bagian dari sayur. Bagian-bagian
lain dari tanaman pisang pun telah dimanfaatkan seperti saat ini. Pada saat kebudayaan
pertanian menetap dimulai, buah pisang termasuk tanaman pertama yang dipelihara.
Maka dari itu, ahli sejarah dan botani mengambil kesimpulan bahwa asal mula
tanaman pisang adalah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.India merupakan negara yang
memiliki tulisan pertama tentang budidaya pisang,disebutkan bahwa pemeliharaan itu
dilakukan di Epics: Pali Boeddhist,500-600 SM,yang menyebutkan bahwa “buah sebesar
taring”itu memeng disukai oleh binatang-binatang bertaring dan bertanduk.Di China,awal
kebudayaan pisang dimulai dan terpusat di Yangtze dan sungai kuning. Tanaman pisang
juga berkembang Amerika Selatan dan Tengah berasal dari Afrika Barat sekitar tahun
1500, yang akhirnya menyebar ke seluruh daratan Amerika.
.Buah pisang juga banyak memberikan manfaat untuk berbagai keperluan hidup
manusia. Selain buahnya, bagian tanaman lainpun bisa dimanfaatkan, mulai dari bonggol
sampai daun. Buah pisang selain dalam bentuk segar, dapat juga diolah menjadi makanan
olahan, seperti: sale pisang, keripik pisang, dan lain-lain.

1.2. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini agar pembaca mengetahui bahwa tanaman pisang
merupakan tanaman serba guna, mulai dari bagian bawah (bonggol) sampai bagian atas
(bunga pisang) dapat dimanfaatkan serta mengetahui nilai ekonomis yang dihasilkan dari
buah pisang. Selain itu, pisang yang berkualitas juga mempunyai potensi dan prospek
usaha yang cukup besar dalam peluang dan konsumsinya agar dapat bersaing dengan
buah-buahan lainnya sehingga dapat meningkatkan nilai ekspor buah pisang dipasar
global.
Dan tujuan lain dari makalah ini adalah untuk mengajak dan menghimbau
masyarakat untuk memulai mananam pisang agar bisa membantu perekonomian
keluarga, untuk mengajarkan tahapan apa saja yang harus dilakukan masyarakat jika
ingin menanam pisang.

1.2.2 Manfaat
Adapun Manfaat makalah ini adalah :
1. Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti dan menyelesaikan Mata kuliah
Manajemen Agribisnis (MAG173)
2. Sebagai bahan masukan berupa informasi yang jelas bagi pihak – pihak yang
berkepentingan.

BAB II

Manajemen Agribisnis “Karet” 37


ISI

2.1. Pentingnya Pengamatan Mulai Dari Produksi dan Konsumsi


2.1.1. Pentingnya Pengamatan Produksi.
Kegiatan produksi perlu diamati guna untuk mengetahui apakah produk yang
dihasilkan memenuhi standar yang diinginkan oleh perusahaan sebagaimana yang
diminati konsumen. Pengamatan produksi dilakukan pada seluruh aspek kegiatan yang
berkaitan dengan produksi, yang meliputi :

a. Kegiatan proses produksi atau operasi.


Pengamatan kegiatan-kegiatan produksi komoditi pisang mulai dari pengadaan
bibit, teknologi budidaya, teknologi pascapanen dan pengolahan hasil, sampai
pemasaran produk-produknya. Dengan demikian untuk waktu-waktu mendatang
upaya pengembangan agribisnis ini masih tetap merupakan salah satu kunci utama
dalam pengem bangan komoditi pisang .
b. Kualitas produk yang dihasilkan.
Apakah telah sesuai dengan standar mutu dunia yaitu merupakan faktor yang
menentukan dalam tercapainya jaminan mutu untuk setiap produk, bisa dilihat dari
keamanan, keselamatan, dan kesehatan bagi konsumen.Standar buah pisang mengacu
pada SNI-01-4229-1996.Untuk mengetahui dan mencapai syarat mutu pisang harus
melakukan pengujian yang meliputi ; Penentuan keseragaman kultivar,Penetuan
keseragaman ukuran buah,Penentuan tingkat ketuaan,Penentuan tingkat kerusakan
fisik/mekanis,dan Penentuan kadar kotoran.
c. Biaya produksi yang dikeluarkan.
Pengamatan ini mencakup antara lain : harga pisang per sisir, penjualan,laba
operasional,rasio untung/rugi,dan biaya operasional lainnya.
d. Tenaga kerja.
Tenaga kerja yang melakukan kegiatan produksi haruslah diberikan pengetahuan
yang luas tentang wawasan pembudidayaan yang semakin canggih, agar proses
produksi dapat berjalan dengan baik yang akan berimbas pada peningkatan hasil
produksi.Maka dari itu pelaksanaan pelatihan-pelatihan kepada para petani lebih
ditingkatkan lagi. Petani dan teknisi yang berpartisipasi dalam pelatihan memiliki
peluang untuk praktek teknologi baru dengan pengarahan dari konsultan. Teknologi
yang diperagakan sebaiknya mencakup hal yang mudah diterapkan dalam budaya
setempat, dan sebagian besar tidak memerlukan investasi tambahan dan
menggunakan material yang ada. Hasil analisis tentang hubungan antara faktor
produksi lahan, tenaga kerja, dan pupuk organik usahatani pisang berpengaruh positip
terhadap hasil produksi.
e. Perkiraan produksi.
Belum ada standar produksi buah pisang di Indonesia, disentra buah pisang dunia
produksi 28 ton/ha/tahun hanya ekonomis untuk perkebunan skala rumah tangga.
Untuk perkebunan kecil (10-30 ha) dan perkebunan besar (>30 ha), produksi yang
ekonomis harus mencapai sedikitnya 46 ton/ha/tahun.

2.1.2. Pentingnya Pengamatan Konsumsi.


Pengamatan konsumsi dilakukan guna mengetahui apakah buah pisang yang
diolah dan diproses menjadi berbagai macam produk yang dihasilkan seperti makanan
memiliki nilai ekonomis dan kualitas produknya memiliki standar yang dapat diterima
dan disukai oleh konsumen untuk dikonsumsi menjadi makanan yang enak disantap.
Tetapi di Indonesia, hampir semua masyarakat baik dari golongan bawah sampai
atas mengkonsumsi buah pisang, karena pisang selain rasanya enak, kandungan gizinya
tinggi, mudah didapat, dan harganya relatif murah. Dengan berkembangnya buah pisang
di Indonesia, diharapkan akan meningkatkan konsumsi dan eksport buah pisang baik
untuk segar maupun olahan, sehingga produksi buah pisang ditargetkan sekitar
11.226.000 ton pada tahun 2025 nanti.
Meningkatnya jumlah penduduk dan tingkat kesadaran masyarakat untuk
mengkonsumsi buah-buahan diharapkan dapat meningkatkan konsumsi buah pisang

Manajemen Agribisnis “Karet” 38


secara nasional, sehingga kebutuhan buah pisang akan terus meningkat. Dengan
berkembangnya pisang di Indonesia, diharapkan akan meningkatkan konsumsi dan
ekspor buah pisang baik untuk segar maupun olahan.
Apabila kita tinjau tentunya untuk konsumsi buah pisang itu sendiri cukup besar
peluang dan daya belinya. Dari total produksi buah pisang dunia, diantara jenis buah
pisang yang paling banyak dikonsumsi adalah dari jenis cavendish. Hal ini dilihat dalam
konsumsi domestik pasar buah pisang cukup besar didalam negeri. Dimana hasil olahan
pisang tersebut dapat dijual ke konsumen baik dipasar tradisional supermarket dan
pedagang besar yang membutuhkan buah ini untuk peluang bisnis.

2.2. Prospek Buah Pisang Dari Sisi Permintaan


Permintaan akan komoditi buah pisang dunia memang sangat besar, terutama
jenis pisang cavendish yang meliputi 80% dari permintaan total dunia. Hal ini
menunjukkan bahwa pisang memang komoditas perdagangan yang sangat tidak mungkin
diabaikan. Relatif besarnya volume produksi nasional dan luas panen dibandingkan
dengan komoditas buah lainnya, menjadikan buah pisang merupakan tanaman unggulan
di Indonesia.
Pengembangan pisang berskala kebun rakyat dan besar akan membuka peluang
agribisnis hulu, seperti industri perbenihan dan industri peralatan mekanisasi pertanian,
yang tentunya akan membuka kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Selain sebagai
buah yang dimakan segar, pisang juga dapat diolah baik untuk skala rumah tangga seperti
keripik, getuk dan sale, maupun industri berskala besar seperti tepung, puree dan jam,
yang dapat merangsang tumbuhnya agribisnis hilir. Agribisnis hilir akan berkembang
dengan cara memberdayakan industri pengolahan skala keluarga (home industry) dan
menengah maupun skala besar (investor dalam dan luar negeri).
Permintaan pisang untuk industri pengolahan skala rumah tangga (10-50 kg/hari),
skala UKM kripik (100-120 kg/hari), sale (1,5-2 ton/bln), ledre (70-120 kg/hari), puree
(300-500 kg/h) dan tepung (700-1000 kg/minggu). Skala besar, membutuhkan kapasitas
+ 10-12 ton pisang segar/hari.
Konsumsi pisang per orang telah mengalami peningkatan yang mencolok
dibanding apel dan satsuma mandarin (jeruk) atau Citrus reticulate yang telah menurun.
Hasil kajian ekonomi di Jepang menunjukan bahwa permintaan apel melemah disebabkan
permintaan pisang meningkat dari 4,4 kg pada tahun 1993-1994 menjadi 5,6 kg pada
tahun 2003-2004. Peningkatan konsumsi ini diduga karena harga pisang menurun.
Permintaan terhadap pisang telah meningkat secara signifikan pada beberapa
tahun terakhir di daerah perkotaan di negara ini, menjadikan perkebunan pisang intensif
menarik bagi petani setempat. Pembeli/distributor utama aktif mencari cara untuk
meningkatkan pasokan dari berbagai daerah produksi. Pada khususnya, perusahan ini
memiliki kebutuhan untuk menkonsolidasikan pasokan pisang mas dan pisang Barangan,
pisang yang langka dan hanya terdapat di daerah Medan, sebagai bagian dari produk
yang ditawarkan ke pasar setempat dan rantai supermarket di seluruh daerah.
Oleh karena itu, kebutuhan terhadap buah-buahan terutama buah pisang segar
menjadi kebutuhan primer. Selain itu manfaat dan kandungan gizinya dapat memacu
permintaan buah pisang yang terus meningkat. Hal semua diatas dapat memperbesar
peluang agribisnis buah pisang sehingga prospek buah pisang untuk pasar dunia dapat
terus meningkat.

2.3. Permasalahan Buah Pisang Dari Segi Agribisnis


Kendala utama yang kini dihadapi dibeberapa sentra produksi buah pisang dalam
10 tahun terakhir ini adalah serangan layu Fusarium dan bakteri yang mengakibatkan
kerusakan cukup luas dan sulit ditanggulangi. Kemampuan untuk mengendalikan layu
pisang masih terbatas, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun kemampuan
finansial. Apabila kita asumsikan bahwa tanaman yang terserang tersebut akan rusak dan
mengakibatkan gagal panen, mutu serta penampilan luar buah pisang yang kurang
menarik, maka secara finansial/perhitungan ekonomi, petani akan menderita kerugian
sebesar ± 18 milyar rupiah (estimasi harga pisang Rp. 10.000,- per tandan). Selain itu,
pisang yang bermutu rendah akan mengakibatkan kelesuan pada eksport buah pisang

Manajemen Agribisnis “Karet” 39


yang seharusnya tidak terjadi, apabila segala syarat pembudidayaan buah pisang
dilakukan secara intensif dengan tekhnologi yang maju. Hal ini tentu saja akan
berpengaruh pada meningkatnya harga jual buah pisang dipasar.
Adapun kendala-kendala lainnya yang pernah terjadi adalah sbb :
a. Tingginya penyakit Sigatoka Hitam yang menyebabkan daun yang rendah pada
saat panen (kurang dari 6 per pohon) dan mengakibatkan kurangnya potensi
produksi sebesar 30% karena berat tandan yang berkurang. Penyakit ini juga
mengakibatkan matangnya pisang terlalu dini sehingga buah beresiko saat
dikirimkan ke pasar yang jaraknya jauh.
b. Kepadatan populasi yang rendah dan manajemen populasi pohon yang kurang
c. Kerusakan buah yang parah karena karat.
d. Tingkat tunas yang rendah – hanya sedikit anak tunas akar dari pohon induk, dan
pemilihan tunas yang kurang baik.
e. Insiden doble dan triple yang tinggi – pemangkasan tidak diterapkan untuk urutan
produksi induk – anak - cucu.
f. Ukuran tandan yang kecil (jumlah sisir sedikit dengan berat rendah) sebagai
akibat rendahnya jumlah pupuk yang digunakan.
g. Perlindungan buah tidak diterapkan (bakal buah tidak dipindahkan, tandan palsu
tidak dipotong, tidak ada pemangkasan sisir, bunga, dan daun dan pembersihan
tandan untuk melindungi buah dari kerusakan akibat gesekan dengan daun dan
agen mekanik lainnya).
h. Tidak ada sistem pengendalian umur/mutu untuk panen. Panen menggunakan
tanda visual seperti padatnya buah.
i. Praktek pertanian yang baik dan standar sanitasi dan fito sanitasi kurang
memadai.
j. Beberapa lahan produksi terletak di bukit yang curam.
k. Kurangnya irigasi dan system drainase.
l. Akses terbatas terhadap input, materi, alat, peralatan yang diperlukan untuk
produksi dan pasca panen. Kurangnya alat lapangan untuk pemangkasan,
pengurangan daun, panen, dsb merupakan hal yang kronis dan hambatan utama.
m. Insiden gesekan dan luka yang tinggi karenya kurangnya penanganan yang
berorientasi pada perlindungan buah setelah panen. Tandan dipindahkan dari
lapangan dengan tangan dan dikirimkan ke pusat pengumpulan dan distribusi
melalui berbagai jenis kendaraan tanpa danya perlindungan.
n. Kendala dalam penyediaan bibit dengan skala komersial seperti ketersediaan bibit
unggul klonal yang seragam dalam jumlah banyak dan dapat tersedia dalam
waktu yang relatif singkat.

2.4. Subsistem Agribisnis Buah Pisang


2.4.1. Farming System ( system perkebunan ).
Selama ini buah pisang hanya ditanam di pekarangan sebagai tanaman campuran
dengan tanaman pangan atau perkebunan,maupun dengan pola tumpang sari,serta dilahan
tegalan.Sentra produksinya tersebar dengan kepemilikan lahan yang kecil.Pertanaman
pisang rakyat tersebut tidak pernah tersentuh tekhnologi,dibiarkan tumbuh dan
berkembang sesuai alam sekitarnya.Oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang
farming system yang baik untuk penanaman buah pisang,sebagaai berikut :

A. Pemilihan bibit/benih .
Kualitas benih berperan besar dalam keberhasilan budidaya pisang. Sifat unggul
benih pisang akan terekpresi pada penampilan buahnya.  Keunggulan tersebut
menyangkut rasa manis,  produkasi tinggi.  Benih yang baik berasal dari perbanyakan
vegetatif  : kultur jaringan, biasanya tumbuh seragam tetapi cukup mahal. Memilih
varietas seyogyanya berdasarkan pada varietas yang mempunyai nilai pasar dan
berpeluang dimasa depan yang baik. Varietas pisang  yang banyak diminati antara lain
adalah Cavendish,ambon kuning dan pisang mas.
           Untuk memperoleh benih yang baik dalam jumlah banyak dapat dilakukan secara
mandiri oleh petani atau  memesan benih bersertifikat dan bila perlu mengetahui sejarah

Manajemen Agribisnis “Karet” 40


benih yang akan dibeli. Hal ini dapat dipenuhi tentunya melalui penangkar yang
terpercaya.
1. Bibit anakan .
Tanaman pisang selalu diperbanyak secara vegetatif dengan memakai anakan
( sucker ) yang tumbuh dari bonggolnya .Ada 4 jenis anakan pisang ,yaitu :
 Bibit tunas anakan yaitu berupa tunas yang belum berdaun sehingga menyerupai
rebung.
 Bibit anakan yaitu tunas yang daunnya telah keluar tetapi masih menggulung.
 Bibit anakan sedang yaitu dengan tinggi antara 101-150cm.
 Bibit anakan dewasa yaitu berupa tunas yang berdaun mekar lebih dari 2
helai,tingginya antara 151-175cm.
Diantara bibit anakan,bibit anakan dewasa biasanya paling cepat menghasilkan
buah.Bibit anakan tunas jarang jarang dipergunakan sebagai bibit sebab pertumbuhannya
lambat serta peka terhadap kekeringan dan ulat penggerek batang pisang.
2. Bibit bit .
Bibit juga bisa diperoleh dari bonggol tanaman pisang .Belahan bonggol ini
disebut bit.Pembibitan ini mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut :
 Dalam waktu singkat bisa didapatkan bibit yang seragam dalam jumlah
banyak,sehingga cocok untuk gerakan penghijauan dan perluasan areal baru .
 Mudah pengiriman dan biayanya lebih murah .
 Dapat memanfaatkan bonggol sisa tebangan.
 Umur panennya lebih pendek dibandingkan cara pembibitan lainnya
 Produksinya lebih tinggi .
3. Melalui technology kultur jaringan
Yaitu merupakan suatu tekhnik perbanyakan klonal dalam kondisi aseptic secara
cepat. Bibit pisang hendaklah dipilih dari rumpun yang baik dan sehat ,dapat diperoleh
dari membeli/disediakan sendiri dengan sanitasi bibiy yang baik.
B. Pengolahan Media Tanam.
Pemilihan lahan harus memperhatikan aspek iklim ,dimana aspek iklim yang
cocok untuk komoditi pisang yaitu iklim basah ( lembab ),dengan curah hujan merata
sepanjang tahun.Hal ini dikarenakan pisang merupakan tanaman dataran rendah didaerah
tropic.Aspek-aspek lain yang harus diperhatikan yaitu prasarana ekonomi dan letak
pasar,keamanan dan social.Kemudian dibuat sengkedan dengan lebar target kemiringan
lahan.Tumpang sari dengan tanaman lain dapat dilakukan dengan baik.
C. Tekhnik Penanaman.
Pembuatan lubang tanam dilaksanakan 1-3 bulan sebelumnya.Dengan ukuran
lubang disesuaikan dengan tanah berat atau tanah gembur biasanya dengan ukuran
60cmx60cmx60cm,dan jarak tanam sekitar 3,3cm.Penanaman yang baik dilakukan pada
awal musim penghujan.Tanaman ysng diberi pupuk kandang/kompos akan sangat
berpengaruh terhadap kualitas rasa buah.

2.4.2. Processing.
Pada dasarnya,pengolahan komoditi pisang tidak hanya mengolah daging
buahnya saja,tetapi segala unsure yang terdapat pada tanaman pisang dapat diolah dan
dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.Seperti :
 Kulit pisang.
Bisa diolah menjadi selai kulit pisang,anggur kulit pisang.Kulit pisang dari jenis
pisang raja dan ambon dapat diolah menjadi bahan baku minuman anggur.Lebih
dari itu kulit pisang juga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan nata de
banana,yaitu produk makanan yang terbentuk dari kumpulan biomassa yang
terdiri dari selulosa dan memiliki penampilan seperti agar-agar warna putih
seperti nata de coco.
 Daun Pisang.
Daun yang tua yang sudah robek bisa untuk pakan ternak karena banyak
mengandung unsure yang diperlukan oleh tubuh hewan.
 Jantung Pisang.

Manajemen Agribisnis “Karet” 41


Untuk makanan lauk pauk ( dendeng jantung pisang ).
 Bonggol Pisang (Batang pisang bagian bawah ).
Bisa diolah menjadi keripik bonggol pisang,urap,lalapan,bisa juga dijadikan
pupuk dengan cara batang tersebut diiris-iris lalu dibakar jadi abu.Air bonggol
pisang kapok dan klutuk dapat dijadikan obat disentri,pendarahan usus,obat
kumur,serta untuk menghitamkan rambut.
 Buah.
Industri pengolahan buah pisang skala besar lebih diarahkan pada industri tepung
(1,5-2 ton/mg ),puree (600kg-1,5 ton/hari ) dan jam ( 1-2 ton/hari ). Sebagai
contoh,pengubahan bentuk buah pisang menjadi tepung pisang akan
mempermudah dan memperluas pemanfaatan pisang sebagai bahan
makanan,misalnya untuk kue,roti,bubur,kerupuk,dan lain-lain. Untuk membuat
tepung pisang,diperlukan beberapa langkah diantaranya :

-pengupasan
-pengirisan
-pengeringan
-penepungan,dan
-penyimpanan.
Caranya :
Buah Pisang mentah dikupas kulitnya ,kemudian diiris dengan pisau atau mesin
pengiris.Tebal pengirisan kira-kira 1 cm setelah diiris lalu rendam dalam larutan
bisulfit,langsung dikeringkan dalam alat pengeringan pada suhu kira-kira 80
derajat celcius.Buah pisang yang telah kering dengan kadar air kira-kira
10%,dibuatkan tepung dengan menggunakan alat penepungan.Tepung pisang agar
tahan lama,disimpan dalam tempat yang tertutup rapat seperti tutup plastic.

Bagan pengolahan buah pisang


Buah
Buah
pisang
pisang

Mentah
Mentah Matang
Matang

Gaplek
Gaplek Tepung
Tepung Keripik
Keripik Anggur
Anggur Sale
Sale Jam
Jam Dodol
Dodol Nectar
Nectar Pure
Pure Saos
Saos

2.4.3. Marketing.
Dalam skala industri,aspek pemasaran tidak hanya dijuruskan dalam negeri
saja,tetapi sudah mengarah untuk ekspor.Pemasaran buah pisang sebenarnya cukup
mudah,karena buah pisang memiliki keistimewaan tertentu.Oleh karena itu,banyak orang
mencarinya.Selain itu,harga buah pisang juga tergolong murah sehingga buah pisang
dapat dikonsumsi oleh masyarakat berbagai golongan.Kenyataan demikian ini dapat
dilihat dari terus meningkatnya permintaan buah pisang dari tahun ke tahun.
Kegiatan pengumpulan dan pengangkutan dari sentra produksi ketempat
pemasarannya sebagian besar dilakukan oleh pedagang pengumpul yang sudah
mempunyai jaringan pemasarannya. Pedagang pengumpul pada umumnya merangkap
sebagai tengkulak. Buah pisang dikumpulkan dari petani dengan cara sistem ijon, yaitu
dengan membayar buah pisang yang masih muda dengan harga murah dan memanennya
setelah agak tua. Disamping itu, pengumpul juga membeli pisang dari petani yang
menjual langsung kepadanya. Setelah buah pisang yang terkumpul mencapai kapasitas 1
truk (4-5 ton), buah pisang diangkut ke tujuan pemasaran.
Untuk pemasaran lokal,petani lebih suka memetik pada stadia matang
penuh.Buah yang dipetik pada stadia ini dalam 3-4 hari akan menjadi matang penuh.
Pemasaran yang memerlukan waktu, misal keluar daerah, keluar pulau atau untuk
ekspor,maka buah dipanen pada tingkat ketuaan ¾ penuh. Hal ini dimaksudkan agar daya
simpan pisang menjadi lebih lama.Buah menjadi matang setelah 7-19 hari penyimpanan.

Manajemen Agribisnis “Karet” 42


Untuk konsumsi pasar swalayan,dipilih pisang yang tingkat ketuaanya
optimum,penampakannya menarik,tanpa cacat,dan dari varietas tertentu.Jenis0jenis
pisang yang dipasarkan di pasar swalayan adalah jenis pisang ambon dalam bentuk
tangkaian dua-dua yang dikemas dalam kantong plastik berlubang,pisang
barangan,pisang raja bulu,dan jenis-jenis lainnya dipasarkan dalam bentuk sisiran.
Selain pemasaran dalam bentuk buah segar,pemasaran dalam bentuk olahan juga
mempunyai peluang yang baik.Bentuk olahan yang umum diperdagangkan seperti sale
segar,sale goreng,dsb.
Namun dalam memasarkan buah pisang terdapat beberapa kendala yang dihadapi
petani,antara lain sebagai berikut :
1. Pola pemasaran sekarang tidak menghargai produk bermutu dan selalu
menerapakan harga borongan.
2. Penetapan harga cenderung dilakukan oleh pedagang pengumpul.
3. Sistem pemasaran yang ada saat ini belum berpihak kepada petani.
4. Fungsi kelompok tani untuk saat ini belum optimal.
5. Sebagian besar sentra produksi belum memiliki Sub Terminal Agribisnis
(STA).
Maka dari itu untuk Pemerintah harus bisa mengatasinya,adapun diantaranya
sebagai berikut :
1. Menciptakan Kelompok Usaha Bersama Agribisnis ( KUBA ) yang dijiwai
oleh semangat kemitraan dan koperatif.
2. Mendorong berkembangnya Koperasi pedesaan dengan kegiatan produktifnya
agribisnis komoditi pisang dan mampu bermitra usaha dengan pihak luar.

