Anda di halaman 1dari 25

c c

















 
c
 
 




 c 

 !  "# c $  %$ &%' ($ 








&  )*+& #
$+c,'  * ,,$,- !,
' -+). $-,-.  )*+/)*+-$# . 
!++$ -,-. 
c+0,-.,


)*& c$ # 


c c



Disusun sebagai tugas dalam ujian mayor stase Bedah di Bagian Bedah
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Fakultas Kedokteran dan
Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto


Disusun oleh :
Ghariza Puspa Dinia
G1A208023

Disetujui dan Disahkan,


Pada tanggal, Oktober 2010

Dokter Penguji,


dr. Johny H. P. Silalahi, Sp. B, FinaCS

 '$

Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang

dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007.

Menurut p     


     (IASP), nyeri adalah sensori

subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan

kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi

terjadinya kerusakan.

 '$,),

Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima

rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung

syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara

potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga  


 secara anatomis

reseptor nyeri (  


) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak

bermielin dari syaraf perifer.

Berdasarkan letaknya,    dapat dikelompokkan dalam beberapa

bagaian tubuh yaitu pada kulit   , somatik dalam ( 
), dan

pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul

juga memiliki sensasi yang berbeda.

a. | 
   berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal

dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan. Reseptor

jaringan kulit (  ) terbagi dalam dua komponen yaitu :


1. Reseptor A delta, merupakan serabut komponen cepat (kecepatan

tranmisi 6-30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang

akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan.

2. Serabut C, merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi 0,5

m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya

bersifat tumpul dan sulit dilokalisasi.

b. Struktur reseptor nyeri somatik dalam meliputi reseptor nyeri yang terdapat

pada tulang, pembuluh darah, syaraf, otot, dan jaringan penyangga lainnya.

Karena struktur reseptornya komplek, nyeri yang timbul merupakan nyeri

yang tumpul dan sulit dilokalisasi.

c. Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor viseral, reseptor ini meliputi

organ-organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal dan sebagainya. Nyeri

yang timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap pemotongan

organ, tetapi sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia dan inflamasi.

Banyak teori berusaha untuk menjelaskan dasar neurologis dari nyeri,

meskipun tidak ada satu teori yang menjelaskan secara sempurna bagaimana nyeri

ditransmisikan atau diserap. Untuk memudahkan memahami fisiologi nyeri, maka

perlu mempelajari 3 (tiga) komponen fisiologis berikut ini:

Resepsi : proses perjalanan nyeri

Persepsi : kesadaran seseorang terhadap nyeri

Reaksi : respon fisiologis & perilaku setelah mempersepsikan nyeri

Fisiologi Nyeri :

1. Transduksi adalah proses dimana stimulus noksius àaktivitas elektrik

reseptor terkait. Pada nyeri nosiseptif, fase pertamanya adalah transduksi,


konversi stimulus yang intens apakah itu stimuli kimiawi seperti pH

rendah yang terjadi pada jaringan yang meradang , stimulus panas diatas

420C, atau kekuatan mekanis. Disini didapati adanya protein transducer

spesifik yang diekspresikan dalam neuron nosiseptif ini dan mengkonversi

stimulus noksious menjadi aliran yang menembus membran, membuat

depolarisasi membran dan mengaktifkan terminal perifer. Proses ini tidak

melibatkan prostanoid atau produksi prostaglandin oleh siklo-oksigenase,

sehingga nyeri ini, atau proses ini, tidak dipengaruhi oleh penghambat

enzim COX-2.
2. Transmisi, dalam proses ini terlibat tiga komponen saraf yaitu saraf

sensorik perifer yang meneruskan impuls ke medulla spinalis, kemudian

jaringan saraf yang meneruskan impuls yang menuju ke atas (ascendens),

dari medulla spinalis ke batang otak dan thalamus. Yang terakhir

hubungan timbal balik antara thalamus dan cortex. Ada dua jenis transmisi

saraf :

a) Ionotropik dimana mediator bekerja langsung pada pintu ion ke dalam

sel. Ciri jenis transmisi itu adalah (i) proses berlangsung cepat dan (ii)

masa proses singkat.

b) Metabotropik dimana mediator bekerja lewat perubahan biokimia pada

membrane post-sinaps. Ciri transmisi cara ini adalah (i) lambat dan (ii)

berlangsung lama. Prostaglandin E 2 termasuk dalam golongan

metabotropik; Hiperalgesia karena prostaglandin E 2 terjadi lambat

tapi berlangsung lama. Morfin dan obat-opiat lainnya juga masuk

golongan metabotropik, tetapi obat-obat ini menghambat hiperalgesia

² bekerjanya juga lambat dan berlangsung lama. Trauma mekanik

rupa-rupanya langsung merusak integritas membran dan tergolong

ionotropik , bersama bradykinin. Rasa nyeri timbul cepat dan

berlangsung singkat, kecuali bila kerusakan yang ditimbulkannya

hebat tentu rasa nyeri dapat berlangsung lama.