2.4.4. Research and Development.


Pengembangan yang dilakukan selama ini masih tradisional dan belum menerapkan
tekhnologi budidaya yang sesuai dengan standar tekhnik budidaya (SOP). Maka dari itu
diperlukan riset dan pengembangan produk yang dilakukan guna melakukan perbaikan
atau perubahan pada produk yang dihasilkan dalam proses produksi karena adanya
dinamika lingkungan atau perubahan strategi perusahaan dalam menghadapi persaingan
pasar. Dalam pengembangan komoditi buah-buahan pisang ini adalah masih lemahnya
keterkaitan antara sektor pertanian dan sektor industri, terutama di pedesaan. Sehingga
sebagian terbesar komoditi pisang dipasarkan sebagai produk primer. Untuk lebih
memperkuat keter kaitan antar sektor tersebut diperlukan kerjasama inter-sektoral yang
lebih aktif dalam mengembangkan komoditi pisang, penyediaan IPTEK budidaya dan
agroindustri pisang yang mampu menyediakan alternatif produk sekunder dan tersier dari
komoditi pisang di pedesaan, dan kebijakan pemerintah yang lebih terarah.
Selain itu, buah pisang memberikan kontribusinya lebih dari 30% terhadap total
konsumsi buah-buahan. Untuk menghadapi persaingan dunia usaha, diperlukan
melakukan inovasi pengembangan kebun buah rakyat dengan penerapan tekhnologi maju
yaitu strategi pengembangan pisang.
Program pengembangan buah-buahan akan diprioritaskan pada daerah yang
secara agroklimat cocok dan memiliki potensi sumber daya manusia serta didukung
dengan pola pengelolaan tanaman terpadu, artinya sistem usaha agribisnis yang terkait
dari tahap perencanaan, persiapan lahan, pola, dan tekhnologi budidaya, prapanen, panen
dan pascapanen serta pemberdayaan kelembagaan yang kuat terhadap produk yang
dihasilkan agar dapat diterima atau disukai konsumen.
Pengembangan pisang berskala kebun rakyat dan besar akan membuka peluang
agribisnis hulu, seperti industri perbenihan dan industri peralatan mekanisasi pertanian,
yang tentunya akan membuka kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Selain sebagai
buah yang dimakan segar, pisang juga dapat diolah baik untuk skala rumah tangga seperti
keripik, getuk dan sale, maupun industri berskala besar seperti tepung, puree dan jam,
yang dapat merangsang tumbuhnya agribisnis hilir. Agribisnis hilir akan berkembang
dengan cara memberdayakan industri pengolahan skala keluarga (home industry) dan
menengah maupun skala besar (investor dalam dan luar negeri).
Upaya pengembangan pisang jenis unggul yang berkualitas buah baik terbentur
kepada kesulitan penyediaan bibit yang baik pada tingkat petani; sedangkan upaya

Manajemen Agribisnis “Karet” 43


perluasan jangkauan pemasaran buah terbentur kepada kualitas buah yang sangat
beragam, daya tahan buah matang segar yang sangat rendah dan terbatasnya upaya-upaya
pengawetan dan pengolahan buah di tingkat petani.Maka dari itu diperlukan beberapa
strategi,yaitu :
Strategi yang akan ditempuh dalam pengembangan buah pisang adalah
pengembangan varietas unggul, penyiapan benih, pewilayahan komoditas, penerapan
teknologi maju, pengembangan perlindungan komoditi pisang, peningkatan mutu,
pengembangan kawasan sentra produksi, pengembangan kelembagaan petani,
pengembangan sarana dan prasarana kebun, pengembangan agroindustri pedesaan,
menumbuhkembangkan Kegiatan Usaha Bersama (KUB), UPJA teknologi pengolahan
hasil, peningkatan kerjasama dengan peneliti dan perguruan tinggi serta mengadakan
pengkajian yang disesuaikan dengan kebutuhan secara local spesifik, pengembangan
pola kemitraan dan kewirausahaan masyarakat pertanian yang maju dan mandiri,
pengkajian dan perkiraan tentang dinamika produksi, produktivitas dan penuntun pasar
regional, optimalisasi sumberdaya aparatur seiring dengan pengembangan komoditas
yang mampu mendukung peran usaha tani.
Usaha budidaya pisang kedepan akan dilakukan melalui 3 pola pengembangan
yaitu: (a) pola pengembangan kebun besar oleh investor, (b) pola pengembangan kebun
buah rakyat berskala komersial (5-10 Ha per petani) dan (c) pola pengembangan kebun
buah rakyat dengan penerapan tekhnologi maju.
Kebutuhan biaya keseluruhan untuk mendukung pengembangan pisang sampai
dengan 2025 adalah Rp 23,2 triliun, dengan rincian untuk tahun 2006-2009 sebesar
Rp 1,97 triliun dan tahun 2010-2025 sebesar Rp 21,24 triliun. Sumber pembiayaan yang
diharapkan untuk mendukung pengembangan pisang berasal dari pemerintah tahun 2005-
2009 sebesar + 15 – 20 %, sedangkan sisanya merupakan partisipasi masyarakat serta
swasta. Periode 2010 – 2025 kontribusi pembiayaan dari pemerintah sebesar 7,5 –10 %.
Dengan demikian untuk waktu-waktu mendatang upaya pengembangan
agribisnis ini masih tetap merupakan salah satu kunci utama dalam pengembangan
komoditi pisang .

2.4.5. Supporting Lainnya.


Pengembangan buah pisang di Indonesia tidak akan tercapai optimal tanpa adanya
investor, baik dalam negeri maupun luar negeri. Oleh karena itu, gambaran tentang
investasi dan disertai informasi daerah pengembangan ke depan perlu diberikan dan
tentunya haruslah didukung dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berhubungan
dengan kemudahan dan jaminan keamanan berinvestasi serta perbaikan sarana
pendukung seperti sistem pengairan, transportasi, komunikasi, dan sarana pasar.Selain
itu, buah pisang juga mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi dibandingkan dengan buah-
buahan lainnya.

Berikut ini disajikan nilai gizi buah pisang dalam 100 gram:
Pisang (acuminata)
Nutrisi
Pisang Kering Pisang Basah
Air (%) 75.7 -
Karbohidrat (g) 22.2 91.4
Protein (g) 1.1 4.5
Lemak (g) 0.2 0.8
Abu (g) 0.8 3.3
Vitamin Gros Michel Cavendish

Manajemen Agribisnis “Karet” 44


Vitamin A (SI) 3.8 5.1
As. Ascorbic (mg) 13.3 20.0
Vitmin B (mg) 25.0 -
Thimin (mg) 3.3 2.6
Riboflavin (mg) 3.8 5.3
Niacin (mg) 4.7 4.8

Penelitian seorang epidemiolog dari University of California, Marilyn Kwan,


membuktikan bahwa mengonsumsi pisang secara rutin dapat menurunkan risiko terkena
leukemia. Efek ini terlihat nyata kalau pisang dimakan secara teratur 4 - 6 kali seminggu
sampai bayi berumur dua tahun. Pisang mampu menjadi benteng pertahanan serangan
leukemia sejak dini karena kaya vitamin C. Sebagai antioksidan, vitamin C mampu
menurunkan risiko kerusakan DNA. Dengan demikian otomatis proses munculnya kanker
dapat dihentikan. Menurut Kwan, potasium dalam pisang juga terbukti menstabilkan
DNA.

2.5. Subsistem Yang Paling Berperan


Subsistem yang paling berperan sesuai dengan permasalahan komoditi pisang ini
adalah farming system. Agar hasil tanaman pisang dapat tumbuh dengan baik, hendaklah
kita memilih rumpun bibit buah pisang yang baik dan sehat serta bebas dari penyakit
maupun bakteri. Pembibitan dapat dilakukan melalui kultur jaringan. Dengan adanya
farming system yang baik, hasil yang didapat dari tanaman buah pisang akan meningkat.
Selain itu farming system yang didukung dengan research and development yang baik
dapat meningkatkan produktivitas komoditi buah pisang sehingga eksport pisang dapat
bersaing dipasar global.

2.6. Pengembangan Agribisnis


2.6.1. Analisis SWOT.
1. Kekuatan ( Strengths )
Kekuatan yang terdapat pada komoditi pisang dibandingkan dengan buah-buahan
lainnya adalah buah pisang merupakan komoditas buah tropis yang sangat popular di
dunia.  Hal ini dikarenakan rasanya lezat, gizinya tinggi, dan harganya relatif murah.
Pisang merupakan salah satu tanaman yang mempunyai prospek cerah di masa datang
karena di seluruh dunia hampir setiap orang gemar mengkonsumsi buah pisang. Selain itu
juga pisang mengandung kalium dalam dosis besar dan sedikit kromium, yang diperlukan
untuk pembentukan enzim. Baik untuk divertikulitis, ulkus, kolitis, heartburn, dan
kelelahan. Secara tradisional, air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat
disentri dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat
sakit kencing dan penawar.
Pisang merupakan salah satu bahan pangan penting di daerah tropika basah.
Buah yang masih berwarna hijau mengandung 40% karbohidrat dan 6% protein, vitamin
dan mineral. Satu ton buah pisang masak hijau mengandung sekitar 545 kg daging buah
segaratau 218 kg daging buah kering, setara dengan 364 800 kalori. Hasil pengujian oleh
Direktorat Gizi (1979) menunjukkan bahwa daging buah pisang mengandung protein,
lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, besi dan vitamin A, B, C, dan air. Setiap 100 g
daging buah pisang masak menghasilkan kalori sebesar 68-127 kcal. Ditinjau dari segi
enerji dan gizi, tanaman pisang dapat menggantikan kedudukan ubikayu.
Ditinjau dari nilai gizinya, daging buah (pulp) pisang mengandung air sebesar 70
%, karbohidrat 27 %, serat kasar 0,5 %, protein 1,2 %, lemak 0,3 %, abu 0,9 % dan
vitamin serta mineral sebesar 0,1 %. Pada pisang yang masih hijau tetapi sudah cukup tua
mempunyai kandungan karbohidrat sebesar 21 - 25 persen.
Selain itu tanaman pisang sangat mudah dibudidayakan dan cepat menghasilkan
sehingga lebih disukai petani untuk dibudidayakan, contohnya saja di Indonesia tepatnya
di Kabupaten Cianjur banyak ditanami pohon pisang, daerah ini sendiri mempunyai luas
wilayah 350.148 Ha dengan jumlah penduduk 1.931.840 jiwa dan laju pertumbuhan
penduduk 1,57 % merupakan potensi yang cukup besar. Kondisi alam kabupaten Cianjur

Manajemen Agribisnis “Karet” 45


yang subur mengandung kekayaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang sangat
potensial dan merupakan modal dasar pembangunan. Lahan-lahan pertanian dan
perkebunan sangat memungkinkan untuk ditingkatkan pengelolaan dan pengolahannya
sehingga menjadi sumber kehidupan masyarakat. Lokasi kota Cianjur juga berada pada
jalur utama ekonomi regional Jawa Barat memberikan kemudahan dalam memasarkan
hasil produksi buah pisang tersebut.
2. Kelemahan ( Weaknesses )
Ada kekuatan pasti ada kelemahan. Kelemahan pada komoditi pisang khususnya
di Indonesia adalah kurangnya kepedulian pemerintah terhadap perkebunan maupun
petani pisang karena pemerintah hanya sibuk mengurusi urusan politik saja urusan
perkebunan khususnya pisang terlupakan. Alhasil Kualitas SDM relatif masih rendah dan
banyak pula buah pisang yang terserang hama yang mengakibatkan produksi buah pisang
menurun. Sebenaranya industri pengolahan pisang di Indonesia sudah mampu memasok
pasar domestik dan juga sudah mulai mengekspor. Namun terbatasnya daya serap pasar
domestik dan persaingan pasar yang semakin ketat, sehingga kesinambungan industri
pengolahan masih kurang lancar. Hal ini dikarenakan rendahnya daya saing produk pada
aspek jaminan mutu / penerapan HACCP (Hazard Analytical Critical Control Point) dan
jaminan suplai, manajemen distribusi, time delivery, cost efficiency, product appearance,
tuntutan atribut produk misalnya kesesuaian dengan ISO series (ecolabeling,
ecoefficiency), dll sesuai dengan tuntutan pasar.
Keseluruhan aspek tersebut merupakan hambatan ekspor yang menurut tatacara
aturan perdagangan global WTO dimasukkan dalam kategori SPS (Sanitary dan
Phytosanitary) dan TBT (Technical Barrier to Trade). Misalnya saja Negra Jepang yang
menolak masuknya beberapa buah-buahan Indonesia seperti pisang dan beberapa jenis
buah-buahan lainnya dengan alasan lalat buah. Dalam hal ini Indonesia tidak mengajukan
protes ke Komisi SPS WTO karena kenyataannya memang terjadi di Indonesia dan
Indonesia sejauh ini belum mampu mengatasinya, dan masih banyak lagi kelemahan
lainnya. Kelemahan - kelemahan ini terjadi tidak lain dan tidak bukan karena kurangnya
perhatian pemerintah terhadap perkebunan pisang.

3. Peluang ( Opportunities )
Sebenarnya buah pisang mempunyai peluang yang cukup besar. Hal ini karena
buah pisang mudah didapat sehingga besarnya angka konsumsi buah pisang yang tak
berhenti akan membuat peluang ekspor menjadi lebih besar dimasa mendatang. Dan
banyaknya pengusaha - pengusaha menjadikan pisang sebagai lahan bisnis baru yang
juga akan memperbesar peluang produksi pisang. Keuntungan yang di peroleh dari
produksi pisang juga sangat besar, misalkan saja Usaha tani pisang yang sekarang
dilakukan oleh penduduk umumnya masih tergolong "low input”, sehingga secara
ekonomis memberikan keuntungan petani. Tabel 1 dan 2 menyajikan analisis finansial
usahatani pisang rakyat.

Analisis kelayakan ekonomis usahatani pisang secara monokultur menunjukkan prospek


yang sangat menguntungkan, terutama Kultivar Ambon dan Sobo (Tabel 3).

Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa pisang adalah tanaman yang telah lazim
di jawa Timur. Oleh karean itu pisang dapat dipelihara oleh setiap anggota masyarakat,
tidak memerlukan teknologi tinggi dan dengan cara sederhana dapat berkembang biak
dengan baik. Dengan demikian untuk meningkatkan populasi, dan produksi buah pisang,
akan dilaksanakan Sentra Pengembangan Agibisnis Komoditas Unggulan (SPAKU)
Pisang. Selain itu di Kabupaten Cianjur mempunyai peluang - peluang lain antara lain :
1. Otonomi Daerah
Paradigma baru penyelenggaraan pemerintahan dengan lahirnya UU No. 22
Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, merubah pola sentralistik menjadi
desentralistik.
2. Pasar Terbuka
Hasil produksi Kabupaten Cianjur, khususnya dari sektor pertanian mudah untuk
dipasarkan.

Manajemen Agribisnis “Karet” 46


3. Diminati Investor
Potensi sumber daya alam di Kabupaten Cianjur banyak diminati kalangan
masyarakat/dunia usaha untuk me-nanamkan modalnya.
4. Globalisasi
Ditandai dengan makin ketatnya standar persaingan / kompetisi untuk bekerja di
berbagai sektor.
4. Kendala (Threats )
Setiap kegiatan pasti mempunyai kendala, tak terkecuali dalam pengembangan
produksi pisang. Kendala yang di hadapi dalam pengembangan pisang antara lain :
a. Ketidakpastian iklim politik, situasi dan kondisi stabilitas nasional yang belum
sepenuhya pulih, secara langsung maupun tidak langsung berimbas pula pada
goyahnya stabilitas daerah.
b. Ketidakpastian perekonomian nasional, pertumbuhan ekonomi daerah tidak terlepas
dari fenomena pertumbuhan ekonomi nasional.
c. Ketidakmenentuan iklim global. Misalkan Kabupaten Cianjur sebagai daerah agraris
yang pembangunannya bertumpu pada sektor pertanian sangat rentan terhadap
ketidakmenentuan iklim global seperti fluktuasi musim hujan dan musim kemarau
berkepanjangan.
Selain itu strategi pengembangan juga merupakan kendala dengan mencermati
perkembangan neraca perdagangan ekspor impor produk pisang, perlu penanganan yang
serius dari semua pihak terkait baik antar instansi pemerintah, swasta, pelaku / praktisi
agribisnis serta stakeholder lainnya. Penanganan secara bersama-sama dengan
mengintegrasikan strategi yang berorientasi internal dan eksternal yang dilakukan secara
konsisten dan berkesungguhan. Penjabaran rinci dari perjanjan WTO dalam perdagangan
produk pertanian yang harus dipatuhi dalam mengekspor produk pertanian adalah
“Agreement on Agriculture” yang bertujuan meningkatkan akses pasar, pengurangan
subsidi ekspor dan pengurangan bantuan kepada petani agar produksi petani menjadi
lebih efisien. Pemanfaatan perjanjian dan kesepakatan ini belum banyak dilakukan
sehingga peluang untuk meningkatkan daya saing produk pertanian belum dapat dicapai.
Selama ini ketentuan WTO masih sering merupakan hambatan ekspor dari pada peluang
peningkatan ekspor.
Penerapan SPS (Sanitary dan Phytosanitary) pada produk pertanian yang
diperdagangkan harus memenuhi kebijakan standar sanitasi yang telah ditetapkan dimana
ketentuan ini bertujuan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan masyarakat,
perlindungan hewan,tanaman dan lingkungan hidup. SPS pada dasarnya tidak boleh
menjadi hambatan yang tidak wajar dalam perdagangan internasional. Selama ini
ketentuan SPS masih merupakan hambatan ekspor bagi produk pertanian Indonesia, perlu
diubah agar penerapan SPS dapat dijadikan dorongan bagi peningkatan daya saing
produk pertanian Indonesia di pasar Global.
Operasional penyebaran dan pengembangan komoditi pisang juga mempunyai
kendala, misalnya peyebaran bibit pisang yang kurang merata, pemasaran hasil produksi,
hama dan penyakit serta cara penanaman yang kurang baik. Hal - hal inilah yang
merupakan kendala - kendala yang di hadapi dalam pengembangan produksi pisang.
Seandainya kendala - kendala ini dapat diatasi mungkin produksi pisang tiap tahunnya
dapat meningkat.

2.6.2. Segmen Pasar.


Segmen pasar yang ditawarkan oleh buah pisang adalah dengan keanekaragaman
jenis buah pisang seperti: pisang cavendish (merupakan buah pisang yang sangat
digemari oleh konsumen baik lokal maupun mancanegara), pisang raja, pisang barangan,
pisang jambe, pisang raja sere, pisang kapok, pisang bali, pisang mas, pisang lampung,
dan sebagainya. Selain itu, standar mutu lain yang harus dipenuhi adalah
pengelompokkan buah pisang, bentuk fisik buah pisang (ketahanan buah pisang terhadap
hama penyakit), maupun kebersihannya untuk menjaga kepercayaan konsumen.
Disamping itu mereka memperketat sortasi buah pisang yang diterima dari
petani/kelompok tani sehingga tidak semua produk yang dihasilkan petani/kelompok tani
dapat diterima oleh segmen pasar.

Manajemen Agribisnis “Karet” 47


2.7. Pengembangan Komoditi Agribisnis Berdasarkan Bauran Pemasaran (4P)
2.7.1. Bagaimana 4P Digunakan.
1. Product
Didalam pasar dunia, diantara sekian banyak jenis buah pisang, buah pisang
cavendishlah yang merupakan produk unggulannya. Hal ini dikarenakan buah pisang
cavendish telah sesuai dengan permintaan segmen pasar, Pisang Cavendish di Indonesia
lebih dikenal dengan Pisang Ambon Putih.  Varietas yang dikembangkan di SEAMEO
BIOTROP adalah jenis Pisang Cavendish Grand Naim yang banyak dijual di supermarket
sebagai pisang meja yaitu pisang yang dihidangkan langsung untuk dikonsumsi.  Pisang
Cavendish juga banyak dijadikan sebagai konsumsi pabrik puree, tepung pisang sebagai
bahan makanan bayi. Karena buah pisang sangat bergizi dan merupakan sumber vitamin,
mineral dan juga karbohidrat menyebabkan meningkatnya permintaan buah pisang untuk
kebutuhan lokal maupun untuk ekspor,bentuk dan ukuran buah, cara pengemasan dan
rasa yang lebih enak mendorong konsumen untuk lebih banyak membeli baik berupa
buah pisang segar maupun pisang olahan. Beberapa macam hasil olahan buah pisang
seperti:sale pisang, tepung pisang, sari buah pisang, anggur pisang, keripik pisang, jem
pisang, buah pisang dalam sirup, tape pisang, dan lain-lain.
2. Price
Pemasaran buah pisang dilakukan dengan menentukan harga yang sesuai dengan
produk dilihat dari standar mutu buah pisang, agar buah pisang dapat laku dipasaran.
Harga pisang disesuaikan oleh mutu dan varietasnya.

3. Promotion
Salah satu kegiatan promosi dilakukan adalah dengan pemberian nama
merk/label pada buah pisang terutama pada buah pisang olahan. Misalnya pada pisang
Monkey ditemple 2 buah lebel kertas nama perusahaan pada kulit pisang. Sedangkan
label kertas nama pisang cavendish ditempel diatas plastik pembungkus. Sedangkan
pisang Cavendish yang baru di impor plastiknya sudah terdapat tulisan nama
perusahaannya. Selain label tersebut produk yang baru masuk juga diberikan label
keterangan mengenai 5 macam kelebihan pisang tersebut yaitu pertama ditanam di daerah
pegunungan yang ternama, kedua ditanam di daerah dengan ketinggian 500 m, ketiga
berasal dari pulau yang banyak terdapat guano sehingga tidak menggunakan pupuk
kimia, keempat pengairan menggunakan air yang bersih, kelima warna kulit bagus tanpa
treatment bahan kimia.Hal ini sangat mempengaruhi kegiatan promosi,karena dapat
menampilkan kualitas pisang sehingga konsumen akan tertarik.Selain itu, bentuk
pengemasan yang bagus merupakan faktor penarik produk apalagi saat dipromosikan
melalui media.Pengemasan bisa berupa peti kayu,keranjang bambu,dikemas dalam daun
kering maupun dengan plastik. Buah yang dikemas penampilannya lebih menarik
4. Place
Tempat penjualan yang dipilih adalah tempat yang berada dekat dengan pasar,
baik pasar nasional maupun pasar internasional. Biasanya buah pisang dijual dipasar buah
atau disupermarket. Buah pisang dapat dipasarkan secara langsung dari tangan produsen
maupun secara tidak langsung melalui perantara (pasar).

2.7.2. Pertimbangan Yang Diterapkan Pengusaha Agribisnis.


Suatu perusahaan bisa sukses apabila dapat melaksanakan strategi bauran
pemasaran atau yang biasa disebut marketing mix, yang terdiri dari 4P yaitu product,
price, promotion, dan place serta 1S yaitu costumer services. Dalam menghadapi
persaingan global, perusahaan harus mengetahui selera konsumen agar produksi yang
dihasilkan dapat menguntungkan bagi perusahaan. Dalam prinsip pemasaran, perusahaan
meyakini bahwa suatu produk tidak akan pernah sesuai dengan keseluruhan pasar. Oleh
karena itu, maka pemasar yang baik adalah orang yang dapat menentukan dengan tepat

Manajemen Agribisnis “Karet” 48


apa yang harus dijual secara tepat kepada konsumen. Selanjutnya, bagaimana perusahaan
dapat memberikan kepuasan kepada segmen yang sesuai.
Selain dari itu,perusahaan dalam melaksanakan kegiatan produksi haruslah ramah
lingkungan,dalam artian tidak merusak lingkungan sekitar dengan membuang limbah
produksi sembarangan dan sebisa mungkin limbah tersebut bisa didaur ulang,sehingga
terciptalah keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan,dan juga untuk
memproduksi buah pisang sebaiknya menggunakan bahan-bahan alami dan mengurangi
bahan kimia sehingga menghasilkan jenis pisang organik yang sehat dan bergizi.

2.8. Potensi Ekspor Komoditi Pisang dan Saingannya Dipasar Ekspor


Potensi ekspor buah pisang mempunyai peluang yang cukup besar baik dipasar
domestik maupun diluar negeri. Hal ini ditunjang dengan ketersediaan lahan yang cukup
luas, iklim yang mendukung, keragaman varietas yang cukup tinggi, sumber daya
manusia, serta inovasi tekhnologi untuk pengelolaan tanaman pisang. Pisang mempunyai
potensi eksport yang cukup tinggi karena buah pisang bukan saja sebagai buah yang
segar, tetapi buah pisang juga mempunyai nilai ekonomis. Untuk memenuhi kebutuhan
buah dan produk olahan pisang untuk ekspor pada tahun 2010 diperkirakan memerlukan
areal pertanaman sekitar 5.000-6.000 ha atau dibutuhkan sekitar 5-7 perusahaan skala
besar.
Penanaman pisang berskala besar telah dilakukan di beberapa tempat antara lain
di pulau Halmahera (Maluku Utara), Lampung, Mojokerto (Jawa Timur), dan beberapa
tempat lainnya, sehingga Indonesia pernah pengekspor pisang dengan volume mencapai
lebih dari 100.000 ton pada tahun 1996, tetapi pada tahun-tahun berikutnya volume
ekspor tersebut terus menurun dan mencapai titik terendah pada tahun 2004 yaitu hanya
27 ton. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sebetulnya Indonesia mempunyai peluang
yang cukup besar untuk meningkatkan ekspor buah pisang pada tahun-tahun mendatang.
Sentra produksi buah pisang di Indonesia seperti: propinsi Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Barat, Jambi, Kalimantan, Sulawesi,
Maluku,Bali, dan NTB dengan berbagai jenis buah pisang yang dihasilkan. Di pasar
dunia, pisang - pisang olahan lokal juga menawarkan harga yang relatif murah
dibandingkan dengan perusahaan - perusahaan olahan asing. Produsen pisang olahan
lokal ini menawarkan produknya dengan harga yang relatif murah bukan tanpa tujuan,
tujuannya adalah agar dapat menerobos pasar dunia dan memperkenalkan kepada dunia
bahwa produk olahan pisang lokal sangat berkualitas dan bergizi tanpa mengurangi
sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat yang sudah ada di dalam pisang tersebut.
Informasi statistik yang diberikan oleh AMARTA menyebutkan bahwa Indonesia

merupakan produsen buah-buahan tropis yang signifikan. Negara ini menempati urutan

keenam dari semua produsen, dengan rata rata pertumbuhan tahunan sebesar 4.76%.