3. Modulasi yaitu aktivitas saraf utk mengontrol transmisi nyeri. Suatu jaras

tertentu telah diteruskan di sistem saran pusat yang secara selektif

menghambat transmisi nyeri di medulla spinalis. Jaras ini diaktifkan oleh

stress atau obat analgetika seperti morfin (Dewanto). Pada fase modulasi
terdapat suatu interaksi dengan system inhibisi dari transmisi nosisepsi

berupa suatu analgesic endogen. Konsep dari system ini yaitu berdasarkan

dari suatu sifat, fisiologik, dan morfologi dari sirkuit yang termasuk

koneksi antara periaqueductal gray matter dan nucleus raphe magnus dan

formasi retikuler sekitar dan menuju ke medulla spinalis.

Analgesik endogen meliputi :

- Opiat endogen

- Serotonergik

- Noradrenergik (Norepinephric)

Sistem analgesik endogen ini memiliki kemampuan menekan input nyeri

di kornu posterior dan proses desendern yang dikontrol oleh otak

seseorang, kornu posterior diibaratkan sebagai pintu gerbang yang dapat

tertutup adalah terbuka dalam menyalurkan input nyeri. Proses modulasi

ini dipengaruhi oleh kepribadian, motivasi, pendidikan, status emosional &

kultur seseorang.

4. Persepsi, Proses impuls nyeri yang ditransmisikan hingga menimbulkan

perasaan subyektif dari nyeri sama sekali belum jelas. bahkan struktur otak

yang menimbulkan persepsi tersebut juga tidak jelas. Sangat disayangkan

karena nyeri secara mendasar merupakan pengalaman subyektif sehingga

tidak terhindarkan keterbatasan untuk memahaminya (Dewanto). Fase ini

merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri, pada saat individu

menjadi sadar akan adanya suatu nyeri, maka akan terjadi suatu reaksi

yang kompleks. Persepsi ini menyadarkan individu dan mengartikan nyeri

itu sehingga kemudian individu itu dapat bereaksi.


Fase ini dimulai pada saat dimana nosiseptor telah mengirimkan sinyal

pada formatio reticularis dan thalamus, sensasi nyeri memasuki pusat

kesadaran dan afek. Sinyal ini kemudian dilanjutkan ke area limbik. Area

ini mengandung sel sel yang bisa mengatur emosi. Area ini yang akan

memproses reaksi emosi terhadap suatu nyeri. Proses ini berlangsung

sangat cepat sehingga suatu stimulus nyeri dapat segera menghasilkan

emosi.

 .,c,.,) 1GATE CONTROL THEORY2

Terdapat berbagai teori yang berusaha menggambarkan bagaimana

   dapat menghasilkan rangsang nyeri. Sampai saat ini dikenal berbagai

teori yang mencoba menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul, namun teori

gerbang kendali nyeri dianggap paling relevan (Tamsuri, 2007)

Teori 
  dari Melzack dan Wall (1965) mengusulkan bahwa

impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang

sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat

sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan tertutup.

Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori menghilangkan nyeri.

Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan serabut kontrol desenden

dari otak mengatur proses pertahanan. Neuron delta-A dan C melepaskan

substansi C melepaskan substansi P untuk mentranmisi impuls melalui

mekanisme pertahanan. Selain itu, terdapat   , neuron beta-A yang

lebih tebal, yang lebih cepat yang melepaskan   penghambat.

Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut beta-A, maka akan menutup

mekanisme pertahanan. Diyakini mekanisme penutupan ini dapat terlihat saat


seorang perawat menggosok punggung klien dengan lembut. Pesan yang

dihasilkan akan menstimulasi    apabila masukan yang dominan

berasal dari serabut delta A dan serabut C, maka akan membuka pertahanan

tersebut dan klien mempersepsikan sensasi nyeri. Bahkan jika impuls nyeri

dihantarkan ke otak, terdapat pusat kortek yang lebih tinggi di otak yang

memodifikasi nyeri. Alur saraf desenden melepaskan opiat endogen, seperti

   dan    , suatu pembunuh nyeri alami yang berasal dari tubuh.

| ini menutup mekanisme pertahanan dengan menghambat

pelepasan substansi P. tehnik distraksi, konseling dan pemberian plasebo

merupakan upaya untuk melepaskan endorfin (Potter, 2005).

3 $c,.#  c

Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi

sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau

menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu

letih untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri

hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi

mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri.

Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:

a. Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)

Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena fase

ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang

belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran

perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam memberikan informasi

pada klien.
b. Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)

Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat

subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda.

Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang

lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan

mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi

terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri

kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan

nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya

rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang.

Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana

orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar

endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi sedikit

merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih

besar.

Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari

ekspresi wajah, vokalisasi dan gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan klien

itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang

menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila

klien sedikit mengekspresikan nyerinya, karena belum tentu orang yang tidak

mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri. Kasus-kasus seperti itu

tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu klien

mengkomunikasikan nyeri secara efektif.

c. Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)


Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini

klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis,

sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila

klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat  

dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam

membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan

kemungkinan nyeri berulang.

  c  

Respon psikologis sangat berkaitan dengan pemahaman klien terhadap

nyeri yang terjadi atau arti nyeri bagi klien. Pemahaman dan pemberian arti

nyeri sangat dipengaruhi tingkat pengetahuan, persepsi, pengalaman masa

lalu dan juga faktor sosial budaya. Arti nyeri bagi setiap individu berbeda-

beda antara lain :

1) Bahaya atau merusak

2) Komplikasi seperti infeksi

3) Penyakit yang berulang

4) Penyakit baru

5) Penyakit yang fatal

6) Peningkatan ketidakmampuan

7) Kehilangan mobilitas

8) Menjadi tua

9) Sembuh

10) Perlu untuk penyembuhan

11) Hukuman untuk berdosa


12) Tantangan

13) Penghargaan terhadap penderitaan orang lain

14) Sesuatu yang harus ditoleransi

15) Bebas dari tanggung jawab yang tidak dikehendaki

&   '   ."

 $4
 $41 "  %V % 

 2

a) Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate

b) Peningkatan heart rate

c) Vasokonstriksi perifer, peningkatan BP

d) Peningkatan nilai gula darah

e) Diaphoresis

f) Peningkatan kekuatan otot

g) Dilatasi pupil

h) Penurunan motilitas GI

 $4

c 41 "5  42

a) Muka pucat

b) Otot mengeras

c) Penurunan   dan tekanan darah

d) Nafas cepat dan irreguler

e) Nausea dan vomitus

f) Kelelahan dan keletihan

(   . )
."

1) Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup:

2) Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur)


3) Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)

4) Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan

gerakan jari & tangan

5) Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan,

Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pd

aktivitas menghilangkan nyeri)

 '  *4 


  "

1) Usia

Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji

respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika

sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung

memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri

adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami

penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.

2) Jenis kelamin

Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara

signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya

(ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh

nyeri).

3) Kultur

Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon

terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa

nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan

kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.


4) Makna nyeri

Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan

dan bagaimana mengatasinya.

5) Perhatian

Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat

mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang

meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya

distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik

relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.

6) Ansietas

Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan

seseorang cemas.

7) Pengalaman masa lalu

Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat

ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya.

Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di

masa lalu dalam mengatasi nyeri.

8) Pola koping

Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan

sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang

mengatasi nyeri.

9) Support keluarga dan sosial

Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota

keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan


U ..  

p t it  i l 


  t t      i i  

l i i i     i t it i  t  j ti    i i il  


 i   il
i t it 
i   t  l

      l            i   

  t   j ti    li 
 i l
       iil i 

t t  iit ii


       t i i ij ti 

 t

i   
  tit t  iit ii
i

M t
lt C Bl  i i t:

  
   

  6

 
   



r   U  




  

  &   

4



:i  i

:ii  :   ti li  t  


 i i

   i 

!":i :   ti li 


 i


 i i  t
  j   l i i  t
  i i  

 t
 i ti i t   i 

#:i t:   ti li t  ti  t


 i ti i t t i
i    t  ti     t
  j  

l i iti   t


  i i  ti   t iti   li

ii   j  it i

:i t t:i ti 



l i

 
 i i

 l

$ titi  li    ti  i l ti t    t

i t it i t t $li  i li i


i t  t 
  i i   i
sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda

bagi perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk

dipastikan.

Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang

lebih obyektif. Skala pendeskripsi verbal (U 



 VDS)

merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang

tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking

dari ³tidak terasa nyeri´ sampai ³nyeri yang tidak tertahankan´. Perawat

menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas

nyeri trbaru yang ia rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa

paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat

VDS ini memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan

nyeri. Skala penilaian numerik (|


  
 , NRS) lebih digunakan

sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri

dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji

intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan

skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR,

1992).

Skala analog visual (U   


 VAS) tidak melebel subdivisi.

VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus

dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan

penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan

pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat


mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata

atau satu angka (Potter, 2005).

Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan

tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien

dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat.

Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan

nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat

menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai

apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).

3 - .,

A. Serat Nyeri   dan 

Ada dua cara impuls diteruskan ke CNS. Sinyal yang berasal dari

nocireseptor mekanik dan thermal akan ditransmisikan melalui serat A-delta

dengan kecepatan 30 m/s (jaras nyeri cepat). Impuls dari plimodal akan

melalui serat C yang tidak bermielin, dengan kecepatan 12m/s (jaras pelan).

Saat terisis atau terbakar, akan terasa nyeri yang berdenyut awalnya yang

kemudian akan muncul rasa tidak sakit yang tidak enak. Nyeri yang dirasakan

pendek, tajam, menusuk, dan mudah dilokalisasi, itulah nyeri jaras cepat dari

nocireseptor mekanik dan thermal. Perasaan ini akan diikuti dengan sakit

yang tumpul, sukar dilokalisasi dan bertahan untuk waktu yang relatif lama

dan lebih tidak enak. Itulah jaras nyeri lambat, yang diaktivasi oleh

bradikinin. Kimia yang berperan dalam proses peradangan ini juga bisa

menyebabkan nyeri yang berlanjut meski telah dilakukan penghilangan

stimulus termal dan mekanis.


B. Nyeri  
 dan 

Nyeri yang muncul dari stimulasi reseptor di kulit, disebut nyeri

somatik superfisial sedangkan stimulasi reseptor di otot tulang, sendi, tendon,

dan fascia menyebabkan nyeri somatik dalam. Nyeri visceral dihasilkan dari

stimulasi nocireseptor di organ visceral. Jika nyeri visceral tersebut diffuse,

ada kemungkinan itu tanda bahaya karena mungkin disebabkan oleh ischemia

organ dalam. Misalnya batu ginjal yang mungkin menyebabkan nyeri berat

dengan menghambat atau menggelembungkan ureter atau saluran empedu.

C. Ê  

Pada beberapa contoh nyeri visceral, nyeri yang dirasakan di kulit atau

di kulit bagian dalam yang ada di atas organ yang distimulasi, atau bahkan di

daerah permukaan yang jauh dari organ tersebut. Itulah yang dinamakan

referred pain. Misalnya, serat sensorik dari jantung, kulit di atas jantung, dan

di sepanjang aspek medial lengan kiri akan masuk spinal cord segmen T1

sampai T5. Oleh karena itu, nyeri pada serangan jantung dirasakan di kulit di

atas jantung serta di sepanjang lengan kiri.

D. |   |  

1. Nyeri Akut

Nyeri akut tidak berlangsung lama dan biasanya hilang saat perbaikan

tubuh. Traktus spinotalamikus untuk rasa nyeri cepat. Serabut rasa nyeri

cepat tipe Aį terutama dilalui oleh rasa nyeri mekanik dan rasa nyeri suhu

akut. Serabut ini berakhir pada lamina I (lamina marginalis) pada kornu

dorsalis dan merangsang neuron pengantar kedua dari traktus

neospinotalamikus. Neuron ini akan mengirimkan sinyal ke serabut


panjang yang terletak di dekat sisi lain medula spinalis dalam komisura

anterior dan selanjutnya berbelok naik ke otak dalam kolumna

anterolateralis.