Pada tahun 2005, total produksi buah Indonesia adalah 14,786,599 MT. Sebagian besar

buah adalah pisang, jeruk siam, mangga, salak, dan nanas. Pisang merupakan kontributor

terbesar dari output total (35.02%). Pada tahun yang sama, Jawa Barat merupakan

penghasil pisang terbesar dengan produksi sebesar 1,420,088 MT. Jawa Timur

merupakan terbesar kedua dengan 856,873 MT. Di antara negara anggota ASEAN,

Indonesia menempati urutan kedua dalam produksi pisang, setelah Filipina. Namun,

dalam hal produktivitas, negara ini menempati urutan keempat. Penting untuk dicatat

bahwa rantai supermarket di Indonesia hanya membeli 20% dari total produksi buah

Manajemen Agribisnis “Karet” 49


lokal, menjadikan segmen pasar ini sebagai sasaran untuk perkembangan dan

pertumbuhan di masa mendatang.

Ekspor buah pisang tidak kalah saingannya dengan ekspor buah-buahan yang lain
karena budidaya pisang sudah merupakan suatu industri yang didukung oleh kultur
tekhnis yang prima dan stasiun pengepakan yang modern dan pengepakan yang
memenuhi standar internasional baik seperti Good Agriculture Practices (GAP),
Integrated Pest Management (IPM), dan Analysis Critical Point (HACCP). Peluang
eksport pisang Indonesia tidak kalah bersaing dengan produk buah pisang dari negara
lain. Hal ini dilihat dari sisi untuk pemasaran internasional, dan kedepannya untuk
mengembangkan produk pisang dipasar domestik dengan mencoba mengembangkan
peluang investasi yang merupakan prospek bisnis dan pengembangan agrobisnis buah
pisang.
Tabel dibawah ini menunjukkan bahwa sebetulnya Indonesia mempunyai peluang
yang cukup besar untuk meningkatkan ekspor buah pisang pada tahun mendatang.

Komoditi Tahun Negara Tujuan Jumlah Ekspor Harga (US$)


Pisang 1987 Jepang, Australi, 62.787 kg 51.315
segar dan 1989 Jerman, Belanda, 82.419 kg 65.402
pisang 1991 Perancis, Kanada, 89.964 kg -
olahan. 1996 Arab Saudi,........ 101.495 ton -
1999 77.473 ton 140.736
2002 512.,27 ton 979.730
2003 10.615 kg 7.899
2004 992.505 kg 722.772
2005 470.700 ton -
Target produksi buah pisang baik dalam maupun luar negeri
2009 6.125.000 ton -
2025 11.266.000 ton -

Perkembangan Ekspor Buah-Buahan Tropis Indonesia Tahun 2002-2004 (Kg, US $)

    Tahun
Komoditas 2002 2003 2004
Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai
(Kg) (US $)  (Kg) (US $)  (Kg) (US $)
Manggis 6.512.423 6.956.915 9.304.511 9.306.042 3.045.379 3.291.855
Pepaya 3.287 6.643 187.972 231.350 524.686 1.301.371
Pisang 512.596 979.729 10.615 7.899 992.505 722.772
Nenas 3.734.414 2.784.582 2.284.432 2.315.283 2.431.263 529.122
Duku 16.921 6.313 21.044 12.662 1.643 1.643
Durian 89.479 96.634 14.241 12.943 1.494 6.710
Jambu 32.052 28.859 47.871 49.843 106.274 102.074
Jeruk 156.437 75.320 85.920 22.026 632.996 517.554
Mangga 1.572.634 2.671.995 559.224 460.674 1.879.664 2.013.390
Rambutan 366.435 588.140 604.006 958.850 134.772 117.336
Buah tropis 1.591.329 1.451.391 984.820 523.031 1.341.923 794.924
lainnya

Manajemen Agribisnis “Karet” 50


 Sumber : Badan Pusat Statistik, 2002-2004

Frans Hero K. Purba


Subdit Promosi dan Pengembangan Pasar
Direktorat Pemasaran Intenasional
Ditjen PPHP

Departemen Pertanian
Pusat Data dan Informasi Pertanian
 
EKSPOR PISANG PERNEGARA TUJUAN
Periode : April s/d Mei 2007
April Mei Jumlah
Negara
Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$)
Japan 148,720.00 40,040.00 0.00 0.00 148,720.00 40,040.00
Hong Kong 19,767.00 5,835.00 39,204.00 11,544.00 58,971.00 17,379.00
Singapore 142.00 1,212.00 0.00 0.00 142.00 1,212.00
Malaysia 13,324.00 1,330.00 10,000.00 840.00 23,324.00 2,170.00
Iran,islamic
501,930.00 173,745.00 483,340.00 167,310.00 985,270.00 341,055.00
Rep. Of
Saudi
3,481.00 6,510.00 18,590.00 5,506.00 22,071.00 12,016.00
Arabia
Kuwait 37,180.00 12,441.00 37,180.00 12,442.00 74,360.00 24,883.00
United
Arab 37,180.00 12,441.00 130,130.00 43,545.00 167,310.00 55,986.00
Emirates
United
50.00 122.00 0.00 0.00 50.00 122.00
States
Total 761,774.00 253,676.00 718,444.00 241

Departemen Pertanian
Pusat Data dan Informasi Pertanian
 
NERACA PERDAGANGAN KOMODITI PERTANIAN
SUBSEKTOR HORTIKULTURA
Periode : Januari s/d Mei 2007 (US$ 000)
Bulan Pertumbuhan
No. Komoditi
Januari Pebruari Maret April Mei (%)
1 Pisang (segar) 17.76 2.68 12.81 253.68 241.19 542.10
TOTAL 17.76 2.68 12.81 253.68 241.19 542.10

Manajemen Agribisnis “Karet” 51


PRODUKSI
TANAMAN BUAH - BUAHAN DI INDONESIA
PERIODE 2003 - 2007*)
             
Produksi
NO KOMODITAS ( Ton )
2003 2004 2005 2006 2007*)
             
1 Alpukat 255,957 221,774 227,577 239,463 212,015
2 Belimbing 67,261 78,117 65,966 70,298 56,429
3 Duku 232,814 146,067 163,389 157,655 182,127
4 Durian 741,831 675,902 566,205 747,848 632,557
5 Jambu Biji 239,108 210,320 178,509 196,180 180,355
6 Jambu Air 115,210 117,576 110,704 128,648 100,652
7 Jeruk siam 1,441,680 1,994,760 2,150,219 2,479,852 2,377,090
8 Jeruk Besar 88,144 76,324 63,801 85,691 72,599
9 Mangga 1,526,474 1,437,665 1,412,884 1,621,997 1,781,967
10 Manggis 79,073 62,117 64,711 72,634 100,042
Nangka/Cemped
11 ak 694,654 710,795 712,693 683,904 618,920
12 Nenas 677,089 709,918 925,082 1,427,781 2,304,234
13 Pepaya 626,745 732,611 548,657 643,451 625,864
14 Pisang 4,177,155 4,874,439 5,177,608 5,037,472 5,270,131
15 Rambutan 815,438 709,857 675,578 801,077 628,793
16 Salak 928,613 800,975 937,931 861,950 818,310
17 Sawo 83,877 88,031 83,787 107,169 110,418
18 Markisa 71,898 59,435 82,892 119,683 111,485
19 Sirsak 68,426 82,338 75,767 84,373 60,035
20 Sukun 62,432 66,994 73,637 88,339 96,563
21 Melon 70,560 47,664 58,440 55,370 59,653
22 Semangka 455,464 410,195 366,702 392,587 360,513
23 Blewah 31,532 34,582 63,860 67,708 59,556
13,551,43 14,348,45 14,786,59 16,171,13 16,820,30
Total Buah-Buahan 5 6 9 0 8

         

http://www.hortikultura.deptan.go.id/index.php?
option=com_content&task=view&id=124&Itemid=160

2.9. Atribut Kualitas Komoditi Pisang


Agar kualitas buah pisang yang dihasilkan sesuai dengan standar internasional,
diperlukannya atribut kualitas yang baik dalam mengolah atau memproses yang menjadi
berbagai macam produk. Atribut kualitas yang digunakan antara lain:
a. Bahan baku yang dipakai memiliki kualitas yang baik, karena bahan baku
buah pisang merupakan faktor utama yang harus terjamin baik kuantitas
maupun kontinuitas. Buah pisang memiliki rasa yang enak, selain itu
mengandung nilai gizi yang cukup banyak.

Manajemen Agribisnis “Karet” 52


b. Berbagai macam manfaat buah pisang, salah satunya adalah dapat diolah
untuk menjadi makanan olahan pisang yaitu keripik, sale dan sebagainya.
c. Standar buah pisang mengacu pada SNI-01-4229-1996 yaitu berdasarkan
persyaratan klasifikasi dan standar mutu pisang. Untuk mengetahui dan
mencapai syarat mutu pisang harus melakukan pengujian yang meliputi
Penentuan keseragaman kultivar, Penetuan keseragaman ukuran buah,
Penentuan tingkat ketuaan, Penentuan tingkat kerusakan fisik/mekanis, dan
Penentuan kadar kotoran. Adapun klasifikasi pisang berdasarkan: panjang jari
(cm),berat isi (kg),dan diameter pisang (cm).

m Pembiayaan Komoditi Pisang

Dalam mendorong pengembangan pisang di Kabupaten Cianjur khsusunya


Kecamatan Cugenang, telah difasilitasi penyusunan dan sosialisasi SOP, fasilitasi
percontohan pembrongsongan pisang, inisiasi pembentukan asosiasi petani Pisang
Kecamatan Cugenang, inisiasi kemitraan, sosialisasi pemanfaatan KKP-E untuk
pembiayaan pisang dan bersama Dinas Pertanian.
Untuk menyederhanakan penguasaan dan penggunaan faktor-faktor produksi
dalam budidaya dan pemasaran hasil pisang abaca serta menjamin keamanan kredit
perbankan, maka pola kemitraan yang dikembangkan dengan mekanisme closed system,
akan dapat saling menguntungkan antara pihak-pihak yang bermitra, yaitu koperasi dan
anggotanya (petani plasma) mitra usaha besar dan perbankan.
Untuk mengembangkan perkebunan pisang abaca dengan pola kemitraan di
perlukan biaya investasi untuk pengadaan bibit, peralatan dan mesin. Disamping itu juga
di perlukan modal kerja untuk pengadaan sarana produksi dan pembiayaan dan tenaga
kerja. Untuk sementara jumlah biaya investasi yang diperlukan sebesar Rp. 6.733.000.-
yang terdiri dari dana sendiri Rp. 1.500.000,- dan kredit bank Rp. 5.273.000,- .
Sedangkan modal kerja yang diperlukan sebesar Rp. 4.995.000,- yang terdiri dari modal
sendiri Rp. 250.000,- dan kredit dari bank Rp. 4.745.000,-
Secara finansial, budidaya pisang abaca layak untuk diusahakan yang ditunjukkan
oleh parameter-parameter finansial antara lain :
o IRR sebesar 25,01% jauh lebih besar dari tingkat suku bunga KLBI
(KKPA sebesar 16% per tahun)
o NPV sebesar Rp. 6.603.493
o Payback period sebesar 31 bulan
o BEP volume sebesar 4.743 kg

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Tanaman pisang merupakan tanaman yang sangat sederhana. Walaupun demikian,
tanaman pisang mempunyai banyak manfaat, salah satunya adalah dapat diolah menjadi
macam-macam bentuk makanan olahan seperti keripik pisang, sale pisang, dan lain-lain.
Indonesia merupakan negara tropis, sangat subur untuk sebagian besar tanaman,
termasuk buah pisang. Buah pisang dapat tumbuh dimana-mana, baik sebagai tanaman
sela, batas/pagar disekitar rumah dan dipekarangan-pekarangan termasuk kebun. Oleh
sebab itu, tanaman pisang dalam pembangunan negara dapat merupakan suatu sumber
devisa negara yang sangat baik.
Buah pisang mempunyai peluang eksport menggairahkan yang tidak kalah saing
dengan buah-buah lainnya. Pisang mempunyai keunggulan antara lain:
a. mempunyai prospek pasar yang baik.
b. mempunyai potensi pengembangan yang luas.
c. memiliki nilai ekonomis/jual yang tinggi dan menguntungkan

3.2. Saran

Manajemen Agribisnis “Karet” 53


Saran yang dapat disampaikan dari hasil penulisan ini adalah sebaiknya
pemerintah dan aparat desa lebih memperhatikan masyarakat dan sering memberikan
pelatihan untuk menambah keahlian dan ketrampilan masyarakat sehingga masyarakat
memiliki modal dalam bentuk pengetahuan dan keahlian dalam penanaman pisang agar
dapat tumbuh dan berkembang lebih baik dan perkebunan pisang berpotensi sebagai unit
usaha yang mampu menciptakan kesempatan kerja bagi penduduk yang tingkat
pendidikan pada umumnya relatif rendah sehingga diharapkan pemerintah selalu
memperhatikan produk hasil olahan pisang, hal ini dapat ditempuh dengan
mengalokasikan kemudahan kredit dengan bunga yang ringan untuk industri rumah
tangga, memberikan kemudahan-kemudahan dalam perizinan, selain itu pemerintah juga
harus memperhatikan pemasaran produk-produk hasil olahan pisang tersebut.
Selain itu, agar dapat memproduksi buah pisang dengan baik, gunakanlah
budidaya standar internasional yang telah ditetapkan dengan sistem tekhnologi yang
canggih supaya buah pisang dapat bersaing dengan buah-buah lainnya dipasar global,
sekaligus meningkatkan pendapatan devisa negara melalui ekspor.
Buah pisang yang penampilannya kurang menarik, harganya menjadi sangat
murah. Buah pisang itu dapat ditingkatkan nilai ekonomisnya dengan mengolahnya
menjadi makanan buah pisang olahan.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin A.Sukarti, Bertanam buah-buahan di Pekerangan (Bogor : Bagian hortikultura


Departemen Agronomi IPB, 1977).
Anonim, Anjuran Pemupukan Tanaman Jeruk dan Pisang, Liptan, BIP Departemen
Pertanian Jawa Timur, No. 13, tahun 1988.
_______, Banpres Pisang dan Kambing Gunung Kidul, Sinar Tani, 25 Januari 1989.
______,Bertanam Pohon buah-buahan, Seri Pembangunan Desa (Jakarta : Bhratara
Karya Aksara, 1980).
______, Hama dan Penyakit Tanaman (Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1974).
_______, Penyakit Pisang di Indonesia, Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
No. 2, Vol. 6, Maret 1989.
_______, Peraturan Menteri Kesehatan RI Tentang Bahan-bahan Tambahan Makanan
(Jakarta : Proyek Peningkatan Keamanan Makanan Departemen Kesehatan RI,
1979).
_______, Pisang (Jakarta : Pusat Penelitian Hortikultura Pasar Minggu, 1989).
Djamal-Har. A., Manfaat Batang Pisang untuk Pupuk Kompos, Sinar Tani, 26 Agustus
1989.
Lembaga Biologi Nasional, Manfaat Buah Pisang, Sinar Tani, 12 April 1989.
Rukmana Rahmat, Citra Pisang Sebagai Komoditi Perdagangan, Sinar Tani, 8 februari
1989.
Satuhu Suyanti BSc dan Ahmad Supriyadi, Pisang, Jakarta : PT. Penebar Swadaya,1998.
Sudarmo Widayati M., Rahasia di Balik Bonggol dan Bunga Pisang, Sinat Tani, 3 Oktober
1987.
Sumartono, Pisang (Jakarta : Bumi Restu, 1981).
Utami Dewi, Pengaruh Lama Penyimpanan Bahan Baku Terhadap Mutu Keripik Pisang,
Evaluasi Hasil-hasil Penelitian Pasca Panen Holtikultura selama Pelita III (Jakarta
: SBPHP, 1982).

Manajemen Agribisnis “Karet” 54


Dosen Pembimbing : Kelompok IV
DR. JOHANNES,S.E.,M.Si
NOPITA SARI,S.E

Di Susun oleh :
MANAJEMEN A’06

GIVEN RIDO HUTABARAT (C1B006007)


M. TOMI (C1B006034)
RUFTI BIMA SUTESNA (C1B006033)
FITRI HIDAYATI (C1B006003)
DESI WULANDARI (C1B006008)

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JAMBI
(UNJA)
2008

SEJARAH TEH

Kata “teh” atau “Tee” atau “Tea” berasal dari bahasa Cina Selatan tē dari bentukan
tschhā [lat. Camellia sinensis, dari familia Theaceae]. Tumbuhan ini berasal dari Provinsi
Assam India dan Provinsi Yunnan di Cina Selatan. Pohonnya berbentuk semak yang
hanya tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Daunnya mengandung Alkaloid Koffein
yang membawa pengaruh menyegarkan dan menenangkan. Bukti tertulis tentang teh

Manajemen Agribisnis “Karet” 55


pertama kali ditemukan di Cina pada abad ke 3 sebelum masehi. Teh dibawa ke Eropa
baru pada tahun 1610 oleh perusahaan dagang Asia Timur milik Belanda dan Inggris.
Teh menjadi kultur tersendiri bagi negara-negara di Asia seperti Cina, Jepang, India,
Srilanka, Afrika Timur, Rusia dan Indonesia. Seperti anggur di negara-negara Eropa, teh
menjadi tradisi di negara-negara Asia Timur, Barat, Selatan dan Tenggara. Teh pun
kemudian menjadi minuman nasional di Inggris dan Irlandia.

Tumbuhan teh Assam berbentuk bulat dengan tinggi pohonnya yang bisa mencapai tinggi
15 meter. Tumbuhan ini tidak bisa tumbuh di daerah bertemperatur rendah dan
memerlukan kelembaban udara yang tinggi dan curah hujan yang banyak. Berlainan
dengan teh Cina yang tinggi semaknya hanya mencapai 4 meter dan memerlukan suhu
udara yang cukup dingin, periode musim kering yang cukup panjang serta kelembaban
udara yang rendah. Jenis-jenis teh yang dikenal saat ini merupakan hasil penyilangan dari
kedua jenis teh ini.

Ada yang menyebut nama Kaisar Shennong (Shen Nung) sebagai orang yang pertama
kali merasakan kenikmatan teh di tahun 2.737 SM, atau hampir 5.000 tahun yang lalu.
Kisahnya berawal dari selembar daun teh yang diterbangkan angin, dan mendarat tepat
dalam cangkir berisi air minum yang masih panas milik sang Kaisar. Air minum itu pun
berubah warnanya, dan menarik perhatian Kaisar Shennong. Berhubung ia juga adalah
seorang tabib, atau bisa jadi karena tertarik dengan aromanya, tanpa ragu Kaisar
Shennong meminum air di cangkirnya yang telah berubah menjadi cairan berwarna
kemerahan. Seketika ia jatuh hati pada minuman asing yang memberikan kenikmatan dan
kesegaran tersendiri itu.

PRODUKSI TEH
Untuk memudahkan proses produksi yang dimulai dengan proses pemetikan pucuk
daunnya, pohon teh ini dipotong rendah. Daun-daun teh ini berbentuk sedikit oval, selalu
berwarna hijau dan agak berkulit serta memiliki panjang antara 4 sampai 10 cm.
Bunganya berwarna putih sebesar 3 cm berasal dari pucuk daunnya dan berbentuk
lonjong seperti kapsul dan di dalamnya berisi sampai 3 bijih benih. Tanaman ini
memerlukan iklim sedang dengan temperatur antara 18 sampai 28 derajat celcius dengan
curah hujan yang teratur sekitar 2000 mm. Untuk hasil yang baik, sebaiknya tanaman ini
tumbuh di tanah berketinggian antara 500 sampai 2000 m di atas permukaan laut.
Tanaman ini dikembangbiakkan dengan cara penyetekan batang setinggi sekitar 1 m.

Produksi teh meliputi beberapa tahap :

 Pelayuan
 Penggulungan
 Fermentasi
 Pengeringan
 Sortasi
 Pengepakan
 Pengawasan Mutu
 Pengiriman Teh Jadi

Meskipun prosesnya relatif mudah, diperlukan pengontrolan yang seksama pada setiap
tahap untuk memperoleh hasil dengan aroma dan rasa yang tepat.

KONSUMSI TEH

Manajemen Agribisnis “Karet” 56


Pada dasarnya, teh diproses menjadi empat jenis yaitu teh hijau ,teh putih, teh hitam , dan
teh oolong . Lebih dari tiga perempat teh dunia diolah menjadi teh hitam, salah satu jenis
yang paling digemari di Amerika, Eropa, dan Indonesia .
Dari sisi permintaan, permintaan akan komoditi teh saat ini cenderung meningkat. Ini
dikarenakan telah banyak dilakukannya penelitian tentang manfaat teh bagi kesehatan.
Sehingga ini mendorong negara-negara produsen meningkatkan kapasitas produksinya
tanpa mengabaikan mutu dan kualitas teh yang dihasilkan. Manfaat teh bagi kesehatan
telah banyak membantu dunia kesehatan dalam mengatasi berbagai macam penyakit. Dan
ini tentunya akan meningkatkan komsumsi teh dunia dan pentingnya akan manfaat
dengan meminum teh serta akan menjadi tradisi minum teh, seperti yang ada di Jepang,
di mana minum teh sudah menjadi tradisi turun-menurun hingga saat ini.

PROSPEK TEH INDONESIA SEBAGAI MINUMAN FUNGSIONAL

MINUMAN/MAKANAN FUNGSIONAL

Pada umumnya, orang menilai makanan/minuman dari kandungan nutrisi dan


kemampuannya memuaskan selera. Pada beberapa tahun terakhir ini, penilaian tersebut
berkembang ke arah fungsi makanan/minuman dalam mengatur metabolisme tubuh
secara biologis. Makanan yang dapat memenuhi fungsi tersebut disebut sebagai
makanan/minuman fungsional .

TEH SEBAGAI MINUMAN FUNGSIONAL

Senyawa utama yang dikandung teh adalah katekin , yaitu suatu kerabat tanin
terkondensasi yang juga akrab disebut polifenol karena banyaknya gugus fungsi hidroksil
yang dimilikinya. Selain itu, teh juga mengandung alkaloid kafein yang bersama-sama
dengan polifenol teh akan membentuk rasa yang menyegarkan. Beberapa vitamin yang
dikandung teh di antaranya adalah vitamin P, vitamin C, vitamin B, dan vitamin A yang
walaupun diduga keras menurun aktivitasnya akibat pengolahan masih dapat
dimanfaatkan oleh peminumnya. Beberapa jenis mineral juga terkandung dalam teh,
terutama fluoride yang dapat memperkuat struktur gigi.

POTENSI TEH HIJAU INDONESIA UNTUK KESEHATAN

Potensi teh untuk kesehatan terutama terletak pada kandungan katekinnya. Hasil
penelitian menunjuk-kan bahwa teh hijau Indonesia ber-kadar katekin (10,81-11,60
persen) dan lebih tinggi dari pada teh Jepang dan teh Cina. Teh hitam Sri Lanka berkadar
katekin hampir sama dengan teh hitam Indonesia (7,028,24 persen) karena sama-sama
dibuat dari tanaman teh varietas assamica. Teh wangi Indonesia memiliki kadar katekin
cukup tinggi yaitu 9,28 persen. Hasil penelitian ini memberikan indikasi bahwa
berdasarkan kadar katekinnya teh Indonesia terutama teh hijau dan teh wangi memiliki
potensi menyehatkan yang lebih besar dari pada teh Cina maupun teh Jepang. Di samping
itu hasil penelitian kandungan katekin beberapa teh Indonesia ini juga dapat membuka
peluang pasar baru bagi teh Indonesia, yakni sebagai bahan baku industri katekin.
Prospek penggunaan katekin teh sebagai sarana penjaga ke-sehatan sangat bagus dengan
makin maraknya kebutuhan akan minuman penyegar penjaga stamina “functional food”
maupun “dietary food”.
Semakin tinggi kadar katekin pada teh semakin besar pengaruhnya terhadap kesehatan
manusia. Katekin dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan mencegah kanker.

PERMASALAHAN TEH
Pengembangan agribisnis teh masih menghadapi berbagai kendala dan tantangan, yaitu :
 Lambatnya Instansi terkait dalam menerbitkan perizinan khususnya perpanjangan
Hak Guna Usaha (HGU) menyebabkan adanya ketidakpastian hukum dan konflik sosial
yang berdampak pada tingginya resiko investasi pada industri teh.

Manajemen Agribisnis “Karet” 57


Dasar Hukuma Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan Pasal 19
Ayat 2;b. Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 587/Kpts/OT.160/9/2006 tentang
Pembentukan Komisi Teh Indonesia;c. Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor:
55/Kpts/OT.130/7/06 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Persiapan Pembentukan
Dewan Teh Indonesia.
 Belum terbangunnya infrastruktur yang efisien dan kenaikan biaya produksi
komoditi tersebut.
 Saat ini produksi teh dunia mengalami over suplai sekitar 8.000 ton dari total
produksi mencapai 3,4 juta ton, menyebabkan harga teh di pasar global kini menjadi
tertekan (turun).
 Negara konsumen seperti Inggris dan Amerika Serikat memberlakukan standar
produk.
 Kendala lain yang menggelayuti para petani, yaitu masalah modal dan
manajemen.
 Produktivitas kebun teh yang relatif rendah dan cenderung menurun. Produktifitas
kebun teh saat ini sekitar 1.900-2.000 kilogram teh kering per hektar per tahun. Angka itu
masih rendah dibanding negara penghasil teh utama yang mencapai 3.000 kg teh kering
per hektar per tahun.
 Banyak mutu teh yang belum memenuhi standar internasional (ISO 3720).
 Penghapusan Pajak Pertambahan Nilai dipandang mendesak untuk
menggairahkan industri hilir teh di Indonesia.
 Tingkat produksi dunia yang meningkat 4%-5%, sedangkan daya serap pasar
hanya 2,5% (atau kurang), dan hal ini tentu memicu berlebihnya stok dan penurunan
harga.
 Kenaikan UMR, bahan baku, pajak, kenaikan BBM dan tarif listrik, yang memicu
naiknya biaya produksi dan komponen produksi.
 Maraknya permasalah non teknis seperti masalah otonomi daerah, penjarahan dan
menurunnya tingkat keamanan di perkebunan.
 Produktivitas teh dalam negeri yang cenderung menurun akibat iklim yang tidak
menentu dan sulit
diperkirakan.
 Persaingan yang semakin ketat dengan datangnya negara produsen teh baru
seperti Vietnam. Hal ini juga memicu terjadinya kelebihan produksi teh dunia.
Persaingan dari barang subtitusi.
 Berkurangnya kepercayaan pembeli asing terhadap produsen teh Indonesia akibat
rawannya kondisi keamanan, politik dan ekonomi.
 Kurangnya inovasi dan daya juang untuk melakukan ekspansi penjualan yang
agresif ke negara konsumen lain seperti yang dilakukan oleh negara-negara produsen teh
lainnya.
 Menurunnya minat bekerja para pekerja produktif di sektor perkebunan.

SUBSISTEM AGRIBISNIS

1.Farming System (Input) :


Fungsi Input :
Fungsi input dari teh yaitu :

 Daun teh yang masih muda digunakan untuk komoditi utama dalam proses produksi
teh
 Akar dari teh dapat digunakan untuk furniture dalam bentuk meja cousin, kursi,
gantungan topi, dan sebagainya
 Ampas teh dari sisa pemakaian teh dapat dijadikan pupuk alami yang ramah
lingkungan dan mudah larut dalam tanah

Kendala dalam input teh :


Kendala dalam input teh yaitu :

Manajemen Agribisnis “Karet” 58


 Jika diadakan replanting (penanaman kembali) bibit harus diadakan dari Bandung.
 Dalam hal pengangkutan bibit dari Bandung menuju ketempat replanting,bibit teh
harus dibungkus karena bibit membutuhkan oksigen dan menghindari bibit teh dari hama
penyakit
 Bibit harus ditanam diatas permukaan laut dengan ketinggian yang harus
disesuaikan dengan kondisi tanaman
 Bibit tidak dapat ditanam langsung karena bibit teh dalam pengadaannya harus
melalui proses stek yaitu penyambungan
Solusi dalam Input teh :
Solusi dalam input teh yaitu :

 Proses pengadaan bibit harus disesuaikan dengan volume permintaan dan


pengadaannya harus tepat waktu
 Dalam hal pengangkutan bibit harus dibungkus sesuai dengan prosedur untuk
menghindari kekurangan oksigen dan dari hama yang akan menimbulkan penyakit pada
bibit teh
 Penanaman bibit juga harus disesuaikan dengan standar hidup tanaman
 Optimalisasi produktifitas kebun yang telah lama tidak mendapatkan perlakuan
yang seharusnya atau pengelolaannya di bawah standar yang seharusnya

2. Processing (Produksi) :
Fungsi Produksi :
Fungsi produksi dari teh yaitu :

 Untuk memenuhi permintaan pasar dalam hal ini pemenuhan komsumsi


masyarakat
 Untuk menghasilkan profit,dimana tujuan dari suatu melakukan proses produksi
yaitu mendapatkan profit semaksimal mungkin.

Kendala dalam proses produksi :


Kendala dalam proses produksi yaitu :
 BBM, dimana dalam proses produksi bahan bakar yang dipakai yaitu solar.Di
mana solar yang harganya mahal akan mengakibatkan biaya produksi menjadi lebih
tinggi
 Musim, apabila mengalami musim kemarau yang panjang maka akan
mengakibatkan berkurangnya produksi daun teh, dalam hal ini daun muda
 Keterampilan Tenaga Kerja, tenaga kerja yang dibutuhkan yaitu tenaga kerja yang
terampil.Dalam hal pemetikan daun teh haruslah diplih daun yang masih muda.Jika daun
tua yang dipetik maka mutu dan aromanya tidak bagus
 Hama, hama yang dihadapi yaitu hama ulat api yang memakan pucuk daun teh
terutama daun muda
 Topografi, keadaan topografi atau tata letak sangat mempengaruhi kesesuaian
pertumbuhan dimana perkebunan teh sangat membutuhkan curah hujan yang sangat
tinggi
 Tingginya biaya produksi teh dipengaruhi oleh biaya buruh dan penggunaan
bahan bakar solar
 Pada perkebunan teh, satu hektar tanaman teh membutuhkan 1,2 hingga 1,5
tenaga kerja. Bandingkan dengan kebun sawit yang hanya membutuhkan 0,35 tenaga
kerja per hektar
 Komponen biaya buruh mencapai 60 persen dari harga pokok produksi
 Penggunaan bahan bakar solar juga memberatkan produsen teh.Untuk mengolah
satu kg teh, dibutuhkan 0,34 liter solar
 Selain biaya produksi dan harga jual, pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
juga disebutkan para produsen teh sebagai disinsentif bagi pengembangan industri hilir
 Banyak mutu teh yang belum memenuhi standar internasional (ISO 3720)
 Peremajaan tanaman teh yang lambat dan mesin-mesin pengolahan yang kurang
mengarah kebutuhan dan permintaan pasar yang berubah secara dinamis dan cepat

Manajemen Agribisnis “Karet” 59


 Penurunan produksi teh akibat banyak lahan perkebunan teh yang tidak produktif
dan telah beralih fungsi

Solusi dalam proses produksi :


Solusi dalam proses produksi yaitu :

 BBM, saat ini dalam proses produksi telah digunakan bahan bakar alternativ yaitu
cangkang dari buah kelapa sawit dan batubara
 Hama, pencegahan dilakukan secara dini dengan melakukan
pengasapan,membasmi dengan pestisida yang ramah terhadap lingkungan dan tidak
mengakibatkan efek samping terhadap teh
 Keterampilan Tenaga Kerja, untuk mendapatkan hasil yang maksimal,tenaga
kerja diberikan perhatian dan pengarahan tentang pemetikan yang baik dan benar.Jika
dilakukan pemetikan yang salah maka hasil yang didapat tidak akan maksimal bahkan
jauh dari mutu yang diharapkan
 Optimalisasi produktifitas kebun yang telah lama tidak mendapatkan perlakuan
yang seharusnya atau pengelolaannya di bawah standar yang seharusnya
 Produsen teh harus memenuhi standar internasional (ISO 3720) yang merupakan
kewajibannya
 Mesin-mesin pengolahan yang kurang mengarah kebutuhan dan permintaan pasar
yang berubah secara dinamis dan cepat harus digunakan guna meningkatkan
produktivitas produksi

3.Riset and Development (Pengolahan) :


Fungsi Pengolahan :
Fungsi pengolahan teh yaitu :

 Untuk menambah nilai guna suatu produk terutama teh.Dalam hal ini pengolahan
teh dimulai dari bahan baku hingga menghasilkan teh yang berkualitas baik akan
menambah nilai guna suatu produk.
Kendala Pengolahan :
Kendala pengolahan teh yaitu :

 Mesin-mesin, dalam proses pengolahan teh kendala yang dihadapi yaitu mesin-
mesin yang digunakan.Jika, mesin yang digunakan mengalami kerusakan maka akan
berpengaruh terhadap produktivitas pengolahan dan tertanggunya proses produksi teh
 Mutu daun, jika mutu daun yang diolah kurang baik maka proses pengeringannya
akan memakan
waktu yang lama

Solusi Pengolahan :
Solusi pengolahan teh yaitu :
 Jika terjadi kerusakan, maka mesin-mesin tersebut harus diperbaiki guna
menghindari tertanggunya proses produksi
 Memberikan pengarahan kepada tenaga kerja khususnya dibagian pemetikan daun
teh untuk memetik daun yang masih muda.Karena daun yang masih muda, mutunya lebih
baik jika dibandingkan dengan daun yang sudah tua

4.Marketing (Pemasaran) :
Fungsi Pemasaran :
Fungsi pemasaran teh yaitu :

 Untuk memenuhi permintaan pasar akan produk yang dihasilkan, dalam hal ini
yaitu produk dari teh dan turunannya
 Untuk mendapatkan maximum profit atau laba atau pendapatan maksimal

Kendala Pemasaran :

Manajemen Agribisnis “Karet” 60


Kendala pemasaran teh yaitu :

 Komsumsi teh yang masih rendah dikarenakan kurangnya pengetahuan


masyarakat luas mengenai manfaat teh
 Biaya produksi yang lebih besar jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh
 Negara komsumsi teh seperti Inggris dan Amerika Serikat melakukan standar
produk
 Tidak transparannya akibat pembatasan-pembatasan tarif dan non-tarif dalam
melakukan ekspor
 Harga teh yang rendah didunia diakibatkan over produksi sehingga menekan
harga teh dunia
 Pengeloalaan akan permintaan teh yang tidak efisien

Solusi pemasaran teh yaitu :

 Memberikan penyuluhan kepada masyarakat bahwa pentingnya manfaat dari teh


 Menekan biaya produksi dengan cara mencari energi alternativ seperti cangkang
kelapa sawit dan batubara yang lebih murah
 Melakukan perbaikan dari segi tarif ekspor guna membantu produsen teh
meringankan biaya tarif ekspor
 Meningkatkan kerja sama dengan negara pengkomsumsi teh untuk dapat
membantu negara produsen memasuki pasar mereka dan memberikan dispensasi
mengenai pemberlakuan standar produk khususnya negara Inggris dan Amerika Serikat
 Membatasi produksi teh negara produsen guna meminimalisir over produksi yang
mengakibatkan harga teh tertekan
 Melakukan pembenahan akan permintaan teh

5. Supporting (Pendukung) :
Fungsi Pendukung :
Fungsi pendukung teh yaitu :

 Untuk meningkatkan mutu produk teh yang diproduksi


 Untuk meningkatkan efisien proses produksi teh dengan mendapat dukungan dari
mesin-mesin dan material pendukung lainnya
Kendala Pendukung :
Kendala pendukung teh yaitu :

 Mesin-mesin, mesin merupakan pendukung utama dalam proses produksi.Jika


terjadi kerusakan maka akan mengganggu produktivitas produksi
 Belum terbangunnya infrastruktur yang efisien dan kenaikan biaya produksi
komoditi tersebut
 Industri teh dunia kini tengah menghadapi tantangan akses pasar yang potensial,
sehingga membatasi kelancaran perdagangan komoditi tersebut
 Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) juga disebutkan para produsen teh
sebagai disinsentif bagi pengembangan industri hilir

Solusi Pendukung :
Solusi pendukung teh yaitu :
 Mesin-mesin pengolahan yang kurang mengarah kebutuhan dan permintaan pasar
yang berubah secara dinamis dan cepat harus digunakan guna meningkatkan
produktivitas produksi
 Membangun infrastruktur yang memadai atau sesuai dengan standar internasional
sehingga akan membantu mempermudah produksi teh
 Memperlancar perdagangan komoditi teh dengan membuat peraturan yang baru
dimana isi dari peraturan tersebut lebih memihak kepada produsen teh
 PPN sudah akan berarti banyak bagi industri teh, setelah itu Penghapusan
pembenahan lain untuk revitalisasi industri ini bisa dilakukan

Manajemen Agribisnis “Karet” 61


Dari kelima subsistem diatas yang menjadi perhatian dan paling berperan dengan
permasalahan komoditi teh yaitu Supporting atau pendukung. Karena pada umumnya
kendala yang dihadapi oleh produsen teh yaitu kendala infrastruktur yang kurang
memadai berupa teknologi untuk melakukan penelitian yang akan meningkatkan mutu
dan kualitas teh tersebut. Kurang memadainya infrastruktur ini mengakibatkan
pemenuhan kebutuhan dan permintaan akan teh tidak dapat terpenuhi dan peningkatan
kualitas mutu jauh dari harapan. Sedangkan Indonesia sebagai negara produsen teh
mendapat tuntutan dari negara-negara konsumen teh secara serius. Untuk dapat bersaing
secara global maka Indonesia harus meningkatkan mutu dan kualitas yang semula
berstandar medium ke bawah menjadi medium ke atas.

EFISIENSI KOMODITI TEH

Efisiensi komoditi teh dilakukan untuk mengurangi atau meminimalisir proses produksi
teh. Efisiensi komoditi teh dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Dari sisi bahan bakar yang digunakan. Bahan bakar yang digunakan dalam proses
produksi komoditi teh yaitu solar. Saat ini harga bahan bakar solar sangat tinggi seiring
naiknya harga minyak dunia. Untuk itu digunakan energi alternatif untuk menggantikan
fungsi solar. Bahan bakar yang digunakan untuk saat ini yaitu batu bara dan cangkang
inti sawit, yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar solar.
2. Untuk pengadaan bibit teh pada saat replanting atau penanaman teh kembali
haruslah diadakan sesuai dengan kebutuhan agar bibit yang diadakan tidak mengalami
over order yang akan meningkatkan biaya proses replanting.
3. Dalam penggunaan pupuk untuk membantu proses pertumbuhan tanaman teh saat
ini digunakan pupuk kimia. Pupuk kimia saat ini harganya melambung dan memiliki
dampak yang negatif terhadap lingkungan karena kita tahu bahwa pupuk kimia tidak
seluruhnya larut didalam tanah. Untuk itu, perusahaan harus menggunakan pupuk organik
yang ramah terhadap lingkungan. Selain itu, pupuk organik mampu larut habis didalam
tanah.
4. Mengelola tanaman sesuai kultur teknis dan dapat berproduksi secara
berkelanjutan.
5. Menghasilkan produk jadi yang berkualitas dan mempunyai daya saing tinggi.
6. Menekan harga pokok kebun.
7. Menerapkan prinsip back to basic dalam pengelolaan tanaman sesuai dengan
pedoman kultur teknis dan berorientasi tidak hanya jangka pendek tapi juga jangka
panjang, antara lain dalam bidang:
 Manajemen pemupukan
 Manajemen pangkasan
 Manajemen pengolahan tanah
 Manajemen proteksi tanaman
 Manajemen pohon pelindung, dan
 Manajemen pemetikan

8. Dalam bidang pengolahan diterapkan prinsip fleksibilitas pengolahan yang


berorientasi pasar dengan produk yang sesuai dengan standar baku mutu serta selalu
berupaya menerapkan inovasi-inovasi baru dalam bidang proses pengolahan baik hasil
pengkajian intern maupun benchmarking dari pihak lain.
9. Sumberdaya manusia sebagai aset perusahaan yang paling berharga dipacu untuk
selalu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya sehingga dapat mengikuti
perkembangan dalam situasi global saat ini. Untuk itu perusahaan memberikan
kesempatan kepada karyawan untuk mengikuti program-program pendidikan dan
pelatihan baik yang diadakan di lingkungan kebun (in-house training), di lingkungan
perusahaan maupun yang diadakan oleh pihak ketiga, dalam bidang-bidang : manajemen,
tanaman, teknik, teknologi pengolahan, administrasi, akuntansi, komputer, kewiraan,
kesehatan,dan sebagainya.

Manajemen Agribisnis “Karet” 62


10. Untuk menjaga kelangsungan usaha dalam jangka panjang serta mempertahankan
kemampuan perusahaan sebagai penyedia lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar
perkebunan, perusahaan diharuskan mempunyai program investasi dalam bidang
tanaman, antara lain:
 Pembuatan pesemaian teh tahun 2007 sebanyak 50.000 pohon
 Pemnuatan pesemaian teh tahun 2008 sebanyak 100.000 pohon
 Penanaman / kompacting tanaman teh

ANALISIS WOT

Sejarah singkat analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan


Threats) :

Analisis SWOT(Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) adalah alat


perencanaan strategi yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, lawan
dan ancaman meliputi dalam proyek atau dalam spekulasi bisnis. Ini melibatkan obyek
yang spesifik pada spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor didalam dan
faktor di luar yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan dalam mencapai obyek
tersebut. Teknik tersebut dibuat oleh Albert Humphrey, yang memimpin proyek riset
pada universitas Stanford pada tahun 1960 dan 1970 menggunakan data dari Fortune 500
companies.

1. Kekuatan atau keunggulan (Sthrengths) komoditi teh :


Kekuatan atau keunggulan komoditi teh yaitu sebagai berikut :
 Mulai meningkatnya ekspor dari tahun ke tahun walaupun sempat
mengalami penurunan.
 Teh memiliki manfaat terhadap kesehatan yang diantaranya
mengurangi kolesterol, mengontrol tekanan darah tinggi, untuk kesehatan kulit,
mencegah kanker, mengobati penyakit parkinson, dan sebagainya.
 Akar dari teh dapat digunakan untuk furniture yang menghiasi rumah,
seperti meja cousin, gantungan topi, dan sebagainya.

2. Kelemahan (Weaknesses) :
Kelemahan dari komoditi teh yaitu :
 Keterbatasan pengadaan input faktor termasuk tenaga kerja khususnya
tenaga pemetik, kurangnya pemerajaan tanaman teh yang tua, adanya perbedaan selera
konsumen internasional akan jenis teh yang di konsumsi.
 Komoditi teh saat ini yang dihasilkan oleh negara kita Indonesia belum
mampu bersaing dengan negara produsen teh lainnya seperti China, Srilanka, India,
Jepang, dan Vietnam.
 Teh yang dihasilkan oleh negara kita Indonesia dari segi mutu belum
cukup memuaskan, yang berdampak terhadap permintaan terhadap komoditi teh tersebut.

3. Peluang (Opportunities) :
Peluang dari komoditi teh yaitu :
 Adanya tradisi turun menurun untuk mengkonsumsi teh, sehingga minat
untuk teh cukup tinggi untuk pasar domestik.
 Kondisi iklim Indonesia yang mendukung pertumbuhan teh, sehingga
membuka peluang Indonesia cukup besar untuk menjadi produsen teh yang akan disegani
di perdagangan dunia internasional.
 Komoditi teh mampu memiliki peluang di pasar internasional dan bersaing dengan
negara produsen teh asalkan pajak ekspor teh dihapuskan.

4. Ancaman (Threats) :
Ancaman dari komoditi teh yaitu :

Manajemen Agribisnis “Karet” 63


 Banyak saingan dari Negara-negara pengekspor teh lainnya karena mutu
teh mereka jauh lebih baik. Permintaan pasar yang berubah secara dinamis dan cepat.
 Ancaman komoditi teh kita berasal dari negara-negara produsen teh yang
harganya mampu diatas harga standar yang digunakan dan mutu yang lebih baik dari
negara-negara produsen tersebut.
 Ancaman dapat berasal dari dalam negeri kita sendiri yaitu dapat berupa
pengenaan tarif ekspor yang tinggi dimana akan meningkatkan cost atau biaya produksi.

Segmen pasar yang dituju pasar domestik atau lokal untuk memenuhi kebutuhan di dalam
negeri. Segmen pasar selanjutnya yang dituju yaitu pasar internasional, di mana untuk
memenuhi kebutuhan negara-negara konsumen terutama negara-negara barat. Pada saat
ini, teh Indonesia telah mampu memasuki pasar di negara India dan Russia dengan harga
mencapai 1,5 dollar AS per kg. Ini menjadi tanda bahwa teh Indonesia telah memiliki
harga yang pantas dan tentunya ini akan menjadi “cambuk” untuk meningkatkan mutu
teh Indonesia serta akan memperoleh harga yang lebih tinggi lagi, tentunya.
Untuk positioning, Indonesia sebagai negara produsen teh masih berada di posisi ke lima.
Ini dikarenakan mutu dan kualitas teh kita masih berada dibawah negara-negara pesaing
produsen teh seperti, Kenya, Srilanka, Cina dan India.

BAURAN PEMASARAN
 Produk , pengetahuan konsumen tentang keberadaan produk teh
terbatas pada merek-merek tertentu, umumnya konsumen hanya dapat mengingat 3
- 5 jenis, tetapi hanya 1 - 2 merek diantaranya yang biasa dikonsumsi sehari- hari.
Keterbatasan pengetahuan tersebut berkaitan dengan keterbatasan informasi pasar
yang dilakukan oleh produsen.
 Pricing, Rata-rata harga teh Indonesia saat ini sekitar 1,4 dolar AS per kg.
Namun masih rendah dibanding rata-rata harga teh Kenya yang mencapai 2 dolar AS per
kg atau di Srilanka sekitar 1,85 dolar AS. Ini dikarenakan kebijakan tarif yang diterapkan
negara pesaing produsen teh sangat tinggi terhadap komoditi the Indonesia jika
memasuki pangsa pasar negara pesaing tersebut sebaliknya Indonesia menerapkan
kebijakan tari yang rendah terhadap komoditi teh negara pesaing yang akan memasuki
pasar Indonesia sehingga ini sangat merugikan negara kita sendiri. Maka, kebijakan ini
perlu ditata ulang, sehingga kita mampu bersaing dengan negara-negara produsen lainnya
selain perbaikan performance produk teh kita terutama mutu dan kualitas ke arah yang
lebih baik lagi (baik mutu air seduhan maupun kemasannya).
 Promotion, Ada lebih dari 100 merk teh yang beredar di Jateng dan DIY,
sedang secara keseluruhan merk teh yang terdaftar secara nasional ada sekitar 500-an
merk. Iklan atau promosi teh tidak signifikan dalam mengontrol angka penjualan apabila
tidak didukung oleh distribusi yang luas. Iklan atau promosi teh hanya dilakukan oleh
perusahaan dengan skala distribusi tingkat nasional. Saat ini sangat sedikit produsen teh
yang mengiklankan produknya di televisi secara nasional. Itupun pada kenyataannya
sangat jarang konsumen yang mengkonsumsi teh yang diiklankan tersebut.
 Place , Ketersediaan produk teh di pasar, erat kaitannya dengan
strategi saluran distribusi yang digunakan oleh produsen. Di Indonesia dikenal dua
jenis saluran distribusi khususnya komoditi teh. Pertama, untuk kebutuhan ekspor,
teh curah yang dikemas dalam bal untuk konsumen antara/industri, menggunakan
saluran distribusi langsung (lelang) yang dilakukan oleh Kantor Pemasaran Bersama
(KPB) yang berkedudukan di Jakarta, sedangkan untuk kebutuhan lokal, lelang
dilaksanakan di Kantor Pemasaran Bersama (KPB) yang berkedudukan di Kota
Bandung.

POTENSI EKSPOR TEH

Langkah peningkatan produktivitas kebun diperlukan untuk mempertahankan posisi


Indonesia sebagai negara pengekspor teh curah urutan ke lima di dunia setelah Kenya,
Srilanka, Cina dan India. Beberapa negara tujuan ekspor teh Indonesia antara lain Rusia

Manajemen Agribisnis “Karet” 64


(15,4%), Inggris (14,4%), Malaysia (9%), Pakistan (8,6%), Jerman (7%), Amerika
Serikat (7%), Polandia (5,4%), dan Belanda (5,3%). Kedelapan negara tersebut telah
menyerap pangsa pasar 72,1 % dari total ekspor teh Indonesia. Indonesia memiliki
potensi ekspor yang cukup besar mengingat teh tumbuh di daerah tropis dan sub tropis.

No. Sektor 2002 2003 2004 2005 2006 Trend 2007 Perubahan Pangsa
02 – 06 Jan - Sep 07/06 07

1. Teh 98,0 91,8 64,8 47,9 51,1 -17,76 49,8 28,12 1,89

Tabel diatas merupakan ekspor teh Indonesia yang terjadi antara tahun 2002 – 2006 dan
2007 (antara bulan januari – september).