Beberapa serabut neospinotalamikus berakhir di daerah retikularis

batang otak, tetapi sebagian besar melewati semua jalur ke talamus tanpa

hambatan, berakhir di kompleks ventro-basal di sepanjang kolumna

dorsalis-traktus lemniskus medialis untuk sensasi raba. Ada beberapa

serabut yang berakhir di kelompok nuklear posterior. Dari daerah talamus

ini, sinyal akan dijalarkan ke daerah lain pada basal otak seperti juga ke

korteks somatosensorik. Glutamat merupakan substansi neurotransmitter

yang disekresikan di medulla spinalis pada ujung-ujung serabut saraf nyeri

tipe Aį. Biasanya memiliki masa kerja yang berlangsung hanya beberapa

milidetik.

2. Nyeri kronik

Sakit kronis merupakan nyeri yang masih muncul bahkan lama setelah

tubuh Anda telah sembuh. Kadang-kadang, orang yang memiliki sakit

kronis tidak tahu apa penyebabnya. Namun, nyeri ini sering muncul pada

kondisi seperti radang sendi, fibromyalgia dan kanker. Seiring dengan rasa

tidak nyaman, sakit kronis dapat menyebabkan rendah diri, depresi dan

kemarahan. Hal ini juga dapat mengganggu aktivitas harian.

Jaras paleosinoltalamikus adalah sistem yang menjalarkan rasa nyeri

terutama dari serabut tipe C lambat-kronik perifer, walaupun jaras ini

menjalarkan beberapa sinyal dari serabut tipe Aį juga. Dalam jaras ini,
serabut-serabut perifer berakhir di dalam medula spinalis hampir di

seluruhnya di lamina II dan III kornu dorsalis, yang bersama-sama disebut

substansia gelatinosa. Sebagian besar sinyal kemudian melewati satu atau

lebih neuron serabut pendek tambahan di dalam kornu dorsalisnya

sebelum terutama memasuki lamina Aį, juga di kornu dorsalis. Di sini,

neuron-neuron berakhir dalam rangkaian merangsang akson-akson panjang

yang sebagian besar menyambungkan serabut-serabut dari jaras rsa nyeri

cepat, yang mula-mula melewati komisura anterior ke sisi berlawanan dari

medula spinalis, kemudian naik ke otak dalam jaras anterolateral.

Percobaan penelitian menunjukkan bahwa ujung serabut nyeri tipe C

yang memasuki medula spinalis mungkin mengeluarkan transmiter

glutamat dan transmiter substansi P. Substansi P dilepaskan lebih lambat.

Walaupun secara terperinci belum diketahui, sepertinya telah jelas kalau

glutamat berperan dalam menjalarkan rasa nyeri cepat ke dalam sistem

saraf pusat, dan substansi P berhubungan dengan rasa nyeri lambat kronik.

Jaras paleosinotalamikus lambat-kronik berakhir secara luas dalam

batang otak. Hanya sepersepuluh sampai seperempat serabut yang

melewati seluruh jalur ke talamus. Namun demikian, serabut-serabut ini

kebanyakan berakhir di satu dari tiga derah berikut: (1) nukleus retikularis

medula, pons, dan mesensefalon (2) area tektal dari mesensefalon dalam

sampai kolikuli superior dan inferior, atau (3) daerah periakueduktus

substansia grisea, yang mengelilingi aqueduktus sylvii. Daerah yang lebih

rendah dari batang otak ini tampatknya penting untuk merasakan rasa nyeri

, karena hewan yang otaknya mengalami pemotongan di atas mesensefalon


untuk menghambat semua sinyal rasa nyeri dalam mencapai serebrum

masih menunjukkan dengan jelas bukti-bukti yang tidak dapat disangkal

dari rasa nyeri batang otak, banyak neuron berserabut pendek yang

memancarkan sinyal nyeri naik ke intralaminar dan nukleus ventrolateral

dari talamus dan ke dalam bagian tertentu hipotalamus dan daerah basal

lain dari otak.

E. Nyeri Neuropati

Neuropati perifer (peripheral neuropathy/PN) adalah penyakit pada saraf

perifer. Saraf tersebut adalah semua saraf selain yang ada di otak dan urat

saraf tulang belakang (perifer berarti jauh dari pusat).8 Nyeri neuropatik

merupakan keadaan kompleks nyeri kronis yang biasanya disertai dengan

cedera jaringan. Dengan nyeri neuropatik, serat-serat saraf sendiri mungkin

rusak, disfungsional, atau cedera. Serat saraf yang rusak ini mengirim sinyal

yang salah ke pusat-pusat rasa sakit lain. Dampak dari cedera serabut saraf

meliputi perubahan dalam fungsi syaraf baik, di tempat cedera dan daerah

sekitar cedera.