Sumber : BPS

SAINGAN DI PASAR EKSPOR

Saingan Indonesia yaitu Kenya, Srilanka, India, dan Cina. Pada tahun 2005 volume
ekspor sempat merosot tajam. Hal yang paling disayangkan adalah penurunan volume
ekspor ke Rusia. Padahal "negeri beruang" ini justru merupakan negara tujuan ekspor teh
tertinggi bagi perkebunan besar negara. Hal itu disebabkan naiknya ekspor teh hitam
CTC dari Kenya ke pasar Rusia sebesar 105%. Sedangkan, konsumen besar lainnya,
Pakistan, lebih memilih teh asal Kenya dan India ketimbang Indonesia karena biaya
transport dan pengurusan biaya masuk yang lebih murah.
Jika dibandingkan dengan negara-negara pesaing, bea masuk yang dikenakan terhadap
komoditi teh yang akan memasuki pangsa pasar Indonesia cukup rendah. Sebaliknya, bea
masuk yang dikenakan negara-negara pesaing terhadap komoditi teh yang akan
memasuki pangsa pasar mereka dikenakan tarif yang sangat tinggi, sehingga ini semakin
menurunkan daya saing teh Indonesia terhadap teh negara-negara pesaingnya. Berikut ini
ditampilkan tabel mengenai tarif bea masuk komoditi teh :

Tabel : Bea Masuk Teh


Komponen Negara lain Bea masuk Indonesia ke :
ke Indonesia

Vietnam India China Srilangka


Bea Masuk 5,0% 50,0% 30,0% 32,0% 30,0%
PPn 10,0% 20,0% 26,0% 17,0% 15,0%
PPh 2,5% 0,0% 0,0% 3,0% 3,0%
Total 17,5% 70,0% 56,0% 52,0% 48,0%
Sumber :Aspatindo

Dari tabel di atas terlihat telah terjadinya “UNFAIR TRADE” dengan adanya pengenaan
tarif impor yang sangat berbeda jauh dan tidak adil. Akibatnya, teh asal Indonesia tidak
mampu bersaing di luar negeri sementara pasar dalam negeri rentan sekali diserbu produk
teh asing karena tarif bea masuk yang terlalu rendah.

Manajemen Agribisnis “Karet” 65


ATRIBUT KUALITAS TEH

1. ATRIBUT MUTU INDERAWI

Kompleksnya komposisi kimia dan sifat fisik teh, yang menyulitkan cara pengujiannya
menyebabkan atribut mutu inderawi teh menjadi hal yang amat penting dalam penetuan
posisi mutu teh. Mutu inderawi teh meliputi penampilan (fisik) teh kering, warna dan cita
rasa air seduhan serta penampilan ampas seduhan. Penampilan fisik teh kering ditentukan
oleh warna, ukuran dan bentuk partikel serta keseragamannya. Keberadaan partikel pucuk
muda (tip), tangkai, serat dan benda lain bukan teh juga merupakan parameter
penampilan fisik teh kering. Warna seduhan teh digambarkan sebagai jenis warna,
intensitas warna, kilat atau ”hidup” –nya warna. Selanjutnya cita rasa air seduhan
dinyatakan sebagai jenis, kekuatan, kesegaran, ketajaman, rasa asing dan cemaran.
Penampilan ampas seduhan menggambarkan kualitas pengolahan diantaranya warna
(kilat dan kecerahan warna), yang mencerminkan tingkat oksidasi ensimatik polifenol,
ukuran dan keseragaman ukuran menunjukkan hasil kerja sortasi.
Atribut mutu inderawi tersebut dinyatakan dengan istilah baku dalam bahasa Inggris
sehingga merupakan cara komunikasi mutu yang universal dalam industri dan
perdagangan teh. Beberapa atribut mutu inderawi telah dapat dijabarkan dalam besaran
fisik, kimia maupun biologi. Sebagai contoh misalnya, kekuatan rasa dinyatakan sebagai
kadar theaflavin, kenampakan tergulung dinyatakan dalam density, rasa asam ditentukan
melalui uji cemaran mikroba dan lain-lain.

2. ATRIBUT MUTU FISIK

Pada saat belum ditemukan cara pengujian mutu fisik maka atribut mutu fisik teh diukur
secara inderawi. Atribut tersebut misalnya kekeringan, kerapuhan, warna (teh kering, air
seduhan), bentuk, density, ukuran partikel dan lain-lain. Pada saat ini beberapa atribut
mutu fisik telah dapat ditentukan dengan prosedur dan instrumen analisis sifat fisik
tertentu sehingga cara mengkomunikasikannya lebih kuantitatif. Warna teh kering dapat
diukur memakai Chromameter, dan warna seduhan teh dinyatakan dalam besaran total
warna yang merupakan persen absorbansi sinar tampak pada panjang gelombang tertentu
atau secara kimia dinyatakan sebagai rasio theaflavin, thearubigin. Kekeringan atau
kerapuhan dinyatakan sebagai kandungan air. Ukuran partikel dapat dinyatakan sebagai
diameter hancuran berdasar Fineness Modulus dan Density terukur sebagai density curah
yang dinyatakan dalam volume per satuan berat.

3. ATRIBUT MUTU KIMIA

Atribut mutu kimia merupakan atribut tersembunyi. Karena kompleksnya susunan kimia
teh atribut kimia ini sangat banyak ragamnya. Kandungan kimia dalam daun teh,
perubahannya selama pengolahan dan pasca pengolahan sangat menentukan kualitas
kimia teh.
Atribut mutu kimia dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Penentu rasa : polifenol dan hasil oksidasinya
Penentu kesegaran : alkaloid (Cafein, Theobromine, Theophylin)
Penentu aroma : linalool, geraniol, ester-ester, minyak essensial dan lain-
lain
Penentu warna : theaflavin, thearubigin, khlorofil
Penentu daya manfaat : polifenol dan hasil oksidasinya, mineral,vitamin
Cemaran : logam berbahaya, residu pestisida, radio aktif

Kemajuan yang pesat dalam analisis kimia flavor (cita rasa) menyebabkan telah
teridentifikasinya lebih dari 300 macam senyawa penentu flavor teh, salah satu atribut
mutu kimia yang penting pada teh.

4. ATRIBUT MUTU BIOLOGI

Manajemen Agribisnis “Karet” 66


Sebagai bahan pangan asal tanaman maka teh juga memiliki beberapa atribut mutu
biologi. Misalnya adalah ketuaan daun, cemaran dengan jaringan daun tanaman selain teh
dan cemaran mikroba. Atribut mutu biologi yang saat ini sering dipermasalahkan adalah
Sanitary dan Phyto Sanitary yang dinyatakan sebagai angka lempeng total yang
merupakan cermin jumlah koloni mikroba pencemar (jamur) dalam satuan berat cuplikan
teh. Cemaran dengan jaringan tanaman dapat dideteksi secara mikroskopik melalui
pengecatan untuk melihat bulu, idioblast, stomata dan kalsium oksalat yang sangat khas
pada jaringan daun teh. Atribut mutu biologi ketuaan daun dapat didekati dengan analisis
kimia serat kasar, dimana makin tua daun makin besar kadar serat kasarnya. Analisis
petik dan analisis pucuk juga merupakan salah satu metoda evaluasi mutu biologi pada
teh.

5. BIAYA MODAL

Biaya modal atau sumber pendanaan perkebunan teh berasal dari pemerintah melalui
Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), lembaga perbankan, lembaga non –
perbankan, perorangan atau investor yang mempunyai hubungan dalam hal ini
pemenuhan kebutuhan modal, serta berasal dari perusahaan yang bersangkutan.
Sebagai contoh, suatu perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan teh, membutuhkan
sekurang-kurangnya modal Rp. 12 juta per hektar untuk melakukan peremajaan dengan
jumlah tanaman yang harus ditanam mencapai 13 ribu pohon per hektar.
Untuk saat ini, sangant sulit mendapatkan bantuan modal dari lembaga bank maupun
lembaga non bank, khususnya, yang kurang tertarik untuk mendanai perkebunan teh
tersebut. Ini dikarenakan harga komoditi teh yang masih berkisar diantara US$ 1,2 – 1,4
per kg.
Ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan perkebunan teh untuk meningkatkan
daya saing dalam hal ini mutu, untuk meningkatkan harga yang masih bisa digenjot naik.

KESIMPULAN

Teh merupakan tanaman yang memiliki khasiat untuk kesehatan. Ini didasarkan atas
penelitian dan berdasarkan peninggalan sejarah, di mana teh telah dikenal sekitar 5000
tahun silam. Maka tanaman teh tersebut perlu dikembangkan lebih lanjut. Khususnya
Indonesia, yang merupakan salah satu produsen teh, perlu meningkatkan produksi dengan
tidak mengesampingkan mutu teh itu sendiri. Di mana Indonesia sangat potensial untuk
menjadi produsen teh di dunia. Maka dari itu, perlu dukungan dari setiap lapisan
masyarakat, khususnya pemerintah agar memperhatikan potensi teh Indonesia.

Sebagai penghasil produk teh berbahan baku pucuk teh varietas assamica, Indonesia
berpeluang menghasilkan bahan minuman fungsional teh kaya katekin. Rekayasa proses
produksi teh kaya katekin telah dan akan terus dilakukan untuk dapat merebut peluang
pasar minuman fungsional. Keberhasilan rekayasa produksi minuman fungsional teh kaya
katekin diharapkan dapat memacu perkembangan industri teh Indonesia pada umumnya
dan industri teh rakyat pada khususnya.

SARAN

Untuk mampu bersaing dengan produsen teh lainnya, kami dari kelompok komoditi teh
menyarankan agar pemerintah memperhatikan permasalahan yang sedang dihadapi oleh
perusahaan yang bergerak di perkebunan teh. Selain itu, pemerintah juga perlu
memberikan bantuan modal guna melakukan peremajaan tanaman teh, di mana tanaman
teh Indonesia pada saat ini sedang memasuki masa re-planting. Di sisi lain, lembaga bank
dan non-bank perlu juga memberikan bantuan modal. Saat ini, lembaga bank dan non-
bank kurang tertarik dengan pemberian modal pada perkebunan teh. Hilangkanlah

Manajemen Agribisnis “Karet” 67


paradigma “kurang tertari” untuk mendukung kemajuan perkebunan teh Indonesia dan
membantu perekonomian masyarakat, khususnya rakyat kecil.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim (2002). Pelatihan Pengolahan Teh Hitam. Asosiasi Penelitian Perkebunan


Indonesia. Pusat Penelitian Teh dan Kina, Indonesia.
http://disperindag-jabar.go.id//?pilih=lihat&id=1319
http://www.bandungpress.com
Sumber:http://www.atmstravelnews.com/
http://www.library@lib.unair.ac.id
Website: www.youngstatistician.com Milist: stis44@yahoogroups.com
http://antara.co.id//terms
http://www.depperin.go.id/IND/Publikasi/Atase
http://titosuharto.wordpress.com/2008/03/22/teh-hitam-kurangi-risiko-jantung/feed
http://www.landize.com/khasiat-teh.html
http://anekailmu.blogspot.com/2007/04/27-manfaat-teh-hijau-bagi-kesehatan.html
http://abgnet.blogspot.com/2008/04/unfair-trade-pada-komoditas-teh.html

Manajemen Agribisnis “Karet” 68


MAKALAH
ANALISIS AGRIBISNIS KOMODITI KARET
DI INDONESIA

KELAS A

Kelompok V

Oleh :
1. Mia Mayesvi (C1B006001)
2. Astrinova (C1B006009)
3. Ely Hary Yansen (C1B006028)
4. Nana Paskanita (C1B006030)

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS JAMBI
2008

Manajemen Agribisnis “Karet” 69


DAFTAR ISI

1. Latar Belakang ......................................................................................................... 3


1.1. Lokasi Perkebunan Karet .......................................................................... 3
2. Pentingnya pengamatan Mulai dari Produksi dan Konsumsi ................................... 3
3. Prospek Karet dari Sisi Permintaan .......................................................................... 4
4. Permasalahan Komoditi Karet dilihat dari Sisi Agribisnis ....................................... 5
A. Subsistem Upstream Agribussiness (Hulu)/input pertanian ........................ 5
B. Subsistem On Farm/Produksi Pertanian .......................................................6
C. Subsistem/pengolahan/Agroindustri/hilir .................................................... 6
5. Subsistem Agribisnis ............................................................................................. 7
6. Subsistem agribisnis yang paling berperan ............................................................. 8
7. Analisis SWOT ....................................................................................................... 9
8. Bauran Pemasaran (4P) Komoditi Karet ................................................................ 9
9. Potensi Ekspor Karet .............................................................................................. 10
10. Atribut Kualitas Karet ............................................................................................ 11
11. Kesimpulan .............................................................................................................12
12. Daftar Pustaka ........................................................................................................13
13. Lampiran
1. Jalur Pemasaran Karet secara Umum ............................................................ 14
2. Jalur Pemasaran ekspor Karet Indonesia ....................................................... 15
3. TABEL ......................................................................................................... 16

Manajemen Agribisnis “Karet” 70


1. Latar Belakang
Dalam kehidupan manusia modern saat ini banyak peralatan-peralatan yang
menggunakan bahan yang sifatnya elastis tidak mudah pecah bila terjadi jatuh dari suatu
tempat. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan tersebut secara langsung kebutuhan
karet juga meningkat dengan sendirinya sesuai kebutuhan manusia.
Karet adalah polimer hidrokarbon yang terbentuk dari emulsi kesusuan (dikenal
sebagai latex) yang diperoleh dari getah beberapa jenis tumbuhan pohon karet tetapi
dapat juga diproduksi secara sintetis. Sumber utama barang dagang dari latex yang
digunakan untuk menciptakan karet adalah pohon karet Havea Brasiliensis. Ini dilakukan
dengan cara melukai kulit pohon sehingga pohon akan memberikan respons yang
memberikan banyak latex lagi.
Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam
upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor karet di Indonesia selama 20 tahun terakhir
terus menunjukan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta
ton pada tahun 1995 dan 2.0 juta ton pada tahun 2005. Pendapatan devisa dari komoditi
ini pada semester pertama tahun 2006 mencapai US $ 4,2 milyar (kompas, 2006).
Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi
karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatkan pendapatan petani
melalui perluasan tanaman karet dan peremajaan kebun bisa merupakan langkah yang
efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa
memberikan modal bagi petani atau pekebun swasta untuk membiayai pembangunan
karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.
Agribisnis karet alam di masa datang akan mempunyai prospek yang makin cerah
karena adanya kesadaran akan kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam,
kecenderungan penggunaan green tyres, meningkatnya industri polimer pengguna karet
serta makin langka sumber-sumber minyak bumi dan makin mahalnya harga minyak
bumi sebagai bahan pembuatan karet sintetis. Pada tahun 2002, jumlah konsumsi karet
dunia lebih tinggi dari produksi.
Indonesia akan mempunyai peluang untuk menjadi produsen terbesar dunia karena
negara pesaing utama seperti Thailand dan Malaysia makin kekurangan lahan dan makin
sulit mendapatkan tenaga kerja yang murah sehingga keunggulan komparatif dan
kompetitif Indonesia akan makin baik. Kayu karet juga akan mempunyai prospek yang
baik sebagai sumber kayu menggantikan sumber kayu asal hutan. Arah pengembangan
karet ke depan lebih diwarnai oleh kandungan IPTEK dan kapital yang makin tinggi agar
lebih kompetitif.

1.1. Lokasi perkebunan karet di Indonesia

Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk


pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area
perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di
seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet rakyat, dan
hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta. Produksi
karet nasional pada tahun 2005 mencapai 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa
ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan
pertanian milik petani serta lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan
karet.
2. Pentingnya Pengamatan Mulai dari produksi dan Konsumsi

Karena karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai
sumber pendapatan kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi
sentra–sentra baru diwilayah sekitar perkebunan karet, maupun pelestarian lingkungan
dan sumberdaya hayati. Pengamatan produksi dilakukan pada seluruh aspek kegiatan
yang berkaitan dengan produksi, yang meliputi :
a. Kegiatan proses produksi

Manajemen Agribisnis “Karet” 71


b. Kualitas produk yang dihasilkan, apakah telah sesuai dengan standarisasi (SIR) yaitu
merupakan faktor yang menentukan dalam tercapainya jaminan mutu untuk setiap
produk, dapat dilihat dari keaamanan, keselamatan, dan kesehatan bagi konsumen.
c. Biaya produksi yang dikeluarkan harus disesuaikan dengan harga karet dunia agar
petani tidak mengalami kerugian dan didukung dengan kualitas karet itu sendiri.
d. Pentingnya IPTEK bagi para petani, agar proses produksi dapat berjalan dengan baik
yang akan berimbas pada peningkatan hasil produksi.
e. Skala Produksi, produksi karet alam dunia meningkat dari 2 juta ton lebih pada
tahun 1960 mencapai 6,15 juta ton pada tahun 1996 dengan laju pertumbuhan 3,2%
per tahun. Namur selama 6 tahun terakhir (1996-2002) produksi karet alam dunia
tidak memperlihatkan pertumbuhan yang mencolok yaitu hanya sekitar 2,15% per
tahun.

Pentingnya pengamatan konsumsi :


Pengamatan konsumsi dilakukan guna mengetahui apakah karet yang diolah dan
diproses memiliki nilai ekonomis dan kualitas produknya memiliki standar yang dapat
diterima oleh konsumen.
Bila ditinjau untuk skala konsumsi karet itu sendiri sangat besar peluang dan daya
belinya. Dalam 6 tahun terkahir (1996-2002) konsumsi agregat karet alam dunia tumbuh
sekitar 3,0% per tahun. Pada tahun 2002 konsumsi karet alam dunia tercatat sekitar 7,39
juta ton, yang berarti lebih besar daripada tingkat produksi pada tahun yang sama. Lebih
tingginya konsumsi dibanding produksi pada tahun 2002 mencerminkan pertumbuhan
konsumsi yang lebih cepat sebagai dampak dari perubahan factor produksi dan
persaingan. Dengan makin majunya karet di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan
konsumsi dan ekspor karet, sehingga produksi karet pada tahun 2035 diperkirakan naik
sebesar 31,3 juta ton untuk industri ban dan non ban, dan 15 juta ton untuk karet alam.

3. Prospek karet dari sisi permintaan


Harga karet alam dipengaruhi permintaan (konsumen) dan penawaran (produksi)
serta stok dan cadangan. Menurut Internasional Rubber Study Group (IRSG) tentang
permintaan diperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan karet alam pada periode dua
dekade kedepan, terutama pabrik–pabrik ban seperti Bridgeston, Goodyar dan Michclin,
sehingga pada tahun 2004, IRSG membentuk Task Force Rubber Economi Project (REP)
untuk melakukan studi tentang permintaan dan penawaran karet sampai dengan tahun
2035. Hasil studi REP menyatakan bahwa permintaan karet alam dan sintetik dunia pada
tahun 2035 ada sebesar 31,3 juta ton untuk industri ban dan non ban, dan 15 juta ton
diantaranya ada karet alam.
Permintaan merupakan banyaknya barang yang diminta, dalam hal ini disebut
konsumsi. Faktor yang mempengaruhi perubahan tingkat permintaan karet adalah
konsumen dan harga. Konsumen akan membeli jika harga karet dianggap murah atau bisa
dijangkau. Sebaliknya konsumen tidak akan membeli kalau harga diluar jangkauannya.
Oleh karena itu, permintaan tergantung pada daya beli konsumen.
Konsumsi karet alam disaingi oleh barang pengganti karet. Barang pengganti ini
pengaruhnya sangat dominan terhadap perkembangan usaha perkembangan karet alam.
Semakin banyak barang pengganti karet, karet sintetis, akan semakin besar pengaruhnya
apalagi diikuti oleh harga yang lebih rendah.
Daya beli konsumen selalu dipengaruhi oleh naik turunnya kurs valuta asing,
terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia sebab nilai kurs mempengaruhi
pendapatan nilai devisa negara.
Besarnya konsumsi karet sintetis disebabkan akan naiknya permintaan akan
mobil. Dinegara industri mobil permintaan karet sintetis sangat besar (70%), sedangkan
negara-negara berkembang hanya (30%). Semua kegiatan memacu industri karet alam
dalam merebut pasar tidak lepas dari harga. Harga karet alam sendiri tidak lepas dari
harga barang lain yang diikutsertakan dalam proses produksi. Jika harga output tinggi,
berarti biaya akan tinggi dan harga barang akan tinggi pula.

72
Tingkat konsumsi karet alam Indonesia belum sampai pada tingkat kejenuhan,
paling tidak sampai pada beberapa dasawarsa mendatang. Pada saat tingkat kejenuhan itu
tercapai, industri karet alam sangat diharapkan tetap menggunakan karet alam untuk
sebagian besar industri. Dengan demikian angka konsumsi karet menjadi berimbang.
Sekarang yang harus dipertahankan adalah harga karet alamnya.
Konsumsi karet alam dunia dalam dua dekade terakhir meningkat secara drastis,
walaupun terjadi resesi ekonomi dunia pada awal tahun 1980an dan krisis ekonomi asia
pada tahun 1997-1998. Penawaran karet alam dunia pun meningkat lebih dari 3 % per
tahun dalam dua dekade terakhir dimana mencapai 8.81 juta ton per tahun.
Untuk perkembangan harga karet sintetik sebagai produk hasil industri harganya
relatif stabil dibanding dengan karet alam. Selain itu, karet sintetik harganya cenderung
naik sejalan dengan harga bahan baku, kenaikan biaya produksi dan tingkat inflasi dari
negara produsen. Hal ini berbeda dengan harga karet alam yang berfluktuasi yang
dipengaruhi oleh kondisi alam (cuaca/iklim), nilai tukar dan perkembangan ekonomi
negara konsumen.
Seiring dengan terbentuknya kerja sama tripartite antara tiga negara produsen
karet alam dunia (Thailand, Indonesia, dan Malaysia), harga karet alam di pasaran dunia
memperlihatkan kecenderungan yang membaik. Pada akhir tahun 2001 harga karet alam
berkisar antara US $ 46 sen per kg – US $ 52 sen per kg. Setelah masing-masing negara
anggota melaksanakan AETS (Agreed Export Tonnage Scheme) dan SMS (Supply
Management Scheme). Harga merangkak naik. Pada bulan Januari 2002 mencapai US $
53,88 sen per kg dan pada bulan Agustus 2003 mencapai US $ 83, 06 sen per kg.
Berdasarkan proyeksi jangka panjang (2010-2020) harga karet alam diperkirakan
akan dapat mencapai sekitar US $ 2,5 per kg. Hal ini diharapkan akan merupakan daya
tarik bagi pelaku bisnis di bidang agribisnis karet di Indonesia.

4. Permasalahan Komoditi Karet Dilihat Dari Sisi Agribisnis

A. Subsistem Upstream Agribussiness (Hulu)/input pertanian


a. Rendahnya Produktivitas
Rendahnya produktivitas terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (91%)
areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas yang di dominasi karet
remah atau crumb rubber. Rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan juga
oleh banyaknya areal tua rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit bukan klon unggul
serta kondisi kebun yang menyerupai hutan .
Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional adalah rendahnya
produktivitas karet rakyat (+ 600 kg/ha/th), antara lain karena sebagian besar tanaman
masih menggunakan bahan tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik, dan
tingginya proporsi areal tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif (+ 13%
dari total areal). Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet berada dalam kondisi tua dan
rusak dan sekitar 2-3% dari areal tanaman menghasilkan (TM) yang ada setiap tahun
akan memerlukan peremajaan. Dengan kondisi demikian, sebagian besar kebun karet
rakyat menyerupai hutan karet.

b. Sumber Dana
Adanya keterbatasan modal yang dihadapi oleh petani dalam membeli bibit
unggul maupun sarana produksi lain seperti herbisida dan pupuk, selain itu bahan tanam
karet unggul hanya tersedia di Balai penelitian melalui sistem Waralaba si sentra-sentra
pembibitan yang juga madih sasngat terbatas jumlahnya.
c. Kurangnya dukungan dan penyuluhan pemerintah
Dalam hal ini pemerintah kurang memberikan penyuluhan mengenai pengelolaan
karet dengan benar sehingga bagi petani biasa yang memiliki areal perkebunan yang
hanya beberapa hektar kurang menghasilkan karet yang berkualitas jika dibandingkan
perkebunan besar milik pemerintah dan swasta dan pemerintah juga telah menghentikan
pengutan CESS (dana untuk pengembangan, promosi, dan peremajaan) ekspor komoditi
karet sejak tahun 1970.

73
d. Kurangnya IPTEK.
Kurangnya IPTEK para petani karet yang ada di pedesaan, membuat produktivitas
dan kualitas karet yang di hasilkan rendah dan kurang bersaing di pasaran dunia.
e. Adanya hukum dan perundang-undangan penebangan
Pemerintah mengeluarkan peraturan dimana dalam membuka lahan baru, petani
diwajibkan memiliki surat izin penebangan. Diman proses mendapatkan surat izin
tersebut sangat rumit apalagi pada petani rakyat.
f. Kurangnya pemanfaatan kayu karet
Masalah lain yang dihadapi dalam komoditas karet adalah pemanfaatan kayu
karet baru sebatas kayu olahan, papan artikel, dan papan serat. Hal ini terjadi karena
lokasi pengolah kayu jauh dari sumber bahan baku sehingga biaya transportasi menjadi
tinggi. Oleh karena itu, harga kayu karet di tingkat petani masih rendah dan tidak menarik
bagi petani.
B. Subsistem On Farm/Produksi Pertanian
Arah kebijakan pada sisten on-farm adalah terwujudnya suatu kondisi dimana
ketersediaan sarana produksi, spesialisasi subsistem on-farm terletak pada produktivitas
hasil lateks dan kayu.
Masalah utama yang dihadapi oleh petani dalam sistem ini ketersediaan bahan
baku yang tidak kontinue.

C. Subsistem/pengolahan/Agroindustri/hilir
a. Rendahnya daya saing produk-produk industri lateks Indonesia bila dibandingkan
dengan produsen lain terutama Malaysia.
b. Adanya penurunan areal hutan, eksploitasi kayu hutan yang berlebihan, tidak adanya
program reboisasi yang berkesinambungan sehingga membuat permintaan akan karet
tidak dapat terpenuhi karena bahan baku yang kurang.

7. Subsistem Agribisnis
a. Farming
Untuk menanam dan menghasilkan karet yang unggul dan berkualitas serta
mempunyai produktivitas yang tinggi tidaklah mudah, semuanya harus diperhatikan
secara seksama dimulai dari ;
 Asal Bibit
Bibit yang bagus untuk karet unggul adalah bibit yang berasal dari penyerbukan
sendiri maupun silang yang dibantu serangga jenis (Nitudulidae, Phloeridae,
Eurculionidae) setelah sebulan terjadinya pembuahan sekitar 30-607 akan gugur
secara berangsur-angsur dan sisanya berkembang hingga masak, ini adalah bibit yang
bagus.
 Seleksi Bibit
Setelah mendapatkan bibit, tidak langsung dapat disemai tetapi terlebih dahulu
diseleksi untuk memisahkan antara bibit yang bagus dengan bibit yang kualitasnya
jelek, hal ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pemantulan dan perendaman,
apabila bijinya dipantulkan biji tersebut melenting maka biji tersebut berkualitas
bagus dan memiliki daya kecambah + 807. Sedangkan untuk perendaman apabila biji
tersebut direndam dan tidak mengapung/tenggelam maka biji tersebut bagus dan
mempunyai daya kecambah + 80-92%.
 Penyemaian
Penyemaian ini tidak bisa dilakukan sembarangan, sebelum penyemaian harus
disediakan media seperti pasir sungai yang bersih dan halus barulah disemai bibit
yang telah disediakan dengan cara menekan biji kedalam media pasir.Penyiapan
lahan
Dewasa ini budidaya karet dikenal beberapa istilah teknis yang berhubungan
dengan penyiapan lahan. Yaitu :

74
- New Planting (bukaan baru), penanaman karet yang dilaksanakanpada lahan yang
sebelumnya tidak ada penanaman karet.
- Replanting (pembukaan ulang), yaitu penanaman karet pada lahan yang
sebelumnya telah ditanami tanaman karet.
- Konversi, yaitu penanaman karet pada lahan yang sebelumnya ditanami jenis
tanaman keras/perkebunan lain.
 Jarak Tanam
Agar pertumbuhan dari karet yang ditanam bagus maka harus ditentu oleh jarak.
Jarak yang biasanya dipakai umum sempit yakni 3m x 3m atau 4m x 4m yaitu dengan
hubungan segitiga sama sisi sehingga jumlah tanaman tiap hektar cukup banyak.
Tetapi dewasa ini jarak yang digunakan 7m x 3m atau 7,14m x 3,33 m atau 8m x
2,5m.

b. Procesing
Setelah umur karet yang ditanam sudah mencapai 5-6 tahun maka karet tersebut
sudah bisa untuk disadap, penyadpan adalah mata rantai pertama dalam proses produksi.
Karet penyadapan dilaksanakan dikebun produksi dengan menyayat atau mengiris
(dewasa ini juga dengan cara menusuk) batang dengan cara tertentu dengan maksud
untuk memperoleh lateks atau getah.
Untuk memperoleh karet yang bermutu tinggi, pengumpulan lateks hasil
penyadapan dikebun harus bersih, proses pengolahan ini dimulai dari mengumpulkan
lateks dikebun penerimaan lateks. Pengangkutan lateks, pengumpulan gumpalan karet
mutu rendah menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas lateks serta bahan-
bahan kimia dan air sebagain bahan pengolahan.

c. Marketing
Setelah semua rangkaian dari proses telah dilaksanakan, kemudian sampai pada
proses/tahap pemasaran. Yang dipasarkan adalah lateks pekat hasil penguapan, yang
disebut Revertex Standar, memiliki kadar zat padat sekitar 73% dan kadar karet kering
68%. Untuk melakukan pemasaran harus memenuhi standar yaitu standar ISO dan dapat
juga menggunakan mutu standar menurut ASTN atau BS, meskipun demikian dalam
transaksi acapkali spesifikasi mutu lateks pekat ditentukan atas persetujuan antara penjual
dan pembeli.

75
d. Penelitian dan Pengembangan (R & D)

Dengan kondisi harga karet sekarang ini yang cukup tinggi, maka momen
tersebut perlu dimanfaatkan dengan melakukan peremajaan karet rakyat dengan
menggunakan klon klon unggul, mengembangkan industri hilir untuk meningkatkan
nilai tambah, dan meningkatkan pendapatan petani.
Strategi di tingkat on farm yang diperlukan adalah :
(a) penggunaan klon unggul penghasil lateks dan kayu yang mempunyai prosuktivitas
lateks potensial lebih dari 3000 kg/ha/th, dan menghasilkan produktivitas kayu
karet lebih dari 300 m3/ha/siklus
(b) percepatan peremajaan karet tua seluas 4000 ha sampai dengan tahun 2009 dan 1.2
juta ha sampai dengan 2025;
(c) Diversifikasi usaha tani karet dengan tanaman pangan sebagai tanaman sela dan
ternak untuk meningkatkan pendapatan petani;
(d) peningkatan efisiensi usaha tani.

Strategi di tingkat off farm adalah :


(a) peningkatan kualitas bahan olah karet (bokar) berdasarkan SNI yang diisyaratkan
oleh industri pengolahan.
(b) peningkatan efisiensi pemasaran untuk meninkatkan margin harga petani;
(c) penyediaan kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk peremajaan,
pengolahan dan pemasaran bersama;
(d) pengembangan infrastruktur;
(e) peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industri hilir yang ramah
lingkungan;
(f) peningkatan pendapatan petani melalui perbaikan sistem pemasaran.
e. Pendukung
Dalam melakukan pengeksporan karet biasanya dilakukan dengan menggunakan
peti kemas untuk lebih memacu, mempromosikan komoditi karet. Berkembangnya
teknologi otomatisasi dan komputerisasi juga sangat menuntut pasokan bahan baku yang
bermutu konsisten, termasuk juga mutu karet alam.

8. Subsistem agribisnis yang paling berperan


Subsistem yang paling berperan adalah farming, hal ini dikaitkan dengan
permasalahan dari komoditi tersebut yaitu:
 Rendahnya produktivitas
Pertanian indonesia umumnya bersifat tradisional, dengan tingkat teknologi dan
skill inikah menyebabkan pertanian indonesia tidak berkembang dengan
pesat,sehingga produktivitas pertanian rendah.Dengan produktivitas yang rendah
ini tidak dapat menutupi akan kebutuhan
 Belum ada sumber dana yang tersedia
Dana atau modal adalah faktor yang sangat penting dalam menjalankan suatu
usaha.Apabila dana tidak ada atau belum tersedia perusahaan tidak dapat
berjalan. Solusinya adalah dengan melakukan sistem perkreditan pada badan atau
lembaga yang dapat meminjamkan modal
 Kurangnya IPTEK
Rendahnya tingkat pendidikan di kalangan masyarakat pedesaan tidak dapat
menciptakan petani yang handal. Dengan tingkat IPTEK yang rendah ini sistem
pertanian Indonesia dapat tertingal dengan negara lain.

76
7. Analisis SWOT

. KEKUATAN (strength) dari komoditas karet :


 Karet merupakan salah satu komoditi ekspor yang mempunyai harga jual tinggi
juga salah satu penghasil devisa bagi Negara.
 Karet yang dihasilkan oleh perkebunan yang ada di Indonesia sudah lulus standar
ISO dan standar ASTN dan BS,
 Karet membutuhkan kondisi alam yang subur dan ini sangat sesuai dengan
kondisi alam di Indonesia
 Pembukaan lahan karet dapat dilakukan dengan replanting (bukaan Ulangan) dan
konversi.
 Karet dapat digunakan sebagai bahan industri mobil, ban, dll.
KELEMAHAN (weaknees) dari komoditas karet :
 Karet yang dihasilkan oleh petani desa pada umumnya berkualitas rendah.
 Nilai ekspor karet alam Indonesia dalam bentuk bahan baku mempunyai mutu
yang lebih rendah daripada Negara lain.
 Apabila datang musim penghujan maka kualitas karet sedikit menurun.
 Adanya penjarahan terhadap karet yang siap panen oleh oknum tertemtu.
 Kurangnya penguasaan teknologi baik dalam pembibitan, produksi dan
pengolahan pasca panen.
 Adanya pengurangan terhadap pupuk yang bersubsidi sehingga membuat petani
sedikit kesulitan dalam mencari pupuk yang murah.
 Kurangnya perhatian pemerintah terhadap perkebunan karet sehingga yang
mengelola karet hanya petani biasa, tidak seperti Thailand yang dikelola skala
kebunbesar oleh pemerintah.
PELUANG (opportunity) dari komoditas karet :
 Adanya lokakarya budidaya karet yang dilaksanakan oleh lembaga perkebunan
Indonesia.
 Adanya dukungan pemerintah dengan cara memberikan bibit unggul dengan
harga yang lebih murah.
 Diperkirakan Indonesia akan menempati urutan pertama produsen karet alam
dunia
ANCAMAN (Threat) dari komoditas karet :
 Nilai ekspor karet alam Indonesia dalam bentuk bahan baku lebih rendah
dibandingkan dengan Negara lain.
 Kurs dollar yang turun naik.
 Belum pulihnya kepercayaan Internasional terhadap Indonesia

8.Bauran Pemasaran (4P) Komoditi Karet


 Produk(Product)
Indonesia merupakan penghasil karet terbesar didunia.hal ini dikarenakan
indonesia menghasilkan jumlah karet yang cukup banyak dibandingkan negara
pesaing yaitu Thailand dan malaysia. Hasil karet tersebut dijual untuk pasar
domestik dan khususnya untuk diekspor ke luar negeri.Untuk pasar ekspor
indonesia bekerja sama dengan mitra usaha yang bergerak dibidang
pengeksporan untuk mengekspor karet ke pasar luar negeri. Hasil panen dari

77
karet tersebut berupa lateks segar yang dijual ke tengkulak atau pabrik
pengolahan.selanjutnya lateks tersebut diencerkan dengan air sampai kadarnya
20% setelah lateks diencerkan jadilah crepe, setelah kering crepe di pak atau
dibuat bandela-bandela dengn berat 50 kg bandela untuk selanjutnya dipasarkan
ke konsumen dalam dan luar negeri. Budidaya karet dapat mendukung program
pemerintah dibidang sektor pertanian dan perkebunan dan juga menambah
devisa negara.karet merupakan penyumbang terbesar devisa bagi negara.
 Penetapan Harga (pricing)
Dalam memproduksi karet ini para petani atau pengusaha berusaha untuk
meminimalkan biaya-biaya dengan cara melakukan perawatan tanaman secara
intensif untuk mengurangi resiko gagal panen. Sehingga produksi karet ini tidak
memakan banyak biaya. Pada akhirnya karet tersebut dapat dijual dengan harga
yang relatif terjangkau bagi konsumen. Selain itu penetapan harga karet juga
berfluktuasi atau berpengaruh terhadap harga dolar saat ini.bila mana dolar
mengalami kenaikan maka harga karet juga akan naik begitu juga sebaliknya
yang terjadi.
 Promosi (promotion)
Untuk memperkenalkan karet hal ini dirasa tidak perlu akan tetapi kegiatan
promosi disini dilakukan untuk memberitahu kepada konsumen tentang kualitas
dari produk karet tersebut. Kegiatan promosi dan publikasi karet dilakukan
melalui media cetak elektronik yaitu internet. Promosi dilakukan secara teratur
bertujuan untuk memberitahu kepada konsumen tentang kualitas yang
dihasilkan.perusahaan karet menggunakan promosi dalam bentuk :
o Internet, perusahaan akan membuat web-site tentang produk karetnya dan
hal-hal lain mengenai perusahaan penghasil. Media internet dipilih
karena saat ini internet merupakan sarana periklanan yang sangat efektif
mengingat target pasar dari karet adalah kalangan menengah atas serta
perusahaan negara asing.
 Lokasi (place)
Luas areal perkebunan karet di indonesia telah mencapai 3.262.291 hektar.areal
perkebunan karet di indonesia menyebar cukup merata karena terdapat 22
propinsi dari 30 propinsi. Propinsi yang memiliki areal perkebunan karet yang
terluas pada tahun 2004 adalah sumatera selatan yakni mencapai 671.920
hektar.dari total areal perkebunan karet di indonesia tersebut 84,5% diantaranya
merupakan kebun milik rakyat,8,4%milik swasta dan hanya 7,1% yang milik
negara.

9. Potensi Ekspor Karet

Adanya potensi ekspor komoditi karet di Indonesia, menurut J.P.Holomoan


(1991) destinasi ekspor komoditi karet alam indonesia adalah Amerika serikat sebesar
40 %,Singapura 32,8%,negara eropa barat sebesar 7,5%, Uni soviet 5%, Jepang 3,3%
dan beberapa negara lain sebesar 11,4%.
Dari data di atas terlihat jelas, bahwa Amerika serikat dan Singapura merupakan
pembeli terbesar hasil karet Indonesia. Peningkatan jumlah permintaan dari ke dua
negara ini tentu akan menyenangkan pihak produsen karet di Indonesia .Namun,bila ke
dua negar ini menurunkan permintaannya, maka produsen karet Indonesia sedikit
banyak akan tertanggu kestabilannya.
Beberapa tahun terakhir ini permintaan dari Amerika serikat cenderung menurun.
Hal ini bisa cukup di mengerti mengingat situasi dalam negri Amerika Serikat sekarang
ini. Kurang stabilnya perekonomian di negara itu mengakibatkan industri dalam

78
negerinya mengalami hambatan perkembangan. Belum lagi saingan industri mobil dari
Jepang yang memiliki industri mobil negara paman sam tersebut.
Produsen atau eksportir karet alam umumnya adalah negara-negara yang sedang
berkembang seperti Malaysia, Indonesia, Birma ,Thailand, dll.Maka persaingan terjadi
antara sesama negara yang sedang berkembang tersebut.
Untuk memperkuat daya saing karet alam Indonesia di pasaran internasional,
perlu diambil langkah-langkah sebagai tindak lanjut yang konkret. Langkah-langkah ini
diantaranya adalah meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengusahaan karet yang
meliputi berbagai bidang:
1. Bidang kultur teknis dan teknologi
Peningkatan produktivitas dan efisiensi dalam bidang ini meliputi
peningkatan produktivitas tanaman dan peningkatan mutu. Produktivitas
tanaman karet di Indonesia masih relatif rendah. Untuk memperbaiki
teknologi dan manajemen pengusahaan tanaman karet, fungsi dan partisipasi
balai penelitian karet hendaknya semakin di tingkatkan. Dalam hal ini perlu
digalakan peneliitan terutama dala hal budidaya karet. Cara lain untuk
memperkuat daya saing karet alam Indonesia dipasaran internasional adalah
dengan peningkatan mutu. Mutu karet harus ditingkatkan, baik mutu
produksi, mutu kemasan, maupun mutu pelayanannya.
2. Bidang pembiayaan dan keuangan
Peningkatan efektivitas dan efisiensi dibidang pembiayaan dan keuangan
merupakan upaya penggunaan dana seefektif dan seefisien mungkin agar
harga pokmok kaet yang dihasilkan cukup rendah. Dengan demikian,
poroduk karet itu mampu bersaing pada setiap tingkat harga jual yang terjadi
di pasaran internasional.
3. Bidang pemasaran sebagai ujung tombak.
Tujuan akhir setiap produk adalah penjualan. Oleh karena itu, suatu hal yang
harus dilaksanakan untuk menunjang keberhasilan yang sudah dibuat untuk
mencapai efektifitas dan efisiensi biaya dan mutu adalah pemasaran. Dengan
adanya pemasaran yang baik, maka semua aktivitas yang menyebabakan
tersedotnya dana dan daya perusahaan akan dikembalikan. Bahkan, akan
menaikan modal usaha dengan perolehan peruntungan yang tidak jauh
berbeda dengan yang direncanakan.
10. Atribut Kualitas Karet

Agar kualitas karet yang dihasilkan sesuai dengan standar internasional maka
diperlukan perlengkapan atau sarana yang berkualitas baik dalam memproses karet
menjadi berbagai macam produk. Perlengkapan yang digunakan antara lain adalah :
- Bahan baku yang dipakai memiliki kualitas yang baik
- Mesin dan peralatan yang canggih
- Keahlian karyawan atau tenaga kerja yang terampil
- Sistem perencanaan.
Kualitas karet alam :
- Memiliki daya elastis atau daya lenting yang sempurna
- Memiliki plastisitas yang baik sehingga pengolahannya mudah
- Mempunyai daya aus yang tinggi
- Tidak mudah panas
- Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap keretakkan
Kualitas karet sintetis :
- Tahan terhadap berbagi zat kimia
- Harganya yang cenderung bisa dipertahankan supaya tetap stabil.

79
-

KESIMPULAN

Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber
pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-
sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan
sumberdaya hayati. Namun sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi
kedua terbesar dunia, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya
produktivitas, terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (91%) areal karet
nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang didominasi oleh karet
remah (crumb rubber). Rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan oleh
banyaknya areal tua, rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit bukan klon unggul
serta kondisi kebun yang menyerupai hutan. Oleh karena itu perlu upaya percepatan
peremajaan karet rakyat dan pengembangan industri hilir.
Melihat perkembangan baik dari segi konsumsi maupun produksi karet dunia,
dalam tahun-tahun mendatang dipastikan masih akan terus meningkat. Indonesia
merupakan penghasil karet sekaligus sebagai salah satu basis manufaktur karet dunia.
Tersedianya lahan yang luas memberikan peluang untuk menghasilkan karet alami yang
lebih besar lagi dengan menambah areal perkebunan karet. Tetapi lebih utama dari itu,
produksi karet alam bisa ditingkatkan dengan meningkatkan teknologi pengolhan karet
untuk meningkatkan efisiensi, dengan demikian output (latex) yang dihasilkan dari input
(getah) bisa lebih banyak dan menghasilkan material sisa yang semakin sedikit.
Kondisi agribisnis karet saat ini menunjukkan bahwa karet dikelola oleh rakyat,
perkebunan negara dan perkebunan swasta. Pertumbuhan karet rakyat masih positif
walaupun lambat yaitu 1,58%/tahun, sedangkan areal perkebunan negara dan swasta
sama-sama menurun 0,15%/th. Oleh karena itu, tumpuan pengembangan karet akan
lebih banyak pada perkebunan rakyat. Namun luas areal kebun rakyat yang tua, rusak
dan tidak produktif mencapai sekitar 400 ribu hektar yang memerlukan peremajaan.
Persoalannya adalah bahwa belum ada sumber dana yang tersedia untuk peremajaan. Di
tingkat hilir, jumlah pabrik pengolahan karet sudah cukup, namun selama lima tahun
mendatang diperkirakan akan diperlukan investasi baru dalam industri pengolahan, baik
untuk menghasilkan crumb rubber maupun produk-produk karet lainnya karena
produksi bahan baku karet akan meningkat dan ini dapat dilihat pada tahun 2005
perdagangan karet di Indonesia mengalami surplus sebesar US $ 2,9 juta dimana nilai
ekspor lebih besar dibanding nilai impor. Potensi surplus ini masih bisa naik lagi
mengingat kebutuhan karet dunia yang terus meningkat, ditambah lagi apabila didukung
pengurangan volume impor karet dengan tercukupinya kebutuhan karet dalam negeri.

80
DAFTAR PUSTAKA

1. www.google.com
2. Makalah Chairil Anwar (pusat penelitian karet), “Perkembangan Pasar dan Prospek
Agribisnis Karet di Indonesia” ; 2006.
3. Makalah Cut Fatimah Zuhra, “Karet” ; 2006.
4. Tim Penulis PS, “KARET : Budi Daya Dan Pengolahan , Strategi Pemasaran”,
PT Penebar Swadaya, anggota Ikapi, Jakarta ; 2006.
5. Setiawan Heru Didit dkk, “Petunjuk Lengkap Budidaya Karet” agromedia Pustaka,
Solo ; 2005.

81
Jalur pemasaran karet rakyat secara umum

Petani Karet Rakyat

Hasil Karet Rakyat

Pedagang Tempat Lelang


Perantara/Tengkulak

KUD

Rumah-rumah asap
Atau pabrik yang mengolah
bokar

82
JALUR PEMASARAN EKSPOR KARET INDONESIA

Bahan olah karet rakyat Lateks


(BOKAR) kebun

Perkebunan besar
Pabrik pengolahan

PTP
Swasta
Kantor pemasaran
bersama

Medan Jakarta Surabaya

Lelang

Industri yang
menggunakan bahan
baku karet di dalam
negeri

Pembelian
langsung oleh
pihak luar
negeri/
perwakilannya

eksportir

dealer

Perusahaan
pengangkutan

importir

Konsumen luar negeri

83
TABEL VOLUME DAN NILAI EKSPOR IMPOR KARET ALAM INDONESIA TAHUN 1969 – 1990

Ekspor Impor
Tahun
Volume Nilai Volume Nilai
( ton) ( 000 US$ ) ( ton ) ( 000 US$ )
1 2 3 4 5
1969 657314 171750 0 0
1970 581190 185164 0 0
1971 580232 166476 0 0
1972 755960 161601 0 0
1973 866638 391372 0 0
1974 7947541 476076 0 0
1975 788292 358240 0 0
1976 789892 535693 0 0
1977 781967 575555 0 0
1978 865960 718045 1031 197
1979 865321 940603 1209 245
1980 976131 1165321 1980 458
1981 812800 835849 2324 1155
1982 797608 602148 1847 570
1983 938032 843465 365 124
1984 1009558 948391 24 37
1985 987771 708498 44 49
1986 958692 711612 151 106
1987 1092525 958047 0 0
1988 1132132 1243422 0 0
1989 1151409 1007198 823 1089
1990 1077331 846876 792 708

Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan,1991. ( Tim Penulis PS, “Budidaya dan Pengolahan, Strategi
Pemasaran”, 2006 )

84
85
86
MANAJEMEN AGRIBISNIS

RUMPUT LAUT

Disusun oleh :

Manajemen “A” 2005

Nama kelompok :

1.Ayuliyetrisnalisa C1B005004

2.Umi Fajariyah C1B005003

3.Dewi Afrianti C1B005036

4.Dion Kurniadi C1B005032

87
5.Bayu trisna Putra C1B005016

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS JAMBI

RUMPUT LAUT

Pendahuluan

Indonesia merupakan negera kepulauan yang terdiri dari lebih 13.600


pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Kondisi perairan Indonesia yang luas
dan subur mencerminkan potensi hasil laut yang cukup tinggi. Salah satu komoditi
sumberdaya laut yang ekonomis adalah rumput laut. Dari ratusan jenis rumput laut yang
tersebar di perairan pantai Indonesia, terdapat 4 jenis bernilai ekonomis yaitu marga
Gracilaria, Gelidium dan Gelidiella sebagai penghasil agar, dan marga Hypnea serta
Eucheuma sebagai penghasil carrageenan.

Istilah “rumput laut” adalah terjemahan dari “seaweed” yang merupakan nama
dalam dunia perdagangan internasional untuk jenis-jenis alga (e) yang dipanen dari laut.
Sebenamya penamaan rumput laut tidak tepat karena algae secara botanis tidak termasuk
dalam golongan rumput-rumputan (Graminae). Nama agar-agar juga diberikan kepada
jenis-jenis algae ini berdasarkan kandungan kimianya..Rumput laut merupakan bagian
dari tanaman perairan (alge) yang diklasifikasikan ke dalam 2 kelas yaitu makro alge dan

88
mikro alge. Rumput laut termasuk pada kelas makro alge, yaitu penghasil bahan-bahan
hidrokoloid, selain mengandung bahan hidrokoloid sebagai komponen primernya,
rumput lautpun mengandung komponen sekunder yang kegunaannya cukup menarik
yaitu sebagai obat-obatan dan keperluan lain yang cukup penting seperti kosmetik dan
industri lainnya.

Pentingnya pengamatan mulai dari produksi dan konsumsi

-produksi

Dari total produksi rumput laut di Indonesia sebagian besar dihasilkan di perairan
Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Walaupun perairan pantai Indonesia mempunyai
potensi sebagai penghasil rumput laut, tetapi masih kalah jauh dengan produksi rumput
laut dari Filipina. Hal ini disebabkan karena produksi rumput laut Indonesia selama ini
masih tergantung dari hasil panen dari alam, sedangkan di Filipina sudah dibudayakan
secara intensif. Usaha budidaya rumput laut di Indonesia baru dilakukan di beberapa
daerah seperti Bali, Sulawesi Tenggara dan itupun masih terbatas pada jenis Eucheuma.