Akibatnya, orang merasa tidak nyaman dengan gejala yang digambarkan

sebagai kesemutan atau seperti ditusuk paku dan jarum atau gejala nyeri lebih

seperti membakar. Nyeri saraf dapat dikaitkan dengan sejumlah kondisi medis

seperti diabetes, herpes zoster, kanker dan perawatan nya, sindrom carpal

tunnel, atau cedera tulang belakang.

Rasa geli dan sensasi terbakar nyeri saraf sangat berbeda dari rasa sakit

dan nyeri yang dirasakan dari nyeri otot. Nyeri otot disebabkan oleh cedera

fisik, seperti terjatuh, akan menghilang setelah cedera telah sembuh. Di sisi
lain, nyeri saraf yang mungkin tidak disebabkan oleh trauma, sering

menghasilkan rasa sakit terus-menerus atau rutin. Over-the-counter-pain

seringkali tidak cukup kuat untuk membuat nyeri saraf pergi. Sejalan dengan

waktu, nyeri saraf dapat menyebar dari kaki bawah ke atas atau naik ke

lengan dari tangan.

Tidak ada obat untuk saraf rusak yang menyebabkan rasa sakit saraf.

Tetapi dengan program manajemen nyeri yang efektif yang mungkin

mencakup latihan, manajemen stres, dan obat-obatan, rasa sakit dapat

dikurangi. Dengan selalu aktif, sesorang bisa mengurangi rasa penderitaan

dan meningkatkan kualitas hidupnya. Sumber nyeri kronik tidak sederhana.

Ada masalah psikologis yang disebabkan oleh masalah fisik. Ini adalah alasan

mengapa memilih salah satu perawatan ini tidak dianjurkan. Perlu dicoba

banyak metode.

F. Nyeri Muskuloskeletal

Otot merupakan jaringan yang peka nyeri terhadap tekanan, sayatan dan

zat kimia. Fascia, tendon dan periosteum merupakan jaringan peka yeri

terhadap tusukan, tekanan dan zat kimia iritatif sedangkan tulang- tulang

kompakta adalah kurang peka nyeri. Nyeri pada fraktur merupakan hasil dari

stimulus pada jaringan- jaringan tersebut. Nyeri muskuloskeletal harus

dipastikan apakah nyerinya karena inflamasi atau bukan. Nyeri akut karena

rangsang nosisepsi akut yang lebih jelas. Misal trauma atau karena tindakan.

Nyeri kronik dibedakan berdasarkan karena proses inflamasi (kelompok

penyakit rematik) dan non inflamasi. Manifestasi inflamasi muskuloskeletal :

- bengkak
- nyeri

- kemerahan

- panas, dan

- kekakuan

Nyeri muskuloskeletal kronik non inflamasi terutama yang lebih dari 3

bulan berhubungan dengan gangguan psikologis : depresi, anxietas, gangguan

tingkah laku. Sulit dibedakan karena inflamasi atau bukan. Kadang disebut

sebagai nyeri muskuloskleletal primer atau idiopatik.


 '. c+$. -

American Chronic Pain Ascociation. Neuropathic Pain. Diunduh dari


http://www.theacpa.org/conditionDetail.aspx?id=29.

Anonymous. Many Causes of Pain. Diunduh dari


http://www.paintreatmentblog.com/pain.

Family Doctor. Chronic Pain. Diunduh dari


http://familydoctor.org/online/famdocen/home/common/pain/disorders/551.printer
view.html

NLM NIH. Pain. Diunduh dari http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/pain.html.

Priharjo, R (1993).  |      Jakarta :


EGC hal : 87.

Ramali. A. (2000).       p . Jakarta :


Djambatan.

Sherwood L. Human Physiology: The Peripheral Nervous System. 7th ed.


Canada: Brooks/Cole;2010. p. 191-2.

Tamsuri, A. (2007).         Jakarta : EGC. Hlm 1-63


Potter. (2005).           Jakarta:
EGC. Hlm 1502-1533.

Tortora GJ, Derrickson BH. Principles of Anatomy and Physiology: Sensory,


Motor and Integrative System. 12th ed. Asia: Willey;2009. p. 574-5

Yayasan Spiritia. Neuropati Perifer. Diunduh dari


http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=555.