Potensi produksi rumput laut kering rata-rata 16 ton per hektar per tahun. Jika luas
areal itu dimanfaatkan secara optimal, total produksi mencapai 17.774.400 ton per tahun.
Harga di pasar dunia saat ini sekitar Rp 4,5 juta per ton. Ini berarti, nilai pendapatan yang
diperoleh Rp 79,984 triliun.
Total produksi rumput laut basah rata-rata 223.000 ton atau setara dengan 30.000
ton kering. Setiap 8 ton rumput laut basah bisa menghasilkan 1 ton rumput laut kering.
Hingga kini baru 20.572 perusahaan skala menengah yang berinvestasi di budidaya
rumput laut dengan total investasi Rp 5,143 triliun.
-Konsumsi
Olahan sederhana dari rumput laut yang telah berkembang di Indonesia berasal
dari jenis Eucheuma.jenis ini dikonsumsi masyarakat dalam bentuk makanan,seperti
dodol, permen jelly, puding dan manisan nata rumput laut. Dari jenis Gracilaria adalah
agar-agar kertas, agar-agar batangan, agar-agar powder, sedangkan dari jenis Sargassum
antara lain adalah minuman Alginat. Biasanya produk olahan tersebut diproses secara
skala rumah tangga, penampilan produknya kurang menarik dan daya simpan kurang
lama. Hanya sebagian kecil yang telah diproses seraca modern dan dikemas dengan
menarik dan telah dijajakan di pasar swalayan.
Manfaat
Manfaat penggunaan rumput laut di bidang kesehatan telah lama diterapkan oleh
masyarakat tradisional, diantaranya adalah: rebusan rumput laut atau serbuk yang dibuat
pil digunakan untuk mengatasi sakit gondok karena rumput laut mengandung iodium.
Larutan berwarna coklat dari rumput laut juga berguna bagi penyakit rheumatik dan
menurunkan berat badan. Serbuk rumput laut juga lazim dikonsumsi untuk meningkatkan
daya tahan tubuh dan mengatasi segala jenis penyakit. Penggunaan phycocolloid dari
alginat dapat menyembuhkan penyakit kanker terbukti kemanjurannya menghasilkan
pemulihan 68 % dari 162 pasein kanker. Senyawa ini juga dapat mengatasi penyakit
bronchitis kronis atau emphysema (penyakit paru-paru), scrofula, gangguan empedu,
atau kandung kemih, ginjal, syphilis, tukak lambung, atau saluran cerna, reduksi
kolesterol darah dan anti hipertensi (Chapman & Chapman, 1980) .
Produk rumput laut digunakan juga dalam industri pangan seperti pembuatan jelly,
minuman dan makanan ringan, sosis, selai anggur dan pakan binatang piaraan.
Sedangkan pada pada industri non pangan seperti industri suspensi, cairan pembersih,
pelapis keramik, industri kertas, pencetakan tekstil dan karpet serta farmasi dan
kosmetika .
prospek Rumput laut dari sisi permintaan

Prospek usaha rumput laut di masa mendatang cukup baik dan memberikan
harapan. Sebagai contoh, permintaan dunia terhadap Eucheuma dari tahun ke tahun

89
cenderung meningkat. Bahkan menurut Doty permintaan dunia untuk jenis Eucheuma
di- taksir dapat mencapai 10 kali produksi alami. Tiga perusahaan industri carrageenan
terbesar didunia (USA, Denmark dan Prancis) setiap tahunnya membutuhkan rumput laut
sebanyak 20.000 ton sedangkan yang tersedia di pasaran dunia hanya 18.000
ton/tahun.Kemudian Porse menunjukkan bahwa dewasa ini permintaan dunia untuk
Eucheuma adalah 50.000 ton per tahun, sedangkan suplai hanya mencapai 44.000 ton
per tahun, untuk memenuhi permintaan dunia masih diperlukan 6.000 ton per tahun. Dari
sejumlah suplai Eucheuma, Indonesia hanya mensuplai 9 % - nya.

Permintaan (demand) akan rumput laut belakangan ini makin meningkat.


Berdasarkan hasil kajian Divisi Research and Development Departemen Studi Makro dan
Mikro Bank Ekspor Indonesia (BEI), perdagangan internasional rumput laut selama 2004
meningkat rata-rata 6% (dari sisi permintaan). Sedangkan, dari sisi persediaan (supply)
hanya 5%. Artinya, dengan permintaan komoditas rumput laut yang lebih besar
ketimbang produksinya, harga rumput laut diperkirakan meningkat pada masa
mendatang.

Permasalahan komoditi dari sisi agribisnis

a. Usaha budidaya tidak didukung dengan pemasaran yang terpadu.para petani


selalu berhadapan dengan tengklak yang cenderung menekan harga.
b. Kurang penyediaan bibit rumput laut yang berkualitas padahal bibit hanya boleh
dipakai paling banyak 4x musim tanamsecara berturut-turut,setelah itu harus
diganti,untuk menjaga stabilitas mutu produksi.
c. Tidak ada tenaga penyuluh yang khusus yang menangani rumput laut
d. Belum ada tata ruang yang membagi lokasi untuk usaha pembudidayaan

e. Sulit mencari lokasi budidaya laut dipantai utara dan selatan Jawa Tengah yang
memenuhi syarat, baik ditinjau dari segi kondisi oceanografis maupun segi
kondisi daratan.

f. Pasar lokal masih lemah dan daya beli masyarakat masih rendah dan pasar luar
negeri masih terbatas.Karena itu perlu promosi di pasar lokal, domestik dan luar
negeri.

g. Analisa ekonomi budidaya laut belum ada di Sumatera Utara, karena belum ada
uji-coba yang telah memberi data mantap, karena itu masih perlu meneruskan dan
mengembangkan uji-coba kultur laut ini.

h. Vegetasi daerah pantai dan estuaria dibanyak tempat telah rusak, terganggu atau
habis, karena itu telah banyak daerah pengembangbiakan alami hewan laut
dibawah kondisi minimal. Karena itu sumber benih alami untuk budidaya laut
masa depan diharapkan dari pembenih-pembenihan (Hatcheries).

subsistem agribisnis yang terkait dengan komoditi tersebut tersebut mulai dari farming
system,processing,marketing,R&D dan supporing lain yang berkaian.

-Farming system

Pada prinsipnya ada tiga metoda budidaya menurut posisi tanaman yaitu:

 Metoda didasar (bottom method)


 Metoda lepas dasar (off-bottom method)
 Metoda terapung (floating method)

90
Masing-masing metoda ini mempunyai keuntungan-keuntungan dan kerugian-
kerugian. Metoda penanaman dipilih berdasarkan keadaan perairan, tujuan budidaya dan
jenis rumput laut yang dibudidayakan.

Metoda di dasar (bottom method)

Pada penanaman dengan metoda ini bibit tanaman diikatkan pada batu-batu
karang dan disusun berbaris di dasar perairan. Keuntungan dengan cara ini adalah
murahnya biaya budidaya dan tidak diperlukan banyak pekerjaan pemeliharaan. Kerugian
yaitu mudah diserang bulu babi (sea-urchin). Mungkin di suatu area sulit diperoleh batu-
batu karang lepas dengan ukuran cukup. Metoda ini baik digunakan untuk jenis Gelidium
yang tumbuhnya diperairan terbuka dan menerima pukulan ombak besar terus menerus.
Metoda lain sulit dilakukan untuk jenis Gelidium ini karena bangunan budidaya tidak
dapat bertahan. Bila metoda ini digunakan untuk jenis Gelidium maka tujuannya bukan
untuk suatu usaha karena pertumbuhannya yang lambat. Cara ini berguna untuk
memperluas daerah penyebaran dan mempertahankan kelestarian stok.

Metoda lepas dasar (off-bottom method)

Jenis-jenis Eucheuma dan Gracilaria dapat ditanam dengan metoda ini. Mula-
mula bibit tertanam diikat tali plastic (rafia) masing-masing dengan berat kirakira 20 cm
dan direntangkan kira-kira 20–30 cm diatas dasar perairan dengan menggunakan kayu-
kayu pancang. Bebarapa diikatkan langsung pada kayu-kayu yang berjarak 5 m. Masing-
masing monoline jaraknya kira-kira ½ meter. Kedua pada kayu-kayu pancang
direntangkan 2 m nilon multifilamen (Æ 6 – 7 mm). Dalam barisan, jarak nilon
multifilamen kira-kira 2-½ m. Nilon monofilamen direntangkan dengan mengikatkannya
pada nilon multifilamen dengan jarak 20 cm. Modifikasi ketiga, dibuat jaring dari nilon
monofilamen dengan lebar mata 20 cm. Bibit tanaman diikatkan pada simpul-simpulnya.
Jaring ini direntangkan dengan kayu-kayu pancang.

Metoda ini mempunyai keuntungan yaitu terhindar dari bulu-babi. Penanaman


dapat dilakukan di area dengan dasar perairan terdiri dari pasir sehingga mudah
menancapkan pancang, sulit di lakukan diperairan dengan dasar perairang karang.
Kerugian dengan metoda ini ialah, sering diserang ikan-ikan herbivour pada waktu
pasang dalam.

Metoda ini memberikan nilai pertumbuhan yang baik bila di areanya terdapat arus
yang baik. Karena bila pergerakan air di area penanaman didominasi oleh ombak, maka
tanamen tidak atau sedikit manerima pergarakan air selama perioda pasong dalam,
sehingga pertumbuhannya kurang baik.

Metoda terapung (floating method)

Dibuat rakit-rakit dari bambu dan kayu dengan ukuran 2 sampai 4 meter. Ada dua
modifikasi dangan metoda ini yaitu monoline den net seperti halnya dengan metoda lepas
daser. Ditempat-tempat yang pergerakan airnya terutama terdiri dari ombak, sebaiknya
digunakan metoda ini. Demikian juga bila dasar periran terdiri dari karang yang keras
dimana sulit menancapkan pancang, dapat dwgunakan metoda ini. Untuk
mempertahankan agar rakit-rakit tidak hanyut, digunakan jangkar. Untuk efisiensi area,
beberapa rakit dijadikan satu. Makin banyak jumlah rakit, makin tinggi efisiensi area.
Pengaruh penyatuan sejumlah rakit terhadap pertumbuhan adalah negatip di mana makin
banyak jumlah rakit yang disatukan makin banyak pula jumlah rakit yang berada di
tengah dengan pertumbuhan tanaman jelek. Jumlah yang sebaiknya ialah 10 rakit (2 × 5)
rakit dijadikan satu.

-processing

91
Dalam kegiatan-kegiatan rumput laut, instalasi bangunan budidaya dan
pananaman memerlukan banyak tenaga kerja. Selanjutnya kegiatan pemeliharaan mudah
sekali dilakukan, asal dikerjakan secara teratur setiap hari. Pekerjaan pemeliharaan terdiri
dari membersiihkan tanaman dari tumbuhan penempel atau benda-benda lainnya,
menggantikan tanaman yang rusak atau hilang dengan yang baru dan memperbaiki
bagian-bagian bangunan budidaya yang rusak seperti monoline yang putus, bambu atau
kayu yang patah, tiang-tiang pancang yang tercabut dan lain-lain. Apabila kegiatan ini
dilakukan setiap hari maka kerusakan kerusakan berat dapat dihindari sehigga kerugian
yang lebih besarpun tidak akan terjadi.

Pertumbuhan tanaman pada umumnya tidak seragam. Sesudah sebulan masa


penanaman biasanya akan terlihat tanaman yang sudah mencapai ukuran besar, sementara
ada tanaman yang masih tetap kecil. Karena itu beberapa tanaman sudah dapat dipanen.
Di P. Samaringa, Sulawesi Tengah pada bulan-bulan tertentu tanaman diserang lumut.
Pembersihan tanaman dari lumut ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak sampai
merusak thallus. Bila tanaman telah merata mencapai ukuran kira-kira 600 grams sudah
waktunya untuk dipanen. Panen dilakukan dengan memotong dan meninggalkan sebagian
tanaman untuk dapat tumbuh besar lagi. Kadang-kadang dilakukan juga pengangkatan
seluruh tanaman kalau pengikatnya sudah tidak kuat lagi.

Penanaman rumput laut dilakukan dengan memanfaatkan sifat pertumbuhan


vegetatif. Pertumbuhan tanaman diukur dengan pertambahan beratnya tiap hari dan dapat
dihitung dengan rumus :

Untuk dapat memberikan kebijahsanaan-kebijaksanaan yang diperlukan


masyarakat nelayan/petani rumput laut sehubungan dengan keadaan tanaman sebagai
akibat dari lingkungan perairan maka diperlukan monitoring lingkungan perairan yang
meliputi sifat-sifat hidrologis dan biologis, serta monitoring pertumbuhan tanaman.
Monitoring pertumbuhan dilakukan dengan penimbangan tanaman contoh yang diberi
label setiap minggu sekali.

Contoh penanaman Eucheuma

92
Dari gambar diatas menunjukkan bahwa tanaman yang ada di lapisan atas tumbuh lebih
baik dari tanaman yang ada dibawahnya ( Tabel 1 ). Hal yang sama dijumpai pada
tanaman rakit apung bersusun rupanya perbedaan intensitas sinar yang diterima dilapisan
bawah sama dengan tanaman kontrol (kedudukan yang sama tetapi tidak bersusun).
Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa pada areal budidaya yang memungkinkan
kedalamannya dapat dilakukan penanaman dengan cara berlapis, sehingga pada luas areal
tertentu jumlah tanaman dan panenan akan dapat ditingkatkan. Efisiensi lahan dengan
cara penanaman berlapis dapat dilaksanakan.

Tabel 1. Laju pertumbuhan berat rata-rata percobaan penanaman


Eucheuma spinosum dan E. striatum
Laju pertumbuhan berat
Lokasi rata-rata (% /hari)
  Waktu percobaan Jenis
Propinsi Bali
0 1 2 3
1 23-8-84 s/d 20-9-84
Nusa Dua E. spinosum   2,38 2,20 2,39
. (28 hari)
2 19-8-84 s/d 15-10-84 Nusa
E. spinosum 3,68 3,00 3,00 -
. (57 hari) Lembongan
3 10-12-84 s/d 14-1-85 E. spinosum 3,28 2,39 4,12 -
Nusa Dua
. (35 hari) E. striatum 2.21 2.39 2,70 -
4 13-12-84 s/d 25-2-85
Serangan E. spriatum 5,00 - - -
. (43 hari)
5 17-12-84 s/d 13-1-85 Nusa Lem
E. spinosum 4,51 4,60 5,04 -
. (27 hari) bongan
6 17-12-84 s/d 28-1-85 Nusa E. spinosum
  3,40 3,10 -
. (42 hari) Lembongan E.striatum

Keterangan: 0 = metoda lepas dasar, 30 cm dari dasar sebagai kontrol


1 = metoda lepas dasar, 30 cm dari dasar (susun ke 1)
2 = metoda lepas dasar, 50 cm dari dasar (susun ke 2)
3 = metoda lepas dasar, 90 cm dari dasar (susun ke 3)

Penanganan lepas panen

Rumput laut di ekspor dalam bentuk raw-material. Sesudah dipanen baik dari
alam maupun dari budidaya, rumput laut dikeringkan dengan penjemuran sinar matahari
yang dilakukan masyarakat nelayan satu atau dua hari penjemuran sesudah panen dari
laut kemudian dijemur lagi sampai kering. Dengan care denikian dihasilkan rumput laut
yang bersih dangan warna kekuningan. Akan tetapi cara demikian dimana dilakukan
pencucian sesudah penjemuran setengah kering menyebabkan berkurangnya kadan
karaginan.

Penjemuran langsung diatas pasir tanpa alas menyebabkan tercam-purnya butir-


butir pasir pada rumput laut. Halini dapat mengurangi mutu perdagangan rumput laut.
Sebagai alas yang murah untuk penjemuran ini dapat digunakan daun kelapa. Dalam
standar perdagangan rumput laut antara lain diyatakan bahwa benda-benda asing yang
terdiri dari pasir, batu karang dan lain-lain tidak lebih dari 5 persen. Kandungan air
(moisture content) tidak lebih dari 30 persen. Pengepakan biasanya cukup dengan
menggunakan karung yang dapat diisi sampai beratnya 90 kg. Dalam penyimpanan di
gudang harus dijaga agar tidak sampai kena air hujan. Demikian pula dalam
pengangkutannya.

93
- marketing

Rantai pemasaran rumput laut mulai dari pemetik sampai eksportir di beberapa
daerah pada umumnya sama. Nelayan atau petani rumput laut menjual rumput laut hasil
panen dari alam atau budidaya kepada pedagang lokal (pedagang di kecamatan).
Kemudian oleh pedagang lokal dijual kepada pedagang antar pulau yang kadang-kadang
merupakan perwakilan eksportir yang ditempatkan di sentra-sentra produksi rumput laut.
Pedagang antar pulau tersebut membawa rumput laut kering kepada eksportir di kota-
kota pelabuhan seperti eksportir-eksportir di Ujung Pandang, Ambon, Surabaya,
Denpasar, Jakarta dan di kota pelabuhan lainnya

Permitaan pasaran dunia terhadap rumput laut saat ini sedang dalam keadaan
krisis sehingga terjadi kegoncangan-kegoncangan harga yang meresahkan masyarakat
nelayan. Tampak juga spekulasi-spekulasi dari para pedagang yang ternyata tidak
menguntungkan. Hal ini perlu mendapat perhatian pemerintah di tingkat pusat.

-riset and development

Subsistem yang berperan penting

Dari subsistem yang berperan penting dalam komoditi rumput laut adalah riset
and development.karena pengembangan rumput laut masih terdapat kendala.Selama
Indonesia masih tergantung pada hasil panen dari alam sehingga Indonesia belum dapat
bersaing dipasar internasional.

Analisis SWOT

Strengths

Penggunaan rumput laut di bidang kesehatan telah lama diterapkan oleh


masyarakat tradisional, diantaranya adalah: rebusan rumput laut atau serbuk yang dibuat
pil digunakan untuk mengatasi sakit gondok karena rumput laut mengandung iodium.
Larutan berwarna coklat dari rumput laut juga berguna bagi penyakit rheumatik dan
menurunkan berat badan. Serbuk rumput laut juga lazim dikonsumsi untuk meningkatkan
daya tahan tubuh dan mengatasi segala jenis penyakit. Penggunaan phycocolloid dari
alginat dapat menyembuhkan penyakit kanker terbukti kemanjurannya menghasilkan
pemulihan 68 % dari 162 pasein kanker. Senyawa ini juga dapat mengatasi penyakit
bronchitis kronis atau emphysema (penyakit paru-paru), scrofula, gangguan empedu, atau
kandung kemih, ginjal, syphilis, tukak lambung, atau saluran cerna, reduksi kolesterol
darah dan anti hipertensi (Chapman & Chapman, 1980) .

Weaknesses

Salah satu jenis rumput laut yang telah dibudidayakan secara intensif “eucheuma
cottonii” yang menghasilkan dodol, diolah dengan menggunakan bahan dasar rumput
laut.produk ini sangat spesifik dan telah memiliki pangsa pasar yang cukup luas, tapi
karena keterbatasan teknologi dan budidaya dodol yang belum memasyarakat sehingga
mutu dari dodol tesebut kurang baik,antara lain dari segi plastisitas,kepadatan, daya awet
dan pengemasan.

Opportunities

Potensi rumput laut di Indonesia untuk dimanfaatkan diberbagai bidang : industri,


kesehatan, farmasi, kosmetik, pangan, tekstil dll, baik dari komponen primernya ataupun
komponen sekundernya, khususnya yang menggunakan komponen hidrokoloid.

94
Sehingga bagaimana usaha untuk meningkatkan budidaya dan produksinya, sehingga
setiap tempat yang berpotensi dapat dimanfaatkan secara optimal. Indonesia harus yakin
bahwa mampu memproduksi berbagai produk primer dan sekunder dari rumput laut yang
cukup berlimpah di perairan kita sendiri, bahkan dengan mutu yang baik (Internasional)
yang mampu menyaingi produk impor.

threats

Pengembangan komoditi rumput laut di Indonesia masih akan mengahdapi


tantangan yang tidak kecil. Misalnya lemahnya manajemen dan keputusan ekonomi
dalam system produksi rumput laut, terutama tentang kualitas yang akan berpengaruh
terhadap ekspor.
Dimasa yang akan dating isu lingkungan pasti akan menjadi salah satu factor
krusial yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan komoditi rumput laut di
Indonesia.

Dimasa yang akan datang persaingan rumput laut dunia semakin ketat sehingga
apabila tidak diantisifasi dengan baik maka Indonesia akan kalah bersaing dengan
Filipina yang pemerintahannya sangat serius dalam membantuproduksi rumput laut.

Segmen pasar

Segmen pasar yang dituju Indonesia yaitu pasar domestic dan internasional

Positioning

Perdagangan rumput laut di Indonesia menempati posisi ke-5 dengan volume


produksi sebanyak 223.080 ton atau 8,66% setelah
philipina(34,34%),china(26,05%),jepang(16,94%),korea(8,69%).

Analisa bauran pemasaran (4P)

-produk

Produk rumput laut digunakan juga dalam industri pangan seperti pembuatan
jelly, minuman dan makanan ringan, sosis, selai anggur dan pakan binatang piaraan.
Sedangkan pada industri non pangan seperti industri suspensi,digunakan untuk : cairan
pembersih, pelapis keramik, industri kertas, pencetakan tekstil dan karpet serta farmasi
dan kosmetika

-pricing

Harga rumput laut masih ditentukan oleh eksportir karena rumput laut yang dibeli
eksportir belum memenuhi standar ekspor. Demikian juga harga rumput laut masih
dipengaruhi dan ditentukan para importir, karena sampai saat ini ada tiga importir besar
di dunia yang menguasai pasaran yaitu Marine Colloids INc. dari USA Pierrefitte Auby
dari Perancis dan The Copenhagen Pectin Factory dan Denmark. Ekspor rumput laut
pada umumnya lewat agen-agen mereka di Singapura, sehingga memperpanjang lagi
rantai pemasaran yang telah ada di Indonesia. Harga ekspor rumput laut dari Indonesia
berkisar US $ 425 - US $ 500/ton FOB atau sekitar Rp. 5000 - Rp. 10000, - per kg.

-place

Rumput laut di Indonesia sebagian besar dihasilkan di perairan Maluku dan Nusa
Tenggara Timur

-promotion

95
Nelayan atau petani rumput laut menjual rumput laut hasil panen dari alam atau
budidaya kepada pedagang lokal (pedagang di kecamatan). Kemudian oleh pedagang
lokal dijual kepada pedagang antar pulau yang kadang-kadang merupakan perwakilan
eksportir yang ditempatkan di sentra-sentra produksi rumput laut. Pedagang antar pulau
tersebut membawa rumput laut kering kepada eksportir di kota-kota pelabuhan seperti
eksportir-eksportir di Ujung Pandang, Ambon, Surabaya, Denpasar, Jakarta dan di kota
pelabuhan lainnya. Pemasaran rumput laut ke luar negeri melalui Surabaya yang
selanjutnya dikirim ke Jepang, Denmark dan Perancis. Disamping itu ada pula yang
langsung pemasarannya dari Bali ke Jepang.

potensi eksport

Ekspor rumput laut.

Prospek usaha rumput laut di masa mendatang cukup baik dan memberikan
harapan. Sebagai contoh, permintaan dunia terhadap Eucheuma dari tahun ke tahun
cenderung meningkat. Bahkan permintaan dunia untuk jenis Eucheuma di- taksir dapat
mencapai 10 kali produksi alami. Tiga perusahaan industri carrageenan terbesar didunia
(USA, Denmark dan Prancis) setiap tahunnya membutuhkan rumput laut sebanyak
20.000 ton sedangkan yang tersedia di pasaran dunia hanya 18.000 ton/tahun.

Ekspor rumput laut dari Indonesia pada tahun 1999 – 2004rata-rata 1950 ton per
tahun dengan nilai US $ 258.000. Volume ekspor tersebut dari tahun ke tahun selalu
berubah-ubah. Pada tahun 1997 dan 1998 ekspor rumput laut dari Indonesia mencapai
3.700 ton, setelah itu menurun dan pada tahun 2000 hanya 596 ton ; akan tetapi pada
tahun berikutnya meningkat lagi dan pada tahun 2003 mencapai 3.000 ton.

Ekspor rumput laut 1999–2004

TAHUN VOLUME NILAI (US $)


1999 1.836.076 170.132
2000 596.629 143.016
2001 690.291 61.302
2002 2.110.703 166.201
2003 3.402.139 346.619
2004 3.061.122 658.842
Impor agar-agar dan alginat 2000 – 2004

Agar-agar Alginat Total


Tahun
Volume (kg) Nilai (US$) Volume (kg) Nilai (US$) Nilai (US$)
2000 159.349         - - -
2001 43.372 300.710 4.639.508 5.114.598 5.415.308
2002 261.947 542.193 2.938.303 4.764.968 5.307.161
2003 350.111 526.957 3.717.901 4.848.997 5.375.954
2004 162.885 273.973 3.653.365 5.473.142 5.747.115

Saingan dipasar ekspor

96
Salah satu saingan rumput laut dipasar eksort adalah filipina.produksi rumput laut
di filipina sudah dibudidayakan secara intensif sedangkan di Indonesia masih tergantung
dari hasil panen dari alam.

kualitas dari rumput laut

kualitas rumput laut dan rantai pemasaran mempengaruhi harga yang diterima
pemetik rumput laut. Harga rumput laut di sentra produksi dapat ditingkatkan dengan
meningkatkan kualitas dan atau memperpendek rantai pemasaran. Kualitas dapat
ditingkatakan dengan melakukan usaha budidaya atau kultivasi dan penanganan lepas
panen yang baik. Rantai pemasaran dapat diperpendek dengan mengikutsertakan atau
melibatkan KUD yang berperan sebagai pengumpul sekaligus penyalur ke eksportir. Dan
untuk mendorong usaha budidaya perlu adanya penyuluhan cara-cara budidaya rumput
laut dan penanganan lepas panennya oleh tenaga penyuluh yang terampil, dan juga
pemberian pinjaman modal oleh pemerintah kepada para petani rumput laut dengan
bunga modal yang rendah.

Syarat mutu komoditi rumput laut

Karakteristik        
Eucheuma Gelidium Gracilaria Hypnea
- Kadar air makas (%) 32 15 25 20
- Benda asing maks (%) 5 5 5 5
- Bau spesifik spesifik spesifik spesifik
rumput laut rumput laut rumput laut rumput laut

Keterangan : Benda asing: rumput laut lainnya, garam, pasir, karang dan kayu (ranting)

Sumber : Soegiarto. A dan Sulistijo (1985).

Kandungan gizi pada rumput laut : Karbohidrat : 39 - 51 %


 Protein : 17,2 - 27,13 %

 Lemak : 0,08

 Abu : 1,5 %

 Mineral : K, Ca, P, Na, Fe, I

 Vitamin : A, B1, B2, B6, B12, C


(caroten

Daftar pustaka : www.google.com

97
Komoditi Kopi

DOSEN PENGASUH :
DR. Johanes, SE, M.Si
Novita Sari, SE

Kelompok 6:
1. Ricky Harrahap (C1B006035)
2. Monica tri O (C1B006021)
3. Emy Hayati (C1B006005)
4. Meryantina (C1B006010)

JURUSAN Manajemen
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JAMBI
2008
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Perkembangan Kopi

Sejarah kopi dapat ditelusuri jejaknya dari sekitar abad ke-9, di dataran tinggi
Ethiopia. Dari sana lalu menyebar ke Mesir dan Yaman, dan kemudian pada abad
limabelas menjangkau lebih luas ke Persia, Mesir, Turki dan Afrika utara.

Pada awalnya kopi kurang begitu diterima oleh sebagian orang. Pada tahun 1511,
karena efek rangsangan yang ditimbulkan, dilarang penggunaannya oleh para imam
konservatif dan othodoks di majelis keagamaan di Makkah. Akan tetapi karena
popularitas minuman ini, maka larangan tersebut pada tahun 1524 dihilangkan atas
perintah Sultan Selim I dari Kesultanan Utsmaniyah Turki. Di Kairo, Mesir, larangan
yang serupa juga disahkan pada tahun 1532, di mana kedai kopi dan gudang kopi ditutup.

98
Dari dunia Muslim, kopi menyebar ke Eropa, di mana minuman ini menjadi
populer selama abad ke-17. Orang Belanda adalah yang pertama kali mengimpor kopi
dalam skala besar ke Eropa, dan pada suatu waktu menyelundupkan bijinya pada tahun
1690, karena tanaman atau biji mentahnya tidak diijinkan keluar kawasan Arab. Ini
kemudian berlanjut pada penanaman kopi di Jawa oleh orang Belanda.

Ketika kopi mencapai kawasan koloni Amerika, pada awalnya tidak sesukses di
Eropa, karena dianggap kurang bisa menggantikan alkohol. Akan tetapi, selama Perang
Revolusi, permintaan terhadap kopi meningkat cukup tinggi, sampai para penyalur harus
membuka persediaan cadangan dan menaikkan harganya secara dramatis; sebagian hal ini
karena didasari oleh menurunnya pesediaan teh oleh para pedagang Inggris. Minat orang
Amerika terhadap kopi bertumbuh pada awal abad ke-19, menyusul terjadinya perang
pada tahun 1812, di mana akses impor teh terputus sementara, dan juga karena
meningkatnya teknologi pembuatan minuman, maka posisi kopi sebagai komoditas
sehari-hari di Amerika menguat.

1.2 Pentingnya Pengamatan mulai dari Produksi-Konsumsi.

Berikut beberapa point dan manfaat dari secangkir minuman yang bernama kopi,
yang berhasil kami rangkum dari berbagai sumber :
 Kafein yang terkandung didalam kopi adalah zat kimia yang berasal dari tanaman
yang dapat menstimulasi otak dan sistem saraf. Kafein tergolong jenis alkaloid
yang juga dikenal sebagai trimetilsantin. Selain pada kopi, kafein juga banyak
ditemukan dalam minuman teh, cola, coklat, minuman berenergi (energy drink),
cokelat, maupun obat-obatan.
 Kafein membantu Anda untuk bisa berpikir lebih cepat. Cobalah mengkonsumsi
kopi atau teh 15 menit atau 30 menit sebelum Anda melakukan wawancara
pekerjaan atau memberikan presentasi pada atasan. Hasilnya mungkin akan cukup
lumayan, karena kafein yang terdapat pada kopi atau teh terbukti mampu
memberikan ’sinyal’ pada otak untuk lebih cepat merespon dan dengan tangkas
mengolah memori pada otak.
 Kafein mencegah gigi berlubang. Cobalah untuk meminum secangkir kopi hangat
atau teh hangat sesaat setelah Anda mengkonsumsi cookies, cake coklat yang
lezat, permen rasa buah atau sepotong roti manis. Joe Vinson, Ph.D., dari
University of Scranton menjelaskan bahwa kafein yang terdapat dalam minuman
ini ternyata sangat tangguh memberantas bakteri penyebab gigi berlubang.
 Kafein mengurangi derita sakit kepala. Penelitian menemukan kafein yang
terdapat dalam kopi atau teh (dalam jumlah tertentu) sanggup menolong
mengobati sakit kepala. Menurut Seimur Diamond, M.D., dari Chicago’s
Diamond Headache Clinic. Penderita migrain dalam kategori ringan dapat
disembuhkan dengan secangkir kopi pekat atau secangkir black tea. Jadi, sebelum
mengkonsumsi obat cobalah dulu sembuhkan sakit kepala Anda dengan minuman
berkafein.
 Kafein bisa melegakan napas penderita asma dengan cara melebarkan saluran
bronkial yang menghubungkan kerongkongan dengan paru.
 Kafein dapat membuat badan tidak cepat lelah, bisa melakukan aktifitas fisik
lebih lama, di perkirakan karena kafein membuat “bahan bakar” yang dipakai otot
lebih lama.
 Kafein bisa meningkatkan rasa riang, membuat kita merasa lebih segar dan
energik.
 Perempuan yang minum dua cangkir kopi atau lebih per hari dapat mengurangi
risiko terkena pengeroposan tulang (osteoporosis).
 Kopi dapat meningkatkan penampilan mental dan memori karena kopi dapat
merangsang banyak daerah dalam otak yang dapat mengatur tetap terjaga,
rangsangan, mood dan konsentrasi. Penelitian di Universitas Arizona ditemukan
bahwa orang dewasa yang minum kopi sebelum test memori menunjukkan
perkembangan yang signifikan dibanding mereka yang minum kopi tanpa kafein.

99
 Kafein dapat menangkal radikal bebas dan menghancurkan molekul yang dapat
merusak sel DNA.
 Kafein juga melindungi jantung dan kanker.
 Untuk mengurangi risiko pengidapan diabetes mulailah meminum kopi.
Seseorang yang minum kopi lebih dari enam cangkir sehari berisiko rendah
terserang diabetes dibanding dengan orang yang tidak minum kopi sama sekali.
Demikian simpulan sebuah riset skala besar yang dilakukan pada 80 ribu orang
selama 18 tahun di AS.
 Parkinson jarang ditemukan pada orang yang minum kopi secara teratur. Sebuah
riset menyimpulkan penyakit ini justru ditemukan pada pria yang tidak minum
kopi tiga kali lebih banyak daripada pria penikmat kopi.
 Minum kopi membuat sperma “berenang” lebih cepat dan mampu
meningkatkan kesuburan pria. Hal ini diumumkan para ilmuwan Brasil dalam
pertemuan “American Society for Reproductive Medicine” di San Antonio,
dimana pembicaraan utama berkisar pada efek obat-obatan terhadap
kesuburankaum adam.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Permasalahan Komoditi dari Sisi Agribisnis

Dengan luas tanaman sekitar 1,2 juta ha dengan kemungkinan perluasan tanaman
kopi rakyat yang masih bisa terjadi di tahun mendatang. Produk kopi dapat mencapai
sekitar 450.000-500.000 ton serahun sampai akhir dasawarsa 1990-2000 ini. Ekspor kopi
sekitar 400.000-425.000 ton serahun bisa diperhitungkan.

Masalah yang di perkirakan akan di hadapi oleh perkopian Indonesia untuk tahun
mendatang di antaranya :
 Produksi kopi biji rakyat yang belum terlepas dari praktik yang kurang
pemeliharaan kebun, kebiasaan manipulasi mutu kopi biji yang merusak mutu
kopi Indonesia.
 Belum meningkatnya kemampuan untuk lebih besar menyediakan kopi arabika
untuk ekspor maupun kepentingan untuk pabrik-pabrik kopi di dalam negri
 Tidak jelasnya kebijaksanaan nasional di bidang perkopian, di bidang
pengembangan industri, mengenai pengolahan hasil dan penerapan standar mutu
di tingkat desa penghasil kopi biji
 Ketrampilan profesional dan disiplin usaha yang masih belum dimiliki oleh
pelaku-pelaku di sepanjang mata rantai tataniaga kopi, terutama menampung hasil
kopi kebun rakyat.

Solusi Permasalahan Kopi

 Melakukan peremajaan klonal tanaman kopi di banyak daerah terutama tanaman


kopi rakyat untuk menghasilakan biji-biji kopi yang seragam ukuran dan tidak
lagi terdiri lagi biji-biji yang berukuran kecil serta biji kopi yang mengandung
aroma khas kopi yang bermutu baik. Cara budidaya dengan multi stem prunning
perlu disaran kan pada masyarakat petani kopi guna meningkatkan hasil per ha.
 Di utamakan petik merah selektif untuk memperoleh tambahan hasil yang terdiri
dari biji-biji kopi yang bermutu baik serta dapat memperbaiki mutu seduh atau
cita rasa minuman kopi nya.
 Penjemuran biji kopi di laksanakan dengan cermat agar biji-biji kopi kering
merata, mencapai kering sampai kandungan air tidak lebih dari 12% dalam waktu

100
kurang 15 hari. Penjemuran di tanah akan menybabkan rasa bau tanah yang akan
merusak mutu. Perlu di lakukan sortasi untuk membuang kotoran biji-biji cacat
dan biji pecah perlu di masyarakatkan untuk produksi biji kopi yang bermutu
baik.

2.2 Prospek Komoditi

 Demand
Dari jenis kopi yang diproduksi, kopi Arabika merupakan bagian terbesar ( sekitar 70%)
dari total produksi dan 30% sisanya adalah kopi Robusta. Trend produksi kopi dunia
cenderung mengalami kenaikan. Produksi tertinggi terjadi pada tahun 1991/92, yaitu
lebih kurang 6 juta ton. Rata-rata produksi kopi dunia adalah 5,6 juta ton per tahun.

Negara produsen kopi terbesar adalah Brasil dengan produksi rata-rata 1,6 juta ton
per tahun, Colombia dengan produksi rata-rata 800 ribu ton per tahun dan Indonesia pada
urutan ketiga produsen kopi dunia, dengan produksi rata-rata 500 ribu ton per tahun.

 Supplay
Suplai kopi dunia akan mengalami defisit 5,9 juta karung – satu karung ekuivalen
60 kg. Itulah hasil survei yang dilakukan Reuters terhadap analis kopi dunia yang
dilaporkan baru-baru ini. Defisit itu dipicu oleh tingginya konsumsi kopi dunia
sebesar 111,9 juta karung sedangkan produksi dunia rata-rata 106 juta karung
pada 2003.

Di lain pihak, International Coffee Organization (ICO) bahkan memperkirakan


suplai kopi dunia akan mengalami defisit pada 2004 sebesar 11 juta karung.
Seorang analis dari CoffeeNetwork memprediksikan total produksi kopi dunia
pada 2004 akan mengalami penurunan menjadi 105,6 juta karung, masing-masing
40,5 juta karung robusta dan 65 juta karung arabika.

 Potensi Ekspor

Sejak tahun 1984 ekspor kopi Indonesia menduduki nomor tiga tertinggi setelah
Brasilia dan Kolombia. Bahkan, untuk ekspor kopi robusta, Indonesia menduduki
peringkat pertama dunia. Tahun 1997, posisi Indonesia bergeser menjadi
peringkat empat, tergeser Vietnam. “Pergeseran ini terjadi karena persaingan ketat
antar produsen kopi dan kelengahan Indonesia dalam mengamati posisinya di
pasar kopi internasional”.

Ekspor kopi yang dilakukan oleh negara-negara anggota pengekspor ICO selama
periode 1991/92 – 1996/97 hanya sedikit mengalami kenaikan, yaitu rata-rata
0,23% per tahun. Kenaikan inipun hanya terjadi pada masa 2 tahun terakhir
setelah pulihnya panen diberbagai negara produsen yang sebelumnya mengalami
kegagalan panen akibat kekeringan pada tahun 1994/95. Rata-rata ekspor selama
periode tersebut adalah lebih kurang 4,5 juta ton. Ekspor tertinggi tercatat pada
tahun 1996/97 sebesar 4,9 juta ton sedangkan terendah terjadi pada tahun 1994/95
yaitu sebesar 4 juta ton.

Peningkatan ekspor kopi olahan relatif lebih tinggi dari pada bentuk kopi lainnya.
Pada tahun 1991/92 total volume ekspor kopi olahan baru mencapai 1,62 juta ton,
dengan cepat meningkat menjadi 2,64 juta ton pada tahun1996/97, atau hampir
dua kali lipat dalan kurun waktu 5 tahun. Pasar kopi olahan ini lebih banyak

101
dikuasai Brasil dan Colombia masing-masing dengan pangsa pasar 58% dan 12%,
sedangkan Indonesia baru 1,3%. Dalam hal ekspor kopi olahan, pangsa pasar
Ecuador, India dan Ivory Coast masing-masing 8,6 %, 7,2 % dan 6,7 % jauh lebih
besar dari pada pangsa Indonesia.

2.3 Subsistem Agribisnis

 Farming System
1) Penanaman
Penanamam bibit di lubang-lubang tanaman yang telah di siapkan perlu di lakukan
dengan hati-hati agar perakaran bibit tanaman tidak rusakm untuk mencegah agar tidak
terjadi genangan air di lubang tanaman, permukaan tanah tenpat penanaman kopi harus di
bikin cenbung. Di anjurkan untuk memberikan tanaman serasah di sekitar tanaman dan
untuk tanah yang keadaan nya miring di perlukan penanaman tunbuhan penutup tanah
untuk mencegah erosi.

2) Pemeliharaan
Guna memperoleh hasil yang baik perlu di lakukan pemeliharaan tanaman secara
intensif. Perakaran tanaman kopin relatif dangkal dan memerlukan struktur tanah yang
terjaga baik dengan bahan-bahan organik, tata air maupun tata udara tanahnya.
 Pemupukan
Pemupukan tanaman perlu dilakukan agar persediaan hara dalan tanah tetap
terjamin, untuk kepentingan pertumbuhan vegetatif tanaman kopi maupun untuk
prmbentukan buah.
Untuk pemupukan secara tepat dan menghindarkan pemborosan penggunaan
pupuk di perlukan analisa tanah dan analisa daun dengan percobaan di lapangan.
Pemupukan yang intensif akan berpengaruh pada ukuran biji kopi yang lebih besar
Dan mendasari hasil kebun yang baik. Dosis pupuk harus di sesuaikan dengan keadaan
kebun, kesuburan tanah maupun umr tanaman. Di anjurkan pula menggunakan pupuk
majemuk dan di lakukan secara cermat sesuai dengan kebutuhan tanaman. Diawal musim
hujan misalnya tanaman lebih memerlukan unsur N untuk pertunbuhan vegetatif dan
unsur P untuk pembentukan akar. Pada akhir musim hujan tanaman memerlukan banyak
unsur K untuk memasakkan buah kopi. Pemupukan dianjurkan setelah pohon kopi di
pangkas dan di lakukkan pada lingkar piringan pohon kopi agar pupuk dapat di serap
secara maksimal oleh akar serabut tanaman kopi.

 Pemangkasan
Pemangkasan tanaman di perlukan agar tanaman tidak tumbuh terlalu tinggi dan
supaya merangsang prtumbuhan cabang-cabang yang di perlukan untuk pembentukan
buah. Pemangkasan juga di tujukan untuk memperoleh cahaya matahari ke batang dan
cabang tanaman guna merangsang pembentukan bunga serta memperlancar peredaran
udara yang akan membantu penyerbukan bunga-bunga tanaman kopi. Pemangkasan
tanaman untuk membuang cabang buah yang kurang produktif dan cabang yang terserang
penyakit agar tidak terus menjadi sumber gangguan kebun. Pemangkasan ini dilakukkan
setelah 2-3 kali berbuah. Pada tanaman berbatang ganda pemangkasan pohon ditujukan
untuk pembentukan tanggul penyanggah yang kuat untuk menumbuhkan beberapa
batang. Ini dapat dilakukan dengan bebarapa cara yaitu :
 Memelihara beberapa wiwilan pada pangkal batang pohon.
 Mencondongkan batang pohon atau menanam batang pokok dengan arah miring
 Merundukkan batang pokok atau dengan jalan menanggul batang

102
 Panen
Buah kopi arabika umumnya akan matang setelah 8 bulan dari saat pembuahaan
dan kopi robusta matang stelah 10 bulan dari saat pembuahaan.Buah kopi yang matang
dipohon berwarna merah pada kulit buahnya dan matang tidak dalam waktu yang
serentak, walaupun berasal dari dongkolan buah ataupun dari cabang yang sama.
Buah kopi yang dipetik matang akan menghasilkan biji kopi yang lezat dan
beraroma khas minuman kopi.Biji-biji kopi dari buah yang terptik mudah dan belum
matang akan menghasilkan biji-biji kopi yang kriput selagi dikeringkan dan menjadi biji-
biji hitam. Biji-biji keriput dan biji-biji hitam trgolong biji-biji cacat dan sangat merusak
cita rasa kopi seduhannya. Maka sangat diperlukan cara pmetikan secara racutan karena
buah-buah yang blum matang dan masih berwarna hijau akan turut terpetik.

 Processing

Biji kopi yang sudah siap diperdagangkan adalah berupa biji kopi kering yang sudah
terlepas dari daging buah, kulit tanduk dan kulit arinya, butiran biji kopi yang emikian ini
disebut kopi beras (coffca beans) atau market koffie. Kopi beras berasal dari buah kopi
basah yang telah mengalami beberapa tingkat proses pengolahan. Secara garis besar dan
berdasarkan cara kerjanya, maka terdapat dua cara pengolahan buah kopi basah men.iadi
kopi beras, yaitu yang disebut pengolahan buah kopi cara basah dan cara kering.
Pengolahan buah kopi sccara basah biasa disebut W.I..B. (West lndische Bereiding),
sedangkan pengolahan cara kering biasa disebut O.I.B (Ost Indische Bereiding).
Perbedaan pokok dari kedua cara tersebut diatas adalah pada cara kering pengupasan
daging buah, kulit tanduk dan kulit ari dilakukan setelah kering (kopi gelondong),
sedangkan cara basah pengupasan daging buah dilakukan sewaktu masih basah.

 Marketing

Biasanya kopi diperdagangkan dalam bentuk kopi beras dengan kadar air 13 %
sebagian kopi ini akan dipasarkan dalam negeri dan sebagian besar lainnya
diekspor.Rantai pemasaan kopi dari petani atau perkebunan bisa melalui bermacam-
macam jalur. Petani dapat nenasarkan kopi secara bebas dalam bentuk kopi beras atau
bentuk basah ke asosiasi petani kopi atau langsung ke pedagang
pengumpul,selanjutnya pedagang pengumpul akan memasarkan kopi beras ke
pedagang besar atau langsung ke eksportir dan perusahaan kopi bubuk,syaratnya kopi
harus bermutu baik dan sudah disortasi sehingga memenuhi syarat mutu yang di
tentukan.Tujuan dari kopi Indonesia sendiri adalah negara AS,Jerman,dan Jepang.
2.4 Sub system yang paling berperan dari permasalahan komoditi.
Dari subsystem agribisnis yang paling berperan yaitu marketing atau
pemasarannya.Indonesia belum bisa memanfaatkan jenis produk dan negara
pengimpor yang sedang tumbuh permintaannya.Selain itu, Indonesia juga kalah
bersaing dengan negara pengekspor kopi lainnya.
BAB III
PENGEMBANGAN KOMODITI

3.1 Konsep Perencanaan Pasar Strategi


 Analisis SWOT
Strengths

Lima faktor yang menjadi KEKUATAN bagi pengembangan agribisnis Kopi adalah:
a. Ketersediaan lahan yang didukung oleh keunggulan komparatif kondisi agroekologi
b. Sifat unggul buah Kopi untuk pasar regional dan nasional
c. Ketersediaan SDM dan masyarakat untuk mendukung hutan-rakyat Kopi yang
unggul

103
d. Sarana /prasarana dan kelembagaan penunjang yang komitmennya tinggi terhadap
perhutanan Kopi dan industri pengolahannya
e. Potensi pasar yang sangat besar.

Weaknesses

Beberapa KELEMAHAN yang menonjol adalah:


a. Kesenjangan hasil-hasil penelitian dengan aplikasi secara komersial
b. Posisi “lembaga pemasaran” sangat dominan
c. Belum terbentuknya keterkaitan-kemitraan yang adil antar pelaku (cluster) kebun-
rakyat Kopi & sistem distribusi Kopi
d. Produk yang dipasarkan masih terbatas pada buah segar.
e. Tingginya komponen biaya transportasi dalam struktur biaya produksi

Opportunities

Beberapa PELUANG yang dapat diidentifikasi adalah:


a. Pasar domestik (lokal, regional dan nasional) sangat terbuka
b. Diversifikasi produk-produk olahan Kopi sangat potensial
c. Kebutuhan pengembangan keterkaitan antara cluster produksi dan cluster distribusi
dalam kelembagaan KIMBUN Kopi terpadu
d. Kebutuhan Pemberdayaan sistem kelembagaan produksi

Threats

Ancaman yang dianggap serius adalah:


a. Hambatan-hambatan sistem distribusi /perdagangan buah Kopi
b. Persaingan dengan produk impor buah Kopi
c. Persaingan dengan komoditi lain dalam penggunaan lahan
d. Hambatan-hambatan sistem industri pengolahan Kopi

 Segmen Pasar
Segmen pasar yang dituju dari kopi Indonesia antara lain Jepang, Malaysia,
Kanada, Perancis, dan Inggris masih terbuka. Negara Jepang, Malaysia dan Rusia
merupakan pasar yang potensial untuk meningkatkan volume ekspor kopi terlarut
dari Indonesia.
 Positionong
Postioning yag terjadi saat ini,Indonesia menempati penegexport kopi nomor 4
setelah Brazil, Kolumbia dan Vietnam. Indonesia memenuhi kebutuhan kopi baik
untuk dalam negeri maupun internasional.
3.2 Bauran Pemasaran
 Produk
Produk utama yang dihasilkan kopi yaitu kopi bubuk, dari kopi bubuk ini dapat
dibuat macam-macam kopi olahan, seperti kopi instan yang telah banyak dibuat
oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia.
 Price
Harga kopi diIndonesia sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga kopi internasional
dan nilai tukar rupiah terhadap AS.Saat Indonesia dilanda krisis ekonmi dimana
melalui tukar rupiah melemah terhadap dolar AS., menyebabkan harga kopi
domestik melambung tinggi walaupun harga kopi Internasional merosot tajam.
 Place
Tempat yang menjadi tujuan ekspor kopi Indonesia adalah AS, Jerman dan
Jepang.Daerah penghasil kopi terbear di Indonesia adalah Lampung, Sumatra
Utara dan Bengkulu.
 Promotion

104
Saat ini kopi produksi Indonesia menguasai 20% pasar Eropa, tetapi masyarakat
di Eropa selama ini belum banyak yang mengetahui kopi yang dikonsumsi adalah
produksi Indonesia karena kurangnya promosi. Mestinya pemerintah dan swasta
lebih giat melakukan promosi, sehingga penetrasi pasar lebih mudah, seperti yang
dilakukan pemerintah dan kalangan swasta produsen kopi dunia lainnya.

3.3 Atribut Kualitas


Atribut kualitas kopi adalah cita rasa dan aromanya. Para konsumen dapat menilai
apakah produk dari kopi itu bagus atau tidak, dapat dirasakan dari aromanya, kopi
yang kualitasnya baik, aromanya wangi, dan mempunyai cita rasa yang khas.

105